Tittle : Let me know
Author : Kim Joungwook
Pairing : NamJin
Length : chaptered
Genre : Romance
Summary : Dan sepertinya, kehidupan Seokjin untuk kedepannya tidak akan sama lagi. Karena ia membawa tambahan satu nyawa bersamanya.
Warning : Shounen-ai, BoyXBoy. Typo(s). Don't Like Don't Read!
.
.
.
BTS
.
Namjoon adalah tipe realistis yang sangat menjunjung tinggi seni. Ia menyukai keindahan, entah dalam hal musik, maupun hal lainnya. Ia sangat menghargai musik yang indah, yang memiliki arti sedalam lautan dan diksi yang sangat artistik. Ia selalu memikirkan segala sesuatu dengan benar, mengkajinya dari berbagai sisi hingga membuatnya overthinking. Tidak hanya satu member yang pernah menegurnya karena terlalu banyak berpikir, namun hampir semua orang tahu.
Ada banyak saat dimana ia mulai kehilangan tujuan hidupnya. Merasakan bahwa membuat musik, menampilkan semua yang telah mereka latih diatas panggung, tersenyum, tertawa didepan fans membuatnya mati rasa. Seakan semua itu memang suatu keharusan yang ia sudah tidak mendapat arti dari apa yang ia lakukan.
Namjoon selalu berpikir mengenai kehiduapan. Tentang bagaimana seharusnya ia hidup, tentang mencapai kebahagian yang membuatnya penuh, membuatnya merasa berharga dan berarti untuk tetap hidup. Ia sangat senang membaca buku yang membuatnya berpikir mengenai kehidupan. Dengan diksi rumit yang membuatmu harus berpikir dua kali, bahkan tidak menemukan artinya setelah memeras otak berulang kali.
Namjoon akui, ia sangat paham bahwa ia memiliki kepercayaan diri lebih rendah dari yang selama ini orang lain lihat. Hal itu membuatnya memiliki self-conscious yang berlebihan terhadap apapun yang ia lakukan. Ia selalu khawatir jika musiknya tidak disukai banyak orang, ia khawatir bahwa pakaian yang ia pakai tidak enak dipandang, ia khawatir jika perkataannya menyakiti orang, ia khawatir bahkan kepada hal sekecil tidak tersenyum dan membuat orang lain berpikir bahwa ia tidak ramah.
Ia akan mendapat tekanan stress lebih banyak saat mendekati comeback. Sebagai seorang leader, ia memegang bayak peran di Bangtan. Selain itu ia juga menjadi salah satu yang menyumbang lagu untuk album terbaru mereka. belum lagi track solonya yang akan masuk kedalam album ini. Banyak hal yang membuatnya stress berat hingga mengurung diri di studio pribadinya.
"Namjoon?"
Pintu studionya terbuka. Ada dua orang yang memiliki kunci studionya. Dirinya sendiri, dan hyung tertua mereka, Seokjin. Sebuah peraturan tak tertulis bagi seluruh member bangtan bahwa Seokjin harus memiliki kunci akses ruangan pribadi mereka. dan Seokjin berjanji hanya akan menggunakannya jika sudah sangat mendesak.
Dan mungkin ini salah satu waktu yang mendesak.
"Hyung, kenapa kemari? Ini sudah malam." Tanya Namjoon pada Seokjin yang kini menutup pintu studionya dan berjalan mendekat. Ia tersenyum lembut dan memutar kursi Namjoon hingga kini ia memandang punggungnya, tanpa mengatakan apapun, ia mulai memijat pelan bahu Namjoon.
Seokjin diam. Ia hanya memijat pundak dan tengkuk Namjoon yang terasa sangat tegang. Namjoon juga tidak menyela. Ia ikut diam dan menikmati pijatan Seokjin. Ia tak bohong, gerakan sederhana itu membuat syaraf tegangnya sedikit rileks.
"bagaimana dengan makan malam denganku?" tanya Seokjin setelah kini berdiri didepan Namjoon.
Namjoon mendongak, menatap Seokjin yang belum kehilangan senyumnya. Tanpa berpikir banyak, ia mengangguk. Langsung berdiri dan menyambar topi serta jaketnya. Ia membiarkan Seokjin keluar dari studionya sebelum menguncinya.
"mau ramen? Sepertinya kedai biasa masih sepi." Tawar Seokjin. Namjoon akhirnya tersenyum tipis, ia mengangguk dan mengikuti Seokjin yang lebih dulu berjalan didepannya. Mereka menuju sebuah kedai berupa tenda cukup besar yang berada 20 menit dari tempat mereka berada.
Ini baru jam 7, masih terlalu sore untuk menikmati makanan di tenda tersbeut, sehingga waktu yang pas untuk mereka, karena masih sepi. Lagipula tempat makan tersebut juga cukup jauh dari jalan utama, sehingga mereka tidak perlu takut akan ada yang menyadari BTS disana.
Angin malam cukup dingin. Memasuki akhir musim panas dan hampir masuk musim gugur. Kedua namja yang berjalan bersisian itu terlihat merapatkan jaket masing-masing.
"Dingin, hyung?" tanya Namjoon saat menyadari Seokjin yang sedikit menggigil. Hyungnya tersebut memang tidak terlalu kuat dengan udara dingin.
Seokjin mengangguk, memperhatikan Namjoon yang terlihat merogoh saku jaketnya. Seokjin tertawa begitu melihat sebuah hotpack yang dikeluarkan Namjoon dari saku kanannya.
"gomawo Namjoon ah." Ucapnya saat Namjoon memberian hotpack tersebut padanya. Diam-diam ia merona mendapat perlakuan seperti ini. Dan Namjoon juga hanya mengulum senyumnya melihat Seokjin yang menunduk malu-malu.
"Ayo hyung! Aku sudah lapar!"
Lalu Namjoon menggenggam tangan Seokjin dan mengajaknya berlari.
.
.
.
Namjoon mengakui, malam itu bukan seks pertamanya. Ia sudah pernah melakukannya sebelum ini, dengan salah satu kekasihnya dulu. Namun, ini merupakan seks pertamanya dengan seorang namja. Ia masih mengingat jelas bagaimana ekspresi Seokjin saat keduanya bangun dalam keadaan telanjang, dengan tubuh yang lengket dan bercak putih dimana-mana. Ia bisa melihat pupil Seokjin bergetar, bahkan namja cantik itu menjauh dari Namjoon dengan memeluk erat-erat selimut yang menutupi tubuhnya.
Jujur, Namjoon tidak mengingat detail dari kejadian semalam. Namun setidaknya ia bisa menyimpulkan apa yang terjadi. Ia tidak melihat tanda-tanda kekerasan pada tubuh Seokjin, berarti memang ia tidak memaksa hyung tertuanya tersebut untuk melakukan seks bersamanya.
"hyung?"
Panggilan serak dari suara pagi Namjoon membuat Seokjin mendongak. Ia menatap Namjoon dengan matanya yang bengkak. Mungkin, Namjoon hanya menebak, bahwa semalam Seokjin menangis.
"Apa – apa aku menyakitimu?" tanya Namjoon ragu. Ia tak tahu. Secara pribadi, ia tidak terlalu mempermasalahkan hal yang telah mereka lakukan semalam. Seks adalah hal yang wajar bagi lelaki seumuran mereka. Apalagi keduanya sama-sama namja, tidak akan ada hal yang terjadi. Keduanya juga tidak memiliki perasaan apapun. Jadi, semalam memang murni seks tanpa melibatkan perasaan. Just an ordinary one night stand.
Atau setidaknya begitulah yang Namjoon pikir.
Seokjin tersenyum tipis lalu mengangguk, "Kau tidak menyakitiku Namjoon. tapi entahlah, aku hiks." Tiba-tiba Seokjin menangis. Namjoon gelagapan, ia tak tahu apa yang terjadi dan apa yang harus ia lakukan. Seokjin sangat jarang menangis mengenai masalah pribadinya, hyung tertuanya itu sangat menutupi masalahnya sendiri. Jadi, saat ia menangis seperti ini Namjoon tidak tahu harus bagaimana.
"Hyung, astaga! Maafkan aku." Mengandalkan instingnya, Namjoon beringsut mendekat dan memeluk tubuh Seokjin. Terhalangi satu selimut tebal yang masih menggulung tubuh Seokjin, Namjoon merengkuh penuh hyung cantiknya tersebut. Ia menepuk pelan punggungnya, membiarkan Seokjin menyandarkan kepalanya di bahunya, mencoba menenangkan tangis namja itu.
Jujur, Namjoon tak mengerti kenapa Seokjin menangis. Sama sekali tak mengerti. Dan sebenarnya, Seokjin juga tak tahu kenapa ia menangis. Ia hanya merasa dadanya sesak. Rasa terkejut, takut, cemas, khawatir, malu, semua perasaan negatif seakan bercampur menjadi satu di benaknya. Ia merasa dadanya sangat sesak, dan air matanya kembali keluar.
Mungkin Namjoon tidak mengingatnya, tapi Seokjin bahkan masih terbayang bagaimana rasa sakit saat Namjoon memasuki tubuhnya yang belum pernah ada siapapun yang menyentuhnya. Sehalus, selembut apapun Namjoon berusaha bersikap padanya, tapi dalam keadaan mabuk, itu tidak terlalu membantu.
"maafkan aku hyung. Maaf, maaf, semalam aku benar-benar kehilangan kendali. Maafkan aku, maaf."
Dan kalimat Namjoon benar-benar tidak membantu. Namjoon terus menggumankan kata maaf. Ia merasa bersalah, sungguh. Melihat Seokjin menangis begitu histeris dipelukannya membuatnya takut. Ia takut telah menyakiti Seokjin begitu banyak. Ia tak tahu bagaimana prinsip hidup Seokjin. Tapi – mungkin – seks menjadi satu hal yang sudah merusak prinsip hidupnya. Namjoon sangat menjunjung tinggi prinsip hidup seseorang, ia tidak akan memaksa orang lain untuk melakukan hal yang diluar prinsip hidupnya. Karena ia menghargai orang lain dan ia juga ingin dihargai.
Ia menyesal. Seketika itu ia menyesal. Ia tidak merasa dirugikan, karena ia tidak kehilangan apapun. Tapi, Seokjin ia sudah kehilangan emmm bagaimana menyebutnya, keperawanan? Keperjakaan? Apapun itu, mungkin Seokjin merasa salah satu hal darinya telah hilang. Dan Namjoon yang bertanggung jawab untuk itu.
"maafkan aku. Kau bisa memukulku, melampiaskan semua rasa marahmu padaku. Tapi kumohon jangan seperti ini. Aku menyesal, jika bisa memutar waktu, aku akan mencegah semua ini terjadi. Aku tak ingin dengan kejadian ini hubungan kita menjadi buruk hyung. Sungguh, aku sangat takut menjauh darimu, hyung."
Yang selama ini Namjoon lihat, seorang 'teman' yang telah tidur bersama tidak akan bisa sama lagi. Akan ada banyak hal yang berubah. Dan sesungguhnya Namjoon takut akan hal tersebut. Jika sepasang laki-laki dan perempuan melampaui batas dan melakukan seks, mereka bisa menjadi teman seks, atau bahkan lebih baik lagi berkencan. Tapi jika keduanya sama-sama laki-laki? Namjoon tidak tahu bagaimana Seokjin, tapi Namjoon tidak terlalu memperhatikan gender dalam urusan ini. Tapi ia juga tak mau menjadi teman seks dari Seokjin kedepannya. Mereka berada dalam satu grup yang sama, dan pastinya akan bekerja sama dalam waktu yang lama kedepannya. Pasti akan menjadi sangat awkward, belum lagi member lain.
Dan pikiran Namjoon sudah dipenuhi berbagai hal negatif, kemungkinan terburuk, skenario yang akan terjadi kedepannya. Ia memang seperti itu, ia selalu berpikir terlalu jauh, terlau memandang dunia dalam konteks negatif. Ia selalu melakukan itu.
Namjoon mengeratkan pelukannya, menyadari tangisan Seokjin yang mulai berubah menjadi isakan samar. Ia mengecup sekilas rambut Seokjin sebelum menjauhkan tubuh keduanya hanya untuk menangkup wajah yang lebih tua dan menatap matanya. Namjoon meringis melihat bagaimana wajah hyung tertuanya tersebut.
"Aku menyesal, hyung. Maafkan aku. Tapi hyung maukan melupakan kejadian ini? Kita berdua sama-sama laki-laki, kita juga sudah lebih dari cukup untuk memahami bahwa semalam hanya sekedar efek samping dari alkohol. Kita berdua sama-sama tidak sadar, dan kurasa, bukan hanya aku yang menikmatinya, iya kan?"
Namjoon tersenyum tipis melihat pipi Seokjin yang memerah. Ia tahu Seokjin juga menikmati kgiatan mereka semalam saat mendapati sebuah kissmark samar di dada sebelah kirinya. Jika tidak menikmati, bagaimana Seokjin bisa memberikan bekas itu didadanya?
"jadi, kita lupakan kejadian semalam dan anggap tidak pernah terjadi. Aku sangat takut akan perubahan dalam hubungan kita. Semua tidak akan memengaruhi apapun kan hyung?" Namjoon mencoba mencari jawaban dari Seokjin. Apalagi kini hyungnya tersebut menunduk, entah apa yang dipikirkan oleh namja cantik didepannya itu.
Setelah berpuluh detik hening, akhirnya Seokjin mengangkat wajahnya, ia tersenyum tipis, "Ya, tidak akan ada yang berubah Namjoon. kau ingin melupakan kejadian ini? Baiklah."
Namjoon tersenyum dan sekali lagi memeluk tubuh Seokjin. Menggumaman kata maaf dan terima kasih berulang kali. Seokjin hanya diam. Namjoon tak menyadari bagaimana Seokjin yang terluka dengan permintaannya. Namja cantik itu tak ingin pengalaman pertamanya melakukan seks dilupakan begitu saja. Karena sampai kapanpun ia tidak akan melupakan pengalaman seks nya dengan Namjoon, orang yang ia cintai.
Dan ia juga tidak menyesalinya.
.
.
.
Namjoon tidak bodoh, ia tidak sedingin itu hingga tidak menyadari perubahan yang terjadi pada membernya. Apalagi Seokjin, Kim Seokjin member tertua di bangtan yang menjadi tempatnya bersandar selama ini.
Ia sadar Seokjin tidak baik-baik saja. Ia tahu sesuatu telah terjadi pada hyung tertuanya itu. Tidak hanya sekali ia mendapati Seokjin yang mengernyit seakan menahan sakit dan memeluk perutnya erat-erat. Bahkan ia diam-diam memperhatikan Seokjin yang setiap selesai latihan akan mengusap perutnya lembut. Ada sebuah ketertarikan entah apa itu yang membuat matanya selalu mengikuti kemanapun Seokjin berada.
Namjoon pernah benar-benar khawatir pada Seokjin saat melihat namja cantik itu mengkonsumsi obat entah apa itu lebih dari 5 butir satu waktu. Ia sudah akan mencari waktu untuk berbicara berdua saja dengan Seokjin, tapi tidak ada waktu yang tepat. Jadwal mereka sangat padat, bahkan untuk tidur saja mereka harus mencari waktu disela-sela jadwal yang begitu menghimpit.
"Hyung, kau baik-baik saja kan?"
Itu kali kedua Namjoon bertanya secara langsung pada Seokjin mengenai keadaan tubuhnya. Pertama saat di dorm, sebelum mereka memulai wings tour. Dan sekarang, saat keduanya menempati kamar yang sama di Chile, tidak ada yang salah dengan menggunakan kesempatan ini untuk bertanya pada Seokjin.
"kau sudah bertanya hal itu berkali-kali Namjoon, dan aku baik-baik saja." Jawab Seokjin dengan senyum diwajahnya. Mereka tengah duduk berhadapan di kamar, setelah selesai membereskan barang karena mereka akan check out sebentar lagi
Namjoon mengerutkan keningnya, menatap Seokjin tak percaya, "tapi aku meilhat hyung selalu meminum butiran obat yang tidak sedikit jumlahnya setiap hari. Apakah itu yang dinamakan baik-baik saja?"
Seokjin terdiam, ia terlihat kaget mendapati Namjoon tahu apa yang ia minum selama ini, "katakan hyung, apa benar kau baik-baik saja?" Namjoon sekali lagi bertanya, menatap tepat kedua mata Seokjin.
Seokjin tersenyum tipis, "Sebenarnya aku baik-baik saja, secara keseluruhan baik-baik saja Namjoon. itu hanya beberapa vitamin dan obat untuk lambungku. Akhir-akhir ini perutku bermasalah, jadi aku meminta obat untuk itu. Kau tahulah, kita sering bepergian akhir-akhir ini, dan sepertinya beberapa masakan tidak sesuai dengan peruku."
Namjoon masih diam, ia terlihat masih ragu, namun akhinya mengangguk, "Baiklah, jika memang seperti itu. Jika ada masalah apapun, kau bisa menceritakannya padaku, hyung."
Seokjin tersenyum dan mengangguk, "Tentu saja."
Dan kejadian itu tiba-tiba terjadi didepannya. Bagaimana Seokjin yang ambruk dengan memeluk perutnya erat-erat, berada didekapannya dengan lirihan kata sakit, menangis dan lalu pingsan. Ia benar-benar khawatir dan cemas berlebihan.
Lalu semuanya menjadi seakan mimpi. Bagaimana dokter yang kata Yoongi sudah berkali-kali memeriksa Seokjin mengatakan mengenai kehamilannya.
Kim Seokjin, namja yang menjadi salah satu sandarannya, tempat ia selalu berkeluh kesah, hyung tertua yang sangat ia hormati, tengah mengandung.
Dan sedikit banyak, ia sudah tahu siapa ayah dari bayi yang dikandung oleh Seokjin.
Katakan ia terlalu berani menyimpulkannya bahkan sebelum Seokjin mengatakan apapun. Tapi ia yakin, entah keyakinan darimana, bahwa ayah dari kandungan Seokjin adalah dirinya.
Karena meski ia tidak pernah mengatakan dan menunjukkannya secara terang-terangan, ada sudut hatinya yang tak terima kalau ia bukan ayah dari kandungan Seokjin.
.
.
.
Hari itu, ia mengurung diri di studio. Sejak semalam pulang dari rumah sakit setelah mengantar Seokjin kesana, ia belum kembali ke dorm. Berita mengenai keadaan Seokjin benar-benar mengusiknya. Jujur, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa kandungan Seokjin itu bukan akibat dari kejadian malam itu. Namun, semakin ia menyangkalnya, semakin hatinya menjerit memberitahu otaknya bahwa dia, bayi yang tengah dikandung Seokjin itu adalah anaknya.
Namjoon tidak masalah dengan Seokjin yang mengandung dan memiliki hubungan khusus dengan seorang namja. Ia sangat terbuka dengan hubungan semacam itu. Sebenarnya, ia juga tak masalah jika harus menjalin hubungan dengan Seokjin. Siapa sih yang akan menolak namja secantik dan seterampil Seokjin?
Yang menjadi masalah adalah bayi dalam kandungan Seokjin. Jujur saja, jika ditanya apakah ia sudah siap untuk menjadi seorang ayah, ia akan dengan cepat dan yakin menjawab belum. Ia pernah membayangkan memiliki anak, tapi itu sebuah impian jangka panjangnya. Besok, bertahun-tahun kedepan saat ia sudah bisa melihat dunia dengan sisi positif. Ia sadar, ia terlalu banyak menggunakan kacamata negatif untuk melihat seluruh aspek yang ia lalui. Dunia begitu kejam menurutnya. Jika kau tiidak menyesuaikan diri, dunia akan mengusirmu.
Ada banyak ketakutan tentang ide memiliki anak sekarang. Ia tidak tahu bagaimana kedepan untuk membesarkannya. Tidak hanya butuh materi, namun juga kesiapan mental yang dewasa. Ia masih harus banyak belajar mengenai hal itu. Ia tidak terlalu menyukai ide tentang memiliki anak sejujurnya. Ia tidak begitu akrab dengan anak kecil, dan membesarkan anaknya nanti masih berada diimpiannya untuk bertahun-tahun kedepan.
Tidak akan bisa ia bantah bahwa karirnya sekarang menjadi salah satu yang ia pikirkan jika benar bahwa bayi dikandungan Seokjin adalah anaknya. Mereka, BTS tengah berada dipuncak. Dipuja ribuan, miliaran manusia diseluruh dunia, potensi mereka masih sangat besar. Dengan seluruh penghargaan yang telah mereka dapatkan, hanya tinggal menunggu waktu untuk membuat mereka benar-benar menjadi legend. Namun, memiliki anak sedikit banyak akan memengaruhinya. Namjoon sadar akan hal itu.
Dan yang paling penting, tentang kedua orangtuanya. Ia seorang anak pertama, anak laki-laki satu-satunya yang dimiliki oleh keluarga mereka. ia membawa banyak beban dikedua pundaknya. Ia tahu, kedua orangtuanya telah menaruh harapan besar dipundaknya. Dan memiliki partner seorang namja sepertinya bukan dari daftar harapan yang diberikan padanya. Memiliki anak adalah satu dari tujuan menikah, namun stereotype masyarakat mengenai hubungan sesama jenis akan sangat berat untuk dilalui.
"hah~" Namjoon menghembuskan nafasnya kasar. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerjanya. Matanya terpejam, meresapi keheningan di studio pribadinya yang memang kedap suara. Ia sejak awal tidak menyalakan komputernya, membiarkan keheningan mengisi ruangan kecil itu.
Bermenit-menit hanya diisi dengan suara nafas Namjoon, hingga akhirnya namja itu membuka matanya, melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 11 malam. Ia rasa sudah cukup larut. Dan ia juga belum bertemu Seokjin, jika memang benar ia sudah kembai ke dorm. Karena Taehyung sudah meneror di grup chat mereka mengenai kepulangan namja cantik itu.
Saat sampai di dorm dan menemukan Seokjin berada di dapur, ia tidak bisa begitu saja berlalu. Ada beberapa hal yang memang perlu keduanya bicarakan. Mengenai keadaan Seokjin, dan juga kandungannya.
"Duduklah hyung. Aku ingin berbicara sesuatu denganmu." Ucap Namjoon pelan, ia menatap Seokjin lembut, entah karena efek lampu dapur yang temaram atau memang matanya sudah lelah, ia melihat wajah Seokjin memerah. Dan ia tersenyum kecil melihatnya.
Seokjin mengangguk kecil, lalu tanpa mengucapkan apapun membawa gelas digenggamannya dan duduk. Keduanya duduk berhadapan. Seokjin sibuk menunduk, menatap kemanapun asal bukan Namjoon. dan leader BTS itu menadapati hal tersebut begitu menggemaskan. Ia bisa melihat tangan Seokjin mencengkeram gelasnya erat-erat.
"bagaimana kedaanmu, hyung?" tanya Namjoon setelah sekian menit hanya diam dan menatap Seokjin. Seokjin mengangkat wajahnya, terdapat beberapa detik hening sebelum akhirnya ia membuka bibirnya.
"baik? Ya, aku baik-baik saja. Aku merasa sehat." Jawabnya terdengar ragu.
Namjoon menelan ludahnya gugup, entah kenapa tiba-tiba ia merasa begitu, "bagaimana, emm, bagaimana dengan kandungan hyung? Apa baik-baik saja?" tanyanya ragu.
Seokjin tersenyum lebar, tidak lagi menggigit bibrnya, "baik-baik saja, Namjoon. kami, aku dan kandunganku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kau hawatirkan."
Namjoon menghela nafas lega, ia berusaha menguasai dirinya kali ini. Tidak ada yang perlu ditakutkan, "syukurlah. Aku sangat khawatir saat hyung pingsan kemarin. Aku kira hyung tengah sakit sesuatu yang cukup serius, namun ternyata – " kalimat Namjoon berhenti disitu, ia melirik Seokjin yang tengah mengulum senyumya. Entah kenapa, ia bisa melihat kilat kecewa dalam binar marta Seokjin yang menatapnya.
"aku tidak sakit apapun, Namjoon. hanya yah, kkumi sedikit berulah, tapi aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir."
"kkumi?" Namjoon mengerutkan keningnya, memandang Seokjin bingung.
Tangan Seokjin mengusap lembut perutnya, "ya, bayi dalam kandunganku. Aku memanggilnya kkumi."
"a~ jadi namanya kkumi?" dan Seokjin hanya mengangguk.
"lalu bagaimana dengan jadwal hyung kedepannya?"
"maksudmu?"
Namjoon mengangkat kedua bahunya, "yah, jadwal bangtan. Apa hyung akan tetap mengikuti seluruh jadwal pada bangtan dengan keadaan hyung yang seperti ini?"
Seokjin tanpa ragu mengangguk, "ya, tentu saja. Aku masih bisa untuk menyelesaikan jadwal bangtan, mungkin hingga kehamilanku menginjak 5 bulan. Perutku sudah tidak akan bisa aku sembunyikan lagi setelah itu."
"apa hyung yakin akan baik-baik saja dan tidak berbahaya?"
"ya, semua akan baik-baik saja. Aku sudah berkonsultasi dengan dokter yang menanganiku sejak awal. Segalanya normal dan aku masih bisa beraktifitas seperti biasa."
Lalu keadaan kembali hening. Seokjin mengangkat gelas yang sedari tadi belum ia lepas genggamannya dan meneguknya sedikit. Namjoon tetap tak melepas pandangannya dari segala gerak gerik Seokjin. Lalu saat Seokjin menunduk saat tatapan keduanya bertemu sungguh menggemaskan. Ia seperti anak kecil yang takut karena berbuat salah.
Namjoon tersenyum kecil, "Aku akan mencoba berbicara dengan Jimin dan Hoseok. Kita mungkin membutuhkan waktu untuk berbicara, meluangkan quality time dengan seluruh member. Sudah sangat lama sejak terakhir kali kita berbicara serius bertujuh."
Seokjin mengangguk, "tapi kau tidak perlu terlalu keras kepada mereka. itu sudah menjadi hak mereka untuk bersikap seperti itu."
"ya, aku tahu. Tapi keadaan kita yang tidak baik-baik saja seperti ini pasti sedikit banyak akan dirasakan oleh fans. Jika kita tidak segera menyelesaikan masalah kita, akan cukup menganggu interaksi kita diatas panggung. Belum lagi jadwal wings tour kita yang padat kedepannya."
Namjoon tahu, mungkin kalimatnya cukup kasar. Tapi, sekarang ini, mereka harus bersikap profesional. Ada banyak mata yang mengawasi, dan ia juga tidak mau mengecewakan berbagai pihak jika konflik ini berkepanjangan. Ia baik-baik saja dengan keadaan Seokjin yang tengah hamil, dan ia juga ingin seluruh member dapat menerima dengan tangan terbuka bagaimana keputusan Seokjin ini.
"lalu, untuk masalah agensi, bagaimana menurut hyung jika kita menyembunyikan dulu kehamilan hyung hingga nanti saatnya hyung harus cuti sejenak dari bangtan? Aku hanya tidak ingin menimbulkan keributan tak berarti di perusahaan dengan keadaan hyung."
"dan satu lagi, ini sebenarnya pertanyaan penting yang sejak kemarin ingin aku tayakan."
Namjoon mengambil jeda beberapa detik untuk menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba mempersiapkan dirinya untuk jawaban apapun itu.
"Siapa ayah dari bayi dalam kandunganmu, hyung?"
Mereka bertatapan.
"Bukan aku kan?"
Namjoon menatapnya cemas, seakan berharap bahwa Seokjin akan mengatakan ya, bahwa Namjoon bukan ayah dari kandungannya. Keduanya hanya saling menatap, tanpa mengatakan apapun. Mata Seokjin memanas, tangannya sampai memutih karena terlalu erat mencengkeram gelas dalam genggamannya. Dan Namjoon tidak buta untuk menyadarinya. Seketika itu juga ia sudah menyesal mengatakan kalimat terakhir tadi.
"memang, memang apa yang akan kau lakukan jika ini bukan bayimu?"
Pertanyaan itu membuat Namjoon tersentak, ia terbatuk kecil, mencoba menyembunyikan kegugupannya. Ia langsung membelalakkan matanya mendapati Seokjin meneteskan air matanya.
Astaga! Apa yang sudah ia lakukan?!
"dan apa yang akan kau lakukan jika ini bayimu?"
Namjoon hanya diam, menutup bibirnya rapat-rapat melihat Seokjin yang berlalu begitu saja. Meninggalkan keheningan menyelimuti Namjoon, juga perasaan bersalah.
"Kim Namjoon pabo!"
.
.
.
Setelah bermalam-malam berlarut pada pikirannya yang tidak ada habisnya, akhirnya ia berhasil memutuskan. Ia tidak sekejam itu pada Seokjin dan calon anaknya, kali ini tanpa ada jika disana. Bukan lagi 'jika' itu memang anaknya, karena Namjoon sudah yakin, melihat dari reaksi Seokjin tempo hari, ia yakin bahwa bayi dalam kandungan Seokjin memang anaknya.
Ia sudah mendapat keyakinannya, jawaban yang pasti bahwa bayi dalam kandungan Seokjin memang anaknya. Kali ini, ia butuh meyakinkan hatinya. Ia memang tidak masalah berhubungan dengan namja maupun yeoja. Tapi, untuk melangkah jauh kedepan, bahkan dengan kemungkinan menghabiskan umur dengan namja, ia perlu sebuah penguat yang membuatnya yakin.
Jadi, menekan segala rasa bersalah dan rasa malunya, ia meminta Seokjin untuk sekali lagi melakukan seks dengannya. Kali ini dengan keadaan sadar, dan berusaha mengingat setiap detail dari kegiatan mereka malam itu. Mengorbankan perasaan Seokjin, ia berhasil menemukan keputusannya.
Ia tahu, ia sangat paham bahwa setiap keputusan yang ia buat kedepannya akan memengaruhi banyak pihak. Entah itu dirinya sendiri, Seokjin, para member, staff, agensi, bahkan fans. Dan karena itulah ia memikirkan segalanya matang-matang. Ia tidak mau mengambil tindakan gegabah dan merugikan banyak pihak, ia tak ingin ada pihak yang merasa rugi dan tersakiti dari sikap yang ia ambil.
Dan hal pertama yang harus ia perjuangakan adalah keluarganya. Ini bukan masalah keluarganya atau keluarga Seokjin yang harus lebih dulu ia temui. Tapi ia yakin, meyakinkan keluarganya akan lebih mudah daripada meyakinkan orang tua Seokjin. Ia sudah pernah sekali bertemu dengan ayah dan kakak lelaki Seokjin, dan kedua namja itu bukan seorang ramah yang akan dengan tangan terbuka menerima keadaan Seokjin.
Jadi, saat ia mendapat waktu kosong – sebenarnya ia yang memaksakannya – ia berkendara ke Ilsan. Beruntung rumahnya tak lebih dari 30 menit dengan kendaraan. Ia sudah lebih dulu menghubungi kedua orangtuanya, meminta untuk bertemu karena ia harus berbicara serius dengan keduanya.
"eomma, appa, sepertinya aku akan memberikan kalian cucu tidak lama lagi."
"Ya Kim Namjoon! apa maksudmu?!" appanya sudah berteriak, bahkan sampai berdiri dari duduknya. Namjoon yang sejak awal sudah berlutut didepan keduanya hanya diam, ia menatap kedua orangtuanya yakin.
"Jelaskan perlahan Namjoon, bagaimana bisa?" sang eomma bertanya pelan. Meski raut kaget dan cemas tergambar jelas di wajahnya.
Namjoon menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menghembuskannya dalam sekali hela. Ia sekali lagi meyakinkan dirinya bahwa yang ia lakukan ini memang benar.
"Maafkan aku. Aku sungguh-sungguh meminta maaf." Namjoon bersujud, ia menumpukan lipatan tangannya dilantai dan bersujud diatasnya. Ia melakukan itu sepuluh detik penuh, membiarkan kedua orangtuanya hanya diam.
Ia kembali duduk dan berlutut, menatap sekali kedua orangtuanya sebelum menunduk, "Aku telah membuat seseorang mengandung anakku. Dan sekarang ia sudah berusia 4 bulan."
Plak!
Namjoon tersungkur. Tamparan eommanya tidak main-main. Sang appa justru hanya diam, ia kembali duduk dan menatap Namjoon tajam.
"Sungguh Kim Namjoon, eomma tidak pernah, sungguh tak pernah sekalipun memberimu ijin untuk berhubungan terlalu jauh dengan kekasihmu. Dan sekarang apa yang telah kau beritahukan pada kami? Kau membuat seorang wanita hamil anakmu? Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan pada hidup wanaita itu? Semua tidak akan bisa kembali seperti semula sekalipun kau membuatnya menggugurkan anakmu. Dan mengingat kandungannya sudah memasuki bulan ke-4, waniita itu tidak berniat menggugurkannya kan? Bagus, memang seorang calon ibu tidak akan mampu untuk berbuat sejahat itu. Kau telah membuat hiup seorang wanita baik hati hancur, Kim Namjoon."
Lalu hening. Sang eomma kembali duduk dan menatap tajam Namjoon yang semakin dalam menunduk.
"siapa, katakan siapa wanita yang telah kau hamili, Namjoon." kali ini suara rendah sang appa membuatnya mengangkat wajah. Ia menatap ragu kedua orang tuanya, ia tidak yakin bagaimana respon keduanya jika tahu siapa yang telah ia hamili.
Namjoon menghembusknnya nafasnya, mencoba kembali mencari keberaniannya yang tadi tercecer entah kemana, "dia, em dia bukan seorang wanita. Aku menghamili namja, eomma appa. Dan kalian sudah mengenal baik siapa dia."
Keudanya diam. Sepertiya terlau shock untuk mengatakan apapun. Jadi Namjoon melanjutkan penjelasannya.
"Ini mungkin sebuah anugerah, dan Seokjin hyung, aku telah membuat Seokjin hyung mengandung anakku. Aku tak tahu bagaimana tanggapan eomma dan appa, bahkan keluarga Seokjin hyung. Tapi, dengan aku menghadap kalian dan menceritakan mengenai semua ini, aku ingin meminta restu dan juga dukungan dari eomma dan appa untuk kedepannya. Seokjin harus cuti, mau tidak mau ia harus menghilang sejenak dari dunia entertaiment, setidaknya sampai nanti ia selesai melahirkan. Dan tempat yang aman dan aku percaya akan menjaga Seokjin hyung adalah di rumah. Aku sudah mengenal baik keluarga Seokjin, dan appa serta hyungnya bukan seseorang yang akan mudah ditaklukan. Jadi, aku meminta kepada eomma dan appa untuk menerima Seokjin hyung, menjaganya dan anak kami."
"akan ada banyak hal yang akan menjadi batu penyandung dalam hubunganku dan Seokjin hyung, juga untuk membesarkan anak kami. Dan pendukung serta penyemangat kami, dan yang akan selalu berada disisi kami apapun yang terjadi adalah keluarga. Aku selalu meyakini bahwa keluarga adalah yang utama. Jadi, aku benar-benar meminta bantuan appa dan eomma untuk kedepannya. Jebalyo."
Namjoon kembali bersujud, mengulang untuk melakukan aksi memohonnya sekali lagi. Bermenit-menit ia mempertahankan posisinya, membuatnya harus menahan nyeri di punggung karena terlalu lama dalma posisi itu. Belum lagi kakinya yang mulai mati rasa. Namun ia tetap tidak mau menyerah.
"duduklah Namjoon." suara appanya membuat Namjoon bangkit, ia kembali duduk, masih tetap bersimpuh.
Namja paruh baya itu tersenyum lembut, "appa sudah menduganya sejak lama. Mungkin ini hanya feeling yang dimiliki seorang ayah untuk anaknya. Namun, sedikit banyak appa tahu bahwa kau akan berakhir dengan seorang namja. Appa hanya tak pernah menyangka bahwa akan diberi tambahan anugrah untuk memiliki cucu secepat ini. Appa tidak bisa menjanjikan apapun. Tapi jika kau mencari dukungan, appa akan menjadi yang pertama untuk mendukungmu."
Namjoon tidak menunggu apapun untuk dengan tergesa menuju appanya dan memeluk erat-erat namja paruh baya itu. Ia menangis, akhirnya, setelah berminggu-minggu menahan semua beban ini seorang diri, ia bisa mengeluarkannya.
"Appa, hiks, appa." Ia menangis sesenggukan, benar-benar menumpahkan semua bebannnya dalam pelukan sang appa. Ia merasa sangat tertekan sejak mengetahui kehamilan Seokjin. Banyak pikiran buruk, segala macam beban yang tertumpu dipundaknya semakin terasa berat. Dan dengan kalimat penerimaan appanya tadi, ia bisa sedikit bernafas lega.
Sang eomma hanya diam. Ia tidak memberikan dukungannya ataupun menolak apa yang baru saja diutarakan oleh Namjoon. Dan butuh satu minggu penuh bagi Namjoon untuk bolak balik dorm-rumah hingga akhirnya sang eomma berhasil merestui hubungan – entah apapun yang akan ia jalin – dengan Seokjin.
"sejujurnya, kau tidak perlu meminta apapun dari eomma Namjoon ah. Sejak awal, yang berhak memutuskan adalah dirimu. Kau yang harus bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi. Dan jika bagaimana kau bertanggung jawab adalah dengan memberikan tempat tinggal selama Seokjin hamil dan melahirkan, eomma hanya bisa membantu sedikit. Mungkin, dengan mengurus keperluannya selama hamil bisa membuatmu lebih bahagia. Kau hanya harus bahagia, anakku. Pertanggung jawabkan apa yang sudah kau perbuat. Lakukanlah apa yang menurutmu benar."
.
.
.
TBC
Ini yang aku janjikaaaaaaaaaannnnn
Wkwwkkwk, special part Namjoon!
Btw, apakah kalian sudah mulai bosan dengan ceritanya? Im Yoona jadi sedih nih, kayaknya hanya sedikit peminatnya. Sebenernya nulis ff emang bukan buat cari tenar dan review, tapi tetep aja pingin dapet feedback. Hehehehe
Enggak ah, enggak bakal nulis lagi kalo reviews nya dikit. Mogok nih, biar discontinued
Becanda
Wkwkwkwkwkkw
Tenang aja, meski sedikit lama update, aku usahakan end kok. Dan harus Happy ending. Semua Ffku harus happy dong~
Udah gitu aja. Maaf ya, panjang dan gak berfaedah. Semoga FF ini cukup menghibur. Saranghae~ Gomawo atas segala dukungan dan cinta yang telah kalian beri terhadap FF ini.
PS. Besok kuliah nih
PSS. Males masuuuuukkkk
PSS. Mana semester ini susah-susah lagi mata kuliahnya
PSSS. Semangat semuanya! Buat yang masih sekolah, kuliah, atopun kerja~
