BLACK
EXO Fanfiction
Warning: BL
Pairing: HunKai, Sehun X Kai (Kim Jongin)
Cast: Lay, Suho, Kris, Xiumin, Chen, others
Rating: T-M
Halo semua ini chapter sebelas selamat membaca, maaf atas segala kesalahan, happy reading all…,
Previous
Sehun berlutut di hadapan Jongin, mengangkat dagu Jongin menatap kedua bola mata Jongin yang tak fokus itu dengan sendu. "Katakan dengan jelas jika kau tak menginginkan aku Jongin, aku akan pergi dan kita tak akan bertemu lagi."
"Aku…," Jongin tak melanjutkan kalimatnya, ia tak sanggup mengatakannya, sementara air mata terus mengalir keluar dari kedua bola matanya. "Aku mencintaimu," bisik Jongin bersamaan dengan itu ia rasakan pelukan erat Sehun di tubuhnya, Jongin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sehun, meremas kuat kaos bagian belakang yang Sehun kenakan. "Aku mencintaimu Oh Sehun," bisik Jongin di sela isak tangisnya.
"Mulai sekarang hilangkan semua ketakutanmu Jongin, aku tidak akan pergi, aku janji," bisik Sehun. "Aku tidak akan pergi seperti Minho dan Taemin, atau orang lain yang pernah menyakitimu."
Sehun melepaskan pelukannya mengamati wajah Jongin lekat-lekat, mendekatkan wajahnya dengan Jongin, mengakhiri jarak yang tercipta di antara mereka. Jongin tak pernah berciuman sebelumnya, namun ia merasa nyaman saat Sehun melakukannya, tak ada ketergesaan dalam ciuman itu, Sehun merasakan dadanya penuh sesak dengan semua cinta yang ia rasakan untuk Jongin. Air mata Sehun tanpa sadar mengalir keluar.
Tidak ada yang terlihat, meski dirinya membuka atau memejamkan mata, namun saat Sehun memperdalam ciuman mereka, Jongin memejamkan kedua matanya. Sehun mengakhiri ciuman mereka, menatap lekat-lekat wajah Jongin, membersihkan sisa air mata di sana, kemudian mengecup pelan dahi Jongin. "Sudah cukup jangan membahas hal ini lagi, mengerti?" Jongin hanya mengangguk pelan. "Ada yang sakit?"
"Tidak."
"Kau pasti lapar, ayo makan kau belum menyentuh makananmu tadi."
"Hmmm." Sehun memegang kedua lengan Jongin, membantunya berdiri dan menuntunnya kembali ke kursi.
BAB SEBELAS
"Ayo!" Sehun berucap antusias sambil memegang lengan Jongin.
"Aku tidak ingin jalan-jalan Sehun."
"Kenapa? Tadi kau setuju."
"Malas, aku mau di rumah saja."
"Jongin…,"
"Sehun, aku mohon, aku sedang tidak ingin berjalan-jalan."
Sehun menekan kekecewaannya kemudian ia memilih untuk duduk di samping Jongin. Keduanya berada di kamar Jongin, Jongin sudah siap dengan mantel musim gugurnya tapi tiba-tiba saja ia membatalkan semuanya dan Sehun yakin ada sesuatu yang mengganggu Jongin. "Ada apa? Kau bisa bercerita apapun padaku." Sehun berucap pelan.
"Akan ada banyak anak-anak di sana."
"Bukankah kau suka dengan anak-anak? Di Sun kau berinteraksi dengan anak-anak, dan kau terlihat menikmatinya."
"Karena di sana anak-anaknya berbeda."
"Karena mereka sama denganmu? Jongin bukalah hatimu aku ada di sana untuk menjagamu."
Jongin menggeleng pelan. "Aku tidak ingin mendengar ejekan, meski itu dari mulut polos anak-anak, maaf Sehun." Sehun terdiam selama beberapa detik, mencerna setiap kata yang Jongin ucapkan. Perlahan ia sentuh lembut poni Jongin yang terlihat mulai panjang bahkan kini hampir menutupi seluruh alisnya.
"Baiklah, kalau kau tidak mau. Lepas mantelmu di dalam rumah sudah cukup hangat jangan sampai kau kepanasan."
Jongin mengangguk pelan. "Tapi aku masih mau bertemu dengan sahabat-sahabatmu."
"Benarkah?"
"Ya, aku mau bertemu dengan sahabat Sehun, aku memiliki firasat mereka adalah orang-orang baik." Sehun hanya tersenyum tipis mendengar kalimat Jongin, ia tahu Jongin tak bisa melihatnya. Perlahan tangan Sehun yang tadinya merapikan poni Jongin berpindah menyentuh kulit wajah Jongin yang terasa lembut di bawah ujung-ujung jarinya. "Sehun…," bisik Jongin.
"Aku ingin minta maaf lagi untuk semua hal yang telah Kris lakukan padamu."
"Sudah cukup, permintaan maaf dari Kris hyung itu sudah cukup. Kau tak perlu mengulang permintaan maaf lagi, bukannya kau benci dengan permintaan maaf yang tak beralasan."
"Itu beralasan."
Jongin menggeleng pelan. "Tidak, kau meminta maaf untuk orang lain, itu bukan kesalahanmu jadi semua itu tak beralasan." Jongin mendengar kekehan pelan Sehun. "Kenapa kau tertawa?"
"Kau benar-benar memerhatikan setiap kalimat yang aku ucapkan."
"Begitulah."
"Baiklah, lepas mantel tebalmu itu aku akan menghubungi Chen hyung dan bertanya kapan kita bisa bertemu dengan mereka."
"Hmm." Jongin menggumam setuju, Sehun mengecup pelan kening Jongin sebelum beranjak pergi meninggalkan kamar Jongin. Tak berapa lama Jongin mendengar suara derap langkah, yang pasti pemiliknya adalah Sehun. "Ada apa?!" Jongin langsung bertanya tak mampu menutupi kecemasannya.
"Mereka ingin bertemu denganmu sekarang, bagaimana?"
"Mereka terdengar tergesa-gesa," gumam Jongin.
"Begitulah, jadi bagaimana?"
"Baiklah, lagipula aku juga sudah bersiap-siap."
"Baguslah, aku juga sudah siap. Ayo pergi sekarang." Jongin mengangguk pelan namun saat Sehun berniat menggenggam tangannya Jongin menolak dengan sopan.
"Aku ingin membawa Monggu hari ini, dia butuh jalan-jalan sepertinya."
"Tentu, aku tunggu di luar sementara kau menyiapkan Monggu. Aku akan memberitahu salah satu sahabatku, Chen hyung jika kau bersedia untuk bertemu sekarang." Jongin tersenyum tulus mendengar kalimat Sehun.
"Monggu!" Jongin memanggil nama anjing penuntunnya, Monggu dengan cepat mendekati Jongin, sementara sang pemilik sudah siap dengan tali leher di kedua tangannya. "Ayo jalan-jalan," gumam Jongin lembut. Monggu menggeram pelan, jenis geraman yang akan keluar saat seekor anjing merasa bahagia. "Kau senang? Hari ini aku akan bertemu dengan sahabat-sahabat Sehun, semoga kami bisa berteman dengan baik." Monggu menyalak, membuat Jongin tertawa pelan dengan cekatan Jongin melingkarkan tali leher pada anjing penuntunnya, tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan hal itu karena Jongin sudah terbiasa tentunya. "Nah, ayo pergi sekarang."
"Hai, kau sudah siap?" Jongin mengangguk pelan mendengar pertanyaan dari Sehun.
"Mereka akan datang kesini dulu, kita akan berangkat bersama dari sini ke restoran langgananku. Kau setuju?"
"Ya, aku setuju Sehun."
"Sebaiknya kita duduk sekarang sambil menunggu, sepertinya mereka butuh waktu hingga setengah jam untuk datang ke sini, kantor sangat sibuk."
"Kenapa kau bisa mengambil libur jika sangat sibuk?"
"Kami mengambil libur bergantian." Balas Sehun sambil memeluk lengan kiri Jongin, membawanya menuju sofa ruang keluarga. Keduanya duduk berhimpitan, Monggu berbaring di atas karpet dengan tenang.
"Kalian sangat akrab."
"Ya, kami saling mengenal dalam waktu yang cukup lama. Mereka seperti keluargaku sendiri, ah, kurasa mereka bertiga bahkan lebih dekat dari keluargaku sendiri."
"Kau terdengar sangat kecewa dengan keluargamu Sehun, kurasa ini bukan hanya tentang Lay hyung kan? Kau menyimpan hal lain." Sehun tak menanggapi. "Aku tidak memaksamu untuk bicara jadi jangan merasa terbebani." Jongin mencari telapak tangan Sehun kemudian menggenggamnya lembut. "Kau bisa menyimpan untuk dirimu sendiri, jika itu yang kau anggap terbaik."
"Ayahku dan ayah Lay hyung adalah sahabat baik, tapi ayah Lay hyung justru berkhianat ia menjalin hubungan dengan ibuku saat ayahku terbaring koma, karena itu aku sangat terpukul."
"Saat kau menyukai Lay hyung, apa kau belum tahu soal itu?"
"Belum, sehari sebelum upacara pernikahan, ibuku mengatakan semuanya dan malam itu aku putuskan untuk meninggalkan rumah dan tak ingin tahu lagi apapun tentang ibuku, aku tidak peduli." Jongin terdiam, ia bisa merasakan amarah Sehun dalam setiap kata yang diucapkannya.
"Jangan marah lagi sekarang, amarah tak akan baik untuk kesehatan." Balas Jongin dengan nada bercanda, berhasil, ia berhasil mendengar tawa renyah Sehun.
.
.
.
Suara bel terdengar nyaring, Sehun langsung berdiri dari duduknya. "Sepertinya mereka sudah sampai!" pekiknya antusias. "Aku bukakan pintu untuk mereka." Jongin mengangguk pelan, mungkin Sehun tak melihat anggukannya karena dia sudah lebih dulu berlari keluar.
Jongin memainkan jari-jari tangannya karena tegang, ia mulai memikirkan berbagai hal buruk yang mungkin akan terjadi firasatnya benar-benar buruk sekarang, jika itu hanya hinaan mungkin dia akan baik-baik saja. Baiklah, tidak akan baik-baik saja karena dirinya akan terus memikirkan penghinaan itu selama dua atau tiga hari, tapi tak akan aada yang tersaikiti selain dirinya sendiri jadi Jongin berpikir jika firasat buruknya bukan tentang sahabat-sahabat Sehun. Dan Jongin benci mengakui jika selama ini firasatnya hampir selalu tepat.
"Jongin, mereka sudah ada di sini." Jongin menoleh ke arah Sehun, kemudian suara langkah-langkah kaki mulai terdengar semakin mendekat.
Chen, Xiumin, dan Kris, dengan tergopoh-gopoh berjalan menghampiri Jongin, ketiganya ditemani Sehun berdiri di hadapan Jongin saling sikut untuk menentukan siapa yang wajib membuka mulut terlebih dulu. "Ah!" suara berat Kris membuat Jongin terlonjak, bagaimana tidak berteriak jika tiba-tiba Xiumin memukul perutnya keras.
"Kenalan," bisik Xiumin atau lebih tepatnya memaksa.
"Halo Jongin, aku Kris kau pasti sudah tahu aku kan? Meski pertemuan pertama kita tak terlalu baik, aku harap kita bisa menjadi teman yang akrab di masa depan." Kris benar-benar merasa canggung sekarang, dan saat ia menoleh ke samping Chen, Xiumin, dan Sehun hanya melempar tatapan tak percaya, seorang Kris Wu bisa canggung dan bisa berbicara cukup panjang.
Wajah Kris langsung tertekuk masam, ketiga sahabatnya itu menyebalkan. Kris berjalan mendekati Jongin mengabaikan ketiga teman menyebalkannya, ia menyentuh tangan kanan Jongin mengajaknya berjabat tangan. "Halo Jongin, aku lebih tua darimu."
"Ah, halo Kris hyung senang bertemu denganmu lagi."
Kris terkekeh pelan, Jongin sedikit bingung juga mendengar kekehan Kris yang pada awal pertemuan mereka memberi kesan menakutkan. Ternyata Kris bisa terdengar lucu dan konyol juga.
"Giliranku!" Chen dengan rusuh mendorong Kris ke kiri menjauhi Jongin. Kris mendesis kesal, Chen tak peduli ia langsung menggenggam tangan kanan Jongin. "Aku Jongdae panggil saja Chen, aku suka bebek karet mari berteman baik Jongin. Ah ya, aku lebih tua darimu jadi panggil aku Oppa, ah salah! Panggil Hyung, maaf kau manis jadi—kupikir tak apa memanggilku Oppa."
"Chen hyung." Chen menoleh ke belakang, tatapan Sehun membuatnya merinding, jadi perlahan ia lepaskan tangan kanan Jongin yang masih berada dalam genggamannya dan berjalan mundur.
Giliran Xiumin, Jongin merasa Xiuminlah yang paling tenang dan paling dewasa di antara sahabat-sahabat Sehun yang lain. "Aku Minseok panggil saja Xiumin, ibuku orang China jadi aku punya dua nama, Korea dan China. Aku Hyungmu dan hyung yang lain juga, kecuali Kris."
"Kenapa?!" Protes Kris.
"Aku tidak mau jadi kakak Naga burik sepertimu!" Balas Xiumin.
Jongin tertawa mendengar kalimat lucu dari Xiumin juga pertengkarannya dengan Kris. Sahabat-sahabat Sehun ternyata sangat menyenangkan jika sudah kenal, sepertinya firasat buruknya kali ini salah.
"Baiklah, baiklah, karena acara saling memperkenalkan diri sudah selesai, sebaiknya kita bergegas ke restoran, aku mulai lapar." Terang Sehun sementara ketiga sahabatnya hanya menatap tak percaya. "Apa?!" Pekik Sehun, sebenarnya dia gugup juga dilempari tatapan seperti itu.
"Kau sangat menyayangi Jongin ternyata," bisik Xiumin di telinga kanan Sehun tentu setelah menarik pundak pemuda itu dan memintanya untuk sedikit mecondongkan tubuh.
"Hyung!" Sehun memperotes pelan, sementara Xiumin, Kris, dan Chen hanya tersenyum menggoda.
.
.
.
Restoran langganan Sehun adalah restoran khas Korea, menu masakan Korea memang kesukaan Sehun ia tak begitu suka dengan masakan luar negeri. Ia memesan khusus di lantai dua supaya Jongin merasa nyaman tak bersinggungan dengan banyak orang lain.
Mereka menggunakan dua mobil Jongin memilih bersama Sehun, meski ketiga sahabat Sehun baik dia masih canggung untuk bersama orang baru. "Masih belum nyaman dengan mereka bertiga?"
"Ya. Maafkan aku Sehun.
"Tak masalah, hal itu juga sering dialami oleh orang lain jangan merasa canggung lagi mengobrol santai saja dengan mereka, mereka sangat baik." Jongin mengangguk pelan mencoba mempercayai kalimat Sehun. Jongin merasakan mobil yang dikemudikan Sehun berhenti. "Kita sudah sampai, restorannya ada di seberang jalan kita akan menyeberang."
Jongin tak membalas kalimat Sehun, ia segera membuka sabuk pengaman yang dikenakannya tapi Jongin cukup pintar untuk tidak membuka pintu mobil. Bisa saja perbuatannya membahayakan orang lain karena ia tak bisa melihat siapa yang mendekati mobil dirinya berada di lingkungan yang ramai. Jongin menunggu Sehun untuk membukakan pintu.
"Ayo, semuanya sudah berjalan ke sini." Jongin menggerakkan tangan kanannya perlahan untuk menyentuh tangan Sehun yang pasti terulur untuknya, Jongin memang tak bisa melihat tangan itu namun entah mengapa ia merasa saja Sehun pasti mengulurkan tangannya.
"Ayo, aku sudah tidak sabar." Jongin tersenyum mendengar suara Xiumin, kehilangan salah satu indera membuat inderanya yang lain menjadi lebih peka, hanya dalam satu kali mendengar, Jongin ingat suara siapa yang ia dengar.
"Hyung tidak sabar untuk makan kan!" kali ini ledekan Chen yang terdengar berikutnya diiringi oleh suara pukulan dan pekikan Chen, lalu suara tawa Kris, dan decakan sebal Sehun.
"Jangan canggung lagi dengan mereka," bisik Sehun yang diangguki oleh Jongin, kelima orang itupun mulai berjalan beriringan. Sehun dan Jongin berjalan di depan, Sehun melepaskan tangan Jongin karena sudah ada Monggu yang menjadi petunjuk jalan, Jongin juga menyukai kemandirian. Dan Sehun hanya berusaha untuk membuat Jongin merasa nyaman.
.
.
.
"Ah jadi kau mengacuhkan aku karena orang seperti dia," Irene menggeram kesal di dalam mobil ia menahan amarah menyaksikan bagaimana Sehun sangat dekat dan perhatian pada seseorang yang menurut Irene sama sekali tak pantas untuk Sehun. "Dia buta, iya, dia buta aku yakin itu." Irene melihat anjing penuntun Jongin. "Baiklah, Oh Sehun kau akan menyesal telah menolakku."
Api cemburu membutakan Irene, saat dilihatnya Sehun menyeberang jalan bersama orang yang telah merebut hati Sehun. Irene menginjak pedal gas mobilnya menerobos lampu merah. Ia tak peduli dengan teriakan semua orang. Jika Sehun tak dapat ia miliki maka tak boleh ada orang lain yang bisa memiliki Sehun, begitulah pemikiran yang telah membuatakan Irene.
"Sial!" umpat Irene sebelum melaju pergi, karena apa yang ia inginkan tak terjadi ia tak menabrak orang yang mengambil Sehun darinya.
"Sehun…," Jongin benar-benar bingung dengan semua teriakan yang dia dengar sementara tubuhnya berada di dalam dekapan Sehun. Xiumin mengisyaratkan kepada Chen dan Kris untuk mengambil mobil mereka yang terparkir di seberang jalan. "Sehun ada apa?" Sehun masih tak membalas. Teriakan panik masih terdengar keras, kedua mata Sehun menatap Monggu yang tergeletak di atas jalan raya dengan darah menggenang. "Monggu," ucap Jongin panik, saat Sehun menariknya ke belakang tadi tali pengikat leher Monggu terlepas dari genggamannya. "Sehun," Jongin berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Sehun yang semakin erat. "Ada apa Sehun?"
"Tidak, tidak ada apa-apa Jongin."
"Jangan berbohong padaku."
"Tidak, tidak ada apa-apa, Sayang, tidak ada apa-apa."
BMW hitam milik Kris berhenti di hadapan Sehun dan Jongin, Xiumin keluar dari pintu penumpang belakang, ia langsung menggendong Monggu mengisyaratkan pada Sehun untuk mengikuti mobilnya. Sehun hanya mengangguk pelan. "Ayo Jongin." Ucap Sehun sambil melepas pelukannya dari Jongin dan menggenggam tangan kanan Jongin.
"Sehun tunggu! Monggu." Sehun bungkam, Jongin merasa ada sesuatu yang salah. "Sehun, apa yang terjadi?" Masih tak ada jawaban, diantara kepanikan dan ketidakberdayaan, Jongin membiarkan Sehun menuntunnya berjalan.
"Ada anjing yang tertabrak sepertinya parah! Semoga anjingnya baik-baik saja!" Sehun mengutuk dalam hati siapapun yang mengatakan kalimat itu keras-keras.
"Sehun apa yang terjadi? Apa Monggu tertabrak?"
"Sehun jawab aku?!" Jengkel diabaikan akhirnya Jongin berteriak.
"Kita akan menyusul Kris hyung dan yang lainnya." hanya itu jawaban yang Jongin dapatkan, dan sepertinya ia harus puas dengan jawaban itu.
Sehun menyetir dengan satu tangan sementara tangan kananannya ia gunakan untuk menggenggam telapak tangan Jongin yang terasa sangat dingin. Sehun melacak mobil Kris dengan GPS, mobil itu berhenti di depan klinik hewan. "Kita sampai." Bisik Sehun, ia keluar dari mobil dan membantu Jongin, Jongin tak membawa tongkat dan Monggu, Jongin tak bisa melakukan apa-apa sekarang.
Xiumin menyambut kedatangan keduanya dengan wajah muram, kemeja putihnya berlumuran darah. Sehun melihat Xiumin menggelengkan kepalanya pelan, Chen dan Kris menoleh menatap ke arah Sehun dan Jongin dengan tatapan penuh kesedihan. "Kami tunggu di luar," bisik Chen di telingan kanan Sehun.
Sehun merasa sangat bersalah, jika ia tidak mengajak Jongin untuk makan siang bersama ketiga sahabatnya, di restoran favoritnya, jika mereka tidak menyeberang jalan, semua hal buruk ini tak akan terjadi. "Jangan merasa bersalah Sehun." Kalimat Jongin mengejutkan Sehun, ia langsung berbalik dan menatap wajah kekasihnya yang sembab. "Aku—sudah merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, Monggu dia—dia tidak selamat kan?" Jongin bertanya dengan suara yang sangat pelan, dan disertai sedikit isakan.
Sehun tak menjawab yang bisa dilakukannya hanyalah memeluk Jongin dengan erat. Tidak ada kata yang bisa diucapkan untuk membuat semuanya menjadi lebih baik.
"Bisakah aku bertemu dengan Monggu?" Sehun belum menemukan suara untuk menjawab pertanyaan Jongin, yang ia lakukan hanya menuntun Jongin mendekati Monggu yang terbaring di atas meja pemeriksaan. Seorang dokter dan seorang perawat menatap iba. Sehun mengarahkan tangan kanan Jongin untuk menyentuh tubuh Monggu yang tak lagi bernyawa.
Monggu yang biasanya berisik dan hangat kini diam dan kaku, dada Jongin terasa terhimpit tapi ia tak ingin menyalahkan siapa-siapa dan bejanji pada dirinya sendiri untuk bersikap dewasa. "Hai Monggu, tidurmu nyenyak sekali, kau benci klinik kan? Aku juga benci klinik, baiklah, aku tahu, kita pulang sekarang."
Sehun mengamati wajah Jongin, ia tidak menangis, kedua tangannya terulur untuk mengangkat tubuh Monggu. Sehun mengeraskan rahangnya, ia ingat dengan jelas mobil dan nomor plat mobil itu milik siapa. Tangan kanan Sehun memegang lengan kiri Jongin. "Terimakasih semuanya," ucap Sehun dengan suara pelan pada dokter dan perawat yang berusaha menolong Monggu.
Keduanya berjalan pelan menyusuri lorong klinik yang sunyi, kepala Monggu diperban, warna merah tercetak dengan jelas pada perban itu. "Kami ikut." Ucap Kris. Sehun hanya mengangguk. Chen duduk bersama Jongin di dalam mobil Sehun. Sementara Xiumin bersama Kris.
"Kita pulang Jongin?" Sehun bertanya dengan suara pelan. Jongin hanya mengangguk, ia duduk di belakang dengan Monggu berada di pelukannya, Chen duduk di samping Jongin merangkul bahu pemuda berkulit kecoklatan itu.
Kediaman keluarga Kim sepi, orangtua Jongin pergi ke Jeju untuk merayakan ulangtahun pernikahan, Suho dan Lay belum kembali dari Bali padahal rencananya mereka akan pulang hari ini dan menginap di rumah menemani Jongin. Sebelum pergi orangtua Jongin menitipkan Jongin pada Sehun, tapi yang terjadi Sehun tak bisa menjaga Jongin dengan baik.
Chen membantu Jongin turun dari mobil, setelah menutup pagar, Sehun berlari menghampiri Jongin dan Chen. "Ada cangkul di gudang," Jongin berucap pelan.
"Biar aku yang mengambilnya." Balas Sehun sebelum berlari menuju gudang yang terletak di belakang rumah.
"Chen hyung kita ke belakang rumah, pohon Maple, di sana ada kuburan Jangah, anjing penuntun pertamaku, aku ingin menguburkan Monggu di samping Jangah."
"Baiklah Jongin." Bisik Chen.
Xiumin dan Kris hanya berdiri di dekat mobil Kris, Xiumin mengenakan jas dalam posisi terbalik untuk menutupi noda darah pada kemejanya. "Aku tidak tega," Kris berucap dengan nada bergetar, Xiumin menoleh dan melihat sahabat jangkungnya itu sedang menangis sesenggukan. Xiumin mengusap-ngusap punggung Kris perlahan. "Pergilah lihat anjing lucu itu untuk terakhir kalinya."
"Aku tidak akan tega," bisik Xiumin sambil menundukan kepalanya.
"Selajutnya apa? Mobil itu pergi begitu saja tidak bertanggungjawab."
"Kita akan membahasnya dengan Sehun dan Jongin jika keadaannya sudah lebih tenang." Kris hanya mengangguk menanggapi saran Xiumin.
Sehun menggali lubang yang cukup lebar dan cukup dalam di tempat yang Jongin inginkan. Kemudian Jongin sendiri yang meletakkan tubuh Monggu ke dalamnya, Jongin tak mengatakan apapun dan menyuruh Sehun menutupi lubang tempat Monggu beristirahat. Chen menyeka air mata yang lolos dari kedua matanya, ia tak tahan dan memilih pergi. Sehun duduk di samping Jongin setelah semuanya selesai.
"Apa, aku perlu memberitahu keluargamu tentang hal ini?" Sehun bertanya dengan suara pelan.
"Tidak, mereka akan cemas biarkan mereka menikmati liburan."
"Kau baik-baik saja?"
"Ya."
"Menangislah Jongin jangan ditahan." Jongin hanya tersenyum. Keheningan tercipta selama beberapa saat.
"Apa Kris hyung dan yang lain masih di sini?"
"Ya, mereka masih di sini." Sehun melirik Jongin, dia memang tidak menangis namun kesedihan tampak sangat jelas di wajah Jongin. "Jongin, aku pergi sebentar untuk memanggil Kris hyung dan yang lain, tak apa kan?"
"Hmm."
Setelah yakin Jongin baik-baik saja Sehun langsung berlari kencang menuju halaman depan. "Sehun!" pekik Chen yang diiringi tatapan penuh harap Xiumin dan Kris.
"Aku titip Jongin sebentar, kalian pesanlah makan siang, jika dia bertanya aku kemana katakan saja ada urusan yang harus aku selesaikan." Sehun berucap cepat kepada tiga sahabatnya, ia melangkah panjang-panjang menuju mobilnya. "Tolong bukakan pagarnya." Kris berlari setelah mendengar permintaan Sehun. Sementara Xiumin melempar tatapan curiga. "Tolong jaga Jongin sementara aku pergi," putus Sehun sebelum menutup pintu mobilnya.
"Apa yang sedang terjadi?" gumam Xiumin bingung ia menoleh ke kanan dan mendapati Chen tak lagi berada di sampingnya.
"Xiumin ganti kemejamu dengan kaosku ambil di mobil. Aku akan menyusul Chen dan Jongin, tolong pesan makan siang, apapun menunya asal ayam."
Xiumin diam mendengar perintah Kris, kepalanya masih berusaha menebak apa yang Sehun rencanakan. Bingung, ia putuskan untuk menyerah saja dan bersabar menunggu berita dari mulut Sehun langsung, Xiumin tak suka dengan ide Kris, kaos Kris akan terlalu besar untuk tubuhnya tapi ini demi kebaikan Jongin jadi ia kesampingkan keengganannya.
.
.
.
BRAK! Sehun membanting pintu rumahnya, atau lebih tepat rumah ayah tirinya. Ia melangkah cepat menuju ruang keluarga dimana jam-jam seperti ini semua orang sedang berkumpul. Beberapa pelayan menatap kedatangannya, menyambutnya, Sehun tak peduli.
Dugaan Sehun tepat, ibunya, ayah tirinya, Irene, bahkan Suho dan Lay sedang bercengkrama di ruang keluarganya dengan perapian menyala membuat suhu ruangan hangat dengan cara yang nyaman. "Sehun!" Irene memekik bahagia, bahkan berlari menghampiri Sehun dan memeluknya.
"Halo Sehun," ucap Lay lembut.
"Bagaimana kabar Jongin?" kali ini giliran Suho yang bertanya.
Semua orang langsung terdiam melihat tatapan dingin Sehun, termasuk Irene yang tiba-tiba melangkah mundur namun Sehun mencekal tangan kanan Irene. "Kau kan yang berniat menabrak Jongin di lampu merah tadi? Kau kan yang menabrak Monggu sampai dia tewas?"
Suho benar-benar terkejut dengan kalimat Sehun, ia ingin bertanya lebih banyak namun aura kemarahan Sehun seolah menekan semua kalimat yang ingin ia ucapkan. "Siapa yang menyuruhmu mendekatiku? Apa itu ibuku?" Irene mengangguk tanpa sadar. "Jangan menyentuh Jongin lagi." Ucap Sehun ia lepaskan tangan Irene kemudian menatap wajah ibunya dengan ekspresi datar dan dingin. "Jauhi Jongin, jauhi kehidupanku nyonya Zhang atau kalian semua akan menyesal, selama ini aku bermain aman karena aku masih memikirkan kebaikan semua orang, kau sudah cukup mengkhianatiku nyonya Zhang dengan menikahi ayah dari orang yang kucintai, Anda telah melanggar janji pada ayah kandungku, aku mengalah saat itu, sekarang jika Anda berani menyentuh Jongin lagi maka akan aku pastikan bahwa semua saham Tuan Zhang akan berganti nama menjadi namaku esok pagi, kau juga Irene aku bisa menendangmu ke jalanan bersama keluargamu. Kalian hanya mengenalku sebagai Sehun pemilik Aleksander kan? Kalian sama sekali tak tahu siapa aku sebenarnya, oh apa kalian selalu melewatkan sebutan Kris hyung padaku, aku brengsek kan? Seharusnya kalian perhatikan itu."
"Memangnya kau siapa?" Tuan Zhang berdiri dari duduknya, Sehun yang tadinya berniat pergi urung melakukannya mendengar tantangan itu. Sehun melangkah mendekat. Sehun hanya menyeringai mendengar pertanyaan Tuan Zhang. "Kau siapa?"
"Aku tidak mau mengatakan siapa diriku yang jelas jangan bermain-main denganku lagi, atau kalian semua tamat." Sehun bergegas keluar sebelum rasa marah mengambil kendali dan dia mengatakan semua hal yang seharusnya tak perlu dikatakan.
Sehun bersama ketiga sahabatnya bekerjasama menggabungkan semua kemampuan, kecerdasan dan materi, mulai bermain di pasar modal saat mereka masih belia hingga ketiganya dijuluki Saint namun tak ada orang yang tahu siapa Saint itu, Sehun, Chen, Xiumin, dan Kris memilih untuk merahasiakan identitas mereka membiarkan orang-orang membentuk opini masing-masing, ketiganya bersembunyi di balik kedok pengusaha muda sukses dengan Aleksander, sukses yang wajar. Padahal keempat pemuda itu telah menguasai seluruh sendi perekonomian di Korea di berbagi bidang, teknologi, transportasi, keuangan, kesehatan, hiburan, pertahanan, dan pendidikan. Dan Sehunlah pemilik saham terbesar di antara mereka.
Setelah semua yang ingin ia katakan selesai Sehun langsung keluar tanpa berpamitan atau apapun. Tangan kanannya meraih ponsel dari dalam saku belakang celananya. "Chen hyung."
"Oh Sehun! Kau sudah selesai dengan urusanmu?"
"Hmm…, bagaimana keadaan Jongin?"
"Dia baik-baik saja, kami sedang makan Kimbap untuk makan siang."
"Syukurlah, katakan padanya aku akan segera tiba."
"Baik akan aku sampaikan."
Sehun menghembuskan napas kasar, dadanya masih penuh sesak dengan berbagai amarah yang ingin ia lampiaskan. "Sehun!" Suara panggilan Suho terdengar jelas namun Sehun memilih untuk acuh. "Oh Sehun!" Suho berhasil menyusul Sehun dan menahan lengan kanan pemuda yang jauh lebih tinggi darinya itu.
"Apa?" Balas Sehun dingin sambil menarik lepas tangan Suho.
"Maaf, bagaimana keadaan Jongin saat ini?"
"Baik."
"Aku akan bergegas pulang."
"Terserah hyung." Melihat amarah di kedua mata Sehun, Suho memilih untuk tak banyak membuka mulut, saat Sehun berbalik dengan cepat dan melangkah pergi yang Suho lakukan hanya diam dan menatap punggung tegap Sehun.
.
.
.
"Sehun sudah kembali Jongin!" Sehun mengerutkan keningnya mendengar teriakan dari Chen.
"Dimana Jongin?"
"Dia lelah jadi pergi ke kamar, kami harus kembali ke kantor." Jawab Chen sambil menunjuk pintu kamar Jongin.
"Jongin sangat sedih, dia hanya berusaha kuat jadi temani dia." Sambung Kris sementara Xiumin hanya diam dengan tatapan sendu.
"Terimakasih banyak, kalian sudah ada untuk Jongin."
"Ini semua salah kami," akhirnya Xiumin berbicara.
"Tidak Hyung jangan bicara seperti itu, ini semua kesalahan si pengemudi gila itu!" geram Sehun. "Percayalah, Jongin tak menyalahkan siapa-siapa, dia juga tidak akan suka jika tahu Hyung merasa bersalah." Xiumin memaksakan senyuman di wajahnya.
"Baiklah, kami pergi dulu jika ada hal yang Jongin butuhkan dan kami bisa membantu jangan sungkan untuk mengatakannya Sehun." Sehun menganggukkan kepala kemudian memeluk ketiga sahabatnya satu persatu. Sehun mengantarkan ketiga sahabatnya hingga keluar pagar kemudian dia mengunci pintu pagar dan bergegas memasuki kamar Jongin.
"Jongin."
"Ah kau sudah kembali."
Sehun menutup perlahan pintu kamar Jongin, ia melihat kekasihnya itu sedang duduk di pinggir tempat tidur dan tak melakukan apa-apa. "Seharusnya kau tidur siang, kau mengatakan hal itu pada yang lainnya kan? Bukankah kau lelah?"
"Aku memang berniat untuk tidur siang hanya belum terlalu mengantuk saja, daripada aku berbaring lama dan tidak segera tertidur lebih baik aku bangun dan memikirkan sesuatu."
Sehun mengerutkan keningnya, kemudian berjalan mendekati Jongin dan duduk di samping Jongin. "Memikirkan sesuatu?"
"Hmm."
"Apa?"
"Aku juga tidak tahu," bisik Jongin. "Di dalam kepalaku hanya sangat bising, sampai-sampai aku sendiri tidak bisa menentukan apa yang aku pikirkan."
Sehun melingkarkan tangan kanannya pada pinggang Jongin, dan hal itu sempat membuat Jongin terkejut. "Aku membuatmu tidak nyaman?"
"Tidak—aku hanya terkejut saja. Suho dan Lay hyung seharusnya mereka sudah pulang ke Korea."
"Ya, mereka sudah sampai di Korea."
"Darimana kau tahu?"
"Aku pulang pergi ke rumah ayah tiriku tadi." Sehun menoleh menatap Jongin yang kebingungan. "Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan dengan keluargaku."
"Bisnis?"
"Ya, bisnis." Dusta Sehun.
"Kapan Suho dan Lay hyung ke sini?"
"Entahlah, kau ingin mereka segera datang? Aku bisa menghubungi Lay hyung dan meminta mereka untuk bergegas."
"Tidak perlu, aku yakin mereka ingin menghabiskan lebih banyak waktu berdua."
Sehun tidak langsung menjawab dia hanya mempertimbangkan pertanyaan yang sudah terbersit di kepalanya. "Kau ingin mencari anjing penuntun lain?"
"Entahlah, itu membutuhkan proses yang panjang aku tidak ingin melakukannya lagi, setelah Jangah dan Monggu."
"Aku akan menemanimu jika kau butuh mencari anjing penuntun baru." Jongin tak menjawab, seandainya Jongin bisa melihat betapa wajah Sehun dipenuhi dengan berbagai kesedihan dan penyesalan sekarang ini. "Maafkan aku, jika kita tidak pergi tadi Monggu pasti…,"
"Bukan salah siapa-siapa Sehun." Jongin memotong ucapan Sehun dengan cepat. "Tidak perlu menyesali sesuatu yang sudah terjadi, tidak akan mengubah apa-apa."
"Aku tetap meminta maaf atas semuanya." Bisik Sehun dengan pelan, ia hampir tak menemukan suaranya. Kehilangan hewan peliharaan kesayangan sudah cukup berat, ditambah Monggu bukan sekedar peliharaan kesayangan untuk Jongin.
"Terimakasih karena kau sudah menyelamatkan aku Sehun, jika saat itu kau tidak menarikku ke belakang mobil itu mungkin sudah menabrakku. Aku juga bersyukur kau dan sahabat-sahabatmu baik-baik saja."
Mendengar semua kalimat itu, sangat sulit bagi Sehun untuk tidak meneteskan air mata dan memeluk erat tubuh Jongin. "Jongin," bisik Sehun di sela pelukannya dengan Jongin. Seharusnya Jongin yang menangis karena kehilangan Monggu tapi kenyataannya terbalik, justru Sehun yang sesenggukan sekarang. Jongin hanya diam sambil mengusap pelan punggung Sehun berulang kali, menenangkannya.
"Sudah jangan menangis lagi."
Sehun menarik tubuhnya mengusap air mata yang mengalir mengeringkannya kemudian terkekeh pelan. "Ini pertama kalinya aku menangis di depan orang lain, tapi kalau dipikir-pikir aku sudah hampir tak menangis lagi."
"Tadi menangis sekarang sombong," gerutu Jongin. Sehun hanya tertawa pelan mendengar cibiran Jongin. Tangan kanan Jongin bergerak ke samping dan menyentuh lutut Sehun. "Sehun."
"Apa?" Pelan Sehun bertanya karena merasa ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan oleh Jongin.
"Tidak." Jongin menjawab cepat kemudian menarik tangannya dari lutut Sehun, Sehun menghentikan hal itu dengan menggenggam tangan kanan Jongin.
"Ada apa Jongin?"
"Tidak apa-apa. Lupakan saja, tiba-tiba saja aku lupa apa yang kuinginkan."
"Jongin…," nada peringatan itu membuat Jongin tak nyaman, kenapa Sehun selalu saja menuntut.
"Kau tak akan menyerah untuk memaksaku bicara kan?"
"Bukan seperti itu Jongin." Sehun membalas dengan perlahan mendengar ketidaknyamanan dalam nada suara Jongin. "Karena aku merasa ada sesuatu yang penting yang ingin kau bicarakan tapi kau menahannya, aku hanya ingin membuatmu percaya padaku, aku ingin menjadi seseorang yang penting dalam hidupmu dan kau merasa nyaman untuk berbagai semuanya denganku."
Jongin menarik napas dalam-dalam, ia merasa menyesal sudah marah dengan Sehun padahal laki-laki itu memiliki maksud yang tulus. "Aku—Sehun, aku…," Sehun dengan sabar menunggu Jongin menyelesaikan kalimatnya. "Aku ingin menyentuh wajahmu." Jongin melanjutkan kalimatnya dengan berbisik. "Aku ingin tahu seperti apa diri…," Jongin ingin melanjutkan namun kalimatnya terhenti saat tangan kanannya bergerak dengan cepat, tentu saja hal itu terjadi karena Sehun.
Di bawah permukaan kulit jari-jari tangan kanannya, Jongin merasakan bagaimana struktur wajah Sehun. Garis wajah yang tegas, bibir tipis, dagu lancip, hidung mancung, Jongin berpikir tentang betapa sempurnanya laki-laki di hadapannya ini. Sehun menutup kedua matanya, membiarkan Jongin menyentuh wajahnya sepuas mungkin, menikmati betapa hangat dan lembutnya jari-jari tangan Jongin.
Sehun membuka kedua matanya saat sentuhan jari-jari itu menghilang. Jongin menatap dengan kedua mata bulat tak fokusnya, mata itu nampak sembab. "Jongin…," Sehun berbisik lirih.
"Aku tak pernah mengeluh tapi—aku ingin melihat bagaimana wajahmu Sehun."
"Jangan membebani pikiranmu dengan hal tak penting seperti itu, aku tidak peduli meski kau bisa melihat atau tidak bisa melihat selamanya aku tidak peduli, aku hanya ingin melihatmu bahagia."
Sungguh Sehun tak tega melihat air mata itu mengalir dan membasahi kedua pipi Jongin. Meski berulang kali Sehun menghapus air mata Jongin dengan ibu jarinya, air mata itu tetap mengalir keluar. "Jongin," Sehun berbisik kemudian memeluk Jongin dengan erat berusaha menghentikan tangisan kekasihnya.
Jongin mencengkeram baju bagian belakang Sehun sementara wajahnya kini berada di ceruk leher Sehun, Sehun merasakan bahu dan ceruk lehernya yang basah dengan cepat oleh air mata Jongin. Tubuh Jongin bergetar dan suara isakannya terdengar jelas. "Sudah jangan menangis lagi Jongin, jangan menangis lagi, aku juga tidak akan pernah menangis lagi, mari tersenyum bersama." Sehun berucap pelan.
TBC
Terimakasih untuk para pembaca sekalin yang sudah bersedia membaca cerita aneh saya, jika ada pertanyaan silakan PM saya promo-promo, terimakasih untuk raisa, Maya han, Enchris.727, Grey378, Kim Jonghee, kikirizky, ariska, youngimongi, Guest, HK, Kkamjongina88, cute, cute, kim atun, alv, 1234, Oh Titan, sejin kimkai, Kayobimikkirou, Vioolyt, kaerinkartika, laxyvords, Wiwitdyas1, jonginisa, KaiNieris, vipbigbang74, VampireDPS, milkylove0000170000, dhantieee, Ovieee, geash, utsukushii02, vivikim406, Xinger XXI, troalle, nandaXLSK9094, ucinaze, Park Jitta, ohKim9488, Kamong Jjong, Yessi94esy, Fyuhana, jjong86 atas review kalian. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
