Nano, Log In

"Maji de Watashi ni Koi Shinasai: Story of The Darkness"

Warning:

Mungkin akan sangat OOC, EYD salah kaprah dan banyak typo dan pastinya Kata-kata kasar yg frontal.

Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Highschool DxD: Ichie Ishibumi

Love Live School Idol Project: Nippon Ichi Software (Pelisensi anime)

~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~

Chapter 11: Perburuan Harta Karun Galileo part 1

Opening Song: Nico Touches The Wall - Niwaka Ame Nimo Makezu

4 Juli 20xx

02.00 PM (Ruang Klub Puzzle)

...

Saat ini meski semua anggotanya telah terkumpul tetapi ruangan klub puzzle pada hari ini terasa sangat sepi sebab masing-masing dari mereka saat ini bisa dikatakan dalam kondisi yang kurang baik. Dimulai dari Maki, Sona, Akeno, Rias dan Naruko yang saat ini sedang duduk lemas dan meletakkan kepalanya di meja rapat bahkan mereka telah melepas beberapa kancing baju seragam mereka, Ophis saat ini sedang tidur telentang di sofa klub sedangkan Xenovia dan Kurama saat ini duduk saling bersandar punggung, mereka juga telah mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga yang hampir mencetak bentuk tubuh seksi mereka.

Apa yang terjadi dengan Sona, Kurama, Akeno, Ophis, Rias, Maki dan Naruko? Terlebih lagi dimana Naruto? Jawaban dari pertanyaan itu adalah karena saat ini adalah musim panas sehingga para anggota klub Puzzle berada dalam kondisi overheat dan mengharuskan mereka untuk mengakali suhu panas ini, sedangkan Naruto sedang keluar sebentar karena dia dimintai tolong oleh guru untuk memperbaiki sekaligus menyalakan generator pembangkit listrik yang jarang digunakan. Bukankah sudah ada AC? Jika hanya AC maka semua sekolah saat ini juga punya tetapi yang saat ini tidak dimiliki Kuoh Gakuen adalah listrik.

Pasalnya tanpa sebab yang jelas, listrik yang harusnya digunakan oleh para murid Kuoh Gakuen untuk memerangi hawa panas yang selalu mengganggu mereka tiba-tiba terputus saat pulang sekolah jadi sekarang mereka sedang mencoba menyalakan generator sekolah yang sejak lama tidak digunakan lagi. Saat kepala sekolah menghubungi perusahaan penyedia listrik milik negara, kepala sekolah Kuoh Gakuen dihadapkan oleh berita yang mengejutkan sebab kata manager perusahaan listrik saat ini kabel SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) yang terhubung dari Tokyo ke Kuoh tengah mengelupas dan bahkan ada beberapa yang putus jadi dengan terpaksa aliran listrik ke kota Kuoh dihentikan pada hari ini untuk perbaikan.

"Hey! Manusia biru, bukankah saat masih menjadi angkatan laut kau sering berada di timur tengah? Kenapa kau bisa kepanasan hanya dengan suhu 38o celcius?" Tak nyaman dengan situasi sunyi ini, Kurama berinisiatif untuk membuka percakapan dengan seseorang dan orang itu adalah Xenovia yang berada paling dekat dengannya karena memang mereka berdua saling bersandar punggung.

"Di timur tengah kelembapannya tidak akan setinggi ini, disana hanya panas dan kering sehingga tubuhku seperti terbakar api tetapi disini berbeda. Di Jepang, kelembapannya sangat tinggi jadi tidak hanya ada panas tetapi juga uap air yang panas sehingga saat ini aku merasa sedang diasapi bagai daging asap. Lagipula yang membuatku tetap tahan di berbagai macam penyergapan di timur tengah adalah seragamku, kurasa aku mulai merindukan seragam hitamku." Tak hanya menjawab pertanyaan Kurama sekaligus menghilangkan rasa sepi meski hanya sekilas di ruang klub Puzzle tetapi di akhir perkataannya Xenovia juga mencurahkan kerinduannya kepada seragamnya. Entah sihir apa yang ada di baju ketat berwarna hitam itu tetapi saat Xenovia memakainya rasanya seperti suhu panas yang menggila di padang pasir tidak mempengaruhinya.

Tak lama kemudian rasanya Kurama, Xenovia, Ophis, Rias, Maki, Sona, Naruko dan Akeno merasakan hembusan angin surga di kulit mereka. Rasa panas yang telah lama mereka tahan akhirnya perlahana-lahan turun terkena hembusan dari angin surga (AC) yang tiba-tiba menyala menandakan jika Naruto telah berhasil memperbaiki sekaligus menyalakan generator di Kuoh Gakuen. Setelah satu menit berlalu akhirnya para anggota klub Puzzle seakan bangkit dari kematiannya.

Dimulai dari Maki, Naruko, Rias, Sona dan Akeno kini tidak lagi menyandarkan kepala mereka di meja rapat lalu melanjutkan acara bermain poker mereka, Ophis telah terbangun dari tidurnya kemudian duduk di sofa seperti biasanya sembari membuka beberapa camilan lalu memakannya dan yang terakhir adalah Kurama beserta Xenovia yang dengan polosnya mengganti pakaian olahraga mereka yang basah karena keringat dengan seragam sekolah biasa di ruang klub, untung saja tidak ada Naruto saat itu.

Suara pintu klub yang dibuka mengalihkan pandangan semua orang yang ada di dalamnya dan setelah melihat siapa yang datang seketika wajah mereka semua blushing. Karena yang membuka pintu tadi adalah Naruto Namikaze, tapi kalau hanya Naruto Namikaze seorang murid yang biasa mereka lihat belasan jam dalam seminggu kenapa mereka wajah mereka harus memerah? Jawabannya adalah karena Naruto saat ini sedang setengah telanjang menampilkan tubuh atletisnya lengkap dengan keringat yang mengalir di leher dan badannya sehingga membuat Naruto saat ini mirip dengan kue jahe yang tercelup madu *?*

"A-a-apa yang kau lakukan Naruto-kun! Cepat pakai bajumu sana!" (Maki)

"Onii-chan no ecchi!" (Naruko)

"Einstein, aku baru tahu ternyata kau eksibionis." (Ophis)

"Kenapa kau masuk tanpa memakai baju!" (Xenovia)

"Ara... ara... sepertinya saklar Naruto-kun sudah on. Bisakah aku membantu untuk membuatnya off?" (Ah sudahlah -_-)

"Dasar mesum!" (Rias)

"Sini sama Onee-chan~~" (Kurama)

Sementara yang lain sedang berteriak berbarengan Sona kini masih tertegun dan memandangi Naruto tanpa berkedip. Saat ini Sona seolah-oleh tengah melihat sesuatu yang janggal pada tubuh Naruto hingga Naruto yang dipandangi secara intens seperti itu mengangkat alisnya sebelum memakai bajunya lagi lalu duduk di kursi yang berada di ujung meja rapat.

Akhirnya setelah Naruto duduk padangan Sona kepada Naruto telah menjadi seperti semula tetapi setelah itu giliran Sona menyembunyikan ekspresinya dengan cara menunduk. Naruto yang tahu jika penyebabnl kejadian ini adalah dirinya pun mulai bertanya kepada orang yang berada di dekatnya yaitu Sona.

"Ada apa, Sona? Kelihatannya kau sedikit berubah sejak aku masuk tadi?" Tak pelak perkataan Naruto inipun membuat Rias, Kurama, Maki, Akeno, Xenovia dan Ophis mengalihkan direksinya kepada Sona yang saat ini masih tidak mau bicara.

"Apakah itu hasil yang kau terima karena telah menolongku?" Akhirnya setelah sekian lama diam Sona mulai berbicara tetapi dia berbicara tentang sesuatu yang kelibatannya hanya bisa dimengerti oleh dirinya dan Naruto. Meski mencoba memikirkan kemungkinannya tetapi anggota klub Puzzle yang lain tidak bisa menebak apa yang sebenarnya dimaksud oleh Sona. Menolong? Menolongnya dari apa?

"Baiklah! Kalau begitu kita akan membahas tentang E-mail yang aku kirimkan kepada kalian semua kemarin malam. Apa ada pertanyaan?" Bukannya menjawab pertanyaan Sona dan mengakhiri rasa penasaran para anggota klub, Naruto malah mengalihkan pembicaraan ini menjadi tentang E-mail yang dikirimkan oleh Naruto. Sona pun tidak bisa berbuat apa-apa karena bagaimanapun dalam upaya mereka menemukan harta karun Galileo, E-mail yang dikirimkan oleh Naruto ini ribuan kali lebih penting dari sekedar memberikan jawaban kepada pertanyaan pribadinya.

Flashback...

10.00 PM

"Aah...~" Di sebuah ruangan yang gelap gulita terdapat sebuah tubuh perempuan yang sedang tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur sembari kedua tangannya memelintir kedua tempat sensitifnya yaitu clitoris dan putingnya dengan lembut dan penuh dengan perasaan sembari mendesah meski desahannya tertahan karena mulutnya menggigit selimut yang harusnya digunakan menutupi tubuhnya.

Jika kita melihat sebuah meja yang berada di dekat tempat tidurnya maka kita bisa melihat sebuah foto yang memuat sebuah keluarga beranggotakan 4 orang. Sang ayah yang tegap dan gagah sedang memakai kimono berdiri di samping sang ibu yang merupakan miko mungil dan sedang menggendong seorang anak perempuan yang memiliki rambut cukup panjang berwarna hitam bergaya ponytail sedangkan satu anak kecil terakhir berdiri sendiri diantara sang ayah dan ibu menandakan jika anak itu adalah kakak dari anak kecil yang digendong oleh sang miko.

Familiar? Tentu saja karena ini adalah foto keluarga Himejima saat mereka menghadiri sebuah festival dan ruangan yang digunakan oleh perempuan yang ada di kegelapan untuk bermasturbasi (Akeno) adalah kamarnya sendiri. Akeno bermasturbasi? Ya, dengan beberapa alasan belakangan ini dia melakukannya menggunakan tangan kosong bak petarung jalanan *?*.

"Ah...~!" Karena ingin segera keluar dengan harapan ia bisa cepat tidur karena staminanya habis akibat orgasme, Akeno menambah tekanan pada pelintirannya di clitoris tetapi karena salah perhitungan dia malah membuat dirinya sendiri tersakiti namun meski begitu Akeno malah semakin bersemangat akibat rasa sakit dan nikmat yang datang bersamaan akibat kecelakaan tadi. Buktinya kini dia tidak hanya memelintir sebelah putingnya saja tetapi dia juga menambahkan penjepit pakaian yang sudah sedikit longgar untuk menambah rangsangan.

"Se...sebwentar lagi." Gumannya dengan kurang jelas karena saat ini mulutnya menggigit selimut yang memang dia fungsikan untuk mengurangi volume suara desahannya akibat aktifitas malam ini. Saat tahu dirinya akan segera orgasme, Akeno kemudian melepas jepitan baju di sebelah putingnya lalu dijepitkannya ke clitorisnya yang menegang dengan perlahan kenudian dia juga tak lupa menggoyang-goyangkan bagian bawahnya agar jepit baju itu bisa bergerak-gerak menambah rangsangan disana lalu dengan begitu kedua tangannya berganti menjadi memelintir kedua putingnya.

Tiba-tiba dengan berganti formasi seperti itu Akeno semakin cepat menggoyang-goyangkan bagian bawahnya membuat clitorisnya serasa terbakar sekaligus nikmat karena jepit baju yang bergoyang disana, tak lupa pelintirannya di putingnya juga semakin cepat dan intens bahkan kini Akeno tidak lagi memelintiri putingnya tetapi menekan kukunya yang paling tajam tepat di bagian tengah putingnya sehingga membuat rangsangan yang menabjubkan mengalir dari kedua titik sensitif kaum hawa tersebut. Gelombang orgasme yang sudah ia rasakan kedatangannya sejak puluhan detik lalu kini sudah hampir keluar dari vaginanya.

"I-ini di..."

(Sfx: Ringtone E-mail)

Bastard! Saat gelombang orgasme yang dirasakan hampir keluar tiba-tiba handphone milik Akeno yang saat itu berada di meja berbunyi membuat perhatian Akeno teralihkan dari acara masturbasinya sekaligus membuat pelintiran dan goyangan pinggulnya berhenti. Dengan kata lain orgasme yang harusnya keluar dengan dahsyat kini tak ubahnya hanya kesenangan kecil akibat rangsangan yang berhenti saat akan keluar dan hal itu cukup untuk membuat Akeno menumpat di dalam hatinya.

'Sialan! Siapa yang mengirim E-mail malam-malam begini!' Umpat Akeno di dalam hatinya lalu melepas jepit baju yang masih senantiasa menjepit clitorisnya, membuat dirinya merasakan perasaan lemas dan lega karena orgasme dan semua rangsangan pada tubuhnya telah terhenti. Mengambil handphone miliknya di meja, Akeno kemudian menyalakan lampu flash lalu digunakan untuk menyoroti bagian vitalnya. Disana terlihat jelas jika vaginanya masih berkedut-kedut, cairan orgasme miliknya juga masih ada dan terus mengalir meski dengan debit yang kecil.

Setelah puas memeriksa bagian kewanitaannya, Akeno kemudian mematikan lampu flash tadi lalu melihat E-mail telah mengganggu kegiatan masturbasinya yang khidmat.

*Isi E-mail:

From: Naruto_Lust_of_The_World Mahoomail. (Domain "com")

To: Sadistic_Queen_Akeno_chan Mlmail. (Domain "com")

Sub: Important!

Obj: Sebelumnya aku minta maaf jika mengganggu kalian di malam hari tetapi ada hal yang harus kusampaikan kepada kalian. Kalian? Ini broadcast loh... :P . Langsung saja, hari minggu saat dimulainya liburan musim panas kita semua akan menghabiskannya untuk mencari harta karun Galileo langsung dari sumbernya. Tiketnya sudah kupesan dan untuk visanya kalian tidak perlu khawatir, kita mendapat penerbangan malam di bandara Tokyo jadi pastikan jika cukup istirahat dan jika ada diantara kalian yang punya sebuah hobi di malam hari aku sarankan untuk mengganti jadwalnya karena ada kemungkinan kita terpaksa transit ke sebuah bandara karena badai.*

Setelah membaca isi E-mail dari Naruto, wajah Akeno tiba-tiba memerah karena di kalimat 'HOBI MALAM' tadi ia sudah menduga jika Naruto tahu bahwa salah satu diantara Rias, Maki, dirinya dan Sona pernah bermasturbasi. Sebenarnya yang tepat bukan salah satu diantara tetapi semuanya pernah melakukannya. Alasannya? Alasan pastinya tentu berbeda-beda entah itu karena kebiasaan atau apa tetapi menurut pengakuan Akeno, Maki, Sona dan Rias mereka baru melakukannya belakangan ini karena stress memikirkan berbagai macam teori mengenai bahaya yang sedang mengintai manusia akibat kotak pandora.

Jadi mereka melakukan masturbasi bukan untuk kesenangan semata tetapi untuk menjaga tubuh dan pikiran mereka dari stress serta berbagai macam efek sampingnya seperti insomnia yang sedang mendera Akeno saat ini. Meski Akeno yakin jika akhirnya mereka (Sona, Maki dan Rias) akan selalu melakukan hal yang lebih dari cukup contohnya mencapai multi orgasme sama seperti dirinya jika sedang benar-benar tidak bisa tidur.

Kalau hanya insomnia kenapa Akeno tidak pergi ke dokter/terapis untuk diobati atau meminum obat tidur? Jawaban dari pertanyaan ini adalah karena Akeno phobia dengan obat dan berbagai jenis orang yang bekerja di bidang kesehatan termasuk terapis. Awal mula Akeno mendapat phobia ini adalah karena trauma yang dialaminya waktu kecil. Dulu saat masih berusia 8 tahun dia menjadi korban kelalaian dokter di rumah sakit setempat yang salah menyuntikkan vitamin dengan obat yang membuat syaraf 'tertidur' sejenak pada infusnya, waktu itu nyawanya hampir tak tertolong jika bukan karena Minato yang kebetulan sedang menjenguknya bersama Kushina, Naruto dan Naruko melakukan pertolongan yang sangat ekstrim.

Pertolongan itu adalah dengan mendorong balik aliran darahnya menggunakan air steril dan suntikan sehingga obat yang sudah bercampur dengan darahnya di pembuluh vena berbalik arah menjauhi jantung dan keluar melalui lubang jarum infus tadi. Momen itu adalah momen paling menyakitkan sekaligus paling mengerikan dalam hidup Akeno saat tubuh 8 tahunnya dipaksa untuk menerima suntikan yang menyakitkan di pembuluh vena untuk mengeluarkan obat yang sudah melumpuhkan syaraf lengannya dan sedang menuju ke jantung.

Mengingat kejadian itu meski hanya sekelumit nampaknya cukup untuk membuat Akeno bergidik ngeri. Setelah dirasa cukup mengerti dengan isi dari E-mail Naruto, Akeno lalu mengunci ponselnya kembali kemudian menaruhnya di tempat semula. Setelah itu Akeno mengenakan lagi sebuah lingerie dan bra yang bisa dia gunakan untuk tidur kemudian dia menyingkirkan sebuah kain yang berperan sebagai 'alas' cairan masturbasinya sehingga tidak membasahi tempat tidurnya lalu akhirnya memposisikan dirinya untuk tidur. Sebenarnya dia ingin menanyakan sesuatu kepada Sona, Rias ataupun Maki karena penasaran, apakah acara masturbasi mereka terganggu oleh E-mail broadcasr dari Naruto tadi.

"Mungkin 1 ronde saja pada hari ini. Seperti kata Naruto-kun, aku harus menjaga staminaku lagipula bukannya tidak mungkin nanti saat berada di penginapan Naruto-kun khilaf." Membayangkan Naruto dan dirinya melakukan berbaga macami aktivitas yang tak senonoh di penginapan sukses membuat Akeno 'on' lagi tetapi dia tidak kembali melanjutkan masturbasinya melainkan tidur.

Flashback off...

"Oh ya! Apa maksudmu dengan mencari harta karun Galileo langsung dari sumbernya? Apa kita akan pergi ke Yunani? Ketempat dimana Kurama menemukan gelang Prometheus?" Saat diberi kesempatan bertanya, Akeno langsung bertanya mengenai maksud dari E-mail Naruto yang beberapa masih belum dimengertinya.

"Ya, dengan begitu bukannya tidak mungkin kita bertemu seseorang yang tak diundang disana." Jawab Naruto atas pertanyaan Akeno. Mengenai pertanyaan Sona sebenarnya dia ingin menjawabnya tetapi dalam kasus itu Naruto membutuhkan ruang khusus, hanya dirinya dan Sona agar Sona mengerti maksud dari semua tindakannya. Pasalnya jika Naruto menjawabnya disini maka adiknya akan heboh karena penjelasan Sona atau lebih tepatnya Black Lotus yang ia selamatkan hidupnya di kasus Tongkat Hitam .

"Jam berapa kita harus berkumpul di bandara Naruto-kun? Lalu apa maksudmu jangan khawatir terhadad visa?" Pertanyaan kali ini dipontarkan oleh sang penegang gelar Da Vinci, Nishikino Maki.

"Etto... jam 9 kita harus sudah berada disana untuk pengecekan barang bawaan. Kalau berangkatnya mungkin kita hanya perlu menunggu sekitar 15 menit. Visanya sudah diatur oleh orangtua kalian masing-masing." Jawab Naruto atas pertanyaan Maki.

"Kalau tidak ada yang bertanya lagi, kalian boleh menghabiskan waktu disini atau pulang ke rumah. Aku ada sedikit urusan dengan kepala sekolah jadi aku tidak akan disini. Seperti biasa, yang terakhir ada disini berarti dialah yang bertugas mengunci ruang klub. Xenovia, kau bisa pulang dulu bersama Naruko dan Ophis kan?." Setelah tidak ada yang bertanya lagi, akhirnya Naruto menutup sesi tanya jawab ini tapi hari ini dia tidak bisa menghabiskan waktu di ruang klub karena kepala sekolah punya urusan dengannya. Maka dari itu dia menyuruh Xenovia pulang bersama Naruko.

"Baiklah. Lagipula ini saat yang tepat untuk kembali merenggangkan ototku yang kembali kaku dengan latihan berat dibawah teriknya matahari, huwaaah! Aku tidak sabar!. Ayo Naruko-chan!" Kata Xenovia bersemangat lalu menarik tangan Naruko meninggalkan ruangan klub diikuti dengan Ophis yang masih memakan camilannya. Meski hanya sekejap tetapi Sona, Maki, Kurama, Ophis, Naruko dan Akeno langsung sweatdrop dengan perkataan Xenovia tadi. Latihan berat dibawah sinar matahari? Di dalam ruangan saja Xenovia tadi sudah seperti zombie bagaimana jika dia banyak bergerak di bawah terik matahari langsung?

"Meski disini sudah sejuk tetapi aku ingin makan parfait di rumah. Jadi aku pulang dulu." Berdiri dari tempat duduknya lalu melemparkan sisa kartu bridgenya diatas meja rapat, Maki kemudian mengambil tasnya lalu pergi keluar ruang klub mengikuti jejak Xenovia, Naruko dan Ophis.

"Ara... sepertinya Okaa-sama membutuhkan bantuan spesialku. Aku juga akan pulang, kalau kesepian telpon aku saja Naruto-kun. Aku bersedia melakukan Sex Pho..." Kata Akeno sembari berdiri lalu mengambil tasnya mencoba untuk menawarkan servicenya pada Naruto namun sebelum dia sempat menyelesaikan promosinya, sebuah tangan telah mencengkram wajahnya. Tangan ini bukanlah tangan seorang laki-laki melainkan perempuan, jadi sudah pasti bukan Naruto.

"Naruto-kun, aku juga akan pulang duluan. Jangan pikirkan perkataan Akeno tadi." Setelah mencengkram wajah Akeno untuk menghentikan ucapan tidak senonohnya, Rias kemudian mengambil tasnya lalu berjalan keluar ruang klub sementara itu Akeno yang wajahnya dicengkram hanya bisa berjalan mengikuti Rias.

Kini isi ruangan itu hanya 3 orang yaitu Sona, Naruto dan Kurama. Naruto? Kenapa Naruto ada disini, bukankah dia ada urusan dengan kepala sekolah? Alasan Naruto tetap berada disini adalah karena dia ingin merapikan ruangan klub. Meski sisa anggota lainnya adalah perempuan tetapi nyatanya mereka jarang sekali bersih-bersih dan malah sukanya mengotori ruang klub.

"Naruto-kun, aku ada sesi pemotretan gravure kecil-kecilan hari ini. Tapi tenang saja, kau bisa melihatku sepuasnya malam nanti." Pamit Kurama kemudian berjalan kearah pintu keluar lalu memberi kecupan jarak jauh dan kedipan mata menggoda kepada Naruto yang masih duduk tenang di kursinya. Meski khawatir jika Sona akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak kepada Naruto tetapi Kurama yakin jika Naruto tidak akan tinggal diam. Memangnya remaja aneh seperti Naruto suka dengan dada rata?

Selepas kepergian Kurama, Sona juga ikut pergi tapi tidak mengatakan apa-apa. Kini tinggal Naruto seorang diri di ruangan klubnya yang kotor dan berantakan. Kursi yang tidak tertata rapi, sampah bungkus makanan diatas meja, kartu bridge diatas meja rapat dan berbagai macam kesemrawutan lain di ruangan ini cukup untuk membuat Naruto mengecap ruangan ini sebagai ruangan klub paling berantakan se area Kuoh Gakuen. Memang benar jika keseharian mereka hanya bermain-main disini tetapi jika seperti ini bukankah sudah keterlaluan? Apalagi yang membuat dan membiarkan hal ini terjadi adalah para anak gadis.

"Haahh... rasanya aku ingin menghukum mereka semua untuk membersihkan halaman Kuoh Gakuen atau mungkin kolam renang sekolah. Tunggu dulu, membersihkan kolam renang? Haaah... kenapa hidupku semakin mirip dengan anime ecchi." Ratap Naruto 2 kali yaitu pada ketidak tegaan dirinya untuk menghukum para anggota klubnya dan pada nasibnya yang semakin mirip dengan anime ecchi namun lebih banyak dukanya.

Skip Time! (04.00 PM)

Atap Kuoh Gakuen

Semilir angin yang berhembus lumayan kuat di atap Kuoh Gakuen membuat satu-satunya orang yang berada disana memegang roknya agar tidak tersingkap. Gadis itu kini sedang berpegangan pada pagar lalu melihat keindahan kota tempat tinggalnya dari atap Kuoh Gakuen. Terlalu menikmati pemandangan, gadis itu tidak sadar jika kacamata yang dipakainya perlahan-lahan melorot hingga akhirnya terjun bebas dari atap sekolah bergengsi itu.

Sona yang baru saja kehilangan benda yang sangat diperlukan bagi penderita mata minus seperti dirinya tidak terlalu panik jika kacamatanya jatuh ataupun hancur saat dia sedang berada di sekolah karena dia membawa lensa kontak untuk berjaga-jaga akan hal ini. Membuka tas lalu mengambil lensa kontaknya, kemudian Sona memasang alat bantu itu di matanya dengan hati-hati. Setelah selesai kini dia bisa melihat pemandangan sore hari kota Kuoh lagi dengan jelas.

Tetapi memakai lensa kontak di sebuah atap bangunan membuat Sona mengingat satu kejadian dalam hidupnya. Kejadian itulah yang mendasari pertanyaannya kepada Naruto setelah Naruto masuk ke ruang klub dengan setengah telanjang.

Flashback...

Malam itu adalah malam dimana pihak kepolisian kota Kuoh bersama seorang detektif misterius yang menjuluki dirinya Black Lotus sedang mencoba menangkap seorang pembunuh berantai yang meneror kota dengan cara membunuhnya yang aneh yaitu dengan menusuk lalu menyalib korbannya dengan tongkat hitam, yang lebih aneh lagi adalah korbannya bukanlah masyarakat biasa namun mereka para penjahat yang masih berkeliaran di jalan. Sirine mobil polisi tak terdengar karena memang para polisi tidak menggunakan mobil mereka untuk penggerebekan ini namun yang menjadi pertanda jika jumlah mereka banyak adalah suara derap langkah kaki yang terdengar.

Pencetus ide dari penyergapan ini, Black Lotus kini tengah mengikuti barisan polisi yang langsung dipimpin oleh kepala kepolisian kota Kuoh. Idenya adalah dengan memberikan umpan seorang penjahat yang sebenarnya adalah polisi untuk melakukan kejahatan dan sudah tertangkap basah namun dilepaskan kembali oleh pihak polisi. Jika si pembunuh tongkat hitam memang berniat menghabisi setiap penjahat yang berkeliaran maka sudah pasti targetnya adalah si agen karena keberadaannya yang sudah sangat jelas. Jadi dengan menyuruh agennya berjalan-jalan saat malam hari di tempat sepi maka hal itu akan memancing perhatian si pelaku untuk membunuhnya.

Pembunuhan tidak mungkin terjadi di sepanjang jalan, maka dengan logika itu Black Lotus memprediksi jika pembunuh tongkat hitam akan menyeret si agen ke bangunan sepi terdekat dan bangunan itu adalah gudang yang kini sedang disergap oleh puluhan polisi dari pihak kepolisian Kuoh. Tidak mau membahayakan keselamatan sang agen, Black Lotus pun memberi instruksi kepada Iruka agar penyergapan bisa dilakukan secepatnya.

Mengerti maksud dari Black Lotus, Iruka pun membagi timnya menjadi 4 tim yang mengepung berdasarkan mata angin dan masuk melalui 2 pintu dari arah depan, belakang dan 2 ventilasi dari arah kanan, kiri.

"Jangan bergerak!" Bersama dengan teriakan itu, Iruka bersama keempat tim kecilnya masuk ke dalam gudang tempat pembunuh berantai itu membawa agen mereka. Setelah masuk, mereka semua dikejutkan dengan keadaan gudang yang kosong melompong dan hanya menyisakan agen dari polisi di tengah-tengah gudang dalam kondisi pingsan.

"Perhatian! Semua tim menyebar di sekitar area ini!" Sadar jika pelaku telah melarikan diri, Iruka kemudian memerintahkan bawahannya untuk memeriksa gudang ini lalu karena masih tak menemukan hasil akhirnya Iruka bersama keempat timnya menyebar untuk mencari pembunuh berantai meninggalkan Black Lotus yang masih mengobservasi bagian dalam gudang untuk mengetahui bagaimama cara pembunuh berantai itu melarikan diri.

Akhirnya setelah lama mengobservasi gudang itu, Black Lotus menemukan fakta jika di langit-langit gudang ada 2 buah ventilasi yang cukup besar dan muat untuk dimasuki oleh orang dewasa lalu dengan inisiatifnya dia mencari tangga di sekitar gudang guna naik ke atap gudang. Setelah lama mencari akhirnya Black Lotus menemukan sebuah tangga yang berada di samping pintu belakang gudang kemudian dia membawanya masuk meski harus sedikit kerepotan karena ukuran tubuhnya yang kecil sedangkan tangga itu cukup panjang.

Setelah perjuangan beratnya dalam memasukkan tangga ke dalam gudang kini Black Lotus harus mendirikan tangga ini seorang diri. Dengan memaksakan tubuh yang terbilang kecil kemudian Black Lotus mendirikan tangga 1 arah tersebut hingga akhirnya dapat mencapai salah satu saluran ventilasi yang ia maksud.

"Dia (Tongkat Hitam) belum membunuh, itu artinya dia masih memiliki setidaknya 2 tongkat hitam sebagai senjata. Jika ternyata di atap memang benar ada dia maka aku akan mati." Guman Black Lotus dbalik topengnya yang lebih mirip dengan perban rumah sakit. Kemudian dia memikirkan bagaimana caranya menggertak si pembunuh agar tidak melawan terhadapnya atau dengan kata lain dia sekarang sedang memikirkan senjata apa yang cukup untuk membuat pembunub berantai takut terhadapnya.

"Senjata yang aku butuhkannsekarang adalah... senjata api? Sudah pasti tapi dimana aku harus mencarinya?" Kata Black Lotus kebingungan. Tapi kebingungannya tersebut tak bertahan lama sebab saat otaknya memikirkan senjata api dan matanya tanpa sengaja memandang seorang agen dari polisi sedang pingsan. Agen polisi dan senjata api, apa hubungan kedua kata tersebut? Tentu saja pemilik dan benda. Jika dia adalah agen dari kepolisian yang ditugaskan menyamar dan terjun ke lapangan secara langsung maka sudah pasti dia memiliki senjata untuk proteksi diri.

Setelah itu Black Lotus kemudian menggeledahi agen polisi yang sedang pingsan di gudang tersebut lalu akhirnya dia menemukan sebuah senjata api bertuliskan Desert Eagle di salah satu sakunya. Dengan begini semua persiapan sudah siap, sekarang Black Lotus memanjat tangga yang telah dia dirikan sendiri lalu masuk ke ventilasi udara yang melengkung 90 derajat sebelum akhirnya dia keluar dan menemukan dirinya sudah berada di atap gudang.

Melihat seseorang yang berjarak kurang lebih 5 meter di depannya Black Lotus tidak tahu harus berekspresi seperti apa karena di depannya kini terlihat seorang pemuda dewasa yang wajahnya memiliki banyak tindikan sedang menatapnya dengan tajam. Tak lupa masing-masing tangan pemuda itu memegang sebuah besi hitam yang biasa digunakan oleh pembunuh berantai akhir-akhir ini untuk membunuh dan menyalib korbannya. Black Lotus bukanlah orang bodoh, dengan keadaan yang ada saat ini saja dia sudah dapat menebak jika pemuda itu adalah sang pembunuh tongkat hitam yang mengadili seseorang yang diduga jahat, entah itu benar-benar seorang kriminal atau tidak.

"Buang senjata itu lalu tiarap!" Perintah Black Lotus pada pria dewasa di depannya sembari menodongkan Desert Eagle pada orang di depannya karena dia tidak ingin berurusan langsung dengan sang pembunuh berantai lebih lama lagi.

Tanpa banyak bicara, pria yang merupakan tersangka atas banyak pembunuhan di kota Kuoh itu membuang salah satu tongkat besinya. Mungkin kata membuang kurang tepat karena yang ia lakukan adalah meleparkannya kepada Black Lotus tepat menuju arah ulu hatinya berada. Sedangkan Black Lotus yabg melihat itu langsung menarik pelatuk pistol lalu menembakkannya tetapi tidak terjadi apa-apa. Black Lotus yang melihat seringai'an di wajah sang pembunuh pun sadar jika dia telah ceroboh karena tidak memeriksa kembali barang yang ia temukan di tempat yang sama dengan pelaku kejahatan.

Disaat Black Lotus sedang shock berat, tongkat besi berwarna hitam itu semakin dekat menuju arahnya. Black Lotus atau yang lebih dikenal sebagai Sona Sitri pada kehidupannya sehari-hari kemudian menutup matanya rapat-rapat kala dia sudah sadar, tongkat besi itu sudah berjarak kurang lebih 1, 5 meter dengan ulu hatinya. Tetapi sesaat kemudian dia merasa ada sepasang tangan yang memegang kakinya lalu menariknya ke belakang sehingga membuatnya langsung dalam posisi tiarap di tempat. Meski terasa menyakitkan namun rasa sakit ini tidak sebanding jika tongkat besi hitam yang dilemparkan sang pembunuh mengenai ulu hatinya.

Setelah tongkat yang dilemparkan sang pembunuh berantai melewatinya, Black Lotus kemudian berdiri lagi lalu menengok ke arah belakang untuk melihat seseorang yang telah menyelamatkannya. Saat berbalik ke belakang, Black Lotus mengira jika yang ditemuinya adalah Iruka namun yang terjadi adalah saat Black Lotus menengok ke belakang, mukanya hanya berjarak beberapa centimeter dengan seseorang bertopeng hitam bergambar mulut menyeringai tepat di bagian mulut si pemakai. Orang bertopeng yang baru saja menyelamatkan dirinya tadi memakai setelan serba hitam mulai dari celana pendek selutu, kaos hingga mantel yeng mirip seperti jubah karena tidak dikancingkan. Melihat pemandangan yang sedikit menyeramkan bagi anak kecil tepat di depan matanya membuat Black Lotus kaget sampai-sampai dia jatuh ke belakang dengan pantat terlebih dulu.

"Sepertinya kau kesulitan di kasus kali ini, Black Lotus." Kata pemuda bertopeng itu sambil melihat ke arah Black Lotus yang sedang meringis kesakitan. Sedangkan Black Lotus yang mendengar itu hanya diam saja tanpa menjawab apapun. Matanya terus terpaku pada pemuda bertopeng yang ia tahu merupakan satu 'spesies' dengannya.

Melihat kedua orang asing bertopeng itu lengah, sang pembunuh yang memiliki nama asli Yahiko itu kemudian melemparkan satu tongkat besinya lagi kearah orang asing bertopeng seperti mumi namun laju tongkat itu dihadang oleh badan orang asing dengan topeng bergambar mulut menyeringai disertai deretan gigi runcing.

Meringis kesakitan dibalik topengnya karena menerima serangan Yahiko menggunakan badannya, Kaneki kemudian mengambil tongkat besi hitam yang tergeletak di depannya setelah mengenai tulang rusuknya. Lalu tanpa basa-basi lagi, Kaneki langsung berlari menyongsong Yahiko dengan tangan kanan yang memegang tongkat besi hitam. Yahiko yang melihat seseorang bertopeng datang ke arahnya yang berjarak kurang dari 5 meter langsung menarik keluar sebuah tongkat hitam lain yang ia sembunyikan namun sebelum sempat melemparkanmya kepada orang itu, tangan Yahiko terpaksa melepaskan tongkat hitam itu karena sebuah hantaman benda tumpul yang mengenai tangannya.

Kaneki yang telah menghantamkan tongkat hitamnya di tangan Yahiko kemudian memposisikan tongkat itu di depan dadanya secara horizontal lalu mendorong Yahiko untuk terjun bebas bersama dari atap dengan Yahiko berada di bawah, Kaneki berada di atas dan tongkat hitam itu berada diantara mereka lebh tepatnya tepat di posisi tulang rusuk sebelah kiri Kaneki. Black Lotus yang melihat kejadian itu langsung berteriak karena kenekatan aksi Kaneki tadi.

Braak!

Suara benda yang jatuh dari ketinggian mengisi sunyinya malam hari di bangunan gudang yang menjadi tempat penyergapan polisi setempat. Dari samping gudang tersebut, terdapat 2 tubuh yang 1 sedang tergeletak di tanah dam yang satunya lagi sedang memegangi tulang rusuknya yang terasa sangat sakit setelah terjun bebas dari atap gudang. Yahiko yang berada di bawah pun langsung pingsan karena kepalanya terbentur tanah sedangkan Kaneki langsung berdiri lagi lalu memegangi dada kirinya tepat dimana jantungnya berada.

Mendengar suara derap langkah kaki polisi yang kembali ke gudang tersebut, membuat Kaneki langsung kabur dari TKP karena bagaimanapun kasus ini adalah bagian Black Lotus bukan dirinya jadi pihak kepolisian harusnya menyorot Black Lotus bukan dirinya yang seenaknya sendiri mencampuri urusan orang lain.

Setelah 4 tim polisi yang dibagi oleh Iruka kembali dari pencariannya, Iruka yang kala itu ikut mencari sang pembunuh menemukan sesuatu yangmenarik yaitu sebuah tongkat yang tertancap ke tanah di bagian samping gudang tempat mereka menyergap sang pembunuh, kemudian Iruka memanggil seluruh anak buahnya guna mengecek tongkat misterius itu bersama dengan dirinya.

Tapi alangkah terkejutnya Iruka dan anak buahnya saat mereka mencapai tempat tongkat itu tertancap karena ternyata tongkat itu tertancap di sebelah kiri tubuh sang pembunuh berantai yang saat idltu dalam kondisi tak sadarkan diri.

"Iruka-san!" Iruka yang mendengar namanya dipanggil oleh suara yang ia kenali sebagai suara Black Lotus kini sedang celingak-celinguk guna mencari keberadaan orang itu namun tidak juga ia temukan.

"Diatas sini!" Setelah mendengar perkataan ini, Iruka langsung melihat ke arah atap gudang lalu akhirnya ia menemukan orang yang memanggilnya yaitu Black Lotus.

"Apa yang sebenarnya terjadi?!" Tahu jika Black Lotus punya penjelasan tentang tubuh sang pembunuh yang pingsan di samping gudang, Iruka kemudian menanyakannya kepadanya.

"Ini ulah Kaneki!" Setelah mendengar jawaban dari Black Lotus, Iruka tidak bisa berkata apa-apa kecuali menarik lalu menghembuskan nafasnya lelah.

Flashback END!

Mengingat kejadian itu membuat Sona menyunggingkan senyum kecutnya karena dengan hantaman sekeras itu, ia yakin jika tubuh Naruto yang kala itu melindunginya tidak hanya menerima rasa sakit namun juga kerusakan. Dan kerusakan yang sudah terlihat jelas di matanya saat melihat Naruto dalam keadaan setengah telanjang tadi adalah tulang rusuk yang bengkok.

'Apakah menghilangkan kutukan 'kecerobohan' milik pemegang Galileo itu hal yang mustahil? Karena jika aku masih memilikinya dan Naruto-kun berada di dekatku itu berarti aku hanya akan menjadi beban baginya.' Batin Sona menggalau sendirian di atap Kuoh Gakuen.

"Dingin!" Namun sepertinya Sona tidak sendiri karena pipinya merasakan sebuah benda berbentuk tabung dan bersuhu sangat rendah sehingga membuatnya kedinginan.

Melihat siapa pelaku dalam aksi jahil ini membuat Sona tersentak tak percaya karena yang dilihat matanya adalah Naruto yang sedang menyodorkan sebuah kopi kalengan dari mesin penjual di koridor Kuoh Gakuen. Sementara itu Naruto yang melihat Sona seperti kaget karena kehadirannya hanya tersenyuk maklum.

"A-ada apa kau kesini Naruto-kun?" Tanya Sona dengan sedikit tergagap sembari menerima kopi kalengan dari Naruto lalu meminumnya sampai habis. Ia sendiri juga sedikit bingung kenapa dia diberi kopi kaleng?

"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu mencemaskan tulang rusukku. Meski bengkok 1 tapi aku masih punya banyak yang sejenisnya jadi aku baik-baik saja." Jawab Naruto atas pertanyaan Sona. Tidak nyambung? Memang benar, yang dijawab Naruto bukanlah pertanyaan Sona saat ini namun pertanyaan Sona saat mereka berada di dalam ruang klub.

"Be-begitu ya? Syukurlah jika Naruto-kun tidak apa-apa." Sona yang mendapat jawaban seperti itu sangat kaget pasalnya ia mengira jika Naruto tidak akan pernah mau menjawab pertanyaannya tadi saat mereka berada di ruang klub. Namun jawaban Naruto ini jugalah yang membuat Sona khawatir karena matanya tidak salah melihat tulang rusuk yang tepat berada di depan jantung Naruto telah bengkok ke atas karena tekanan saat jatuh dari atap gudang dengan tongkat besi hitam yang semakin memusatkan tekanannya.

Setelah itu Naruto kemudian memposisikan dirinya disamping Sona dengan pose yang sama dengan Sona yaitu kedua tangannya memegang pembatas dan tubuhnya sedikit condong ke depan. Kini jika dilihat dari belakang maka yang terlihat adalah sepasang sejoli yang sedang berdiri di pembatas atap lalu melihat ke arah kota Kuoh di waktu petang hari untuk memadu kasih.

Namun tak lama kemudian Sona yang tak kuat menahan kekhawatirannya langsung menghambur memeluk Naruto, sedangkan Naruto yang tiba-tiba dipeluk oleh Sona masih bertahan dalam pose 'memandang kota' tapi setelah mendengar isakan keluar dari arah Sona yang sedang memeluknya, ia langsung memegang kedua bahu Sona lalu menjauhkannya dari dirinya sehingga kini ia bisa melihat wajah Sona yang berlinang air mata.

"Hiks... hiks..." Suara isakan sang oemegang gelar Galileo itu seakan menyayakmt hati Naruto karena ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan selalu melindungi para pemegang gelar di sekitarnya karena menurutnya dialah yang mempunyai paling banyak pengalaman dari mereka semua.

"Tenanglah Sona, aku pasti baik-baik saja." Kata Naruto mencoba menenangkan Sona. Ia tahu apa yang dikhawatirkan Sona dan ia sendiri tak bisa menyalahkan Sona jika dia khawatir tentang keselamatannya (Naruto). Pasalnya 'kutukan kecerobohan' yang dimiliki Sona biasanya mendatangkan masalah bagi dirinya sendiri (Sona).

"Hiks... sekarang memang baik-baik saja tapi bagaimana jika ada jebakan yang aktif karena aku? Bagaimana jika Madara datang ke tempat itu dan menyakiti kalian semua? Bagaimana jika mereka semua terluka karena aku? Bagaimana jika kau terluka lagi karena aku, Naruto-kun! Hiks... hiks..." Di atap Kuoh Gakuen yang sepi, Sona mengeluarkan seluruh emosi kekhawatirannya akan perjalanan dalam rangka menemukan kunci untuk membuka kotak pandora.

Setelah Sona selesai mengeluarkan seluruh emosi negatifnya, Naruto langsung memeluk Sona lalu menyusupkan kepala Sona di dada bidangnya yang tertutup oleh blazer dan baju seragam Kuoh Gakuen, mencoba untuk membuatnya sedikit tenang. Setelah Sona tenang, Naruto kemudian memegang kedua bahu Sona lalu menjauhkannya dari dirinya sehingga kini mereka berdua kembali ke posisi tadi. Lalu tanpa disangka-sangka oleh Sona sebelumnya, tangan kanan Naruto menepuk-nepuk kepalanya seolah-olah dia adalah seorang anak kecil lalu kemudian Naruto tersenyum lembut ke arahnya sekaligus membuat Sona blushing.

"Aku akan melindungi kalian semua meski jika itu artinya aku harus menghadapi kekuatan sebuah bintang." Sekali lagi, Sona dibuat tercengang dengan pernyataan Naruto kali ini. Karena tak punya pilihan lain, ia kemudian menundukkan wajahnya yang sudah berubah seperti kepiting rebus untuk kedua kalinya secara berturut-turut.

Naruto yang tak punya urusan lagi dan berniat untuk pulang harus menghentikan langkahnya karena bagian bawah blazernya sedang dipegang oleh tangan Sona. Sementara itu Sona yang merupakan pelaku dari penghambatan itu hanya bisa tentunduk malu sambil membuang muka khas gaya tsundere.

"Bisakah kita disini sebentar lagi? Temani aku melihat pemandangan ini." Kata Sona masih dengan gaya khas tsundere yabg membuat Naruto sangat ingin untuk mencubit pipinya yang berwanrna kemerah-merahan.

"Ya, tentu saja. Apa kau masih perlu mengistirahatkan pantatmu?" Jawab dan tanya balik Naruto disertai seringai mesumnya. Sementara itu Sona yang sadar maksud perkataan Naruto langsung duduk di lantai atap dengan posisi kaki membentuk huruf W. Mengistirahatkan pantat? Akan lebih mudah memahaminya jika membayangkan apa yang dilakukan Akeno sebelum mendapat E-mail dari Naruto tetapi bukan di vagina melainkan pantat. Lalu jangan lupakan juga soal alat bantu yang berupa tali dengan benda-benda bulat mirip dengan bola berukuran kecil.

"Huwaaah! Aku benci ini!" Teriak Sona melampiaskan kekesalannya sementara itu Naruto yang menjadi biang keladi atas teriakan ini hanya bisa tertawa di sebelah Sona sambil meyakinkan Sona jika hal seperti itu wajar untuk remaja seusia mereka.

~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~

Chap 11: END!

A/N: Mulai sekarang saya hanya punya sedikit waktu untuk mengetik kelanjutan fanfic ini jadi jangan kaget jika update akan lemot.

Dan juga saya ingin menjelaskan jika para wanita yang suka sama Naruto itu gak langsung suka sama dia melainkan butuh proses. Yaitu:

·Naruko: berawal dari rasa kagumnya dengan Naruto kemudian dia menggoda Naruto tapi akhirnya malah dia yang tergoda dengan Naruto. *?*

·Maki: Awalnya hanya rasa penasaran sama Nano, lalu kemudian kagum dengan Naruto saat dia menyanyikan lagu Gallows Bells saat oelajaran Kurenai-sensei dan akhirnya suka saat Naruto menyelamatkannya dari kenja no game di galeri dan membatalkan pertunangannya.

·Akeno: Awalnya malah musuhan sama Naruto lalu akhirnya dia melihat sisi lain Naruto lalu tertarik dengannya. Rasa sukanya sendiri datang karena Naruto berhasil mengubah sedikit sifatnya.

·Rias: Hampir sama dengan Akeno, tapi rasa kagumnya muncul saat Naruto mengalahkannya dalam permainan catur lalu rasa sukanya muncul disaat yang hampir bersamaan dengan rasa kagumnya.

Sona: Awalnya juga musuh tapi mulai berbaikan saat dia tahu kalo Kaneki adalah Naruto lalu rasa kagumnya muncul saat kasus taksi pembunuh lalu kemudian rasa sukanya muncul disaat sadar jika Naruto adalah orang yang pernah menyelamatkannya.

·Ophis: Awalnya musuh (lagi) tapi mulai berubah sejak Naruto mengalahkannya dalam duel game dan menyuruhnya untuk menjadikan Naruto sebagai tujuan hidupnya.

·Kurama: Sekilas emang mirip musuh tapi sebenarnya dia yang paling fanatik sama Naruto. Dimulai dari rasa sayangnya pada pemegang gelar Einstein sebelum Naruto lalu akhirnya rasa sayang itu diwariskan kepada Naruto. Rasa sayang itu lama-kelamaan berubah jadi rasa cinta saat Naruto menyelamatkannya bersama dengan Sekai.

Yah... emang sih kebanyakan dari mereka berawal dari rasa kagum saat Naruto menyelesaikan berbagai macam persoalan yang tidak bisa mereka hadapi sendiri. Jadi jangan samakan fic ini dengan fic lain yang baru ketemu langsung suka karena fisik.

Q: Apa Maki,Sona,Ophis,Kurama,Xenovia dan Rias juga suka masturbasi?

A: Untuk Maki,Sona,Rias,Kurama jawabannya iya tapi gak terlalu sering,akeno juga gak terlalu sering. Alasannya adalah mereka stress mikirin permasalahan yang bisa disebabkan oleh kotak pandora jadi daripada saya buat mereka jadi pecandu obat-obatan penenang lebih baik gini,hitung-hitung juga teaser untuk seri Majikoi: Extra Edition. Untuk Ophis dan Xenovia enggak.

Q: Ini arc siapa sih sebenernya?

A: Madara,tapi Madara aja yang jarang nongol.

Q: Berapa banyak seri Maji de Watashi ni Koi Shinasai yang udah dipikirkan author?

A: 9-11 seri. 5 seri normal (generasi Naruto dan Sekai), 2 seri spin off yang bakal bongkar abis-abisan pemegang gelar sebelum Naruto dkk dan 2 seri 'Re' yang settingnya ribuan tahun setelah generasi Naruto dan Sekai. Dan 9 itu bakal jadi 11 jika saya buat seri tambahan yang memuat tentang 'Route XX' yaitu rute dimana Naruto gak bisa bangkit setelah kehilangan Hinata dan pastinya bakal berakhir bad ending ever (mungkin cuman 1 oneshoot) dan 'Classic' yang kembali menceritakan tentang Naruto dkk tapi musuh pemegang gelar udah gak ada.

Q: Izuna kesannya lemah banget,gimana tuh?

A: lemah? Dia boss terakhir yang bakal sukses membuat Naruto kehilangan tangan kanan dan kaki kanannya.

Nano, Log Out