"Kau tidak bisakah melihatku?" ia memandang sedih pada perempuan di depannya yang ia cintai sejak setahun yang lalu.

Ia hanya mendapat sebuah lirik bahkan ketika status perempuan itu sudah menjadi istrinya, "Maaf, tapi ini terlalu mendadak untukku." Pahit kopi hitam bahkan tidak sebanding pahit perkataan yang istrinya lontarkan.

Ia tersenyum miring, "Ah! Aku tahu. Ternyata masih belum bisa." Ia duduk dengan terus melempar pandang pada istrinya yang tengah memandang hamparan tanah kosong.

Ia masih mengingat masa itu, hatinya bahkan terasa sangat sakit, jika ia akan tahu seperti itu mungkin ia tidak akan mencintai istrinya. Tapi kejadian itu sudah belasan tahun lalu, kini istrinya telah berubah, mungkin butuh belasan tahun tapi ia berhasil melewatinya.

"Tetsuo-kun apa yang sedang kau pikirkan? Bukankah tempat ini indah." Ia memang tidak pernah tahu motif apa di balik istrinya meminta untuk pindah ke Seireitei, beruntung Raja Heuco Mundo tidak begitu memusingkan tugasnya di kerajaan.

Dan ketika sudah benar-benar berada di Seireitei ia akhirnya mengerti semua yang telah di pikirkan istrinya, "Aku hanya berpikir aku mulai lelah."

Saigo ni Yume wo Miyou

.

.

.

Saigo ni Yume wo Miyou

Disclimer : Om Tite Kubo

Author : Hanna Hoshiko

Pairing : Ichigo K. Rukia K.

Rated : T

Genre : Angst/Hurt/Comfort/Romance/Family

.

.

.

Warning!

Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author

Cerita ini akan update setiap hari Rabu, jika ada keterlambatan harap menunggu karena itu berarti author sedang sibuk di RL.

Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.

.

.

.

Don't Like Don't Read

.

.

.

Mempersembahkan

Ia mematikan TV dan memilih untuk berdiam diri, "Haha ue kau baik-baik saja? Aku mulai khawatir." ia tersenyum tipis pada anak keduanya.

"Berbohong jika aku mengatakan aku baik-baik saja. Kau tahu aku tidak akan bisa berbohong padamu." Nao tersenyum padanya kemudian mendekat.

"Teruslah begitu Haha ue. Aku tidak ingin kau menanggung semuanya sendirian, aku jauh lebih kuat darimu." Ia tertawa pelan mendengar ocehan anaknya yang biasanya pendiam, tapi jika bersamanya Nao akan menjadi seorang yang manja.

"Hei! Apa yang sedang kalian berdua bicarakan tanpaku. Haha ue dan Otouto." Nao melengos ketika mengetahui kakaknya datang dan ikut bergabung bersama mereka.

Rukia tersenyum maklum, "Kenapa kalian manja sekali denganku. Apa jadinya kalian tanpaku nanti hm?" Mayu memasang wajah imutnya.

"Haha ue! Apa yang kau bicarakan? Kau akan selalu bersama kami." Kali ini Nao setuju dengan ucapan kakaknya.

Ia mengangguk membenarkan ucapan putrinya, "Ya. Aku akan selalu bersama dengan kalian." Tapi Nao membaca ada yang berbeda dari wajah ibunya ketika mengatakan itu. dan itu membuatnya gelisah.

.

.

.

Puing-puing

.

.

.

Ia menutup bukunya dengan menghela nafas kasar, "Apa ada yang aneh dengan penampilanku?" ia menatap sengit orang di depannya. Setidaknya ia ingin membaca buku di taman kota dengan tenang.

"Senang bisa bertemu lagi dengan anda Yang Mulia. Saya adik ipar Sora-sama, ayah Yuka. Anda ingat Yang Mulia?" Tetsuo tersenyum melihat wanita itu sepertinya mengingatnya.

"Oh! Maaf aku melupakanmu. Kau suami Orihime? Ya aku ingat. Bagaimana kepindahanmu juga tugas barumu Momohara-san?" pria itu kembali tersenyum melihat Rukia menatapnya.

"Saya hanya akan melakukan sebuah pengamatan pada bidang militer Seireitei. Itu hanya tugas biasa yang sering saya lakukan di negara lain, beruntung kami bisa membawa Yuka karena ia belum bersekolah." Ia meminum kopinya dengan tenang.

Rukia membenarkan kacamata bacanya, "Syukurlah kau menikmatinya. Bolehkan akau bertanya sesuatu kepadamu Momohara-san?" pria itu melihatnya kemudian mengangguk. "Ini sedikit aneh. Kau sudah menikah lima belas tahun lalu bukan?"

"Tentu. Apa yang membuat anda merasa aneh?"

"Anakmu." Jawaban singkat Rukia membuat Tetsuo membungkam mulutnya rapat.

Pria itu tertawa canggung, "Yuka? Saya merasa tidak ada yang aneh dengan hal tersebut Yang Mulia. Mungkin itu hanya perasaan anda saja."

"Perkiraanku umur Yuka empat sampai lima tahun, tapi pernikahan kalian lima belas tahun yang lalu. Itu aneh. Apa yang kalian selama sepuluh tahun terakhir itu?" Rukia tersenyum tanpa dosa, "Maaf aku menanyakan hal yang sensitif. Mungkin karena rasa penasaran."

"Ah! Memang ada yang aneh kenapa saya baru menyadarinya." Pria itu tertawa palsu membuatnya hanya bisa tersenyum miring menanggapinya.

.

.

.

Puing-puing

.

.

.

Kakinya terasa sakit akibat berlari menggunakan sepatu ber-heels, rambut panjangnya terlihat begitu berantakkan nafasnya pun tidak beraturan, ia menggengam erat tas tangannya. Matanya terlihat lega ketika melihat area pemakaman sudah tidak begitu jauh dari tempatnya berpijak.

Ia tersenyum lega melihat nisan ibunya, "Ha... ha... ha... Kaa-san maafkan aku." Ia jatuh terduduk di depan nisan ibunya.

"Bahkan aku hanya diam ketika bertemu lagi dengannya. Karena semua itu hanya masa lalu mereka, ucapan Renji bahkan tidak pernah aku perdulikan aku mencoba percaya padanya." Tangisan itu tidak terelakkan lagi.

Teriakan keputusasaan itu terdengar begitu memilukan, "Kaa-san, aku tidak ingin menyerah tapi aku tidak bisa. Ketika ia mulai bercerita tentang wanita itu bahkan terlihat begitu berbeda, benarkah Ichigo melepaskannya?" ia terlihat begitu frustasi.

"Wanita itu. haruskah melakukan itu bahkan ketika ia tahu aku dihadapan mereka, Kaa-san apa yang harus kulakukan?" tetes air mata itu jatuh pada tanah yang terlihat begitu kering.

Ia masih menangis, "Aku tidak bisa menangis di depannya. Aku tidak ingin ia khawatir. Terutama pada anak-anakku, mereka tidak pantas melihatku seperti ini." Ia memegang dadanya erat.

"Apa yang harus kulakukan. Masih bisakah aku percaya dengan Ichigo?" wanita yang terlihat kuat itu kini terlihat hancur.

Ia mencoba untuk berdiri mengusap pipinya yang basah, ia pulang dengan menahan tangis, "Ketika aku keluar dari sini. Aku akan menjadi Rukia seperti biasanya. Aku akan kembali lagi Kaa-san."

Langkah itu begitu pelan keluar dari balik pohon, wajahnya terlihat begitu hancur sama dengan wajah wanita yang ia ikuti tadi melihat bekas air mata yang masih timbul di tanah, "Haha ue." Gumamnya pelan. Air matanya belum berhenti turun, karena ikut berlari tatanan rambut panjang itu juga ikut berantakkan.

Tetes terakhir air matanya jatuh ke tanah, angin menghembuskan pelan rambutnya, "Hisana Kuchiki. Balasan apa yang akan kau berikan?" tangannya terangkat untuk menghapus jejak air mata dengan sorot mata yang berbeda.

.

.

.

Puing-Puing

.

.

.

ia menutup bukunya kasar beranjak dari duduknya dengan tergesah, "Apa yang terjadi Nao-kun?" gadis berambut merah muda yang selalu mengikutinya itu menatap dengan mata khawatir.

"Tidak terjadi apa-apa. Aku harus segera pergi." Ia mengemasi semua barangnya.

Gadis itu juga membereskan semua barang-baranya, "Kau aneh. Sebenarnya apa yang terjadi Nao-kun?" gadis itu bertanya dengan nada lembut agar ia mau menjawabnya.

"Kali ini kumohon padamu Hilda berhenti bertanya apapun. Ibuku mungkin dalam kondisi yang tidak baik. Aku harus pergi." Ia meninggalkan Hilda di perpustakaan itu sendirian tapi gadis itu tersenyum mengantar kepergiannya.

Matanya terus mengerling cemas ke arah jalanan kota, distrik di zaman seperti ini sudah tumbuh menyerupai sebuah kota besar apalagi distrik pertama. Ia tidak menemukan ibunya di mana pun, ia memilih untuk pulang mungkin saja ia bisa menemukan ibunya di rumah. Nao memparkirkan mobilnya di garasi, rumah tampak begitu sepi memang sudah hal wajar jika siang hari rumahnya tampak sepi.

"Haha ue?!" yang menyambutnya hanya para pelayan pribadi istana tidak ada kata hangat ibunya di sana.

Raut wajahnya terlihat sangat khawatir, "Apa Haha ue sudah pulang?" ia hanya bertanya asal kepada pelayan yang sedang lewat di depannya.

"Yang Mulia Ratu belum kembali. Ada yang anda inginkan Yang Mulia Pangeran?" ia hanya menggeleng pelan dan menyuruh pelayan itu untuk pergi.

Semakin lama menunggu ibunya untuk pulang begitu pula hatinya semakin menaruh curiga dengan situasi ini, "Apa kau mencariku Nao?" ia berdiri dan akhirnya ia tahu.

"Ya aku mencarimu Haha ue. Apa kau baik-baik saja?"

Ibunya mengangguk pelan dan tersenyum ceria, "Kau tahu aku akan selalu baik-baik saja." Dan ia juga sadar jika tidak ada yang baik-baik saja saat ini.

"Nao bisa kau bawa Haha ue pergi. Pergi dari sini, sejauh mungkin hingga aku dan Chichi ue tidak bisa menemukannya, pergilah dan bawa Haha ue. Aku akan mengurus sisanya. Pergi dan menghilanglah Nao." Ia mengingat pesan yang ia terima dari kakaknya tadi siang, "Ayo pergi Haha ue." Mendekap ibunya seerat mungkin dalam pelukannya.

.

.

.

Puing-Puing

.

.

.

Ia tersenyum mengingat kejadian tadi siang yang berlalu dengan begitu cepat, wajah itu dan rasa yang ia rasakan saat itu membuatnya lebih bersemangat padahal ia tahu perasaan tadi adalah sebuah kesalahan. Ia meminum kopinya, kursi goyangnya berayun pelan ia memejamkan mata, seiring menutupnya mata tersebut timbul sebuah perasaan bersalah, ia memilih untuk menghentikan aksi menutup matanya.

"Berhenti meminum kopi itu tidak baik untukmu. Kau berhasil menemui temanmu tadi?" tersenyum kecil menjadi jawabannya.

"Hentikan. Kau meminumnya lagi, buatlah sendiri Tetsuo-kun." Protes kecil ia layangkan untuk suaminya. "Kau tahu tadi aku menyakiti seseorang." Lanjutnya dengan suara parau.

Tetsuo menoleh pelan, "Siapa?"

"Kau mengenalnya. Penyelamatku, Nona Rukia." Gelas yang tergenggam erat di tangan suaminya terjatuh dan menjadi serpihan kaca seketika.

.

.

.

To be Continued

A/N :

Tinggal dua chapter lagi mungkin dari sini bakal terkuak semua sampai jumpa di chapter berikutnya karena tidak ada kata lagi yang mau saya sampaikan.

Reply Review

Azura Kuchiki : udah nikah tuh, Hilda tidak ada hubungannya. Tentu ada yang masih belum terungkap terima kasih udah mau review