Epilogue
Empat tahun sudah berlalu. Changmin telah menyelesaikan program sarjananya di Universitas Cambridge, Inggris. Hidup jauh dari keluarga terasa berat untuk ia jalani. Namun, tekad dan semangatnya sangat kuat untuk meraih cita-citanya.
Minggu lalu Changmin melaksanakan wisuda kelulusannya. Keluarganya di Korea tidak dapat hadir pada acara wisudanya tersebut.
Changmin mengatakan kepada keluarganya bahwa ia akan pulang ke Korea minggu depan setelah menyelesaikan semua urusan administrasi, padahal kenyataannya ia pulang hari ini. Ia ingin membuat kejutan untuk keluarganya. Selain itu, ia juga masih ingat akan ancaman ibunya yang akan mencukur bulu ketiaknya di bandara setibanya ia di tanah airnya tercinta.
"Aah, akhirnya aku bisa menghirup lagi udara Korea." Changmin mendorong troli keluar dari Bandara Incheon. Ia kemudian memanggil taksi.
Sepanjang perjalanan pulang dari bandara, Changmin menikmati pemandangan di luar jendela taksi. Betapa ia sudah sangat merindukan tanah kelahirannya ini. Tak henti-hentinya ia tersenyum.
.
.
.
Sampailah Changmin di kediaman Keluarga Jung. Rumah ini sudah banyak berubah sejak kepergiannya ke luar negeri. Rumah ini menjadi lebih besar. Tentu saja rumah mereka harus diperbesar karena kehadiran adik-adiknya.
Keinginan Jaejoong untuk memiliki anak perempuan akhirnya terpenuhi. Setahun setelah kelahiran Moonbin, ia melahirkan bayi perempuan yang benar-benar diberi nama Jiyool, dan setahun setelahnya ia melahirkan bayi perempuan lagi, Seohyun.
Changmin belum pernah bertemu langsung dengan ketiga adiknya. Ia hanya berkomunikasi dengan keluarganya melalui video call. Ia bisa melihat tingkah polah adik-adiknya itu dari jarak jauh.
Changmin benar-benar ingin memberi kejutan kepada keluarganya. Setelah membayar ongkos taksi, ia menaruh koper-kopernya di teras. Ia sendiri masuk ke dalam rumah dengan cara mengendap-endap.
Changmin cukup terkejut saat memasuki ruang keluarga. Ruangan tersebut sangat berantakan. Oh, tentu saja, ada tiga orang balita di rumah ini. Di sudut ruangan ia melihat dua anak perempuan sedang asyik bermain masak-masakan. Seketika senyumannya terkembang. Itu pasti Jiyool dan Seohyun. Ia pun menghampiri kedua bocah tersebut. "Apakah aku boleh ikut bermain bersama kalian?"
Kedua bocah tersebut memandang Changmin dengan wajah heran. Bocah yang lebih besar menatap Changmin dengan penuh curiga. "Paman siapa?"
Paman? Changmin syok mendengar panggilan Jiyool untuknya. "Jiyoolie, apa kau tidak mengenaliku? Coba tebak siapa aku?"
"Paman tidak sopan masuk ke lumah olang tanpa pelmisi," lanjut Jiyool. Ia tidak mengenali kakak tertuanya.
"Ini kan rumahku," balas Changmin. Ia tidak mengira bahwa ia akan mendapatkan sambutan seperti ini dari adiknya.
"Paman jangan seenaknya mengaku-ngaku." Jiyool sama sekali tidak takut kepada orang asing yang ia temui. "Apa paman belmaksud untuk melampok lumah kami?"
Rasanya Changmin ingin membenturkan kepalanya ke dinding. Bagaimana bisa ia dituduh perampok di rumahnya sendiri? "Aku akan menculik kalian, anak kecil. Hahaha!"
"Coba saja kalau belani," ujar Jiyool santai. Ia adalah anak yang pemberani.
"Apa kau tidak takut?" tanya Changmin. Ia merasa kagum pada keberanian adiknya itu.
"Mengapa aku halus takut? Aku akan memukul paman dengan wajan." Tanpa aba-aba Jiyool memukul Changmin dengan wajan mainan yang terbuat dari plastik.
Changmin benar-benar tidak menduga aksi yang dilakukan oleh adiknya itu. Ia kemudian berpura-pura kesakitan.
"Ini kan hanya wajan mainan. Dasal payah! Dipukul oleh wajan mainan saja kesakitan sampai belguling-guling di lantai." Jiyool masih terlihat santai.
Changmin berhenti berguling-guling di lantai. Ia tidak menyangka bahwa adiknya itu sangat pintar. Oh, tentu saja, Jiyool kan adiknya. "Apa kau tidak mengenali kakakmu ini?"
"Aku tidak punya kakak sepeltimu," jawab Jiyool tanpa perasaan. Ia kemudian melirik adiknya. "Seo, apa kau mengenal olang ini?"
Seohyun menggeleng. Ia memang pendiam dan tidak banyak bicara. Sifatnya berlawanan dengan Jiyool yang cerewet.
"Tuh kan, Seo juga tidak mengenalimu." Jiyool mengolok-olok Changmin.
Tiba-tiba saja Moonbin masuk ke dalam rumah. Ia habis bermain sepeda di sekitar komplek. "Changminnie Hyung!" Ia melompat ke pelukan Changmin, membuat kakaknya itu terjungkal ke lantai. "Minnie Hyung kenapa ada di sini? Kapan kau pulang?"
"Binnie Oppa, apa kau mengenali olang ini?" Jiyool masih saja tidak mengenali Changmin.
"Jiyoolie, ini adalah Minnie Hyung. Apa kau tidak mengenalinya?" Moonbin melompat-lompat di atas perut Changmin.
Changmin merasa kesakitan. Ia tidak bisa menghentikan adik laki-lakinya itu. Sambutan dari adik-adiknya itu benar-benar luar biasa.
Jiyool memandangi pemuda bertubuh tinggi di hadapannya itu. Ia mengerutkan keningnya. "Ibu selalu mengatakan bahwa Minnie Oppa sangat tampan, tetapi mengapa yang ini jelek?"
Changmin benar-benar mengalami kemalangan. Setelah dipukul oleh wajan mainan, adiknya melompat-lompat di atas perutnya, dan kini ia disebut jelek. "Seleramu itu rendahan sekali, Jiyoolie. Aku tampan begini, kau sebut jelek."
"Mungkin Minnie Hyung terlihat jelek karena ada aku yang jauh lebih tampan. Hahaha!" Walaupun masih balita, Moonbin sudah narsis seperti ibunya.
Changmin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya. Ia penasaran bagaimana Yunho bisa tahan menghadapi ibunya dan titisan-titisannya.
Jaejoong selesai menghias kue di dapur. Kue-kuenya siap untuk dihidangkan kepada anak-anaknya. Dengan riang ia membawa kue-kue itu ke ruang keluarga. "Anak-anak, kuenya sudah jadi!" Ia berdiri membeku melihat sosok yang sangat ia rindukan. Wajahnya terlihat sendu. Ia berjalan mendekat ke arah pemuda bertubuh tinggi itu, yang juga memandang ke arahnya.
Jaejoong melewati begitu saja pemuda itu. Ia membagikan kue-kuenya kepada ketiga balitanya.
Changmin tercengang. Apa Jaejoong tidak melihatnya? Ia pun memperhatikan ibu dan ketiga adiknya itu. Ibunya masih terlihat cantik dan muda. Jangan-jangan ibunya ini memang vampir.
"Ayo makan yang banyak! Ibu membuat kue banyak sekali hari ini." Jaejoong membelai kepala ketiga balitanya satu-persatu. "Ibu tidak sabar menantikan kepulangan kakak kalian minggu depan. Ibu sampai berhalusinasi melihatnya bersama kita di sini."
"Bu, ini aku, Changmin. Aku sudah pulang." Oh, betapa Changmin sangat merindukan ibunya itu.
Hati Jaejoong mencelos. Ia menatap sosok tinggi itu. Ia berjalan mendekat. Ia tidak bisa memercayai pandangannya. Plak! Tangannya terasa sakit.
Changmin sangat terkejut. Mengapa ibunya itu menamparnya, keras sekali?
Jaejoong memandangi telapak tangannya yang kini berwarna kemerahan. "Rasanya sakit. Berarti ini bukan imajinasiku." Tangisnya pecah. Ia berlari ke pelukan putra sulungnya itu. Ia kemudian menciumi wajah pemuda itu.
"Aw, aku akan melapolkan ibu kepada ayah! Ibu mencium plia lain." Jiyool masih tidak mau mengakui Changmin sebagai kakaknya.
Jaejoong menangkup wajah Changmin. "Akhirnya kau pulang, Nak! Mengapa kau pulang sekarang?"
Changmin tersenyum. "Aku ingin memberi kejutan kepada kalian semua."
"Kau mengacaukan semua rencanaku. Aku sudah berencana untuk menjemputmu di bandara." Jaejoong cemberut.
"Jadi, ibu tidak ingin aku pulang hari ini?" tanya Changmin. Ia yakin ibunya sudah mempunyai rencana jahat untuk menyambutnya.
"Ya, sana kau pergi lagi ke Inggris dan kembali lagi kemari minggu depan!" Jaejoong senang bisa bertemu putranya lebih cepat. Seminggu untuk menunggu Changmin rasanya sangat lama.
"Mengapa kalian semua kejam kepadaku? Mengapa tidak satu pun di antara kalian merindukanku?" keluh Changmin. Sejujurnya ia senang atas sambutan keluarganya ini.
"Apa ibu yakin bahwa paman ini adalah anak ibu?" Jiyool sangat sulit untuk diyakinkan.
"Sebenarnya tidak. Mungkin bayiku tertukar di rumah sakit," canda Jaejoong. "Sial sekali aku harus membawa pulang anak tukang makan ini."
Changmin benar-benar dibuli oleh keluarganya hari ini. Ia bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga. "Nenek di mana, Bu?"
"Oh, nenek ada di toko. Aku akan memintanya untuk pulang sekarang. Ia pasti senang melihatmu." Jaejoong bergegas menelepon ibu mertuanya.
.
.
.
"Aku sangat merindukan kue buatan ibu. Di Inggris tidak ada kue seenak ini." Changmin memakan kue jatah adik-adiknya.
"Bukankah aku mengirimkan satu kardus kue kering setiap bulan?" ujar Jaejoong. Ia senang Changmin memakan kue buatannya.
"Kurang banyak, Bu," keluh Changmin. "Teman-temanku di asrama menghabiskannya secepat kilat." Ia memasukan dua buah kue sekaligus ke dalam mulutnya.
"Lalu mengapa kau tidak mengatakannya? Ibu akan mengirim lebih banyak." Jaejoong membersihkan remah-remah kue di sekitar mulut Changmin dengan serbet.
"Aku tidak ingin merepotkan ibu," jawab Changmin. Ia terlihat lebih dewasa.
Jaejoong tertawa. "Sejak kapan membuat kue merepotkanku?"
"Biaya pengirimannya mahal," ujar Changmin. Ia menatap ibunya.
Jaejoong menghela nafas. "Seharusnya kau jual kue-kue buatanku itu kepada teman-temanmu. Jika mereka ingin memakannya, mereka harus membayar. Jika perlu, kau promosikan juga kepada dosen-dosenmu."
Changmin tidak menyangka bahwa ibunya bisa berpikiran sampai sejauh itu. Ibunya itu sama sekali tidak berubah.
"Anak-anak, ayo mandi dulu! Sebentar lagi ayah akan pulang." Jaejoong berkata kepada ketiga balitanya.
"Bu, bagaimana caranya ibu mengurus mereka bertiga sekaligus?" Sudah sejak lama Changmin merasa penasaran.
"Usia mereka berdekatan. Jadwal mereka sehari-hari sama." Jaejoong menggiring anak-anaknya ke kamar mandi. "Min, bisa kau bantu Binnie untuk mandi? Aku akan memandikan Jiyoolie dan Seo."
.
.
.
Changmin memandikan adiknya untuk pertama kali. Ia tampak sangat bersemangat. Rasanya menyenangkan juga. Ia bermain air bersama Moonbin. "Ternyata kau sudah bisa mandi sendiri." Ia kagum kepada adik tertuanya itu.
"Saat hyung tidak ada, aku adalah anak tertua. Aku harus mandiri dan memberi contoh untuk adik-adikku." Moonbin senang kakaknya membantunya mandi.
Changmin tercengang mendengar jawaban Moonbin. Ia tidak menyangka adiknya yang baru berusia empat tahun sudah berpikir seperti itu. Ia melihat dirinya dalam diri adiknya. Sifat Moonbin mirip seperti dirinya, mandiri.
.
.
.
Yunho merasa senang karena keluarganya telah lengkap. Mereka berkumpul bersama di ruang makan. Ia memimpin doa bersama sebelum makan.
Ini adalah rumah. Changmin merasa bahagia. Ia merindukan makanan Korea. Malam ini meja makanan penuh oleh makanan-makanan kesukaannya. Ibu dan neneknya tidak sempat menyiapkan makanan untuk menyambutnya karena ia pulang mendadak tanpa pemberitahuan. Jadi, mereka memesan makanan melalui jasa pesan antar.
Changmin duduk di antara adik-adiknya. Ia merasa seperti anak kecil kembali karena dikelilingi oleh anak-anak kecil. Adik-adiknya makan sangat lahap. Selera makan mereka sama seperti dirinya. Mereka bertiga bisa makan sendiri tanpa disuapi. Ia merasa bangga kepada adik-adiknya.
"Jiyoolie, bukankah kau sedang diet?" sindir Moonbin. Ia menginginkan jatah makan adiknya itu.
"Aku kan lajin belolahlaga. Jadi, aku tidak pelu khawatil akan menjadi gemuk." Jiyool menjauhkan makanannya dari Moonbin.
"Apa setiap hari selalu ramai seperti ini saat sedang makan bersama?" Changmin memperhatikan tingkah adik-adiknya.
"Ya, begitulah. Mereka selalu meramaikan suasana." Yunho senang melihat anak-anaknya tumbuh dengan sehat.
Changmin terkekeh. Tak pernah rumahnya seramai ini sebelum ia pergi ke luar negeri.
"Changminnie, makan yang banyak! Jangan sampai kau kehabisan!" Jaejoong menambahkan makanan ke atas piring Changmin.
"Tenang saja, makanan yang kita pesan sangat banyak!" Perhatian Changmin pada makanan teralihkan pada adik-adiknya.
"Kau tidak tahu saja seberapa besar selera makan adik-adikmu." Jaejoong memberi tahu Changmin.
Changmin cukup terkejut mendengar pernyataan ibunya. Adik-adiknya itu masih balita. Nafsu makan mereka tidak akan lebih banyak daripada orang dewasa.
"Jika hyung tidak mau, biar aku saja yang makan." Moonbin mengambil ayam goreng dari piring Changmin.
Changmin tercengang melihat Moonbin makan ayam goreng. Ia tidak menyangka bahwa adiknya makan selahap itu.
"Kau tidak perlu tercengang seperti itu. Kau juga dulu seperti itu." Jaejoong tahu apa yang dipikirkan Changmin.
Apa benar dirinya juga seperti itu? Changmin tidak sadar.
"Binnie, jangan makan terlalu banyak! Nanti perutmu sakit." Yunho berkata kepada Moonbin.
"Ya, Ayah." Setelah menghabiskan ayam goreng milik Changmin, Moonbin berhenti makan.
Lagi-lagi Changmin dibuat tercengang oleh sikap Moonbin. Adiknya itu sangat penurut.
.
.
.
Setelah makan, Changmin bermain bersama adik-adiknya di ruang keluarga. Ia membagikan oleh-oleh untuk adik-adiknya. "Apa kalian bisa membaca?"
Ketiga adik Changmin terdiam. Mereka menatap Changmin dengan serius.
Changmin mengeluarkan sebuah kartu pos bertuliskan 'London'. Saat di Inggris ia pergi ke berbagai tempat. "Ini dibaca..."
"London," celetuk Seohyun. Raut wajahnya datar seperti biasa.
Changmin terlonjak. Jika Moonbin yang mengatakannya, ia mungkin tidak akan terkejut. Akan tetapi, ini adalah Seohyun yang masih berusia dua tahun. "Seo, kau bisa membaca?"
"Ini sih mudah." Jiyool mengambil sebuah kartu pos. "England."
Lagi-lagi Changmin terkejut. Adiknya itu bisa mengucapkan kata dalam bahasa inggris dengan fasih, padahal Jiyool masih cadel. "Siapa yang mengajari kalian?"
"Kami semua sudah bisa membaca. Walaupun Seo pendiam, ia juga bisa membaca." Moonbin menjelaskan. "Sebelum tidur, ayah membacakan cerita untuk kami. Ia mengajari kami membaca buku cerita."
Changmin masih syok. Luar biasa, ia mempunyai adik-adik yang luar biasa. "Malam ini aku yang akan membacakan cerita untuk kalian."
.
.
.
Moonbin, Jiyool, dan Seohyun tidur di sebuah kamar yang luas. Banyak mainan di dalam kamar mereka. Mereka tidur di atas sebuah tempat tidur rendah yang luas. Changmin bahkan bisa tidur bersama mereka di sana.
"Dekorasi kamar kalian bagus." Changmin melihat-lihat ke sekeliling kamar adik-adiknya.
"Ibu yang mendekorasinya," ujar Moonbin. Ia melompat-lompat di atas tempat tidur.
Changmin tiba-tiba merasa iri kepada adik-adiknya. Ibunya itu berubah menjadi lebih peduli kepada keluarga setelah menikah dengan gurunya. Ia duduk di atas tempat tidur. "Kasur kalian sangat empuk."
"Itu agar kami bisa melompat-lompat tanpa takut terluka." Moonbin terus melompat.
Changmin mengangkat Jiyool dan Seohyun ke atas tempat tidur. "Sekarang waktunya kalian tidur. Aku akan membacakan cerita untuk kalian." Ia kemudian mengambil sebuah buku cerita dari rak buku.
Saat Changmin baru saja membuka buku cerita, adik-adiknya itu langsung membaca bukunya bersama dengan suara lantang. Telinganya sampai sakit mendengarnya. Kalau begini, aku tidak perlu membacakan ceritanya. Jadi, ini yang ayah lakukan. Ia tidak membacakan cerita, tetapi mengajari mereka membaca.
.
.
.
Jaejoong masuk ke kamar anak-anaknya. Ia menemukan Changmin tidur bersama ketiga anaknya yang lain. Ia tersenyum melihat keakraban keempat anaknya. Moonbin menindih kaki Changmin, Jiyool menjadikan lengan Changmin sebagai bantal, sedangkan Seohyun tidur di atas perut Changmin. Ia terkekeh. Betapa lucunya mereka.
Jaejoong merasa lega karena anak-anaknya sangat akur dan saling menyayangi. Putra sulungnya seakan kembali menjadi anak kecil. Ia berjalan mendekat ke arah mereka dan mencium kening mereka satu-persatu. Betapa bahagia hidupnya.
"Ternyata kau ada di sini." Yunho datang untuk menyusul istrinya. Ia memeluk istrinya itu dari belakang.
"Aku datang untuk melihat anak-anak." Senyuman enggan hilang dari wajah Jaejoong.
Yunho terkekeh. "Changmin terlihat seperti anak kecil. Ia bisa akrab dengan adik-adiknya."
"Ia sangat senang mempunyai saudara karena selama ini ia tidak punya teman bermain di rumah." Jaejoong mengela nafas. "Dulu aku sangat sibuk dengan toko kueku dan tidak mempunyai banyak waktu untuk bermain dengannya. Kasihan sekali dia."
"Kau tidak perlu menyesalinya," ujar Yunho. Ia menyandarkan dagunya pada bahu Jaejoong. "Yang penting sekarang kau sudah berubah. Kau adalah ibu yang baik untuk anak-anakmu."
"Tetap saja hal itu tidak bisa menebus kesalahanku kepada Changmin. Aku tidak bisa mengembalikan masa kecilnya." Jaejoong menyesal.
"Changmin sangat menyayangimu. Ia tidak pernah marah atau menyesal mempunyai ibu sepertimu." Yunho menghibur istrinya. "Ia senang karena kau menjadi ibu yang baik untuk adik-adiknya, tidak mengulangi kesalahanmu yang dulu."
"Itu semua juga karena dukunganmu. Aku tidak akan bisa mengurus mereka semua sendirian." Jaejoong bersyukur memiliki rekan seperti Yunho dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Selain itu, ada ibu mertuanya juga yang membantunya.
"Apa kau masih mau menambah anak, hmm?" Yunho terkekeh.
"Ah, tidak. Anak kita sudah cukup banyak. Sepertinya aku tak akan sanggup jika anak kita bertambah." Mengandung, melahirkan, dan mengurus anak bukanlah hal mudah untuk Jaejoong, apalagi usianya sekarang sudah tidak muda lagi.
Setelah melahirkan Jiyool, Jaejoong tidak berkeinginan untuk menambah anak lagi. Keinginannya untuk mempunyai anak perempuan sudah tercapai. Ia pikir ia tidak akan hamil lagi, sehingga ia dan Yunho tidak menggunakan alat kontrasepsi. Sepertinya ia memang tidak sulit hamil. Tanpa diduga ia hamil untuk keempat kalinya.
.
.
.
Pagi hari Changmin dibangunkan oleh adik-adiknya. Saat ia masih berada di alam mimpi, adik-adiknya itu sudah melompat-lompat di atas tempat tidur.
"Anak-anak, jangan ganggu kakak kalian! Ia masih mengantuk." Jaejoong menyuruh balita-balitanya turun dari atas tempat tidur. "Kakak masih lelah setelah menempuh perjalanan jauh."
Changmin tidak bisa kembali tidur. Ia merasa tidak boleh kalah oleh adik-adiknya yang sudah bangun. Ia pun terduduk di tepi tempat tidur. "Selamat pagi!"
"Anak-anak, ayo mandi pagi! Setelah itu kita sarapan bersama." Jaejoong memerintahkan anak-anaknya. Namun, mereka tidak mau menaatinya. Moonbin dan Jiyool terus saja melompat-lompat di atas tempat tidur. Moonbin bahkan menerjang Changmin, sehingga kakaknya itu terjungkal di atas tempat tidur.
"Anak-anak..." Jaejoong mengeraskan suaranya. "Sebentar lagi ayah akan kemari."
Moonbin dan Jiyool langsung berhenti melompat-lompat. Mereka pun turun dari atas tempat tidur.
"Binnie, kau mandi sendiri ya! Kau bisa kan?" Jaejoong berkata kepada Moonbin.
"Aku ingin mandi dengan hyung," balas Moonbin. Ia senang saudara laki-lakinya telah kembali. Selama ini ia hanya bermain dengan saudara-saudara perempuannya.
"Kakakmu itu masih mengantuk. Biarkan ia tidur sebentar lagi!" Jaejoong menyadari perbedaan waktu di Korea dengan di Inggris.
"Tidak apa-apa, Bu. Aku akan mandi dengan Binnie." Changmin membuka matanya lebar-lebar.
.
.
.
Sudah lama Changmin tidak bertemu dengan teman-temannya. Mereka sibuk sebagai penyanyi. Ia tidak menyangka bahwa mereka bertiga benar-benar membentuk boyband. Mereka adalah boyband baru yang baru debut tahun ini.
Aku sudah berada di Korea sejak kemarin.
Ayo kita bertemu!
Sebenarnya Kyuline ada jadwal latihan siang ini, tetapi demi sahabat mereka, mereka melarikan diri dari ruang latihan.
Changmin bersiap-siap untuk pergi menemui teman-temannya. Ia sudah tidak sabar melepas rindu kepada teman-temannya itu. Ia berpamitan kepada ibu dan neneknya untuk pergi ke luar.
"Apa perlu ibu antar? Sekalian ibu akan pergi ke toko." Jaejoong menawarkan bantuannya.
"Arahnya berbeda dengan toko kue ibu," ujar Changmin. Ia berjanji dengan teman-temannya untuk bertemu di sebuah kafe yang berada di dekat gedung agensi yang menaungi teman-temannya itu. Mereka tidak bisa melarikan diri jauh-jauh.
"Kalau begitu, ibu antar sampai depan komplek saja," balas Jaejoong. Ia mengambil kunci mobilnya.
"Ya, boleh." Changmin setuju. Lumayan ia tidak perlu berjalan kaki ke depan komplek.
Moonbin dan Jiyool mendahului ibu dan kakak sulung mereka masuk ke dalam mobil. Mereka terlihat riang gembira.
"Bu, apa ibu selalu membawa mereka ke toko kue?" tanya Changmin. Ia sudah melihat Moonbin dan Jiyool melompat-lompat di jok belakang. Mereka berdua sangat aktif.
"Tidak selalu. Kadang mereka ingin tinggal di rumah saja dengan nenek." Jaejoong membantu Seohyun untuk naik ke jok belakang bersama Moonbin dan Jiyool. "Kalian berdua, berhentilah melompat-lompat! Jika tidak, aku akan melaporkan kalian kepada ayah kalian."
Changmin berusaha menahan tawanya. "Mengapa mereka tidak mau menurut kepada ibu, tetapi kepada ayah mereka sangat penurut?"
"Aku tidak tahu," jawab Jaejoong. "Mungkin seperti dirimu. Kau lebih penurut kepada wali kelasmu daripada kepada ibumu ini."
Changmin sudah tidak bisa menahan tawanya. Ia memang murid yang nakal, tetapi jujur saja ia merasa segan kepada wali kelasnya itu. Entah mengapa, mungkin karena wali kelasnya itu jauh lebih berwibawa daripada ibunya. Yunho tidak pernah memarahi atau berteriak kepadanya. Wali kelasnya itu lebih sering menasihatinya dengan kata-kata yang halus.
.
.
.
Changmin turun dari mobil ibunya di depan komplek. Ia akan pergi ke arah yang berlawanan dengan toko kue ibunya. "Terima kasih atas tumpangannya, Bu!"
Setelah turun dari mobil Jaejoong, Changmin berjalan menuju halte yang berjarak sekitar seratus meter. Saat ia berjalan, ia merasa ada yang mengikutinya. Ia pun berbalik dan terkejut melihat Moonbin dan Jiyool berjalan di belakangnya. "Mengapa kalian berdua mengikutiku?" Mobil ibunya sudah tidak tampak.
"Ibu sangat mengkhawatirkan hyung. Ia takut hyung akan tersesat karena sudah lupa jalanan di Seoul," jawab Moonbin. Ia berbicara seperti orang dewasa saja. "Jadi, kami ingin menjaga hyung."
"Apa ibu yang menyuruh kalian untuk ikut bersamaku?" Changmin tidak mengerti dengan pikiran ibunya. Ia sudah dewasa. Jika ia tersesat, ia akan menggunakan GPS di ponselnya atau bertanya kepada orang-orang yang ia temui di jalan.
Moonbin menggeleng. "Tidak, kami berinisiatif untuk mengikuti hyung."
Changmin masih ingat bagaimana ibunya sangat khawatir saat dirinya menghilang tanpa kabar. Adik-adiknya ini masih balita, pasti ibunya akan lebih panik lagi karena mereka berdua menghilang. "Apa kalian sudah memberi tahu ibu bahwa kalian akan ikut denganku?"
Moonbin menggeleng lagi. "Tidak."
Aduh, Changmin tiba-tiba merasa pusing. Ia semakin pusing melihat penampilan adik perempuannya. Gadis kecil itu kini sudah memakai topi lebar dan kacamata hitam. "Mengapa kau memakai topi dan kacamata hitam?"
Jiyool menampakkan wajah angkuhnya. "Matahali belsinal sangat telik. Sinal ultlaviolet belbahaya bagi kulitku."
Changmin syok mendengar jawaban Jiyool. Anak itu benar-benar mirip ibunya. Sepertinya ia tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus membawa adiknya untuk pergi bersamanya. Ia akan mengirim pesan kepada ibunya, memberi tahu bahwa kedua adiknya ada bersamanya. "Ya sudah, kalian boleh ikut denganku." Ia menuntun kedua adiknya untuk berjalan ke halte.
"Oppa, gendong!" Dengan manjanya Jiyool meminta digendong.
Changmin pun menurut. Ia menggendong adik perempuannya itu. Ia masih menggenggam tangan Moonbin, tetapi anak itu tidak mau bergerak maju. "Mengapa kau diam saja?"
"Hyung tidak adil. Mengapa Jiyoolie digendong, sedangkan aku tidak?" ujar Moonbin polos.
Changmin tak henti-hentinya dibuat terkejut oleh tingkah adik-adiknya. Adik-adiknya itu sangat cerdik. Terpaksa ia pun menggendong Moonbin.
.
.
.
Akhirnya sampai juga Changmin di halte bis. Seratus meter terasa sangat jauh karena ia harus menggendong adik-adiknya di kanan dan kirinya. Ia pun mendudukkan kedua adiknya di bangku halte. Ia kemudian ikut duduk juga untuk menunggu bis.
Sambil menunggu bis, Changmin melihat-lihat pemandangan sekitar. Tidak lama kemudian datanglah beberapa orang gadis. Sepertinya mereka adalah mahasiswi yang hendak berangkat kuliah.
Changmin merasa senang bisa melihat gadis-gadis Korea lagi. Selama empat tahun ia hanya melihat gadis-gadis Eropa. Ia melirik ke arah gadis-gadis itu. Beberapa di antaranya membalas tatapannya dan tersipu malu, beberapa saling berbisik sambil melihat ke arahnya. Mereka pasti terpesona oleh ketampananku. Hahaha!
"Ayah, aku ingin makan es klim." Jiyool menarik-narik baju Changmin.
"Ya Ayah, aku juga." Moonbin ikut menarik-narik baju Changmin. "Nanti kita beli es krim ya!"
Changmin terkejut. Mengapa kedua adiknya itu memanggilnya 'ayah'? Ia melihat gadis-gadis tadi memalingkan wajah mereka darinya. Mereka pasti berpikir yang tidak-tidak mengenai dirinya.
"Ya, nanti kakak akan belikan es krim untuk kalian jika kita sudah sampai." Changmin berusaha untuk menghentikan rengekan adik-adiknya.
"Aku mau sekalang." Jiyool masih merengek.
Changmin kebingungan. Apa yang harus ia lakukan?
"Ayah jahat! Ayah tidak sayang aku." Jiyool cemberut.
"Dasar laki-laki tak tahu diri! Sudah punya dua anak, tetapi masih menggoda gadis-gadis. Ia bahkan tidak mau mengakui anaknya dan membelikannya es krim." Gadis-gadis itu membicarakan Changmin. "Lebih baik kita pergi dari sini. Aku tidak mau dekat-dekat dengan lelaki seperti itu."
Changmin memandangi kepergian gadis-gadis itu. Ia melihat orang-orang di sekitarnya berusaha menahan tawa mereka. Ia benar-benar merasa malu. "Mengapa kalian memanggilku ayah? Aku bukanlah ayah kalian."
"Ibu mengatakan bahwa kami halus melindungi oppa dali gadis-gadis genit yang menggoda oppa." Jiyool merasa bangga dengan kemampuan aktingnya.
Changmin menepuk dahinya sendiri. Ada-ada saja ibunya itu. "Jiyoolie, kau juga genit. Masih kecil kau sudah genit."
"Aku kan tidak menggoda oppa." Perkataan Jiyool memang benar.
Akhirnya bis yang ditunggu datang juga. Changmin menggendong kedua adiknya masuk ke dalam bis. Ia benar-benar terlihat seperti ayah muda yang sedang mengajak kedua anaknya jalan-jalan. Kalau begini, ia tidak bisa mendekati gadis mana pun.
Moonbin dan Jiyool terus berbicara selama di dalam bis. Mereka berdua sangat berisik. Mereka menunjuk-nunjuk apa yang mereka lihat melalui jendela bis. Kadang-kadang mereka juga berdebat.
"Nanti aku ingin makan es klim sepelti yang itu." Jiyool menunjuk papan iklan es krim.
"Yang itu tidak enak. Lebih enak es krim yang di sebelah sana." Moonbin menunjuk iklan es krim yang lainnya.
"Tidak, yang ini lebih enak" teriak Jiyool.
Moonbin tidak mau mengalah. Ia juga berteriak.
Telinga Changmin terasa sakit dan kepalanya pusing. Ia penasaran apa yang akan dilakukan oleh ayah tirinya untuk menghadapi hal ini. "Diam kalian!"
Dibentak oleh Changmin, Moonbin dan Jiyool menangis. Tangis mereka keras sekali.
Changmin langsung memeluk kedua adiknya itu. Ia juga meminta maaf kepada penumpang lain atas keributan yang mereka timbulkan. "Jangan menangis! Kakak hanya bercanda." Ia berusaha menghentikan tangis adik-adiknya.
Changmin merasa sangat putus asa. Ia tidak tahu cara menghentikan tangisan adik-adiknya. "Jika kalian terus saja menangis, kakak tidak akan membelikan es krim untuk kalian."
Tangis Moonbin dan Jiyool melemah, tetapi mereka tidak berhenti menangis. Mereka masih menangis.
Changmin menyadari tangisan adik-adiknya yang melemah. "Jika kalian berhenti menangis, kakak akan membelikan kalian pizza." Ia tersenyum karena tangisan adik-adiknya semakin melemah. "Dengan ekstra keju di atasnya."
Moonbin akhirnya berhenti menangis. "Aku ingin pizza berukuran besar."
Jiyool juga ikut berhenti menangis. "Aku ingin ilisan dagingnya ditambah."
"Ya ya ya." Changmin merasa lega karena akhirnya adik-adiknya berhenti menangis, walaupun dengan diiming-imingi makanan.
.
.
.
Changmin akhirnya bertemu dengan teman-temannya. Ia sudah sangat merindukan mereka. Ia memeluk Kyuhyun, Minho, dan Jonghyun satu-persatu. "Bagaimana kabar kalian? Aku tidak menyangka bahwa kalian benar-benar akan membentuk grup idola."
"Kami malas melanjutkan sekolah. Jadi, kami memilih jalur ini saja," jawab Kyuhyun. "Menjadi artis juga tidak mudah."
"Mengapa kau tidak memberi tahu kami bahwa kau akan pulang?" tanya Minho. Ia cukup terkejut mendengar kabar Changmin sudah pulang ke Korea.
Changmin tertawa. "Aku ingin membuat kejutan. Keluargaku saja tidak kuberi tahu bahwa aku pulang kemarin. Mereka mengira bahwa aku akan pulang minggu depan."
Jonghyun menyadari ada dua bocah yang mengikuti Changmin. Ia memperhatikan kedua bocah itu. Mereka berdua memiliki kemiripan dengan Changmin. "Min, kau pulang dari Inggris membawa anak? Luar biasa! Tidak tanggung-tanggung, dua anak sekaligus."
Changmin tidak menyangka bahwa temannya juga mengira bahwa kedua adiknya itu adalah anaknya. "Tidak, mereka bukan anakku. Mereka adalah adik-adikku."
Karena kesibukan, Kyuhyun, Minho, dan Jonghyun sudah lama tidak bertemu dengan keluarga Changmin. Mereka tidak mengenali adik-adik Changmin.
"Kupikir kau tidur dengan gadis Eropa dan mempunyai anak." Kyuhyun terkekeh.
"Binnie dan Jiyoolie, ayo kemari! Beri salam kepada teman-teman kakak!" Changmin menarik kedua adiknya untuk mendekat. "Kalian jangan takut! Mereka sangat baik."
"Kami adalah artis yang baru debut." Minho membanggakan grupnya. "Nama grup kami adalah Kyuline, nama gang kami bersama kakak kalian di sekolah."
"Oh, aku tahu!" seru Moonbin. "Aku pernah melihat kalian di televisi. Bolehkah aku meminta tanda tangan dan berfoto bersama kalian?"
Kyuline baru debut tahun ini dari agensi kecil, sehingga mereka belum mempunyai banyak penggemar. Jadi, mereka sangat senang bertemu penggemar, walaupun hanya anak kecil.
Mereka semua berfoto, tak terkecuali Changmin dan Jiyool. Walaupun masih sangat kecil, Jiyool sangat pandai bergaya. Ia terlihat cantik dengan pose apa pun.
"Wah, aku tidak menyangka bahwa adikmu adalah penggemar kami!" Jonghyun merasa sangat senang.
"Tidak," celetuk Moonbin. Raut wajahnya datar saat mengatakan hal itu. "Aku hanya ingin pamer kepada teman-teman bermainku bahwa aku bertemu artis dan berhasil mendapatkan tanda tangan dan berfoto bersama meraka.
Changmin merasa tidak enak kepada teman-temannya, sedangkan teman-temannya tertawa kaku. Jawaban adiknya itu sangat polos.
"Katanya teman-teman oppa adalah altis, tetapi mengapa wajah meleka jelek? Wajah meleka tampak gelap dan kusam." Sekarang giliran Jiyool yang berkomentar dengan polosnya.
"Buka dulu kacamatamu!" Changmin membuka kacamata hitam yang dikenakan oleh Jiyool. "Kau sudah berada di dalam ruangan sekarang. Sudah tidak terlihat gelap dan kusam lagi, bukan?"
"Oh iya, aku lupa. Hehehe." Jiyool tertawa dengan lucunya. Ia menjadi salah tingkah karena dipandangi oleh teman-teman kakaknya.
"Adikmu ini mengingatkanku kepada seseorang. "Kyuhyun masih memandangi Jiyool. Aku jadi ingin tahu bagaimana kabar pak guru. Satu saja sudah membuat pusing. Sekarang ada titisannya."
Changmin tersenyum kaku. "Kalian jangan khawatir! Ayahku baik-baik saja. Ia bisa mengatasinya. Hahaha!"
"Min, adikmu ini cantik sekali." Minho sampai tidak berkedip memandang wajah Jiyool.
"Eh, apa maksudmu?" Changmin berpikiran yang tidak-tidak. "Kau jangan berpikiran macam-macam! Adikku ini masih balita, masih berusia tiga tahun."
"Tidak apa-apa. Aku bisa menunggunya lima belas tahun lagi. Hahaha!" canda Minho. Ia tidak berkata serius.
Changmin bergidik mendengar perkataan Minho, walaupun ia tahu temannya itu hanya bercanda. Ia langsung menjauhkan Jiyool dari Minho.
"Anak ini cantik karena ia anak vampir, vampir cilik." Jonghyun ingat bahwa mereka menyebut Jaejoong dengan sebutan vampir karena tidak terlihat menua.
"Hyung, aku lapar. Bukankah hyung sudah berjanji akan membelikan pizza berukuran besar?" Moonbin mengingatkan Changmin.
"Baiklah." Changmin melihat-lihat daftar menu di kafe tersebut. Ternyata harga pizza berukuran besar sangat mahal. "Yang kecil saja."
Moonbin cemberut. "Hyung sudah berjanji untuk membeli yang besar. Yang kecil mana kenyang."
"Hyung tidak membawa banyak uang," bisik Changmin. Ia berharap adiknya akan mengerti.
"Kalau begitu, minta ditraktir saja oleh teman-teman hyung. Mereka adalah selebriti, pasti punya banyak uang." Moonbin memang cerdik.
"Sekalian dengan es klimnya." Jiyool ikut menambahkan.
Changmin memandang ketiga temannya. Ia berharap mereka mau berbaik hati mentraktir adik-adiknya pizza dan es krim. "Minho, kau menyukai Jiyoolie, bukan? Kalau kau pelit, Jiyoolie tidak akan mau denganmu."
Minho merasa terpojok. Semua mata mengarah kepadanya. "Baiklah, kali ini aku yang traktir."
"Hore!" Moonbin dan Jiyool bersorak gembira.
.
.
.
Moonbin dan Jiyool makan dengan lahap. Changmin dan teman-temannya bahkan tidak kebagian.
"Mereka benar-benar adikmu, Min." Jonghyun terpana melihat selera makan kedua bocah itu.
"Aku bisa bangkrut jika setiap hari mentraktir mereka makan." Minho meratapi nasib dompetnya.
"Sekarang apa rencanamu, Min?" Kyuhyun mulai berbicara serius.
"Kau bergabung saja dengan grup kami, agar formasi Kyuline lengkap," bujuk Minho. Ia berharap Changmin tertarik untuk mempertimbangkannya.
"Itu bukan duniaku," tolak Changmin secara tidak langsung.
"Apa kau sudah melamar pekerjaan atau mungkin sudah mendapat tawaran?" Jonghyun bertanya. Seperti Minho, ia juga ingin Changmin bergabung.
Changmin ragu untuk menjawab. "Hmm, aku masih bingung." Ia seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
.
.
.
Moonbin dan Jiyool terlelap setelah makan. Mereka terlalu banyak makan.
Changmin terpaksa harus menggendong kedua adiknya sampai mereka masuk ke dalam bis. Ia tersenyum melihat betapa lucunya kedua bocah itu saat tertidur.
Changmin tidak langsung membawa adik-adiknya pulang ke rumah. Ia ingin mampir ke toko kue milik ibunya. Ia ingin tahu seperti apa toko kue ibunya itu sekarang.
Tibalah Changmin di toko kue Jaejoong. Kedua adiknya masih tertidur. Toko kue ibunya menjadi semakin besar dan tampak ramai oleh pengunjung. Ia pun masuk ke dalam toko sambil menggendong kedua adiknya.
"Selamat datang!" Seorang pramuniaga menyambut Changmin. Ia adalah pegawai baru, sehingga ia tidak tahu bahwa yang datang adalah anak bosnya.
Bisnis kue Jaejoong semakin maju. Tokonya diperbesar, sehingga Jaejoong membutuhkan karyawan lebih banyak. Ia merekrut lebih banyak pegawai.
Changmin melirik pramuniaga yang menyambutnya. Gadis itu terlihat manis. Ia berniat untuk menggoda gadis itu. "Aku ingin membeli kue. Kue apa yang paling enak di toko ini?"
"Semua kue di toko ini enak." Pramuniaga tersebut mempromosikan barang dagangan mereka. "Yang paling terkenal di toko ini adalah dark chocolate lava cake, rasanya tidak terlalu manis, sangat cocok untuk orang yang tidak terlalu suka makanan manis."
"Rasanya akan berubah menjadi terlalu manis jika memakannya sambil melihat wajahmu." Changmin menggombal. Jika adik-adiknya bangun, ia tidak akan punya kesempatan untuk menggoda perempuan.
Pramuniaga itu tersipu malu. "Selain itu, toko kami juga menjual diet cookies, kue kering rendah kalori yang cocok untuk orang yang sedang menjalankan diet. Kue ini adalah favorit gadis-gadis. Tuan bisa menghadiahkannya kepada seorang gadis."
"Tubuhmu sudah langsing. Kau tidak perlu diet dan takut gemuk." Changmin semakin menggoda gadis itu.
Wajah pramuniaga itu memerah. Ia masih sangat muda dan polos.
"Ehem." Sejak tadi Jaejoong memperhatikan putranya menggoda karyawannya. "Kau bantu yang lain saja di dapur. Biar aku yang melayani pelanggan yang satu ini."
"Baik, Nyonya." Pramuniaga tersebut menaati perintah bosnya.
Changmin tersenyum kaku melihat ibunya. Ibunya pasti akan mengomel. "Halo, Bu! Aku kemari untuk mengantarkan Binnie dan Jiyoolie."
"Ah, jadi sekarang kau lebih suka gadis manis daripada kue manis ya," sindir Jaejoong. Dulu putranya akan langsung mencari kue yang bisa dimakan setiap kali datang ke toko. Sekarang putranya sudah dewasa, sudah bukan remaja lagi.
.
.
.
Moonbin dan Jiyool terbangun karena mereka mencium aroma lezat kue-kue yang baru dikeluarkan dari dalam oven. Mereka sangat suka ikut ibunya pergi ke toko kue karena di sini mereka bisa mencicipi berbagai macam kue.
Setelah kenyang memakan kue, Moonbin dan Jiyool berlarian di dalam toko. Changmin harus mengejar dan menangkap mereka karena mereka akan mengganggu pelanggan yang datang.
Changmin kelelahan. Ia menyerah. Kedua adiknya itu tidak bisa diam, nakal sekali. Ia heran melihat neneknya tersenyum. "Apa nenek tidak pusing harus mengasuh mereka setiap hari? Apa mereka seperti ini setiap hari?"
Ny. Jung tertawa. "Bukan aku yang mengasuh mereka di toko, melainkan ibumu. Ibumu masih sibuk membuat kue di dapur sekarang. Jika ia sudah selesai, ia akan bergabung bersama adik-adikmu berlarian di toko."
"Apa?" Changmin terkejut. Dulu ibunya tidak seperti itu. "Bukankah itu akan mengganggu para pelanggan?"
"Sebagian besar pelanggan kita sudah tahu sifat ibumu yang absurd. Kadang-kadang mereka justru terhibur melihat aksi adik-adikmu itu. Tidak bisa dipungkiri bahwa adik-adikmu itu sangat lucu dan menggemaskan." Ny. Jung bercerita kepada Changmin.
Changmin mengangguk. Ia setuju dengan penuturan neneknya. Walaupun adik-adiknya itu membuatnya pusing, ia tidak bisa untuk tidak menyayangi mereka.
"Pelanggan akan terus datang kemari karena ini adalah toko kue terbaik di distrik ini," lanjut Ny. Jung. "Kue-kue di sini sangat enak. Ibumu juga sering memberikan potongan harga. Pelayanannya pun sangat ramah. Pelanggan kita sekarang bahkan sudah banyak yang dari luar kota."
Changmin tidak menyangka bahwa usaha kue ibunya ini berkembang sangat cepat selama empat tahun. "Mengapa ibu tidak membuka cabang di kota lain?"
"Banyak pelanggan yang menyarankan hal ini, tetapi ia tidak mau. Toko kuenya ini berjalan bukan atas asas bisnis semata, melainkan karena ia sangat mencintai kue." Ny. Jung menjelaskan kepada Changmin. "Obsesinya terhadap kue tidak sebesar dulu. Kini ia lebih berkonsentrasi kepada keluarganya. Ia datang ke toko saat ia memiliki waktu senggang saja."
Ini berada di luar bayangan Changmin. Semenjak menikah dengan wali kelasnya, ibunya itu banyak berubah. Ia merasa bahagia karena sang ibu akhirnya bisa hidup bahagia.
"Anak-anak, sekarang saatnya membuat kue!" Jaejoong memanggil anak-anaknya. Ia sudah selesai membuat kue untuk hari ini. Kini saatnya ia bermain bersama anak-anaknya.
Moonbin dan Jiyool berhenti main kejar-kejaran. Mereka berlari ke arah Jaejoong. Seohyun juga tidak ketinggalan.
"Aku juga anaknya. Apa aku harus ikut berkumpul juga bersama adik-adikku?" Ingin rasanya Changmin kembali menjadi anak kecil.
Ny. Jung terkekeh. "Ya sudah, kau ikut saja."
Changmin tidak merasa malu, walaupun ia sudah dewasa. "Aku ikut!"
"Yeay, Changminnie Hyung juga ikut!" Moonbin senang karena tidak menjadi satu-satunya anak lelaki lagi.
"Hali ini kita akan membuat apa?" Jiyool sudah tidak sabar untuk membuat kue.
"Hari ini kita akan membuat lava cake kesukaan ayah. Ayah pasti akan senang memakan kue buatan kalian." Jaejoong memakaikan apron kepada ketiga anaknya.
Adik-adik Changmin bersorak kegirangan. Mereka sangat menyukai kegiatan membuat kue.
Changmin merasa iri kepada adik-adiknya. Saat ia masih kecil, ibunya sangat jarang menghabiskan waktu bersamanya. Ia ingin merasakan hal yang sama seperti adik-adiknya. "Bu, pakaikan juga apronku!"
"Pakai saja sendiri! Kau sudah besar, bisa memakainya sendiri." Jaejoong memang seperti itu.
Changmin berpura-pura kecewa. Ia cemberut. "Mengapa ibu selalu kejam kepadaku? Huhuhu!"
Jaejoong memutar bola matanya. Mengapa anak sulungnya itu tiba-tiba bersikap manja?
"Sini Hyung, aku bantu pakaikan!" Moonbin menawarkan diri untuk membantu kakaknya itu.
Hati Changmin terasa menghangat. Ia membelai kepala Moonbin. "Kau memang baik, tidak jahat seperti ibu."
"Hehehe!" Moonbin terkekeh.
Jaejoong mengajarkan anak-anaknya membuat kue dengan sabar, termasuk anak laki-lakinya, Changmin dan Moonbin. Sebagai seorang ahli membuat kue, ia senang bisa mewariskan ilmunya kepada orang lain, apalagi kepada anak-anaknya. Ia berharap keturunannya akan terus melestarikan usaha kuenya itu, walaupun ia sudah tiada. Ia memulai usaha ini dari nol.
Moonbin dengan iseng mengoleskan tepung pada pipi Jiyool dan Seohyun. Seohyun hanya terkekeh, sedangkan Jiyool tidak terima. "Ih, oppa apa-apaan sih?" Ia membalas perbuatan Moonbin.
Changmin memperhatikan tingkah adik-adiknya. Suasana dapur di toko menjadi ramai. Ia juga melihat ibunya tertawa. Ibunya tampak sangat bahagia. Ia berbisik kepada ibunya. "Ibu ini kenapa? Bukankah seharusnya ibu melerai mereka? Kalau mereka berkelahi, bagaimana kita akan menyelesaikan kuenya?"
Jaejoong tampak santai saja. "Biarkan saja! Namanya juga anak-anak. Hahaha!" Ia menikmati kelucuan yang dibuat anak-anaknya. Ketiga balitanya ini sekarang sudah belepotan oleh tepung. Hanya satu anaknya yang belum belepotan oleh tepung. Ia kemudian mengoleskan tepung ke pipi Changmin. "Supaya adil." Ia tertawa puas.
.
.
.
Saat pulang ke rumah pada sore hari, Yunho disambut oleh ketiga anaknya yang berlari ke arahnya. Ia kemudian menggendong Jiyool dan Seohyun di kanan dan kirinya. "Bagaimana kabar anak-anak ayah yang lucu?"
"Ayah, kami hali ini membuat kue kecukaan ayah." Seohyun memberi tahu Yunho. Ia sangat jarang berbicara. Saat ia berbicara, perhatian semua orang tertuju kepadanya.
"Oh, ya?" Yunho menunjukkan ketertarikannya.
"Ibu mengajali kami membuat dalk chocolate lava cake." Jiyool sampai harus memonyongkan bibirnya untuk menyebut nama kue itu.
"Bu, apa ibu yakin akan menghidangkan kue-kue itu untuk ayah?" Changmin sudah mencicipi kue buatannya dan adik-adiknya itu tadi siang. Bentuknya sangat berantakan, apalagi rasanya.
"Tentu saja." Jaejoong tampak sangat yakin. "Kalian membuatnya dengan penuh cinta."
"Akan tetapi, rasanya..." Changmin tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan rasa kue itu.
"Ia akan tetap memakannya dengan senang hati karena kue ini adalah buatan anak-anaknya yang sangat ia sayangi." Jaejoong membawa kue buatan anak-anaknya ke hadapan sang suami.
"Wah, apa ini benar-benar kue buatan kalian?" Yunho tampak senang melihat kue yang dibawa istrinya.
"Ayah, cobalah!" Moonbin menyuapkan sepotong kue mulut ayahnya.
"Hmm, rasanya enak sekali!" Yunho tampak sangat menikmatinya.
Changmin memandang kasihan ayah tirinya itu. Di saat yang bersamaan ia sangat kagum kepada pria itu. Yunho adalah ayah yang baik dan sangat menyayangi keluarganya.
Jaejoong berdiri di samping Changmin. "Ia sudah terbiasa. Ini bukan pertama kalinya adik-adikmu membuat kue. Ia sangat penyabar, bukan?" Ia tersenyum memandang keakraban suaminya dengan anak-anak mereka. "Aku belajar mengenai kesabaran dari dirinya."
"Ibu benar-benar berubah ya," komentar Changmin. Ia mengatakannya sambil tersenyum.
"Ini semua karena dia. Ia mau bertahan dan bersabar menghadapiku, mengapa aku tidak bisa memaksakan diri untuk berubah demi dirinya?" balas Jaejoong. Demi Yunho apa pun akan ia lakukan. "Ngomong-ngomong, apa kau sudah siap?"
Changmin menatap ibunya dengan penuh tanda tanya. "Siap untuk apa?"
"Mencukur bulu ketiakmu." Jaejoong mengeluarkan gunting dari dalam saku bajunya. "Aku sudah mengasah guntingku."
Changmin membelalakkan matanya. Gunting yang dipegang ibunya itu terlihat sangat mengerikan. Ia pun berlari. "Aku tidak mau!"
Jaejoong langsung mengejar Changmin sambil memegang gunting. "Jangan lari!"
Yunho beserta ketiga anaknya tercengang melihat Jaejoong mengejar Changmin. Moonbin, Jiyool, dan Seohyun ikut mengejar Changmin. Mereka mengira ibu dan kakak sulung mereka sedang bermain kucing-kucingan.
"Bu, kami berhasil menangkap hyung!" Moonbin berteriak memberi tahu ibunya.
Changmin dipegangi oleh ketiga adiknya. Ia tidak bisa melawan karena ia takut menyakiti adik-adiknya.
Jaejoong menyeringai. "Kalian tolong pegangi dia! Jangan sampai ia melarikan diri lagi!"
"Ah, tidak!" Changmin harus merelakan bulu ketiaknya dicukur oleh Jaejoong.
.
.
.
"Min, tolong jaga adik-adikmu sebentar! Ibu akan mengantarkan makanan untuk ayahmu." Jaejoong memasukkan kotak makan siang ke dalam tas jinjing.
"Biar aku saja yang mengantarkannya, Bu! Sudah lama aku tidak mengunjungi sekolahku." Changmin merindukan sekolahnya. Di sanalah ia menemukan Yunho.
"Baiklah kalau begitu." Jaejoong menyerahkan tas berisi kotak makanan kepada Changmin.
"Kunci mobilnya, Bu?" Changmin menengadahkan tangannya.
Jaejoong tidak memberikan kunci mobilnya kepada Changmin. Sebagai gantinya ia memberikan kunci yang lain.
Changmin terheran-heran melihat kunci di tangannya. "Ini kunci apa, Bu?"
"Itu kunci gembok sepedamu. Kau pergi naik sepeda saja." Sampai sekarang Jaejoong tidak mengizinkan Changmin untuk mengemudikan mobilnya.
Changmin cemberut. "Bu, aku sudah dewasa. Usiaku sudah 22 tahun. Aku sudah boleh mengemudi."
"Akan tetapi, kau tidak punya SIM." Jaejoong tersenyum penuh kemenangan.
.
.
.
Changmin pergi ke sekolah dengan mengayuh sepeda. Sudah lama ia tidak mengendarai sepeda kesayangannya itu.
Changmin merasa senang melihat sekolahnya. Banyak sekali kenangan di sekolah ini. Ia menemukan ayah tirinya di sini. Ia juga bertemu sahabat-sahabatnya di sini. Bangunan sekolahnya terlihat lebih bagus sekarang, meskipun bangunannya masih tetap sama. "Sekolah kita akan terlihat lebih bagus setelah kita lulus."
Changmin berjalan menuju ruang guru melewati adik-adik kelasnya yang sedang beristirahat. Mereka memandang ke arahnya dengan pandangan takjub. Ia berjalan dengan penuh percaya diri. Mereka pasti takjub karena melihat ketampananku.
"Orang itu pasti keluarganya Pak Guru Yunho. Ia membawa tas jinjing yang biasa dibawa oleh istri pak guru, tas berwarna merah muda, bertuliskan 'I love Yunniebear', bergambar beruang dan gajah."
Langsung saja Changmin memeriksa tas yang dibawanya. Ia tidak sadar bahwa ada tulisan itu.
"Semoga saja ia tidak aneh seperti istri pak guru."
"Walaupun aneh, ia sangat baik. Ia akan memberikan potongan harga di tokonya jika kita menunjukkan kartu pelajar kita. Kue-kue di tokonya juga sangat enak."
Changmin tidak menyangka bahwa ibunya sangat terkenal di kalangan para siswa di sekolahnya. Kira-kira apa reaksi adik-adik kelasnya itu jika mereka mengetahui bahwa ia adalah anak Pak Guru Yunho?
"Kau Changmin kan?" Seorang wanita yang sedang hamil besar berbicara kepada Changmin.
Changmin mengenali wanita hamil itu. Wanita itu adalah guru keseniannya. "Bu Guru Kim?" Changmin terkejut melihat penampilan gurunya itu. "Wah, ibu sedang hamil?"
Junsu mengangguk. "Aku senang kau masih mengingatku."
"Tentu saja aku ingat. Aku tidak akan mungkin lupa kepada bu guru." Changmin merasa sangat bersalah kepada gurunya yang satu itu. "Mengapa bu guru masih mengajar saat kehamilan ibu sudah sebesar ini?"
"Tidak, aku sedang mengambil cuti. Aku datang untuk mengantarkan makanan untuk suamiku." Wajah Junsu tampak berseri-seri.
"Wah, bu guru menikah dengan guru di sekolah ini juga? Siapa?" Changmin terkejut. Ia mencoba menerka-nerka siapa suami Junsu.
Junsu tersenyum malu-malu. "Kau akan tahu nanti. Ayo kita pergi ke ruang guru!"
Sepanjang perjalanan ke ruang guru, Changmin terus berpikir. Selama ia bersekolah di sana, hanya ada satu orang guru yang disukai oleh guru keseniannya itu. Ah, tidak mungkin orang itu!
.
.
.
Changmin tidak menyangka bahwa Junsu benar-benar menikah dengan Yoochun. Ia tidak menyangka gurunya yang terkenal playboy itu bisa ditaklukkan oleh Junsu yang polos. Pria berdahi lebar itu memperlakukan istrinya dengan sangat mesra. Ini sulit dipercaya.
"Min, ayo makan bersamaku! Aku tidak akan bisa menghabiskan semua makanan ini sendirian." Yunho mengajak Changmin makan bersama.
"Ayah, bagaimana bisa mereka berjodoh?" Changmin menunjuk pasangan Yoochun dan Junsu.
"Memang sudah takdir." Yunho terkekeh.
Changmin tersenyum. Jodoh memang tidak bisa diduga. Ibu dan ayah tirinya juga memiliki sifat yang bertolak belakang, tetapi mereka berjodoh. Mereka berdua saling melengkapi. "Ayah, terima kasih!"
Yunho tidak mengerti mengapa Changmin berterima kasih kepadanya. "Aku yang seharusnya berterima kasih karena kau telah mengantarkan makanan untukku."
"Terima kasih karena ayah sudah membuat ibuku berubah menjadi lebih baik." Changmin bersyukur bisa mendapatkan ayah tiri seperti Yunho. "Ayah juga sudah menjadi ayah yang baik bagiku dan adik-adik. Aku sempat khawatir saat Moonbin lahir. Aku khawatir ibu tidak bisa merawat anak dengan baik, apalagi bayi yang lahir bukan bayi perempuan seperti yang diharapkannya." Ia mengungkapkan kekhawatirannya dulu. "Namun, aku bisa tenang sekarang. Ia adalah ibu yang sangat baik. Aku bahkan merasa iri kepada adik-adikku."
"Kau tidak perlu merasa iri kepada adik-adikmu. Kau tetaplah anak kesayangannya. Kaulah yang berjuang bersamanya melalui masa-masa sulit. Kaulah yang menemaninya saat ia tidak punya siapa pun. Ia sangat menyayangimu." Yunho membesarkan hati Changmin.
Changmin mengangguk. Ia mengerti. Ia tahu bahwa Jaejoong sangat menyayanginya di balik sikap cueknya. "Bagaimana ayah bisa tahan menghadapi mereka semua? Menghadapi ibuku seorang saja pasti sudah sangat sulit."
"Cinta." Yunho tersenyum. "Aku menyayangi mereka semua. Dengan cinta, rasa lelah tidak terasa. Begitu pun aku memperlakukan anak-anak didikku, aku memperlakukan mereka dengan rasa sayang."
Changmin semakin mengagumi ayah tirinya itu. "Pantas saja aku merasa nyaman mempunyai wali kelas sepertimu. Kau sangat disayangi oleh murid-muridmu. Kau tidak menjaga jarak dengan murid-muridmu."
Tiba-tiba Junsu datang menghampiri. "Changmin, mumpung kau ada di sini, maukah kau memegang perutku? Aku ingin anakku jenius sepertimu."
"Ehem..." Yoochun berdiri di belakang Junsu. Ia tidak rela perut istrinya dipegang oleh pria lain.
Changmin ragu untuk mengabulkan keinginan Junsu. Yoochun menatapnya dengan tajam. "Uhm, sepertinya pak guru Yoochun tidak akan suka hal ini."
Junsu memutar bola matanya. "Abaikan saja dia! Ia tidak akan berani berbuat macam-macam kepadamu."
Dengan ragu-ragu Changmin membelai perut Junsu. Saat Jaejoong mengandung Jiyool dan Seohyun, ia sedang di luar negeri, sehingga ia belum pernah membelai kedua adik perempuannya itu saat masih berada dalam kandungan.
"Aduh, perutku mulas!" Tiba-tiba Junsu meringis kesakitan.
Dengan sigap Yoochun menggendong istrinya. "Ayo kita pergi ke rumah sakit!"
Junsu meronta. "Untuk apa kita pergi ke rumah sakit? Cepat turunkan aku!"
"Kau akan melahirkan, bukan?" Yoochun terlihat panik.
"Siapa bilang aku akan melahirkan? Aku mulas karena masih lapar, bukan akan melahirkan. Cepat turunkan aku!" Junsu minta diturunkan.
Changmin hanya bisa tersenyum melihat pasangan tersebut. "Yah, apa ibu seperti itu juga saat hamil?"
.
.
.
Changmin menikmati kebersamaannya bersama keluarganya. Setiap hari ia bermain bersama adik-adiknya. Ia menjalani perannya sebagai seorang kakak, peran yang sempat ia tinggalkan selama empat tahun.
Tidak terasa sudah dua bulan Changmin pulang ke Korea. Saat ia sedang berkumpul bersama keluarganya, tiba-tiba ia mendapatkan telepon dari kampusnya di Inggris. Ia berbicara di telepon cukup lama.
"Ada apa? Tampaknya serius. Ada apa mereka menghubungimu?" Jaejoong terlihat cemas.
"Uhm..." Changmin bingung bagaimana harus mengatakannya. "Sebenarnya... Uhm, seharusnya aku kembali ke Inggris." Suasana tiba-tiba hening. "Sebelum aku pulang, mereka menawariku untuk melanjutkan kuliahku sampai S3 di sana. Mereka juga menawariku untuk menjadi dosen di sana. Aku belum memberikan jawaban saat itu. Jadi, mereka meneleponku untuk menanyakan jawabanku."
Jaejoong merasa sedih. Ia baru dua bulan bertemu anak sulungnya itu. Ia mencoba tegar dan menyembunyikan kesedihannya itu. "Jadi, kapan kau akan kembali ke sana?"
"Aku sudah memikirkannya baik-baik." Changmin menunduk. "Ini adalah pilihan yang berat untukku. Selama dua bulan ini aku terus memikirkannya, mempertimbangkannya." Ia kemudian menatap keluarganya satu-persatu. "Aku merasa sangat bahagia berada di tengah-tengah keluargaku. Aku tidak ingin berpisah dengan kalian. Aku ingin melihat adik-adikku tumbuh secara langsung. Aku ingin menjalani peranku sebagai seorang kakak."
Jaejoong menitikkan air mata. "Kau mempunyai jalanmu sendiri. Jangan sampai kami menjadi penghalangmu."
"Akulah yang akan memilih jalan mana yang akan kulalui. Aku sudah menentukannya. Aku akan melanjutkan kuliahku di Korea." Changmin sudah mantap dengan keputusannya.
Jaejoong tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia memeluk putra sulungnya itu. Ia menangis dalam pelukan Changmin.
Changmin membelai punggung ibunya. "Aku lebih suka gadis Korea daripada garis Eropa."
Jaejoong terkekeh. Ia senang Changmin lebih memilih untuk tinggal. "Ibu juga lebih suka punya menantu orang Korea."
Melihat ibu mereka memeluk Changmin, Moonbin, Jiyool, dan Seohyun ikut menyerbu Changmin. Mereka melompat ke pelukan kakak mereka. Sebenarnya mereka tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
Yunho juga tidak mau kalah. "Ayah juga mau ikutan." Ia memeluk istri dan anak-anaknya.
"Nenek juga." Ny. Jung tak ketinggalan. "Ayo kita berpelukan seperti Teletubbies!"
.
.
.
Lovehyukkie19: terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai tamat.
Ryukey: waktu masih awal-awal JJ kan sangat dibatasi oleh agensi. Setelah keluar dari agensi lama, ia menjadi merasa sangat bebas melakukan apa pun.
Teukiangle: semoga epilognya tidak mengecewakan. Terima kasih.
Hyejoon: update! Terima kasih atas dukungannya.
Elite minority.1111: konfliknya berakhir di chapter 9. Akan tetapi, inti masalahnya kan mengenai keinginan Changmin untuk kuliah di luar negeri. Banyak yang lupa akan hal ini. Jarak dari chapter 9 ke chapter 10 jauh, sehingga moodnya sudah jauh berbeda.
Jaenna: terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai tamat.
Saaaa: tidak ada. Saya hanya bisa memberikan epilog.
Nurlela: hahaha! Tidak ah, cukup 10, dengan epilog menjadi 11. Bukan sekuel, epilog saja.
Guest: semoga cukup puas dengan epilog ini.
Avanrio11: ya, terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai tamat.
Anakyunjae: begitulah Jae. Terima kasih atas dukungannya. Semoga puas dengan epilognya.
Min: epilog saja ya, bukan sekuel. Semoga tidak terlalu mengecewakan.
MyBooLoveBear: terima kasih.
Summer Mei: bukan sekuel, hanya epilog. Terima kasih.
1004baekkie: terima kasih sudah mengikuti cerita ini.
Namnam: mohon jangan ditunggu. Saya tidak akan terlalu aktif menulis fanfiksi
Joongie: malas. Susah dan lama postingnya.
Guest: terima kasih juga sudah membaca.
Guest: sama. Hahaha!
Hyejinpark: terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai tamat.
Kyulkulator: nama kamu lucu ya.
DBSJYJ: Changmin sudah cocok jadi bapaknya.
Seijuurou Eisha: tidak jelas saya akan membuat cerita baru atau tidak.
Sanmayy88: ya, ada. Yunho terlalu cinta kepada Jae.
Dykyu: ya, memang seperti itu.
Epykudo: terima kasih. Saya akan jarang menulis cerita.
.921: ada epilog, tetapi Yoosu hanya muncul sedikit.
PhantomYi: kan supaya sesuai dengan judulnya. Saya akan jarang menulis cerita.
Akiramia44: terima kasih atas dukungannya selama ini. Semoga cukup puas dengan epilognya.
Rly: masih kuat, tenang saja! Hahaha! Mengurusnya yang kewalahan.
: terima kasih.
Kjjjyh: mohon maaf harus berjuang untuk menunggu. Semoga puas dengan ceritanya.
Ccsyaoran01: temukan saja jawabannya sendiri. Hahaha!
HunHanCherry1220: terima kasih atas dukungannya. Semangat!
Ichimita1: terima kasih juga sudah membaca. Saya akan jarang menulis cerita lagi.
Key'va: adanya epilog.
