Vaughn POV

"Maksudmu?" Guy menatapku sambil berusaha mencari kebohongan di mataku. "Kau serius, Vaughn?"

Aku menghela nafas, sama sekali tidak pernah terpikir olehku untuk menceritakan semua kepada sahabatku selama empat tahun ini. "Apa aku pernah bercanda?"

Guy menggeleng tegas. "Tidak setahuku. Jadi saat kau masih SMA kau pernah 'dekat'," Guy membuat tanda petik dengan jarinya, "dan hubungan kalian manghasilkan seorang anak laki-laki dan perempuan? Kenapa kau baru memberi tahuku sekarang?"

Wajah Guy yang tampak terluka memberitahuku seberapa besar aku melukainya. "Maaf, Guy. Aku juga baru tahu keberadaan mereka musim semi kemarin dan sejak saat itu hidupku berubah total. Aku tidak tahu bagaimana menyampaikan semua itu kepadamu."

Walaupun Guy masih kecewa padaku karena merahasiakan ini darinya, dia tersenyum kecil ke arahku. "Lalu kenapa kau tiba-tiba menceritakan semua ini padaku? Apa kau mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan keluarga barumu?"

"Bukan itu." Aku mentap Guy dengan pandangan serius. Guy langsung waspada.

"Ada apa, Vaughn? Apa ada masalah?"

Aku mengangguk kaku. "Putraku menghilang sejak kemarin malam." Lalu aku menceritakan semua yang aku ketahui dari Chelsea sejam lalu. Selama bercerita aku berjalan mondar-mandir di ruangan Guy. "Aku ingin mengambil cuti beberapa hari untuk mencari Kent di kota."

"Apa kau punya foto anak itu, Vaughn?"

Aku berhenti mondar-mandir dan menatap Guy dengan pandangan kosong.

Guy menghela nafas pelan. "Sudah aku duga."

"Kent seperti replikaku saat masih anak-anak."

Guy menggeleng tegas. "Aku sarankan kau kembali ke Sunshine Islands dan meminta si ibu selembar foto putramu. Aku akan memberikanmu biaya transportasi dan aku akan tetap menggajimu selama kau cuti." Saat aku akan memprotes ucapannya, Guy mengangkat tangannya, menyuruhku untuk diam. "Ini satu-satunya caraku membantu sahabatku."

Aku tidak tahu harus berbicara apa. Selama beberapa tahun aku selalu berpikir bahwa semua orang hanya tahu cara memanfaatkan orang lain dan sangat individu. Selama ini aku selalu membatasi hubunganku dengan orang lain, bahkan dengan Guy.

Aku menutupi wajahku dengan ujung topiku. "Terima kasih, Guy," kataku sambil tersenyum kecil.

Reaksi Guy benar-benar menjengkelkan. Dia yang sejak tadi duduk di kursi langsung jatuh terjungkal dan sebelum aku sempat membantunya berdiri, dia langsung berdiri.

"WOW!" Guy menatapku dengan pandangan tabjub dan bingung.

"Apa?" tanyaku sambil menatapnya tajam.

"Aku kira semua saraf di wajahmu tidak bisa berfungsi, ternyata aku salah," katanya sambil tertawa kecil yang baru berhenti saat aku mengancam akan melempar tumpukan dokumen ke arahnya.

Nobody POV

Witchkin menatap tamu tak diundangnya sekilas sebelum kembali asik dengan buku sihir yang ada di tangannya. Dia tahu cepat atau lambat Erika akan datang menemuinya. Erika juga tahu Witchkin sengaja mengacuhkannya tapi hal itu tentu tidak cukup untuk membuatnya kembali ke rumah dengan tangan kosong.

"Dimana?" Erika berjalan kearah Witchkin yang masih asik membaca di ranjangnya. Dia baru berhenti beberapa langkah dari ranjang.

Witchkin tidak perlu repot-repot menatap Erika. "Siapa?" tanyanya datar.

"Kau tahu siapa."

"Tidak, aku tidak tahu."

"Saat ini aku tidak ingin bermain denganmu."

"Aku juga tidak ingin bermain denganmu."

Erika kembali berjalan mendekati ranjang Witchkin tetapi saat jarak mereka hanya satu langkah, kaki Erika menubruk sesuatu. Erika menatap kakinya tetapi tidak ada yang menghalangi langkahnya. Erika kembali melangkahkan kakinya tetapi tetap menatap sesuatu. Penasaran, Erika mengulurkan tangannya dan menyentuh sesuatu yang terasa dingin, datar, dan menjulang tinggi di depannya. Seperti tembok yang trasparan.

Erika menatap Witchkin marah. Dia tahu Kent menghilang karena sihir Witchkin tapi tidak ada yang mau mendengarkan kata-kata anak kecil sepertinya itulah sebabnya dia akan membuat Witchkin mengakui perbuatannya dan membawa Kent pulang. Untuk ibunya.

Dia memang tidak pernah bisa mengerti Kent. Mereka terlahir hampir bersamaan tapi Erika selalu merasa ada jarak yang memisahkan mereka bahkan terkadang Kent seperti orang lain. Biasanya Erika tidak terlalu peduli saat Kent pergi seperti ini karena sebelum mereka pindah ke pulau ini Kent sudah sering pergi tanpa sepengetahuan siapapun dan pulang sehari atau dua hari kemudian.

Tapi Erika tahu Kent tidak akan kembali. Dia tidak ingin kembali.

Kent tidak ingin bertemu dengan Vaughn, ayah kandung mereka sendiri.

*Flashback*

Erika dan Kent bermain di halaman belakang rumah keluarga Egan. Hari ini tepat empat tahun mereka berdua lahir dan menjadi bagian keluarga Egan. Semua orang tak henti-hentinya memuji si kembar dan itu membuat Chelsea semakin senang karena semua orang akhirnya mau menerima anak-anaknya.

Itu yang dia pikir.

Saat Kent dan Erika bermain bersama beberapa anak lainnya, seorang wanita menghampiri mereka. Wanita itu setengah duduk agar dia dapat menyamai tinggi kedua anak itu lalu menyerahkan dua bungkus kado yang diterima Erika dan Kent dengan wajah berseri-seri bahagia. Wanita itu tersenyum angkuh.

"Bibi melihat ibu kalian tapi tidak ayah kalian. Dimana dia?"

Erika dan Kent menatap wanita itu bingung. "Ayah? Ibu bilang ayah di tempat jauh. Kerja." Kent mencoba mengulang kata-kata yang selalu Chelsea katakan saat mereka merengek ingin bertemu ayah mereka.

Wajah wanita itu tampak kaget yang dibuat-buat. "Kerja? Di hari terpenting ini? Seorang ayah tidak akan melupakan hari ulang tahun anak kesayangannya."

"Ayah tidak sayang?" tanya Erika dengan air mata yang mengenang di pelupuk matanya.

"Kata ibu, ayah sayang Erika dan Kent," kata Kent menenangkan Erika tapi Erika sudah lari memasuki rumah. "Bibi bohong!" tuduhnya kepada wanita itu.

"Bibi tidak bohong." Wanita itu berdiri dan membetulkan letak gaunnya. "Ayah kalian memang tidak menyayangi kalian. Dia bahkan tidak tahu kalian ada di dunia ini."

"Bohong!" teriak Kent, membuat semua orang yang ada di halaman itu menoleh padanya.

"Walaupun ibu kalian memberikan nama Phantom sebagai nama keluarga kalian, kalian tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga itu. Kenapa? Karena ayah kaliann tidak menginginkan kehadiran kalian. Siapa yang mau mengurus anak tidak sah seperti kalian?"

"Tutup mulutmu!" Chelsea berjalan atau lebih tepatnya berlari ke arah mereka. "Beraninya kau datang dan menemui anak-anakku!"

"Senang bertemu denganmu juga, Chels." Wanita itu tersenyum sinis kepada Chelsea. "Aku baru akan menceritakan saat seorang pria membuang wanita yang sedang mengandung bayinya." Wanita itu menatap Kent yang berada di belakang Chelsea. "Aku berbicara tentang ayahmu, nak."

"Jangan berbicara kepada anak-anakku dengan mulut kotormu itu!" Chelsea berlutut dan menatap wajah Kent yang tampak kosong. "Kent, bisakah kau masuk ke rumah?"

Kent masih saja berdiri di tempatnya, membuat Chelsea panik. Allen yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung menggendong tubuh anak itu dan membawanya ke dalam rumah.

Chelsea bangkit dan menatap tamu tak diundangnya dengan pandangan marah. "Kau bisa pergi dengan kakimu sendiri atau aku harus menyeretmu sendiri."

Wanita itu tersenyum senang. "Tak perlu repot-repot, toh, urusanku sudah selesai." Lalu dengan anggun wanita itu pergi meninggalkan acara ulang tahun yang kacau itu.

*Flashback End*