My Husband Is Park Chanyeol

ChanBaek

M

.

.

.

"M-maaf, bukannya aku bermaksud untuk mengganggu. D-doker Ahn baru saja meneleponku dan meminta membawa Tuan Park Chanyeol untuk segera kembali kerumah sakit. Dia harus menjalani pemeriksaan pada punggungnya"

Semua yang ada disana menatap penuh perhatian pada suster Choi termasuk Chanyeol yang sebelumnya hanya sibuk mentertawakan Baekhyun didalam hatinya.

"Arin sayang, bisakah kau katakan pada Dokter Ahn untuk menunggu sedikit lebih lama? Ada beberapa hal yang harus kami selesaikan."

Siapa yang tak akan meleleh jika diberikan senyum semenawan itu? Termasuk suster Choi, ah panggil saja Arin. Gadis itu tengah merona malu-malu karena dipanggil sayang oleh pasien tampannya. Ia mengangguk setelahnya, kembali mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Dokter Ahn lagi.

Setelahnya, Chanyeol berniat menontoni Baekhyun yang masih menangis. Namun, ketika niatnya bahkan belum tercapai, ia malah mendapati anak itu menatapnya tajam dengan bibir dipoutkan.

"K-kau hiks memanggil suster i-itu sayang! Tapi kenapa paman lupa padaku~"

"Ah, aku sudah lama mengenal Arin, dia termasuk dalam team dokter pribadi keluarga ka-"

"AKU SUDAH TAU!"

Baekhyun menjerit, wajahnya memerah dan tatapan penuh kebencian ia lontarkan kembali pada si tinggi yang kini menahan tawanya mati-matian.

Baekhyun nampak sangat menggemaskan, dengan nafas tak beraturan karena kesal dan juga wajah kekanakan miliknya yang sangat Chanyeol rindukan.

"Aku mengenalmu jauh lebih lama darinya! Kenapa? Katakan padaku kenapa? Bagaimana bisa paman melupakanku?"

"..."

"Aku tak percaya paman bisa melakukan ini padaku! Kupikir paman benar-benar mencintaiku, tap-"

"Baekhyun! Berhenti merajuk, sekarang kita kembali ke rumah sakit. Kau mau ikut tidak?"

Baekhyun menatap Kakeknya dengan kesal, apa-apaan dengan memotong ucapannya seperti itu? Tak tahukah kakek Park kalau kini Baekhyun tengah mati-matian menahan rasa sakitnya?

"Baekkie, ayo. Biarkan Chanyeol naik mobil bersama Arin"

"T-tapi eomma ak-"

Belum sempat Baekhyun menyelesaikan kalimatnya, Eomma tersayang sudah mendorongnya. Jackson yang masih dalam gendongan Eomma-nya sudah tertidur pulas dengan wajah menggemaskan.

Setelah menyempatkan diri untuk mencium pipi dan kening Jackson Baekhyun berjalab dengan kesal, mengabaikan tatapan geli dan juga tawa Park Chanyeol yang terdengar sangat menyenangkan.

"Anda seharusnya tidak melakukan itu tuan"

"Eh, biarkan saja"

"Tuan Baekhyun sangat manis ketika merajuk seperti itu."

"Kau benar Arin, karena itulah akan sangat menyukainya"

"Kau sangat beruntung tuan. Kalau begitu ayo kita kembali ke rumah sakit"

Setelah mendapati persetujuan dari pasiennya, Arin segera mendorong kursi roda itu. Menunjukan senyum manis yang dimiliki gadis itu ketika mengingat bagaimana manisnya interaksi antara Chanyeol dan juga Baekhyun tadi. Ah, ia sangay beruntung bisa melihat adegan manis itu secara langsung.

"Noona, Appa."

Minkyung dan Tuan Park yang hendak memasuki mobilnya berhenti ketika suara berat Chanyeol menyapa pendengaran mereka. Noona-nya menautkan alisnya bingung selama beberapa detik sebelum ayahnya mulai angkat bicara.

"Tolong jangan katakan apapun pada Baekhyun. Kalau ia bertanya, bilang saja aku amnesia karena kepalaku terbentur stir mobil."

"Kau gila? Kau ingin membuat anakku mati karena terus-terusan menangis?"

"Tidak Noona, ia tidak akan mati hanya karena menangis"

"Sudah sudah, lebih baik sekarang kita cepat-cepat kerumah sakit!"

Tuan Park mengusap wajah dengan kasar setelahnya, tak habis pikir dengan Chanyeol yang memilki pemikiran bodoh seperti itu. Namun, sepertinya tak ada salahnya menuruti kemauan Chanyeol karena sejujurnya pun ia merasa sangay terhibur dengan Baekhyun yang menangis sesegukan karena mengira Chanyeol amnesia.

"Kita mampir dulu ke pusat perbelanjaan. Eomma ingin membeli hadiah untuk Jackson!"

Eomma Byun berucap ketika ia baru saja dudum dikursi penumpang dimana sudah ada Baekhyun disana. Ia menidurkan Jackson ditengah-tengah anyata dirinya dan juga Baekhyun, mengusap perlahan rambut anak itu sebelum akhirnya ia menyadari kalau wajah anaknya masih merajuk.

"Apa? Kalau begitu aku akan pindah mobil saja! Aku tak ingin ikut, aku ingin menemani paman saja!"

"Cih, mentang-mentang sudah bisa memeluknya dengan bebas kau malah jadi sombong seperti ini! Pikirkan anakmu Baekhyun!"

"Eomma~ aku hanya ingin memastikan Paman mengingatku! Aku tak terima ia melupakanku seperti itu"

"Ya tuhan, jangan menangis seperti itu! Pergi saja sana! Eomma akan menjaga Jackson untukmu!"

Ia menyerah dengan Baekhyun, ia tak bisa melihat anak itu menangis lagi. Ia pun membiarkan anak itu turun dan berlari dari mobilnya, biarkanlah, asal anak itu bahagia apa salahnya. Semua karena Chanyeol, kalau saja anak sialan itu tidak membuat sebuah drama bodoh seperti tadi, bisa dipastikan kini ia dan anaknya pasti tengah berbagi cerita dengan tawa menyelingi. Terkutuklah wahai Chanyeol dengan segala otak kriminalnya. Ia akan memenggal kepala adiknya setelah ini.

.

.

.

"Maaf tuan, tapi aku akan memeriksa jahitan ditubuhmu terlebih dahulu"

"Oh, baiklah"

Dengan penuh senyum Chanyeol membiarkan Arin sibuk dengan kotak peralatannya sebelum suster itu membuka kancing baju Chanyeol untuk memeriksa jahitan di dada lelaki itu.

Chanyeol melirik garis yang panjangnya sekitar 4 cm itu didada kirinya, ia hanya memejamkan matanya ketika Arin secara perlahan mulai mengganti penutup lukanya.

"Lukamu membaik dan sepertinya bekas jahitannya pun akan cepat hil-"

"A-apa yang kalian lakukan?"

Itu Baekhyun yang baru saja berbicara. Secara tiba-tiba ia langsung membuka pintu disamping Chanyeol tanpa dua orang itu sadari.

Chanyeol nampak terkejut namun segera mengontrol ekspresinya menjadi sok polos ketika ingat ia masih harus mengerjai keponakannya. Berbeda jauh dengan Arin yang langsung mengangkat tangannya dan langsung menunduk takut ketika mendengar suara Baekhyun.

"Kenapa kau berhenti? Kau belum selesai menutup luka-ku!"

"A-ah maaf, aku terkejut barusan!"

"Hiks"

Ya tuhan, Baekhyun terisak lagi. Arin yang melihatnya merasa tak tega, dan dengan sedikit ragu-ragu pun ia menatap Baekhyun yang kini menatap dengan sangat sedih kearah Chanyeol.

"K-kalau tuan Baekhyun mau, a-anda bisa menggantikanku"

"Hiks, Paman jahat sekali~"

"A-aku akan mengajari anda"

"S-sungguh hiks?"

"Ne"

"T-tunggu! Kalian menjadikanku bahan percobaan? Dan Arin, kau tega membiarkan orang itu mengurusi luka-ku?"

Baekhyun sangat sedih, bahkan bukannya memanggilnya dengan sebutan 'Baekkie' atau 'sayang' Chanyeol malah menyebutnya 'orang itu'. Bisakah lelaki itu menghargai Baekhyun barang sedikit? Baekhyun tahu Chanyeol lupa ingatan, tapi tak bisakah Chanyeol berusaha untuk mengingatnya? Bukan malah berselingkuh dan terus menyakiti hatinya! T-tunggu, selingkuh? Kau pikir kau siapa Baek?

Dengan ragu-ragu Chanyeol menarik Baekhyun untuk duduk, ia harus cepat-cepat kerumah skit tapi keponakannya yang sangat manis itu malah menangis.

"Duduklah dengan tenang, jangan menangis karena Arin hanya ingin mengganti penutup lukaku!"

"P-paman hiks. Kau j-jahat sekali"

Mobil itu pun bergerak, kembali menyusuri jalanan yang tidak sepi menuju rumah sakit tempat Chanyeol dirawat. Baekhyun hanya mempoutkan bibirnya sepanjang perjalanan, hatinya berdenyut sakit mendengar Chanyeol malah bercanda dengan suster manis disebelahnya. Baekhyun sangat kesal, hingga ia sendiri tak sadar sedari tadi Chanyeol terus memperhatikannya sambil tersenyum.

Karena lama hanya terdiam Baekhyun pun merasa mengantuk, dua orang disebelahnya tak ada basa-basi apapun untuk mengajaknya mengobrol, membuatnya puluhan kali menguap hingga akhirnya ia tak sadarkan diri dan menjatuhkan kepalanya dibahu Chanyeol.

Chanyeol terlonjak dan langsung menoleh ketika merasakan beban dibahu kirinya, ia pandangi wajah manis Baekhyun yang tengah terlelap itu. Terlihat sangat menggemaskan tapi juga menunjukan kalau anak itu lelah.

Chanyeol sempat berpikir kalau mungkin ia keterlaluan sampai membohongi Baekhyun seperti itu, anak itu baru saja sampai dari perjalanan panjangannya dan malah ia buat menangis histeris. Ia tertawa pelan setelahnya, mengecup pucuk kepala Baekhyun tanpa menyadari kalau Arin dartadi memperhatikannya.

.

.

.

"Kita sudah sampai!"

Baekhyun yang mendengar si supir memekik agak keras itu terlonjak dari tidurnya, ia lirik Chanyeol yang kini menatapnya.

"Ada apa menatapku begitu?"

"Aku tidak menatapmu! Sudah keluar sana, kita sudah sampai!"

"Paman~"

"Kenapa kau terus memanggilku seperti itu?"

"Kau sungguh tidak ingat?"

Berhentilah mengucapkan hal itu Baek, Chanyeol hanya berpura-pura melupakanmu. Tak lihatkah kau beberapa kali ia menyeringai tadi, behentilah mengucapkan kalimat itu dan perhatikan saja Chanyeol-mu yang bodoh itu.

CUP

"Masih tak ingat?"

Chanyeol membulatkan matanya ketika secara tiba-tiba Baekhyun mengecup bibirnya. Matanya yang membulat memandangi Baekhyun yang wajahnya penuh harap itu. Ia ingin membalas kecupan Baekhyun, berteriak pada anak itu kalau ia mencintainya. Namun, melihat wajah yang sangat menggemaskan itu membuat Chanyeol malah menggelengkan kepalanya dengan cepat.

Arin dan supir yang membawa mobil itu hanya berusaha menahan senyumnya, wajah penuh harap milik Baekhyun kini hilang dan tanpa menatap wajah Chanyeol lagi ia sudah turun dari mobil itu.

Chanyeol tertawa puas ketika Baekhyun membanting pintu mobilnya dengan kasar, kembali membuat Arin mau tak mau ikut tersenyum sambil menyiapkan kursi roda Chanyeol.

"Tak apa, aku akan berjalan saja kedalam"

"Tak apa?"

"Ne"

"Baiklah, silahkan. Aku akan merapikan ini terlebih dahulu"

Chanyeol pun turun dari mobil itu, melirik sekilas kearah Baekhyun sebelum meminta anak itu untuk mengikutinya. Baekhyun yang melihat Chanyeol berjalan tanpa bantuan kursi roda ataupun tongkat segera menghampiri Chanyeol dan memeluk pinggang lelaki itu untuk membantunya berjalan.

"Kenapa tidak pakai kursi rodamu paman?"

"Aku hanya akan menggunakan kursi roda kalau kepalaku terasa sakit dan tak kuat berjalan. Terimakasih"

"Ne. Dimana kamarmu?"

"Ah, lantai 11"

Baekhyun mengangguk, menekan tombol lift masih dengan ia yang memeluk pinggang Chanyeol. Ia menunggu dalam diam, tak ingin berceloteh panjang karena ia pikir Chanyeol yang tengah amnesia pasti tidak akan mengerti mengenai apa yang ia bicarakan.

"Anak kecil tadi...anakmu?"

Baekhyun langsung menoleh ketika suara Chanyeol memecah keheningan diantara mereka. Baekhyun tersenyum setelahnya, mengangguk perlahan dan kembali membantu Chanyeol berjalan ketika pintu lift terbuka.

Suasananya sangat sepi, hanya mereka berdua hingga keduanya pun dapat mendengar degup jantungnya masing-masing. Sejujurnya Chanyeol masih menunggu penjelasan dari Baekhyun, mengharapkan anak itu menjelaskan mengenai keberadaan Jackson yang membuatnya salah paham.

"Orang tuanya adalah sahabatku, di Paris aku sudah menganggap Orang tua Jackson sebagai keluargaku. Walaupun umur kami hanya bertaut 2 tahun mereka adalah sahabat yang baik. Mereka menyayangiku, memberiku perhatian dan selalu menghiburku ketika aku menangis...karenamu!"

Mata keduanya saling bertemu, dengan mata Chanyeol yang memancarkan sedikit kebingungan. Sebegitu jahatnya kah ia hingga selalu membuat Baekhyun menangis?

"Keduanya meninggal seminggu lalu, saat keduanya hendak menghiburku dengan mengajak jalan-jalan. Dan saat itu terjadi, aku hanya diam tak percaya dengan Jackson disisiku. Mereka menitipkan anak itu padaku, dan aku...tentu saja mene-"

Lift yang mereka naiki berhenti, pintunya terbuka dan dengan sangat tidak terduga lift itu langsung dipenuhi oleh banyak orang. Baekhyun membelalakan matanya ketika dirinya terdorong-dorong oleh orang-orang didepannya.

Chanyeol tak tega melihat Baekhyun terdorong-dorong seperti itu. Ditariknya lelaki manis itu dan mengurungnya dibalik tubuh tingginya, menjadikan dirinya sebagai pelindung si manis agar tidak terdorong-dorong lagi.

"P-paman"

Wajah Baekhyun memerah, wajahnya dan Chanyeol sangaylah dekat. Walau ia sudah pernah berada dalan situasi seperti ini bersama Chanyeol tetap saja ia merasa malu. Apalagi saat ini wajah Chanyeol terlihat sangat tampan, walaupun ada perban membalut kepalanya Baekhyun yang memang sudah lama merindukan wajah itu hanya bisa bersorak senang dalam hati.

Lama melamun, ia sangat terkejut ketika bibir Chanyeol secara tiba-tiba menempel dibibirnya. Ia membelalakan matanya dan Chanyeol pun langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Baekhyun.

"Maafkan aku"

"T-tak apa"

Sungguh Chanyeol tak bisa menahan rasa gemasnya pada Baekhyun. Dan saat lift itu sudah mulai ditinggalkan para penumpangnya Chanyeol langsung menjauhkan tubuhnya. Melirik Baekhyun yang masih terlihat malu melalui pantulan dinding lift yang terbuat dari kaca.

Awalnya Chanyeol memang tak sengaja menempelkan bibirnya dengan Baekhyun, namun selanjutnya ketika ia menekan bibirnya ia memang sudah menginginkannya. Ia hanya tersenyum setelahnya, tak percaya bahwa rasa rindunya pada Baekhyun kini sudah terbalas karena kehadiran anak itu.

Dan saat pintu lift-nya terbuka Chanyeol menarik Baekhyun, menyusuri lorong panjang yang sangat sepi karena lantai itu memang dikhusus-kan untuk orang-orang penting. Baekhyun hanya menurut dan tak berniat protes pada pamannya.

"Aku sangat mengantuk, aku akan tidur sebentar sebelum melakukan pemeriksaan. Kau lakukan apapun sesukamu, Noona dan Ayahku pasti akan sampai sebentar lagi."

'Dia bahkan tidak berniat menyambutku. Dan sekarang ia malah mengabaikanku"

Setelah dipersilahlan masuk kedalam kamar VVIP itu Baekhyun segera melirik kesana kemari, hanya mendapati ranjang pasien yang terlihat lebih besar dari ranjang rumah sakit pada umumnya, ada juga sofa besar dan televisi, serta tak ketinggalan kamar mandi yang disembunyikan oleh pintu berwarna biru muda disisi kiri Baekhyun.

"Jadi kau anak Noona-ku?"

"..."

"Siapa namamu?"

"..."

"Kenapa wajahmu terlihat sangat asing bagiku?"

"..."

"Dan, Noona tidak pernah cerita ka-"

"Cukup! Tak puaskah paman membuatku menangis tadi?"

Baekhyun menghampiri Chanyeol yang baru saja mencoba untuk duduk disofa beaar dikamarnya. Ditatapnya lekat lelaki yang lebih dewasa darinya itu dengan perasaan campur aduk, antara kesal, kecewa dan juga sedih.

"Kau! Tak cukup kah kau menyakitiku waktu itu? Apa perlu paman membuatku sakit lagi? Tak ingin kah paman berusaha mengingatku? Aku sudah lelah paman, kau membuatku sedih kalau begini"

"Kenapa kau marah?"

"Maaf kalau aku marah padamu. Aku tak sanggup lagi, aku jauh-jauh terbang dari ujung dunia sana hanya untukmu. Dan saat aku sampai? Aku benar-benar kecewa padamu. Awalnya aku tak berniat sama sekali untuk marah padamu seperti ini"

"Aku tanya apa yang membuatmu semarah ini padaku?"

"Kau! Kau! Kau yang membuatku marah seperti ini. Aku mencoba memaklumi kalau kau benar-benar amnesia karena kecelakaan itu, namun melihat sikapmu yang seolah-olah tak ingin peduli padaku yang memintamu untuk mengingat siapa aku dan hal-hal yang telah kita lakukan bersama membuatku sangat sangat kecewa padamu"

"..."

Mata Baekhyun memerah, ia menangis kembali dihadapan Chanyeol. Dengan tangannya ia berusaha menutupi isakannya walau nyatanya isakan itu tetap sesekali terdengar.

Diambang pintu sana Arin dan juga Eomma Byun tengah berdiri mematung memperhatikan sepasang anak adam yang tengah sibuk dalam dunianya. Tak ada yang berniat mengganggu atau menengahi keduanya, baik Arin atau Eomma Byun hanya berharap semoga Chanyeol cepat-cepat mengakhiri drama bodohnya.

"Kenapa kalian berdiri di-"

"Ssst, perhatikan saja!"

Tuan Park dan dokter Ahn yang baru saja tiba mau tak mau malah ikut bersama Arin dan Eomma Byun untuk memperhatikan Chanyeol dan Baekhyun yang masih terlibat konflik.

Chanyeol sama sekali tak terlihat seolah ia ingin melawan atau menenangkan Baekhyun. Sedangkan Baekhyun sendiri sudah mengangis tersedu-sedu sambil berjongkok dan menenggelamkan kepalanya dilutut.

"K-kau bilang kau mencintaiku! Kau bahkan memarahiku ketika aku bilang aku menyukai teman sekelasku hiks! Kau juga merebut ciuman pertamaku tanpa izin, kau orang hiks asing pertama yang melihat seluruh tubuhku selain hiks eomma, kau juga orang pertama yang aku izinkan untuk hiks merenggut sex pertamaku. Aku mencintai hiks paman, t-tapi kenapa paman hiks melupakanku~ kenapa?"

Eomma Byun membelalakan matanya, tak hanya wanita itu sebenarnya. Ketiga orang lainnya juga tak kalah terkejutnya ketika mendengarkan pernyataan dari Baekhyun. Tuan Park yang merasa tak enak pada dokter Ahn dan juga Arin hanya berdeham sebelum ia mengalihkan pandangannya kearah lain. Ia sungguh malu dengan pernyataan bodoh yang dilontarkan oleh cucu kesayangannya.

"Aku tak bisa tinggal diam. Ternyata benar si bedebah itu yang telah meracuni Baekhyunnie"

"N-nyonya, t-tenanglah"

"YAK Park Chanyeol!"

Setelah menitipkan Jackson pada Arin wanita paruh baya itu menghampiri Chanyeol dan juga Baekhyun. Wajahnya nampak sangat kesal dan ia abaikan tatapan bingung yang dilontatkan adiknya. Ia tarik dengan segera Baekhyun yang masih berjongkok dilantai, memperhatikan wajah memerah berceceran air mata itu sebelum ia memeluk anak itu. Ia hapus lelehan air mata Baekhyun dengan lembut, mengecup pipinya sekali sambil membisikan kata-kata meminta anak itu tenang.

"Eomma~ hiks"

"Tak perlu menangis lagi. Pamanmu hanya berbohong. Ia tidak lupa ingatan, ia hanya mengerjaimu"

Baeknyun dan juga Chanyeol langsung membulatkan matanya kala itu. Beda Baekhyun yang merasa tak percaya dengan eomma-nya beda pula Chanyeol yang terkejut dan langsung menatap Baekhyun takut-takut sambil menggaruk tengkuknya.

"Paman hiks tega membohongiku?"

"Aku..."

"Disaat aku mati-matian berlari di pagi buta hanya untuk mengejar pesawat agar bisa pulang ke Korea dan melihatmu, hingga akhirnya aku sampai disini dan kau malah membohongiku?"

"Maafkan aku Baek. Aku hanya..."

"Aku tak tahu seberapa besar kau marah padaku karena aku abaikan. Tapi beginikah caramu membalas dendam?"

"B-baek, aku mencintaimu. Mana mungkin aku dendam padamu"

"Kau mengecewakanku paman"

Tak seperti yang diduga, Baekhyun tiba-tiba saja duduk diatas pangkuan Chanyeol, memeluk leher lelaki tampan itu dan menyandarkan kepalanya pada bahu Chanyeol. Ia merindukan lelaki itu, dan akhirnya setelah tadi sempat merasa kecewa karena Chanyeol tak memberikannya pelukan saat ia datang kali ini akhirnya ia bisa merasakan kembali memeluk lelaki itu.

"C-chanyeol. K-kau belum kuat untuk menahan beban berat seperti Baek-"

"Tak apa, aku bisa dok. Tenang saja, anak ini tidaklah berat"

Setelah menenangkan dokter Ahn dan juga Noona-nya yang meminta Baekhyun turun dari pangkuannya Chanyeol mmbalas pelukan Baekhyun. Memberikan kecupan-kecupan secara bebas setelah ia menahan gemas untuk tidak menyentuh keponakannya tadi.

"Aku benar-benar takut kau melupakanku"

"Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi"

"Janji?"

"Ne"

Didaratkan bibirnya pada bibir Baekhyun, membuat orang-orang disana kembali membelalakan matanya dengan Arin yang langsung menutup mata Jackson digendongannya. Wajah orang-orang disana memerah tak terkecuali tuan Park yang kembali merasa malu akan tindakan anak dan juga cucunya.

"Hentikan!"

Chanyeol dan Baekhyun pun mengakhirinya, masih tetap saling tatap dengan jemari indah Baekhyun yang sudah meraba wajah tampan Chanyeol. Mata lelaki tampan itu masih menatap penuh harap pada bibir tipis Baekhyun yang sedikit terbuka. Dipejamkan kembali matanya hendak menyambar bibir menggairahkan itu sebelum telinganya merasakan tarikan menyakitkan yang dilakukan oleh Noona-nya.

"Berhenti mencemari Baekhyunnie!"

"Bisakah kita lakukan pemeriksaannya sekarang?"

"Ah tentu saja. Baekkie sayang, bisa kau menyingkir terlebih dahulu? Saat pemeriksaannya selesai kita akan melakukannya lagi, aku sangat merindukanmu"

"Tidak akan lama?"

"Tidak akan. Hanya setengah jam"

"Aku akan menunggu paman disini"

Chanyeol mengangguk dan memberikan sebuah kecupan manis dikening anak itu, membuat Baekhyun segera bangkit dari pangkuannya. Anak itu tersenyum sejenak sebelum akhirnya mengambil Jackson dari gendongan Arin.

"Terimakasih Noona."

"Ne"

"Kau merindukan appa anak manis?"

Ia kecupi pipi Jackson dengan gemas, tak memperdulikan Chanyeol dan juga kakeknya yang baru saja meninggalkan ruangan mewah itu untuk melakukan pemeriksaan pada punggung Chanyeol.

Tak lama, Arin pun ikut meninggalkan ruangan itu. Tinggalah kini Baekhyun dengan Eomma-nya, ia abaikan wanita itu dan malah sibuk bermain dengan Jackson.

Ia ambil banyak mainan didalam paperbag yang ia tahu benar kalau eomma-nya yang sudah membelikan. Ia ucapkan terimakasih pada eomma-nya dan kembali bermain dengan Jackson. Mengambil apapun yang menyala-nyala hingga Jackson yang merasa geli ketika mainan itu menyentuh kuliynya malah tertawa dengan lepas.

"Jackson manis sekali Baek"

"Lalu aku?"

"Tanyakan saja pada Chanyeol! Hanya si bodoh itu yang selalu mengatakan kalau kau manis"

"Eomma jahat"

Baekhyun mendengus, mengabaikan tatapan dengki eomma-nya yang setelahnya berubah menjadi tatapan penuh kelembutan yang biasa seorang ibu berikan. Ia usap perlahan punggung dan juga kepala anak itu, membuat Baekhyun merasa sangat nyaman.

"Menikahlah dengan Chanyeol"

"M-mwo?"

Ia alihkan pandangannya dari Jackson, ia bawa anak itu dalam pangkuannya karena ia sedang tak ingin lepas dari anak tampan itu. Baekhyun masih menyerngit bingung, menunggu eomma-nya melanjutkan pembicaraan yang membuat jantung Baekhyun berdebar.

"Eomma sudah membicarakannya dengan Kakek dan juga Chanyeol setelah anak itu kecelakaan. Eomma dan kakek sepakat menikahimu dengan Chanyeol setelah anak itu benar-benar sembuh."

"E-eomma~"

"Berbahagialah. Eomma tidak ingin melihatmu dan juga Chanyeol terus-terusan merasa sedih. Eomma menyayangi kalian. Lagipula sekarang sudah ada Jackson, memangnya kau sanggup membesarkan Jackson seorang diri? Rawatlah Jackson bersama dengan Chanyeol. Eomma yakin Chanyeol menyetujuinya"

"Hiks"

Setelah isakannya terlontar Baekhyun sungguh tidak tahan untuk tidak memeluk eomma-nya. Entahlah, terserah orang ingin bilang ia apa karena terlalu sering menangis. Tapi sungguh, akhir-akhir ini ia mengakui kalau hanya dengan menangislah ia bisa meluapkan perasaannya.

Eomma Byun yang mendengarkan isakan Baekhyun hanya tersenyum, sesekali menanggapi ocehan Jackson yang terlihat seperti tengah menceritakan mainan barunya.

"Chanyeol diperbolehkan pulang besok siang. Pikirkanlah baik-baik kalau kau memang mencintai pamanmu!"

"N-ne eomma. Terimakasih"

"Jangan menangis! Malu pada Jackie!"

Dengan penuh senyum Baekhyun mengangguk sambil menghapus air matanya. Senyumnya mengembang sangat lebar yang kembali membuat eomma Byun gemas dibuatnya.

Lama hanya saling tersenyum dan berbincang mengenai cerita satu tahun Baekhyun di Paris membuatnya tak menydari si pria tampan baru saja membuka pintunya dengan senyum mengembang.

Cup

Dicurinya sebuah kecupan di pucuk kepala Baekhyun yang lanhsung membuat anak itu menoleh kearah si pelaku. Chanyeol hanya teraenyum setelahnya, mengabaikan tatapan tak terima dari Noona-nya dan langsung mengambil Jackson dari Baekhyun.

"Bukankah Jackson mirip denganku?"

Chanyeol mengutarakan itu saat ia mendekatkan wajah Jackson dengan wajahnya. Ia tersenyum sangat tampan yang langsung membuat Jackson tertawa girang saat itu juga.

"Ia terlihat menyukaimu Yeol"

"Ne, sepertinya begitu"

Ia menyetujui ucapan Noona-nya, ia bawa Jackson untuk bernain diatas ranjangnya. Dengan berbekal sebuah mainan karet yang menyala-nyala Chanyeol menyandarkan anak itu pada tumpukan bantal untuk menjaga posisi duduknya.

"Hai anak tampan~"

"..."

"Bolehkah aku meminta Jackson memanggilku Daddy?"

Baekhyun hanya mengangguk, lucu sekali melihat Chanyeol meminta izin hanya untuk hal kecil seperti itu. Ia pun menghampiri keduanya, menarik sebuah kursi dan duduk disisi ranjang Chanyeol sambil memperhatikan Jackson.

"Baik, coba katakan Daddy"

"Appa~"

"Tak apa sayang."

"Tak apa, coba lagi. Da-Ddy"

"Dad-"

"Jangan memaksa anakku!"

"Ia akan menjadi anakku juga nantinya!"

"Tapi ia belum lancar berbicara~"

"Aku akan keluar dari sini! Jangan macam-macam dengan Baekhyun! Aku akan menendang kepalamu kalau kau berani macam-macam dengan anakku!"

Sebelum Noona-nya keluar dari ruangan itu Chanyeol hanya mengangguk, tak peduli pada ancaman Noona-nya karena ia tengah sibuk memaksa Jackson memanggilnya Daddy.

"Jangan memaksanya! Ia akan bisa kalau sudah waktunya!"

"Coba katakan Da- sudah lupakan saja! Kau ben-"

"Da-ddy~ huweee"

Setelah mengatakannya Jackson menangis, beranjak pada pelukan Chanyeol yang langsung disambut dengan gembira oleh lelaki tampan itu. Ia kecupi pucuk kepala Jackson dengan penuh rasa sayang, membuat Baekhyun yang melihatnya merasa sangat damai karena tak perlu takut lagi kalau Chanyeol akan menolak Jackson.

"Tak apa jagoan, kau sudah berusaha sangat baik"

"Huwee"

"Tak apa, Baekkie Mommy tidak akan meninggalkanmu. Jangan menangis cup cup"

Baekhyun tidak tuli untuk mendengar apa yang diucapkan Chanyeol, ia juga tidak bodoh untuk mengerti apa yang dimaksud Chanyeol dalam ucapannya. Ia menatap nyalang lelaki tampan itu. Berusaha terlihat galak yang sialnya malah membuatnya terlihat sangat menggemaskan.

"Mo-mmy?"

"Ne, dia adalah Mommy!"

"Mo-mmy huweee"

"Yak! Berhenti membuatnya menangis paman! Dia pasti bekerja keras untuk mengucapkannya!"

"Kita harus melatihnya Baek!"

"Tapi masih terlalu kecil"

Jackson masih menangis didalam pelukan Baekhyun, membuat Chanyeol maupun Baekhyun kebingungan karena anak itu tak henti-hentinya menangis sedih sambil membenamkan wajahnya didada Baekhyun.

"Sepetrtinya dia haus"

"Benarkah?"

"Dia daritadi memukul dadamu berkali-kali"

"Ah, aku lupa memberinya susu. Bisa kau pegang dia sebentar? Aku akan mencari susunya didalam tas"

Tangisan Jackson makin menjadi-jadi ketika Baekhyun bergerak menjauh dari ranjang Chanyeol. Si pemilik ranjang benar-benar bingung dan terus bekerja keras untuk menenangkan Jackson.

Diujung sana, Baekhyun tengah sibuk mengacak-acak isi tas-nya hanya untuk mencari susu milik Jackson. Seingatnya ia sudah membawa seluruh stok susu sapi segar milik Jackson, tapi kenapa tidak ada?

Ia beralih pada kopernya, mengabaikan panggilan Chanyeol yang memintanya untuk segera bergegas karena ia sudah tak tega mendengar tangisan Jackson.

"Susunya tidak ada!"

"Hah? Bagaimana bisa? Sudah kau cari dengan teliti?"

"Tentu saja sudah."

"Hmm, coba kau turun ke lantai 3 disana ada kantin, dan cobalah kau tanya apa mereka menjual susu"

"J-jackson alergi susu buatan pabrik. Ia hanya bisa minum ASi atau susu sapi segar. Kalau tidak ia akan alergi"

"M-mwo?"

Baekhyun menunduk, tak tahu lagi harus apa karena jujur ia sendiri bingung dan tak tega mendengar Jackson menangis. Ditatapnya Chanyeol yang nampak tengah berpikir pula, mata lelaki itu terpejam dengan tangannya yang sibuk mengusap kening Jackson agar anak itu tenang.

"Telepon eomma-mu!"

"Ba-"

"Ah tidak perlu. Wanita itu hanya akan marah-marah. Tidak ada yang menjual susu segar dimalam hari Baek!"

"Lalu bagaimana?"

"Aku akan menghubungi asistenku untuk memesan susu sapi segar di peternakan, tapi...mungkin susu itu akan paling cepat sampai besok siang"

"Tapi Jack- yasudah tak apa!"

"Lalu sekarang bagaimana?"

"Aku tidak ta-"

"Ah, coba buka bajumu!"

"M-mwo?"

Tentu saja Baekhyun tidak mau, itu namanya pelecehan. Baekhyun tidak akan membuka bajunya dihadapan Chanyeol lagi. Tak peduli kalau pada akhirnya ia akan segera menikah dengan lelaki itu Baekhyun tak peduli. Ia tak ingin membuka bajunya. Titik!

"Aku tidak mau! Lagipula aku tidak akan menghasilkan apapun!"

"Apa salahnya mencoba? Kau mau melihat Jackson terus menangis seperti ini?"

"Kenapa tidak paman saja?"

"Kau mau Jackson makin menangis karena melihat lukaku? Hanya mencoba Baek, kalau tidak berhasil aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan susu itu!"

"Janji?"

"Ne! Sekarang buka bajumu dan susui Jackson!"

Dengan penuh keraguan Baekhyun ikut berbaring diatas ranjang Chanyeol yang terasa cukup luas dan nyaman untuk ukuran ranjang rumah sakit. Ia buka kancing teratas kemejanya sambil menatap Jackson yang masih menangis. Anak itu berbalik dan kembali membenamkan wajahnya didada Baekhyun, memukulkan tangan-tangan kecilnya didada milik Mommy-nya.

Perlahan-lahan Baekhyun menarik kain kemejanya, mengarahkan putingnya pada mulut mungil Jackson dengan matanya yang terpejam. Ia takut, ia belum pernah menyusui anak kecil, ia hanya pernah menyusui Chanyeol dan itupun sudah terjadi setahun yang lalu.

Tangannya memegangi kepala Jackson dan mengusapnya ketika bayi itu mulai mengecap putingnya sambil menghisap perlahan. Tangannya yang menganggur Baekhyun gunakan untuk menarik kain disisi satunya agar putingnya yang tidak sedang dikulum Jackson tidak terlihat.

"G-geli paman~"

"Bersabarlah. Yang penting ia tidak menangis"

"J-jackson menghisapnya sangat kuat~"

"Tak apa"

Cup

Dikecupnya kening Baekhyun agar lelaki manis itu merasa tenang. Tangannya merapikan helaian rambut Baekhyun yang menutupi kening. Diperhatikan secara seksama wajah Baekhyun yang tengah merasakan geli dan nikmat secara bersamaan. Sial, miliknya langsung menegang melihat wajah sexy milik Baekhyun.

Setelah tak merasakan hisapan pada putingnya Baekhyun membuka matanya, menoleh kearah Jackson yang sudah terlelap. Bibir anak itu sedikit terbuka dan Baekhyun hanya tersenyum memperhatikannya.

"Jackson sudah tertidur"

"S-sudah?"

Sebuah dehaman terdengar langsung dari mulut Chanyeol, baru saja hendak Baekhyun mengancingi kemejanya ia menyadari bahwa putingnya terasa basah. Ia meliriknya, dan benar tonjolan itu masih basah karena saliva Jackson.

Chanyeol yang melihat itu meneguk liurnya kasar, ingin sekali mengalihkan pandangannya dari puting pink kecoklatan milik Baekhyun yang tengah dibersihkan.

"Paman~"

"N-ne?"

"Rasanya aneh. Seperti sebelah putingku yang tidak dihisap Jackson merasa tegang"

"T-tegang?"

"Ne~"

Sekali lagi Chanyeol meneguk liurnya kasar, ia masih tatapi puting Baekhyun yang tengah ditekan-tekan oleh anak itu. Membuat libidonya semakin meningkat karena memperhatikan hal seindah ini.

Diangkat tangannya untuk memegangi tangan Baekhyun yang sebelumnya menekan tonjolan kecoklatan itu. Ditatapnya dalam mata anak itu, memberikan kecupan singkat dibibir anak itu sebelum perhatiannya jatuh pada puting Baekhyun lagi.

"B-bolehkah aku menggantikan Jackson mengulum yang satunya?"

"P-pamanhh~"

TBC

Annyeong~

Thanks For you all :

• yeolhee • jiellian21 • Byunexo • spektrofotometri • AlexandraLexa • daebaektaeluv • selepy • Baeka • byuniepark • Yoon745 • LM • Darkyoung • cinderbaek • itabee • pongpongi • narsih. hamdan • fatimah. araxxl • dharu1288 • n3208007 • vivikim406 • ketekchanII • • ByunB04 • myzmsandraa99 • Guest (semua yang pake username ini hehe^^) • dyllanst • 90Rahmayani • metroxylon • ay • dessytamara81 • dhecl2 • yousee • mochibacon • ambar istrinya suho • lailylala94 • Park'Chan • YOUR READER 04 • sherli898 • babybaek • Acelacel • meliarisky7 • ByunMafia • Veron22 • arassoo • VampireDPS • ProManiac •

Mohon maaf bila ada kesalahan nama didalam penulisan, tidak ada unsur kesengajaan. Kalo ada yang belum disebut namanya mian, murni ga sengaja hehe.

Yang diatas, makasih udah nyempetin buat review~ aku sayaaaaaaaaaannnggggg kalian semua:*

Bolehlah review lagi chap ini hehe^^ ditunggu yaaw~ saranghae~

Review Juseyooooooo^^