TRIANGLE LOVE
Disclaimer:
Vocaloid bukan milik saya! Tapi fanfiction ini milik saya!
Rating: Teen
Genre: Romance, Friendship, Hurt/Comfort, School Life
Summary:
"Cinta itu tak berdasarkan apa pun, bukan?"
Author: Halo! Saya kembali!
Rin: Wah, si Author absen dua hari?
Len: Tumben. Biasanya sehari dua chapter malahan.
Author: Berhubung cerita yang saya buat bertambah...
Rin: Dan juga nggak begitu ada ide...
Len: Dan review nggak begitu banyak...
Author: Gitu, deh ._.
Rin: Menderita banget, sih, author ini. Jadi kasihan.
Len: Iyaa...
Author: Nyeh. Kasihan apa menghina =.=
Rin: Nggak penting! Ayo, kita mulai!
Len's POV
Aku sekarang cuma bisa diam. Walaupun jantungku berdetak keras, aku tak bisa melakukan apa-apa. Apa yang harus kulakukan? Di mana Rin? Aku harus cari kemana?
"Dia tadi berjalan ke arah yang berlawanan dari pintu gerbang," ujar Miku tiba-tiba.
Aku menengok dan mendapati Miku ada di belakangku. Kenapa Miku ada di sini?
"Oke. Makasih!" jawabku tanpa memedulikan pertanyaan yang ada di kepalaku. Bisa kutanyakan nanti atau besok, kan?
Aku berlari ke... um... um... Tempat atas itu! Aku rasa Rin sudah menjelaskan pada kalian tempat apa itu? Kadang aku suka ke sana bersama Rin.
DRAP DRAP DRAP
Aku menaiki tangga dengan terburu-buru. Di sana aku melihat sosok seorang gadis berambut honey blonde dan bermata biru azure yang aku sangat yakin bahwa ia adalah Rin, adik kembarku. Eh, tunggu! Dia sedang bersama siapa? Ri-Rinto? Aku tak berani berjalan mendekat. Maka aku hanya bersembunyi di balik tembok.
Rin's POV
Ada apa Rinto-kun mengajakku ke sini? Memangnya dia mau bicara apa? Karena penasaran, maka aku bertanya padanya.
"Rinto-kun, mau bicara apa?" tanyaku.
Rinto-kun tampak memandangku dengan gugup. Kemudian ia mengatur napasnya yang menggebu-gebu entah kenapa. Ia memalingkan wajahnya yang merah, membuatku tambah bingung.
"Rinto-kun?" Aku mengikuti arah pandangnya.
Kemudian Rinto-kun menoleh ke arahku. Setelah itu ia mengucapkan beberapa patah kata dengan setengah berteriak.
"Rin-chan... Aku suka padamu! Maukah kau jadi pacarku?"
Beberapa patah kata yang membuatku shock.
Normal POV
"Rin-chan... Aku suka padamu! Maukah kau jadi pacarku?" Rinto mengucapkan beberapa patah kata dengan agak keras.
Rin menatapnya dengan pandangan kaget dan tak percaya. Sedangkan Len yang menguping sejak tadi juga tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Mereka diam untuk beberapa saat. Kemudian Rin mengeluarkan suaranya.
"Ma-Maaf..." Rin menunduk dan berkata dengan pelan.
"Rin-chan?" bisik Rinto.
Rin mengangkat wajahnya untuk menatap Rinto. Kemudian ia berbicara dengan pelan tapi tegas.
"Maaf. Aku tak bisa jadian dengan Rinto-kun. Karena... sudah ada orang yang kusukai," ujar Rin.
Rinto menatap Rin dengan pandangan tidak percaya sedangkan Rin hanya menatapnya dengan tenang.
Len masih bersembunyi di balik tembok. Sementara jantungnya berdegup keras mendengar jawaban Rin yang sangat aneh baginya itu.
Rin... ternyata menyukai... seseorang? Len berpikir dalam hati sementara jantungnya masih berdegup keras. Hatinya sakit sekali mendengar kenyataan itu. Kenapa adiknya tak pernah memberi tahunya bahwa ia telah menyukai seseorang? Padahal mereka begitu dekat...
"Ti-Tidak bisa!" seru Rinto tiba-tiba dengan wajahnya yang merah. Ia setengah berteriak karena marah.
"Eh...?" Rin bingung.
Rinto menarik tangan Rin dan menggenggamnya dengan erat.
"Aduh! Lepaskan! Sakit, Rinto-kun!" seru Rin sambil sedikit meronta.
Rinto menatap Rin dengan tajam. Kemudian ia mendekatkan wajahnya pada wajah Rin. Rin mundur ketakutan.
"Aku... suka padamu sejak lama, Rin-chan."
Rin's POV
Wajah Rinto-kun sekarang dekat sekali dengan wajahku. Sedangkan ia menggenggam erat tanganku. Aku takut dan mundur beberapa langkah. Tapi aku terus mundur dan akhirnya bersender di tembok. Sementara Rinto-kun masih tetap mendekatkan wajahnya padaku.
Aku... harus bagaimana?
Aku menutup mata. Mataku mengeluarkan sebutir air mata. Tak lama setelah itu aku mendengar sebuah teriakan.
"Jangan sentuh Rin, Rinto!" teriak sebuah suara yang familiar di telingaku. Ketika aku membuka mataku, aku melihat Len sedang berlari ke arah kami dan refleks ia langsung memberikan 'hadiah' pada Rinto-kun, yaitu kepalan tinju.
Rinto-kun terlempar sedangkan Len berlari ke arahku. Spontan Len langsung menarikku ke dalam pelukannya sehingga wajahku merona.
"Tidak ada orang yang boleh menyentuh Rin! Camkan itu!" teriaknya. Aku dapat mendengar detak jantung Len dengan jelas. Wajahku jadi semakin merah.
Rinto-kun berdiri dan menatap Len dengan sinis.
"Apa maksudmu? Kau suka pada adikmu sendiri?" teriaknya kesal.
DEG!
Aku merasa jantung Len berhenti berdetak untuk sejenak. Sedangkan jantungku berdegup kencang.
"A-Apa! Jangan ngomong yang aneh-aneh! Aku tak akan memaafkan orang yang melukai Rin!" teriak Len dengan wajah yang memerah. Ia cemberut.
Rinto-kun membersihkan bajunya dari kotoran yang menempel. Kemudian dengan angkuh ia membelakangi kami dan berjalan pergi.
"Sesukamulah," katanya sebelum pergi.
Setelah itu keadaan menjadi sunyi. Perlahan-lahan Len melepas pelukannya dan menatapku. Kemudian ia tersenyum. Senyum yang sangat kusukai. Karena hanya senyuman inilah yang dapat membuat perasaanku hangat.
"Rin... daijoubu?" tanyanya ramah sambil tersenyum.
Mataku mengeluarkan air mata lagi. Tadinya ingin sekali kubendung air mata ini. Tapi rupanya aku sudah tak sanggup membendungnya lagi. Aku terisak. Lama-lama nangisku makin menjadi-jadi.
Len menatapku dengan pandangan khawatir.
"R-Rin... Daijoubu?" Len mengulang pertanyaannya lagi.
Aku tak sanggup menjawab. Yang dapat kulakukan hanyalah menangis. Len hanya menghela napas lalu menarikku ke dalam pelukannya lagi. Kemudian ia tersenyum.
Aku terus menangis sambil mengeluarkan sebuah kata.
"G-Gomenasai..."
Len mengelus rambutku dengan lembut. Kemudian aku mendengarnya bicara.
"Hai. Daijoubu. Aku tidak apa-apa. Jadi jangan nangis lagi," katanya. Ia melepaskan pelukannya. Kemudian Len membuatku menatapnya. Aku menghapus air mataku sebisa mungkin.
Len mengerutkan keningnya. Lalu dengan santai ia menghapus air mataku dengan ibu jarinya.
"Nah, kita pulang, ya." Len tersenyum ke arahku.
Aku mengatur napasku. Setelah mantap, aku mengangguk dan tersenyum.
Len menggenggam tanganku lalu mengajakku untuk pulang. Wajahku sedikit merah karenanya.
Rinto's POV
Ugh... Len sialan! Kenapa dia bisa muncul pada saat seperti ini, sih? Kenapa Rin-chan menolakku? Aku kurang apa, sih? Siapa cowok yang disukai Rin-chan? Akan kubunuh dia!
"Tadaima!" seruku ketika sampai di rumah. Aku melepas sepatu dan menaruhnya ke rak sepatu dengan kasar. Setelah itu aku membanting tasku ke meja dengan kasar pula. Terakhir aku membanting badanku ke sofa.
"Lenka!" Aku berteriak memanggil adik kembarku.
"Ri-Rinto?" Aku mendengar suara adik kembarku. Kemudian aku melihat ia dengan celemek datang ke ruang tamu, tempatku duduk sekarang.
"Lenka, kau sedang masak?" tanyaku dengan nada masam.
Lenka mengangguk. "Mau jus jeruk?" tawarnya.
Aku hanya mengangguk pelan. Aku membutuhkan sesuatu yang dingin untuk menenangkan pikiranku. Tak lama kemudian aku melihat Lenka datang ke ruang tamu dengan membawa baki penuh es krim jeruk dan jus jeruk dingin. Ia sudah tidak memakai celemek lagi.
"Arigatou, Lenka," kataku. Aku mulai menyantap es krim jerukku.
Lenka hanya mengangguk lalu duduk di sampingku.
"Nggak makan, Lenka?" tanyaku sambil melirik ke arah adikku.
Lenka hanya menggeleng dan tersenyum. Anak ini nggak bisa ngomong, ya?
"Nggak lapar?" tanyaku lagi.
Lenka kembali menggeleng. Tapi kali ini ia tidak tersenyum.
"Lenka ngomong sesuatu, dong!" seruku kesal.
Lenka kaget.
"G-Gomen," katanya pelan sambil menunduk.
Aku hanya menghela napas. Lalu dengan lembut aku mengelus rambut adikku itu.
"Maaf aku membuatmu takut. Aku sedang emosi saja," ujarku yang kemudian kembali menyantap es krim jeruk.
Lenka mengangkat kepalanya dan melihat ke arahku. "Emosi kenapa?" tanyanya pelan.
Aku berhenti melahap es krimku kemudian menatap Lenka. Lenka terlihat antusias.
"Gara-gara Kagamine Len." Aku menjawab dengan tidak peduli dan kembali melahap es krimku lagi.
"L-Len-kun? Ada apa dengannya? Kau tidak bertengkar dengannya lagi, kan?" teriak Lenka. Aku tersedak lalu menatapnya sambil cemberut.
"Tentu saja tidak! Tapi ia menggangguku! Aku sedang menyatakan perasaanku pada Rin-chan dan ia menggangguku!" Aku mendengus dan melanjutkan makan es krimku. Aku tidak sadar Lenka memerhatikanku dengan wajah tidak percaya.
Lenka's POV
"Tentu saja tidak! Tapi ia menggangguku! Aku sedang menyatakan perasaanku pada Rin-chan dan ia menggangguku!" Rinto mendengus dan melanjutkan makan es krimnya. Rupanya ia tak sadar bahwa aku melihatnya dengan pandangan wajah tidak percaya.
DEG!
Hatiku menjadi beku seketika. Aku tak merasakan lagi darah mengalir dari tubuhku. Aku tak merasakan apa-apa lagi saat itu. Tubuhku jadi sulit digerakkan. Ada apa ini? Tentu saja semua itu tidak nyata. Ini hanya karena aku terlalu shock mendengar apa yang Rinto bilang padaku. Apa Rin-chan... menerima Rinto?
"A-Apa..." Aku bertanya dengan tergagap. Wajahku berubah menjadi pucat seketika. Rinto berhenti makan es krimnya dan menatapku lagi.
"Kenapa, Lenka? Aku menyatakan perasaanku pada Rin-chan. Kenapa wajahmu pucat?" tanya kakak kembarku.
DEG!
Justru itulah yang membuatku seperti ini! Aku shock berat. Bagaimana kalau Rin-chan menerimanya?
"Ng-Nggak apa. Aku tidak apa-apa," jawabku dengan gugup sambil menundukkan kepalaku. Rinto masih menatapku dengan bingung.
Ternyata benar. Kakak kembarku menyukai Rin-chan. Aku tak bisa mengubah itu. Aku tak bisa mengubah kenyataan. Aku tak bisa menghentikan rasa suka kakak kembarku pada Rin-chan. Aku... sudah tak punya harapan lagi padanya. Aku mencoba menahan air mataku. Tak terasa sebutir air mata menetes dari mataku dan jatuh ke pipiku. Aku buru-buru menyembunyikannya, berharap Rinto tidak melihatnya.
Rinto menghabiskan es krimnya.
"Rin-chan menolakku," katanya sambil mengambil gelas jus jeruknya.
Aku tertegun. Rin-chan... menolak Rinto?
"A-Apa... Kenapa..." Aku mencoba untuk angkat bicara.
Rinto meneguk jus jeruknya sampai habis kemudian ia berkata lagi. "Katanya sudah ada cowok yang ia sukai."
Aku menatap Rinto yang kesal. Aku harus bahagia atau sedih? Aku ingin berbahagia, karena itu berarti aku masih bisa mencintainya. Tapi aku juga sedih karena melihat orang yang kusayangi sedih. Rinto suka pada Rin-chan. Aku tak punya harapan lagi. Rinto tak akan menyukaiku.
Aku hanya mengangguk sebagai balasan. Kemudian Rinto bertanya padaku.
"Kenapa, sih? Kau kelihatan khawatiran banget," tanya Rinto padaku.
Jantungku berdegup keras. Aku tak bisa bilang yang sesungguhnya. Aku tak bisa bilang kalau aku suka padanya. Twincest itu... aneh?
"Ng-Nggak apa-apa, kok. Kalau kau sedih, aku juga sedih." Aku melempar senyum manis ke arahnya. Kemudian aku berdiri dan berjalan menuju kamarku. "Aku masuk kamar dulu, ya."
Rinto mengangguk.
Aku memasuki kamarku dan berbaring di ranjangku yang berukuran sedang. Yang kubutuhkan sekarang adalah keberanian, kepercayaan, dan tentunya istirahat. Aku sudah capek oleh semua permasalahan ini.
.
.
Esok harinya aku bangun dengan malas. Aku merasa mataku bengkak. Mungkin ini karena aku menangis pada malam hari. Aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain menangis. Maka aku bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Setelah itu aku turun ke meja makan untuk sarapan bersama Rinto, kakak kembarku.
"Ohayou," ujar Rinto ramah padaku.
Aku hanya mengangguk dan tak mengeluarkan sepatah kata pun. Kemudian aku menarik kursi dan duduk di kursi itu. Rinto memberikan semangkuk sereal padaku dan menaruhnya di sisi lain meja untuk dirinya sendiri.
"A-Arigatou," kataku pelan. Kami makan tanpa suara. Padahal biasanya kami saling bertukar cerita.
"Kau kenapa, sih?" tanya Rinto ketika kami berjalan menuju sekolah.
Aku kaget mendengar pertanyaannya. Ada apa denganku? Apa maksudnya?
"Eh? Maksudnya?" Aku bertanya balik.
"Sejak aku bilang kalau aku nembak Rin-chan, kau kayaknya diam banget. Sama kayak tadi pagi," jawab Rinto. Ia mengadah menatap langit.
Aku hanya diam. Aku tak bisa bilang padanya kalau aku... cemburu.
.
.
TO BE CONTINUED
Author: Saya kok, update setahun, ya ._.
Len: Woi! Baru beberapa hari!
Rin: Si author lagi stress nih gara-gara nggak ada review di fic-nya yang baru ._.
Author: Haha. Kalau misalnya nggak ada yang nge-review, saya discontinued aja ._.
Len: Iya iya. Lebih baik begitu.
Author: *pundung di pojokan*
Rin: Etto... RnR, Minna? ^^"
