Title : You've Got Me From Hello

Cast
Mark Lee & Lee Minhyung
Lee Haechan / Donghyuck
Na Jaemin
Lee Jeno

Other Cast
Vernon Chwe
Huang Renjun
Kim Doyoung

Genre
Romance
Drama
Sad
Family

Disclaimer : Cerita ini 100% karya Kak Santhy Agatha. Aku hanya membuat REMAKE dengan cast Markhyuck. Disini aku hanya ngubah beberapa kalimat / kata supaya lebih enak dibaca.

Summary Chapter 10 : Maukah kau menikah denganku? Maukah kau menjadi yang pertama kulihat ketika bangun di pagi hari, dan menjadi yang terakhir kupeluk ketika aku menutup mata di malam hari?

THIS IS MARK X HAECHAN FANFICTION

THIS IS YAOI

THIS IS REMAKE FROM SANTHY AGATHA'S STORY

DO NOT LIKE DO NOT READ


HAPPY READING GUYSSSS


Mark sudah ada di sana menunggunya, ekspresinya tampak cemas. Lelaki itu setengah berdiri ketika melihat Haechan mendekat.

"Haechan-ah." Gumam Mark menatap Haechan dengan penuh kerinduan. Tiba-tiba Haechan merasa kasihan kepada lelaki ini, lelaki yang begitu kuat dan berkuasa. Tetapi sekarang tampak begitu lelah dan berantakan, apakah itu karena dirinya?

Haechan melangkah lebih dekat kearah Mark kemudian melingkarkan lengannya disekitar bahu Mark untuk memeluknya. Sungguh. Ia benar-benar merindukan Mark.

"Haechan." Mark juga melingkarkan lengannya untuk memeluk Haechan dan menariknya agar semakin mendekat, "Terimakasih sudah mau bertemu denganku dan memberiku kesempatan kedua. Aku.. aku ingin menjelaskan semuanya padamu.."

Haechan melonggarkan pelukannya agar bisa menatap wajah Mark, kemudian ia tersenyum lembut pada Mark, "Aku sudah tahu semuanya, Mark hyung."

"Sudah tahu semuanya?" Mark mengerutkan keningnya

"Iya." Haechan menganggukkan kepalanya, "Minhyung memberitahuku semuanya tentang kisah pertunanganmu dengan Jaemin. Dia meluruskan semua kesalahpahaman."

Itu adalah salah satu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Mark. Minhyung memberitahu Haechan? Semuanya? Apa maksud Minhyung? Selama ini Mark masih menyimpan kecurigaan dan mengira bahwa Minhyung juga menyukai Haechan. Tetapi dengan memberitahu Haechan dan meluruskan semua kesalahpahaman, bukankah Minhyung sama saja membantu Mark?

Haechan terkekeh melihat kerutan di dahi Mark, pria itu terlihat seperti sedang berpikir dengan keras dan itu sangat lucu untuk Haechan. Dengan jahil ia memajukan wajahnya dan mengecup bibir Mark beberapa detik sebelum kembali menjauhkan wajah mereka berdua.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Mark dengan pandangan bingung.

Haechan mencubit pipi kanan Mark, "Harusnya aku yang tanya. Apa yang sedang hyung pikirkan?"

Mark tersenyum, "Apa yang Minhyung beritahukan kepadamu?"

"Semuanya." Haechan melepaskan tangannya dari pipi Mark dan menatap Mark dengan lembut, merasa tidak tega ketika menemukan kepedihan di mata itu walaupun Mark berusaha keras untuk menyembunyikannya.

Haechan merasa amat bersalah. Dialah yang menyebabkannya. Kemarahannya waktu itu, ketika dia tidak mau menerima penjelasan Mark telah membuat lelaki itu menderita.

"Dan apakah dia mengatakan bahwa aku tidak mencintai Jaemin sama sekali?" suara Mark menjadi serak karena gugup.

Haechan kembali menganggukkan kepalanya, "Mianhae hyung, atas semua kesalahpahamanku kepadamu. Aku mengataimu lelaki jahat, aku menganggapmu sama brengseknya dengan Jeno. Ternyata kau hanyalah lelaki yang terlalu baik hati."

Mark mengernyit pedih. "Dan kebaikan hatiku ternyata membuatku tersiksa. Dulu aku mengira bisa menjalaninya bersama Jaemin. Toh pada awalnya aku mencintainya, aku pikir aku bisa menerima dan memaafkan... Tetapi kemudian seperti katamu, mudah memang untuk memaafkan, tetapi sulit untuk melupakan..."

Mark mendesah, "Setiap melihat Jaemin aku merasa muak, membayangkan harus menjalani hidupku bersamanya membuatku sangat tersiksa.. Tapi janji sudah diucapkan dan harus ditepati, aku bertekad untuk menjalankannya." Mata Mark menatap Haechan dalam-dalam, "Sampai akhirnya aku bertemu denganmu."

Haechan membalas tatapan Mark dan membiarkan lelaki itu menangkupkan wajahnya dengan lembut,

Mark lalu melanjutkan. "Aku tidak pernah menyapa pelanggan manapun sebelumnya, sama sekali tidak pernah.. Tapi kau membuatku tidak bisa menahan diri, kau dengan tubuh mungilmu dan ekspresi seriusmu ketika menghadap laptop membuatku melupakan semua aturanku. Aku menyapamu dan kau membalas sapaanku." Mark menatap Haechan dengan penuh cinta, "Detik itu juga, ketika kau mengucapkan 'hello' kepadaku, kau sudah memiliki hatiku."

Sebuah pernyataan yang sangat indah. Mata Haechan tiba-tiba terasa panas. Lelaki ini sungguh tak disangka telah menumbuhkan cinta yang begitu dalam dan tulus kepadanya.

"Maafkan aku karena tidak mempercayaimu." Bisik Haechan lemah.

Mark mencium bibir Haechan sekilas, "Situasinya seperti itu, aku tidak menyalahkanmu. Aku sendiri juga salah, tidak menceritakan keadaanku dari awal padamu. Aku pikir aku bisa melepaskan diri dari masalah ini."

"Melepaskan diri?"

"Ya. Aku sedang berencana melepaskan diri dari Jaemin." Mark tampak malu, "Rupanya aku tidak sebertanggungjawab yang kau kira. Ketika aku jatuh cinta, aku rela melakukan apapun demi memiliki kekasihku." Mark tersenyum sedih, "Kau mungkin merasa aku lelaki yang rendah."

Bicara tentang Jaemin membuat Haechan tiba-tiba teringat akan kata-kata Minhyung, wajahnya berubah serius, ia menurunkan tangan Mark yang berada di pipinya.

"Adikmu.. dia melakukan sesuatu untuk melepaskanmu dari Jaemin-ssi."

Mark tampak terkejut, "Melakukan apa?"

"Dia bercerita bahwa sebenarnya yang diincar Jaemin adalah dirinya."

"Ah ya." Mark tersenyum, "Jaemin mengejarnya setengah mati, tetapi adikku itu tidak serius menanggapi Jaemin, hingga Jaemin berpindah padaku. Aku waktu itu kesepian, dan masih memendam kesedihan karena harus meninggalkan sekolah kokiku. Kemudian-"

"Kemudian Jaemin menghujanimu dengan perhatiannya, dan pada akhirnya kau menerima dia berada di sisimu. Tetapi dia berselingkuh dan hamil dibelakangmu. Kau marah besar dan akhirnya kecelakaan itu terjadi sehingga sekarang Jaemin-ssi lumpuh." Haechan mengangkat bahunya, "Minhyung menceritakan pengkhianatan Jaemin juga kepadaku." Gumam Haechan.

"Ya. Itu juga." Wajah Mark tampak serius, "Karena itulah aku memahami penderitaanmu. Bagaimana sakitnya ketika kita dikhianati oleh orang yang kita percayai. Aku paham sekali bagaimana rasanya, tetapi mungkin aku tidak sesakit dirimu karena pada akhirnya aku menyadari bahwa aku tidak mencintai Jaemin sedalam itu. Dan kurasa Jaemin juga tidak mencintaiku, mungkin aku hanyalah pelariannya dari Minhyung."

"Minhyung mengetahui itu hyung, dan dia sudah bertekad untuk melepaskan Jaemin dari dirimu. Dia sudah mendatangi Jaemin dan melamarnya."

"Apa?" Mark terperanjat, menatap Haechan dengan kaget, "Apa katamu?"

"Minhyung melamar Jaemin, Mark hyung.." Ulang Haechan.

"Melamar?" Mark terdiam beberapa saat, ini semua terlalu mendadak untuk dia ketahui. Adiknya itu melamar Jaemin? Apa Minhyung sudah kehilangan akal sehatnya?

"Minhyung merasa bahwa ini adalah waktunya dia yang bertanggung jawab untukmu. Dia berkata bahwa dia sudah begitu egois selama ini, dan membiarkanmu menanggung semuanya." Jelas Haechan.

"Minhyung mengatakan itu kepadamu?" Mark sungguh tidak menyangka, Minhyung yang begitu tidak peduli kepada apapun mau melakukan ini untuknya.

"Iya hyung. Dan Jaemin-ssi menerima lamaran Minhyung, dia akan membatalkan pertunangannya denganmu." Tambah Haechan

"Oh my God." Mark tidak tahu bagaimana perasaannya. Di sisi lain dia merasa sangat lega karena bisa melepaskan diri dari Jaemin. Tetapi di sisi lain perasaan bersalah yang amat dalam memukulnya karena itu berarti dia membuat Minhyung yang terjebak bersama Jaemin selamanya, berakhir bersama orang yang tidak dia cintai.

Minhyung pasti akan sangat tersiksa, dan Mark tidak mungkin membiarkan Minhyung menanggung semuanya.

"Mark hyung.." Panggil Haechan.

Mark mengembalikan fokusnya pada Haechan, "Ya?"

"Tenanglah." Haechan mengusap bahu Mark, "Semua akan baik-baik saja. Oke?"

Mark mengangguk dan memberikan Haechan sebuah senyuman, "Terima kasih."

Haechan menggeleng, "Bukan aku yang harus kau ucapkan terima kasih." Haechan menunjukkan deretan gigi ratanya, "Adikmu. Dia yang harus kau ucapkan terima kasih."

"Iya, aku akan mengucapkan terima kasih untuk Minhyung."

"Pergilah, kau harus menemuinya sekarang."

"Tapi ini sudah hampir jam sebelas malam.."

Haechan mengerucutkan bibirnya, "Memang kenapa? Dia pasti tetap membukakan pintu untukmu Mark Lee."

"Baiklah, baiklah.. Kau itu jangan mengerucutkan bibirmu seperti itu terus, nanti aku cium bagaimana?"

"Cium saja." Balas Haechan bercanda, "Sudah, pergi sana temui adikmu. Aku akan pulang."

Mark merentangkan tangannya, "Peluk dulu."

"Aigo.." Haechan terkekeh kemudian menabrakkan dirinya dengan Mark, ia membenamkan wajahnya di pundak Mark sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh Mark yang ia rindukan, "Aku mencintaimu."

Mark mengecup puncak kepala Haechan, "Aku lebih mencintaimu Lee Donghyuck."


You've Got Me From Hello


Mark mengetuk pintu apartemen Minhyung dengan keras, dan butuh sepuluh menit dia menunggu sampai Minhyung membuka pintunya. Adiknya itu tampaknya baru terbangun dari tidurnya,

"Ada apa hyung? Kenapa kau kemari tengah malam?" Minhyung mengangkat alisnya dan meminggirkan tubuhnya, memberi jalan Mark untuk masuk.

Mark melangkah masuk lalu berdiri di tengah ruangan dan menatap Minhyung dengan tajam, "Aku sudah mendengarnya dari Haechan, kau melamar Jaemin."

Minhyung tersenyum jahil, "Wah.. Kalian udah baikkan?"

Mark memutar bola matanya, "Aku sedang serius Lee Minhyung. Apa kau melamar Jaemin?"

Sedetik kemudian tidak ada ekspresi apapun di wajah Minhyung, "Ya, hyung. Aku melamar Jaemin." Minhyung memaksakan sebuah senyuman, "Maafkan aku belum memberitahumu. Tetapi aku dan Jaemin berencana untuk datang ke kantormu besok pagi dan mengatakan semuanya."

"Jangan berbuat bodoh demi diriku, Minhyung-ah." Mark bergumam pelan, ada kesedihan dan kesakitan di wajahnya, "Aku tahu kau sama sekali tidak mencintai Jaemin, kau akan menyiksa dirimu seperti yang kulakukan selama ini. Jangan lakukan Minhyung, Jangan lakukan demi diriku."

Minhyung menggeleng, lalu menepuk pundak kakaknya, "Jangan memohon kepadaku seperti itu Mark Lee." Minhyung nenatap kakaknya, "Aku tahu kau melakukan segalanya untuk memikul tanggung jawab atas diriku, dan kurasa kini saatnya aku yang membalas budi untuk-"

"Kau adikku, dan aku tidak mungkin menjerumuskanmu dalam penderitaan seperti ini." Sela Mark keras.

Minhyung mengangkat bahunya, "Dan kau kakakku, aku tidak akan rela kau kehilangan cinta sejatimu hanya karena sebuah tanggung jawab." Adiknya itu menghela napas, "Kau tahu? Melihatmu menderita kemarin itu sungguh membuat hatiku sakit, adik mana yang tega melihat kakak kandungnya menderita seperti itu? Kau keluargaku satu-satunya yang tersisa dan aku tidak mau kau hidup lebih menderita lagi."

Mark kehabisan kata-kata mendengar kata-kata Minhyung. Dia sangat tersentuh. Selama ini dia mengira Minhyung itu egois, berniat menjalani hidup sesukanya dan tidak memikirkan orang lain. Tetapi ternyata, adiknya ini sangat sangat menyayanginya.

"Meskipun aku berterima kasih, aku tetap tidak akan membiarkan kau berakhir dengan Jaemin." Gumam Mark akhirnya setelah cukup lama diam.

Minhyung mendengus melihat kekeras kepalaan Mark, "Tidak ada cara lain Mark, inilah satu-satunya cara. Pulanglah, milikilah Haechan, dan berbahagialah. Dan aku akan berusaha menjalankan peranku dengan sebaik-baiknya. Kalau dipikir-pikir Jaemin juga tidak terlalu buruk." Gumam Minhyung sambil tersenyum masam.

Mark menggelengkan kepalanya, "Kau tidak tahu, aku merencanakan menjauhkan Jaemin dengan menggunakan Vernon."

"Vernon?" Minhyung terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengingat nama itu, "Vernon Chwe? Sahabatmu dari sekolah memasak itu?"

"Ya. Vernon yang itu, aku menyuruhnya untuk mendekati Jaemin dan merayunya dengan segala pesonanya." Pipi Mark tampak merona, sedikit malu, "Yah, memang aku menggunakan cara pengecut di sini, menusuk Jaemin dari belakang. Tetapi cara ini juga bisa menjadi bukti untukku apakah Jaemin benar-benar setia dan mencintaiku. Dia pernah mengkhianatiku sekali, dan aku ingin melihat, jika ada kesempatan, akankah dia mengkhianatiku lagi?"

"Dan ternyata?" Minhyung bertanya meskipun sepertinya dia sudah tahu jawabannya.

"Dan dia mengkhianatiku, dia menjalin hubungan dengan Vernon, bahkan Vernon bilang Jaemin tidak menolak ketika dia menciumnya." Tatapan mata Mark berubah tajam, "Jaemin mengira aku tidak tahu karena itu dia tetap memaksa melanjutkan pernikahan ini sambil terus mengungkit rasa tanggung jawabku."

"Dasar keparat." Minhyung mengumpat kasar, lalu mengangkat bahunya meminta maaf ketika Mark melemparkan pandangan memperingatkan kepadanya, "Maafkan aku hyung, aku sudah sejak awal tidak menyukainya, apalagi ketika pada awalnya dia mengejarku, lalu mengejarmu, dan kemudian mengkhianatimu."

Mark tersenyum lembut, "Dan kau dengan sukarela mau mengorbankan hidupmu untuk berakhir dengannya, hanya demi kakakmu ini."

"Bukan 'hanya'. Bukankah sudah kukatakan bahwa kaulah satu-satunya keluargaku yang tersisa di dunia ini. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia." Gumam Minhyung pelan.

Mata Mark tampak berkaca-kaca, "Dan aku akan melakukan semuanya juga, untuk membuatmu bahagia, Minhyung-ah."

Kedua kakak beradik itu berpelukan, lalu Mark melepaskan pelukannya dengan canggung, karena sudah lama sekali dia tidak memeluk adiknya. Dia mengangkat alisnya dan menatap Minhyung ingin tahu, "Tantangan untuk memperebutkan Haechan dulu itu, kau sengaja ya?"

Minhyung terkekeh karena pada akhirnya Mark menyadari hal itu, "Aku hanya ingin sedikit mendorongmu."

"Sudah kuduga." Mark mencibir, "Walaupun aku sempat sangat marah padamu, kau pandai sekali berakting."

"Dan kau sangat pencemburu, aku hampir tidak kuat untuk menyembunyikan tawa geliku waktu melihatmu marah dan mulai mengancamku." Minhyung akhirnya tertawa.

Mark tersenyum malu, "Lakukan semua seperti rencanamu Minhyung-ah, kurasa aku akan menggunakan Vernon untuk menyelamatkanmu."

"Bagaimana caranya?" Minhyung menatap Mark bingung.

"Kita pasti menemukan cara." Mark menghela napas panjang. Dia harus menemukan cara, karena dia tidak mungkin tega membiarkan Minhyung menanggung semuanya untuknya.


You've Got Me From Hello


"Minhyung mengorbankan diri untukmu? Sungguh tidak terduga," Vernon terkekeh, "Bersyukurlah Mark berarti kau sangat disayangi."

Mark melemparkan pandangan serius kepada Vernon, "Tetapi aku masih membutuhkanmu untuk menyelamatkan adikku, bagaimana hubunganmu dengan Jaemin akhir-akhir ini?"

Wajah Vernon tampak masam, "Dia menghindariku akhir-akhir ini, kurasa dia mulai serius dengan adikmu." Vernon mengangkat alisnya menatap Mark, "Sepertinya kali ini dia sungguh-sungguh ingin memiliki Minhyung."

Gawat.

Mark menghela napas panjang, kalau begini caranya, rencananya untuk menggunakan Vernon sebagai senjata tidak dapat digunakan.

"Tetapi aku punya satu pemikiran untukmu." Vernon bergumam misterius, membuat Mark langsung memperhatikaannya. "Pemikiran yang mungkin harus kau selidiki Mark, karena kupikir Jaemin membohongi kalian semua."

"Membohongi kami?" Mark mengernyitkan keningnya, "Apa maksudmu?"

"Aku punya seorang nenek yang sudah tua di Australia, dia tidak dapat berjalan dan harus berada di kursi roda. Beliau hidup bersama kami di rumah keluargaku dan aku menghabiskan banyak waktuku untuk merawatnya ketika aku pulang ke Australi." Vernon memajukan tubuhnya, "Dari pengalamanku itu, sepatu atau sandal yang dipakai oleh orang yang lumpuh biasanya solnya masih bagus seperti baru, karena sama sekali tidak pernah dipakai."

Mark mulai menebak-nebak, apa yang ingin diucapkan oleh Vernon sesungguhnya?

"Tetapi... kau tahu aku sering berkunjung ke tempat Jaemin, dan dia memakai sandal rumahnya di dalam.. Kemudian aku beberapa kali menggendongnya dan membantunya berpindah tempat. Lalu aku sempat melihat, sol sandalnya sudah tidak seperti baru lagi dan sedikit aus... seperti sering dipakai berjalan-jalan."

Mark tertegun, pemikiran itu sama sekali tidak pernah terbersit olehnya. Dia mendengar sendiri diagnosa dari dokter rumah sakit bahwa Jaemin akan lumpuh selamanya. Dan dia mempercayainya sampai saat ini.

Tetapi mungkinkah Jaemin membohonginya? Batinnya langsung mengiyakan. Yah, mungkin sekali Jaemin membohonginya, karena kelumpuhan itu adalah satu-satunya pengikat rasa tanggung jawab Mark terhadap Jaemin. Dan jika Jaemin tidak lumpuh lagi, sudah pasti Mark akan meninggalkannya.

"Mungkin kau bisa menghubungi dokter pribadi Jaemin dan meminta informasi." Vernon bergumam memberi usul.

"Tentu saja aku akan melakukannya."

Mark sudah pasti akan melakukannya, dan jika sampai dokter itu berbohong, dia pasti akan menyesalinya. Mark akan melakukan segala cara untuk mendapatkan kebenaran.

"Ngomong-ngomong, bagaimana hubunganmu dengan Haechan sekarang?" Tanya Vernon penasaran.

Mark tersenyum ketika mengingat Haechan, "Kami sudah baik-baik saja, aku pikir aku akan segera melamarnya jika permasalahan ini sudah selesai."

"Kau belum pernah mengenalkan dia padaku." Vernon terkekeh, "Padahal aku sangat penasaran pada orang yang berhasil membuat Mark Lee jatuh cinta sedalam ini."

"Kalau aku mengenalkan padamu lalu kau mau apa?" Tanya Mark.

"Hm.. Mungkin melakukan hal yang kulakukan pada Jaemin? Aku bisa saja merebut Haechan darimu jika memang dia menarik." Jawab Vernon.

Mark menatap Vernon tajam, "Lihat akibatnya jika kau berani melakukan itu."

Vernon yang melihat reaksi Mark tersebut tertawa puas, "Yah! Aku hanya bercanda, mana mungkin aku merebut belahan jiwamu seperti itu, aku ini pria baik-baik."

"Terserah kau Vernon Chwe." Ucap Mark malas menanggapinya.

"Hei tapi aku serius, kau harus segera menemui dokter itu." Peringat Vernon.

"Iya, aku akan menemuinya setelah bertemu Jaemin nanti."

"Kau akan menemui Jaemin lagi?"

Mark mengangguk, "Dia dan Minhyung akan datang kemari."

"Benarkah?" Vernon berdiri dari posisi duduknya, "Kalau begitu lebih baik aku pergi sekarang, bisa gawat jika Jaemin menemukan aku disini."

"Baiklah." Mark ikut berdiri, "Terima kasih Vernon Chwe, kalau kau tidak membantuku aku mungkin akan kesulitan."

"Aku akan selalu membantumu karna kau sahabatku Mark Lee." Vernon tersenyum, "Jangan lupa juga kau harus mengenalkanku pada Haechan."

Mark mengangguk, "Pasti."


You've Got Me From Hello


Untunglah ketika resepsionisnya mengabarkan bahwa Minhyung datang mengunjunginya bersama Jaemin, Vernon sudah meninggalkan kantor itu. Kalau tidak, semuanya akan berubah menjadi drama yang buruk di antara mereka.

Mark mempersilahkan dua orang itu masuk, kemudian ia berakting sebaik-baiknya seolah-olah dia tidak tahu apa-apa.

"Hai Mark hyung." Minhyung masuk sambil mendorong kursi roda Jaemin, sempat-sempatnya dia mengedipkan mata kepada Mark, membuat Mark tersenyum masam melihat tingkah adiknya.

"Hai Minhyung." Mark menatap Minhyung dan Jaemin bergantian, "Kau tidak bilang akan kemari, Jaemin-ah, dan sungguh tidak disangka aku melihat kalian berdua datang bersama. Apakah kalian memang datang bersama, atau kalian bertemu di depan?"

"Kami memang datang bersama, Mark." Jaemin tampak gugup, Mark tampak begitu mendominasi di ruangan kantornya yang formal ini, dan tiba-tiba Jaemin merasa takut.

Dia sudah pernah mengkhianati Mark sekali dan dia melakukannya lagi, bahkan kali ini dengan adik kembar Mark sendiri. Tetapi Minhyung sudah meyakinkannya bahwa Mark tidak akan marah, karena dia tahu pasti bahwa Mark tidak mencintainya. Dan lagipula, Jaemin berpikir bahwa dia berhak memiliki cinta sejatinya.

Minhyung lah cinta sejatinya, lelaki yang sangat diimpikannya sejak dulu, dan sekarang ketika akhirnya bisa memiliki Minhyung di tangannya, Jaemin tidak akan pernah melepaskannya.

"Kami datang untuk mengatakan sesuatu kepadamu. Dan kami harap kau tidak marah." Minhyung lah yang angkat bicara, lalu dia meremas pundak Jaemin dengan lembut untuk menenangkan Jaemin. "Katakan kepada Mark, Jaeminie"

Mark menatap Jaemin dan Minhyung berganti-ganti, "Mengatakan apa?"

Jaemin meletakkan kotak cincin di meja di dekat Mark, dia merasa mantap sekarang. "Aku ingin mengembalikan cincin pertunangan ini." Gumamnya.

Mark mengangkat alisnya, "Mengembalikan cincin pertunangan? Apa maksudmu, Jaemin-ah?"

Jaemin melirik ke arah Minhyung dan tersenyum ketika melihat Minhyung menatapnya penuh cinta dan memberi semangat, "Aku tidak mencintaimu Mark, kurasa aku tidak pernah mencintaimu. Ketika Minhyung melamarku, aku baru sadar bahwa selama ini aku hanya menganggapmu sebagai pengganti Minhyung."

Sialan.

Meskipun sudah tahu, tetap saja Mark tidak bisa menahan diri untuk mengumpat dalam hatinya. Jaemin menganggapnya sebagai pengganti, tetapi dia dengan egoisnya menahan Mark untuk dimilikinya. Bahkan Jaemin bertekad membawa hubungan mereka ke pernikahan.

Manusia ini memang egois dan licik.. sangat licik dan Mark harus berhati-hati menghadapinya. Dia harus memikirkan informasi Vernon tadi dengan baik dan bertindak dengan hati-hati pula. Kalau memang yang dikatakan Vernon benar, itu akan menjadi senjata besar untuk menyelamatkan Minhyung.

"Kau melamar Jaemin?" Mark berpura-pura terkejut, menatap Minhyung yang tampaknya berusaha menyembunyikan senyum gelinya.

"Aku melamarnya hyung. Karena aku tahu kau tidak mencintainya, dan Jaemin juga tidak mencintaimu. Jaemin mencintaiku dan aku pikir dia berhak untuk bahagia bersamaku."

"Aku sangat mencintai Minhyung. Aku harap kau mengerti Mark." Jaemin menyela dengan bersemangat, "Aku ingin menikah dengan Mjnhyung dan hidup bersamanya selamanya."

Mark tidak melewatkan ekspresi muak yang sempat terlintas di wajah Minhyung, tetapi kemudian adiknya itu menutupinya dengan baik.

"Well kurasa kalian berdua serius, aku bisa berbuat apa?" Mark mengangkat bahunya, "Kurasa aku harus mengucapkan selamat."

Jaemin hampir memekik kegirangan karena jawaban Mark itu. Dia lalu mendongak dan menatap Minhyung dengan senyuman penuh kemenangan.


You've Got Me From Hello


"Jadi begitu ceritanya." Mark bergumam lembut kepada Haechan. Mereka sedang berpelukan di sofa apartemen Haechan, setelah memakan makan malam yang khusus dimasakkan Mark untuk Haechan. Setelah itu mereka melewatkan malam dengan bersantai dan menonton acara televisi.

Mark bercerita panjang lebar tentang pertemuannya dengan Minhyung, kemudian pertemuannya dengan Vernon, dan kedatangan Minhyung bersama Jaemin ke tempatnya untuk mengembalikan cincin pertunangannya.

"Tentang Vernon, temanmu yang dari sekolah memasak itu.." Gumam Haechan, "Aku sungguh ingin bertemu untuk mengucapkan terima kasih."

Mark mengelus rambut Haechan, "Aku bisa mengatur pertemuan kita nanti.."

"Aku juga penasaran setampan apa Vernon Chwe.. Apa dia lebih tampan dari hyung?" Tanya Haechan jahil.

Mark memincingkan matanya, "Aku bahkan beribu-ribu kali lebih tampan dari Vernon."

Haechan mencubit pipi Mark gemas, "Arra, aku percaya.. Sekarang cium aku."

Mark menunduk lalu mengecup dahi Haechan yang meringkuk di dalam pelukannya dengan lembut, "Aku lelaki bebas sekarang Haechan-ah. Kau bisa memiliki aku kapanpun kau mau."

Haechan menenggelamkan tubuhnya di dada Mark yang bidang dan memeluknya semakin erat, "Aku senang bisa memilikimu, aku bahagia Mark hyung."

"Aku akan selalu menjadi milikmu Haechan-ah, sekarang ataupun nanti." Mark mendongakkan dagu Haechan, lalu mengecup bibirnya dengan lembut dan intens. "Dan semua impian kita akan terwujud, kau akan menjadi orang pertama yang kupuja dipagi hari ketika aku membuka mataku, dan menjadi yang terakhir kupeluk di malam hari ketika aku beranjak tidur."

"Kau gombal sekali." Haechan terkekeh ketika Mark melepaskan kecupannya, "Tapi tidak masalah karena aku menyukainya."

Mark tertawa, "Aku tidak pernah seperti ini dengan siapapun. Kau tahu... semua orang menganggapku kaku." Mark tersenyum malu, "Bahkan kadang aku merasa iri kepada adikku yang dengan mudahnya mengeluarkan kata-kata puitis untuk merayu seseorang."

Haechan tertawa, "Kau tidak puitis saja aku jatuh cinta padamu, apalagi kalau kau puitis, aku bisa sangat tergila-gila denganmu." Dia memeluk Mark dengan manja, lalu teringat sesuatu dan dahinya berkerut, "Oh iya, apa yang akan kau lakukan selanjutnya, hyung?"

"Mengenai Jaemin?" Mark mengangkat bahunya, "Well, aku menganggap info dari Vernon perlu ditindak lanjuti. Aku sudah menceritakan kepada Minhyung dan dia setuju untuk bersama-sama menemui dokter pribadi Jaemin besok."

"Kalau Jaemin memang berbohong, berarti dokter pribadi Jaemin ikut membantunya membohongimu." Gumam Haechan merenung.

Mark mendesah, "Mau bagaimana lagi, dokter itu adalah dokter pribadi Jaemin selama bertahun-tahun. Dia adalah sahabat dekat kedua orang tua Jaemin, mungkin persahabatannya itulah yang menjadi alasan utamanya membantu menutupi kebohongan Jaemin. Tetapi bagaimanapun juga, aku dan Minhyung akan membuatnya bicara."

"Jangan menakutinya." Pesan Haechan.

"Memang aku terlihat menakutkan?"

Haechan menggeleng, "Kau terlihat mempesona."

Mark tidak bisa menahan dirinya untuk tertawa, mendengar Haechan memuji dirinya itu sangat membahagiakan, apalagi dengan suara Haechan yang menurutnya sangat imut tersebut. Dengan gemas Mark pun mengecupi seluruh wajah Haechan sampai membuat kekasihnya itu ikut tertawa.

"Hentikan hyung.. Aku lelah tertawa terus."

"Kau tidak boleh berhenti tertawa." Ucap Mark.

Haechan menatap Mark, "Kenapa?"

"Karena tawamu itu seperti oksigen untukku.. Dan aku tidak akan bisa hidup tanpa mendengar tawamu." Mark yang merasa ucapannya terlalu berlebihan itupun segera mengucapkan kata maaf pada Haechan.

"Aigo.." Haechan benar-benar merasakan perutnya tergelitik oleh ucapan Mark yang menurutnya sangat cheesy itu, "Aku benar-benar memacari seorang pria yang ahli dalam menggombal rupanya.."

Mark menggesekkan hidungnya dengan hidung Haechan, "Tidak suka hm?"

"Suka.. Sangat suka.." Gumam Haechan.

Mark mengecup hidung Haechan, "Aku mencintaimu."

Haechan tersenyum dan mengeratkan pelukannya, "Aku juga mencintaimu Mark hyung."


You've Got Me From Hello


"Dari awal saya sebenarnya sudah tidak setuju dengan kebohongan ini." Tanpa diduga dokter pribadi keluarga Jaemin langsung mengungkapkan semuanya tanpa menutupi apapun.

"Tetapi ayah Jaemin memohon kepada saya, dia meminta saya tidak memberitahukan kepada Anda, bahwa Jaemin sudah bisa berjalan... Dia menangis dan mengatakan bahwa Jaemin akan bunuh diri kalau sampai anda meninggalkannya."

Dokter itu mengangkat bahunya dengan menyesal. "Saya minta maaf atas kebohongan ini, saya memang bersalah. Tetapi pada waktu itu, saya memandang Jaemin seperti anak saya, dan saya tidak tega menghancurkan hidupnya."

Minhyung dan Mark saling melempar pandangan. Sekarang semua sudah jelas, Jaemin selama ini membohongi mereka dengan berpura-pura lumpuh.

Mereka bisa saja membawa semua bukti ini ke depan Jaemin, melemparnya ke mukanya, dan membuatnya malu. Tetapi itu tidak akan membuat Jaemin menyesal. Itu tidak akan membuat Jaemin membayar setimpal kebohongan yang telah dengan tega dilakukannya dengan kejam.

"Maaf, tapi aku ada jadwal operasi sekarang, aku harus pergi."

"Baiklah, terima kasih atas kejujuran Anda." Minhyung tersenyum kemudian menundukkan kepala nya untuk berterima kasih pada sang dokter.

"Wah.. Hyung! Bukankah Na Jaemin itu sungguh mengerikan? Selama ini dia membohongi kita semua!" Minhyung benar-benar tidak habis pikir dengan Jaemin, bisa-bisanya pria itu berpura-pura lumpuh selama ini hanya agar bisa mendapatkan kebahagiaannya sendiri.

Mark tidak mengucapkan apapun sedari tadi, dirinya sudah sibuk untuk memikirkan bagaimana cara membalas tindakkan Jaemin ini dengan cara yang lebih kejam, yang akan membuatnya malu, dan yang akan membuat dirinya tidak akan pernah melupakan kejadian ini seumur hidupnya.

"Hyung, kita harus membalasnya!" Seru Minhyung bersemangat.

Mark akhirnya menganggukkan kepalanya, "Ya, kita harus membalasnya." Mark menatap Minhyung serius, "Apa kau punya cara?"

Minhyung mengeluarkan sebuah seringaian di bibirnya, "Hyung, otakku ini selalu dipenuhi oleh 1001 cara untuk menghancurkan Na Jaemin."


You've Got Me From Hello


Minhyung menjemput Jaemin untuk makan malam bersama, Jaemin sudah berdandan secantik mungkin dan menunggu di kursi rodanya. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan, dan di mobil Jaemin menoleh kepada Minhyung dengan tatapan manja, "Memangnya kita mau kemana Minhyung-ah?" tanyanya mesra.

Minhyung tersenyum, matanya mengarah ke jalan di depannya, wajahnya tidak terbaca, "Kita akan makan di salah satu cafe milik Mark, kau tidak keberatan kan? Makanan di cafe itu sangat enak dan suasananya romantis."

"Apakah Mark akan ada di sana?" Jaemin mengeryitkan keningnya.

Pasti suasana makan malam yang romantis akan rusak kalau Mark ada di sana, Pikir Jaemin.

Minhyung melirik sedikit dan tersenyum, "Cafe itu miliknya, mungkin saja dia akan ada di sana, mungkin juga tidak."

Beberapa menit mereka di perjalanan akhirnya mereka tiba didepan Garden Cafe. Mereka lalu memasuki Garden Cafe itu, sebuah cafe yang indah dengan pepohonan hijau yang memenuhi sekelilingnya. Dindingnya dibatasi oleh kaca bening yang menampilkan pemandangan taman yang luar biasa indahnya. Cafe itu cukup bagus, meskipun Jaemin sedikit kecewa.

Bukankah keluarga Mark dan Minhyung memiliki banyak restoran serta hotel bintang lima? Kenapa Minhyung malah mengajaknya merayakan pertunangan mereka di cafe biasa seperti ini? Padahal dia sudah memakai tuxedo terbagusnya dan berdandan semewah mungkin karena mengira Minhyung akan membawanya makan malam di hotel yang mewah.

Ketika Minhyung serta Jaemin masuk ke dalam cafe, keadaan cafe itu cukup ramai. Beberapa orang memilih duduk-duduk bergerombol dan bercakap-cakap. Beberapa orang duduk dan menikmati minumannya di bar yang kelihatan dari kaca yang bening. Setelah membantunya turun dari mobil dan duduk di kursi rodanya, Minhyung mendorong kursi roda Jaemin dengan hati-hati memasuki cafe.

Mereka memilih meja di sudut yang sepi, Minhyung menyingkirkan kursi dan mengatur kursi roda Jaemin supaya pas di sana. Dan Doyoung lah yang melangkah mendekati mereka.

"Selamat malam Tuan Minhyung, makan malam istimewa yang Tuan minta sudah disiapkan." Dengan sopan Doyoung menyalakan lilin di tengah meja, menampilkan cahaya temaram yang indah dan sangat romantis. Pipi Jaemin memerah karena bahagia dan dia menatap Minhyung dengan penuh cinta.

"Kau menyiapkan makan malam istimewa untukku?" bisiknya mesra.

Minhyung tersenyum misterius, "Tentu saja sayang, dan aku harap kau akan menyukai setiap detiknya."

Makan malam berlangsung romantis dan nikmat, meskipun Minhyung tampaknya tidak banyak bicara. Ketika saat terakhir, Minhyung menawarkan kepada Jaemin, "Kau mau kopi untuk penutup?"

"Apa?" sebenarnya Jaemin sudah kenyang, dan dia tidak menginginkan kopi, karena kopi membuatnya susah tidur di malam hari.

Tetapi Minhyung tampaknya punya maksud tersendiri, "Malam kita tidak hanya akan berakhir di makan malam ini Jaeminie, aku punya rencana supaya kita menghabiskan malam di rumahku." Minhyung mengedipkan matanya, "Dan itu bukan untuk tidur. Jadi kurasa kau butuh kopi."

Pipi Jaemin memerah ketika memahami maksud Minhyung. Dia dan Minhyung akan bermesraan, batinnya bersemangat. Memang Minhyung berbeda dengan Mark. Mark itu sangat dingin. Jangankan bermesraan, lelaki itu jarang menyentuhnya kecuali hanya memegangnya lembut, atau memberinya kecupan di dahi.

Padahal Jaemin sangat haus akan perhatian laki-laki. Karena itulah dia tidak menolak perhatian yang dilimpahkan Vernon kepadanya. Bahkan ketika Vernon menciumnya dulu, Jaemin tidak menolak dan malahan menikmatinya. Sayangnya Vernon masih kalah kalau dibandingkan dengan Minhyung. Jaemin akhirnya memilih menjauhi Vernon karena tidak mau lelaki itu menjadi penghalang hubungannya dengan Minhyung.

"Kurasa aku mau secangkir kopi." Gumamnya malu-malu.

Minhyung terkekeh, lalu memberi isyarat kepada Doyoung, "Dua cangkir kopi." Gumamnya sambil mengedipkan mata, Doyoung menganggukkan kepalanya dan melangkah pergi.

Tak lama kemudian Doyoung datang membawa nampan berisi dua cangkir kopi yang masih mengepul panas, "Hmm.. kopi ini aromanya nikmat sekali bukan Jaeminie? Dan terlihat sangat panas, aku yakin aku akan sangat sangag menikmatinya." Minhyung bergumam ketika Doyoung mendekat, sementara itu Doyoung hanya tertawa menanggapinya.

Sayangnya karena tertawa dan terlalu memperhatikan Minhyung, nampan di piringnya oleng dan gelas kopinya jatuh miring tumpah ke samping ke arah Jaemin..

Minhyung langsung berteriak memperingatkan, "Na Jaemin! Menyingkir, kopinya sangat panas!" serunya.

Dan dengan gerakan refleks Jaemin menyingkir, menghela napas panjang karena lega ketika cairan kopi yang mengepul panas itu tidak mengenai dan melukainya, dia bergidik membayangkan luka bakar yang akan dideritanya kalau terkena cairan panas itu. Untunglah gerakan refleknya cukup bagus.

Jaemin menoleh untuk tersenyum lega kepada Minhyung, namun ia menyadari bahwa Minhyung dan Doyoung sedang tertegun dan menatapnya dengan tajam.

Jaemin menundukkan kepalanya dan kemudian menyadari bahwa dia sudah berbuat kesalahan yang luar biasa fatal. Karena dia terlalu panik menghindari kopi panas itu, tanpa sadar dia sudah melompat berdiri dari kursi rodanya.

"Aku bisa menjelaskan..." Jaemin berseru panik ketika melihat ekspresi jijik muncul di wajah Minhyung.

Bahkan pelayan sialan yang tidak bisa memegang nampan dengan benar itupun ikut memandanginya dengan mencela, padahal ini semua karena Doyoung sialan kebohongannya bisa terungkap.

"Menjelaskan apa Na Jaemin? Bahwa kau selama ini membohongi kami? Membohongi Mark, aku dan semua orang?"

"Bukan begitu..!" Jaemin meninggikan suaranya, keringat dingin muncul di keningnya. Dia gugup dan ketakutan, tidak menyangka bahwa pada akhirnya dia akan ketahuan, "Aku melakukannya karena aku mencintaimu Minhyung, aku mencintaimu, bukankah kau juga mencintaiku?"

Minhyung bersedekap, menatap Jaemin dengan dingin, "Karena mencintaiku? Aku tidak percaya." Lelaki itu menggelengkan kepalanya dengan jijik, "Kau melakukan kebohongan ini ketika kau masih bersama Mark hyung. Jelas sekali bahwa kau berpura-pura lumpuh bukan karena mencintaiku, tetapi karena keegoisanmu ingin memanfaatkan rasa bersalah kakakku, karena obsesimu untuk memiliki Mark hyung."

"Ya. Aku memang melakukannya!" Jaemin berteriak dengan frustrasi karena dia sudah kepalang basah, "Tetapi itu semua sudah tidak penting lagi. Kau mencintaiku dan aku mencintaimu. Tidakkah ini membuatmu bahagia? Aku yang bisa berjalan disisimu dan membuatmu bangga? Kita saling mencintai bukan, Lee Minhyung?" Jaemin mulai gemetaran, "Kita akan menikah dan berbahagia kan Minhyung? Aku akan memilikimu, bukan?"

Minhyung mencibir, "Kau hanya bisa memilikiku dalam mimpimu Na Jaemin." Lalu lelaki itu melemparkan bom kejam itu kepada Jaemin, "Aku sama sekali tidak pernah mencintaimu. Aku melamarmu dan sebagainya karena ingin melepaskan Mark dari cengkeraman manusia licik sepertimu. Kakakku itu terlalu baik hati untuk menyingkirkanmu secara langsung dan kau memanfaatkan kebaikan hatinya tanpa tahu malu. Sekarang kau harus menyingkir dari kehidupan kami, Jaemin-ssi."

Airmata meleleh dari wajah Jaemin, dia menatap Minhyung dengan shock dan sedih, "Kau tidak akan melakukannya kepadaku kan Minhyung-ah? Aku mencintaimu!"

Minhyung mendengus, ia memalingkan mukanya dan berdiri, "Pergilah Na Jaemin sebelum aku marah dan lebih mempermalukanmu lagi. Kau dan keluargamu telah menipu kami. Aku dan kakakku bisa saja melakukan pembalasan kejam kepadamu dan keluargamu, tetapi kalau kau menyingkir sekarang, kami tidak akan melakukannya."

"Minhyung-ah..." Jaemin berusaha memanggil dan memohon, tetapi wajah Minhyung kini tampak dingin dan penuh kebencian, tidak seperti wajah Minhyung biasanya yang selalu ceria.

"Sopir di luar akan mengantarmu pulang, kau bisa mendorong kursi roda itu sendiri bukan?" Lelaki itu melirik Jaemin dengan tatapan merendahkan. "Dan omong-omong, cincin itu bisa kau tinggalkan sebelum pergi."

Kemudian Minhyung melenggang pergi, meninggalkan Jaemin yang berdiri dan menangis histeris memanggil-manggil namanya.

"Lee Minhyung! Kau akan menyesal!" Seru Jaemin, "Lee Minhyung!"

Dan Minhyung tidak peduli. Dia juga yakin bahwa dia tidak akan pernah menyesal untuk melakukan ini semua terhadap Jaemin. Jaemin berhak mendapatkan itu semua atas semua kebohongan yang dia lakukan selama ini.


You've Got Me From Hello


Mark berada di ruangan kerjanya yang berdinding kaca, mengamati semua kejadian itu. Ketika akhirnya Jaemin pergi ke luar dengan di antar Doyoung yang membantu mendorong kursi rodanya, menuju sopir dan mobil yang sudah menunggu, Mark memejamkan matanya dengan lega.

Selesailah sudah.

Tubuhnya menegang selama mengawasi Minhyung datang dan mengajak Jaemin makan malam. Dia takut rencana mereka tidak akan berhasil, dia takut bahwa kopi itu akan menumpahi Jaemin yang memilih tidak bergerak dari kursi rodanya dan melukainya. Mereka mengambil resiko yang cukup besar dengan rencana ini.

Dan itu semua sepadan.

Jaemin sudah pergi dari kehidupan mereka selamanya. Dia dengan rencana licik egoisnya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mengganggu kehidupannya atu kehidupan adiknya.

Mark melangkah mundur dan langsung menghubungi Haechan. Suara Haechan yang menyahut lembut di seberang sana langsung menyejukkan perasaanya.

"Yeoboseyo?"

Mark tersenyum, "Semua sudah selesai, sayang. Aku akan segera kesana."

Diseberang sana Haechan juga tersenyum kemudian mengangguk, "Datanglah, aku menunggumu."

Dengan segera Mark memutuskan sambungan teleponnya dengan Haechan, ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya kemudian berjalan keluar dari ruang kerja nya itu. Kemudian Mark melihat Minhyung yang sedang bercanda dengan Doyoung di bar ketika dia menuruni tangga. Mark mendekati mereka.

"Hai Mark Lee." Senyum Minhyung tampak lebar, "Kau melihatnya tadi? Apakah aktingku keren?" Tanya Minhyung bersemangat.

Mark menganggukkan kepalanya, "Aktingmu keren sekali." Ia memberikan kedua ibu jarinya pada Minhyung, "Terimakasih Minhyung-ah, kau membuat semuanya menjadi mudah untukku.. Doyoung hyung, terima kasih, kau juga sudah membantu kami."

"Sama-sama Mark." Ucap Doyoung disertai senyum tulusnya.

"Aku akan mengirimkan tagihannya nanti." Minhyung mengedipkan sebelah matanya menggoda, "Mungkin aku akan meminta makanan gratis di sini setiap hari sebagai bayarannya."

Mark melemparkan tatapan mata mencela, "Silakan kalau kau memang tidak tahu malu." Lelaki itu lalu terkekeh, sebuah tawa yang terdengar menyenangkan karena sekarang hatinya benar-benar ringan, "Aku akan ke tempat Haechan."

Minhyung dan Doyoung saling bertukar pandang dan tersenyum penuh arti ketika melihat Mark berjalan dengan sedikit tergesa dan penuh kebahagiaan keluar dari cafe. Pundaknya tampak tegak tanpa beban, seakan semua kesakitannya yang berat telah disingkirkan dari dirinya.

"Senang bisa melihat Mark seperti tadi." Doyoung menyuarakan pemikirannya pada Minhyung.

Minhyung menyetujui, ia menghela napas panjang, "Aku senang pada akhirnya Mark bisa mendapatkan kebahagiaannya."

"Lalu kau kapan mendapatkan kebahagiaanmu?" Tanya Doyoung jahil.

"Aku sudah bahagia hyung." Sahut Minhyung disertai sebuah tawa.

Doyoung menggeleng, "Kebahagiaan yang kumaksudkan itu seperti Mark yang bertemu dengan Haechan."

Minhyung tiba-tiba merona, ia baru mengerti maksud dari Doyoung, "Hyung! Kau membuatku malu!"

Doyoung tertawa keras kemudian menepuk pundak Doyoung, "Kuharap kau bisa segera menemukannya."

Minhyung mengerucutkan bibirnya, "Disaat seperti ini, aku selalu berharap Haechanie memiliki saudara kembar."

"Agar bisa kau dekati?" Tebak Doyoung dan tanpa diduga Minhyung menganggukkan kepalanya dengan antusias.

"Astaga.. Lee Minhyung.."


You've Got Me From Hello


Haechan berjalan sedikit tergesa ketika ia mendengar suara pintu apartemennya yang dibuka, itu pasti Mark, dan ia ingin segera menemuinya. Seperti dugaan Haechan, kekasihnya itu baru saja melepaskan sepatunya dan mengganti dengan sandal yang memang sengaja dibeli oleh Mark.

"Hyung." Panggil Haechan.

Mark mengangkat kepalanya untuk menatap Haechan, "Saat ini aku merasa begitu ringan." Mark menatap Haechan dan tersenyum lebar, "Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya."

Haechan menatap kekasihnya yang tampak begitu bahagia itu dengan terharu. Mark memang telah menanggung beban berat yang begitu lama, karena menanggung beban demi kebahagiaan orang lain. Dan sekarang, lelaki itu layak untuk bahagia.

Haechan berjanji dalam hati dia akan membahagiakan Mark sebisanya. Sebisa mungkin untuk menebus segala beban dan penderitaan yang selama ini ditanggung oleh Mark.

Dengan senang dia menghampiri Mark dan kemudian memeluknya, Mark pun lalu membalas pelukannya dengan sayang. Lelaki itu mengecup dahinya dan menatapnya lembut, "Terimakasih Lee Donghyuck." Bisiknya penuh cinta.

Haechan tersenyum manis, "Untuk apa?"

"Karena muncul di hidupku dan mengubah segalanya untukku. Kau membuatku berani melanggar semua prinsipku dan mengejar kebahagiaanku. Kau memberiku kebahagiaan yang dulu bahkan tidak pernah berani aku impikan." Mata Mark berkaca-kaca, lelaki itu mengungkapkan perasaannya dengan sepenuh hatinya.

Mata Haechan sendiri terasa panas, menyadari betapa besarnya cinta yang diberikan Mark kepadanya. Lelaki ini benar-benar tulus kepadanya sejak awal, seorang lelaki yang dipenuhi kebaikan hati yang luar biasa. Dan Haechan memilikinya. Ah, bukan.. mereka saling memiliki.

"Aku mencintaimu Mark Lee." Haechan berbisik pelan, menutup matanya yang penuh air mata, membiarkan kekasihnya itu mengecup sudut matanya yang basah, lalu dahinya, lalu ujung hidungnya dan kemudian bibirnya. Mereka berciuman dengan penuh cinta kemudian, bibir mereka bertaut mencicipi kemanisan satu sama lain.

Ketika Mark mengangkat kepalanya dia menatap Haechan dengan serius, "Kurasa aku tidak ingin berlama-lama lagi."

"Berlama-lama untuk apa?" Haechan mendongak, menatap Mark dengan tatapan penuh ingin tahu.

"Untuk menikah." Pria itu mengeluarkan kotak cincin di saku celananya dengan gugup, "Aku.. Hm.. Aku membelinya sejak kemarin... "

Haechan tertegun, kotak itu sudah pasti sebuah cincin, dan itu berarti Mark melamarnya. Dia tidak menyangka Mark akan melakukannya secepat itu. Tetapi apalagi yang perlu ditunggu? Mereka sangat pas bersama, mereka saling melengkapi satu sama lain, dan mereka sangat bahagia bersama.

Mata Haechan kembali basah oleh air mata ketika Mark membuka kotak cincin itu dan berbisik parau kepada Haechan,

"Maukah kau menikah denganku? Maukah kau menjadi yang pertama kulihat ketika bangun di pagi hari, dan menjadi yang terakhir kupeluk ketika aku menutup mata di malam hari?"

Tentu saja Haechan mau.

Dia menganggukkan kepalanya, tidak mampu berkata-kata karena perasaan bahagia yang membuncah memenuhi rongga dadanya. Haechan menganggukkan kepalanya sambil berurai air mata, dan Mark mengecup dahinya dengan lembut.

Lelaki itu lalu memasangkan cincin itu di jari manis Haechan dan kemudian ia memeluk kekasihnya,"Terima kasih.." Lirih Mark sambil mengelus rambut Haechan.

Haechan mengeratkan pelukannya pada Mark, "Aku mencintaimu hyung.. Sangat mencintaimu."

Mark tersenyum kemudian mengecup pelipis Haechan, ia juga mengeratkan pelukannya, "Aku juga sangat mencintaimu, lebih dari yang kau tahu Lee Donghyuck.."

Mark rasa tidak ada yang lebih membahagiakan daripada memeluk sang pujaan hati dalam rengkuhan lengannya. Ketika ia menyadari bahwa mereka akan bersama selamanya, Mark merasa begitu bahagia. Haechan pun sama, ia merasa bahwa ia akan berada di samping Mark selamanya, melewati hari demi hari sambil bergandengan tangan.


The end


Happy Ending kan?

Akhirnyaaa ff ini selesai jg yeayy..

Makasih buat kalian semua yg udh baca ff ini dari awal smp akhir, dan maaf buat semua typo di ff ini hehe

Aku mau blng makasih jugaa buat Haechanppuccino buat review kamu kmrn dan jujur review kamu itu bikin aku terharu :) tetep semangat yaa dan jadi diri kamu sendiri aja okayy~

Terusss, sebenernya masih ada epilog nya sih mungkin nanti aku post minggu depan, karna kalau aku gabungin disini kyknya kepanjangan deh soalnya ini aja udh 6000 words lebih jdi aku pisah aja yaa epilog nya

Oh iya, aku jg mau blng aja kalau sebenernya aku itu tau kok siapa aja yg baca ff ini tpi ga pernah review sm sekali wkwkwk dan aku harap sih buat di chapter terakhir ini kalian bisa review sekali aja. Bisa kan kalian ngeluangin beberapa menit buat ngetik review? Karna aku jg udh ngeluangin waktu aku buat remake ff ini :)) Mari kita saling menghargai~

Okay

See You~

Special Thanks To

bebekgoreng, jungXlee, duabumbusayur, sffnnaaa07, aiumax, chypertae, Wiji, markeulxx, Sashashineeya, Dindch22, haechanppuccino (very very special thanks!), mieayambaso, 88122113su, Minge-ni, nomunini, SMark, 8ternity, KimChiel23