Disclaimer:

All character (minus OC) © Masashi Kishimoto

.

.

Happy Reading!

.

.

Pekan-pekan berikutnya hanya dilewati dengan rutinitas Ino yang biasa, yakni bekerja dan pulang. Sebenarnya, awal Ino kembali bekerja sejak kejadian itu, dia agak terkejut karena bosnya tak mengatakan apa pun seputar hari dimana dia dipergoki sedang bersama Shikamaru di restoran. Neji memang tidak punya alasan untuk melakukan itu tapi seolah sadar, Ino tahu kalau bosnya merasa penasaran dan itulah kenapa Ino merasa aneh jika tak menanyakannya.

Di samping itu, Ino tak merasakan kerisauan yang berarti kecuali tentang hari itu. Sambil menyelesaikan laporan terakhir yang ditugaskan Neji yang tadi siang meninggalkan kantor untuk suatu urusan, untuk kesekian kalinya pemilik manik sky blue itu menghela napas. Ino khawatir bosnya itu akan kembali ke kantor dengan terlambat dan Ino harus menyerahkan laporan itu langsung pada Neji mengingat sepenting apa laporan yang sedang dikerjakannya ini. Benar saja, jam menunjukkan pukul 18.00 dan Neji tak kunjung kembali, Ino segera mempersiapkan barang-barangnya untuk segera pulang seandainya Neji kembali dan sudah menerima laporannya. Ino berjalan keluar kantor menuju toilet. Di lorong-lorong yang dilewatinya, Ino menyadari sudah tak ada siapa pun yang masih di kantor. Ino menghela napas lagi, sudah biasanya Ino dan Neji menjadi orang terakhir yang meninggalkan pintu utama gedung.

Saat Ino keluar dari toilet, dia melihat Neji memasuki ruang kantor dan Ino langsung berlari kecil menyusulnya. Saat Ino tiba dan membuka pintu kantor, dilihatnya Neji sedang berdiri di samping kursinya memandang ke luar jendela gedung. Ino menyadari kalau ada yang aneh, dia berpikir mungkin sesuatu terjadi pada Neji. Ino pun berdehem untuk menarik perhatian Neji, dan saat Neji menoleh padanya, Ino dapat melihat wajah Neji yang agak menyedihkan, mungkin bisa dibilang… habis menangis? Ino mulai berpikir sebaiknya meninggalkan bosnya sendirian, maka itu dia segera mengambil dokumen untuk diserahkan.

"Hyuuga-sama, ini laporan-" Ino mengerjapkan mata dan napasnya tercekat. Raut wajah pemuda itu mulai sulit didefinisikan
"Hyuuga-sama, ada apa?"

Grep

"Maaf, hanya sebentar, aku janji." Neji menggunakan kedua lengannya untuk menyelimuti kedua pundak Ino dalam sebuah pelukan.

Ino tak tahu harus bereaksi seperti apa mengingat dirinya sendiri tak pernah berpikir kalau Neji akan melakukan itu namun setelah Ino ingat lagi isyarat mata lavender itu tadi; mata lavender itu menyiratkan kesedihan, kepahitan, bahkan kemarahan. Ino mencoba mengerti.

Bahkan dalam kecanggungan, Ino mencoba tenang dan walau ragu, Ino mengangkat tangannya, untuk menepuk lembut punggung pemilik manik lavender itu. Bagi Ino, mungkin ini tak banyak membantu, namun setidaknya ini akan membuat Neji merasa bahwa dia memiliki dukungan dari Ino dan semuanya akan baik-baik saja. Seiring berjalannya waktu, Ino mulai berpikir kalau Neji pada dasarnya sama dengan laki-laki lain yang juga butuh sandaran dan kehangatan, itu membuat Ino agak sedih, menurutnya mungkin pemuda itu kesepian. Pertemuan yang selama ini dilakukan Neji dengan wanita-wanita itu tidak meyakinkannya bahwa ada seseorang untuknya, oleh karena itu Neji tak memiliki siapa pun yang bisa diandalkan.

Setelah beberapa saat, Neji melepas pelukannya dan segera mengalihkan pandangan ke arah lain, wajahnya mulai memerah. Sebenarnya dia tidak bermaksud memeluk Ino, Neji tahu Ino sedang menunggunya untuk diberikan laporan yang ditugaskan untuknya namun entah kenapa sejak melihat perempuan itu, Neji tergerak untuk memeluk peremuan itu, Neji membutuhkan Ino. Dan benar saja, sejak Ino menepuk pelan punggungnya, Neji mulai merasa lebih baik. Tetap saja, Neji merasa jahat karena melakukan itu tiba-tiba tanpa meminta izin dulu atau semacamnya.

"Terimakasih dan maaf," tutur Neji pelan. Ino tersenyum tipis.

"Bisakah kuserahkan laporanku?"

"Kalau begitu kemarikan. Kau sudah bekerja keras," jawab Neji yang kemudian menerima laporan itu dalam genggamannya.

"Anda baik-baik saja, Hyuuga-sama?" tanya Ino yang masih melihat kesedihan yang tak bisa manik lavender di depannya sembunyikan.

"Aku baik-baik saja." Neji tersenyum tanpa menyadarinya. Seakan otak Neji mengintruksi dirinya untuk menjawab namun kedua sudut bibirnya terangkat tanpa perintah.
"Sudah hampir malam, kau harus pulang."

Ino mengangguk walau tak yakin untuk meninggalkan bosnya. Namun wanita pirang itu tetap menggenggam tas jinjingnya dan meninggalkan ruangan.

Neji menghela napas panjang dan berjalan ke kursinya untuk duduk. Pemuda berambut panjang itu meletakkan laporan itu di meja dan menyandarkan kepalanya pada kursi sebelum memejamkan mata.

Neji lelah setelah menghadiri pertemuannya dengan sang ayah. Setiap kali dia melakukannya, dia selalu berakhir dengan cara yang sama. Bukan hanya tekanan yang dia terima. Seakan-akan Neji berhenti melihat sosok Hyuuga Hizashi sebagai ayahnya dan lebih menganggapnya sebagai bos. Ayahnya meninggalkannya dengan perusahaan di Jepang sebelum pindah ke Eropa untuk mengurus perusahaannya yang lain. Tentu saja, maksud Hizashi adalah supaya putra tunggalnya itu mengasuh dan memperluas jangkauan perusahaannya di negeri Sakura itu. Itu juga yang selalu menjadi tujuan Neji walaupun ayahnya tak pernah mengatakannya secara langsung.

Tapi sekarang, Neji lebih tertekan mengingat ayahnya baru saja memintanya untuk memperluas perusahaannya sampai ke tujuh negara dan diakui sebagai perusahaan logistik paling sukses. Walaupun, Hizashi sempat puas karena Neji sudah mendirikan dua cabang di Jepang, yakni di Hokkaido dan Okayama.

Neji yang mulai muak segera 'kabur' dari pertemuan makan siang mereka, sekaligus sakit perut. Lagipula semua hal yang dikatakan Hizashi bukan cuma tentang target bisnis mereka, tapi juga tentang pertemuan Neji dengan setiap wanita. Hizashi bahkan menyadari sisi itu yang juga menunjukkan ketidakseriusan Neji dalam mengurus bisnis mereka. Neji ingin bereaksi membela diri dan mengatakan bahwa semua itu karena kekurangan cinta dari orangtuanya, tapi Neji tak punya keberanian untuk mengatakannya, tidak akan pernah punya.

Neji tahu pertemuannya dengan wanita-wanita itu juga tak akan memberikan cinta apa pun yang dia butuhkan, lagipula Neji juga tak ingin menganggap setiap hubungan dengan wanita-wanita itu serius mengingat dirinya yang tidak percaya akan istilah 'membangun sebuah keluarga'. Neji selalu yakin bahwa keluarga yang sempurna tidak pernah ada. Dengan demikian Neji tak pernah mencoba untuk memiliki anak di dunia yang miskin cinta dan terkutuk ini. Bagus, sekarang Neji mulai sakit kepala karena semua pikiran dan kerisauan ini.

"Yamanaka-san," panggil Neji saat merasa tidak enak, namun seketika dia ingat kalau di ruangan ini dia sendirian.

"Ya, Hyuuga-sama?" Sebuah suara menyahut dan secepatnya Neji bangkit dari kursinya saat melihat Ino memasuki ruangan, mendekati mejanya dan meletakkan secangkir teh di sana.
"Minumlah, itu akan membuat anda merasa lebih baik," tutur Ino seraya tersenyum.

"Kau masih di sini?" tanya Neji tak percaya. Dia tak tahu kalau Ino masih ada bersamanya.

"Saya tahu anda sedang dalam masalah jadi saya buatkan anda teh saja. Jika ada hal yang mengganggu, anda bisa mengandalkan saya, Hyuuga-sama. Kewajiban saya sebagai asisten anda adalah memastikan semua kebutuhan anda tersedia serta mencarikan solusi untuk masalah yang menimpa perusahaan. Tetapi, untuk sekarang saya di sini sebagai teman," ujar Ino yang tak pernah berhenti membuat pemuda Hyuuga itu heran.

"Bukankah putramu menunggumu?" tanya Neji yang kembali duduk dan bertopang dagu.

"Shikamaru menjaganya dan sudah kutelepon dia untuk mengatakan kalau aku akan pulang terlambat," jelas Ino.

"Begitukah? Bukankah dia akan cemburu kalau kau menghabiskan waktumu denganku?" Neji menyeringai menggodanya namun di waktu yang sama Neji juga penasaran dengan jawaban dari pertanyaannya.

"Kenapa cemburu? Sejauh ini, hanya ada sebuah hubungan bos-pegawai di antara kita, tidak lebih dan kupikir itu tak akan berubah," jawab Ino dengan nada yakin, yakin dengan kata-katanya. Seringaian yang sebelumnya merekah di bibir Neji perlahan luntur oleh kata-kata itu, Neji hanya menatap Ino. Kemudian menghela napas dan bersandar di kursi.

"Mau aku antar pulang? Sepertinya terlalu jahat jika aku membuat putramu menunggu." Neji bangkit dari kursinya.

Ino merasa perlakuan bosnya agak berbeda. Walau begitu, Ino mengangguk setuju. Benar saja, Neji merasa tidak berhak membuat anak laki-laki di sana menahan kantuk demi menunggu ibunya pulang. Anak seperti Inojin...

Tidak boleh merasakan hal yang pernah dialami Neji di masa kecil.

.

.

.

Ino turun dari mobil disusul Neji. Hal itu membuat Ino mengernyit heran, menurutnya bosnya tak harus mengantarnya sampai ke dalam apartemen. Namun Neji bersikeras ikut ke sana. Membuat Ino hanya mengangguk paham. Sejak keluar lift, Neji terus mencuri pandang ke arah perempuan pirang itu. Neji merasa tak punya alasan untuk tak tersenyum. Apakah senyuman yang kali ini juga spontan tanpa intruksi otak? Entahlah.

Pada akhirnya, senyuman pemuda berambut panjang itu luntur begitu pintu apartemen Ino dibuka seorang laki-laki.

"Ino? Okaeri nasai," sambut pemuda yang rambutnya dikuncir ala nanas yang kita kenal dengan nama Shikamaru.

Neji dapat melihat senyuman manis Shikamaru merekah teguh hanya untuk perempuan yang berdiri di sampingnya. Ino membalas senyum Shikamaru dan mengangguk.

"Terimakasih banyak, Shikamaru. Hyuuga-sama, masuklah," Ino melangkah masuk bersama dua laki-laki itu.

"Okaa-chan!" Sudah pukul 20.00. Benar dugaan Neji, bocah bernama Inojin itu masih terjaga menanti ibunya.

"Inojin-kun! Tadaima," Ino menarik Inojin dalam pelukannya yang erat. Inojin mulai tertawa saat ibunya terus mencium pipi putihnya.

"Oji-san!" Inojin akhirnya melepas pelukan ibunya dan berlari kecil ke arah Neji yang menatap adegan pelukan ibu-anak itu dengan senyuman -super- tipis.
"Oji-san, akankah kau datang ke pestaku?"

"Pesta?" tanya Neji bingung. Apa yang sedang bocah itu katakan?

"Maaf, nak. Kaa-chan lupa mengundangnya." Ino mengusap rambut Inojin kemudian mengalihkan pandangan pada Neji.
"Hyuuga-sama, apakah anda ada acara besok siang? Jangan khawatir, ini bukan kencan." Ino tergelak santai. Sebagai reaksi atas undangan lisan ini, Neji melirik Shikamaru yang memasang raut wajah serius dan tengah menatapnya datar.
"Putraku ulang tahun & dia ingin mengundangmu," imbuh Ino yang diangguki Inojin.

"A-Aku..." Neji tidak punya hal penting yang akan dilakukannya besok. Namun dia berpikir jika mendatangi acara yang juga sudah pasti didatangi Shikamaru setelah pertemuan mereka di restoran itu pasti akan membawa suasana tidak nyaman. Namun binar mata bocah di depannya membuatnya merasakan sesuatu. Inojin terlihat seperti Neji saat mengharapkan ucapan selamat dari ayahnya atas peringkat terbaik di kelasnya semasa sekolah dulu. Namun ucapan selamat itu tak pernah datang sampai sekarang.

"Aku akan datang," jawab Neji singkat.

TBC

A/N: Jadi intinya posisi Neji dan Shikamaru masih seimbang woahahahahaha. Jadi makin gak keliatan bakal berakhir jadi ff pair apa. Oh ya, mulai sekarang kita anggap Ino bisa ngomong aku-kamu sama Neji di luar kantor ya. Tapi soal pergantian nama dan suffix, sepertinya memang belum. Kalo diliat di chapter sebelumnya sebenarnya Ino udah bisa manggil Shikamaru tanpa suffix kan? Ya anggap aja itu termasuk kemajuan(?) Jadi inti A/N ini apa? X3

Makasih banyak Josephine La Rose99, suchphi, itakun, kaname, albaficaaiko, Juwita830 yang review chapter lalu dan readers lain yang ikutin ff ini. Dadah~

Pojok Respons:

itakun: Iya Neji memang udah kalah satu langkah. Berharap NejiIno? Tentu boleh. Liat apa yang ada di chapter ini kan? NejiShika beda tipis :3

kaname: Iya aku juga kasian kalo liat Neji di posisi itu. Bang Nejikuh :'3 Makasih deh mau nunggu.

albaficaaiko: Ya sulit dong! Pilihan hidup kali ini pan imbasnya kudu buat bahagiain Inojin juga, jadi Ino gak mau salah pilih. Alasanmu mengharapkan NejiIno bagus juga; salam kenal! Aku pun waifu Neji XD

Juwita830: Woah baca marathon & review per chapter berturut-turut. Makasih ya! Lain kali isi reviewnya yang lebih panjang gak masalah kok. Pasti kubaca X3

Yang log in, silahkan cek PM ^^