The World Before her Eyes by Himawari96
I do not own of Naruto or Shingeki no Kyojin, nor the story
Saya telah meminta dan telah menerima ijin untuk mempublikasikan serta menterjemahkan cerita ini dengan beberapa pengeditan didalamnya.
.
.
Levi menurunkanku dengan lembut dan membantuku berdiri setelah kami berdua memasuki gedung di wilayah bawah tanah. Dia mencengkram kakinya dengan erat dan berjalan pincang. Benar juga… aku lupa jika kakinya terluka, aku begitu terjebak dengan keributan di luar hingga aku melupakan keadaan kakinya. Ini karena kesalahan Mikasa, gerakannya yang tiba-tiba membuatnya bergerak terlalu cepat untuk menyelamatkannya. Aku seharusnya merasa senang saat dia kesakitan seperti ini, tapi untuk beberapa alasan aku merasa simpati padanya. Dia mungkin tidak akan menyukainya, tapi inner dalam diriku tidak bisa melihat seseorang kesakitan seperti itu. Aku mengernyit, merasa jengkel dengan diriku sendiri. Ini selalu saja terjadi, aku hanya terlalu baik hati. Aku berjalan kearahnya dan mengangkat lengannya menempatkannya diatas bahuku, aku berusaha membuat berat tubuhnya jatuh padaku dengan memegangi erat lengannya.
"Apa yang kau lakukan?" Dia tidak menarik kembali tangannya, tapi juga tidak bersandar padaku.
Aku menghela napas. "Hanya sekali ini saja biar kuobati kakimu, kau kesakitan 'kan?" Dia berkedip beberapa kali mempertimbangkan tawaranku.
"Kurasa ini tidak serius." Dia bertingkah seolah ini bukanlah sebuah masalah, dia harus menelan kembali harga dirinya.
"Lalu kenapa kau berjalan pincang begitu, jangan keras kepala." Dia menatapku dan hanya kubalas dengan sebuah seringai. Aku merasa berat tubuhnya sedikit jatuh padaku saat aku mengantarnya. Seringaiku lenyap saat lenganku mulai terasa mati rasa, tinggi badan Levi beberapa centimeter diatasku jadi dia lebih berat dariku. Yah… meskipun tetap saja dia pendek. Dalam hati aku menyalahkan diriku sendiri. Tanpa sadar dia membalikkan meja membuat lenganku mengejang. Aku bersungut-sungut akan tindakannya, 'Itulah yang kudapat jika aku mengharapkannya pada seseorang' pikirku getir. Aku mendapatkan karma agak cepat dari yang kuperkirakan. Kami melewati sel yang dulu pernah digunakan untuk menahanku dan Eren, kami berjalan menuju sebuah aula sebelum kemudian dihentikan oleh pintu kamarku. Levi memegangi handle pintu lalu memutarnya, membuat akses untuk kami berdua memasuki kamar. Aku mengeratkan lenganku yang melingkari punggungnya, dan mengarahkan kakiku kearah tempat tidurku. Dia duduk dengan bersusah payah, menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidurku dan merenggangkan kakinya. Aku membungkuk untuk menekan kakinya yang terluka, membuatnya meringis akan sentuhan tanganku.
"Aku harus melepaskan sepatumu." Aku berseru layaknya seorang yang ahli. Dia mengangguk, memberiku ijin untuk meneruskan tindakanku. Aku menggoyangkan bagian atas sepatunya sambil menariknya lalu meletakannya disebelahku. Aku menatap belt yang meliliti kakinya. Ini akan menjadi sebuah misi… dia membungkuk dan melepaskannya dengan cepat, memisahkannya dengan belt atasnya. Aku mengerucutkan bibir, aku masih amatir untuk sekedar memahami bagaimana gear itu pada akhirnya terikat. Aku menyelipkan jari-jariku dibalik celana bagian bawahnya dan menggulungnya sampai diatas lutut, sedikit berjuang dengan ketatnya material celananya. Celana ini berbeda jauh dengan yang dipakai oleh orang-orang di Konoha, gear memang lebih baik dipakai dengan menggunakan celana ketat daripada celana yang lebih longgar, celana ini akan terasa pas dibalik sepatu boots. Aku melihat kulit keunguan dikakinya dan dengan hati-hati memeriksanya, memijat sensual memar itu. Dia terlihat meringis dan mencengkram selimut dibawahnya dengan erat saat aku menekannya keras, merasakan tulang disekitarnya.
"Kau terkilir, mungkin ini bukan luka yang serius tapi jika dibiarkan begitu saja akan semakin buruk. Aku akan menggesernya" Tanpa peringatan aku menarik kakinya dengan kasar dan memuntirnya, tulangnya berderak keras. Aku bisa mendengar dia menggertakan gigi dan merutuk pelan. Aku menurunkan kakinya untuk memulai menyembuhkannya, tanganku berpendar saat aku memompa chakra berwarna hijau pada tempat dimana memar tadi berada, menyembuhkan bagian tulangnya. Wajahnya mengernyit kesakitan tapi sekarang terlihat sedikit lebih rileks, dia melemparkan kepalanya kebelakang dan memejamkan mata. Aku menatap pintu yang tervuka dengan lelah, melihat kearah orang-orang yang berjalan disekitar aula, mereka sudah kembali. Aku harus segera membungkus kakinya dengan cepat.
"Kakiku sudah tidak sakit lagi." Ucapnya. Aku menyelesaikan proses pengobatannya dan menggosok kulitnya yang sedikit membengkak namun sekarang sudah tidak lagi berwarna ungu.
"Mungkin sekarang sudah tidak sakit lagi, tapi kau harus tetap berhati-hati, usahakan untuk tidak berlari dan berjalan dengan pelan-pelan, kakimu saat ini masih sedikit bengkak tapi ini akan baik-baik saja." Dia mengangguk dan menggulung kembali celananya kebawah, memasang kembali belt yang sebelumnya dia lepas.
"Terimakasih." Ucapnya, kembali mendudukan diri.
"Sama-sama, istirahatlah sebentar, aku yakin besok kakimu sudah bisa digunakan lagi untuk bertarung." Aku berdiri dan melepaskan kantongku. Aku duduk disebelahnya, membukanay dan mengaduk-aduk isinya lalu menemukan obat antibiotik milikku. Aku memberinya sebuah pil.
"Pastikan untuk menelan ini sebelum kau tidur." Dia mengambilnya dan menyelipkannya kedalam mulutnya, mengunyahnya dan menelan dengan kasar. Mulutku terbuka lebar. "Hey, bukan seperti itu baka! Kau harus menelannya dengan air, memangnya pil itu tidak pahit?" Aku bahkan tidak bisa menangani rasa pahit pil yang sedikit meleleh dalam mulutku, dan sekarang dia mengunyahnya! Eww...
"Pil ini memang pahit tapi bukan berarti tidak bisa dikunyah." Ucapnya terus terang. Aku menghela napas dan menatap kotak permen yang aku beli di kedai ramen ichiraku beberapa hari yang lalu, aku melupakannya sepenuhnya. Aku memegangnya dan membukanya dengan hati-hati, merobek kantong kertas itu. Aku memandangi benda di depanku tersebut, permen-permen itu meleleh dan saling melekat. Pastilah hawa panas yang berasal dari titan penyebabnya. Aku mengambil salah satu permen dengan gabungan warna pelangi yang telah meleleh. Aku menatap kotak permen dipangkuanku dan memperhatikan satu-satunya permen yang tidak meleleh, masih terlihat segar dan keras. Satu-satunya permen yang masih selamat.
"Apa itu?" Levi menatap permen yang meleleh dengan penasaran.
"Ini permen lolipop, sayangnya hampir semuanya meleleh, tapi ada satu yang masih utuh." Aku menaruh permen yang telah hancur diatas laci dan mengambil satu batang yang berwarna biru.
"Aku tidak pernah mendengarnya." Gumamnya.
"Aku mendapat permen ini dari kedai ramen yang sering aku kunjungi bersama temanku di Konoha." Dia menatap permen dalam peganganku dengan berpikir penuh. Ini satu-satunya permen yang masih utuh, tapi dilihat dari cara dia menatapnya, sepertinya dia belum pernah merasakannya. Aku ingin dia mencicipinya, selain itu permen ini juga bisa membantunya menghilangkan rasa pahit dardi pil tadi yang sepertinya masih bersarang didalam mulutnya. "Kau ingin mencobanya?" Aku mengarahkan permen ini kedepan wajahnya. Dia hanya menatap lalu mundur.
"Tentu saja tidak, aku tidak menyukai permen. Apa aku terlihat seperti bocah yang menggilai makanan manis?" Dia menggerutu.
Aku cemberut mendengarnya. "Ini makanan favoritku, memangnya itu membuatku seperti seorang anak kecil?" Dia memicingkan maanya kearahku lalu menatap lolipo kembali.
"Apa yang kau sukai dari benda itu?" Tanyanya, mencondongkan tubuhnya kedepan.
Aku tersenyum lebar mendengar pertanyaannya. "Rasanya manis, tapi tidak manis sekali. Aku juga menyukai teksturnya."
Dia berkedip sebelum merespon jawabanku. "Lalu bagaimana denganmu? Kau menyukainya 'kan? Aku tidak ingin mengambil ini adalah makanan kesukaanmu." Jantungku melewatkan satu detakan. Levi benar-benar... perhatian penuh. Ini sisi lain dari dirinya yang selama ini belum pernah kulihat, dan ini menggelitik perutku. Aku menghabiskan banyak waktu dengan merenungkan kesamaan antara dirinya dengan Sasuke, tentang tingkah laku dan perangainya, tapi... jauh dibawah sana dia berbeda. Dia... pria yang baik.
"Ugh... ti-tidak apa, aku ingin kau mencicipinya, jangan khawatir aku sudah pernah memakannya sebelumnya sedangkan kau belum pernah sama sekali. Lagipula kau baru saja mengunyah pilku, jadi kurasa rasa manis dari permen ini bisa menghilangkan rsa pahit pil tadi." Oh tidak, Kami... dia menatapku! Apa aku mengoceh terlalu banyak? Aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba merasa canggung. Dia mengambil permen dari tanganku dan menggigitnya setengah, membiarkan potongannya menempel di lidahnya. Dia memutuskan untuk membaginya denganku dengan memberiku setengah dari permen yang telah digigitnya.
"Jadi? Bagaimana menurutmu rasanya?" Tanyaku, menatap wajahnya. Mulutnya bergerak-gerak, merasakan rasa manis. Dia terus mengunyah, suara yang berasal dari giginya yang menumbuk permen terdengar saat dia menelannya.
"Hn, ini baik. Aku benar-benar bukan seorang penyuka permen. Aku menatap lantai, mengerucutkan bibir. Bagaimanapun dia tetap saja klon Sasuke. Dia menghela napas dan menepuk pucuk kepalaku. "Ini permen terbaik yang pernah kurasakan sejauh ini... jadi singkirkan tatapan itu dari wajahmu." Aku tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Ini seakan dia berusaha keras untuk menjadi orang yang baik. Aku menepis tangannya untuk menjauh.
"Jangan menepuk kepalaku seperti itu, aku bukan anak kecil!" Aku merespon dengan sombong, menaruh potongan permen kedalam mulutku. Dia berdiri perlahan.
"Aku harus pergi sekarang, terimakasih sudah menyembuhkan lukaku, mandi dan istirahatlah. Eren akan membawakanmu makanan." Dia memakai kembali boot miliknya. "Tidak perlu khawatir untuk mengembalikan pakaianku, kau boleh memilikinya karena milikmu sudah tidak ada. Aku bisa mendapatkan yang lainnya."
Dia membalikan badan bersiap untuk pergi tapi langkahnya terhenti oleh suaraku. "Seharusnya kau membiarkanku untuk membunuh titan wanita itu, atau pilihan lain setidaknya kita bisa memotong kepalanya untuk menangkap orang yang ada didalamnya." Aku berucap pelan, dia masih berdiri disana.
"Erwin memiliki rencana lain untuk titan itu, aku terpaksa mengikuti rencana mereka, seperti kau yang terpaksa mengikutiku, besok malam ada pertemuan di ruangan komandan, jangan sampai melewatkannya." Dengan itu dia pergi, suara langkah kakinya terdengar saat dia pergi. Aku menjatuhkan tubuhku kebelakang dengan kedua lengan diatas kepalaku. Aku mengunyah sisa pemen dalam mulutku, merenungkan ucapannya. Hanya karena aku harus mendengarkan perintahnya sebagai seorang kapten bukan berarti aku harus menyukai ini... oh ayolah, ini tidak dapat membantu. Aku bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Menutup pintu dibelakangku aku melucuti celana pendekku yang robek. Aku melepas jubah Levi dan menatap pakaian dalamku yang kini robek. Aku beruntung, potongan kain ini masih melekat jadi dadaku tidak terkespos, tapi bagaimanapun ini cukup membuatku malu. Seberapa banyak ang dia lihat? semoga saja dia tidak melihatnya sampai jauh, setidaknya dia cukup sopan dengan mengalihkan matanya. Aku melipat jubbah hijau itu dan meletakannya diatas westafel setelah merobek pakaian dalamku dan membuangnya ke tempat sampah. Benda itu sekarang sudah tidak berguna sepenuhnya. Suara berisik yang muncul scara tiba-tiba membuatku terlonjak terkejut. Aku merasakan air perlahan menghangat dan aku menyelipkan tubuhku di bathup, menutuptirai untuk mencegah air terciprat kelantai. Sebuah dengungan lolos dari bibirku saat aku berdiri dibawah guyuran air, menikmati kehangatan yang menerpa tubuhku. Aku lelah, hari ini waktu terasa panjang dan penuh dengan tidak pernah membantu Petra untuk memberitahu Levi bahwa dia mencintainya… aku tidak dapat berbuat apa-apa selain bertanya-tanya apa yang harus dilakukan. Bagaimana reaksinya nanti? Apakah dia akan membalas perasaannya? Aku merasa kan sebuah cubitan tajam hanya dengan memikirkannya.
"Aku akan memberitahunya, ini demi Petra." Aku bergumam pada diriku sendiri, menatap pusaran air yang bercampur dengan kotoran-kotoran di sekitar kakiku. Aku memegang sebuah botol shampoo yang sepertinya milik Eren dan memerasnya ke rambut merah mudaku, untuk menghilangkan noda lumpur dan darah. Aku memijat kepalaku dengan pelan lalu berdiri selama beberapa saat, membiarkannya meresap didalam air. Setelah beberapa saat aku menyelesaikan ritual mandiku, memutar knob pintu lalu berjalan keluar, sebuah handuk meliliti tubuhku. Aku masih tetap bediri sepenuhnya, menatap pakaianku yang robek dan jubbah milik Levi yang terlihat kotor. Yah… kurasa jubbah ini secara teknis sekarang sudah menjadi milikku. Aku mengerang, sial, sekarang aku sudah tidak memiliki pakaian. Pakaian lamaku diambil oleh Hanji untuk dicuci dan satu-satunya pakaian dalamku sekarang sudah tidak ada. Aku tidak memiliki apapun. Aku memmbuka pintu dengan perlahan dan mengintip keluar. Eren masih belum kesini, dan kamar dalam keadaan kosong. Bagus. Aku bergegas menuju laci miliknya dan membukanya. Aku tahu yang kulakukan saat ini tidak benar mengobrak-abrik barang-barangnya tanpa ijin, tapi aku sungguh tidak punya pilihan apapun. Aku tidak tahu kemana perginya para gadis itu dan aku tidak mungkin keluar dari kamar ini hanya dengan sebuah handuk yang melilit tubuhku. Aku tidak memiliki pilihan lain. Aku menolak untuk tidur dalam keadaan telanjang bersama Eren di kamar ini. Aku menggerayangi kedalam isi lacinya. Baju-bajunya sangat kecil, dan hamper sebagian besar terlihat kuno. Aku memungut sebuah kemeja panjang berkerah dan menatap pintu. Kamar ini tidak memiliki kunci pintu, dan seseorang bias saja datang dan masuk tiba-tiba… jika aku ingin tidur di ruangan ini aku harus menguasai seni berganti pakaian dengan sangat cepat. Aku menjatuhkan handuk di tubuhku dan memakai kemeja itu lewat atas kepalaku dengan sangat cepat, lalu menurunkannya dengan secepat kilat seolah-olah hidupku bergantung pada benda ini. Aku menggenggam handuk yang tergeletak di lantai dan bergerak menuju kamar mandi dan menutup pintunya.
"Baka… kau bias berganti disini." Gumamku marah atas kebodohanku. Aku menatap kaca. Aku senang dadaku tidak cukup besar, ukurannya sedang,jadi tidak akan terlalu kelihatan dengan keadaanku yang tanpa bra seperti sekarang ini. Aku menarik kebawah kemeja ini dengan gugup. Kemeja ini sedikit panjang, yah setidaknya cukup untukmenutupi bagian bawahku. Tapi apa aku benar-benar akan tidur dengan keadaan seperti ini? Kumatikan lampu, lalu mengambil barang-barangku yang tersisa. Aku melesat keluar pintu dan berjalan menuju tempat tidurku, menarik selimut untuk menutupi tubuhku. Saat memiliki kesempatan aku harus mendapatkan pakaian secepatnya, aku meletakkan sepatuku di bawah dan memasukan belt dan hoodie milikku kedalam laci sebelum membaringkan tubuhku. Tubuhku terasa jauh lebih tenang dibawah selimut ini, perlahan aku mulai menutup mataku jengkel oleh lampu yang menyala, tapi aku jug aterlalu takut jika aku mematikannya maka Eren akan masuk secara tiba-tiba. Aku mendengar suara pintu yang terbuka dan Eren menyembul dari balik pintu dengan sebuah mangkok di tangannya serta sepotong roti dengan keju.
"Iblis." Gumamku mengantuk.
"Hey, Sakura. aku membawakanmu makanan, kau sudah mandi?" Aku duduk dengan perlahan, menarik selimut bersamaku saat dia membungkuk untuk meletakkan mangkok diatas laciku.
"Terimakasih, uhm... Eren, maaf aku meminjam bajumu." Dia menatapku dan tubuhku menegang. Apa dia akan marah? "Aku tidak punya pakaian, dan aku membutuhkan celana... apa kau tahu dmana kamar Hanji?"
Dia menggeleng. "Jangan khawatir, aku mengerti. Bukannya Hanji agak tinggi? Kurasa tinggi Armin sama denganmu. Tunggu sebentar, aku akan memintanya padanya." Dia berdiri, melangkahkan kakinya keluar pintu lalu menutupnya. Aku menghela napas lega, tentu saja untuk beberapa alasan. Pertama aku akan segera mendapatkan celana, dan kedua, Eren kelihatannya tidak marah aku telah menelisik isi lacinya. Aku mengambil roti dengan keju diatas meja dan memakannya dnegan lahap. Bukan hanya lelah, aku juga kelaparan. Orang-orang disini hampir tidak pernah makan, dan sulit bagiku untuk membiasakan diri dengan rutinitas makan mereka. Aku yakin aku ytelah kehilangan setidaknya tiga pound waktu berhargaku dengan hanya tinggal disini. Aku menelan makanan dalam mulutku dengan cepat dan melahap satu sendok penuh sup ayam dan tomat. Pipiku terlihat menggembung saat aku mengunyahnya, memaksa untuk menyimpan makanan dalam junmlah banyak didalamnya. Saat rotiku telah habis aku memegang mangkuk sup dan menelan sisanya sampai tak bersisa. Aku meletakkan kembali mangkuk cina itu dan menatap alat makan berwarna perak tersebut, kagum akan bunga-bunga kecil yang menghiasi melingkari mangkuk, dibuat dengan seni yang indah. Meskipun ini hanya sesuatu yang kecil, tapi tetap saja terlihat cantik. Aku melompat kaget saat Eren membuka pintu. Dia berjalan kearahku dengan beberapa pakaian di tangannya.
"Aku mmeberitahukan Armin tentang situasimu saat ini, dan dia lebih memilih untuk memberimu sepasang pakaiannya daripada hanya sebuah celana..." dia meletakkan pakaian itu diatas tempat tidurku. Aku mengambilnya dan mengambil sebuah tanktop berwarna putih. Ukurannya kurasa akan pas dengan tubuhku. Aku tersenyum dan mengambil sebuah celana pendek biru yang terletak dibawahnya.
"Dia pria yang sangat baik, aku harus berterimakasih padanya nanti."
Eren menganggu. "Armin memang senang membantu, uh.. apa kau punya pakaian.. dalam?" Tanyanya, dia berusaha keras untuk terdengar tidak acuh. Aku merasakan rona merah perlahan menjalari sepanjang pipiku,
"T-tidak, uh, aku akan mencarinya besok." Aku berbaring diatas kasur dan menarik selimut menutupi tubuhku.
"Apa kau punya uang?" Dia bertanya lagi. Aku mengerutkan dahi, itulah yang aku takutkan. Aku meiliki uang... mata uang Konoha. Aku hanya kenal dengan mata uang Ryo, dan aku tidak tahu jenis mata uang apa yang digunakan oleh orang-orang disini.
"Apa mereka menerima uang Ryo?" Tanyaku penuh harap.
Dia melemparkanku tatapan aneh sebelum menambahkan, "Itu mata uang Jepang 'kan? Mikasa pernah mengatakan tentang itu... tidak mereka tidak menerima uang Ryo, tapi mereka menerima barter, apa kau punya sesuatu unutk ditukarkan?"
Aku mengangguk dengan serius. "Yeah, aku bisa menukarkan beberapa kunai milikku." Aku memiliki banyak kunai dan shuriken didalam gulunganku, sebuah kebiasaan yang kudapat dari Tenten.
"Itu barang-barang yang berharga terutama karena milikmu itu terlihat asing bagi kami, jadi katakan Sakura, apa kau keberatan untuk menceritakan pada kami tentang duniamu? Umm, maksudku tentang desamu, besok waktu sarapan pagi?"
Aku menggelengkan kepalaku. "Sama sekali tidak, aku akan senang bisa berbagi cerita dengan kalian, setidaknya inilah yang bisa kulakukan karena tela langsung menerimaku begitu saja." Dia mengangguk, merasa lega dengan kerelaanku untuk terbuka dengan mereka. Yang lainnya barangkali telah menekannya untuk bertanya padaku.
Dia memandang mangkukku yang telah kosong dan mengambilnya. "Aku akan membawanya, Levi akan memarahimu karena meninggalkan sebuah piring kotor disini." Dia membalikkan badan.
"Tunggu! Kau tidak harus membawanya, kau sudah sangat baik padaku, Eren. Aku bisa membawanya sendiri." Dia tersenyum hangat padaku.
"Tak apa, Sakura. Aku belum memakai pakaian tidur dan aku masih harus mandi." Dia meninggalkan kamar dengan sangat cepat samnbil membawa sebuah mangkuk di tangannya.. Aku menghela napas dan menjatuhkan tubuhku, berbaring menyamping dan mulai berkonsentrasi untuk tidur. Aku masih sedikit lapar, tapi aku terlalu malu untuk meminta makanan lagi. Yah.. mungkin aku harus menyelinap ke dapur saat aku merasa yakin orang-orang sudah tertidur. Nah, rencana yang bagus.
Setelah beberapa menit aku mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali saat Eren melangkah masuk kedalam ruangan lagi, langkah kakinya terdengar saat dia berjalan menuju laci dan mengambil beberapa pakaiannya, mungkin. Dia berjalan kearah kamar mandidan menutup pintu di belakangnya. Dari tempat aku berbaring aku bisa mendengar suara guyuran air. Jadi dia sekarang sedang mandi.. aku menata selimutku menyerupai punuk dan meringkuk didalamnya. Aku tertidur oleh suara guyuran air dengan tenang.
.
.
Perutku menggerutu. Ini menyebalkan. Jam berapa sekarang? Aku duduk dengan gugup dan mengintip kearah tubuh Eren yang sedang tidur di ranjang sebelahku. Aku turun dari ranjangku dan berjinjit dengan sangat pelan kearahnya. Sekarang aku berdiri menjulang diatas si pemuda tidur itu. Punggungnya berhadapan denganku dan aku tidak bisa melihat matanya dalam kegelapan ini. Aku mengguncangnya dengan lembut. Dia tidak bergerak, tapi dia tetap bernapas. Aku menyeringai. Aku tahu inilah waktunya untukku beraksi. Waktunya untuk menyerbu dapur. Dengan tenang aku berjinjit menuju pintu, membukanya dengan hati-hati, dan memutuskan untuk membiarkannya setengah terbuka, aku hanya tidak ingin memutar knob lagi nanti saat aku kembali, terdengar seperti sebuah ledakan jika dalam situasi seperti ini. Aku berjalan mengendap melewati hall dan keluar dari pintu bawah tanah, aku juga meninggalkan pintu hall dalam keadaan setengah terbuka. Sekarang aku sudah berada di ruang atas.
Aku menyapu pandanganku ke sekitar dengan rasa kantuk yang masih mendera, berusaha untuk menyesuaikan pandanganku dengan keadaan di sekitar. Aku tiba disebuah ruangan yang menyerupai ruang pengadilan.. aku merutuk pelan. Aku membuka pintu yang salah dan masuk kedalam ruangan tempat aku dan Eren menjalani pemeriksaan pengadilan dulu. Aku berjalan mundur menuju pintu dan menutupnya sepelan mungkin. Langkah kakiku terdengar sangat pelan saat aku melanjutkan untuk berjalan, lalu menjumpai sebuah pintu lain. Aku memutar pintu dengan pelan, satu hal yang kubenci yaitu bunyi klik yang tak sengaja kubuat saat aku membukanya. Akhirnya aku sampai disebuah ruanga yang nampak seperti sebuah kantin, meja kayu bertebaran didalam tempat itu. Aku sudah pernah memasuki tempat ini sebelumnya, membantu Eren mengambil kembali piring dari tempat makan pribadi kami. Inilah tempat para makanan itu disimpan. Aku tersenyum lebar sambil melangkah maju denga mengendap-endap, melewati meja-meja di kanan kiriku dan menempelkan punggungku ke dinding. Aku mengintip kearah sebuah lorong yang tidak terlalu panjang, dan saat itu juga aku merasa seakan hampir terkena serangan jantung begitu melihat sebuah cahaya di ujung lorong, tempat dimana lemari es berada. Apa ada seseorang disana? Di malam yang selarut ini? Aku menelan ludah gugup, ketegangan mengalir di seluruh tubuhku. Bagaimanapun, jika itu adalah salah satu anggota pasukan, aku akan berada dalam masalah karena telah mengintip disaat larut malam seperti sekarang ini. Aku harus menyamar. Aku memutar otak, memikirkan siapa subjek yang dapat kujadikan sebagai korban atas penyamaranku. Levi tidak akan mungkin berada diluar di larut malam begini, dia jelas sudah tertidur, pil yang kuberikan padanya beberapa jam yang lalu adalah pil penghilang rasa sakit, obat itu mengandung diphenhydramine. Levi tidak akan mendapat masalah mengingat dia adalah seorang kapten disini, ini lebih dari sempurna. Aku segera membentuk segel tangan dan seketika asap menyelimutiku saat jurus perubahan berlangsung. Aku melihat kedua tanganku lalu meraba rambut hitamku. Aku benar-benar terpesona oleh penampilannya yang sempurna, aku terlihat seperti replika si gila bersih itu, dan kurasa ini tidak akan gagal. Aku melangkah maju dengan pelan dalam balutan kemeja serta celana pendekku yang menjadi longgar ini, sebenarnya aku merasa tidak yakin jika inilah yang Levi pakai. Aku tidak tahu jenis pakaian seperti apa yang dia pilih sebagai baju tidur, jadi aku memutuskan untuk tetap melanjutkan dengan bajuku sendiri. Aku menelan ludah saat aku semakin dekat dan mendengar suara benda-benda seperti bergerak. Seseorang pasti ada disana. Hey.. tunggu dulu, kenapa aku harus gugup? Akulah Korporal Levi sekarang. Jika harus begitu, pastilah Klon Sasuke sialan itu disini! Aku dihentikan oleh sebuah dinding, menatap bayangan lain yang ada di ujung lain dinding ini. Tunggu dulu, seseorang sedang mengaduk-aduk isi kulkas! Siapa dia? Rasa penasaran seketika menguasaiku dan aku melangkah mendekat untuk melihat pelaku.
Sasha berbalik menatapku dengan salami yang tergantung di mulutnya, wajahnya menatpku horor. Dia memakai pakaian tidur berwarna oranye terang dan rambutnya dia biarkan tergerai, menjuntai diatas memegang sebuah kantong salami yang sudah terbuka dengan salah satu tangannya, sedankan tangannya yang lain masih berada didalam kulkas. Kami saling bertatapan selama sesaat. Dia terlihat seperti seekor kelinci yang tersudut di medan perang, aku tidak tahu harus berkata apa. Aku menatap salami dalam pegangannya dengan lapar dan berjalan mendekat kearah gadis kentang itu, meraih kantong salami. Dia melahap dengan cepat potongan salami dalam mulutnya sebelum berbicara.
"K-Korporal?" dia tersedak oleh makanannya, sudah pasti ketakutan. "Maafkan aku! Aku bisa menjelaskannya!"
Aku berjongkok disebelahnya, melahap salami. Benar juga, aku terlihat seperti Levi di matanya. Kurasa aku akan selamat dari gunjingannya, tapi tidak jika mengingat bahwa dialah yang pertama kali menggeledah isi kulkas. Tapi aku tidak ingin berubah ke wujud asliku sekarang, dia mungkin akan ketakutan dan membuat sandiwara. Aku hanya ingin menghindari agar kejadian itu tidak terjadi.
"Sssttt.. kau akan membangunkan orang-orang, ini rahasia kita berdua." Bisikku menirukan suara Levi. Dia menatapku dengan bisu, tidak dapat mempercayai dengan apa yang terjadi. Aku memberikan kembali kantong salami padanya sebelum mengeluarkan tiga potonga lain dan menggali makanan lainnya. Aku melihat sebuah botol puding yang masih tertutup dan menggenggamnya, membuka tutupnya dan menuangkan isinya kedalam mulutku. Aku menelannnya seperti orang kelaparan dan memberikan padanya botol itu.
"Kau harus mencoba ini, rasanya enak. Dan kurasa ini puding terenak yang pernah kurasakan." Aku meraih sebuah irisan keju dan memasukannya kedalam mulutku, menelannya bersama salami yang sebelumnya sudah kumakan. Dia melemparkan tatapan tak percaya padaku sebelum menelan puding itu dengan pelan didalam mulutnya.
"I-ini aneh." Gumamnya, menelan puding manis itu sambil berpikir.
Aku meliriknya sekilas. "Aku kelaparan dan sudah berfantasi untuk datang ke dapur ini untuk makan selama lima jam yang lalu, aku tidak bisa berbuat apapun selain tetap kesini saat larut malam begini." Gumamku, menggigit sebuah pisang yang kutemukan didekat botol susu. Dia menaikan alisnya, jelas merasa bingung karena telah melakukan sebuah tidak kriminal bersama kaptennya.
"A-ah, baiklah..." Gumamnya, menggenggam sebuah apel terdekat. Setelah beberapa waktu makan dalam keheningan, aku bangkit dan menepuk pakainku untuk membersihkan debu yang mungkin melekat disana, tersenyum seperti orang bodoh dan mengelus perutku yang sedikit menggembung.
"Ah, kenyangnya.. selamat malam Sasha, sampai bertemu besok." Aku meninggalkannya yang menatapku seolah-olah telah tumbuh satu lagi kepala dariku.
Aku bahkan tidak peduli saat aku melangkah menuju ruang bawah tanah. Akulah Korporal Levi, dan aku memiliki kekuatan untuk memerintah orang-orang. Aku tersenum lebar saat aku berdiri didepan pintu kamarku yang setengah terbuka., membuat segel tangan untuk melepaskan jurusku. Aku melangkah masuk dengan tenang dan menutup pintu dibelakangku hati-hati. Menyenangkan menjadi seorang brensek lancang selama sesaat, aku merasa aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan. Aku merebahkan diri diatas kasurku dan memeluk gumpalan selimut yang kubuat sebelumnya, aku tersenyum untuk usahaku menyelinap untuk mencari makanan berjalan lancar. Mataku tertutup saat aku jatuh tertidur dengan damai.
TBC
I'm sooorrryyyyy for taking so long :3
okay hit me ;3 i had many things to do in my RL, and they drove me crazy -_- err forget it hehehe
Nah, untuk beberapa pertanyaan akan saya jawab disini
Spica Millefeuilena
Iyah, ori fict nya emang pakai Bahasa Inggris.. dan sekarang sudah sampai chap 34 -_- OMG jauhh banget yak?
Rizka scorpiogirl
Ha' arigatou gozaimasu
Z irawan3
Terimakasih, nanti akan aku sampaikan pujian kamu buat andrea(author aslinya) :3
soal POV, ini pake sudut pandang Sakura sebagai tokoh utama
kyuaiioe
maaf atas keterlambatanya kali ini ;3
Terima kasih banyak untuk partisipasi kalian serta para silent reader telah menyempatkan diri membaca fict ini :) see ya in next chapter, you guys!
