Chapter 11
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)
Genre : Friendship, Romance, Yaoi, Shounen Ai
Warning : AU, Multi chapters, Gaje, Typo, OOC, alur maraton, yaoi, dan hal absurd lainnya.
Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read!
Naruto dan Sasuke telah sampai didepan loker. Mulai menukar sepatu mereka dengan uwabaki. Lee yang baru datang langsung merangkul Sasuke.
"Eh? Sasuke? Kau sudah melepas gipsnya?" Lee melihat jika penyangga tangan Sasuke sudah berubah.
"Ya. Semalam aku melepasnya. Sudah baik - baik saja." Lee mengangguk dan membuka lokernya, memasukan sepatunya dan menukar dengan uwabakinya.
"Hei, Sasuke!" Panggil Naruto. Mereka berdua mulai melangkah menuju kelas mereka. Lee sudah berlari duluan menghampiri Kiba.
"Apa?"
"Kau tau kan? Sebelumnya kita punya hubungan—ekhem—begitu?"
Sasuke mengangguk dan mulai memasuki kelasnya. Mendudukan diri dan mulai mengeluarkan alat - alat tulisnya. Naruto duduk disebelahnya dan kembali berdehem.
"Apa kita—umm—pernah melakukan 'itu'? Tanya Naruto. Sasuke yang merasa bingung akan pertanyaan ambigu dari Naruto menyeritkan keningnya.
"Maksudmu?"
"Itu loh—hal yang dilakukan oleh sepasang kekasih?"
"Kita melakukan banyak hal."
"Ya maksudku—" Naruto mendekatkan bibirnya ke telinga Sasuke sambil berbisik. "—Sex?"
Mata Sasuke membulat mendengar pertanyaan luar biasa dari Naruto. Sasuke menyeringai penuh misteri.
"Menurutmu?"
Bukan jawaban yang seperti itu yang Naruto harapkan. Ia membutuhkan jawaban 'Belum' atau 'Pernah'.
"Kenapa kau sangat ingin tahu?" Tanya Sasuke.
"Aku hanya penasaran. Apa bisa laki - laki dengan laki - laki melakukan 'itu'?" Sasuke mengerlingkan matanya.
"Kau sudah dewasa, Naruto. Kau tentu tau apa yang harus dilakukan."
"Jadi benar begitu, ya? Jadi memang 'dimasukan' ke 'situ' ya? Un.. Ternyata begitu." Naruto mangut - mangut seakan akan sedang melakukan investigasi kasus pembunuhan ruangan tertutup saat sudah mengetahui cara si pelaku membunuh korbannya.
Terlalu serius!
Kakashi Sensei memasuki ruang kelas dan memulai pelajarannya. Menghentikan Naruto yang sedang mangut - mangut tak jelas. .
.
Ketika sedang makan siang, Naruto, Sasuke, Lee, Shino, Kiba, dan Shikamaru berkumpul di dalam kelas. Sedangkan Neji, Gaara, Chouji, dan Sai kekantin untuk membeli beberapa minuman.
"Naruto, apa kau ingat ketika kau bermain sepak bola dulu? Ketika itu kau menendang bola kearah wajah Sasuke." Naruto terkejut mendengar cerita itu.
"Eh? Benarkah?" Sasuke membuang muka.
"Oohh.. Yang itu! Aku ingat. Sasuke tidak terima lalu kalian bertengkar, kan? Hahaha.. Sebenarnya tidak terlalu lucu. Tetapi yang membuat lucu adalah ketika ada adik kelas berlari kearahmu dan memberikan setangkai mawar merah. Bukankah itu lucu?" Semua tertawa termasuk Naruto, kecuali Sasuke.
Mereka bercerita mengenai kenangan - kenangan yang sekirnya dilupakan oleh Naruto, bisa jadi pemicu untuk Naruto mengingat semua kenangan yang ada. Termasuk tentang liburan di Otto. Mereka sudah sepakat untuk meminta maaf dengan benar ketika Naruto telah mengingat semuanya.
Neji dan yang lainnya datang membawa beberapa makanan dan minuman yang dibeli di kantin. Semua mulai mengambil masing - masing barang yang mereka titipkan sebelumnya, dan kembali bercerita, kali ini bersama Neji, Gaara, Chouji dan Sai.
Ditengah - tengah cerita, Naruto samar - samar mendengar curhatan teman - teman wanitanya tak jauh. Sebenarnya Naruto tidak terlalu peduli, entah kenapa kuping Naruto terlalu tajam atau karena dia memang penasaran.
Naruto mendengar jika salah satu dari wanita - wanita itu bercerita jika pacarnya seperti pahlawan. Naruto terkekeh mendengar jika wanita itu menganggap pacarnya sebagai pahlawan.
Ah benar juga. Naruto juga merasa sudah jadi pahlawan untuk Sasuke karena saat kecelakaan yang terjadi di Otto, ia mengorbankan dirinya demi Sasuke. Sekarang ia mengerti kenapa ia mau mati demi Sasuke, karena ia mencintai Sasuke.
Pasti pacar wanita itu sangat mencintainya.
Naruto kembali mendengar, jika pacar wanita itu rela dipukul oleh preman - preman yang ada di jalanan agar si wanitanya baik - baik saja. Alhasil pacarnya masuk rumah sakit.
Hee.. Berani sekali pacar wanita itu.
Naruto mengerjapkan matanya.
Dipukul?
'Hentikan!'
Naruto mendengar suara di kepalanya.
'Hentikan! Neji!'
Naruto merasakan Sakit menyerang kepalanya.
'Sasuke!'
Naruto merasakan ketakutan yang amat luar biasa ketika Gaara mendorong Sasuke—
Eh?
Mendorong Sasuke?
'Bertahanlah!'
'APA YANG KAU LAKUKAN?'
'KAU TAHU APA YANG KAU LAKUKAN, HAH'
'Kurang ajar, kau! MATI SAJA, KAU!'
Naruto menatap kosong lurus kedepan.
"Kurang ajar!" Lirih Naruto. Semua berhenti tertawa ketika Naruto mengatakan hal yang aneh.
"Kau mengatakan sesuatu, Naruto?" Tanya Sasuke. Naruto masih dengan tatapan kosongnya.
'Hentikan!'
'Apa yang kau lakukan di dalam?'
'Hentikan! Shikamaru!'
'Aku mendengar ada yang mendesah tadi, apa yang kau lakukan, Naruto?'
'Shikamaru!'
Naruto merasa kepalanya berdenyut.
'Naruto!'
'Kiba! Tolong hentikan Shikamaru! Tolong!'
Ini menyakitkan.
'Hentikan!'
'Tolong!'
"Siapapun. Tolong aku!" Naruto berkata lirih mulai memegangi kepalanya. Kepalanya serasa ingin pecah ketika potongan - potongan ingatan mulai memasuki kepalanya. Ini sungguh menyakitkan.
'Aku menyukaimu.'
Naruto menggeleng keras.
'Aku mencintaimu.'
Naruto mulai menggeram.
'Shikamaru! Hentikan!'
"Akhhh!"
'Neji! Gaara—'
'Kumohon! Hentikan! Naruto!'
'Jangan menangis.'
"Arrggg"
'Ambulans datang!'
'Naruto! Bertahanlah'
'Apa kau mendengarku? Naruto!'
'Naruto! Kami akan menolongmu.'
'Kau dengar suaraku, Naruto?'
'Tenanglah kami akan menyelamatkanmu.'
'Bagus, Naruto. Tetaplah sadar sampai di rumah sakit nanti.'
'Apa kau bisa menyebut namamu? Tetaplah sadar, Naruto!'
'Kami sudah berada di rumah sakit. Teruslah sadar.'
'Tetap semangat, Naruto.'
"AAARRGGGGGHHHHHHHH"
Naruto pingsan di kelas. Anak - anak mulai berkumpul. Melihat pangeran mereka berteriak. Naruto sakit? Naruto kenapa? Apa yang terjadi? NARUTO! Naruto mendengar teriakan Sasuke yang terakhir kalinya. .
.
Sudah lima hari Naruto mengalami koma. Dokter sendiri tidak tahu sampai kapan Naruto akan sadar. Didalam ruangan rumah sakit. Sasuke berdiri memandangi Naruto. Naruto yang terbujur lelah di atas ranjang. Entah sampai kapan ia akan tertidur seperti ini.
Ia ingat ketika Naruto tiba - tiba berteriak di kelas. Naruto meremas kepalanya lalu pingsan. Sasuke paling keras berteriak ketika Naruto pingsan. Sasuke terus memeluk Naruto sambil berteriak.
'Tolong!'
'Panggil ambulans!'
'Naruto!'
'Sensei!'
'Tolong panggil Tsunade sensei!'
'Naruto!'
Sasuke seperti tidak peduli akan suaranya. Sasuke berteriak sekuat tenaga untuk meminta pertolongan. Ketika Ambulans datang, Tsunade dan Sasuke ikut masuk dalam Ambulans. Sasuke menangis tersedu - sedu ketika Naruto sempat melewati masa kritisnya.
Sekarang sudah hari senin. Dan Naruto belum sadar. Ia marah. Ia sedih. Ia— ia—ingin Naruto kembali. Sasuke jatuh berlutut disamping ranjang Naruto dan menangis kembali. Menggenggam tangan kekar itu yang pernah menggenggam tangannya.
Sasuke merindukannya. Sasuke ingin Naruto bangun secepatnya. Ia berjanji akan berubah. Ia tidak akan galak lagi. Ia tidak akan kasar lagi. Ia tidak akan memukul lagi. Ia akan bicara lembut. Ia akan menjadi pria yang baik. Ia berjanji. Sasuke berjanji. Sasuke ingin Naruto bangun kembali.
Entah berapa kali Sasuke menguras air mata untuk Naruto. Minato dan Kushina bahkan menangis. Mikoto dan Fugaku bersedih. Bodoh! Harusnya ia tegar. Harusnya ia menghibur para orang tua itu agar tidak bersedih.
Tetapi Sasuke terlalu rapuh. Sasuke tidak bisa—
Ia tidak bisa lagi. .
.
Sasuke berjalan dengan mata yang sembab dan lingkar mata hitam itu masih senantiasa berada di bawah mata Sasuke. Wajah pucatnya bertambah pucat. Baju kusut dan rambut acak - acakan. Berjalan memasuki kawasan KHS. Para fansnya ada yang menghampiri karena khawatir tetapi tidak dipedulikan oleh Sasuke.
Sasuke hanya membawa tubuhnya. Tanpa tas, tanpa sepatu. Hanya memakai sandal.
Sasuke berjalan memasuki gedung High School melewati loker. Ia tidak perlu mengganti dengan uwabaki karena itu merepotkan. Sasuke terus berjalan dan mulai memasuki kelasnya. Ia melihatnya.
Shikamaru sedang duduk tenang membaca bukunya. Sasuke semakin mengepalkan tangannya dan berjalan menghampiri Shikamaru. Shikamaru yang sadar dihampiri oleh seseorang, agak terkejut jika itu adalah Sasuke dengan tampang kusut dan sa—
BUGH!
Sasuke memberikan bogem mentah pada Shikamaru dan langsung tersungkur menabrak meja dan kursi yang ada di sebelahnya. Sasuke menarik kerah kemeja Shikamaru dan memberikan pukulan bertubi - tubi pada Shikamaru.
Shikamaru yang kaget menerima serangan tiba - tiba tidak bisa mengelak ataupun membalas pukulan dari Sasuke. Kurang lebih Shikamaru tau apa yang sedang terjadi. Kenapa Sasuke sampai memukulnya seperti ini.
Tiba - tiba Shikamaru tidak merasakan ada yang menghantam kepalanya lagi. Shikamaru membuka matanya yang lebam dan melihat Sasuke yang sedang meronta - ronta di kuncian Chouji.
"Lepaskan! BRENGSEK! Biarkan aku membunuh orang itu!" Sasuke masih meronta - ronta berteriak mulai dilepaskan. Anak - anak disekitar mulai berbisik - bisik mulai mengetahui apa yang terjadi. Sepertinya gosip baru akan segera beredar sebentar lagi.
Gai Sensei yang mendengar ada ribut - ribut ini pun langsung ke kelas Shikamaru dan menghampirinya. Shikamaru dibawa Kiba ke UKS, tapi Sasuke malah semakin liar. Sumpah serapah yang dikeluarkan oleh Sasuke masih terdengar di kuping Shikamaru.
Gai Sensei terpaksa memukul tengkuknya agar membuat Sasuke pingsan. Gai Sensei membawanya pulang dengan memanggil satu anak yang tahu rumah Sasuke. Dengan begitu Gai Sensei bisa menggendong Sasuke sampai rumah.
Hanya bermodalkan ansumsi dan tebak - tebakan, gosip terbaru sudah mulai beredar di seluruh Konoha School. .
.
Sasuke membuka matanya perlahan. Ia mengenal tempat ini. Ini kamarnya sendiri. Disebelahnya sang kakak tengah tertidur menggenggam tangannya. Sasuke balas genggaman tangan itu. Hangat.
Sudah lama Sasuke tidak berbicara pada Itachi. Ia merindukannya.
Itachi terbangun karena gerakan yang diberikan oleh Sasuke di tangannya.
"Ah.. Kau sudah bangun. Aku buatkan bubur. Tunggu dulu, aku ambilkan." Itachi turun menuju dapur. Mengambil semangkuk bubur dan segelas teh hangat untuk Sasuke. Setelah selesai, Itachi berjalan keatas menuju Kamar Sasuke.
Sasuke masih berbaring dengan menatap kosong langit - langit kamar. Ketika Itachi sampai, Sasuke mencoba duduk dan mengambil mangkuk buburnya.
"Gurumu membawamu kesini tadi pagi." Ucap Itachi. "Kau tidak pulang dua hari. Apa kau makan teratur?" Sasuke menggeleng.
"Apa kau tidur?" Sasuke kembali menggeleng. Masih dengan memakan buburnya dengan lahap. Setelah habis, Sasuke menyerahkan mangkuknya pada Itachi sambil memandang datar.
"Mau tambah?" Sasuke mengangguk. Itachi mengambil mangkuk itu dan kembali turun mengambilkan bubur untuk Sasuke. Itachi kembali keatas dan menyerahkan bubur itu pada Sasuke yang di terima dengan kasar oleh Sasuke.
Sasuke melahap bubur itu tanpa dikunyah. Itachi yang melihat itu merasa sedih juga. Kurang lebih Itachi mengerti kondisi dan perasaan Sasuke. Itachi menghela nafas melihat kondisi adiknya yang tidak baik - baik saja.
Sasuke kembali menyerahkan mangkuk yang sudah kosong kehadapan Itachi. Itachi yang mengerti maksud Sasuke kembali mengambil bubur untuk ketiga kalinya. Apa yang dilakukan Sasuke selama ini? Itachi tidak tahu.
Setelah Sasuke menghabiskan buburnya, ia kembali tidur. Itachi turun dari lantai dua, berjalan menuju sofa di ruang tengah dan mulai menggenggam gagang telepon rumah di samping sofa. Mengangkatnya dengan penuh pertimbangan dan mulai menekan beberapa tombol angka.
Ketika telepon itu sudah terdengar tersambung, Itachi menunggu sambungan teleponnya diangkat oleh seseorang disana.
"Halo." Seseorang di seberang mengangkat telepon dari Itachi. Itachi terkesiap memdengar teleponnya telah dijawab oleh Minato.
"Ah.. Ya.. Uzumaki-san? Ini Itachi. Maaf menelepon malam - malam begini." Itachi menjawab.
"Ah.. Itachi? Tidak apa - apa. Ada apa, Itachi?"
"Sasuke baru pulang tadi pagi. Selama dua hari ini dia tidak pulang kerumah. Apa Sasuke ada disana?"
"Ah.. Iya. Sasuke selalu disini. Dia selalu ada di samping Naruto. Beberapa kali kami menawarkan makan tetapi ia tidak mau. Kami khawatir akan mempengaruhi kondisi fisik Sasuke."
"Maaf membuat kalian khawatir. Maaf juga kalau Sasuke membuat kalian repot."
"Kami sama sekali tidak direpotkan. Kami hanya khawatir tentang keadaan Sasuke. Apa kau bisa memberitahukan padanya? Kalau dia begini terus, Naruto pasti tidak akan suka. Aku ingin ketika Naruto bangun dari komanya, Ia bisa melihat Sasuke yang seperti biasa, bukan Sasuke yang kusut seperti itu."
"Aku mengerti. Sekali lagi terimakasih telah menjaga Sasuke." Itachi menutup teleponnya dan menghela nafas lelah. Ia rela cuti kerja demi menjaga Sasuke. Mungkin ia akan kembali cuti sekali lagi untuk menemani Sasuke menjenguk Naruto. Menjaga - jaga agar Sasuke tidak akan kembali bertindak gila. .
.
Ini hari ketujuh Naruto masih dalam keadaan koma. Kemarin Itachi tidak memperbolehkan Sasuke pergi menjenguk Sasuke. Ia mengurung Sasuke seharian di kamar. Tentu saja Sasuke mengamuk.
Sasuke bahkan sampai menggebrak pintu kamarnya, membanting barang - barang yang ada di kamarnya, tetapi Itachi tetap keukeuh mengurung Sasuke dikamar.
Itachi menjanjikan Sasuke kalau Sasuke akan bersikap lebih baik dan tidak bertindak gila seperti hari - hari sebelumnya, maka Sasuke akan dibolehkan menjenguk Naruto sekali lagi. Mengingat janji yang ia buat sendiri ketika sedang menjenguk Naruto kemarin, Sasuke berjanji tidak akan bertindak semena - mena dan menuruti apa kata Itachi.
Alhasil Sasuke baru sempat menjenguk Naruto dihari Rabu ini, karena Itachi masih mengurungnya jika Sasuke tidak membereskan kekacauan yang ia buat sendiri dikamar. Sasuke baru selesai membereskan kamarnya sampai malam hari, ia langsung tertidur tanpa makan malam.
Hari ini Itachi dan Sasuke berpakaian rapih menuju kamar rumah sakit yang selama ini Naruto dirawat. Itachi membawa bunga segar di tangannya, Sasuke membawa hatinya untuk tidak menangis kembali ketika ia kembali melihat Naruto terbaring lemah di atas ranjang itu.
"Permisi." Itachi membuka pintu geser itu dan mulai masuk kedalam kamar rumah sakit, sasuke mengikuti di belakang dan melihat jika Minato dan Kushina, serta Karin—Sasuke masih mengingat orang itu—telah ada disana.
Sasuke membungkukan sedikit badannya memberi salam dan langsung berjalan menuju Naruto. Menarik kursi dan duduk disamping kiri Naruto. Memperhatikan wajah tan itu masih tertidur. Sasuke tidak tahu kapan kelopak mata itu akan terbuka kembali.
Itachi mulai mengobrol kecil dengan Minato yang tengah duduk disofa. Sedangkan Kushina sedang mengganti bunga yang ada di vas di atas meja samping ranjang Naruto, dengan bunga yang baru saja Itachi bawa.
Karin yang sedang membaca Novelnya menatap Sasuke dengan pandangan tak bersahabat. Sasuke sendiri tidak peduli akan pandangan menusuk dari karin. Menurutnya wajah Naruto lebih penting untuk dipandangi lebih dari apapun.
"Jadi yang kau bilang waktu itu, kau tidak bohong ya?" Karin membuka suara.
"Huh?" Sasuke menoleh pada Karin yang berada di depannya—sisi kanan Naruto.
"Ketika aku tanya, siapa orang yang kau sukai. Kau menjawabnya dengan jujur." Mengingat kejadian yang sempat heboh dulu, Sasuke ber-oh dan mengangguk.
"Satu sekolah heboh membicarakanmu. Dan juga Naruto." Sasuke diam tidap peduli. Ia tidak peduli lagi. Mau satu sekolah pikir ia dan Naruto mempunyai hubungan khusus, Sasuke tidak peduli.
Ia sudah tidak masuk sekolah untuk pelajaran tambahan tiga dua hari yang lalu, hari ini ia kembali membolos.
"Aku jadi dikerubungi oleh anak - anak yang lain yang ingin mengetahui hubungan kalian. Setiap hari, aku bahkan tidak bisa makan siang dengan baik di kantin. Lalu apa yang harus aku katakan?" Karin menutup Novelnya dan menatap Sasuke dengan serius.
Sasuke hanya melirik singkat pada Karin dan kembali memandangi wajah Naruto yang sedang tertidur. "Lakukan saja apa yang kau suka." Karin mengangguk paham dan kembali membuka Novelnya.
"Sebegitu asiknya kah wajah Naruto?"
"Lebih baik daripada wajahmu!"
.
Shikamaru berada di kelas sendirian. Jam sudah menunjukan jam 1 siang. Itu artinya Sekolah sudah bubar satu jam yang lalu. Hanya ada beberapa orang yang tengah melewati koridor. Entah malas pulang atau ada janjian dengan teman - teman mereka untuk karaokean bersama. Atau sekedar makan bersama di restoran cepat saji.
Shikamaru menatap smartphone layar sentuh 3 inci berbingkai merah itu. Membuka galeri foto dan mengklik foto yang ingin dilihatnya.
Foto itu diambil dari belakang, terlihat seorang pemuda berambut pirang yang tengah memajukan kepalanya kearah pemuda berambut raven itu. Siapapun yang melihat foto ini pasti tau jika pemuda berambut pirang itu tengah mencium pemuda berambut raven itu.
Waktu itu, sepulang jam pelajaran tambahan hari pertama, ia tak sengaja melihat mereka yang sepertinya terlihat dekat. Apalagi melihat si raven yang menundukan wajah seperti wajah menyesal. Bukan dia sekali. Shikamaru belum pernah melihat si raven berekspresi seperti itu.
Entah kenapa, instingnya atau feelingnya yang menuntun tangannya mengeluarkan Smartphone dari kantung celananya. Membuka mode kamera dan—Shikamaru membulatkan matanya pada apa yang ia lihat di depan sana.
Cekrek!
Shikamaru mengambil gambar! Setelah itu terlihat si pirang berbicara di depan bibir si raven dan si raven mengangguk. Lalu mereka kembali berjalan beriringan seolah tidak ada yang terjadi.
Shikamaru menatap gambar di Smartphonenya kedua temannya sedang berciuman itu.
Ketika Shikamaru tahu bahwa Kiba menyukai Naruto, ia langsung terfikir untuk mempermalukan Naruto saat sudah ada di sekolah dengan foto ini. Tapi sepertinya sekarang sudah tidak berguna.
Shikamaru menyentuh gambar tong sampah pada pojok kanan bawah pada gambar itu. Menyentuh tulisan 'Yes' pada kotak konfirmasi. Menghela nafas dan memantapkan hatinya untuk melakukan hal yang sebelumnya ini ia sudah pikirkan. .
.
.
Tsuzuku
Review?
Besok chapter terakhir... berharap masih ada yang baca hehehe...
