Hinata mengernyit, ia cukup pusing karena baru terlelap dua jam yang lalu. Ditambah tubuhnya cukup linu di beberapa bagian. Bergerak saja sudah membuatnya meringis cukup kuat dan membangunkan Naruto yang terlelap disebelahnya.
Iris biru itu perlahan terlihat. Suara gesekan kasur yang khas terdengar saat Naruto berbalik dan mendapati Hinata sedang meraih jam yang berbunyi nyaring di nakas sebelahnya. Naruto memang memiliki kebiasaan membunyikan jam bulat digital itu tepat pukul empat subuh.
Hanya waktu subuh Naruto memiliki waktu untuk berolahraga sejenak, selelah apapun dirinya. Tapi sepertinya, hari ini tak ada niatan sedikitpun untuk sekedar bangkit dari kasur. Mengingat malam kemarin ia cukup 'berolahraga' dengan Hinata.
Setelah mematikan sumber keributan dipagi buta itu, Hinata kembali merebahkan tubuhnya. Ia sedikit tersentak saat menyadari Naruto sudah bangun dan menatapnya.
"M-maaf, apa aku membangunkanmu?" ditariknya selimut hingga perbatasan dada. Dan itu cukup membuat Naruto menyeringai singkat. Jadi, untuk apa Hinata menutup tubuhnya saat Naruto sudah cukup hafal lekuk tubuh wanita itu?
"Tidak." jawab Naruto.
Mereka berdua terdiam cukup lama, sampai Hinata teringat ucapan Karin bahwa dirinya masih belum hamil. Ya, setelah siang tadi memeriksakan diri, Hinata dinyatakan negatif. Walaupun Hinata hanya menyerahkan urinnya karena waktu istirahat siangnya tak banyak, tapi surat resmi yang Karin berikan padanya lewat foto menunjukan bahwa ia negatif.
Dan karena hal itu lagi-lagi Hinata harus terjebak bersama Naruto di ranjang pria itu. Sempat terpikir olehnya untuk melakukan serangkaian proses untuk hamil lewat penyuntikan sprema langsung pada indung telurnya. Bukankah katanya itu lebih efektif dan cepat? Tapi karena ketakutannya pada jarum suntik dan juga Naruto yang tidak mau repot, lagi-lagi mereka memilih jalan seperti ini.
Tiba-tiba Hinata merasakan keram pada perutnya bawahnya. Rasanya persis seperti hari pertama ia mendapat tamu bulanan. Seperti diremas dan juga sedikit perih. Apa ia mens? Tapi bukankah baru tiga minggu lalu ia mendapat tamu bulanan?
Menyadari raut wajah Hinata yang berubah, Naruto mengernyit. Apa semalam ia terlalu kasar hingga Hinata terlihat menahan sakit begitu?
Dilihatnya Hinata terduduk, lalu melirik kedalam selimut.
"N-Naruto-s-sama… A-aku… D-darah…"
Dalam sekejap Naruto duduk dan menyibak selimut yang tadinya menutupi tubuh mereka berdua. Mata Naruto membulat saat mendapat bulatan merah di dekat paha Hinata. Sprei kasurnya yang sekarang berwarna putih tulang membuat warna merah darah itu jelas.
"Kau kenapa?" tanya Naruto kaget.
Hinata sendiri hanya menggeleng kaku dan menahan tangisnya. Ia bingung sekaligus takut.
"Tunggu di sini, aku akan menghubungi Karin." Dengan segera Naruto menutupi kembali tubuh Hinata dan memungut celananya. Lalu meraih ponsel yang tergeletak di nakas tempat tidurnya.
Sudah tiga kali dan Karin belum juga mengangkat telpon dari Naruto. Samar-samar Naruto bisa mendengar isakan Hinata yang dicoba ditahan wanita itu. Sampai ke empat kalinya Naruto baru bisa mendengar sumpah serapahan Karin yang mengomel karena dihubungi subuh-subuh.
"Karin! Datang ke apartemenku sekarang! Hinata tiba-tiba pendarahan!"
"…"
"Mana ku tahu! Cepat datang saja!"
.
.
.
"Bagaimana bisa?"
Karin menghela nafasnya berat. Lalu ia tersenyum, mencoba menenangkan Hinata yang terlihat shock dan juga takut. Sekarang mereka ada di kamar tamu apartemen Naruto. Hinata juga sudah berpakaian walaupun hanya selapis kemeja kebesaran milik Naruto.
"A-apa? A-aku kenapa, K-Karin-san? Apa aku sakit?" suara Hinata serak, mungkin karena menahan tangis dan juga tak siap dengan vonis yang akan dia dengar. Melihat Karin yang tersenyum lebar setelah itu membuat Hinata mengernyit.
"Kau sehat. Hanya saja mungkin Naruto yang tak sehat, tak waras."
Mendengar namanya disebut, Naruto yang menunggu diluar segera masuk dan mencecar Karin yang mengatainya sembarangan.
"Hey, jaga ucapanmu." Ketus Naruto. "Jelaskan saja ada apa dengannya."
"Calon ayah jangan sering marah-marah. Itu tak bagus untuk perkembangan janinnya. Dan lagi, kau itu pengikut BDSM, ya?"
Baik Hinata maupun Naruto sama-sama menegang. Tak ada suara apapun selain suara Karin yang terkekeh pelan.
"Maksudmu?" tanya Naruto akhirnya.
"Mungkin urin Hinata yang diberikan padaku saat itu tertukar dengan milik orang lain saat ada di lab. Aku yakin sekali bahwa kemarin siang hasilnya negatif. Tapi dari yang aku lihat, Hinata mungkin pendarahan ringan karena permainan kalian semalam."
"Apa?" kali ini Hinata yang bersuara. Sedikit tak menghiraukan ledekan Karin tentang kata permainan.
"Aku juga kurang yakin, sih." Jelas Karin dan mengedikan bahunya singkat. "Kita bisa memeriksanya lebih lanjut pagi ini. Bagaimana kalau kau ikut ke rumah sakit bersamaku sekarang, Hinata? Kebetulan aku ada shift pagi ini."
Hinata yang masih berada disetengah kesadarannya hanya mengangguk singkat. Matanya masih menatap kosong ke arah tautan tangannya. Sedangkan Naruto, dirinya masih sedikit asing saat Karin menyebutnya sebagai calon ayah.
Seharusnya tak ada rasa lebih kecuali lega karena jika perkataaan Karin benar, dirinya sekarang memiliki senjata ampuh untuk membuat sang ibu berobat.
Tapi kenapa ada rasa asing yang menggelitik?
.
.
.
Tidak perduli wajahnya yang tanpa make up, baju tidur yang masih dipakai dan juga keributan yang dibuat karena berlari sepanjang lorong rumah sakit, Kushina tetap saja melajukan tubuhnya untuk mencari kamar inap Hinata. Kalau saja suaminya tak menahan tangan serta mengomelinya pelan, mungkin sekarang Kushina sudah berlari bak orang kesetanan.
"Dimana, Minato-kun! Dimana kamar Hinata?!" Sadar ia tidak tahu kamar mana yang menjadi kamar inap Hinata, Kushina tiba-tiba berhenti. "Hey, jawab aku!"
Minato sendiri hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan ajaib istrinya itu.
"Tadikan sudah ku bilang berhenti dulu di resepsionis. Kau saja yang tidak sabaran." Melihat Kushina cemberut, membuat Minato terkekeh pelan. "Baiklah, aku telpon Naruto sebentar."
Kushina mengangguk antusias. Ia menunggu dengan tidak sabar saat Minato berbicara pada anak mata sewayang mereka. Sekitar semenit Kushina harus menunggu Naruto mengangkat telponnya. Setelah selesai, Minato segera menarik tangan istrinya lembut.
"Jadi dimana kamar inap Hinata?"
Pria dengan surai kuning panjangnya itu hanya tersenyum dan terus menuntun sang istri untuk mengikutinya. Kalau diberi tahu, mungkin Kushina akan kembali berlari lagi. Dan bisa saja asmanya kambuh, kan?
Mereka berdua berhenti tak lama setelah berbelok di pertigaan lorong rumah sakit. Disana ada papan nama Uzumaki. Kelas VVIP memang memberikan nama ruang khusus sesuai dengan marga orang yang menempatinya.
"Hinata!" Membuka pintu dengan kasar, Kushina langsung histeris mendapati Hinata berdiri dekat jendela dengan tiang infuse disebelahnya. Hinata sendiri terlonjak kaget saat suara nyaring Kushina terdengar olehnya. Tanpa babibu lagi, Kushina segera memeluk Hinata erat.
"B-ba-san?"
"Kau tidak apa-apa, kan? Cucuku bagaimana? Baik-baik juga, kan? Tidak ada yang serius, kan? Apa yang kau ras—"
"Kaa-san, kau terlalu banyak bertanya."
Dari arah pintu Naruto berdiri, menatap malas pada sang ibu yang sekarang sedang menuju ke arahnya dengan wajah murka. Dan tanpa babibu lagi segera menjewer telinga Naruto dengan satu tarikan keras.
"Hey, bodoh! Tahan nafsumu, Naru! Siapa bilang kau boleh membahayakan cucuku, hah?!" dan omelan panjang Kushina berikan pada Naruto. Dalam hati Naruto merutuk. Lagi-lagi mulut ember Karin berhasil mengompori ibunya yang memang mudah meledak jika menyangkut hal yang disayanginya.
Pria pirang lain yang sudah sering menyaksikan kehebohan itu hanya menggeleng dan tersenyum maklum. Tanpa mau mengurusi karena takut terkena imbasnya, Minato memilih menghampiri Hinata yang masih berdiri di dekat jendela dengan wajah kikuknya.
"Apa kabarmu, Hinata?"
Degupan jantung Hinata lebih terasa saat menatap wajah pria paruh baya yang sekarang tersenyum hangat padanya. Wajahnya memang tak terlalu mirip Naruto, karena menurut Hinata Naruto lebih memiliki perawakan wajah seperti ibunya. Tapi warna kulit, rambut pirang yang cerah serta mata birunya sangat mirip. Bahkan Hinata membayangkan bagaimana rasanya ditatap dengan begitu lembut lewat mata biru milik Naruto.
"B-baik, ji-san." Jawab Hinata sedikit kaku. Ini pertama kalinya ia bisa berbicara langsung dengan pebisnis handal yang terkenal di Jepang, Namikaze Minato.
"Kalau cucuku bagaimana?" tanya Minato lagi, kali ini dengan nada yang lebih ceria.
Semburat merah terlampir di pipi Hinata yang sedikit memucat. Entah kenapa, Hinata sendiri masih belum percaya bahwa sekarang ia benar-benar berbadan dua.
"K-Karin bilang a-aku hanya pendarahan ringan dan j-ja-janinnya baik-baik saja."
Lagi, Minato tersenyum lembut. "Baguslah. Kau harus lebih hati-hati, ya. Beritahu aku jika anak nakal itu lagi-lagi memaksamu. Oke?"
Hinata mengangguk, lalu ikut tersenyum bersama Minato.
"Kaa-san! Ini rumah sakit! Jangan buat keributan terus! Lagipula Hinata dan bayinya baik-baik saja."
Minato serta Hinata menoleh pada kedua orang yang masih saling bersiteru. Kushina yang mulai mengingat tujuan awalnya datang segera melepas jewerannya dan segera menghampiri Hinata.
"Benarkan kau dan cucuku baik-baik saja, Hinata? Tidak ada yang serius, kan?"
"Tidak, ba-san. Aku baik-baik saja."
"Yokkata, nee!" pekik Kushina girang. "Kau harus lebih hati-hati. Ini cucu pertamaku, dattebane!"
"B-ba-san dan ji-san juga harus selalu sehat."
Diam sejenak, Minato serta Kushina saling melempar pandangan. Sedangkan Naruto mulai maju, lalu merangkul pinggang Hinata pelan tanpa peduli pada sang empunya yang berjengit kaget.
"Kalian dengar, kan? Jika kaa-san dan tou-san sakit, bagaimana mau melihat anakku?"
"Tentu saja!" ujar Kushina yakin. "Aku akan mengikuti semua kata Karin jika bisa membuatku tetap sehat dan bertemu cucu-cucuku nanti! Benarkan Minato?"
Lagi, Minato tersenyum lembut. "Ya, tentu saja."
.
.
.
Fugaku tak pernah percaya bahwa nama pada undangan berwarna ungu lembut itu menampilkan marga yang selama ini paling ia tak sukai. Hyuuga. Hyuuga tersisa yang selama ini Fugaku diamkan ternyata cukup berbahaya. Bagaimana bisa sekarang Hinata bersanding dengan Naruto? Pemuda kaya raya yang berbahaya di dunia bisnis?
Apa ini semacam aksi balas dendam Hinata padanya? Bisa saja Hinata menaruh dendam, lalu mencoba menghancurkan perusahaan Uchiha rakasasa miliknya lewat wewenang Naruto, kan?
"Brengsek!" bunyi pecahan gelas yang sengaja dilempar Fugaku membuat Mikoto yang sedang bergelut di dapur segera menghampiri ruang kerja sang suami yang memang tak terlalu jauh letaknya dengan dapur.
"Anata, ada apa?"
Mikoto tahu bahwa mendekati suaminya yang sedang marah merupakan hal yang sia-sia. Maka dengan menjaga jarak, Mikoto menunggu jawaban Fugaku.
"Hyuuga brengsek! Bisa-bisanya dia melakukan hal macam itu?!"
Tiba-tiba saja tubuh Mikoto menegang. Apa Fugaku sudah tahu perihal Hinata yang menjaga Kou?
"A-anata, se-sebenarnya ada apa? Kenapa lagi dengan H-Hyuuga?"
Fugaku berdiri, lalu menginjak serpihan beling dengan sepatu mahalnya. Berjalan melewati Mikoto begitu saja tanpa berbicara apapun. Mikoto sendiri panik. Ia takut sang suami kembali mengusik keluarga Hyuuga, lebih tepatnya Hinata. Sampai sebuah undangan yang tergeletak dilantai menarik perhatian Mikoto.
"Uzumaki Naruto dan… Hyuuga Hinata?"
.
.
.
"Cantik sekali," ujar Kushina dengan wajah berbinar. Ia menggigit bibirnya gemas, lalu berjalan mendekati Hinata yang berdiri anggun di depan banyak kaca dengan baju pengantinnya. Baju terusan putih dengan motif sederhana yang bergantung hingga tumitnya itu mungkin saja termasuk jajaran gaun termurah di toko itu. Tapi Kushina merasa gaun itu terlihat mewah jika Hinata yang memakai.
Dari awal Hinata memang sudah jatuh hati dengan gaun yang terdapat paling pojok dirak khusus gaun pengantin. Banyak gaun lain yang lebah mewah dan mungkin saja jauh lebih mahal, tapi Hinata lebih suka yang sederhana dan terlihat feminim tanpa unsur kemewahan berlebih.
"Kau suka, Hinata?" Kushina bertanya dengan semangat.
Jika saja Kushina lebih memperhatikan air wajah Hinata, mungkin saja wanita berambut merah itu bisa menyadari bahwa wajah bulat telur itu sedikit sendu. Menjadi pengantin merupakan salah satu agenda kehidupan cinta Hinata yang pernah dikatai dongeng memuakan oleh Naruto. Apalagi ada calon buah hatinya yang bergelut manja diperutnya.
Rasanya sangat berbeda dari yang pernah Hinata ekspetasikan. Ini semua keterpaksaan. Hanya cerita bualan Naruto yang mengatas namakan kesehatan kedua orang tuanya. Mata bulan Hinata menatap pantulan dirinya dicermin besar tepat di depannya. Lalu melirik pada Kushina yang terus mengoceh ini dan itu dengan penuh semangat.
"Ba-san," lirihan Hinata menghentikan ocehan Kushina.
"Ya, sayang?"
"Terimakasih dan sehatlah selalu."
Setetes air mata turun dari pelupuk mata indah Hinata. Mengundang lengan Kushina untuk melingkar ringan di bahu Hinata.
"Aku yang berterimakasih, Hinata. Karena bisa menjadikan aku seorang nenek dan juga menjadikan Naruto seorang ayah." Bisik Kushina. "Jadilah ibu yang hebat dan istri yang kuat. Aku yakin kau bisa menjaga Naruto untukku."
Di belakang mereka, Naruto dengan tuxedo putihnya berdiri tegak. Memandang ke arah dua wanita yang masih berpelukan tanpa menyadari kehadirannya. Bolehkah… sekarang Naruto merasa lega?
Ia sudah bisa mewujudkan kemauan ibunya. Memiliki istri sesuai dengan kriteria menantu idaman versi ibunya dan juga memberikan cucu. Terlebih, berita besar bahwa sang ibu sudah mau melakukan perobatan ini dan itu serta rehat dari dunia sosialitanya demi menjalani pengobatan. Sang ayahpun sudah bisa dibilang lebih terjaga sejak kepergiannya kemarin dalam pengobatan jantungnya.
Dunia serasa bisa berputar di telapak tangan Naruto. Dan saat mata perak itu bertubrukan dengan mata biru miliknya, Naruto sadar bahwa porosnya ada pada wanita itu. Wanita yang bisa merebut perhatian Naruto selain ibunya.
"Aku setelah ini ada meeting penting, kaa-san. Jadi bisa cepat fitting bajunya?"
Kushina melepas pelukannya dan melotot horor. "Pernikahanmu sedikit lagi! Berhenti bekerja atau ibu tutup perusahaanmu!"
Sedangkan yang diancam hanya memutar matanya bosan. "Lalu ibu tega melihat cucu ibu kelaparan?"
"Tidak!" seru Kushina cepat. "Kau ini bicara jangan sembarangan!"
Jadi, tadi yang bilang ingin menutup perusahaan itu tidak sembarangan begitu?
Lagi, Naruto memutar matanya jengah. "Lupakan meeting. Tapi apa kaa-san tega melihat Hinata kelelahan karena terus berdiri dan gunta-ganti pakaian berat itu?"
Satu potong gaun pernikahan biasanya memiliki bobot yang tidak ringan. Selain bentuknya yang sederhana, Hinata juga sudah mengira baju yang ia pilih akan lebih ringan dari empat gaun lain yang tadi sudah ia coba.
"Oh, benar! Ya ampun maaf ya, Hinata-chan. Aku jadi keseruan sendiri. Ayo istirahat dulu!"
"A-aku tid—"
"Hinata, istirahat. Makan siang lalu minum vitaminmu. Aku sudah menaruh makanan dan tas kecil berisi vitaminmu."
"I-iya." Hinata bingung, dan ia akui ia cukup tersanjung atas perhatian Naruto padanya. Walaupun masih terkesan kaku dan dingin, tapi rasanya ia sudah seperti suami dan istri sungguhan.
"Ehm, calon pengantin baru." Goda Kushina.
"Kaa-san juga makan dan minum obatnya. Aku sudah menyiapkannya."
Jika orang yang baru melihat Naruto, maka kesan pertama adalah sosok pria tampan yang cuek dan juga jutek. Perawakannya tinggi dan maskulin, persis seperti pria dingin yang angkuh. Tapi dari sikap yang ia tunjukan untuk ibunya, Hinata hanya bisa mengaguminya dalam hati.
Ia pernah dengar jika ingin melihat seberapa pria bisa menghargai dan mencintai wanita, maka lihatlah seperti apa ia menghargai dan mencintai ibunya.
Dan dari yang Hinata lihat, bukankah Naruto termasuk anak yang mencurahkan kasih sayangnya utuh pada wanita yang ia rasa penting dalam hidupnya? Itu manis sekali.
"Kenapa berdiri saja? Ayo makan dulu, Hinata."
"A-ah, ya ba-san."
.
.
.
Barang bawaan Hinata tak banyak. Hanya tiga koper besar berisi bajunya dan baju Kou, serta dua tas jinjing yang lumayan besar juga berisi perawatan tubuhnya dan peralatan milik Kou. Hari ini, tepat tiga hari sebelum pernikahannya, Hinata sudah pindah ke apartemen milik Naruto.
Ini semua atas usul dari Kushina, yang tentu mendapat dukungan penuh dari Minato serta Naruto sendiri. Alasannya, agar Hinata tak kelelahan atau sebagainya. Membuat lagi-lagi Hinata tak bisa berkutik dan menurut. Kalau dipikir-pikir, Hinata terlalu lemah untuk mengajukan pendapatnya sendiri. Ada rasa risih, tentu saja. Tapi lagi-lagi ia tertohok ucapan Naruto yang bilang ia tidak akan melakukan sesuatu dengan setengah-setengah. Dan Hinata juga tidak akan menjilat ludahnya sendiri.
Ia sudah bilang akan membantu dengan utuh, penuh. Dan lagi, mundurpun sekarang ada hal besar yang harus ia jaga. Tentu saja cabang bayinya yang masih berumur dua minggu itu. Hinata benar-benar tak menyangka bahwa dirinya akan berbadan dua secepat ini. Walaupun memalukan, tapi Hinata masih ingat betul sentuhan Naruto pertama kalinya tiga minggu lalu. Sentuhan yang tak bisa dibilang kasar namun tak lembut juga. Yang sekarang terwujud dengan janin diperutnya.
Kabar tentang pernikahannya dengan orang setenar Naruto tentu saja menjadi perbincangan besar. Sejak undangan tersebar, Hinata tak berani menampakkan dirinya lagi dikantor. Ia sudah berhenti. Bukannya mau memanfaatkan, tapi Naruto bilang biaya kebutuhan Hinata akan ia tanggung. Kalau Kou, Sasuke yang akan mengurus Kou mulai sekarang. Tentu hanya dalam bentuk finansial. Masalah keseharian tentu saja masih Hinata atau satu baby sitter yang sengaja Sasuke pekerjakan untuk membantu Hinata.
Orang-orang terdekat Hinata seperti Kiba, Sunmi, dan tentu juga Kakashi tak luput dari keterkejutan. Bahkan Kakashi sengaja ikut Naruto pulang untuk melihat Hinata yang ada di apartemen pria pirang itu. Meminta penjelasan dari Naruto sendiri tentu membuang waktu. Jelas sekali Kakashi mengenal sekali bagaimana bossnya itu.
"Barangmu sudah semua?" dari arah pintu Naruto melongok.
"Sudah."
Lalu Naruto berlalu, mungkin saja kembali ke kamarnya. Hey, tentu mereka tak sekamar. Itu akan sangat canggung terlebih tak ada alasan yang terlalu kuat mereka harus berbagi satu ranjang. Kecuali tentang satu hal yang mereka lakukan kemarin.
Hinata akan berpura-pura satu kamar jika hanya ada orang lain yang datang. Terutama Kushina. Kamar tamu itu lumayan besar, walaupun tak sebesar kamar utama milik Naruto. Apartemen mewah milik Naruto memiliki empat kamar. Satu miliknya, satu milik Naruto, satu lagi dijadikan ruang kerja dan yang lain menjadi kamar tamu lain.
Ukuran ranjang setiap kamar sama, hanya mungkin kualitasnya yang sedikit berbeda. Hinata rasa ranjang yang sekarang ia duduki tak sekenyal milik Naruto. Bicara soal ranjang, Hinata jadi berpikir sudah berapa banyak wanita yang Naruto bawa kesana? Apa dirinya sudah menjadi kesekian?
Naruto mungkin menyayangi ibunya. Namun sikapnya kepada wanita lain bisa dibilang tak terpuji. Atau, para wanitanya saja yang melemparkan diri dengan mudahnya? Tentu saja seekor kucing tak akan menolak diberi ikan, sekalipun ikan asin.
Dengan pelan Hinata memeluk dirinya sendiri. Tubuhnya bukan lagi seorang perawan. Ia sudah menjadi wanita, terlebih calon ibu. Pengorbanan yang dia berikan tak main-main. Kehidupannya sebagai wanita dipertaruhkan. Tentu saja menjadi pengantin, menikah, lalu menjadi ibu merupakan masa depan yang paling Hinata idamkan. Tapi dari semua mimpi yang Hinata rancang, tidak ada kepura-puraan disana. Dan entah kenapa, walaupun Hinata sendiri merasa ini semua salah, ia tetap merasa bahagia karena akan menjadi seorang ibu.
Suara nyaring dari ponselnya membuyarkan lamunan Hinata. Wanita manis itu merogoh saku jaketnya, lalu melihat nama Kiba disana.
"Hallo, Kiba-kun."
"Hai, Hinata." sapa Kiba diseberang sana.
"Ada apa? Kau sedang diluar ya? Sepertinya ramai sekali."
"Aku ada di kedai sake dekat minimarket. Sejak kau tidak bekerja aku jadi sering menghabiskan waktu di sini." Diam sejenak, Hinata hanya bisa mendengar suara bising dari ponselnya. "Kau… benar akan menikah?"
Suara Kiba berubah sendu. Begitupun raut wajah Hinata. "Ya…"
"Aku tak menyangka kau akan bersama si playboy itu." Kekehan ringan terdengar dari Kiba. Tentu saja masih dengan nada lesunya. "Aku terlambat, ya?"
Hinata tercekat. Tentu saja ia merasa janggal, dan menyangka mungkin semua perhatian yang diberikan Kiba padanya terselip maksud tertentu. Tapi kemarin ia hanya fokus pada Kou, dan menutup semua akses asmara pada pria manapun. Dan sekarang, Hinata tak menyangka membuat pemuda baik seperti Kiba yang biasa berbicara dengan semangat menjadi lesu begini.
"K-Kiba-kun…" Diam sejenak, sampai terdengar hembusan nafas dari Kiba.
"Kau sudah tahu, ya? Apa aku terlalu mudah untuk ditebak? Hahaha," garing, tentu saja tawa Kiba terdengar garing. "Mungkin ini terlalu pasaran dan gombal untukmu, tapi Hinata… Aku bahagia jika kaupun begitu. Jika kau bisa menemukan kebahagianmu dengan Naruto, maka berbahagialah. Aku mendukungmu, mendoakanmu. Seharusnya aku bisa lebih cepat dan berani dalam bertindak. Tapi… ya sudahlah."
"K-Kiba-kun…" Satu tetes air mata meluncur mulus dipipi Hinata. "Kau j-juga, berbahagialah. Terimakasih untuk s-semua –hiks- kau pria baik. Sangat baik. Terimakasih Kiba-kun, arigatou."
"Bilang padaku jika si playboy itu menyakitimu, oke?"
Hinata mengangguk tanpa perduli Kiba yang tak melihatnya, lalu menggumam pelan.
"Hey, jangan menangis terus. Harusnya aku yang menangis tahu."
"Hm…"
"Yasudah, mungkin kau ingin istirahat sekarang. Aku tutup dulu ya? Hey sudah berhenti menangis. Aku akan datang ke pernikahanmu, kok."
Terdengar tawa renyah dari Kiba. Kali ini lebih tulus dan terdengar… lega?
.
.
.
Naruto tak menyangka hal yang ia anggap menyusahkan akan segera dilaluinya kurang dari satu jam lagi. Pernikahannya sudah di depan mata. Ia sudah memakai jas putih yang kemarin ia pilih. Di saku jasnya ada satu potongan bunga mawar merah.
Rambutnya yang kemarin sudah lumayan panjang dipotong sedikit dan dirapikan. Semua poni di sisir kebelakang dan diberi gel rambut. Membuat penampilan Naruto kali ini rapi dan luar biasa tampan. Walaupun menyusahkan, tapi tetap saja ini pernikahannya. Mau dikata apa seorang Uzumaki Naruto kalah tampan di pestanya sendiri?
"Hey, tampan." seruan menggoda dari arah pintu masuk membuat Naruto berbalik. Disana ada ibunya dengan gaun warna merah lembut yang sangat serasi dengan rambutnya. Perlahan, Kushina melangkah mendekati anak satu-satunya yang menjulang tinggi dengan jas yang membuatnya berlipat kali lebih tampan dari biasanya.
"Tou-san mana, kaa-san?"
"Sedang mengobrol dengan Jiraya-jiisan." Jawab Kushina. Lalu tangan rampingnya mengusap lembut pipi bergaris tiga itu, turun kebahu tegap Naruto dan berakhir di dada sang anak. Rasanya baru kemarin ia melahirkan Naruto. Menimangnya dan bermain bersama. Tapi sekarang, anak lelakinya sudah besar dan akan menjadi calon ayah.
"Kenapa menangis?" Naruto membelai lembut pipi ibunya yang dialiri air mata. "Maskara kaa-san nanti luntur."
Kushina terkekeh sejenak, lalu menatap dalam mata biru kesukaanya itu. "Kau bahagia, sayang?"
Ini pertama kalinya Naruto menarik senyum tulus setelah sekian lama. "Apa kaa-san bahagia?"
"Tentu. Apa yang harus ku keluhkan lagi saat semua sudah ku miliki? Ayahmu, dirimu, keluarga, dan sekarang ada Hinata serta calon cucuku. Aku akan menjadi pendosa jika tak bersyukur dan bahagia." Tangis Kushina makin deras. Mungkin saja kali ini Kushina tak perduli sama sekali tentang penampilannya. Waktu penuh emosi seperti ini bersama Naruto sangat jarang ia dapatkan.
"Berbahagialah, kaa-san. Itu impian setiap anak. Melihat orang tuanya bahagia, maka dengan sendirinya anak akan berbahagia. Selama ini aku memang salah selalu mementingkan urusanku tanpa merawat kaa-san dan tou-san dengan baik." Naruto memeluk ibunya lembut. "Berbahagialah dan ku mohon selalu sehat."
.
.
.
TBC…
Ini sudah update. Hehe
Hanya ini yang bisa saya persembahkan. Jadi, bagi yang suka saya sangat berterimakasih sudah terus mendukung author labil ini :*. Bagi semua nameline yang gak bisa aku cebutin atu-atu, maacih :*
Dan jika tidak saya juga berterimasih karena sudah menyempatkan baca serta memberi kritik. Kritik loh ya, bukan caci maki. Wkwk. Yang caci maki, aku mah diemin aja. Hehe
Kali ini ada beberapa kata dari author :
So, apa konflik selanjutnya setelah sakit-sakit ini, thor?
Yap, masih ada satu dua konflik ringan, sih. Sebagai bocoran, tentang keluarga Uchiha dan juga perasaan Naruto kepada Hinata, begitu juga sebaliknya. Aku sih rencananya mau masukin neji, tapi mau dipikirin dulu gimana caranya. Secara aku sudah menggambarkan Hinata sendirian di jepang, kan? Masih inget, kan? enggak? Yasudah T.T
Bagaimana chara yang lain? Seperti Kiba, Kakashi, Ino, Sai?
Ya, dichap ini Kiba sudah selesai. Gak terima? Silahkan berimajinasi sendiri. Wkwk. Kalau kakashi sendiri hanya figuran yg kebetulan dapat plot banyak di awal cerita. Ino dan sai? Nantilah ya kalau inget. Hahaha
Apa alurnya gak kecepatan? Tiba-tiba hamil, nikah terus bla..bla..bla.. lagi Hinata mau-mau aja dan bla..bla..bla.. gak masuk akal deh dan bla..bla..bla..
Hey~ it's magic, you know~
Tuhkan author nyanyi lagi, wkwk. Nyontek kata spons kuning sih, semua bisa kalian lakukan di IMAJINASI~ toh ya gak ada yg dirugikan jika saya buat tuh alur maju, mundur, atau maju-mundur cantik sekalian, haha Paling kalau ada yang bilang 'saya rugi waktu baca ff lo thor', sumpah rasanya mau salto di antara awan-awan kenyal terus terbang berputar di galaksi bimasakti dan bla..bla..bla..
Thor, kadang plotnya sedikit gak nyambung. Arah ceritanya sedikit tak teratur dan waktunya timeless bgt.
Ya, saya akui itu benar adanya. Ini mungkin karena saya ngetiknya diwaktu lain-lain. Maksudnya, saya ngetik plot ini hari ini, tapi selanjutnya besok atau gimana. Saya akui kesalahan yang ini, dan saya… MAAFKANLAH BILA KU SEL— #dichidori.
Terus thor—
Sampai berjumpa di lain waktu, wkwk
Salam LLYCHU~
