Sasuke memicingkan matanya. Perlahan kelopak matanya terbuka. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke indra penglihatannya. Ia mengamati keadaan sekitar yang masih gelap.
Sasuke menyalakan ponselnya. "Sudah 3 jam aku pingsan."
Ia kembali menatap sekitar. Pria itu baru menyadari bahwa ia masih berada di area tempat tinggal Hyuuga Hinata. Memikirkan Hinata membuat dadanya terasa tersengat. Tak mau berlama-lama larut dalam keputusasaan, Sasuke memutuskan untuk meninggalkan apartemen tempat wanita itu berada.
.
.
.
Hope and Prisoner © Yuki Ryota
.
.
.
Piip piip
Lampu menyala seiring masuknya penghuni rumah tersebut. Rumah tersebut bermodel minimalis ala pegunungan yang dapat memanjakan siapapun yang tinggal di sana. Sesosok pria bertubuh jangkung tampak memasuki rumahnya dengan raut kelelahan.
Pria yang bernama Sasuke itu memutuskan untuk beristirahat di sofa berwarna abu-abu tersebut. Ia mengistirahatkan tubuhnya dari gangguan yang sempat ia alami tadi malam. Matanya kembali terpejam dan jiwanya mulai beranjak ke alam bawah sadar.
.
.
.
Kriiiiiiing
Sasuke kembali bangun dari tidurnya. Ia mengusap kelopak matanya untuk menghilangkan rasa lelah dari wajahnya. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 07.00. Ia lantas bangkit dari sofa dan meregangkan tubuhnya. Sasuke memutuskan untuk membersihkan tubuhnya dan bersiap berangkat kerja.
Setelah membersihkan tubuhnya, Sasuke berganti pakaian. Ia mengenakan kemeja putih dengan jas berwarna biru dongker. Saat ia sedang mengancingi manset pada kemejanya, ponselnya bergetar. Tanda ada panggilan masuk.
"Halo."
"Sasuke, kau harus segera ke perusahaan sekarang."
Sasuke mengernyit saat mendengar nada tergesa-gesa dari sekretarisnya itu. "Aku akan segera ke sana."
Sasuke segera mengancingi mansetnya dan mengambil jasnya. Ia lalu mengambil kunci mobil dan segera meluncur ke perusahaannya.
.
.
.
Sasuke segera mendatangi Kakashi yang merupakan sekretarisnya. "Ada apa Kakashi?"
Kakashi segera menunjukkan data-data di genggamannnya. "Lihat ini. Beberapa perusahaan membatalkan kontrak dengan perusahaan."
Sasuke mengerutkan dahinya. "Apa alasannya?"
Kakashi memberikan beberapa berkas lagi. "Kau tahu real estate yang dibangun Akasusa saat ini?"
Sasuke mengangguk sambil membaca berkas yang disodorkan Kakashi. "Yang akan dibangun di Konoha?"
Kakashi mengangguk. "Di tempat yang mahal tersebut."
Sasuke menatap Kakashi tidak percaya. "Jangan bilang–"
Kakashi mengangguk muram. "Ya, pendanaan mereka adalah perusahaan yang membatalkan kontrak dengan perusahaan."
Sasuke menggeram. "Sialan."
Sasuke berjalan mendekati jendela besar di kantornya yang menampakkan bangunan-bangunan di bawahnya. "Ada berita terbaru?"
Kakashi menelan ludah gugup, ia mendekati Sasuke. "Ada berita sangat buruk, Sasuke."
Sasuke menoleh menatap Kakashi. "Apa itu?"
"Perusahaan yang memutuskan kontrak tertarik bergabung dengan Akasusa setelah iklan real estate yang dibuat begitu memikat. Namun, masalahnya bukan hanya itu."
Kakashi menarik napas sebelum menghembuskannya perlahan. "Terjadi penggelapan dana dari pendanaan perusahaan yang membuat kontrak dengan kita. Dan diketahui bahwa dana tersebut mengalir di perusahaan kita."
Iris Sasuke berkilat, gejolak emosi mendidih di jiwanya. "Korupsi."
Kakashi membungkuk penuh penyesalan. "Maafkan saya, Presdir."
Sasuke berjalan menuju mejanya penuh emosi. "Panggil semua kepala divisi. Kita adakan rapat darurat."
"Baik." Setelah mendengar perintah Sasuke, Kakashi segera pergi meninggalkan pria tersebut.
Brak
Sasuke menggebrak mejanya. Ia berusaha menahan emosi yang bergejolak dalam dirinya. Ia melonggarkan ikatan dasi dan memutuskan untuk membaca berkas-berkas di atas mejanya.
"Ini terlalu rapi." Sasuke mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Berpikir penyebab dari rentetetan masalah yang terjadi di perusahaannya.
"Pertama proyek yang batal dan korupsi dalam perusahaan. Apa ini ulah Akasusa?" gumam Sasuke sambil membolak-balikkan kertas yang disodorkan Kakashi.
Sasuke menggeleng tidak yakin. "Tidak mungkin, masalah internal itu di luar kemampuan perusahaan luar."
Sasuke tersentak saat tiba-tiba suatu gagasan muncul di pikirannya. "Pengaruh."
Detik selanjutnya Sasuke segera beranjak dari kursinya. Ia segera meraih jasnya dan meninggalkan ruangannya.
.
.
.
Brak
"Bagaimana bisa ini terjadi?!" amuk Sasuke sesampainya di ruangannya. Rapat darurat telah selesai dilakukan dan mencapai sebuah kesepakatan yaitu mencari pelaku penggelapan dana dengan batas waktu minggu ini.
Kakashi menghela napas kecewa. "Maafkan saya yang tidak bisa memprediksi hal ini."
"Hubungi semua perusahaan yang memutuskan kontrak, atur pertemuan dengan mereka. Aku akan menyelidiki semua kejanggalan ini."
Kakashi mengangguk patuh. "Baik."
Sasuke menatap Kakashi penuh intimidasi. "Dan pastikan hal ini tidak bocor pada media. Kita harus pastikan menyelesaikan masalah tersebut minggu ini."
"Baik, saya permisi." Kakashi pun meninggalkan ruangannya.
Sasuke mengepalkan tangannya dan menatap berkas yang bertumpukan di mejanya. "Apa yang sebenarnya kau rencanakan, Akasusa?"
"Jika kau berniat menjatuhkan Uchiha seperti Izanaga dulu, kau tidak akan berhasil. Karena aku masih bertahan di sini."
.
.
.
Matahari telah kembali ke peraduannya. Tumpukan kertas di meja Sasuke tak kunjung berkurang dan justru bertambah. Penampilan Sasuke pun tidak serapi tadi pagi. Lengan yang tergulung, kancing yang terbuka, dan rambut yang acak-acakan menunjukkan betapa setres sedang melanda dirinya.
Beberapa gelas kertas berserakan di lantai. Entah sudah berapa banyak kafein yang ia konsumsi dalam sehari ini. Hal tersebut tetap tak membuat bebannya mereda dan justru semakin bertambah. Ia merasakan pundaknya nyeri dan ia putuskan untuk istirahat sejenak.
Pria bersurai gelap itu meraih ponsel dan menyalakannya. Irisnya terbelalak kala melihat jam yang berada di ponselnya.
"Sial."
Sasuke segera mengambil kunci mobilnya dan pergi meninggalkan kantornya.
.
.
.
Sasuke memberhentikan mobilnya. Ia tidak melihat ada wanita bermarga Hyuuga yang berdiri di teras perusahaan megah bernama Hyuuga itu. Ia membuka pintu mobilnya dan bertanya pada satpam di sana.
"Apa kau tahu dimana Hyuuga Hinata?"
"Ah, nona Hyuuga meninggalkan perusahaan beberapa saat yang lalu. Sepertinya ia menuju halte terdekat."
"Dimanakah halte terdekat dari sini?" desak Sasuke.
Satpam itu pun menunjukkan arahnya. Setelah mendapatkan informasi, Sasuke segera pergi meninggalkan pelataran perusahaan Hyuuga.
Ia mengemudikan mobilnya pelan dan dengan cermat mencari keberadaan Hinata. Dan akhirnya irisnya menemukan sesosok wanita bersurai indigo yang duduk manis di halte bus. Sasuke menghela napas lega kala menemukan wanita itu. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan wanita itu.
Sasuke menurunkan kaca jendelanya. "Temani aku pergi."
Mendengar suara berat nan maskulin yang sangat dikenalnya membuat Hinata mendongak. Ia terperanjat kala melihat sosok yang sedari tadi ia pikirkan muncul di hadapannya dengan penampilan yang tampak kelelahan.
"Sasuke!" pekik Hinata tertahan.
Sasuke tersenyum tipis. "Masuklah, aku akan membawamu pulang."
Hinata segera memasuki mobil. "Apa yang membuatmu terlambat?"
Sasuke mulai menjalankan mobilnya kembali. "Jadi kau menantikanku?"
Hinata mengerucutkan bibirnya. "Lupakan."
Sasuke yang melihat respon Hinata hanya terkekeh. "Aku sedang bekerja."
"Akhirnya kau bekerja juga," sarkas Hinata.
Sasuke mendengus dan mulai memutar kemudinya. "Tentu saja. Aku butuh uang untuk hidup."
"Ah, proyek kita sudah mulai dibuat, jika kau ingin tahu."
Sasuke menarik rem tangan dan menoleh menatap Hinata. "Bisa kita tidak membahas pekerjaan sekarang? Tenagaku terkuras memikirkannya."
Hinata tersenyum kecil. "Baik jika itu maumu. Kita akan makan dimana?"
.
.
.
"Nona, sebaiknya Anda pulang. Hari sudah mulai gelap," ujar seorang satpam pada tuannya.
Hinata menengadah. Ia menatap awan gelap yang bergulung dan hendak menumpahkan air bah yang selama ini ditampungnya. Geraman langit mulai terdengar. Tanda turun hujan.
"Terima kasih, Ryou. Kau boleh pulang duluan."
Ryou menggeleng. "Maaf, Nona. Saya belum bisa pulang jika Anda tidak pulang. Saya mengkhawatirkan Anda."
Hinata menengadah kemudian melirik jam tangan. "Tunggu 5 menit lagi."
Detik berganti detik. Kemudian terkumpulah beberapa menit. Hingga akhirnya mencapai waktu yang dijanjikan.
Hinata kembali menengadah. Kali ini tidak hanya awan gelap yang dilihatnya, namun juga tetesan air yang berdesakan keluar dari peraduannya. Beberapa tetesnya mengenai wajahnya.
"Nona..." satpam bernama Ryou itu bersedih melihat keadaan tuannya yang seperti ini. Selalu menunggu tanpa kepastian.
Ia sangat tahu mengingat ia merupakan satpam yang menjaga pelataran parkir. Ia sangat tahu jika tuannya selalu menunggu sosok pria jangkung nan rupawan itu. Ia sangat tahu bahwa dalam lubuk hati tuannya tersimpan rasa kekecewaan yang teramat dalam.
Ryou hanya terdiam. Ia tidak ingin mengatakan hal yang dapat membuat tuannya lemah. Ia hanya diam dan menatap punggung rapuh wanita itu.
Hinata berbalik dan mulai berjalan memasuki perusahaannya. "Maaf membuatmu menunggu, Ryou."
Ryou membungkukkan badannya. "Hati-hati di jalan, Nona."
Hinata yang diliputi rasa kekecewaan yang terasa hampa itu pun memutuskan menuju basement. Ia memutuskan untuk pulang menggunakan kendaraan pribadinya yang selama ini ia tinggalkan di sana.
Hinata menggigit bibir. Tidak. Ia tidak boleh bersedih. Ia harus tetap tegar karena ia seorang Hyuuga. Apapun yang terjadi ia tidak boleh bersedih. Lagipula hal ini sering terjadi. Pria itu sudah tidak lagi menjemputnya bahkan mengantarnya. Pria itu bisa saja sedang sibuk hingga tidak memberi kabar.
Namun, kenapa hatinya terasa sakit?
.
.
.
Matahari sudah kembali ke peraduannya. Hari mulai gelap dan bulan mulai menampakkan diri. Beberapa kios terbuka untuk menjajakan beberapa santapan untuk makan malam. Namun, beberapa toko tutup ketika malam.
Sayangnya Uchiha corp. mengalami hal yang sama dengan kios yanh terbuka tersebut. Gedung besar nan luas milik Uchiha corp. tampak bersinar akibat lampu yang masih menyala di setiap lantai gedung. Hal ini membuktikan bahwa karyawan di perusahaan tersebut sedang mengambil lembur yang dititahkan oleh sang Eksekutif. Kerja keras yang mereka lakukan adalah demi mempertahankan pekerjaannya agar tidak terjadi pemecatan secara berkala.
Bangkrut.
Korupsi.
Skandal yang menimpa Uchiha corp. yang tertutup dari awak media yang giat mencari sensasi. Dan untuk menyelesaikan masalah tersebut tentu saja harga yang dibayar sangat mahal. Meninggalkan keluarga, orang terkasih, bahkan beberapa janji yang harus dilanggar demi keselamatan hidup diri sendiri dan orang lain.
Eksekutif perusahaan pun telah membuang janjinya dan memusatkan fokusnya pada hal pelik yang menimpanya. Dia adalah Sasuke Uchiha. Pria berdarah Uchiha pun tak kalah sibuknya dengan karyawan yang dibawahinya. Hal ini terbukti dengan pakaian yang berantakan, beberapa gelas kertas yang berserakan, tumpukan dokumen, dan wajah yang mulai tidak terawat.
Pria tersebut sibuk menandatangani dan membaca berkas di mejanya. Ia juga berkali-kali membalas e-mail dari partner bisnisnya. Hal ini ditujukan untuk membangun kembali hubungan yang telah retak tersebut.
Kini ia tahu siapa dalang dari rentetan masalah pelik yang menimpa perusahaannya. Dan ia pastikan perusahaan tersebut tidak akan pernah tenang saat ia sudah membalikkan situasi.
Ponsel pintar pria beriris kelam itu berdering. Sebuah nama muncul di layarnya, namun ia memutuskan untuk mengabaikannya. Sebagai gantinya, ponselnya terus bergetar seolah meraung sang Pemilik untuk menjawab panggilan dari sosok yang menghubunginya.
Sasuke menghela napas, ia memutuskan untuk berdamai dengan dirinya. "Ada apa, Itachi?"
"Lama sekali kau menjawab. Sibuk, huh?"
Sasuke kembali melanjutkan aktivitasnya. "Jika kau tidak ada urusan per-"
"-hei hei. Tunggu dulu." Potong Itachi. Sasuke terdiam, menunggu kelanjutan ucapan pria tersebut.
"Temui aku esok. Ada hal yang ingin kudiskusikan."
Sasuke menghela napas. "Aku tidak punya waktu untuk itu."
"Ini tentang perusahaanmu, Suke." Sasuke terdiam. Pikirannya tampak berunding dengan ucapan Itachi.
"Aku harap kau tidak membujukku kembali ke neraka tersebut, aniki."
Iris Itachi membola mendengarnya. "Sasuke-"
Iris Sasuke berkilat, tampak menahan emosi. "Jika itu yang kau inginkan, jangan hubungi aku lagi."
"Baik, jika itu maumu. Aku tidak akan mengungkitnya. Temui aku di Nara Cafe saat makan siang."
Sasuke hanya membalasnya dengan dehaman dan kemudian memutus panggilan di ponselnya. Ia menatap datar ponselnya. "Aku harap kau tidak menipuku, Itachi."
.
.
.
"Ayolah Hinata. Lagipula si Uchiha brengsek itu tidak menjemputmu lagi, kan? Tidak ada yang menjagamu."
Wanita bersurai indigo tersebut berjalan cepat menuju lift. "Jaga ucapanmu, Namikaze."
Pria bersurai layung dengan marga Namikaze itu pun menahan tangan wanita bermarga Hyuuga yang hendak meninggalkannya lagi. Ia memojokkan wanita tersebut di sudut tembok dekat lift.
"Bisakah kau tidak membantah? Aku yakin aku bisa menjagamu lebih baik dari apa yang Uchiha itu lakukan kepadamu."
Hinata menatap datar figur di hadapannya. "Apa kau meragukan pilihan ibuku?"
Naruto menggeleng. "Bukan. Bukan maksudku meragukan-"
"Jika bukan, mengapa kau merasa dirimu lebih baik dari pilihan ibuku?"
Naruto melepaskan kurungannya pada Hinata. Ia menatap Hinata penuh keseriusan. "Bukan begitu maksudku, Hinata. Aku hanya ingin menjagamu."
Hinata mendorong tubuh pria tersebut. "Aku tidak butuh penjagaan dari pria sepertimu."
Naruto menggertakkan giginya. "Lalu siapa? Pria seperti Uchiha itu, ha?!"
Hinata menghela napas. "Penjagaannya di luar kendaliku. Aku juga tidak mengharapkannya namun ibuku sudah bertitah dan tak bisa dibantah."
"Sialan."
Hinata berjalan menuju lift setelah ia keluar dari kurungan Naruto. "Jangan mengumpat di perusahaanku, Namikaze. Dan aku yakin kita tidak sedekat itu hingga kau memanggil nama depanku. Permisi."
Bersamaan dengan itu Hinata memasuki lift dan meninggalkan Naruto yang tetap mengumpat bahkan menendang pintu lift yang telah tertutup. Ia jambak kuat-kuat surainya yang keemasan tersebut.
"Sialan! Bajingan tengik itu menggoda milikku!"
Ia terus bersumpah serapah hingga seorang satpam menepuk pundaknya. "Permisi."
"Apa?!" Bentak Naruto pada sosok di hadapannya.
Satpam tersebut menatap tajam Naruto. "Anda telah mengganggu ketenangan. Ikuti saya dengan patuh atau saya akan menyeret Anda."
Naruto berdecih. Ia memutuskan untuk meninggalkan gedung Hyuuga tersebut.
Dari tempatnya berdiri, Hinata dapat melihat putra sulung keluarga Namikaze tersebut menuju pelataran parkir dan meninggalkan gedung perusahaannya.
Hinata menghela napas lega saat pria tersebut tidak tampak lagi batang hidungnya. Ia berbalik dan berjalan menuju kursi kebanggaannya.
"Anda tampak lega, Nona." Seorang pelayan bersurai coklat menuangkan teh untuk disajikan pada Hinata.
Hinata menarik napas dalam-dalam. Menghirup aroma manis yang menguar lembut di sekitarnya. "Apa nama teh ini, Matsuri?"
"Chamomile tea, Nona. Cocok untuk menenangkan Anda."
Hinata tersenyum tipis. "Terima kasih, Matsuri. Kau boleh pergi."
Sepeninggal Matsuri, Hinata menyeduh tehnya pelan. Menyesapi setiap bulir teh yang mengalir di kerongkongannya. Aroma dan rasa yang membuatnya tersenyum tipis dan menenangkan.
Untuk pertama kalinya dalam minggu ini, bebannya terasa hilang hanya dalam satu kali sesapan. Tiidak ada lagi Namikaze yang menguntitnya kemana pun dan membebaninya lagi.
Ia berharap ketenangan ini bertahan selamanya.
Namun, ia hanya bisa berharap. Karena akalnya mulai kembali mengingat Sasuke Uchiha dan segala tingkahnya.
Dan ia merasa ketenangan yang ia dapat hanyalah sesuatu yang fana.
.
.
.
Seorang pria jangkung memasuki sebuah bangunan bertuliskan Nara Cafe. Ia memasuki bangunan tersebut dengan langkah tegap. Bel yang terpasang di pintu berdering lembut kala ia memasuki kedai tersebut.
Iris pria jangkung bernama Sasuke itu menelusuri sekeliling ruangan. Hingga atensinya tertuju pada seseorang yang dengan tenangnya menyesapi minuman di jemarinya. Menemukan orang yang dicarinya, Sasuke mendatangi sosok tersebut.
Sasuje menarik kursi di hadapan sosok yang mencuri atensinya dan duduk di sana. "Cepat katakan apa yang kau ingin katakan."
Mendengar suara Sasuke yang bernada perintah itu tak menggoyahkan ketenangan sosok tersebut. Sosok itu menghentikan aktivitasnya dan menatap Sasuke dengan senyum di wajahnya.
"Wajahmu kurang sentuhan , hm?"
Sasuke menghela napas kasar. "Hentikan, Itachi. Cepat katakan."
Sosok yang dipanggil Itachi itu hanya tersenyum melihat respon dari Sasuke. "Tidak perlu terburu-buru. Kau tahu itu tidak mempan untukku. Pesanlah."
Sasuke menggeram tertahan. "Itachi..."
Itachi hanya tersenyum. "Aku tidak akan mengatakan apapun sebelum kau memesan."
Growl~
Baik Sasuke dan Itachi tampak terkejut. Lantas gelak tawa pria berumur 30 an terdengar mengisi kafe tersebut. Tentu saja tawa seorang Itachi Uchiha.
"Lihat? Kau bahkan sedang lapar. Pesanlah, otouto."
Sasuke memalingkan wajah dan mengangkat tangannya. "Pelayan!"
.
.
.
Sasuke menyesap kopinya pelan. "Bagaimana kau tahu?"
Itachi mendengus remeh. "Kau ini adikku, apapun yang kau lakukan pasti aku mengetahuinya."
"Tapi aku tidak memahamimu." Itachi terdiam. "Aku tidak mengetahui apa yang kau lakukan sebenarnya, Itachi. "
Deg
Jantung Itachi berdebar kencang, ia merasa tidak nyaman dan aman. 'Apa maksud perkataannya?'
Itachi mencondongkan tubuhnya. "Sasuke, dengarkan aku baik-baik. Serahkan masalah perusahaanmu padaku. Aku jamin akan menyelesaikannya dengan baik dan tidak ada suatu kendala apapun."
Tetap tidak ada perubahan raut muka pada diri Sasuke membuat Itachi merasa gamang. 'Apa yang dipikirkannya?'
"Sasuke–"
Sasuke meletakkan cangkirnya. Ia menatap datar Itachi. "Aku selalu mendengarkan kau, mengikuti apa yang kau perintahkan, Itachi."
Kekhawatiran Itachi mulai sirna. "Kalau begitu–"
"–tapi kali ini, aku tidak bisa mempercayaimu dalam menuntun langkahku. Jika yang kau berikan membuatku berpangku tangan, aku menolak."
Itachi menggeram. "Sasuke–"
Sasuke menyandarkan tubuhnya dan melipat kedua tangan di depan dada. "Aku tidak ingin hanya berpangku tangan ataupun mendapat bantuan dari perusahaanmu, Itachi."
"Sasuke dengarkan aku. Aku tidak memberikan ini secara cuma-cuma. Aku ingin membantumu dan menolong perusahaanku dengan Akatsuki corp. Aku yakin kita bisa menyelesaikan masalah bersama."
"Apa aku serendah itu untuk meminta perusahaan yang dimiliki orang yang telah membuangku untuk membantuku?"
"Sasuke, kau tahu bahwa ayah tak bermaksud untuk membuangmu."
Brak
"Lalu apa?!" Iris Sasuke membola penuh emosi. "Aku mendengarnya sendiri bahwa aku dibuang olehnya!"
Kedai tersebut seolah membeku. Pengunjung yang datang terpaku pada sosok yang menggebrak meja dengan penuh emosi dan suara yang menggelegar.
Itachi bergerak menenangkan Sasuke. "Tenanglah Sasuke, aku berniat menebus kesalahan dengan membantumu."
Sasuke mengatur napasnya yang terengah-engah karena memendam emosi yang memuncak. "Jika kau tak mau membantuku, pergilah. Aku tak membutuhkanmu."
Itachi beranjak dari kursinya, menahan kepergian Sasuke. "Sasuke–"
Sasuke mengambil jas dan ponselnya. "Aku terlalu naif jika hanya dengan kau membantuku akan menyelesaikan masalahku."
Sasuke menatap tajam Itachi sebelum berbalik. "Aku bukanlah anak kecil yang lemah seperti dulu."
Itachi segera menahan Sasuke. Namun dirinya yang masih terjebak pada himpitan kursi dan meja sehingga membuat dirinya kehilangan kesempatan untuk langsung menahan Sasuke ketika pria itu berbalik. Setelah terbebas, Itachi segera menahan lengan Sasuke.
"Sasu–"
Blugh
Iris Itachi membola melihat sosok di hadapannya terjerembap jika tidak Itachi segera menahannya. Tubuh Sasuke melemah dan kehilangan tenaga untuk emnopang berat tubuhnya. Napasnya tak teratur dengan keringat dingin yang bercucuran.
"Sasuke! Sasuke! Sadarlah!" teriak Itachi sambil menepuk pelan pipi Sasuke. Jantung Itachi berdegup kencang.
Tidak. Tidak. Jangan lagi. Jangan lagi, kumohon.
"Sasuke!" teriak Itachi. Orang-orang mulai mengerumuni mereka. "Cepat panggil ambulans!" titah Itachi pada seorang pria yang memegang ponselnya.
Dengan panik pria itu menghubungi ambulans. Itachi segera membaringkan Sasuke dan mulai melakukan pertolongan pertama. Kedua tangannya terus memompa dada Sasuke untuk memberikan kemudahan dalam pernapasan adiknya itu.
Beberapa detik kemudian ambulans datang. Itachi dengan dibantu oleh beberapa paramedis segera membawa Sasuke masuk menuju ambulans. Keringat di sekujur tubuhnya menetes. Ia sedikit lega saat mengetahui bahwa keebradaan rumah sakit tidak terlalu jauh dari Nara Cafe.
Itachi menatap adiknya yang sedang mendapat pertolongan pertama. "Maafkan aku. Maafkan aku, Sasuke."
Sesampainya di rumah sakit, Sasuke segera dilarikan ke UGD. Itachi yang tidak bisa melakukan apapun memutuskan untuk menunggu di luar. Ia mengusap kasar wajahnya. Kilas balik kenangan masa lalu kembali menghampirinya. Berkali-kali ia menggeleng untuk mengenyahkan pikiran negatif tersebut.
Itachi menarik napas pelan dan menghembuskannya perlahan. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya walau hal tersebut masih mustahil ia lakukan.
Setelah ia merasa tenang, Itachi mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Pada nada tunggu yang ketiga, panggilannya pun dijawab oleh orang yang ia hubungi.
"Ibu, ini aku Itachi. Sasuke masuk UGD."
.
.
.
TBC
A/N
Happy Birthday Hinata Hyuuga. I hope you are always strong in your life.
