Disclaimer : Hunter xHunter ©Togashi-sensei

Story : Qierra Sabian a.k.a Qiessa

Title : My F.A.M.I.L.Y

(Father And Mother I Love You)

[Sequel My and You Family?]

Pairing : KuroXfemKura, slight Kuroro X OC, FemKurapika X Oc

Warning : Fic ni mengandung banyak keGAJEan author, OOC dan TYPO yang mungkin bertebaran dimana-mana. Fic berupa AU, jadi ceritanya tak sama dengan seri asli milik Togashi-sensei, jadi harap dimaklum. So, DON'T LIKE, DON'T READ!

A/N : Yo! Minna, genki ka? Qiessa dateng lagi ni ^^... akhirnya bisa tetep updte ni, smoga kalian ga terlalu lama nunggu... dan sepertinya di chappy ini akan banyak OOC deh ^^; #spoiler... ok deh, ga mau lama2, happy reading ^^

.

.

.

Chapter 10

Kurapika terdiam. Rantai di tangannya telah menghilang sesaat setelah Kuroro menghilang di balik pintu. Mata scarletnya kini kembali seindah langit biru.

"Kau hamil." Kata-kata itu terus terngiang dalam pikirannya. Sebuah kenyataan yang seakan menghentakannya ke dalam jurang. Akal sehatnya seakan lenyap. Ia tak bisa berpikir dengan tenang sekarang. Kaget, marah, sedih, kecewa berkecamuk menjadi satu di hati dan pikirannya.

Dia memang sudah terbiasa dan nyaman saat anak-anak harus berada di sisinya selama ini, tapi memiliki anak kandung, seorang anak yang dilahirkan dari rahimnya sendiri. Tak pernah muncul di pikirannya. Terlebih anak itu dari seseorang yang sangat ia benci. Seseorang yang kematiaannya sungguh di tunggu oleh Kurapika sejak bertahun silam. Ini kenyataan yang begitu membuatnya terpukul.

Kurapika menyentuh perutnya. Di dalam sana ada janin Kuroro. Pria yang begitu ia benci. Tangannya terkepal di udara bersiap untuk memukul perutnya sendiri, namun tindakannya terhenti. Bayang wajah anak-anak muncul di benaknya. Irisnya kembali berubah scarlet. Kesedihan menguasai hatinya. Bulir airmata jatuh dari ujung matanya.

Bayang para sukunya yang meninggal oleh para ryodan kembali muncul. Rasa dendam berkecamuk di dadanya, ini semua akibat para ryodan dan kini janin seorang ketua ryodan berkembang di rahimnya. Ingin rasanya ia membunuh janin itu sekarang juga. Namun bayang anak-anak muncul di benaknya membuat semuanya buyar. Hanya perasaan sedih yang begitu hebat yang berkecamuk di hatinya. Sedih kalau harus membunuh janin itu, janin yang tak berdosa itu. Sedih untuk para keluarganya, ia tak bisa membalas dendam dengan baik. Hal yang membuatnya lebih sedih adalah kebodohannya membiarkan semua ini terjadi. Membiarkan suatu hubungan yang lebih terjadi di antara ia dan Kuroro.

Kurapika memeluk lututnya. Meremas tangannya dengan keras. Ia menangis dalam diam. Menyesali semua kebodohannya selama ini, menyesali keputusannya untuk mengambil misi ini dan membuat dia harus terus bersama dengan Kuroro, menyesali kehadiran Al dan Ares. Meratapi semua yang telah terjadi. Semua pikiran negatif dan penyesalan merasuki pikirannya.

"Mama... kata Papa, Mama lagi sakit. Mau bobo sendiri. Cepet sembuh ya Ma. Al sayang Mama." Ucap Al dari luar kamar. Suaranya terdengar begitu cemas.

"Um. Mama cepet cembuh ya. Ayes juda cayang Mama." Lanjut si bungsu kemudian dengan nada sedih nan manja.

Suara kedua anak itu mengusir semua pikiran negatif dan penyesalan Kurapika tadi, semua sirna begitu saja. Seakan tersihir, ia tak lagi menyesali kehadiran kedua anak itu dalam kehidupannya. Al dan Ares adalah penyelamatnya, api semangatnya dan telah menjadi alasannya untuk tetap hidup sampai sekarang. Ia memang masih belum tahu apa yang ia lakukan pada janin dalam perutnya ini, tapi untuk sekarang ia harus menenangkan diri lebih dulu.

.

.

.

Sementara itu, di luar.

"Papa, Mama ga keluar kamar." Al berjalan mendekati Kuroro yang berada di ruang tengah.

"Mama masih tidur. Kakak Al dan Ares tidur sama Papa ya di kamar kalian. Kasian kalau Mama terganggu." Ucap Kuroro seraya memangku bungsunya.

"Tapi tempat tidurnya kecil. Papa ga cukup." Bantah Al.

"Nanti Papa tidur di bawah." Jawab Kuroro kemudian. Ia ingat tempat tidur di kamar anak-anak masih berupa box untuk balita dan itu hanya cukup untuk kedua anaknya.

Al mengangguk tanda setuju.

"Mama kacian Papa. Cendiyi di kamay, nanti Mama cedih." Ucap Ares iba sambil memandang pintu kamar.

"Mama ga sedih ko, Mama juga lagi ga boleh di ganggu. Al sama Ares jadi anak baik ya malam ini." Kuroro mengusap kepala anak itu lembut. Ia ikut memandang ke arah kamar. Dapat di pastikan Kurapika masih shock sekarang. Ia takut kalau gadis kuruta itu sampai berbuat nekat, tapi terus berada di sekitar gadis itu sekarang juga bukan hal yang baik. Ini adalah pertaruhan besar untuknya. Kuroro hanya bisa percaya bahwa gadis itu akan mencoba tenang sekarang.

.

.

.

Beberapa jam kemudian.

Kuroro terbaring di bawah. Ia memandang langit-langit kamar yang penuh dengan gambar dengan tatapan nanar. Pikirannya jauh melayang.

"Kurapika hamil." Kenyataan itu terus terngiang di pikirannya.

"Hamil? Aku akan memiliki seorang anak?" pikirnya dalam hati. Sebuah kenyataan yang bahkan masih terasa bagaikan sebuah mimpi. Rasa bahagia dan bangga menelusup ke dalam hatinya. Akan ada penerus resmi darah 'Lucifer', namun ketakutan dan rasa cemas yang lain pun ikut bercongkol di hatinya.

"Akankah Kurapika menerima anak itu dengan baik? Atau kah anak itu akan di gugurkan? Bisakah anak itu bahagia? Bisakah aku tetap menjaga anak itu dengan baik, tanpa membuatnya ikut mengotori tangannya dengan darah? Bisakah dia tumbuh besar dengan baik dan bangga menjadi seorang 'Lucifer'?" semua pikiran itu terus berdatangan silih berganti di dalam hatinya. Bila biasanya ia bisa berpikir dengan tenang dalam menghadapi semua masalah, namun kali ini berbeda. Ia sangat cemas dan tak bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Semua terlalu di luar rencana. Kuroro mencoba memejamkan matanya, mencoba tenang.

"Papa." Panggilan pelan yang bagai bisikan terdengar dari atas.

Kuroro kembali membukan matanya dan melirik ke arah box.

"Kakak Al belum tidur?" tanya Kuroro kemudian.

Al berguling pelan ke salah satu sisi box yang di biarkan terbuka dan melirik ke Kuroro di bawah. Gelengan kecil ia berikan sebagai jawaban pertanyaan Kuroro tadi.

"Kenapa?" tanya Kuroro lagi. Ia melirik ke arah Al.

"Mau tidur sama Papa." Al bangun kemudian turun dari box dan berbaring di sebelah Kuroro.

Kuroro sedikit bergeser. Ia menopang kepala dengan sebelah tangannya kemudian menghadap ke arah Al yang berbaring di sebelahnya. Al menelusup ke selimut Kuroro, menutupi separuh wajahnya dengan selimut kemudian menatap Kuroro dengan mata indahnya.

Kuroro teringat beberapa tahun yang lalu saat mereka terpisah dengan Kurapika, ia sering tidur dengan posisi seperti ini bersama Al. Dia akan memainkan rambut Al sampai anak itu tertidur dalam pelukannya.

"Papa, Mama sakit apa?" tanya Al kemudian, membiarkan jemari lentik Kuroro bermain dengan rambut ravennya.

"Mama cuma perlu istirahat. Nanti juga sembuh."

"Mama kecapean ya, Pa? Besok Mama kerja?"

Kuroro menggeleng. Ia rasa keadaan Kurapika sekarang belum memungkinkan untuknya melanjutkan misi dan kemungkinan Kurapika tak akan keluar kamar besok. Mereka tediam, Kuroro menatap Al seksama. Ia ingat bahwa ada sesuatu yang harus ia bicarakan dengan Al. Jemarinya berhenti memainkan rambut Al.

"Kakak Al." Panggil Kuroro pelan seraya bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap si sulung.

Al menatap sang ayah dengan tatapan bingung, ia ikut duduk menghadap Kuroro.

"Kenapa kakak Al ga mau punya adik?" tanya Kuroro pelan. Ia mencoba menyusun kata-kata yang baik.

Al terdiam. Raut wajahnya berubah, terlihat dengan jelas ia tak begitu suka dengan pembahasan ini.

"Kakak Al takut Ares ga di sayang?" tanya Kuroro lagi, kali ini ia menyentuh tangan Al lembut.

Al mengangguk pelan.

"Papa dan Mama akan tetap sayang Ares, sayang kakak Al juga. Kalian anak kesayangan kami, jadi kakak Al ga usah takut ga di sayang. Semua orang sayang kakak Al dan Ares." Kuroro mencoba memberi pengertian perlahan.

"Nanti Papa sama Mama cuma main sama adik bayi aja." Al angkat bicara. Ia menunduk pelan.

"Kata siapa? Hisoka yang bilang?"

Al menggeleng pelan. "Teman Al di sekolah yang bilang. Katanya waktu punya adik bayi Papa dan Mamanya main sama adik bayi terus." Lanjut Al.

"Nanti Al juga kan bisa main sama adik bayinya, sama kaya Ares dulu. Al kan suka main sama Yuna dan Reon juga." Bujuk Kuroro lagi.

"Ga mau Papa. Al ga mau adik bayi, Papa janji ga bikin adik bayi kan?" tanya Al kemudian. Ia menatap iris onyx Kuroro penuh harap.

Kuroro menghela nafas panjang. Inilah saat yang ia tunggu. Ia harus menjelaskan soal ini pada Al.

"Kakak Al maaf... Papa ga bisa tepati janji itu. Mama hamil, nanti kakak Al punya adik bayi." Kuroro menjawab pelan. Ia menatap Al serius.

Al terdiam. Matanya terbelalak. Terlihat dengan jelas anak itu terkejut dan shock mendengar pernyataan Kuroro barusan. Sirat kekecewaan dan kesedihan terpancar di iris sapphire indahnya.

"Kakak." Panggil Kuroro pelan, ia berniat menyentuh bahu Al sebelum anak itu mundur perlahan.

"Papa jahat! Papa bohong!" hardiknya dengan murka. Ia menatap Kuroro geram, bulir airmata mengalir deras dari ujung matanya.

"Maaf Al, Papa ga bisa tepati janji." Kuroro mencoba mendekat.

"Papa jahat! Tukang bohong! Al benci Papa!" Al segera naik boxnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

Kuroro menghela nafas panjang. Ia kembali duduk sila kemudian menopang kepalanya. Dapat terdengar jelas kalau Al menangis tersedu di balik selimutnya. Meski ini berat, tapi Al harus tahu ini, lebih cepat lebih baik dan akan lebih mudah bagi Al untuk menerimanya. Setidaknya itu yang Kuroro harapkan.

.

.

.

Esoknya.

Acara makan pagi hari ini di rundung awan kelabu. Sedari bangun pagi Al tak mau bicara sepatah kata pun pada Kuroro. Matanya masih bengkak bekas menangis semalam. Kurapika juga tak keluar kamar. Kamarnya masih terkunci rapat, tak ada tanda-tanda ia akan keluar kamar. Gadis itu pun tak menjawab panggilan Kuroro maupun Ares. Kuroro masih bisa merasakan hawa keberadaan Kurapika di dalam kamar dan pria itu masih bisa menarik nafas lega karena sepertinya Kurapika tak berbuat nekat.

"Kakak Ay." Panggil Ares pelan, melihat sang kakak makan dalam diam.

Al tak menjawab, ia sibuk mengunyah makanannya. Pagi ini ia makan dengan cepat, tak ada satu pun makanan yang ia emut. Setelah selesai makan, ia segera turun dari bangku dan menaruh piring kotornya.

"Kakak Ay." Panggil Ares lagi sambil melihat Al yang berjalan ke arah ruang tengah dan mempersiapkan semua keperluan sekolahnya.

"Papa." Merasa tak mendapat jawaban, Ares segera beralih ke Kuroro dan memeluk sang ayah. Ia sedih karena Al tak mempedulikannya.

"Maaf ya Ares. Kakak Al lagi marah sama Papa." Jelas Kuroro pelan.

Ares mengangguk pelan, ia menenggelamkan diri dalam pelukan Kuroro.

"Mama juga mayah?" tanya Ares lagi.

"Hu um. Mama juga marah sama Papa, jadi untuk sekarang Ares jadi anak baik ya. Ares ga marah sama Papa kan?" tanya Kuroro.

Ares menggeleng kuat. "Nda. Ayes nda mayah. Ayes cayang Papa, cayang Mama, cayang kakak Ay." Lanjut Ares seraya memeluk leher Kuroro. Kuroro mengelus kepala Ares kemudian mencium keningnya lembut.

Al melirik ke arah mereka dengan ekor matanya. Ia sedih melihat Ares seperti itu, tapi ia masih kesal dengan Kuroro.

.

.

.

Di sekolah.

Sejak pagi tadi mood Al sedang buruk, meski dia tetap masuk sekolah tapi tak banyak yang dia lakukan di sekolah. Dia tampak acuh dengan sekitarnya termasuk dengan para guru dan teman-temannya. Anak itu hanya duduk diam di bangkunya dan memandang keluar jendela seakan langit luas sana lebih menarik untuknya. Para guru sedari tadi penasaran dengan tingkah Al, tapi saat di tanya anak beriris sapphire itu enggan menjawab. Tak jauh berbeda dengan sang kakak, Al. Ares pun tampak tak bersemangat. Ia murung seharian ini. Senada dengan tingkah Al, Ares tak banyak berkegiatan hari ini, ia hanya diam di pojok sambil memainkan mobilan dan baloknya. Nafsu makannya juga turun, ia hanya makan sedikit kue dan makan siangnya. Saat di tanya ada apa, batita itu tak menjawab dan hanya terisak. Para guru tampak semakin cemas dengan kakak beradik itu.

Seorang gadis dengan kuncir dua mendekati sosok Al. Gadis itu telah berteman dengan Al sejak awal Al masuk sekolah ini. Gadis itu juga tampak cemas melihat sikap Al hari ini. Ia duduk di bangku sebelah Al dan melihat ke arah anak itu.

"Al-kun?" panggil gadis kecil itu pelan.

Al hanya sedikit menoleh ke arah gadis itu dan melihatnya dengan ekor mata. Tak ada respon apapun yang ditunjukan Al.

"Al-kun lagi marah ya?" tanya gadis itu lagi, berusaha untuk tetap dekat dengan Al.

Al masih diam seribu bahasa. Pandangannya kembali tertuju ke langit biru.

"Al-kun marah sama Lucy?" gadis bernama Lucy itu bertanya dengan nada ragu.

Al terdiam sebentar kemudian menggeleng pelan.

"Terus Al-kun marah sama siapa?" senang akhirnya mendapat respon, Lucy kembali bertanya.

Al kembali tak memberi respon. Ia hanya menghela nafas panjang dan berat, seakan banyak yang sedang bercongkol di pikiran bocah lima tahun itu.

Lucy ikut terdiam. Ia menunduk. Al kembali tak memberi respon, Lucy tampak bingung dalam mencari bahan pembicaraan lagi. Ia melihat ke arah kakinya dan memainkannya.

"Al marah sama Papa." Jawab Al akhirnya dengan pelan.

"Eh? Kenapa marah sama Papa?" Lucy segera mengangkat wajah dan kembali memandang Al.

"Papa bohong. Papa jahat. Papa ga tepati janji. Al benci Papa." Jawab anak itu dengan nafas memburu dan suara parau menahan tangis dan amarah.

"Eh? Tapi Papa Al baik ko, Papa Al suka senyum sama Lucy dan kasih Lucy permen."

"Ga! Papa jahat! Papa tukang bohong!" teriak Al dengan cepat. Ia menatap Lucy dengan tatapan kesal.

Lucy tampak terkejut. Ia tak pernah melihat Al marah seperti itu, Al yang ia kenal adalah anak yang baik dan selalu tersenyum juga sayang pada adiknya. Teriakan Al barusan menjadi perhatian bagi teman-teman dan guru Al. Ini kali pertama Al berteriak seperti itu, meski dulu ia pernah bertengkar dengan temannya tapi ia tak pernah berteriak. Al di kenal sebagai anak yang tak banyak bicara saat ia sedang dalam mood yang tak baik. Seorang wali kelas mendekati Al.

"Al-kun kenapa? Kok teriak?" tanya guru muda itu.

"Al mau pulang." Jawab anak itu dengan cepat dan nada penuh perintah.

"Eh? Kenapa? Al-kun sakit?" tanya sang guru kembali.

Al menggeleng pelan.

"Kalau gitu sensei telepon Papa ya. Biar di jemput Papa."

"Ga mau di jemput Papa. Di jemput yang lain aja." Tolak Al dengan segera.

"Eh? Telepon Mama aja?"

"Ga mau juga. Telepon paman Leorio aja." Putus Al kemudian.

"Eh? Ya udah. Al-kun tunggu disini dulu ya."

.

10 menit kemudian.

.

Drrrt... drrrt... drrrt

Leorio melihat ponselnya bergetar. Nama Kuroro muncul di layar menandakan sang penelepon.

"Ada apa Kuroro? apa terjadi sesuatu dengan Kurapika?" tanya Leorio segera saat mengangkat telepon.

"Apa kau sedang senggang? Aku mau minta tolong." Pinta Kuroro sebagai jawaban.

"Aku baru pulang dari rumah sakit, minta tolong?" Leorio melihat keluar mobilnya, tertahan lampu merah.

"Tolong jemput Al, dia ga mau ku jemput." Jawab Kuroro, ia mengurut-urut dahinya.

"Eh? Ada apa? Tak biasanya dia minta jemput aku." Leorio tampak bingung. Ia bersender sambil melihat jam di tangannya, jam dua siang.

"Intinya dia sedang marah karena mau punya adik. Dari awal dia menolak keras kehadiran bayi." Kuroro menutup bukunya yang sedari tadi tak benar-benar ia baca.

"Jadi kau sudah memberi tahu soal ini padanya?"

"Iya, dia yang paling menolak jadi dia yang harus kuberi tahu lebih dulu, cepat atau lambat dia harus tahu tapi aku tak menyangka kalau responnya akan seperti ini." aku Kuroro dengan helaan nafas panjang.

"Baiklah. Aku akan menjemputnya. Apa Ares juga mau sekalian ku jemput?" dokter muda itu tahu betul bahwa lawan bicaranya itu kini sedang kebingungan.

"Tak perlu, tadi kata gurunya Ares memilih pulang denganku nanti sore."

"Baiklah kalau begitu. Aku akan segera ke sekolah Al dan segera menjemputnya." Leorio segera membalik arah mobilnya.

"Yah.. arigatou... kau bisa minta kunci apartemenku dari ruang staff, mereka pasti percaya karena kau sering kesana. Kurasa Kurapika juga masih belum mau keluar kamar."

"Baiklah." Leorio segera memutuskan saluran telepon mereka dan memacu mobil menuju sekolah Al.

.

.

.

2 hari kemudian. Pagi hari.

Suasana di rumah Kuroro masih sama, Al masih marah pada Kuroro sedang Kurapika masih mengurung diri di dalam kamar. Akhir-akhir ini Al lebih senang menghabiskan waktunya di kamar sambil menggambar. Ares yang melihat 'perang dingin' antara ayah dan kakaknya ikut murung, di tambah dengan Kurapika yang tak pernah menampakkan wajahnya selama ini, hal itu jelas mengganggu pikiran Ares. Nafsu makannya turun drastis, ia tampak lebih kurus sekarang.

Kuroro mengelus rambut Ares lembut. Ia tahu meski Ares masih kecil, anak itu sungguh sangat sensitif. Ia mudah terluka bila melihat konflik di sekitarnya. Sudah selama 'perang dingin' di rumah ini terjadi, Ares berusaha keras untuk menjadi anak baik dan tak menambah beban pikiran Kuroro. Meski terlihat acuh, Kuroro berusaha semampunya membujuk Kurapika dan Al. Ia selalu menyimpan makanan Kurapika di depan pintu kamar dan menanyakan keadaaannya dari luar kamar, meski selalu tak ada jawaban disana. Begitu pun dengan membujuk Al, ia selalu berusaha untuk mengajak bicara sulungnya itu, tapi kedua orang itu terlalu keras kepala untuk mendengarkan Kuroro.

"Mama... Mama." Ares turun dari sofa dan berjalan ke arah kamar. Ia mengetuk pintu kamar pelan.

Tak ada jawaban dari dalam kamar. Sangat sunyi.

"Mama... ayes punya kue... Mama." Panggil Ares lagi. Ia menggedor pintu kamar kembali.

Masih tak ada jawaban. Ares menunduk pelan, bahu kecilnya gemetar menahan tangis. Kuroro mendekati Ares dan menggendong bungsunya menjauh.

"Mama mayah cama ayes." Ucap anak itu sedih.

"Ga. Mama ga marah sama Ares. Ares kan jadi anak baik, Mama marah sama Papa. Maaf ya kalau Ares jadi sedih." Kuroro merasa iba pada bungsunya itu, ia harus terlibat dengan semua masalah ini.

Ares memeluk bahu Kuroro kemudian bersender pelan.

"Kakak Ay." Panggil Ares kemudian melihat sosok Al keluar kamar. Ia segera turun dari gendongan Kuroro dan berjalan mendekati Al kemudian memeluknya.

Al tersenyum pelan kemudian ikut memeluk Ares. Ia tampak biasa aja pada Ares.

"Kakak Ay, ayes punya kue. Makan bayeng kakak Ay." Ajak Ares sambil memegang kedua tangan kakaknya.

Al mengangguk pelan tanda setuju. Kemudian tersenyum.

"Makan cama Papa juda ya." Bujuk Ares dengan tatapan penuh harap.

Al terdiam. Raut wajahnya seketika berubah, ia tampak tak senang dengan ajakan Ares barusan.

"Kakak Ay nda mau?" tanya Ares tampak sedih.

"Kakak Al masih marah sama Papa. Kakak benci Papa!" jawab Al tegas, ia menjawab sambil membuang wajah.

Ares terdiam. Ia menunduk dalam, tampak dengan jelas ia begitu sedih dan terkejut mendengar jawaban Al barusan.

"Lalu kakak mau apa? Kakak Al mau Papa pergi dari sini?" tanya Kuroro dingin. Jujur saja ia sudah cukup bersabar dengan semua sikap kekanakan Al selama ini. Ia sudah cukup lelah.

Al dan Ares terkejut mendengar ucapan Kuroro barusan. Ares segera melihat ke arah Kuroro dan berlari mendekatinya.

"Jannan.. Papa jannan peygi. Ayes cayang Papa." Batita itu memeluk kaki Kuroro erat.

"Itu yang kamu mau? Kamu benci Papa kan? Mulai malam ini kita akan tidur terpisah." Ujar Kuroro kembali dengan nada dingin.

Al hanya terdiam. Ia menunduk diam. Begitu pun dengan Ares ia hanya bisa diam, ia merasa sang ayah sedang marah besar kali ini. Kuroro menggendong dan berjalan ke arah perpustakaan meninggalkan Al yang masih terdiam di tempatnya.

.

.

.

Siangnya.

Siang ini begitu panas. Mentari bersinar terik di puncak langit. Sebuah taksi berhenti di depan gedung salah satu rumah sakit terbesar di York Shin. Sesosok gadis berambut pirang turun taksi. Ia melangkah masuk ke dalam rumah sakit dengan langkah yang sedikit lunglai. Gadis itu berjalan menuju lift yang menuju lantai 4. Di dalam lift gadis itu menopang kepalanya, menahan pusing.

Ting!

Pintu lift terbuka, gadis pirang itu keluar lift. Ia berjalan menuju salah satu ruangan di ujung lorong.

"Kurapika." Panggil sebuah suara dari belakang.

Gadis yang di panggil Kurapika itu berbalik badan, melihat sosok yang memanggilnya.

"Sedang apa kau kemari? Wajahmu sangat pucat." Sosok itu berjalan mendekat dengan wajah cemas.

"Aku kemari ingin menemuimu, Leorio. Ada yang ingin kubicarakan." Jawab Kurapika pelan.

"Kita bicarakan ini di ruanganku. Aku juga akan memnita seseorang membawakan makanan ringan untukmu. Dilihat dari kondisimu, kau pasti belum makan." Putus Leorio kemudian. Ia merangkul tubuh Kurapika dan berjalan bersisian. Sebenarnya sedikit banyak ia sudah bisa menebak hal apa yang ingin di bahas sahabat baiknya itu, tapi keadaannya sekarang lebih membuat cemas.

Kurapika membiarkan Leorio dan berjalan mengikutinya. Ia masih sangat lelah untuk melawan Leorio.

. . .

Kurapika menaruh cangkir tehnya di atas meja. Ia menyenderkan punggungnya di kursi. Leorio hanya menatap sahabat baiknya itu dengan tenang. Ia sengaja menutup jam prakteknya untuk memberi Kurapika banyak ruang dan waktu membahas segala kegundahannya.

"Apakah itu benar?" tanya Kurapika kemudian setelah keheningan tercipta. Ucapannya mengambang tanpa arti.

Leorio terdiam sebentar kemudian mengangguk pelan namun yakin.

Kurapika melihat anggukan kepala itu. Meski ia tahu jawabannya, tetap saja ini berat untuknya. Gadis itu menutup mata dengan punggung tangannya.

"Aku sudah memastikannya berulang kali saat memeriksamu tempo hari. Awalnya aku pun tak percaya, tapi dari semua hasil pemeriksaan aku yakin. Aku juga sempat mengambil sample darahmu untuk diperiksa di lab dan ini hasilnya," Leorio menyodorkan secarik kertas dalam amplop rapi yang diambilnya dari dalam laci.

"Aku sudah membacanya, rencananya aku akan mengantarkan hasil ini padamu besok. Semoga itu bisa membuatmu lebih yakin." Lanjut dokter muda itu kembali.

Kurapika mengambil kertas itu dan membukanya pelan. Ia membaca setiap baris dalam surat itu dengan baik, kemudian meremasnya dengan kesal.

Melihat respon dari Kurapika yang demikian membuat Leorio kembali terdiam. Ia menyenderkan punggungnya di kursi, membuat kursi kerja itu sedikit condong ke belakang.

"Apa... apa hasilnya itu bisa salah?" tanya Kurapika lagi dengan nada putus asa. Ia duduk tegak menghadap Leorio.

"Aku juga berharap seperti itu Kurapika, tapi hasil tes darah ini sangat akurat dan hasilnya menyatakan kalau kau benar-benar hamil. Usia kandunganmu masuk minggu ke-3 sekarang." Jelas Leorio lagi.

Kurapika tampak semakin frustasi. Ia memegang kepalanya dengan keras seakan itu akan pecah.

"Aku tahu ini sulit, terlebih dengan keadaanmu sekarang tapi cobalah untuk tenang dan jangan terlalu stress. Kasian bayi yang sedang berkembang di dalam rahimmu. Ia tak berdosa." Leorio menasihati dengan tenang. Ia tahu hal ini akan sulit diterima, tapi sebagai dokter hal ini harus diucapkan dan sebagai teman sikap simpati telah ia tunjukan pada gadis pirang itu.

Kurapika hanya diam. Pikirannya campur aduk, tak ada jalan keluar yang bisa ia pikirkan sekarang ini. Semua begitu memusingkan dan berkabut baginya sekarang ini.

.

.

.

Kuroro duduk diam di markas. Ares berada di pangkuannya. Buku kesayangannya sama sekali tak tersentuh. Tampak jelas bahwa sang ketua ryodan itu sedang dalam mood tak baik. Ares yang berada di pangkuannya juga tampak murung, tak banyak celotehan yang keluar dari bibirnya. Ia pun tak mau saat di tawari makanan, termasuk kue yang begitu ia sukai. Batita itu terus menempel pada Kuroro, seakan tak mau pergi.

Ares memainkan bonekanya sambil sesekali melirik sang ayah. Ia tak berani banyak bicara sekarang, bila ia lihat Kuroro tak menghiraukannya ia kembali bermain dengan bonekanya.

"Papa ga marah sama Ares." Ucap pria itu pelan. Ia melirik ke arah bungsunya itu. pria itu tahu betul apa yang ada di pikiran si kecil dan hal yang begitu menggundahkan hatinya.

"Be... beney? Ga mayah?" tanya Ares ragu.

Kuroro menggeleng pelan, ia melihat ke arah Ares dan mengelus rambutnya sambil tersenyum lembut. Melihat itu, Ares segera memeluk leher Kuroro erat. Semua ketakutannya sirna dalam sekejap. Ia begitu bersyukur bahwa sang ayah tak marah padanya. Kuroro mengelus punggung Ares lembut.

. . .

"Bukankah ada yang ingin kau katakan pada danchou, Machi?" seorang pria berambut merah dengan hiasan aneh di wajahnya mendekati seorag gadis mungil yang sedang bersender di sebuah pilar gedung yang hancur sambil memperhatikan sang danchou.

Machi melirik kedatangan pria nyentrik itu dan memilih tak menghiraukannya dan tetap fokus memperhatikan sang danchou sambil memikirkan langkah apa yang paling bijak untuk diambil.

"Tak perlu terlalu banyak berpikir sekarang. Putuskan saja semuanya." Ucap pria itu lagi dengan tenang sambil duduk bersila di depan Machi. Tak dihiraukan oleh gadis itu bukan hal baru untuknya.

"Kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk memberi tahu danchou tentang kepulangan 'dia' ke kota ini," putus gadis bersurai violet itu kemudian.

Pria itu hanya terdiam, memainkan kartunya. Ia ikut memandang ke arah sang ketua laba-laba, pikiran lain muncul dan mengganggu pikirannya.

"Mengetahui kehadiran 'dia' sekarang hanya akan menambah pikiran danchou." Lanjut Machi lagi, ia meletupkan pelan permen karetnya.

"Sepertinya masalah kali ini lebih pelik dari biasanya. Aku jadi penasaran, kira-kira apa yang terjadi dengan keluarga kecil mereka? Apakah Kurapika hamil?" tebak pria itu asal.

"Jangan bicara sembarangan, Hisoka." Hardik Machi dengan cepat. Gadis itu menatap Hisoka tajam.

"Kita lihat sampai kapan itu bisa tetap terjaga, cepat atau lambat itu akan terjadi. Mereka sama-sama dewasa." Jawab Hisoka tenang dengan seringai tipis di wajahnya.

"Kalau itu benar terjadi, semua akan semakin runyam." Dengan berat hati ia setuju dengan ucapan badut itu, firasat lain muncul di hatinya. Mungkin tak tepat di bilang firasat namun hanya dugaan. Gadis itu menggelengkan kepalanya, menghilangkan dugaan gilanya.

"Aku tak sabar menunggu keturunan resmi 'Lucifer' yang mungkin menjadi penerus ryodan kelak." Ujar Hisoka sambil menyeringai pelan kemudian berlalu.

.

.

.

Semilir angin sore hari menyapu halaman salah satu rumah sakit kecil di pinggiran kota York Shin. Angin yang menyejukan, menjadi penghiburan atas teriknya siang tadi. Di bangku taman halaman rumah sakit terduduk seorang gadis sambil tertunduk dengan tangan yang menopang kepala. Semilir angin membelai lembut setiap helai rambut pirangnya. Berulang kali gadis itu menghela nafas sambil memegang perutnya dengan salah satu tangan. Tampak seorang berambut hitam dengan ikatan asal mendekatinya dan berdiri tepat di depan gadis itu. Gadis pirang itu terlalu sibuk dengan pikirannya sampai tak sadar akan kehadiran pria itu.

"Kurapika?" tanya pria itu sambil berjongkok tepat di depan gadis yang di panggilnya Kurapika dan memandang wajahnya.

"Eh? Loki?" Kurapika terkesiap. Ia sedikit memundurkan wajahnya. Gadis itu menghela nafas, dari sekian banyak orang yang tak ingin di temuinya pria ini masuk dalam daftar sepuluh orang teratas saat ini.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Kurapika datar.

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, apa yang kau lakukan disini? Aku kadang datang kemari untuk bernyanyi disini." Jelas pria itu tenang. Kurapika dapat melihat tas gitar bersandar manis di punggungnya. Kurapika memperhatikan pria itu. Ia memakai sebuah T-shirt berwarna putih dengan gradasi biru langit di bawahnya, jeans belel di tambah boots. Rambutnya diikat asal dengan kalung berantai tipis menghiasi lehernya, tak lupa sebuah kaca mata hitam berbingkai kotak melengkapi penampilannya sore ini.

"Jadi hari ini kau juga nyanyi disini?" tanya Kurapika basa basi setelah memperhatikan Loki.

"Um. Aku juga baru saja selesai menjenguk seseorang disini." Jawab Loki tenang. Ia duduk di sebelah Kurapika.

Kurapika hanya mengangguk, tak terlalu tertarik dengan pembicaraan ini.

"Kau tak bertanya siapa yang sakit?" ucap Loki kemudian setelah melihat minimnya respon dari lawan bicaranya.

"Untuk apa? Aku tak terlalu tertarik." Aku Kurapika jujur, ia menopang dagu dengan sebelah tangan.

"Tsk! Kau dingin sekali. Apa kau masih marah dengan perbuatanku dulu? Bukankah aku sudah minta maaf, kenapa kau keras kepala sekali?" Loki memandang gadis itu kesal.

"Apa pedulimu kalau aku keras kepala?" tanya Kurapika dingin.

"Astaga! Ok, kita lupakan soal ini. Sepertinya kau sedang tak dalam mood yang baik untuk hal ini, jadi aku kembali pada pertanyaanku sebelumnya saja. Apa yang sedang kau lakukan disini?" pria beriris amber itu berusaha tenang.

"Bukan urusanmu. Aku pergi." Kurapika bangkit pelan.

"Tunggu. Aku hanya penasaran, apa yang dilakukan seorang ibu muda dengan dua anak berkeliaran di rumah sakit ini?" Loki menahan tangan Kurapika, menghentikan langkahnya.

"Apa aku tidak boleh datang kemari? Seorang kenalanku di rawat disini." Jawab Kurapika tanpa memandang wajah Loki.

"Aku harap itu benar adanya. Mengingat tentang hal di balik reputasi rumah sakit ini dan juga keadaanmu sekarang aku harap kau kemari dengan niat mulia." Pria berambut acak itu berucap dengan nada tajam.

Kurapika kembali terdiam dan berusaha lepas, sebenarnya mudah saja bagi dia untuk melepas genggaman Loki sekarang juga dengan menggunakan nennya, namun ia tak mau melukai pria itu lagi.

"Kau pasti tau kan rumor tentang tempat ini?" tanya pria itu lagi.

Kurapika mengangkat bahu ringan.

"Heh! Bahkan tempat ini sudah terkenal keluar kota mustahil kalau kau tak tahu. Tempat aborsi paling terkenal seantero York Shin." Cemooh Loki ringan.

"Bisakah kau diam? Aku sedang tak ingin banyak bicara denganmu dan lepaskan tanganmu itu." Kurapika menatap Loki tajam, atmosfer aneh tercipta diantara mereka.

"Eh? Baiklah. Bodohnya aku berpikir hal seperti itu. Kau bisa pergi sekarang, Nyonya Lucifer." Loki terkejut dan segera melepas tangan gadis pirang itu.

Tanpa banyak bicara, Kurapika segera melangkah menjauh dan tak lama ia menghilang. Loki hanya bisa menarik nafas panjang sambil menggaruk rambut hitamnya.

.

.

.

Malamnya.

Kurapika masuk apartemen. Mata kucingnya memandang sekitar, mencari sosok lain penghuni apartemen yang lain. Langkahnya terhenti saat melihat ke arah kamar anak-anak. Ia melihat Al yang berdiri sambil menundukkan kepalanya dalam dan kaki Kuroro dari celah pintu, Kurapika berjalan mendekati kamar dan melihat ke dalam.

"Jadi kau sudah keluar kamar?" tanya Kuroro dingin tanpa melihat ke arah datangnya gadis itu. Pria itu mengganti kompresan Ares yang sedang terbaring dengan nafas berat dan sedikit tersengal.

"Apa yang terjadi dengan Ares? Dia sakit? Eh?" Kurapika berniat untuk mendekat namun langkahnya terhenti sekitar 5 meter dari box karena aura tak nyaman dari Kuroro.

"Kau pikir ini salah siapa? Ini akibat sikap keras kepala kalian yang membuatku muak. Ares tak mau makan karena kebodohan kalian dan akhirnya Ares demam." Jawab Kuroro. nada bicaranya tak bersahabat sama sekali.

"Ma... maaf Papa." Ucap Al pelan, nada bicaranya penuh dengan penyesalan. Ia manatap Kuroro dengan takut-takut.

"Jadi kau sekarang sudah mau bicara denganku? Bukankah kau yang benci aku, Alpha Lucifer?" Kuroro balas bertanya dengan nada tajam penuh intimidasi, kali ini ia menatap sulungnya dengan tatapan dingin.

Bertemu dengan tatapan dingin Kuroro barusan, membuat nyali Al ciut. Ia segera memeluk kaki Kurapika dan menangis. Tangisan antara ketakutan dan rasa bersalah. Hal yang paling ia takuti telah terjadi. Kuroro marah padanya.

"Hei! Jangan bicara kasar seperti itu!... tenang ya kakak Al, ada Mama disini." Kurapika menghardik Kuroro dan segera memeluk sulungnya.

"Diam kau. Kau tak pantas bicara disini, tahu apa kau tentang keadaan di luar? Dan kau bilang dirimu 'Mama'? apa kau pantas untuk itu? Apa kau tau selama tiga hari ini Ares selalu mengetuk pintu kamarmu dan memanggil namamu? Apa kau tahu betapa sakit dan sedih hatinya saat tak ada satu jawaban yang kau berikan padanya? Atau kau tahu berapa kali dalam sehari dia mengecek pintu hanya untuk berharap kau keluar kamar? Apa kau juga tahu selama tiga hari ini dia menyisakan kue dari sekolahnya untuk makan denganmu di rumah? Apa kau tahu semua hal itu, gadis bodoh?" tanya Kuroro. Ia menatap Kurapika tajam.

"Eh? Ares." Kurapika terdiam. Memang selama tiga hari ini dia selalu mendengar suara Ares dari luar kamar atau ajakan batita itu untuk makan kue bersamanya, tapi tak ada satu pun dari panggilan atau ajakan itu yang dia respon. Perasaan bersalah mendera hatinya.

"Kau masih berani panggil dirimu 'Mama'? Pikirkan lagi. Ini kali kedua kau melakukan hal bodoh ini," Kuroro bangkit dan berjalan mendekati mereka.

"Aku perlu bicara denganmu. Kau disini saja." Lanjut Kuroro lagi sambil berjalan melewati mereka, ia melirik Al memberi perintah dan meninggalkan kamar.

"Kakak Al tunggu disini ya. Jaga adik Ares ya. Jangan nangis terus." Kurapika mengusap rambut Al sambil menghapus airmatanya.

Al mengangguk pelan. Ia melihat sosok Kurapika yang hilang di balik pintu mengikuti sosok Kuroro.

. . .

Perpustakaan.

Kuroro berjalan mendekati meja kerjanya.

"Apa kau sudah memikirkan apa yang akan kau lakukan dengan bayi itu?" Kuroro melirik lawan bicaranya dengan ekor mata. Ia melirik ke arah perut Kurapika sekilas. Kemudian membuka laci mejanya.

Kurapika menggeleng pelan. Ia sudah memikirkan ini selama tiga hari, sebenarnya ada sebuah rencana di kepalanya, namun ia masih ragu untuk mengatakannya.

"Aku akan bilang ini untuk yang pertama dan terkahir kalinya, jadi pikirkan dengan baik dan tentukan pilihanmu dengan bijak," Ucap Kuroro seraya melempar sesuatu ke atas meja dengan suara dentuman yang cukup keras mengiringi.

"Gugurkan atau lahirkan. Pilihan semua tergantung padamu. Jadi pikirkan baik-baik, Kurapika kuruta." Jelas Kuroro datar. Ia melipat kedua tangan dan menatap Kurapika sambil bersender di rak buku.

"Eh?" Kurapika terdiam melihat meja kerja. Sebuah belati kesayangan Kuroro teronggok dengan manis di hadapannya. Ia cukup terkejut dengan pilihan yang ditawarkan Kuroro kali ini. Kurapika mengelus perutnya pelan, mata kucingnya masih tertuju pada belati Kuroro itu. keringat mengalir di pelipisnya.

Contenyu~~

.

.

.

A/N : akhirnya selesai, dou? OOC kah? Smoga ga terlalu mengecewakan ya... ok, saatnya balas review ^^

Moku-Chan : iya nih hehehe... akhirnya bisa update dengan lumayan cepat di chappy kmaren ^^.. yup! Akhirnya pika hamil, yeay! Kuroro berhasil hamilin pika ^^/ #ditendang.. hahaha smoga semua berhasil di hadapi Kuroro ya ^^

Teror bird : huum.. akhirnya Kurapika hamil ^^... hehehe, nama Loki emang qiessa ambil dari nama dewa di mitologi Norse, karena qiessa suka sma nama itu ^^.. gaPapa, sankyuu udah sempetin review ^^... happy reading ^^

Alluka-chan : sankyuu juga udah baca, happy reading ^^

Amaya kuruta : hehehe.. iya nih, akhirnya Kuroro berhasil juga buat Kurapika hamil ^^... hehehe.. nasib ga terlalu bagus emang nih, tapi semoga smua sukses sesuai rencana ^^.. huum, sankyuu untuk supportnya ^^, tetap semangat ^^/

Chafujitaoz : huum.. akhirnya up juga ^^... iya nih, ada dede bayi baru ^^, sama2, makasih juga udah mau baca ^^... nasib Kuroro ga terlalu bagus sekarang .. huum, sankyuu buat supportnya ^^

hitsugayaFreya : yeeeaay! Akhirnya ada anggota keluarga baru nih ^^... ini udah update ko, happy reading ^^

rhalucifer : iya nih, akhirnya hamil juga ^^... Kuroro punya caranya sendiri buat seleseiin masalah ini, semoga sukses deh ^^... happy reading ^^

HiNa devilujoshi : ini udah apdet ^^.. Kuroro jadi Papa ^^... happy reading ^^

Ayuistiara : ini udah apdte, happy reading ^^

Juzumone : waah... kyanya penasaran banget sama sosok 'dia' ^^... nanti ya, sabar sebentar lagi ^^

Eien desu : hehehe... lama juga ya nunggunya dari tahun lalu ^^.. hmm... sebenarnya qiessa mau masukin dua sekawan itu, tapi belum nemu plot yg ccok untuk mereka lagi, mungkin nanti akan muncul ^^#semoga.. ini udah apdet, happy reading ^^

Wizard : hehehe... kepo ya? ^^... tunggu sebentar lagi ya ^^

A/N : waah.. kayanya banyak banget ya yang nunggu berita kehamilan Kurapika ^^ dan dari review, hampir semua bahas soal nasib Kuroro yang bakal dapat dua macam penolakan. Hmm... dan setelah di lihat lagi, kayanya porsi Machi dan Hisoka lumayan sering ya di fic ini, sejujurnya qiessa lumayan suka pair ini, jadi tanpa sadar sering keluarin pair mereka hehehe... ok, segitu dulu deh. Untuk chappy selanjutnya, qiessa akan berusaha apdet dlam waktu yang cepat... mohon bersabar ya ^^... happy weekend minna^^... mind to RnR?