"Apa yang salah?" Suaranya terdengar panik tapi aku tidak bisa melihatnya. Aku harus keluar dari dalam mobil ini.

Sekarang.

"Tarik Chanyeol."

"Apa kau sakit?"

"Ya! Tarik!"

Kami sedang berada di sisi kota Seoul, masih jarang penghuninya, dan gelap. Langit semakin terbuka, dan mengguyur hujan seperti ada seseorang yang baru saja membuka kran air di atas sana.

Dia meluncur dan berhenti di sisi jalan, dan sebelum dia selesai memarkir mobilnya, aku bergerak keluar dari dalam mobil, membanting pintunya dan mulai berjalan menjauh, dengan cepat, di bawah cahaya lampu jalan.

"Baekhyun!" Dia memanggilku dari arah belakang. "Baekhyun, berhentilah!"

"Tinggalkan aku sendiri, Chanyeol."

"Apa yang terjadi pada dirimu?" Aku mendengar dia bisa mennyusulku, kakinya bergerak di atas batu kerikil yang ada di sisi jalan, jadi aku memutar tubuhku untuk berhadapan dengannya.

"Teganya kau?"

Dia berhenti bergerak, matanya melebar penuh ketakutan dan rasa khawatir dan tangannya bergerak ke atas seakan-akan dia sedang dirampok.

"Apa?"

"Aku sudah katakan padamu jangan beri dia uang lagi."

"Sialan." Dia menggantung kepalanya dan meletakkan kedua tangannya di pinggangnya, kami berdua mengabaikan hujan yang turun di sekitar kami. "Baekhyun..."

Aku memutar sepatu hak tinggiku dan bergerak menjauhi dia sekali lagi, tapi dia meraih lenganku dan memutar tubuhku kembali menghadap ke arahnya. "Kau tidak mungkin berjalan pulang ke rumah."

"Lepaskan, Chanyeol."

"Baekhyun, hentikan ini." Dia meraih kedua bahuku dengan kedua tangannya dan menahanku tetap berada di depannya, dan yang bisa kulakukan sekarang hanyalah memandangnya dengan marah, sambil terengah-engah. Kemarahanku benar-benar mudah dilihat.

"Sudah kukatakan padamu Chanyeol. Kau melihat bagaimana kejadiannya minggu lalu. Kenapa kau melakukan ini? Dia hanya akan kembali lagi untuk meminta lebih. Dia hanya akan pergi kalau kau meninggalkannya sendiri." Aku tidak bisa mencegah adanya nada serak dalam suaraku dan aku merasa air mata mulai mengalir di wajahku, bercampur dengan air hujan.

"Dia tidak pernah akan pergi, sweetheart." Suaranya lebih tenang sekarang, tapi tegas. Aku menggelengkan kepalaku sekali lagi dan mengubur wajahku di dalam kedua tanganku.

"Aku tidak perlu dirimu untuk membantuku dalam kehidupanku!" Aku melangkah mundur dari pegangannya dan melihat ke dalam wajahnya yang disinari oleh cahaya lampu jalan, air hujan turun di sekitaranya, rambutnya terlihat basah dan menempel di atas kepalanya. "Aku bisa mengatasinya sendiri."

"Baekhyun, wanita itu adalah racun. Dia menggerogotimu, secara finansial dan emosional. Kau tidak memerlukan dia."

"Aku tahu itu! Kau pikir aku tidak tahu itu?" Aku melemparkan kedua tanganku ke udara dan bergerak membentuk sebuah lingkaran frustasi.

"Aku mencoba untuk membantumu."

Aku berhenti, punggungku berada di hadapannya, dan aku menggelengkan kepalaku, tanganku berada di pinggangku. "Aku tidak memintamu untuk membantuku seperti ini."

"Lihat aku."

Aku tetap berdiri di posisiku.

"Lihat ke arahku, Baekhyun."

"Chanyeol, kau mengkhianatiku."

"Aku tidak mengkhianati dirimu, sialan!" Dia berteriak, dan aku berputar untuk menatapnya. Matanya sekarang tampak liar, dan kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya, setiap otot di tubuhnya mengeras karena perasaan marah dan frustasi. "Aku membayar seorang wanita yang membenci kehadiranmu sehingga dia tidak akan pernah mengganggumu lagi. Dia menandatangani sebuah kontrak, Baekhyun. Dia tidak akan pernah bisa meminta sepeserpun uang darimu."

"Apa?"

"Biar kuselesaikan. Wanita itu adalah alasan kenapa kau tidak pernah mengatakan padaku kalau kau mencintaiku. Itu. Sialan. Wanita itu." Dia menggelengkan kepalanya karena perasaan frustasi dan berbalik membelakangiku, kemudian kembali lagi. "Kalau aku ada kesempatan untuk menyingkirkan dia dari kehidupanmu, kenapa aku tidak melakukannya? Uang bukanlah masalah bagi diriku. Dia adalah alasan dirimu mempercayai keadaanmu. Dia adalah alasan yang berat sehingga kau tidak berani mengatakan perasaan cintamu pada orang lain."

"Kau ini siapa? Seorang ahli kejiwaan?" Aku bertanya dengan sebuah seringai bodoh, dan aku membenci itu saat aku melihat ada rasa sakit di dalam matanya.

"Aku mengenalmu," dia berbisik. Dadanya mengembang. "Aku mencintaimu, Baekhyun."

Aku juga mencintaimu.

Aku tidak pernah bisa membuat kata-kata itu keluar.

"Aku mencintaimu, Baekhyun." Kata-kata itu terdengar lebih kuat sekarang, lebih keras, dan dia berharap aku juga mengatakan hal yang sama.

Aku membalikkan tubuhku dan berjalan tanpa arah lagi, langkah kakiku cepat, menjauh dari dirinya, dari mobilnya, dari semua perasaan sialan yang membuatku tidak tahu bagaimana cara mempercayai seseorang.

Tiba-tiba saja aku berada di pelukannya, dan dia membawaku kembali ke mobil. Dia mendudukkan aku di atas kap mobil dan memenjarakan aku dengan kedua lengannya yang berada di pinggangku, wajahnya setinggi wajahku, hidungnya hanya berjarak beberapa milimeter dari hidungku, dan matanya kelihatan terbakar. Dia memandangku dengan perasaan penuh cinta dan terluka.

" .Baekhyun."

"Chanyeol." Itu sebuah isakan. Aku meraih wajahnya dengan tanganku dan menggosok pipinya dengan ibu jariku. "Chanyeol."

"Aku mencintaimu," dia berbisik, bibirnya begitu dekat sehingga aku bisa merasakannya saat bibirnya bergerak. Aku menutup mataku dan merasa air mataku mulai mengalir di wajahku. Aku bisa merasakan air mata hangat mengalir di wajahnya, melewati kedua tanganku yang berada di pipinya, tercampur dengan air hujan yang turun.

Aku melukainya. Dan itu rasanya membunuhku.

"Kau bisa mengatakan itu." Itu bukan sebuah pertanyaan.

"Aku bisa menunjukkannya padamu," aku berbisik.

Dia menutup matanya sekejap, kemudian menempelkan dahinya di dahiku. Kemudian dengan tiba-tiba dia mengangkat pinggangku ke sisi kap mobil dan menarik lepas celana jins basah yang kukenakan turun dari pinggang dan kakiku, kemudian melemparkannya ke atas tanah yang basah. Mataku melebar menatapnya, mulutku ternganga.

"Seseorang bisa saja lewat."

"Sialan, aku tidak peduli," dia menggeram dan merendahkan tubuhnya dengan bertumpu pada kedua lututnya, melebarkan kedua pahaku dan mengubur wajahnya di dalam kewanitaanku. Dia menjilati dan menciumi serta menghisap bibir kewanitaanku, klitorisku, menekan logam yang ada di inti kewanitaanku itu, perlakuannya itu membuatku menekan kedua kakiku di atas bahunya, mencengkeram rambutnya yang basah itu dengan kedua tanganku dan mengangkat pinggangku dari atas kap mobil, melupakan sejenak segala luka yang kurasakan, berteriak keras, tidak peduli lagi apabila ada seseorang yang lewat dan mendengar kami.

Dia berdiri dan dengan dua jarinya dia menerobos kewanitaanku dengan kasar, memasukkan dan mengeluarkannya dengan cepat, menggoda klitorisku dengan ibu jarinya, bersamaan dengan itu dia menciumku, dengan perasaan frustasi dan marah dan aku sekarang mencengkeram bahunya, bertahan disana.

"Chanyeol."

"Kau adalah milikku, sialan. Aku akan melindungimu dari siapapun dan apapun, apa kau mengerti?"

Matanya menyipit, menatapku. "Aku tidak perlu ijin darimu untuk menjaga keselamatanmu."

Sebelum aku bisa menjawab, dia menciumku sekali lagi, dan membuatku mendapatkan kepuasanku yang kedua.

Dia mengklaim diriku, memberiku tanda dengan cara yang dia tidak pernah lakukan sebelumnya.

Rasanya luar biasa seksi, dan aku menginginkannya. Aku ingin menjadi miliknya. Aku mencintainya lebih dari yang pernah aku pikirkan, dan itu membuat rasa ketakutanku itu keluar dari diriku.

Dia menarik ke atas seragam olah raga yang kukenakan, bersamaan dengan bra yang kukenakan hingga menuju ketiakku, membuat kedua payudaraku menyembul keluar dan dia menikmati keduanya, menarik dan menggigit putingnya dengan kasar. Aku melemparkan kepalaku ke belakang dan berteriak karena sakit dan kepuasan, aku menyukai sentuhan mulutnya dan tangannya saat mereka menyerangku.

Dia tidak pernah sekasar ini sebelumnya.

Tiba-tiba saja dia menurunkan retseleting celananya dan membebaskan kejantanannya yang sudah mengeras dan luar biasa besar itu dan secara insting aku semakin mendekat ke ujung dari kap mobil, karena aku memerlukan dia berada di dalamku.

"Aku tidak bisa menunggu," dia berbisik di depan mulutku dan dengan keras menenggelamkan dirinya di dalam tubuhku. Dia mencengkeram pinggangku dan membawaku merasakan kejantanannya, lagi dan lagi, menikmati kewanitaanku dengan segala yang dia miliki, dengan matanya yang tetap menatapku.

"Kau sangat cantik. Kau adalah segalanya Baekhyun. Kapan kau akan mempercayai hal itu?" Dia bergerak dengan lebih cepat dan keras sampai aku bisa merasakan dia meledak di dalam tubuhku, ototnya mengeras dan dia menggeram di balik leherku.

Dia tetap berada di sana, di tubuhku, di dalamku, terengah-engah, rasanya begitu lama waktu berlalu, sebelum akhirnya dia melepaskan tubuhnya dari dalam tubuhku dan melangkah mundur ke belakang. "Tetaplah di sini."

Dia kembali menutup retseleting celananya, menurunkan kaos yang kukenakan kembali menutupi bagian atas tubuhku, dan mengambil celana yang kukenakan dari atas tanah, berjalan dengan cepat ke bagian belakang mobil. Dia mencari-cari sesuatu dari bagasi mobil itu dan kemudian kembali kepadaku, sebuah selimut berada di tangannya. "Turunlah dari sana."

Aku mematuhinya, dan dia membungkus tubuhku dengan selimut itu, kemudian memberikan sebuah ciuman yang lembut dan manis di dahiku, tiba-tiba saja air mata kembali mengalir dari mataku.

Aku sangat mencintai dirinya.

"Jangan menangis." Dia mengangkatku dengan menggunakan lengannya dan membawaku ke bagian tempat duduk penumpang, dan dengan perlahan mendudukkan aku kembali ke dalam mobil.

Ternyata dia tidak membawaku kembali ke rumahku, tapi dia membawaku ke rumahnya, membuka garasi mobil dan mengangkatku keluar dari dalam mobil, membawaku masuk ke dalam rumah, naik ke atas menuju ke dalam kamar tidurnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia menurunkanku dengan perlahan di dalam kamar mandi dan menyalakan air panas, kemudian berlutut di depanku, dengan perlahan tangannya meraih wajahku dan menghapus air mata yang ada di pipiku dengan menggunakan ibu jarinya.

"Apa aku menyakitimu?" Dia bertanya.

Aku menggelengkan kepalaku untuk mengatakan tidak sambil menggigit bibirku, menatap ke dalam mata coklat kehitamannya. Sekarang dia kembali lunak, kemarahan sudah menguap dari dalam dirinya.

"Maafkan aku." Aku berbisik.

"Untuk apa, honey?"

Aku mengangkat bahu dan memandang ke bawah tapi dia mengangkat daguku kembali ke atas agar aku bisa menatapnya. "Untuk apa?"

"Karena melukaimu. Aku tidak ingin melakukan itu. Bagiku kau adalah segalanya, Chanyeol."

Dia mendesah, rasa lega terpampang jelas di wajahnya, dan dia menciumku dengan lembut, kemudian dia berjongkok dan tersenyum lembut. "Aku tahu."

Aku mengangguk, masih merasa tidak enak.

Aku ingin memberikan dia kata-kata itu. Sangat ingin.

Dia melepaskanku dari selimut yang membungkusku dan pakaianku yang basah, dan melakukan hal yang sama dengan pakaian yang dia kenakan, kemudian meraih tanganku dengan tangannya dan membimbingku ke dalam shower air panas. Shower itu masih dipasang agar pas dengan diriku.

Dengan perlahan dia memandikanku, menyabuni tubuhku dan rambutku, dan kemudian membilas seluruh tubuhku, sebelum akhirnya dia melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri.

"Aku suka tubuhmu," dia berbisik dengan sebuah senyuman saat dia membimbingku keluar dari shower dan mulai mengeringkanku dengan handuk hangat yang sangat besar.

"Aku juga sama, bintang football," aku membalas kalimatnya dan memberikan dia senyuman singkat. Dia mengeringkan rambutku, dan membimbingku ke atas tempat tidur. "Ini masih terlalu awal untuk pergi tidur kan?" Aku bertanya.

"Aku harus pergi latihan jam enam," dia mengerutkan dahi dan menarik selimut tempat tidur, meraih remote untuk TV kecil yang tertempel di dinding, dan kami berdua naik ke atas tempat tidur yang empuk itu, merapatkan tubuh kami, dan menonton film aksi tahun 90an.

"Terima kasih," aku berbisik tanpa memandangnya.

"Untuk apa?"

"Kau tahu." Aku merapatkan lenganku di sekitar pinggangnya dan memberikan sebuah ciuman di dadanya. "Hanya ingin berterima kasih saja."

Dia mendesah dan mencium ujung kepalaku.

ooOoo

.

.

Dua hari telah berlalu sejak kami bertengkar dibawah guyuran hujan. Sejak seks didalam mobil terbaik seumur hidupku. Semenjak Chanyeol sebenarnya memohon padaku agar mengucapkan kata-kata yang ingin didengarnya dan aku tidak sanggup.

Aku bertanya-tanya berapa lama dia akan sudi menunggu sebelum dia memutuskan bahwa aku tidak layak akan waktunya dan dia mengakhiri semuanya. Kuharap aku dapat mengatakan kata-kata yang diinginkannya sebelum hal itu terjadi.

Aku duduk berseberangan dengannya di sebuah kedai makan kecil yang berada di North Seoul yang terkenal akan hidangan omelet-dua belas butir telurnya. Walaupun Chanyeol tidak bisa memakan semuanya sekaligus, namun dia mengurangi porsinya menjadi versi enam butir telur, yang membuatku kenyang hanya dengan melihatnya.

Pria ini hobi makan.

"Kau nampak cantik hari ini." Dia tersenyum lembut padaku, aku membalas dengan cengiran. Aku hanya mengenakan pakaian sehari-hariku; sehelai t-shirt longgar dan celana jeans, rambut tergerai di sekeliling wajahku.

"Terima kasih." Kubiarkan mataku menjelajah melewati rambut pirang tuanya, mata coklat kehitaman yang menakjubkan dan lengan yang kuat. "Begitu pula denganmu."

Aku menyuap waffle dan mendesah. "Aku sangat menyukai makanan disini."

"Aku tahu, itu sangat luar biasa. Kau harus menggambar sesuatu di dinding." Dia menunjuk pada karya seni dengan garpunya dan aku cekikikan kala menatap sekeliling. Disana terdapat ratusan gambar yang dibuat dengan menggunakan crayon menutupi dinding, beberapa gambar sangat bagus, yang lain hanya kocak.

"Kenapa bukan kau saja yang menggambar?" Tanyaku.

"Aku sudah pernah. Ada diatas sana di suatu tempat."

"Permisi, bukankah Anda Park Chanyeol?" Dua orang gadis muda berdiri di ujung booth kami, menyeringai, memutar-mutar rambut mereka. Mereka masih muda dan manis dan genit dan aku hanya bisa memutar mataku.

"Itulah aku," jawab Chanyeol dengan sebuah helaan napas dan tatapan padaku, matanya menyorotkan permohonan agar aku tidak meradang. Aku hanya mengangkat bahu dan tersenyum.

Aku tidak dapat mengingkari bahwa dia adalah bintang football yang super seksi.

"Wow, bolehkan kami mendapatkan tanda tanganmu?"

"Yeah, dan mungkin juga fotomu? Kami adalah penggemar berat," sahut gadis yang satu lagi menambahkan dan mereka berdua terkikik.

"Aku mohon maaf. Aku sedang makan siang dengan kekasihku. Aku sangat menghargai apabila kalian menghormati privasi kami."

Mereka terdiam dan mengernyitkan dahi, namun Chanyeol menatap mereka dengan tatapan tegas.

SIAL! Ini sesuatu yang baru.

Mereka berdua mengalihkan pandangan padaku untuk pertama kalinya, kemudian kembali lagi ke Chanyeol.

"Kami baca di koran bahwa Anda memiliki kekasih baru, namun kami kira mereka hanya mengabarkan kebohongan karena Anda tak pernah memiliki kekasih."

Chanyeol tersenyum dingin, dan aku bisa mendengar dialog didalam batinnya. Kalian tidak tahu sedikit pun mengenai diriku.

"Aku memang memiliki kekasih, dan aku sedang menikmati waktu bersamanya. Semoga hari kalian menyenangkan." Dia berbalik padaku, dengan efektif memotong perkataan apapun yang hendak mereka ucapkan saat pelayan datang dengan seteko kopi.

"Kalian dengar yang dikatakan pria itu. Silahkan menempati meja yang kosong dan memesan atau tinggalkan tempat ini." Pelayan itu memberenggut saat mereka meninggalkan kedai makan itu. "Maafkan atas gangguan tadi. Mereka lolos dari pengawasanku."

"Tidak masalah." Chanyeol mendongak tersenyum padanya kala dia mengisi ulang kopi kami.

"Tadi itu mengejutkanku."

"Kenapa?" tanyanya dan menyesap kopi.

"Kau biasanya selalu suka menjadi pusat perhatian." Aku mengendikkan bahu dan menyingkirkan piringku yang nyaris kosong.

"Tidak selalu," Chanyeol menggelengkan kepalanya. "Selama aku selalu menjadi pusat perhatianmu, aku bahagia."

"Terlalu menuntut?" tanyaku sarkastis dan terbahak ketika dia memakuku dengan pelototan.

"Aku tidak menuntut."

"Oke." Aku duduk bersandar dan menyunggingkan cengiran padanya.

"Memang tidak."

"Aku hanya menyetujui perkataanmu."

"Uh huh." Chanyeol menyesap lagi kopinya dan memegang tanganku, menjalankan ibu jarinya di buku jariku. "Apa yang akan kau kerjakan hari ini?"

"Aku harus bekerja dengan shift non stop," jawabku dan melihat jam tanganku. "Kau?"

"Aku harus pergi ke pusat pelatihan untuk melihat beberapa rekaman sore ini."

"Apakah kau berlatih pagi ini?" Tanyaku.
"Yeah, pagi-pagi sekali."

"Aku masih tidur." Aku tersenyum dan dia menggelengkan kepala, matanya berpendar bahagia.

"Sangat malas."

"Bagaimana kau bisa bangun sedemikian paginya?"

"Aku terbiasa. Telah melakukannya selama bertahun-tahun." Dia mengangkat bahu dan memeriksa tanganku. "Kau memiliki tangan yang mungil."

"Aku seorang gadis. Tanganku memang sepatutnya mungil."

Dia mencium buku jariku dengan lembut dan kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku belakangnya. "Aku harus berbicara padamu mengenai ini."

"Apa?"

"Aku telah diundang untuk menghadiri sebuah pesta dansa amal. Pestanya formal, dan biasanya aku tidak pernah datang, namun kupikir kau mungkin ingin datang ke yang satu ini." Dia bergeser dengan tidak nyaman, dan nampak hampir gelisah, membuatku penasaran.

"Amal untuk apa?"

"Anak-anak di Seoul," sahutnya, matanya menatap tepat di mataku.

Seulas senyuman perlahan tersungging dibwajahku. Dia ingin mengajakku ke sebuah pesta dansa formal dalam rangka menghormati apa yang aku cintai. Karena dia tahu apa artinya itu untukku.

Karena dia mencintaiku.

"Chanyeol, ini akan luar biasa."
Dia tersenyum dan menurunkan pandangannya pada undangan beremboss berwarna perak dan kemudian diangsurkannya padaku.

"Pestanya akhir pekan depan?" Aku bertanya dengan panik. Sial! Aku tidak memiliki apapun yang pantas untuk dikenakan!

Dan tidak ada uang untuk membeli apapun.

"Yeah, Apakah itu masalah?" Dia mengamatiku lamat-lamat, jadi aku menenangkan diriku dan tersenyum untuk meyakinkannya.

"Tidak."

"Pembohong yang buruk. Ada apa?" Dia bertanya dan menggenggam tanganku lagi

"Tidak ada, sungguh."

"Apa yang kau cemaskan?"

Sialan, dia mengetahui diriku terlalu baik.

"Aku hanya harus memutuskan apa yang harus aku kenakan," aku mengangkat bahu, seolah itu bukan masalah besar. "Itu tidak akan menjadi masalah."

Chanyeol memicingkan matanya padaku akibat pemikiran tersebut dan kemudian hanya tersenyum. "Apakah kau sudah siap?"

"Yeah, aku harus pergi bekerja sebentar lagi."

"Kalau begitu mari kita antar kau pulang."

ooOoo

.

.

~CHANYEOL POV~

Aku menjatuhkan diri didalam Shelby dan mengeluarkan ponsel dari sakuku sebelum meninggalkan kediaman Baekhyun. Aku hanya mengantarnya hingga depan pintu jadi dia bisa segera bersiap untuk bekerja malam ini. Aku sangat membenci dia bekerja di malam hari.

Dia bekerja terlalu keras.

Namun, kupikir sebagian besar perawat melakukannya. Itu tidak pernah menjadi perhatianku sebelum aku berjumpa dengannya bahwa pasien memerlukan perawatan setiap jamnya. Tentu saja, itu masuk akal, namun bukanlah hal yang sering terbersit di pikiran orang kebanyakan.

Dia bekerja terlalu keras. Dan aku benci bahwa dia mengemudi pulang sendirian di tengah malam dengan mengendarai mobil bututnya itu.

Aku telah menawarkannya untuk memakai Rover, namun ditolaknya mentah-mentah.

Dasar wanita keras kepala.

Kuhubungi nomor Zitao dan menunggu dengan tidak sabaran dia menjawab teleponnya.

"Disini Zitao."

"Hey, ini Chanyeol. Apakah kau ada waktu bertemu denganku malam ini?"

"Um…" Dapat kudengar dia membolak-balik kertas dan mengetik pada keyboardnya. "Yeah. Aku mungkin sudah selesai bekerja sekitar pukul tujuh. Ada apa?"

"Aku hanya ingin mengajakmu dan Luhan keluar makan," sahutku polos.

"Dimanakah Baekhyun?" tanyanya.

"Dia bekerja malam ini."

"Apakah kau sudah berbicara dengan Luhan?"

"Belum, aku menghubungimu duluan." Kujalankan tanganku menuruni wajahku dan menghela napas. "Aku hanya ingin mengobrol dengan kalian dan aku jarang bertemu denganmu beberapa bulan belakangan ini."

"Hey, aku tidak pernah mengeluh. Tentu, aku akan menjemput Luhan dan menemuimu. Kemana kita akan pergi?"

"Datanglah ke rumahku, aku akan memesan makanan."

ooOoo

.

.

"Jadi," Luhan memulai, menggigit sebuah eggroll. Dia manis, dan terlihat bahagia, yang mana kami sekeluarga selalu inginkan dia demikian. Dia bagaikan adikku sendiri sama seperti Zitao. "Ada apa antara kau dan Baekhyun?"

Mereka berdua sangat ingin tahu urusan orang lain. Namun inilah alasan mereka ada disini.

"Aku benar-benar mencintainya," aku menjawab dengan kalem dan mengisi penuh piringku dengan ayam dan eggroll dan melahapnya. Aku berhenti sejenak dan menengadah memandang para gadis itu. Mereka berdua membeku. Sumpit Zitao berhenti di tengah jalan menuju mulutnya yang terbuka dan dua pasang mata melebar.

"Apa?" Tanyaku.

"Apakah kau barusan berkata kau mencintainya?" Zitao bertanya dan meletakkan sumpitnya.

"Ya."

"Oke." Mereka bertukar pandang kemudian kembali menatapku. "Sudahkah kau mengatakan hal tersebut padanya?" tanya Luhan.

"Yep."

"Apa yang dikatakannya?" Zitao bertanya.

Aku menggeliat. Aku sebenarnya tidak ingin mengakui pada kedua gadis ini bahwa Baekhyun belum membalas ucapanku. Mereka tidak akan mengacuhkannya.

"Apakah dia sudah membalas ucapanmu? Luhan bertanya dengan lembut, matanya penuh simpati dan yang dapat kulakukan hanya menggelengkan kepala.

"Tidak."

"Sial," Zitao berbisik. "Chanyeol, Baekhyun memiliki masalah dengan kepercayaan…"

"Aku tahu," selaku. Apakah mereka mengira aku tidak mengetahui hal sialan itu? Tentu saja aku tahu. "Aku tidak meminta kalian kemari untuk diinterogasi seperti ini."

"Well, kupikir kita harus membicarakan mengenainya," Zitao menyahut dengan keras kepala. "Baekhyun seorang gadis yang fantastis, dan aku senang hubungan kalian berjalan lancar."

Luhan mengangguk menyetujui. "Benar sekali. Baekhyun itu luar biasa, dan aku senang dia kembali dalam kehidupan kita. Aku telah merindukannya."

"Begini guys, aku tahu kalian menyukainya. Hal itu membuat hubunganku dengannya menjadi jauh lebih mudah. Dia hebat." Aku mengangkat bahu dan tersenyum pada adik-adikku.

"Jangan sakiti dia," bisik Zitao, wajah cantiknya sangat serius. "Jujur saja, Chanyeol. Baekhyun itu gadis yang kuat, namun dia telah melalui banyak hal buruk selama hidupnya."

"Aku tahu, Zitao. Sungguh. Aku telah bertemu langsung dengan Yijin, dan telah menyingkirkan dia dari kehidupan Baekhyun selamanya."

Mata mereka melebar lagi.

"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Luhan.

"Aku membayarnya." Kugelengkan kepala kala kuingat raut wajah wanita jalang itu saat dia menandatangani kontrak yang melepaskan semua ikatannya pada anak tunggalnya. "Dia mendapatkan uang yang sangat banyak agar menghilang. Dia menandatangi kontrak. Dia tidak akan pernah mengganggu Baekhyun lagi. Jika dia sampai berani melakukannya, aku akan menuntutnya."

"Wow." Luhan menelan dan tertawa penuh sesal. "Kuharap aku memikirkan sebelumnya."

"Kau tidak akan mampu memenuhi tuntutannya saat itu," timpalku lembut.

"Berapa banyak kau membayarnya?" Zitao bertanya.

Aku hanya menggelengkan kepala lagi. "Lebih dari dugaannya. Begini, ini bukanlah alasanku meminta kalian kemari. Aku butuh bantuan."

"Oke, katakan," Zitao menjejalkan setengah potong eggroll ke dalam mulutnya dan dikunyahnya dengan mulut terbuka.

"Kau sangat elegan," aku mencelanya.

"Terima kasih." Dia tersenyum dan menjejalkan lagi separuh dari potongan eggroll tadi kedalam mulutnya.

"Aku mengajak Baekhyun ke Pesta Dansa Amal Rumah Sakit Anak sabtu depan dan dia membutuhkan gaun. Akan kuberikan kartu kreditku, dan kemudian aku memerlukan kalian untuk memberitahunya bahwa itu adalah gaun yang dipinjamkan untuknya."

"Kenapa?" Luhan bertanya dengan kerutan di dahinya. "Bawalah dia berbelanja."

"Dia tidak akan mengijinkanku," aku menggeleng dengan frustrasi dan menghela napas. "Aku mengenalnya. Tidak akan pernah dia membiarkanku mengajaknya keluar berbelanja dan menghabiskan uang yang banyak untuknya."
"Kau benar. Setidaknya kau tidak berakhir dengan seorang gadis mata duitan," Zitao mengangkat bahu dan kemudian meneruskan makan, tidak mengindahkan cemberutanku. "Oke, kami bisa membelikannya sesuatu. Seperti apa yang harus kami belikan?"

"Oh!" Luhan terlonjak di kursinya dan meneguk air minumnya. "Ada seorang perancang busana lokal yang membuat gaun-gaun terindah yang sangat bergaya Baekhyun. Rocker, namun elegan. Ini." Dia mengambil iPhone miliknya dan mulai menyentuh layarnya, dan ketika dia menemukan apa yang dicarinya dia membalikannya agar Zitao dan aku bisa melihatnya. "Lihat? Lihatlah yang satu ini."

Itu sangat sempurna. Gaun itu berwarna nude dengan sekumpulan kecil manik-manik berbentuk bunga berwarna merah dan jingga. Sedikit berkerut di bagian perut, memberikan definisi. Terdapat cap sleeves, dan dengan garis leher rendah berbentuk V jadi akan memperlihatkan belahan dadanya yang luar biasa.

Itu adalah Baekhyun.

"Gaunnya sempurna. Aku mau gaun itu."

"Chanyeol, aku tidak tahu apakah gaun tersebut tersedia."

"Aku tidak peduli berapa harganya. Itulah gaunnya." Aku menggelengkan kepala dan memelototi mereka. Seberapa sulit mendapatkannya? "Teleponlah perancangnya dan katakan padanya bahwa aku menginginkan gaun itu."

Mereka saling memandang dan kemudian memandangku dan mulai tertawa terbahak-bahak.

"Oh, Chanyeol, kau lucu." Zitao menghapus airmata dari sudut matanya. "Akan kulihat apa yang bisa kulakukan."

"Bagus." Aku duduk bersandar, puas bahwa Baekhyun akan memiliki gaun yang sempurna untuk pesta dansa dan mengulaskan cengiran. "Terima kasih guys."

"Sama-sama," Luhan menyeringai pada Zitao. "Kau tahu, dia juga akan membutuhkan sepasang sepatu."

"Dan lingerie."

"Lingerie?" tanyaku. "Macam apa?"

Oh, astaga, ini mungkin akan membunuhku.

"Jangan khawatirkan akan hal itu," Zitao melambai tidak menghiraukanku dan dapat kulihat roda berputar didalam kepalanya. Dia memiliki rencana.

"Ini akan menyenangkan." cengir Luhan.

ooOoo

.

.

~Baekhyun POV~

Aku kelelahan. Ini telah menjadi hari yang sangat, sangat panjang. Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, hanya satu jam yang lalu jam kerja resmiku selesai.

Untungnya, aku libur hingga Senin depan. Aku jadi bisa hadir di pesta lajang Zitao pada hari Minggu malam, namun aku tidak bekerja pada Senin malam karena beberapa gadis yang lainnya akan berlibur. Aku harus bisa mencoba menikmatinya.

Keseluruhan dari memiliki kehidupan sosial ini benar-benar mulai mengganggu jadwal kerjaku. Aku tertawa akan pemikiran itu, mulai menyalakan mobil tuaku dan mengarah pulang.

Ya, dengan memiliki Chanyeol, dan kelurga besarnya, dalam kehidupanku memperumit keadaan, namun aku tidak akan menggantinya demi apapun. Hal itu menambah kebahagiaan dalam hidupku.

Dia mengingatkanku bahwa banyak yang bisa dinikmati dalam hidup selain bekerja.

Juhyun pasti akan bangga.

Perutku bergejolak setiap aku mengingat Juhyun. Aku merindukannya. Dia adalah kakakku dalam setiap arti kata tersebut, dan kepergiannya meninggalkan lubang besar dalam hidupku. Zitao benar, mungkin dia tidak mengganti nomor ponselnya, namun apa yang dapat kukatakan? Dia telah pergi selama bertahun-tahun. Dia sekarang adalah bintang rock besar dengan sebuah band, jadwal tur, penggemar dan tanggung jawab. Dengan kepergiannya dia menegaskan apa yang menjadi prioritasnya.

Kusingkirkan pemikiran akan Juhyun dan berhenti pada lampu lalu lintas yang menyala merah di Chanyeolayah sepi pusat kota Seoul. Hell, setiap Chanyeolayah Seoul pasti akan lengang pada pukul tiga dini hari. Ketika lampunya berubah hijau, dan aku menginjak pedal gas, mobilku mati.

Apa-apan ini?

Kuputar kuncinya, namun tidak ada respon sama sekali. Bahkan tidak ada satupun bunyi klik.

Mobil brengsek!

Kugebrak roda kemudi dengan frustrasi dan kemudian menyandarkan keningku padanya. Sial.

Well, aku tidak bisa duduk disini di tengah-tengah perempatan jalan semalaman. Kuposisikan persneling mobil ke netral, membuka pintu pengemudi, keluar dan kudorong ke pinggir jalan, memarkirnya dan kembali naik, mengunci pintu.

Ini adalah pusat kota Seoul di tengah malam.

Kutelepon nomor Chanyeol dan berjengit. Dalam beberapa jam dia akan bangun untuk pergi latihan.

"Halo?" dia menjawab dengan suara mengantuk.

"Hey, babe. Maaf aku membangunkanmu," gumamku.
"Ada apa?" Kudengar dia duduk. "Kenapa kau belum sampai disini?"

"Well, tadi aku dalam perjalanan menuju kesana, namun mobilku mogok."

"Dimana kau?" Dia bergerak kesana kemari, mungkin sedang mencari pakaian, dan aku menghela napas.

"Aku akan menghubungi mobil derek, Chanyeol. Aku hanya tidak ingin kau cemas ketika kau bangun aku tidak ada disana."

"Aku akan datang menjemputmu. Di mana kau?" dia bertanya lagi.

"Pusat kota."

"Apa?"

"Aku berada di pusat kota. Mungkin sebaiknya aku menelepon Zitao. Condo mereka tidak begitu jauh dari sini."

"Tentu saja tidak. Aku akan sampai disana dalam sepuluh menit. Telepon dereknya. Aku dalam perjalanan."

Dia menutup teleponnya dan kuletakkan lagi keningku pada roda kemudi. Dia terdengar gusar. Well, persetan dengannya! Dia tidak perlu menjemputku. Aku telah mengatakan padanya aku akan menelepon derek.

Omong-omong soal derek, kuhubungi sebuah perusahaan lokal, memberitahukan lokasiku dan informasi mengenai asuransiku, dan menunggu.

Kurang dari sepuluh menit kemudian, Chanyeol menepi di belakang mobilku menggunakan Rover. Aku keluar dari mobil dan meluncur masuk pada sisi penumpang dari mobil SUVnya itu.

"Terima kasih. Kau tidak perlu repot-repot menjemputku."
"Seolah aku tega membiarkanmu duduk seorang diri disini saja, Baekhyun. Menurut perusahaan dereknya berapa lama mereka akan tiba?"

"Sekitar setengah jam. Mereka akan sampai tidak lama lagi."

Dia hanya mengangguk dan menatap lurus kedepan, rahangnya menegang.

"Chanyeol, sungguh, aku minta maaf. Aku tahu kau harus bangun pagi…"

"Itukah menurut pikiranmu alasan mengapa aku gusar?" Kepalanya berputar untuk menatapku. "Karena aku akan kehilangan beberapa jam tidurku?"

"Aku tahu kau memiliki jadwal yang padat hari ini…"

"Berhenti berbicara." Dia mengusap wajahnya dan rahangku jatuh. Benarkah dia baru saja menyuruhku untuk berhenti berbicara?

"Baekhyun, aku tidak marah padamu karena membangunkanku, atau karena datang menjemputmu. Kau adalah milikku. Dengan senang hati setiap malam aku menjemputmu sepulang kerja dan membawamu pulang, hanya agar aku tahu bahwa kau aman."

"Kau tidak perlu…"

"Yang membuatku gusar," lanjutnya. mengabaikanku. "adalah aku telah mengatakan padamu bahwa mobilmu ini tidaklah aman, terutama untuk kau kendarai seorang diri di tengah malam buta, dan aku telah menawarkan padamu mobil ini untuk kau pakai."

"Chanyeol, aku tidak bisa begitu saja mengambil mobil darimu."

"Kenapa tidak?"

"Karena itu adalah sebuah mobil sialan!" Aku balas meneriakinya. "Itu bukanlah sepasang sepatu atau membawaku keluar untuk makan malam, Chanyeol. Itu adalah sebuah mobil mahal."

"Mobil yang jarang aku gunakan." Sekarang suaranya menjadi lebih tenang. "Baekhyun, aku sangat jarang memakai mobil ini. Sungguh, pakailah. Jika membuatmu merasa lebih nyaman, anggaplah pinjaman tanpa batas."

Aku memberenggut padanya.

"Pilihanmu tidak banyak. Aku memiliki perasaan benda itu tidak akan bisa diperbaiki lagi." Dia merujuk pada mobil merah kecilku dan aku mendesah.

"Aku tahu."

Dia menggamit tanganku. "Aku minta maaf karena telah meneriakimu, tapi babe, ini konyol. Gunakan saja mobil ini, oke?"

"Kenapa kau selalu mendapatkan keinginanmu?"

"Karena aku menawan dan tampan serta kaya raya."

"Dan juga sangat rendah hati." Aku menggelengkan kepala kepadanya dan kemudian memanjat melewati tuas persneling keatas pangkuannya. "Terima kasih untuk jemputanmu dan untuk ijinmu meminjamkan mobil ini."

"Sama-sama."

"Bagaimana aku bisa membayarmu?" aku bertanya dan menjalinkan jariku kedalam rambutnya yang lembut.

"Hmm… Kupikir kita bisa mengerjakan masalah pembayarannya setibanya kita di rumah." Sekarang matanya senang, seulas senyuman bermain di bibirnya dan sedikit memiringkan kepalaku untuk menciumnya.

"Aromamu wangi," bisikku.

Dia membungkuskan lengannya pada sekelilingku, menggigiti pelan bibirku, kemudian menyeberangi garis rahangku dan melewati telingaku dimana dia tahu merupakan titik geliku.

"Rasamu nikmat," gumamnya.

Kemudian sebuah truk derek mencul di depan mobilku kemudian berputar membelakangi bemper depan mobilku.

"Tunggu di sini," Chanyeol menginstruksikan saat dia keluar dari mobil. "Dan kunci pintu ini setelah aku keluar."

"Ya, sir." Aku menjawab dengan nada main-main.

"Aku nanti akan menampar bokongmu."

"Oh, bagus," aku menyeringai padanya dan dia menggelengkan kepalanya saat dia menemui pengemudi mobil derek yang berada di samping mobilku, memberinya instruksi.