.

"Counting The Days"

Kyuhyun & Shindong

by Belle Ken

.

.

.

Shindong menatap vanilla latte di genggamannya dalam kebisuan yang dihiasi berbagai pemikiran mengenai banyak hal yang datang silih berganti di kepalanya.

"Ini sudah tiga puluh lima menit berlalu, tapi kau masih saja tidak meminumnya."

"Kau menghitungnya?"

"Bukan disengaja," Kyuhyun mengangguk."Seperti yang kau tahu, aku sangat suka berhitung."

Mereka berada di sebuah coffee shop, sembari menunggu hujan berhenti dan bertekad untuk tetap kering ketika sampai di rumah masing-masing. Hujan selalu datang lebih awal di setiap tahunnya. Shindong duduk berhadapan dengan Kyuhyun yang tengah asyik mengendus aroma Espresso Macchiato-nya. Sudah sekitar satu jam mereka berada di sana, merajut obrolan ringan.

Kyuhyun mendesah pelan lalu memanjatkan doa sederhana; "ayolah hujan, cepat berhenti."

Tapi, lelaki yang berada di depannya malah tertawa kering lantas mengerling."Sudah kubilang, aku akan menemuimu di rumah saja. Tapi kau malah mengajakku bertemu di sini." Tak ada penyesalan yang terkandung di dalam ucapannya, Shindong mengatakan kalimat itu dengan sebuah kepercayaan diri tinggi yang terkesan menekankan doa Kyuhyun, karena ia tahu Kyuhyun sedang tidak ingin bersahabat dengan hujan saat ini.

"Aku ingin kita menikmati obrolan berdua saja. Tanpa di sela banyak dengan pertanyaan eomma yang akan mengajakmu menikmati gosip di tv."

Lagi-lagi Shindong dibuat terkekeh."Tapi kau sedang flu Kyu, aku hanya tak ingin oemoni Cho kerepotan mengurus anak nakalnya ini."

Kyuhyun terdiam, ia tengah menerka kendati tak begitu mahir. "Tenang saja, sampai di rumah nanti aku tidak akan menyusahkan eomma.", Sekonyong-konyong kepala Kyuhyun mulai berdenyut lagi, lantas ia memutuskan untuk menyesap kembali Espresso Macchiato-nya dengan perlahan.

Shindong menghela napas panjang, mengetuk-ketukan jemarinya ke permukaan meja kayu sambil menatap Kyuhyun intens,"Pastikan saat kau berangkat nanti, kondisimu tidak seperti sekarang."

"Apa kau tidak bosan mengatakan hal itu sejak kita sampai di Café ini?"

Kyuhyun berdecak seraya menggeleng tak percaya, sementara Shindong tetap mengangguk mantap menyatakan dirinya memang tidak bosan memikirkan Kyuhyun. Lalu, keduanya membisu untuk menjalin pemikiran di tengah-tengah rinai hujan yang turun dengan ritme yang tidak beraturan.

.

.

Di balik wajah tenang dan cerianya, Shindong bukanlah seorang laki-laki yang bisa berpikir praktis, hal itu membuatnya cenderung merasa tak aman setiap kali ada member dalam kondisi tak sehat. Apalagi jika itu di alami oleh maknae Kyuhyun. Dia tidak akan berhenti memastikan, berharap Kyuhyun selalu sehat ceria, lengkap dengan sifat jahilnya.

"Sebentar lagi kau akan berangkat wamil. Kita akan segera berpisah.", ucapnya setengah bergumam.

"Kau sedang apa?"

"Menghitung hari."

Dan kala itu Kyuhyun tengah disibukkan menyesap kopinya, tiba-tiba sepasang maniknya bergerak refleks menatap intensif sepasang milik Shindong.

"Hyung, kau itu kenapa?", tanyanya dengan alis bertaut. "Jangan membuat suasana menjadi melankolis begini. Ini tidak cocok sekali dengan mood maker sepertimu, sumpah. Seharusnya kau bangga karena aku akhirnya bisa menjalankan kewajiban sebagai pria Korea seutuhnya." Cerca Kyuhyun dengan dengusan agak jengkel.

"Aku hanya tak bisa membayangkan bagaimana kau nanti di sana tanpa kami? Bagaimana kau akan melalui setiap detik, menit, jam, tanpa kami, aku—"

"Astaga..", sela Kyuhyun dengan tepukan keras pada keningnya, ia hanya tak habis pikir. "Aku yang suka berhitung saja tak ingin dan bahkan tak pernah berpikir untuk menghitung sampai ke sana.", hembusan napas Kyuhyun terdengar begitu jelas. "Sepertinya aku sudah salah mengajakmu datang ke mari.", sesalnya kemudian.

Shindong mendesah, mengeliminasi jarak di antara mereka dengan pandangan yang begitu lekat pada Kyuhyun."Kau tidak salah. Bukankah aku akan selalu begini jika kau sudah membuatku gusar tak berdaya, Kyu? Jika tidak percaya, coba rundingkan hal itu dengan dirimu yang lain, siapa tahu ia bisa mengingatkanmu akan kebiasaanku.", ucapnya dengan raut sendu.

Sesungguhnya Shindong dan Kyuhyun sama-sama mahir saling membuat diri mereka keluar dari dunia yang hanya seluas kotak sepatu. Mereka akan membuat warna tersendiri pada detail-detail di dalam pikiran, hingga perasaan keduanya akan berubah membaik dengan perlahan. Sejatinya tak selamanya memikirkan hal berat dan rasional itu baik, dan ada kalanya merasa aman itu perlu.

Kyuhyun sempat menyatakan Shindong adalah hyung yang special untuknya. Tak sukar bagi Kyuhyun untuk membiarkan hyung yang memiliki tubuh tambun ini menggapai moodnya dari berbagai sisi. Ia merasa nyaman jika bersama Shindong, orang yang sangat terbuka dan juga pandai menyimpan rahasia.

Tapi ada kala keduanya tak bisa luput dari kekhawatiran sehingga membuat suasana pun ikut terasa tak nyaman. Seperti halnya yang dirasakan Shindong saat ini. Jika dikatakan ia berlebihan, setahu Kyuhyun, hyung yang sering membuat tawa semua member ini memang orang yang cukup pintar menyembunyikan rasa. Tapi kembali lagi ke awal pemikiran, Shindong hanyalah manusia biasa yang bisa saja melewati batas kemampuannya untuk menahan rasa sedih. Hal itulah kali ini yang Kyuhyun lihat ada padanya.

"Sama seperti saat kau pergi wamil meninggalkan aku dan hyungdeul lainnya. Bukankah itu waktu yang sangat singkat? Asalkan kau tidak berubah menjadi manusia penghitung sepertiku. Kau bisa mual menghitung waktu.", jelas Kyuhyun mencoba menetralkan suasana hati Shindong.

"Aku akan berusaha tidak menghitungnya.", jawabnya masih dengan tatapan sendu.

"Shindong hyung, apa kau baik-baik saja?"

"Mengapa kau bertanya begitu?"

"Aku mengkhawatirkanmu karena kau terlalu mengkhawatirkanku."

Meski Kyuhyun mengucapkannya dengan percaya diri, kenyataannya Shindong tak menampik sama sekali, karena seperti itulah yang ia dirasakan.

"Tapi Kyu—"

"Shindong hyung, aku sudah besar. Berhentilah memperlakukan aku seperti ini."

"Aku tak melakukan apapun padamu. Kaulah yang sudah membuatku seperti ini. Dan sekarang dengan mudahnya kau memintaku mengabaikanmu, begitu?"

"Bukan seperti itu—"

"Lalu kau ingin aku bagaimana?"

"Setidaknya tunjukkan aku mood terbaikmu. Jangan malah membuat kopiku ini tiba-tiba terasa hambar.", rutuknya sambil menautkan kedua alis tak lupa menampilkan wajah kesal.

Kekhawatiran Shindong seketika lesap saat maniknya tumpah ke mug putih yang kini masih digenggaman Kyuhyun. Roman wajahnya berubah detik itu juga."Kyuhunnie, mulai sekarang kau harus bisa membedakan rasa kopi favoritmu yang sebenarnya."

"Oh, kenapa?", Kyuhyun kebingungan seraya memperhatikan mug kecil miliknya.

"Mugmu sudah kosong. Lalu rasa hambar apa yang kau sesap?"

"Itu— hanya rasa untuk mewakilkan perasaanku."

Shindong tertegun, tak bisa menanggapi kalimat Kyuhyun dengan mudah, ia sendiri saja tak tahu harus mengibaratkan seperti apa perasaannya saat ini. Shindong lalu menoleh ke luar, hujan masih nampak asyik memberikan potret klise pada pandangan teduhnya.

"Bagaimana jika aku tiba-tiba merindukanmu?", ucapnya lagi.

Tidak. Shindong tidak sedang berlebihan, ia benar-benar sedang bertanya. Karena pada kenyataannya, akhir-akhir ini Kyuhyun memang kerap menyambangi pikirannya. Tidak seperti biasanya, jika diingat-ingat lagi, Shindong bahkan tidak pernah berpikir serumit ini sebelumnya.

"Ini kali pertama di mana kau mempertanyakan sesuatu lebih jauh.", sahut Kyuhyun.

"Dan apakah itu terdengar keren?"

"Tidak juga, hanya saja terdengar lebih manusiawi."

Shindong tersenyum, ia yang terlalu berpola telah terbelenggu di dalam sebuah rasa yang―menurutnya―mulai membuatnya gusar setengah mati. Semua itu terasa kepalang benar, berpikir adalah kewajiban, sesuai dengan keinginan pribadi adalah keharusan.

"Aku tak tahu, mengapa kau bisa membuat orang-orang yang berada di sekitarmu menjadi aneh? Atau— apakah ini hanya terjadi padaku saja?"

Shindong hanya tidak bisa mengerti. Kyuhyun adalah maknae yang menyenangkan, meskipun Ia selalu berbicara tanpa berpikir lebih dulu, keras kepala, suka berkata pedas, jika sedang marah terlihat sangat mengerikan, dan suka membagi pemikiran yang bahkan terkesan menggurui. Tetapi tetap saja member hingga orang-orang terdekat tak pernah berhenti untuk memikirkannya.

"Mungkin aku terlalu menarik.", jawab Kyuhyun sekenanya.

Shindong lalu membuang napasnya malas, "Yeah, aku juga baru sadar jika sifat aroganmu bisa menjadi menarik di mata siapa saja."

Keduanya diliputi keheningan hingga belasan detik, lantas kembali lagi pada topic awal sebab pertemuan ini terjadi.

"Ini bukanlah sesuatu yang harus kau pikirkan terlalu dalam. Percayalah padaku seperti yang biasa kau lakukan. Semuanya akan menjadi terbiasa. Aku hanya butuh sedikit bekerja keras untuk bersikap tak acuh dan menjaga diri sendiri.", ucap Kyuhyun tenang.

"Pastikan aku untuk bisa percaya pada ucapanmu itu.", Shindong mengingatkan.

Kyuhyun menggerakkan kepalanya memberikan anggukan mantap berkali-kali layaknya seorang bocah polos, demi meyakinkan hyung yang tiba-tiba melankolis ini.

"Baiklah.", jawab Shindong, namun setelahnya ia terkikik geli lantaran kelakuan maknaenya yang tiba-tiba menggemaskan di matanya.

Hujan mulai enggan berjatuhan dengan rapat. Bulir-bulir cairan langit yang menetes nampak tak begitu mengesalkan lagi untuk Kyuhyun. Lelaki berkulit pucat itu tersenyum sembari melangkah ke luar, disusul picingan manik Shindong yang bersiap malayangkan protes atas tindakan maknaenya yang tengah melepas tawa di balik bahu.

"Hujan belum sepenuhnya reda. Kau bisa sakit.", Shindong menarik lengan Kyuhyun, membuat langkah keduanya terhenti di depan pintu keluar.

"Tidak akan.", jawab Kyuhyun sambil menggeleng.

Shindong mulai merengut, ada raut khawatir yang tak bisa ia sembunyikan dari wajahnya.

"Percayalah. Setidaknya kau harus bisa percaya padaku mulai dari hal kecil ini."

Melihat tatapan Kyuhyun yang nampak merajuk, mau tak mau Shindong harus mempercayai ucapan maknaenya. Dan keduanya pun akhirnya keluar dari café tersebut. Shindong tak pernah seringan ini, melangkah di bawah tetesan air hujan sembari berusaha keras menyederhanakan pikirannya―terutama pada Kyuhyun, tak hanya untuk hari ini, namun untuk besok, besok, besoknya lagi dan seterusnya.

.

.

.

fin―

.

.

Kemarin ada yang minta Kyuhyun dan Shindong. Aku tidak tahu banyak kegiatan SJ terutama Shindong dan Kyuhyun akhir2 ini. Mengingat Kyu sebentar lagi akan berangkat wamil, jadi aku membuat ff ini sesuai pemikiran saja dan tentunya dadakan kkk

Ingat, ini hanyalah fiksi ya. Terimakasih sudah membaca dan merivewnya.

Selamat menghitung hari ya... jangan baper Kyu mau wamil :D

.

.

Author,

Belle