TANGLED
11
.
Tangled. 2013 (original story)
by
Emma Chase
Re-maked as YunJae story by VANS voldamin
Disclaimer: God, Their Parents, and Themselves (GTT)
Warning: Adult!Theme, Out of Character(s), miss-types, and Amburegul.
Enjoy!
.
.
.
.
.
Selesai sudah . itu kisahku. Bangun. Jatuh. Tamat. Dan, sekarang, di sinilah aku. Di restoran payah tempat Suie noona dan Changmin menyeretku, tempat aku baru saja selesai menceritakan hal yang kurang lebih sama seperti yang kuceritakan kepadamu.
Saat berumur enam tahun, aku belajar menaiki sepeda. Seperti semua anak-anak saat kali pertama melepas roda belajar, aku jatuh. Sering. Setiap kali hal itu terjadi, Suie noona selalu ada untukku. Dia membersihkan debu dari pakaianku, mencium lukanya hingga terasa lebih baik, dan meyakinkanku untuk naik sepeda lagi. Jadi, sudah sewajarnya aku berharap kakakku bersikap penuh kasih sayang menanggapi sakit hatiku. Lembut. Penuh simpati.
Yang kuterima adalah, "Kau benar-benat tolol, apa kau tahu itu, Yunho?"
Aku yakin kau mulai penasaran kenapa kami memanggilnya si Jalang. Yah, inilah alasannya.
"Maaf, apa kau bilang?"
"Ya, kau memang menyedihkan. Apa kau tahu separah apa kekacauan yang baru saja kau ciptakan? Sejak dulu, aku tahu kau manja dan egois. Sial, aku salah seorang yang membuatmu seperti itu. Tapi, aku tak pernah menduga kau bodoh."
Huh?
"Dan, aku berani bersumpah, kau dilahirkan memiliki testis."
Aku tersedak minumanku. Dan, Changmin tertawa.
"Aku serius. Samar-samar, aku ingat mengganti popokmu dan melihat benda imut itu menggantung di tubuhmu. Apa yang terjadi pada benda itu? Apakah mengerut? Menghilang? Karena itulah satu-satunya alasan yang terpikir olehku, untuk menjelaskan mengapa kau bersikap seperti pengecut menyedihkan yang tak punya nyali."
"Demi Tuhan, Noona!"
"Tidak, kurasa Dia pun tak bisa memperbaiki semua ini."
Amarah defensif merayap di dadaku. "Aku benar-benar tak butuh semua ini sekarang. Tidak darimu. Aku sudah tersungkur. Kenapa kau terus menendangku?"
Junsu noona mendengus, "Karena kau butuh tendangan di bokong untuk berdiri lagi. Apa kau pernah mempertimbangkan saat Jaejoong bilang mereka 'sangat baik', mungkin maksudnya hubungan mereka bersahabat? Kalau kau memahami seorang yang berjiwa feminis, separuh saja dari anggapanmu, kau pasti paham. Tak ada orang yang mau mengakhiri hubungan selama sepuluh tahun dalam keadaan tidak baik."
Semua itu bahkan tidak masuk akal. Untuk apa aku ingin berteman dengan seseorang yang dulu bisa kau tiduri tapi sekarang tidak? Apa maksudnya? "Tidak. Kau benar-benar salah."
Suie noona menggelengkan kepala. "Bagaimanapun, kalau kau bersikap seperti seorang pria dewasa alih-alih bocah laki-laki, kau bisa memberitahunya apa yang kau rasakan."
Sekarang, Junsu noona hanya ingin membuatku kesal. "Apa di matamu aku kelihatan seperti seorang bajingan? Karena aku bukan bajingan. Dan, aku tidak mungkin berusaha mati-matian mengejar seseorang yang menginginkan orang lain."
Wajah Suie noona memperlihatkan ekspresi yang belum pernah kulihat. Setidaknya, tidak pernah ditujukan kepadaku.
Ekspresi kekecewaan.
"Tentu saja tidak, Yunho-ya. Untuk apa kau mengejar seseorang, padahal kau sudah sangat puas membiarkan semua orang mengejarmu?"
"Sialan, apa maksud ucapanmu?"
"Maksudnya, kau mendapatkan semuanya dengan mudah. Kau tampan, pintar, kau punya keluarga yang mencintaimu dan perempuan yang siap berbaring di hadapanmu seperti domba kurban. Dan, sekali-kalinya, kau harus berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang kau inginkan. Sekali-kalinya kau harus mempertaruhkan hatimu demi seseorang yang akhirnya pantas menerimanya. Apa yang kau lakukan? Kau menyerah. Kau menembak dulu, baru bertanya. Kau meringkuk seperti bola dan bersedih mengasihani diri."
Junsu noona menggelengkan kepala sedikit, dan suaranya melembut. "Kau bahkan tidak berusaha, Yun. Setelah semua itu, kau hanya… membuangnya begitu saja."
Aku menunduk menatap minumanku. Suaraku pelan. Penuh penyesalan. "Aku tahu."
Jangan pikir hal itu tidak terpikir olehku. Jangan pikir aku tidak menyesali ucapanku, atau yang tidak kuucapkan. Karena, aku menyesalinya. Sangat. "Kuharap begitu… tapi sekarang sudah terlambat."
Akhirnya, Changmin berbicara. "Tak pernah ada kata terlambat, Hyung. Permainan belum berakhir, hanya ditunda karena hujan."
Aku menatap Changmin. "Apa Kyuhyun sudah mengatakan sesuatu padamu? Soal Jaejoong dan Hyunjoong?"
Changmin menggelengkan kepala. "Tidak soal mereka. Tapi, dia menyampaikan banyak hal soal kau."
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, Kyunnie membencimu. Dia pikir kau bajingan. Sungguh, Hyung, kalau kau terbakar di jalan, kurasa dia bahkan tak mau meludahimu."
Aku mempertimbangkan informasi itu sejenak. "Mungkin, dia membenciku karena meniduri tunangan sepupunya?"
"Mungkin, dia membencimu karena kau menghancurkan sahabatnya?"
Yeah, kemungkinan yang sama besar. Tidak membantu.
"Apa kau jatuh cinta kepada Jaejoong, Yun?"
Mataku menatap mata Suie noona. "Iya."
"Apa ada kemungkinan dia merasakan hal yang sama?"
"Kurasa ada." Semakin sering memikirkan ucapan dan tindakan Jaejoong akhir pekan kemarin, aku yakin Jaejoong merasakan sesuatu untukku. Sesuatu yang nyata dan mendalam. Setidaknya, dia merasakannya sebelum aku mengacaukan semuanya.
"Apa kau ingin bersamanya?"
"Ya Tuhan, iya."
"Kalau begitu, dia kembali kepada mantannya atau tidak, sama sekali tidak relevan. Pertanyaan yang harus kau tanyakan kepada dirimu adalah apa yang rela kau lakukan, rela kau pertaruhkan, untuk memperbaiki semua ini? Untuk mendapatkannya kembali."
Dan, jawabanku sangat sederhana;
Apa pun. Semuanya. Kerongkonganku tercekat saat aku mengakui, "Aku bersedia mengorbankan apa pun demi mendapatkan Jaejoong lagi."
"Kalau begitu, demi Tuhan, berjuanglah untuknya! Beri tahu dia."
Saat ucapan Noona mulai kurenungkan, Changmin mencengkram pundakku. "Pada saat-saat seperti ini, aku selalu bertanya kepada diriku, 'Apa yang akan dilakukan seorang pria alpha sejati?'" Tatapan Changmin serius. Menggugah. Kemudian suaranya berbicara dengan aksen Jeollado yang tidak dimilikinya. "Nde… lari, dan kau tak akan ditolak… tapi bertahun-tahun dari sekarang, kau pasti bersedia menukar hari-hari sejak sekarang hingga saat itu dengan sebuah kesempatan, hanya satu kesempatan, untuk kembali dan memeritahu Jaejoong hyung. Dia boleh saja mengambil kemaluanmu dan menggantungnya pada kaca spion tengah mobilnya, tapi dia tak akan pernah bisa mengambil… kebebasanmu!"
Suie noona memutar bola mata mendengar ceramah ala-ala bocah kulkas barusan, dan aku sungguh-sungguh tetawa. Awan gelap yang sepanjang minggu menggelayuti pundakku akhirnya mulai terangkat. Digantikan oleh harapan. Keercayaan diri. Tekad. Semua yang menjadikanku… aku. Semua yang hilang dariku, sejak pagi hari, saat melihat Kim Hyunjoong bernyanyi.
Changmin memukul pundakku. "Rebut dia, Hyung. Maksudku, coba lihat dirimu. Apa yang kau pertaruhkan?"
Changmin benar. Siapa yang butuh kehormatan? Harga diri? Semua itu terlalu dilebih-lebihkan. Saat kau tak punya apa-apa, tak ada yang kau pertaruhkan.
"Aku harus menemui Jaejoong. Sekarang juga."
Dan, kalau aku gagal? Setidaknya, aku kalah secara terhormat. Kalau aku gagal dan Jaejoong menginjakku dengan sepatu bersol tebal sekalipun? Biarlah itu terjadi. Tapi, aku harus berusaha. Karena…
Yah, karena Jaejoong sepadan.
.
.
.
.
.
Saat Junsu noona berulang tahun keenam belas, orangtuaku menyewa sebuah taman bermain popular di Seoul saat itu selama satu hari. Berlebihan? Ya. Tapi, itu salah satu keistimewaan tumbuh dalam keluarga berada. Benar-benar luar biasa. Tak ada antrean, tidak banyak orang. Hanya keluarga kami, beberapa rekan bisnis, dan seratus lima puluh teman-teman terdekat kami. Omong-omong, ada sebuah rollercoaster—The Scream Machine. Benar-benar sinting.
Ingat saat kubilang tak pernah naik rollercoaster yang sama dua kali? Yang ini pengecualian.
Changmin, Yoochun, dan aku menaikinya sampai muntah. Lalu, kami menaikinya lagi. Bukit pertama benar-benar parah. Tanjakan panjang dan menyiksa, yang berakhir dengan luncuran vertikal setinggi seratus lima puluh kaki yang memuntir perutmu. Tak peduli berapa kali kami menaiki bocah badung itu—setiap kali mendaki bukit pertama itu—rasanya tetap sama. Telapak tanganku berkeringat, perutku melilit. Kombinasi sempurna dari semangat dan kengerian.
Dan, itulah yang kurasakan saat ini.
Kau lihat aku? Lelaki yang berlari melintasi Gangnam Street.
Hanya membayangkan akan bertemu Jaejoong lagi… aku benar-benar bersemangat, aku tak akan bohong. Tapi, aku juga gugup. Karena aku tak tahu apa yang ada di balik bukit, setinggi apa luncurannya.
Tak ada simpati, hah? Orang-orang kejam. Kau pikir aku mendapat apa yang pantas kuterima? Mungkin, aku masih pantas menerima yang lebih buruk?
Itu argumen yang meyakinkan. Aku benar-benar mengacaukannya. Tak perlu diragukan lagi. Itu sebuah kegagalan—semua orang hebat mengalaminya. Aku sudah turun dari bangku cadangan dan kembali ke permainan.
Aku hanya berharap Jaejoong akan memberiku kesempatan lagi.
Terengah-engah setelah berlari sejauh tujuh blok, aku menganggukkan kepala untuk menyapa petugas keamanan dan masuk ke lobi kosong. Aku memanfaatkan perjalanan singkat di dalam lift untuk mengatur napas dan melatih apa yang ingin kuucapkan. Lalu, aku keluar di lantai empat puluh.
Kim Jaejoong mungkin berada di satu tempat, pada Senin malam, pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Dan tempat itu di sini, di tempat semuanya dimulai. Kantor sudah gelap. Sepi, kecuali musik yang berasal dari ruangan Jaejoong. Aku menyusuri lorong dan berhenti di depan pintunya yang tertutup.
Kemudian, aku melihatnya. Melalui jendela kaca.
Tuhanku.
Jaejoong duduk di depan mejanya, menatap layar komputer. Dia menggigiti bibir dengan gayanya yang membuatku takluk. Helaian rambut bagian poninya diikat, memperlihatkan wajahnya yang tanpa cela. Aku rindu menatapnya. Kau tak bisa membayangkan. Rasanya seperti… seperti berada di bawah air, menahan napas. Dan, akhirnya, sekarang aku bisa bernapas lagi.
Jaejoong mendongak. Matanya menatap mataku.
Kau lihat bagaimana Jaejoong menatap lebih lama dari seharusnya? Bagaimana kepalanya ditelengkan ke samping, dan matanya menyipit? Seakan-akan, dia tidak bisa memercayai apa yang dilihatnya.
Jaejoong terkejut. Lalu, kekagetannya berubah menjadi jijik. Seakan-akan dia baru saja makan sesuatu yang sudah busuk. Saat itulah, aku menyadarinya. Saat itulah, aku meyakini sesuatu yang mungkin sudah kau sadari. Bahwa, aku benar-benar tolol.
Jaejoong tidak kembali kepada Hyunjoong. Tidak mungkin.
Seandainya dia kembali kepada pria itu? Seandainya akhir pekan kami tidak berarti apa-apa baginya? Seandainya aku tidak ada artinya? Jaejoong tidak akan menatapku seolah-olah aku ini sang iblis terkutuk. Jaejoong tidak akan terpengaruh sedikit pun. Ini logika pria sederhana. Kalau seorang perempuan atau lelaki omega marah, artinya dia peduli. Kalau kau menjalin hubungan dan dia bahkan tidak mau repot-repot membentakmu, nasibmu sudah tamat. Ketidakpeduliannya adalah ciuman kematian. Itu sama seperti pria yang tidak tertarik dengan seks. Dengan kata lain—hubungan kalian sudah tamat. Kau sudah tamat.
Jadi, kalau Jaejoong marah, itu karena aku menyakitinya. Dan, satu-satunya alasan aku bisa menyakitinya karena dia ingin bersamaku.
Mungkin, itu cara berpikir yang rumit—tapi seperti itulah adanya. Percayalah kepadaku, aku tahu. Aku menghabiskan hidupku dengan meniduri perempuan maupun omega tanpa memiliki perasaan apa pun kepada mereka. Kalau mereka berhubungan seks dengan pria lain setelah aku? Aku merasa senang untuk mereka. Kalau mereka bilang tak mau bertemu denganku lagi? Lebih bagus lagi. Batu tak mungkin meneteskan darah walaupun aku kau menusuknya. Kau tak akan mendapatkan reaksi apa pun dari seseorang yang tidak peduli kepadamu.
Sedangkan Jaejoong; sarat emosi. Amarah, curiga, terkhianati—semua itu menggelegak di matanya dan terpancar dari wajahnya. Kenyataan dia masih merasakan sesuatu untukku—walaupun kebencian—memberiku harapan. Karena, aku bisa melakukan sesuatu.
Aku membuka pintu ruangannya dan masuk. Jaejoong menatap laptopnya lagi dan memencet beberapa tombol.
"Apa yang kau inginkan, Yunho-ssi?"
"Aku harus bicara kepadamu."
Jaejoong tidak mendongak. "Aku sedang bekerja. Aku tak punya waktu untukmu."
Aku maju dan menutup laptopnya. "Sediakan waktu."
Jaejoong memalingkan tatapannya kepadaku. Tatapannya tajam. Dingin, seperti es hitam.
"Pergi saja ke neraka."
Aku menyeringai, walaupun ini sama sekali tidak lucu. "Sudah sepanjan minggu."
Jaejoong bersandar di kursi, menatapku dari atas sampai bawah. "Benar. Boa bercerita soal penyakit misteriusmu."
"Aku tinggal di rumah karena…"
"Perjalanan di dalam taksi membuatmu sangat kelelahan? Butuh berapa hari untuk pulih?"
Aku menggelengkan kepala. "Ucapanku hari itu benar-benar salah."
Jaejoong berdiri. "Tidak. Satu-satunya kesalahan dalam masalah ini adalah kesalahanku. Karena, pernah beranggapan ada sesuatu yang lebih bermakna di dalam dirimu. Karena, membiarkan diriku percaya ada sesuatu… yang indah di balik pesona angkuh dan sikapmu yang sok. Ternyata aku salah. Jiwamu hampa. Kosong."
Ingat saat kubilang aku dan Jaejoong sangat mirip? Kami memang mirip. Maksudku tidak hanya di tempat tidur atau di kantor. Kami sama-sama memiliki kemampuan hebat untuk mengucapkan hal yang tepat—untuk menyakiti. Untuk menemukan kelemahan di dalam diri kami, dan menghantamnya dengan granat verbal sialan.
"Jaejoong, aku-"
Jaejoong menyela ucapanku. Dan, suaranya kaku.
Tersekat.
"Tahukan kau, Yunho-ssi, aku tidak bodoh. Aku tidak mengharapkan lamaran pernikahan. Aku tahu kau orang seperti apa. Tapi, kau tampak sangat… dan, malam itu di bar? Caramu menatapku. Kupikir…"
Suaranya terputus dan ingin membunuh diriku sendiri.
"…Kupikir aku memiliki arti bagimu."
Aku melangkah mendekati Jaejoong, ingin menyentuhnya. Menenangkannya. Menarik kembali semuanya.
Membuat semuanya lebih baik.
"Memang. Kau memang berarti untukku."
Jaejoong mengangguk kaku. "Benat. Karena itulah kau-"
"Aku tak melakukan apa pun! Tak ada kencan. Tak ada naik taksi sialan. Semua itu omong kosong, Boojae. Yoochun yang meneleponku hari itu, bukan Karam. Aku hanya mengucapkan semua itu agar kau menyangka dia yang meneleponku."
Wajah Jaejoong memucat, dan aku tahu dia memercayaiku. "Kenapa… kenapa kau melakukannya?"
Aku mengembuskan napas. Suaraku pelan dan tertahan. Memohon agar Jaejoong memahaminya.
"Karena… aku jatuh cinta kepadamu. Sudah lama aku jatuh cinta kepadamu. Aku baru menyadarinya Minggu malam. Lalu, Hyunjoong muncul di sini… kupikir kau menerimanya kembali. Dan, sialan, itu benar-benar menghancurkanku. Rasanya sangat menyakitkan hingga aku ingin membuatmu… merasa seburuk yang kurasakan."
Bukan momen terbaikku, ya? Yeah, aku tahu itu—aku bajingan. Percayalah kepadaku, aku menyadarinya.
"Jadi, aku tak sengaja mengucapkan semua itu agar kau beranggapan dirimu tak ada artinya bagiku. Beranggapan kau sama seperti yang lainnya. Tapi, tidak, Boojae. Kau tidak sama dengan siapa pun yang pernah kukenal. Aku ingin bersamamu… benar-benar bersamamu. Hanya kau. Aku belum pernah merasa seperti ini kepada siapa pun. Dan, aku tahu kebenarannya seperti… kau tahu. Tapi itu benar. Saat bersamamu, aku tidak menginginkan hal-hal yang kuinginkan."
Jaejoong tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatapku. Dan, aku sudah tak tahan lagi. Aku menyentuh pundaknya, lengannya. Hanya untuk merasakannya.
Tubuh Jaejoong berubah kaku, tapi dia tidak melepaskan diri. Aku menyentuh wajahnya. Ibu jariku membelai pipi dan bibirnya.
Tuhanku.
Mata Jaejoong terpejam saat merasakan sentuhanku, dan sesuatu yang menyekat kerongkonganku seakan mencekikku.
"Kumohon, Boojae, bisakah kita… kembali seperti dulu? Dulu, semuanya sangat hebat. Sempurna. Aku ingin kita seperti itu lagi. Aku sangat menginginkannya."
Sejak dulu, aku tidak percaya pada penyesalan. Pada rasa bersalah. Dulu, aku merasa semua itu hanya ada di dalam kepala seseorang. Seperti rasa takut akan ketinggian. Tidak ada yang tak bisa kau lalui kalau kau punya tekad. Kekuatan. Tapi, dulu aku tidak memiliki seseorang—menyakiti seseorang—yang bagiku lebih berarti dibanding… aku. Dan, menyadari aku sudah mengacaukan semua ini karena rasa takutku—kebodohanku—rasanya benar-benar… tak tertahankan.
Jaejoong menepis tanganku. Lalu, mundur.
"Tidak."
Jaejoong mengambil tasnya dari lantai.
"Kenapa?" Aku berdeham. "Kenapa tidak?"
"Kau ingat saat aku mulai bekerja di sini? Kau memberitahuku ayahmu memintaku untuk mengerjakan presentasi 'latihan'?"
Aku mengangguk.
"Kau melakukannya karena tak ingin aku mendapatkan kliennya. Benar?"
"Benar."
"Lalu, pada malam saat kita bertemu Choi Siwon, kau bilang aku menyodorkan bagian tubuhku kepadanya karena… bagaimana kau mengatakannya? Kau ingin 'memancing emosiku'. Ya atau tidak?"
Ke mana arah ucapan Jaejoong ini?
"Ya."
"Lalu, minggu kemarin, setelah semua yang telah terjadi—kau membuatku percaya kau mengobrol dengan perempuan itu karena ingin menyakitiku?"
"Memang, tapi…"
"Dan, sekarang, sekarang kau bilang kau jatuh cinta kepadaku?"
"Aku memang jatuh cinta kepadamu."
Jaejoong menggelengkan kepala pelan-pelan. "Kenapa aku harus percaya kepadamu, Jung Yunho-ssi?"
Aku berdiri terpaku. Tidak bersuara. Karena aku tidak bisa berkata apa-apa. Tak ada pembelaan. Tak ada alasan yang bisa mengubah keadaan. Tidak bagi Jaejoong.
Jaejoong beranjak pergi. Aku panik. "Boojaejoongie, kumohon, tunggu dulu…"
Aku melangkah ke depan Jaejoong. Dia berhenti, tapi menatap ke balik tubuhku—menembus tubuhku. Seakan-akan aku bahkan tak ada di sini.
"Aku tahu aku mengacaukan semuanya. Parah. Soal lelaki taksi itu benar-benar bodoh dan kejam. Dan, aku menyesal. Lebih menyesal dari yang bisa kau pahami. Tapi… kau tak bisa membiarkan semua itu menghancurkan sesuatu yang bisa kita miliki.
Jaejoong tertawa di depan wajahku. "Sesuatu yang bisa kita miliki? Apa yang kita miliki, Yunho-ssi? Yang kita miliki hanyalah argumen, kompetisi, dan nafsu…"
"Tidak. Lebih dari itu. Aku merasakannya akhir pekan kemarin, dan aku tahu, kau juga merasakannya. Kita bisa memiliki sesuatu yang… spektakuler. Kalau saja kau memberi kesempatan. Memberi kita, aku, satu kesempatan lagi. Kumohon."
Bibir Jaejoong terkatup erat. Kemudian, dia bergerak menghindariku.
Tapi, aku mencengkram lengannya.
"Lepaskan aku, Yunho-ssi."
"Aku tak bisa." Dan, maksudku, bukan hanya lengannya.
Jaejoong menyentak lengannya sampai lepas. "Coba lebih keras. Kau pernah melakukannya. Aku yakin kau bisa melakukannya lagi."
Kemudian, Jaejoong keluar dari ruangan.
Dan, aku tidak menyusulnya.
.
.
.
.
.
TBC
