BECAUSE YOU ARE MINE

—BETH CERY—

Remake Dari Novel Dengan Judul Yang Sama.

KIM JONGIN—OH SEHUN

It's HUNKAI.

Previous

"Aku pikir tidak bisa. Aku punya pekerjaan besar di hari Senin, dan aku tidak ingin terlambat tidur, karena mengikuti rutinitas pagi malam seperti kau dan Suga," kata Jongin sambil berjalan keluar ruangan.

"Ayolah, Jong. Ini akan menyenangkan. Akhir-akhir ini kita jarang bersenang-senang," Taehyung berkata, mengejutkan Jongin.

.

.

.

BAB 10

Sama seperti Jongin, Taehyung cenderung kurang suka keluar malam hari sejak mereka meninggalkan Northwestern. Tatapan mata Taehyung yang menantang memberitahunya bahwa Taehyung berpikir jika keluar malam akan mendorong Jongin untuk membuka rahasia tentang apa yang mengganggunya.

"Aku akan memikirkannya," kata Jongin sebelum ia meninggalkan dapur.

Tapi Jongin tidak melakukannya. Pikirannya dipenuhi tentang apa yang akan ia katakan ketika bertemu Oh Sehun.

Sayang sekali, Sehun tidak berada disana ketika Jongin datang ke Penthouse-nya pada sore hari. Bukan berarti ia mengharapkan sesuatu dari Sehun. Dia biasanya tidak begitu. Ragu-ragu tentang apa yang harus ia lakukan mengenai ciuman itu, pekerjaannya, belum lagi tentang masa depannya, Jongin masuk ke ruangan yang digunakan sebagai studio.

Lebih dari lima menit, ia melukis dengan gugup. Oh Sehun tidak nyata untuknya. Meskipun ia juga tidak. Tapi lukisan itu nyata. Hal itu masuk ke dalam otaknya dan mengalir dalam darahnya. Dia harus menyelesaikannya sekarang.

Jongin tenggelam dalam pekerjaannya selama berjam-jam, akhirnya kreativitasnya mengalir tanpa sadar sampai matahari tenggelam di balik gedung-gedung bertingkat.

Mrs. Han mengaduk sesuatu di mangkuk ketika Jongin berjalan masuk ke dapur untuk mengambil air. Dapur Sehun mengingatkan dia tentang salah satu milik bangsawan Inggris yang besar—dengan peralatan memasak yang mungkin pernah digunakan, tapi bagaimanapun juga tetap nyaman. Dia suka duduk disana dan mengobrol dengan Mrs. Han.

"Kau begitu tenang, aku sampai tidak sadar kau ada di sini," serunya ramah.

"Aku bekerja keras," kata Jongin, meraih pegangan besar kulkas stainless steel.

Mrs. Han bersikeras agar Jongin bersikap seolah dirumahnya sendiri. Pertama kali dia membuka lemari es, Jongin terkejut melihat sebuah rak penuh botol soda dingin, bersama dengan sepiring keramik china irisan jeruk lemon yang ditutupi plastik.

"Sehun mengatakan padaku kalau soda dengan jeruk lemon adalah minuman favoritmu. Aku berharap merknya benar." Mrs. Han menjawab cemas.

Sekarang setiap kali ia membuka lemari es, Jongin merasakan dorongan hangat yang dia alami ketika pertama kali dia sadar kalau Sehun ingat minuman kesukaannya dan menyediakan untuknya—sementara dia bekerja.

Kasihan sekali, Jongin memaki diri sendiri sambil mengambil botol.

"Apakah kau ingin makan malam?" Tanya Mrs. Han. "Sehun tidak makan hari ini, tapi aku bisa membuatkan sesuatu untukmu."

"Tidak, Aku tidak lapar. Terima kasih." Dia ragu, tapi kemudian menyeplos, "Jadi Sehun ada di kota? Apa nanti dia akan pulang?"

"Ya, dia mengatakannya tadi pagi. Dia biasanya makan pukul delapan tiga puluh tepat, entah aku yang memasak untuknya atau dia makan di kantor. Sehun suka rutinitasnya. Dia selalu seperti itu sejak remaja."

Mrs. Han memandang ke arahnya. "Kenapa kau tidak duduk disini dan menemaniku sejenak. Kau terlihat pucat. Kau bekerja terlalu keras. Aku punya air di ketel. Kita akan minum secangkir teh."

"Oke," Jongin setuju, tenggelam pada salah satu tempat duduk.

Dia tiba-tiba merasa lemah karena kelelahan, sekarang imajinasi kreatifnya yang menyerbu adrenalinnya telah pudar. Di samping itu, dia tidak bisa tidur nyenyak selama dua hari terakhir.

"Seperti apa Sehun ketika masih kecil?" Jongin tidak bisa menghentikan dirinya untuk bertanya.

"Oh, jiwa tuaku tidak pernah melihat hal seperti itu." Mrs. Han menjawab dengan senyum sedih. "Serius, pintar, sedikit pemalu. Kadang kala dia hangat seperti kepadamu, begitu manis dan loyal seperti mereka."

Jongin mencoba membayangkan anak laki-laki muram, rambut gelap, pemalu, hatinya sedikit tertekan dengan gambaran di pikirannya.

"Kau terlihat sedikit tidak enak badan," pengurus rumah tangga itu menghiburnya ketika dia tergesa-gesa menuangkan air panas ke dalam dua cangkir kemudian mengaturnya diatas nampan perak, dua Scones, sendok dan garpu perak yang sangat indah, dua serbet putih yang segar, krim Devonshire, dan selai yang indah pada mangkuk keramik. Tidak ada hal yang murahan di kediaman Oh, tidak juga untuk peralatan dapur. "Apakah lukisanmu berjalan dengan baik?"

"Ya, semuanya berjalan baik. Terima kasih," Jongin berkata ketika Mrs. Han meletakkan sebuah cangkir dan piring di depannya. "Semua berjalan lancar. Anda harus datang dan melihat-lihat nanti."

"Aku menyukainya. Mau Scone? Mereka terlihat enak hari ini. Tidak seperti Scone dengan krim dan selai yang akan membuatmu melompat keluar dari suasana hati yang buruk."

Jongin tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Ibuku akan mati jika mendengar apa yang kau katakan."

"Untuk apa?" Mrs. Han bertanya, mata biru pucatnya melebar saat dia berhenti menyendokkan krim manis di Sconenya.

"Karena kau menganjurkanku untuk mengatur suasana hatiku dengan makanan, itu sebabnya. Orang tua ku, bergaul dengan setengah lusin psikolog anak, melatih pikiran buruk tentang makanan dalam pikiranku sejak aku berusia tujuh tahun."

Jongin melihat ekspresi bingung Mrs. Han. "Aku kelebihan berat badan ketika masih kecil."

"Aku tidak bisa percaya. Kau langsing seperti tongkat."

Jongin mengangkat bahu. "Setelah aku pergi ke sekolah, berat badanku berkurang setelah satu atau dua tahun. Aku mulai pergi menjauh, jadi menurutku itu membantu. Aku pikir pergi dari kritikan orang tuaku adalah hal yang menentukan juga."

Mrs. Han membuat suara mengerti, "Kadang-kadang kegemukan bukanlah beban yang berat, tapi apakah kegemukan itu bermanfaat?"

Jongin menyeringai, "Mrs. Han, anda seharusnya jadi psikolog."

Pengurus rumah tangga itu tertawa "Apa kemudian yang akan dilakukan Lord Stratham atau Sehun padaku?"

Jongin berhenti menyesap tehnya. "Lord Stratham?"

"Kakek Sehun, Oh Kyuhyun, Earl of Stratham. Aku bekerja untuk Lord dan Lady Stratham selama tiga puluh tahun sebelum aku datang ke Amerika untuk melayani Sehun delapan tahun lalu."

"Kakeknya Sehun," Jongin bergumam penuh pertimbangan. "Siapa yang akan mewarisi gelarnya?"

"Oh, seorang pria bernama Park Chanyeol, keponakan Lord Stratham."

"Bukan Sehun?"

Mrs. Han mendesah dan meletakkan Sconenya. "Untungnya Sehun adalah ahli waris dari Lord Stratham tapi tidak dengan gelarnya."

Dahi Jongin berkerut dalam kebingungan. Adat istiadat orang Inggris begitu aneh. "Bukankah ibu atau ayahnya Sehun adalah Tuan Oh?"

Bayangan jatuh di sepanjang wajah Mrs. Han. "Ibu Sehun. Helen adalah putri tunggal dari Earl dan Countess."

"Apakah dia..." Jongin menjadi tidak nyaman, dan Mrs. Han mengganguk sedih.

"Ya, dia meninggal. Dia meninggal sangat muda. Hidupnya tragis."

"Dan ayah Sehun?"

Mrs. Han tidak menjawab. Dia melihat sekeliling.

"Aku tidak yakin. Aku seharusnya berbicara hal lain..." Pengurus rumah tangga itu berkata.

Jongin memerah, "Oh, tentu saja. Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud ikut campur, Aku hanya-"

"Aku tidak berfikir kau bermaksud kurang ajar." Mrs.Han meyakinkan, menepuk tangannya yang terletak di meja. "Hanya saja aku khawatir Sehun memiliki kisah sedih tentang keluarganya, meskipun ia memiliki semua ketenaran dan keberuntungan sebagai pria dewasa. Ibunya adalah wanita muda yang suka memberontak... liar. Keluarga Oh tidak bisa mengontrolnya."

Mrs. Han menatap penuh arti. "Ia kabur dari rumah pada usia akhir remaja dan hilang lebih dari satu dekade. Keluarga Oh takut dia meninggal tapi tidak pernah bisa membuktikannya. Mereka tetap mencari. Itu adalah masa suram di kediaman Stratham."

Kesedihan melintasi wajah Mrs. Han ketika mengingat peristiwa itu. "Lord dan Lady kebingungan untuk menemukannya."

"Aku hanya bisa membayangkan."

Mrs. Han mengangguk. "Sangat buruk, saat yang buruk. Dan tidak menjadi lebih baik ketika mereka menemukan tempat tinggal Helen di sebuah pondok di Prancis utara, hampir lebih dari sebelas tahun setelah dia menghilang. Dia menjadi gila. Sakit. Mengalami delusi. Tidak ada satu pun yang mengerti apa yang dia alami. Sampai sekarang pun tidak ada. Dan Sehun bersamanya—berusia sepuluh tahun di tahun Sembilan puluhan."

Suara Mrs. Han tercekik karena kesedihan. Jongin dengan cepat berdiri dari kursinya.

"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih." katanya, pikirannya berputar bercampur antara keingintahuan tentang Sehun dan perasaan sedih untuk pengurus rumah yang baik itu.

Dia meletakkan kotak tisu dan mengambilnya untuk Mrs. Han.

"Tidak apa-apa. Aku hanya wanita tua yang bodoh," gumam Mrs. Han, mengambil tisu. "Banyak yang mengatakan keluarga Oh tidak lebih dari majikan, tapi bagiku, merekalah satu-satunya keluargaku." Dia terisak dan mengusap pipinya.

"Mrs. Han. Ada apa?"

Jongin melompat saat mendengar suara keras pria dan berbalik.

Sehun berdiri di pintu masuk dapur.

Mrs. Han melihat ke sekeliling dan merasa bersalah. "Sehun, kau pulang lebih awal."

"Apakah kau baik-baik saja?" Sehun bertanya, wajahnya penuh perhatian.

Jongin sadar jika Mrs. Han berbicara tentang keluarga Oh dan keluarganya dalam dua arah.

"Aku baik-baik saja. Tolong jangan pedulikan aku." dia berkata, tertawanya dibuat-buat dan membuang tisunya. "Kau tahu kan wanita tua mudah terharu."

"Aku tidak pernah tahu kau mudah terharu." Sehun berkata. Tatapannya meninggalkan Mrs. Han dan beralih pada Jongin. "Bisakah aku berbicara dengan mu di perpustakaan?" Sehun bertanya pada Jongin.

"Tentu saja," ia menjawab, mengangkat dagunya dan memaksakan dirinya untuk tidak takut pada tatapan mata Sehun yang tajam.

Beberapa menit kemudian, dia berbalik cemas mendengar suara Sehun menutup pintu kenari perpustakaan yang berat dibelakangnya.

TBC

Nb:

scones : kue khas inggris.

geser ke kananㅋㅋㅋㅋ