Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi kurang sedikit saat Yongguk dan Daehyun berhasil masuk ke dalam pondok peristirahatan keluarga Himchan. Mereka berdua telah melalui hari yang sangat panjang dan melelahkan, keduanya benar-benar membutuhkan istirahat.
"Aku akan mandi terlebih dahulu." Kata Yongguk memberi tahu disaat Daehyun sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa besar yang hangat. Daehyun hanya berdehem acuh tak acuh dan membiarkan Yongguk berlalu begitu saja ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangatnya. "Apa kau benar-benar tak akan menyalakan pemanas ruangan? Aku menggigil kedinginan disini." Kata Yongguk lagi saat dia berjalan keluar kamar mandi untuk mengambil handuk dan peralatan mandi di lemari penyimpanan. "Nah begini lebih baik." Komentar Yongguk saat dia berjalan kembali ke kamar mandi dan sudah mulai merasakan kehangatan dari mesin penghangat ruangan yang baru saja dinyalakan Daehyun.
Dengan sedikit kesal Daehyun menirukan perlakuan Yongguk yang cerewet dengan cara menggerak-gerakkan bibirnya tanpa bersuara sebelum dia kembali merebahkan tubuhnya di sofa yang sama tadi. Dan baru saja Daehyun memejamkan matanya, kepala Yongguk dan sedikit badannya yang terlihat telanjang muncul lagi di sela pintu. "Dan bisakah kau tidak mengangkat teleponmu saat aku tidak mengawasi?"
"Demi Tuhan, Hyung. Pergilah mandi dan biarkan aku beristarahat dengan tenang." Bentak Daehyun kesal yang mana berhasil membuat Yongguk menghilang dari celah pintu kamar mandi dan menenggelamkan dirinya di dalam air hangat yang nyaman.
.
.
.
Mungkin setengah jam sudah berlalu, tak ada yang tahu karena tak ada yang menghitung waktu. Dan Yongguk masih saja belum keluar dari mandi air hangatnya. Suasana begitu sepi dan yang bisa didengar Daehyun hanyalah suara berdengung rendah yang dikeluarkan oleh mesin penghangat yang sudah cukup lama tidak dipakai. Sampai akhirnya nada dering HP-nya berbunyi dan wajah Youngjae yang terlalu dibuat-buat agar terlihat lucu muncul di layar besar ponselnya. Dia berusaha untuk tidak mengangkat panggilan tersebut dan menjadi anak baik yang menurut pada larangan Yongguk dan peringatan Jongup. Semua berjalan lancar sampai akhirnya foto Youngjae terlihat semakin memelas dan Daehyun tak bisa menahannya lagi.
"Hal-"
"Akhirnya kau mengangkat teleponmu! Dimana kau sekarang?" suara Youngjae terdengar begitu marah. Namun tak peduli seberapa marahnya Youngjae, Daehyun tak akan pernah menjawab pertanyaan tersebut. Dia tak bisa. Terdengar hembusan nafas berat yang panjang di ujung telepon lalu Youngjae berkata, "Apa kau sadar akan apa yang baru saja kau lakukan dengan mobil curianmu itu?"
"Aku hanya meminjamnya." Koreksi Daehyun.
"Meminjamnya untuk menipu polisi agar mereka pergi jauh-jauh ke pelosok kota hanya untuk mendapati bahwa mobil yang kau curi itu kosong?" Youngjae menarik nafasnya lagi, penuh emosi yang marah. "Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan Daehyun?!" lanjutnya dengan sebuah bentakan.
"Ya Youngjae, kita berdua sadar akan apa yang telah kita lakukan. Yang tidak menyadari perlakuannya sendiri adalah dirimu anak muda. Ini pukul tiga pagi dan kita sedang berusaha untuk tidur disini. Belajarlah sopan santun." Itu Yongguk yang berbicara. Dan tanpa menunggu reaksi Youngjae, Yongguk sudah menutup telepon itu dengan cepat. Lalu dengan kecepatan yang sama dia mengalihkan pandangan marahnya pada Daehyun. "Seingatku aku sudah melarangmu untuk tidak mengangkat teleponmu disaat aku tidak mengawasi. Apakah kau tidak mendengarnya dengan jelas?" kata Yongguk yang masih setengah telanjang dan hanya dibalut handuk putih pada bagian bawah tubuhnya.
"Itu hanya Youngjae, Hyung. Apa salahnya mengangkat telepon dari Youngjae?" kata Daehyun membela diri.
"Mengangkat telepon dari seorang polisi maksudmu?" beberapa tetes air jatuh dari rambut hitamnya yang masih basah dan segar selagi dia berusaha membuka casing HP Daehyun, ingin melepas baterainya.
"Polisi itu temanku Hyung. Polisi itu berada di pihak kita." Kata Daehyun sambil menekankan kata 'temanku' dan 'di pihak kita'.
"Oh benarkah?" ejek Yongguk yang masih tak bisa membuka casing belakang HP Daehyun.
Daehyun menarik nafas dengan lelah. "Berikan itu padaku." Kata Daehyun sambil merebut HP-nya dari tangan Yongguk. Dan dalam beberapa detik dengan memuaskan Daehyun telah melepas casing HP-nya tanpa hambatan. "Terima kasih." Katanya kemudia dengan nada mengejek sambil memberikan HP-nya kembali ke tangan Yongguk.
"Kau tahu kita berdua harus benar-benar berhati-hati sekarang ini." Kata Yongguk yang sudah mulai melunak tutur katanya. "Aku akan tidur di kamar utama. Kau bisa tidur di kamar tamu yang kecil itu." Lanjut Yongguk sambil memberikan HP Daehyun yang sudah terpisah dengan baterainya.
"Tak bisakah kita tidur bersama?" Tanya Daehyun. "Maksudku, kau tahu kita harus benar-benar berhati-hati sekarang ini. Jadi sangatlah masuk akal untuk selalu bersama-sama bahkan saat tidur." Lanjut Daehyun setelah menyadari betapa terdengar bodohnya dia barusan.
Yongguk menggerang. "Sejauh ini aku percaya tak ada yang mengetahui keberadaan kita sekarang, jadi bisa kupastikan malam ini kau pasti aman." Katanya. "Aku lelah Daehyun. Selamat malam." Lanjutnya sambil berlalu. Punggung Yongguk memang terlihat lelah dari tempat Daehyun melihatnya.
.
.
.
.
Kurang lebih enam setengah jam yang lalu –pukul setengah sembilan malam tepatnya– Yongguk dan Daehyun sedang berada di depan minimarket di tengah-tengah kota. Yongguk sedang mengawasi mobil-mobil mana yang bisa dengan mudah 'dipinjam'nya untuk berkeliling kota. Lalu setelah menemukan pilihan mobil yang pas untuknya, Yongguk pun mulai beraksi. Dia menyuruh Daehyun menunggunya di depan pintu minimarket mengingat tak banyak yang bisa dilakukan Daehyun dalam hal illegal seperti itu.
Dan setelah mendapatkan mobil curiannya, Yongguk membawa Daehyun pergi sejauh mungkin ke arah utara. Butuh waktu satu setengah jam untuk mereka sampai di sebuah gudang peternakan milik teman Yongguk yang sudah tak terpakai. Lalu tak lama setelah mereka sampai, mereka sudah pergi lagi dengan kereta api pukul 11.15 yang menuju ke daerah timur. Satu jam kemudian mereka turun dari kereta dan langsung menaiki bus terakhir yang menuju ke pedesaan dimana pondok keluarga Himchan berada.
Daehyun menanyakan apa tujuan Yongguk melakukan semua itu saat mereka sudah duduk di deret bangku bus paling belakang. Namun Yongguk tak mau bersusah payah menjelaskan panjang lebar, jadi dia langsung berpura-pura tidur dengan menenggelamkan tubuhnya di kursi. "Bangunkan aku kalau kita sudah sampai." Kata Yongguk. Tapi tentu saja hal itu tidak pernah terjadi karena nyatanya Daehyun lah yang tertidur selama perjalanan.
Mereka turun dari bus satu jam empat puluh lima menit kemudian. Pukul dua pagi. Dan sialnya lagi mereka masih harus berjalan selama tiga puluh lima menit untuk sampai di pondok Himchan yang luas dan terpencil semenjak mereka sudah tidak mengendarai mobil lagi. Dan barulah saat mereka berdua berjalan di rimbunnya jalan pinggiran kota itu Yongguk mengatakan maksudnya. Dia ingin –dan berharap– bahwa semua yang baru saja dilakukannya itu bisa mengecoh diapapun yang sedang berusaha mengejar mereka berdua.
.
.
.
.
Disisi lain, Youngjae sedang meremas-remas ponselnya dengan geram. Dia belum mengistirahatkan otaknya barang sedetik pun hari itu dan kini fajar akan segera tiba. Dia sudah marah, dan marahnya semakin bertambah setelah dia mendengar suara Yongguk di telepon barusan.
Lalu dengan jari jemarinya dia mulai mencari nomor Himchan. Tak lama waktu berselang dan dia sudah terhubung dengan nada-nada mellow dari Himchan yang membuat lampu kantornya terlihat semakin redup dari biasanya.
"…. Youngjae?" suara Himchan yang masih kental kantuknya terdengar.
"Untuk apa kau mengikut sertakan Yongguk dalam masalah ini?" Youngjae berbicara dengan lelah sambil menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya dan menutup mata.
"Oh….. um…. Jadi kau sudah bertemu dengan Yongguk?" Himchan masih terdengar belum sadar betul dan itu membuat amarah Youngjae memburuk.
Youngjae menarik nafas kesal lalu dia berkata, "Aku akan menemuimu dimana kau sekarang?"
"Aku? –sebentar…" terdengar suara kertas berjatuhan dan gumaman Himchan yang terdengar seperti 'dimana brosur itu tadi…'. Lalu tak lama Himchan berkata lagi. "Ah ini dia. Yah, aku ada motel Puzzle. Aku juga tak tahu mengapa motel ini dinamai Puzzle tapi mungkin memang disitulah 'puzzle'-nya. Mengerti maksudku?"
Youngjae merasa kesabarannya benar-benar sedang diuji sekarang, dan dengan geram dia berkata, "Lupakan saja, aku akan menemuimu di flat Daehyun besok pagi." Lalu dengan itu perbincangannya dengan Himchan berakhir.
Youngjae masih tetap memejamkan matanya sambil sesekali memijat-mijat alisnya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. Lelah. Dan untuk sesaat, dia benar-benar merasakan keheningan yang menyelimutinya. Lalu pada saat itulah dia sadar, bahwa keheningan itulah yang benar-benar dibutuhkannya sekarang. Tapi secepat dia menyadari akan hal itu, secepat itu pula keheningannya direnggut darinya. Ponselnya berdering, dan dengan malas dia melihat nama yang muncul di layarnya. Sooyoung. Dia mengambil ponselnya dan setelah sedikit ragu akan apa yang harus dilakukannya, diapun mengalihkan panggilan tersebut. Sebelumnya dia memang tak pernah mengabaikan telepon dari Sooyoung, namun untuk kali ini. Untuk kali ini saja, dia ingin mendapatkan apa yang diinginkannya, keheningan.
