Baddest Male
Summary:
Park Chanyeol ialah seorang lelaki tampan yang mapan. Mansion, jaguar, dan wanita adalah hidupnya. Ia sangat tahu bagaimana cara bersenang-senang dengan uangnya. Hidupnya baik-baik saja bahkan nyaris sempurna sampai akhirnya Byun Baekhyun mantan kekasihnya datang dan memintanya merawat bayi mereka. Apa kau bercanda?
Rated:
T+ (dianjurkan untuk 15 tahun ke atas)
Cast :
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And other EXO member.
Bersyukur karena Baekhyun keluar rumah sakit dua hari berikutnya. Dokter menyimpulkan bahwa Baekhyun baik-baik saja dan bisa pulang untuk rawat jalan. Ia hanya butuh istirahat cukup dan kurangi beban pikiran yang berat, jika tidak ingin kandungannya bermasalah.
Selama dua hari di rumah sakit, Chanyeol menjadi satu-satunya orang yang berjaga di sisi Baekhyun sepanjang malam. Lelaki itu bahkan tidak mengeluh walau harus menyelesaikan pekerjaannya di ruang rawat inap untuk sekaligus memantau kondisi Baekhyun.
Chanyeol tidak mengatakan apapun saat perjalanan pulang dalam suasana hujan, dan Baekhyun masih merasa tegang untuk memulai percakapan. Seolah terjadi sesuatu yang tidak dimengerti olehnya. Seakan ada beberapa macam ketegangan tak dikenal yang menebal memenuhi udara disekitar mereka. Baekhyun berpikir ini mungkin karena tekanan rendah dari badai tapi dia tahu ini bukan disebabkan oleh awan mendung.
Chanyeol adalah sumbernya.
Sesekali ia melirik ke sebelahnya untuk melihat Chanyeol yang fokus menyetir. Pria itu terlihat tenang dan serius. Baekhyun tidak ingin mengusik konsentrasinya barang sedetik saja.
Tak lama mereka sampai di rumah. Chanyeol menengok ke kaca mobilnya yang masih dihujani titik-titik air. Ia segera menahan Baekhyun yang hendak turun.
"Tunggu sebentar!"
Chanyeol memiringkan tubuhnya untuk mengambil payung di kursi belakang. Ia membuka pintu mobil dan membuka lebar payung kuningnya lalu berputar untuk membuka pintu bagi Baekhyun. Ia menuntun Baekhyun menyebrang hingga ke teras, membiarkan seluruh payungnya melindungi tubuh Baekhyun, alhasil ia harus merelakan bagian pundak kiri jas abu-abunya basah kuyup karena hujan.
"Jasmu basah", ujar Baekhyun dengan nada penuh penyesalan.
Chanyeol tersenyum. "Tidak apa-apa."
"Bagaimana tidak apa-apa? Bukankah kau harus kembali ke kantor? Apa kau akan ke kantor dengan penampilan basah kuyup seperti itu?"
"Aku akan ganti baju di kantor. Aku meninggalkan beberapa stelan jas disana."
"Tapi kau bisa sakit jika menggunakan pakaian basah."
"Hei, apa kau mulai mengkhawatirkan pria brengsek sepertiku?", canda Chanyeol.
Baekhyun memasang wajah merenggut. "Aku hanya berusaha baik karena kau merawatku kemarin."
"Aku tidak apa-apa. Mari berhenti berdebat, masuklah ke dalam dan istirahat, jangan kemanapun. Kau mengerti?"
"Apa aku ini tawanan penjara?", protes Baekhyun.
"Baekhyun, mengertilah maksudku. Kau baru saja keluar dari rumah sakit, kau butuh istirahat penuh. Dan cuaca hari ini juga tidak bagus untuk jalan-jalan."
Baekhyun mengangguk patuh. "Aku hanya bercanda tadi. Mengapa kau begitu cerewet?"
"Itu karena kau keras kepala. Sekarang masuklah, disini terlalu dingn. Aku akan meminta Luhan merawatmu hari ini."
"Luhan akan kesini?"
Chanyeol mengangguk kecil. "Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian tanpa pengawasan."
"Tapi anak itu—"
"Tenanglah, dia jinak", Chanyeol berkedip jenaka kearah Baekhyun. "Aku akan kembali sebelum makan malam, jaga dirimu baik-baik, oke?"
Baekhyun mengangguk. Ia masih berdiri di teras untuk melihat Chanyeol masuk ke dalam mobilnya hingga menghilang dari halaman. Entah mengapa ia merasa begitu banyak ruang hampa saat Chanyeol pergi. Dua hari penuh bersama Chanyeol, membuatnya terbiasa tinggal bersama pria itu.
-Baddest Male-
"Sehun-ah!", Luhan memekik riang sambil membuka lebar kedua tangannya untuk mengundang Sehun ke dalam pelukannya.
Sehun memandang kekasihya yang berdiri di ujung pintu ruangan Chanyeol dengan wajah heran. Namun ia tetap memeluk Luhan atau gadis itu akan merengek seperti bayi dan membuat keributan di tempat kerjanya.
Sehun adalah orang pertama yang melepaskan pelukan erat mereka. Alisnya bertaut menatap wajah imut kekasihnya. "Bagaimana bisa kau berada disini?"
Luhan memajukan bibirnya, memasang wajah cemberut. "Mengapa reaksimu begitu? Kau tidak suka bertemu denganku?"
"T-tidak", Sehun tiba-tiba merasa gugup. Ia takut salah bicara dan membuat Luhan kesal. Itu berbahaya. Gadis itu bisa-bisa mogok bicara padanya hingga berhari-hari. "Ku pikir Chanyeol memintamu menjaga Baekhyun."
"Oh, kau tahu?", Luhan masih melingkarkan tangannya di sekitar leher Sehun.
"Aku tahu semua hal yang berhubungan dengan Park Chanyeol", Sehun berbisik dengan suara rendah di telinga Luhan.
Luhan tersenyum manis. "Aku merindukanmu Sehun-ah", rengeknya dengan suara manja seperti anak-anak.
"Aku juga", Sehun memamerkan senyumnya yang penuh pesona, membuat Luhan sulit mengendalikan diri untuk tidak mencium bibir apel itu.
Luhan melihat setumpuk berkas dan paspor di meja kerja Chanyeol yang tadi Sehun letakkan. Ia mengernyit heran sebelum akhirnya kembali menatap kekasihnya.
"Apa yang akan Chanyeol lakukan dengan semua ini?", tanya Luhan bingung. "Apa kalian akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri?"
Sehun menggeleng, "Aku tidak ikut. Ini urusan pribadi bos."
"Urusan pribadi Chanyeol?"
"Chanyeol akan ke Jepang dengan Baekhyun besok lusa."
"Apa?", Luhan perlahan mundur dan melepaskan pelukan eratnya dari Sehun. "Kenapa mereka ke Jepang?"
"Entahlah, mungkin untuk bulan madu", tebak Sehun asal.
Luhan langsung melotot ke arah Sehun. "Kau pikir mereka pengantin baru yang penuh cinta? Mereka bahkan bisa saling mencakar di pesawat."
"Mengapa kau berpikir begitu?"
"Kurasa hubungan mereka tidak begitu baik. Lagipula eonnie itu terlalu dingin. Jujur saja aku tidak terlalu menyukainya", dikte Luhan.
"Menurutku Baekhyun orang yang baik, dia cantik dan juga cerdas."
"Mana ada wanita cerdas yang membiarkan dirinya hamil di luar nikah?"
"Hmm, itu bukan salah Baekhyun. Salahkan pesona Chanyeol. Kau tahu sendiri sepupumu itu sangat pandai membutakan akal sehat semua wanita. Kurasa Baekhyun salah satu korbannya."
"Sehun, apa kau menyukainya?", Luhan berkacak pinggang di depan Sehun.
"Apa?!", Sehun mengernyit dalam. Menurutnya itu pertanyaan paling konyol yang pernah ia dengar. Mana berani ia menyukai Baekhyun? Sekalipun Chanyeol sahabat karibnya, ia tidak mungkin berani lancang. Lagipula ia memang tidak tertarik pada wanita seperti Baekhyun yang terlalu dewasa dan serius dalam semua hal. Ia pikir ia tidak akan seimbang bila harus membayangkan kekasihnya bukan Luhan melainkan Baekhyun.
"Lalu mengapa kau memuji wanita itu dengan berlebihan?"
"Aku hanya bicara sebenarnya."
"Apa menurutmu aku tidak baik, cantik dan cerdas sepertinya?"
"Tentu saja maksudku bukan seperti itu."
"Sekarang aku tanya. Kau pilih aku atau pacar Chanyeol?"
Sehun bertumpu pada dagunya dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya ia lipat di depan dada. Wajahnya tampak berpikir serius. "Bagaimana ya?"
Luhan memasang ekspresi kesalnya yang menurut Sehun imut. "Apa menjawab itu pun kau harus berpikir?"
Sehun tersenyum jahil lalu mencubit pipi Luhan bermaksud menggodanya. "Aku hanya bercanda, tentu saja Luhan seratus kali lebih baik bagiku."
Luhan tersenyum menang. "Bagaimana dengan Miranda Kerr? Kau akan tetap memilihku?"
"Tentu saja, aku mencintaimu sebanyak ini", Sehun membuka lebar tangannya seakan membuat lingkaran yang besar.
"Aku lebih banyak, aku mencintaimu sebanyak ini", Luhan berusaha merentangkan tangannya sampai berjinjit untuk membuat lingkaran yang sangat besar.
Sehun tersenyum lebar. "Aigo, kau imut sekali."
"Siapa yang imut?", suara berat pria menginterupsi Sehun dan Luhan. Pasangan kekasih itu langsung menoleh ke arah pintu dan mendapati Chanyeol bersandar dengan santai menonton Sehun dan Luhan yang asik berpacaran. Sehun berpura-pura berdehem keras sedangkan Luhan memutar matanya malas.
Chanyeol berjalan masuk ke ruangannya. "Apa ini taman bermain, bioskop atau kamar hotel? Kenapa pacaran di ruanganku?"
"Apa salahnya aku menemui Sehun? Kau menyita waktu kekasihku begitu banyak untuk bekerja sehingga aku jarang menemuinya. Jadi jangan salahkan aku karena menjadikan ruang kerjamu ini menjadi taman bermainku", ujar Luhan galak.
"Aku sudah memberinya hari libur di akhir pekan, apa kalian tidak bisa menggunakan hari itu dengan baik?"
"Akhir pekan kepalamu. Kau bahkan menelpon Sehun di tengah kencanku minggu lalu, dan menyuruhnya ke kantor dalam waktu sepuluh menit. Kau selalu menyabotase hari mingguku dan Sehun!"
Sehun mengangguk setuju dalam diam. Chanyeol berdehem pelan. Ia tidak bisa mengelak kalau ialah dalang dari setiap gagalnya kencan Luhan dan Sehun.
"Kenapa kau diam saja? Kau merasa bersalah?", serang Luhan.
Chanyeol menghela nafasnya. "Kenapa kau berada disini? Bukankah aku menyuruhmu untuk menjaga Baekhyun?"
"Lihatlah cara orang ini mengalihkan pembicaraan", bisik Luhan pelan.
"Kau kan punya banyak pembantu rumah tangga, kenapa masih menyuruhku?", sambung Luhan penuh protes.
"Baekhyun tidak akan leluasa dengan mereka."
"Apa kau pikir aku dekat dengan pacarmu itu?—"
"Namanya Baekhyun, dan satu lagi, kami tidak berpacaran", ralat Chanyeol.
Luhan memasang wajah pura-pura terkejut. "Bukan pacar? Lalu mengapa kau menyumbunyikan wanita itu di rumahmu?"
Chanyeol memilih diam sebagai jawaban. Baginya bicara apapun saat ini hanya akan menimbulkan perdebatan dengan Luhan.
"Ya terserah kau menyebut eonnie itu apa. Lagipula apa kau pikir aku ini baby sitternya?"
"Aku akan berikan tiga hari libur untuk Sehun jika kau pergi sekarang."
Sehun dan Luhan bertukar pandangan. "Benarkah?"
"Apa kau pernah melihatku berbohong?"
Luhan memandang Chanyeol ragu, namun akhirnya ia menyetujui tawaran itu. Baginya waktu libur tiga hari untuk Sehun adalah tawaran bagus. Luhan bisa menghabiskan waktunya untuk berkencan ataupun piknik berdua dengan Sehun.
"Baiklah, deal?", Luhan menjulurkan tangannya ke arah Chanyeol yang disambut Chanyeol dengan cepat.
"Deal."
Luhan menatap Sehun dengan penuh percaya diri. "Bersyukurlah karena kau berpacaran denganku. Aku mengorbankan diriku karena aku mencintaimu. Kau tahu itu?"
Sehun tersenyum pada Luhan lalu membuat tanda hati dengan jarinya. "Aku mencintaimu."
Chanyeol yang melihat pasangan itu meringis geli. Baginya ini adalah hal kekanakan. Chanyeol berusaha memisahkan pelukan Luhan dan Sehun yang ditanggapi protes keras oleh pasangan itu.
"Cepatlah pergi", ujar Chanyeol dengan santai. Ia mengibaskan tangannya seakan mengusir Luhan keluar kantornya seperti anjing liar.
"Kau keterlaluan, aku akan menendang bokongmu setelah ini!", ancam Luhan dengan ekspresi galak.
"Sehun, aku pergi, telepon aku saat jam makan siang. Oke?"
Sehun mengangguk pelan. Ia melambai ke arah Luhan hingga Luhan menghilang dibalik pintu.
Setelah Luhan keluar ruangan, Chanyeol bersandar di kursinya. Memejamkan mata dan menghela nafas panjang. Sehun melihatnya dengan khawatir. Ia baru sadar jas Chanyeol setengah basah.
"Apa yang terjadi dengan pakaianmu?"
Chanyeol membuka matanya dan menunjuk kearah jendela dengan dagunya. Sehun dapat melihat awan mendung. Chanyeol sebenarnya terlalu malas untuk berganti pakaian, tapi ia tidak bisa berpenampilan seperti ini ke rapat dewan. Jadi ia meminta Sehun mencari stelan kering untuk ia kenakan.
Sehun menghubungi sekretaris yang selalu bertugas di depan ruangan Chanyeol untuk mengambil stelan jas Chanyeol di mobil.
Chanyeol melepas jasnya perlahan. "Apa kau sudah membeli tiket pesawat?"
"Semua ada di mejamu."
Chanyeol menegakkan tubuhnya untuk melihat tiket pesawat serta paspornya yang sudah dipersiapkan oleh Sehun. Ia berterimakasih karena kinerja Sehun yang selalu baik.
"Tapi untuk apa kau ke Jepang?"
"Baekhyun terlalu khawatir soal ibunya. Jadi aku akan menemaninya berkunjung."
"Kau akan menemui keluarganya? Apa kalian sudah sedekat itu untuk melakukan pertemuan keluarga?"
Chanyeol memasang ekspresi datarnya. "Ini bukan pertemuan keluarga seperti yang kau pikirkan. Aku hanya menemaninya pergi. Lagipula mana mungkin aku membiarkannya yang sedang hamil melakukan penerbangan jauh sendirian?"
Sehun tertawa jenaka lalu bertepuk tangan. "Wow, kau banyak berubah Park Chanyeol. Aku tidak tahu kalau Baekhyun mengubahmu sebanyak ini. Ku pikir kau orang yang selalu memprioritaskan pekerjaanmu, tapi kau meninggalkan pekerjaanmu untuk Baekhyun. Apa kau sudah jatuh cinta padanya?"
"Apa menurutmu aku mencintainya?"
"Mana aku tahu. Tapi dari yang aku lihat sepertinya begitu. Akhir-akhir ini kau berubah menjadi ayah siaga. Kau berlari panik ke rumah sakit setelah mendapat telepon dari Luhan, kau tidak pernah meninggalkannya sendirian selama dua hari penuh, dan sekarang kau menemaninya ke Jepang. Ku pikir ini pertama kalinya aku melihatmu berkorban banyak untuk wanita."
"Aku tidak ingin gegabah mengatakan ini cinta. Tapi jujur saja aku khawatir jika jauh darinya, dan sedih saat melihatnya terbaring sakit seperti kemarin."
"Wajar jika kau merasa seperti itu. Kalian tinggal bersama dan dia juga mengandung anakmu. Kau tidak perlu memaksakan perasaanmu sendiri dengan bertanya-tanya apa kau mencintainya atau tidak. Biarkan saja semua berjalan alami dan cepat atau lambat kau akan menyadarinya."
Chanyeol tersenyum mengejek. "Mengapa kau bicara seperti professional?"
"Aku pakar soal percintaan", Sehun mengedipkan sebelah matanya sembari tersenyum. "Cepatlah ganti pakaianmu. Kita rapat lima belas menit lagi Tuan Park."
.
.
.
Chanyeol dan Sehun memang rapat di luar kantor. Rapat yang cukup melelahkan dan menyita banyak waktu. Bayangkan saja mereka pergi pukul sepuluh pagi dan baru keluar hotel pukul empat sore. Alhasil Sehun yang begitu khawatir Luhan marah karena tidak menelponnya saat jam makan siang, segera menghubunginya saat rapat selesai.
Sehun sibuk dengan laptopnya sedangkan Chanyeol bersandar di mobil dengan mata terpejam. Ia butuh istirahat walau hanya lima menit. Baginya bekerja di rumah sakit adalah hal melelahkan dan membuatnya sakit pinggang karena duduk di kursi yang tidak nyaman sama sekali. Namun ia tidak mengeluhkan itu pada Baekhyun karena ia terlalu khawatir untuk sekedar protes soal tempat duduknya.
Sehun menyikut lengan Chanyeol hingga pria itu mendelik kesal karena waktu istirahatnya terganggu. Namun Sehun terlalu sibuk pada laptopnya untuk menyadari ekspresi kesal Chanyeol. "Hei, aku menemukan beberapa hotel bagus di Okinawa, apa kau mau aku membuat reservasi?"
"Tidak perlu, kemungkinan aku akan tinggal di rumah keluarga Baekhyun."
"Kau yakin?"
"Jika ibunya menendangku keluar, aku akan melakukan reservasi sendiri. Kau tenang saja."
"Sepertinya kau optimis kalau keluarganya tidak menyukaimu."
"Ibunya bahkan pernah menamparku di depan umum."
Sehun memandang Chanyeol dengan tatapan ngeri. "Pewaris Emperal Group ditampar di depan umum?
Chanyeol menatap manik mata Sehun serius. "Apa bagimu kata-kataku hanya lelucon?"
Sehun memundurkan tubuhnya dan kembali fokus pada laptopnya. "Tidak. Aneh saja karena kau tidak mengajukan tuntutan. Ya tentu saja… itu kan ibu Baekhyun."
Sehun menepuk pundak Chanyeol penuh prihatin. "Aku doakan semoga kau bisa kembali ke Korea dengan selamat."
"Ya Oh Sehun, kau minta dipecat?"
"Apa kau akan sekejam itu?", sungut Sehun.
Chanyeol membuang pandangannya keluar jendela. Ia tidak sengaja melihat seorang anak perempuan kecil berdiri di depan meja panjang berisi pajangan pot bunga. Ia langsung tertarik pada bunga baby breath putih.
"Pak, berhenti", perintah Chanyeol pada supirnya.
Sehun melongo karena Chanyeol tiba-tiba meminta mereka berhenti padahal mereka belum tiba di kantor. "Ada apa?", tanya Sehun bingung.
Chanyeol keluar dari mobil dan segera menghampiri anak perempuan kecil penjual bunga. Mengabaikan Sehun yang mengikutinya dari belakang.
"Kau menjual ini?", tanya Chanyeol lembut.
Anak itu mengangguk dengan senyum manisnya. "Paman, apa kau mau membeli bunga? Semua bunga ini adalah kualitas terbaik yang dipetik dari kebun keluarga kami."
"Kau manis sekali", puji Chanyeol. Ia membayangkan jika ia memiliki putri semanis ini maka ia akan sangat gembira. "Bisa kau berikan bunga itu?", Chanyeol menunjuk rangkaian bunga baby breath di dalam pot besar.
Anak kecil itu mengangguk senang dan mulai merangkai bunga-bunga itu menjadi sebuket bunga dengan pita merah muda yang indah. Setelah itu ia memberikannya pada Chanyeol.
Chanyeol menyerahkan beberapa lembar uang sebagai bayaran dan anak perempuan itu terlihat sangat girang karena berhasil mengumpulkan pundi uang untuk dibawa pulang. Ia membungkuk penuh terimakasih pada Chanyeol dan Sehun. Tidak lupa dia mengatakan pada mereka untuk kembali lagi.
"Untuk apa kau membeli bunga?"
"Aku akan memberikannya untuk Baekhyun sebagai hadiah kembali ke rumah."
"Apa?"
"Kenapa? Apa itu aneh?"
"Bukan begitu, tapi ini pertama kalinya aku melihat sisi romantis Park Chanyeol."
-Baddest Male-
Luhan sedang duduk santai di depan televisi. Mulutnya sibuk mengunyah camilan sedangkan tangannya sibuk menekan tombol remot untuk mencari channel yang menarik, namun ia frustasi karena tidak menemukan satu pun program kesukaannya. Hingga ia berakhir dengan memencet tombol merah.
Ia menolehkan kepalanya ke dapur, dimana Baekhyun sibuk membuat makan malam. Luhan bangkit berdiri dan melenggang ke dapur. Ia merasa bosan hanya duduk sendirian di ruang tengah. Walaupun ia tidak menyukai Baekhyun, ia membutuhkan teman untuk bicara, jadi bicara dengan wanita yang tidak ia sukai jauh lebih baik daripada sendirian, pikir Luhan.
"Apa kau ini sedang cari perhatian pada Chanyeol? Kau baru saja keluar dari rumah sakit dan sudah bersikeras memasak. Kau bertingkah seakan-akan kau adalah istrinya."
Baekhyun yang sedang sibuk dengan wajan dan panggangan, berhenti sejenak dan membalik tubuhnya untuk melihat Luhan.
"Ku pikir aku lebih tua darimu, kenapa kau bicara 'banmal' padaku?"
"Haruskah aku memanggilmu eonnie?"
"Setidaknya panggil aku kakak demi sopan santun karena itu budaya Korea. Ku dengar dari Chanyeol kalau kau lama tinggal di Amerika, apa kau sudah lupa bagaimana budaya Korea? Haruskah aku menjelaskannya padamu?"
Luhan tersenyum kecut, "Apa kau barusan mengejekku tidak punya sopan santun?"
"Aku tidak bilang begitu."
"Bagaimanapun juga aku yang sudah membawamu ke rumah sakit. Jadi bersikap baiklah padaku, E-O-N-N-I-E.", Luhan menekankan kalimat terakhirnya.
Baekhyun mematikan kompor lalu bersandar pada pinggiran meja makan. "Luhan, jujur saja. Sebenarnya mengapa kau tidak menyukaiku?"
"Kau merebut Chanyeol dariku."
"Apa?", Baekhyun mengernyit bingung.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang Chanyeol, aku yang tumbuh besar dengannya. Tidak pernah ada orang yang tinggal di rumah ini selain aku dan Kyungsoo eonnie. Kyungsoo eonnie tinggal disini karena Jongin oppa, jadi tidak ada hubungannya dengan Chanyeol. Tapi kau! Ini pertama kalinya Chanyeol membawa wanita selain aku tinggal di rumah ini."
"Dan kau cemburu?", tebak Baekhyun.
Luhan tertawa sumbang. "Aku cemburu? Tidak! Bagaimanapun juga Chanyeol tetap menyukaiku lebih daripada kau. Lagipula kalian tidak akan pernah menikah, sama seperti wanita-wanita sebelumnya."
Baekhyun mencelos mendengar kalimat Luhan. "Apa maksudmu?"
"Chanyeol benci komitmen, berkeluarga, ataupun pernikahan. Ia sudah cukup menderita karena perceraian orangtuanya. Dan ia tidak akan menikah dengan kau atau siapapun."
"Kau bilang orangtua Chanyeol bercerai?"
Luhan menyadari kebodohannya bicara sembarangan. "Kau tidak tahu? Aku pikir kalian dekat, tapi soal ini saja kau tidak tahu", sindir Luhan. "Yang jelas jangan merasa percaya diri berlebihan apabila Chanyeol berlaku baik padamu. Itu tidak lebih ia lakukan demi tanggung jawabnya sebagai seorang ayah atas bayi di kandunganmu."
Baekhyun merasa seperti kepalanya baru saja dipukul keras. Matanya seperti terbuka lebar. Luhan ada benarnya, Chanyeol berbuat baik selama ini pasti hanya karena bayinya tidak lebih. Bodoh jika ia berpikir Chanyeol mencintainya.
"Setelah anak itu lahir, apa yang akan kau lakukan? Kau tidak berpikir untuk tinggal disini selamanya kan?", tanya Luhan hati-hati.
"Apa kau begitu mengkhawatirkanku? Kau tenang saja, aku akan pergi setelah anak ini lahir. Jadi berhentilah bicara tidak sopan padaku." Baekhyun melepas celemeknya dan meletakkannya di meja sebelum akhirnya meninggalkan dapur. Pandangan Luhan terus mengikuti Baekhyun hingga wanita itu menghilang di balik kamarnya.
Luhan jadi merasa tidak enak sendiri. "Apa aku terlalu kasar? Aku hanya bermaksud memperingatkannya saja. Kenapa sepertinya dia marah?"
Suara langkah masuk terdengar. Lalu ada suara Chanyeol yang memanggil nama Luhan hingga Luhan berlari ke ruang tengah. Luhan berlari gembira bukan karena Chanyeol, tapi ia berlari untuk memeluk Sehun.
"Dimana Baekhyun?", tanya Chanyeol khawatir.
"Dia di kamarnya", jawab Luhan acuh. Luhan melihat sebuket bunga putih di tangan Chanyeol dan tersenyum sumringah. "Wah, kau membelikan ini untukku?"
Chanyeol segera mendorong Luhan menjauh. "Ini bukan untukmu."
"Kalau bukan untukku lalu siapa?", rengek Luhan. Wajah cemberut Luhan berubah masam saat tahu pikiran Chanyeol. "Apa ini untuk—"
"Baekhyun!", potong Sehun.
"Menyebalkan sekali", gumam Luhan. Luhan kemudian menatap Sehun dengan mata menyala. "Kenapa kau tidak membelikan bunga untukku?"
"Aku benci hal kekanakan seperti itu", sindir Sehun untuk Chanyeol.
Chanyeol yang mendengarnya memasang ekspresi mengancam untuk Sehun, namun yang ditatap hanya terkikik geli. Chanyeol bergegas untuk masuk, namun Luhan segera menahannya.
"Ada apa?"
"Kurasa eonnie itu marah padaku."
Chanyeol menautkan alisnya tidak mengerti. Luhan menghela nafas,"Kau tahu aku terbiasa bicara pedas pada mantan-mantan kekasihmu. Dan aku bicara beberapa hal dengannya, aku tahu aku tidak sopan, dan sepertinya ia tersinggung karena hal itu."
"Apa yang kau katakan?"
"Sama seperti wanita-wanita sebelumnya, aku mengatakan bahwa kalian tidak akan menikah dan sepertinya ia terpukul karena hal itu."
Chanyeol menggeleng pelan. Ia tidak bicara apa-apa lagi dan hanya masuk ke dalam tanpa menoleh pada Luhan dan Sehun.
"Apa aku salah?", tanya Luhan takut.
Sehun menggeleng prihatin. "Kurasa kali ini kau salah."
"Aku terbiasa memperlakukan pacar Chanyeol seperti itu, lalu kenapa kali ini salah?"
"Aku rasa Chanyeol mencintai Baekhyun, dan dia sedang dilema memikirkan pernikahan."
"Bagaimana bisa kau membuat kesimpulan semudah itu?"
"Apa kau tidak sadar Chanyeol berubah? Dia tidak pernah bermain dengan wanita ataupun pergi ke club sejak Baekhyun datang, dia bahkan rela menunggu Baekhyun di rumah sakit, dia juga sudah mempersiapkan penerbangan ke Jepang untuk menemui keluarga Baekhyun, dan kau lihat hari ini? Seumur hidup, ini pertama kalinya aku melihat Chanyeol membeli bunga dengan tangannya sendiri. Tidakkah kau berpikir dia sedang jatuh cinta?"
"Aku tidak mengenal wanita itu dengan baik, jadi bagaimana bisa aku berbuat baik dan pura-pura manis di depannya? Kau tahu aku bukan tipe orang bermuka dua seperti itu."
Sehun memeluk Luhan dan menenangkannya. "Kau hanya perlu waktu untuk dekat dengan Baekhyun, kau akan menyukainya jika kau sudah mengenalnya dengan baik."
Luhan mengadah untuk melihat Sehun. "Apa menurutmu Chanyeol marah padaku?"
"Ku pikir Chanyeol bukanlah orang yang suka menyimpan dendam seperti itu. Besok cobalah bicara dengannya. Sekarang ayo pulang, aku akan mengantarmu sampai di rumah. Oke?"
Luhan mengangguk. Ia sesekali melihat ke ujung ruangan dengan khawatir. Namun ia akhirnya mengikuti langkah Sehun hingga keluar dari mansion Chanyeol.
-Baddest Male-
Chanyeol berdiri di depan pintu kamar Baekhyun penuh dengan rasa keragu-raguan. Ia menatap sebuket bunga putih di tangannya lalu memutuskan untuk menyimpan bunga itu di belakang punggungnya. Chanyeol mengetuk pintu kayu itu sebanyak tiga kali.
"Boleh aku masuk?"
Chanyeol bisa mendengar suara langkah dan kunci yang diputar. Tak lama Baekhyun muncul. "Ada apa?", tanya Baekhyun. Chanyeol menyadari sikap Baekhyun yang berubah ketus, tidak seperti tadi siang saat ia mengantar wanita ini pulang ke rumah. Chanyeol mencoba memakluminya setelah mendengar penjelasan Luhan.
"Apa kau marah?", tanya Chanyeol hati-hati.
"Marah untuk apa?"
"Entahlah, mungkin karena sesuatu yang Luhan katakan."
"Dia tidak mengatakan apapun kecuali menyadarkanku akan satu hal."
Chanyeol menaikkan sebelah alisnya. Baekhyun menghela nafasnya di depan Chanyeol. "Ku rasa memang seharusnya aku pergi setelah anak ini lahir."
"Kenapa?", desak Chanyeol.
"Itu perjanjiannya, lagipula kita memang tidak memiliki hubungan apapun."
Chanyeol tersenyum miring. "Kau marah karena Luhan bilang aku tidak akan menikah?", Chanyeol mengeluarkan bunga baby breath dari balik punggungnya dan menyerahkannya pada Baekhyun.
Baekhyun tertegun melihat bunga berwarna putih itu. Matanya terbelalak tidak percaya saat menatap bunga itu dan Chanyeol secara bergantian seakan menuntut penjelasan.
Chanyeol mengangkat pundaknya, bertingkah kaku. "Ini pertama kalinya aku memberikan bunga untuk wanita. Jadi aku tahu kalau saat ini kau sedang berpikir kalau aku aneh, tapi aku hanya ingin memberikan ini untukmu dan berharap kau dan juga bayi di dalam kandunganmu selalu sehat."
Chanyeol semakin menyodorkan sebuket bunga itu sampai Baekhyun bersedia mengambilnya.
"Aku sudah membeli tiket pesawat ke Jepang untuk besok lusa. Jadi kita bisa melihat ibumu."
Baekhyun menganga di tempatnya. "Sungguh?"
Chanyeol mengangguk. "Apa kau terpesona padaku sekarang? Aku orang yang sangat sibuk tapi aku sengaja memberikan waktu untuk menemanimu pergi."
Baekhyun tersenyum sekaligus mendecih. Tidak dipungkiri ia merasa senang dengan kabar tak terduga yang dibawa Chanyeol hari ini, terlebih lagi ia tidak menyangka kalau Chanyeol akan benar-benar menemaninya.
Chanyeol maju selangkah dan mengusap rambut Baekhyun dengan cepat. "Aku tidak ingin kau sakit lagi karena terlalu banyak berpikir. Karena itu jangan dengarkan kabar apapun tentangku, baik itu dari Luhan atau siapapun. Kau harus tahu sebenarnya Luhan seperti gadis kecil yang baik, ia seperti itu karena terlalu menyukaiku."
Chanyeol menarik senyum lebarnya. "Kau mengerti maksudku kan?"
Baekhyun mengangguk samar. Ia tidak bisa menjawab apapun, udara di sekitarnya terasa menipis karena Chanyeol yang tiba-tiba menyentuhnya. Terlebih lagi sikap pria itu yang berubah drastis padanya.
"Aku akan mandi setelah itu kita makan malam bersama. Bagaimana?", tawar Chanyeol.
"Aku akan menyimpan ini dulu", ujar Baekhyun. Ia menunduk untuk melihat bunga baby breath putihnya. Chanyeol mengangguk setuju. Ia kemudian berbalik untuk jalan menuju kamarnya yang memang berhadapan dengan Baekhyun.
Baekhyun masuk ke kamarnya dengan senyum mengembang. Ia mengisi penuh air ke dalam vas kaca dan memindahkan bunga pemberian Chanyeol ke dalamnya. Senyum Baekhyun memudar saat melihat bunga itu semakin dekat. Lagi-lagi ia membiarkan perasaannya terombang-ambing seperti air. Sebenarnya ia hanya butuh kepastian dari Chanyeol. Tapi ia terlalu takut untuk bertanya. Baekhyun tidak siap jika tahu Chanyeol tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Dan bukan hanya itu saja, jika tidak ada pernikahan, itu artinya bayinya akan menjadi milik Chanyeol.
Baekhyun meraba permukaan perutnya. Sejak awal ia tidak pernah berniat meninggalkan bayinya pada Chanyeol, semua kata-kata yang ia lontarkan hanyalah alat untuk melindungi dirinya sendiri agar terlihat kuat. Baekhyun merasa ia memang tidak pantas menjadi seorang ibu, tapi sampai kapan pun ia tidak akan pernah tega meninggalkan darah dagingnya begitu saja dan lari dari tanggung jawab.
Sekarang yang Baekhyun harus pastikan adalah satu hal. Apakah Chanyeol mencintainya atau tidak. Dengan begitu ia tidak akan berharap terlalu banyak dan membuat dirinya sendiri terluka.
-TO BE CONTINUED-
Hai halo hai halo!
Chapter 11 datang!
Masih ngambang ya? Hubungan Chanbaek gak jelas?
Sama kayak saya yang gak jelas. Sebenarnya bingung mau bikin chapter ini kayak gimana. Huft.
Dan sesuai request, kemarin ada yang minta, "Author, selipin moment Sehun sama Luhan dong."
Nah, udah saya selipin sedikit tuh. Kurang? Gak puas? Maaf.
Saya lagi sibuk-sibuknya kuliah, jadi mood masih suka jelek kalau udah nulis ff. Problem kampus kebawa sampai sini.
Dan buat yang tanya ini sampai chapter berapa? Saya gak bisa jawab akuratnya berapa, tapi saya berencana bikin ini gak sampai chapter 20, kalau bisa kurang dari itu.
Dan buat beberapa orang yang bilang ff saya plagiat, tolong dibaca di CHAPTER 1 saya sudah pernah bilang saya mengambil ide cerita dari seorang penulis novel online bernama "Prince" jadi sudah jelas kalau misalnya ada kesamaan cerita. Tapi saya tegaskan tidak sepenuhnya cerita ini mengikuti alur novel online tersebut. Saya merubah banyak bagian serta endingnya. –elus dada-
Sekian salam-salam dari saya, semoga kalian tetap tabah dan sabar nunggu chapter depan ya.
Have a nice day!~
