Terakhir aku meng-apdet fic ini akhir 2010, dan sekarang dah masuk bulan September 2011. Waktu yang cukup lama bagiku untuk membenahi gaya menulis dan pengetahuan dalam penggunaan tanda baca dan susunan kata yang lebih afdol sesuai dengan EYD. Bukan karena aku tidak mengetahui semua itu, tapi masalah sebenarnya adalah semacam Writer Block akut menyerang dan menghentikan imajinasiku untuk berkembang…
Aku tahu banyak dari Reader yang menanti-nanti fic ini. Tapi saya ga bisa berbuat banyak. Thanks buat semua PM yang masuk, yang udah menyemangatiku untuk kembali meng-apdet fic ini.
Seperti yang sudah aku bilang, aku ga akan pernah menelantarkan fic ini. Garis kasar bayanganku, fic ini bisa mencapai 30 chapter-an. Dan aku ga mau satu idepun yang meleset.
Secara garis besar, chapter ini masih mengikuti garis plot dari chpt sebelumnya. Masih dengan nuansa santai dan menikmati liburan, aku tampilkan kehidupan Tai dan Kari yang (hampir) seperti biasa pada chapter ini. Bagi kalian yang mengarapkan battle, chapter berikutnya kalian bisa berharap banyak dari gaya penceritaan pertarungan dariku yang khas.
Ada Yoshi, Izzy dan Davis di chapter ini. So, enjoy, loyal readers.
Sebelumnya di Tai's Holiday…
"Perkenalkan, namaku Yoshino Fujieda. Panggil aku Yoshi saja. Senang berkenalan dengan kalian semua."
Tai's Holiday
Chapter 10: The Virgin's Wrath
Cuaca hari ini begitu cerah. Sudah cukup lama hari-hari yang lampau tidak bersinar akan cahaya matahari yang bagaikan senyuman tak tertahankan gemilangnya. Seperti pada hari-hari yang dulu, keluarga Yagami selalu memanfaatkan berkah alam ini sebaik-baiknya. Tai, mengenakan kaos Polo berwarna jingga yang cerah, dan sepasang celana pendek Jeans bermain mini-golf bersama Kari, adiknya dan Susumu, ayahandanya. Sementara ibunda Yagami membersihkan dapur, juga ruang tamu hingga tampak apik seperti sedia kala.
Kari, berpenampilan ceria seperti biasa. Kaos oblong berwarna biru cerulean mampu membuatnya menyatu dengan cerahnya langit pukul 10 hari ini. Apabila dilihat dari kaca mata pria seumuran dengannya (atau pria-pria yang berusia lebih atas lagi, juga), tubuh Kari benar-benar langsing dan sangat cocok mengenakan kaos oblong seperti ini. Tubuhnya yang mungil menciptakan kesan ketat lagi modis. Belum lagi tiap lekuk tubuhnya yang nampak manis oleh mata.
"Birdie*!" teriak Tai, riang. Dia nampak mengepalkan kedua kepalannya ke atas langit dan cengiran super lebar diberikannya ke langit sebelum kepada si ayah dan adiknya. "Sangat jarang aku mendapatkan Birdie!"
*Birdie: Istilah salah satu 'poin' pada Golf.
Melihat kegembiraan berlebihan kakaknya, Kari terasa perutnya dikocok dan sungguh merasa geli. "Ya, ampun kakak. Birdie di halaman rumah saja sampai segitunya?"
Tai kemudian mengepalkan tangannya di depan dada, begitu merasa terharu dengan pencapaian terbarunya. "Aku tidak pernah bisa—apalagi ketika melawan Tyson dan Evana. Mereka sangat jago Golf; mendapatkan Par* saja susahnya minta ampun, apalagi Birdie."
*Poin dalam permainan Golf; nilainya dibawah Birdie.
"'Nah, 'nah Taichi," ujar Susumu, ayah mereka. "Sekarang ayah lawanmu. Kau pikir bisa mengalahkan ayah?"
Tai memoleskan jempol di bawah hidungnya. "Hehe, aku sudah mendapatkan momentumku. Aku taruhkan 2 Bucks* untuk kemenanganku, ayah!" serunya, bangga—terlalu bangga, malahan.
*2 Dollar.
"Ah! Besar kepala! Ada yang besar kepala di sini!" seru Kari, tidak kalah hebohnya dengan si kakak. Ia melonjak, menunjuk si kakak dan nampak terkejut—yang walau tidak kunjung bisa menahan senyuman gelinya terhadap si abang. "Kakak tidak tahu keahlian ayah beramin Golf. Ayah pasti akan membuatmu meratap di sudutan kamar!"
"Whoaa…k-kau membuatku takut sekarang, Kari,"
Mereka bertiga tertawa lepas mendengar pernyataan kecut Tai barusan. Sungguh sebuah kehangatan yang (mungkin) hanya dimiliki keluarga Yagami. Rasa kekeluargaan yang begitu erat inilah yang membuat Taichi selalu merindukan rumahnya nun jauh di seberang lautan.
Tapi kini dia masih dapat tersenyum ceria karena ini barulah satu setengah minggu pertamanya di Jepang. Ia masih memiliki jatah 2 bulan 2 minggu lagi untuk dinikmati.
Tapi, walau begitu…dibalik senyuman cerahnya, Tai juga sebenarnya masih menyimpan sedikit kejanggalan hati. Ya, Sora. Dia masih belum menadapatkan kontak dari gadis berambut jingga tersebut. Tidak lupa juga setiap malamnya Tai mengecek Bold miliknya. Siapa yang tahu kapan Sora akan mengirimkan email balik padanya. Tapi, sayang, semenjak insiden 7 Phantom Lords seminggu yang lalu, Tai tidak mendengar kabar sehelai rambutpun mengenai Sora.
Setiap ingin tidur pulalah, Tai selalu kepikiran dengan gadis itu; wanita yang menjadi cinta pertamanya dulu…dulu sekali. Apa itu semenjak sd? Tidak. Sepertinya sejauh dirinya mengenal Sora. Dia tahu kalau dirinya sudah berbuat salah terlalu banyak pada Sora. Tapi yang Taichi inginkan hanyalah maaf dari Sora, dan senyuman hangat lagi ramah yang selalu Sora berikan dari balik bibir merah, juga tatapan biru langit yang sangat menghanyutkan pada kedua mata hazel tua milik Tai.
"Tai…?"
Satu suara yang sedikit asing bagi Tai menyadarkan lamunan sesaat si pemuda. Brunette muda itu mencari asal suara, tapi dia tidak kunjung menemukannya juga. "…sedang apa?" tanya suara yang terdengar setengah sadar itu.
Tai menengadahkan kepalanya, dan membalas tatapan setengah kantuk gadis yang baru dikenalnya kemarin sore. "Yoshi! Hei, kau sudah bangun?" sorak Tai, melambaikan kedua tangan dari bawah. Dia melihat sosok Yoshi yang sedang mengucek-ucek sebelah matanya di beranda kecil lantai dua.
Biasanya beranda itu digunakan Tai untuk duduk santai dan atau sambil berlatih gitar. Itu dulu sekali. Kalau itu Kari, gadis mungil itu mungkin akan membawa beberapa helai sweater rajutan untuk diselesaikan, atau membawa Android barunya untuk menelepon Davis sambil menikmati pemandangan asri perumahan hijau Odaiba ini.
"Kak Yoshi! Main Golf dengan kami, 'yuk!" lanjut seru dari Kari.
Ketika mata Yoshi memandangi tiga orang di bawah sana, ia menyadari wajah tuan Susumu yang tersenyum begitu akrab. Saat itulah ia tersadar apa yang sudah ia lakukan: Tertidur kelewat batas di rumah orang!
Taichi, Hikari, dan Susumu melihat sosok Yoshi berlari masuk dengan kecepatan luar biasa. Dari telinga mereka yang tidak begitu tertuju pada suara di dalam sanggup mendengar seruan bersalah Yoshi seperti: 'Ya, ampun! Apa yang kulakukan sampai kebablasan tidur!' atau 'Bagaimana bisa terjadi! Aku tidak percaya!' dan 'Yoshi bodoh! Apa yang kau lakukan!'.
Tai tertawa dengan geli melihat tingkah Yoshi (yang walau tak terlihat) dari dalam rumah. Mereka bertiga juga seperti mendengar suara terjatuh dari tangga. "Ups, sepertinya," ujar Kari, terhenti, menutup mulutnya dengan dua tangan.
"Haha. Dasar ceroboh." Tai dengan segera berlari ke dalam rumah, setelah bersorak kepada ayah dan adiknya untuk teruskan saja permainannya tanpa menunggui Tai.
Di dalam rumah, tepatnya di ruang makan dan sedikit ke arah dapur, Tai melihat Yoshi yang membungkukkan tubuhnya dan meminta maaf pada ibunda Yuuko dengan Gatomon juga Agumon yang membantunya. Lalamon nampak melayang-layang dan kelihatan menceramahi Yoshi. Tidak bisa menahan gelak kecilnya, Tai tertawa di dalam hatinya, namun memberikan senyuman akrab di bibirnya.
"M-maafkan aku sekali lagi, bu Yagami!" seru Yoshi. "Aku tidak tahu kenapa bisa sampai kebablasan seperti ini tidurnya. Karena ini tidak pernah terjadi sebelumnya padaku. Maafkan aku!" Yoshi memejamkan kedua matanya, hingga menyipit. Berusaha memperlihatkan bahwa dia benar-benar menyesal atas apa yang telah ia lakukan.
"Yoshi…bunda sama sekali tidak marah, 'kok," sahut si ibu, dengan segala kehangatan dan senyuman sepenuh hatinya. "Bunda tahu kamu pasti sangat lelah setelah perjalanan antar dimensimu. Jadi tidak usah dipikirkan, oke?"
"Ibu…eh, bunda…" Yoshi kelihatan begitu terharu. Kedua matanya nampak berlinang akan air mata—yang bagi Tai, menjadi seperti bumbu penyedap bagi senyuman gelinya.
"Yoshi, kau tidak bisa dimaafkan sebenarnya!" seru Lalamon, menunjukkan raut berang dan memarahi. Seperti guru matematika yang mengomeli muridnya yang tidak bisa-bisa juga menggunakan rumus Al-Jabar, tangannya (?) yang terbuat dari dahan daun bergerak naik turun. "Bunda orang yang terlalu baik. Kalau itu aku, kau pasti sudah kusuruh membersihkan toilet!"
"Aduh, Lalamon." si bunda, menahan tawanya dengan sebelah tangan. Ia merasa hubungan antara Yoshino dan Lalamon sangatlah unik. Entah kenapa, bunda seperti melihat Tai dan Agumon. Begitu akrab dan begitu saling mengisi. Yaah, bagaimanapun ini adegan yang cukup menggelikan, batin bunda.
Yoshi menggemertakkan tangannya satu sama lain. "La-la-mon." suara Yoshi terdengar angker lagi mengerikan di telinga Digimon tumbuhan itu. Ketika dia mengangkat kepalanya, kedua matanya bersinar menatap Digimon tumbuhannya. "Kenapa kau tidak membangunkanku!" Yoshi mengejar Digimon-nya selagi menjulurkan kedua tangannya ke langit, dan berkeliling ruang makan dengan urat berang di kepalanya.
Tai, bunda, Agumon dan Gatomon tertawa bersama melihat tingkah pendatang baru di rumah mereka itu.
"Yeeey, aku mau ikutan, donk!" Agumon berniat berlari ke dalam lingkaran dimana Yoshino dan Lalamon berlari kejar-kejaran mengelilingi meja makan. Tapi itu langsung digagalkan Gatomon, yang menahan kepala dan menatap wajah Agumon lurus dan dingin. "Jangan berusaha lari dari tugasmu, Agumon." ujarnya. "Jatah cucian piringmu masih bertumpuk di sana."
"Hiii!" gigil Agumon, merasakan bulu kuduknya yang berdiri.
-o0o-
Taichi duduk di salah satu kursi meja makan (yang kali ini jumlahnya bertambah dua, jadi 8 buah). Tai duduk di seberang Yoshino yang sedang menyantap sepotong roti bakar yang sudah disediakan bunda semenjak tadi. Dengan bantuan Tai, yang memang sebelumnya sarapan Yoshi itu sudah dimasukkan ke dalam oven agar tetap hangat, ia mengambilkannya.
Ibunda Yuuko melanjutkan pekerjaan rumah tangganya yang lain dengan bantuan Gatomon. Sementara Agumon, ia duduk di sebelah Tai, memperhatikan Yoshi menyantap sarapannya. Tepat di sebelahnya duduk, sosok Lalamon yang nampak kelelahan juga beristirahat dengan santai. Agumon tidak bisa menutup rahang karnivora-nya yang melekuk di kedua sisi pipi, tersenyum, memperhatikan dua anggota tambahan di rumah Yagami.
Tai, di lain pihak memperhatikan gadis berambut maroon itu. Kedua rambutnya, Tai ingat sekali, bisa digambarkan serupa dengan kulit luar buah naga pada perayaan tahun baru Cina. Tai tergelak kecil, seperti warna buah, ya.
Ketika dia merayapkan pandangannya ke tubuh Yoshino (tanpa niat apa-apa, untuk catatan saja), ia melihat tubuh Yoshino masih terbalut salah satu piyama favorit Kari. Satu set piyama itu berwarna merah muda dengan corak bintang-bintang. Dengan kesan gelap, membuat warnanya hampir serupa dengan rambut Yoshi. Sekali lagi Tai tersenyum. Tapi tidak untuk observasi kali ketiga-nya.
Tubuh Yoshi tentu saja relatif lebih besar dan 'berisi' ketimbang Kari yang masih sma. Mata Tai tertuju pada bagaimana piyama yang bisa dibilang ukurannya lebih kecil itu, membuat penampilan badan Yoshi nampak ketat dan cukup meninggalkan jejak pada beberapa titik; Tai menandakan dalam hatinya—pada kedua bahunya yang dapat dibilang jenjang untuk gadis seumurannya; lalu pada pinggang dan pinggul, dan yang paling menyita perhatian Tai adalah: pada dada Yoshi.
Wajah Tai memerah redam. Tai tidak tahu, tentu saja. Dia hanya merasa sedikit malu untuk mengangkat wajahnya. A-aku tidak sengaja, yakinnya dalan hati, selagi menundukkan mukanya (pura-pura melengah). Seperti ada seorang model anggun nyasar di rumahnya, Tai merasa salah tingkah.
"Oh, maafkan aku Tai. Aku akan ambil alih tugas bersih-bersih rumah hari ini sebagai hukumannya." ujar Yoshi dengan tatapan memelas dan meminta maaf. Yoshi menyatukan kedua telapaknya, kelihatan seperti berdoa di depan kuil dan terukir senyuman setengah hati di bibirnya. "Maafkan aku Tai. Padahal kalian sudah membiarkan aku tinggal di sini."
Tai mengangkat kepalanya, memasang wajah kosong dan bingung. "Tidak usah dipikirkan lagi, Yoshi," ujarnya akhirnya, tersenyum bersahabat. "Tadi aku sempat menelepon sahabatku, dan, ya, perjalanan melintasi ruang dan waktu sangat memakan energimu. Hmm, apa kata Izzy tadi…oh, tubuhmu berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Jadi, tidak usah terlalu dipikirkan. Ok?" Tai mengedipkan sebelah matanya.
Yoshi mungkin tidak tahu wajahnya merona—yang ia tahu rasa bersalahnya seperti diangkat Tai, dan dibuang jauh-jauh. Kali ini Yoshi tesenyum penuh. "Oh, begitu," ia merunduk dan mengelus kepalanya.
"Iya! Tapi jangan ketiduran lagi. Huh, dasar Yoshi ceroboh!" seru Lalamon, kelihatan seperti berniat mengungkit-ungkit masalah lagi. Tai hanya tertawa geli melihat Yoshi yang mencubit kedua pipi tembem Lalamon dengan erat dan mengangkatnya ke udara.
Yoshi memutar-mutar Lalamon di udara ketika ia sudah berdiri di atas kedua kakinya. "Awas kau, ya, Lalamon!" serunya sambil tersenyum gelap.
"Ahahha, ampun Yoshi!" Lalamon juga tersenyum geli. Nampak puas mengisengi master-nya.
Kari datang dan melihat keramaian ruang makan. Masih dengan keriangannya, ia menghampiri wanita berambut maroon itu. "Kak Yoshi!" sapanya riang.
Yoshi yang mendengar itu menjatuhkan Lalamon dan memeluk tubuh mungil Kari. "Oh, Kari, Kari, Kari."
Tai melihat kedua gadis itu berpelukan dan bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan. Pagutan erat seperti dua sahabat yang sudah tidak bertemu untuk waktu yang lama. Riang sekali, pikir Tai. Seperti Mimi kurang lebih, lanjutnya, Yoshino ini.
"Kak Yoshi, kita akan makan siang di luar. Kakak ikut, ya?" tawar Kari, masih belum ada tanda-tanda kalau senyumannya akan meredup.
"Sungguh? Aku akan dengan senang hati ikut." jawab Yoshi tidak kalah ceria. Ia melepas tangannya dari tangan Kari dan bersiap ke lantai dua. "Kalau begitu aku akan pergi mandi sekarang."
"kak Yoshi pakai bajuku saja. Aku punya 'kok beberapa baju yang sedikit lebih besar, jadi akan sangat pas di badan kakak." ujar Kari, yang kini berjalan di sebelah Yoshi. "Mau ya, kak?"
"Ahahaha, tentu saja Kari yang manis!" hingga di belokan menuju tangga, Tai melihat Yoshi mencubit pipi Kari dengan amat gemas. Dasar, cewek 'kok bisa dengan cepat akrab begitu, ya, Pikir Tai. Kalau itu cowok mungkin akan berbagi hobi yang sama dulu, barulah akan menjadi teman baik. Kalau itu cewek, mungkin…hanya dengan berbagi pakaian dan penampilan apa yang mereka suka untuk kenakan…begitu? Ahh, wanita itu sulit diterka, jujur saja, batin Tai.
Tai tersenyum, mengangkat kedua tangannya ke belakang kepala selagi bersandar di kursinya. Matanya melirik ke Agumon dan begitu juga sebaliknya. Mata emerald Agumon yang sebesar bola tenis itu menatap Tai yang senyum-senyum sendiri. "Ehe, Tai…" ujarnya sambil menutupi mulut dengan kuku-kukunya.
"Apa?" tanya Tai, tidak habis pikir. Apa yang didapatkan Agumon dari wajahnya kira-kira?
"Jangan-jangan Tai…" suara serak-serak dan tawa kecil Agumon menyelusup ke telinga Tai. Dengan cepat si pemuda mengerti lalu meraih, menggoyang-goyang dan mengunci leher Agumon.
"Hahahaha, 'jangan-jangan' apa, Hayoo!" Tai mengunci Digimon kesayangannya itu dengan bermain-main. "Aku cuma berpikir kalau dia itu mirip sekali dengan Mimi; begitu ceria."
"Oke oke, aku menyerah Tai!" ujar Agumon, masih tertawa dan menandakan 'Time Up' dengan kuku-kukunya. "Ampuni aku, raja!"
"Hahahahhaha!" kuncian itu berubah menjadi pelukan hangat antara Tai dan Agumon.
"'Nah, kau juga harus kumandikan Agumon!" mendengar itu, telinga Agumon bergidik. Dengan perlahan Agumon turun dari bangkunya dan mulai berlari. "Eits, kau tidak akan kubiarkan lari Agumon!" seru Tai mulai mengejarnya. "Hei! Khusus kalian berdua tidak boleh lari-lari di lorong!" seru Gatomon, mengintipkan kepala dari ruang santai dengan kue serabi kering di mulutnya. Ia mengepalkan tangan ke arah Tai dan Agumon berlari.
-o0o-
Tai menanggalkan pakaian dan celananya. Ia langsung meraih handuk lebar berwarna jingga dari kasur dan mengenakannya. Setelah meletakkan bekas bajunya ke dalam kotak cucian, Tai membuka almari bajunya untuk mencari pakaian apa yang akan dikenakannya.
Tai mengambil satu kaos berwarna putih cream bertudung dan melemparnya ke atas kasur—ya, entah kenapa Tai sangat menyukai kaos bertudung. Dia lalu mengambil setelan jas casual yang masuk dengan kaosnya hari ini. Jas itu berwarna hitam dan memiliki kancing berwarna kuning ke-emasan. Tai kemudian berjalan dan mengambil celana katun setengah Jeans dari gantungan di balik pintu kamarnya. 'Sip, ini pakaianku, batinnya. Sepatu; seperti biasa saja, Tomkins hitam—sepatu skate-nya yang biasa digunakannya. Ada bekas 'aus' di sisi sudut kanan luar karena selalu di gunakan untuk meng-slide setelah mem-pop papan.
'Nah, apa Kari dan Yoshi sudah selesai mandi?
Tai menengokkan kepalanya keluar kamar. Menutup pintu kamarnya dengan rapat, ia berjalan ke pintu kamar mandi yang tepat di ujung lorong antara kamar Tai dan Kari yang saling berhadapan. Tai menguping ke dalam kamar mandi. Hmm, tidak ada suara. Mengetahui itu, Tai mengetuk pintu kamar mandi. "Yoshi. Kau sudah selesai?"
Tai mengangkat sebelah alis matanya. Tidak mendapatkan balasan, Tai bertegak pinggang. Saat itulah terdengar suara cekikikan dan tawa khas perempuan dari kamar Kari. Tai memutar tubuhnya dan berjalan ke kamar Kari. Ia menguping lagi. Sungguh. Apa ini menjadi hobiku sekarang, pikir Tai.
"Kak Yoshi, yang ini juga bagus! Ayo coba. Ayo!" ujar gadis yang lebih kecil itu.
"Eeh, Kari. Tidakkah itu terlalu sempit?" balas suara yang sedikit lebih dewasa.
"Mm-hm. Tidak 'kok." jawab yang satunya. "Ayo dicoba saja dulu!"
"Eh, Kari! Geli! Hihihi…"
Tai menggaruk belakang kepalanya. Wajahnya merona sedikit membayangkan apa yang terjadi di dalam. Nalurinya seperti memaksa Tai untuk menguping lebih jauh, tapi moralnya—ya, moralnya bersikap jantan dan…manusiawi untuk meninggalkan daun pintu kamar Kari.
"Da-dasar anak perempuan…" ujarnya, sambil berjalan menuju kamar mandi. Tai berusaha menghalangi gambaran-gambaran tak senonoh di otaknya.
-o0o-
Hari ini tepat hari minggu. Jadwal reguler keluarga Yagami untuk makan siang di luar. Entah di resto atau café mana, yang pasti setiap hari minggu mereka akan jalan-jalan keluar. Kali ini tentu saja kali pertamanya setelah kepulangan Taichi. Semenjak penyerangan Phantom Lords seminggu yang lewat banyak toko-toko masih tutup pada hari minggu yang lalu. Tapi kali ini tentu saja aktifitas sudah berjalan seperti sedia kala kembali. Dan, ditambah satu orang dengan Digimonnya yang tidak kalah 'lincah', sepertinya kali ini suasana akan semakin ramai.
Susumu dan Yuuko sudah menunggu di dalam Grand Livina hitam keluarga Yagami. Sementara Tai, Kari dan Yoshi baru keluar dari dalam rumah dengan dandanan mereka masing-masing. Seperti pakaian set yang telah Tai pilih tadi, tapi ia kini masih mengalungkan jas hitam di lengan kirinya.
Kemudian Yoshi keluar dari balik pintu. Ia mengenakan jaket dengan bahan jeans berwarna biru muda, dimana untuk dalaman ia mengenakan kaos oblong dengan kerah V berwarna merah muda. Hampir matching dengan rambutnya 'sih, tapi yang menjadi perhatian Tai adalah rok berbahan Jeans milik Kari bisa dengan apik terpasang di tubuh langsing Yoshi yang relatif sedikit lebih besar dari pemiliknya sendiri. Yoshi juga mengenakan sepasang sepatu boots lembut ber-hak dan berwarna putih yang sedari kemarin memang sudah dipakainya. Ada garis berwarna ungu di sekitar kerah sepatunya.
Dilain itu, Tai juga tidak bisa berbohong kalau Kari, adiknya berpenampilan menarik siang ini. Adiknya mengenakan jaket yang hampir sama dengan yang dipakai Yoshi, tapi untuknya jaket tersebut berbahan dasar lebih lembut dan memiliki warna yang lebih ringan. Tarikan garis jahitannya juga memiliki pola yang benar-benar berbeda. Kari mengenakan daster one-piece dengan corak bunga pada bagian bawahnya yang memanjang sampai sebatas lutunya. Daster itu berwarna biru langit dengan corak bunga matahari membuat tubuh mungil Kari bagaikan ladang bunga matahari mini di tengah rerumputan hijau pekarangan kediaman Yagami. Kari mengenakan sepasang sepatu sandal manis berwarna hitam.
Kari kemudian mengunci pintu rumah, dan berlari ke arah mobil mereka berhenti di tepi trotoar. Yoshi sudah naik duluan, dan disusul Taichi kemudian. Kari melihat ke bagian dalam mobil di arah tengah; pipinya menembem. "Kakak, geser sedikit!" serunya, sepeti anak-anak.
"Eh?"
"Sana sedikit ke tengah; ke arah kak Yoshi!" perintah Kari. Yoshi hanya tertawa iseng, dan menggeser tubuhnya sedikit ke tepian.
"'Loh, 'kok malah aku yang di tengah?" protes Tai. "Masa' laki-laki duduk di antara cewek?"
"Sudah sana masuk…!" ujar Kari sambil mendorong badan kakaknya. Agumon, Gatomon dan Lalamon di belakang tertawa melihat Tai dan Kari.
Susumu mengemudikan kendaraannya menuju keramaian jalan raya Odaiba. Selepas dari perumahan asri mereka, jalanan yang cukup sumpek oleh lalu lintas menyambut pandangan mereka semua. Susumu dan Yuuko memutar pandangan mereka ke kiri dan ke kanan, mencari café atau restoran yang bisa menjadi tempat mereka bersantai siang ini.
"Waah, makin sumpek saja, ya?" tanya Tai, melongo ke sekelilingnya. Kedua lengannya bertumpu pada bangku orang tuanya. Matanya tidak mau kalah dari Yuuko, terus melihat tiap sudut café yang bisa jadi tempat yang asik untuk didatangi. "Sepertinya setahun yang lalu tidak sepadat ini…"
Yoshi tertawa kecil, mengundang perhatian si pemuda. "'Kok aku tidak heran, ya?"
"Mm, maksudmu?" tanya Tai.
"Di 'masaku' perkotaan lebih sumpek lagi dari yang sekarang." jawabnya membalas tatapan Tai.
"Oh, iya. Aku sampai lupa kalau kau dari masa depan, Yoshi."
Masih ada yang ingin disampaikan Yoshi sebenarnya. Seperti kalau ia sedikit demi sedikit teringat pernah mendengar nama Taichi Yagami di masanya. Yoshi mengangkat kedua bahunya, dan menunda pencarian dokumen di ingatannya.
"Ah, aku tahu. Bagaimana kala ke café Sorbet baru di komplek jajanan di depan sana?" seru Kari, menunjuk ke arah tikungan. Ia kemudian menatap kakaknya dan Yoshi yang kelihatan seperti meledak dalam keriangan.
"Aku suka Sorbet!" lanjut seru Yoshi.
"Oh, aku juga!" balas Kari, menyatukan kedua telapaknya. "Sangat!"
"Hei…aku juga." ujar Tai, tidak menyangka saja kalau mereka bertiga suka dessert itu. "Bagaimana ayah? bunda?"
"Hahaha. Hei, anak-anak," ujar Susumu, setelah tertawa kecil melihat ketiga anak-anak itu bertingkah seperti anak kecil, secara harfiah. "Makan siangnya bagaimana?"
"Tidak apa-apa." ujar Kari. "Di sana juga ada menu makanan 'kok, 'yah."
Susumu melirik sang istri. Yuuko tertawa dan menutup mulutnya dengan tangannya yang masih kelihatan mulus di usianya yang sudah berkepala empat. "Ayolah. Tidak apa, 'kan?"
"Yay, ayolah ayah!" seru Agumon dari belakang. "Perutku sudah peko-peko*!"
*Istilah slang di Jepang untuk keruyukan.
"Hahahaha, baiklah. Aku kalah anak-anak." jawab Susumu, tertawa lebar. "Baiklah, kita ke sana."
-o0o-
Mereka duduk di meja luar dengan canopy menyejukkan yang disepoi angin hangat siang hari. Seperti Sorbet-sorbet itu adalah menu utama mereka, baik Tai, Kari maupun Yoshi sangat menikmati hidangan tersebut. Hidangan dingin dengan potongan buah tersebut menjadi perhatian pembicaraan mereka bertiga. Seperti paduan sirup apa yang sesuai dengan satu buah, atau sebesar apa potongan buah yang mereka sukai. Sungguh pembicaraan yang begitu dapat menyambung dengan baik bagi tiga orang tersebut.
Susumu dan Yuuko menyelesaikan nasi goreng seafood mereka, dan melap bibir mereka masing-masing dan terlibat pada perbincangan khusus mereka berdua.
Kari sesaat yang lalu masuk ke dalam café untuk memesan tiga mangkuk Sorbet lainnya untuk menjadi bahan obrolan mereka bertiga, tapi ia keluar lagi tanpa sempat memesan apa-apa. "Kakak, ada kak Kou di dalam."
"Oh, ya! Kebutulan sekali!" seru Taichi. "Ayah, bunda. Aku akan ke meja Izzy di dalam. Sebentar, ya."
"Baiklah, asal jangan mengganggu Koushiro, ya 'nak." ujar si ibunda.
"Bunda, apa 'sih." jawab Tai, sedikit malu. Memang dia pernah sesekali mengisengi Izzy, seperti salah meng-input kabel ketika membantu proyeknya, atau membakar hard-disk laptop Izzy—itu semua sudah lama sekali. Tapi syukurlah, Tai bukan cowok yang buta teknologi lagi kini. "Yoshi, ayo. Dia sahabatku yang mungkin bisa membantumu. Ayo, kau juga, Kari!"
"Oh, umm, iya." ujar Yoshi, yang merasa pergelangannya ditarik oleh Tai. "Ayah, bunda, permisi sebentar, ya."
Bunda tersenyum lembut dan melambaikan tangannya melihat mereka bertiga memasuki café bersamaan. Tidak membuang sedikit waktupun, kedua orang tua Yagami itu melanjutkan bincang-bincang akrab mereka yang apabila orang luar memperhatikan, mereka kelihatan masih seperti pengantin baru saja.
"Soo…mau pesan apa, tuan?" Tai memukul meja tempat Izzy bersantai di muka laptopnya, dan tersenyum bersahabat pada teman sedari kecilnya itu. "Sepertinya sedang sibuk 'nih?" tanyanya, duduk tepat di depan sahabatnya itu.
"Woaah, hei Tai!" kejut pemuda berambut coklat dan bermata ebony itu, melihat pemuda yang duduk di depannya. Dia kemudian mengarahkan pandangannya ke arah dua perempuan yang masih berdiri di sisi meja bundar single milik Izzy. "Kari juga! Dan, umm…"
"Halo Koushiro. Aku Yoshino. Panggil Yoshi saja." ujar gadis berambut maroon itu, menjulurkan lengannya untuk berjabat tangan.
Kou menyambutnya dan menelan gumpalan di tenggorokannya, kelihatan grogi dari caranya menatap Yoshi. "Er, ehhm. Hai, aku Koushiro. Izzy panggilan akrabku."
"Izzy?" Yoshino menunjukkan wajah bertanya-tanya.
"Salahkan dia ini yang sudah memberiku panggilan 'lucu'." balas si pemuda, sarkas, menunjuk Tai di depannya. Tai mengangkat tangannya sedada, berusaha membentengi diri dan tersenyum kecut. "Hehe…" tawa kecil Tai.
Yoshi duduk di sebelah Tai, sementara Kari mendaratkan tubuhnya di bangku tepat di sebelah Izzy. "Sedang apa, kak Kou?" tanya Kari, melongokan kepalanya ke layar laptop Izzy.
Izzy seperti biasa mengenakan kemeja flannel kebesaran dengan dalaman kaos dalam berwarna putih. Sepasang head-set berwarna hijau tua masih menggantung di sekitar lehernya tanpa terpasang di kedua telinga. "Aku sedang mencoba menghubungi Gennai, tapi tidak juga kunjung tersambung."
"Gennai, siapa?" tanya Yoshi.
"Hmm, kakek-kakek. Bukan manusia, tapi juga bukan Digimon. 'Kakek super', itu julukan yang ia berikan sendiri pada dirinya." lanjut Tai, menjelaskan sambil menggaruk-garuk pipinya. "Biasanya dari rumah saja. Ada apa?" mengalihkan perhatiannya pada Izzy, Tai bertanya.
"Provider internet kembali berulah, Tai. Alasannya: 'menambah band-width kami'; omong kosong. Mereka menipu pelanggan mereka dengan sedikit demi sedikit memotong kuota kami dan memakan koneksi internet kami." jawab Izzy sarkas. Apabila itu bersinggungan dengan computer dan jaringan koneksi internet, ups, hati-hati saja, Izzy sangatlah sensitif dengan hal-hal tersebut. Dan setiap perkataannya memiliki bukti dan validitas yang akurat. Jadi, kalau ia mau, ia bisa saja meng-hack server utama seluruh provider layanan internet. Sayangnya ia tidak minta dan terlalu baik hati sebagai seorang hacker. "Ngomong-ngomong, jadi ini, Tai, gadis dari masa depan yang kau katakan padaku itu?"
Tai merangkul pundak Yoshi. "Yup, ia bilang ia datang belasan tahun dari masa kita."
Izzy mengangguk. "Aku tidak heran lagi." jawab pemuda teknik informatika tersebut. "Mengingat jaringan computer dan internet kita berhubungan erat dengan dunia Digital, adanya retakan di antara dimensi mungkin saja terjadi. Ingat kasus-kasus yang lampau; Apocalymon, BelialVamdemon, dan Diaboromon. itu semua adalah masalah retaknya ruang dimensi, sehingga menyambung ke berbagai tempat di seluruh dunia. Aku berusaha menghubungi kakek Gennai, dan berniat menanyakan kapan retakan antar-dimensi itu terjadi lagi…"
"Dari Wi-Fi lokal umum?" tanya Tai, tidak percaya.
Izzy berbisik pelan, walau perhatiannya tidak terpecehkan sedikitpun dari bahasa pemrograman di muka matanya. "Aku mencuri sinyal, jadi, yaah, tenang saja. Speed-nya 50 kali lebih cepat dibandingkan dengan pelayanan Gold Premium provider manapun." tanpa ekspresi, Izzy masih berusaha memasukkan sandi-sandi menuju Gennai Home.
"Haha…aku lupa itu keahlianmu," jawab Tai, sweatdropped. "Jadi…ada perkembangan?"
"Nihil. Tapi tidak apa, hal seperti ini juga sering terjadi. Nanti malam mungkin bisa menyambung kembali." jelas izzy, tersenyum tipis dan menyeruput Diet-Coke-nya. "Tumben kalian kemari?"
"Ya, ini hari minggu dan café ini baru buka-" jawab Tai.
"Kami datang ingin mencoba Sorbet-nya, dan enak sekali!" Kari menyelesaikan. Kedua mata hazel gemilang yang mirip dengan milik kakaknya menatap sepasang ebony Izzy. "Kak Kou sudah coba Sorbetnya?"
"Err," Izzy berusaha mengalihkan pandangannya. "Kau tahu aku tidak begitu suka makanan manis 'kan, Kari?"
"Oh, iya." Kari menepukkan tangannya satu sama lain. "Benar juga."
"Hei, habis ini mau kemana lagi?" Tai masih memangkukan satu lengannya melihat Izzy yang mulai beres-beres, membuka pertanyaan. "Ikut kami, yuk?"
"Hm, kemana?" Izzy bertanya balik, sambil memasukkan laptop High-End-nya ke dalam tas slempangnya.
"Kari bilang bioskop sedang memutar film seru sekarang. Nonton. 'Yuk!" Tai menekankan kata ''yuk' sebagai metode pemaksaannya.
"Kita berempat?" tanya Kou, ragu-ragu, menatap mereka semua. Tai mengangguk. "Err, mungkin lain kali."
Kari tertawa jahil, dan menggandeng lengan kanan Izzy. "'Kan, kak Kou tetap malu-malu seperti biasa! Ayo ikut saja!" mendapati wajah seniornya itu semakin memerah, Kari tidak bisa menahan tawanya. Yoshi juga begitu.
"Memangnya ada film apa, Kari?" tanya Izzy pada akhirnya.
"Scream 4." jawab Kari, pendek.
Bulu kuduk Tai berdiri. "…kalian bertiga saja, kalau begitu…"
"Ah, lihat! Kakak juga tidak berubah, tetap penakut seperti dulu!" seru Kari, menunjukkan satu telunjuknya pada kakaknya, selagi lengan lain masih menggandeng Izzy dengan erat. "Kakak penakut!"
"Bu-bu-bukannya aku takut! Film seperti itu hanya sangat tidak masuk saja dengan seleraku…" jawab Tai, terbata-bata sambil mencari alasan.
"Alasan demi alasan." ketus Kari, meledek balik. Izzy dan Yoshi tertawa melihat tingkah Tai yang seperti itu.
"Baiklah, aku ikut! Aku ingin lihat Taichi yang ketakutan!" seru Koushiro. "Kalau Scream saja 'sih, bukan apa-apa. Asal tidak slasher seperti Saw, aku masih kuat! Hahaha!"
"Aku juga!" seru Yoshi, merangkul lengan Tai seperti apa yang dilakukan Kari kepada Izzy. "Aku ingin lihat wajah ketakutan Tai!"
"Ha? O-oi…apa-apaan kalian…" ujar Tai, terkesan tidak bisa melawan.
Mereka berempat meminta ijin pada Susumu dan Yuuko untuk pergi ke Megaplex terdekat untuk menonton film yang diputar pukul 3 sore. Mendapat anggukan dari kedua orang tua Yagami, mereka berempat berjalan menuju lokasi yang terletak tidak terlalu jauh dari lokasi café yang mereka tinggalkan di belakang. Mereka juga berpamitan dengan tiga Digimon mereka yang sedang bermain di taman dekat café dengan beberapa anak-anak kecil dan beberapa Digimon jinak lainnya, seperti Betamon dan Penguinmon.
Bahkan dari café dan taman itu, bisa nampak dengan jelas bangunan besar bioskop yang mereka tuju. Megaplex tersebut terletak di tikungan perempatan jalan raya. Mereka berempat menyeberangi jalan raya Shinjuku di tengah keramaian sehari-hari jalan tersebut, dan akhirnya berdiri di depan bioskop.
Kari memesan empat tiket untuk Scream 4, tidak memperdulikan Tai yang kakinya sedikit gemetar yang menggunakan beribu alasan untuk melarikan diri dari gandengan erat Yoshi yang terus cekikikan bersama Kou melihat tingkah Tai. Namun sayang yang tersisa hanyalah dua tiket saja. Mau tidak mau, mereka berempat haus menunggu untuk sesi berikutnya pada pukul lima sore. Untuk sesaat Tai merasa sedikit lega dan bisa menghembuskan napas lega.
"Ayolah, kakak, masa' takut 'sih?" tanya Kari, begitu kentara niatan mengisenginya.
"A-aku tidak takut. Aku hanya lebih suka film yang lebih general—tentang hidup. Me-menggali dan mendapatkan makna tersiratnya. Oh, dan film-film detektif." kilah Tai dengan lihai. "Oh, ngomong-ngomong detektif, kalian sudah nonton Sherlock Holmes?"
Kari, Kou dan Yoshi lebih memilih untuk tidak menjawab pertanyaan berkilah Tai. Tai akhirnya merunduk lemah, dan menyerah. "Oooh, ayolah…"
Kari dan Yoshi, sambil tersenyum riang menyeret Tai untuk menemani mereka bermain ding dong sambil menunggu waktunya tiba untuk masuk ke studio dan 'menikmati' film yang sudah ditunggu-tunggu.
-o0o-
Wajah tegang atau yang merasa puas tergambarkan di seluruh muka penonton yang baru keluar dari studio 4. Film-nya memang tidak begitu menyeramkan, tapi adegan dimana yang memang berfungsi untuk mengejutkan penonton bisa membuat beberapa penonton terkaget-kaget sampai tidak berani melihat scene berikutnya dimana…pembunuh berantai itu membacok dan menusuk-nusuk korbannya secara brutal.
Ada seorang penonton yang keluar dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak karena saking datarnya. Tiga temannya yang lain sempat bertukar pendapat tentang film yang baru saja mereka tonton, tapi satu temannya berjalan di depan seperti menyeret kakinya. Kari terkekeh pelan, beserta Yoshi dan Izzy.
"Kakak!" seru Kari, menepuk pundak Taichi. Otomatis si kakak tersontak dan membalikkan tubuhnya. Mendengar 'Woaa!' heboh dari kakaknya, Kari bertanya. "Bagaimana filmnya kakak? Tidak menyeramkan, bukan?"
Tai tersenyum kecut, dan berusaha menampilkan wajah yang meyakinkan. "Yaah, t-tidak begitu menyeramkan. Kupikir akan seperti apa. Rupanya…"
"Waah, kau memang pemberani Tai!" seru Izzy. "Tidak kusangka." lanjut Yoshi, menyusul Izzy.
Tai memejamkan kedua matanya, tersenyum lebar dan mengangkat kedua bahunya. "Yaah, begitulah…"
Tai meneruskan jalannya, namun Kari membalikkan tubuhnya dan tertawa geli menutup mulutnya. Dibalas serupa oleh Yoshi dan Izzy, mereka bertiga memperhatikan gerak kaki Tai yang sedikit kaku-kaku dan kelihatan seperti menahan kencing.
Izzy, Kari dan Yoshi menunggu di bangku depan Megaplex sambil berbincang-bincang. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam, dan mereka bersiap pulang menuju rumah mereka masing-masing dengan shuttle di halte depan sana. Tinggal menunggu Tai saja.
"Maaf, lama ya." ujar Tai, menghampiri tiga orang tersebut. "Toiletnya tadi ramai, jadi harus mengantre dulu." Tai merasakan ada yang janggal; kenapa mereka bertiga tertawa? "Ada apa?"
"Tidak, tidak ada apa-apa 'kok, Tai." jawab Izzy, menahan tawa dengan tangan di perutnya. "Kami hanya takut kau bertemu dengan pembunuh itu di wc…"
"Waa! J-jangan bicara seperti itu, Izzy!" seru Tai, tiba-tiba memompa jantungnya.
"Sudahlah, tidak seburuk itu 'kok, Tai." ujar Yoshi, mengusap punggung Taichi.
"Hm, bukankah itu…Davis?" tanya Tai, yang melihat juniornya di kejauhan.
"Eh, iya." ujar Kari. "Davis pasti baru pulang latihan bola. Ini 'kan jadwalnya."
Kari baru saja berniat berlari ke arah pacarnya, tapi sesaat kemudian ia melihat ada sekelompok gadis-gadis yang paling tidak berjumlah delapan orang mengejar Davis dari belakang. Dalan sekejap Davis dikelilingi oleh mereka, dan senyum-senyum malu tidak karuan. Davis mengambil semua pemberian para gadis itu seperti bunga, bingkisan dan lain-lain. Itu memang masih biasa. Kari terdiam, terpaku, dan merasa jantungnya membeku. Ditambah parahnya lagi, beberapa dari mereka ada yang memeluk, mengecup pipi Davis juga mengajaknya berpoto bersama.
"Woah, aku tidak tahu dia se-populer itu…?" ujar Tai, menggaruk belakang kepalanya.
"Siapa?" tanya Yoshi.
"Davis. Teman kami juga." jawab Tai. "Pacar Kari…"
Yoshi mengarahkan tatapannya pada belakang tubuh Kari yang nampak seperti bergetar. Kedua kepalannya menggeram di tepi paha, dan ia nampak sedikit merunduk menatap tanah. "Kari…kamu tidak apa-apa?" tanya Yoshi menghampiri di gadis.
Tai yang melihat itu menghembuskan napas panjang. "Ini cuma kesalah pahaman, Kari. Tidak usah dipikirkan." ujar si kakak, berusaha menenangkan hati adiknya yang sepertinya sedikit memanas. "Paling mereka itu cuma penggemar Davis; kau ingat, Davis adalah penyelamat kota seminggu yang lalu saat replika Devimon menyerbu. Lagipula dari yang kudengar, dia Ace klub bola-nya sekarang."
Marahlah, marahlah…Hikari Yagami… Marahlah. Muhuhahahaha…
Apa-apaan pacarmu itu. Baru sekali jadi pahlawan, sudah besar kepala saja! Parahnya lagi, kenapa malah para gadis saja yang mengejar-ngejarnya? Wajib dipertanyakan, bukan?
Tatapan Kari menajam ke arah Davis—menusuk figur pemuda itu dengan tatapan penuh racun. Semudah itu dia tergoda pada gadis-gadis itu? Dasar…
Mata Kari secara mendadak tertutup oleh telapak tangan yang cukup lebar dan keras. Terdapat bekas kapalan yang telah lama sembuh; tangan yang sudah melalui banyak pengalaman; bergitar, skateboarding, menulis dan lain-lain. Taichi memeluk tubuh Kari dari belakang dengan tangan yang satunya lagi. "Sstt sstt sstt, sabar. Sabar, Kari…" ujar Tai dengan lembut. Ia berbisik di satu telinga adiknya. "Jangan biarkan 'kemarahan' menguasaimu…"
Kari memejamkan kedua matanya, menerima 'kegelapan' yang diberikan kakaknya. Ia menggenggam satu lengan Tai yang mengitari sekitar atas dadanya dan lambat laun membuka matanya. "Terima kasih, kakak. Ya. Ya, aku kehilangan kesabaranku tadi…"
"Haah, itu bagus." ujar Tai, menghembuskan napas lega.
Tapi ekspresi Davis yang semakin mesum di kejauhan sana malah seperti menuangkan bensin ke tengah-tengah api yang mulai meredup.
Ah! Lihat, 'kan! Kakakmu tidak benar! Lihat pemuda itu! Menikmati waktunya di tengah-tengah kerubunan wanita! Sepertinya kau dilupakan, ya? Muhuhahahaha! Kau dilupakan!
"Davis Motomiya!" seru hardikan Kari yang secara tiba-tiba menguak langit malam dan keramaian sekitar Megaplex. Seluruh perhatian warga terpusat padanya. Di kejauhan sana, Davis menyadari keberadaan Kari dan seperti mengerti akan situasinya, ia segera mengutuk dirinya sendiri.
"Woah, Kari, Kari!" seru Tai berbisik, menahan tubuh Kari yang berusaha melepaskan diri. "Kari, sabar. Sabarkan dirimu."
Davis segera berlari dengan tas ransel olahraga di pundak kanannya ke arah Kari. Setelah cukup dekat, sekitar lima meteran, ia menghimbau Kari sekali lagi. "Kari, ma-maafkan aku. Aku-aku hanya…"
"'Menikmati waktumu', bukan?" jawab Kari, melepaskan pagutan kakaknya yang berusaha membentengi diri Kari berbuat lebih jauh. "Tidak apa-apa, aku tidak akan mengganggumu 'kok lagipula!"
Davis tertegun. Belum pernah seumur-umur Kari mengeluarkan nada suara seperti ini. Tidak pernah kepada siapapun, apalagi kepada Davis—orang yang disayangnya. Davis mengakui kesalahannya, dan dia khilaf. "Kari, aku mohon maaf. Me-mereka hanya semacam penggemar yang tahu berita bahwa aku dan Veemon mengusir para Devimon-Devimon itu tempo hari."
"Ya, ya, ya. Aku mengerti, tuan populer!" desis Kari tajam pada setiap helai kata-katanya.
"Kari…Kari. Sabar. Jangan langsung marah-marah begitu…" ujar Tai. "Dengarkan dulu penjelasan Davis. Menurutku alasannya sangatlah masuk akal."
Ah, jangan dengarkan itu, Hikari Yagami. Kakakmu hanya ingin agar kau tetap bersama Davis; 'penerusnya'. Bukan begitu? Kau sendiri pasti tahu itu. Daripada memikirkan playboy dadakan itu, bukankah lebih baik bersama Takeru yang baru saja putus dengan pacarnya, atau Koushiro yang jenius dan masih single itu? Untuk apa memperdulikan si otak bola itu. Aku tahu kau akan mengerti, Hikari.
"Sudah cukup, kakak!" hardik Kari, melepas total kedua lengan kakaknya. "Lepaskan aku!"
Kari terlepas secara sempurna dan melangkahkan kakinya mundur. "Aku marah. Aku marah padamu Davis Motomiya."
"Kari, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf kalau sudah membuatmu sakit hati…" ujar Davis sesunggukan. Ia menyadari dengan baik kesalahannya, Tai bisa melihat itu dengan jelas. "Tolong. Untuk kali ini saja, maafkanlah aku. Aku berjanji tidak akan berlaku demikian lagi… Kari…"
Untuk sesaat Kari melihat percikan kejujuran dari mata Davis, bahwa dia benar-benar berkata yang sesungguhnya. Mata Kari berair. Dia mau memaafkan Davis; dia juga mau mengakui kesalahannya karena sudah kelewat emosi. Tapi ada dinding besar yang menghalanginya untuk melangkah maju dan memeluk tubuh Davis; menangis meminta maaf di dada kekasihnya itu. Dia tidak bisa…
Jangan mau memaafkannya, Hikari. Laki-laki akan selalu memanfaatkan wanita. Marahlah. Marahlah! Terjunlah ke dalam lubang amarah, dan mengamuklah! Jangan maafkan dirinya! Jangan pernah!
Kari mengernyitkan giginya. "Pergi kau! Pergi, Davis! Jauh-jauh!" jeritnya keras. "Aku tahu tidak bisa mempercayaimu, tapi…tapi aku tetap saja…"
"Oh, Hikari…" ujar Yoshi, berusaha memahami pedihnya hati seorang wanita yang merasa terkhianati. Apalagi bila pria tersebut begitu disayanginya; dicintai sepenuh jiwa dan raganya. Pasti sakit sekali.
Davis semakin merengek, dan berusaha menahan hatinya yang terus-terusan digempur perasaan bersalah dan caci maki Hikari. "Kari…oh, kumohon. Maafkan aku…"
"…kita sudah berakhir, Davis. Jangan pernah mencariku lagi! Jangan pernah mendekatiku lagi!" Kari berlari meninggalkan kelompok itu, dan berlari semakin kencang menjauhi mereka. Seluruh pasang mata memperhatikan adegan itu, dan para gadis membubarkan diri mereka setelah meminta maaf pada Davis; yang hanya dibalas anggukan pelan si pemuda yang membek di tempatnya berdiri.
|To be Continued|
A.N: Chapter sebelas berakhir dengan cliff-hanger, dan aku menyukai itu. Hahaha. Mungkin Reader ada yang bisa menebak siapa yang mendatangi mereka kali ini?
Dan, ups…DaKari putus…
Aku nerima request pairing Digimon mulai dari chapter berikutnya. Tapi dengan catatan pairing tsb harus 'normal'. Ga mungkin kalian request Machinedramon x Renamon di sini. Karena Renamon ga masuk ke dalam storyline, dan meskipun bisa dimunculkan, gila aja Machinedramon di-pairing-in…
See ya in the next chapter, and
Crow, signed out.
