Selamat membaca :D

.

.

.

Pagi ini pagi yang cerah di kota Magnolia, burung-burung bersahut-sahutan menyambut datangnya pagi. Angin berhembus dari timur ke barat membawa bau harum dan sejuk udara pagi.

Seorang pemuda pinkish tengah duduk termangu di balkon milik seorang gadis pirang. Matanya terkantuk-kantuk menandakan bahwa semalaman ia tidak tidur dengan nyenyak. Sesekali ia menggigil karena terpaan angin yang cukup dingin menembus tulang. Jaket hoodie yang ia kenakan tak mampu melindunginya dari dinginnya angin pagi. Kemudian ia tersadar bahwa hari kian terang, lantas ia terbangun.

"Ohayou Lucy.. semoga harimu menyenangkan, dan cepatlah kembali.." ucap Natsu.

Ya sudah 2 hari Lucy tak berada dirumah. Membuat Natsu sedikit gila karena rasa rindu bercampur rasa bersalahnya. Tepatnya besok ini Lucy pulang. Natsu mencoba menelepon Lucy dan mengiriminya pesan singkat. Namun teleponnya tak bisa tersambung dan pesan singkatnya pun tak dapat terkirim. Natsu semakin frustasi beberapa hari ini tak dapat menghubungi gadis pirang tersebut. Pikirannya semakin menjadi-jadi.

"Aaarrrggghhh.. sial !" gerutunya.

Akhirnya ia memutuskan untuk pulang. Jarak apartemennya dan apartemen Lucy lumayan jauh. Biasanya ia hanya berjalan kaki. Alhasil mobil yang ayahnya belikan untuknya tak pernah ia pakai. Mungkin terakhir ia memakainya sekitar 1 bulan yang lalu.

Setelah cukup lama berjalan menapaki trotoar, ia akhirnya sampai pada apartemen putih miliknya. Ia berjalan mendekati pintu rumahnya. Tangan kanannya merogoh kantung jaketnya mencari benda yang dimaksud. Kunci pintu.

Hari ini ia sama sekali tak bersemangat. Sangat tak bersemangat. Yang ia butuhkan adalah bertemu Lucy, menghapus semua kerinduan kepada gadis pirang tersebut. Ia masuk ke apartemennya dan segera membersihkan diri untuk berangkat ke kantornya. Walaupun ia sedang tak ingin berada di kantornya, mau tak mau ia harus berangkat. Apalagi ia sebagai Pemimpin perusahaan cabang Magnolia. Jujur saja ia tak mau pria tua- ayahnya terus-terusan mengomeli dirinya jika ketahuan tidak hadir.

Setelah beberapa menit ia membersihkan diri dan memakai pakaian yang seharusnya ia pakai, lantas ia mengambil sebuah gitar acoustic kepunyaannya untuk dibawa ke kantor.

Aneh memang.

Apa yang akan ia lakukan dengan gitar tersebut?

Menjualnya?

Mengamen di sepanjang jalan?

Atau ...

Entahlah..

Akhirnya iapun berangkat dengan berjalan kaki. Melewati trotoar di sepanjang tepian jalan sambil menikmati suasana di sekelilingnya. Yah suasana banyak orang yang lalulalang bersiap untuk memulai aktifitas masing-masing.

XXX

pukul 10 pagi.

"Si bos kenapa?" tanya seorang karyawan kepada seorang sekumpulan karyawan yang berkumpul di suatu meja.

Ya semua karyawan sangat bingung dengan tingkah Natsu yang membawa gitar ke kantor. Raut wajah pemuda pinkish itupun terlihat biasa. Antara lesu, sendu, datar, dan dingin. Beberapa orang yang menyapanya pun tak ia hiraukan. Ia tetap berjalan dengan santainya, kedua tangannya ia masukkan ke kantung celanannya dan matanya menatap lantai.

"Entahlah.." ujarnya.

"Si bos juga membawa sebuah gitar.. ada apa dengannya?"

"Apakah dia akan mengadakan konser?"

"Apa ia akan memakannya?" ucap pemuda gendut berambut hitam. Droy.

Semua orang memandang Droy dan menggeleng. Pasalnya mereka tau bahwa apa yang dipikirkan Droy hanya makanan. Natsu masuk ke ruangannya dengan diikuti tatapan bingung semua karyawannya.

tok..tok..

Suara mic yang diketuk terdengar melalui speaker kantor. Suara bariton seorang pemuda menggema di dalam kantor. Semua karyawannya terdiam dan mematung sambil bergantian menoleh kearah speaker dan ruangan Natsu.

"Ohayou minna..bagaimana kabar kalian.. yah beberapa hari ini adalah hari yang buruk untukku.."

"Kalian tau? pernah mendengar seseorang berkata bahwa menyanyi bisa membuat seseorang senang dan semangat?"

Semua orang masih mematung dengan posenya masing-masing.

Jangan-jangan si bos akan bernyanyi? pikir mereka.

ugh.. apakah suaranya bisa didengarkan?

aku tidak bisa membayangkan bagaimana saat si bos sedang bernyanyi.

pasti suaranya sangat mengerikan.

Begitulah batin mereka. Seumur-umur mereka yang bekerja disana tak pernah melihat atau mendengar bosnya itu bernyanyi. Bersikap ramah kepada karyawannya saja tidak pernah apalagi bernyanyi. Sahabat sekaligus rival abadinyapun juga berpikir begitu.

"Aku akan menyanyikan sebuah lagu untuk seseorang.."

Pasti untuk seorang gadis.

Tak mungkin untuk sesama pria, memangnya maho?

atau mungkin untuk ibunya?

Batin mereka.

Alunan nada suara gitar acoustic Natsu begitu enak di dengar. Semua karyawan masih mematung mendengar alunan musik yang dihasilkan bosnya itu. Antara rasa percaya dan tidak.

Kimi no utatta hana uta ga

Boku no hana uta to kasanatta

Yoku aru koto kamo shirenaikedo

Sore ga okashikute mata waratta

Natsu membayangkan saat-saat ia pertama kali bertemu dengan Lucy. Senyum tipis menghiasi bibirnya. Sambil terus menggenjreng gitarnya ia memandang jendela ruangannya yang menampakkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit. Semua karyawan di ruangan itu terpana mendengar suara merdu dari bos mereka.

Sonna sasai na guuzen mo

Totemo ureshikunaru n da yo

Datte kimi to boku wa dare yori mo

Tokubetsu datte omoitai n da

Natsu masih memutar memorynya saat Lucy mulai bekerja disana. Diam-diam Natsu mencuri pandang kearah gadis pirang itu. Dari rasa penasarannya, Natsu menguji dan terus menguji gadis itu. Ia hanya ingin melihat seberapa istimewanya gadis itu jika dihadapannya.

Toki doki fuan ni mo naru kara

Tsui mata sagashite shimau n da yo

Me ni mienai ito no youna

Futari o tsuyoku tsunagi au mono

Tatoe hoka no dare ga waratte mo

Boku wa tsuyoku shinjiteru kara

Ima mo zutto zutto negatte iru yo

Futari de iru mirai o

Natsu masih terus menyanyikan lagu tersebut. Ia merasakan bahwa lagu tersebut persis seperti dirinya.

Mae o muite aruite yuku yo

Hitori kiri janai kara

Itsu no hi ka kimi to hora unmei datta ne tte

Issho ni waraeru to ii na

Futari de aruku kaerimichi

Futo miageta ooki na sora

Chiisana bokura ga deaeta koto

Sore dake de suteki na koto da yo ne

Para karyawan semakin menikmati alunan lagu dan musik yang bosnya dendangkan. Tanpa mereka sadari mereka tengah memejamkan matanya menghayati lagu tersebut. Suara bosnya yang begitu lembut. Ini pertama kalinya mereka mendengarkan suara bosnya yang demikian bisa menenangkan hati. Natsu masih bernyanyi dan terus bernyanyi.

Nani genai kimi to no jikan mo

Atarimae no youna ashita mo

Kakegae nai mono nandatte

Kimi ga sou oshiete kuretanda

Donna ashita mo kimi ga ireba

Boku wa kitto susunde yukeru

Kimi to zutto zutto aruite yukou

Futari de iru mirai e

Ia akui, ia sungguh telah jatuh cinta dengan gadis pirang tersebut. Ia begitu merindukan senyumnya, tatapan matanya, kepribadiannya, dan manis bibirnya.

Mae o muku yuuki o kureru yo

Itsumo kimi no egao ga

Donna hi mo kitto bokura nara daijoubu tte

Issho ni waraeru to ii na

Konna boku demo tsuyoku nareru yo

Tada kimi ga soba ni iru dake de

Dakara kimi ga kujike sou na toki wa

Boku ga soba ni itai n da

Pikirannya melayang memikirkan gadis itu. Jika gadis itu berada di depannya sekarang, ia akan mengatakan kalau ia benar-benar mencintainya.

Tatoe hoka no dare ga waratte mo

Boku wa tsuyoku shinjiteru kara

Ima mo zutto zutto negatte iru yo

Futari de iru mirai o

Mae o muite aruite yuku yo

Hitori kiri janai kara

Itsu no hi ka kimi to hora unmei datta ne tte

Futari de warai nagara issho ni arukeru to iina

Lucy hanya Lucy yang membuatnya seperti itu.

Hanya Lucy yang bisa membuatnya berubah.

Hanya Lucy yang bisa merubah kehidupannya.

Hanya Lucy sosok gadis yang sungguh ia inginkan.

Dan hanya Lucy.. hanya Lucy saja..

Para karyawan masih mematung di tempatnya masing-masing. Mata mereka terpejam dengan seulas senyum menghiasi wajah mereka. Pikiran mereka masih melayang-layang karena mendengar lagu. Posisi mereka ada yang sedang duduk di kursi, berdiri dengan membawa dokumen, ada yang sedang membawa sebuah daging besar. Bahkan Gray, rival abadinya juga tengah mematung dengan mata terpejam dan senyum lebar yang tampak menjijikkan. Tak luput, Petugas kebersihan juga tengah berdiri dengan pose tersenyum dan memejamkan matanya sambil membawa sapu dan kain pel.

Sekilas sungguh mengerikan efek samping dari alunan lagu dan musik Natsu. Mungkin karena lagu tersebut mengandung dosis obat tidur yang membuat penggunannya merasa nyaman.

Natsu tersenyum, ia mengambil sebuah kotak beludru kecil dari dalam saku jasnya. Ia membuka kotak tersebut dan terpampanglah sebuah cincin emas putih dengan mata berlian yang berkilauan. Diusapnya pelan cincin itu lalu menciumnya. Lantas ia kembali memasukkannya kedalam saku jasnya. Kini semangatnya telah kembali walaupun belum sepenuhnya.

Natsu membalikkan badannya untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Betapa terkejutnya ia melihat ekspresi para karyawannya yang tengah berdiri, memejamkan mata, dan tersenyum lebar.

"Ada apa dengan mereka?" tanya Natsu.

"Apa karena aku bernyanyi? ah ternyata sangat berbahaya.. aku takakan bernyanyi lagi.." lanjutnya.

Ia mengambil sebuah mic kecil.

"SEMUANYA KEMBALI BEKERJA !"

Sontak teriakannya yang mengglegar membuat para karyawannya tersadar dan kemudian mereka kembali ketempat Mereka masing-masing dengan gelagapan. Ketras-kertas berterbangan di sekitar ruang para karyawan.

Yah kini Bos besarnya telah kembali semula.

XXX

Lucy melangkah menuju atas sebuah bukit dengan hamparan padang rumput. Ia telah menyelesaikan artikel tentang kegiatan keseharian para penduduk desa. Kabut menyelimuti, semakin naik udara di sekitar semakin terasa dingin. Lucy menyesal hanya memakai jaket tipis. Sebelumnya seorang anak kecil yang memberitahukannya bahwa ada bukit sekitar desa yang bisa melihat pemandangan matahari tenggelam.

Lucy melirik jam tangan mungil yang ia kenakan.

Pukul 5.30.

Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Matahari terlihat samar-samar dibalik kabut tipis itu. Sinar orange matahari membuat kabut-kabut tersebut terlihat indah. Ia melihat sebuah bangku kayu diatas bukit dan kemudian duduk diatasnya.

"Arggghhh.. dingin sekali.." ucapnya.

Hey, dia sudah lama sekali tak menikmati suasana seperti ini. Terakhir kalinya ia bersama Rogue menikmati indahnya pemandangan sore hari yang sangat memukau. Sejenak ia teringat kenangan akan mendiang kekasihnya itu.

"Lucyyyy ! suatu saat nanti aku akan mengajakmu menikmati pemandangan ini lagi, Bagaimana?"

Masih ingat jelas di benaknya. Suara Rogue, tatapan hangat Rogue, senyuman manis Rogue. Namun sekarang ia hanya sendirian. Sendirian duduk dibangku ini.

"Lucyyy.." suara seseorang dari kejauhan terdengar jelas olehnya.

Tunggu dulu !

Suara ini.. suara seseorang yang sangat dikenalnya.

Lantas ia menoleh kan kepalanya untuk melihat seseorang tersebut. Manik hazelnutnya membesar dan kelopak matanya melebar. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mengucek matanya untuk memastikan apakah benar apa yang dilihatnya. Kemudian ia memandang ke sosok pemuda itu. Pandangannya tidak salah.

Itu benar.

Sangat Jelas dan nyata.

Seorang pemuda berambut hitam dengan poni khasnya berjalan mendekati Lucy.

Rogue. Rogue Cheney.

"Rogue-kun.." ucapnya tak percaya.

"Hissashiburi ne Lucy.." Pemuda itu tersenyum kepadanya. Lucy yang masih tak percaya kemudian bangkit dan mendekati pemuda itu. Dilihatnya intens dari atas sampai kaki. Pemuda dengan tinggi 185cm, dengan jaket berwarna hitam dan celana panjang. Lucy menatapnya tak berkedip.

"Rogue-kun ! ini benar kau?!" Lucy memastikan kalau pemuda di depannya ini benar-benar nyata. Pemuda itu hanya tersenyum.

Lucy memeluk pemuda itu dengan erat. Ia begitu merindukan sosok pemuda itu. Sangat merindukannya. Ia tak sanggup lagi untuk berkata apapun. Lantas ia melepas pelukannya dan mendongakkan kepalanya untuk memandang pemuda itu.

Ditariknya kerah jaket Rogue untuk menunduk kearahnya. Wajah mereka dekat dan semakin dekat. Nafas hangat masing-masing cukup menggelitik bagian wajah mereka. Hingga akhirnya bibir mereka menyatu. Mulut Lucy terbuka dan mulai menghisap bibir bagian bawah pemuda itu. Awalnya sang pemuda itu terkejut dengan apa yang Lucy lakukan. Namun akhirnya ia pasrah dan kemudian mengikuti permainan bibir mereka. Lidah mereka saling berpangutan, Lucy merasakan manis dan hangat bibir pemuda itu. Ia mengarahkan tangannya ke belakang leher Rogue untuk memperdalam pangutan bibir mereka. Pada akhirnya tangan kekar Rogue merangkul pinggang ramping gadis pirang tersebut. Mereka memejamkan mata, mencoba menikmati setiap menit dan detik yang sedang berlangsung.

Sinar Matahari kian meredup, hingga akhirnya tenggelam dalam peraduannya. Kedua insan itu masih melakukan kegiatan mereka. Bibir mereka masih menyatu. Setelah dirasa cukup lama mereka melakukannya, Lucy mencoba melepas tautan bibir mereka. Matanya terbuka memperlihatkan manik hazel yang lembut dan hangat. Namun alangkah terkejutnya ia melihat pemuda di hadapannya.

"Sting !"

XXX

"Halusinasi adalah salah satu dari beberapa jenis kondisi yang sering terjadi bagi para pendaki. Salah satu hal yang menyebabkan berhalusinasi adalah karena kondisi yang ekstrim sehingga akan mempercayai apa yang di angan-angankan. Bila tubuh kedinginan, misalnya, bisa menyebabkan berkurangmya pasokan oksigen ke otot karena pembuluh darah mengerut. Akibatnya manusia bisa kehilangan kesadaran lalu berhalusinasi. Selain itu

kelelahan, tipisnya oksigen, atau dehidrasi juga berpotensi membuat siapapun berhalusinasi di ketinggian ekstrim tersebut. Para pendaki terkuat sekalipun. Seperti yang sedang kau alami sebelumnya.. mungkin kau sedang memikirkan seseroang hingga kau mengalami halusinasi Lucy." jelas Sting.

Lucy menundukkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya yang memerah. Bagaimana tidak, ternyata yang berciuman dengannya adalah Sting, bukan Rogue.

"G-gomen Sting.. memang aku sedang memikirkan sesuatu tentang Rogue.. " Sting melirik kearahnya.

"Sebelumnya aku sudah memperingatkanmu Lucy, jangan terlalu memikirkan sesuatu.."

"G-gomenasai.." ucap Lucy.

"Sudahlah Lucy.. tidak apa-apa.." ucap Sting.

Sting mencoba menyembunyikan perasaannya. Walaupun ia sangat senang gadis pirang itu merebut ciuman pertamanya.

"Lucy.. aku ingin berterus terang padamu, tapi aku harap kau tak kan marah dengan apa yang akan ku katakan."

Lucy mendongakkan kepalanya dan menatap Sting. "Baiklah.."

Sting tampak berpikir sejenak. " Aku menyukaimu.. aku yang mengirim bunga mawar setiap hari ke balkon kamarmu.."

Lucy terkejut ketika Sting berkata kalau ia menyukainya. Tapi gadis itu tak terkejut mendengar ucapan Sting tentang pengirim bunga tersebut.

Memang benar !

Sting mengiriminya bunga dengan inisial E, Eucliffe

Lucy tersenyum. "Sudah kuduga Sting.. itu kau." Sting tak kalah terkejutnya jika Lucy telah mengetahuinya.

"Tapi untuk perasaanmu.. aku tak tau aku harus menjawab apa." ujar Lucy.

"Kau tak perlu menjawab apa-apa Lucy.. tapi suatu hari nanti bisakah aku memilikimu?"

Mereka berdua terdiam sejenak. Hanya suara angin malam yang menerpa pepohonan dan membuatnya seakan-akan bergoyang. Sting melirik Lucy yang masih tertunduk. Ia merasa menyesal telah menanyakan hal seperti itu. Ia juga merasa tak enak hati kepada gadis disampingnya.

"Uh gomen gomen.. lupakan saja pertanyaanku tadi Lucy, ayo kita kembali ke desa. Kakek pasti khawatir dengan kita.." Sting mengalihkan pembicaraan mereka. Lucy menolehkan kepalanya dan tersenyum.

"Baiklah.."

XXX

"Akhirnya sampai juga.. yokatta ne.."

Lucy menyeret tasnya. Ia sudah terlalu lelah untuk menggendong tas tersebut setelah sekian lama perjalanan naik dan turun gunung dan menaiki bus kota untuk kembali pulang. Ya tepatnya hari ini ia telah selesai bertugas di desa pedalaman Fiore.

"Apakah perlu bantuan nona panci?" suara seorang pemuda mengejutkan Lucy. Kemudian ia membalikkan badannya. Terlihatlah seorang pemuda dengan jaket hoodie kesayangannya.

"Natsu !" pekik Lucy.

Jujur saja Lucy sungguh merindukan pemuda itu. Yang paling ia rindukan adalaha saat menangkisnya dengan raket andalannya. Frying Pan. Ingun sekali rasanya melompat kedalam pelukan pemuda itu. Namun ia tahan.

"Jangan memanggilku begitu jabrik ! apa kau ingin menerima pukulan indahku lagi?" Lucy mengancam.

"Ish.. kurang kerjaan saja.. "

Natsu mengambil tas Lucy dan kemudian menggendongnya. Lucy yang sudah berjalan duluan kemudian membuka kunci pintu tersebut.

"Haaaaahhh.. aku rindu apartemenku.." ucap Lucy sambil merenggangkan kedua tangannya.

"Duduklah dulu.. kau pasti kelelahan nona panci.."

CTTTTAAAAKK !

Sebuah jitakan maut sukses mendarat di padang rumput pink. Kepala Natsu. Lantas Natsu memegangi kepalanya dan meringis karena sakit akibat jitakan Lucy.

"Aaawwww.." Lucy tersenyum menyeringai.

"Aku akan membuatkanmu cokelat hangat, tunggu saja disini.." ucap Natsu sambil meninggalkan Lucy yang masih menatap kepergiannya dengan bingung.

Apakah dia bisa membuatnya? aku tak yakin jika itu enak.. batin Lucy.

Beberapa menit kemudian Natsu kembali keruang tamu dimana Lucy sedang merebahkan tubuh lelahnya. Tangannya membawa dua gelas cangkir berisi cairan pekat yang dinamakan cokelat dengan asap transparan keluar dari cairan tersebut. Aroma cokelat menggoda indera penciuman. Manis. Natsu meletakkan cangkir tersebut pada meja di depan Lucy, lantas ia duduk di sebelah gadis itu yang tengah bersandar di sandaran kursi.

Natsu melihat Lucy yang tengah kelelahan seusai bertugas, ia mengangkat kaki kanan Lucy dan meletakkan diatas pangkuannya. Lucy terkejut dengan apa yang Natsu lakukan padanya.

"Diamlah.. kau pasti lelah." ucap Natsu.

Natsu mulai memijit pelan kaki Lucy. Dari telapak kaki sampai bagian Lutut, ia tak berniat untuk memijat sampai paha Lucy. Karena jika ia melakukannya, bisa-bisa kepalanya itu beradu dengan jurus andalan Lucy.

Lucy memandangi Natsu.

Kenapa Natsu sebaik ini?

Mengapa Natsu melakukan untuknya?

Ya tentu saja jawabannya adalah karena pemuda itu mencintainya.

Lucy menggenggam erat tangannya sendiri. Seulas senyum tipis muncul dibibirnya.

Apakah Lucy mencintai pemuda ini?

Mungkin saja. Perasaan yang ia rasakan sungguh berbeda dari apa yang ia rasakan kepada Sting. Memang benar, Lucy tak menyangkal bahwa ia juga menyukai Sting. Karena kebaikannya, perhatiannya,dan juga sikap lembutnya yang menarik perhatian Lucy. Tapi Natsu berbeda. Walaupun pemuda itu sungguh menjengkelkan, mengganggunya, keras kepala, angkuh dan juga penuh kejutan. Jauh di dalam benak Lucy, pemuda pinkish tersebut sungguh menarik. Seperti dikatakan Lucy sebelumnya, sebenarnya Natsu seseorang yang baik dan penuh perhatian. Yah walaupun cara menyampaikannya sedikit bodoh.

Unik.

Dan menarik.

Dua kata yang bisa menggambarkan pemuda itu menurunya.

XXX

Lucy tengah membereskan ruang tamunya. Natsu sudah kembali ke apartemennya beberapa menit yang lalu. Tentu saja butuh usaha dan alasan yang kuat untuk 'mengusir' pemuda itu dari apartemennya. Dan akhirnya dengan terpaksa Pemuda pinkish itu pulang setelah diancam Lucy. Tentunya dengan 'Raket' andalannya.

tok..tok..tok..

Seseorang mengetuk pintu apartemennya saat Lucy hendak menuju kamarnya untuk beristirahat.

"Siapa malam-malam begini mengetuk pintu apartemenku? " Lucy melirik jam tangannya.

Pukul 11 malam.

Akhirnya ia membukakan pintu tersebut. Terlihatlah seorang wanita yang sedang menunduk mengenakan jaket hoodie yang menutupi kepalanya dan mengenakan dress panjang berwarna putih.

Jangan-jangan hantu? batin Lucy.

Wanita itu mendongakkan kepalanya. Lucy terbelalak melihat wanita di depannya itu. Sinar lampu yang menerangi bagian teras depan aparteman Lucy, memperlihatkan dengan jelas wajah gadis tersebut. Dari rambutnya, matanya serta tinggi tubuhnya.

"Kau..."

.

.

Bersambung..

.

.

Akhirnya chapter 11 ini selesai juga. Melalui pergulatan batin, pikiran dan pergulatan dengan keyboard yang cukup membuat keriting mata dan tangan. Mungkin alurnya kecepeten ya ? hehehe.. masih aneh juga fic ini.. maklum tudak ada yang sempurna di dunia ini.

Yoshhhh terimakaasih buat para readers yang masih setia baca fic aneh saya ini. Dan juga terimakasih buat yang sudah ninggalin jejak hehehe.. terimakasih sekali.. saya jadi sangat bersemangat menyelesaikan fic ini. Jujur saja sudah ada ide untuk fic selanjutnya yang ingin saya post di sini. :D

Baiklah saya mau membalas review dulu :3

# Guest-san : gomenasai guest-san T,T saya pikir 1 chapter saja udah cukup.. ternyata banyak banget yang harus dijabarin disini huhuhu... meleset dari perkiraan saya... tapi :D di chap ini sudah masuh moment nalunya.. selamat membaca... arigatooooo...

# Richan-san : arigato sudah membaca fic saya :D ya benar itu.. hehehe maklum aja ngetiknya nggak lewat leppy jadi agak kesleo dikit jempol tangannya hehehe.. yosh selamat membaca :D

# Anonim-san : kayaknya kamu suka yang bagian pancinya anonim-san hehehe..atau mungkin judulnya aku ganti aja jadi ' FRYING PAN IN LOVE' wkwkwkwkw... arigatoooo..

# Chriss-san : arigatou chris-san.. yosh sudah masuk di moment nalunya.. selamat membaca :D

# Luna-san : arigatou Luna-san :D chapter 11 up ! selamat membaca...

# RV-san : arigatooo sudah setia baca fic saya walaupun aneh dan gaje, soalnya pengarang amatir hehehe.. yosh sudah masuk moment nalunya.. selamat membaca..

# Mkhotim-san : aaarrrrrriiiiiggggaaaattttooouuu mkhotim-san yang sudah memborong review saya T,T saya jadi terharu.. terimakasih sekali sudah membaca fic saya hehehe... soalnya Lucy kalo di pairingin sama siapa aja cocok sekali :D tapi yang paling suka sama Natsu hehehe.. iya sih pas ngetiknya semangat banget Lucy sama Sting, nyampe nggak kepikiran buat misahin mereka berdua hehe... tapi nanti masih ada kejutan di chapter berikutnya.. ah jangan sampe m*t* huhuhu, nanti dikiranya saya terlalu kejam T,T... kasihan... cukup rogue saja :D arigatoooo gozaimasu..

.

yokatta ne, tapi saya berterimakasih untuk kritik dan sarannya.. saya jadi tambah semangat ngelanjutin chapter berikutnya..

Minna-san, jangan lupa tinggalin jejak.. semakin banyak review yang masuk, semakin cepet saya update next chapter hehehe...

Minna ! jaa... see u next chapter.. :D arigatooouuu...