"Karena aku, Luhan. Untuk itulah aku mengetahui semuanya. Sebelum itu…..bolehkah setelah ini, aku memanggilmu dengan caraku sendiri, Sehun?"

"Seperti apa?"

Luhan mengulurkan tangan mungilnya yang di selimuti mantel hangat itu kepada Sehun, lelaki itu hanya diam melihat tingkahnya penuh rasa penasaran. Dan sungguh, Sehun tidak menyangka bahwa Luhan melakukan ini terhadapnya.

Gadis itu….memeluknya hangat. Kepalanya mendarat sempurna di bahu tegap Sehun. Tersenyum di belakangnya

"Sehunnie….bolehkah aku memanggilmu begitu?" gumam Luhan halus, dan sangat terdengar jelas di telinga Sehun.

Tubuh lelaki itu menegang sempurna, tangannya yang ingin balas memeluk Luhan mengambang di udara.

Suara manja yang begitu familiar…

.

"Hunnie….."

.

.Luhan….aku tahu sesungguhnya hubungan kita lebih dari sekedar teman baru di kota London.

Siapa kau dalam hidupku?

.

.

.

.

.

" Designer of My Wedding Dress "

..

By BaekbeeLu present

..

Main Cast : SEHUN and LUHAN

And OC(s)

..

Romance, Drama, Angst

T+ / M

Multichapter

..

Typo(s), Genderswith, DLDR !

..

CHAPTER 10

.

Happy Reading!

.

Good Bye, London.

Kelima jarinya meraba kaca jendela itu dengan dingin, kepulan asap putih lembut berhembus ringan dari bibirnya yang terbuka kecil. Tiada suara yang berarti untuk di dengarkan, yang ada hanya lah nuansa hening dengan sedikit denyar halus dari mesin pesawat di bawah sana.

Mata rusa itu tidak ingin terpejam sejak satu jam yang lalu, padahal seorang pramugari sudah menyuruhnya untuk beristirahat mengingat kondisi gadis ini masih dalam tahap pemulihan ;ucap dokter yang menanganinya. Seperti mendadak Ia menjadi tuli, gadis itu hanya tersenyum kecil dan mengacuhkan apa yang sudah pramugari itu nyatakan padanya.

Decihan mungil yang begitu kecil keluar dengan sombong dari kedua belah bibirnya.

Dasar pramugari cerewet ! gerutunya dalam hati

Semua penumpang mungkin sudah tertidur nyenyak, mengingat perjalanan udara dari London menuju Seoul bukanlah suatu jarak yang begitu dekat. Tapi, Luhan yang sedang dalam mode keras kepalanya terlihat malas untuk memejamkan mata. Padahal seseorang di sebelahnya sangat tahu bahwa gadis ini terlihat kelelahan.

Alhasil, Luhan lebih tertarik memandang kepulan awan udara di luar sana yang terombang-ambing oleh angin musim dingin. Hanya kegelapan yang terlihat, bintang pun tak bisa untuk di pandang. Tapi, seorang Xi Luhan masih sangat betah melihat ke sana.

Menerawang, lebih tepatnya sorot mata itu menggambarkan sesuatu yang begitu rumit dalam pikirannya.

Entah ini pertanda baik atau buruk, yang jelas pikiran Luhan terlalu banyak penuh akan keteka-tekian.

"Tidurlah, Lu. Aku tahu kau lelah"

Ucap seseorang di sebelahnya, begitu lembut dan penuh perhatian.

Luhan menghela nafas ringan, menoleh untuk sekedar menatap lawan bicaranya.

"Aku tidak mengantuk, Oppa" tersenyum kecil.

Yah, siapa lagi jika bukan Chanyeol yang gadis itu panggil dengan sebutan Oppa? Lelaki itulah yang menemaninya sejak awal mereka menginjakkan kaki di dalam pesawat ini, dan entah mengapa Luhan mendadak begitu canggung berbicara dengan lelaki itu. Mungkin ini efek dari sedikit rasa bersalahnya.

Rasa bersalah karena Luhan mengira malaikat penolong Ia sepenuhnya waktu itu adalah Sehun, tapi kenyataan yang Luhan dapati dari Kyungsoo dan Baekhyun…Chanyeol-lah lelaki sesungguhnya yang menyelamatkan nyawanya.

Di saat itu Luhan begitu terkejut, Ia sampai tidak tahu harus memberi respon apa terhadap Chanyeol. Namun, ketika mereka berkata lagi kepadanya bahwa Sehun-lah lelaki yang memberinya nafas buatan….Luhan bersyukur tanpa sadar.

Bersyukur karena Sehun yang menciumnya, bukan Chanyeol. Lelaki yang begitu di cintai oleh sahabatnya.

Mengingat soal Baekhyun, bagaimana ungkapan balasan sahabatnya itu terhadap Sehun? Tentu Baekhyun menolaknya, bukan?

Tapi Luhan sangat penasaran atas apa yang sedang mereka perbincangkan di depan sana !

"Luhan, kau masih harus istirahat. Kumohon, kesehatanmu belum sembuh benar" Chanyeol masih bersusah payah membujuk Luhan, bahkan lelaki itu kini telah menyampirkan selimut hangat di tubuh gadis itu.

Luhan memberengut dan menatap Chanyeol sinis ;namun urung. Gadis itu hanya tersenyum dan mencoba untuk berbaring. Chanyeol sudah menurunkan kursi penumpangnya, agar Luhan tertidur dengan nyaman.

Sebenarnya, tidak sepenuhnya kemauan Luhan memilih Chanyeol yang duduk di sampingnya. Ia ingin berteriak agar Sehun menemaninya jika Ia bisa, tapi dengan bodohnya Luhan menyetujui penawaran Chanyeol yang ingin berbicara dan duduk di sampingnya.

Padahal mereka sudah di pasangkan dengan pas. Chanyeol seharusnya di sebelah Baekhyun, dan Sehun bersama Luhan. Namun, semua itu tidak sesuai dengan harapan.

Dan kenapa juga Sehun harus mengingat jika Baekhyun belum membalas pernyataan cintanya tempo lalu? Hingga pada akhirnya, mereka berdua saat ini sedang berbincang hangat di kursi penumpang berhalat dua bangku di depan Luhan.

Hal itulah yang membuat Luhan sejak tadi merasa uring-uringan dalam diam di kepalanya !

Luhan menghela nafas lagi, Ia mencoba untuk berpikir positif dan mentenangkan kerisauannya. Mata rusa itu mulai memejam pelan.

Chanyeol melepaskan earphone mungil yang sejak awal menutupi pendengarannya, lelaki itu melirik ke arah seseorang yang begitu cantik di sebelahnya. Luhan tertidur nyaman dengan posisi membelakangi Chanyeol, lelaki itu hanya menatap punggung gadis itu dalam diam.

Tangannya mulai terulur pelan, mencoba menggapai wajah itu. Chanyeol mengusap kepala Luhan sayang, Ia juga menyisir lembut surai keemasan itu agar terlihat lebih rapi.

Apa yang lelaki itu rasakan?

Chanyeol merasa ada gelenyar manis yang menjalar hangat dalam tubuhnya. Perasaannya begitu damai dan nyaman. Lelaki itu hanya membiarkan naluri membawanya pergi, terus menatap wajah damai itu sambil membisu.

Sorot matanya mengisyaratkan sesuatu yang lain, mungkinkah memang Ia merasa kembali mencintai Luhan?

Lelaki itu terus bergeming tenang, mengusap hangat dan penuh perhatian. Luhan menggeliat sedikit dengan tiba-tiba merubah posisi tidurnya. Tepat saat ini seutuhnya berada di hadapan Chanyeol.

Gadis itu, wajah tidurnya begitu damai. Ada senyuman kecil yang tersampir sangat menawan di bibirnya. Dengkuran halusnya, bagai pengantar lagu yang terdengar indah di telinga Chanyeol.

Sadar Chanyeol ! Sadarlah ! Gadis yang kau kagumi saat ini adalah seseorang yang begitu sahabatmu cintai.

Chanyeol tahu kejadian itu, dia juga sangat paham mengapa sampai saat ini Sehun memandang Luhan sebagai seseorang yang asing, padahal semua orang tahu siapa sebenarnya sosok Luhan di kehidupan lelaki itu.

Dan, karena itulah Chanyeol selalu berusaha untuk menjaga Luhan. Terus berusaha membuatnya tersenyum bahagia, karena lelaki itu tahu seberapa terpukulnya Luhan ketika mendapati Sehun sama sekali tidak mengingatnya semenjak kejadian kecelakaan itu.

Hatinya seperti di tempatkan pada dua pilihan. Dan, Chanyeol tidak ingin menjadi seorang lelaki brengsek dengan mencintai kedua gadis sekaligus !

Chanyeol menarik nafas panjang, menyandarkan kepalanya yang mendadak terasa pusing pada sandaran kursi. Kepala lelaki itu menggeleng keras, kehangatan dalam hatinya beberapa saat lalu hampir saja membuatnya salah paham.

Lelaki itu memilih bangkit. Benar, bukan dia seharusnya yang berada disini.

"Apa kau tidak suka berdekatan denganku?"

Baekhyun masih bergeming di tempat tidurnya, berpura-pura memejamkan mata dan mencoba untuk mendengkur halus. Berusaha agar Sehun mengira Ia benar-benar tertidur.

Tapi, Sehun bukanlah lelaki payah yang mudah untuk di bodohi. Sejak awal mereka duduk di pesawat ini tidak ada percakapan berarti yang tercipta dari keduanya.

Sejak saat Sehun menyatakan perasaan cintanya pada Baekhyun, gadis itu malah terlihat menjaga jarak padanya.

Setiap kali Sehun ingin memulai suatu obrolan, pasti Baekhyun akan menghindarinya dan mengatakan berbagai macam alasan.

"Baek, aku tahu bahwa kau hanya berpura-pura," dengusnya ringan "Apa ini artinya kau menolak ku? Setidaknya berikan aku sebuah kepastian. Aku bersungguh-sungguh dengan perasaanku padamu, Baek. Tidak bisakah kau memahami itu?" lelaki itu masih tetap mempertahankan posisinya.

Baekhyun memejamkan matanya semakin erat, Ia sedang berusaha untuk tetap diam. Berusaha menghalau getaran menyakitkan yang perlahan kembali menghampiri hatinya, rasa bersalah itu…..kembali membuatnya resah.

Tinggalkan aku, Sehun ! Bukan aku wanita yang kau inginkan ! Bukan kau pula lelaki yang kucintai !

Hening, sama seperti sebelumnya.

Gadis itu mengambil nafas sejenak, dia harus menyelesaikan ini.

"Pergilah, Sehun. Kumohon….." lirih gadis itu dengan nada gemetar, Baekhyun mengigit bibirnya pelan dengan harapan Sehun dapat mengerti maksud sesungguhnya.

Ia takut kembali untuk menangis…

Menangis karena khawatir Luhan mungkin akan benar-benar membencinya. Walau sahabat kesayangannya itu selalu tersenyum manis seperti biasa sehingga menganggap tidak pernah terjadi apa-apa, tapi Baekhyun tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya. Luhan terus mencoba menutupi semua sakitnya dengan topeng wajah cantik penuh senyuman, namun Baekhyun tahu….sorot mata rusa itu terlihat redup.

Sendu. Sepi. Dan, hampa.

Sehun menghela nafas kasar, lelaki itu memandang punggung Baekhyun nanar dengan rasa kekesalan yang mengkukus di kepalanya.

Hah. Dia di tolak, tentu saja Sehun tahu! Tanpa Baekhyun perlu menjelaskannya secara keseluruhan.

Tapi mengapa? Apa alasan gadis itu menolaknya? Tidakkah selama ini apa yang Sehun lakukan untuknya itu tulus? Namun, mengapa Baekhyun seolah buta untuk menyadari semuanya.

Lelaki itu memilih bungkam, kepalan tangannya begitu erat.

Emosi secara tiba-tiba membuatnya begitu marah! Sorot matanya yang tajam itu, rasanya seperti terdapat aura lain yang hampir menguasainya. Semua itu hampir terjadi, sebelum seseorang mengejutkannya dengan satu tepukan di bahu kanan.

"Kembalilah ke tempatmu, Sehun. Temani Luhan…" kata Chanyeol lembut dengan senyuman tipis penuh arti yang tidak dapat di mengerti oleh Sehun.

Kembali pada hatimu yang sesungguhnya

.

.

Designer of My Wedding Dress

.

.

Seoul, South Korea 16:00 KST

Telapak kaki itu semakin tidak sabar ketika Ia sudah menapak pada kota kelahirannya. Seorang gadis dengan perawakan mungil yang cantik, berlari kecil dengan senyuman cerah menghiasi wajahnya yang bersinar.

Tangannya yang berlapis sarung putih berbulu itu, Ia lepas dengan bebas sehingga kesepuluh jemari lentiknya menyentuh senang pada gumpalan mungil salju yang berjatuhan.

Luhan menyesap aroma khas Korea yang begitu di rindukannya, nuansa kota ini tetap sama tidak sedikit mengalami perbedaan sejak tiga tahun lalu Luhan meninggalkannya.

Keramaiannya mendominasi dimana-mana, banyaknya orang yang berlalu lalang dengan pakaian tebal mereka, Luhan melihat semuanya dengan senang.

Salju tidak terlalu banyak berjatuhan, jadi bisa di bilang hari ini adalah cuaca bagus dalam musim dingin. Perjalanan udara mereka, semuanya berjalan dengan lancar.

"Pakai sarung tanganmu, sayang. Kau masih belum sehat seutuhnya…." Lian gemas setengah frustasi menanggapi sifat kekanakan Luhan yang terkadang tidak bisa untuk di hilangkan.

Luhan memberengut dengan bibir mencebil imut ketika Ibunya mengomel dan memaksanya kembali untuk memakai sarung tangan.

Semua barang-barang mereka sudah di muat dalam bagasi mobil, dan Luhan begitu merindukan rumah dan kamar kesayangannya yang penuh mawar.

"Bagaimana perasaanmu setelah kembali kesini, sayang? Apa itu banyak berubah?" tanya Jisung ketika melihat Luhan begitu asik memandang semua objek di luar sana melalui jendela kaca mobilnya.

Luhan menoleh dan tersenyum, saat ini mereka sudah di perjalanan menuju rumah.

"Seperti biasanya, Papa. Korea adalah Negara yang terbaik menurutku. Semuanya…..masih terasa sama, " karena semua kenangan kecilku, berada di Negara ini.

"Kau pasti akan lebih bahagia lagi saat mendapat kejutan yang sudah kami siapkan, sayang. Setelah ini, putri kecil kami tidak boleh pergi jauh-jauh lagi"

Luhan semakin tersenyum hingga kedua mata rusanya menyipit dengan amat mengagumkan. Gadis itu mengangguk dan kembali pada fokusnya yang menerawang dunia luar.

.

.


Designer of My Wedding Dress


.

.

11 Januari 2017 –Winter

Kalender yang terpajang di atas nakas itu, Kai ambil dengan penuh rasa bahagia dalam jiwanya. Ia memperhatikan semua tanggal yang berurutan itu dengan mata berpancar cerah. Banyak goresan menyilang dengan tinta merah menyala di setiap angka itu.

Angka yang di mulai dari urutan satu hingga sebelas, semuanya di hiasi dalam satu garis menyilang yang apik.

Dari semua angka disana, tentu hanya 'satu' yang begitu istimewah. Dimana, hari yang begitu Ia tunggu-tunggu akhirnya tiba.

Persiapan yang sejak lama sudah Ia lakukan, mengkuatkan tekadnya untuk lebih dari sekedar mencintai seorang gadis yang sudah sejak lama mengisi di samping perjalanan hidupnya.

Kai tersenyum penuh arti, Inilah harinya.

Ia mengambil sesuatu dalam sakunya, membuka pintu yang menutup rapat sebuah benda bersinar di dalam sana. Melihatnya sekilas penuh rasa bahagia yang membuncah, dan menutupnya kembali.

Lelaki itu meletakkan kembali kalendernya dan mengambil kunci mobilnya.

Pergi untuk menjemput wanitanya.

..

..

..

"Kita kencan kemana hari ini, Kai?"

Lelaki itu hanya tersenyum dan mengaitkan jemarinya di pergelangan tangan kekasihnya.

Kyungsoo terlihat mempesona sekali hari ini. Ia memakai gaun panjang dengan warna biru seindah batu sapir dengan kilauan cahaya bersinar di setiap kulitnya. Mantel tebal secerah sinar rembulan itu menutupi tubuhnya agar tetap hangat dari hawa dingin. Ada sepasang stiletto menggemaskan namun begitu anggun membungkus kedua kakinya.

Semua itu, Kai sendiri yang menghadiahkannya.

Wanitanya terlihat sangat mempesona dan begitu menakjubkan.

"Kita akan makan malam, sayang. Ikuti saja kemana hamba ini akan membawamu pergi, wahai Ratuku"

Kyungsoo merona di buatnya, gadis itu semakin merapatkan diri pada rangkulan kekasihnya.

..

Cukup lama, menghabiskan waktu dalam perjalanan menuju ke salah satu restaurant Italia terbaik di Seoul. Namun, semua kejenuhan itu akan terbayar ketika pertama kali mata memandang pada segala kilauan yang begitu memukau ini.

Restaurant megah dengan banyaknya lampu Kristal yang bersinar. Tempat makan dengan meja bundar dan bunga serta lilin-lilin romantis, belum lagi hiburan music klasik Eropa yang memanjakan indra pendengar para pengunjung yang datang.

Kai menyewa satu ruangan yang terdapat di lantai empat restaurant itu. Lantai teratas dimana kita bisa melihat pemandangan malam kota Seoul yang begitu menakjubkan dengan gemerlap cahaya kecil-kecil yang tersebar luas.

Semua meja di kosongkan, dan ada satu yang sangat menarik perhatian.

Seluruh sisi ruangan itu sudah di hiasi sedemikian indahnya, banyaknya pita merah dan putih menggantung dengan cantik. Lilin-lilin kecil dengan taburan kelopak mawar menyinari lantai kramik. Mengisi dalam satu jalan lurus menuju satu meja disana.

Meja istimewah yang berhadapan langsung pada kaca transparan. Menghadap langsung pada hamparan kilauan cahaya di luar sana.

Kai menuntun jalan Kyungsoo dengan penuh kehati-hatian, jemarinya menggenggam erat kedua tangan Kyungsoo. Mata kekasihnya itu sengaja Kai tutup dengan sehelai kain.

Memberi Kyungsoo kejutan spesialnya.

"Kai, apa ini sudah? Aku sungguh tidak sabar !" desak Kyungsoo bersamaan dengan senyum cantiknya yang tak perlah lepas sejak tadi Kai menjemputnya di rumah.

"Sedikit lagi, Ratuku" bisik Kai

Mereka berjalan dengan langkah kaki yang indah, setiap ketukan yang dibawa keduanya mengeluarkan aura kebahagiaan penuh cinta. Lantai empat itu bagai di hipnotis, nuansanya benar-benar penuh aroma romantis dan kehangatan.

Kali ini Kai menuntun Kyungsoo untuk duduk di kursi Ratunya. Lelaki itu membuka penutup mata kekasihnya pelan, dan Kyungsoo membuka matanya dengan tidak sabar.

Astaga! Ini benar-benar menakjubkan !

Kyungsoo berdecak penuh kekaguman melihat semua persiapan yang telah di buat kekasihnya.

"Kai, kau melakukan ini untukku?! Tapi, untuk perayaan apa?!" matanya berpancar bahagia dan takjub.

Kai duduk berhadapan dengan Kyungsoo, menggenggam kedua tangan kekasihnya itu sayang "Perayaan hari jadi kita, sayang. Happy Anniversary untuk yang ke-5 tahun, Kim Kyungsoo"

Anniversary?!

Kyungsoo tidak bisa untuk menutupi rasa harunya. Yah, bagaimana bisa Ia hampir lupa dengan perayaan hari jadi mereka? Ini sudah lima tahun semenjak Kai menyatakan perasaannya sewaktu mereka lulus dari SHS.

Gadis itu tersenyum dan terkekeh kecil, Ia hampir saja menjatuhkan airmatanya jika Kai tidak melarangnya.

"Jangan menangis dulu, Chagi. Ini baru dimulai" Lelaki itu mengusap pipi Kyungsoo dan tersenyum penuh arti.

Kai mengisyaratkan pada pelayan untuk mengantarkan pesanan mereka. Langsung saja, tiga troli berjejer rapi dengan beragam sajian di atasnya yang masih di tutup rapat.

Para pelayan itu membungkuk sopan sebentar, lalu mulai menyusun semua sajian itu di atas meja mereka.

Semua sajian di sana adalah makanan Eropa kesukaan Kyungsoo. Kai memang tidak akan pernah main-main dalam memanjakan kekasihnya.

Mereka terus melempar senyuman bahagia satu sama lain, memakan semua sajian itu dengan khidmat dan penuh tata krama yang terlihat menakjubkan.

Seperti jamuan makan pangeran dan pemaisurinya, hanya mereka berdua.

Makan malam telah usai, waktu hampir menuju ke tengah malam. Tapi, keduanya seperti tidak merasakan sudah lama waktu itu berlalu. Setelah makan tadi, keduanya menikmati dengan senang dari pertunjukkan musik klasik. Bahkan Kyungsoo tak segan menunjukkan kebolehannya ketika satu harpis menawarinya untuk bermain alat musik.

Harpa adalah hobbynya.

Kai melirik arlojinya, Ia menyeringai senang.

11:50 P.M KST

Sudah waktunya, pergantian malam menuju ulang tahun Kyungsoo.

Kai mengisyaratkan sesuatu yang misterius kepada para pelayan yang akan membantunya.

Lelaki itu kembali menggenggam jemari lentik Kyungsoo, membawanya kembali pada meja mereka.

"Kau sudah siap?"

"Siap, untuk kejutan lagi?!"

Para pelayan kembali menghampiri mereka, membawa tiga troli lagi. Bedanya, kali ini bukan sajian makanan yang berada di atasnya melainkan…

Kyungsoo membelalak matanya tak percaya, kedua tangannya secara refleks membekap mulutnya yang tanpa sadar terbuka.

Astaga ! Troli itu di hiasi dengan lebih banyaknya bunga yang bermekaran. Mereka membawa tumpukkan hadiah yang semua kotaknya di hiasi dengan pita keemasan dan merah cinta yang menyala.

Jika Kyungsoo dapat mengira, mungkin ada sekitar 24 kotak hadiah dengan ukuran berbeda-beda. Sungguh, apa benar semua hadiah itu untuk dirinya?!

"Ka-Kai I-Ini…untuk-ku?!" Kyungsoo menunjuk dirinya sendiri, masih dengan tatapan tak percayanya.

"Sebelum itu, maukah kau membuka satu yang terspesial dari semua ini sayang?"

Kai mengambil satu buket bunga terbesar. Di rangkai dalam satu keranjang rotan yang setiap sisinya dihiasi kain siffon putih dengan kerlap-kerlip butiran mutiara. Semuanya terlihat semakin bersinar saat lampu pijar di atas sana menyinarinya.

Kyungsoo mengambil buket itu, dan memeluknya susah payah. Di atas mawar-mawar itu terdapat banyaknya note kecil yang bertuliskan macam-macam kata yang berbeda, juga ada angka yang berurutan di dalamnya.

Kyungsoo memulai dari angka satu, dan membaca sederet kalimat hangul itu.

.

.

Selamat ulang tahun, sayangku.

Ini adalah umurmu yang ke-24 tahun.

Begitu banyak harapan yang ingin ku ucapkan.

Namun, dari semuanya tentu aku mengharapkan yang terbaik.

Semoga tuhan selalu mewujudkan segala harapanmu.

Apapun yang kau cita-citakan, mari kita bersama untuk menggapainya.

Dulu, aku pernah berkata sesuatu bukan?

Bahwa di angka 24 aku ingin mengatakan kejujuranku yang lain.

Selama lima tahun, kau telah bersedia untuk berada di sampingku.

Maaf, jika terkadang kekasih tampanmu ini suka membuatmu kesal.

Tapi, kau tahu bukan? Bahwa aku tak pernah mengurangi seluruh kasih sayangku.

Setiap kau menghembuskan nafas,

Maka sebanyak itulah cintaku mengalir dalam genggamanmu.

Apakah ini cukup romantis? Aku harap kau terkesan.

Dari semua yang aku ucapkan,

Ada satu tujuan yang ingin aku dapatkan dari jawabanmu.

Pernyataan, bahwa aku ingin mengakhiri hubungan ini….

Menjadi suatu yang lebih berarti….

..

Kyungsoo mengambil kertas ke-19. Ia gugup, sangat gugup !

..

Do Kyungsoo…

Maukah kau menikah denganku? ,

Menjadi Ibu dari anak-anakku?,

Mengganti margamu menjadi marga keluargaku?,

Menjadi satu-satunya pendamping hidupku sampai aku mati?,

..

Air matanya sudah mengalir deras. Tubuhnya bergetar hebat, Kyungsoo mengambil note terakhir yang di lekatkan pada kotak kado mungil.

Gadis itu membuka penutupnya, dan meraung keras.

Kotak dengan cincin platina yang memiliki satu permata berlian cantik di atasnya. Ukiran sisinya bertuliskan jelas nama,

Kim Kyungsoo.

Kai beranjak dari tempatnya. Mengambil kedua tangan Kyungsoo dan berlutut di hadapan gadis itu.

Lelaki itu mengambil alih kotak cincinnya. Senyuman penuh harapan dengan mata tajam penuh kilau kecerahan, Ia sajikan dalam satu wadah kebahagiaan pada Kyungsoo.

"Dan, maukah kau melanjutkan langkah hidupmu untuk tetap bersamaku sampai mautlah yang memisahkan kita? Menjadi separuh dari jiwaku selamanya dan mulai membangun keluarga kecil kita?" tanya Kai penuh keseriusan dan harapan jawaban 'Ya' dari wanitanya.

Kyungsoo sesenggukan parah. Turun dari kursinya dan memeluk Kai begitu erat. Kepalanya Ia sembunyikan dengan sayang di celuk leher kekasihnya, dan Kyungsoo tidak bisa untuk mempunyai alasan menolak.

Karena sampai kapan pun, kata 'Ya' dan 'Bersedia' akan selalu setia Ia kumandangkan hanya untuk Kai.

Suami masa depannya.

.

.


Designer of My Wedding Dress


.

.

Sepertinya di Seoul tidak terlalu banyak jatuhnya salju tahun ini. Setiap jalan yang di lalui, hanya beberapa dari sisinya yang tertimbun tipis. Langit di selimuti kabut putih ringan, sejak minggu lalu salju hanya turun di malam hari.

Luhan meniupkan Americano hangatnya dengan ringan, menyeruput rasa coffenya yang beraroma menyenangkan. Kedua tangannya menjadi semakin hangat kala cangkirnya Ia genggam, dan Luhan sangat suka sensasi itu.

Matanya melirik ke arah seorang lelaki yang berdiri tegap di depan meja kasir. Membayar dan membawa pesanan mereka dalam satu nampan.

Tapi Luhan sedikit kesal ! Wanita yang bertugas menjadi seorang kasir itu secara sengaja berujar manja dengan kedipan mata genit yang memuakkan.

Ingin rasanya Luhan melempar wajah itu dengan Americanonya ini !

Lelaki itu sampai di meja mereka, dan duduk di hadapan Luhan.

"Kenapa cemberut, Lu? Apa cafénya tidak membuatmu nyaman?"

Luhan menggeleng pelan, dan tersenyum manis.

"Tidak, aku suka disini. Terimakasih sudah mau menemaniku jalan-jalan, Sehunnie"

Sehun balas tersenyum dan tetap fokus pada Luhan.

Bicara soal panggilan barunya dari Luhan, Ia merasa begitu menyukai kalimat itu.

Sehunnie. Rasanya begitu nyaman dan hangat ketika Luhan menyebutkannya. Belum lagi dengan nada manja alaminya yang Sehun akui, Ia sangat menyukainya.

Sehun terkekeh sendiri membayangkannya. Entahlah, Ia begitu suka panggilan baru itu.

Mereka seperti pasangan kekasih yang lagi berkencan romantis, bukan? Walaupun Sehun tidak mengingat bahwa Luhan memanglah kekasihnya sejak lama.

"Habis ini kau ingin kemana lagi?" Sehun bertanya ketika melirik sajian mereka telah di bereskan oleh pelayan.

Luhan bergumam dengan raut berpikir yang menggemaskan, gadis itu melirik arlojinya sebentar dan teringat akan sesuatu.

"Mama menyuruhku sekalian untuk melihat butik. Memantau bagaimana persiapannya, karena besok adalah hari peresmian namaku disana"

"Kau menggapai cita-citamu dengan cepat. Aku akan menemani besok, sekaligus ingin melihat-lihat seberapa menakjubkannya semua rancanganmu Lu"

Luhan merona samar dibuatnya. Oh Tuhan! Bisakah dirinya mencium Sehun saat ini juga? Kenapa lelaki itu pandai menuai kata pujian sekarang?!

Gadis itu menyibukkan dirinya dengan mengaitkan tas selempang di bahu kanannya.

Mereka beranjak dari sana dan mulai pergi.

Langkah kecil Luhan terhenti ketika Ia sampai di luar.

Wajahnya tanpa bisa di cegah terangkat ke atas, tubuhnya di tarik dengan erat dalam satu pelukan penuh kecemasan. Nafasnya memburu dengan gelisah, sorot matanya yang beberapa saat selalu terpancar cerah saat ini menjadi beku dan kosong.

"Tidak apa-apa, Lu. Kau aman, kau aman bersamaku"

Sehun terus mengucapkan kalimat menenangkan untuk Luhan. Pelukannya pada tubuh mungil itu semakin erat ketika merasa Luhan mulai menangis dalam diam di pelukannya. Tubuh gadis itu terguncang hebat, Sehun bisa merasakan bahwa Luhan melemas dan begitu rapuh di dalamnya. Ia juga bisa merasakan detak jantung Luhan yang memburu dengan cepat, sama seperti detak jantungnya yang berdetak hebat.

Semua terjadi tanpa bisa di cegah, Luhan hampir menjadi korban dalam satu kecelakaan tragis jika saja Sehun tidak langsung menariknya dengan cepat menuju ke pinggir jalan hingga memeluk gadis itu sangat erat.

Menyelamatkan nyawanya lagi.

Mobil yang melaju di luar jalur yang seharusnya, dengan kecepatan tinggi itu hampir membuat Luhan berakhir dengan bersimpah darah dan tubuh penuh luka berat.

Ingin rasanya Sehun membunuh pengemudi ugalan itu yang hampir saja menyakiti seseorang yang mulai berarti dalam hidupnya.

Sehun khawatir, sangat! Bahkan keringat dingin sudah membasahi hampir seluruh wajah dan tubuhnya. Kecemasannya begitu tinggi hingga Ia merasa ingin menangis.

Getaran dalam jiwanya membuat Ia sesak bukan main! Seluruh pikirannya terfokus pada gadis yang berada di dekapannya.

"Hu-hunnie….ta-takut…..ta-takut….." cicit Luhan dengan bibir bergetar, air mata ketakutan jelas membanjiri wajahnya yang cantik. Mata gadis itu susah untuk berkedip, gerakan bola matanya bergulir dengan gelisah.

Sehun bernafas susah payah dan mengecup puncuk kepala Luhan beberapa kali. Memberi gadis itu sedikit kekuatan dan mengatakan bahwa Ia sudah aman sekarang.

Sehun bersedia memeluknya seharian jika Luhan menginginkannya.

Lelaki itu mendorong kepalanya ke belakang dan menatap Luhan penuh rasa kepedihan. Sehun tidak suka melihat Luhan yang seperti ini. Sorot mata kosong yang menyorot hampa, jutaan genangan air mata yang membasahi wajahnya, dan bibir yang terkuak kering penuh gemetar.

Luhan masih sangat syok pada hal yang baru saja hampir menimpanya. Bagaimana jika tidak ada Sehun yang menolongnya? Bagaimana jika Ia tadi di tabrak oleh mobil itu? Bagaimana jika Ia berakhir dengan kondisi sangat kritis di ranjang rumah sakit lagi?

Atau lebih buruknya, bagaimana jika Ia meninggal tepat di depan pandangan Sehun?

Luhan takut, sangat takut. Ia meraung keras dan mencengkam erat kemeja Sehun di bagian punggungnya.

Sehun tidak tahan melihat Luhan seperti ini, Ia menangkup wajah gadis itu dan mencium bibirnya penuh rasa kelembutan. Menyalurkan Luhan kekuatan non verbal yang membuat gadis itu harus yakin bahwa Ia sudah sangat aman bersamanya sekarang.

Sehun tidak peduli jika banyak orang yang melihat mereka, bahkan Sehun sangat tahu bila kejadian tadi sangat jelas menyita perhatian orang-orang.

Sehun tidak peduli mereka semua, baginya ketenangan Luhan adalah yang terpenting.

Bibir lelaki itu membawa Luhan pada rasa aman yang menyenangkan. Tanpa perlu harus berpikir untuk tujuan apa, Luhan membalas Sehun tak kalah lembutnya.

Masih dengan menyalurkan cinta terpendamnya untuk Sehun, meski lelaki itu belum sepenuhnya menyadari keberadaan Luhan yang sesungguhnya dalam kehidupannya.

Sehun pihak pertama yang memutuskan tautan mereka. Mengecup dahi Luhan lama sebelum tersenyum dan berbisik tenang dengan Luhan yang kembali Ia bawa pada pelukannya.

"Maafkan aku Luhan, tapi kau sudah aman bersamaku"

Luhan mengangguk ringan dalam dekapan lelaki itu. Seharusnya Sehun tidak perlu minta maaf untuk ciuman mereka. Tapi, Luhan memaklumi hal itu.

Sehun hanya belum menyadari keberadaannya. Suatu saat pasti lelaki itu akan kembali mengingat semuanya. Luhan yakin itu.

Tiba-tiba Luhan merasakan kepalanya mendadak pusing. Mungkin efek dari rasa keterkejutannya masih menguasai alam bawah sadarnya.

Dan, Sehun kembali mendadak panik ketika Luhan ambruk seketika dalam dekapannya.

.

.


Designer of My Wedding Dress


.

.

"Hunnie! Hunnie! Tangkapkan Lulu kupu-kupu ya"

"Hunnie! Jangan di habiskan kue coklatnya, Lulu juga mau! Ish, Hunnie jahat!"

"Hunnie kenapa? Apa ini sakit? Kan Lulu sudah bilang jangan lari-lari, 'tuh Hunnie jadi jatuhkan?!"

"Hunnie, terimakasih buat kado ulang tahunnya! Lulu suka, suka sekali kekeke"

..

Sehun bergerak gelisah di tempat tidurnya. Kepalanya menggeleng ke samping kiri dan kanan beberapa kali. Nafasnya sedikit memburu dengan keringat dingin yang membanjiri dahinya.

Ia membuka matanya cepat dan menghela nafas panjang. Lagi-lagi mimpi itu.

Akhir-akhir ini Sehun sering sekali bermimpi yang tak pernah Ia duga sebelumnya. Ia seperti dibawa pada dunia lain yang dimana terdapat dua orang bocah kecil berumur lima tahun yang bermain-main pada sebuah taman.

Anak laki-laki dengan anak perempuan yang begitu menggemaskan.

Tapi ketika Ia mulai terbangun, Sehun sama sekali tidak bisa mengingat mimpi itu lagi. Ia tidak bisa mengingat bagaimana rupa kedua bocah kecil itu. Ia juga tidak bisa mengingat apa saja yang mereka katakan.

Sehun hanya mengingat kedua bocah itu saling bermain riang dan membelakangi dirinya begitu jauh hingga Ia tidak bisa mendengar jelas apa yang tengah anak kecil itu katakan.

Setiap Sehun mencoba mengingat mimpinya dengan keras, kepalanya pasti berakhir sangat sakit.

Rasa nyeri dan pusing tiba-tiba datang seperti menusuk isi kepalanya menggunakan belatih tajam.

Sehun menjambak rambutnya sendiri, dan mencoba bernafas seperti biasanya. Ia melirik jam di atas nakas yang sudah menujukkan pukul enam pagi.

Sehun butuh mandi air hangat untuk mentenangkan dirinya kembali. Sekaligus membuatkan sarapan untuk seorang gadis yang mungkin masih tertidur nyaman di kamar sebelah, di apartementnya.

Lima belas menit adalah waktu yang cukup untuknya menyegarkan diri. Sehun sudah siap dengan stelan santainya. Kaos putih polos dan celana kain sebatas lututnya, rambut yang di turunkan dengan aksen sedikit acak-acakkan itu menambah kesan sexy pada dirinya.

Entah kenapa, Sehun merasa Ia begitu tidak sabar untuk bertemu dengan Luhan.

Lelaki itu tersenyum sembari melangkahkan kakinya ringan dari kamarnya. Sekarang Ia berdiri tepat di depan kamar tamu yang di kenakan Luhan semalaman, rasanya Sehun sedikit gugup dan kaku.

Lelaki itu berdehem pelan dan membawa kepalan tangannya untuk mengetuk pintu.

Tapi tanpa terduga, pintu itu terbuka lebih dulu. Membuat Sehun terkejut bukan main dengan tubuh sukses menegang sempurna.

Luhan juga terkejut mendapati Sehun berdiri cukup dekat di hadapannya. Matanya mengerjap beberapa kali dan menahan napas.

Ya Tuhan! Ingatkan Luhan bahwa Ia harus bersabar untuk tidak memeluk Sehun! kekasihnya itu begitu tampan sekaligus menggemaskan dengan rambutnya yang down itu.

Luhan jadi benci Sehun lupa ingatan.

Lelaki itu menggaruk tengkuknya kikuk "Emm, aku berniat untuk membangunkanmu. Tapi, tentu saja kau sudah bangun sekarang"

Luhan tersenyum dan menutup pintunya perlahan ketika Sehun beringsut mundur.

"Tidurku nyenyak, aku merasa sudah sehat kembali. Terimakasih lagi untuk pertolongannnya, Sehunnie"

"Tidak masalah," gumamnya "Aku akan membuatkanmu sarapan, kau bisa bersabar sebentarkan? Tak akan lama"

Mereka berjalan beriringan menuruni tangga.

Luhan terkekeh kecil "Seberapa lama pun itu, aku akan menunggumu" menunggu untukmu kembali pulang, Sehunnie.

Sehun mengangguk senang dan membuka lemari Esnya. Ada banyak bahan makanan mentah disana, seketika Ia menjadi bingung.

Makanan apa yang tepat untuk sarapan mereka pagi ini?

Luhan berjongkok di sebelah Sehun dan melihat isi dalam lemari Es itu.

"Aku ingin pancake strawberry," lirihnya

Sehun menolehkan pandangannya. Deru napas Luhan yang begitu hangat, membelai wajah Sehun dengan nyaman. Aroma mawar kepolosan mengguar indah dalam tarikan pernapasan Sehun.

Lelaki itu menatap lurus pada mata rusa Luhan yang bersinar "Kalau begitu ayo kita buat bersama-sama," balas Sehun lirih.

.

.

Designer of My Wedding Dress

.

.

Hanya sebuah butik dengan hampir seluruh sisinya di hiasi oleh kaca etalase bening. Butik yang memuat berbagai gaun bermacam desain dengan warna beragam. Pertokoaan yang menapak pada salah satu kawasan elit di Seoul.

Semua pegawai yang sangat berpengalaman di lantik langsung oleh Lian. Butik ini dulunya adalah suatu usaha kecil yang berujung penuh kesuksesan selama kurun waktu hampir lima tahun lamanya, berkepemilikan jelas dari keluarga Xi.

Jisunglah yang dulunya memberi butik ini sebagai usaha sampingan agar istrinya tidak merasa bosan terus-terusan berada di rumah, menyibukkan diri dengan bekerja.

Tapi, mengingat sekarang mereka punya seorang putri dengan talenta seorang perancang yang tak perlu di ragukan lagi. Lian dengan senang hati memberikan Luhan untuk melanjutkan tanggung jawabnya sebagai pemilik dari butik, QUEEN XI.

Puluhan potong gaun yang berjejer apik di dalam butik, maupun pakaian lainnya yang di gantung dengan cantik, hampir keseluruhan itu merupakan rancangan asli dari Luhan sendiri.

Sejak Ia berhasil merancang satu gaun pengantin untuk ujiannya tahun lalu, Luhan semakin ingin lebih banyak berkarya dengan merancang banyak gaun pengantin.

Alhasil, butiknya lebih banyak di dominasi oleh gaun impian itu.

"Gaun pengantinku harus yang tercantik, Hannie" ucap Kyungsoo dengan pipi bersemu merah yang berseri-seri sembari memeluk Luhan "Selamat untuk peresmian butikmu,"

Luhan membalas pelukan Kyungsoo tak kalah erat, gadis itu menatap Kyungsoo penuh binar kebahagiaan "Selamat juga untuk lamaranmu, Kyungie. Gaun pengantinmu adalah yang terindah nantinya" rasa haru yang menguasainya membuat Luhan hampir menangis.

"Bee juga ingin dilamar," gumam Baekhyun ketika Ia bergabung pada pelukan sahabatnya "Selamat untuk peresmiannya, Hannie"

"Kalau begitu mintalah Chanyeol oppa melakukannya untukmu," Kyungsoo dan Luhan kompak terkekeh pelan sembari menggoda Baekhyun dengan kedipan mata genit.

Baekhyun mendengus kesal dan melihat kedua sahabatnya itu dengan delikan tajam.

"Besok adalah hari pertunanganku. Kalian berdua harus tampil untuk mengisi acara ya"

"Aku tidak bisa, Kyungi. Maksudku, aku tidak bisa tampil. A-aku ingin menemani Chanyeol oppa semalaman" cicit Baekhyun. Sekarang, Ia yang bersemu merah.

"Eoh? Jadi sudah ada kemajuan untuk hubungan kalian? Aigoo, semoga oppa benar-benar akan melamarmu secepatnya juga Bee,"

Baekhyun hanya tersenyum malu menanggapi ucapan Kyungsoo.

"Kami belum berpacaran,"

"Dan, bisa saja Chanyeol oppa langsung mengajakmu untuk menikah dengannya kan?"

Sedangkan Luhan, Ia juga ikut tersenyum dan bahagia untuk kedua sahabatnya. Walau dalam hati kecilnya, Luhan merasa Ia begitu iri dengan Kyungsoo.

Gadis itu akan menikah dengan lelaki yang selama ini mencintainya, mereka yang saling mencintai. Membangun keluarga kecil, hidup dalam satu atap rumah yang sama, melakukan banyak hal bersama-sama, dan nantinya kebahagiaan mereka akan lebih berwarna ketika bayi-bayi mungilnya lahir.

Gadis mana di dunia ini yang tidak ingin menikah dan mendapat panggilan 'Mama' ?

Sungguh Luhan sangat ingin kehidupan yang penuh dengan cinta seperti itu.

Kapan Sehun juga akan melamarnya?

Apakah hari itu akan tiba? Apakah mereka nantinya akan menikah? Atau bagaimana jika takdir Luhan bukan berpihak kepada Sehun?

Luhan mengadahkan kepalanya ke atas dan berkedip cepat beberapa kali demi menghalau air matanya yang tiba-tiba ingin kembali luruh. Gadis itu menghela nafas resah, berusaha membuat hati sesaknya untuk kembali tenang.

"Hannie?"

"N-Ne?"

Kyungsoo menatap intens dengan perubahan wajah Luhan yang mendadak sedikit pucat "Kau baik-baik saja?" tanya gadis itu khawatir.

"Aku baik" gumam Luhan, menepuk pipi Kyungsoo pelan "Biar aku saja yang ikut mengisi acara pertunanganmu, Kyungi"

"Benarkah? Apa Hannie akan memainkan biola lagi?"

Luhan tersenyum penuh arti sembari menggeleng pelan.

"Tidak, kali ini biarkan aku bermain dengan piano"

..

'Kalau Lulu bisa bermain biola, Hunnie bisa memainkan piano ! Huah, Hunnie hebat!'

'Benarkah? Kalau begitu suatu saat kita harus bermain musik sama-sama ne,'

'Ne. Tentu saja, Lulu akan selalu bersama Hunnie '

'Aku juga akan selalu berada di sampingmu, Lulu. Selamanya'

..

Luhan tersenyum dalam hatinya ketika sedikit masa kecilnya kembali memenuhi memori dalam otaknya. Rasanya begitu bahagia dan menyenangkan.

Luhan begitu merindukan mereka di waktu kecil.

..

..

"Sehun,"

"Hm?" lelaki itu bergumam tenang sembari tetap memfokuskan pandangannya pada jalanan Seoul yang cukup ramai.

Acara peresmian itu telah usai, dan Luhan punya suatu hal lagi yang harus Ia lakukan hari ini. Mendatangi suatu tempat yang dulu pernah Ia datangi pula bersama Sehun.

"Terimakasih kau sudah ingin menemaniku," Luhan menatap Sehun meskipun lelaki itu tak menoleh ke arahnya.

Sehun hanya tersenyum, tapi Ia mendengarkan dan setia untuk menjawab.

"Tentu, Lu. Oke, persimpangan mana yang harus kita ambil?"

"Kiri, dan hanya beberapa meter setelahnya"

Sehun membawa mobilnya dengan ringan. Ia menuruti ucapan Luhan dan mengambil jalan dengan berbelok ke kiri.

Dari kejauhan Sehun bisa melihat ada satu taman yang luas dengan banyaknya anak kecil disana. Di samping taman itu ada sebuah rumah besar yang memanjang dengan banyaknya jendela yang berjejer rapi.

Sehun memarkirkan mobilnya ketika mereka sampai.

Sebuah Panti Asuhan yang di dirikan langsung oleh Ayahnya dan Ayah Luhan. Bahkan, Sehun baru mengetahuinya semalam lewat Ibunya jika keluarga mereka memiliki sebuah panti sosial ini. Yang dimana banyak menampung anak-anak kecil, yang tidak lagi memiliki keluarga.

Luhan turun lebih dulu, Sehun yang masih di dalam mobil melihat jelas interaksi Luhan dengan seorang wanita baya.

Mungkin sudah berumur lima puluhan, dan wanita baya itu terlihat sangat bahagia ketika mendapati keberadaan Luhan. Hingga menangis dan memeluk Luhan erat.

Sehun keluar dari mobilnya ketika Luhan sudah masuk ke dalam rumah besar itu. Lelaki itu melirik ke arah taman yang dimana banyak sekali anak-anak kecil disana. Mereka semua bermain dengan ceria dan penuh tawa.

Sehun tersenyum hangat melihat interaksi yang begitu menggemaskan itu. Lelaki itu melipat lengan kemejanya sebatas siku dan melepas satu kancing yang sedikit melilit di lehernya, juga sedikit menggulung celananya.

Sehun mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah mereka.

..

..

"Lulu, senang akhirnya Bibi bisa melihatmu kembali berkunjung sayang. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kau sudah dewasa dan sangat cantik," wanita baya itu masih menangis penuh kebahagiaan ketika mengetahui salah satu cucu kesayangannya kembali berkunjung.

Luhan tersenyum kecil dan menggenggam kedua tangan wanita itu hangat.

"Maafkan Lulu, Bibi. Seminggu yang lalu Lulu baru kembali ke Seoul, dan Lulu juga sudah sangat merindukan Bibi"

Bibi Ahn menghapus jejak air matanya dan ikut tersenyum. Wanita baya itu membelai pipi Luhan sayang.

"Lulu kecil benar-benar sudah dewasa dan semakin cantik. Sebentar lagi umurmu 24 tahun, apa semuanya baik-baik saja sayang?"

"Semuanya baik, Bibi. Dan terimakasih banyak untuk pujiannya, panti ini juga tidak berubah. Rasanya tetap hangat dan penuh kenyamanan seperti dulu," gumam Luhan sembari melirik ke jendela, tepatnya pada taman yang berada disana.

Luhan tersenyum penuh kehangatan ketika melihat sosok itu, sepenuhnya hanya sosok itu.

"Kau kesini bersama siapa?" tanya wanita itu, masih tak lepas menatap Luhan.

Luhan kembali mengalihkan perhatian pada Bibi Ahn setelahnya mengigit bibirnya dan merunduk pelan.

"Kau pergi bersama, Sehun?!" tanya wanita itu lagi, kali ini ekspresi terkejut sukses membuat pandangannya membulat sempurna.

Dan wanita baya itu semakin tidak percaya ketika melihat Luhan tersenyum dan mengangguk dua kali.

Yah, satu lagi orang yang mengetahui pasal hilangnya ingatan Sehun pada Luhan adalah Bibi Ahn. Bagian dari orang yang ikut terpukul atas kenyataan itu.

Karena dia, sangat mengetahui bagaimana kehidupan Luhan dan Sehun sewaktu kecil. Mereka berdua sudah Ia anggap sebagai cucu kandungnya sendiri.

Keduanya banyak berbagi cerita, bahkan Luhan tak segan mengatakan bagaimana Ia bisa bertemu kembali dengan Sehun di London. Meskipun bagian tersedihnya, wanita baya itu menangis prihatin sembari memeluk Luhan ketika tahu bahwa Sehun masih lupa akan ingatannya.

Hati Luhan terasa hangat ketika Ia bisa melepaskan bebannya dengan bercerita pada Bibi Ahn. Ia merasa seperti sedikit dari bebannya lepas bebas dan setidaknya mengurangi rasa kepedihannya.

Luhan bahagia Ia kembali berkunjung ke tempat yang tepat.

Mereka larut dalam perbincangan panjang, sampai Luhan hampir lupa bagaimana Sehun di luar sana.

Tapi, gadis itu memang meninggalkannya dengan sengaja. Luhan tahu, hal pertama yang menarik perhatian Sehun adalah anak kecil.

Dan mereka sedang melihat interaksi itu sekarang.

Ya Tuhan! Luhan tidak bisa menutupi tangisan harunya. Gadis itu sukses menangis sembari membekap mulut tak percaya. Sorot mata penuh kekaguman dan pesona hanya Luhan berikan untuk Sehun. Melihat bagaimana lepasnya lelaki itu tertawa dan bermain riang bersama anak-anak disana, rasanya Luhan ingin Ia bisa memiliki anak saat ini juga dari Sehun. Dari lelaki yang Ia cintai.

"Itukah Oh Sehun kita? Dia masih tetap sama seperti Ia di waktu kecil," Bibi Ahn mengusap punggung Luhan pelan "Kau punya calon suami yang sempurna, sayang. Sehun calon Ayah yang baik kan?"

Luhan terkekeh kecil dan menatap Bibi Ahn dengan pancaran mata rusanya yang berkilau haru. Wanita baya itu menghapus jejak air mata Luhan.

"Percayalah pada takdir kalian. Suatu saat, Sehun kita pasti akan kembali. Tuhan begitu menyayangi kalian semua"

"Bibi, rasanya aku ingin menikah dengan Sehun dalam waktu dekat. Apa aku harus melamarnya saat ini?" rengek Luhan kekanakan, bibirnya mengerucut.

Bibi Ahn menggeleng pelan dan terkekeh ringan "Tidak sayang. Tunggu sampai Sehun yang melakukannya untukmu, Bibi selalu mendoakan semoga Sehun cepat kembali sembuh. Bersabarlah sebentar lagi, hm" lalu menatap Luhan penuh keseriusan. Mengecup puncuk kepala gadis itu sayang dan lama.

Mereka kembali fokus melihat kesana. Melihat Sehun yang bergabung dalam permainan bola anak-anak kecil itu di lapangan.

Sehun terlihat bahagia sekali, lelaki itu ikut tertawa lepas dan bersorak gembira penuh kehebohan. Bertingkah seperti Ia adalah lelaki yang seumuran dengan para anak laki-laki disana. Bahkan Sehun tidak peduli pada keringat yang membanjiri seluruh tubuhnya dan juga bercak noda kotor kecoklatan dimana-mana.

Udara malah terasa sangat hangat.

Salju tak lagi turun dan daratan hampir bersih seluruhnya. Yang tersisa hanya jejak basah yang membuat tanah sedikit lembur dan becek.

Luhan meninggalkan Bibi Ahn dan mulai ikut bergabung pada mereka. Gadis itu memilih duduk di bangku taman.

Dan, Luhan membuka sesuatu yang sejak tadi di bawanya dengan setia.

Biola kesayangannya, dengan warna coklat keemasan yang berkilau dan ukiran deretan huruf mengagumkan yang membentuk jelas namanya.

Luhan memposisikan biolanya begitu anggun di atas bahu kirinya. Jemari lentiknya mulai berayun pada senar biola, tangan kirinya bergerak lembut melakukan suatu gerakan tarik-ulur yang menakjubkan.

Alunan melodinya mulai terdengar. Setiap nada yang di ciptakannya seperti membawa berjuta-juta cinta suci yang melayang bebas. Gadis itu memejamkan matanya dan menikmati permainannya begitu professional.

Burung-burung merpati datang di sekitarnya, seolah mendapat panggilan untuk menikmati alunan melodi itu.

Seluruh perhatian tiba-tiba terhipnotis oleh pesonanya. Anak-anak panti mengerubunginya dan duduk setia di hadapan Luhan. Memejamkan mata dan menikmati.

Dari semua itu, tidak ada yang bisa mengalahkan bagaimana seorang Oh Sehun begitu terkagum kepadanya. Bagaimana seorang Oh Sehun memandangnya begitu terpesona. Bagaimana seorang Oh Sehun menikmati alunan melodinya hingga terhipnotis serasa menggapai angan.

Dan, Bagaimana bisa seorang Oh Sehun tidak melihatnya sebagai sosok bidadari yang begitu cantik?

Rambut keemasan yang di permainkan dengan gemulai oleh angin. Kelopak mawar yang terpejam nyaman. Senyuman manis yang menghiasi wajahnya.

Semuanya begitu terlihat istimewah dan sangat indah.

Jika Sehun boleh berharap kepada Tuhan, Apa boleh Ia mulai belajari menyukai Luhan? Apa boleh Ia belajar untuk mengetahui Luhan lebih jauh? Dan, yang terpenting…

Apa Ia boleh untuk mulai mencintai Luhan?

Menjadikan Luhan satu-satunya wanita yang Ia perjuangkan?

"Luhan, kurasa aku mulai merasakan sesuatu yang lain terhadap dirimu. Apakah aku boleh untuk belajar mencintaimu? Apakah kau akan mengizinkannya?" bisik Sehun pada dirinya sendiri, dan mulai berjalan mendekati Luhan yang sudah mengakhiri permainannya.

Mereka berdua saling melempar senyum.

Dan, dengan tiba-tiba Sehun memeluk Luhan sayang dan mengecup puncuk kepalanya.

Luhan begitu terkejut sekaligus tak percaya. Ini untuk yang pertama kalinya Sehun melakukan ini !

Dengan gemetar Luhan mengadahkan kepalanya ke atas, dalam jarak yang begitu dekat Ia bisa melihat Sehun yang menatapnya begitu dalam.

"Se-Sehun. Ada apa?" bisik Luhan.

..

..

..

..

..

.

.

Designer of My Wedding Dress

.

.

Aroma harum manis dengan sedikit rasa pahit itu mengguar hampir mengisi ke seluruh penjuru rumah. Perpaduan dari wangi coklat, tepung, dan segala bahan yang di perlukan untuk membuat suatu cemilan lezat imut itu di padukan dalam satu wadah mangkuk besar.

Lian mengaduk semua adonan kuenya hingga menjadi kalis dan menggembang dengan senyum merekah cantik dan penuh kasih sayang. Nyonya Xi itu sedang membuat blackfores kesukaan putrinya yang cantik.

Tinggal menunggu kue coklat itu matang, Lian menyetel waktu beberapa menit pada ovennya.

Selagi menunggu wanita itu membersihkan beberapa sisa dari perbuatannya barusan. Hingga suara bel rumah yang berbunyi nyaring hingga memenuhi seluruh rongga pendengarannya itu sedikit membuat wanita dewasa itu tersentak.

Seorang pelayan rumah menghampirinya.

"Permisi Nyonya, ada tamu untuk Anda"

Lian melepaskan apronnya "Siapa?"

"Ibunda tuan muda Sehun, Nyonya"

Wanita itu melebarkan netranya, terkejut kembali sembari meringis senang.

"Boojae unnie datang kesini?! Baiklah, tolong gantikan aku untuk menunggu kuenya"

"Baik,"

Lian berjalan sedikit tegesah menuju ke ruang tengah, Ia bisa melihat bahwa Jaejoong sedang duduk di atas sofa.

Mereka saling melempar senyum sembari Lian yang ikut bergabung di sebelah wanita itu. Dan, memeluknya sekilas.

"Unnie kenapa tidak memberi tahu jika ingin kemari? Tidak biasanya seperti ini,"

Jaejoong tersenyum penuh arti sembari melihat Lian penuh dengan raut keseriusan. Wanita itu terlihat menghela nafas panjang beberapa kali dengan mata berpencar ragu.

Membuat Lian mengerenyit bingung.

"Apa ada sesuatu yang ingin unnie bicarakan denganku?"

"Iya, Lian-ah. Ini tentang…Sehun, putraku" lirih wanita itu

Lian semakin mengerenyit dalam, pasti ini sesuatu yang sangat penting mengingat Jaejoong sendiri tidak pernah bertindak mendadak seperti ini. Wanita itu pasti akan memberi Lian informasi terlebih dahulu jika ingin berkunjung ke rumah mereka.

Dan yang lebih membuat Lian merasa bingung sekaligus penasaran,

Ada apa dengan Sehun? Hal mana yang harus Ia ketahui? Apa itu soal ingatannya yang hilang?

Mendadak Lian menjadi gugup dengan jantung berdebar resah. Tapi, Ia akan mendengarkan semuanya.

Jaejoong kembali berpikir keras, apa ini sudah jalan yang paling benar? Apa ini sudah waktunya Ia menceritakan segala rahasia yang selama ini Ia tutupi bersama suaminya dari Luhan dan keluarganya? Tapi, Jika secepatnya rahasia itu tidak di ungkapkan maka Jaejoong takut sesuatu yang buruk bisa saja kembali menghancurkan hubungan Luhan dan Sehun.

Atau benar-benar menghancurkan mereka sehingga perpisahan adalah jalan terakhirnya.

Wanita bermarga Oh itu menarik nafas panjang lagi sekali. Yah, dia harus cepat mengungkapkan segalanya. Terlebih lagi Ia sudah mendapat izin itu dari suaminya, membuat keyakinan dan keberanian Jaejoong semakin kuat.

Jaejoong membuka matanya kembali, mengambil kedua tangan Lian untuk di genggamnya erat.

"Lili-ya, sebenarnya ada suatu rahasia yang selama ini aku dan Yunho sembunyikan darimu. Dan, ini mengenai Sehun. Mengenai kejadian yang menimpanya lima tahun yang lalu,"

"Kecelakaan itu?"

"Iya, kecelakaan itu dan tentang hilang ingatan yang di alaminya" Jaejoong merunduk dalam dan mencoba untuk mempertahankan sikapnya agar tetap tenang. Kendati, Ia benar-benar gugup dan merasakan sesak yang begitu menyakitkan dalam jiwanya.

"Lili, bukan kecelakaan itu yang membuat Sehun hilang ingatan,"

Lian merasakan dirinya tiba-tiba menggigil takut. Wanita itu begitu terkejut atas apa pengakuan barusan yang di dengarnya. Selama ini mereka mengira bahwa kecelakaan itulah yang membuat Sehun hilang separuh ingatannya. Tapi, maksud kenyataan barusan apa?!

Rahasia apa lagi yang tidak mereka ketahui selama bertahun-tahun lamanya ini?!

"Tapi unnie, kalian bilang jika kecelakaan itulah yang membuat Sehun sakit kan? Lantas, jika bukan karena itu…apa sebab lainnya?!" kata wanita itu sedikit berteriak. Seketika Lian merasa emosi mulai menguasai dirinya.

Jaejoong menggigit bibirnya kalut "Sehun punya kepribadian ganda, Lian-ah….." gumamnya pelan "Kepribadian yang membuatnya begitu terobsesi dengan Luhan…." gumamnya lagi.

"Ya Tuhan! Ba-bagaimana bisa unnie?! Tapi, Sehun dulu terlihat baik-baik saja"

Jaejoong melepaskan genggamannya dan menyandarkan punggungnya di bahu sofa. Matanya menyorot hampa dan Ia tersenyum.

"Sehun dan Luhan sudah bersama sejak mereka bayi, kita selalu mempertemukan mereka setiap waktu. Keduanya sudah saling mengenal dan menghabiskan banyak masa yang begitu panjang. Karena kebersamaan itulah Sehun memiliki sikap protektif berlebih kepada Luhan. Apalagi semenjak Kai dan Chanyeol juga ikut bergabung pada mereka, Sehun benar-benar tidak ingin Luhan berteman lebih akrab dari pada dirinya. Anakku itu tanpa sadar mengklaim Luhan hanya untuk miliknya seorang, memendam perasaan cinta kepada Luhan sejak lama, dan akan cemburu bila Luhan di dekati oleh lelaki lain selain dirinya, " Jaejoong menarik nafas lagi dan melanjutkan "Hingga pada akhirnya, sisi lain dalam dirinya muncul. Sisi dimana kepribadian itulah yang begitu terobsesi berlebih pada Luhan. Dan, ironisnya lagi sisi itu begitu kelam dan kejam. Jika Ia berhasil menguasai Sehun seutuhnya maka bukan hanya Luhan yang dalam bahaya, tapi juga semua orang yang mencoba mengambil Luhan darinya…..termasuk kau dan Jisung," lirihnya dengan suara yang mulai bergetar.

Satu air mata sukses menuruni wajah Jaejoong, wanita itu terisak pelan.

Lian terkejut bukan main, bahkan Ia merasa bahwa Ia adalah sahabat yang tidak baik untuk Jaejoong. Wanita yang sudah Ia anggap seperti kakaknya sendiri itu pasti selama ini telah menahan beban berat yang begitu menyakitkan. Apalagi jika tahu bahwa Sehun bukan dalam keadaan yang baik-baik saja.

Lian takut, takut sekali! Ia jadi memikirkan bagaimana nasib putrinya di luar sana.

Bagaimana jika Luhan dalam bahaya besar?!

"U-unnie, ba-bagaimana bisa kami mempercayai ini? Ba-bagaimana dengan Luhan?"

Jaejoong kembali menatap Lian "Untuk itulah dokter yang menangani Sehun menyarankan kami untuk menghilangkan ingatan Luhan dalam memori Sehun, dengan cara menanamkan cairan benzodiazepine dalam otak kecilnya. Cairan itulah yang membuat Sehun menjadi hilang ingatan. Kami melakukan ini demi untuk menyelamatkan Luhan juga membuat Sehun menjadi tenang," Jaejoong merunduk dan kali ini bergetar hebat "Lian-ah, maafkan kami. Maafkan aku dan Yunho yang telah menyembunyikan rahasia ini selama lima tahun lamanya dari kalian hiks, aku tidak tahu harus berkata apa lagi untuk semuanya. A-aku sangat ketakutan…."

Lian memeluk Jaejoong erat dan ikut menangis dalam pelukan mereka. Mengusap punggung wanita itu mencoba membuatnya tenang.

Lian mungkin kecewa, tapi penderitaan yang selama ini di pendam Jaejoong jelas itulah yang membuatnya merasa begitu terluka. Seharusnya Ia ada sejak dulu untuk selalu memberi sahabatnya itu pelukan kekuatan dan mendukungnya.

"Unnie seharusnya menceritakan ini sejak lama padaku," Lian menghapus air mata Jaejoong dan tersenyum hangat "Aku merasa bukan sahabat yang baik,"

"Tidak, akulah yang merasa bersalah pada kau dan Jisung terlebih lagi kepada Luhan," geleng Jaejoong pelan.

Hening untuk beberapa saat.

"Tapi, unnie….kurasa kita belum bisa memberitahukan masalah ini kepada Luhan. Aku takut Luhan menjadi sangat terpukul, aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaannya sekarang bersama Sehun, karena Luhan juga…."

"Iya?"

.

.

.

"Karena Luhan juga punya masalah psikis berat pada Sehun,"

..

..

..

..

..

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Countinue

..

..


21 Januari 2017


Annyeong Chingudeul

.

Jangan pada Gemeteran baca TBC nya says :v

Ini yang nagih-nagih update, Udah di UP ya CH 10 nya ^^ Sadarkah kalian kalau Designer ganti Summary? Biar lebih ANGST gitu hahaha

Special untuk KaisooDay kemarin2, aku sengaja buatkan moment Kai melamar Kyungsoo . Ciee Kyungi udah di lamar ayang Kai :') Chukkae !

.

SPECIAL THANKS FOR

Fe261 || xiyu1220 || vietrona chan || Luharnshi || bubbleLU || sunghyoojin08 || ohjasminxiaolu || sherli898 || Selenia Oh || tjabaekby || farahafraini || Afa-ssi || itsuka Sehunnie || dstrfbr || SyiSehun || kajedtroll || Anabee783 || ramyoon || NopwillineKaiSoo || Hannie222 || leelfeelhr714 || HunHanCherry1220 || Seravin509 || gitaorgee || deerbee || Arifahohse || Liana1220 || Hunhanslays || dreamcmtre20 || Dikanasly || oh biji7 || kxaz || DeerWind-Arians || Apink464 || ruixi1 || Guest(1) || Guest(2) || Zeeana614 || joon park || RahmaWu97Oh || lolipopsehun || Ludeer || Guest(3) || Triaa || hunhannie1220 || oh hunhan || rly || Xian ShiLu || emimaesyaroh || princebaechan || Guest(4) || Pisang panjang Sehun || Ekykiki93 || seelin333 || babygrillove94 || toycrane || rachmatika94 || KimaSL || KimaHunhan || gerinee || sena32 |||

.

Sebenarnya BaekbeeLu kangen nih ama Readers yang di Chapter2 awal suka review dan sekarang udah gak pernah muncul again (?) Wae? Ku jadi Syediih kemana kalian pergi ~

.

Makasih buat Oppa AL covernya, kusuka sekali ^^

.

PREVIEW NEXT CHAPTER :

"Sehun tidak boleh terpengaruh oleh Alkhohol! Karena itu berbahaya untuknya!,"

"Dia memiliki Alter Ego yang bisa menyakiti siapa saja, terutama Luhan!," Jaejoong bernapas susah. Chanyeol dan Kyungsoo mematung di tempat mereka berdiri, mereka sungguh merasa takut!

"Ti-Tidak mungkin…..Bibi pasti bercanda….."

"Chanyeol-ah, jangan bilang kalau….."

"Luhan! Luhan saat ini sedang bersama Sehun!"

..

"Se-Sehun, Ka-Kau….." –Luhan

. . .

. . .

P.S

Update barengan lagi nih. Kali ini bersama Authornim dari

Lolipopsehun

PinkuPinkuHunnie

HunjustforHan

Gerinee

Dark Eagle's Eye

Cofioca4120

..

Huah, Akhirnya bisa UP bareng kembaranku di dunia permesyuman ini HunjustforHan ! Yuhuuu Yuhuuu *tebarbikiniluhan*

Dan juga, updatetan bareng Dark Eagle's Eye untuk yang terakhir sebelum dia mengambil masa HIATUS huweee Nitty jangan lupakan a'a ne ;)

Budayakan Reviewnya ya :*

.

.

Sudah sepertinya itu saja dulu kekeke, terimakasih buat Review dan sarannya, semuanya…ku sayang kalian

.

.

.

.

.

.

With Love, BaekbeeLu