Ahoy minnaaaaaaa apa kabar? Ru kembali hadir dengan chapter 11. Tanpa berlama-lama lagi ini dia chapter 11 Magic ~Body and Soul~
.
.
.
"Keh, semoga saja hal buruk tidak terjadi, kecuali kalian yang sepertinya sangat berpotensi membuat hal buruk terjadi," kata Hiruma dingin. "Awas saja jika kalian mengacaukan dan membahayakan tim kami." Kata Hiruma yang berada di tubuh Mamori dingin, lalu berjalan ke lapangan untuk memulai latihan. Hi shock saat mendengar Hiruma mengatakan hal itu.
"Dasar setan freak, tukang perintah." Umpat Hi sambil melihat Hiruma yang berada di tubuh Mamori.
.
.
.
Magic ~Body and Soul Change~
Chapter 11 : Three Thousand Years Ago
Disclaimer: Riichiro Inagaki and Yusuke Murata
Rated : T
Genre(s) : Supranatural, Friendship, Fantasy, Humor (yang ngga terlalu berasa), Romance (yang rada aneh)
Warning:OOC (pasti), OC bertebaran dimana-mana, Gaje (pasti ada, ga mungkin ga ada kalo yang bikin saya) abal tingkat dewa, sesuka hati yang bikin cerita, typo(jaga-jaga), tidak menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, silahkan tekan tombol back selagi sempat dan belum menyesal, silahkan bakar fic ini ketika anda selesai membacanya dan ngga suka, tapi sebelumnya tinggalin review dulu ya, ceritanya bakalan ngaco dan ngawur tingkat dewa, alurnya (agak) cepet.
Story: Arumru-tyasoang
Written by: Arumru-tyasoang
Summary: benda sihir aneh membuat Mamori dan Hiruma menjadi aneh. Kedatangan anak baru dari Indonesia membuatnya tambah kacau. Sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi dengan Hiruma dan Mamori?
Apa tujuan dari kedatangan murid baru itu?
Don't Like? Don't Read!
Ru benar-benar tidak bisa mengikuti pelajaran hari ini. Entah kenapa ia selalu kepikiran dengan mimpinya semalam. Hingga akhirnya, untuk pertama kalinya ia kabur dari kelas izin sakit, padahal ia pergi ke ruang klub. Ruang klub saat ini sepi, ia memaklumi karena saat ini jam pelajaran sedang berlangsung. Ia duduk di pojok ruangan, memakan permen karet mintnya dan menyalakan laptop dengan warna night blue miliknya. Daripada ia di kelas tidak bisa belajar dengan serius, lebih baik ia mencari tahu lagi informasi mengenani kejadian tiga ribu tahun yang lalu.
Ru sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan sejarah dunia sihir, namun karena sepertinya dia terlibat dengan semua kejadian yang terjadi, ia berpikir bahwa ia harus mencari informasi lebih lanjut mengenai semuanya dan hal-hal yang terjadi tiga ribu tahun yang lalu.
"Ada apa Ru? Tumben kau menghubungiku disaat kau menjalani misi seperti ini." Kata sang pimpinan sambil menatap Ru heran melalui hubungan langsung dari laptop Ru itu.
"Hahaha, aku hanya ingin tahu lebih lanjut saja mengenai kejadian tiga ribu tahun yang lalu pimpinan." Jawab Ru to the point. Ru memang seseorang yang tidak terlalu suka berbasa-basi, jadi pimpinan sudah terbiasa dengan sikap Ru itu.
"Tumben kau ingin tahu tentang sejarah dunia sihir. Kau kan biasanya tidak tertarik dengan sejarah dunia sihir," ucap sang pimpinan tepat sasaran. "Kau buka saja link itu, maka kau akan mendapatkan hampir seluruh informasi mengenai yang terjadi tiga ribu tahun yang lalu." Kata sang pimpinan sambil mengirimkan sebuah link.
"Terima kasih pimpinan." Jawab Ru kemudian langsung mematikan hubungan komunikasi mereka itu. Setelah mematikan hubungan komunikasi, Ru langsung membuka link itu dan muncullah informasi lengkap yang bisa dikumpulkan dari kejadian tiga ribu tahun yang lalu. Entah mengapa saat membaca semua informasi itu Ru merasa sangat familiar dan tiba-tiba saja ia tertidur saat membaca sejarah dunia sihir itu.
.
Magic ~Body and Soul Change~
.
"Ru, bangun." Suara itu membuat Ru terbangun dari tidurnya. Saat ia membuka matanya dan membiasakan matanya menerima cahaya, ia melihat bahwa tempatnya berada saat ini bukanlah di club house Deimon Devil Bats. Tempatnya berada saat ini bagaikan sebuah ruang tanpa ujung.
"Loh, kau kan." Kata Ru terkejut melihat seseorang yang membangunkannya. Yang ditunjuk oleh Ru hanya tersenyum dengan anggun.
"Kau mau melihat kejadian yang sesungguhnya tiga ribu tahun yang lalu? Kalau sekarang aku bisa membantu dan hanya bisa satu kali, setelah itu aku tidak akan bisa lagi membawa kau melihat semua yang terjadi tiga ribu tahun yang lalu." Ajak orang itu.
Ru terlihat menimbang ajakan dari orang tersebut, ajakan yang menarik, tapi entah mengapa dia merasa ragu.
"Jadi?"
"Baiklah putri, aku mau lihat." Jawab Ru menerima ajakan tersebut.
"Ish, jangan panggil aku putri, kau itu kan bagian dari ku juga. Aku aneh tau jika dipanggil putri oleh diriku sendiri." Jawab sang Putri Bulan yang keluar image tidak anggunnya itu.
"Loh, aku ini kan Ru, bukan Putri Bulan! Yang Putri Bulan itu kan kau!" Ru langsung mendapatkan hadiah jitakan yang lumayan menyakitkan dari sang Putri karena ucapannya itu.
"Aiiih, kau itu polos, bodoh, atau tidak mau menerima kenyataan sih kalau sebenarnya kau itu Putri Bulan? Kau itu adalah aku, aku adalah kau. Jadi kita ini sama! Kau itu bisa dibilang reinkarnasi dari diriku yang hidup tiga ribu tahun lalu sebelum kau ada!" kata sang Putri dengan wajah geregetan karena sikap Ru yang lemotnya kambuh itu.
"Aku pilih yang ketiga deh." Jawab Ru asal hingga lagi-lagi ia mendapatkan jitakan.
"Sudahlah, bicara dengan kau bisa bikin aku emosi," kata Sang Putri geregetan. "Karena berkelahi dengan diri sendiri adalah hal yang membuang-buang waktu. Sekarang, pegang tanganku dan pejamkan matamu! Kita akan kembali melihat kejadian tiga ribu tahun yang lalu!" titah Sang Putri.
Ru hanya menuruti perintah sang Putri, memegang tangan kanan sang Putri lalu memejamkan matanya.
"Buka matamu!" perintah sang Putri. Ru langsung membuka matanya dan melihat dirinya berada di sebuah istana yang lumayan megah namun kelihatan asri. Ia melihat seorang perempuan dan seorang laki-laki yang tengah berbincang akrab. Jika ia lihat lagi, sepertinya perempuan itu adalah Putri Bulan, dan jika feelingnya benar, laki-laki yang sedang berbicara dengan perempuan itu adalah sang Pangeran Matahari.
"Yang disana itu, Pangeran Matahari bukan?" tanya Ru. Setelah menunggu beberapa saat jawaban dari orang yang mengajaknya itu tapi tidak mendapatkan respon apa-apa, Ru menoleh ke tempat Putri Bulan berada dan ternyata sang Putri sudah tidak ada di sampingnya.
"Hahaha, kau itu ada-ada saja Hi." Tawa sang Putri terdengar sayup-sayup di telinga Ru karena jarak mereka yang jauh. Ru berinisiatif untuk mendekati mereka. "Mamo nee?" Ru terkejut saat melihat seseorang yang sangat mirip dengan Mamori berjalan ke arah Putri Bulan dan Pangeran Matahari diikuti oleh seorang laki-laki yang amat sangat mirip dengan Hiruma yang menggunakan sebuah tuxedo resmi dengan dandanan yang sangat rapi.
"Hai Mori, hai Ichi." Sapa sang Putri saat melihat kedua orang itu. Seseorang yang terlihat mirip dengan Mamori itu menghampiri Putri Bulan dan menjabat tangannya dengan antusias. "Selamat ya, sebentar lagi kau akan resmi menjadi Putri Bulan." Kata perempuan yang dipanggil Mori itu tersenyum senang.
"Ehehe, iya nih. Aku nggak nyangka bisa begini, hehe." Tawa Putri Bualn canggung.
"Iyalah, apalagi dia itu nggak ada anggunnya. Perempuan sadis!" dan langsung laki-laki yang dianggap Ru sebagai Pangeran Matahari itu mendapat hadiah injakan dari heels yang dipakai Putri Bulan.
"Dasar nggak sopan! Dasar ..." omel sang Putri sambil menginjak kaki laki-laki itu, sambil menyebutkan nama lengkap laki-laki itu, sayangnya saat Putri Bulan menyebutkan nama orang itu, tiba-tiba suaranya berubah samar.
"Itu, Chiharu kan?" tanya Mamori memastikan. Kemudian mereka menengok ke arah yang dilihat oleh Mori yang memiliki wajah sangat mirip dengan Mamori itu. Ru juga ikut menengok ke arah yang dilihat oleh ke empat orang itu dan ia melihat seseorang yang memiliki wajah mirip dengan Suzuna dan seorang anak laki-laki yang berjalan dengannya yang mirip dengan Sena.
"Sena? Suzuna?" Ru semakin bingung melihat kehadiran semua orang yang dikenalnya di dunia tempat ia tinggal. Ia mengambil kesimpulan jika mereka ternyata sudah berhubungan dari lama, dan kembali dipertemukan oleh takdir.
Tiba-tiba, Ru tersedot ke dalam lubang hitam dan saat membuka matanya ia sudah berada di suasana yang lain.
"Aduuuh, pergantian tempat dan waktunya nggak bisa pelan sedikit ya? Pusing banget jadinya." Ru mengomel sendirian sambil memegangi kepalanya yang pusing setelah terhisap ke lubang hitam tadi. Saat ini ia melihat Putri Bulan dan Pangeran Matahari yang sedang duduk berdua dan mengobrol bersama. Entah hanya perasaan Ru saja atau memang benar jika pandangan Putri Bulan sangat lembut jika sedang melihat Pangeran Matahari.
"Udah jadi Putri Bulan, tapi kelakuanmu masih sadis aja sih?" komentar Pangeran Matahari ke Putri Bulan hingga ia mnedapatkan hadiah tendangan tepat di tulang kering hingga meringis kesakitan karena kekuatan tendangan yang abnormal bagi seorang perempuan itu.
"Berisik, aku kan cuman bisa begini di depanmu dan beberapa orang lainnya saja, jadi biarkan aja." Kata sang Putri sambil memandangi taman yang berada di depannya. Pangeran Matahari hanya mengelus rambut bergelombang Putri Bulan yang panjangnya mencapai punggung itu.
Di saat mereka berdua sedang berdiam tanpa berbicara seperti itu, Chiharu gadis yang memiliki wajah mirip dengan Suzuna yang akhirnya Ru ketahui bernama Kyuujuuni Chiharu itu mendatangi Pangeran Matahari dan mereka berbicara hanya berdua tanpa mengajak Putri Bulan, entah mengapa Ru melihat jika sepertinya Putri Bulan sedikit cemburu.
"Ya, baiklah, aku akan ke sana, tumben sekali para tetua itu ingin bertemu denganku," jawab Pangeran Matahari setelah Chiharu selesai berbicara dengannya. "Kau tunggu saja disini ya! Aku akan kembali lagi!" kata Pangeran Matahari sebelum akhirnya ia pergi menemui para tetua.
"Jadi, sampai kapan kalian akan tetap seperti itu? Kau itu kan suka dia, dan sepertinya dia juga menyukai kau, kenapa nggak ada salah satu diantara kalian yang berinisiatif untuk berbicara duluan sih?" kata Chiharu sambil duduk di samping Putri Bulan. Ru mendekati tempat mereka berdua berada agar semakin jelas mendengar percakapan mereka.
"Hahaha, apaan sih, dia itu udah nganggep aku kayak adiknya sendiri, lagian siapa sih yang suka sama dia?" elak Putri Bulan. Chiharu hanya menggelengkan kepala mendapatkan respon seperti itu.
"Terus jika kau tidak suka, kenapa pandanganmu tadi saat melihat aku berbicara dengan dia seperti orang yang cemburu?" tanya Chiharu yang tepat sasaran. Putri Bulan agak kaget juga saat tahu jika Chiharu menyadari hal itu, namun ia menutupi dengan poker face andalannya itu.
Saat Ru semakin penasaran dengan respon dari Putri Bulan, tiba-tiba saja lubang hitam kembali menghisapnya ke tempat lain.
.
Magic ~Body and Soul Change~
.
Saat jam istirahat makan siang – bersamaan dengan Ru yang masih melihat kejadian tiga ribu tahun yang lalu – semua anggota Deimon Devil Bats berkumpul di lapangan dan entah bagaimana caranya mereka jadi seperti berpiknik di lapangan amefuto.
"Anoo, Mamori neechan, tumben kita makan siang sambil berkumpul seperti ini." Tanya Sena pelan dan hati-hati agar Hiruma – namun Hiruma yang sebenarnya adalah yang berada di tubuh Mamori – tidak mendengar percakapan mereka. Belum sempat Mamori yang sebenarnya adalah Hiruma itu menjawab, terdengar suara tembakan peluru ke udara yang sudah bisa diketahui pasti adalah hasil kerjaan seseorang yang berada dalam tubuh Hiruma.
"Baiklah teri-teri sialan! Aku menyuruh kalian berkumpul di tempat ini hanya sebagai hari untuk berkumpul biasa! Karena manajer sialan itu yang terus-terusan berisik dan menyuruhku untuk memberikan sedikit waktu santai untuk kalian!" teriak Hiruma.
"Sena, apa kau tahu Ru dimana? Kok sepertinya dia tidak ada ya?" tanya Sora dengan suara yang pelan agar tidak memancing keributan.
"Ano Sora san, seingatku, tadi dari jam pelajaran pertama ia izin ke UKS karena tidak sehat, setelah itu aku tidak tahu lagi dia dimana, mungkin di UKS." Jawab Sena dengan suara yang tidak kalan pelannya. Sora hanya mengangguk kemudian tersenyum sebagai tanda terima kasih. Namun ia berpikir, jika benar Ru berada di UKS, seharusnya ia bisa merasakan auranya, namun entah mengapa sejak jam pelajaran pertama tadi ia sudah tidak merasakan aura keberadaan Ru.
"Cepat habiskan bekal kalian teri-teri sialan! Setelah itu manajer sialan akan membahas tentang turnamen Kantou!" perintah Hiruma yang sebenarnya Mamori itu dan dalam sekejap mata, semua anggota Deimon Devil Bats itu menghabiskan makanannya dengan cara yang sadis agar tidak terkena omelan dari Hiruma.
.
Magic ~Body and Soul Change~
.
"Apa? Jadi, aku Pangeran Matahari? Kalian pasti bercanda kan?" tanya laki-laki yang Ru anggap sebagai Pangeran Matahari itu.
"Ya, memang kau, dan kau pasti tahu tugasmu. Kau adalah matahari yang menyinari semuanya dan sangat berpengaruh terhadap bulan, karena bulan bersinar karena dirimu. Kau pasti tahu jika bulan itu memantulkan sinar matahari, jadi kau itu adalah orang yang sangat berpengaruh terhadap Putri Bulan." Jawab salah satu tetua di ruangan itu.
Ru mendengarkan dengan serius percakapan mereka itu sambil berdiri di salah satu sudut ruangan. Jika dugaan Ru benar, pasti laki-laki yang merupakan Pangeran Matahari itu masih tidak percaya dengan kenyataan yang diajukan kepadanya.
"Apakah ada bukti jika benar aku ini Pangeran Matahari? Jika sudah ada bukti yang kuat, mungkin aku akan percaya jika benar aku ini Pangeran Matahari." Jawab laki-laki itu menentang para tetua. Kemudian para tetua menunjukan sesuatu ke Pangeran Matahari, saat ia ingin mendekat untuk mengetahui apa yang ditunjukan oleh tetua itu, tiba-tiba lubang hitam kembali menghisap dirinya ke tempat, waktu dan suasana yang berbeda.
.
Magic ~Body and Soul Change~
.
"Aduuuh, sakit banget rasanya kepalaku ini. Putri Bulan kayaknya emang cuman mau nunjukin yang intinya aja deh. Tapi dia kok hobinya mindahin aku cepet banget sih? Bikin kepala pusing aja!" Ru terus-terusan mengomel sendirian karena Putri Bulan terlalu cepat memindahkannya dari satu waktu ke waktu yang lain dengan tempat dan suasana yang berbeda.
"Kakaaaaaaak!" teriak Putri Bulan sambil menghampiri seorang laki-laki yang mirip dengan Sora dengan posisi seperti memeluk, namun saat akhirnya ia dekat dengan orang yang dipanggilnya kakak itu, Putri Bulan langsung menendang kakinya.
"Aduh, aduh, hei! Sakit nih!" ringis orang tersebut karena mendapatkan hadiah tendangan maut dari Putri Bulan.
"Siapa suruh nggak ngasih kabar! Rasain nih tendanganku!" ucap Putri Bulan sambil terus menendang tulang kering orang yang dipanggilnya kakak tersebut. Ru hanya sweatdrop melihat adegan tersebut, begitu juga dengan Pangeran Matahari.
Menyadari keberadaan temannya yang terancam tidak bisa berjalan jika Putri Bulan terus menendang tulang kering orang tersebut, akhirnaya Pangeran Matahari mendekati Putri Bulan dan menghentikan hal tersebut.
"Sudah lah, kau itu Putri Bulan, masa kelakuanmu nggak ada anggunnya begitu? Kasian kan dia." Kata Pangeran Matahari yang disambut dengan tendangan dari Putri Bulan di tulang kering kaki kirinya.
"Berisik! Kau jangan belain dia! Lagian siapa suruh dihubungin nggak bisa dan nggak ngasih kabar!" ucap Putri Bulan mengomel sambil terus-terusan menendang tulang kering Pangeran Matahari.
"Maaf, maaf, ada hal yang harus aku selidiki." Kata laki-laki yang sangat mirip dengan Sora itu. "Kalian berdua lebih baik berhati-hati dengan kedua ilmuwan itu." Kata orang yang mirip Sora itu.
"Loh? Memang kenapa kak? Mereka kan baik." Tanya Putri Bulan bingung.
"Sudahlah, kau menurut saja. Nanti juga tahu sendiri." Putri Bulan hanya menggembungkan pipinya karena seseorang yang dipanggilnya kakak itu tidak mau memberi tahukan lebih lanjut mengenai omongannya tadi.
"Bagaimana kabar Mori dan Ichi? Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka. Mereka kan satu-satunya manusia yang diizinkan ke dimensi sihir dan bertemu denganmu secara langsung meskipun sekarang kau itu Putri Bulan." Kata laki-laki yang mirip Sora itu.
"Baik, kemarin mereka masih main kesini, sayangnya kakak nggak ada." Jawab Putri Bulan.
Ru hanya mendengarkan percakapan mereka, hingga lagi-lagi lubang hitam menghisapnya ke tempat dan waktu yang lain.
.
Magic ~Body and Soul Change~
.
"Selamat siang Putri Bulan." Sapa seorang laki-laki yang memiliki wajah mirip dengan Kuro. Ru semakin yakin jika mereka semua adalah reinkarnasi melihat kemiripan wajah orang-orang yang ditemuinya yang dekat dengan Putri Bulan.
Saat Ru melihat ke arah Pangeran Matahari, entah mengapa ia seperti melihat jika Pangeran Matahari terlihat seperti orang yang cemburu saat orang itu mendekati Putri Bulan.
"Bagaimana kabarmu Putri?" tanya laki-laki yang mirip Kuro itu. Putri Bulan hanya tersenyum mendapat pertanyaan seperti itu dari ilmuwan di dimensi sihir.
"Bagaimana kabarmu? Pangeran Matahari?" tanya orang itu sambil melirik Pangeran Matahari yang berada di samping Putri Bulan. Putri Bulan terlihat terkejut saat mengetahui orang yang berada disampingnya, dan dekat dengannya itu adalah Pangeran Matahari, karena ia tidak pernah memberi tahu Putri Bulan.
"Jadi kau Pangeran Matahari? Kok kau nggak cerita ke aku sih?" tanya Putri Bulan sambil mendelik marah ke arah Pangeran Matahari. Pangeran Matahari hanya tersenyum canggung dilihat seperti itu oleh Putri Bulan.
"Baiklah, karena ada pasangan disini," perkataan orang itu terputus karena Putri Bulan langsung memotongnya.
"Kami ini bukan pasangan, cuman teman biasa." Kata Putri Bulan berbohong karena sebenarnya ia menyukai Pangeran Matahari sambil tersenyum. Sedangkan Pangeran Matahari hanya tersenyum tipis karena sebenarnya ia menyukai Putri Bulan.
"Hahaha, tapi kan di sejarah selalu di sebutkan jika Pangeran Matahari dan Putri Bulan adalah pasangan. Jadi, kami menghadiahkan anting dan cincin ini." Kata orang itu sambil menyerahkan cincin dan anting ke Putri Bulan dan Pangeran Matahari. Ru mendekat ke arah keempat orang itu karena laki-laki yang seperti Kuro itu bersama dengan seseorang seperti Shun. Saat melihat ke benda yang diberikan oleh kedua orang itu, Ru sangat terkejut karena itu adalah DeAngel Ea-ring's, yang menyebabkan Black Era.
"Wah, bagusnya..." Putri Bulan terlihat sangat tertarik dengan anting dan cincin yang sepasang itu. Pangeran Matahari juga terlihat tertarik dengan bentuknya yang unik itu. Ketika Pangeran Matahari dan Putri Bulan sedang memperhatikan cincin dan anting itu dengan serius, kedua orang itu terlihat menyeringai kecil.
"Benar ini untuk kami?" tanya Putri Bulan memastikan. Yang ditanya hanya mengangguk sambil tersenyum menjawab pertanyaan Putri Bulan. "Terima kasih ya! Um.. bagaimana jika ini kita berikan untuk Mori dan Ichi? Saat mendengar namanya aku jadi teringat mereka." Tanya Putri Bulan sambil melihat ke arah Pangeran Matahari. Pangeran Matahari hanya tersenyum menyetujui usulan Putri Bulan itu.
"Baiklah, masih ada yang harus kami lakukan. Kami permisi dulu Putri Bulan, Pangeran Matahari."pamit kedua orang itu sambil membungkuk hormat. Mereka berjalan sambil terus menyeringai kecil karena berhasil menjebak kedua orang itu dengan mudah.
Tiba-tiba, Ru kembali ditarik oleh lubang hitam menuju tempat yang lain.
.
Magic ~Body and Soul Change~
.
"Kepalaku pusing." Keluh Ru sambil memegangi kepalanya. Perpindahan waktu, tempat, dimensi dan suasana yang terlalu cepat itu selalu membuat kepalanya pusing dan sakit. Saat ini ia berada di dimensi manusia dengan Putri Bulan dan Pangeran Matahari yang memakai pakaian manusia biasa sama seperti yang dipakai oleh Mori dan Ichi, kedua teman akrab mereka di dimensi manusia biasa. Mereka bertemu saat Putri Bulan dulu melakukan sebuah misi dan Putri Bulan menolong mereka hingga akhirnya mereka berteman akrab dan mengetahui bahwa Putri Bulan berasal dari dimensi yang berbeda dari mereka.
"Ini untuk kalian, cocok banget deh buat kalian." Kata Putri Bulan sambil menyerahkan DeAngel Ea-ring's. Mori dan Ichi mengambil cincin dan anting tersebut dan memperhatikannya dengan teliti. Mori terlihat sangat menyukai cincin di tangannya tersebut yang memiliki sayap malaikat di cincin itu. Sedangkan Ichi juga tertarik, namun tidak terlalu menunjukan ekspresinya.
"Kami pakai ya!" kata Mori sambil memakai cincin itu di jari manisnya, sedngkan Ichi memakai anting itu di telinganya. "Terima kasih ya!" kata Mori senang, sedangkan Putri Bulan hanya tersenyum senang karena teman manusia biasanya itu menyukai hadiah pemberiannya.
Ru juga ikut tersenyum melihat adegan ini hingga lagi-lagi lubang hitam menghisap dirinya.
.
Magic ~Body and Soul Change~
.
"Hi! Kenapa kau jadi seperti ini?" teriak Putri Bulan frustasi saat melihat Pangeran Matahari menyerangnya dan beberapa orang di sekitar mereka.
Setelah pusing di kepalanya sedikit hilang, Ru melihat keadaan di sekelilingnya. Keadaan di sekelilingnya benar-benar sudah kacau. Bangunan yang hancur, mayat yang bergelimpangan dengan darah yang menggenang di sekitarnya, dan juga teriakan-teriakan ketakutan yang terdengar dari jauh.
"Kau kenapa menjadi seperti ini?" tanya Putri Bulan frustasi. Putri Bulan terus-terusan melompat menghindari serangan yang dilancarkan oleh Pangeran Matahari. Melompat ke kiri dan ke kanan menghindari semua serangan dan mencegah serangan Pangeran Matahari mengenai orang-orang yang tidak bersalah dan tidak berhubungan.
Ru shock melihat kejadian di depannya itu, dan ikut melompat menghindar saat ada sebuah serangan yang hampir mengenai dirinya, padahal meskipun ia terkena, ia tidak akan terluka sedikit pun.
Ru melihat ke mata Pangeran Matahari, dan jika dugaannya benar, Pangeran Matahari melakukan hal seperti itu karena pengaruh sihir ilusi. Tidak terpancarkan emosi sedikitpun dari mata Pangeran Matahari saat menyerang Putri Bulan, padahal Putri Bulan adalah orang yang disayanginya.
"Arrghhhhh..." Putri Bulan berteriak kesakitan saat salah satu spell mengenai tangannya karena tadi ia berusaha menyelamatkan seorang anak yang terjebak di dekat reruntuhan dan terlihat bingung akan pergi kemana.
Saat Putri Bulan berteriak kesakitan itu, entah mengapa Pangeran Matahari tersentak dan mulai kembali kesadarannya dan terkejut saat melihat tangan Putri Bulan yang mengucurkan darah yang banyak. Ia langsung memegang kepala dengan sebelah tangannya, dan menjambak rambutnya sendiri karena melihat Putri Bulan yang terluka. Akhirnya setelah beberapa saat, Pangeran Matahari terlepas dari pengaruh ilusi dan menhampiri Putri Bulan dengan keadaan panik.
"Kau tidak apa-apa kan? Ayo kita hentikan pendarahan di tanganmu itu." Kata Pangeran Matahari panik karena melihat luka di tangan Putri Bulan yang cukup dalam karena terkena tebasan salah satu spell yang dikeluarkannya.
"Ahaha, bukan masalah, hanya luka kecil kok! Yang penting akhirnya kau sudah kembali ingat." Tawa Putri Bulan sambil tersenyum dan memeluk Pangran Matahari dengan erat.
"Apanya yang luka kecil? Kau tidak lihat lukamu itu terus mengucurkan darah dan lukamu itu sangat dalam, bahkan tulangmu terlihat!" panik Pangeran Matahari. Ia langsung menggunakan spell pengobatan untuk segera mengobati dan menyembuhkan luka di tangan Putri Bulan tersebut.
Putri Bulan hanya tersenyum sambil menahan perih di tangannya itu sambil melihat ke arah Pangeran Matahari yang sedang mengobati lukanya. Setelah beberapa saat, akhirnya luka Putri Bulan sudah sembuh bahkan tidak terlihat jika tadinya ia telah terluka.
"Putri Bulan! Kita harus segera menyelamatkan Mori dan Ichi dari tangan kedua ilmuwan itu! Mereka menggunakan Mori dan Ichi hingga semua kekacauan ini terjadi, dan juga menggunakan Pangeran Matahari!" teriak Chiharu panik sambil mengahampiri Putri Bulan. Putri Bulan hanya melihat sebentar ke arah Chiharu lalu segera berdiri dan membersihkan gaun putih selututnya yang penuh dengan debu dan darah.
"Baiklah, segera kita menyelamatkan Mori dan Ichi!" titah sang Putri. Chiharu hanya mengangguk mendengar perintah itu. "Aku tidak bisa memaafkan mereka karena berani membuat kekacauan seperti ini, menjebakku dan Pangeran Matahari dan menggunakan Mori dan Ichi yang memiliki aura diatas manusia biasa untuk membuat semua kekacauan ini. Perintahkan pasukan untuk menyerang anggota Black Society yang membela orang-orang itu, aku sendiri yang akan menghadapi mereka berdua." Kata Putri Bulan dengan wajah seriusnya untuk berperang, dan langsung melakukan sihir teleportasi ke tempat pertarungan dimana seseorang yang dianggap Putri Bulan sebagai kakaknya, dan salah satu tetua melawan kedua ilmuwan itu.
Bersamaan dengan hilangnya Putri Bulan karena teleportasi, Ru kembali terhisap oleh lubang hitam.
.
Magic ~Body and Soul Change~
.
Ru benar-benar kaget melihat keadaan sekitarnya saat ini. Setelah dihisap oleh lubang hitam itu, Ru berada di sebuah dimensi dimana hanya bulan yang bersinar yang menyinari tempat itu. Jika ia tidak salah ingat, tempat itu adalah Dimensi Abu-abu. Dimensi dimana semuanya hampir terlihat berwarna abu-abu karena pencahayaan yang kurang karena tempat itu hanya diterangi oleh sinar rembulan.
Saat Ru berjalan mengelilingi tempat itu, ia melihat beberapa orang yang sepertinya sekarat, namun masih hidup. Ia kaget saat melihat Chiaharu yang tergeletak bersimbah darah, tak jauh dari tempat Chiharu ia melihat anak laki-laki yang selalu bersama Chiharu yang sangat mirip dengan Sena dengan kondisi yang tidak kalah mengenaskan seperti Chiharu.
Ia semakin terkejut saat melihat orang-orang yang tergeletak lemas tak sadarkan diri, apalagi saat ia mengenali orang-orang yang lemas tak sadarkan diri itu. Ia melihat Mori, Ichi, salah satu tetua, dan juga Pangeran Matahari. Ru langsung berlari semakin masuk ke dimensi itu dan melihat Putri Bulan dengan kondisi mengenaskan. Luka sayatan hampir disekujur tubuhnya, gaunnya yang sudah robek di banyak bagian, dan darah yang mengalir dari lukanya.
"Apa tujuan kalian melakukan hal ini? Kalian orang yang baik!" teriak Putri Bulan frustasi. Kedua orang ilmuwan yang sudah lemas itu, dan seseorang yang mirip Kuro yang sudah pingsan tak sadarkan diri itu hanya melihat Putri Bulan sekilas.
"Untuk menyeimbangkan dan menciptakan dunia, dengan cara yang aku idamkan." Jawab seseorang yang sangat mirip dengan Shun itu. Putri Bulan mengepalkan kedua tangannya emosi mendengar jawaban dari orang itu. Ia tidak bisa menerima jika harus banyak orang yang dikorbankan untuk menyeimbangkan dan menciptakan dunia seperti dunia yang mereka idamkan.
Putri Bulan semakin emosi saat mengingat teman-temannya yang terluka karena pertarungan ini, apalagi banyak yang terluka karena mereka melawan pasukan yang menggunakan Black Magic. Ia langsung melancarkan sebuah spell yang berhasil melempuhkan pergerakan kedua orang itu.
Setelah debu yang menghalangi pandangan turun, Putri Bulan melihat laki-laki yang mirip Shun itu berdiri dengan lemas sambil memapah Kuro dengan gerbang dimensi yang sudah terbuka dibelakangnya.
"Kami akan kembali lagi dan menyelesaikan semua ini." Kata laki-laki itu sambil memasuki gerbang dimensi lalu menghilang di dalam gerbang dimensi yang menutup.
Putri Bulan bisa sedikit bernapas lega karena akhirnya kedua orang itu pergi, namun ia teringat dengan DeAngel Ea-ring's yang berada di genggamannya. Karena kekuatannya tinggal sedikit dan menyadari waktu yang dimiliki olehnya tidak banyak, ia memutuskan untuk memasukan spell pertukaran tubuh saat DeAngel Ea-ring's kembali dipakai oleh manusia yang memiliki sifat seperti malaikat dan iblis seperti Mori dan Ichi di masa yang akan datang agar Black Era bisa diperlambat terjadi.
Setelah melakukan spell itu, Putri Bulan langsung pingsan dan Ru kembali masuk kedalam lubang hitam.
.
Magic ~Body and Soul Change~
.
"Maaf ya Ru aku hanya bisa memperlihatkan bagian-bagian yang penting saja, aku sudah tidak mempunyai kekuatan lagi untuk menunjukan secara penuh semua yang terjadi tiga ribu tahun yang lalu."kata Putri Bulan meminta maaf kepada Ru. Ru hanya mengangguk sambil memegangi kepalanya karena kepalanya masih sangat pusing karena melakukan perpindahan waktu yang sangat cepat.
"Ya, aku sudah mulai mengerti mengenai kejadian tiga ribu tahun yang lalu. Terima kasih karena mau memperlihatkan semua hal penting kepadaku." Jawab Ru sambil berterima kasih. Putri Bulan hanya tersenyum ke arah Ru. Saat ini mereka berdua kembali berada di ruangan putih yang terlihat tanpa batas itu, tempat Ru pertama terbangun melihat Putri Bulan.
"Kau tahu Ru, tidak terbatas tercipta karena keterbatasan." Kata Putri Bulan sambil tersenyum ke arah Ru. Ru yang masih pusing hanya memandang Putri Bulan tidak mengerti dengan maksud dari perkataannya itu.
"Maksudmu? Kepalaku masih pusing, jadi tidak terlalu mengerti perkataanmu." Kata Ru menanyai maksud dari perkataan Putri Bulan. Sakit di kepalanya masih terasa menyakitkan dan menusuk.
"Tumben kau merasa sakit, biasanya kau kan tidak pernah mengeluh sakit meskipun sakit dikepalamu benar-benar parah." Kata Putri Bulan sambil memandangi Ru. Memang benar jika Ru tidak pernah mengeluh jika kepalanya sesakit apapun, namun entah mengapa kali ini ia mengeluh karena kepalanya sakit.
"Entahlah." Jawab Ru singkat.
"Ah, waktuku tinggal sebentar lagi. Ingat, kekuatan yang paling besar berasal dari hati dan perasaan manusia, Ru. Jika kau masih bingung cukup menenangkan dirimu dan kau akan mengetahui jawaban dari hal yang membuatmu bingung." kata Putri Bulan sambil tersenyum dengan anggun menatap Ru yang sangat mirip dengannya. Warna kulit yang sama-sama sawo matang, iris hitam kelam, rambut bergelombang, hanya saja rambut Putri Bulan sepunggung, sedangkan Ru memiliki rambut sebahu.
"Kau akan pergi?" tanya Ru sambil memandangi Putri Bulan.
"Tidak, aku masih tetap berada di hatimu," jawab Putri Bulan. Semakin lama, Putri Bulan semakin menjauh dari Ru. "Ah, satu hal terakhir Ru, pada akhirnya kau akan ..." ucap Putri Bulan terputus karena ia menghilang dari pandangan Ru, dan ruangan putih tanpa batas itu berubah menjadi gelap.
.
Magic ~Body and Soul Change~
.
"Ru, bangun Ru! Ru, cepat bangun!" teriak Sora sambil menggoyangkan badan Ru agar Ru segera terbangun dari tidurnya.
Ru mulai membuka mata, dan mengucek matanya. Saat ia mulai sadar dan terbangun dari tidurnya, ia melihat jika sekarang sudah sore dan beberapa anggota Deimon Devil Bats sudah ada di club house.
"Kau ngapain aja sampai tertidur disini? Bikin khawatir saja." Kata Sora sambil melihat Ru yang baru saja bangun.
"Tidur, dan mencari tahu mengenai kejadian tiga ribu tahun yang lalu." Jawab Ru sambil mengucek matanya.
"Oh, kalau begitu cepat kau siap-siap, sebentar lagi latihan akan dimulai." Kata Sora sambil berlalu untuk mengganti pakaiannya. Ru hanya mengangguk lalu membereskan laptopnya yang masih menyala dan menyiapkan minuman untuk anggota Devil Bats yang sebentar lagi akan menjadi mayat hidup.
.
Magic ~Body and Soul Change~
.
Pertama kalinya dalam hidup seorang Hiruma Youichi merasa amat sangat bosan dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dari mencoba membuat taktik, sampai memperbaharui ancamannya tidak bisa membuat dirinya terbebas dari rasa bosan. Mamori yang berada di tubuhnya sedang membuatkannya makan malam untuk mereka berdua. Tiba-tiba ia menyeringai saat melihat handphone Mamori yang tergeletak di meja tanpa perlindungan apapun. Ia segera mengambil handphone itu dan mengobrak-abrik isinya, siapa tahu ia akan menemukan jackpot sesuatu yang memalukan dari handphone Mamori itu hingga ia bisa memperbudak Mamori.
"Hiruma kun! Makanannya sudah mau jadi nih!" teriak Mamori dari dapur. Hiruma hanya diam tidak merespon Mamori, ia sedang sibuk melihat e-mail mamori tetapi hanya ada e-mail biasa dari Suzuna dan Ru yang tidak bisa dijadikannya ancaman. Kemudian ia melihat foto-foto Mamori dan terkejut saat meilhat foto Mamori dengan Akaba yang sedang merangkul pundak Mamori dan mereka berdua tersenyum ke arah kamera. Entah mengapa saat melihat foto itu ada bagian dari dalam diri Hiruma yang tidak terima dan merasa kesal karena itu.
"Hiruma kun, makanannya sudah jadi." Kata Mamori menghampiri Hiruma yang masih memegang handphone milik Mamori. Hiruma terkejut karena Mamori yang tiba-tiba datang, lalu ia memasang poker face andalan miliknya untuk menghilangkan keterkejutan karena Mamori yang datang dan rasa kesal karena melihat Mamori berfoto lumayan mesra dengan Akaba.
"Kekeke, aku tidak menyangka jika anggota komite disiplin hobi berfoto mesra dengan mantan MVP Tokyo tahun lalu." Kata Hiruma yang berada di tubuh Mamori sambil tertawa licik sambil menunjukan foto di handphone Mamori sambil menutupi rasa kesalnya.
Mamori yang berada di tubuh Hiruma sangat terkejut saat melihat Hiruma memegang handphone miliknya dan melihat fotonya dengan Akaba. "Kau itu tidak sopan sekali Hiruma kun! Itu hal pribadi! Kau tidak boleh mengusiknya!" teriak Mamori kesal karena Hiruma sudah mengobrak-abrik handphonenya itu.
"Kekekeke, siapa suruh tidak hati-hati. Jadi kau senang berfoto dengan dia manajer sialan? Aku tidak menyangka." Kata Hiruma masih dengan senyum licik yang tercetak jelas di wajah Mamori tempat jiwanya berada.
"Apaan sih? Biasa saja! Aku tidak terlalu suka dan tidak menganggap foto itu spesial!" kata Mamori marah dan sedikit kecewa karena Hiruma tidak cemburu karena foto Mamori dengan Akaba itu, ia merasakan sakit yang teramat sangat di dadanya.
"Benarkah? Jika tidak, kenapa kalian berfoto dengan pose seperti itu?" tanya Hiruma sambil menyeringai, padahal dalam hati ia sangat kesal. Mamori tidak bisa menahan kekesalannya itu, ia langsung menghampiri Hiruma dan mengambil handphonenya dari tangan Hiruma.
"Makanan sudah siap di meja makan. Aku mau tidur!" kata Mamori kesal lalu masuk ke kamarnya, dan membanting pintu kamarnya. Ia memilih untuk tidak melihat Hiruma dulu karena hatinya masih sangat sakit.
Hiruma hanya bengong sambil menahan rasa kesal yang memuncak di dirinya lalu ia makan sendirian sambil mengumpat.
.
.
TBC (To Be Continued)
.
.
Ahoy minnaaaaaaaaaaaa ogenki desuka? Ada yang kangen nggak sama fic ini? Kalo ada yang kangen Ru minta maaf ya. Sebulan ini Ru bener-bener sibuk dan sempet terkena serangan WB yang parah nan akut apalagi entah mengapa setiap bulan purnama muncul Ru jadi ngga bisa ngetik fic apapun –v. Sebagai permintaan maaf, Ru panjangin chapter ini (yah, meskipun kebanyakan nyeritain tentang sejarah sih) dan Ru menyelipkan HiruMamo di chapter ini, jadi semoga aja bisa menghibur ya. Dan khusus untuk chapter ini, Ru mau kasih omake full HiruMamo buat Deite yang katanya lagi kangen sama pairing itu dan semuanya yang kangen dengan pairing itu. Sebelum dimulai omakenya, Ru bales review dulu ya *obrak-abrik kotak review*:
yosh, dari LalaNur Aprillia: maafkan diriku yang selalu nggak bisa update kilat *sujud-sujud*. Wahahaha, iya nih, Kuro sama Ru sempet pacaran, ya tapi gitu deh, hubungan mereka berakhir nggak jelas. Eh? Kelihatan gampang ya? Sebenernya Sakura Explosion susah, tapi berhubung kemampuan Ru diatas rata-rata air (?) jadi keliatan gampang. Ini update-annya. Maafin ya baru bisa update, review lagi yaw :3
lanjut, dari Yuki Kineshi: ini update-annya, maaf ya baru bisa update *sujud sujud*. Gimana chapter yang ini? Masih banyak yang harus dipoleskah? Bilang ya! Review lagi oke ^^d
lanjut dari DeacukaES21: makasih ya udah suka sama fic ini. Maap banget baru bisa update, review lagi yaaaa ^^d.
Terus dari Carnadeite: walah, jadi bingung ini. Oke aku bales dulu reviewmu di chapter 9. Muehehehe, ia Ru sama Kuro pernah pacaran, ya begitulah kisah cinta dua insan manusia itu #lebay. Hm... kayaknya nggak ada deh clbk, bisa-bisa Kuro nggak selamet dibantai sama Hi and Sora. Wahahaha, ia nih, Kuro jail banget *cubit pipi Kuro, digigit*. Wah, nggak bisa nebak ya, sebentar lagi aku kasih tau kok pangeran matahari siapa ^^v. Wah, masih ada typo yang bandel ya? Maap ya. Iya nih, untukmu deskripnya aku tambah #ea. Niatnya aku pengen ikut award bulan lalu, sayangnya aku telat TT. Oke sekarang balesan review buat chapter 10. Huwaaa, aku terharu pas tahu nggak ada typo lagi *guling-gulingan di kasur*. Good udah tau gimana sakura explosion b^^d. Putri Bulan itu sama aja kayak Ru. Dichapter ini udah aku deskripin, semoga ngerti n kebayang ya ^^v. Walah, anak ini ternyata hobi kepo juga ya, mereka jadian karena bareng" bilang suka, muehehehehe. Selamat! Requestanmu aku kabulin di chapter ini *tebar confetti*. Iya! Aku semangat buat semuanya ^^)9. Bantu like video dance ku dong :3 #promo. Oke deh, maaf baru bisa update, review lagi yaaaa.
Oke, itu tadi balesan reviewnya. Tanpa berlama-lama lagi ini dia omake waktunya diambil pas chapter 3. Rada-rada menjurus ke rated M, tapi tenang aja cuman menjurus kok. Buahahahaha #ketawanista. Oke! Omake, start!
.
.
Mamori terlihat sibuk sendiri membawa koper berisi baju dan barang-barangnya untuk tinggal selama beberapa bulan di apartement Hiruma. Setelah berlatih seharian untuk memperdalam dan meniru semua kebiasaan dari tubuh yang mereka tempati dan setelah berbelanja bahan makanan membuat Mamori sangat lelah dan sangat ingin mandi untuk menghilangkan keringat dan rasa lelah yang menempel di tubuhnya.
"Aku mandi dulu manajer sialan, kamarmu ada disebelah sana." Kata Hiruma sambil menunjuk ke salah satu ruangan dan berjalan ke kamarnya.
Mamori hanya mengangguk sambil menarik kopernya, namun tiba-tiba ia berhenti saat mencerna lagi perkataan Hiruma. Hiruma ingin mandi, saat ini ia berada di tubuh Mamori, mandi itu berarti kau harus menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhmu, dan itu berarti Hiruma akan telanjang dan melihat tubuh Mamori tanpa benang sehelaipun. "Kyaaaaaaaa! Hiruma jangan mandi!" teriak Mamori membuat Hiruma kaget dan menghentikan langkahnya untuk masuk kedalam kamar.
"Kau itu apa-apaan sih manajer sialan cerewet! Aku ini gerah dan ingin mandi, kenapa kau melarangku mandi?" tanya Hiruma kesal.
Mamori hanya menundukan wajahnya malu karena harus mengatakan hal yang mengganggu pikirannya itu. "Biarkan aku yang memandikanmu." Kata Mamori sukses membuat Hiruma shock di tempat. "Karena kau berada di tubuhku, aku tidak akan membiarkan dirimu melihat diriku dalam keadaan naked, jadi aku yang akan memandikanmu, begitu juga sebaliknya." Lanjut Mamori agar Hiruma tidak salah paham karena perkataannya yang sebelumnya.
Hiruma terlihat berpikir sejenak lalu ia menyetujui permintaan Mamori barusan. "Cepat kau ikut aku ke kamar mandi. Dan ingat, kau juga tidak boleh melihat keadaan tubuhku." Kata Hiruma sambil berjalan masuk ke kamarnya. Mamori mengambil penutup mata dan pakaian yang akan dipakai Hiruma setelah ia selesai mandi yang diambil dari koper Mamori, lalu ikut masuk ke kamar Hiruma.
"Kau itu lelet sekali manajer sialan." Kata Hiruma kesal, Mamori hanya diam saja tidak ingin melawan Hiruma. Kemudian Hiruma masuk ke kamar mandi diikuti oleh Mamori yang membawa handuk dan pakaian yang akan dipakai Hiruma.
"Tutup matamu dengan ini." Kata Mamori sambil menyerahkan penutup mata ke Hiruma, Hiruma hanya menurut lalu menutup kedua matanya. "Jangan berani membuka penutup mata dan menyentuh badanku!" kata Mamori memperingatkan, Hiruma hanya diam saja tidak peduli.
Setelah Hiruma menutup matanya, Mamori mulai menanggalkan semua pakaian yang berada di tubuhnya, tempat jiwa Hiruma sekarang berada. Setelah semua pakaian dicopot, Mamori memandikan dirinya sendiri, menggosok seluruh tubuhnya sendiri yang sekarang menjadi tubuh Hiruma menggunakan sabun cair dan puff lalu membilasnya dengan air. Hiruma hanya diam menahan geli yang menjalar tubuhnya saat Mamori menggosok tubuh tempat jiwa dirinya berada. Setelah selesai, Mamori mengeringkan tubuh tempat Hiruma berada dengan handuk, memakaikan semua pakaian ke tubuh tempat Hiruma berada.
"Sudah selesai Hiruma." Kata Mamori sambil melepaskan penutup mata yang ia pasangkan di mata Hiruma. Hiruma hanya diam lalu melihat ke arah Mamori. "Kau mau apa?" tanya Mamori sedikit takut dengan tatapan Hiruma ke dirinya.
"Kau pakai penutup mata itu, giliran tubuhku yang mandi." Kata Hiruma datar, kemudian Hiruma melakukan hal yang sama seperti Mamori saat Mamori memandikan tubuh tempat jiwa Hiruma berada.
Hingga saat ini, mereka selalu memandikan satu sama lain saat mereka tidak berada di tubuh yang sebenarnya.
The End
.
Wahahaha, gimana omake nya? Aneh ya? Niatnya Ru mau naro yang lebih WOW, tapi berhubung ini masih rated T jadi segitu aja ya. Wahahaha, sebenernya Ru udah dari lama pengen masukin adegan begitu, tapi ya.. nggak tau kenapa ngga pernah aku masukin –v. Oke deh, segini dulu aja ya, sebelumnya Ru mau promo dulu nih. Please di like ya video cover dance salah satu minuman pengganti ion tubuh buatan Ru sama senpai Ru. Alamatnya di www . youtube watch?v=CyYKTM50cNw please di like yaaaa #promo. inget, spasinya dihapus –v.
Oh iya, Ru belum ngebacot buat chapter ini ya. Chapter ini adalah chapter terpanjang yang Ru buat karena menghabisakan 16 halaman full tanpa author notes. Di chapter ini semua tentang sejarah kejadian tiga ribu tahun yang lalu terungkap. Oh iya, nama Mamori yang berubah jadi Mori dan Hiruma yang jadi Ichi itu aku ambil dari My Lovely Anti-fan karena Ru nggak ada ide bikin nama baru buat mereka berdua. Walah, jadi tambah panjang chapter ini kalau Ru terus-terusan ngebacot. Oke deh, ditunggu reviewnya untuk kemajuan fic ini yang akan menjelang klimaksnya.
Oke deh, see ya in chapter 12 minna *dadah dadah*.
sign,
.
.
arumru-tyasoang
