"Namaku Utakata, aku diberi misi oleh seorang pemimpin paling misterius dari Uzu untuk mengumpulkan mayat demi persiapanku menyempurnakan Edo Tensei yang coba kukuasai. Bersama Hotarou, kami akan berjalan di kegelapan malam, dipenuhi ulat belatung dan darah-nanah kebusukan, menggali makam dan bertemu hal penuh teror yang tak pernah terlintas di pikiran kami, bahwa semuanya terjebak dalam kondisi menyedihkan…"

.

..

"Namaku Utakata, aku adalah pengawal seorang pemimpin dengan karakter tak tertebak di dunia Shinobi. Aku Utakata, pengawal dari Yondaime Uzukage-sama!"

.

.

.

The Uzukage Hiden: Utakata-Hotarou Chronicles

Naruto By Masashi Kishimoto

The Uzukage main story by Doni and Icha Ren

Based on The Uzukage

Rate: M

Genre: Adventure-Mystery-Romance-Drama and Little Bit Horror

.

.

.

Selamat Membaca

Chapter 11: Rencana dibalik Rencana

Sebelum kehancuran Uzu, di Kirigakure

Utakata.

Begitulah ia dipanggil. Utakata bukan tipe pria yang suka centil dengan kehidupan orang lain. Dia pria yang ingin mendengar suara alami alam, menyendiri di hutan dan ditemani gelembung-gelembung putihnya. Ibaratkan kanvas di atas kanvas, Utakata menginginkan ketenangan di antara ketenangan. Tak ada yang lebih ia sukai dari kesendirian dalam keheningan bersama para gelembung.

Utakata kecil adalah sosok anak yang tenang. Saat permainan tangkap-lari di akademi ninja Kiri yang berakhir dengan keributan, Utakata langsung meninggalkan tempat tersebut tanpa berbicara sepatah katapun. Hanya tangan kanannya yang memegang botol cairan gelembung bersama pipa-nya.

"Utakata, kau mau ke mana? Genya-san dipukul sama Bejimaru tuh!"

Utakata berhenti sejenak lalu menoleh ke belakang. Matanya yang sudah tajam sejak awal tanpa berkedip melihat Genya ditinju Bejimaru-anak berbadan paling besar di akademinya-karena masalah kalah-menang dari permainan bodoh itu. Genya tampak tak berdaya dan sensei mereka terlihat membiarkan.

Tujuannya? Tentu saja Kiri ingin mencetak ninja-ninja bertangan dingin yang memaksimalkan kesuksesan misi. Dasar aneh…

"Biarkan saja." Kata Utakata dan berlalu meninggalkan lokasi ribut tersebut. Jika sensei-nya bertanya dirinya ke mana, ia akan memukul sensei keparat itu dengan pipa gelembungnya. Kau sensei tidak berguna! Utakata hanya mengumpat tenang di dalam hati.

Sebagai anak-anak, Utakata menikmati masa kepemimpinan Sandaime Mizukage. Dia menikmati masa kecilnya. Berita-berita perang Dunia Shinobi yang entah ke berapa, dia tidak peduli ke berapa, menjadi makanan media hangat bagi Utakata. Belum lagi anggota 7 Ninja pemegang Pedang Kiri, Jinchuuriki, Bijuu, ninja, spionasekekacauanpublikpergantianMizukageberdarahKiriberdarahIwaSunaKonohaKumoUzuUzukage!

Mata Utakata melebar. Kata-kata tanpa spasi itu bagai pikiran berkecamuk di otaknya. Tapi dia tetap tidak peduli. Toh hal tersebut tidak mengacau masa mudanya.

Utakata harus menarik kata-kata tersebut ketika tubuhnya dijadikan wajah Bijuu ekor enam, Saiken.

Utakata mulai memandang dunia dalam sisi berbeda dan orang-orang mulai memandang Utakata dalam pemikiran yang berbeda. Semuanya berubah. Berubah total!

Tatapan kasihan

Ngeri

Takut

Sok kasihan padahal ingin memanfaatkan

Utakata tetap diam sambil memainkan gelembungnya

Kasihankarenadiamasihkecil, ngerikarenaBijuudidalamtubuhnyabisamengamuk, sokkasihanpadahalinginmenguasaidirinyaagar superiorkarenadirinyaadalahsenjataKiri….kata-kata tanpa spasi itu bersambung, berkecamuk cepat di kepala Utakata bagai lalat-lalat menyedihkan yang mencari madu di limbah kotoran. Utakata hanya membayangkan bisa menjadi hebat, dengan membuang segala sisi tentang Bijuu di dalam tubuhnya.

"Nanii', seorang Jinchuuriki yang dipandang hina sepertimu ingin menjadi Bijuu? Jangan bercanda. Lebih baik kau memakan air comberan sana, HUAHAHAHAHAHAHA!"

Kalian tahu siapa yang berbicara kurang ajar seperti itu dengannya? Ya si sialan sensei akademinya. Utakata maju selangkah dan mengunci guru itu dengan satu gerakan. Dia dipermalukan di depan banyak orang dan Utakata bisa saja membunuhnya di depan banyak orang saat itu juga, tetapi dia masih memikirkan tentang harga dirinya.

"Kau tahu, kenapa aku suka sekali menghindari perkelahian dan lebih banyak diam?"

Pertanyaan Utakata tidak dijawab sensei-nya.

"Karena aku akan membunuh seseorang jika emosiku meluap."

Utakata langsung diamankan para ninja yang berada di bawah perintah langsung Mizukage. Status Utakata memang 'dipantau', karena dia Jinhcuuriki. Utakata tahu hal tersebut dan dia mendiamkannya. Meniup gelembung lebih baik.

Sejak saat itu, sejak kejadian itu,

Utakata benci yang namanya sensei

~TU Hiden: Utakata-Hotarou Chronicles~

"Utakata, hari ini kau akan menjadi murid khusus dari Harusame-dono. Harusame-dono, ini adalah Utakata…" Mizukage memperkenalkannya pada seorang pria paruh baya berkecamata, berkumis lancip panjang seperti Chinese, bermata tajam dengan rambut depan setengah botak berbentuk garis "V". lucu sekali…ini guru khususnya?

"Utakata ya. Salam kenal."

Harusame menyodorkan tangannya. Apa aku harus menyalaminya?

Yagura memandang Utakata tajam. Utakata sedang malas berurusan dengan Mizukage keempat tersebut. Lagipula mendapatkan seorang guru khusus bukanlah arti kiamat bagi Utakata. Bersikap sopan tentu saja akan menguntungkannya. Utakata mengambil sodoran tangan Harusame dan menyalaminya walaupun sikap ogah-ogahan masih terlihat dari gerakan salaman itu.

"Mohon bantuannya, Harusame-dono." Kata Yagura dengan nada memohon yang tenang.

"Suatu kehormatan bagi saya diminta bantuan oleh anda, Yagura-sama. Suatu kehormatan juga bagi saya untuk melatih seorang Bijuu."

Seorang? Kenapa kau tidak mengatakan seekor? Utakata bertanya di dalam hati dengan sinis.

Sebelum Yagura meninggalkan keduanya, sang Jinchuuriki Sanbi itu berbisik di telinga Utakata dengan tajam.

"Kau pasti tahu bahwa aku juga seorang Jinchuuriki. Posisiku sebagai Mizukage bisa dibilang dimanfaatkan oleh desa. Asal kau tahu Utakata, seorang Jinchuuriki yang bisa mengendalikannya bukan hanya monster, tetapi ini…" Yagura mengetuk kepalanya, pria pendek itu berkata dengan nada dingin penuh keyakinan "…Jika kau bisa mengendalikan Bijuu-mu di bawah pelatihan Harusame, kau akan menjadi ninja hebat. Jangan mengkhianati Kiri atau kau akan kujadikan tumbal Sanbi."

Penuh intens. Namun Utakata hanya sebentar merasa ngeri. Lagipula dia dan Yondaime Mizukage sama-sama Jinchuuriki. Utakata tidak peduli akan bentrok atau pertarungan, yang terpenting dirinya masih bisa meniup gelembung dengan tenang.

"Jadi untuk hari pertama, mari kita saling berkenalan. Aku mau mengajakmu ke kedai dango yang ada di pusat desa. Bagaimana? Kau mau ikut? Aku harap jawabannya adalah iya."

Utakata memandang Harusame lalu memandang kuil besar di belakang pria paruh baya tersebut. Gerbang kuil berwarna merah dengan cat yang mengelupas. Ada simbol Kiri di tengah gerbang kuil. Utakata berpikir tentang tekad air dan semacamnya, hanya saja ia pikir itu bualan.

"Boleh." Katanya singkat dengan mata yang tetap tajam menatap ke depan.

.

.

.

Utakata sedikit menyukai Harusame sebagai guru pada awalnya. Utakata berusaha mencari tahu apakah sikap baik, perhatian dan kadang-kadang tegas dari Harusame adalah sikap bualan karena pria itu disuruh Yagura untuk melatihnya sebagai alat tempur, atau sikap itu memang murni kepedulian sang guru. Utakata menyukai Harusame namun tetap waspada. Dirinya masih memperkirakan sikap Harusame hanya topeng belaka hingga keduanya diberi misi oleh Yagura untuk mengejar sebuah gulungan yang dicuri 2 tim Jounin Iwa. Saat itu pertarungan hampir membunuh Utakata jika Harusame tidak melindunginya. Ternyata Tim ninja Iwa sudah mengantisipasi kedatangan Jinchuuriki sebagai pengejar dan mereka memiliki dua orang yang ahli dalam jutsu penghisap chakra. Utakata hampir merasakan semua chakranya tersedot jika Harusame tidak mati-matian melindunginya. Bantuan dari Kiri datang, termasuk Yagura, dan dua tim ninja Iwa dipukul mundur. Gulungan yang dicuri berhasil didapatkan.

"Kenapa kau menolongku?!" Utakata berhenti sejenak. Dilihatnya luka dalam di perut kanan Harusame. Darah terus mengucur di sana dan ninja medis berusaha menghentikan pendarahannya.

"Ka-karena kau muridku, bocah bodoh…" kata Harusame. Membuat Utakata hari itu juga mulai percaya arti kata Guru-Murid.

Harusame banyak memberikan pelajaran kehidupan kepada Utakata. Selain belajar ninjutsu dan pengendalian Bijuu, Utakata mempelajari arti kehidupan, sosial, politik dan manusia dari Harusame. Sang guru senang menyambungkan arti kehidupan di setiap nasihatnya kepada Utakata dengan gelembung yang selalu terbang ke angkasa. Utakata kadangkala tertawa mendengar analogi tersebut. Gelembung ya gelembung, kehidupan ya kehidupan…simpel saja.

Utakata adalah ninja dengan perubahan chakra tipe air. Harusame benar-benar mengoptimalkan hal tersebut sehingga bisa dibilang Utakata bisa menggunakan jutsu air dengan media air eksternal dan media air internal tubuhnya. Sang Jinchuuriki ekor enam bahkan bisa merubah dan memaksimalkan jutsu airnya menjadi gelembung-gelembung yang bisa meledak maupun menyimpan cairan asam Saiken. Ia namakan Homatsu no Jutsu.

Bagi Utakata, pelatihan Bijuu adalah yang paling tersulit. Harusame juga menyetujuinya.

"Aku punya ide…bagaimana kau berkomunikasi intens dengan Bijuu di dalam tubuhmu? Komunikasi adalah hal terpenting dalam kehidupan."

Saran Harusame diterima. Utakata malam itu duduk bersemedi di teras rumah gurunya dan mencoba memasuki alam bawah sadarnya. Saiken adalah Bijuu berbentuk seperti siput berlendir tanpa cangkang dengan enam ekor atau kaki di belakangnya. Suaranya sedikit cempreng namun terdengar menakutkan.

"Jadi kau akhirnya bertemu denganku, Utakata."

"Kau tahu namaku ya, Rokubi?"

"Keh…kenapa aku tidak tahu manusia yang dijadikan wadah penyimpananku? Heh…kau cukup tampan juga."

Mata Utakata menajam. Di sekeliling Saiken adalah air. Tempat Saiken berdiri adalah sebuah batu besar datar dan ada enam rantai yang mengikat enam ekor atau kaki-Utakata benar-benar bingung-Rokubi dengan batu datar besar di bawahnya. Cahaya di sana berwarna biru Kristal gelap. Sangat suram dan hanya terdengar desingan aneh.

"Bagaimana jika aku mengendalikanmu kawan?" tanya Utakata langsung. Dia tidak ingin berlama-lama di sini. Lebih baik dirinya meniup gelembung dalam ketenangan malam.

"Ooh…kau tidak tahu sopan santun ya? Manusia rendahan sepertimu mau mengendalikanku? YANG BENAR SAJA!" suara cempreng Saiken membuat air di sekitarnya bergoyang dan bergelombang. Jika dilihat dari atas maka membentuk titik gelombang berbentuk lingkaran berlapis.

"Aku adalah wadahmu, dan kau adalah isinya…seharusnya isi wadahlah yag menyesuaikan dengan wadah." Mata Utakata menatap datar Saiken "Kau belum pernah berkomunikasi ya, Rokubi?"

"Bocah sialan," gumam Saiken. Suara cemprengnya semakin bergetar marah "Aku benci manusia-manusia sombong seperti kesombongan Kyuubi. Kau akan menerima akibatnya Utakata…"

DEG!

Setelah Rokubi selesai mengatakan namanya, tiba-tiba ingatan kebencian Utakata terhadap tatapan orang-orang Kiri terhadapnya muncul. Tatapan takut, ngeri, kasihan, benci, sok kasihan blablablabla…semua tatapan yang menjijikkan itu.

"Nanii', seorang Jinchuuriki yang dipandang hina sepertimu ingin menjadi Bijuu? Jangan bercanda. Lebih baik kau memakan air comberan sana, HUAHAHAHAHAHAHA!"

Suara guru akademi yang mengejeknya terdengar keras di telinga Utakata. Suara itu seperti gong yang terus dipukul berkali-kali, membuat gendang telinganya sakit dan terasa pecah.

"Ghaaaaa…" Utakata merasakan kegelapan menelannya.

Di dunia nyata, Utakata berubah menjadi ekor tiga dan menghancurkan rumah Harusame. Harusame bahkan terluka parah karena ingin menghentikan amukan muridnya. Lima ninja bertopeng Kiri datang dan menghentikan amukan Jinchuuriki Rokubi, bahkan Yagura datang untuk menghentikan Utakata sebelum memasuki mode ekor keempat.

"Sudah kubilang Utakata, Jinchuuriki yang tidak bisa mengendalikan Bijuunya hanya seorang monster." Bisik Yagura tajam di telinga Utakata ketika pria tersebut kembali ke mode normal. Utakata tidak mengingat apapun, yang dia dengar hanya suara khawatir sensei-nya, suara yang terus meneriaki namanya.

Setelah kejadian tersebut, Harusame memandangnya dengan tatapan aneh. Utakata bahkan sedikit takut dengan tatapan sensei-nya. Tatapan itu hampir sama dengan tatapan orang-orang di desanya. Saat dia bertanya apa ada yang salah dengan dirinya, Harusame terlihat jelas menghindari pertanyaan tersebut. Tiba-tiba hati Utakata merasa perih. Apakah ada yang perlu ia percayai dari kata "Guru-Murid"?

Suatu hari Harusame mengundangnya ke rumah, rumah yang sudah diperbaiki, dan mengatakan sesuatu yang penting,

"Kita akan mengeluarkan Rokubi dari tubuhmu."

Mata Utakata melebar. Alasannya?

"K-kenapa sensei? Apa Yagura-sama sudah mengetahuinya?"

"Biar aku yang menanggung akibatnya. Rokubi hanya membuat masalah bagimu, tidak hanya sosialmu, tetapi juga mentalmu…jika monster itu sudah keluar dari tubuhmu maka kau akan menjadi ninja normal yang hebat." Harusame membenarkan letak kacamatanya, kumis Chinese-nya terllihat bergoyang pelan "Kau setuju kan?"

Utakata sedikit ragu. Memang Rokubi membuatnya banyak terlibat dalam masalah yang menyesakkan hati. Tetapi bukankah itu sedikit terlambat? Orang-orang sudah menganggapnya monster, Rokubi telah membuatnya letih dan membuatnya benar-benar menjadi seorang monster jika pikiran negatif melayang di kepalanya. Apa itu perlu dilakukan? Di mana Rokubi disegel jikalau berhasil lepas dari tubuhnya?

"Jangan khawatir…" Harusame menepuk bahu Utakata dan tersenyum "…Percayalah kepadaku, karena aku gurumu…" mata Utakata melebar, antara terkejut dan senang "…Dan kau adalah muridku!"

"Sensei…" ucap Utakata dengan senyuman penuh harapan.

Hari itu juga Utakata mendapatkan pipa gelembung baru dari sang guru, pipa gelembung yang selalu ia pakai dan ia jaga.

~TU~

Yang terjadi selanjutnya tidak perlu dijelaskan karena Utakata paling benci mengingatnya.

Simpel saja.

Pengeluaran itu gagal, Utakata mengamuk bahkan masuk ke mode ekor enam,

Harusame, gurunya…

Harusame tewas di tangannya.

"Sudah kubilang Utakata," Yagura berbisik di telinga Utakata ketika pria itu kembali normal. Yagura bahkan harus berubah menjadi mode bijuu untuk mengendalikan amukan Utakata "…Jinchuuriki yang tidak bisa mengendalikan Bijuu-nya adalah monster keparat bodoh!"

Utakata kali itu mendengarnya dan dia menyesali bahwa dirinya percaya dengan kata "Guru-Murid".

Kebodohan Harusame membuatnya terbunuh.

Utakata tidak ingin memperdulikan hal tersebut dan dia tetap menjadi peniup gelembung yang suka menyendiri di hutan, sambil memandang gelembungnya naik ke angkasa dengan lembut nan tenang.

.

.

.

1 tahun 7 bulan pasca kehancuran Uzu, atau saat sekarang

Utakata membuka matanya.

Itu adalah mimpi. Ingatan masa lalunya adalah sebuah mimpi.

"Akhirnya kau sadar ya…"

Utakata langsung bangkit dan memandang ke arah sumber suara. Bandit yang ia ikat dan pukul tadi sudah sadar. Senyumannya aneh dengan lebam di pipi kirinya. Dia memandang Utakata dengan bengis.

"Kau terus bergumam "Guru-Murid, Guru-Murid"…membuatku muak saja. Apa kau bermimpi buruk?"

"Diam." Kata Utakata dingin. Membuat bandit itu sedikit ngeri ketika teringat pukulan penuh amarah Utakata menghantam wajahnya. Dia menghela napas dan memutar bola matanya.

"Kenapa kau menculikku?"

Utakata tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dia memandang datar ke depan. Saat itu udara terasa sangat dingin di gurun pasir barat Negara Angin. Utakata bahkan merasakan pipi kanannya sedikit lebih dingin dari semua anggota tubuhnya. Dia menyentuh pipi itu dan terasa pasir basah menempel di pipi kanannya tersebut. Pasir basah?

"Apa tadi malam hujan?" tanya Utakata. Bandit itu tertawa.

"Ini memang malam bung-"

"Ini sudah dini hari keparat. Bisa kau hanya menjawab pertanyaanku?!"

Nada penuh ancaman dari Utakata membuat bandit itu sedikit menelan ludahnya. Dia menggelengkan kepalanya.

"Ti-tidak ada hujan tadi malam, ya kalau ini memang sudah dini hari, hanya…ya hanya malam biasa di gurun pasir."

Utakata memandang pasir tempat ia pingsan tadi. Ada gumpalan pasir yang berwarna lebih gelap dari pasir di sekelilingnya. Utakata menyentuh pasir tersebut dan dia merasakan pasir itu basah. Pasir yang pernah terkena air. Utakata memandang sekelilingnya. Tidak ada air di dekat mereka bersembunyi. Sang Jinchuuriki memandang tempat sekitar ia bersembunyi. Tidak ada barang tertinggal, apapun itu, tidak ada yang tertinggal.

'Satu-satunya penjelasan adalah pasir ini terkena air yang tersimpan di suatu tempat, atau terkena suatu jutsu air seseorang…Hotarou kah yang melakukan jusu tersebut karena bertarung dengan orang-orang yang bertemu dengannya? Atau…" Utakata memandang pasir yang lebih gelap tersebut dan gumpalan itu memanjang dari tempat ia pingsan tadi sampai ke ujung matanya memandang, yang berarti.

'Pasir ini…' Utakata menggelengkan kepalanya 'Aku tidak tahu bagaimana ia bisa basah, tetapi Hotarou pasti membuatnya untuk menunjukkan jalan di mana ia berada," Utakata melirik ke belakang, ke arah bandit tersebut 'Aku akan menyelesaikan orang ini terlebih dahulu…'

.

.

.

21 Kilometer dari posisi Utakata, di sebuah gua di gurun barat Kaze no Kuni

Hotarou didorong dengan kasar hingga punggungnya menyentuh dinding dalam gua. Kedua tangannya terikat. Gadis bersurai pirang gelombang itu memandang tiga sosok yang melawan dan mengalahkannya. Seorang pria berbadan kekar dengan bekas luka di pipi kirinya, seorang wanita kurus tinggi dengan rambut pirang kecoklatan dan pakaian berwarna merah dan seorang wanita bertubuh kecil dengan mata bulat besar yang sedikit aneh…ketiga-tiganya merupakan ninja Suna. Hotarou dapat melihat lambang desa di pelindung kepala mereka. Apakah mereka termasuk dalam rombongan pedagang tadi? Atau mereka ninja Suna yang ditugaskan menjaga perbatasan Kaze no Kuni?

Hotarou perlu memikirkan tentang keadaannya dan akibatnya terhadap Utakata-sensei. Dia hanya berharap pasir basah dari tempat minuman yang sengaja ia tumpahkan bisa membawa Utakata-sensei menuju gua ini. Hotarou pura-pura pingsan. Dia mencuri dengar percakapan tiga orang tersebut.

'Mereka berbicara soal Utakata-sensei, Yondaime Uzukage-sama dan Hoichi apalah itu…juga insiden di Yuki no Kuni. Aku tidak terlalu mengerti, tetapi melawan ketiganya sangat amat susah. Cih…sensei, mudah-mudahan tanda yang kuberikan kepada anda terlihat!'

"Hei gadis," Shira melipat kedua tangannya dengan tenang "Apakah kau murid dari Utakata?"

"Iya." Jawab Hotarou penuh percaya diri. Shira, Yome dan Sen terbengong-bengong. Gadis di hadapan mereka menjawabnya tanpa keraguan. Sepertinya gadis itu bangga bahwa dirinya adalah murid Utakata tanpa perlu takut pengakuan itu bisa berakibat fatal baginya.

"Ada urusan apa kalian dengan sensei-ku?"

"Kau bertanya dengan baik," jawab Shira. Dia dapat melihat pancaran keberanian dari mata Hotarou "Apa kau tahu soal insiden di Yuki no Kuni?"

Hotarou menggelengkan kepalanya "Aku tidak tahu. Aku ke sini bersama sensei hanya untuk menguasai jutsu air di gurun pasir."

"Jawaban macam apa itu?! Kau mengejek kami?!" Sen bertanya dengan nada sedikit emosi. Shira membuat tanda untuk tetap berkepala dingin.

"Siapa namamu?"

"Hotarou."

"Hotarou ya…" mata Shira menajam "Aku tanya sekali lagi, apa kau tahu soal insiden Yuki no Kuni?"

Hotarou menggelengkan kepalanya. Dia memasang wajah letih "Aku tidak tahu."

"Hmmm…" Shira memegang dagunya lalu menggosok pelan dagu tersebut "Maafkan aku. Baiklah…maafkan aku jika bertanya hal yang tidak kau ketahui. Pertanyaan kedua, ada perlu apa kau datang kemari bersama Utakata?"

"Sudah kujawab di awal-awal kan?!" Hotarou melirik ke arah lain "Kami hanya ingin berlatih di atmosfir yang berbeda. Suna sangat bagus dan cocok berada di Kaze no Kuni."

"He-" Sen yang ingin marah langsung ditahan Yome. Shira tersenyum.

"Sarkastik sekali. Jadi kau tidak mau jujur ya?"

"Kalian yang tidak mau percaya."

"Untuk apa mempercayai alasan bodoh seperti itu! Pasti…pasti ada yang ingin kalian lakukan!" kata Sen sambil menunjuk Hotarou dengan nada kesal, juga wajahnya ikutan kesal "Kalian berdua pasti mengikuti perintah Yondaime Uzukage untuk datang ke negeri ini! Katakan saja dan kami tidak akan membunuhmu."

Mata Hotarou sedikit menajam. Gadis periang yang polos ini berubah menjadi waspada "Kenapa harus membunuhku? Aku tidak tahu apa-apa di sini."

"Dia sepertinya tidak tahu apa-apa, Sen…" Shira maju selangkah mendekati Hotarou. Sen dan Yome menatap kebingungan kepada Shira. Shira berjongkok di depan Hotarou dan memegang dada kanan gadis itu.

"Hiikh?! A-apa yang-"

PLAK! Shira menampar Hotarou dan memandang tajam, tatapan penuh tekanan membunuh "Tampaknya kita perlu membuat dia menceritakan apa yang ia tahu. Walaupun mungkin sedikit sadis. Hmm…apa kalian setuju, Sen? Yome?"

"A-apa yang kau lakukan?!" tanya Hotarou sambil meringis kesakitan. Pipinya terasa terbakar. Shira berdiri tegak lalu meninju dinding di atas kepala Hotarou. Detak jantung Hotarou berdebar keras, seperti mau copot. Jika tinjuan itu mengenai kepalanya, bisa dipastikan wajahnya akan hancur seperti dinding di atas kepalanya.

"Suatu informasi memang berharga, apapun informasi itu, sekecil apapun informasi itu…kami akan membuatmu berbicara," Shira memandang dada Hotarou yang naik-turun akibat napas yang tak teratur "Kau mau dada cantikmu ini dirusak oleh kedua temanku, murid Utakata?"

Jantung Hotarou tentu saja seperti pacuan kuda yang berlari di lintas balapan penuh harapan…harapan kepada sensei-nya.

'U-Utakata-sensei, tolong aku…' batinnya di dalam hati dengan emosi penuh ketakutan. Jika tidak ada sensei, dia akan menjadi Hotarou yang penakut. Hotarou…Hotarou…

Hotarou terus berusaha memberanikan dirinya, tetapi tanpa Utakata yang berada di sampingnya, Hotarou merasa dirinya hanya seorang gadis lemah.

'Sensei, tolong aku!'

Sementara Utakata berlari mengikuti tanda pasir basah dari Hotarou sambil menggendong bandit itu di bahunya. Sang Jinchuuriki berubah pikiran. Dia tidak akan mencoba jutsu Edo Tensei karena nasib Hotarou lebih penting. Sangat-amat-penting.

"Woy buddy, kenapa kau harus menggendongku? Bukankah meninggalkanku di sana tadi dan berlari mengikuti pasir basah ini membuatmu lebih cepat sampai tujuan?"

"Diam, keparat." Nada suara Utakata tegas, namun tetap tenang 'Hotarou…tunggu aku! Aku tidak akan membuat kesalahan seperti yang Harusame-sensei lakukan kepadaku! Jika Harusame-sensei tidak bisa membuatku percaya arti kata Guru-Murid. Maka kau…'

Mata Utakata menajam '…Maka kau dan aku yang akan membuat kata Guru-Murid itu terdengar indah di telinga!'

.

.

.

Naruto baru saja menerima surat dari Uzumaki Michiru, kepala Divisi Intel Uzu yang diberi tugas memimpin dua tim ninja untuk mengawal Putri Amaru. Isi surat itu cukup penting,

Kami terjebak di tengah badai, Uzukage-sama. Saat ini kami tetap berlindung dan beristirahat di depan Hutan Aokigahara. Saya tidak berani masuk ke dalam karena cuaca yang tidak bersahabat. Saya menunggu keputusan anda, apakah harus menunggu badai selama beberapa hari ini reda atau tetap masuk menembus hutan.

Uzumaki Michiru

Yondaime Uzukage meletakkan surat Michiru ke atas meja dan menyatukan ujung kesepuluh jarinya dan mengetuk-ngetuknya dengan penuh irama. Dia memandang surat itu kembali, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sang Uzukage tersenyum tipis, atau terlihat sedikit licik?

"Ada apa memanggil saya, Yondaime Uzukage-sama?" tanya Konan yang langsung datang ketika Naruto dua kali menjetikkan jarinya. Balutan kertas-kertas masih menyelimuti tubuh Konan. Naruto memejamkan matanya, tetap tersenyum penuh ketenangan dan berdehem pelan.

"Perkuat pertahanan desa, Konan. Lakukan penjagaan ketat dan buat Fuin kekkai beberapa lapis yang tidak bisa ditembus dengan kecepatan seorang ninja…penjagaan desa harus ditingkatkan. Nagato…" mata Naruto terbuka begitu melihat Nagato masuk ke dalam kantor sambil mengunyah roti di tangan kanannya "..Aku minta satu."

Nagato melempar sebungkus roti dari kimononya dan ditangkap Naruto dengan tenang. Konan jelas terkejut dengan sikap Nagato terhadap Naruto. Ya walaupun dia, Nagato dan Naruto (bersama Almarhum Yahiko tentunya) adalah sahabat sejak kecil, tetapi bersikap seperti itu di hadapan Naruto yang notabene adalah pemimpin desa mereka sangat amat tidak ditolerir. Saat Konan ingin memarahi pria santai bersurai merah lurus itu, Naruto membuat tanda kepada Konan supaya menahan emosinya.

"Pukul Nagato di luar ruangan ini." Kata Naruto dengan nada sedikit bercanda. Nagato memasang wjaah ngeri ketika Konan tersenyum sadis dengan mata berpancar cahaya merah iblis.

"Arigatou, Yondaime Uzukage-sama…"

"Naruto…kau memanggilku hanya untuk roti ini, serta…serta menyuruh Konan memukulku?!"

Naruto menggelengkan kepala. Dia membuka bungkus roti dan mengunyah roti gigitan pertama. Dia berdiri tegak lalu memandang kedua sahabatnya dengan tatapan yang tak berubah sedikitpun. Seperti air sungai tanpa arus. Hanyut dalam kejernihan biru yang memikat.

"Aku sudah menyuruh Konan untuk memperkuat pertahanan desa, alasannya? Aku akan keluar sebentar dari desa, Nagato…"

"A-APAAA?!" kata kedua sahabat Naruto dengan suara kaget. Naruto menggigit rotinya lagi lalu mengunyahnya dengan santai.

"Apa yang kau lakukan?!" tanya Nagato. Naruto memandang isi roti yang digigitnya, berwarna coklat. Berarti isi roti ini cokelat.

"Itu adalah roti isi kacang tanah." kata Nagato membenarkan isi pikiran Naruto. Naruto memandang datar Nagato.

"Tetapi warnanya lebih terlihat seperti cokelat rasa cokelat."

"Cokelat memang rasa cokelat, Naruto…"

"Aku pernah beli cokelat rasa mayonnaise lho."

"I-itu mayonasie yang diberi perwarna cokelat."

"Lha, jadinya ini kacang tanah rasa cokelat?"

"Itu memang kacang tanah, dan rasanya memang rasa kacang tanah!" Nagato memberi argumen tambahan "Dan bukan kacang tanah rasa mayonnaise!"

Konan memandang keduanya dengan geram. Nagato dan Naruto malah terlibat debat tidak penting soal cokelat rasa kacang tanah dan kacan tanah rasa cokelat, debat apa-apaan ini?! Sangat tidak penting sekali…ketika keduanya hampir saling bertonjok karena –cokelat dan kacang tanah…juga mayonnaise-Konan menghentikan keduanya dengan ancaman bom-bom kertas.

"Nagato! Jaga sikapmu terhadap Naruto…walaupun dia teman bermain kita dan saat kecil Naruto suka kencing kena celananya, dia sekarang adalah Yondaime Uzukage-sama, sang pemimpin keempat Uzu!"

Konan memang tidak memarahi Naruto karena Konan sangat amat menghormari sahabatnya, namun Nagato tetap tertawa terbahak-bahak karena Konan tanpa sadar membeberkan sedikit rahasia sang Uzukage keempat.

"Bwahahahaha,"

"Berhenti tertawa Hahahaha dengan awalan Bwa…kau benar-benar puas mentertawaiku." Kata Naruto sambil melahap potongan terakhir roti isi kacang tanah atau cokelat atau mayonasie berwarna cokelatnya itu. Sang Uzukage memandang kedua sahabatnya dengan tatapan serius.

"Jadi, apa yang kau lakukan di luar sana, Naruto-sama?" tanya Nagato, yang kini sudah serius.

"Kita akan membuat pertemuan dengan 5 Kage,"

Mata Nagato dan Konan melebar. Safir biru Naruto bagai cahaya berlian yang bersinar paling terang di kegelapan malam.

"Aku akan sedikit mengkonfirm soal kematian 5 Kage. Mungkin ini akan menjadi awalan baru bagi lilin yang hampir habis di penerangan buramnya…aku akan memberikan sedikit keterangan kepada 5 desa besar!"

Nagato dan Konan saling berpandangan. Ketika Naruto terlihat mengetukkan jari telunjuknya ke meja dengan ketukan yang penuh irama, maka ada irama rencana yang Uzukage keempat rencanakan!

Rencana dibalik rencana!

TBC

AN:

Di awal ane berusaha membeberkan sedikit tentang masa lalu Utakata saat dia pertama kali bertemu gurunya. Masa lalu Utakata dan Hotarou sudah dibeberkan di fic utama TU, jadi ga perlu ada backstory soal dua insan ini. Hanya saja backstory Hotarou memang belum terlalu dijelaskan.

Rencana Naruto? Maybe sesuatu yang besar. Jadi selain ada konflik saling curi mayat, konflik di Hutan Aokigahara, ada juga konflik para pemimpin. Semoga tetap menghibur.

Untuk scene chap depan mungkin sedikit agak ngeres karena Hotarou sedang diinterogasi Tim Shira. Maaf jika ane buat Tim Shira sedikit jahat, tetapi ini demi mendukung cerita.

Q: Nanti ada mengambil mayat Kazekage ke3?

A: Uoooh, ditunggu saja bro. Tetapi suatu pertanyaan dan saran yang bagus.

Q: Ada apa dengan air minum Hotarou?

A: Bukan air minumnya gan, tetapi tempat menyimapn air-nya Hotarou itu diisi dengan pasir basah. Jadinya sebagai penunjuk dari Hotarou kepada Utakata untuk memberitahukan lokasi di mana dia (Hotarou) berada. Hotarou juga pura-pura pingsan.

Q: Karakter Utakata kekuatannya beda?

A: Sama gan, hanya ada beberapa tambahan. Utakata tidak bisa menggunakan jutsu gelembungnya karena pipa gelembungnya diambil Fuushin.

Q: Berapa banyak mayat Kiri yang diambil?

A: Belum tahu gan

Q: Kapan Lemon?

A: Tunggu saja wuahahaha,

Jadi…terima kasih bagi yang mau mendukung dan mereview fic ini. Kalian is the best. Sampai jumpa di chapter 12 dari TU Hiden: Utakata-Chronicles, sebagi bagian dari proyek fic terbesar ane, TU PROJECT.

Tertanda. Doni Ren