Chapter 11

Kim Minseok – EXO Member

Other

DLDR, BL, Straight, PG-13, problaly angst, Brothership, Friendship

By. Feyy

.

.

.

Preview

Chanyeol tidak peduli dengan death glare ku dan terus mengarahkan roti didepan mulutku. Karena Chanyeol tidak juga menjauhkan tangannya dari mulutku aku terpaksa membuka mulutku dan memakan roti yang diberikan Chanyeol padaku. Dan jadilah kini mulutku penuh dengan makanan.

"Bagus, hyung memang pintar." Kata Chanyeol dengan nada yang menyebalkan ditelingaku.

Selesai istirahat kami semua termasuk vocal line juga Suho kembali melatih koreografi baru kami.

.

..

...

Setelah persiapan yang cukup lama,akhirnya EXO comeback dengan single Overdose mereka, sesuai prediksi album itu mendapat respon yang baik dari para fans mereka.

Minseok tersenyum senang saat melihat dari kejauhan band membernya sedang bersenang-senang untuk merayakan comeback stage pertama mereka yang mana sempat harus ditunda karena adanya bencana kapal sewol.

Tanpa sadar Minseok malah melamun sambil bersandar didepan jalan masuk toilet dorm mereka dengan senyum bodohnya hingga seseorang memanggil namanya dari arah samping dan dengan refleks Minseok menoleh kesumber suara. Saat menoleh bibir Minseok mengenai sesuatu atau lebih tepatnya mengenai hidung Luhan yang sedikit menundukkan tubuhnya untuk menyamai tingginya dengan Minseok. karena terlalu terkejut Minseok langsung menjauhkan kepalanya dari Luhan yang mana membuatnya membenturkan kepalanya pada pintu toilet.

"Aw!" Minseok sedikit meringis karena benturannya cukup keras.

"Apa yang kau lakukan disini dengan senyum aneh seperti itu? Sedang berpikiran kotor ya?" dengan senyum menggodanya Luhan masih dengan menundukkan tubuhnya berbisik pada Minseok, sedikit berharap Minseok kembali mencium hidungnya atau lebih bagus lagi dibawah hidugnya.

"Aku bukan kau yang selalu mempunyai pikiran kotor Luhan." Minseok menoyor kepala Luhan dan langsung berjalan menjauh sambil mengantongi botol kecil yang dari tadi didalam genggamannya. Dengan comeback mereka yang baru saja dirilis, tentu saja jadwal mereka semakin padat dan waktu istirahat mereka berkurang, walaupun sudah terbiasa dengan jadwal yang padat namun tidak dengan kepala Minseok, setelah menghadiri even untuk promo comeback mereka Minseok berjalan cepat ketoilet dan menelan dua pil aspirin untuk meredakkan sakit kepalanya yang kini mulai sering kambuh dan menjadikan pil aspirin sebagai salah satu makanan sehari-harinya.

Setelah ceramah singkat dari Jumyeon dan Yifan, mereka berdua belas bersulang untuk merayakan comeback mereka. Semuanya terlihat begitu bahagia dan tertawa terbahak-bahak dengan semua candaan yang mereka buat. Melihat semuanya, Minseok semakin merasa bodoh karena pernah berpikir bahwa masuk dalam sebuah boy grup adalah hal yang tidak berguna namun setelah melalui semuanya bersama Minseok mendapatkan banyak pengalaman berharga bersama kesebelas membernya yang sudah dianggapnya seperti adik-adiknya sendiri.

"Kenapa kau tidak ikut minum?" Tiba-tiba suara Yifan menyadarkannya kembali dari lamunannya. Kali ini wajah Minseok berhadapan dengan dada Yifan karena leader tiang itu juga ikut memperhatikan para band membernya yang bersenang-senang saat bertanya pada Minseok.

"Harus ada setidaknya satu orang yang cukup sadar untuk membereskan semua kekacauan yang kalian buat. Lihat semua sampah itu...huh."

"Dasar clean freak..." Yifan mencibirkan bibirnya.

Setelah semua makanan dan minuman habis para member kini berada didalam kamar mereka masing-masing untuk membersihkan diri menyisakkan Minseok bersama sampah-sampah dimeja makan mereka. Mengabaikan larangan dari member lainnya agar dirinya tidak menyentuh sampah-sampah itu.

"Bagaimana aku bisa mengabaikan semua sampah ini... jika dibersihkan besok, bisa jadi dorm ini akan dipenuhi tikus dan kecoa... that a NO!" dengan gumaman-gumaman pelan Minseok mulai membersihkan sampah-sampah itu dan tidak menyadari seseorang berdiri tidak jauh darinya tersenyum manis melihat hyung tertuanya membersihkan ruang makan dengan gumaman pelan seperti ahjumma-ahjumma dan jangan lupakan kerucutan bibir mungil itu yang seperti mengundang untuk dikecup dan di-...

"Kyungsoo? Sejak kapan kau ada disitu?" Pertanyaan Minseok membuat Kyungsoo melebarkan senyumnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Emm, sejak hyung mulai bergumam seperti ahjumma-ahjumma?" Kyungsoo menjawab sambil berjalan mendekat untuk membantu hyungnya.

"Soo, kau istirahat saja biar aku yang bersihkan."

"Kapan hyung mau mendengar perkataan kami huh? Kami berjanji akan membersihkan semua ini besok dan lihatlah, hyung kami membersihkannya sendirian padahal tadi sudah berjanji tidak akan menyentuh sampah-sampah ini."

Mendengar omelan panjang Kyungsoo Minseok hanya memutar bola matanya dan tetap melanjutkan kegiatannya. "Sekarang siapa yang seperti ahjumma-ahjumma..." Cibir Minseok pelan namun masih bisa didengar Kyungsoo.

Pekerjaan bersih-bersihnya selesai lebih cepat dengan bantuan Kyungsoo, untungnya Minseok sudah membersihkan make up diwajahnya setelah sampai didorm tadi sehingga dirinya bisa langsung tidur setelah selesai dengan kegiatannya.

"Terima kasih Soo-ah."

"Hyung, tidur denganku ya."

Permintaan Kyungsoo yang tiba-tiba membuat Minseok sedikit terkejut namun Minseok dengan cepat mangganti ekspresi dengan senyuman hangatnya. "Tentu." Diantara kesebelas member lainnya, Kyungsoo adalah orang terakhir yang ada dipikiran Minseok yang akan mengajaknya tidur bersama karena walaupun Kyungso salah satu anggota termuda, Kyungsoo selalu bersikap dewasa bahkan lebih dewasa dari Luhan dan Yifan, mereka adalah anak-anak yang terjebak didalam tubuh dewasa, ck. Minseok tersenyum mengingat tingkah konyol dari dua member tertua itu. Namun melihat Kyungsoo yang bersikap seperti usianya adalah faforit Minseok.

Dengan menyamankan posisi tidurnya, Minseok memeluk guling milik Kyungsoo, yang mana sang pemilik masih didalam toilet.

"Jaljaa Kyungie~..." Saat merasakan tempat kosong disampingnya sudah berpenghuni Minseok mengeratkan pelukan digulingnya dengan posisi membelakangi Kyungsoo. Minseok tersenyum lega karena akhirnya bisa mengistirahatkan tubuh lelahnya.

"Jaljaa hyung..." Jawab Kyungsoo sambil tersenyum hangat melihat hyungnya yang mengeratkan pelukan digulingnya seperti anak-anak. Kyungsoo sedikit berharap bahwa guling itu adalah dirinya dan... kyungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir pikiran-pikiran tidak sehat yang berusaha menguasai otaknya.

"Ini pasti karena bir yang kuminum tadi." Yakin Kyungsoo didalam pikirannya. Saat akan memejamkan matanya, Kyungsoo ingat jika dirinya belum mengeset alarm diponselnya. Kyunsoo sedikit bangkit dari tidurnya dan mencoba mencari dimana ponselnya yang ternyata ada dimeja nakas disamping Minseok. kyungsoo ingin meminta tolong pada hyungnya namun dibatalkannya saat melihat wajah damai hyungnya, terlalu lelah untuk meninggalkan tempat tidur hangatnya, Kyungsoo memilih untuk meraih ponselnya dan sedikit memajukan tubuhnya agar tangannya sampai pada meja nakas disamping Minseok.

Minseok merasakan pergerakan Kyungsoo dibelakangnya seperti sedang mencari sesuatu, namun karena terlalu lelah Minseok memilih membiarkannya dan kembali kealam mimpinya. Namun sebelum Minseok benar-benar masuk kedalam alam mimipinya, dirinya bisa merasakan dada yang cukup bidang sedikit menekan punggungnya, karena penasaran Minseok membalikan badannya yang langsung berhadapan dengan leher Kyungsoo yang entah bagaimana saat ini tubuh donsaengnya itu membayanginya.

"Kyungsoo?"

Terkejut dengan panggilan hyungnya, Kyungsoo melepaskan tumpuan tangannya diatas kepala Minseok secara refleks dan membuat tubuhnya menimpa tubuh Minseok. kyungsoo bisa merakakan nafas hangat hyungnya dilehernya.

"Maaf hyung, aku hanya ingin mengambil ponselku dimeja nakas itu." Sedikit mengangkat tubuhnya Kyungsoo meminta maaf masih dengan tubuhnya yang membayangi Minseok.

"Emm, tidak apa-apa. Kau bisa memintaku untuk mengambilkannya soo." Minseok merespon dengan sedikit tidak nyaman karena jarak wajahnya dengan Kyungsoo yang terlalu dekat.

"Dan mengacaukan wajah damai hyung yang tertidur?" Kyungsoo yang sepertinya mulai nyaman dengan posisinya saat ini menjawab dengan senyum hangatnya. "Well, walaupun aku memang mengacaukannya... tidurlah hyung, kau terlihat kelelalahan." Dengan itu Kyungsoo mengecup pelan pucuk kepala Minseok dan membenarkan selimut ditubuhnya. Setelah menyetel alarm diponselnya, Kyungsoo terbaring dengan senyum menghiasi bibirnya berbanding terbalik dengan Minseok yang masih memasang wajah tanda tanyanya karena tindakan tiba-tiba Kyungsoo.

"Kyungsoo pasti sedikit mabuk, makanya dia melakukan hal-hal yang tidak biasanya dia lakukan..." dengan pimikiran itu Minseok memejamkan matanya dan kembali kealam mimpinya yang indah.

Keesokan paginya Minseok merasakan kehangatan yang nyaman menyelubungi tubuhnya, membuatnya enggan untuk bangun namun dirinya sudah terlanjur bangun walaupun matanya masih tertutup dan tidak mungkin untuk kembali tidur. Sudah menjadi kebiasaannya untuk bangun pagi-pagi. Dan kehangatan nyaman itu tidak akan mengubah kebiasaannya itu. Saat Minseok membuka matanya,dirinya berhadapan dengan dada Kyungsoo membuat Minseok menyadari dari mana kehangatan nyaman itu berasal. Dengan gerakan yang sangat hati-hati Minseok mengangkat tangan yang memeluk erat tubuhnya mencoba untuk tidak membangunkan sang pemilik tangan. Setelah berhasil melakukan misinya alam bawah sadar Minseok sedikit merindukan kehangatan nyaman tadi, mengabaikan hawa dingin yang menerpa tubuhnya Minseok meninggalkan tempat tidur Kyungsoo –tidak lupa membenarkan selimut yang dipakai Kyungsoo- dan berjalan dengan langkah pelan.

Setelah mencuci muka dan menggosok giginya, Minseok membuat kopi didapur dengan mesin manual tersenyum senang dengan aroma kopi yang menenangkan. Sebelum menyeruput kopi buatannya Minseok menghirup aroma kopinya sambil menutup matanya meresapi aroma yang membuatnya rileks, saat menyeruput kopinya Minseok merasakan sepasang lengan melingkar pelan disekitar pinggangnya, terbawa dengan suasaan rileks Minseok menyandarkan tubuhnya pada tubuh dibelakangnya yang saat ini sibuk mengecupi rambut pinknya.

"Pagi..." karena suasana yang masih tenang itu, suara berat orang dibelakang Minseok terdengar seperti melodi indah ditelinga Minseok. Sangat jarang Minseok bisa merasakan serileks ini setelah comeback mereka dan Minseok sangat mengaspresiasi setiap detik ketenangan yang bisa ia dapat.

"Kopi?" Minseok menawarkan kopi yang dipegangnya.

"Hyung tahu aku bukan penyuka minuman pahit itu." Orang dibelakangnya merespon dengan suara yang tidak terlalu jelas karena masih sibuk dengan mengecupi rambut pink hyungnya.

"Oke, tapi rambutku juga bukan pilihan yang baik untuk sarapan Sehun." Minseok mulai merasakan geli karena Sehun mulai mengusak rambut Minseok dengan wajahnya dan kecupannya yang semakin dalam.

"Tapi rambut pink hyung terlihat enak seperti gula kapas." Sehun menjawab sambil mengeratkan pelukannya dipinggang hyung mungilnya itu.

"Jika ada hari libur kita beli gula kapas sebanyak mungkin oke..." Minseok menawarkan sambil melepaskan diri dari pelukan maknae EXO dan mengambilkan jus dari kulkas untuk diberikan pada Sehun.

"Hyung sudah berjanji oke..." Setelah meminum jusnya Sehun mengacungkan jari kelingkingnya pada Minseok.

Minseok tersenyum hangat melihat tingkah manis dongsaengnya dan menyambut jari kelingking Sehun dengan senang hati.

"Janji."

Setelah acara sarapan yang sangat berisik selesai, seluruh member EXO bersiap-siap menuju kekantor SM untuk melakukan kegiatan mereka.

Didalam kamarnya Minseok kini sedang mengecek ulang barang bawaannya jika saja ada yang tertinggal, terutama aspirinnya. Beruntung karena akhirnya EXO memimiliki kamar mereka sendiri sehingga Minseok tidak harus menerima pertanyaan curiga dari anggota EXO karena membawa aspirin kemana-kemana.

"Hyung!"

Panggilan tiba-tiba dibelakangnya mengagetkan Minseok membuatnya menjatuhkan botol aspirin digenggamannya dan menyebabkan isinya berhamburan kelantai.

"Mianhe hyung..." Jongdae yang ikut terkejut dengan kekacauan yang dibuatnya refleks berjongkok untuk memunguti pil-pil kecil itu membantu Minseok yang sudah lebih dulu memunguti pil aspirinnya.

"Kau benar-benar mengejutkanku Dae." Minseok pura-pura marah untuk membalas keusilan Jongdae.

"Itu memang tujuanku hyung, tapi aku tidak tahu jika hyung akan benar-benar terkejut biasanya hyung selalu tenang-tenang saja saat kami kejutkan kecuali saat hyung menyembunyikan sesuatu..." Sejenak Jongdae melihat Minseok menghentikan kegiatannya memunguti pil-pil itu, seolah-olah yang dikatakannya adalah benar.

"Aku hanya bercanda hyung..." Melihat respon pasif hyungnya, Jongdae buru-buru mengoreksi kata-katanya agar suasana tidak menjadi canggung.

"Aku tahu Dae, kau memang selalu bercanda." Dengan senyum yang Jondae tahu dipaksakan Minseok berdiri dan memasukan botol aspirinnya kedalam tasnya secepat dia bisa dan berharap agar dongsaeng cerewetnya ini tidak bertanya apa-apa.

"Sejak kapan hyung membawa obat-obatan seperti itu ketika melakukan kegiatan? Setahuku itu adalah tugas Junmyeon hyung." Well apa daya harapan tinggal harapan, Minseok berpikir keras untuk jawaban yang tidak akan mengundang pertanyaan lain.

"Hanya untuk berjaga-jag Dae, kita tidak selalu bersama Junmyeon, jadi jika terjadi sesuatu setidaknya salah satu dari kita harus siap." Minseok cukup puas dengan jawabannya sendiri.

"Hyung benar juga." Jongdae mengangguk setuju, walaupun dibenaknya Jongdae tahu jika hyungnya itu menyembunyikan sesuatu. Tapi Jongdae tidak akan membahasnya saat ini, tidak saat hubungan mereka dengan Minseok semakin membaik dan Minseok mulai terbuka dengan mereka.

.

..

...

Setelah melakukan reherseal disebuah acara musik dan melakukan interview dibeberapa acara akhirnya mereka beristirahat dan menunggu makanan datang diruangan EXO digedung SM. Ent, saat memastikan anggota tertua EXO tidak diantara mereka, Baekhyun mendekati Jongdae yang sibuk mengotak atik handphonenya.

"Chen kau tadi sudah melihatnya kan? Apa yang hyung bawa?"

Pertanyaan Baekhyun barusan sukses membuat kegiatan apapun para anggota EXO terhenti dan kini ikut melihati Jongdae penasaran.

"Aspirin." Jongdae menjawab dengan sedikit helaan nafan mengingat kejadian pagi tadi yang memang sudah direncankan oleh para anggota EXO untuk menyelidiki apa yang disembunyikan hyungnya pada mereka dengan menggunakan Jongdae karena kebiasaannya mengerjai orang sehingga Minseok tidak curiga jika para dongsaengnya itu sedang mengamatinya.

"Jadi Minseok dalam keadaan kesakitan?" Yifan bergumam lebih pada dirinya sendiri.

"Tapi aku selalu melihat Minseok hyung baik-baik saja..." Jongin ikut berpendapat.

Mendengar ucapan Jongin barusan, Luhan berdecak tidak setuuju. "Apa kau pernah melihat Minseok memperlihatkan rasa sakitnya pada kita secara sukarela?"

"Luhan hyung benar, Minseok hyung tidak akan menunjukkan rasa sakitnya meskipun kita memaksanya." Yixing membenarkan perkataan Luhan dengan pandangan berpikir.

"Lalu apa yang harus kita lakukan? Aku tidak ingin terlambat seperti dulu dan membuat Minseok hyung sampai pingsan." Tao berkata dengan nada khawatir.

"Apa karena pingsannya waktu itu masih berpengaruh sampai sekarang dan membuat Minseok hyung harus meminum aspirin?" Chanyeol berpendapat tidak yakin.

"Bisa jadi, tapi dokter mengatakan hanya kelelahan dan tidak mungkin kelelahan harus sampai minum obat penghilang rasa sakit segala." Perkataan Sehun semakin membuat pembicaraan itu jauh dari titik terang.

"Apa mungkin dokter menyembunyikan keadaan Minseok hyung sebenarnya? Apa kita harus mengeceknya lagi kedokter yang lain...?"

"Aku sudah melakukannya..." Junmyeon yang sedari tadi tidak berkomentar tiba-tiba memeotong perkataan Baekhyun. "Aku membawa hasil pemeriksaan Minseok hyung pada dokter pribadi keluargaku dan untuk sementara semuanya normal, tidak ada kelainan apapun pada tubuh Minseok hyung."

"Untuk sementara? Maksud hyung, Minseok hyung bisa saja memiliki sesuatu yang tidak normal ditubuhnya?" Kyungsoo bertanya tidak percaya dengan perkataan leadernya barusan.

"Dan kenapa hyung tidak memberitahukan pada kami jika hyung melakukan cek ulang pada hasil pemeriksaan kesehatan Minseok hyung?" Jongdae bertanya dengan sedikit nada menuntut.

"Aku menunnggu kepastian dari dokterku dulu baru akan menjelaskan pada kalian. Hasil pemeriksaan Minseok hyung yang kita miliki adalah data selama Minseok hyung sudah berada diagensi ini, dokter perusahaan tidak memiliki data kesehatan Minseok hyung sebelum dia berada diagensi ini."

Mendengar penjelasan Junmyeon. Perlahan semuanya mulai mengerti dan tidak memberikan pandangan menunut lagi padanya.

"Lalu bagaimana hasilnya?" Yifan mewakili pertanyaan yang ingin mereka tanyakan pada Junmyeon.

"Belum banyak, data Minseok hyung sangat sulit diakses terutama data kesehatannya seolah-olah data itu memang sengaja untuk disembunyikan. Orang yang kusuruh sudah menyelidiki sampai rumah sakit tempat Minseok hyung dilahirkan tapi yang aku dapatkan hanya data-data umum saja."

"Hah... aku merasa sudah sangat mengenal Minseok, tapi kenyataannya aku tidak tahu apa-apa mengenai dirinya... benar-benar payah." Luhan menghela nafas dalam karena pembicaraan kali ini benar-benar tidak ada titik terangnya dan harapan untuk bisa melindungi hyung mereka seolah hanya seperti ilusi semata.

Saat semuanya sedang frustasi memikirkan keadaan hyung tertua mereka, tidak disadari seseorang berdiri diambang pintu dengan beberapa kotak makanan untuk para anggota EXO ditangannya. Menejer EXO itu hanya diam mendengar percakapan anak didiknya dari awal, dia cukup terkejut karena para anggota EXO ternyata tahu jika Minseok menyembunyikan sesuatu dari mereka. Walaupun dia tahu tentang rahasia Minseok namun dia juga bisa merasakan jika Minseok masih memiliki rahasia lain yang tidak diketahuinya. Dan setelah mendengar percakpan mereka barusan, menejer EXO itu semakin yakin jika Minseok menyembunyikan sesuatu mengenai kesehatannya dan tiba-tiba saja sebuah ingatan muncul dikepalanya yang membuatnya tersenyum lebar. Memang dia membantu Minseok untuk merahasiakan tentang masa lalu Minseok, tapi jika ini mengenai tentang kesehatannya maka menejer EXO itu tidak akan segan untuk membantu para anggota EXO yang sedang kebingungan. Maka dari itu dia mulai menjauhi pintu ruangan EXO dan membuka kontak diponselnya untuk menghubungi sahabat lamanya.

"Hallo?" Suara diseberang menjawab dengan sedikit ragu karena tidak mengetahui ID penelfonnya.

"Kau pasti tidak menyimpan nomor baruku, padahal aku pernah menghubungimu beberapa kali...ck."

"Tak Yongjun?"

"Jadi kau masih ingat namaku dan kau tidak menyimpan nomorku."

"Iya iya, maaf aku sedang sibuk dengan klinik baruku jadi tidak sempat." Suara disebrang menjawab dengan nada sedikit bersalahnya.

"Hmm aku tahu, kapan kau tidak sibuk... aku tidak bisa berlama-lama jadi langsung saja. Apa sabtu besok kau ada waktu luang? Aku ingin bertemu denganmu untuk menanyakan sesuatu..."

"Emm, mungkin bisa tapi bertemu diklinikku saja, nanti kukirim alamatnya. Apa kau sakit?" tanyanya sedikit khawatir dengan sahabat lamanya itu.

"Tidak, aku baik-baik saja. Kita bicarakan saat kita bertemu saja. Jadi kau tentukan jam dan tempatnya oke... aku tutup dulu, kapan-kapan kita ngobrol lagi."

Setelah mengakiri panggilannya Youngjun memasuki ruangan EXO untuk memberikan makan siang mereka dimana Minseok sudah ikut bergabung bersama yang lainnya.

"Baiklah ini makan siang kalian, ingat istirahat satu jam setelah itu kita langsung menuju lokasi pengambilan gambar oke..."

"Oke hyung..." jawab serempak mereka berduabelas.

.

..

...

Selesai dengan semua jadwal mereka kini semua anggota EXO dalam perjalanan menuju dorm mereka. Minseok yang tadi kepalanya sempat sakit kembali memilih untuk mencoba tidur dengan menyandarkan kepalanya dijendela van namun sepertinya Baekhyun memiliki rencana lain dengan memeluk tubuh hyungnya dari samping dan menghirup aroma nyaman dari lehernya.

"Baek..."

"Hssh... aku merindukan hyung." Baekhyun mengeratkan pelukannya.

"Baek, kita bertemu setiap hari dan- ugh! Baek!" Minseok sedikit mengerang dengan sensasi aneh yang dirasakannya. "Apa kau baru saja menggigitku?" Tanyanya tidak percaya saat dirinya merasakan gigitan kecil dibelakang telinganya.

"Aku akan terus melakukannya jika hyung bicara lagi." Baekhyun berbicara dengan nada malasnya namun Minseok bisa merasakan jika Baekhyun sedang bersungguh-sungguh.

"Apa terjadi sesuatu- uhh..." Minseok merasakan gigitan kecil kali ini dilehernya.

Mendapat ide baru Minseok menutup sisi lehernya dengan telapak tangannya untuk melindungi dirinya dari tingkah ajaib dongsaengnya itu. "Katakan padaku semuanya Baek..." Minseok meminta dengan nada khawatir.

"Aku semalam mimpi buruk... kami bersebelas melihat hyung sedang kesakitan dan kami tidak bisa melakukan apapun untuk menolong hyung." Baekhyun bercerita dengan sedikit berbisik.

"Itu hanya mimipi buruk Baek, kau lihat sendiri, aku bersama kalian dan baik-baik saja. Jangan mengkhawatirkanku." Minseok meyakinkan Baekhyun dengan mengusap kepalanya perlahan.

"Mungkin kami akan berhenti mengkhawatirkan hyung jika hyung berhenti menyembunyikan apapun pada kami..."

"Hmm, tentu saja Baek. Tentu saja..." Kini Minseok hanya bergumam sambil memejamkan matanya, menahan rasa sakit yang kembali merayap dikepalanya. Mungkin karena jadwal mereka yang semakin padat, sakit kepalanya semakin sering kambuh dan Minseok harus menambah dosis aspirinnya untuk membuat sakit kepalanya mereda.

Mendengar gumaman hyungnya Baekhyun mengeratkan pelukannya ditubuh Minseok.

.

..

...

TBC

Oke sory banget buat yang udah nunggu ini cerita atau mungkin udah lupa, gak papa sih aku maklumin. Gak kenapa setelah kena writterblock dan akhirnya bisa dapet pencerahan lagi dan ngetik lagi lanjutannya, ceritanya malah jadi angst yang rencana awalnya mau aku buat humor. Semoga aja kalian yang masih minat ama nih crita gak keberatan ama perubahan-perubahan yang terjadi *peace