Reply :

Hqhqhq : Hohoho... syukurlah klo jalan ceritanya masih misterius. ;)

LukyNaru : Sudah lanjut, keep reading n review ya.

Napas, tasya : Done. :D


Chapter 11 : Rin & Jun

Hamparan bunga yang luas indah, lembut nan anggun di tengah tingginya rimba. Hembusan angin senja mengayun batang dan bunganya, mengusik para serangga penyebar serbuk yang tengah menikmati tugas rutin mereka. Aroma sedap membasahi warna-warni taman bunga yang cantik dan juga indah itu. Bunga-bunga bersedih tatkala sinar mentari kini harus pergi bersembunyi di balik bukit.

Seorang gadis remaja berambut coklat datang dengan sebuah wadah bunga di tangannya. Ia memetik beberapa bunga di taman itu dan meletakkannya ke dalam wadah. Setelah beberapa bunga dipetik olehnya, ia memutuskan untuk duduk bersila di pinggir taman bunga itu.

"Huh... Sebenarnya kemana dia pergi?"

Gadis itu sedikit gusar tatkala orang yang di tunggunya tak kunjung datang. Beberapa saat kemudian –merasa yang di tunggu tak akan segera datang– ia memutuskan untuk berbaring di pinggir taman bunga itu. Ia mengangkat tangan kanannya ke udara, kemudian mengayun-ayunkannya seolah mencoba meraih sesuatu yang tak terlihat.

"Aneh!" komentar gadis itu.

Ia mengusap keningnya yang terbalut sedikit peluh. "Kadang aku merasa telah melupakan sesuatu yang sangat penting. Aku sama sekali tak mengerti. Apa yang sebenarnya sudah aku lewatkan?"

Tap! Tap!

Suara langkah kaki kecil di kejauhan membuyarkan lamunan gadis yang tengah menikmati waktu sore harinya itu. Ia segera bangkit dan menoleh ke arah suara itu berasal. Pandangannya menangkap sosok seorang gadis bertudung yang tengah berjalan dengan membawa keranjang kecil di tangan kanannya. Gadis bertudung itu kemudian berlari saat mendapat lambaian tangan darinya.

Setelah sudah cukup dekat, gadis bertudung itu segera membungkuk dan mengucap maaf, "Rin-neesan, aku benar-benar minta maaf karena terlambat."

Gadis pengumpul bunga yang bernama Rin itu tersenyum pada gadis yang memanggilnya dengan embel-embel kakak. Rin mengangkat tangan kanannya dan membelai lembut puncak kepala si gadis yang masih tertutup tudung dari jubahnya.

"Tidak apa-apa. Terima kasih atas kerja kerasmu, Jun." Rin meminta keranjang berisi buah itu dari tangan Jun dan kemudian membawanya mendekati hutan.

Rin berjalan mendekati salah satu pohon dengan batang yang di penuhi corak abu-abu. Ia mengacungkan keranjang itu pada si pohon dan kemudian berkata, "Bawa ini kembali! Aku akan tinggal sebentar lagi."

Pohon itu tak bergerak, namun sebuah jawaban terdengar samar dari dalam pohon itu, "Tidak. Sudah tugasku untuk mengawasi kalian, jadi—"

"Kau tak perlu repot-repot untuk selalu mengawasi kami. Lagipula, sudah ada Jun disini. Lakukan saja perintahku," sergah Rin memotong jawaban pohon itu. Terasa aneh bagi Rin untuk terus di awasi oleh sesuatu yang ia tidak mengerti.

"Kalau begitu..."

Sebuah tangan berwarna abu-abu keluar dari pohon itu dan mengambil keranjang buah dari tangan Rin, kemudian membawanya kembali masuk menembus ke dalam pohon. "Kalau begitu, berhati-hatilah! Aku akan segera kembali."

"Baiklah!"

Rin berjalan meninggalkan pohon aneh itu dan segera mengambil wadah bunga yang ia letakkan di atas rumput. Ia menoleh pada Jun yang berjalan mendekat padanya. Kemudian ia menyerahkan wadah itu pada Jun dan memintanya untuk membantu mengumpulkan lebih banyak bunga.

"Hm... Harum~ warnanya pun sangat indah. Tapi... sebenarnya untuk apa kita mengumpulkan bunga-bunga ini, Nee-san?" tanya Jun seraya menghirup aroma bunga yang berasal dari dalam wadah itu.

"Bukan apa-apa. Aku hanya ingin melakukannya. Itu saja." Rin masih terus memilah-milah bunga yang di petiknya. Ia berhenti ketika melihat satu-satunya bunga berwarna putih di antara banyaknya bunga dengan berbagai macam warna di taman itu. Ia memetiknya kemudian memberikannya pada Jun.

"Eh...?" Jun tak mengerti.

Tak seperti warna lain yang langsung di masukkan Rin ke dalam wadah, bunga putih itu di berikan pada Jun terlebih dahulu.

"Um... Warna putih memang benar-benar cocok untukmu, Jun," ujar Rin seraya kembali membelai lembut puncak kepala Jun.

Rin mengambil kembali bunga putih itu dari tangan Jun, kemudian menyisipkannya pada telinga kanan Jun. "Benarkan... Bersih dan polos. Sangat cocok untukmu," tambah gadis berambut coklat itu.

Jun memiringkan kepalanya –masih tak mengerti.

"Kalau begitu... warna apa yang cocok untukmu, Nee-san?" tanya Jun antusias.

Rin menoleh ke kanan pada hamparan taman bunga itu, mencoba memikirkan jawaban yang di ajukan oleh Jun.

"Mm... Mungkin, warna-warni... Yup. Benar," jawab Rin seraya melempar senyum pada Jun meski hanya sekilas.

Beberapa saat kemudian Rin memalingkan wajahnya dari tatapan Jun.

"Warna bungaku berasal dari banyak warna di taman ini," ujar Rin dengan senyum kecil yang masih melekat di bibirnya. Sesaat kemudian senyumnya sirna dan dengan sedikit sendu ia berkata, "Bercampur, tak pasti, dan pada akhirnya tak memiliki satu pun warna asli."

Jun tak sepenuhnya mengerti pembicaraan itu. Ia hanya tahu bahwa sosok kakak di hadapannya itu kini tengah bersedih, bingung, dan mungkin... putus asa.

Rasa pedulinya terlalu besar untuk dapat mengacuhkan perasaan buruk yang tengah di rasakan oleh kakaknya itu.

"Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Rin-neesan? Kenapa kau—"

Rin langsung menggelengkan kepalanya.

"—Jika ada suatu hal yang dapat aku lakukan untukmu. Katakan 'lah! Apapun itu, akan aku lakukan, Nee-san," sambungnya.

"Kalau bergitu... Bisakah kau –kembalikan Dia— tetap di sampingku, Jun," ujar Rin mengumpat, senyum di bibirnya terasa dibuat-buat.

"Sudah pasti, Rin-neesan. Aku akan selalu berada di sisimu," Jun tak dapat melihat senyum itu karena pandangannya terasa gelap akibat dari Rin yang membelakangi matahari.

"Terima kasih, Jun."

"Um... Dan tujuan aku adalah hanya untuk melindungimu. Termasuk dari orang-orang seperti mereka—" tunjuk Jun pada arah di belakangnya.

Sekelompok orang –tepatnya lima orang— tengah tersenyum dengan tak bersahabat berdiri tak jauh dari Rin dan Jun. Tiga orang diantaranya mengenakan topeng dan membawa bilah pedang di masing-masing tangannya, dan dua sisanya berbadan sangat bongsor –terlihat seperti kakak-beradik— hanya membawa sebuah kunai di tangan mereka masing-masing. Tubuh dan wajah penuh jahitan luka pada tubuh mereka menjelaskan maksud dan tujuan mereka tak mungkin bersahabat bagi Rin dan Jun.

"—yang ingin mencari masalah!" tukas Jun pada kelima orang itu.

"Haha... Tak perlu dingin seperti itu, Gadis manis. Tidak akan ada masalah jika kalian berdua menuruti kemauan kami. Betul begitu, adik? Hehehe..." kekeh salah seorang berbadan bongsor yang berdiri paling depan pada adiknya yang sama-sama tertubuh besar.

"Tentu saja, Aniki. Tidak akan ada masalah. Kami ini cinta damai. Benar 'kan, teman-teman?" sahut si adik dan langsung di sambut tawa sombong oleh rekan-rekannya.

A/N : Aniki = Kakak laki-laki (–CMIIW-)

"Kuhku—" Jun sedikit tertawa karena merasa geli atas ucapan itu.

Jun mengeluarkan sebilah pisau kecil dari saku di balik jubahnya.

"Apanya yang lucu bocah tengik?!" dengus si Kakakmembentak karena merasa tersinggung dengan sikap Jun.

"...!"

"Ah... Tapi, ya sudah 'lah. Ngomong-ngomong, kau cukup manis juga bocah berambut coklat?" lanjutnya seraya menunjuk pada Rin.

"Apa sebenarnya mau kalian? Kami adalah nukenin. Kami tak punya yang kalian cari. Tak ada gunanya merampok dari kami," ucap Rin tukas, kemudian berjalan ke sisi Jun.

"Ahaha... Uang? Tentu saja kalian punya. Kalian 'lah uang yang kami cari!" sebut si Kakakseraya menunjuk-nunjuk pada Rin dan Jun. Kemudian ia memberi isyarat pada keempat rekannya untuk memulai aksi mereka.

Jun menatap mereka dengan kesal. Ia mengambil senjata lain dari kantung senjata di celananya –sebuah kunai. Kemudian langsung melemparkannya tepat ke arah lima orang itu.

Trang!

Kunai itu di tangkis dengan baik oleh si Kakak. Jun berlari dan langsung menghunuskan pisau nya, namun langsung di halangi oleh tiga orang bertopeng yang kini telah melompat ke posisi paling depan. Jun mengambil langkah mundur sebelum kembali berlari ke arah yang sama.

Satu meter dari hadapan tiga orang bertopeng itu, Jun lenyap dari pandangan ketiganya.

"Cepat sekali!" komentar mereka.

Suara pukulan yang tertahan terdengar dari belakang mereka bertiga dan membuat ketiganya menoleh. Melihat kesempatan itu, dengan sigap Rin menyerang dan langsung mendaratkan tendangan pada bagian tengkuk dan leher dua dari tiga pria bertopeng itu.

Dua dari mereka telah di atasi.

Si Kakak yang bertubuh paling bongsor, yang merupakan pemimpin kelompok itu, semakin geram melihat anak buahnya yang tak becus. Ia, secara membabi buta menyerang Jun, yang ternyata lebih memilih untuk menyerangnya duluan, dengan segala kekuatan yang di milikinya. Meski tubuhnya gempal, gerakkan si Kakak tak cukup lambat untuk dapat di hindari dengan mudah oleh Jun. Ditambah dengan perbedaan kekuatan mereka yang terlalu jauh, menyebabkan Jun beberapa kali terpental saat mencoba menahan pukulan dan tendangannya.

Kondisi Rin pun tak jauh berbeda. Ia harus menahan dua orang lainnya. Keringat lelah mulai menghiasi keningnya. Meski beberapa kali ia berhasil mencuri tendangan-tendangan pada tubuh lawannya, namun akan sulit baginya untuk mengalahkan si Adik yang bertubuh jauh lebih besar darinya. Tendangan Rin terasa seperti pijatan bertenaga yang melayang ke arah tubuh pria bertubuh bongsor itu.

Kunai terakhir di kantung membuat Rin mesti lebih berhati-hati. Salah sedikit saja, ia tak akan bisa lagi menahan tebasan pedang yang di layangkan pria bertopeng yang merupakan lawan keduanya. Rin menarik nafas dalam dan kembali menyerang.

Rin berlari ke arah si Adik dan langsung mengambil posisi handstand. Kemudian berputar sambil melayangkan tendangan pada pria itu. Si Adik yang kesulitan menggunakan tangannya karena terus berusaha menahan serangan dari kaki Rin memutuskan untuk menggunakan kakinya untuk menjatuhkan pondasi dari tangan Rin.

"Aaaarrgg!"

Belum sempat menjatuhkan Rin, kunai di tangan Rin menusuk kaki Si Adik cukup dalam dan membuat darah di kakinya mengucur cukup deras yang disertai dengan erangan kesakitan darinya.

Melihat kesempatan itu, Rin melayangkan tendangannya ke arah wajah pria bongsor itu, namun kedua kakinya berhasil tertangkap. Pria itu bangkit dengan satu kakinya dan langsung berusaha untuk menghempaskan Rin ke tanah.

"Neesan!"

Jun yang menyadari hal itu membuat pertahannya melemah. Ia tak menyadari jika tinju lawannya telah berada tepat di tepi wajahnya. Namun, suatu hal mengejutkan membuat mata lawannya membulat sempurna.

Gadis itu lenyap dari pandangannya dalam sekejap mata dan meninggalkan sebuah lubang besar yang bersarang di perut bagian bawahnya. Darah segar mengucur deras dari luka yang lebar itu. Matanya yang sempat membulat karena terkejut itu kini hanya menampakkan warna putih. Nyawanya di cabut dengan sangat cepat tanpa mampu ia sadari apa yang telah di lakukan Jun kepadanya.

Di lain sisi, Jun melesat dengan teramat cepat merebut Rin dan berhasil menyelamatkannya sebelum tubuh kecil gadis itu menghantam tanah yang keras. Jun berhenti ketika jarak mereka terlampau sangat jauh dari dua musuh mereka yang tersisa.

"Jun, kau tak seharusnya—"

"Rrggghhh! Bunuh! Kubunuh kalian semua!" teriak Jun menggeram. Seluruh tubuhnya mengalir chakra berwarna putih yang menyelimuti kulit dan jubahnya. Sedikit demi sedikit chakra itu mulai menggerogoti jubah miliknya dan menampakkan seluruh penampilannya.

Rambut putihnya terlihat silau memantulkan cahaya sore itu. Pupil semerah darah menghiasi matanya yang membulat, menantang pada lawan di kejauhan. Liurnya mengalir dari mulutnya yang setengah terbuka dan memperlihatkan dua taring tajam di kedua sisi bibirnya. Yang lebih penting dari itu adalah mereka, Rin dan Jun, wajah mereka sangat identik dengan tanpa perbedaan, kecuali wajah Jun yang polos tak seperti Rin yang memiliki tatoo ungu di wajahnya.

"Apa yang kau pikirkan, Jun? Hentikan ini! Jangan biarkan dia menguasaimu," desak Rin pada Jun, namun di acuhkan. "Jun—"

Jun berjalan gontah ke arah dua orang musuh yang tersisa. Rin tak berdaya menahan laju tubuh itu, perkataannya pun sama sekali tak di dengar olehnya. Mata Jun hanya terfokus pada dua orang yang tengah terduduk dan mencoba menggoyang-goyangkan tubuh pemimpin mereka yang kini telah terbujur kaku.

Senyum puas tercetak di wajah gadis kecil itu.

"Bunuh!"

Jun mengambil kuda-kuda dengan tubuh sedikit condong ke depan. Bebatuan di sekitarnya terbang perlahan mengelilingi tubuhnya yang terlapisi chakra putih yang semakin lama semakin menebal. Sebuah ekor terbentuk dari kumpulan chakra di tubuhnya, berayun-ayun pelan namun terasa penuh dengan kekuatan.

Jun mengambil langkah pertama dan dalam sekejap mata melesat secepat angin ke arah kedua musuh yang tersisa. Rin terpelanting cukup kuat ke arah pepohonan. Belum sempat tubuhnya membentur pepohonan, seseorang menahan tubuhnya dari belakang dan menangkapnya ke dalam gendongan orang itu.

"Obito!" ucap Rin pada pria bertopeng yang menggedongnya.

"Rin, tunggulah disini!" pintanya pada Rin.

Obito menurunkan Rin dari gendongannya dan langsung menghilang di telan pusaran Kamui miliknya.

Dengan chakra penuh di tangannya, Jun merapatkan jemari tangan kanannya yang dimaksudkan untuk digunakan sebagai senjata mematikan bagi lawannya.

Wajah ketakutan tercetak jelas di wajah kedua musuhnya yang saling berpelukan seraya memohon ampun. Permohonan mereka terkabul. Mereka selamat dari serangan Jun tatkala tubuh gadis itu terasa sangat ringan. Dan ketika Jun sadari, tubuhnya telah melayang ke udara setinggi sepuluh meter di atas permukaan tanah.

Kreek! Brakk! Brakk!

Tubuh Jun melayang-layang tak tentu hingga pada akhirnya menghempas pepohonan di hutan. Kedua musuhnya kebingungan sekaligus ketakutan melihat perihal yang terjadi pada gadis itu. Satu-satunya yang mereka syukuri adalah nyawa mereka masih terikat kuat pada raga mereka.

Banshō Tennin!

Sebuah tarikkan tak terlihat menarik tubuh Jun dan beberapa batang pepohonan di sekitarnya ke sebuah arah. Di arah tersebut berdiri Obito yang tengah menjulurkan tangan kanannya yang merupakan titik tarikkan yang tadi sempat membuat Jun terhempas dan melayang-layang di udara. Menganggapnya sebagai ancaman, Jun menggunakan chakra di tubuhnya untuk membuat tangan tiruan yang digunakannya untuk menahan dirinya dari tarikkan Dōjutsu khas Rikudō itu.

Semakin Jun berusaha bertahan semakin kuat pula tarikkan jutsu itu. Tanah yang di jadikannya sebagai pegangan pun terkikis habis hingga membuatnya kembali tertarik. Keadaannya yang terdesak membuat Jun yang terpengaruh chakra itu pun tanpa ragu menyerang Obito dengan sepenuh tenaga.

Krekk!

Serangan Jun beserta seluruh tubuhnya tembus melewati tubuh Obito tanpa bisa melukainya. Obito menangkap Jun dari belakang dan menarik seluruh tubuh gadis itu ke dalam pusaran Kamui miliknya, sedikit demi sedikit.

"Tenangkan dirimu, Rin," bisiknya bersamaan dengan tertelannya gadis itu ke dalam ruangan dimensi buatan.

Obito menyentakkan kedua lengan tangannya hingga dua buah batangan besi hitam keluar dari terusan lengan kiri dan kanan jubahnya. Dia mematahkan kedua batangan besi itu dengan masing-masing tangannya dan langsung melemparkannya ke arah depan. Besi itu menghilang di telan pusaran Kamui, hingga terdengar teriakkan dua orang di kejauhan...

"Arrrggh!"

Kedua batang besi itu berpindah tempat dan melesat tepat ke arah tubuh kedua musuh yang tersisa. Menghancurkan bagian vital dari tubuh mereka hingga merenggut nyawa mereka berdua sekaligus. Meninggalkan Rin dalam perasaan frustasi atas tindakan Obito yang baru saja ia saksikan.

Dengan perasaan takut, Rin berbisik pada dirinya sendiri. "Rin! Apakah benar dia adalah Obito yang pernah kau kenal?"

/

Trang! Tring!

Lesatan puluhan benda tajam itu di tangkis dengan baik oleh Sasuke. Puluhan bahkan ratusan orang yang mengelilinginya menatapnya dengan beringas. Beberapa di antara mereka bahkan meneteskan liurnya seolah ingin menyantap Sasuke hidup-hidup.

"Sialan kau, Kabuto! Sebenarnya tempat macam apa ini?" omel Sasuke meski orang yang dimaksud tak ada disana.

Sasuke menyarungkan kembali Kusanagi miliknya ke dalam sarung pedang di pinggangnya. Tiga pola tomoe melingkar di atas mata merahnya berubah dan membentuk pola lain dari mata Eternal Mangekyō Sharingan. Sesaat kemudian, ia menyebut dengan keras nama dari jutsu pelindung terkuat dari mata kutukan itu.

"Susano'o!"

Chakra ungu tembus pandang terbentuk menyelimuti sekujur tubuh Sasuke hingga ke langit-langit ruangan tempatnya berada. Membentuk seorang samurai raksasa setengah badan, mengenakan armor lengkap dengan sebuah panah raksasa di tangannya. Siap melepaskan panahnya pada kumpulan orang-orang di sekitarnya.

Slash!

"ARRRRGGGHHH!"

Panah itu melesat tanpa dapat dihindari oleh targetnya. Raungan mereka mengiringi tiap anak panah yang di lepaskan oleh Susano'o.

Hanya segelintir orang yang mampu berteriak sesaat setelah terkena lesatan panah mengerikan itu, sebab mayoritas dari mereka bahkan tak mampu mengeluarkan suara karena organ tubuh mereka yang telah terlebih dahulu hancur berantakkan di terjang panah Susano'o. Perasaan ngeri membuat mereka yang selamat berlari kocar-kacir tak tentu arah, berusaha menghindari sesuatu yang tak dapat di hindari.

Deg!

"Tch! Racun ini belum hilang sepenuhnya," rutuk Sasuke pada tubuhnya yang tak mendukung, akibat tak mengindahkan saran Kabuto agar beristirahat disana dalam waktu semalam.

Beberapa saat kemudian Susano'o kehilangan bentuk utuhnya dan yang tersisa adalah tulang belulang Susano'o yang masih tetap melindungi tubuh Sasuke. Beberapa orang yang menyadari melemahnya Sasuke langsung berlari serempak menerjangnya. Tiga dari lima orang yang bertubuh sangat besar dan berdiri paling dekat dengan Sasuke langsung menghantam tulang Susano'o dari tiga arah yang berbeda.

Trakk!

Tertinggal sedikit retakkan pada tulang Susano'o, namun Sasuke masih tak tersentuh.

Dua orang bertubuh besar lainnya menyusul dan berinisiatif untuk menyerang Sasuke dari satu arah secara serentak. Sasuke terkejut tatkala kedua orang itu menggunakan segel kutukan yang terlihat dari tubuh mereka yang mulai di penuhi pola abstrak berwarna hitam.

Dua orang itu menghadiahkan Sasuek tendangan yang jauh lebih kuat dari tiga orang sebelumnya hingga menghempas tubuh Sasuke ke arah tembok kokoh di sudut ruangan.

Drakk! Krekk!

Debu dan pasir berterbangan mengubur sosok Sasuke yang masih belum bergerak dari bawah reruntuhan tembok. Kepanikkan yang telah mereda membuat puluhan orang beralih fokus pada Sasuke. Memikirkan bahwa hal ini merupakan sebuah kesempatan bagi mereka untuk segera menyerang Sasuke yang tampak melemah, tanpa mengetahui apa yang tengah menunggu mereka di balik reruntuhan.

Sepasang mata semerah darah menatap tajam dari balik serpihan debu dan pasir reruntuhan itu. Menghentikan langkah orang-orang yang tengah berlari ke arahnya dan menciutkan mereka-mereka yang bernyali kecil.

Sedikit berbeda dengan lima orang besar yang tadi sempat merepotkan Sasuke. Tak ada ekspresi takut sama sekali dari wajah mereka. Hanya saja, mata mereka 'lah yang dapat menjelaskan bahwa mereka telah jatuh ke dalam genjutsu Sharingan. Itu artinya mereka di bawah kendali Sasuke sebagai bonekanya.

"—bunuh mereka semua!"

Perintah yang singkat itu cukup bagi mereka para boneka untuk menghabisi ratusan orang dengan tanpa belas kasihan. Ratusan orang itu di tebas, di potong, di banting dan dengan berbagai cara pembunuhan yang berbeda-beda. Beberapa diantara korban para boneka itu tetap berjalan meski tanpa kepala. Darah mengucur deras dari organ tubuh mereka yang tersayat dan terpotong, mengubah warna abu-abu tembok dan hitamnya jeruji-jeruji besi di dalam ruangan itu menjadi merah semerah darah.

Mayoritas dari mereka kini tergeletak tak bernyawa. Ruangan yang terlihat seperti penjara terisolasi itu telah berubah menjadi sebuah kuburan massal. Meski hanya tersisa segelintir orang, tak menyurutkan pembantaian oleh kelima boneka Sasuke hingga tetes darah orang terakhir.

Tak luput dari kematian, Sasuke memaksa kelima bonekanya untuk saling menyerang dan saling membunuh.

Dan menyisahkan satu orang.

Sasuke berjalan di antara mayat-mayat yang nampak tak utuh. Tulang belulang Susano'o masih tetap kokoh melindunginya, menyingkirkan tiap mayat yang tergeletak menghalangi jalan. Sesaat kemudian Susano'o menghilang sempurna ketika Sasuke berdiri tepat di hadapan satu-satunya orang yang tersisa.

"Tempat macam apa ini?" tanya Sasuke pada orang yang masih di bawah kendali genjutsunya itu.

"Laboratorium."

"Lab? Bagiku ini lebih seperti tempat pengasingan," komentar Sasuke seraya mengedarkan pandangannya dan tak menemukan hal lain selain ruangan-ruangan kecil yang tertutup oleh jeruji besi. Satu-satunya 'laboratorium' adalah ruangan dimana Sasuke bertemu dengan Kabuto, bahkan tempat itu terlalu sederhana untuk di jadikan sebuah laboratorium.

Sasuke menarik keluar Kusanagi-nya. Dan langsung menghunuskan pedang itu melalui kerongkongan orang di hadapannya.

"Aku tak peduli apapun tempat ini. Aku harus bergegas mencari Naruto," ujarnya seraya menarik paksa pedangnya yang sedikit tersangkut di tulang tenggorokkan orang itu.

Sasuke kembali mengeluarkan Susanp'o, yang kini dalam keadaan sempurna. Ia melompat ke atas menghancurkan tembok berlapis hingga menembus atap bangunan itu. Hamparan hutan yang lebat di sekitar membuatnya harus menentukan arah kemana ia harus pergi mencari Naruto dengan tanpa petunjuk.

"Dimana?" ucapnya seraya mengedarkan pandangan.

"Sasuke-kun!"

Suara panggilan itu membuat kebingungannya sirna seketika. Hinata, membawa Naruto di punggungnya, panik di wajahnya kentara tatkala keringat dingin membanjiri wajahnya. Sasuke yang mengerti keadaan itu, langsung mengepakkan sayap Susano'o dan terbang ke arah Hinata yang tengah dengan susah payah berlari.

"Sasuke-kun! Naruto-kun, Naruto-kun, dia...—" ujar Hinata gelagapan, pipinya sembab menandakan bahwa ia berlari sambil menangis.

"Tenang... Aku tahu apa yang harus di lakukan," ucap Sasuke mencoba menenangkan gadis itu.

Hinata membaringkan tubuh Naruto di rerumputan di bawah pohon. Sasuke mengambil gulungan yang Kabuto berikan dari balik baju putihnya. Ia mengambil gelas kaca yang terselip di dalamnya dan memberikannya pada Hinata.

"Minumkan ini padanya!" pinta Sasuke.

Hinata menatap gelas kaca berisi cairan itu untuk beberapa saat. "Apa ini?"

"Sudah, berikan saja padanya, itu akan membantunya," ucap Sasuke ketus seraya berdiri kemudian mulai melangkah menjauh.

"Aku tak bisa. Sebelum itu, beritahu aku, darimana kau dapatkan benda ini? Dan... apa yang sebenarnya terjadi pada, Naruto-kun?"

"Tch! Jangan berdebat denganku, Hinata. Dia baik-baik saja. Berikan saja obat itu padanya!" ujarnya sedikit membentak. Sasuke melirik pada Naruto yang masih terbaring tak sadarkan diri. "Percayalah padaku, obat itu akan membuatnya merasa lebih baik."

"Baiklah..." terima Hinata, meski tetap ada keraguan terlintas di pikirannya.

Hinata mengangkat sedikit tubuh bagian atas Naruto agar posisi kepalanya lebih tinggi dari kakinya. Dengan demikian akan lebih mudah bagi Hinata untuk meminumkan obat itu padanya. Setelah melepas tutup di sisi atas gelas kaca itu, Hinata menuangkan cairan di dalamnya perlahan ke dalam mulut Naruto.

Satu detik...

Dua detik...

Tiga detik...

"Uhukk... Uhukk... Huuekh..."

Hinata terkejut ketika Naruto hanya butuh waktu beberapa detik untuk tersadar dari pingsannya dan bahkan langsung berlari ke arah pepohonan seraya memuntahkan isi perutnya. Rasa cemas yang memenuhi kepalanya kini sirna seketika tatkala Naruto berpaling padanya dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya. Debar ketakutan telah berubah dengan debar yang menjurus pada hal berbau romantis.

Syukurlah!

Begitulah hatinya berucap.

"Kita harus segera kembali pada rencana awal kita, Naruto. Kita tak punya banyak waktu lagi," ujar Sasuke tanpa memalingkan wajahnya pada Naruto.

"Sasuke..." panggil Naruto lemah. Ia menundukkan wajah pada sahabat Uchiha-nya itu.

"Jangan berpikir kau akan menyelesaikan ini semua sendirian, Naruto. Kau tak perlu bicara apapun lagi. Kau tak bisa memaksaku melakukan apapun semaumu," desak Sasuke membela hak pribadinya.

"Lakukan semaumu, Sasuke."

/

Seekor ular berukuran cukup besar merayap di atas tanah di tengah jalan yang terdapat di pinggiran hutan. Ular itu meliuk-liuk mencari persembunyian ketika indra penciumannya menghirup bau manusia yang mungkin akan terusik oleh kehadirannya. Ular itu akan merayap secepat mungkin dan membuat lubang ke dalam tanah 'tuk menghilangkan hawa keberadaannya bila keadaan mendesak –menghindari konflik.

Setelah beberapa pos berisi ninja penjaga di lewati oleh ular itu, terlihat besarnya tembok perbatasan sebuah desa dengan sebuah gerbang raksasa sebagai satu-satunya jalan masuk ke dalam desa itu.

Ular itu mendesis –menjulurkan lidahnya.

Sesaat kemudian kulit si ular mulai mengelupas sedikit demi sedikit hingga pada akhirnya seseorang dengan kacamata bulatnya muncul dari balik sosok ular yang kini telah menghilang.

Ia, Kabuto, tersenyum kemudian berujar,

"Tadaima!"

Langkah awalnya untuk kembali ke dalam desa daun yang sempat menjadi kenangan di masa lalunya.

/

Sebuah aula besar dengan berbagai macam peralatan medis di dalamnya. Terbaring seorang pria yang penuh perban membalut tubuhnya di atas lantai di tengah ruangan. Sebuah bangun lingkaran berdiameter 10 meter dan dua bangun kubus yang saling bersilangan membentuk sebuah pola di tengah-tengah ruangan itu. Dengan berbagai macam pola di sekitarnya, membuat pola itu terlihat seperti sebuah fuin jutsu yang biasa di gunakan oleh klan Uzumaki terdahulu.

Beberapa orang dengan pakaian serba putih berlalu-lalang di sekitar situ, mempersiapkan diri mereka masing-masing untuk menghadapi sebuah operasi di mana nyawa seseorang dapat menjadi taruhannya.

Tsunade mengenakan baju kesehariannya sebagai Hokage yang di balut jubah putih di bagian luarnya. Tangannya di sibukkan oleh banyak peralatan medis di atas meja berbahan stainless steel yang terlihat terang memantulkan cahaya puluhan lampu yang menerangi ruangan itu.

"—Obito!"

Tsunade menoleh ke arah suara pria itu. Kakashi, mengigau memanggil nama sahabat karibnya, atau lebih tepatnya, mantan sahabat karibnya. Tsunade kembali melanjutkan pekerjaannya setelah memastikan ia sudah kembali tenang. Pekejaanya kembali terhenti ketika seorang Anbu membukakan pintu untuk seorang pria gendut yang masuk ke dalam ruangan.

"Tsunade-sama. Semua persiapan sudah selesai. Klan Akimichi siap membatu kapan pun dibutuhkan," ujar pria itu seraya membungkuk memberi hormat.

"Aku mengerti," jawab Tsunade singkat.

Tsunade segera meninggalkan meja dan menuju Kakashi. Ia menjentikkan jemarinya sehingga menimbulkan suara yang cukup gaduh untuk membuat orang-orang di sekitar menoleh padanya.

Seorang wanita bermasker datang mendekat pada Tsunade dan langsung memberikannya sebuah gulungan berwarna hitam.

"Chōza!" sebut Tsunade pada pria gendut tadi. "Kau yakin untuk melibatkan Chōji dalam operasi ini?"

"Chōji 'lah yang berhasil mengkonversi fungsi jutsu kami untuk dapat di gunakan dalam operasi ini. Ini mungkin akan berbahaya, tapi Chōji adalah seseorang yang tidak akan ragu atas keputusannya sendiri," ujar Chōza dengan wajah penuh keyakinan atas tekad anaknya itu.

Tsunade tersenyuman.

Kemudian Tsunade membuka gulungan di tangannya dan menggelarnya di samping tubuh Kakashi. Ia menggigit ujung ibu jarinya hingga mengeluarkan beberapa tetes darah yang ia gunakan untuk menggambar pola tambahan di dalam gulungan itu. Sesaat kemudian, pola lingkaran raksasa di ruangan itu menyala merah selama beberapa detik sebelum kembali meredup.

Tsunade mengangguk pada Chōza, memberi tanda bahwa semua persiapan telah selesai.

Tsunade menyilangkan dua telapak tangannya di atas perut Kakashi yang tak tertutup kain perban dan mengalirkan chakra berwarna hijau muda ke dalam tubuh pria itu. Tsunade menatap wajah Kakashi yang tak sadarkan diri, tubuhnya sesekali menggelinjang akibat efek dari jutsu medis yang di gunakan padanya.

"Suruh mereka masuk, operasinya akan segera kita mulai."

Drakk! Bruakk!

Pintu ruangan aula itu terbanting saat beberapa orang terlempar masuk ke dalam ruangan. Empat orang –dua orang Anbu dan dua orang Akimichi— yang membentur pintu itu kini terkapar tak sadarkan diri. Tiga orang lainnya, seorang remaja gendut, seorang remaja berambut mirip nanas dan seorang gadis berambut pirang, melompat masuk seakan menghindari serangan dari seseorang yang masih belum di ketahui.

"Chōji, Ino, Shikamaru, apa yang terjadi diluar?" tanya Tsunade, wajahnya berkeringat karena terkejut.

"Hokage-sama, kumohon berlindunglah! Ada sedikit masalah disini," ujar Shikamaru dengan posisi masih bersiaga.

Sesosok pria berkacamata bulat, dengan tubuh topless berwarna putih, di perutnya keluar seekor ular yang menggeliat kesana-kemari. Matanya terdapat corak ungu dan kepalanya tumbuh dua buah tanduk yang membuatnya terlihat lebih seperti seekor naga dibandingkan dengan ular. Ia berada dalam mode Senjutsu ular.

"Hei~ Hei~ Bukankah aku 'lah yang menjadi korban disini?" ralat pria itu mencoba membela diri. "Kalian 'lah yang menyerangku duluan, padahal aku sudah bilang bahwa aku datang untuk membantu."

"Jangan membual, Kabuto. Kau adalah musuh semua shinobi. Kau telah melakukan kejatahan kemanusiaan yang sangat mengerikan. Bermain dengan takdir hidup dan mati seseorang, kau tak berhak mendapatkan perlakuan baik!" bentak Tsunade pada sosok yang ia kenali sebagai Kabuto.

"Aku tahu itu, Tsunade-sama. Aku tahu. Karena itulah... aku akan menyerahkan diri pada Konoha," aku Kabuto seraya ber-aksen seperti meminta borgol untuk kedua tangannya. "Tapi... sebelum itu..."

Kabuto menghilangkan chakra Senjutsu dari tubuhnya dan kembali ke dalam mode normal.

"Sebelum itu... biarkan aku menyelamatkan Kakashi dari kematian."

To Be Continued


Halo, minna-san! Saya kembali dgn updetan yg telat dari waktu yg telah saya janjikan. Lewat dua minggu, loh. :3 #digeplak

Saya harus tunda apdetan karena faktor waktu yg minim buat nulis fict n kualitas konten chapter ini. #hualah

Ada kabar klo manga naruto bakal berakhir dalam waktu sebulan? Setelah saya cek di j/countdown ,, ternyata tinggal 22 hari lagi. T.T

Semoga reader tetep setia baca FF naruto yah, kan Anime nya masih on-going. :3

Kesetiaan kalian di uji sehabis manganya berakhir loh. Dan lagipula bakal ada proyek besar setelah naruto tamat kok, itu kata web nya loh. :3

Jadi... utk next chap bersabar aja ya, karna saya bakal bener-bener susah nyari waktu buat nulis. Duta...! you take my time more than I expected. Beda ceritanya klo yg review lebih banyak dri biasanya. :3

Akhir kata, stay tuned.

Nue Uzumaki. *pofft*