Disclaimer: I own nothing but the plot and maybe several OC's
Remember
by nessh
The Winter's Tale
London Muggle, 14 September 2002
Luna berhasil membujuk Ron, Hermione, Oliver, Draco dan Astoria untuk menemaninya ke sebuah pertunjukan di sebuah pusat teater di kota London yang malam ini menampilkan salah satu karya Shakespeare, The Winter's Tale.
Draco dan Astoria kebetulan bertemu dengan Ron, Luna, Hermione dan Oliver di Leaky Cauldron ketika mereka baru saja kembali dari Gringgots, mereka memutuskan untuk bergabung. Tepat ketika Luna mengumumkan keinginannya untuk menonton The Winter's Tale.
"The Winter's Tale? Kapan? Dan darimana kau tau tentang ini Luna?" tanya Hermione.
Luna tersenyum, "Dari temanku di St. Mungo yang kebetulan Kelahiran-Muggle. Orangtuanya penggemar Shakespeare jadi dia tau persis jadwal pertunjukannya. Lagipula aku selalu suka dengan cerita The Winter's Tale,"
"Shake—apa?" tanya Draco dengan dahi berkerut.
Di saat yang sama Ron bertanya, "Winter what?"
Dan Astoria berkata, "Tail?"
Luna dan Hermione memutar mata mereka. Oliver hanya nyengir-nyengir dengan ayah seorang Kelahiran-Muggle, Oliver sering mendengar tentang Shakespeare dari kakek-neneknya yang merupakan penggemar berat karya-karya Shakespeare, terutama Hamlet, Othello dan A Midsummer's Night Dream.
"Shakespeare! The Winter's Tale! Urgh! Dan Astoria, Tale ! Bukan Tail!" kata Hermione dengan gemas.
"Kalian para Darah-Murni benar-benar tidak pernah mendengar sedikit pun tentang Shakespeare?" tanya Luna dengan ekspresi dan nada datarnya seperti biasa, walau terlihat sedikit takjub dengan ekspresi ketika Darah-Murni di hadapannya.
Dengan polos, Ron, Draco dan Astoria menggeleng mantap.
"Aku seorang Malfoy ! Apa yang membuat kalian berpikir ayahku akan mengizinkanku menonton—apa itu tadi? Shakepir?"
Oliver memutar matanya, "William Shakespeare itu salah satu sastrawan paling terkenal dalam sejarah. Nah, The Winter's Tale ini salah satu karyanya yang bercerita tentang Leontes, The King of Sicily, yang menuduh istrinya, Hermione berselingkuh dengan sahabatnya, Polixenes, The King of Bohemia. Aku tidak begitu ingat ceritanya tapi aku ingat kecemburuan Leontes membuatnya membuang Perdita, anaknya dari Hermione yang baru saja lahir, membuat Mammilius meninggal karena mendengar perlakuan ayahnya pada ibunya dan membuat Hermione meninggal karena mendengar Mammilius meninggal,"
Semua orang di ruangan melongo melihat Oliver yang lancar menjelaskan tentang William Shakespeare dan bahkan menceritakan tentang The Winter's Tale walaupun tidak banyak. Tapi itu cukup untuk menunjukkan pengetahuan Oliver tentang Shakespeare.
"Bagaimana—" sebelum Ron sempat menyelesaikan pertanyaannya, Oliver sudah menjawabnya terlebih dulu.
"Kakek-nenekku dari pihak Dad adalah Muggle dan mereka penggemar berat Shakespeare. Sewaktu aku kecil aku sering ikut dengan mereka menonton teater. Karya Shakespeare favoritku adalah Hamlet," jelas Oliver dengan wajah berseri-seri. Lalu ia menoleh pada Hermione, "Dan dari sanalah aku tau darimana nama Hermione berasal," lanjutnya dengan cengiran jahil.
Wajah Hermione bersemu, "Yeah, orangtuaku penggemar The Winter's Tale," gumam Hermione.
Akhirnya setelah mengobrol—err, berdebat—dan dengan 'sedikit' paksaan dari Luna, semua orang setuju untuk pergi ke London untuk menonton The Winter's Tale. Itu membuat Luna memekik girang dan Ron menghela nafas lega karena ia tidak harus menemani Luna sendirian.
Draco terlihat senang dengan dekorasi teater yang memang mewah dan bergaya abad ke-17. Matanya melihat kesana kemari, persis seperti ketika Hermione mengajaknya ke taman bermain. Di sampingnya, Astoria menggandeng tangan Draco mesra dan matanya juga memandang ke sekeliling teater dengan takjub. Sementara Ron disibukkan dengan Luna yang sering mengeluh karena tubuhnya mudah lelah juga karena keringat membasahinya. Sementara Hermione dan Oliver sibuk membaca rentetan acara yang diberikan petugas pada mereka di pintu masuk teater.
"Jadi acaranya akan dimulai pukul tujuh untuk babak pertama dengan jeda lima menit untuk setiap babak," kata Oliver, membaca rentetan acaranya keras-keras.
Hermione mengangguk, "Aku masih terkejut ternyata kau tau tentang Shakespeare,"
Oliver nyengir, "Itu karena Grandad dan Granny senang sekali menceritakan tentang karya-karya Shakespeare padaku ketika aku kecil. Tapi aku akui, karya-karyanya memang luar biasa,"
"Aku setuju denganmu,"
Oliver tersenyum, melihat Hermione dari atas ke bawah. Hermione memakai gaun berwarna biru yang terlihat sangat pas di tubuhnya, rambutnya dibiarkan terurai membingkai wajahnya. Satu kata, Hermione terlihat cantik.
"Apa?" tanya Hermione, mendapati Oliver memandanginya dengan tatapan—aneh.
Alih-alih menjawab, Oliver malah nyengir dan mengecup Hermione sekilas. "Kau sangat cantik, itu saja," bisik Oliver.
Wajah Hermione bersemu. Dengan gemas ia memukul bahu Oliver, "Gombal,"
Tidak lama kemudian lampu teater mulai meredup hingga akhirnya padam.
"Ada apa ini? Ada apa ini?" suara Draco.
Terdengar suara pukulan disusul suara Luna, "Ini artinya pertunjukannya akan dimulai. Sekarang, bisakah kau diam Draco?"
"Oh. Okay,"
Kikikan Astoria adalah suara terakhir yang Hermione dengar. Karena detik berikutnya tirai teater mulai diangkat dan seluruh perhatiannya terpusat pada pertunjukkan.
.
Okay Hermione, sekarang Oliver adalah pacarmu. Wajar kalau dia terus menerus menggenggam tanganmu selama pertunjukkan! Tapi kenapa aku merasa kurang nyaman dengan semua ini?
Tidak! Hermione Granger!
Tapi aku benar-benar merasa kurang nyaman...
Hermione melirik tangannya yang digenggam erat oleh Oliver. Memang, Hermione setuju ketika Oliver memintanya menjadi pacarnya sekitar dua minggu lalu. Tapi tetap saja kedekatan ini tidak membuatnya nyaman. Well, mungkin semuanya butuh waktu, pikir Hermione. Ya, semuanya akan membaik. Pasti.
Dengan lembut Hermione menarik tangannya dari genggaman Oliver.
Oliver yang menyadari hal ini langsung menoleh, "Ada apa?" bisiknya.
Hermione menggeleng cepat-cepat, "Tidak! Itu—aku—" Hermione menggigit bibirnya, berusaha mencari alasan yang kira-kira tepat. "Aku harus ke kamar mandi," kata Hermione cepat sambil bangkit dari kursinya dan tanpa menunggu tanggapan dari Oliver langsung pergi keluar dari ruangan.
Lobby teater terlihat sepi, hanya beberapa orang yang sesekali lewat untuk pergi ke toilet atau bahkan keluar dari teater, dua orang petugas keamanan di pintu masuk teater dan seorang petugas kebersihan yang sedang membersihkan jendela. Dan Hermione memilih duduk di sebuah kursi, menyandarkan punggungnya dan memandang langit-langit. Ia tidak begitu nyaman dengan bagaimana Oliver menyentuhnya. Ya, Oliver memang tampan, baik, lembut dan Hermione yakin, banyak gadis rela berkelahi demi berada di tempat Hermione sekarang. Tapi Hermione merasa bukan ini yang Hermione cari.
Oliver bukan Harry, Hermione. Kau tidak akan bisa bersama siapapun kalau kau selalu mencari seseorang seperti Harry. Harry hanya ada satu, tidak akan ada yang bisa menggantikannya. Kata Hermione pada dirinya sendiri.
Draco merasa bosan. Cerita The Winter's Tail...Tail atau Tale? Ah masa bodoh! Pokoknya itu terlalu membosankan untuk Draco. Tapi ketika tadi ia melirik ke sampingnya, Draco melihat mata Astoria melebar. Ah, sepertinya Astoria sudah tenggelam dalam cerita The Winter's...Tale. Ya, The Winter's Tale, kali ini Draco yakin ia pasti benar. Luna juga sepertinya sudah tenggelam dalam jalan cerita, lain cerita dengan Ron yang terlihat berusaha keras menjaga agar dirinya tetap terjaga. Oliver, di lain pihak, terlihat serius mengikuti jalan cerita. Dan Draco tidak melihat Hermione. Ia berasumsi Hermione berada di luar, mungkin ke toilet? Sepertinya bagus kalau Draco pergi keluar sebentar untuk sekedar menarik nafas.
Dan di sanalah Hermione berada, duduk di sebuah bangku sambil menatap langit-langit tanpa ekspresi. Draco nyengir sebelum memutuskan untuk menghampiri Hermione. Draco mengibaskan tangannya di depan wajah Hermione. "Bumi memanggil Hermione Granger, bumi memanggil Hermione Granger," gurau Draco.
Hermione mendengus geli, "Hermione Granger menjawab panggilan bumi dan meminta Draco Malfoy untuk berhenti mengibaskan tangannya di depan wajahku karena itu membuatku pusing," kata Hermione sebelum menepis tangan Draco dari pandangannya.
Draco terkekeh, ia menghempaskan pantatnya di samping Hermione. "Sedikit membosankan ya di dalam," ujar Draco setengah mengeluh.
"Kau berpikir ceritanya membosankan ya?"
"Tentu! Kau juga berpikir begitu kan? Makanya kau ada di luar?"
Hermione menggeleng, "Tidak. Tadi aku keluar untuk pergi ke toilet dan entah kenapa aku tidak ingin kembali," Hermione menghela nafas pelan. "Dan itu bukan karena aku menganggap ceritanya membosankan. Lagipula Draco, aku sudah menonton pertunjukkan ini beberapa kali," tambah Hermione ketika Draco membuka mulutnya.
Draco berdecak, "Aku tetap tidak begitu mengerti cerita apa itu,"
Hermione tertawa lagi. kemudian hening.
Hening sejenak.
Dua jenak.
Tiga jenak.
"Hey Hermione, kau mau kembali ke dalam?" tanya Draco.
Hermione berpikir sebentar sebelum akhirnya menggeleng mantap, "Sepertinya tidak. Aku sedang tidak ingin menonton apapun saat ini, terutama The Winter's Tale,"
Draco melompat bangkit dari kursi dan membungkuk pada Hermione sambil mengulurkan tangannya, "Maukah Miss Granger menemaniku minum kopi?"
Hermione menggeleng geli lalu menyambut uluran tangan Draco, "Itu akan menyenangkan Mr Malfoy,"
Draco membawa Hermione ke sebuah kedai kopi yang berada tepat di seberang teater. Kedai Kopi itu terlihat cukup ramai di jam seperti ini, hampir seluruh mejanya di tempati, karena itulah Draco dan Hermione memilih untuk membungkus kopinya lalu meminumnya di sebuah bangku di tepi jalan.
Hermione memesan Latte sementara Draco memilih jenis kopi lain yang lebih berat. Setelah membayar dengan Galleon (yang membuat mata Hermione membulat sebelum Draco membisikan padanya kalau sang pemilik dari kedai ini yang juga berdiri di belakang kasir adalah seorang squib. Pria itu tersenyum lebar pada Hermione dan mengangguk mengiyakan, Hermione bernafas lega). Setelah itu, mereka duduk di sebuah bangku di depan kedai kopi itu.
"Dan dia berkata 'Vampir tidak berkilau! Bloody hell! Apa kau gila?'"
Hermione tertawa keras mendengar cerita Draco tentang seorang vampir yang Draco temui selama ia melakukan misi di sebuah kota kecil di utara Skotlandia. Vampir itu, Isaac Turner, mempermasalahkan tentang rumor yang beredar di kalangan Muggle yang tidak sengaja ia dengar tentang vampir yang berkilau. Isaac tentu merasa tidak suka dengan rumor itu, menurut Draco, Isaac tidak bisa berhenti mengeluh selama ia membantu Draco dan timnya mengejar para teroris yang dikabarkan bersembunyi di Skotlandia.
Hermione mengusap matanya yang basah karena terlalu banyak tertawa. "Itu konyol, kita semua tau vampir tidak berkilau," kata Hermione.
Draco terkekeh, "Yeah, tapi Muggle tidak tau kan? Dan kurasa muggle juga tidak begitu peduli kalau vampir benar-benar berkilau dan itu yang membuat Isaac kesal,"
Hermione, masih terkekeh, menenggak kembali isi coffee cup-nya. "Tapi kalau aku jadi Issac pun aku akan ikut kesal. Masalahnya, pengertian orang-orang—termasuk Muggle—soal vampir atau apapun tidak mudah berubah kan,"
"Yeah. Jadi menurutmu Isaac punya alasan untuk marah?"
Hermione terkekeh lagi, "Ya, dia punya alasan yang kuat,"
Draco dan Hermione berpandangan, sebelum keduanya kembali tertawa keras-keras.
"Oke Draco, aku akui itu tadi lucu sekali!"
Draco tersenyum, ia menatap Hermione lama. Dan sebuah komentar pun meluncur dari bibirnya tanpa sempat ia cegah, "Sudah lama aku tidak melihatmu tertawa seperti ini,"
Hermione berkedip lalu menoleh, "Kau bilang apa?"
Dengan wajah bersemu Draco membuang muka, "Tidak apa-apa,"
Mata Hermione menyipit, "Draco Malfoy apa yang baru saja kau katakan? Dan lihat aku ketika aku berbicara denganmu!"
Perlahan Draco menoleh, walau tetap menolak kontak mata dengan Hermione. "Aku tidak mengatakan apapun Hermione," kata Draco lagi.
Hermione mendengus, "Jelas sekali kau tidak pandai berbohong,"
Draco mengeluh, "Apa yang tadi kubilang itu—" mata Draco menyisiri wajah Hermione, mencari sesuatu untuk dijadikan alasan—ah dia menemukannya. "Ada sesuatu di sini," kata Draco sambil menunjuk ujung bibirnya sendiri.
"Hah? Dimana?" tangan Hermione mulai mengusap wajahnya sendiri, tapi tetap saja melewati spot yang Draco maksud.
"Disini," ujar Draco sambil mencondongkan tubuhnya dan dengan lembut mengusap ujung bibir Hermione dengan ibu jarinya.
Hermione terkejut dengan sikap Draco tapi tidak berusaha untuk mendorong atau pun menghindari sentuhan Draco. Bahkan Hermione merasa sedikit menikmatinya. Mata kelabu Draco yang dingin membuatnya berpikir, apa yang berada di baliknya? Apa yang ada di balik sikap Draco Malfoy? Mungkinkah Hermione akan menemukan kehangatan yang ia cari dalam Draco Malfoy?
Wow Hermione! Draco sudah bertunangan! Oke sekali lagi. Draco sudah bertunangan!
Draco tidak bisa menghentikan apa yang ia pikirkan saat ini. Hermione mempunyai mata yang cantik, tidak heran Harry bisa begitu mencintainya.
Wow! Draco Lucius Malfoy! Ingat Astoria? Astoria Greengrass, tunanganmu? Ingat Oliver Wood? Pacar Hermione?
Perlahan Draco kembali mencondongkan tubuhnya, ia bisa merasakan nafas Hermione dalam jarak sedekat itu. Dan tanpa memberi peringatan pada Hermione, Draco menyapu bibir Hermione dengan lembut. Hermione menahan nafas, matanya membulat, tapi perlahan ia ikut meleleh dalam suasana. Hermione memejamkan mata dan mulai membalas ciuman Draco dengan sama lembutnya, sama intensnya.
Well, sampai keduanya teringat sesuatu.
Hermione melompat mundur, "Aku harus kembali ke Oliver," ujarnya dengan agak terburu-buru. Dan ia pun segera bangkit, setengah berlari menyebrangi jalan dan kembali ke dalam teater, meninggalkan Draco yang melongo.
Draco mengeluh keras, kedua tangannya mengacak-acak rambutnya sendiri. "Uuurrrggghhh! Apa yang kau lakukan Malfoy! Apa yang kau lakukan!" keluh Draco keras-keras, mengundang tatapan simpati dan tatapan merendahkan dari orang-orang yang melewatinya. Draco berdecak pelan dan mendengus geli, ia mendongakkan kepalanya memandang langit yang terlihat berbintang malam itu. "Apa yang akan Harry katakan jika dia melihat kejadian tadi?" bisik Draco pada angin.
Tangan Draco menyentuh bibirnya, masih terasa kelembutan dan kehangatan dari Hermione Granger.
a/n: trims buat yang udah mampir dan tetap setia membaca ffn-ku ini. gaje sih ya alurnya, tapi tetep review sangat diharapkan dan disarankan *maksa* ehehehe. oh iya, berjuta terima kasih buat yang sudah me-review bahkan me-fave ceritaku ini. jadi terharu :")
