Love Sick
Di special chapter kali ini saya ingin membuat sudut pandang Yoongi tentang Jimin. So, point of view kali ini berdasarkan pemikiran Yoongi.
Dalam chapter ini bukan lanjutan dari cerita sebelumnya, khusus chapter ini adalah potongan flashback dari cerita sebelumnya ya. jadi usahakan membaca cerita sebelumnya dengan cermat..
Here we go..
Special Chapter
"Yoongi Secret.."
"Yoongi! Kenapa anggaran klub musik turun drastis? Kau lihat kan waktu kutulis anggaran 25.000 won?"
Begitulah cara Jimin muncul dalam kehidupanku dan menjadi sebuah kejutan terbesar dalam tahun ini. Kenyataannya kami memang sekedar tahu satu sama lain, tapi kami tidak pernah dapat kesempatan untuk berbicara empat mata seperti ini sebelumnya. Setiap kali kami mengobrol, kami tidak pernah melakukan dalam waktu yang lumayan lama seperti saat itu.
Aku tidak bisa menahan senyum setiap kali membayangkan kejadian hari itu. Mata jimin yang sipit dan lucu biasanya selalu penuh dengan ekspresi yang berbeda-beda. Suatu kali dia orang yang penuh amarah. Tapi kadang menjadi sok gila hormat. Suatu kali dia memasang ekspresi licik seolah-olah sedang merencanakan sesuatu yang jahat bersama teman-temannya atau dia sekedar bercanda ria dengan mereka. Tapi hari itu, dia memasang ekspresi yang berbeda yang dimana belum pernah aku lihat sebelumnya. Dia sedang memasang ekspresi panik yang ekstrim yang membuatku harus menghentikan diriku agar tidak tertawa terbahak-bahak. Baik, Aku akui kalau diam-diam Aku sering menikmati setiap momen saat melihat Jimin, karena ternyata di dunia ini, ada orang semacam itu. Setiap kali aku melihat wajahnya, rasanya sungguh menenangkan dan segala bebanku menghilang karena dia bisa membuatku tertawa.
Tapi sumpah, walaupun aku berpikir begitu tentang Jimin, tidak pernah sekalipun aku membayangkan Jimin dalam kondisi yang romantis karena dia itu hanya ku anggap sebatas teman yang saling kenal bahkan tidak begitu dekat yang selalu memiliki suasana hati yang ceria. Aku tahu kalau dia itu normal. Aku bahkan dengar kalau dia juga punya pacar, yang satu sekolah pacarku, tapi Aku tidak tahu siapakah dia. Kadang, Aku pernah membayangkan bagaimana Jimin bertingkah, kalau sedang didekat pacarnya. Apakah dia itu tipe orang yang suka bercanda juga seperti di sekolah? Pasti pacarnya juga kewalahan sendiri menghadapinya atau mungkin dia itu tipe orang yang manis dan romantis kalau berada didekat pacarnya? Siapa tahu?
Aku tidak punya maksud tersembunyi dan benar-benar jujur saat melontarkan pertanyaan ke Jimin hari itu. Tapi yang aku tidak tahu, kalau suatu hari, Jimin dan Aku bakal jatuh ke jurang yang sungguh dalam sampai-sampai tidak ada satupun dari kami yang bisa keluar dari situ.
Yejin berkata: [Yoongi, jangan tinggalkan aku.]
Tapi kenyataan tidak pernah sesederhana, seperti apa yang kami harapkan. Aku menatap pesan yang ada di layar Mesenger komputerku sebelum aku mendesah panjang.
Aku bisa merasakan kalau jari telunjukku menepuk-nepuk ringan seolah-olah aku adalah seseorang yang sedang berpikir keras sekali. Kenyataanya, kepalaku kosong. Bukannya karena aku tak punya hati atau tidak mampu merasakan apa pun sama sekali. Hanya saja aku sudah berusaha untuk mencoba memikirkan hal berulang kali, tapi aku tidak bisa menemukan sebuah solusi. Pada titik ini, Aku sudah menjadi seseorang yang mencoba lari kabur dari kenyataan.
Ada banyak kejadian yang terus aku ulang-ulang di dalam pikiran, mencoba mencari jawaban kenapa segalanya bisa menjadi seperti ini. Perasaan macam apa yang aku miliki untuk Jimin? Apakah Aku menyukainya? Aku tidak punya keberanian untuk mengakui, kalau tidak ada yang lebih hebat untuk dibandingkan dengan kedatangan seseorang teman hari rabu kemarin.
Aku juga tidak bisa dengan sepenuh hati mengucapkan kata 'cinta' untuk laki laki seperti Jimin ini… tapi Aku tahu, kalau aku menginginkan dirinya ada didalam hidupku. Memiliki Jimin disampingku seminggu terakhir adalah sesuatu yang sama sekali tidak bisa kuberikan label harga. Setiap kali Aku bangun tidur dan memandang wajahnya yang sedang terlelap tepat disampingku, Aku tidak menyangkal kalau Aku berharap hal seperti ini untuk terus terjadi setiap pagi, sampai di saat kami melewati batas dari sekedar 'teman'.
Aku menyadari hal buruk sekali yang telah aku lakukan, karena Aku tidak berhak melakukan hal itu dengan siapapun juga.
Aku ingin menjadi pria terhormat yang mencintai Yejin sampai detik terakhir. Aku ingin menjaga hubungan kami tetap kuat karena dia sudah menaruh kepercayaan kepadaku.
Tapi pada akhirnya, Aku menaksir kemampuanku terlalu tinggi.
Aku bohong… saat Aku bilang kalau Aku tidak ada tujuan tersembunyi dan berkata jujur saat Aku meminta Jimin untuk menjadi pacar palsuku. Aku telah berbohong…
Sejujurnya, Aku luar biasa gembira ketika waktu itu Jimin yang ada disitu. Jimin, orang yang merupakan teman jauh dari temanku.
Jimin, orang yang menjadi lawanku dalam pertandingan tarik tambang, saat itu kami sama-sama terluka di lutut, delapan tahun yang lalu.
Jimin, orang yang berakting menjadi seorang peramal zodiak yang mendampingiku saat ada studi-wisata untuk 'Sunday school Seoul" di sekolah kami, lima tahun yang lalu.
Jimin, orang yang diseret-seret Jisoo agar ikut menemaninya hadir, di acara ulang tahunku, yang dimana dia kelihatan tidak nyaman sekali, dua tahun yang lalu. Dia berusaha keras untuk selalu sopan dan berbicara santun sepanjang waktu saat itu, sampai-sampai, Aku tidak bisa berhenti bertanya-tanya, apakah akhirnya dia akan melakukan sesuatu yang janggal selama pesta berlangsung.
Jimin, orang yang selalu pikirkan, kalau, semisal sedang membayangkan betapa hebatnya bisa ketemu gadis dengan kepribadian yang mirip dengan kepribadiannya Jimin. Aku sering berharap kalau Yejin bisa seceria dan secerah Jimin. Jimin kadang memang bicara terlalu keras dan berisik, dia orangnya menjijikkan dan kelakuannya hampir menyerupai preman pasar, tapi selalu ada rasa bersahabat dan ketulusan yang memancar dari kedua matanya yang sipit dan bulat.
Aku menantang diriku sendiri, untuk meminta seseorang - yang selama ini aku menaruh rasa tertarik - untuk berpura-pura menjadi pacarku. Aku bilang ke diriku sendiri, apapun yang terjadi, Jimin itu masih seorang laki laki. Tak peduli betapa imut dan manisnya dia, gak mungkin aku akan memiliki perasaan yang aneh-aneh ke orang ini.
Namun saat hari-hari berlalu, Aku menyadari kalau aku terlalu menyanjung diri sendiri. Aku ternyata tidak sekuat apa yang aku pikirkan.
Telepon hitam tergeletak disitu dalam diam, sama seperti kesenyapan yang datang dari diriku. Aku masih belum memberi Yejin sebuah jawaban.
Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku. Kalau aku ini adalah Yoongi dua minggu yang lalu, Aku sudah bakalan mengetik jawabannya dengan gembira kalau aku tidak akan pernah meninggalkan dia. Tapi hari ini, rasanya tanganku membatu. Aku tidak bisa datang dengan sebuah jawaban yang tidak membuatku tampak sebagai orang yang buruk.
Itu karena Aku sadar betapa parahnya Aku sendiri.
Jari telunjukku bergerak, dari tetikus menuju nomor yang aku coba hubungi terkahir kali, tapi aku buru-buru tutup, bahkan sebelum teleponnya tersambung. Aku tidak yakin apa yang harus Aku bicarakan dengannya. Tapi Kalau aku bertanya bagaimana tidurnya semalam, tidak. Itu bukan pertanyaan wajar untuk seorang teman. Apakah dia masih mau berbicara denganku setelah semalam kami berciuman?
Tapi bagaimana pun, jari telunjukku bergerak lebih cepat dari pikiranku dan menekan tombol telepon. Aku menghidupkan pengeras suaranya dan mendengarkan panggilannya sudah tersambung, tapi belum diangkat. Baru beberapa detik, dia menjawabnya dengan suara premannya seperti biasa.
"Kenapa kau meneleponku? Aku ada di depan pintu kamarmu sekarang."
Aku hampir tidak percaya dengan mataku sendiri ketika membuka pintu dan melihat Jimin berdiri disitu. Duniaku serasa berhenti, karena Aku tidak lagi peduli bagaimana caranya Jimin bisa mengunjungiku lagi. Aku hanya bisa mendengar suara yang bergema di dalam kepalaku.
Aku menginginkan Jimin.
Aku ingin Jimin selalu berada disampingku.
Dia tidak perlu berada disampingku selama sisa hidup kami.
Aku hanya akan meminta potongan memori ini, memori dimana kami masih punya perasaan indah untuk satu sama lain.
Aku ingin terus mengingat banyak momen itu dan tetap menyimpannya jauh didalam lubuk hati.
Kalau-kalau suatu hari, Aku harus bersama orang lain, maka Aku tidak akan pernah melupakan semua momen kebersamaanku dengannya.
Momen-momen ketika Jimin masih berada didalam hidupku.
Semua momen itu yang dimana Aku akan selalu jaga baik-baik lebih hati-hati dari seluruh harta karun di dunia yang tidak ternilai harganya.
"Gimana kalau ke Incheon ? Lumayan dekat."
"Aku akan memastikan kalau kau bisa sampai disana tepat waktu sehingga bisa ikut pretest besok. Ayolah!". Aku menemukan kelucuan di ekspresi wajahnya yang tidak percaya. Dia mulai membuat kehebohan seperti yang aku kira. Ada pepatah tua yang bilang, "Orang yang gak tahu malu akan mendapatkan apa yang dia inginkan, orang yang malu-malu akan pergi tanpanya." Aku tidak peduli seberapa besarnya kegaduhan yang ingin dilakukan Jimin, karena Aku tidak tahu, kapan lagi kami bisa mendapat kesempatan untuk bersama seperti ini, setelah melewati malam ini.
Aku bisa tahu alasan dia sesungguhnya kesini hanya dengan melihat matanya yang kosong dan bingung…
Jadi kalau segalanya akan mulai berubah, maka Aku hanya Akan meminta kesempatan terakhir ini untuk bersamanya selama yang Aku bisa .
Ketika kami berada di perjalanan, kalau saja Jimin mau melihat kearahku, maka dia akan menyadari betapa kerasnya usahaku memasang muka sok tabah dan menahan emosi akan kenyataan kalau malam ini adalah malam terakhir kita bersama.
Di restoran, kalau saja Jimin menaruh sedikit kepercayaannya kepadaku, maka dia pasti sadar, walaupun Aku tidak bisa melupakan Yejin, pikiranku untuk membuang dirinya tidak pernah sekalipun telintas di otakku.
Di ruangan malam itu, kalau saja Jimin memilih untuk menjadi egois dengan seseorang sepertiku…
Kalau saja Jimin menaruh kepercayaannya kepadaku dan membiarkan diriku memutuskan segalanya…
Aku bahkan akan rela membuang – yang biasa disebut – kenyataan. Aku sudah siap membuang hal-hal yang biasa dianggap layak oleh orang-orang. Aku ingin melempar apapun bentuknya, yang kami diajarkan untuk menjadi hal yang benar untuk dilakukan.
Aku selalu siap untuk menahan Jimin sepanjang dia membutuhkan aku juga.
Tapi bagaimanapun, dunia kenyataan dan dunia mimpi ada di garis paralel.
Hanya tersisa malam ini saat dimana Aku dan Jimin bukan sebagai teman.
Aku tidak lagi bisa menahan Jimin selama yang Aku mau. Tidak lagi.
-Min Yoongi-
Halo semua!
Gimana special chapter Yoongi Secret? Terlalu pendek yakan?haha xD diketik tadi malam waktu liat fancam Yoongi nangis pas Epilogue dan Jimin yang nenangin. saya senang sekali! astaga! real kan! xD
saya lagi banyak pikiran mau kuliah dimana nih, huhu mau hati masuk kesastraan bahasa, tapi orangtua minta yang lain. Yang bikin susah lagi saya anak ipa, bahasa masuk kejurusan ips. dari awal nggak pernah dapet ilmu sosial. -_- jadi setengah mati belajar dari awal.
Mungkin setelah ini saya hiatus dulu sampai akhir mei, atau bisa saja lebih x( setelah semua urusan perkuliahan clear. Jadi saya minta maaf sekali.
Thankyou and Love u all!
10.05.2016
3:54 pm
