A/N: Here it is, my faithfully and lovely readers as well as reviewers, chapter 11 of Confusion and Hesitation. I hope you like it! Oh, by the way, your reviews really made my day. And FYI, I did reply to some reviewers who needed my answer. If you feel you reviewed Chapter 10 and think that your review needed my answer but believe that you haven't read it yet, then just check your Inbox! Lucky you if you find one. Thank you. Happy reading!
Disclaimer: Gakuen Alice and its property are rightfully belong to the greatest Tachibana Higuchi-sensei. But, I do own the plot.
"Apa yang kau lakukan disini, Polka?"
Mereka berdua tenggelam dalam kesunyian. Hanya terdengar suara jangkrik yang sedang menyanyikan lagu-lagu sedih, seakan-akan hendak menertawakan mereka dan nasib yang menimpa mereka. Hawa dingin membuat suhu di kamar seluas itu menjadi beku, sebeku tubuh Mikan sekarang. Ia tak bisa bergerak, bahkan ia tak merespon apa-apa saat melihat lelaki di depannya sedang dalam keadaan setengah telanjang; hanya memakai celana jins saja dan handuk basah yang memeluk bahu bidang miliknya. Tetes-tetes air yang jatuh dan mengalir dari helai rambut ravennya melewati kulit pucat tubuhnya yang berisi dan berotot, membuat kesadarannya kembali mengontrol dirinya.
"Polka, kau—"
Sang gadis hanya menggelengkan wajahnya dan segera melangkahkan kakinya pergi keluar ketika tangan kekar sang lelaki bermata crimson hendak meraihnya. Kedua mata crimsonnya dapat melihat rintik-rintik air, yang tentu saja, bukan berasal dari dirinya.
Natsume Hyuuga menoleh ke arah laptopnya yang masih menyala. Ia melebarkan kedua matanya ia melihat apa yang ditampilkan oleh layar sialan tersebut. Ia menghela nafasnya, karena ia kini sangat mengerti apa yang baru saja terjadi. Kesalahan yang sangat fatal seperti ini, betapa ia tak pernah menginginkan hal itu terjadi.
Setelah itu, ia menutup layar laptopnya.
Confusion and Hesitation
by Yuuto Tamano
Chapter 11: Her First Name and Decision
CrimsonFlame adalah Natsume Hyuuga. Natsume Hyuuga adalah CrimsonFlame.
Kedua kalimat itu terus saja kusebutkan berulang-ulang di dalam kepalaku, membuatku nyaris menjadi gila karenanya. Air mataku sudah habis, dan aku sudah lelah menangis. Aku hanya bisa sesegukan di balik selimutku, menggulungkan tubuhku di baliknya. Wajahku kacau, rambutku acak-acakan. Aku sudah tahu betapa bengkaknya kedua mataku tanpa perlu kulihat di cermin dan pandanganku sudah memburam karena banyaknya air yang menggenang di bola mataku.
Aku tak menyangka bahwa aku akan merasakan rasa sakit, kecewa, dan perasaan sedih yang sangat mendalam untuk yang kedua kalinya. Pertama kali aku rasakan ketika ayahku yang paling kusayangi meninggal setengah tahun yang lalu. Walaupun saat itu bukan hanya aku yang merasa kehilangan; ibuku malah jauh lebih parah dariku. Bahkan sampai sekarang aku masih ingat bagaimana perasaan sedih yang kurasakan saat itu, dan aku tak pernah berpikir bahwa aku akan merasakannya lagi untuk yang kedua kalinya.
Semua hanya karena keberadaan seorang cowok.
CrimsonFlame.
Aku menyukainya, sangat dan sangat suka, walaupun aku belum pernah bertemu muka dengannya. Aku jatuh cinta pada kata-katanya, godaannya, dan dia yang selalu ada di saat aku merasa kesepian, selalu ada di saat aku membutuhkannya. Dia sahabatku dan juga cinta pertamaku, karena itulah aku merasa sangat bahagia ketika mengetahui kalau aku akan bertemu dengannya secara langsung. Bertemu dengannya adalah doa dan impianku setiap hari. Aku selalu berharap agar suatu saat nanti aku dapat bertemu dengannya dan menyampaikan perasaanku padanya.
Natsume Hyuuga.
Cowok yang menyebalkan, dingin, mesum, dan anti-sosial; kata-kata itu adalah kesan pertamaku saat pertama kali bertemu dengannya. Aku jadi ingat saat-saat ketika kami pertama kali bertemu, saat itu ia mengejekku berisik—padahal wajar saja aku berteriak saat rambut kejatuhan kotoran burung. Lalu pertemuan keduaku dengannya, dia malah menyibakkan rokku dan melihat celana dalamku—sejak saat itu aku selalu dipanggil 'Polka' olehnya. Aku benar-benar kesal setengah mati padanya.
Ia selalu tidur di setiap pelajaran, dengan posisi bersandar pada sandaran kursi dan wajah yang tertutup buku komik. Aku merasa heran apa dia nggak merasa pusing terus-terusan tidur seharian? Seperti kucing saja. Dan yang membuatku merasa kesal padanya ialah karena ia selalu mendapat nilai tertinggi di setiap mata pelajaran, kecuali mata pelajaran Bahasa Inggris oleh Narumi-sensei yang nyentrik—Natsume benci padanya—bahkan ia mengalahkan Hotaru dan Iinchou yang pintar. Benar-benar jenius sekaligus menyebalkan, sepertinya dia tipe orang yang dengan mudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Mungkin karena itu pula ia mendapat peringkat special star.
CrimsonFlame yang baik nan lembut; Natsume Hyuuga yang super duper menyebalkan.
Semuanya berubah saat CrimsonFlame tiba-tiba saja membenciku tanpa alasan. Akhir-akhir ini ia tak pernah lagi berbicara denganku, dan sejak ia berubah aku nggak pernah lagi melihatnya online di MSN saat aku sedang online. Dia bilang, dia yang sekarang adalah dirinya yang sebenarnya. Aku tak mengerti, jadi selama ini dia yang baik adalah dia yang palsu, begitu? Kalau begitu kenapa ia melakukan hal itu?
Ah, aku jadi tersadar, CrimsonFlame berubah sejak kami berciuman di pesta Permy. Ciuman itu adalah ciuman pertamaku—Oh. My. God! Itu berarti aku berciuman dengan Natsume!—aku tahu aku sama sekali nggak berpengalaman dalam hal itu, apa mungkin karena itu dia membenciku? Karena ia tak puas dengan ciuman itu? Tapi mengenalnya selama setengah tahun ini rasanya itu tak mungkin. Lalu kenapa?
Dan, anehnya, sejak ciuman itu juga Natsume berubah menjadi sangat perhatian padaku. Aku jadi ingat ketika ia menghiburku dan meminjamkanku sapu tangannya padaku saat aku tenggelam dalam tangisanku. Aku merasa senang melihat perubahan sikapnya itu. Aku pikir mungkin kita akan bisa menjadi teman baik ke depannya. Namun pikiran itu menghilang ketika aku menemukan sebuah fakta bahwa Natsume adalah CrimsonFlame, cinta pertamaku.
CrimsonFlame yang tidak berperasaan; Natsume Hyuuga yang perhatian.
Sungguh bertolak belakang! Tidak masuk akal! Sebenarnya yang mana yang merupakan sifat aslinya? Kenapa di saat CrimsonFlame masih bersikap baik padaku, Natsume malah bersikap menyebalkan, sedangkan saat CrimsonFlame berubah menyebalkan, Natsume malah jadi perhatian? Sebenarnya maunya itu apa sih? Dia itu seperti hendak memberitahukan bahwa dirinya berbeda dari CrimsonFlame. Sikapnya itu seperti ia tidak ingin aku tahu bahwa CrimsonFlame adalah dirinya.
—Oh, aku mengerti sekarang. Aku mengerti betapa tidak sukanya dia pada diriku.
Aku merasa hatiku seperti pecah dan hancur menjadi butiran-butiran debu.
Suara ketukan yang berasal dari pintu kamarku membuat pikiranku teralihkan padanya. Aku lalu menyeka air mataku dan merapihkan penampilanku yang kacau balau sesaat setelah aku mendengar suara seseorang yang memanggilku dari luar. Betapa aku tahu siapa pemilik suara itu.
"Sakura-san? Sakura-san? Apa kau di dalam?"
Aku lalu segera membuat langkahku menuju pintu kamarku untuk meraih kenopnya dan memutarnya. Aku melihat sosok cowok berambut pirang dengan bola mata ceruleannya tampak dipenuhi dengan rasa cemas. Sesaat setelah aku membuka pintuku lebar untuknya, kedua matanya mendadak melebar dan tiba-tiba saja ia memelukku dengan erat.
"Ng… Ruka-kun… A-Aku tak bisa bernafas…" ucapku terbata-bata.
Mendengar ucapanku, ia lalu melepaskan pelukannya dan membungkuk sebagai tanda permintaan maaf. Aku lalu mengangguk dan mempersilahkannya masuk ke dalam. Aku menutup pintu kamarku setelah aku memastikan bahwa Ruka-kun sudah duduk di sofa kamarku. Setelah itu aku lalu berjalan mendekatinya.
"Ada apa Ruka-kun? Malam-malam begini menemuiku?" tanyaku sambil menyuguhkan segelas cokelat panas padanya dan mengambil posisi dudukku di sebelahnya.
"Terima kasih," ucapnya sebelum ia menempatkan jari-jari tangan kanannya pada mata kiriku yang sembab dan mengusap-usapnya dengan lembut. "Aku melihatmu berlari sambil menangis, karena itu aku memutuskan untuk datang ke kamarmu dan menanyakan ada masalah apa."
Menangkap maksud sebenarnya dari kata-katanya, aku menggelengkan wajahku.
Ruka hanya menghela nafasnya. "Kalau kau belum ingin menceritakannya padaku, nggak apa-apa kok, aku mengerti. Tapi sebagai pacarmu aku boleh 'kan merasa khawatir?"
Seketika saja kedua mata hazelku melebar mendengar kata-katanya. Pacar? Siapa yang pacarnya siapa? Aku terdiam sejenak, bermaksud mencerna kata-katanya. Kedua kakiku nyaris meloncat ketika aku teringat dan menyadari bahwa Ruka-kun telah menyatakan perasaannya padaku dan aku mengiyakannya. Hal itu berarti menandakan bahwa sekarang kita sudah resmi berpacaran. Oh my God, aku lupa.
Pikiranku benar-benar dipenuhi oleh CrimsonFlame dan Natsume sampai-sampai aku melupakan hal sepenting itu.
"Err… Iya, boleh kayaknya." ucapku sambil memaksakan bibirku untuk tersenyum.
Setelah itu hanya nyanyian jangkrik yang memenuhi sekeliling kami. Lalu terdengar juga suara Ruka-kun yang menyeruput cokelat panasnya.
Sedangkan aku? Lagi-lagi aku tenggelam dalam pikiranku. Ini pertama kalinya dalam sejarah kehidupanku aku mengalami peristiwa-peristiwa klise yang sering terjadi dalam sinetron—err, maksudku dorama. Atau mungkin sebenarnya aku memang sedang bermain dalam sebuah dorama cengeng tentang kisah cinta segitiga? Aku menggelengkan wajahku, pikiranku sering tidak beres akhir-akhir ini. Kalau memang saat ini aku sedang berakting di dalam sebuah dorama, aku termasuk artis berbakat yang seharusnya sudah dapat direkrut oleh dunia perfilman Hollywood.
Okay, kembali ke topik awal.
Sekarang aku, secara resmi, adalah pacarnya Ruka-kun. Ruka-kun adalah cowok yang baik dan gentle. Selain itu ia juga tak kalah tampan dari Natsume. Kudengar Ruka-kun juga mempunyai fans clubnya sendiri. Semua cewek pasti banyak yang mengantri untuk menjadi pacarnya. Hanya cewek yang beruntunglah yang dapat menjadi pacarnya, dan aku adalah cewek beruntung itu. Ia menyukaiku dan aku juga menyukainya. Bersamanya aku merasa seperti seorang princess yang dicintai dan diperhatikan.
Tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang kurang, aku merasa ada yang janggal, seakan-akan aku telah kehilangan sesuatu. Aku memang merasa senang saat bersamanya, tapi aku merasa jauh lebih bahagia saat sedang chatting bersama CrimsonFlame. Aku merasa ada yang kurang… karena Ruka-kun bukanlah CrimsonFlame.
Ah, lagi-lagi aku memikirkan CrimsonFlame, padahal orangnya sendiri tidak menyukaiku, apalagi memikirkanku. Dadaku lagi-lagi terasa sakit dan nafasku terasa berat. Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini.
Apakah sekarang sudah saatnya aku melupakan CrimsonFlame?
"Sakura-san—" Aku menolehkan wajahku pada Ruka-kun ketika ia memanggilku. Aku menahan nafasku melihat wajahnya yang tampak cemerlang dibalik cahaya bulan yang menembus jendela kamarku. Ia benar-benar terlihat tampan. "—mulai sekarang bolehkah aku memanggilmu, 'Mikan'?"
Aku terdiam sejenak sebelum aku mengangguk dan tersenyum. Ia pun balas tersenyum dan mencium dahiku, membuat tubuhku merinding dari ujung rambut sampai ujung kakiku.
"Terima kasih, Mikan. Aku sangat senang."
Benar, sekarang aku sudah mempunyai Ruka-kun, dan aku tak pernah berniat untuk mengkhianatinya. Karena itulah aku harus berusaha untuk mulai membuang jauh-jauh CrimsonFlame dari pikiranku.
Tak ada pilihan lain bagiku selain menjauhi Natsume Hyuuga.
"Polka—"
Ini sudah yang ketiga kalinya Natsume berusaha memanggilku. Dan juga sudah yang ketiga kalinya aku tidak menanggapinya maupun menjawab panggilannya. Aku hanya berjalan lurus melewatinya, seperti pura-pura tidak mendengarnya. Beberapa detik setelah aku melewatinya, tiba-tiba saja dadaku terasa sakit. Aku memegang dadaku, mengelus-elusnya bermaksud untuk mengurangi rasa sakitnya.
Aku melirik sedikit kedua mata hazelku padanya. Aku melihat kedua mata crimsonnya yang menatapku dan melihat itu aku segera mengalihkan pandanganku darinya.
Ketika sampai di kafetaria aku segera duduk di bangku yang paling jauh dari bangku yang biasanya ditempati Natsume dan kawan-kawan.
"Mikan-chan!" Aku menoleh pada sumber suara yang memanggilku dan menemukan Anna dan Nonoko yang melambai-lambaikan kedua tangannya padaku. Aku tersenyum.
"Hai! Anna-chan, Nonoko-chan!"
Sahabat-nyaris-kembar itu kemudian bergabung denganku. Mereka berdua membawa roti melon di tangan mereka. "Mikan-chan, dimana Hotaru-chan? Biasanya kalian suka bareng kalau lagi istirahat siang." tanya Anna sebelum ia membuka mulutnya untuk menggigit roti melonnya.
"Hotaru lagi dipanggil sama Narumi-sensei. Iinchou juga bersamanya." jawabku singkat sebelum memakan roti kare milikku.
Baik Anna maupun Nonoko, keduanya tiba-tiba menatapku, mata bertemu mata. Wajah mereka menunjukkan ekspresi heran sekaligus cemas. Aku menelan ludahku dan mengalihkan kedua mataku, menghindari tatapan kedua mata mereka. "A-Ada apa sih?" tanyaku salah tingkah.
"Dari tadi pagi, aku melihat wajahmu murung terus…" jelas Anna cemas.
"Dan dari tadi pagi juga, aku merasa kalau kau selalu menghindari Natsume-kun." lanjut Nonoko. Pernyataan itu seperti begitu menusuk tepat ke hatiku, membuatku terbatuk-batuk karena tersedak.
"Kau nggak apa-apa, Mikan-chan?" ucap mereka berdua bersamaan, dengan raut wajah yang cemas. Anna lalu menyodorkan air minum padaku sedangkan Nonoko menepuk-nepuk lembut punggungku.
"Makasih," ucapku sebelum aku melegakan kerongkonganku dengan air. "Aku nggak apa-apa kok, kalian terlalu berlebihan, ah!"
Tiba-tiba saja seseorang menepuk kepalaku lembut. Aku segera mengangkat daguku untuk melihat siapa orang itu. "Ruka-kun! Kau mengagetkanku!"
Ruka lalu mengambil posisi duduk di sampingku sambil tersenyum, "Hai, Mikan!" sapanya riang membuat jantungku sempat berdebar kencang dibuatnya. Wajahku seketika saja memerah mendengarnya memanggilku dengan namaku—bukan nama keluargaku seperti yang biasanya—aku merasa deg-degan walaupun dia bukanlah cowok pertama yang memanggilku dengan nama depanku.
"H-Hai," responku gugup, sampai sekarang aku masih belum percaya kalau aku sudah jadi ceweknya Ruka-kun. Padahal kemarin malam aku biasa saja, tapi kenapa sekarang aku jadi gugup begini ya? "K-Kenapa Ruka-kun nggak duduk bareng Natsume?"
Ruka-kun hanya menghela nafasnya lalu tersenyum. "Soalnya… aku ingin bareng kamu. Nggak apa-apa kan?"
Wajahku mendadak memerah dan daguku seperti jatuh ke lantai mendengar kata-katanya. Tanpa sadar, aku tiba-tiba saja membeku. Aku tidak bisa menggerakkan tangan maupun jari-jariku. Sepertinya hanya jantungku saja yang saat ini mampu bergerak, dengan frekuensi detak yang amat luar biasa cepat—okay, mungkin aku terlalu berlebihan, tapi saking kagetnya aku bahkan sampai tak bisa mengucapkan kata apa-apa.
Melihat diriku yang membeku, Ruka tampak tersenyum kaku, "Err… nggak boleh ya? Kalau begitu—"
"KYAA~ Ruka-kun jadian dengan Mikan-chan ya?" teriak Anna dan Nonoko histeris dengan wajah yang memerah karena kagum. Berkat teriakan itu, aku akhirnya kembali ke dunia nyata. Oh my God, mereka berdua berteriak kencang sekali! Padahal Anna sendiri saja sudah cukup kencang, kini ditambah dengan Nonoko maka tinggi teriakannya menjadi naik satu oktaf—aku ini ngomong apa sih?—Hm, aku jadi berpikir, apa teriakanku juga sekencang mereka ya? Rasanya aku jadi mengerti perasaan Natsume yang selalu mengatakanku berisik. Lho kenapa aku jadi ngomongin Natsume?
Tunggu dulu! Kalau Anna dan Nonoko berteriak begitu, berarti…
"Hhahaha… Jangan berteriak begitu… Aku jadi malu." respon Ruka-kun dengan wajah yang memerah sambil mengangguk tanda mengiyakan. Oh. My. God.
OH MY GOD! Kalau begitu sekarang seluruh sekolah jadi tahu kalau aku pacaran dengan Ruka-kun?
Teriakan keterkejutan yang berasal dari seluruh siswa yang ada di kafetaria—diikuti pula dengan suara benda-benda yang terjatuh—meyakinkan dan membuktikan kalimat dugaanku yang sebelumnya.
Aku berlari tanpa arah menghindari kejaran-kejaran orang-orang gila yang terdiri dari: klub koran sekolah, cewek-cewek fans club Ruka-kun, dan orang-orang kurang kerjaan yang entah kenapa juga ikut-ikutan mengejarku. Sejak fakta bahwa aku dan Ruka-kun pacaran menyebar nyaris ke seluruh divisi di Alice Academy, aku jadi sering dikejar-kejar oleh orang-orang yang penasaran tentang fakta tersebut. Aku dihujani banyak pertanyaan, membuatku menjadi stres karenanya. Makanya, sekarang aku berlari, berlari untuk menghindari mereka.
Namun, aku nggak tahu harus berlari kemana dan aku juga nggak tahu sampai kapan aku harus berlari. Permainan kejar-kejaran ini harus segera dihentikan! Lalu tanpa sengaja aku melihat sebuah pohon Sakura besar di arah jam sebelas. Tiba-tiba saja aku mendapatkan sebuah ide dan aku segera berlari menuju pohon itu, memanjatnya, dan duduk di salah satu cabang pohonnya sambil mengambil nafas panjang.
"Sakura lari kemana?"
"Sial, apa kau liat Sakura?"
"Nggak."
"Mungkin dia kesana!"
"Ayo kejar dia!"
Aku menghela nafasku lega ketika melihat orang-orang yang mengejarku sudah tak tampak lagi di depan kedua mataku. Setelah aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku baik-baik saja, aku segera melompat turun dari atas pohon Sakura kembali ke bawah dan menyibakkan rokku untuk membersihkannya dari helai-helai mahkota bunga Sakura yang menempel. Aku hendak melangkahkan kakiku kembali pulang ke asrama ketika seseorang tiba-tiba saja menggenggam tanganku dari belakang.
"Polka…"
Tanpa menoleh pun langsung tahu siapa pemilik tangan tersebut. Ketika menyadarinya aku langsung merasakan sakit di dadaku, merasakan aliran listrik yang seperti mengalir di dalam pembuluh darahku, membuat tubuhku bergetar, dan juga jantungku yang berdetak begitu kencang.
"…kau pacaran dengan Ruka?"
Kedua mataku terbelalak mendengar hal itu dan dadaku semakin terasa sakit. Tak tahan dengan perasaan seperti itu aku segera menarik tanganku lepas darinya dan berlari menjauhinya.
"Mikan…!"
Mendengar panggilan itu kedua kakiku serentak menghentikan langkahnya. Kedua lututku tiba-tiba saja lemas. Wajahku pun entah kenapa terasa panas.
"Mikan…"
Natsume kembali menggenggam lenganku, kemudian menarik keduanya untuk mendekati dirinya, dan mendorong tubuhku hingga punggungku membentur sebatang pohon Sakura—walaupun tak terasa sakit. Aku menundukkan wajahku, menolak untuk memperlihatkan wajah memerahku padanya. Kedua telapak tangannya yang panjang dan kekar menggengam erat kedua bahuku. Cengkeramannya membuatku sadar bahwa aku tak dapat kabur darinya. Tubuh dan wajahnya berada sangat dekat denganku sehingga aku dapat merasakan hembusan nafasnya walaupun aku menundukkan wajahku, membuat tubuhku merinding karenanya.
"Mikan, angkat wajahmu."
Ucapannya itu terdengar seperti perintah di telingaku—perintah yang lembut namun memberikan kesan yang kuat. Awalnya aku menolak, namun mendengarnya menyebutkan nama depanku tiga kali membuatku jantungku berdebar sangat, sangat cepat—hingga nyaris copot—dan akhirnya aku memutuskan untuk menuruti kata-katanya. Aku mengangkat wajahku.
Kedua mata hazelku menatap kedua mata crimsonnya.
"Kenapa kau menghindariku?" tanyanya lembut, namun aku dapat merasakan amarah di balik kata-kata yang diucapkannya.
Masih keras seperti batu, aku menolak memberinya jawaban.
Namun, mengabaikannya mungkin adalah kesalahan terbesarku, karena setelahnya ia mendekatkan wajahnya padaku hingga kedua bibir kami saling bersentuhan satu sama lain.
"Mmft—"
Aku berusaha mengelak. Kedua tanganku berusaha untuk mendorongnya namun gagal. Sebaliknya, semakin lama kami berciuman, semakin lemas kedua kakiku dibuatnya. Dan juga semakin dalam kami berciuman, semakin tenggelam aku dalam ciumannya, hingga membuatku ingin menciumnya balik.
Ciuman ini… rasanya sama dengan ciuman di pesta Permy tempo lalu.
Kini aku sadar, walau sebagaimana pun aku berusaha mengelak, pikiranku, tubuhku, dan bahkan hingga seluruh sel-sel yang ada pada tubuhku, semua meneriakkan kalimat 'I love you' padanya.
I love you. I love you. I love you, Natsume.
Aku hendak menempatkan kedua tanganku di rambut ravennya dan memperdalam ciuman kami ketika tiba-tiba saja sebuah kepalan tangan menghantam pipinya hingga ia terjatuh ke samping. Aku menoleh dan kedua mata hazelku mendadak terbelalak ketika melihat siapa yang mempunyai keberanian lebih untuk menonjok pipi sang Natsume Hyuuga.
Ruka Nogi.
"Berani sekali, Natsume! Berani sekali kau mencium cewekku di belakangku! Aku nggak bisa memaafkanmu!" Ruka-kun lalu bermaksud untuk kembali menyerang Natsume, namun secara spontan aku melangkahkan kakiku, merentangkan kedua tanganku untuk menghalangi Ruka-kun berbuat apa yang ada di dalam pikirannya.
"Jangan, Ruka-kun! Please, jangan…"
Ruka-kun menggulingkan kedua matanya dan menghela nafasnya sebelum ia kembali menatapku dengan tatapan lembut namun penuh dengan amarah. "Kenapa, Mikan? Kenapa kau membelanya? Kenapa kau membela cowok pengingkar janji seperti dia?"
Aku mengangkat kedua alisku, tak mengerti apa yang dikatakannya. "Pengingkar janji?"
Ia hanya menyeringai, "Kalau kau tak percaya, tanya saja sendiri padanya!"
Aku meneguk ludahku sejenak sebelum menolehkan wajahku ke arah Natsume di belakangku. Aku melihatnya telah berdiri tegak sambil menyeka setetes darah segar yang mengalir keluar dari mulutnya dengan jari jempolnya. Tubuhku merinding ketika aku melihat kedua mata crimsonnya menatap kami berdua dengan tatapan yang sungguh tajam dan dalam.
Kemudian, Natsume Hyuuga hanya menganggukkan wajahnya perlahan.
To be continued.
A/N: How was it? Love it? Hate it? Kayaknya Ruka semakin OOC di chapter ini. Oh, dan apakah kamu juga merasa kalau Natsume juga agak OOC di chapter ini? Kalau iya, maka pikiranmu sama denganku. Natsume's OOC adalah hadiah dariku untuk Sora Yamaguchi. Terimakasih atas request untuk membuat Natsume jadi OOCnya! Membuatku menjadi dipenuhi dengan ide-ide yang lumayan cemerlang! For others, feel free to request me some idea for this fic^^
Sebagai perkembangan cerita, Ruka semakin dibutakan dengan cintanya ke Mikan, sehingga ia rela mengorbankan persahabatannya dengan Natsume. Sedangkan Mikan sendiri akhirnya sadar ia suka Natsume, tapi karena sifat dense-nya, ia salah paham kalau CrimsonFlame (Natsume) membencinya jadi ia memutuskan untuk menjalankan hubungannya dengan Ruka, namun ia tetap masih nggak bisa melupakan Natsume. Sedangkan Natsume sendiri, kini ia sadar kalau ia harus memperjuangkan cintanya (?). Lalu sebenarnya janji apakah yang ada di antara Natsume dan Ruka? Stay tuned for Chapter 12.
FYI, aku akan menamatkan fic ini di chapter 13.
Terimakasih yang udah mau membaca Author's Note yang panjang ini. Dan maaf juga dengan tulisan bilingual Bahasa Indonesia-Bahasa Inggrisku. Akhir kata, please do REVIEW! Review darimu akan membuatku semakin bersemangat untuk menamatkan fic ini. De, mina-san no review ga hontou ni machimasu! Arigatou gozaimasu ne! Ja mata aimashou!
