LoveHyunFamily: Tao udah terlalu hafal sama baunya Yifan, n Yifan juga yang deket sama dia selama di RS, jadi kayak nyari2 bapaknya xD
HannyZhie68: *kasih tisu* nanti adegan sweetnya bertambah dengan sendirinya kok ^^
Aiko Michishige: udah lanjut~
celindazifan: pelakunya bakal segera tertangkap, fufufu tapi sabar yak :3
DioRah: iya pendek, maaf *nyengir* Kaisoo tetep ada kok, sebisa mungkin aku kasih bagian ma tiap2 couple meski ga banyak, hehe
LVenge: bikin baper part 10, hahaha. Ini udah lanjut~
kyndipc: ew, maaf klo aku off, keabisan kuota *nyengir* jangan ketinggalan lagi yaw :3 nanti ada penjelasannya kok kenapa marga Baek n Sehun beda ^^
Nanda829: udah lanjut~
yuikitamura91: Tao pribadi yang manja sebenernya, tapi ga separah ini manjanya hehehe. Tenang aja, aku klo kecantol sama suatu(?) couple ga selalu pengen bikin ff tentang mereka, lagian couple bias ku masih 2 pasang aja, ga mau nambah, hehehe
.7399: berasa jadi bapak yang punya anak perawan xD
Re-Panda68: aku yang baru tau, mereka mah udah lama, hehehe. Artis China juga, JC.T and Steelo, Cuma euforia sesaat kok xD
JungSooHee: bingung kenapa?
marchtaotao: pantengin terus ya, pasti kedepannya lebih seru :3
cronos01: udah lanjut~ yosh! Fight!
Firdha858: udah lanjut~
BangMinKi: ciee yang nyari'in bapaknya xD
hztao: idupnya ngenes disini, hehe
huangzifanfan: nih udah di lanjut, maaf ya udah lama :3
aldif.63: udah lanjut~
Bbangssang: karena klo seme jadi Dokter semua ga seru jadinya, n harus ada yang berperan keren selain Dokter :v Kai tetep jadi Kai meski item xD #ngakak
putriLuccia: makasih udah menyumbangkan(?) air mata untuk ff ini :3
Ammi Gummy: udah lanjut~
kthk2: yuhu~ lanjut nih ^^
Ls97: HunHan ketemu di part ini klo ga salah #phew
peachpetals: Baek n Sehun nelangsa sendiri jadinya. Yifan cembukur2 dikit, wkwkwk
chikari: iya Mba Zizi, hehe. Panggilan cinta gw buat Tao selain "White Leopard" :3
Permenkaret: karena tarumanya, dia takut sama semua orang, ga kecuali sahabatnya. Meski dia tahu itu sahabatnya, tetep aja baik tubuh n pikirannya masih ketakutan, karena jiwanya terguncang ^^
NiaTaoRis: ga bakal dung, fufufufufu
Flywithbaek: hai~ kamu review 2 x tuh, hahaha. Ga sibuk sih, tapi moodnya ini log lagi bermasalah -_- maaf updatenya lama ya~
Rhea: Tao akan segera sembuh :3
Dandeliona96: bukan couple beneran sih, hehe. Cek aja di youtube, JC.T Steelo Ladybro, itu MV mereka project berdua :3 n aku tau photoshootnya duluan sebelum MV itu XD
Huangmei: haloo hai~ makasih udah baca n review ya, klo bisa review lagi ne :3
Hai semuanya~ maaf updatenya lama banget, aku harus bikin draf lanjutannya dulu, klo ga gitu aku ga sreg postnya, hehe.
Terima kasih banyak buat yang setia sama cerita ini, maupun yang baru baca cerita ini, i love u guys. Ga usah banyak cing cong deh ya, selamat menikmati~ :3
.
.
ADORE
By: Skylar.K
Pair: Fantao(maybe with other couple)
Cast in this chapter: Wu Yi Fan, Huang Zi Tao, Kim Jongin, Oh Sehun, Xi Luhan, Park Chanyeol, Byun Baekhyun
Genre: Drama Romance, Fluff, with little bit of Psychology
Rating: T
Warning: TYPO(S) everywhere!
Disclaimer: they are not mine, but this story its mine. Cerita ini mengandung unsur konten tertentu, dan fokus pada tema tersebut, jika merasa tidak cocok mohon segera tinggalkan cerita ini.
.
.
.
They said this day wouldn't come
We refused to run
We've only just begun
You'll find us chasing the sun
(Chasing The Sun - The Wanted)
.
Pukul 6 pagi, dan Yifan baru saja memasuki ruang pribadinya di Rumah Sakit. Sembari menunggu jam berkunjung pagi tiba, ia memanfaatkan waktunya dengan baik untuk membaca ulang laporan-laporan beberapa pasiennya selama 2 hari sebelumnya. Dan sampai detik ini ia sedikit pun tidak menerima teguran dari Kepala Rumah Sakit atas kinerjanya.
Sang Dokter tampan menumpuk beberapa laporan di satu tumpukan di sisi kiri mejanya, seraya merapikan mejanya yang belum tersentuh karena semalam ia sibuk menenangkan pasien Huang dan setengah mati meminta kedua sahabatnya untuk tidak menemui pasiennya terlebih dahulu.
Yifan menghela nafas kecil, seraya meraih tempat penanya yang bergeser dari tempat asalnya. Sesekali ia melirik jam tangannya, tampak sekali jika ia sudah tidak sabar untuk segera melaksanakan tugas.
Oh ayolah, hanya beberapa menit lagi ia akan bertugas. Setidak sabaran itukah Wu Yifan? Mungkin jika seorang Park Chanyeol melihat gelagat sahabatnya itu akan meledek habis-habisan. Persis seperti remaja yang masih duduk di bangku sekolah.
Yidan kembali menilik jam tangannya, lalu cepat-cepat menyelesaikan kegiatan beres-beresnya, kemudian menyambar jas putih yang tersampir di sandaran kursi kerjanya, dan meraih bundelan papan notes yang tersimpan di laci paling atas mejanya. Segera ia memakai jasnya, sembari berjalan kearah pintu.
Sapaan ramah dan hangat para pekerja di Rumah Sakit menghantar langkah panjangnya di sepanjang lorong, dan sebagai Dokter yang baik, ia membalas setiap sapaan itu dengan senyuman tipis atau sekedar menundukkan kepalanya sekilas.
"Selamat pagi euisanim" sapaan dari Polisi berkulit tan itu membuat Yifan harus menoleh ke belakang punggungnya.
"Pagi. Anda datang dari pintu belakang?" satu alis tebalnya terangkat samar mengamati Jongin yang hari ini memakai sweater abu-abu muda.
"Tadi saya sedang berjalan-jalan"
Yifan merespon 'oh' dengan tanpa suara, dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Dan ia bertemu dengan Jongdae yang pagi ini entah kenapa terlihat berseri dengan senyum lebar yang terpatri di bibirnya. Dokter bersuara indah itu menepuk pundak Yifan, sambil mengucapkan 'fighting!' dengan suara pelan.
Dokter tampan bermarga Wu itu mengerutkan keningnya melihat tingkah Jongdae yang sangat tidak biasa.
Apa dia sudah tertular virus gila Chanyeol? Pikirnya miris.
Ya sepertinya begitu. Karena pria dengan nama julukan Chen itu tengah bersenandung kecil menyusuri lorong, berlawanan arah dengan Yifan. Sepertinya ia sedang bahagia saat ini.
"Sepertinya akan ada hal baik hari ini euisa" Jongin berkomentar.
"Ya, semoga saja" sahut Yifan seadanya.
Mereka berjalan beriringan menuju blok cinnamon, letak kamar pasien Huangnya berada. Namun saat mereka baru saja berbelok di ujung lorong yang merupakan perbatasan area umum dan bangsal, Yifan berpapasan dengan Chanyeol yang tampak kusut.
Baik itu rambut, pakaian, dan wajahnya yang biasanya cerah dan penuh senyum. Persis orang gila.
"Hai Fan" si Happy Virus menyapa lemas. Tak bersemangat.
Yifan menaikkan satu alisnya melihat kondisi mengenaskan sahabatnya itu. "Kau kenapa?" tanyanya, dengan nada tak peduli yang kental.
Chanyeol menghela nafas berat. "Aku dapat pasien baru, anak-anak berusia 7 tahun. Bahkan dia lebih merepotkan dari Min Ah yang selalu menggoda ku itu" jawabnya dengan wajah merana.
"Oh, jadi gara-gara itu semalam kau tidak tidur di cottage?"
Chanyeol mengangguk. "Ya, gara-gara itu. Sialan, apa kau tidak sedikitpun peduli dengan kondisi ku ini, eoh?"
Yifan menepuk pundak Chanyeol pelan, memasang wajah se prihatin mungkin. "Bersabar lah, dan semangat" ucapnya.
Pria bertelinga Dobby itu menyipitkan matanya. "Ucapan mu tidak tulus dasar tiang listrik"
"Kau lupa siapa dirimu Tuan Park? Sudahlah, aku harus menemui pasien ku"
Chanyeol mengerucutkan bibirnya, dan meniru gaya bicara Yifan dengan tanpa suara saat sahabatnya yang sama-sama seperti tiang itu melenggang pergi. Dan jika di lihat tingkahnya ini sangat lucu dan menyebalkan secara bersamaan.
"Ah! Fan!" panggilnya tiba-tiba. Membalikkan tubuhnya melihat Yifan yang berjalan cukup jauh dari tempatnya.
Dokter tampan itu pun berhenti melangkah tepat di tumitnya, dan berbalik dengan satu alis terangkat. Jongin yang awalnya berjalan mendahului Yifan pun ikut berhenti dan memperhatikan kedua Dokter itu.
"Bagaimana dengan pasien Huang mu? Ada perkembangan lain?" tanya Chanyeol. Yifan sempat terdiam untuk beberapa detik hingga akhirnya menjawab.
"Masih sama. Tapi dia sudah mulai berani bicara banyak padaku, kenapa?"
"Kau yakin dia bisa pulih?"
"Kenapa tidak?" kini kedua alis tebal Yifan terangkat.
"Entahlah, aku merasa dia hanya tidak takut padamu. Aku jadi tidak yakin dia bisa pulih seperti sedia kala" Chanyeol mengangkat bahu samar.
"Kau sahabat ku bukan?"
Dokter bertelinga Dobby itu mengangkat satu alisnya. "Tentu saja"
"Kalau begitu, katakan sesuatu yang memotivasi, bukannya yang malah menurunkan semangat ku"
Chanyeol meringis. "Sorry, good luck then"
Yifan mendengus kecil, kemudian kembali membalikkan badannya dan melanjutkan langkah kakinya yang tertunda. Begitu pula Jongin yang memilih untuk berjalan beriringan dengan sang Dokter.
"Bagaimana jika yang di katakan sahabat anda tadi benar euisa?" tanya Jongin tiba-tiba, tanpa menatap Dokter yang berjalan di sisi kanannya. Yifan menoleh.
"Maksud anda?" satu alisnya terangkat samar. Jongin pun balas menatapnya.
"Bagaimana jika Huang Zi Tao hanya tidak takut pada anda?"
"Anda meragukan analisa saya Jongin-ssi?"
"Tidak tidak. Bukan begitu. Saya percaya dengan kemampuan anda, saya hanya bicara soal kemungkinan yang ada"
Yifan kembali memandang lurus ke depan, dengan wajah agak tertekuk. Kesal karena sudah 2 kali ia mendapatkan komentar pagi ini tentang pasien Huangnya.
"Yang saya tahu hal ini permulaan yang bagus. Lihat saja, anda akan segera menyelesaikan tugas anda di tempat ini" ujarnya jutek. Raut wajahnya benar-benar tidak ramah saat ini.
Setidaknya apa yang di terima Yifan pagi ini tidak semenjengkelkan kata-kata Chanyeol dan Jongin. Buktinya setelah ia sampai di kamar sang pasien, dirinya mendapat kejutan yang amat tak terduga dari sang pasien Huang. Kejutan yang seketika membuatnya lupa akan rasa kesalnya pada 2 orang itu.
Bagaimana tidak? Baru saja ia masuk ke kamar rawat nomor 4 itu dan menyapa sang pasien, tiba-tiba pemuda bermarga Huang itu memeluknya pundaknya erat. Dan reaksi pertamanya adalah diam mematung.
Tidak ada angin tidak ada hujan, pemuda manis itu memeluknya erat seolah takut akan dirinya menghilang jika di lepaskan.
"Maafkan aku euisa..." lirihnya teredam. Yifan mengangkat satu alisnya, dan tangan kanannya bergerak mengelus surai legam sang pasien yang lembut.
"Maaf untuk apa?" tanyanya kalem. Ia sedikit melirik ke pundak kirinya, dimana Tao yang kini menyembunyikan wajahnya di sela leher dan pundaknya. Membuatnya dapat merasakan hembusan nafas pemuda manis itu.
Dan hal itu membuatnya sedikit...bergetar?
"Tao?" panggilnya. Karena si pasien tidak kunjung bersuara.
"A-aku..." suaranya terdengar pelan. Dan Yifan menunggu dengan sabar.
"A-aku...aku sudah membuat euisa kecewa...maafkan aku euisa" suaranya yang lembut terdengar lebih pelan dan terbata. Dan pelukan tangannya semakin mengerat.
Yifan tersenyum tipis, menahan untuk tidak menarik belah bibir plumnya lebih lebar karena Jongin berdiri menunggu di depan pintu yang terbuka.
"Aku tidak marah Tao. Asal kau berjanji untuk lebih kuat melawan rasa takut mu, bagaimana?"
Ia merasakan kepala pemuda Huang di lekukan lehernya mengangguk samar, sambil mengatakan 'Aku berjanji euisa' dengan lirih. Ia kembali tersenyum. Tao pun melepas pelukannya, mendongak sedikit untuk menatap Yifan yang masih mengusap rambutnya pelan.
"Euisa tidak marah 'kan? Tidak akan meninggalkan aku 'kan?"
"Tidak sayang. Aku tidak akan kemanapun, jangan takut"
Tao mengangguk dengan bibir mengerucut lucu. Dan ekpresi menggemaskan itu membuat Yifan harus puas menahan diri untuk tidak mencubit pipi gembil itu, atau tindakan aneh lainnya yang bisa membuat sang pasien jadi takut padanya.
Dan apa itu sayang? Panggilan macam apa yang sudah di lontarkan mulut bodohnya untuk pasiennya yang manis ini?
Yifan memejamkan mata merutuki kebodohannya yang tidak bisa mencegah mengucapkan hal bodoh seperti itu.
"Janji euisa tidak akan meninggalkan aku?" suara dan tatapan memohon yang menggemaskan dari Tao membuat Yifan menghela nafas samar.
Menahan diri.
Hingga ia mengangguk. "Tentu saja, kenapa aku harus meninggalkan mu. Jangan pikirkan hal itu lagi ne?"
Tao mengangguk patuh. Yifan pun menggiring pasiennya itu untuk duduk di pinggiran tempat tidur, dan tak lupa ia mencatat sesuatu di bundelan notesnya, selagi matanya melirik pada Tao yang duduk dan mengintip di balik papan notes yang di bawanya dengan rasa penuh ingin tahu. Karena saat ini posisinya berdiri di hadapan Tao.
"Bagaimana sarapanmu?" tanyanya, menghentikan kesibukan tangannya sejenak. Tao menoleh kearah meja laci yang terdapat napan sarapannya dengan perlatan makan yang telah kosong, dan belum di ambil oleh perawat.
"Aku tidak suka obatnya euisa, pahit" ucapnya mencebikkan lidah. Yifan terkekeh kecil.
"Meski pahit kau harus meminumnya Tao. Ingat janji mu?"
Pemuda bermata Panda itu mengangguk cepat. "Aku ingat euisa"
Yifan tersenyum tipis. "Bagus. Aku tahu kau anak yang pintar"
Senyum di bibir curvy Tao tercetak jelas ketika Yifan mengelus kepalanya lembut. Seperti memperlakukan seorang bocah kecil.
"Hei Tao, boleh aku bertanya sesuatu?" Yifan ingat, ia harus segera menyelesaikan misinya agar si Jongin si Polisi dapat melaksanakan tugasnya. Tao mengangguk kecil.
"Boleh euisa"
"Kau ingat dengan 2 teman ku yang tempo hari tiba-tiba muncul dan merusak acara bernyanyi kita?'
Pemuda manis itu tampak mengingat, melirik keatas secara random, hingga kemudian mengangguk samar. "Ingat euisa"
"Kau ingat nama mereka?"
Tao menggelengkan kepalanya ke kanan-kiri perlahan, dengan tatapan lurus pada wajah tampan Yifan.
"Kalau begitu kau ingat dengan nama teman-teman mu?"
Si manis bermata ala Panda itu kini mengangguk kecil. Dan Yifan melanjutkan pertanyaannya.
"Ada berapa teman yang dekat dengan mu?"
"Dua"
"Siapa nama mereka?"
"Baekhyun dan Sehun" jawabnya dengan suara kecil.
"Bagaimana kalau ada seseorang yang ingin menjadi teman mu?"
"Siapa?" wajah bingung Tao tampak sangat lucu.
"Namanya Kai, dia ingin jadi temanmu dan membantu mu"
"Membantu?" Tao memiringkan kepalanya ke kanan, menatap Yi Fan dengan lugunya.
"Iya. Dia peduli denganmu dan ingin membantu mu, karena itu dia ingin menanyakan beberapa hal padamu"
"Hal apa euisa?"
"Aku tidak tahu. Kau mau berteman dengannya 'kan?"
Sang pasien terdiam, pemuda bersurai sehitam arang itu tampak tengah berpikir, kelereng Onyx nya bergulir gelisah kesana-kemari. Dan sentuhan lembut di kepalanya membuat sang Huang kembali menatap Yifan.
"Tidak perlu takut, aku akan menemanimu disini. Ok?"
Bulu matanya mengerjap lentik. "Sungguh? Euisa akan menemani ku?"
"Tentu. Jadi Kai boleh menjadi teman mu?"
Pemuda manis bermata ala Panda itu mengangguk kecil, kemudian meraih bagian depan jas putih sang Dokter untuk berpegangan ketika Yifan menyuruh Jongin yang berdiri di depan pintu yang tak sepenuhnya terbuka untuk masuk.
Yifan merasakan jika Tao menarik jas bagian depannya hingga ia berdiri merapat di hadapan pasiennya yang manis itu. Ia juga merasakan tangan yang mencengkram jasnya gemetar kecil, dan yang ia lakukan hanya mengusap lembut surai kelam Tao untuk menenangkan.
Dirinya tahu jika pasiennya itu saat ini sedang berusaha untuk tidak ketakutan.
"Hai, kau sudah tahu namaku?" Jongin yang duduk di sebuah kursiーtempat Yifan dulu duduk dan menjaga jarakーdengan sebuah recorder di tangan kanannya.
Tao yang menolak untuk menatap hanya menggelengkan kepalanya pelan. Jongin tersenyum tipis meski pemuda itu sedang tidak melihatnya.
"Aku Kim Jongin, tapi kau bisa memanggilku Kai. Dan siapa namamu?" nadanya ia buat sehalus mungkin. Seperti tengah bicara dengan anak-anak.
"Perkenalkan dirimu" bisik Yifan, menundukkan kepalanya sedikit agar sang pasien mendengarnya.
Tao semakin erat mencengkram jas Yifan, menggigit bibir kuat dan menarik nafas panjang. Ia ketakutan, tapi berusaha untuk melawannya saat ini, terbukti saat ia mengarahkan manik matanya ke samping, melihat Jongin dengan ekor matanya.
"Huang...Zi Tao" jawabnya pelan. Jongin tersenyum lagi.
"Aku boleh menjadi temanmu Tao?"
Si manis itu mengangguk samar.
"Kalau begitu apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?"
Tao mengangguk lagi.
Jongin mengarahkan tatapannya pada Yifan, dan Dokter tampan itu hanya mengangguk kecil. Mempersilahkan sang Polisi untuk menjalankan tugasnya.
.
.
Tanpa rasa lapar melanda dan keinginan untuk menyelesaikan makan siangnya dengan cepat, Sehun mengunyah kimbap yang berisi ikan, telur, dan daging dengan pandangan lurus dan tatapan menerawang. Hanya seporsi kimbap yang berisi 7 gulungan, dan sudah hampir 30 menit pemuda minim ekspresi itu baru menghabiskan 4 gulungan yang kini baru memasuki kepalan kelima.
Tak jauh berbeda dengan sang adik, Baekhyun yang menikmati nasi goreng kimchi dengan diam. Pemuda mungil itu fokus dengan menu makan siangnya, sesekali memainkan ponselnya yang bergetar, sekedar untuk membalas pesan atau menengok akun sosial medianya.
Suasana di cafetaria Rumah Sakit siang ini sama seperti kemarin, tak terlalu ramai, namun meskipun begitu menu disana tergolong lengkap. Memang tak banyak kerabat pasien yang berkunjung kesana, dan hal itu adalah pemandangan yang cukup biasa. Terlebih untuk Rumah Sakit jiwa seperti ini, sekalipun ada yang berkunjung untuk menengok anggota keluarga mereka, pasti tak lebih dari 1 hari, meski pihak Rumah Sakit sendiri telah menyediakan hunian sementara untuk para pembesuk.
Hunian itu sama dengan cottage yang di tempati para Dokter dan pegawai yang lain, hanya saja bertingkat 2 dan memiliki banyak kamar. Dan di sanalah Sehun dan Baekhyun bermalam.
Pemuda mungil bermarga Byun itu menghela nafas kecil, selesai menegak airnya. Ia telah menyelesaikan makan siangnya.
"Sudah sehari, kita belum bertemu Tao lagi Hunnah~" ucapnya setengah merengek, menoleh pada Sehun yang duduk di sisi kirinya. Adiknya itu masih sibuk berkomat-kamit mengunyah kimbap di mulutnya.
Sehun melahap gulungan terakhir yang di jepit oleh sumpitnya, "Kalau bukan karena kondisi Tao, aku tidak peduli dengan kata-kata Dokter itu. Arra?" ia menegak airnya kemudian.
"Aku tahu itu, tapi aku ingin bertemu dengan Tao"
"Kau pikir aku tidak?"
"Menurutmu sampai kapan kita di larang menemuinya?"
Sehun mengangkat bahu kecil. "Kita bisa mendesak Wu-euisanim nanti"
"Kau yakin? Dokter itu terlihat lebih keras kepala dari Tao"
"Kita belum mencobanya"
Baekhyun mengangguk lemas, sama sekali tak bersemangat karena rasa khawatirnya akan sahabatnya. Ia pun bangkit berdiri, tak lupa menyimpan ponselnya di saku depan celana jeans, ia berkata pada Sehun untuk ke toilet, adiknya itu hanya mengangguk singkat.
Sehun merogoh saku jacketnya, mengecek ponselnya dan mendapati beberapa pemberitahuan akan akun sosial medianya dan beberapa pesan dari teman-teman kampusnya.
"Maaf, boleh aku duduk disini? Kursi ini kosong 'kan?" seseorang bersuara lembut berdiri di depan meja. Sehun hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.
Pemuda minim ekspresi itu masih fokus dengan layar sentuh ponselnya saat seorang pemuda bersurai caramel yang berdiri di depan meja duduk di salah satu kursi yang kosong. Mengambil tempat di kursi bagian tengah. Dan tepat saat pemuda bersuara lembut itu meraih sumpitnya untuk memulai makan siang, Sehun mengangkat wajahnya dari layar ponsel, dan sepasang maniknya menyergap sosok pemuda yang duduk pada kursi yang tepat ada di tengah. Hingga tak langsung berhadapan dengannya.
Pemuda itu memakai seragam perawat bewarna abu-abu, dalam diam dan khidmat menikmati Jjajangmyeon.
"Kau perawat?" tanya Sehun tiba-tiba. Mengurai keheningan di meja tersebut. Si perawat bersurai caramel yang dengan meyeruput mie bersaus hitam dari sumpitnya pun mengangkat wajahnya.
Manik hitam si perawat bertemu dengan hazel si Oh yang menatap lurus ke dalam mata itu. Merekam dengan baik wajah si perawat serta mata kecilnya yang mengerjap lucu, dan bibir tipis yang mengerucut dengan mie yang menjuntai, serta saus kedelai hitam yang melumeri bibir tipisnya.
Si perawat itu buru-buru menyeruput mie yang menjuntai keluar, dan menutupi mulutnya dengan punggung tangan kanannya yang menggenggam sumpit. Kepalanya mengangguk pelan, sambil mengunyah makanan di mulutnya dan segera menelannya.
"Ah iya, aku perawat" jawabnya akhirnya setelah beberapa saat berkomat-kamitーsibuk mengunyah.
"Nama mu?"
Sungguh tidak sopan adik dari Byun Baekhyun ini. Dia belum memperkenalkan diri tapi sudah menanyakan nama orang lain.
"Luhan" si perawat caramel tersenyum tipis. Sehun mengangguk kecil, mengalihkan tatapannya dari wajah cantik perawat itu.
"Apa kau tahu pasien Huang Zi Tao?" tanyanya kemudian. Luhan mengangguk kecil.
"Tentu, semua Dokter dan perawat di Rumah Sakit ini mengetahuinya"
"Menurudmu, apa sahabatku itu bisa pulih?"
Luhan tersenyum lagi. "Tentu saja, Wu-euisanim sangat ahli. Tadi pagi saja saat aku melintas di depan kamarnya, aku melihat Polisi Kim sudah bisa berkomunikasi dengan Huang-ssi"
Sehun mengernyit. "Polisi berkulit gelap itu?" tanyanya memastikan. Luhan mengangguk.
"Iya, sepertinya berjalan lancar tadi"
Pemuda bermarga Oh itu bangkit berdiri cepat, membuat Luhan mengerutkan keningnya samar melihat gerakan tiba-tiba Sehun. Tapi baru beberapa langkah menjauh dari meja tempatnya makan siang, ia mengerem langkahnya dan menoleh ke belakang, menatap Luhan yang kembali sibuk dengan makan siangnya.
"Terima kasih Luhan-ssi" ucapnya. Luhan yang sedang menyeruput mie nya pun mendongak, dan dengan mie bergelantungan di pinggir bibirnya ia mengangguk kecil.
Menyematkan senyum tipis di bibir, Sehun melihat pemandangan lucu dari perawat itu. Sementara Luhan yang melihat senyum itu terdiam untuk beberapa detik tanpa lebih dulu memasukkan mie yang masih bergelantungan di bibirnya.
Sehun tampan jika tersenyum. Meski wajah datarnya juga tampan.
Luhan mulai mengunyah makanan di mulutnya perlahan, memperhatikan punggung tegap Sehun yang semakin menjauh, kemudian ia mengangkat bahu kecil, dan kembali fokus dengan makan siangnya.
Eh? Namanya siapa ya?
.
.
Baekhyun mengerutkan dahinya ketika semakin dekat dengan meja dimana Sehun dan dirinya duduk tadi, dan ia tak melihat sosok menyebalkan adiknya itu setibanya dari toilet. Ia justru melihat seorang perawat bersurai caramel dan perawat bertubuh mungil berpipi bakpau yang sedang menikmati makan siang sambil mengobrol ringan.
"Maaf" Baekhyun telah berdiri di dekat meja tersebut. Membuat kedua perawat di meja itu menoleh padanya. "Laki-laki berwajah datar yang tadi duduk disini, apa ada yang melihat dia kemana?" tanyanga, dengan telunjuk yang menunjuk pada kursi yang tadi di tempati Sehun.
"Oh, tadi dia buru-buru pergi" jawab Luhan.
"Oh, baiklah terima kasih" Baekhyun tak lupa tersenyum tipis sebagai bentuk kesopanan, lalu mengambil langkah lebar-lebar meninggalkan area cafetaria yang tak terlalu ramai.
Sambil menggerutu ia berkutat dengan ponsel pintarnya yang semula tersimpan di saku jacket nya, ibu jarinya bergulir lincah diatas touch screen, memilih untuk menghubungi nomor Sehun saat kedua kakinya membawanya menjauh dari cafetaria.
Menyusuri lorong terbuka yang menghubungkan sisi kanan Rumah Sakit dan cafetaria, di terpa hembusan angin sepoi-sepoi dan indahnya tatanan taman yang memiliki beraneka ragam jenis bunga, Baekhyun menunggu sambungan teleponnya di angkat dengan tidak sabar.
"Yoー"
"Kau ada dimana? Kenapa tiba-tiba menghilang meninggalkan ku huh?" omel pemuda manis itu cepat.
"Aku ada di kamar rawat Tao, cepatlah kemari"
Langkah kaki Baekhyun spontan terhenti, matanya menyipit. "Kau disana? Apa terjadi sesuatu?"
"Datang saja, cepatlah"
Pip
Pemuda mungil itu buru-buru menyimpan ponselnya kembali ke saku depan celananya setelah mematikan sambungan telepon. Namun saat ia baru saja mengangkat wajahnya dan melangkahkan kaki yang sempat tertunda, ia menabrak seseorang bertubuh menjulang yang tiba-tiba berada di depannya.
"Ouch!" ringisnya refleks memegangi dahi dan hidungnya yang membentur dada orang yang du tabraknya. Dan ponselnya yang belum sempat di simpan ke dalam saku, terjatuh ke lantai dengan suara yang cukup nyaring.
"Perhatikan langkahmu dan jangan berdiri di tengah-tengah lorong Nona" kata suara bass Dokter berjas putih. Panggilan 'Nona' itu sukses membuat Baekhyun melupakan rasa sakit di dahi dan hidungnya.
Dengan mata menyipit ia memandang pria tinggi berwajah tampan yang name tag nya bertuliskan nama Park Chanyeol. Bibir mungil kemerahan miliknya mencibir lucu. "Nona? Apa kau tidak bisa melihat dadaku yang rata huh?!" semprotnya kesal.
Chanyeol menaikkan sebelah alisnya, keping kelerengnya pun bergulir ke bawah pada bagian dada sosok mungil itu.
Yah, dada itu memang rata.
"Oh, kau laki-laki? Ku pikir kau seorang gadis" ia mengerutkan dahinya samar, dan merendahkan posisi kepalanya untuk lebih jelas mengamati dada rata makhluk mungil nan imut di depannya.
Wajah putih Baekhyun memerah, dan dengan gerakan refleks ia menutupi dadanya dengan kedua tangannya yang menyilang.
"Haish...aku tidak tahu kalau di Rumah Sakit ini ada Dokter semacam dirimu. Mengerikan" cibirnya dengan bibir berkedut lucu.
"Mwo?" Chanyeol mengangkat wajahnya, menatap bingung si bacon yang malah melangkah mundur. "Apa katamu tadi?"
"Kau tidak dengar? Aku bilang aku tidak tahu kalau di Rumah Sakit ini ada Dokter semacam dirimu. Apa kurang jelas?"
"Dokter semacam dirimu apa maksut mu? Memang aku melakukan apa?" Chahyeol menatap kesal, sembari menempatkan kedua tangannya di pinggang.
"Kau melakukan pelecehan padaku euisanim" Baekhyun mengatakan kata terakhir dengan penuh penekanan.
"Pelecehan?" Park Dobby Chanyeol memicingkan matanya. "Bagian mananya yang aku melecehkanmu huh?"
"Kau menatap dadaku itu adalah sebuah pelecehan, apa kau tidak mendapatkan pelajaran sopan santun euisanim?"
"Omo..." Chanyeol mendengus geli, bibirnya menyeringai remeh. "Kau bahkan bukan seorang wanita, memangnya kenapa aku harus melecehkan laki-laki huh? Yang benar saja" ia mendengus geli.
Baekhyun mencibir semakin kesal pada Dokter super tinggi itu, hendak kembali membalas kata-katanya namun ia ingat jika harus segera menuju ke kamar rawat Tao. Maka ia pun berdecak sebal, lalu membungkuk memungut ponselnya yang tergeletak di bawah kakinya.
Tanpa mengatakan apapun ia melangkah lebar-lebar dengan wajah kesal, melewati Chanyeol begitu saja yang tak bisa berhenti merasa geli. Dokter super tinggi nan tampan itu hanya menggelengkan kepalanya pelan akan sikap pemuda mungil itu, dan kembali melanjutkan langkah panjangnya andai saja matanya tak menangkap kilau sebuah benda yang tergeletak di lantai.
Terpaksa ia kembali menunda kedua kakinya dan memungut benda itu, sejenak ia mengamati benda berbentuk lingkaran yang ternyata sebuah gelang berwarna silver dengan hiasan beberapa kristal. Chanyeol mengangkat gelang itu tinggi-tinggi, mengamati detail nya dan melihat goresan rapih yang membentuk sebuah kalimat, atau mungkin sebuah nama?
Byun Baekhyun
Chanyeol kembali merendahkan posisi tangannya, memutar gelang tersebut perlahan, lalu menoleh ke balik punggungnya.
Apa ini milik si mungil imut itu?
Ia masih tampak berpikir, tapi sedetik kemudian wajahnya mengerut saat menyadari apa yang baru saja di pikirkan otak jeniusnya. Ia mendesah keras, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Mana mungkin aku memuji seorang laki-laki dengan sebutan imut? Aisshh..." Chanyeol mengacak surai hitamnya kesal. Entah karena apa. "Eh, tunggu. Bukankah dia yang menabrak ku saat itu? Dan dia yang semalam datang ke cottage? Jadi dia teman Huang Zi Tao?" ia mengurut dagunya kecil, memasang wajah sok serius.
.
.
Baekhyun baru saja menginjakkan kaki di blok cinnamon, memacu kedua kakinya untuk terus berlari meski para pekerja yang kebetulan melintasi lorong yang sama telah memperingatinya, dan bahkan membuat beberapa perawat kerepotan karena sudah menabrak bahu mereka dengan tidak sengaja.
Detak jantungnya semakin meningkat, bukan karena terus berlari, tapi karena bayang-bayang akan kata-kata Sehun yang menyuruhnya untuk segera datang ke kamar rawat Tao. Sekiranya apa yang telah terjadi? Apakah sesuatu yang buruk?
Tangan kanannya terayun sigap meraih handle pintu kamar rawat bernomor 4, dengan nafas ngos-ngosan dan wajah tegang ia membuka pintu kamar tersebut dan seketika dibuat mematung di depan pintu melihat ke dalan kamar.
Manik hazel nya berkabut, bibir mungilnya terkatup rapat dan tangannya yang menggenggam handle pintu bergetar kecil.
"Baek..."
Suara yang beberapa hari ini di rindukannya terdengar kembali meski lemah.
To be continue
.
.
Tinggalkan review lagi ya, soalnya review kalian berpengaruh besar sama mood gw yang akhir2 ini ga tentu. Gw author yang moody abis, n sering terkendala soal itu klo bikin ff. Jadi jangan bosen2 review ^^
Makasih banyak buat yang nge-fav, nge-follow, yang review, ataupun siders, thanks! :3
Ah ya satu lagi, buat yang ga suka sama Mba Zizi. I just wanna say "Thanks alot for hate him"
Salam damai semua!
Skylar.K
