Tittle : Don't Hate Me

Cast : ~Kim JongIn/Kai

~Lu Han

~Oh Sehun

~Park Chanyeol

~/Find Other Cast/?

Pair : KaiLu/HunHan/ChanHan

Author : SeLuKai

Chapter : 11 of ?

Rate : M

Genre : Angst, Hurt

.

..

...

_Prev_Dont_Hate Me_Chapter#10_

.

..

...

Kai sadar kalau sekarang bukan waktunya untuk bersantai dan bermain-main, apalagi dengan sesuatu yang tidak pasti dan mengikuti apa yang ingin Luhan perbuat.

Semua yang dia rencanakan tidak ada yang berjalan lancar,

Laporan dari Baro saat mereka bertemu tadi benar-benar membuat semua harapan Kai mengambang di udara, seolah kesibukan dan usaha yang ia lakukan selama dua minggu terakhir ini tidak ada hasilnya, dia tetap kalah dalam investasi sahamnya di perusahaannya sendiri.

Kolega bisnis yang ia andalkan pun tiba tiba saja memutar haluan dan berpihak pada si bajingan bermarga Oh itu, secara otomatis posisinya semakin kuat dan sangat mustahil bagi Kai untuk bisa memenangkan semua ini.

Kai belum pernah merasakan kesulitan sebesar ini selama hidupnya.

Dan dengan segela kepenatan yang membuat kepalanya terasa berputar, Kai ingin membebaskan dirinya hari ini dari semua urusan bisnis dan perusahaan yang membuat lehernya terasa di cekik oleh dasinya sendiri, tidak ada salahnya kan membiarkan Luhan berusaha membuatnya terkesan.

Dan kalau saja ia gagal, Kai juga tidak akan merugi karena dia akan punya alasan yang lebih tepat untuk menghukum namja cantik itu,

Membayangkan hukumannya saja sudah bisa membuat bebannya sedikit terangkat.

Dan dengan smirk yang tidak bisa ia sembunyikan, Kai mulai melajukan mobil mewahnya.

"..."

Seseorang menatap lekat mobil Kai yang mulai menjauh.

"Aku yakin Luhan bersamanya"

"..."

Lelaki berbadan tegap itu menarik sudut bibirya mendengarkan jawaban dari sambungan ponselnya.

"Tentu- aku akan membawanya padamu sesuai rencana"

Dengan itu dia memutuskan sambungan teleponnya dengan seseorang di seberang sana,

"Tamatlah kau Kim Jongin" Ia meremas kuat ponselnya seolah itu adalah Kai yang ingin ia remukkan secepat mungkin.

...

..

.

*****_Don't_Hate_Me_Chapter#11*****

.

..

...

"Kau sedang bercanda Luhan?" Kai sudah siap mencekik lelaki di hadapannya saat mereka sudah sampai di tujuan mereka, tujuan Luhan lebih tepatnya.

"Berarti itu sama saja aku menggali kuburanku sendiri" Luhan melangkah mantap memasuki area tersebut.

Dan langkahnya terhenti saat Kai masih tetap mematung di posisinya, dia tidak yakin apakah harus tetap mengikuti rencana Luhan atau menyeret namja itu dan menghukumnya di ranjang besarnya.

"Ayo~ kita harus masuk dulu" Luhan benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.

Tangannya dengan yakin menarik tangan lelaki yang lebih tinggi dan menuntun langkahnya mulai memasuki area tersebut.

Sekali lagi Kai menatap tidak suka dengan bacaan yang terpampang jelas di pintu gerbang yang sedang mereka masuki itu-

_TAMAN BERMAIN_

Tapi dia juga tidak menolak dan mengikuti langkah kecil Luhan masuk ke sana.

Mereka terus melangkah dengan Luhan yang masih memegang tangan Kai.

Sampai Luhan menghentikan langkahnya di suatu tempat dan menoleh ragu pada Kai.

"Kenapa?"

Seolah bisa membacanya, Kai balik manatap yang lebih pendek dengan tatapan datarnya.

Dia tidak suka tempat ini, terlalu berisik, sangat jauh dengan gaya Kai yang rela membayar mahal asal terhindar dari kebisingan seperti ini, tapi sekali lagi senyuman namja dihadapannya ini membuatnya tidak ingin mengakhirinya sekarang.

"A-aku punya permintaan-"

Luhan meremas tangan Kai yang masih ia pegang dengan tangan kecilnya secara tidak sadar.

Kai masih menunggu, remasan Luhan membuat pikirannya mulai keruh.

"Urusan bayar-membayar aku tidak bisa melakukannya, bisakah kau yang membayarnya?"

Kai susah payah manahan senyumnya, Luhan sedang meremas kuat tangannya dan memejamkan matanya dengan erat di depan Kai setelah menyelesaikan kalimatnya.

"Akan kulakukan"

Luhan segera membuka matanya dan menatap Kai dengan berbinar.

"Tapi ada syaratnya-" Senyuman itu luntur melihat seringai yang tercetak di wajah tampan dan angkuh Kai.

Kai mendekatkan wajahnya, mengarahkan mulutnya ke telinga Luhan dan berbisik di sana.

"Desahkan namaku dengan keras malam ini"

Luhan kembali menelan ludahnya kasar tapi tanpa bisa ia cegah kepalanya mengangguk,

Kai hampir saja menelan Luhan saat itu melihat wajahnya yang gugup dan memerah tapi ia urungkan lagi karena Luhan sudah melangkah terlebih dahulu setelah memesan tiket dan menyisakan Kai untuk membayarnya.

.

.

"Cobalah- jangan diam saja" Luhan menoleh ke arah Kai yang memasang tampang malasnya menatap sekelilingnya.

"Aku bukan anak kecil Luhan!" Kai sudah siap melangkahkan kakinya dari sana, dia sudah gila sepertinya mau mengikuti Luhan sampai sejauh ini.

Luhan masih sibuk mencetak score-nya disana dengan wajah serius.

Mereka sedang berada di area Game-Zone yang ada di taman bermain itu.

Luhan memilih game yang pertama yaitu semacam permainan memasukkan bola basket ke dalam ranjang yang sudah dibatasi garis di depan sana.

"Yeay! Aku high-score lagi" Luhan melompat-lompat tidak tau umur di sana.

"Hei mau kemana? Giliranmu" Luhan dengan cepat menahan tangan Kai dan segera menariknya mendekat menggantikan posisinya untuk melanjutkan permainan.

"Kenapa aku harus melakukan hal tidak berguna ini?" Kai menepis tangannya tidak suka.

"Ini sangat menyenangkan, cobalah dulu-" Kai mencoba mengabaikan kebisingan disekitarnya.

Banyak anak-anak lain yang memainkan game yang sama dengan mereka.

Luhan saja sudah memilih area yang paling sepi tapi tetap saja kan yang namanya taman bermain sudah pasti ramai.

Kai memutar bola matanya malas, kenapa namja dihadapannya ini berubah drastis dan sangat gigih, kemana perginya Luhan yang penurut dan penakut padanya?

"Baiklah, tapi kau harus menciumku dulu, bagaimana?" Kai memasang smirknya saat ia melihat Luhan perlahan diam dan tidak menarik tangannya lagi.

Sepertinya dia berhasil membuat Luhan kembali-

Chu

Atau mungkin dia salah-

Untuk beberapa saat Kai tidak berkedip.

Luhan masih menempelkan bibirnya di sana, tepat di bibir tebal milik Kai dengan matanya yang terpejam.

Dan saat beberapa orang mulai memperhatikan mereka dan terdengar berbagai bisikan yang tidak bisa ia dengar dengan jelas-

Luhan melepaskan tautan bibir mereka.

Luhan sudah gila, sudah terlambat kalau ingin menyerah-

Dia tidak bisa berhenti di tengah jalan seperti ini.

"Sudah ku lakukan, sekarang kau harus mencobanya" Luhan kembali mendorong bahu Kai pelan agar siap pada posisinya memulai permainannya.

Kai berdehem untuk menghilangkan kekagetannya, tidak pernah ia prediksi kalau Luhan berani menciumnya di keramaian seperti ini.

Dengan pikirannya yang tidak fokus Kai mulai meraih bola pertamanya dan memulai permainannya.

One Shoot

Two Shoot

"Yeay~"

Itu Luhan yang sudah menghilangkan kegugupannya pasca kegilaannya yang mencium Kai

Yang lainnya juga sepertinya sudah mulai sibuk dengan permainan mereka sendiri.

Three Shoot

"Wah! Hebat" Itu Luhan lagi yang heboh berteriak melihat kelihaian Kai dalam bermain.

Four Shoot

Five Shoot

Dan terdengar hitungan poin yang terus meningkat mencetak angka selanjutnya dari mesin tersebut-

Combo Bonus!

"Yes! I Got It"

Itu Luhan?

Bukan-

Itu Kai, dia sudah tenggelam dalam permainannya, tidak jarang ia ikut berteriak puas saat satu pun tembakannnya tidak ada yang meleset.

Sedangkan Luhan sendiri memperhatikan Kai dari tempatnya.

Kai yang terlihat bisa melepaskan bebannya sejenak membuat Luhan juga ikut merasakan bebannya yang berkurang.

"Yess masuk lagi"

Kai semakin semangat memasukkan bola ke sana.

Luhan ikut tersenyum melihat Kai yang sesekali mengeluarkan tawanya.

"Top Score"

"Yes!"

Tidak lama permainan berhenti setelah terdengar nada kemenangan dari sana.

Kai berbalik dan dengan cepat mengajak Luhan untuk ber high-five tanpa sadar,

Luhan menyambutnya dengan girang dan sedikit melompat.

Saat tautan mata mereka bertemu, Kai menghentikan pergerakannya dan Luhan juga ikut terdiam.

Sebelum kecanggungan kembali menelan mereka, Luhan kembali menenggelamkan akal sehatnya dengan memberanikan diri menarik tangan besar Kai menuju tujuannya selanjutnya.

Kai tidak menolak, bebannya terasa sedkit berkurang saat akhirnya memainkan permainan tadi, dan dia malah merasa tidak sabar untuk mengikuti permainan yang Luhan tunjukkan selanjutnya.

"Hebat, Aku membunuh semua musuhnya Haha payah"

Itu Kai saat mereka memainkan game fighter yang membuatnya menjadi pahlawan karena berhasil menumbangkan musuhnya.

Luhan lebih memilih menjadi penonton, membiarkan Kai menikmati permainannya.

"Sial! hampir saja aku memenangkannya"

Itu Kai yang mengumpat kasar saat akhirnya ia harus kalah dalam permainan lainnya.

"Bagaimana bisa ada gerakan sesulit ini, pasti ada kesalahan"

Itu Kai yang mengumpat saat mereka juga mencoba game dancing dimana kau harus dengan cepat menyesuaikan gerakanmu dengan yang ditampilkan di monitor,

Luhan saja tidak menyangka Kai akan melakukan sampai permainan paling kekanakan seperti itu, tapi di luar dugaan-

Seperti Kai kembali ke usia SD-nya,

Kai kecanduan dengan semua permainan yang ada disana, bisa Luhan pastikan kalau Kai baru pertama kalinya memainkan permainan yang seperti itu.

"Kita naik yang itu"

"..."

Kali ini Luhan terdiam, tawanya yang sedari tadi tidak lepas tiba-tiba saja hilang.

Dari awal masuk ke sini Luhan sengaja menghindari bagian ini, Luhan lebih suka melakukan permainan di dalam sana daripada di area terbuka ini, bukan karena Luhan tidak suka dengan ruangan terbukanya-

Tapi lelaki dihadapannya ini sudah tidak sabar ingin melakukan hal selanjutnya-

Tanpa Luhan sadari Kai sudah memesan tiket dan menarik tangan Luhan untuk naik kesana.

"A-aku tidak usah ikut~"

Luhan bergumam tidak yakin. Suaranya teredam oleh kebisingan di sekitar.

"Kau mengatakan sesuatu?" Kai meliriknya sekilas, kemudian dia alihkan lagi pada sekelilingnya.

Dimana wahana di sebelah mereka sudah berjalan dan orang-orang mulai berteriak heboh disana.

Melihat ekspresi Kai yang sangat bersemangat ingin merasakan seperti yang disebelah mereka juga ahirnya Luhan menggelangkan kepalanya dan sedikit tersenyum menatap Kai.

Bahkan lelaki itu menepuk-nepuk kecil pahanya membuat irama disana dengan semangat.

Saat dirasa wahana yang mereka naiki akan bergerak Luhan memejamkan matanya.

Seberapa banyak pun dia menepis rasa takutnya namun tidak berhasil seiring laju dari roller-coaster itu yang semakin kencang.

Tangan Luhan sudah berkeringat dingin dan mengepal dengan gelisah disana.

Sangat berbeda dengan orang di sebelahnya yang malah terlihat sangat girang bahkan sesekali seruan lepas keluar dari bibir tebalnya.

Luhan ingin melihatnya, ingin melihat wajah Kai saat ini tapi ia tidak bisa melihatnya, ketakutannya lebih kuat.

Hingga saat mereka sudah melaju dengan kecepatan maksimal Luhan dengan kuat mencengkram lengan Kai,

Kai yang baru sadar kalau ia sedang bersama Luhan langsung mengalihkan pandangannya.

Walaupun getaran dari wahana ini sangat kuat, Kai masih bisa melihat bahu Luhan yang bergetar hebat dengan tangan yang semakin mencengkram lengannya lebih kuat.

"Luhan?"

Kai bertanya namun tidak ada jawaban.

Kai dengan paksa mengangkat dagu Luhan untuk menatapnya.

Luhan mengangkat wajahnya namun tidak berani membuka matanya.

Cairan bening lolos dari kedua sudut matanya yang terpejam.

Kai tidak suka melihat itu-

Tanpa bertanya lagi, Kai sudah bisa mengerti kalau Luhan sedang ketakutan.

Dia mengabaikan sekitar yang sangat berisik dan penuh dengan teriakan, padahal Kai tadi sangat menikmati sensasi berada di atas wahana yang memicu adrenalin ini tapi sekarang luntur saat melihat Luhan yang sudah memucat dan kacau.

"Stt~ semua akan baik saja" Kai menarik Luhan ke dalam pelukannya.

Luhan menenggelamkan wajahnya di sana, di dada bidang Kai.

Dia tidak perduli kalau mungkin Kai akan marah dengan tindakannya, yang Luhan butuhkan sekarang hanyalah sandaran, tempat yang membuatnya merasa aman untuk menghilangkan rasa takutnya.

Kai masih setia memeluknya sampai ahirnya sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis melihat Luhan yang mulai menangis dalam pelukannya.

"Ck~ dasar penakut."

Kai menepuk punggung namja manis itu, pemandangan Luhan yang ketakutan dan seperti bergantung padanya membuat kesenangan tersendiri bagi Kai.

Kai bahkan tidak merasa takut sedikitpun di tengah kencangnya teriakan orang-orang karena kegilaan wahana yang satu ini.

.

..

...

"Dasar bodoh"

"..." Yang lebih kecil masih sibuk menghentikan tangisnya.

"Kenapa tidak bilang kalau kau takut?"

"..." Luhan masih menunduk dan memainkan jemarinya yang masih sedikit bergetar.

"Jangan membuat kesabaranku habis Luhan"

"Hiks maafkan aku~" Luhan mengangkat wajahnya yang sembab.

Kai sedikit mengernyit melihatnya.

"Aku kira tidak semenakutkan itu, ternyata jauh lebih cepat dibandingkan dengan yang pernah aku naiki ketika di China dulu"

Luhan sudah menghentikan tangisnya dan menatap bersalah pada Kai.

Kai tidak menjawab, dia masih menatap wajah cantik itu yang mulai menampilkan kegelisahannya.

"Apa kau marah?" Luhan menatapnya ragu.

"Menurutmu?" Kai kembali menatapnya datar.

"Aku minta maaf~ aku mengacaukannya" Luhan mulai menunduk lagi

"Kalau begitu kau harus menerima hukuman bukan?"

Kai menampilkan smirknya, tapi tidak bertahan lama karena Luhan langsung menggeleng dengan cepat dan kembali menatapnya.

"Aku masih punya rencana terakhir yang mungkin bisa membuatmu senang" Kai mengerutkan keningnya.

"Ayo, kita harus kesana sekarang sebelum terlambat" Luhan kembali pada kegilaannnya dan menarik tangan Kai tanpa bisa ia tahan.

Kai hanya mengikuti, dia terlalu penasaran dengan semua kejutan yang Luhan berikan padanya hari ini.

.

..

...

"Indah bukan?" Luhan melirik Kai sebentar dan mulai berlari kecil menuju tepian pantai yang terhampar indah dihadapan mereka.

Kai tidak menjawab namun dalam hati ia ikut berdecak kagum kalau tempat ini memang sangat indah, melihatnya saja membuat lelahmu akan hilang.

Hamparan laut luas yang biru dan kini sedikit berubah warna menjadi kuning karena matahari di ujung sana yang siap menenggelamkan dirinya ke dasar lautan.

Luhan mulai sibuk berlarian sendiri disana, saling berkejaran dengan ombak.

Saat ombak itu menjauh Luhan akan berlari lebih jauh ke dalam sana, dan saat ombak itu kembali mengejarnya Luhan akan berlari ketepian secepat mungkin.

"Haha kau tidak akan bisa menangkapku" Luhan tertawa lepas disana saat kakinya masih selamat dari gulungan ombak yang semakin mengejarnya.

Begitu terus berulang, Luhan melakukannya seperti anak kecil sambil tertawa lepas beberapa kali.

Kai tertergun menatapnya disana, Luhan yang terlihat sangat murni, tawanya sangat tulus.

Kai menerawang dari semua masa lalu yang membuatnya membenci sosok malaikat itu, sangat berbanding terbalik, bagaimana mungkin Luhan harus menanggung semua dosa itu sedangkan untuk membunuh seekor semut saja Luhan tidak akan tega.

Kai mulai berperang lagi dengan batinnya.

Kai tidak mengedipkan matanya untuk beberapa saat dan menatap ke arah Luhan dengan tatapan kosong, sampai ia merasa cipratan air mengenai wajahnya.

"Haha- kenapa kau melamun?" Itu suara Luhan

Lelaki itu kembali mencipratkan air laut yang ada di hadapannya pada Kai dengan berani.

Kai ingin marah tapi Luhan kembali menghujaninya dengan cipratan air laut menggunakan tangan kecilnya.

Alih alih marah, Kai malah melangkahnya kakinya menginjak air laut itu dan mengejar Luhan.

Melakukan hal yang sama yaitu menyiprati Luhan dengan ganas sampai kemejanya sudah hampir basah.

Gulungan ombak yang membasahi sampai ke lutut kakinya Kai abaikan, dia tidak perduli kalaupun celananya akan basah.

Yang lebih kecil belum mau kalah dan membalas cipratan dari yang lebih besar,

Kai tertawa lepas ketika dengan jelas kemenangan ada di pihaknya, bajunya belum sepenuhnya basah, namun Luhan yang berada beberapa langkah di depannya sudah basah kuyup, salahkan tangan Kai yang besar dan lihai mencipratkan air itu pada Luhan.

"Ampun~ ah sudah hentikan" Luhan maju dan berusaha menahan tangan Kai yang terus mencipratinya.

"Lihat siapa yang tadi mengajak perang, sekarang sudah mengalah duluan" Kai menatap Luhan dengan meremehkannya.

"Aku sudah basah kuyup" Luhan memegang tangan itu membuat Kai berhenti dan pandangan mereka bertemu.

Kai menatap wajah Luhan yang mengatur nafasnya yang berantakan karena berusaha menahan Kai yang lebih kuat darinya.

Wajahnya sedikit basah dan rambut kecoklatannya juga sudah meruncing karena terkena cipratan air, jangan lupakan kemeja putih tipisnya yang sudah sepenuhnya basah dan malah mencetak dengan jelas bentuk tubuh kurusnya.

bahkan mata Kai bisa menangkap dua tonjolan kecil di dada Luhan yang sangat ia rindukan untuk menghisapya.

Damn~

Sebelum akal sehat Kai memudar tangannya sudah kembali di tarik oleh lelaki yang lebih kecil.

"Kita tidak boleh melewatkan yang ini, ayo-"

Luhan menariknya lagi untuk kesekian kalinya, sampai akhirnya ia berhenti tepat beberapa meter dari hamparan air laut yang kini terlihat ombaknya saling berkejaran.

"Sebentar lagi mataharinya akan tenggelam" Luhan mendudukkan dirinya disana tidak perduli kalau celananya yang basah akan kotor karena pasir pantai yang ia duduki.

Kai tidak menjawab, dia ikut mendudukkan dirinya di dekat Luhan dan mengikuti arah pandangnya.

Setengah dari matahari besar di ujung laut sana sudah tenggelam,

Tepat di depan mata mereka.

Kai berdecak kagum, kenapa ia tidak pernah tau kalau ada tempat seindah ini?,

Apakah Kai harus membeli tempat ini?

"Indah kan?"

Luhan melebarkan senyumnya,

Kai mengalihkan pandangannya dari matahari yang sudah hampir tenggelam sempurna disana.

Ditatapnya wajah Luhan, wajah cantik itu terlihat benar benar seperti malaikat.

Senyumnya sangat tulus dan polos.

Kenapa Kai harus membenci orang se menggemaskan ini?

'Tes'

Kai nengerutkan keningnya,

Hari semakin gelap tepat setelah sepenuhnya matahari itu sudah tenggelam di seberang sana, tapi Kai yakin dia tidak salah lihat kalau Luhan baru saja meneteskan air matanya dengan senyum yang masih mengembang dibibirnya.

"Hiks aku benar-benar minta maaf~" Luhan mengalihkan pandangannya pada Kai dan pandangan mereka bertemu.

"Aku menyesal dengan semua yang telah terjadi di masa lalu"

Kai masih menatapnya

"Kalau saja aku tau, aku tidak akan pernah membiarkan mamaku melakukan dosa sebesar itu pada keluargamu"

"Aku lebih memilih tidak di lahirkan ke dunia ini kalau hanya menjadi penyebab kehancuran di keluargamu"

Luhan tidak bisa menahan air matanya yang terus mendesak keluar.

Kai masih terdiam disana, menunggu Luhan melanjutkan kalimatnya walaupun ia ingin menyuruh namja itu berhenti menangis karena ia tidak tega melihatnya.

"Jadi bisakah kau memaafkanku? Aku tau ini sulit karena aku sendiri sudah sangat membenci diriku" Luhan tersenyum getir membuat Kai mengernyitkan dahinya karena ada sesuatu yang membuat dadanya sesak melihat itu.

"Dan aku juga cukup tidak tau diri karena meminta maaf tepat di hari peringatan kematian ibumu" Suaranya bergetar lagi-

"Aku benar-benar ingin menebus kesalahan yang mamaku buat dimasa lalu, tapi aku sungguh tidak tau bagaimana caranya"

Luhan menepis lagi airmatanya yang berjatuhan semakin cepat.

Kai menatapnya serius, tidak ada kebohongan disana.

"Tolong maafkan aku~" Luhan tulus dan sungguh-sungguh minta maaf.

Kai ingin melupakan semuanya, dia ingin menarik Luhan ke dalam pelukannya dan mengusap punggungnya yang bergetar karena menangis.

Tapi bayang-bayang wajah ibunya yang sedang menangis membuatnya belum bisa memaafkan semuanya semudah itu.

"Kau boleh melampiaskan kekesalanmu" Luhan tersenyum miris karena Kai sepertinya tidak akan luluh semudah itu untuk memaafkannya.

"Pukul aku sebanyak yang kau mau, Kau boleh menendangku, Kau boleh menenggelamkanku saat ini juga~" Luhan menjeda menepis air matanya.

Dia menghentikan tangisnya,

"Lakukan apapaun asal kebencianu padaku bisa berkurang" Luhan menatap Kai yang menutup bibirnya rapat seolah tidak tertarik dengan pembicaraan ini.

Kai sendiri tidak menyangka Luhan akan mengatakan hal seperti ini,

ck~ bagaimana mungkin dia tidak punya rasa takut dan menyuruh Kai menghajar tubuhnya yang kurus kecil itu.

"Kau yakin?" Kai menatap tangannya yang sudah di tarik Luhan untuk menempel di wajahnya,

Lelaki itu mengangguk mantap dan mulai memejamkan matanya.

'Tes'

"Sudahlah, aku tidak tertarik"

Kai menepis tangannya kasar dari wajah Luhan seiring dengan air hujan yang mulai turun membasahi tubuh mereka yang belum kering.

"Tapi-" Luhan membuka matanya kecewa.

"Kita pulang, kau membuat moodku buruk" Kai bangkit dari sana meninggalkan Luhan.

Luhan mendesah kecewa dan hanya bisa mengikuti langkah Kai dari belakang.

"Hhh~ aku akan berusaha sampai kau memaafkanku Kai"

Luhan menatap punggung Kai yang mulai sedikit berlari menghindari hujan, dan Luhan mengikutinya.

.

..

...

"Maaf tuan, kalian tidak bisa lewat, jalannya sudah di tutup karena ada badai sampai besok"

Kai menatapnya tidak suka.

"Aku harus lewat, ada hal yang harus aku urus, buka jalannya"

Kai memerintah, tapi sepertinya itu tidak akan berhasil.

"Maaf tuan kalau anda memaksa, kami terpaksa menahan mobil anda sampai besok"

Kai semakin mengepal tinjunya.

Tidak semua orang bisa menuruti Kai disini

sepertinya polisi disini tidak mengenal siapa dirinya dan tidak membedakannya dengan yang lainnya.

Luhan hanya memperhatikan dalam diam, setelah kejadian dipantai tadi dia tidak berani buka suara lagi.

Sangat jelas ia rasakan aura gelap kembali menyelimuti Kai.

Dan entah kenapa mereka juga harus terjebak di tengah badai seperti sekarang.

Makam ibu Kai memang jauh dari rumahnya dan melewati beberapa desa kecil yang jalannya memang cukup asing bagi Luhan.

Bahkan dia sendiri tidak tau tentang Taman Bermain yang tadi mereka kunjungi, tapi dia berusaha menghafalnya saaat mereka berangkat tadi, dia hanya mengikuti nalurinya saat ia mengingat Taman Bermain yang sering ia kunjungi di China dulu bersama mamanya,

Luhan benar-benar melakukan banyak hal gila hari ini dan dia tidak ingin menambahnya lagi.

"Beberapa meter dari sini ada penginapan, sebaiknya kalian bermalam disana sampai besok"

Polisi itu memperingatkan dengan tegas.

"Kami tidak akan membiarkan kalian lewat karena ini bisa membahayakan kalian"

Kai hanya bisa membanting setirnya kasar setelah polisi itu pergi meninggalkan mereka.

Luhan tidak menahannya lagi-

Dia sibuk mengeratkan kemejanya yang basah karena kedinginan,

Kai menahan emosinya dan menatap Luhan sekilas,

Sepertinya Luhan sudah menahan kedinginannya sejak tadi.

"Kita menginap malam ini"

Luhan hanya mengangguk dan mengikuti Kai turun dari mobilnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC/?

.

.

.

.

.

.

Hueheheheehehe gimana ini ya :'v maaf banget baru sempet up chapt ini sayangqu.

Makasih buat yang terus support ff ini.. mohon bersabarlah wahai para selirnya jongin :'v doain biar beban hidup saya berkuranq agar bisa lebih banyak waktu melanjutkan ini ff.. makasih banget buat yg masi setia nungguin ff anu ini :'v ditengah kapal kailu yang suda karam :'v makasi buat yang support buat yg sider juga, ayapyu mwah :*