NOTE : SUDUT PANDANG DIUBAH JADI SUDUT PANDANG ORANG PERTAMA. AKASHI'S POV. POV DIUBAH MENJADI POV AKASHI. SEDANGKAN "AKU" DISEBUT SEBAGAI "DIA".

WARNING : PLOT CERITA DIBUAT LEBIH CEPAT DARI BIASANYA. BEBERAPA DIALOG DILEWATKAN. Ke-OOC-an Akashi makin terlihat.


I'm Yours?

Kuroko no Basuke - Fujimaki Tadatoshi-san

I'm Yours kupersembahkan sebagai wujud kecintaanku pada Sang Pangeran Merah


Chapter 11 : I'll prove that you're wrong all this time


-Akashi Seijuuro's POV-

.

.


From : Shinagawa Kana

Subject : Belajar bersama

Dear Akashi-kun,

Kira-kira kapan kau bisa belajar bersama kami? Jika sudah ada waktu luang, hubungi aku segera ya. Terima kasih.

Shinagawa.


Aku menatap datar pada layar ponsel merah milikku. Pesan tertulis dari sahabat dekatnya baru saja tiba beberapa menit yang lalu. Aku membacanya saat istirahat latihan basket. Sembari meneguk minumanku, aku berpikir sejenak mencari-cari waktu luang yang tepat. Hal ini harus aku lakukan untuk memberinya peringatan mengenai caranya meremehkanku. Setidaknya, aku akan membuktikan perkataannya yang salah.

"Akashi."

Seseorang memanggilku. Aku mendongak untuk melihat seseorang yang kini tengah berdiri di hadapanku. Kacamatanya yang tidak merosot sedikit pun entah kenapa selalu ia dorong naik.

"Ada apa, Shintarou?"

"Coach memanggilmu. Ada hal yang ingin dibicarakan mengenai libur latihan untuk sementara menjelang ujian."

"Oh. Baiklah. Terima kasih."

Ia mengangguk dan melenggang pergi mengambil sekeranjang bola yang selalu digunakannya untuk melatih three point shoot andalannya.

Hm. Libur latihan? Bukankah ini kesempatan yang bagus? Baiklah. Aku bisa memanfaatkannya.


To : Shinagawa Kana

Subject : Re : Belajar bersama

Mulai besok, latihan basket diliburkan untuk persiapan ujian. Jadi bisa kita lakukan besok.

Akashi Seijuuro.


Kirim.

Aku yakin, sesegera mungkin Shinagawa-san akan memberitahukannya. Mari kita lihat, apa reaksi yang didapat darinya saat kami belajar. Aku harap, perkataanku saat gadis itu menyatakan cintanya juga sudah tertanam betul dalam pikirannya. Jika saja, dia masih bersikap sama maka aku akan bertindak. Tidak hanya karena meremehkanku, tapi juga karena dia mulai menjadi seorang pengganggu. Aku harap, dia tidak menjadi seorang pengganggu.

Keesokan harinya, pagi hari, aku melihatnya berjalan sendirian menuju tempat penyimpanan sepatu ruangan. Sepertinya, dia tidak menyadari aku berjalan dari arah berbeda. Aku berjalan lebih cepat dari biasanya karena aku harus segera menemui Shintarou untuk memberitahukan sesuatu. Saat melewati dirinya, tiba-tiba saja, dia hampir jatuh tersandung dan menubruk tubuhku. Lenganku secara refleks menahan berat tubuhnya.

"Ah, gomen. Aku tidak hati-hati jadi tersandung. Terima kasih, sudah menolongku," ucapnya dan tak lama, arah pandangnya berganti pada diriku. Aku menatap matanya yang mulai membelalak melihat wajahku. Entah apa yang dipikirkannya, dia diam saja mematung.

"Sama-sama," balasku saat dia mengatakan itu. Alisku mengerut heran. Dia tetap pada posisi yang sama menatapku dengan ekspresi terkejut. Apa? Tatapannya itu, sial. Dia tidak mendengar ucapanku sepertinya. Atau, perkataanku hanya lewat begitu saja. Tatapannya itu, masih sama. Hah. Sepertinya, dia memang berubah menjadi seorang pengganggu. Tidak bisa dibiarkan. Hal ini tidak bisa dibiarkan, jika tidak, perasaan itu akan berkembang dan akan merepotkanku.

Manusia memang bisa berubah.

Sudah muak melihat tatapan anehnya itu, aku pergi meninggalkannya menuju loker sepatu. Setelah itu, aku mendengar suara familiar yang kucari sejak tadi. Ya, Shintarou. Shintarou sedang bicara dengannya, entah apa yang mereka perdebatkan, kelihatan sekali Shintarou sedikit kesal padanya. Tidak kusangka, mereka.. saling mengenal?

Beberapa kali aku melihat matanya yang melirik ke arahku. Aku tidak suka pandangan matanya itu. Tanpa basa basi, aku memanggil Shintarou dan kami berjalan masuk ke dalam gedung bersama. Membicarakan beberapa hal mengenai latihan basket yang akan diliburkan. Aku meminta Shintarou untuk memberitakukan anggota klub basket yang ia temui untuk berkumpul hari ini guna mengumumkan jadwal latihan pengganti.

"Akashi," Merasa namaku disebut oleh Shintarou, aku meliriknya sejenak. Tapi, tak kusangka, ia bertanya tentang dirinya, "—ada apa dengan teman sekelasmu itu?"

"Apa maksudmu?" tanyaku sekenanya karena aku tidak mengetahui maksud dibalik pertanyaannya itu. Ia memejamkan mata sesaat dan menghela nafas. Menoleh padaku dengan tetap berjalan tanpa memperdulikan diriku yang kelihatan tidak perduli.

"Entahlah, aku rasa, dia..kau..hm.. lupakan saja."

Begitu? Jadi, apa Shintarou mulai menyadari sesuatu? Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu yang buruk. Aku harus segera bertindak.

.

.

.

Sepulang sekolah kami sudah berjanji untuk belajar bersama. Namun sebelum itu, coach ingin bicara padaku dan juga anggota klub untuk membicarakan masalah libur latihan dan latihan pengganti. Aku menemui Shinagawa-san dan memberinya beberapa contoh soal yang harus dikerjakannya. Tenang saja, aku mengajari Shinagawa-san secara langsung dan membuatnya lebih baik sehingga dia menyadari bahwa perkataannya itu salah.

Selesai berkumpul dengan para anggota klub, aku melanjutkan bicara dengan coach dan setelah itu, aku bermaksud kembali ke kelas untuk melihat keadaan. Saat hampir sampai di gedung kelas, aku berpapasan dengan Tetsuya dan Daiki yang seperti baru saja ingin pulang ke rumah masing-masing.

"Tetsuya, Daiki, kalian ingin pulang?" Aku menatap keduanya bergantian. Selama pengumuman di gym, aku tidak bicara dengan mereka berdua.

"Ya," jawaban singkat Tetsuya, dilanjutkan dengan anggukan dari pemuda tan disampingnya.

"Kalau begitu, hati-hati di jalan," Aku berjalan melewati mereka berdua dan memasuki gedung. Namun, beberapa saat kemudian, suara datar meneriaki namaku.

"Akashi-kun!" Aku kembali menoleh ke belakang untuk melihat mereka berdua, kemudian Tetsuya melanjutkan, "—seorang gadis tadi datang ke gym mencarimu. Kami duluan." Setelah itu, dua sosok kontras itu berlalu menjauhiku dan menghilang dibalik tikungan. Aku pun melanjutkan perjalanan menuju kelas.

Seorang gadis mencariku? Siapa? Shinagawa-san, kah? Tidak mungkin, ia pasti sedang mengerjakan soal-soal yang kuberikan dan aku jamin ia tidak mungkin menyelesaikannya dalam waktu sesingkat itu. Kurasa, aku tau siapa yang mencariku. Lihat, dia berdiri di ambang pintu dan sepertinya bicara dengan seseorang yang berada di dalam kelas.

"Kau mencariku?" tanyaku saat berada tepat dibelakangnya. Kurasa, dia terkejut mendengar suaraku, bisa terlihat dari kedua bahunya yang tiba-tiba terangkat. Dengan segera, dia menyingkir dari tempatnya semula berdiri sampai aku melangkah masuk ke dalam ruangan. Dia berusaha tidak memandangku dan berjalan begitu saja tanpa menjawab pertanyaanku, hah, terserah saja.

Aku menghampiri tempat Shinagawa-san mengerjakan soal. Aku bertanya singkat untuk mengetahui perkembangannya, "Kau sudah mengerjakannya?" dan, aku menarik bangku untuk duduk di hadapannya.

"Hn," Shinagawa-san mengangguk, "—sudah aku kerjakan, tapi, ada yang belum selesai. Lihatlah." Ia menyodorkan pekerjaannya padaku. Mengobservasinya sebentar dan menemukan beberapa kesalahan. Aku memerintahkannya untuk memperbaikinya, "Bagian ini salah, coba kau perbaiki." Ia kembali mengangguk dan melanjutkan menulis kemudian memperbaiki beberapa kesalahan yang ia buat. Aku memperhatikan tiap cara ia gunakan dan membimbingnya menuju tempat yang benar.

Apa-apaan ini? Kenapa aku merasa seseorang terus saja memperhatikanku dengan tatapan aneh yang mengganggu itu. Awalnya, aku hanya ingin membuktikan bahwa aku tidak suka diremehkan tetapi tak kusangka, dia memiliki perasaan seperti itu padaku. Bukankah ini menjadi dua masalah yang berbeda? Yang paling tidak bisa kuterima adalah dia menyukaiku tetapi dia meremehkanku. Sungguh, tidak ada yang lebih buruk dibandingkan semua itu. Dengan begini, aku harus mencari cara memaksanya itu menghilangkan perasaan seperti itu. Aku tidak mau suatu hari dia akan mengganggu kegiatanku hanya untuk menyatakan perasaannya.

"Ah, minna. Aku ke wc dulu ya."

Dan, kesempatan itu datang ketika Shinagawa-san meninggalkan kami , lihatlah, bukankah dia terlihat panik?

"Ada apa denganmu? Kau kelihatan gelisah?" Keheningan pecah saat aku bertanya. Dia berpura-pura fokus pada buku yang ada diatas mejanya. Berusaha mengelak dengan keadaan dirinya yang mulai panik tak karuan.

Saat mengatakan, "Tidak ada apa-apa, Akashi-kun," aku melihat kedua tangannya yang bertempat di mejanya gemetar pelan. Apa? Dia takut? Terlalu gelisah sampai begitu? Dengan begini, aku bisa memanfaatkan suasana. Aku akan memperingatkannya, namun, aku pastikan dia akan berusaha mengelak jadi aku akan memancingnya menuju tempat yang tepat.

"Hei," panggilku tegas. "—sepertinya, akhir-akhir ini tingkahmu aneh."

"Apa maksudmu, Akashi-kun?"

Lihat! Dia pura-pura tidak mengerti arah pembicaraan ini. Sungguh, gadis yang pintar menyembunyikan sesuatu dengan wajah inosen.

"Apa kau pikir aku tidak sadar? Kau sering memperhatikanku." Ya, dengan tatapan anehmu itu.

"Kau bicara apa, Akashi-kun?" tanyanya sekali lagi. Sikap tenang yang dibuat-buat itu tidak akan bisa menyembunyikan semuanya dariku. Kau pikir, aku ini siapa? Aku mengetahui semuanya dan semua itu benar. Kau tidak perlu menghabiskan banyak energi hanya untuk mengelak. Menyerahlah.

"Kau sering memandangiku. Ya, pandangan seperti 'itu'." Benar, Pandangan seperti 'itu'. Pandangan penuh harapan dan memuja. Pandangan penuh dengan rasa itu, tentu saja, karena—"Kau suka padaku, benar 'kan?"

Kegelisahan mulai tergambar jelas pada ekspresi wajahnya. Gelagat yang tidak biasa dia lakukan. Tepat sasaran. Setelah merasa adanya harapan, maka aku akan menjatuhkanmu segera. Bersiaplah.

Setelah beberapa saat keheningan mendominasi kami, dia kembali menatapku dengan tatapan percaya diri dan menantangku. Menegapkan tubuh dan bicara dengan nada tegas, "Apa yang kau bicarakan, Akashi-kun? Aku tidak mengerti."

"Apa kau berusaha mengelak? Mencoba menipuku?"

"Tidak."

"Kau pikir aku tidak tau? Jangan meremehkanku." Tidak hanya dalam urusan belajar namun dalam menebak apa yang terjadi padamu pun kau meremehkan kemampuanku dengan berusaha menipuku? Keterlaluan. "—huh. Pandanganmu sama dengan gadis itu." Oleh karena keberadaan gadis itu, akhirnya, aku menyadari adanya perasaan yang sama dalam dirimu. Bukankah itu bagus? Bahkan kau menyaksikannya sendiri, aku akan membuatmu mengerti bahwa dugaanku selalu benar. Kali ini apa? Kau hanya bisa terdiam? Baiklah, aku akan mengangkat kembali apa topik kali ini, "—Aku bisa melihatnya, kau suka padaku, benar?" Bahkan, aku masih memberikan pertanyaan 'benar?' diakhir kalimatku. Apa kau tau artinya itu? Aku masih memberikanmu toleransi. Jika kau mengakuinya, maka semua ini akan terasa lebih mudah bagi kita.

Kembali bisu.

Tidak ada sambutan sama sekali. Pertanyaanku tidak dijawab. Toleransi yang kuberikan telah kadaluarsa. "Sikap diammu aku anggap pembenaran." Tangan kanannya aku raih dan aku pandangi.

"Kau tau apa yang harus kau perbuat, benar 'kan?" Ya, tentu saja kau mengerti. Kau mendengar pembicaraanku dengan gadis itu. Apa yang aku katakan pada gadis itu, kau mendengar semuanya bahkan aku yakin kau sesungguhnya mengerti bahwa kata-kata itu juga ditujukan padamu. Oleh karena itu, aku menyinggungnya, agar kau mengingatnya sekarang—menanamnya baik-baik dalam dirimu. Ah, aku ingat, ada sesuatu yang bisa aku gunakan kali ini. Jika saja, kau memanfaatkan dengan baik toleransi yang aku berikan maka semua ini tidak akan terjadi. Sesalilah dirimu.

"Apa kau tau—" Aku merogohnya dari sakuku, mengangkatnya tinggi hingga menimbulkan pantulan cahaya dari matahari. Dingin yang menjalar di sekitarnya aku pertemukan dengan tanganmu yang indah, "—rasanya dikuliti?" Sebuah gunting merah yang terabaikan oleh pemiliknya. Aku pun menyeringai melihat ekspresi terkejut darinya.

Keberadaan gunting yang mengancam pun masih tidak meruntuhkan pertahanan dirinya. Elakan selalu saja dilakukan. Mengatakan bahwa apakah aku mengerti apa yang sedang aku lakukan, tentu saja aku mengerti, aku sedang memperingatkanmu. "—kau tau apa yang harus kau perbuat 'kan? Kau sangat mengerti." Desakan gunting tidak ada hentinya aku lakukan. Semua ini aku lakukan agar kau tidak mendapatkan timbal balik yang lebih buruk dariku, oleh karena itu, "—jangan menjadi pengganggu."

*Plak!*

Dia menepis tanganku.

APA?

Aku mendelik tajam. Dia sontak berdiri dari tempatnya duduk dan menatapku angkuh. Apa? Sekarang, kau berani menatapku begitu? Beraninya kau!

"Kurasa ada hal yang salah kau mengerti Akashi-kun. Semua yang kau katakan akan berlaku jika aku memang memilikinya, tetapi ada satu hal yang salah kau prediksi. Kenyataannya kau tidak selalu benar."

Aku-salah-memprediksi-dan-aku-tidak-selalu-benar, katanya?

Kau meremehkanku. Kau mengabaikan toleransiku. Lalu, aku memperingatkanmu dengan cara yang lebih baik dan kau menepis kasar tanganku, setelah itu kau menyatakan bahwa aku tidak selalu benar? Betapa tidak sopannya kau terhadap diriku! Aku selalu benar dan kau tau itu! Tidak boleh ada yang menentang perintahku! Perintahku mutlak adanya!

*PRAK!*

Gunting yang kugenggam tengah menancap di atas meja.

"Kau bermaksud membantahku?"

"Tidak."

"Kau meremehkanku. Iya, kau. Aku tidak suka orang memandang rendah diriku. Aku tidak suka pada siapapun yang menentangku. Tidak ada seorangpun yang boleh menentangku, dan sekarang apa? Aku memerintahkanmu untuk jangan menjadi pengganggu dan KAU? membantahku!" teriakku penuh emosi. Lihat, diriku yang tenang ini pun bisa melakukan hal yang lebih mengerikan daripada yang kau kira. Oleh karena itu, jangan menganggap remeh diriku apalagi menentangku!

Kau akan menyesalinya telah membuatku terbakar emosi seperti ini. Kau akan membayar semuanya. Bahkan kau masih berani melawanku sekarang? Kenali benar tempatmu berada! Kau sedang berhadapan dengan seorang diriku!

"Tidak. Aku tidak membantah karena perintahmu tidak berlaku padaku. Ya, karena aku tidak suka padamu, A-ka-shi Se-i-juu-ro-kun."

Setelah menyerukan suaranya yang membuatku kesal, dia pergi dan menitipkan pesan untuk Shinagawa-san.

Perintahku tidak berlaku karena kau tidak menyukaiku? Begitu? Baiklah, jika kau bersikeras berkata demikian maka aku akan membuatmu mengakuinya. Mengakui bahwa aku selalu benar dan kau salah. Aku… akan membuatmu mengatakan 'suka' padaku, dihadapanku, memohon padaku, dan setelah itu aku akan menghancurkan dirimu—menghancurkan harga dirimu, ya, harga dirimu yang tinggi itu, harga dirimu yang membuatmu tidak mau mengakui kebenaran yang aku ucap, harga diri yang kau tunjukkan dan aku tidak menyesali telah melihatnya. Aku akan membuat seorang pembantah merasakan kesengsaraan.

Aku adalah sang pengatur.

Dan, kau—adalah seorang pembantah.

Seorang pembantah berhak mendapatkan hukuman dari sang pengatur.

Haruskan aku tertawa sekarang? Semua ini berubah menjadi permainan yang menarik dibandingkan bermain Shogi sendirian.

Baiklah, mari kita mulai permainan ini.

.

.

.

Semenjak saat itu, kami tidak pernah bicara. Dia menghindariku. Hmm.. bagus 'kan? Hal itu adalah bukti bahwa sebenarnya dia tidak berani padaku namun berusaha untuk tegar. Sungguh menggelikan. Jika melihatku, dia akan mematung dan berjalan mundur. Hal itu juga merupakan sebuah bukti bahwa tubuhnya pun bereaksi terhadapku. Sekarang, dia masih mengelak bahwa tidak menyukaiku? Konyol. Perbuatan yang sia-sia.

Hari ini, aku makan siang bersama kiseki no sedai dan juga Satsuki. Seperti biasa, keributan selalu saja menyelimuti mereka, terutama Ryouta dan Daiki disusul Shintarou dan Atsushi yang berdebat mengenai cara makan yang baik.

"Akashicchi~ Apa sabtu ini kau ada waktu luang?" Si model berisik pun bertanya. Entah apa kali ini yang ia pikirkan.

"Kenapa kau bertanya, Ryouta?"

"Aku ingin meminta tolong. Bisa kau ajarkan aku? Ujian sebelumnya, karena ada pekerjaan, nilaiku tidak memuaskan-ssu. Aku tidak mau gagal, jadi bisa kau bantu aku? Aku mohon~"

Kali ini Ryouta kah yang memintaku untuk mengajarinya?

"Baiklah," jawabku mengiyakan.

"Benarkah? Teman-teman! Kalian juga mau ikut belajar, tidak? Akashicchi akan menjadi gurunya," Ryouta bertanya pada yang lain. Hanya dibalas anggukan dan beberapa potong kata 'kalau begitu, aku mau ikut'.

Daiki berseru membuat makanan yang dimakannya tersembur kemana-mana, "Kalau mau belajar, kita butuh tempat, Kise."

"Kalau begitu di apartemenku saja-ssu. Disana hanya ada aku. Bagaimana, Akashicchi-sensei?"

Akashicchi-sensei? Sudah ada '-cchi' ditambah '-sensei'? Pemborosan.

"Tidak menjadi masalah, aku akan datang jam 10." Aku menjawabnya santai.

"Yosh! Kalau begitu, diputuskan di apartemen Kise jam 10. Semua setuju?" Tidak ada yang menolak sama sekali. Ingat baik-baik, jam 10. Jangan sampai kalian terlambat dan membuatku menunggu.

Ngomong-ngomong, belajar bersama, ya? Kata-kata itu mengingatkanku padanya.

"Nee..Ki-chan.." Satsuki mendekat pada Ryouta, mereka berdua duduk di hadapanku dan membicarakan sesuatu dengan suara pelan berbisik, "—mengenai gadis yang kau ceritakan waktu itu, bisa kau kenalkan padaku? Aku ingin bertemu dengannya. Ajak saja belajar bersama nanti."

'Gadis yang kau ceritakan waktu itu'? Siapa? Ah, jika menyangkut Ryouta, dipastikan gadis itu adalah fansnya. Si peniru ulung menggaruk pipinya dengan gugup, entah apa yang terjadi padanya.

"—hehe. Jangan, Momocchi. Dia agak kaku soal begini. Kalau waktu belajarnya diganggu nanti dia marah," lanjutnya dengan peringai yang tidak biasa kulihat dari seorang Kise Ryouta. Sepertinya, orang yang dibicarakan cukup keras masalah belajar. Hah. Silahkan sajalah, kalian bergosip. Karena berada di depan mereka, aku jadi mendengarnya.

"Tapi, Ki-chan, kita 'kan mengajaknya belajar, jadi tidak apa-apa dong. Lagipula, siapa tau aku bisa membantu kalian lebih dekat. Hubungan teman masa kecil itu sulit untuk ditembus," tambah Satsuki. Setelah itu, ia menatap Daiki yang sedang sibuk merebut makanan Tetsuya. "—aku mengerti, karena begitulah cara pandangku pada Aomine-kun, aku menganggapnya saudara."

"Tidak usah, Momocchi. Lain kali saja, terima kasih."

Hah. Aku tidak mengerti lagipula aku tidak mau ikut campur. Jika melihat reaksinya, kupastikan Ryouta suka pada gadis yang sedang dibicarakan dan kebetulan orang itu adalah teman masa kecilnya.

Suka, ya? Hmm… aku tidak sedikit pun lupa. Aku akan membuatnya mengakui kekalahannya. Sesegera mungkin.

"Akashi-kun? Kenapa tiba-tiba menyeringai begitu? Kau mengerikan."

"Tidak ada apapun, Satsuki."

.

.

.

Hari sabtu tiba. Aku sudah berjanji akan datang ke apartemen Ryouta dan mengajari mereka. Kuharap, mereka sudah datang. Saat memasuki lobby apartemen, aku bertemu dengan Shintarou dan kami bersamaan menuju apartemen bernomor 77 di lantai 7. Setibanya tepat di depan apartemennya, Shintarou menekan bel dan tak lama seseorang muncul dibalik pintu—Kise Ryouta dengan senyuman lebar mencurigakan.

"Selamat datang, Akashicchi-Sensei!"

"Kenapa kau senyum-senyum begitu, Ryouta?"

"Hehe, tidak apa-apa-ssu." Ia membuka lebar pintu dan menyilahkan kami masuk.

"Yang lain sudah datang nanodayo?"

Menegaskan pertanyaan Shintarou, aku menanggapi, "Kalau ada yang terlambat, biar mereka tau akibatnya nanti."

"Sudah lengkap-ssu. Bahkan ada tambahan satu orang, hehehehe."

Satu orang? Siapa? Jangan bilang, gadis yang dibicarakannya beberapa waktu lalu dengan Satsuki.

"Tambahan satu orang? Siapa nanodayo?"

"Kau pasti kenal Akashicchi."

"Aku mengenalnya?"

Aku mengenalnya? Gadis itu? Yang dikatakan sebagai teman kecil Ryouta? Gadis yang disukai Ryouta? Kenapa aku bisa mengenalnya? Aku berusaha mencari-cari dalam memoriku tentang beberapa orang yang kemungkinan memiliki koneksi antara aku dan Ryouta. Seorang gadis yang kami kenal selain Satsuki. Ah. Memori tentang tautan jari-jari antara dua manusia menyumbul keluar. Masa iya?

Kami berjalan memasuki ruangan apartemen. Belum terlihat sama sekali siapa saja yang ada di dalam. Dan, akhirnya, setelah melewati lorong menuju ruang tamu, aku bisa melihat wajah-wajah temanku yang menunggu dengan tenang. Mataku tak sengaja menangkap keberadaan seseorang. Ya, benar kata Ryouta, orang itu…aku mengenalnya. Mengenalnya dengan sangat baik.

"Teman sekelasmu dan juga teman masa kecilku-ssu."

Jadi, dia yang dimaksud? Dugaanku benar.

Aku menatap sorot matanya yang mulai gelisah. Terkadang berusaha untuk tidak memandangku. Heh~ ternyata, kau… Bukankah ini suatu kebetulan yang sangat sempurna?

"Hoo.."

Pandangan matanya menajam. Kembali berusaha menunjukkan dirinya seperti waktu dia membantahku. Menatap tepat di manikku. Menatap dan menantangku.

"Ohayou, Akashi-kun."

Sekali lagi, berani sekali menatapku seperti itu.

.

.

.

Belajar bersama. Diputuskan, aku membimbing Ryouta dan Daiki, terkadang mereka ribut sendiri, membuatku pusing saja. Sisanya, dibimbing oleh Shintarou dan khusus Satsuki dibimbing olehnya. Bahkan tempat kami duduk pun berubah menjadi suatu kebetulan. Ya, dia berada tepat disampingku.

Betapa kerasnya kau berusaha menghindariku, nyatanya, berubah menjadi seperti ini. Akhirnya, kau luluh hanya karena dibujuk oleh teman masa kecilmu dan juga seorang gadis berambut pink yang baru saja kau kenal. Apa kau mengerti? Itu artinya, kau… memang harus berhadapan denganku.

"Ada apa? Kau kelihatan gelisah," ucap Tetsuya ditengah keheningan. Merupakan hal yang tidak biasa seorang Kuroko Tetsuya tiba-tiba angkat bicara. Ternyata, orang yang diajak bicara adalah dia. Menggelikan. Aku tau penyebabnya menjadi gelisah, karena keberadaanku di dekatnya 'kan?

Dia menjawab, "Tidak apa-apa, Kuroko-kun." Kami semua menatapnya.

"Ada apa, Tetsu-kun?" Satsuki pun ikut bertanya heran karena proses belajar tiba-tiba berhenti.

"Tidak ada apa-apa, Momoi-san. Ayo, lanjutkan belajarnya," ujar Tetsuya datar. Tampaknya, semua yang berada disini tidak mencurigai gelagatnya yang aneh, tapi, aku iya. Aku tau penyebabnya. Dia merasa lega ketika mereka semua kembali beraktivitas, namun saat matanya menangkap diriku yang menatapnya, dia mulai menunjukkan ekspresi gugup. Tatapan mataku tidak lepas sedikit pun dari dirinya.

Kenapa? Kau takut padaku? Ya, tentu saja, kau takut. Sorot matamu menggambarkan semuanya. Bahkan, sekarang, kau menyeret mundur menjauhiku. Lihat, tanpa mengeluarkan banyak energi untuk bertindak pun, tubuhmu sudah bereaksi terhadapku. Bahkan kedua iris matamu pun tidak bisa berpindah pada yang lain. Harusnya, kau tidak usah melindungi harga dirimu. Aku yakin, saat ini, kau sedang mengingat peristiwa kemarin. Kau takut padaku tapi kau tidak bisa mengungkiri perasaanmu padaku. Pikirkanlah, pikirkanlah aku dan tunjukkan rasa sukamu padaku. Tataplah aku, tanamankan betul kata-kataku, kembali pikirkan tentang diriku lalu katakan kau 'suka' padaku. Dengan begitu, aku akan menjadi pemenang permainan ini dan pada akhirnya, aku akan menghancurkanmu.

*BRAK!*

Dia berdiri tiba-tiba menyebabkan mejanya terguncang. Kurasa, sudah cukup aku membuatnya mengingatku. Sekarang, aku yakin, pikirannya sedang berputar-putar disekitarku. Buktinya adalah kakinya yang terbentur itu.

Menggunakan alibi ingin membuatkan minuman untuk yang lain, dia pergi bersama Ryouta dan Satsuki menuju dapur. Seberapapun kau berusaha untuk menghindar, kau tidak akan bisa lari dariku. Usahamu sia-sia saja, bahkan kau tau itu dengan baik.

Tak lama, Satsuki kembali sembari berwajah cemberut kemudian bertengkar dengan Daiki karena Daiki mengatainya bahwa manager kami itu bisa menghancurkan dapurnya. Jika gadis pink ini kembali ke sini, artinya, dia sedang berdua saja dengan Ryouta?

Tunggu dulu. Aku merasakan sesuatu yang ganjal disini.

Aku bergegas berdiri dari tempatku dan mulai berjalan meninggalkan Daiki yang sedang belajar.

"Akashi, kau mau kemana?"

Aku melirik pada Daiki yang bertanya. Aku mau kemana? Tentu saja mencegah sesuatu yang buruk terjadi.

"Toilet, Daiki."

"Oh."

Melenggang pergi, menyusuri lorong panjang menuju arah yang ditunjukkan Ryouta padanya. Menemukan ambang pintu masuk menuju ruang dapur. Aku berdiri disana, menonton dua orang yang sedang sibuk dengan dunianya sendiri.

"Ryouta-kun, kalau kau mencekikku begini. Bagaimana aku bisa memotong kuenya?"

"EH? Siapa yang mencekikmu? Aku cuma peluk saja. hehehe.."

Peluk, katanya? Ya, aku bisa melihatnya dengan jelas. Ryouta memeluknya dari belakang. Memeluk gadis yang diduga menjadi orang disukainya. Dan, mereka berteman sejak kecil.

"Lepaskan."

"Tidak mau-ssu."

Bahkan pelukannya semakin dieratkan.

"Kubilang, lepas."

"Aaaah, kau jahaaat~!"

Sudah dipeluk, tubuhnya di guncang-guncang pula.

Aku mengerti sekarang tentang apa yang terjadi selama ini.

"Ryouta." Aku memanggilnya. Pemuda bersurai kuning itu menoleh dan bertanya heran tentang keberadaanku yang menatap mereka berdua. Tentu saja, aku beralibi untuk pergi ke toilet seperti yang aku lakukan saat Daiki bertanya. Ya, aku memang pergi ke sana. Aku meliriknya sejenak sebelum pergi, kulihat, wajahnya pun terkejut dengan keberadaanku yang menyaksikan semuanya.

Aku mengerti semuanya sekarang.

Penyebab dia bisa menyembunyikan seluruh perasaannya. Ya, karena pikirannya bercabang.

Ryouta.

Keberadaan Ryouta dalam pikirannya.

Pikirannya tidak hanya tertuju padaku tetapi juga pada Ryouta sebagai teman masa kecilnya.

Jadi, karena itu? Keberadaan Ryouta-lah yang mendukungnya? Aku tidak menyangka ada kaitan seperti ini. Jika dibiarkan, Ryouta yang notabene telah menyukainya akan semakin mendominasi dirinya bahkan yang terburuk, dia akan melupakan rasa sukanya padaku dan beralih pada Ryouta. Rentetan kejadian itu membuat kemungkinan aku kalah dari nol menjadi bertambah beberapa persen karena manusia bisa saja berubah. Selama ini, aku tidak pernah kalah dan suatu saat nanti pun tidak akan. Aku tetap akan menjadi pemenangnya. Akan aku buktikan dengan sebuah strategi.

Aku akan menyingkirkan keberadaan Ryouta dari pikirannya.

Menjadikan diriku satu-satunya orang yang akan menguasai pikirannya.

Rasa suka akan semakin dalam dan menyeruak dalam dirinya.

Pada saat itu, aku akan mendeklarasikan kemenanganku atas dirinya.

Dan, seorang pembantah akan tenggelam dalam kesengsaraan.

.

.

.

TBC..


Pace-nya lebih cepat, ya? Maaf ya, biar cepet ke intinya juga. Sorry ya, gue gak mood mengetik jadi mungkin chapter ini agak membosankan dan gak dapet feelnya.

Intinya, Akashi beralih, tadinya gak mau sampe si "aku" suka bgt sama dia dan nantinya mengganggu lalu macem2 lah.. tapi, pas dibantah, dia malah kesel dan akhirnya bertekad(?) menghancurkan si "aku" dgn cara bikin si "aku" suka bgt sama dia dan abis itu bakal dihancurkan perasaannya. Gitu. Tp, gue yakin, bbrp dr kalian pasti menyadari cerita ini akan lari kemana.

Entahlah, gue minta maaf pd semua fans Akashi. Gue telah membuatnya menjadi sangat jahat disini bahkan mengintimidasi bgt. Gue rasanya mau nampol muka sendiri setiap ngetik kalimatnya. BUSEH! Nih orang bikin gue kesel! Belagu dan Amit2 sumpah! Pdhl gue yg buat! Kyknya, ini salah authornya, bukan salah Akashi-nya, wakakakaka! Kamu biadab, Akashi! *gunting melayang*

Makasih semua supportnya selama ini! Maaf gak gue balas reviewnya. Klo ada waktu luang lagi, gue akan membalasnya. Terima kasih dan See you next time~! Fic gue yg lain, sabar ya!