[ SONGFIC ]
Romance Is Over - VIXX
HyukBin
Hyuk & Hongbin
LeoN
Hakyeon, Taekwoon
VIXX
Yaoi/BL
T
Romance & Hurt
.
.
.
.
.
.
Ini FF HyukBin pertama yang aku tulis dari requestan nya [daegunieL], tapi sebelumnya maaf nya, lagu yang di request nggak ketemu jadi aku pakai lagi Romance is Over nya VIXX karena ada yang request atas nama [guest] ^^ jadi aku kolaborasi aja request nya hehe. Kalau masih belum puas bisa request lagi yah, pasti di layani hohoho.
Oke langsung aja, Happy Reading !
.
.
.
.
.
Jangan pernah berpegang pada kita yang pernah berhenti
Karena ini adalah akhir dari cerita kita
Ini bukan salah siapapun
Sejak tak ada lagi kisah cinta
dan sejak aku memiliki kenangan
Itu adalah hal yang paling berharga untukku
.
.
.
.
.
Seorang namja berbalut kaos oblong hitamnya tengah terduduk bersandar pada kaki kasur melihat sebuah album foto. Dia hanya menatap sendu tiap halaman foto yang memperlihatkan dirinya dengan seseorang. Sangat bahagia, pancaran wajah kedua orang di foto itu terlihat saling menyayangi. Berbeda dengan raut wajah dirinya kini yang hanya dapat menyesali semua yang telah terjadi. Air matanya turun membasahi wajahnya, kedua matanya terpejam erat merasakan keadaannya yang sangat menyedihkan. Dia tidak bisa hidup tanpa orang itu, dirinya membutuhkan orang tersebut.
Namja itu meremas rambutnya, memukul dadanya berkali - kali. Tangisnya semakin terisak, dirinya benar - benar menyedihkan. Hanya berdiam diri di dalam kamar selama beberapa bulan setelah perpisahan itu, hanya menyesali semuanya, hanya dia yang seperti ini. Semua karena egonya.
.
.
.
.
.
Jangankan salahkan kita yang memiliki kekurangan
Kita terlalu mementingkan emosi dan terlalu muda
Aku menyesal meskipun aku terluka
.
.
.
.
.
Seorang pria dengan Jas hitam dan balutan kemeja putih itu keluar dari mobil dan menatap sendu apartemen di hadapannya. Dia hanya menatap kosong kesetiap halaman apartemen itu, tampak sangat sepi, suram dan terasa begitu mengerikan. Tidak terdeteksi adanya kehidupan di tempat itu. Tidak ada siapapun disana, hanya ada dirinya dan bangunan kosong tersebut.
Pria itu berjalan perlahan memasuki apartemen. Dia membuka pintu dengan kunci yang baru saja dia keluarkan dari dalam saku. Tak ingin cepat - cepat masuk, dia hanya berdiam diri menatap lorong apartemen tersebut.
.
.
.
.
.
Seorang namja dengan kemeja yang sedikit longgar itu tengah membuat makan malam di dapur seperti biasa, sesekali dia bernyanyi menghilangkan rasa bosannya. Dia hanya bosan menunggu kekasihnya yang selalu saja pulang larut malam, bahkan dia tak pernah mendapat kabar kapan pastinya kekasihnya itu pulang.
"Hyung"
Namja dengan nama lengkap Lee Hongbin itu terkejut saat dirinya mendapat pelukan erat dari seseorang yang lebih tinggi darinya. Dia menolehkan kepalanya dan tersenyum lega saat mengetahui siapa pelaku itu.
"Hyukie~ Kau lelah ?"
Namja dengan kemeja biru dan jas hitam itu tampak menganggukan kepalanya. "Hmmmm aku merindukanmu Hyung" Hyuk, pelaku pemeluk itu semakin merapatkan dirinya pada Hongbin. Mengusapkan hidungnya pada leher jenjang sang kekasih.
"Mandilah dulu, setelah ini kita makan" saran Hongbin yang masih sibuk memasak.
"Ayo kita menikah"
Pergerakan Hongbin terjeda saat ucapan itu keluar dari mulut orang dengan nama lengkap Han Sang Hyuk tersebut.
Hyuk memutar tubuh Hongbin, mengalungkan tangannya pada pinggang Hongbin dan menatap lekat namja itu.
"Menikahlah denganku dan kita hidup bersama"
"Hyukie ?"
"Jangan menatapku seperti itu, aku sungguh ingin menikah denganmu"
"Bagaimana dengan orang tuamu, mereka tidak pernah merestui kita"
Hyuk menangkup dan mengusap lembut wajah Hongbin. "Aku hanya ingin kamu. Aku tidak peduli dengan mereka"
"Jika mereka tidak menganggapmu lagi ?"
"Aku tidak peduli"
Hongbin tersenyum mendengar ucapan kekasihnya, dia memeluk erat Hyuk dan menangis haru. "Ayo.. Ayo kita menikah"
Hyuk membalas pelukan Hongbin lebih erat. "Aku sangat mencintaimu, Hyung"
Hongbin mengangguk yakin dan tersenyum begitu bahagia. Mereka saling berpelukan dan mengukir senyum penuh kebahagian. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka saat ini. Hanya saat ini.
.
.
.
.
.
Aku merindukanmu, bahkan tertawamu yang hangat
Aku merindukanmu, yang lebih berharga dari diriku sendiri
Sekarang aku tak dapat melihatnya lagi,
Harusnya kamu bahagia
.
.
.
.
.
Hongbin meletakan album foto yang selalu dia lihat setiap harinya, dia meletakan dan menyimpanya di dalam laci meja. Kedua matanya merah dan sembab, lingkar hitam yang mengelilingi matanya dan bibirnya yang pucat, Hongbin terlihat begitu menyedihkan, terlebih lagi, dia bahkan terlihat begitu kurus nan rapuh.
Hongbin berjalan menuju pintu kamar dan mengambil sebuah undangan yang diletakan di bawah kolong pintu.
Bibir Hongbin bergetar setiap melihat nama seseorang yang tercetak di Undangan tersebut.
Sebuah Undangan pernikahan yang sudah tergeletak disana selama beberapa minggu ini, pernikahan yang akan segera diselenggarakan antara Han Sang Hyuk dengan Lee Yura akhirnya di buka dan dibaca Hongbin. Walapun hatinya terasa begitu hancur, hancur teramat sakit. Namun, dia harus menerima kenyataan pahit ini. Kenyataan bahwa dirinya dan Hyuk sudah berakhir, hubungan mereka sudah benar - benar berakhir semenjak rencana pernikahan ini diselenggarakan.
"Haruskah seperti ini" Ucap Hongbin parau seraya mengusap lembut nama Han Sang Hyuk pada Undangan. "Haruskah kita berakhir seperti ini?" Kedua matanya menangis kembali, dia tidak tau kenapa dia selalu menangis jika berkaitan dengan Hyuk. Hongbin sudah sangat lelah untuk menangis, terlalu lelah untuk merasakan sakit hatinya sendirian. "Pembohong !"
.
.
.
.
.
Aku merindukanmu, aku membiarkanmu pergi
Aku merindukanmu, temukanlah orang yang berbeda dariku
Buang jauh-jauh ingatanmu tentangku
Kisah cinta telah berakhir
.
.
.
.
.
Hyuk berjalan perlahan mengamati tiap inci apatemen itu. Perabotan - perabotan yang mulai berdebu, tekstur lantai yang sekarang sudah kotor, begitu pula pintu ruangan yang tertutup rapat. Pintu yang mana disana terdapat banyak sekali kenangan manis dan buruk bersamaan.
Hyuk mendekati pintu kamar, kedua matanya terpejam erat, jantungnya berdetak cepat saat tangannya menyentuh knop pintu. Serasa kenangan teringat kembali di kepalanya, kenangan buruk itu terasa kembali berputar. Dia berusaha membuka matanya dan masuk kedalam kamar dimana dulu dia dan Hongbin selalu tidur bersama.
Kedua mata itu menyapu setiap sudut kamar, menatap sendu kasur yang sekarang tertutup kain putih. Hyuk mendekat dan duduk terdiam di atas kasur. Hanya terdiam menikmati suasana sepi ini untuk terakhir kalinya.
.
.
"Apa maksudnya ini ?!" Hongbin melempar ponselnya kepada Hyuk begitu saja.
Hyuk yang baru saja selesai bekerja dari Kator pulang ke Apartemennya malah disambut dengan kemarahan sang kekasih. Dia melihat ponsel milik Hongbin yang memperlihatkan berita mengenai pernikahannya dengan seorang gadis yang di jodohkan dengannya.
"Kau akan menikah ?!"
"Aku ... aku bisa jelaskan" Hyuk mendekati Hongbin yang mulai menangis.
"Tidak" Hongbin menampik tangan Hyuk. "Kita akan menikah, dan kau juga akan menikah dengan wanita lain ?!" Suara Hongbin terdengar parau.
Kedua mata Hyuk tertutup, dia berusaha mengontrol emosinya, dia harus tenang disaat Kekasihnya marah seperti ini. "Ini untuk bisnis, aku tidak mencintainya"
"Aku tidak peduli ! Kita hiks" Hongbin menghapus air matanya kasar. "Kita akan menikah besok !" Dia mengambil paksa ponselnya dari tangan Hyuk. "Dan kau.. tidak boleh menikah dengannya !" Hongbin hendak beranjak pergi dari kamar.
"Hyung" Hyuk menggenggam tangan Hongbin menghentikan langkah kekasinya. "Dengarkan aku dulu. Aku tidak bisa menolak pernikahan ini, Ini untuk eomma"
"Bagaimana denganku ?" Kedua mata Hongbin menatap kecewa Hyuk. "Kau sudah berjanji" Tangis Hongbin kembali terisak. "Kau berjanji menikahiku"
Hyuk mengangguk kepalanya cepat. "Tentu, kita akan menikah. Kita menikah besok" Hyuk menghapus lembut air mata Hongbin yang terus mengalir.
"Lalu, kau juga akan menikahinya kan ?"
"Sayang~ please" Hyuk menangkup wajah Hongbin. "Aku harus melakukan itu hanya untuk bisnis"
"Kau bilang tidak akan peduli dengan mereka" Tangis Hongbin semakin kencang, isakannya semakin terlihat parah. "Kau pembohong !"
Hyuk menggelengkan kepalanya, "Bukan seperti itu"
"Kau pembohong !" Hongbin mendorong tubuh Hyuk menjauh. "Kita akhiri ini saja"
Hyuk mencoba menghadapkan tubuh Hongbin padanya. "Kau bercanda kan ?" Yang ditanya hanya terdiam tanpa mau menatap Hyuk yang mulai terlihat kacau. "Kita sudah berjuang selama 3 tahun Hyung. Aku tidak ingin kita berakhir. Aku sangat mencintaimu"
Hongbin menoleh dan menatap tegas Hyuk. "Jangan nikahi dia"
Hyuk menggelengkan kepalanya. Kepalanya tertunduk, "Aku.."
"Kau tidak bisa kan" Hongbin melepas kedua tangan Hyuk dari pundaknya secara paksa. "Maka aku juga tidak bisa bersamamu lagi"
"Tidak, aku mohon" Hyuk kembali menahan tangan Hongbin, dan lagi, Hongbin menhentak kasar tangan Hyuk. Hongbin kembali berjalan keluar kamar.
Hyuk bergegas mengejar Hongbin dan menahan tangan itu lagi. "Kumohon" Hyuk berlutut didepan kekasihnya. "Jangan tinggalkan aku" Hyuk menatap keatas, memohon pada Hongbin yang terlihat meneteskan air matanya lagi. "Baik, aku tidak akan menikahinya. Aku berjanji, jangan tinggalkan aku. Ku mohon"
.
.
.
.
.
Ini bukan kesalahan siapa-siapa
semuanya memiliki akhir
Bahkan matahari yang menghangatkan dunia
akan menjadi dingin suatu hari nanti
Tak ada yang berlangsung selamanya
Semuanya berakhir dan membuatmu sedih
.
.
.
.
.
Hyuk menangkup wajahnya, menyesali semua yang telah terjadi. Kenangan itu terus mengusik kehidupannya. Dia benar - benar tidak bisa melewati hari - harinya seperti ini, dia membutuhkan Hongbin. Dia terlalu mencintai namja itu. Kenapa dia harus mengakhiri kisah mereka, kenapa semua ini harus berakhir.
DRRRRRTTTT DRRRRTTTT
Hyuk menghela nafasnya sebelum mengangkat telepon dari seseorang bernama Yura tersebut. Dengan terpaksa Hyuk menerima telepon, seraya beranjak keluar dari sana.
"Sayang, kau dimana ? Kita harus mengecek tempat, bukan ?"
"Aku segera kesana"
"Kau sedang dimana ?"
"Bertemu klien"
"Baiklah, aku menunggumu, cepatlah kemari"
"Ya" Hyuk memasukan ponselnya dan menutup pintu apartemen serta tidak lupa menguncinya. Walapun berat meninggalkan tempat ini, dia harus pergi dan menjalani kehidupannya yang baru. Menjalani kehidupan tanpa seseorang bernama Lee Hongbin.
.
.
.
Hongbin berjalan perlahan menuruni tangga, dia menatap sendu Ibunya yang tengah terduduk di ruang makan seorang diri.
"Eomma" Panggil Hongbin perlahan.
Sang Ibu menoleh dan langsung berdiri menatap anak semata wayangnya itu penuh kelegaan. "Hongbin-ah"
Hongbin berjalan mendekati sang Ibu dan memeluk erat tubuh yang lebih kecil darinya.
"Ada apa ? Kau lapar ?" Tangan sang Ibu mengelus lembut rambut Hongbin.
Hongbin semakin mendekap erat Ibunya. "Maaf Eomma, maafkan Hongbin"
Terdengar isak tangis dari mulut sang Anak. Nyonya Lee hanya mengangguk seraya mengusap punggung Hongbin yang bergetar.
"Tidak apa - apa. Kau masih punya eomma disini"
"Maaf Eomma hiks maaf hiks"
.
.
.
.
.
Pertengkaran dan semua yang telah pergi adalah apa yang harus aku syukuri
Aku ingin kamu berbahagia saat aku pergi
Sangatlah jauh dan bermasalah
Kamu sangat marah
Maaf, tapi janganlah menyalahkan satu sama lain
karena itu adalah akhir yang kita buat bersama-sama
.
.
.
.
.
"Dimana mempelai pria nya ?"
"Ini sudah 2 jam, kenapa belum datang juga ?"
"Tuan, dimana kekasih anda ?"
Hongbin terdiam saat seseorang bertanya padanya mengenai keberadaa Hyuk sekarang. Dirinya bahkan tidak tau dimana kekasihnya itu berada. Seharusnya dia sudah disini dua jam lalu, seharusnya mereka sudah mengucapkan janji pernikahan sekarang. Tapi semua harus tertunda karena Hyuk belum datang.
Bahkan Hongbin dengan tuxedo putihnya tetap duduk menunggu dan membiarkan para tamu dan pendeta menunggu di luar sana. Hyuk sudah berjanji mereka akan menikah. Hongbin tidak mau membiarkan acara ini gagal. Dia yakin, mungkin Hyuk tengah terjebak macet ataupun kendala lain yang membuatnya terlambat.
"Para tamu sudah ada yang pergi, jika kita biarkan mereka semua akan pergi Tuan Lee"
"Tunggu sebentar saja"
Wanita yang bertugas sebagai koordinator acara pernikahan itu tampak menghela nafasnya lelah. "Coba kau hubungi lagi"
Hongbin terdiam dan menatap ponselnya ragu. "Dia akan datang, sebentar lagi"
"Kau mengucapkan itu terus Tuan, nyatanya dia tidak datang sampai sekarang" Wanita itu kembali menghela nafasnya. "Kita batalkan saja oke ? Aku benar - benar merasa tidak enak hati dengan mereka semua, perusahaan ku juga bisa kena marah"
"Tidak aku mohon, tunggu sebentar saja"
"Begini saja, kita batalkan ini dan kau tidak perlu membayar kami, oke ?" Wanita itu mengemasi barang - barangnya, dan menatap nanar Hongbin yang masih duduk dengan sedih disana. "Dia tidak baik untukmu, jangan perjuangkan Dia seperti ini. Aku pergi dulu, jaga dirimu baik - baik Hongbin-ah"
Hongbin merasa sangat bodoh, wanita itu mungkin benar. Dirinya tidak harus menunggu seperti ini, Hyuk memang tidak mencintainya, disaat penting seperti ini pun dia tidak hadir, hanya membuat Hongbin terus berharap dan menunggu.
Sejam lamanya Hongbin masih duduk menunggu hingga tempat itu benar - benar sepi. Dia tidak tau harus melakukan apa, dia tak mengerti kenapa Hyuk tega melakukan hal ini padanya. Dia tidak mengerti kenapa dirinya harus jatuh cinta dengan pria brengsek seperti Hyuk.
Hongbin berdiri dan menatap keseluruh ruangan yang tampak sepi, bahkan semua barang yang sebelumnya memenuhi ruangan itu kini tampak kosong.
GRAAAAKK
Hongbin menelan saliva nya seraya menutup kedua matanya saat suara pintu terbuka memenuhi isi ruangan. Suara sepatu seseorang tengah berjalan perlahan kearahnya.
"Hyung" panggil Hyuk yang sekarang tengah menatap punggung Hongbin. Nafasnya terlihat begitu lelah, bajunya tampak basah karena keringat. "Maaf" Ucapnya parau saat dia tau bahwa pernikahan mereka sudah berakhir, ruangan yang seharusnya begitu meriah kini tampak sangat sepi dan suram.
Hongbin hanya berdiri didepannya tanpa mengucapkan apa - apa. Hyuk berusaha mendekati kekasihnya itu. "Maafkan aku. Aku menemani Yura mengatur pernika.."
"Aku tau" Hongbin berbalik dan menatap tajam Hyuk.
"Hyung, Maaf" Kini dia lihat, orang yang sangat dia sayangi tengah menangis kecewa didepannya. Ini salahnya, dia seharusnya datang dan melakukan pernikahan dengan Hongbin.
"Kita akhiri saja" Hongbin mengusap air matanya kasar. "Aku tidak mampu, aku tidak bisa terus seperti ini"
Hyuk menggelengkan kepalanya cepat dan langsung berlari memeluk Hongbin. "Jangan katakan itu. Aku tau aku salah, aku salah, aku minta maaf"
"Kita putus Hyuk. Kita berakhir" Hongbin melepaskan paksa tubuh Hyuk darinya dan pergi meninggalkan Hyuk yang jatuh terduduk disana. Keduanya saling menangis, melepaskan kesedihan dan kekecewaan masing - masing. Kini mereka benar - benar berakhir, mereka telah berakhir.
.
.
.
.
.
Semua momen adalah hal yang spesial untukku
Kita berubah dan akhirnya putus
Semuanya membuka kala itu
.
.
.
.
.
Suasana gedung mewah dengan berbagai bunga dan arsiktetur pernikahan tampak ramai terpenuhi tamu undangan. Gedung yang tengah diselenggarakannya pesta pernikahan tersebut berlangsung meriah dan bahagia. Semua tamu tampak tersenyum dan mengucapkan selamat serta doa kepada sepasang mempelai yang kini tengah bergabung bersama para tamu lain.
Hyuk, dengan tuxedo putih dan bunga yang tersemat indah di sakunya tampak begitu tampan nan elegan mengampit lengan seorang Wanita dengan gaun putih yang begitu anggun dan mengkilap ditubuhnya. Wanita yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya itu tampak bahagia bercengkrama dengan tamu yang hadir. Namun, tidak dengan Hyuk yang sedari tadi memasang fake smile nya. Matanya terus bergerak kesana kemari mencari seseorang yang tidak dia lihat selama berbulan - bulan.
"Sayang"
Hyuk tersentak kaget saat Istrinya mencubit perutnya. "Hmm ?"
"Ini sahabatku, dia baru datang dari Jepang"
Hyuk menjabat tangan seorang wanita yang diperkenalkan padanya sebagai seorang sahabat. "Senang bertemu dengan Anda"
"Aku sangat bahagia kalian akhirnya menikah. Tidak disangkah yah cepat sekali"
Hyuk hanya tersenyum menanggapi ucapan wanita tersebut, matanya kembali sibuk menyapu seluruh tamu disana.
"Sayang kau mencari siapa ?"
Hyuk menatap sang Istri dan tersenyum. "Teman"
"Mungkin dia terlambat. Eohh,, Sayang ayo kesana, ada Oppa ku" Yura, menarik lengan Hyuk mengajaknya menuju sisi lain dimana disana ada dua lelaki tengah mengobrol dengan minuman ditangan mereka.
"Oppa!"
Salah seorang lelaki yang mengenakan jas biru dongker dengan jean hitam itu menoleh dan melambaikan tangannya pada Yura. Begitupun lelaki disebelah yang menoleh dan menatap kedua mempelai yang tengah berjalan cepat kearah mereka.
Hyuk tampak tercengang mengetahui siapa tamu didepannya. Bibirnya terlihat tersenyum walapun singkat, ada sebersit rasa bahagia pada dirinya akhirnya dapat melihat orang itu lagi. Lee Hongbin, dia melihatnya lagi.
"Selamat ne" Lelaki itu mengecup puncuk kepala Yura.
"Hyun Woo Oppa, aku tidak tau kau akan datang"
"Dihari bahagia dongsaeng ku, siapa yang tidak akan datang"
"Aaahhhhh bahagianya~~~" Yura memeluk erat sang kakak yang juga melakukan hal tersebut.
Disisi lain, Hyuk dan Hongbin tampak saling menatap satu sama lain. Tatapan yang penuh makna tanpa orang lain tau ada sebuah perasaan disana.
"Oppa, siapa dia ?" Yura menoleh pada Hongbin dan tersenyum manis.
Hongbin menundukan kepalanya. "Lee Hongbin, teman Lee Hyun Woo. Selamat atas pernikahan kalian"
"Hmmm terimakasih Hongbin Oppa"
Hyuk menatap sinis Hyunwoo yang tampak begitu akrab dengan Hongbin, bahkan sesekali lelaki itu menggoda Hongbin.
"Eoh, kenapa kau ini ?" Hyunwoo membersihkan sisa minuman di ujung bibir Hongbin dengan sebelah tangannya.
Hyuk yang melihat itu semakin terlihat masam. Tangannya pun terkepal erat, Hyunwoo bahkan terlihat begitu menikmati sentuhan jarinya pada bibir Hongbin.
"Cukup !" Hyuk menarik paksa tangan Hyunwoo dari bibir Hongbin. Tidak langsung melepasnya, Hyuk malah meremas erat tangan Hyunwoo.
"Auuh!"
"Sayang, kau menyakiti Oppa ku" Yura memukul pelan tangan Hyuk. Dengan terpaksa dia harus melepas tangan orang yang sudah seenaknya membelai bibir kesukaanya.
Hyunwoo mengusap tangannya yang masih merasa sakit. Bahkan Hongbin pun malah ikut mengusap tangan Hyunwoo itu.
"Pergilah ke Hotel !" Bentak Hyuk tanpa kendali.
Ketiga orang itu menatap terkejut Hyuk yang tengah menatap tajam pada Hongbin.
"Kalau ingin bermesraan, jangan disini !"
"Sayang !"
Hyuk menarik tangan Hongbin dari Hyunwoo, "Kalau kau ingin balas dendam, tidak seperti ini caranya !"
Hongbin terdiam menatap sendu Hyuk yang tampak sangat emosi.
"Apa - apaan kau ini ?!" melihat sikap Hyuk membuat Hyunwoo menarik kerah tuxedonya.
"Aku tidak ada urusan denganmu brengsek !" Hyuk membalas menarik kerah jas Hyunwoo.
"Sayang kau ini apa - apaan !"
"Kau tidak pantas untuknya" Hyuk menatap nyalang Hyunwoo.
Hyunwoo tampak semakin emosi, dia meremas kuat kerah Hyuk. "Kau ! Yura tidak pantas menjadi milikmu !"
"Hah ?! Siapa juga yang mau jadi ..."
"Han Sang Hyuk !"
Hyuk menoleh mendengar Hongbin yang membentaknya, begitupun Yura dan Hyunwoo.
Hongbin menarik tangan Hyuk dari kerah Hyunwoo dan membawa Hyunwoo kesisinya. "Aku, tidak ada niat balas dendam" Hongbin melirik pada Yura yang tampak kebingungan. "Kita sudah berakhir" Tangan Hongbin menggenggam erat tangan Hyunwoo, dan Hyuk melihat itu. "Aku senang dengan pernikahanmu, aku senang kau bahagia. Tapi kau tidak perlu merasa bersalah." Hongbin beralih menoleh pada Hyunwoo yang juga menatapnya bingung. "Aku sudah bahagia dengan hidupku yang baru."
Hyuk mengepalkan tangannya saat melihat Hyunwoo yang tersenyum begitu lembut pada Hongbin, begitupun sebaliknya. "Aku tidak pernah ingin berakhir Hyung" ucap Hyuk parau seraya menatap sendu Hongbin yang berusaha mengukir senyumnya. "Kau tau, aku tidak pernah menginginkan ini"
"Ada apa ini sayang, apa yang kalian bicarakan ?" Yura terlihat mulai panik saat Hyuk tampak akan menangis.
Hongbin mendekat pada Hyuk, "Tidak apa - apa." Dia mendekap tubuh Hyuk. "Lepaskanlah, karena aku juga melepasmu sekarang" Hongbin melepas pelukannya dan mengusak rambut Hyuk perlahan. "Semoga hidup kalian bahagia" Dirinya menundukan kepala sebelum pergi meninggalkan ketiga orang disana.
.
.
.
.
.
Sebuah desahan tak berarti kini telah meninggalkanmu
Aku harap kamu akan jadi sedikit bebas
Sekarang kesepian adalah masalah yang harus kuatasi
Seandainya kita sedikit lebih banyak waktu bertemu,
Kamu meminta maaf karena kita tak sama-sama dewasa
.
.
.
.
.
"Hongbin-ah !"
"..."
"Lee Hongbin"
"..."
"Ya ! Berhenti !" Hyunwoo menarik tangan Hongbin sehingga lelaki tersebut menghentikan langkahnya. "Kenapa kau ini ? Jangan berada jauh dariku"
Hongbin membalikan badannya dan langsung memeluk tubuh Hyunwoo. "Maafkan aku, seharusnya itu tidak terjadi"
Hyunwoo tersenyum seraya mengusap lembut kepala Hongbin. "Itu lebih baik, dia harus menerima takdir kalian"
Hongbin melepas pelukannya dan menatap polos Hyunwoo.
"Dan kau juga harus menerima takdirmu"
"Apa ?"
Hyunwoo mendekatkan wajahnya pada wajah Hongbin. "Tidakkah kita harus menyusul mereka"
"Hah ?"
Senyum Hyunwoo terlukis begitu indah dan tanpa permisi bibir itu mendarat begitu sempurna dibibir ranum Hongbin. "Takdirmu adalah menjadi milikku"
"Ya !" Hongbin menyentuh bibirnya seraya melotot tajam pada Hyunwoo. "Aku ini sedang patah hati, seenaknya saja kau main cium"
"Kau marah ? Kenapa wajahmu merah ?" Hyunwoo merangkul pinggang Hongbin sehingga tubuh mereka merapat. "Kau merah karena kau malu kan"
"Ck ! Jangan menggodaku !"
"Ayolah, kau suka kan ? Eoh eoh Lihat, kau tersipu"
"Diam !"
"Nyonya Lee tersipu"
"LEE HYUNWOO ! Berhenti menggodaku !"
"Baik baik. Tapi cium dulu"
"Ya ! Lee Hyunwoo !"
.
.
.
.
.
My love, aku berterimkasih kala itu
My love, aku benar-benar mencintaimu
Kata-kata itu akan tinggal di bibirmu
Namun kamu harus bahagia
Selamat tinggal, tanda akhir dari kisah cinta
Selamat tinggal, sekarang aku akan membiarkanmu pergi
Itu adalah saat terakhir
Aku merindukanmu dan aku bahagia
.
.
END
.
.
.
Maaf karena ini terlalu lama dan lagu yang di request tidak seperti yang diinginkan. Untuk yang belum di acc (?) request nya, di tunggu yah, sesuai urutan request nya he he he.
Okee makasih yang sudah menyempatkan membaca, jangan lupa REVIEW oke !
N-nyeooooong~~~
