Disclaimer : EXO, f(x), TVXQ Yunho , SNSD Jessica dan Joelle Lu yang adalah aktris asal Taiwan adalah milik agensi mereka, diri mereka, dan orang tua mereka masing masing.
Genre : Romance/Friendship, Fantasy.
Rating : ARGH! M! M! M! M!
Warning : Shou-ai, Crack pair, typo dan OOC yang aku yakini pasti ada, Wolf!AU, umur yang dirubah untuk satu atau dua tahun.
Note : Pindah rating! Pada akhirnya pindah rating.
Wolf!AU ini benar benar apa yang ada dipikiranku setelah terkontaminasi Harry Potter, Twilight Saga, Teen Wolf, MV Wolf.
Yang ada di pikiranku adalah sebuah ketidakwarasan, kegilaan, tapi mungkin juga beberapa berlian kecil. Aku sudah terlalu tua untuk tidur di koridor sebuah sekolah, tapi aku baru saja melakukannya, aku agaknya tidak punya malu juga pikiran.
Aku tidak menentukan siapa yang mendominasi dalam sebuah Pair, walaupun aku juga seringnya menentukannya, tapi aku lebih suka membebaskan plot yang tiba tiba terpikir dan pembaca yang menentukannya. Bukankah akan menyenangkan kalau mereka bisa bertukar posisi?
Kalau Kai menghilang yang hilang adalah dua duanya, dia tidak bisa disentuh dan tidak juga dirasakan keberadaan kecuali oleh imprint-nya, untuk Alpha-nya dia jadi sangat samar, untuk teman sekoloni dia tidak terasa. Untuk menghilangkan orang memang harus disentuh, tapi dia bisa menghilangkan barang radius lima meter.
Kelainan darah Lay memang aku ambil dari apa yang benar beredar tentangnya, aku berencana untuk memasukan pernikahan Baekbeom juga, Haha.
Jessica itu Jung, Krystal itu Jung, Yunho itu juga, Joelle itu Lu, Han itu Lu, dan Sehun itu Oh, semua dari mereka bisa dibilang saudara. Sebenarnya ada terlalu banyak sepupu jauh di Serigala ini.
+Serigala+
Ini tidak bagus untuk Tao, dia menghela napas lagi. Kucing hitamnya di pangkuan bernama Apple dan Apple yang manis sedari tadi hanya tidur dipangkuan Tao.
"Menurutmu serigala kali ini siapa?" Tanya Chen.
"Tidak tahu."
"Ayolah, Tao."
Tao mendapat mimpi lagi, semua orang di koloni tahu kalau dapat meramal lewat mimpi adalah hal yang hanya Tao yang bisa, tapi kalau seperti ini anak itu bisa gila juga.
"Bulunya cokelat tua mendekati hitam, matanya abu abu, seperti warna perak yang terlalu tua."
"Kai?"
"Bisa jadi." Jawab Tao.
"Dimana anak itu?" Tanya Chen lagi.
"Masih tidur." Jawab Lay santai, tapi dia mulai merasakan Kai mulai bangun dan mencarinya, manis sekali.
Semua serigala yang sudah bangun memang sedang berkumpul dan dua serigala yang paling muda memang masih tidur.
"Kalian kenapa berkumpul seperti itu?" Tanya Kai, yang dibicarakan datang.
"Kau bilang tadi dia masih tidur." Kata Tao.
"Itu kan tadi." Jawab Lay.
Chen memperhatikan Kai dengan seksama, pelan pelan apa yang dia lihat jadi sewarna dengan darah. Bagaimana menghentikannya?
Lay mengalungkan kalung yang tadinya dia pake pada Kai dan warna darah yang Chen lihat menghilang. "Tadi itu apa?"
"Memangnya apa yang kau lihat?" Tanya Lu Han.
"Warna darah di sekitarnya."
"Tadi itu sesuatu yang juga kupelajari, mereka sedang melacak Kai." Kata Lay.
"Dengan darah?" Tanya Lu Han lagi.
"Ya. Jadi Kai, ada baiknya kalau kau tidak melepas kalung itu." Kata Lay lagi, dia menatap mana Kai yang coklat, warna matanya yang asli.
Kalung itu memang bukan kalung yang berbeda, hanya kalung yang dulu pernah Lay berikan pada Kai, kalung yang memunculkan sisi manusia Kai lagi. Kalung itu banyak membantu sebab Kai sebagai manusia tidak bisa dilacak seperti itu.
+Serigala+
Song Qian takut takut pada awalnya, tapi dia tetap meneteskan setetes darah Kai di cerminnya. Dan saat akhirnya Kai tidak bisa ditemukan, dia jadi sedikit lega.
Yunho menggerutu, "Bagaimana bisa dia menghilang?!"
"Kalau dia dasarnya manusia, dia bisa melakukannya." Jawab Song Qian.
"Dia bisa jadi manusia lagi selama ada yang bisa membuat jimat itu untuknya." Katanya lagi.
"Sial."
Song Qian merasakan sekali, bahwa jantung mati yang dipaksa berdetak itu berdetak lebih cepat, membuat Yunho sedikit kesakitan.
Tapi dia senang, setidaknya satu rencana Yunho tidak berjalan lancar.
+Serigala+
Kai sudah memikirkan ini beberapa lama, tapi entah akan mengganggu atau justru membantu kalau dia bicara.
"Alpha." Panggilnya.
Lu Han menoleh.
"Sepertinya aku tahu siapa yang melukaiku." Kata Kai.
"Jessica." Lu Han menggucapkan nama yang sama dengan yang Kai ucapkan, itu membuat Kai kaget.
Lu Han duduk di sofa dan Kai duduk dihadapannya, "Aku tidak meragukan hal itu karena aku juga tahu siapa saja sepupu Jung-ku dan Jessica memang anak yang seperti itu."
"Anak seperti apa maksudmu?"
"Patuh, patuh pada Jung Yunho."
"Aku tidak habis pikir, aku kenal dia dan adiknya sebagai orang baik baik padahal mereka bisa dibilang musuhmu."
"Bukan mereka yang musuhku, tapi Yunho. Jung memang sangat kekeluargaan, mereka pasti akan saling bantu dalam hal apapun."
"Lalu, kenapa rumah yang kudatangi bukan rumah Krystal yang biasa? Dia bilang dia tinggal dengan Yunho dan Jessica, tapi kenapa mereka justru tinggal di rumah itu?"
"Begini, kita tidak mungkin terang terangan bilang kalau kita serigala, kan. Mereka juga begitu dan tiap serigala punya cara masing masing untuk menutupi kalau dia serigala. Yang kau datangi kemarin itu barulah rumah mereka yang sebenarnya."
"Aku jadi berpikir kalau yang selama ini mereka tunjukan adalah bohong."
"Mungkin itu citra yang mereka buat sendiri, tapi bisa jadi itu benar benar mereka." Lu han berdiri, berjalan mendekati Kai dan mengacak rambutnya.
"Jangan terlalu banyak berpikir, aku bukan Alpha yang kuat, jadi kau harus bisa menyelamatkan diri sendiri."
"Baiklah."
+Serigala+
Suho menarik tangan Kris yang melingkar dipinggangnya, membawanya ke pipinya.
"Kenapa?"
"Tidak." Jawab Suho, dia tertawa kecil dan mulai menciumi telapak tangan Kris.
"Kau bisa tahu dimana aku berada, kau juga bisa membaca pikiranku, aku juga ingin seperti itu." Kata Suho, dia berbalik menghadap Kris.
"Aku ingin jadi ter-imprint denganmu sebagai serigala." Katanya, Kris menutup muka Suho dengan tangannya.
"Nanti." Karena Kris juga sudah mulai merasa kalau ada saatnya nanti Suho menjadi serigala.
Suho tersenyum manis dan memberinya kecupan kilat di bibir.
"Jangan tersenyum seperti itu, siapa yang kemarin marah marah hanya karena tidak dijadikan serigala?"
Suho memukul kepala Kris dan Kris mengaduh lalu tertawa, "Jangan bahas hal itu lagi!"
Kris masih tertawa, untuk saat ini ingin lebih menikmati lagi seorang Suho sebagai manusia, "Kalau kau serigala dan imprint-ku kau pasti tidak mau melakukan itu, rasa sakitnya sampai ke hati."
Suho menangkap kalau Kris sakit hati, "Maafkan aku." Katanya panik dan dia memeluk Kris.
"Lagipula kau harus sehebat Baekhyun kalau mau kujadikan serigala sekarang."
Suho melepas pelukannya tiba tiba, tidak suka dibandingkan dengan serigala lain, "Kau menyebalkan!" Dan dia pergi keluar kamar.
Kris dengan cepat mengejarnya, memeluk pinggangnya, dan menggendongnya seperti biasa. Itu membuat Suho sekali lagi merasa dia kelewat mungil kalau di samping serigala ini.
"Siapa yang bilang kau boleh pergi?" Dan Kris menyerang bibir Suho dengan ciumannya. Dia perlahan berjalan ke sofa dan sekali lagi merajai Suho di sana.
+Serigala+
"Haruskah?"
"Kurasa tidak, Alpha. Baekhyun sedang sibuk saat ini."
Xiumin sedang di dapur saat itu, sendirian dan tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Lu Han sejak awal.
"Baiklah, akan kutanyakan pada Suho."
Dan yang terakhir itu Kris, Xiumin sudah tidak terkejut lagi. Dia berbeda sekali dengan Chen ataupun serigala kebanyakan, dia selalu menuruti Alpha apapun perintahnya.
Xiumin mengulum garpunya dan mendengarkan.
"Kenapa?"
Tanya Chen
"Aku tidak mau lagi ada yang terluka."
"Kau ingin mengontrol semuanya?"
"Ya."
Mereka bertiga diam lagi, Xiumin bisa merasakan Beta sedang berpikir.
"Bukannya dengan kita berkumpul di Mansion akan memudahkan Yunho untuk menemukan kita?"
"Itu kalau mereka bisa menemukan tempat ini."
"Ada kemungkinan mereka bisa, menurutku."
"Mereka punya Song, kan, Alpha."
Kata kata Lay yang terakhir menyadarkan Lu Han, Lay dulu pernah bilang yang bisa mengalahkan sihir Song adalah sihir Song lagi dan itu berarti Song di kubu Yunho bisa mengalahkan Lay.
"Baiklah, untuk saat ini biar aku pikirkan lagi baiknya seperti apa."
Xiumin tetap diam dan pergi membawa sepiring kue dari dapur. Dia duduk di sofa sendirian saja.
"Kau sendirian saja?"
Xiumin membalikan badannya ke belakang dimana ada Lu Han disana. Rasanya mereka pernah begini juga dulu.
Kemudian Lu Han duduk di sebelahnya, "Kau jadi jauh lebih kurus dari waktu pertama bertemu."
"Itu jelas." Kata Xiumin, dia tahu Lu Han tidak begitu suka dengan dia yang terlalu kurus.
"Tapi kau jadi lebih kurus lagi."
TAKK
Lu Han mengaduh, Xiumin terlihat kesal, tentu saja dia tahu dia jadi makin kurus dan itu semua ada alasannya.
"Kau memukulku!?" Tanya Lu Han, dan apa yang dia lihat sudah bisa memberinya jawaban, di kening Xiumin juga ada luka berdarah sama sepertinya.
"Kau! Sudah dua kali kau melakukan ini padaku!"
"Biar saja! Serigala yang tidak memikirkan imprint-nya harus diberi pelajaran." Xiumin menjilat garpunya yang dikotori darah Lu Han sebelum menggunakannya untuk menyuap kuenya lagi.
"Memangnya kapan aku berhenti memikirkanmu?" Tanya Lu Han.
"Sejak kau mulai ketakutan sendiri tentang Jung Yunho." Jawab Xiumin, "Kau terlalu banyak memikirkannya, Han, aku tidak bisa tidak memikirkannya juga."
Lu Han diam, Xiumin kelewat benar.
"Dan kau banyak berubah."
"Ber-"
Xiumin meletakan jari telunjuknya di depan bibir, "Jangan menjawab, pikirkan saja."
Lu Han diam lagi. Iya, dia berubah, jadi makin penakut, jadi pendiam, juga kehilangan nafsu makannya dan Xiumin tidak bisa tidak mengikutinya.
"Maaf, Xiu, maaf."
Xiumin tersenyum dan berkata dengan sadisnya, "Aku tidak butuh maafmu, sungguh."
Dia menyuap kuenya lagi dan bersandar di sofa makin dekat dengan Lu Han, "Alpha itu akan diikuti Pack-nya kan? Aku cuma tidak mau Pack ini jadi tidak terartur sepertimu."
Tapi Xiumin sendiri harus tahu seberapa hormatnya Lu Han dulu pada Yunho, kalau sekarang ini mereka jadi musuh rasanya benar benar tidak mengenakan untuk Lu Han.
"Percaya saja kalau akhir dari semua ini adalah kedamaian, itu terdengar lebih baik dari menang dan kalah, kan?" Kata Xiumin.
"Ya, kau benar." Kata Lu Han, dia harus mulai belajar untuk tidak lari dari masalah.
"Oh ya, Min, kita sudah lama tidak pergi berdua."
Xiumin masih mengunyah kuenya, mulai terlintas di kepalanya bayangan tentang dia dan Lu Han pergi keluar berdua, "Kau mau kemana memang?"
Lu Han tertawa kecil, "Ke kamarku misalnya."
Dan Xiumin menangkap maksud lain, dia menatap wajah Lu Han dalam dalam, "Dasar mesum." Katanya, dia menyuap potongan kue terakhir sebelum mencium Lu Han.
Xiumin mungkin memang bukan serigala yang banyak bicara, juga bukan yang paling tahu banyak hal, tapi setidaknya dia peduli pada imprint-nya.
Lu Han menariknya menaiki tangga, meninggalkan seisi koloni dan piring kue Xiumin di bawah. Makin Lu Han menyentuhnya makin juga anak itu merasa bersalah dan Xiumin tahu itu.
"Kemana perginya kau yang egois?" Tanya Xiumin, menarik rambut Lu Han.
"Entah." Jawab Lu Han singkat, itu bukan jawaban yang dipikirkan masak masak menurut Xiumin, jadi Xiumin tidak bicara lagi dan mencium Lu Han lagi.
Tapi Lu Han telah jadi terlalu pengecut dibanding apapun, Xiumin sadar Alpha yang begini adalah Alpha yang mudah digulingkan Beta-nya, bersyukur saja Kris adalah Beta yang terlampau patuh.
Xiumin kesal, dia mendorong Lu Han ke ranjang, "Aku membencimu." Katanya, Lu Han jelas jelas kaget.
"Kau… Kau harusnya seekor Alpha, jangan bersikap seperti Omega begini. Kau kalah kalau dibanding Omega sendiri."
Lu Han menghela napas, tingkatannya sebagai Alpha sepertinya menurun, itulah alasan kenapa Lay dan Chen telihat lebih hebat darinya selama ini. Lu Han harus kembali pada dirinya, kembali menjadi Alpha yang seharusnya.
Lu Han mencium Xiumin lembut, mengelus punggung telanjangnya yang kelewat kurus. Keduanya sadar mereka sudah jarang sekali begini dan itu salah satu dari banyak hal yang harus Lu Han perbaiki, "Kau memberi waktu pada bunga untuk mekar, jadi kau juga harus memberiku waktu untuk kembali."
+Serigala+
Amber menggandakan diri, itu memang sesuatu yang hanya dia yang bisa, seorang dari dirinya ada di kantor, seorang lagi bersama Yunho, dan seorang lagi disini, pergi main mencari sepupu Chanyeol.
Yunho bilang melacak Lu Han melalui Sehun dan Jongin benar benar tidak akan berbuah apa apa, jadi Amber mencari sasaran yang satu lagi, Park Chanyeol. Yunho yakin dengan sangat bahwa anak ini adalah Beta dari Lu Han dan kalau sudah dapat Beta-nya, Alpha bukan serigala yang sulit dicari.
"Amber! Kau disini?"
"Ah, Luna. Ya, aku hanya jalan jalan saja."
"Oh, Begitu." Kata Luna, Amber mengikuti gadis itu dari belakang.
"Oh ya, Amber. Aku ingin kau bertemu sepupuku, seekor serigala juga, dia serigala yang menyenangkan."
Amber berpikir itu pasti Chanyeol, "Benarkah? Siapa namanya?"
"Dia Chanyeol." Kata Luna dan Bingo! Sesuai tebakan Amber.
"Chanyeol ini Amber, serigala yang kutemui di jalan. Amber ini Chanyeol, sepupuku."
"Aku menemukannya."
"Diterima."
Koloni Yunho adalah koloni bayangan, jelas tidak bisa di-telepati, tapi Amber bisa men-telepati dirinya sendiri yang bersama Yunho.
"Aku menemukannya."
"Bagus, cari tahu lagi tentangnya." Perintah Yunho.
Amber mengangguk.
Tapi dia tidak bisa merasakan siapa Alpha dari Chanyeol, dia Omega?
"Apa kita bertiga Omega?" Tanya Luna.
"Ya, aku Omega." Jawab Amber.
"Tentu, aku juga Omega." Chanyeol tersenyum, terlihat menyembunyikan sesuatu walau sangat samar, tapi Amber sudah menelanjangi beribu-ribu jenis tanggapan dari berbagai jenis manusia dan dia tahu Chanyeol menutupi sesuatu dengan baik.
"Oh, kau juga Omega?" Tanya Amber, berusaha membuat mukanya antusias secukupnya walaupun sebenarnya dia antusias ke ubun ubun. Apa yang Chanyeol ini sembunyikan.
"Dia menyembunyikan sesuatu."
"Kau bilang dia Beta Lu Han."
"Ya, seharusnya begitu." Jawab Yunho.
Amber meneliti Chanyeol lagi dalam diam. Apa yang dia cium, apa yang dia rasakan semuanya hampir membuatnya yakin kalau Chanyeol adalah Omega, tapi ada hal hal yang justru membuatnya tidak yakin.
Orang bilang Amber sebagai serigala memang punya firasat paling tajam, jugalah serigala paling peka dan dia peka pada hal semacam ini.
"Aku tidak merasakan kalau dia Beta." Kata Amber pada Yunho.
"Kau yakin?"
"Tidak seratus persen."
"Benarkah? Kalau begitu…" Yunho menarik seringainya. Amber juga, karena dia entah mengapa telah jadi terlalu antusias.
Ada kemungkinan dan kemungkinan itu lumayan besar kali ini, Chanyeol diblokir dari koloni Lu Han, tapi sekali lagi itu hanya kemungkinan.
"Apa Chanyeol menyenangkan, Amber?" Tanya Luna saat Chanyeol pergi meninggalkan mereka.
"Ya, dia…" Amber memandangi punggung Chanyeol dulu, "Menarik. Sangat menarik." Kemungkinan kalau dia diblokir koloninya yang entah koloni mana jugalah menarik, keingintahuan Amber telah naik ke ubun ubun, dia bisa menjerit.
+Serigala+
Dio pelan pelan mencoba membuka pintu dan pintu itu terbuka.
"Chanyeol? Sehun? Kalian di dalam?" Tanyanya, tapi lampu yang mati memberinya jawaban yang lain dengan apa yang dia harapkan.
"Aish, bukannya aku sudah bilang untuk mengunci pintu? Mereka itu pelupa atau bodoh sebenarnya?" Dio menyalakan lampu, setengah menggerutu karena dua serigala itu tidak menurutinya.
"Harusnya aku tidak kembali." Katanya kesal, dia melewati cermin dan malah teringat sesuatu.
Kau harus mencobanya saat di Seoul. Dio menaikan sebelah alisnya, dia akan mencobanya.
Dia menutup matanya, sedikit konsentrasi dengan bumbu imajinasi, dia akan jadi seorang perempuan. Dan Dio membuka matanya, dilihatnya sendiri garis rahangnya yang melembut, matanya, bibirnya, bahunya yang sempit bukan lagi masalah saat ini, dan terakhir dadanya.
Dia tertawa, teringat ibunya sedikit, dia jadi percaya pada orang yang bilang dia mirip ibunya, "Aku cukup seksi juga."
"Mencoba sesuatu yang baru, Kyunggie?"
Dio kenal suara itu. Dia berbalik dan belum sempat kembali ke bagaimana dia seharusnya.
"Harus kuakui, untuk seorang perempuan kau lebih dari seksi."
Dio biasanya marah, tapi dia hanya membiarkan mata hijau daunnya memandangi dalam dalam mata biru langit itu dari jauh. Ini adalah hal yang aneh, Dio justru membayangkan jika warna mata mereka dicampur warna apa yang akan tercipta.
Itu jelas Park Chanyeol yang bermata biru langit, siapa lagi serigala yang punya mata sewarna itu. Dio mengenalnya dari lama, sejak sangat lama, dan dia tidak suka bagaimana dirinya sendiri memandangi si Chanyeol itu, terlalu bernafsu! Juga terlalu banyak nafsu yang dia lihat, tapi dia tidak bisa menahannya!
Chanyeol berjalan mendekat pada Dio yang melawan rasa tertariknya, dia seperti anak anjing yang ketakutan dan Chanyeol terlihat ingin mengasarinya.
"Kau manis." Katanya, tangan Chanyeol yang lebar mulai menarik Dio ke pelukannya dengan paksa. Dio Kesal, tapi senang, dia geli. Dan dia tidak bisa tidak gemetaran karena menahan diri di pelukan Chanyeol, padahal hal yang paling mudah dilakukan adalah menerima.
"Kau mesum, Park. Tidak usah menciumku juga."
"Siapa yang bilang aku akan menciummu?" Tanya Chanyeol, Dio tidak bisa tidak malu sendiri.
Dia meronta dan itu benar benar menjelaskan bahwa anak ini malu. "Lepaskan aku!"
"Ya, tapi kalau kau memang ingin aku menciummu itu tidak masalah." Kata Chanyeol, masih membahas masalah cium mencium.
"Lepas!"
"Hei, Dio."
"Lepaskan aku, Park Chanyeol!"
"Dio!" Chanyeol hanya meninggikan suaranya sedikit, memberi tekanan pada nama Dio juga hanya sedikit, bukan diniatkan untuk membentak dan memang tidak membentak, tapi Dio berhenti karenanya.
"Biarkan aku menciummu sekali."
Dio diam, ingin menolak tapi tidak bisa.
"Sekali… saja."
Dio diam, Park Chanyeol terlihat lain dari Chanyeol yang biasa dan dia tidak bisa bilang tidak.
"Baiklah."
Segera setelah itu Dio mulai merasa Park Chanyeol tidak ada buruknya juga sebagai imprint.
+Serigala+
Kris duduk manis di sofa kali ini sampai Suho pulang dan saat Suho pulang yang pertama ditanyakan anak itu pada Kris adalah sesuatu yang seharusnya membuat sedikit sakit hati, "Apa yang kau lakukan di situ?"
Tapi Kris tidak sakit hati, dia mengerti Suho hanya terlalu heran dengan dia yang tiba tiba duduk diam begitu, "Aku menunggumu."
"Tapi tidak menciumku?" Tanya Suho.
Kris turun dari sofa dan mendekati Suho, mengecup bibirnya sekilas.
"Kurang."
Kris tersenyum dan mencium Suho lagi, seperti biasa dan menguapkan kesadaran.
"Oh ya, Suho." Panggil Kris, Suho masih bersandar di dada Kris sejak ciuman mereka berakhir.
"Apa?" Tanya Suho, dia duduk di atas Kris yang berbaring di sofa, jas dan dasinya ada di tangan Kris dan kemejanya kacau.
"Lu Han memberiku izin untuk membawamu ke mansion, kau mau pindah ke sana tidak?"
Suho senang, tapi juga merasa aneh, dia bahkan bukan anggota koloni.
"Kau inginnya aku bagaimana, Kris?"
Kris mulai menciumi bahu Suho, di tempat tempat yang berwarna merah pekat, bekas dihisap dengan kuat, "Aku ingin kau di sini saja bersamaku."
Dan saat Kris mulai menghisap lehernya, Suho tidak bisa tidak tergoda, "Kalau begitu aku di sini, bersamamu."
Tapi pilihan boleh jadi salah.
+TBC+
Aku mengurut ini dari bawah, dari jalan jalan kecil menuju Yunho dan dari serigala di luar koloni Lu, juga beberapa yang bisa disebut Omeganya. Jadi, bersabarlah karena tidak setiap imprint akan muncul tiap Chapter-nya, sabar juga karena seekor serigala putih lain belum saja tergigit.
