Kuhela nafas pelan, iris berwarna hijau milikku memantulkan hamparan permadani bunga yang tumbuh liar di seluruh tempat. Bagian Timur Elfania, bukit kecil yang ditumbuhi oleh bunga-bunga liar tanpa ada yang merawatnya, alam yang merawat dan membuat mereka terus tumbuh dan menebarkan semerbak wewangian di udara.

Taman yang ada di kota hanyalah replika padang bunga ini. Tempat yang dibuat untuk para Elf bersantai dan tidak harus menganggu ketenangan para bufly.

Kuingat kembali keputusan yang telah terucap di hadapan Urahara...

- - -

"...--aku mengundurkan diri," seruku tegas.

"Karena kau manusia? Itu--"

"Karena aku memang ingin melihat Walaen Ciel, aku ingin mencari tahu hal-hal yang selalu disembunyikan oleh kalian. Shira-- maksudku Nosaash menyarankanku untuk mencari tahu semuanya sendiri," potongku panjang. Urahara mengatupkan bibirnya yang sedikit terbuka sebelum menghela nafas pelan.

"Aku akan membicarakannya pada Corard," seru Urahara. Kunaikkan sebelah alisku mendengar penuturan yang terbilang cukup aneh, mengingat Urahara adalah Corard namun ingin membicarakannya dengan Corard.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

"Dasar aneh," desahku tepat saat langkahku terhenti di depan sebuah nisan batu.
Sudah beberapa kali Ichimaru mengajakku ke mari untuk mengunjungi makam ini.
Seikat karangan bunga manjusage dan wasurenagusa tergeletak di depan makam, kelihatannya Ichimaru meletakkanya dua hari yang lalu, mengingat bunga-bunga tersebut sudah kering.

Cinta sejati yang tak akan dapat bertemu kembali.

Sebuah arti yang terdengar amat dipaksakan saat aku mendengarnya dari Ichimaru. Kuperhatikan nama yang terukir di atasnya, sebuah nama yang selalu diceritakan oleh elf berambut perak itu, Matsumoto Rangiku.

"Kau beruntung mendapatkan hati dari siluman rubah itu," celetukku asal. Kedua sudut bibirku naik tanpa sadar, membentuk ulasan senyum yang jarang terlihat di wajahku.
Kuraba saku kemejaku, mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah.

Perlahan kubuka kotak tersebut, memandangi sepasang cincin bertahtakan ukiran menyerupai naga yang melilit di setiap bagiannya. Di bagaian dalam cincin terdapat ukiran kata yang tidak asing bagiku, mengingat belum lama ini aku melihat kedua kata itu.

Melenas yor, dua kata yang sedikitnya kutebak merupakan ungkapan rasa suka atau sejenisnya karena aku memang tak ingin bertanya arti sebenarnya pada Yoruichi. Tapi jawaban dari wanita itu sudah cukup memberiku petunjuk akan arti sebenarnya. Urahara benar-benar senang mengerjai aku.

"Cincin tunangan ya?" gumamku. Setidaknya itu yang diucapkan oleh Yoruichi saat memberikan cincin ini padaku beberapa hari yang lalu. Cincin milik kedua orangtuaku dulu.

Angin mulai membisikan lantunan lagu kembali, hal yang sudah tak terjadi semenjak dua minggu yang lalu. Dengan kata lain semenjak Rukia berhenti melantunkan wiene wassa dan mulai tinggal di kota. Dia bukan elf, tapi juga bukan manusia sepertiku. Entah apa.
Kuikuti asal suara tersebut yang menuju pada danau di dekat sini.

"...--faura yerwe murfan anw sol ciel (A little bird chirp her feeling to the world), Wee apea ra hymma rre faura sonwe (Im immersed in happiness for listening to the singing of the bird)--..."

Langkahku terhenti, Rukia tengah berdiri di pinggir danau. Menyanyikan lantunan nada dengan burung-burung kecil berterbangan di sekitarnya, seolah mengikuti nyanyian gadis berambut hitam itu.

Air yang bersinar akibat pantulan cahaya matahari menjadi latar belakang darinya.
'Krek,' suara akan patahnya ranting kayu yang baru saja kuinjak. Sedikit menyesal juga, karena nyanyian itu harus terhenti.

Rukia membuka matanya, menampakkan bola mata violetnya yang besar. Menatapku dengan pandangan lembut.

- Selingan bentar –

Di sini Rukia menggunakan tiga bahasa sekaligus, bahasa Indonesia, Inggris dan Hymmnos.

Alasannya karena Rukia hidup sejak jaman dahulu, waktu itu bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Inggris bercampur Hymmnos jadi data yang diinput pada Rukia adalah kedua bahasa itu, sementara bahasa Indonesia sedikit-sedikit muncul.

Anggap saja seperti Cinta Laura (Woy!) yang masih belajar bicara.

- end -

"Good afternoon, Leird Hitsugaya," sapa Rukia sembari menaikkan kedua sudut bibirnya. Aku mengangguk pelan dan berjalan mendekati gadis itu.

"Maaf menggagu nyanyianmu," pekikku dan mulai mengusap-usap tengkukku. Agak ragu juga apakah ia mengerti ucapanku, mengingat baru dua minggu ia belajar kosakata yang sekarang digunakan.

"Mind to hyma rre hymmnos mea (listen my song)?" tanya Rukia, setidaknya dari nada yang digunakan itu adalah kalimat tanya.

Kuanggukan kepala pelan, dan Rukia kembali tersenyum lembut. Suara nyanyian kembali terdengar, lagu yang begitu lembut di dalam indra pendengaran.

"...--Was yea erra sonwe hymmnos mea (I will be eternally happy to sing my song)--..."

- Normal POV -

"Ekh!? Toushiro mengundurkan diri?" jerit Yoruichi begitu mendengar penuturan akan keputusan Toushiro yang disampaikan oleh Urahara beberapa saat yang lalu.

"Tidak baik teriak-teriak seperti itu," pinta atau lebih mudah disebut sebagai nasehat. Seulas senyum jahil mulai muncul, "Corard Shihouin," tambah pria berpakaian serba hijau tersebut.

Kening Yoruichi sedikit berdenyut mendengar penuturan Urahara, "berapa kali kubilang jangan memanggilku begitu di depan umum?"

"Ah, maaf, itu terselip," sungguh suatu kebohongan yang cukup aneh.

Yoruichi menghela nafas pelan, malas adu mulut dengan wakilnya yang berpura-pura menjadi Corard. Hanya beberapa yang mengetahui kenyataan bahwa Yoruichi adalah Corard yang sesungguhnya dan Urahara adalah wakilnya.

"Mungkin aku terlalu cuek sebagai Corard dan terlalu lama mengabaikan pekerjaan, sampai-sampai aku tidak sadar mengenai status Toushiro."

"Jadi kau mau mengambil alih kembali tugasmu?"

Iris berwarna keemasan milik Yoruichi melirik ke arah Urahara, seulas senyum terlihat di wajah yang terbalut oleh kulit berwarna gelap. Canda tawa para elf yang tengah bermain di taman menelusup ke dalam indra pendengaran mereka. Angin kembali bertiup membawa lagu yang terbawa dan dengan jelas dapat terdengar oleh siapapun, nyanyian milik Rukia.

"Mungkin... dan dengan kata lain kini kau adalah bawahanku, wakil," seulas senyum terukir di wajah keduanya. Urahara berdiri, menepuk pelan mantel hijau miliknya dan menjatuhkan rerumputan kering yang menempel.

"Dengan kata lain banyak hal yang harus dilakukan."

- Toushiro POV -

Gelak tawa terdengar sedikit bergema. Pantulan akan sepasang muda mudi yang tengah bercanda ria membayang jelas di atas permukaan air.

Tawa canda yang terbilang hampir tidak pernah terlihat di wajahku.

"Leird, bukankah yor (kau) terlalu young untuk mencapai posisimu now?" tanya Rukia dengan bahasa yang terbilang terbelit-belit. Bercampur satu sama lain dan membuatku agak bingung.

"Kalau maksudmu terlalu muda, yah... bagi elf mungkin, tapi bagi manusia aku sudah terbilang cukup dewasa," jawabku.

"But still, dalam jajaran manusia yor masih terlalu dini untuk menduduki Leird chair."
"... Kau berniat mendesakku?" kupincingkan mataku. Menatap ke arah Rukia dengan mimik kesal, walau hanya bohongan.

"No, tapi data base yang diinstal to mea (aku) mengatakan seperti itu, mea merasa tidak mengerti," kunaikkan kedua alisku. Kenapa jadi seperti robot saja.

Kupandangi dalam-dalam kristal berwarna violet yang tertanam pada bola mata berwarna putih itu. Warna yang begitu indah, kuakui, kristal coklat milik Hinamori tempo hari juga indah. Tapi kristal itu tertutupi oleh kemarahan dan kedengkian. Sementara kristal violet yang tengah menatapku saat ini diselimuti oleh kepolosan akan dunia luar. Begitu indah dan... cantik.

Tak tahu apa yang merasuki pikiranku, perlahan wajah kami semakin mendekat. Bukan Rukia yang membuat jarak semakin berkurang, tapi aku. Dalam kristal bening itu yang terpantul adalah bayanganku, juga latar akan langit biru dan rerumputan hijau yang bergoyan tertiup angin. Buaian angin yang menyuarakan kicauan burung, bukan lagu, hanya kicauan dengan melody yang begitu indah.

'Plash!'

...

...

...

Cipratan air danau menyadarkanku yang hampir mengecup bibir mungil dan hanya berjarak beberapa mili dari milikku. Riak air danau beberapa kali menyiramku, walau tidak terlalu banyak.

"Bah! Gin, kubunuh kamu!" bentak seseorang yang baru saja membuat riak air pada danau yang semula tenang tersebut.

"Grandee Abarai," sapa Rukia pada seseorang itu. Lambaian tangan di arahkannya pada lokasi di tengah danau. Tempat di mana Renji baru saja melompat... atau lebih mudah kusebut terlempar.

"Ah, kelihatannya terlalu kuat pukulanmu, Shinsou," pekik sebuah suara yang kuyakini berasal dari siluman rubah bersaudara tanpa hubungan darah.

Ichimaru dan partner pirtue jue miliknya berdiri beberapa meter di belakangku. Kenapa pirtue type seperti doppleganger aneh, aku masih dendam padanya, harus mengambil sosok dari gyenel yang memanggilnya?

"Bukankah anda yang memintaku master? Lagipula ini menyenangkan untuk membuat rambut merah tak berotak itu tenggelam di danau," seru salah satu dari mereka yang kuyakini berasal dari sang doppleganger menyebalkan itu.

Tidak jauh dari dua siluman rubah kembar itu berdiri aku melihat pirtue fayra milik Renji, kalau tidak salah namanya Zabimaru.

"Kalian ini... dia itu kan masih terluka..."

"Ara, biarlah."

"Master jahat juga."

"Tentu saja, aku masih dendam padanya."

"Tentang kejadian di Siance?"

"Bukan, tapi kejadian delapan puluh tahun lalu. Gara-gara dia Ran-chan marah selama satu hari penuh."


"Lalu proposal pembukaan portal segera diselesaikan, taruh di mejaku tiga jam lagi. Kisuke, kumpulkan laporan pendataan selama tiga tahun ini. Orihime, tolong data para bufly yang masih aktif. Renji, cek keadaan hutan bawah tanah di Siance. Gin dan Toushiro, bisakah kalian berhenti mematung?"

Kukedipkan mataku beberapa kali. Memandang sosok yang berada di kursi Urahara dan membolak-balik beberapa lembar halaman kertas berwarna jingga denta tinta hitam pekat. Wanita berambut ungu yang tergerai, tubuhnya tertutup oleh gaun putih panjang dilapisi sebuah cape sebatas siku berwarna putih dengan bordiran berwarna crem berbentuk tulisan kuno.

"Yoru, kau sedang apa... di sana?" tanyaku pada wanita itu. Iris berwarna emasnya terus memandangi susunan abjad yang tercetaj jelas di atas kertas.

"Hanya mengambil alih pekerjaan sebagai Corard yang terlalu lama kuabaikan," serunya tanpa sekalipun melirik ke arahku maupun Ichimaru yang masih membeku di tempat. "Kalau tidak ada apa-apa, tolong keluar," pintanya tegas namun lembut.

"Akh! Maaf, aku hanya ingin bertanya kapan gerbang dibuka," celetukku spontan. Yoruichi meletakkan kertas yang sudah selesai dibacanya dan memandang ke arahku.

"Kan tadi aku sudah bilang, buat proposalnya dan selesaikan dalam waktu lima jam harus ada di mejaku," pekik Yoruichi santai.

"Hah, lalu di mana Corard?"

"Kerjakan... SEKARANG! Bila ada masalah tanyakan pada Kisuke, baru saja aku menghubunginya di ruang sebelah."

- Few day later -

Pintu kayu setinggi lima belas meter di hadapanku perlahan terbuka. Menampakkan lorong berwarna hitam tanpa akhir. Jalan menuju Walaen Ciel, tempat di mana aku akan menemukan rahasia yang selalu disembunyikan oleh para elf.

"Ingat, kau tidak diperkenankan memberitahu orang lain mengenai Elfania, aku tahu, tapi ini sudah ketetapan," larang Yoruichi begitu pintu gerbang terbuka penuh.

"Iya, iya," balasku cepat. Bosan juga rasanya harus mendengarkan rangkaian kata itu berulang-ulang. Renji dan Ichimaru menunjukkan seulas senyum padaku, yang kujawab dengan sebuah cengiran.

Shirayuki yang kutemui kemarin memberiku sebuah liontin dengan ukiran sebuah butiran salju, katanya ini akan berguna kelak.

"Leird Hitsugaya," panggil Rukia pelan. Kutolehkan kepalaku ke arah gadis bermata violet yang tengah bersembunyi di belakang punggung Urahara.

"Ada apa, Rukia?" tanyaku. Dia hanya diam dan menarik mantel milik Urahara yang mulai menyeringai picik.

"Bisakah Rukia-san pergi denganmu?" tanya Orihime menggantikan Rukia. Aku terdiam sejenak, memikirkan hal tersebut.

'Tidak apa-apa. lagipula dia gyenel yang kuat kok,' saran Hyourinmaru.
Kuhela nafas pelan dan menampakkan seulas senyum, "tidak keberatan."

Rukia menampakkan seulas senyum di wajah manisnya. Kuulurkan tanganku ke arahnya yang disambut dengan agak ragu.

Langkah kami berdua mulai membimbing memasuki portal yang terbuka.
Dunia baru yang kami tuju. Walaen Ciel.


Namie Amalia

Ruise : Ahaha, maaf membuat bingun ya

Rukia : (Bersiap mencekik author)

ruki4062jo

Ruise : Ara, udah update nih, Nana jug abaca duluan dari yang lain kan? Ngintip note punyaku

Rukia : Hampir ciuman nih

Ruki_ya

Ruise : Ehehe, nggak pa-pa kan? Kan malah seru kalau mereka pelukan.

Toushiro : Aku membencimu

Ruise : Alalala, aku nggak perduli kamu benci apa nggak

CherryCho79

Ruise : Gomen-gomen

CursedCrystal -gak login-

Ruise : Aku benci… Padahal ada Cocona… uhuhuhuhu


Bleach – Tite Kubo ; Elfania – Ruise ; Hymmnos – Akira Tsuchiya