Good Morning, minna-san.

By the time I decided to upload this chapter. It was 8.10 AM on Wednesday, March 4th.

And that means, I was right on schedule.

To tell you the truth, as I upload this section, I already finishing the whole part of 3 chapter.

And so, it could be updated accordingly to the schedule, which is a week after the previous update.

Well, I also decided to tell you, that this part-the 3rd chapter-would all consist of the most heart-breaking part of the story.

Much to say, this is the climax. And I hope you didn't think of quitting just because of this.

Though it would sound too much for me to say that I hope you enjoy this part like you may have enjoy the rest before.

Anyway, happy Reading~


Disclaimer: Mobile Suit Gundam SEED and all of its characters belongs to Yoshiyuki Tomino, Sunrise, and Bandai respectively

Rate: T, hmmm... I guess T it is. Feel free to let me know if I should change it, Ok?

Genre(s): Romance, Drama, Friendship, Family, Hurt/Comfort, etc

Pairing(s): Rey Za Burrel/Lunamaria Hawke

Warning(s): AU, Divergence Fanfiction, OOC-ness, Typo(s), ER, FT, etc

Pairing might change without prior notification in later chapters


Carte de Dragoste

Chapter Three

Part 2—Mystery

Snowdrop Lynx

2015


"Terkadang misteri terbesar adalah dirimu sendiri"

...

Sepasang mata biru tampak terfokus menatap seorang gadis berambut merah pendek yang melesat secepat angin mendahului lawannya yang terlihat agak kesulitan mengejar gadis itu di arena lari, dan ia melihatnya dari tempatnya di lapangan tenis SMA Stargate.

Diamatinya ekspresi lelah yang nampak jelas menghiasi garis wajah sang gadis yang lembut tanpa berpaling sedikitpun.

Sekilas mata itu memperlihatkan kilatan kekhawatiran yang tak biasa. Ia mengenal gadis itu, dan kagum akan semangat dan kegigihannya untuk berjuang.

Tapi ia mulai mengkhawatirkan gadis itu, dan kebiasaannya yang suka mengeksploitasi batas dirinya sendiri, persis dengan seseorang yang dikenalnya dimasa lalu.

Lalu gadis itu… jatuh.

Tepat seperti dugaannya, tapi tak seperti harapannya.

Dan kemudian insting mendahului akal sehatnya.

Ia berlari, meninggalkan orang-orang yang menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya. Dan menuju tempat dimana gadis itu dikerumuni karena ia tiba-tiba terjatuh dan tak sadarkan diri.

Lalu ketika jaraknya sudah dekat Rey menyadari bahwa sebenarnya peran ksatria yang datang menyelamatkan sang putri sama sekali tidak cocok untuknya. Tapi untuk sekali ini… untuk sekali ini, boleh kan?

Bolehkan seorang seperti dirinya—yang mungkin lebih tepat disebut sesosok bayangan tanpa raga—melepaskan topeng ksatria dari sang putri yang menyamar?

Ia tidak tahu. Tapi kemudian memutuskan bahwa ini bukan saatnya untuk merenung.

Karena Luna… si tuan putri yang selalu berusaha terlihat seperti sesosok ksatria, saat ini membutuhkan bantuan.

Jadi Rey tidak berpikir dua kali ketika ia mengangkat tubuh Luna yang terbaring di atas lapangan di antara kerumunan kakak kelas—yang kemudian disusul oleh kerumunan kelasnya sendiri, dan meminta izin dalam bahasa isyarat kepada guru yang mengajar sebelum meninggalkan lapangan… dengan Luna dalam dekapannya.

Murid-murid Stargate yang berada di belakang mereka tampak riuh—seperti saat sekolah itu kedatangan murid baru beberapa waktu yang lalu. Masing-masing saling berbisik kepada teman sekelasnya.

Para gadis kelas tiga—Luna baru saja naik kelas Juni lalu—membicarakan si adik kelas yang tinggi, berambut pirang, dengan mata biru yang dingin namun menurut pandangan mereka… keren.

Betapa ia tidak mempedulikan puluhan pasang mata yang pasti mengamati sosoknya dari kejauhan, betapa beraninya pemuda itu menggeser kerumunan beberapa saat yang lalu, dan… betapa ia memiliki paras rupawan yang mengingatkan mereka akan malaikat-malaikat dalam kisah-kisah dongeng, atau pangerannya.

Sementara para murid laki-laki di angkatan yang sama memikirkan betapa nekadnya anak laki-laki yang baru naik kelas dua itu. Atau betapa tidak sopannya dia, karena telah menyelak kakak kelasnya. Dan betapa beruntungnya si adik kelas, mendapatkan kesempatan menyentuh tubuh atletis Lunamaria tanpa risiko terkena omelannya saat gadis itu bangun nanti.

Di barisan lain para gadis kelas dua beranggapan bahwa Rey pecinta kakak kelas. Dan hal itu—menurut mereka—menjelaskan kenapa selama ini ia selalu bersikap dingin, kecuali kepada Shinn yang berdasarkan informasi yang sebenarnya benar namun tak bisa dipertanggung jawabkan, merupakan saudara angkatnya.

Lain lagi dengan murid laki-laki kelas satu. Menurut mereka, sikap Rey berlebihan, dan mereka meyakini Rey mulai tertular sikap mother hen—khawatiran dan paranoid—dari saudara angkatnya, yaitu Shinn. Dan dalam argumen ini mereka merasa sangat benar lantaran Shinn dalam pandangan mereka tampak selalu mencemaskan Rey—padahal pemuda itu baik-baik saja.

Dan perlu digarisbawahi bahwa, hampir semua anggapan itu… salah.

Pertama, Rey mengangkut dan membawa pergi Luna yang pingsan bukan karena ia khawatir berlebihan, melainkan karena ia sudah tahu bahwa Luna—dalam kasus ini—sudah kelewat batas.

Kedua, Rey melakukan hal ini bukan untuk cari kehebohan, sungguh. Dia hanya ingin menolong gadis itu, karena menyadari bahwa yang dibutuhkan Luna saat ini adalah istirahat, dan tidaklah bijaksana untuk membiarkan gadis yang pingsan karena berlari di lapangan terbuka tetap berada ditempatnya.

Ketiga, Rey menolong Luna bukan karena ia ada hati pada gadis itu, atau semacamnya. Sungguh, dia berani bersumpah bukan itu alasannya. Luna adalah temannya, dan bukankah itulah gunanya teman? Agar ada yang menolong ketika berada dalam masalah, contohnya seperti ini?

Dan terakhir, bahwa sekalipun Rey memang tidak peduli pada puluhan mata yang memandangi aksi dan jejaknya, ia bukan melakukan ini karena ingin menyentuh Luna. Ini serius, dia bisa dihantui seluruh keluarganya dan dimaki-maki oleh keluarga Asuka kalau menjadikan hal serendah itu sebagai alasan untuk menolong seorang wanita. Dan jelas Rey tidak mau keluarganya sampai tidak tenang di alam sana hanya karena kejadian bodoh seperti ini.

Itu juga, jika Rey bisa berpikir.

Masalahnya dia menolong Luna karena desakkan naluri, yang dilakukan tanpa berpikir sama sekali.


"Rey" kata Luna "Boleh tidak… aku mencintaimu…?"

Ini juga bukan reaksi yang diinginkannya.

Rey memejamkan matanya satu kali, lalu berdiam dan menghirup banyak-banyak udara tanpa membuka kedua matanya, dan ia terkejut begitu ada aroma asing tercium oleh inderanya, aroma yang… sepertinya bukan berasal dari jejeran obat-obatan di dalam lemari yang hanya berjarak lima langkah dari tempat ia duduk di samping tempat tidur Luna saat ini.

Aroma ini… manis.

"Rey?" suara Luna terdengar lagi, kali ini nadanya bingung.

Sedangkan Rey tetap tidak tahu harus mengatakan apa.

Kemudian ketika ia mengambil kesimpulan bahwa aroma manis itu kemungkinan berasal dari selimut klinik sekolah yang dipakai Luna—atau dari orangnya. Ia berpaling, menjauhkan wajahnya dari pandangan mata gadis itu. Sekalipun tampaknya ini akan mengundang anggapan yang sama sekali berbeda jika dilihat dari sudut pandang Luna.

"Jadi begitu" gadis itu berkata lagi, kali ini suaranya terdengar seperti sedang mencemooh sesuatu, atau seseorang "Mm-hm, begitu rupanya. Pantas saja"

Rey belum berpikir untuk menoleh pada Luna lagi, gadis itu... kakak kelasnya, tapi dia tetap seorang wanita. Dan Rey sendiri… meskipun dia adik kelas, dia juga tetap saja seorang laki-laki, yang baru saja mengambil alih pikirannya lagi setelah dua peristiwa sebelumnya. Yakni ketika instingnya mengambil alih di lapangan olahraga, dan ketika emosi yang memenuhi kepalanya saat ia bercerita mengenai masa lalunya.

"Maaf, Rey. Aku tidak bermaksud" kata Luna lagi.

Pada mulanya Rey sempat bingung, tidak memahami maksud dari sepotong demi sepotong kata yang diucapkan oleh Luna. Tapi kemudian akal sehatnya bekerja kembali, dan sebuah pemahaman menyusup perlahan, dengan hasil yang mengejutkan.

"A-Aku tidak…" Rey terdiam sesaat, merasa kalimat-kalimat konyol berloncatan di kepalanya tapi menolak untuk terucap "Kau tidak perlu minta maaf"

Dan ia hendak menjelaskan lebih lanjut ketika ponselnya berdering dengan nama Mayu tertulis sebagai pemanggil.

"Angkatlah" kata Luna, memberi isyarat bahwa ia memperbolehkan si adik kelas mengangkat telepon dan berbicara di sampingnya.

"Ada apa Mayu?" tanpa intro, ia langsung bertanya pada adik angkatnya. Merasa bahwa intro dan kalimat sapa hanya akan membuang-buang waktu.

"Kak Rey!" Mayu nyaris berteriak di telepon ketika ia mendengar suara Rey menyahut, dan seketika pemuda itu merasa benarlah keputusannya untuk langsung memulai percakapan "Temui aku di gerbang, Kak Shinn…"

"Shinn? Ada apa dengan Shinn?"

Mendengar nama teman mudanya yang satu lagi, mau tak mau Luna ikut menoleh. Dan menilai dari kegentingan dalam suara Rey, tampaknya Shinn sedang berada dalam masalah serius—yang menurut Luna wajar mengingat tingkah sembrono anak itu, juga hobi mencari musuhnya.

"Baik, temui aku di gerbang sekolah"

Rey menutup telepon beberapa menit setelahnya dan Luna bisa menyimpulkan—dari raut wajahnya—bahwa ia tidak sedang dalam keadaan bisa berpikir jernih, sepertinya masalah yang dialami Shinn kali ini sedikit lebih serius dibanding masalah-masalah yang pernah dialami pemuda itu sebelumnya.

"Rey"

Panggilan dari kakak kelasnya itu menyadarkan Rey bahwa ia tidak sendirian di ruang klinik sekolah ini.

"Maaf Luna, aku harus meninggalkan—"

"Aku ikut"

Alis Rey terangkat sebelah, apa tadi katanya?

"Ini tentang Shinn kan? Aku ikut" Luna mengulangi perkataannya seraya bangkit dari posisinya yang tertidur di atas tempat tidur klinik. "Atau masalah ini terlalu pribadi?"

"Tidak juga" jawab Rey "Kau boleh ikut"

"Hmph" Luna berujar lagi "Baguslah"

Kemudian Rey sedikit membantu Luna saat gadis itu hendak turun dari tempat tidur. Ia kelihatan pucat, dan begitu lemah hingga nyaris saja ambruk ke lantai kalau Rey tidak menahannya.

"Kau baik-baik saja?" tanya pemuda itu dengan suara yang menurut Luna bisa termasuk kategori cemas.

"Nggh" gumam Luna, berusaha tidak terlihat mengkhawatirkan.

"Jangan memaksakan diri, aku bisa mengantarmu pulang sebelum pergi ke tempat Shinn bersama Mayu"

Luna mencoba berdiri sendiri "Tidak perlu, aku bisa"

Dan sekali lagi gadis itu terlihat seperti seorang putri yang mengenakan jubah ksatria dalam pandangan Rey.

Namun ia memilih untuk tidak membahasnya lebih jauh, mengingat Mayu pasti sudah menunggu dengan sangat gelisah di depan gerbang.

Rey dan Lunayang akhinya mengaku bahwa kelaparanlah yang telah membuatnya pingsan ketika berolahraga tadimemutuskan untuk mampir di kantin dan membeli beberapa bungkus roti serta sebotol minuman sebelum turun ke lantai satu. Dan keduanya menemukan Mayu berdiri tepat di samping gerbang sekolah dengan wajah secemas seorang ibu yang anaknya belum pulang dari sekolah semalaman.

Melihat raut wajah gadis kecil itu, Rey pun segera menghampirinya "Mayu"

Mata coklat gadis itu berbinar hidup saat melihat pemuda berambut pirang itu dalam jangkauan pandangannya "Kak Rey!"

Selayaknya seorang adik yang sedang gelisah, begitu melihat Rey ia segera mendekati pemuda itu dan memeluknya, dan Luna nyaris kehabisan napas ketika menyaksikan hal itu terlintas di depan kedua matanya. Namun ia menahan diri, lagipula hal ini wajar bukan?

"Shinn… Kak Shinn koma" isak gadis yang juga berambut coklat itu dalam pelukan sang kakak angkat "Kata Mama, seseorang menemukannya tergeletak di jalan sepi dekat sekolah tadi pagi, dan untungnya orang itu langsung membawanya ke rumah sakit. Karena kalau tidak… kalau tidak…"

"Tenanglah, Mayu" Rey membelai puncak kepala adik angkatnya itu lembut, dan Luna hanya bisa memperhatikannya dengan… yah, dengan penuh kesabaran.

"Yang terpenting kita kesana sekarang, bukan?" tanya Rey

"Nggh"

Seakan tersentak dan teringat akan sesuatu, pemuda itu menoleh pada Luna dengan kikuk, seakan-akan ia seorang kekasih yang kepergok sedang memeluk selingkuhannya. Namun jelas Rey bukan orang seperti itu, dan dia lebih cepat pulih dari kecanggungannya "Kau ikut kan, Luna?"

Mendengar nama teman dari kedua kakaknya disebut, wajah Mayu memerah seketika. Merasa sangat malu telah bersikap seceroboh itu tanpa melihat-lihat sekitar.

"Maaf" kata gadis itu seraya melepaskan diri dari pelukan kakak angkatnya "Aku tidak melihatmu"

Luna tersenyum canggung—dengan raut wajah tak karuan dan perasaan bercampur aduk—ketika ia mengatakan "Oh, tidak apa-apa. Aku bisa mengerti" padahal ia cemburu setengah mati.

Lalu Rey, Luna, dan Mayu pun berjalan menuju rumah sakit Copernicus.


Keadaan Shinn yang terlihat dari balik kaca ruang ICU lebih mirip korban kecelakaan lalu lintas daripada korban pemukulan seperti yang disimpulkan oleh dokter yang menanganinya.

Wajahnya lebam-lebam dan di penuhi tempelan perban di sana-sini. Kepalanya dibalut dan ada noda obat bercampur darah di salah satu dahinya. Tangannya kirinya terbungkus perban yang tampak seperti sarung tangan, sementara tangan kanannya berada di posisi yang menggambarkan bahwa tangannya patah. Dan seperti halnya kedua tangannya, kakinya pun berada dalam lapisan gips dan perban yang melilit, lalu terangkat sedikit ke atas dan membuat ia kelihatannya benar-benar dalam kondisi yang mengenaskan.

Mungkin akan lebih mengenaskan jika belum terbalut rapi.

"Kakak!" Mayu memekik horor, airmata mengaliri pipinya yang nyaris menempel pada kaca ruang ICU. Lalu ketika sang ibu memeluknya dari belakang dan menjauhkannya dari kaca, tangisnya semakin keras.

Rey nyaris bergeming menyaksikan pemandangan itu, tapi tetap saja ia tidak bisa. Jadi akhirnya ia juga menitikkan airmata—walau tak sebanyak Mayu—dan menyingkir. Lalu benaknya terusik oleh pemikiran bahwa mungkin pemandangan seperti inilah yang membuat Shinn memandangnya seperti makhluk yang rapuh. Seperti boneka porselen yang mudah pecah.

Karena… mungkin saja, Shinn pernah melihat dirinya dalam keadaan seperti ini.

Luna mengambil posisi tepat di samping Rey ketika pemuda itu telah duduk di salah satu kursi di ruang tunggu ICU, dan kehadiran gadis itu membuat sang pemuda terkesiap. "Aku turut prihatin, Rey. Dan bahkan seandainya kau memintaku untuk pergi sekalipun, aku tidak akan melakukannya. Aku tahu kau membutuhkan teman untuk saat-saat seperti ini"

Rey semakin menunduk mendengar kata-kata yang terucap dari bibir kakak kelasnya itu, merasa tertusuk oleh kebenaran di dalamnya, tetapi masih ingin mengingkarinya.

Namun ia menyerah, berpikir bahwa akan lebih adil baginya jika ia juga memilih untuk berterus-terang pada gadis itu, karena gadis itu juga telah berterus-terang dan menerima kebenaran yang dikatakannya ketika mereka di klinik sekolah tadi.

"Selama ini aku merasa dia berlebihan dalam mengkhawatirkanku" gumam Rey, suaranya terdengar begitu lemah. Seakan-akan ia sudah mau mati.

Luna terdiam, dan memutuskan untuk membiarkan Rey mengatakan apapun yang ia inginkan untuk saat ini. Karena mungkin waktunya hanya saat ini.

"Tapi setelah melihat kondisinya sekarang, aku jadi berpikir…" kata Rey lagi "Mungkinkah dia pernah melihatku seperti ini? Seperti aku melihatnya sekarang?"

Jarak antara tempat mereka berdua duduk dengan tempat keluarga Asuka berkumpul cukup jauh, jadi untuk sesaat, rasanya mereka hanya berdua di koridor rumah sakit ini. Dan suasana ini membuat wajah Luna memanas, ia merasa seakan-akan dirinya dan Rey sedang berada di ruang tunggu, sementara yang berada di dalam ruang ICU adalah… putra mereka.

Oh, tapi sepertinya ia harus menyingkirkan imaji itu. Tidak tepat. Ini bukan waktunya.

"Dan aku merasa… entahlah. Sepertinya ini adalah cara Tuhan untuk memberiku kepahaman. Bahwa Shinn, dia memiliki alasan untuk bersikap seperti itu kepadaku..."

"Rey…"

"Aku sudah mendengarnya, kau tahu?" Luna berkata perlahan "Bahkan sebelum kau menceritakannya sore tadi, aku sudah tahu. Aku pernah mendengar Shinn memarahimu"

Pengakuan yang mengejutkan, tapi… untuk apa?

Kedua alis Rey bertaut "Kenapa kau mengatakan semua ini?"

"Karena…" kata Luna "Yah, aku tidak tahu… aku hanya meracau, mengatakan hal pertama yang terlintas di kepalaku. Dan kupikir, kau juga begitu. Selama ini aku selalu merasa kau ini misterius, karena kau begitu pendiam, dan nyaris menyimpan semuanya untuk dirimu sendiri"

"Shinn meledak-ledak, dan jadinya sangat mudah untuk mengetahui alasan dari semua omelan dan ucapannya. Tapi kau… kau tidak. Kau diam, pelit, nyaris tak pernah berbagi—suka maupun duka. Tapi malam itu… kau datang ke rumahku, bertanya tentang cara meminta maaf kepada Shinn, dan aku menyadarinya. Lalu saat kau menceritakan soal kakakmu, aku semakin yakin. Kau… kau juga mengkhawatirkannya—mengkhawatirkan kami, mungkin, dengan caramu"

"Dan jangan salah" kata Luna lagi, belum memberi Rey kesempatan untuk menginterupsi ucapannya "Kalau kau berpikir bahwa Shinn dan aku terlalu pencemas dan nyaris tidak punya waktu untuk memikirkan diri sendiri, mau kau bilang apa dirimu? Bukankah di antara kita bertiga, kau-lah yang sebenarnya paling pencemas?"

Mata biru sang pemuda membulat terkejut, menyadari betapa tepatnya penjelasan yang dikatakan oleh gadis itu. Bahwa sementara ia melarang kedua temannya—terutama Shinn, untuk mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh kakak laki-lakinya, bukankah ia sendiri yang telah melakukannya?

"Maaf"

Sudut-sudut bibir Luna melengkung ke atas saat mendengar kalimat itu, menyadari makna yang dalam di baliknya.

Namun kemudian sebuah jam dinding terlihat di matanya.

"Ah, maaf" kata Luna kemudian "Tapi sepertinya aku harus pulang sekarang"

Rey menoleh ke arah jam dinding di belakangnya, dan tersenyum samar menyadari betapa cepatnya waktu berlalu. Iapun berdiri dan mengikuti Luna yang beranjak meninggalkan rumah sakit "Aku akan mengantarmu"

"Tidak perlu" kata Luna "Aku bisa sendiri"

"Tenang saja, aku hanya akan mengantarmu sampai taksi"

Keduanya lalu berjalan bersisian, dan nyaris membuat para perawat yang mereka lewati tersenyum-senyum—ah, anak muda.

Ketika Luna akhirnya sudah tinggal memasuki taksi, ia terdiam. Lalu berbalik dan tersenyum pada Rey.

"Aku akan pergi ke PLANTs besok, aku harus mengantar Meyrin untuk menjalankan operasinya di sana, biasalah, donor tidak bisa menunggu. Jadi, tolong sampaikan maafku pada Shinn karena tidak bisa hadir di hari ulang tahunnya"

Rey diam, memutuskan untuk tidak berkata-kata dahulu.

"Dan aku minta doanya ya, semoga saja operasi Meyrin akan berlangsung dengan baik. Jadi… dia bisa melihat lagi"

Ada getar aneh dalam suara Luna saat ia mengatakan hal tersebut, dan tidak butuh waktu lama bagi Rey untuk memahaminya. Luna mengira dirinya menyukai adik perempuannya.

"Luna" kata Rey, tepat sebelum gadis itu masuk ke dalam taksi

Lunamaria menoleh, dan terkejut saat sang pemuda menahan lengannya, menariknya mendekat, dan menyentuhkan bibirnya sendiri dengan bibir tipis gadis itu.

Oh, ini sungguh di luar dugaan.

"Aku punya saran untukmu" kata Rey setelah ia mengembalikan Luna yang masih syok berat ke dalam taksi, lalu menutup pintu.

"Berhentilah mendahulukan prasangka buruk"


Shinn terbangun beberapa hari setelah Luna telah berangkat ke PLANTs. Dan Rey merasa lega akan hal itu. Karena setidaknya ia tidak harus mengurusi dua orang yang suka khawatir berlebihan dan sama keras kepalanya di waktu yang sama.

Memang, setelah kejadian malam itu Luna seringkali meneleponnya, dan karena Rey tidak menanggapi—dengan dalih ia bertugas menjaga Shinn pada waktu-waktu Luna bisa menelepon—maka gadis itu berganti menghubunginya lewat sms. Yang tetap saja, oleh Rey tidak digubris.

Lagipula menurut pemuda itu, masalah ini masih bisa menunggu saat Luna sudah kembali nanti. Ya, ia akan menyelesaikannya nanti.

Karena untuk saat ini, prioritasnya adalah Shinn.

Kondisi saudara angkatnya itu berangsur-angsur membaik selama beberapa hari terakhir, jadi Rey tidak terlalu kaget sewaktu Dokter Asuka—ayah Shinn, memintanya datang menjenguk secepatnya karena Shinn sudah bangun.

Sayangnya ketika Shinn bangun, dia kehilangan ingatannya.

Menurut dokter yang bertanggung jawab, hilangnya ingatan Shinn bukan disebabkan oleh cedera otak, melainkan sebuah trauma.

Dan seluruh keluarganya diminta untuk bergantian menemuinya, barangkali ada salah satu di antara mereka yang mungkin bisa membantu Shinn meraih kembali ingatannya.

Giliran pertama diambil oleh ibu Shinn yang seorang perawat, dan semua orang memakluminya. Bagaimanapun juga sebagai seorang ibu, jelas sekali bahwa hilangnya ingatan si putra sulung mempengaruhinya. Menyakitinya.

Namun ia tidak berhasil melakukan apa-apa. Wanita itu keluar dengan wajah seperti mau menangis, dan dari getaran di bahu serta wajah yang seperti itu, mudah sekali untuk menebak bahwa ia tidak berhasil.

Lalu giliran berikutnya adalah Dokter Asuka sendiri.

Sebagai seorang dokter ahli, sebenarnya Dokter Asuka nyaris kesulitan menemukan waktu untuk beristirahat, apalagi untuk urusan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, anak yang berada di ruang ICU itu adalah putranya sendiri, dan sebagai seorang ayah, ia memiliki kewajiban lebih atas anak itu, bahkan dibandingkan dengan pasien paling daruratnya sekalipun.

Tetapi seperti halnya Perawat Asuka, ia juga tidak berhasil. Dan ketidakberhasilannya membuat sang istri—dan putri mereka—ikut menangis. Merasa nyaris tak ada harapan untuk mengembalikan ingatan Shinn.

Mayu yang berikutnya, Rey bisa memaklumi hal itu. Ia tahu Mayu sudah menanti gilirannya sejak hari dimana sang kakak dinyatakan telah siuman, jadi ia mengalah, meski seharusnya ialah yang masuk lebih dulu sebelum Mayu.

Sayang, gadis itu keluar ruangan dengan airmata di pipi, mata sembab, dan hidung memerah; yang dapat diartikan sebagai: aku tidak berhasil juga.

Lalu tibalah gilirannya sendiri, yang entah kenapa menjadikan pintu masuk ruang itu tampak seseram pintu ruangannya sendiri, beberapa tahun yang lalu.

"Kau, Rey bukan?" tanya Shinn ketika melihatnya masuk, tatapan pemuda itu sekosong ruang kelas setelah bel pulang sekolah berbunyi berkali-kali. Dan sekalipun rasanya menyebalkan, Rey tidak bisa menyalahkannya.

"Hm" ia menyahut singkat, lalu mengambil kursi di samping tempat tidur Shinn dan duduk di atasnya. "Hari ini giliranku"

"Oh" jawab Shinn, tak terlihat tertarik.

"Kau tahu" kata Rey "Ini tindakan pengecut, Shinn"

Shinn menatapnya dengan pandangan orang bingung, lalu mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil "Aku tidak—"

"Kau lari dari kenyataan" potong Rey "Itu maksudku"

Shinn mengernyitkan dahinya "Kau salah"

"Oh ya" tanya Rey dengan alis terangkat sebelah "Kenapa begitu?"

"Karena ini bukan keinginanku" kata Shinn, dahinya mengerut sebal "Karena jika aku bisa, aku akan memilih untuk tidak hilang ingatan, sungguh. Memangnya kau pikir aku mau membuat wanita yang mengaku sebagai ibuku itu menangis? Atau membuat laki-laki yang menyebut dirinya ayahku itu menunduk frustasi ketika keluar dari sini? Atau yang lebih parah dari itu, memangnya aku mau membuat gadis yang bernama Mayu itu terisak-isak waktu berbicara padaku?"

Hening.

Kemudian Shinn berkata lagi "Sungguh, aku tidak menginginkan semua itu"

Rey memandang Shinn dengan sedikit rasa heran, ia bisa mengerti maksud pemuda itu, sungguh. Dan menurutnya benar juga.

"Lalu kau sendiri, siapa dirimu?" tanya Shinn kemudian, mata merahnya tertuju pada Rey "Kau tidak mirip seorangpun dari mereka bertiga yang sudah masuk lebih dulu"

"Aku saudara angkatmu" jawab pemuda itu ringan "Ayahmu menyelamatkanku beberapa tahun yang lalu, dan sejak itu aku tinggal bersama keluarga Asuka"

"Oh" kata Shinn lagi.

"Pertanyaannya siapa dirimu, bukan?" sahut Rey "Coba kubalik, jika aku bertanya kepadamu, apa benar kau adalah Shinn Asuka—putra Dokter Asuka, kurasa kau tidak akan bisa menjawabnya—maksudku, menjawab dengan yakin"

"Hmm…" Shinn bergumam dengan suara merengut "Benar juga"

"Tapi coba dengar ini" ia berujar lagi dengan suara yang lebih aktif "Kata Dokter Asuka—ayahku, jika ini tidak cukup dia akan meminta seorang terapis untuk bicara kepadaku, kau tahu… itu aneh"

"Tidak juga" kata Rey "Tapi melihat kondisimu, aku hanya bisa mendoakan semoga si terapis itu berhasil. Karena rasanya jadi seperti membodohi diri sendiri, kau tahu—berbicara dengan orang amnesia maksudku"

"Hmph" gerutu Shinn, tidak senang dengan kalimat yang baru saja diucapkan oleh pemuda itu, tapi tidak bisa mengingkarinya "Semoga saja"


A/N:

So, how was it?

If your question is... 'how did Shinn become like that?' I have the answer in the next chapter so, stay tuned.

But anyway, let me know whatever you think of this story so I could come back to you with some answers or anything.

Constructive criticism are needed to help me get better!

Love,

.

Snow