.

.

.

FUTSUMEISHI

(Turning line)

Genre : Yaoi, Friendship, romance

Rate : T

.

.

Tenang, kau tidak sendirian. Aku juga tidak tahu apa yang kurasakan padanya

.

.

회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선

.

.

Sanmun high school memang sekolah besar yang luas, tapi bukan berarti mencari seseorang bisa sesulit ini. Apa yang Chanyeol lakukan sekarang, misal. Mencari Luhan rasanya seperti mencari anak ayam. Walau sebenarnya Luhan lebih mirip anak rusa.

Masalahnya, berkali Chanyeol menelpon pacarnya itu tidak diangkat. Seoul bukan wilayah yang tiba-tiba terserang hilang jaringan telpon, ya.

Ada satu tempat yang belum Chanyeol datangi, perpustakaan. Tempat mereka dulu pendekatan hingga akhirnya jadian.

"Ada Luhan?" tanya Chanyeol pada petugas perpustakaan yang sudah hapal betul dengan bintang kelas 3 itu.

"Ada, tadi dia masuk."

Chanyeol tidak perlu basa basi lagi, ia langsung menyusuri rak dan meja hingga menemukan pacarnya sedang ngobrol dengan seseorang. Bukannya membaca buku.

Chanyeol melambaikan tangan, Luhan tersenyum melihatnya. Dan seseorang di hadapan Luhan menoleh, Sehun. entah kenapa bagi Chanyeol, menemukan mereka berdua bukan hal yang mengejutkan.

Chanyeol menghampiri mereka, langsung mendekat pada telinga Luhan lalu berbisik "Aku lulus exchange."

"Kami sudah tahu kok." Sehun yang menjawab, seolah ia bisa mendengar ucapan Chanyeol. Atau memang begitu kenyataanya.

Chanyeol menatap kekasihnya, dibalas anggukan.

"Oh. Bukan surprise, dong ya." Ucap Chanyeol duduk di samping Luhan.

Luhan masih menatap Chanyeol, menunggu lebih tepatnya. Menunggu apa yang akan kekasihnya itu lakukan selanjutnya. Bohong jika ia tidak mengharapkan pelukan seperti yang ia lihat di lobby sekolah. Apalagi, Chanyeol memang kekasihnya, bukan sekedar teman.

Teman… ia benci kata itu.

"Sehun ah, kau tahu Baekhyun kenapa?"

Baekhyun lagi…

Dan rupanya Luhan salah. Atau harapan Luhan tidak terkabul. Atau doanya terlalu lirih, seharusnya doanya dituliskan saja pada selembar kertas, lalu ditempel kuat pada dahinya, supaya terbaca oleh Chanyeol.

"Baekhyun? Kenapa memang dia?" Sehun bertanya balik sambil melirik raut wajah Luhan yang menghela napas lalu beralih menatap jendela.

"Seperti ada masalah atau kelaparan, entah masuk kategori mana." Chanyeol melirik kekasihnya, menyadari ada sesuatu yang salah "Lu? Bagaimana jika kita pergi, merayakan kelolosanku?" wajahnya mendekat.

"Ke mana?" Luhan menoleh, hingga jarak hidung mereka seruas jari.

Chanyeol terkesiap. Walaupun sudah pernah berciuman dengan Luhan, tapi ini berbeda. ia terkejut. Dan sialnya, yang terlintas di otaknya justru mimpi belakangan. Mimpi seseorang mendesahkan namanya.

Tanpa permisi, Sehun bangkit lalu meninggalkan mereka berdua.

.

회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선

.

Jongin sempat menunggu sekitar 10 menit sebelum akhirnya Baekhyun keluar dari gerbang sekolah. Gontai. Baekhyun terlihat seperti habis dimarahi habis-habisan seharian atau seperti baru menjalani masa hukuman keliling lapangan 37 kali. Atau seperti habis dihukum keliling lapangan 37 kali sambil dimarahi.

"Baekhyun ah." Panggil Jongin, kekasihnya sama sekali tidak menoleh. Tidak terdengar mungkin.

"Baekhyun ah." Panggil Jongin sekali lagi, Baekhyun tetap melangkah ke arah halte.

Tidak ada pilihan, Jongin berjalan cepat menghampiri."B!" ia menangkap tangan Baekhyun.

Si Sipit itu akhirnya menoleh."Oh, Jongin…"

"Aku memanggilmu dari tadi."

"Oh…" Hanya itu, tidak ada penjelasan.

"Aku menelpon dan mengirim pesan juga."

Baekhyun menggaruk tengkuk canggung, memaksa senyum "Maaf. Aku… eum ponselku di tas tadi." Ia berniat melepaskan tangan Jongin, tapi kekasihnya malah memegang lebih erat.

"Ada apa denganmu?"

"Tidak ada apa-apa." Baekhyun mencoba menarik tanganya, tapi ditahan.

"B… kau tahu, aku tidak suka jika kau menyembunyikan sesuatu dariku."

Baekhyun mengulum bibir bawah. Ia bingung. Byun Baekhyun bukan tipe orang yang suka menelan sendiri masalahnya dalam-dalam. Setidaknya, selalu ada telinga (lebar) yang bisa menerjemahkan semua Bahasa yang ia katakan.

Menarik napas dalam, Baekhyun berucap "Antar aku ke rumah sakit ya, nanti kau akan tahu."

.

회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선

.

Kadang, Luhan tidak tahu harus bersyukur atau mengeluh atas kejadian yang menimpanya. Seperti saat ini, misal. Ia dan Chanyeol kehujanan begitu turun dari bus. Mereka tidak bawa payung, by the way. Hasilnya? Berlarian lah mereka berdua seperti kucing diusir pemilik warung dengan seember air.

Luhan ingin mengeluh, karena sekujur badan kebasahan. Untung ranselnya waterproof, buku dan ponsel terselamatkan. Luhan ingin bersyukur, karena Chanyeol menggandengnya sepanjang jalan sambil berlari walau lebih mirip diseret, tapi masih terlihat romantic.

Yang jadi masalah adalah…

"Dulu, aku sering main hujan-hujanan dengan Baekhyun."

Dan niat bersyukur sekecil apapun itu lenyap sudah. Luhan manyun sampai di rumah Chanyeol.

"Masuk Lu, kau harus ganti baju." Ucap Chanyeol langsung masuk rumah.

Luhan melepas sepatu dan kaos kaki, tas diletakkan saja di bawah pintu. Takut membasahi karpet ruang tamu. Ia hanya berdiri di ruang tamu dengan seragam menetes-netes. Chanyeol muncul kemudian dengan handuk.

Luhan sudah mengulurkan tangan saat Chanyeol menaruh handuk tepat di kepala lalu mengusaknya.

"Yang penting kepala dikeringkan dulu, nanti kau ganti pakai bajuku."

Luhan mengangguk tanpa menjawab. Otaknya malfungsi diisi dengan pemikiran 'Ah…begini rasanya diusak kepala oleh Chanyeol.' Dan ingin bohong segala apapun, kenyataanya ia sangat suka diperlakukan begini.

"Kita ke kamar ya." Chanyeol menyudahi kegiatan yang adiktif bagi Luhan barusan.

"HAH?!"

"EH BUKAN!" Chanyeol balik teriak "Eh…eum. Itu, maksudku kau akan kuantar ganti di kamar." menggaruk tengkuk bingung, ia tahu ucapanya barusan agak menjurus "Tidak mungkin kau ganti di sini kan."

"Oh…iya. Kau benar." Luhan mengangguk canggung. Pipinya merah, seperti terlalu lama di bawah sinar matahari, padahal sudah gelap dan ia kehujanan.

Chanyeol berjalan di depan, memandu ke kamar. Ia langsung membuka lemari, memilihkan baju bersih (yang tidak kedodoran). "Masuk Lu…" Ucapnya menyadari pacarnya malah berdiri di pintu.

"Oh, okay." Luhan masuk, melihat sekeliling.

Kamar Chanyeol tidak sebesar kamarnya, tapi terlihat lebih padat karena rak buku berisi komik, dua gitar di pojok dengan pic pemberianya menggantung di salah satunya, dan…

Telepon kaleng?

"Ini." Chanyeol memberi tshirt dan sweatpants.

"Kau masih main itu?"

"Telepon ini?" Chanyeol meraih kaleng yang menggantung di jendela "Iya, hanya aku dan Baekhyun yang masih main itu sejak jaman TK." Dan ketika mata mengarah luar jendela, ia melihat sebuah motor tertutup jas hujan berhenti di depan rumah tetangganya. Seseorang turun dari boncengan, Baekhyun.

Tentu saja itu Baekhyun. Chanyeol bisa mengenali motor Jongin dengan sekali kedip dan siapa lagi yang akan berhenti di rumah Baekhyun jika bukan ia sendiri.

Tapi… membonceng motor di jas hujan. Apa Baekhyun mendekap Jongin dengan begitu erat?

Apa Jongin balas mendekap tangan Baekhyun?

Apa…

"Ini masih bisa digunakan?" Luhan mendekat, menarik kaleng hingga gemerincing mengacak semua dialog di otak Chanyeol.

Luhan bukan orang bodoh, ia mendekat juga sebenarnya ingin melihat apa yang membuat kekasihnya tercenung di jendela. Dan melihat motor Jongin meninggalkan rumah sebelah, ia menyesal sudah melakukannya.

Chanyeol melihat Luhan mendekap bajunya "Jangan malah didekap, bisa basah juga itu."

"Oh iya, sorry…"

"Aku keluar, kau bisa ganti di sini." Chanyeol berbalik, hendak ke pintu. Tapi karena lantai yang basah oleh tetesan air, kakinya terpeleset, tubuh menimpa Luhan yang terhimpit meja belajar.

DEG

Luhan tercekat, hidung Chanyeol sudah menempel erat di keningnya. Belum lagi, lutut Chanyeol menghimpit selangkanganya.

Tali kaleng terus bunyi karena tertarik.

"Chanyeol ah…"

Chanyeol tidak menjawab. Ia menatap kekasihnya, seperti berusaha membaca pikiran. Pikiran sendiri. Namun tidak berhasil. Gantinya, mencari tahu lebih lanjut ia menarik kerah seragam Luhan lalu menyesap keras bibirnya.

Luhan tidak menyangka ini.

Ia tidak tahu harus bereaksi apa. Ciuman Chanyeol memabukkan, walau ia tidak pernah tahu apa itu mabuk. Ciuman Chanyeol menghanyutkan, walau ia jago berenang. Ciuman Chanyeol menyesakkan, walau paru-parunya sehat sentosa.

Dan Luhan hanya bisa berpegangan lebih kencang pada kaleng telpon.

Mereka tidak tahu bahwa di seberang sana, saat Baekhyun baru masuk kamar, kaleng di jendelanya bergerincing. Ia buru-buru meraihnya tanpa peduli melepas ransel.

"Ya Yeol?" Baekhyun pikir ada yang Chanyeol ingin bicarakan, namun nyatanya, saat ia membuka tirai kamar, malah mendapati Dobi sedang mencium kakak kelasnya.

.

회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선

.

De Javu…

Sehun pernah mengalami ini. saat di mana ia kelaparan di flat, keluar sebentar cari makanan di minimarket kemudian malah disambut oleh suara…

"Sehun ah!"

Sehun hapal benar dengan suara itu. Namanya juga teman sekelas, paling cerewet pula. Siapa yang tidak tahu suara Byun Baekhyun?

Turun dari motor sambil berdecak, Sehun menatap datar temannya. "Kenapa kau?"

"Tidak ada apa-apa." Jawab Baekhyun tanpa ekspresi.

"Terakhir kali kau bilang 'tidak apa-apa' saat kita bertemu di sini, orang rumah mencarimu." Ucap Sehun masuk ke minimarket.

Baekhyun mengekor di belakang. "Orang rumah sedang tidak ada di rumah." Ia melihat Sehun mengambil 3 cup ramyeon dan 2 roll kimbap "Kau akan memakan itu semua?"

"Kau tidak mau?" Sehun bertanya balik sambil mengeluarkan dompet.

"Mau sih…" Jawab Baekhyun. Ia sudah makan tadi sore. Saat kembali dari rumah sakit, Jongin mengajaknya ke restoran sup, tapi entah kenapa melihat belanjaan Sehun, ia jadi lapar. Sama seperti ketika melihat sahabatnya bermesraan ia jadi kacau. Itu perumpamaan.

"Kuberi satu rahasia." Ucap Sehun menggeret bangku minimarket "Aku sedang kesal dengan Chanyeol."

"Wajar sih." Baekhyun mengangguk, duduk di sebelahnya setelah menyeduh dua cup ramyeon. Ia tahu diri, sudah dapat gratisan, setidaknya ya menyiapkan.

"Dan apa yang membuatmu kesal?" tanya Sehun. Baru saja Baekhyun ingin membuka mulut "Luhan?"

Baekhyun berdecak "Aku belum menjawab."

"Jika kau berpikir saat menjawab, nantinya bohong." Ucap Sehun, mulai menarik helai ramyeon. Ah, masih panas ternyata.

"Aku tidak membencinya. Hanya…" Baekhyun tidak melanjutkan, malah menghela napas.

"Kau iri, menyesal, kecewa. Yang ada di otakmu saat ini hanya 'Seharusnya aku, bukan dia'." Tebak Sehun.

Kening Baekhyun mengernyit "Kau sedang curhat?"

"Apa terdengar begitu?"

"Aku tidak pernah mengalami perasaan seperti apa yang kau rasakan pada Luhan." Baekhyun membuka cup ramyeon, mengaduk isinya "Dan… bukannya itu hal yang sama sepertiku dan Jongin?"

"Begini perumpamaannya. Kau lebih rela jauh dari Chanyeol atau Jongin? Dalam hitungan ketiga. 1… 2…3"

Baekhyun belum sempat buka mulut.

Sehun bertepuk tangan. "Waktu habis! Kau tidak bisa menjawab!"

"Sial! kau tidak memberiku waktu berpikir!"

"Apa aku memintamu berpikir? Tidak kan?" Sehun santai mengunyah kimbap "Dan semakin kau berpikir, semakin besar kebohongan yang dihasilkan."

Baekhyun memutar mata jengah "Terserah kau saja."

"Tenang, kau tidak sendirian. Aku juga tidak tahu apa yang kurasakan pada Luhan."

.

회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선

.

Sanmun masih seperti biasanya. Masih tetap ribet dengan segala macam muridnya. Masih tetap memberikan ekstra kimchi untuk makan siang. Masih dengan meja kantin yang perdebatanya melebihi meja hijau.

"Dan kapan kau akan traktir kami makan?" tanya Jongdae pada Chanyeol yang baru saja akan menyesap kuah sayur.

"Dan memangnya kapan aku menjanjikan pada kalian?" tanya Chanyeol balik. Ia menoleh kanan-kiri mencari seseorang "Baekhyun mana?" sejak pagi, ia tidak melihatnya karena si Sipit itu dijemput Jongin. Padahal Jongin harus memutar jika mengantar Baekhyun lalu berangkat ke SOPA.

Tidak lama, 2 baki makan ditaruh di meja. Baekhyun dan Sehun datang bersamaan.

"Jadi, kapan kau akan mengembalikan DVD ku?" tanya Sehun.

Chanyeol tercengang. Ia baru ingat bahwa DVD One OK Rock yang ia pinjam sepertinya masih ada di DVD player ruang tengah. Atau ada di dalam laptopnya. Atau justru di tumpukan buku sejarah. Atau…

"Aku lupa. Nanti kukembalikan padamu." Jawab Chanyeol. Ia sebenarnya amat tidak yakin dengan keberadaan DVD itu.

"Nanti? Kapan?"

"Jangan sampai rusak, Yeol. Waktu itu kau pinjam Tab-ku, jadi hank tiba-tiba." Baekhyun nimbrung, santai melahap nasi. Seperti… tidak sarapan?

"Itu kan karena kita kehujanan pas balik naik motor." Jawab Chanyeol masih memperhatikan Baekhyun "Kau tadi pagi—"

"Sebenarnya untuk hal begitu, kalaupun rusak, masih bisa beli lagi. Yang tidak termaafkan jika kau merusak hal paling berharga, yang hanya ada satu di dunia."

Keadaan mendadak canggung. Tidak ada yang menanggapi karena mereka tahu benar apa yang Sehun bicarakan. Atau lebih tepatnya 'siapa', walau tidak jelas apa pemicu ucapan Sehun barusan.

"Merelakan, ada batasnya, Yeol. Jangan sampai aku mendapati dia menangis." Lanjut Sehun.

Situasi berkali lipat lebih canggung.

Ini ancaman. Seisi meja tahu betul tabiat Sehun. Ia bisa mengancam sambil menyuap nasi dan kimchi ke dalam mulut. Ibarat psikopat, ia akan menusukkan garpu ke tubuh orang dengan tersenyum, ini hanya perumpamaan. Hanya suatu penegasan bahwa sebenarnya ia sedikit tahu apa yang dialami oleh Luhan, walau Chanyeol justru tidak tahu apa yang sudah ia lakukan.

"Ehem. Es tehku mendadak panas." Baekhyun menyikut lengan Sehun. Maksudnya, supaya sedikit lebih selow.

Si Datar itu menanggapi santai "Intinya, jika sampai DVD ku rusak sedikit saja, kau harus mengggantinya ditambah DVD Amazing Tour terbaru."

"Yeah, aku tahu." Chanyeol mengangguk paham, entah urusan DVD maupun Luhan. Pandanganya kemudian beralih pada Baekhyun "Kau semalam ke mana? Kuhubungi tidak bisa."

"Ponselku mati, gara-gara kehujanan." Tidak sepenuhnya bohong. Baekhyun memang kemarin kehujanan, tapi ponsel sengaja ia matikan semalaman. Alasanya? Ia sendiri tidak begitu tahu.

"Benar? Sepertinya ada yang ingin kau ceritakan."

"Jika aku ingin cerita, aku akan langsung mengatakan padamu kan."

Chanyeol hampir membantah sebelum ia sadar bahwa memang Baekhyun tidak ingin mengatakan apa-apa lagi. Tidak ada masalah? Chanyeol tahu bukan itu yang terjadi. Sekali lihat, jelas bahwa ada yang sedang dialami si Sipit.

"Jumat besok ada yang ikut ke festival Jepang?" kedatangan Kyungsoo mengaburkan pertanyaan Chanyeol yang ke sekian kali.

"Aku akan datang dengan Jongin." Jawab Baekhyun tersenyum.

Jongin…

Mungkin memang ia sekarang segala cerita atau apapun yang Baekhyun alami. Dan Chanyeol tidak suka.

Rasanya seperti hal terpenting dalam hidupmu terebut dari genggaman.

"Kau datang, Yeol?"

"Dengan siapa?" Chanyeol tanya balik. Maksudnya, jika Baekhyun sudah datang dengan Jongin, untuk apa ia datang.

Kyungsoo memutar mata jengah "Ya dengan Luhan atau siapa. Masa' dengan neneknya Jongdae?"

"Yah, kenapa nenekku dibawa-bawa?!" Jongdae tidak terima. Neneknya bukan wibu.

"Lagian pertanyaan Chanyeol aneh, seolah ia jomblo saja. Yang jomblo betulan pun ingin punya gandengan." Ucap Tao, bukan bermaksud curhat.

Chanyeol berdecak "Bukan begitu, maksudku Luhan tidak begitu tahu anime atau manga sejenisnya."

"Jongin juga tidak tahu." Baekhyun menanggapi.

Chanyeol tercekat. Ia memandang Baekhyun yang sedang makan dengan santai. Entah kenapa ucapan si Sipit itu terdengar begitu dingin. Menyesakkan.

.

회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선

.

Hari Jumat pekan ini memang special. Tanggal merah dimeriahkan dengan festival Jepang di pusat kota. Artinya? Baekhyun bisa bangun siang, mandi lalu bersiap tanpa perlu memikirkan pendidikanya untuk meraih cita-cita. Sekolah maksudnya.

Tahun kemarin, seperti tahun-tahun sebelumnya, ia datang dengan Chanyeol. Berdua, mereka heboh sibuk keterlaluan minta foto sana-sini dengan para cosplayer. Apalagi Baekhyun, waktu melihat cosplay Shanks, mirip bocah TK yang diberi pengumuman piknik.

Sedangkan Chanyeol? Ia hampir tidak mau lepas dari cosplayer Nico Robin. Jangan tanya kenapa.

Tahun ini berbeda, entah itu berarti hal baik atau buruk. Baekhyun malas-malasan untuk bersiap, padahal hampir jam 10, waktu janjiannya dengan Jongin bertemu di Taman Kota, tempat penyelenggaraan.

Baekhyun tidak suka mengulur waktu. Tapi itulah yang sekarang ia lakukan. Tiduran di sofa walau ransel sudah teronggok di atas karpet.

Drrt drrt drrt

Ponsel di atas meja bergetar. Panggilan.

Ia pikir dari Jongin, nyatanya dari Sehun. Tumben orang ini menghubungi, bertemu saja wajahnya selalu kesal.

"Kenapa?" Ucap Baekhyun begitu menerima panggilan.

"Chanyeol sakit."

"Hah?" entah Baekhyun yang salah dengar atau ia salah paham.

Maksudnya begini, kenapa Sehun tahu Chanyeol sakit, padahal rumah mereka tidak berdekatan dan tidak sekelas. Ditambah seharian ini penghuni rumah sebelah tidak terlihat meninggalkan rumah.

"Chanyeol sakit." Ulang Sehun.

"Iya, aku dengar. Masalahnya, kau dari mana?"

"Makanya, pastikan sana."

Tut tut tut

Panggilan berakhir.

Untuk ke sekian kalinya, Baekhyun tidak paham dengan Sehun. Mungkin pada presentase yang sama seperti Sehun tidak paham Baekhyun. Pokoknya mereka tidak begitu nyambung.

Baekhyun akhirnya beranjak dari sofa, menggeret langkah, menuju rumah sebelah. Seperti biasa, tidak perlu mengetuk, ia sudah berkeliaran mencari penghuni rumah.

"Chanyeol ah…" Panggilnya. Tidak ada jawaban.

Dan ketika sampai lantai 2, dekat kamar sohibnya itu, Baekhyun melihat sesosok tubuh jangkung dengan wajah babak belur duduk di atas ranjang.

"Yah! Park Chanyeol! Kau kenapa?" Baekhyun tiba-tiba sudah di depan Chanyeol. Ia terlihat panic.

Chanyeol mengelus dada "Kau mengagetkanku."

Bukan, bukan itu jawaban yang sesuai dari pertanyaan Baekhyun. Lihat saja sekarang, bibir, pelipis, pipi, kening Chanyeol biru. Kenapa malah menegur orang yang bertanya keadaanya?

"Sakit?" Baekhyun beralih duduk di samping Chanyeol, mengamati memar dari dekat.

"Sudah tidak terlalu."

"Kau jatuh dari tangga?"

Chanyeol menggeleng.

Pandangan Baekhyun berubah sinis "Kau berkelahi dengan siapa? Anak sekolah mana? Biasanya kau tidak gampang terpancing hal begini." ia diam berpikir sejenak "Atau malah kau dipalak? Preman?"

Chanyeol tersenyum kecil "Bukan preman sih, tapi salah satu siswa Sanmun juga. Sebut saja… Oh Sehun."

Baekhyun tercengang. Ia tidak paham dengan urutan kejadian akhir-akhir ini. terlalu banyak plot twist. Chanyeol bukan tipe pencari masalah (kecuali dengan Baekhyun) dan hobby Sehun menari, bukan berkelahi.

"Ada apa dengan kalian?

"Kau bukannya ada acara?" Chanyeol bertanya balik.

Baekhyun menarik napas, lalu bangkit "Kotak obat masih tetap di daput kan?" ia pergi sebelum dijawab.

.

회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선

.

Sementara itu di taman kota…

Jongin sudah menunggu sejam, ditambah entah berapa puluh panggilan pada kekasihnya tidak dijawab. Posisinya tadinya berdiri bak model pemotretan pinggir jalan, sekarang berubah jadi duduk di pinggir jalan mirip gelandangan.

Ke mana Baekhyun? Di rumah atau di rumah sakit? Jangan-jangan ada hubungan dengan keadaan ibunya.

Tahu begini, tadi ia jemput saja Baekhyun di rumahnya. Tidak usah janjian ketemuan.

"Sedang apa kau di sini?"

"Loh, Kyungsoo?" Jongin langsung berdiri, berhadapan dengan teman SMP nya itu. Siapa sangka mereka akan bertemu di tempat begini. "Kau sedang apa di sini?"

"Menonton." Jawaban singkat, Kyungsoo memperhatikan gelagat Jongin "Maksudku, jika kau ingin menonton harusnya di sana, kan?" ia menunjuk area utama tempat banyaknya cosplayer berlalu lalang.

"Eum… aku—"

"Kyungsoo ya!" Wendy—teman SMP mereka berdua—berlari menghampiri "Kau sudah janji akan membantuku kali i—Jongin?!"

"Oh, hai Wendy." Jongin masih sangat mengenali temannya yang pernah tinggal di USA ini.

"Oh Jongin. Can you convince him, I mean… bisa membujuknya? Dia sudah janji sebenarnya, dari jauh hari. Tapi partnerku yang lain, Junho, tiba-tiba diare, tidak bisa ikut."

"Kyungsoo, Wendy membutuhkanmu." Ucap Jongin, kaku. Kaku sekali.

Tadinya, Wendy pikir Jongin akan sedikit membantu, nyatanya Kyungsoo sama sekali tidak bergeming. "Kai…"

"Kau gila, aku newbie dalam hal begini, tiba-tiba disuruh ikut sendiri." Kyungsoo protes keras "Dan kau tahu jadi siapa? Eren Jaeger. Ah iya, kau mana tahu…"

"Aku tahu kok." Jawab Jongin cepat. Berkat siapa lagi jika bukan cekokan anime yang selalu Baekhyun rekomendasikan.

"Nah, jika kau tahu berarti kau paham kenapa aku tidak mau ikut sendirian. Seperti orang hilang."

"Bukannya memang Eren berjuang sendirian?"

Kyungsoo melirik sinis "Aish… Aku mau ikut, hanya jika kau ikut menggantikan Junho."

"YES!" Wendy berteriak. Siapa yang menyangka hal begini akan terjadi?

Jongin tercengang.

Seumur-umur kenal dengan Kyungsoo, ini perdebatan pertama mereka. Siang hari, di pinggir jalan, tanpa awalan yang jelas. Dan jika dipikir, ini juga pertama kalinya ia berdebat hal tidak jelas dengan seseorang.

Kyungsoo tersenyum kecut "See? Kau juga tidak mau—"

"Siapa bilang?" tantang Jongin.

"Oh my god. I can smell the victory…" Sekali lagi bagi Wendy, ia untung besar har ini.

Jongin bersumpah, ia sama sekali tidak berpikir hal ini bisa terjadi.

.

회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선

.

"Baekhyun ah! Sakit! Ini anticeptic, bukan saus tomat!" Protes Chanyeol saat kapas dioleskan pada wajahnya dengan agak keras.

Baekhyun malah menatap Chanyeol sinis, "Lagipula kau bodoh sekali, berkelahi dengan Sehun saja bisa bonyok begini."

"Ya jelas bonyok, aku tidak melawan…" Sahut Chanyeol pelan.

Baekhyun diam, pura-pura tidak dengar. Lebih Ia tersentak kemudian saat tangan melingkar di pinggangnya.

"Kenapa kau tidak cerita bahwa ibu akan pergi ke Jepang?"

Baekhyun diam. Ia tidak punya jawaban.

.

.

TBC

.

회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선회귀선

.

.

Terima kasih pada semua pihak yang masih bersedia baca ff ini walau yang ngetik gak bisa cepet ngelanjutin. Semoga masih inget jalan ceritanya ya, soalnya aku malah lupa /dzig/

Maaf kalo nungguin lanjutanya lama. / kaya ada yang nungguin/

Alasan sibuk masih ampuh untuk permohonan maaf?

Luv you anyway.