Unperfect Princess
Kai mengernyit memerhatikan bagaimana Kyungsoo makan. Ini sudah ramyun kedua yang ia buat dan Kyungsoo telah mengahabiskan hampir seluruhnya. Ia tidak mengerti sejak awal bagaimana gadis itu bisa terlihat sangat kelaparan. Ingat saat di new York dulu, Kyungsoo menolak semua jenis makanan instan yang ia berikan. Tetapi sekarang, bahkan ia makan seperti orang yang baru menemukan makanan terenak di dunia ini.
"Ini sangat lezat." Sahut Kyungsoo setelah menghabiskan satu porsi mie ramyunnya yang kedua. Gadis itu tersenyum layaknya anak kecil dan Kai tak bisa berhenti menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadis itu.
"Berapa lama kau tidak makan heh? Sepertinya aku akan segera bangkrut untuk dua hari ini." Ejek Kai.
Kyungsoo hanya menyunggingkan senyumnya. "Kau tidak akan bangkrut karena mie ramyun. Kemarilah." Sahut Kyungsoo memberi isyarat Kai untuk mendekat menggunakan telunjuknya.
Kai berjalan mendekat dan Kyungsoo langsung menyematkan ciuman terima kasihnya pada bibir Kai. Hanya kecupan biasa. Kai yang gemas langsung mencubit kedua pipi Kyungsoo. Menyuruhnya untuk menunggu di ruang tengah selagi Kai membereskan kekacauan yang Kyungsoo buat di dapurnya. Kini Kai percaya bahwa Kyungsoo benar-benar layaknya seorang putri. Ia tidak pernah memasak sama sekali. Ketika Kyungsoo mengatakan bahwa dia kelaparan, Kai mengijinkan dia untuk memasak sendiri. Tetapi saat ia kembali, ia menemukan dapurnya yang hampir hancur berantakan. Entah, bahkan Kai tak ingin membayangkan hal itu.
Kyungsoo menuruti apa yang diperintahkan Kai, dan kini ia tengah berputar-putar memerhatikan keadaan ruangan apartemen Kai. Kai hanya memerhatikannya sekilas sebelum ia tersenyum lalu mulai membereskan dapurnya yang kotor dan berantakkan.
Ketika terdengar air yang mengalir, Kyungsoo sedikit menoleh menatap Kai yang ada di dapur. Melihat pria itu yang tengah mengumpulkan piring kotor, panci lalu mencucinya. Kyungsoo merasa bersalah telah membuat kekacauan di dapur Kai tadi. Ia ingin membantu, namun sepertinya kali ini Kai tidak akan mengijinkannya. Tetapi itu lebih baik, daripada Kyungsoo semakin menghancurkan dapur Kai lebih baik ia menunggu di sini.
Tatapannya kembali teralih memerhatikan keadaan ruangan apartemen Kai. Sebelumnya Kyungsoo tak memerhatikan dengan jelas bagaimana apartemen ini tetapi sekarang ia bisa memiliki banyak waktu. Seperti apartemen pada umumnya, namun ini terlihat lebih sederhana dan tidak terlalu banyak barang di sini. Dan aroma ruangan ini; cologne itu—parfum yang dikenakan Kai. Oh, Kyungsoo semakin betah beralama-lama di sini. Kyungsoo langsung mengalihkan tatapannya ke sudut lain dan saat itulah ia menemukan sebuah benda yang langsung memikat perhatiannya. Dengan senyum yang terkembang, Kyungsoo langsung meraih benda itu dan membawanya menuju sofa—sebuah gitar.
Ketika Kyungsoo duduk, ia membawa gitar itu ke dalam pangkuannya. Memposisikannya seolah ia akan bermain gitar. Sesaat Kyungsoo meraba gitar itu, sangat halus dan klasik. Ia memetik senar gitar itu perlahan. Terdengar indah. Kyungsoo tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Bahkan Kyungsoo memainkan setiap kunci nada seolah ia adalah seorang ahli.
Tanpa sadar, Kai telah mendekat memerhatikannya. Ia sedikit tersenyum ketika Kyungsoo tengah asik memainkan gitar yang ada dalam pangkuannya.
"Kau bisa bermain gitar?" Tanya Kai, gadis itu mendongak dan hanya menyunggingkan senyumnya.
"Tidak." Kyungsoo menjawabnya dengan diikuti gelengan kepala. Kai langsung mendudukkan tubuhnya di sisi Kyungsoo dan memerhatikannya. Ia bermain hanya dengan memetikkan senar gitar itu asal. Benar-benar tidak bisa bermain gitar.
"Lalu kenapa kau tertarik dengan gitar itu?" Tanya Kai penasaran.
"Percaya atau tidak, ketika seseorang memainkan gitar untukku. Aku pasti akan jatuh cinta kepadanya." Ucap Kyungsoo tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Sayang sekali." Dan itu mampu membuat Kyungsoo mengalihkan perhatiannya kepada Kai. "Aku tidak bisa bermain gitar."
Kyungsoo mengernyit. "Tidak bisa? Lalu kenapa kau memiliki gitar?"
"Itu bukan milikku. Itu milik sahabatku, Yixing. Dia meninggalkannya di sini selagi ia pulang ke Cina."
"Kapan dia pulang?" Tanya Kyungsoo dengan semangat dan Kai hanya menggelengkan kepalanya tidak tahu. Kyungsoo sedikit mendesah kecewa sebelum tersenyum pada pria yang ada di sampingnya. "Katakan kepada sahabatmu itu bahwa aku menunggunya untuk bermain gitar, dengan senang hati aku akan jatuh cinta kepadanya."
Kai hanya tertawa menyikapi candaan Kyungsoo. "Sayangnya dia sudah memiliki kekasih."
"Apa yang salah dengan memiliki kekasih, toh, aku juga tertarik dan jatuh cinta padamu." Goda Kyungsoo dan Kai tak bisa menyembunyikan tawa gelinya melihat Kyungsoo yang tersenyum manis.
Kyungsoo kembali sibuk memainkan gitar itu, membiarkan Kai terdiam untuk beberapa saat. Mengingat kembali apa yang dikatakan Kyungsoo. Kini pikirannya kembali pada kenyataan. Pada hubungan Kyungsoo sebenarnya; dia telah bertunangan. Kenyataan itu membuat senyumannya menghilang digantikan dengan wajah seriusnya.
"Kyungsoo," panggil Kai dan Kyungsoo hanya menanggapinya dengan pertanyaan apa. "Bagaimana dengan tunanganmu?"
Kyungsoo langsung menghentikan petikkan jarinya pada senar gitar. Terdiam untuk beberapa saat sebelum menoleh memerhatikan wajah Kai yang kini nampak lebih serius. Cepat-cepat Kyungsoo membuang tatapannya.
"Bisakah kita tidak membicarakan hal itu?" bisik Kyungsoo. "Kurasa itu tidak penting saat ini."
"Penting atau tidak, bagiku.. aku membutuhkan keputusan itu."
"Aku akan menyelesaikannya sendiri."
"Jangan bertindak bodoh seorang diri."
Kyungsoo sedikit mengerang mendengar apa yang dikatakan Kai. Kyungsoo langsung menyimpan gitarnya di atas meja, dan terdiam dengan wajah menunduk. Kedua tangannya mengepal menggenggam erat ujung kaos Kai yang tengah ia kenakan.
"Biar aku saja yang menyelesaikan masalah ini sendiri. Lagipula ini masalahku." Balas Kyungsoo beberapa saat kemudian setelah ia terdiam. Kyungsoo merasa tidak nyaman dengan percakapan ini dan Kai menyadari hal itu dengan cepat. Ia merasa bersalah telah membuat Kyungsoo dalam posisi membingungkan seperti sekarang ini.
Dengan hati-hati, Kai meraih satu pergelangan tangan Kyungsoo yang terkepal. Meregangkannya sebelum menautkan jari jemari mereka menjadi satu genggaman.
"Maafkan aku," bisik Kai lirih. "Aku tidak bermaksud menyudutkanmu."
"Tidak apa-apa." Bisiknya namun suaranya terdengar bergetar. Oh, tidak, jangan menangis lagi. Kai langsung menarik Kyungsoo ke dalam pelukannya dan mengusap telapak tangannya pada rambut Kyungsoo yang terurai.
"Aku bersalah, maafkan aku. Seharusnya aku tak mengatakan hal itu."
"Tidak kau benar, aku harus segera menyelesaikan semua ini."
"Tidak aku tidak—" Kai sedikit menggigit bibirnya sendiri mencari kalimat yang tepat. "Dengar, aku tidak akan memaksamu. Aku tidak ingin bersikap egois."
"Kadang keegoisan itu penting untuk meraih kebahagian yang kita inginkan," Kyungsoo melepaskan pelukan Kai dan beralih menatap wajah pria yang dicintainya itu dengan tatapan sendu. "Aku akan membicarakan keputusanku untuk melepas ikatan perunanganku dengan Chanyeol. Daddy harus mengerti apa yang aku inginkan. Dia juga harus melihatku bahagia dengan sosok yang aku cintai. Semua itu benar bukan, Kai?" Tanya Kyungsoo memohon sebuah jawaban.
Namun Kai hanya bisa diam. Ia memikirkan situasi yang akan terjadi pada dirinya bersama Kyungsoo. Sekaligus beberapa kemungkinan-kemungkinan besar dengan keputusan yang diambilnya. Bukankah itu terdengar konyol? Beberapa bulan menjelang hari pernikahannya, Kyungsoo malah memutuskan pertunangannya yang telah terikat selama bertahun-tahun. Kai bukanlah orang bodoh untuk bisa membaca situasi yang terjadi dalam kehidupan Kyungsoo.
"Kai.." Panggil Kyungsoo khawatir.
Kai hanya sedikit menyunggingkan senyumnya. Menggenggam erat-erat kedua pergelangan Kyungsoo. Menariknya untuk ia cium dalam-dalam. Ia mengangkat wajahnya dan mencoba tersenyum menyetujui apa yang kyungsoo rencanakan meski ia ragu.
"Baiklah."
"Kau mau menungguku?" Tanya Kyungsoo memastikan.
"Aku akan menunggumu," balas Jongin. Ia langsung menarik Kyungsoo ke dalam pelukannya dan mengecup lehernya dengan sayang. "Aku akan menunggumu, aku akan bersabar." Bisik Kai. Meski ia ingin maju kedepan. Namun untuk saat ini, ia harus menahan langkahnya sendiri. Menunggu hingga hari itu tepat. Dimana ia bisa mendapatkan Kyungsoo sepenuhnya.
Kai mungkin akan mati kebosanan jika ia terus berada di dalam apartemennya selama seharian penuh. Ia tidak akan pernah betah untuk berlama-lama berdiam diri. Lebih baik ia pergi ke studio dan berlatih dance setiap harinya. Namun untuk sekarang tidak. Bahkan untuk satu menit pun ia tidak ingin pergi meninggalkan Kyungsoo. Apartemennya yang biasanya sepi kini terisi oleh keberadaan gadis yang selama ini dikaguminya.
Kyungsoo berbaring di atas perut telanjang Kai. Tengah memegang dan menatap ponselnya lekat-lekat. Entah apa yang gadis itu tonton saat ini. Sedangkan Kai hanya bisa duduk tak bisa terusik sama sekali karena Kyungsoo. Beberapa menit yang lalu gadis itu mengatakan bahwa ia bosan. Kai yang merasakan hal yang sama mengusulkan agar Kyungsoo berlatih menari. Namun gadis itu malah berdecak dan tak menanggapinya sama sekali. Kini Kai memilih kembali membaca naskah opera yang akan dipertunjukkan Kyungsoo. Mencari sesuatu agar Kyungsoo mau berlatih kali ini.
"Bagaimana menurutmu?" Kyungsoo mengarahkan ponselnya tepat di hadapan Kai. membuatnya terkejut dan berkedip untuk beberapa saat. Ia melirik sekilas ke arah Kyungsoo yang kembali menarik ponsel yang ia tunjukkan sebelumnya. "Kurasa aku lebih cocok memainkan opera seperti ini. Menjadi gadis yang berapi-api dibandingkan menjadi gadis lugu dan mendayu-dayu.. aku tidak bisa menari dan tiba-tiba harus menari balet."
"Kenapa kau menerimanya jika kau tidak bisa menari?"
"Hanya mencari tatantangan." Balas Kyungsoo singkat.
Kai menatap beberapa saat Kyungsoo yang tengah memerhatikan lekat ponselnya. Sebelumnya ia tidak peduli apa yang Kyungsoo tonton saat ini. Sekarang ia mulai penasaran. Ia langsung merebut ponsel itu dan menontonnya seorang diri. Penampilan opera. Entah lagu apa yang mereka bawakan, disana terdapat seorang wanita dan pria tengah melakukan drama. Namun hanya sang wanita saja yang bernyanyi.
"Menceritakan tentang apa ini?"
"Kepanikan seorang wanita ketika ia akan menikah. Dia terus memarahi kekasihnya karena wanita itu terlalu stress menghadapi pernikahannya."
"Menyeramkan sekali," komentar Kai. "Sangat pantas sepertimu."
Kyusngoo berdecak dan merebut kembali ponselnya. Berpura-pura marah dengan apa yang dikatakan Kai. meski itu terlihat kekanak-kanakan. Kai hanya bisa tersenyum geli.
"Mau bernyanyi untukku?"
"Entahlah.. tenggorokkanku sedang sakit." Balas Kyungsoo sekenannya namun itu mampu membuat perhatian Kai seluruhnya kini tertuju kepada Kyungsoo.
"Sakit? Kenapa bisa?"
"Hanya sakit biasa. Air putih saja bisa memulihkan kondisi tenggorokkanku kembali."
"Apa karena alkohol itu?"
"Tenggorokkanku sudah sakit sebelum aku minum." Mengingat kembali kejadian dimana ia terakhir kali minum alkohol dan berakhir mabuk. Kyungsoo melirik dan menemukan tatapan Kai yang lekat kepadanya. "Kenapa kau memandangku seperti itu?"
"Sudah tahu tenggorokkanmu sakit, kenapa masih minum alkohol huh?" kesal Jongin. Namun Kyungsoo hanya bisa diam dan kembali membuang tatapannya. "Sudah berapa lama itu?" Kini suaranya terdengar lebih halus dengan nada khawatir.
"Mungkin tiga minggu, entah.. aku lupa. Ini biasa terjadi setelah aku menyelesaikan konser. Kenapa kau terdengar sangat khawatir?" Kyungsoo menurunkan ponselnya dan kini beralih menatap Kai yang berada di atasnya.
"Itu tidak terdengar baik bagiku."
Kyungsoo hanya tersenyum, "Air putih saja sudah cukup untuk memulihkan suaraku kembali."
"Kau sudah memeriksakannya?"
"Seharusnya aku memeriksakannya, tapi belum. Sungguh, aku hanya tidak ingin pergi."
Kai berdecak. Langsung menghadiahi jentikkan jarinya pada kening Kyungsoo. Gadis itu sontak mengerang dan bangun dari posisi berbaringnya tadi. Meringis kesakitan mengusap keningnya yang memerah. Sedangkan Kai hanya menatapnya dengan mata yang menyipit.
"Menyebalkan! Kenapa kau melakukan ini kepadaku?" Ucap Kyungsoo marah.
Kai hanya mengangkat bahunya. "Sudah tahu kau penyanyi, tapi masih saja suka minum-minum. Kau tahu, aset utama seroag penyanyi adalah suara. Apa jadinya seorang penyanyi tanpa suara? Kau harus memeriksakannya!"
"Ya.. ya.. aku akan memeriksakannya. Tentunya, biar kau tidak cerewet lagi seperti ini." Balas Kyungsoo marah dan duduk memunggungi Kai.
Kai memerhatikan pungung itu. Lucu sekali melihat Kyungsoo sedang kesal dan itu semakin membuat Kai ingin menggodanya. Namun, mengingat tentang kondisi Kyungsoo. Tentu itu terdengar tidak baik. Bagaimana Kyungsoo bersikap tidak peduli ketika tenggorokkannya tengah dalam keadaan buruk? Itu sangat menakutkan. Jangankan Kyungsoo, Kai yang hanya merasakan sakit di kakinya terkadang selalu merasa was-was.
Melihat Kyungsoo seperti ini ia merasa tak tega, Ia tidak akan pernah merasa marah kepada Kyungsoo. Semenyebalkan apa ia sebenarnya, sebanyak apa ia bicara, dan sekasar apa perilakunya. Kai lebih menyukai Kyungsoo yang seperti ini. Menjadi dirinya sendiri, dibandingkan bersikap seperti orang lain. Kai langsung menggeser tubuhnya dan memeluk tubuh Kyungsoo. Kai merasakan bahwa tubuh yang dipeluknya sedikit tersentak, namun gadis itu sama sekali tidak bicara bahkan tak menoleh kepada Kai.
Kai mendekatkan bibirnya di telinga Kyungsoo dan mulai berbisik. "Maafkan aku. Baiklah tidak bernyanyi, bagaimana kalau menari?"
"Aku tidak bisa menari."
"Berdansa?"
"Terlebih itu, aku benar-benar tidak bisa melakukan apapun."
"Aku akan mengajarkanmu." Bisiknya. Menghadiahi Kyungsoo sebuah kecupan mesra di telinganya.
Akhirnya Kyungsoo mau menoleh menatapnya. Menjawab ajakan Kai dengan sebuah anggukan. Dengan senang hati Kai langsung berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Kyungsoo berdiri.
"Anggap saja kita tengah berada di pesta dansa." Kai membuka suaranya membuat Kyungsoo kini tergelak tertawa. Sesaat setelah mereka berada di tengah ruangan.
Pesta dansa? Yang benar saja. Kyungsoo melarikan matanya menatap penampilannya begitupun dengan penampilan Kai. Mana ada pesta dansa yang membiarkan tamunya menggunakan pakaian seadanya seperti ini? Kai yang hanya mengenakan celana jeans pendeknya dan Kyungsoo yang hanya mengenakan kaos Kai yang kebesaran untuk ukuran tubuhnya.
"Oh, kau memiliki daya khayal yang hebat." Balas Kyungsoo namun Kai hanya mengangkat bahunya acuh.
Layaknya seorang pria terhormat, Kai langsung berlutut. Mengulurkan tangannya pada Kyungsoo. Meminta Kyungsoo untuk berdansa dengannya. Entah kenapa itu terlihat lucu bagi Kyungsoo. Ia ingat puluhan pesta yang sering ia hadiri. Dan hanya segelintir orang yang mau mengajaknya berdansa. Namun melihat Kai yang bersikap seolah mengagungkanya membuat Kyungsoo merasa menjadi gadis yang paling beruntung di pesta dansa. Kyungsoo tak bisa berdansa, dan itu alasan satu-satunya mengapa ia mendapatkan sedikit sekali pria yang ingin berdansa dengannya. Meski ia tidak percaya diri, namun ia bersama seorang penari terbaik saat ini. Mungkin saja, dengan ajaib ia bisa menari. Kyungsoo tersenyum, menggapai lengan Kai yang langsung pria itu cengkram erat.
Tubuhnya terhentak ketika Kai baru berdiri dan menarik tubuh Kyungsoo untuk semakin dekat dengan tubuhnya. Satu telapak tangannya tergenggam erat jari-jari Kai yang saling bertautan. Sedangkan satu telapak tangan lainnya mendarat di dada telanjang pria itu. Semakin membuat Kyungsoo bisa merasakan debaran jantung Kai.
Untuk beberapa saat Kyungsoo terpesona dengan kedua bola mata yang dimiliki Kai. Terlihat bercahaya dan sangat indah. Kai memiliki banyak kesempurnaan yang membuat pria itu semakin menawan. Dan sepertinya itu tidak akan pernah habis. Bahkan Kyungsoo tak pernah bosan untuk menatapnya.
Seolah terhipnotis. Ia mengikuti setiap gerakan yang di lakukan Kai. Satu lengannya yang berada di pinggangnya menuntun langkah Kyungsoo untuk mengikuti langkahnya. Ke kanan, kiri, depan, belakang lalu berputar. Bahkan Kyungsoo seperti seorang ahli dalam menari saat ini. Hanya satu saja yang kurang,
"Kita membutuhkan musik." Bisik Kyungsoo. Tak bisa mengalihkan perhatiannya dari mata Jongin yang menjebaknya.
"Kurasa kau harus bernyanyi, bagaimana kalau My heart will go on?" Jawab Kai.
Kyungsoo berdecak, sedikit tersenyum miris mendengar tawaran Kai. "Lagu yang menyedihkan. Kurasa kau benar-benar pencinta soundtrack film ya? Setelah Mulan sekaang Titanic?"
"Itu lagu yang abadi."
"Kau memiliki selera yang unik."
"Jujur saja, aku hanya menikmati suara dan penampilanmu. Daripada lagunya, aku tidak mengerti."
"Sekali-kali kau harus belajar musik klasik."
Kai membawa tubuh mereka bersama-sama untuk berputar. Meski sedikit tersentak terkejut, Kyungsoo merasa ia tengah terbang untuk sekian detik. Kini kedua tangannya beralih menempatkannya pada kedua bahu Kai. Mencengkramnya kuat-kuat ketika gerakannya semakin lancar; bahkan tanpa musik sama sekali. Kedua tangan Kai melingkar erat di pinggangnya, Menarik Kyungsoo untuk semakin mendekat. Menari layaknya mereka adalah pusat perhatian di pesta dansa sebenarnya. Betapa romantisnya.
Kyungsoo merasa ia akan pingsan tidak lama lagi. Ia terlalu mengagumi pria ini. Hingga ia ingin tidur dan terus tidur untuk memimpikannya setiap saat. Ia menjatuhkan kepalanya pada dada Jongin yang telanjang. Semakin tersenyum ketika mendengar debaran Jantung Kai yang begitu sangat tenang. Pria yang tidak terduga. Penuh keajaiban dan penuh cinta.
"Kau begitu misterius Kai." Bisik Kyungsoo di tengah langkah tarian mereka.
"Apa?" Tanya Kai tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Kyungsoo saat ini.
"Ceritakan tentang keluargamu."
"Kenapa kau ingin tahu tentang keluargaku?" Tanpa perlu menatapnya pun Kyungsoo sudah tahu bahwa wajah Kai kini tengah merasa bingung.
Kyungsoo mengangkat wajahnya tanpa menjauhkan sedikit pun jarak di antara ereka. "Apa aku sudah mengatakan bahwa kau adalah pria misterius?" Kai menatapnya dengan alis yang terangkat dan Kyungsoo hanya membalasnya dengan senyuman miris. "Kau telah mendengar begitu banyak kesedihan dalam kehidupanku. Mungkin, aku bisa mendengar sedikit kebahagiaan dari kehidupanmu."
Kyungsoo langsung menjatuhkan kembali kepalanya pada dada Kai. Mereka saling diam membisu. Mungkin hanya suara tetesan air hujan yang menemani mereka malam ini. Hening. Tidak ada yang berniat membuka suara mereka. Hingga helaan napas Kai terdengar lalu membuka suaranya.
"Keluargaku biasa saja. Aku memiliki orangtua yang tinggal si Suncheon. Aku memiliki dua orang kakak perempuan, satu kakak ipar, dan satu keponakan. Hanya itu saja. Ada yang ingin kau ketahui?"
"Lanjutkan.. ceritakan padaku bagaimana keluargamu."
Kyungsoo memejamkan matanya dan kini tangannya turun. Menyelusup masuk pada kedua lengan Kai. Memeluk tubuhnya erat.
"Keluargaku memiliki sebuah toko roti biasa di Suncheon dan eomma seorang ibu rumah tangga biasa." Terdapat sedikit jeda sebelum Kai kembali bicara. "Kau ingin tahu cerita lainnya? Hanya saja itu terdengar menyedihkan."
Kyungsoo hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan. Tanpa membuka matanya. Ia masih merasa nyaman. Ia merasa sangat dekat dengan Kai saat ini. Mengetahui latar belakang dia sebenarnya.
"Saat aku kecil, aku mengatakan bahwa aku akan menjadi seorang penari hebat. Kau ingat itu? Impianku adalah masuk Juilliard. Dan satu-satunya jalan untuk mewujudkan impianku adalah dengan pindah bersekolah di Seoul. Appa mendukungku, sedangkan eomma. Ia menolak semua rencanaku. Ia mengatakan bahwa ia tidak akan pernah mengirimkanku uang. Tapi aku tetap pergi dan tinggal di asrama. Meski semua keperluan sekolahku terbayar oleh bantuan kakak iparku, eomma benar-benar menepati perkataanya. Ia sama sekali tidak mengirimku uang. Sejak saat itu, aku belajar mencari uang sendiri. Setiap jam sekolah berakhir aku akan bekerja paruh waktu, dan setelah pulang. Aku akan kembali ke sekolah untuk berlatih menari. Apa aku pernah mengatakan tentang Yixing?"
Kyungsoo hanya menganggukan kepalanya. "Sahabatmu yang memiliki gitar itu?"
Jongin mengangguk. "Dia sahabatku sejak sekolah menengah atas. Kebetulan dia ketua klub dancer di sekolah dan dia mengijinkanku untuk menggunakan ruang latihan itu setiap harinya. Dia sangat baik."
"Lalu tentang Juilliard?"
"Aku melakukan beberapa audisi, mengirim beberapa proposal dan mengikuti tes TOEFL hingga tiga kali."
"Semudah itu?"
"Kau pikir masuk Juilliard bisa semudah itu?" Kyungsoo membalasnya dengan sebuah gelengan. "Kau benar, aku gagal. Bahkan hasil TOEFL-ku jauh dari rata-rata. Bahasa Inggrisku sangat buruk."
"Lalu bagaimana kau bisa masuk?"
"Salah satu temanku mengajakku pergi ke New York bersama karena ia akan masuk ke salah satu universitas di sana. Ia mengatakan bahwa aku tidak akan pernah berhasil, aku harus melakukan audisi secara langsung. Yixing menyarankan hal yang sama. Namun lagi-lagi eomma menolak rencanaku. Namun diam-diam dengan bantuan appa, yang.. bahkan aku tidak tahu darimana ia mendapatkan semua uang itu. Aku pergi ke New York bersama temanku. Aku melakukan audisi dan beruntung aku di terima."
"Untuk beberapa minggu aku tinggal tanpa memiliki uang sepeser pun. Eomma marah besar dan tidak mengirimku uang sama sekali. Namun akhirnya eomma luluh oleh bujukan noona. Ia mengatakan bahwa aku harus menjadi orang besar nanti. Eomma mengatakan bahwa ia mernyesal karena hanya bisa memberikan uang untuk biaya masuk Juilliard. Tidak untuk tinggal dan makan. Dan sejak saat itu aku bekerja. Kau ingat, aku menari di jalanan dan bekerja di pub malam. Itu memang benar-benar kulakukan untuk membuatku agar tetap bisa makan. Sejak saat itu aku bertekad. Setelah aku memiliki banyak uang, aku tidak akan menghabiskannya sendiri. Sebagian besarnya akan kuberikan kepada keluargaku. Itung-itung membayar jasa mereka."
Kyungsoo tertegun mendengar cerita Kai. Hanya untuk mengejar mimpinya. Dengan segala keterbatasan yang ia punya. Kai tetap berusaha untuk meraihnya. Semakin jelaslah perbedaan di antara mereka. Yang semakin mencolok adalah status sosialnya. Ketika Kyungsoo masih bisa makan dengan enak dan sekolah dengan tenang. Kai masih harus memikirkan bagaimana ia bisa makan dan tidur esok hari. Kyungsoo merasa ia begitu sangat kecil di hadapan Kai saat ini.
"Mereka pasti bangga dan sangat menyanyangimu. Beruntung bisa memiliki keluarga seperti itu." Jujur, sekelibat rasa iri terpendam di dalam hati Kyungsoo saat ini. kenapa bukan ia yang memiliki kehidupan seperti itu?
"Suatu hari aku akan mengenalkanmu kepada mereka."
Kyungsoo tersenyum sekilas. Sebuah harapan. "Ya, aku ingin benar-benar merasakan keluarga sesungguhnya." Tanpa sadar air matanya menetes. Ia memejamkan matanya kembali dan semakin mendekap erat tubuh Kai. Beruntung menjadi seorang Kai. Memiliki keluarga yang begiu sangat menyayangi dan mendukung penuh mimpinya. Hidupnya begitu bebas. Benar-benar bebas dengan segala mimpi yang ia punya. Tidak sepertinya yang terkekang.
Merasakan sesuatu membasahi dadanya. Kai langsung menarik tubuh Kyungsoo sedikit menjauh. Menatap wajahnya yang telah basah oleh air matanya.
"Ada apa? Kenapa kau menangis?" Tanya Kai khawatir.
Kyungsoo hanya tersenyum lalu menggeleng perlahan. Ia langsung memeluk kembali Kai. Lebih erat dari sebelumnya. Memeluknya seolah ia tidak ingin Kai pergi meninggalkannya.
"Aku merasa beruntung memilikimu. Pria paling bahagia di dunia ini. Kurasa, aku juga akan segera mendapatkan kebahagiaanku. Buat aku bahagia." Bisik Kyungsoo.
Kai tak bisa mengatakan apa-apa selain mendengar penuturan Kyungsoo di tengah isakannya. Ia menghentikkan langkah tarian dansa mereka. Ia mengulurkan tangannya untuk mengusap rambut Kyungsoo. menenangkannya hingga gadis itu berhenti menangis. Menghadiahi gadisnya dengan kecupan dalam penuh sayang di keningnya.
Ada banyak hal yang Kyungsoo inginkan dengan Kai untuk menghabiskan waktu berliburnya. Selain mengobrol bersama, bercanda hingga saling melontarkan ejekan satu sama lain. Bagian favoritnya adalah saat ini. Ketika mereka bertemu begitu intim satu sama lain. Tidak peduli telah berapa banyak waktu yang mereka habiskan untuk bercinta. Kai seolah terus menggodanya dengan sihir yang ia miliki. Konyol memang. Tapi itu yang diinginkan Kyungsoo. Kai sangat ajaib. Membuatnya ingin sekali terus melekat dengan pria itu. Menghabiskan keintiman mereka berdua. Tidak peduli dengan kenyataan yang bisa saja meruntuhkan mimpi mereka.
Setiap kali mereka melakukannya. Selalu ada perasaan yang berbeda. Sekarang, tentu jauh sangat berbeda. Kelembutan dari sentuhan Jongin membelai seluruh tubuhnya membuat Kyungsoo bergetar. Ia memejamkan mata ketika Kai menyapu seluruh permukaan lehernya. Memberikan kecupan-kecupan ringan hingga keras. Membuatnya memberikan tanda yang yang tidak akan menghilang dalam waktu dekat.
Mereka bergumul dan Kyungsoo harus memuji bagaimana ia begitu nyaman berbaring di ranjang milik Kai. Ranjangnya yang nyaman dengan seprai biru yang begitu halus membelai kulitnya. Seperti di atas awan. Mungkin—ia hanya membayangkannya. Karena sungguh, rasanya begtu sangat nyaman.
Kyungsoo menarik wajah Kai yang tengah mengecup lehernya. Mensejajarkan wajah Kai dengan wajahnya. Tanpa membutuhkan isyarat banyak hingga akhirnya Kai mengetahui bahwa Kyungsoo menginginkan bibirnya. Ia langsung menyambar bibir Kyungsoo. Menciumnya dengan teramat dalam. Membelit lidahnya mengajaknya untuk bertarung. Kai mendominasi namun Kyungsoo tak ingin kalah begitu saja. Kyungsoo mengalungkan tangannya semakin erat di leher Kai. Membalas ciumannya tak kalah panas. Meski Kyungsoo harus kalah dengan erangan kepuasaan yang dia dapatkan.
Kai menjauhkan wajahnya. Memberi kesempaan paru-parunya untuk mengais udara. Menatap wajah Kyungsoo yang memerah dengan mulut yang terbuka. Ia sangat cantik. Sungguh. Benar-benar mengagumi hingga sudut sudut tubuh yang dimilikinya.
"Kau cantik." Bisik Kai membuat Kyungsoo membuka matanya. Sekilas ia menyeringai mendengar ungkapan Kai.
"Aku tahu itu." Dalam sekali gerakan Kyungsoo langsung menggulingkan tubuhnya. Membuat Kai berbaring dan kini gilirannya lah untuk mendominasi. "Dan aku sangat menginginkanmu."
Kyungsoo lansung menyerang Kai dengan ciuman yang sangat intim. Menunjukkan betapa menginginkannya ia pada Kai saat ini. Ia menindih tubuh Kai. menggerakkan kedua tangannya untuk membelai dan mencengkram kuat-kuat rambut Kai. Sedangkan tangan Kai terus bermain membelai tubuhnya. Dari atas higga bawah. Tidak ada yang ia lewati. Lekuk tubuhnya, setiap tonjolannya dan Kai menyukai bagaimana respon Kyungsoo setiap ia memancing dan menggoda gairah Kyungsoo saat ini.
Bibir Kyungsoo menulusuri setiap permukaan kulit Kai yang bisa ia sentuh. Mencium bibirnya, turun ke dagu hingga lehernya. Tangannya ikut membelai halus dari kedua sisi tubuh Kai naik turun secara berulang. Membuat pria yang ada di bawahnya lagi dan lagi mengerang dalam kepuasannya. Bibirnya hendak semakin turun untuk mencapai apa yang diinginkannya. Namun cekalan tangan Kai pada lehernya membuat Kyungsoo mau tak mau mendongak ketika Kai mulai bangun dari berdirinya. Kai langsung menyerangnya. Menciumnya dalam membuat Kyunggsoo mengerang dalam sentuhannya.
"Aku tidak ingin bermain-main lagi." Bisik Kai tepat di hadapan bibir Kyungsoo yang berjarak hanya beberapa inci saja.
Napas mereka menjadi satu, terengah-engah dalam sebuah gairah yang sedang mereka tahan. Kyungsoo sedikit menyunggingkan senyumannya. Kembali mencium bibir Kai sebelum melepaskannya kembali. Memberi kesempatan untuknya sendiri menatap penuh pesona pria yang ada di hadapannya.
Tangan Kyungsoo terulur, mengusapkan jari-jemarinya pada rahang Kai. Naik dan membelai surai hitam rambutnya yang gelap. "Lakukanlah." Bisik Kyungsoo.
Tidak memunggu lama untuk meminta jawaban lain. Karena setelah itu Kai telah lebih dulu maju, kembali mencium Kyungsoo kuat-kuat. Mereka jatuh berbaring dengan Kyungsoo yang kini berada di bawahnya. Tangan Kyungsoo mengalung erat di leher Kai. Memerluknya dan sesekali meremas surainya dengan kuat. Semakin mengerang ketika Kai mulai menggesekkan bukti gairahnya pada Kyungsoo. Kakinya semakin terbuka lebar. Menerima Kai dengan senang hati. Hanya sebuah gesekan dan Kyungsoo terasa mabuk dibuatnya. Ia tersiksa dan ia menginginkan Kai untuk segera berada di dalamnya. Dengan gairah yang menggebu-gebu, satu telap tangannya turun. Membelai kulit tan yang mulai mengkilap karena keringatnya. Semakin turun hingga mencapai kejantanan milik Kai. Pria itu mengerang dan melepaskan ciumannya untuk beberapa saat. Memberikan sebuah bukti kenikmatan yang didapatkannya dengan apa yang dilakukan Kyungsoo.
Kai tidak bisa menahan lebih lama lagi. Ia sedikit bangun dan tangannya terulur untuk meraih sebuah kondom di atas nakas meja. Ia memejamkan matanya ketika Kyungsoo terus menggodanya dalam pijatan yang memabukkan. Kepalanya semakin pening dan ia tidak bersabar untuk mencapai pelepasannya nanti. Ia langsung merobek kemasan berwarna perak itu dengan giginya. Mengeluarkannya, memaksa Kyungsoo untuk menjauhkan tangannya sementara waktu selagi ia memasang pengaman itu.
Meski Kyungsoo sedikit mengerang kecewa namun tak lama senyumannya kembali tersunggung ketika Kai memberinya kecupan di sekitar perut hingga dadanya. Meremas payudaranya dengan gerakan pelan namun kuat. Kyungsoo menutup matanya. Mengerang ketika mendapatkan sentuhan Kai kembali. Ia semakin membuka kakinya lebih lebar lagi. Menempatkannya untk melingkari pinggang Kai. Menarik tubuh pria yang ada di atasnya untuk turun dan segera menuntuskan gairah mereka berdua.
Kyungsoo memeluk tubuh Kai selagi pria itu mulai memasukkan miliknya. Rasanya masih sama, sangat menakjubkan. Entah dengan kata-kata apalagi Kyungsoo menjelaskan tentang kenikmatan ini. Namun satu yang pasti. Ia tidak akan pernah puas untuk terus bercinta dengan Kai.
Begitupun dengan Kai. Ia menyukai sensasi yang tengah mereka alami saat ini. Memeluk balik tubuh Kyungsoo erat. Menyatukan tubuh mereka hingga menjadi satu. Saling menempel satu sama lain. Tanpa menunggu waktu lama. Ia langsung menggerakkan pinggulanya. Menghujamkan miliknya dengan gerakan sangat kuat namun mendamba. Desahan yang Kyungsoo berikan membuat Kai semakin memacu hujamannya dengan keras. Seolah menikamnya dengan kenikmatan yang berlipat-lipat. Menatap wajah Kyungsoo yang memerah dengan keringat membasahi keningnya, matanya yang terpejam, dan bibirnya.. oh, Kai sangat menyukai bibirnya.
Seperti tak ada bosannya, Kai kembali mencium bibir Kyungsoo kembali. Dan saat itulah Kyungsoo mengerang ketika Kai menemukan titik kenikmatan pada Kyungsoo. Kai menghujamkannya beberapa kali dan kini gilarannya yang mengerang ketika Kyungsoo menggigit ujung bibir bawahnya. Hingga akhirnya ia menyerah dan melepaskan bibir Kai. Mengeluarkan erangan kepuasan dari bibirnya.
"Yah.. Kai-hh aku ti-dak bisa.. menahan—nyahh lagihh.."
Kai menundukkan wajahnya. Ia juga merasakan hal yang sama dan ia tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Ia semakin mengkokohkan posisinya untuk kembali menghujamkan miliknya pada titik itu kuat-kuat. Semuanya terasa sempurna. Seakan waktu terasa berhenti ketika Kyungsoo mendapatkan pelepasannya. Kyungsoo mendesahkan nama Kai dengan suara kepuasan yang mendamba. Mengetatkan miliknya yang serasa semakin mengepal milik Kai.
Kai langsung meredamkan wajahnya pada leher Kai. Mencium lehernya kuat-kuat sebelum akhirnya mengerang dan mendesahkan nama Kyungsoo disana. Ia orgasme dengan sangat intens dan langsung ambruk memeluk kuat-kuat tubuh Kyungsoo yang ada dibawahnya.
Tubuh mereka naik turun oleh napas mereka sendiri. Terengah-engah dengan pelepasan yang begitu sangat menikmatan. Kyungsoo memejamkan matanya. Bahkan ia tidak kuat untuk berkomentar dengan berat badan Kai yang membuatnya sulit untuk bernafas. Lagi pula Kyungsoo menyukai posisi ini. Ketika nafas mereka berada menjadi satu. Detak jantung mereka berdebar bersama-sama dan saling memeluk satu sama lain. Kyungsoo merasa ia sangat merasa dimiliki saat ini.
Suara deringan telpon mampu membuat Kyungsoo mengerang dan mau tak mau membuka matanya. Mencari darimana suara itu berasal. Dan sialnya, suara dering telpon itu adalah miliknya. Hanya beberapa saat setelah ponsel itu kembali diam. Menganggu. Mungkin itu yang bisa Kyungsoo katakan saat ini. Ia bahkan terlalu malas untuk bangkit dan mengambil ponselnya. Sekedar mencari tahu siapa yang telah memanggilnya pagi hari seperti ini. Lagipula ia terlalu nyaman saat ini. Berada dalam sebuah peluka posesif dari lengan Kai yang ada di balik punggungnya.
Kyungsoo kembali memejamkan matanya. Semakin merapatkan tubuhnya untuk tetap menempel dengan tubuh Kai. Tangannya semakin mengepal kuat-kuat lengan Kai untuk semakin memeluknya erat. Kyungsoo hampir saja kembali jatuh dalam mimpinya kalau bukan karena suara ponsel sialan itu yang kembali berdering.
Mau tak mau Kyungsoo mengulurkan tangannya menggapai ponsel miliknya yang berada di nakas. Mengangkatnya tanpa membaca siapa yang telah menelponnya sepagi ini.
"Halo?" Tanya Kyungsoo parau.
"Kau sudah bangun?"
Matanya yang masih setengah tertutup mengernyit ketika mendengar suara itu. Sungguh tidak asing dan ia lupa kapan terakhir kali ia mendengar suara itu.
"Ya?" Kyungsoo setengah sadar untuk mengetahui siapa yang telah menelponnya ini.
"Aku harap aku tidak membangunkanmu, tapi kurasa kau tidak membaca pesanku semalam? Apa itu benar?"
Kyungsoo mengernyit, apa maksudnya? Pesan apa? Kyungsoo hanya diam untuk mencoba menyadari siapa yang bicara di ujung panggilannya saat ini.
"Hah, sudah kuduga." Helaan napasnya terdengar berat dan Kyungsoo kini ingat sesuatu tentang itu. "Aku telah tiba di Bandara sejak 20 menit yang lalu, sayang.. dan kau masih berbaring di tempat tidurmu."
Ya Tuhan! Park Chanyeol!
Kyungsoo langsung bangun untuk menuudukkan tubuhnya. Tanpa sadar membuat seseroang yang berbaring disampingnya ikut terusik dan membuka matanya.
"Kyung, kau masih disana?" Panggil Chanyeol dengan suara tenang, seperti biasanya.
"Ah.. i-iya, aku ma-sih disini mendengarkanmu." Sial bahkan suaranya mulai gugup saat ini.
"Yah.. kuharap kau tidak melupakan janjimu. Aku akan menunggu hingga 30 menit mendatang. Apa itu cukup untuk bersiap diri?"
Janji? Menjemput? 30 menit lagi? Chanyeol? Bahkan Kyungsoo tidak bisa berpikir apa-apa lagi selain mengatakan iya. Sial, kenapa ia mau menuruti apa yang diperintahkan Chanyeol? Kyungsoo memejamkan matanya merutuki kebodohannya kali ini.
"Baiklah, sampai jumpa." Hanya itu. Ucapan penutup yang hambar tapi mampu membuat sekujur tubuh Kyungsoo merinding. Sialan! Tanpa pikir panjang, Kyungsoo langsung menyingkap selimutnya dan langsung meloncat turun dari ranjang. Meraih sebuah handuk untuk langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Kai yang diam-diam memerhatikan tingkah Kyungsoo hanya bisa mengernyit tidak mengerti dengan sikap gadis itu. Setelah pintu kamar mandinya tertutup. Kai baru bangun dan mendudukkan tubuh di atas ranjang. Menunggu hingga Kyungsoo keluar. Dan itu tak memakan waktu yang lama. Gadis itu telah keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya yang basah. Kai masih memerhatikannya, bahkan ketika gadis itu mulai mengambil pakaiannya yang tergantung di pintu.
"Ada apa?" Tanya Kai. Entah kenapa respon Kyungsoo terlalu berlebihan baginya. Gadis itu seketika terlonjak dan berbalik menatap Kai setengah kebingungan.
"A.. aku harus segera pergi." Ucapnya yang langsung mengenakan pakaiannya saat itu juga.
"Kemana?" Kai masih memerhatikannya lekat-lekat. Ketika gadis itu kembali menggunakan pakaian yang sama seperti pertama kali ia kesini.
"Aku telah berjanji. Maksudku, Chanyeol pulang dan.. aku harus menjemputnya. Sekarang."
Kai hanya bisa terdiam membeku. Ada perasaan cemburu di hatinya. Namun hal itu segera ia tepis. Memperingatkannya untuk tetap diam. Hanya sementara. Lagipula itu hanya menjemput bukan? Apalagi Kyungsoo telah mengatakan janji. Itu harus benar-benar ditepati.
Ketika Kai tengah tenggelam dalam pikirannya. Kyungsoo langsung mendekat dan duduk di samping ranjang untuk beberapa saat. Menatapnya dengan tatapan kahwatir.
"Aku merasa bersalah, tapi kumohon.. maafkan aku, ya? Aku pasti akan kembali." Bisik Kyungsoo mengusap pipi Kai dengan lembut.
Kai bisa saja mengatakan tidak, dan membiarkan gadis itu untuk tak pergi. Tapi melihat mata Kyungsoo. Terlihat sangat jelas bahwa ada sebuah ketakutan yang disembunyikan Kyungsoo saat ini. Entah apa itu, dan Kai ingin tahu apa itu sebenarnya. Namun bukan sekarang, mungkin itu hanya halusinasinya. Dan mau tak mau Kai akhirnya menganggukkan kepalanya. Kyungsoo tersenyum dan mencium singkat bibir Kai. Sebelum akhirnya dengan langkah tergesa gadis itu melangkah pergi keluar dari kamarnya. Satu yang baru Kai sadari setelah pintu apartemennya terbuka dan tertutup kembali adalah koper milik Kyungsoo yang masih tertinggal di kamar apartemennya.
To be Continued
Halo~ mungkin ini adalah chapter terpanjang yang saya tulis. Semoga gak bosan dan kecewa di chapter ini. Oke ya, yang nanya latar belakang Kai di jawab aja disini. Mungkin alurnya juga kecepetan, but.. itu harus karena biar cerita terus maju ada perkembangan. Gak stuck di sini aja.. . Jadi mohon maaf jika ada yang tidak puas untuk chapter ini juga typonya. gak sempet edit ulang :3
Kendala waktu juga. Mungkin gak tepat waktu sesuai janji kemarin karena Laptop baru di install ulang. Otomatis harus ngatur jaringan internet lagi biar bisa bukan web ffn, termasuk mengurus akunku yang gak bisa dibuka :( Tapi allhamdulillah.. akhirnya bisa dibuka juga dan bisa kembali update fic ini.
Thanks buat yang udah follow/fav/review. Maaf gak bisa balas dan nulis satu-satu karena kendala waktu yang dimiliki saat ini. Terima kasih banyak, termasuk saran-sarannya.. saya suka kalo udah baca review dari temen-temen semua.. :)
Happy reading~
Salam blossom~
