ANDANTE
Chapter 9 : Stay
Cast:
Lu Han, Se Hun
EXO Members
Romance, Angst, a little bit Humor and Drama
This is Genderswitch.
.
.
.
Dalam sejarah hidupnya Kim Jongin tidak pernah sedikitpun merasakan perasaan di mana perutmu seperti di kocok hebat sampai mual hingga kepalamu mendadak pusing dan ingin pingsan. Sekuat dan sebanyak apapun musuh yang menjadi lawan tanding sekolahnya dulu, ia tidak pernah merasakan perasaan demikian padahal bisa saja salah satu dari kutu-kutu sok jagoan itu menghabisi nyawanya dalam pertempuran mereka. Tapi sekarang semua tinggal sejarah, kedua telapak tangannya sudah berkeringat parah dan dingin, belum lagi ia juga sudah hampir muntah sebanyak dua kali dan kepalanya pening bukan main. Semua kejadian komplikasi tersebut terjadi dalam satu hari, Hari pernikahannya.
Tidak ada yang salah sih sebenarnya dengan hari itu, semua berjalan dengan baik –hampir sempurna. Ia juga sudah mengenakan setelan pernikahannya dan di rias hingga menjadi tampan namun tetap saja rasa gugup dan panik mendadak memenuhi seluruh rongga tubuh dan pikirannya. Setelah nyaris pingsan untuk yang ke dua kalinya, Jongin duduk dengan tenang setidaknya berusaha untuk tenang di sebelah Chanyeol yang sibuk mengipasinya. Wajah pria berkulit tan seksi itu sekarang sudah sebelas duabelas dengan Sehun, putih pucat lengkap dengan keringat yang memenuhi dahinya.
"Ini minum." Sehun menyodorkan sebotol air mineral yang langsung di tengguk habis oleh Jongin tanpa ampun. Chanyeol yang melihat tingkah sahabatnya tersebut hanya menghela nafas sambil sesekali bertukar pesan dengan kekasihnya untuk mengetahui perkembangan yang terjadi.
"Agak mendingan?" Tanya Sehun begitu ia mendapati Jongin tengah menyandarkan dirinya di sofa dengan sebelah tangan pria itu menutupi matanya. Jongin hanya bergumam memastikan ia menjawab pertanyaan Sehun atau anak itu akan bertanya lagi yang tentu saja akan membuat kepalanya pusing. Sehun menghela nafas lega melihat Jongin sudah mampu bernafas dengan baik tidak seperti sebelumnya, panik hampir mati.
"Seumur hidupku... Seumur hidupku.. aku tidak pernah setakut ini Hun. Aku bersumpah." Jongin mulai meracau dengan tatapan kosong, meskipun demikian Sehun tetap berusaha mendengarkan ocehan pria itu.
"Apa bisa kau bayangkan, semua terasa begitu saja di depanku. Aku.. Aku nyaris,"
"Tenanglah Jongin, semua pasti baik-baik saja." Sehun berusaha menghentikan racauan Jongin yang mulai tidak jelas lagi. Sebelumnya ia bahkan sempat mengatakan hampir mati sampai berkali-kali sebelum jatuh terduduk dengan wajah pucat.
"Baekhyun bilang semua sudah aman terkendali." Timpal Chanyeol kemudian tanpa berhenti mengipasi Jongin.
"Bagaimana bisa aku tenang! Pengantin wanitaku tiba-tiba...Tiba-tiba... Astaga rasanya aku mau mati saja." Jongin kemudian menyandarkan dirinya lagi sembari menutup mata mencoba menenangkan dirinya yang sudah mulai hilang kendali lagi. Ia seratus persen yakin dirinya sehat dan punya jantung yang kuat tapi ketika kejadian itu terjadi, Jongin yakin dirinya bisa saja terkena serangan jantung mendadak bercampur penyakit lainnya. Semua terjadi begitu cepat tanpa bisa ia hindari. Semua terjadi diluar kendali dan rencananya.
Sehun dan Chanyeol hanya bisa menggeleng melihat sahabat mereka tengah menenangkan diri. Tidak tahu dengan Chanyeol, tapi Sehun merasa ia bisa merasakan apa yang baru saja Jongin rasakan. Perasaan panik mendadak yang membuat jantung nyaris berhenti. Ia pernah merasakan yang lebih buruk malah dan itu terus mengikutinya hingga saat ia hendak tidur perasaan itu malah semakin kuat. Bayangan Luhan yang pergi melepaskan genggamannya saat di stasiun dan menghilang di kerumunan mampu membuatnya bisa gelisah sepanjang hari dan panik hingga membutuhkan obat penenang. Pada intinya Sehun tahu pasti perasaan ketika seseorang yang kita sayangi terluka atau bahkan hilang mendadak.
Walau pada kasus Jongin tidak separah kelihatannya. Semua bermula ketika iringan pengantin wanita memasuki gereja, Minji dan Leon berjalan beriringan sambil menaburkan bunga sepanjang jalan dengan senyum imut nan menggemaskan, sementara itu dibelakang keduanya ada Luhan dan Baekhyun yang berjalan manis dengan buket bunga pada masing-masing mereka hingga yang terakhir terlihatlah sang pengantin wanita Kyungsoo berjalan dengan anggun bersama dengan sang ayah bersiap menuju altar untuk perjanjian suci mereka. Senyum Jongin terus terpancar merekah sementara Sehun dan Chanyeol tidak bisa mengalihkan pandangan mereka dari dua pengiring pengantin wanita lalu kemudian kejadian itu pun terjadi. Beberapa langkah dibelakang Luhan dan Baekhyun yang sudah berdiri di tempat mereka berseberangan dengan Sehun juga Chanyeol, tiba-tiba saja terdengar suara rintihan dan itu berasal dari Kyungsoo. Semua terjadi begitu cepat hingga Jongin tidak tahu bagaimana ceritanya sampai ia mendengar Kyungsoo berbisik lirih memanggil namanya sebelum jatuh pingsan di tangan sang ayah.
Itu belum seberapa sampai Minji bersuara, " Aunty Kyung berdarah!" sambil menunjuk bagian bawah Kyungsoo yang langsung membuat Jongin limbung detik itu juga.
Aku tidak menghamili Kyungsoo. Tidak ada anak dalam kandungan Kyungsoo. Lalu itu apa? Aku yakin itu darah. Ya Tuhan rasanya aku mau pingsan.
"Jong!" Jongin tersentak kemudian membuka matanya dan mendapati Sehun serta Chanyeol menatap kearahnya.
"Apa?" tanya Jongin yang sudah kembali sadar dari bayang-bayang menakutkannya barusan. Sedikit linglung namun ia tetap menjawab panggilan Sehun barusan.
"Ku kira kau pingsan." Sahut Sehun yang kemudian menyandarkan tubuhnya setelah melepaskan jasnya dan menyampirkan benda itu pada dudukan sofa sementara Chanyeol sudah kembali meluruskan kakinya sambil mengipasi diri sendiri.
"Hun,"
Sambil menutup matanya dan mencari posisi untuk tidur, Sehun hanya bergumam menjawab panggilan Jongin. Oh ayolah ia juga ikutan panik tadi saat tiba-tiba Kyungsoo ambruk dengan 'darah', belum lagi ia yang juga bingung harus menolong Jongin yang nyaris pingsan atau menenangkan Luhan yang terlihat panik hingga akhirnya ia memutuskan untuk membawa Jongin ke tempat yang aman setelah Chanyeol berteriak heboh karena sahabat mereka tersebut duduk terjatuh di altar. Sekarang yang dibutuhkannya adalah selain ketenangan juga sedikit waktu untuk mengistirahatkan badannya. Kalau bisa sih ada Luhan di sampingnya tentu lebih melegakan, pasalnya gadis itu sama sekali tidak menghubunginya untuk menanyakan keadaannya dan tentu saja itu membuat Sehun khawatir juga rindu.
"Sekarang aku tahu mengapa kau bisa kecanduan obat penenang waktu itu. Aku tidak bisa membayangkan jika kejadian itu menimpaku. Kejadian barusan saja aku sudah nyaris pingsan, aku tidak menjamin diriku akan baik-baik saja jika semua terjadi lebih dari barusan. Maafkan aku-,"
"Jangan dibahas lagi." Potong Sehun sebelum Jongin melanjutkan ucapannya. Ia tahu kemana arah perkataan Jongin nantinya, mengarah pada kesakitan Sehun dulu dan hal itu sama sekali tidak ingin ia ingat. Ia dan Luhan sudah baikan, ia dan Jongin juga sudah saling memaafkan lalu mengapa juga Jongin harus membukanya kembali? Itu akan membuat suasana menjadi runyam dan tidak menyenangkan.
"Tapi Hun, aku serius. Aku benar-benar minta maaf padamu atas semuanya!" Suara Jongin mendadak meninggi yang lantas membuat Sehun membuka matanya dan menatap kesal pria itu. Apa sih yang ada diotak anak ini? Dia keracunan atau apasih?!
"Bukankah aku sudah memaafkanmu bodoh?! Jangan bahas-"
"Pesan kamar saja sana dan selesaikan masalah rumah tangga kalian berdua." Sebuah suara menghentikan perdebatan Sehun dan Jongin akan masa lalu. Itu bukan Chanyeol karena pria itu sekarang sednag terkejut juga dengan keadaan yang terjadi. Ia sudah hampir masuk ke dalam alam mimpi sampai ia mendengar Jongin membentak Sehun untuk meminta maaf kemudian ia mendengar Sehun yang juga ikutan tarik urat untuk membalas perkataan Jongin. Awalnya ia memang ingin menimpali pertengkaran bodoh mereka tapi Baekhyun sudah menyuarakan semuanya. Gadis itu sudah berdiri di depan pintu ruangan yang terbuka begitu saja menampilkan dirinya dan Luhan yang berdiri malu-malu mengintip ke dalam.
"Apa kalian berdua masih ingin bertengkar? Aku sudah memesankan satu kamar jika kalian ingin melanjutkan semuanya dan berakhir dengan bercinta!" Ocehan Baekhyun tak hanya membuat ketiga pria di dalam ruangan tersebut tercengang tapi juga Luhan yang berdiri di belakangnya. Gadis itu bahkan menunduk malu mendengar ucapan Baekhyun barusan.
"ByunBaek, aku masih normal kalau kau lupa hari ini aku akan menikahi sahabat perempuanmu Kyungsoo!" Balas Jongin kesal mendengar ocehan tunangan sahabatnya tersebut.
"Calon istriku berdiri dibelakangmu kalau kau mau tahu nona Byun." Timpal Sehun santai namun mampu membuat Luhan yang ada di belakang Baekhyun malu hingga rasa panas menjalar sampai pipinya.
Calon istri apanya? Sehun bicara asal.
"Kalau begitu hentikan pertengkaran bodoh kalian dan persiapkan dirimu Kkamjjong. Kau masih ingin pernikahan ini dilanjutkan bukan? Bersiaplah dan 10 menit lagi aku tunggu di altar." Perintah Baekhyun yang langsung membuat Sehun juga Jongin terkejut. Apanya yang bersiap? Sehun melihat kearah Chanyeol untuk meminta penjelasan namun pria telinga peri tersebut hanya menggeleng tidak tahu.
"Kyungsoo sudah minum obat pereda nyeri dan gaunnya juga sudah diganti kalau itu yang kau ingin tanyakan." Jongin langsung menutup mulutnya ketika mendengar jawaban Baekhyun barusan. Ia hanya memasang wajah kesal mendengar ocehan Baekhyun yang terlalu cepat.
"Aku titipkan Luhan pada kalian untuk membantu kalian bertiga bersiap. Ingat sepuluh menit atau aku biarkan Yifan menikahi Kyungsoo dan menjadi istri kedua setelah Tao." Sebelum sempat Jongin mengumpati Baekhyun, gadis itu sudah mendorong Luhan ke depan dan menutup pintu ruangan berlalu begitu saja tanpa salam perpisahan apapun bahkan untuk Chanyeol yang menata nanar kepergian tunangannya tersebut.
"Sampai jumpa baby Baek." Ucap Chanyeol pada angin lalu yang kemudian menyandarkan kembali dirinya pada sofa.
"Kalau tidak ingat dia tunanganmu sudah aku bunuh dia sejak dulu." Jongin mulai menggerutu dan ikut menyandarkan dirinya lagi seperti Chanyeol. Namun tidak dengan Sehun yang duduk dengan tenang melemparkan senyumnya pada gadis yang sekarang tengah berdiri di dekat pintu melihat ke arah mereka bertiga. Gadis itu benar-benar cantik bahkan bertambah cantik dari hari sebelumnya. Sehun merasa ia semakin jatuh cinta lebih dalam lagi kepada Luhan dari hari ke hari, waktu ke waktu. Sementara itu Luhan bingung sendiri melihat keadaan di hadapannya sekarang. Chanyeol dan Jongin yang harusnya bersiap tetapi malah asik bersantai sementara Sehun, ah tunggu. Mata cantik Luhan mendapati Sehun tengah menatapnya membuat Luhan mengulas senyum kecil. Setidaknya masih ada manusia waras yang bisa ia mintai bantuan.
Dengan perlahan Luhan berjalan mendekati Sehun hingga ia berada berhadapan dengan Sehun yang semakin tersenyum ke arahnya. Pria itu kemudian berdiri sejajar dengannya sekarang dan mendekat perlahan memperkecil jarak keduanya. Merasa Luhan tidak bergerak menjauh, tangan Sehun pelan-pelan mulai bergerak memeluk kedua sisi pinggang Luhan mengunci gadis itu untuk tetap berada di dekatnya.
"Hai," Suara rendah Sehun menyapa gendang telinga Luhan membuat gadis itu meremang. Sepertinya ia memang ditakdirkan untuk melemah pada Sehun apapun keadaan mereka.
Dengan malu-malu Luhan berusaha menjawab sapaan pria dihadapannya sekarang, "Hai Sehun." Setelahnya jangan tanyakan bagaimana keadaan Sehun setelah melihat seulas senyum cantik terukir di wajah Luhan. Rasa lelah yang tadi menimpa tubuhnya sudah hilang begitu saja. Tuh kan apa yang dibutuhkan Sehun bukan Cuma istirahat semata namu juga Luhan atau lebih tepatnya istirahat bersama Luhan.
"Apa aku sudah mengatakan kalau hari ini kau cantik?" Sehun dengan jurus rayuannya sebenarnya sudah hampir membuat Jongin yang menjadi saksi bisu adegan semi romantis sahabatnya tersebut nyaris muntah tapi begitu ia melihat bagaimana pria itu terus mengumbar senyum bahagia, sudut hati kecilnya jadi ikutan bahagia.
"Sehun, kalian harus bersiap." Sekuat tenaga Luhan mengucapkan kalimatnya tanpa terbata. Ucapan yang keluar dari mulut pria seksi dihadapannya sekarang memang suka hilang kendali. Sejak tadi sampai sekarang yang terus menerus pria itu katakan hanya membuat hatinya berdebar dan bersemu malu. Luhan hanya berharap Sehun tidak melakukan hal-hal lain yang lebih membuatnya berdebar sebab ia masih harus berdiri tegak selama prosesi nanti. Namun Sehun bukanlah Oh Sehun jika tidak memanfaatkan keadaan. Sebenarnya ia tahu Luhan sedang menahan diri untuk tidak gugup dihadapannya namun melihat wajah merona gadis itu benar-benar sebuah anugerah untuknya. Persetan dengan status mereka sekarang, ia akan melangkah lebih cepat sekarang. Sedikit melompati waktu untuk membuat gadis itu menjadi miliknya. Maka dengan lembut Sehun menarik Luhan ke dalam pelukannya, membawa bibirnya mendekat ke arah telinga gadis itu dan berbisik,
"Simpan dansamu untukku Lu."
.
.
.
Melewati hari panjang dan menegangkan, nyaris pingsan dan mual bersamaan akhirnya Kim Jongin berhasil mengucapkan sumpah setianya pada Kyungsoo, gadis manis yang sudah mengikat hatinya sejak masih sekolah. Kisah cinta mereka memang terlihat biasa saja, cinta remaja yang berlanjut hingga dewasa. Tidak ada perselingkuhan atau hubungan putus-nyambung seperti orang kebanyakan. Mereka menjalani semuanya dengan baik meskipun ujian tetap saja hadir. Seperti banyaknya wanita-wanita cantik yang menggoda Jongin, pria-pria tampan yang merayu Kyungsoo tapi tetap saja ujian terbesar mereka adalah hawa nafsu Jongin terhadap Kyungsoo. Siapapun yang melihat gadisi itu tentu saja akan mengeluarkan pujian baik untuk rupa maupun liuk tubuh si mungil. Kyungsoo memang tidak tumbuh menjadi seksi seperti si dokter seksi Byun Baekhyun, namun ia selalu berhasil mengeluarkan aura kecantikan bagi pria-pria di sekitarnya. Jangan tanyakan bagaimana merananya Jongin sekarang begitu tahu ia tidak bisa menikmati keindahan dibalik gaun penganti istrinya karena Kyungsoo sekarang tengah datang bulan.
Kejadian gaun berdarah yang ternyata adalah kejadian dimana Kyungsoo mendapat tamu bulanannya.
"Tahan mata laparmu Kkamjjong. Semua hanya seminggu." Goda Chanyeol begitu mendapati Jongin tengah meradang menatap Kyungsoo 'lapar'. Sejak tadi ia dan Sehun tidak henti-hentinya menggoda si pengantin pria tersebut mengingat apa yang sedang menimpanya. Bukan bersenang diatas penderitaannya sih, namun menyenangkan saja melihat Jongin yang terkenal mesum malah tidak bisa mendapatkan malam panas di hari pernikahannya. Kalau tidak ingat tempat dan cubitan Baekhyun di pingganya beberapa saat lalu, Chanyeol pasti sudah tertawa terbahak sampai perutnya sakit.
"Kau yang seharusnya menahan diri. Memangnya aku tidak tahu sejak tadi kau menatap Baekhyun dengan tatapan nafsu." Balas Jongin tidak mau kalah. Ia sendiri juga tahu jika Chanyeol sejak tadi menahan diri untuk tidak membawa pergi Baekhyun dan bermain kuda-kudaan bersama. Janji akan menghabiskan malam pertama setelah menikah dilanggar pasangan mesum itu dimalam mereka bertunangan dan tentu saja itu membuat Chanyeol diatas angin sebab diantara mereka bertiga hanya dia yang sudah memiliki akses bercinta dengan pasangannya meskipun masih menjadi tunangan.
"Aku bisa menyerangnya malam ini bahkan sampai pagi. Toh tamu bulannya masih datang dua minggu lagi." Perkataan Chanyeol tak pelak membuat pria itu mendapat pukulan ringan di kepalanya hadiah tangan Jongin. Meskipun sempat meringis sakit, Chanyeol tetap tertawa melihat wajah putus asa Jongin.
"Tapi,"
"Apa? Mau menghinaku lagi?!" Jongin yang kelewat sewot malah semakin membuat Chanyeol semangat menggodanya.
"Kau ini. Hargai Kyungsoo sebagai wanita Jongin. Rasa sakitnya tadi belum seberapa dibanding nanti ketika ia melahirkan anakmu. Walau aku sudah berhubungan dengan Baekhyun sesuka hatiku, namun aku tetap menghitung masa suburnya, kapan ia akan kedatangan tamu bulanan dan kapan aku bisa menyerangnya. Semua itu bukan karena aku takut menghamilinya tapi aku belum siap untuk menjadi duda di usia muda. Melihatnya yang sering kesakitan saat datang bulan membuatku takut sendiri saat ia melahirkan nanti. Itu sebabnya aku tidak bisa sembarangan bermain kuda-kudaan dengan Baekhyun." Penjelasan panjang Chanyeol membuat Jongin tercengang.
Sahabatnya yang satu ini memang sedikit berbeda dibandingkan Sehun dan dirinya. Pribadi yang menyenangkan tentu tidak menutup kemungkinan membuat Chanyeol menjadi pria yang serius. Meskipun tidak pernah bertanya secara langsung hal romantis apa saja yang pernah pria itu lakukan pada Baekhyun namun keberanian Chanyeol melamar Baekhyun ketika usia mereka masih diawal 20an membuat Jongin percaya keseriusan Chanyeol akan hubungannya. Meskipun sempat mendapat penolakan dari ayah Baekhyun yang mengatakan jika ia akan melepas putrinya untuk menjadi milik Chanyeol ketika pria itu sudah mapan bekerja, tidak lantas menyurutkan sahabatnya tersebut untuk mempertahankan hubungan cinta mereka. Jongin masih ingat bagaimana seriusnya Chanyeol saat bekerja hingga sekarang ia bisa mencapai posisi puncak. Hingga pada usia mereka yang memasuki pertengahan 20, Chanyeol kembali memberanikan dirinya untuk melamar Baekhyun yang langsung diterima dengan baik oleh ayah Baekhyun. Ayah dari kekasih sahabatnya tersebut kagum atas kerja keras dan tekad Chanyeol untuk meluluhkan hatinya. Ia tidak menunjukkan sikap protes atau membawa Baekhyun untuk memberontak namun membuat anak gadisnya bersabar dan berusaha bersama.
"Kau terdengar sepeti ayahku Chan." Jongin tidak tahu harus membalas apa atas perkataan Chanyeol barusan.
"Hahaha. Sudah ayo nikmati hari ini Jong. Lihat si albino sudah mulai aksinya sekarang." Chanyeol menunjuk kearah Sehun yang sedang mendekati Luhan dengan dagunya.
"Ku harap ia berhasil. Ia pantas mendapatkan kebahagian."
"Bukan ia, tapi mereka Jong."
Sementara disudut pesta terlihat Sehun yang sudah mulai gencar mendekati Luhan seperti yang Chanyeol katakan. Ia bahkan tidak segan menggandeng gadis itu, membawanya berkeliling dan berdiri posesif dibelakang gadis itu untuk melindunginya dari tatapan nakal para tamu undangan pria. Ia bahkan tidak memberikan akses untuk Leon, keponakannya untuk memonopoli Luhan seperti yang sudah-sudah. Bagi Sehun sudah cukup mereka menikmati waktu bersama Luhan sekarang saatnya dirinya yang menikmati waktu bersama gadisnya.
"Kau tidak bilang kalau kau sudah punya kekasih Hun." Bibir manis Soojung mengerucut lucu begitu mendapati Sehun tengah mengobrol bersama Yifan dan Tao dengan tangan pria itu bertengger manis di pinggang Luhan.
"Haha, maafkan aku Jung-ah. Kenalkan ini Luhan. Lu, ini Soojung teman kerja kami." Walau terkejut dengan ucapan wanita yang bernama Soojung atas statusnya dengan Sehun dan tindakan pria itu yang tidak memberikan penjelasan atas kebenaran hubungan mereka, Luhan tetap mengulurkan tangannya untuk bersalamannya dengan Soojung yang langsung disambut antusias oleh wanita itu.
"Hai Soojung, aku Luhan."
"Hai Luhan! Ya tuhan pantas saja pria datar nan dingin ini bertahan bersolo ria meskipun disuguhkan berbagai macam rupa wanita seksi. Ia sudah punya satu diatas segalanya." Pujian Soojung membuat Luhan malu sebenarnya. Ia bahkan merasa wajahnya akan berubah memerah karena kata-kata yang dikatakan Soojung barusan.
"Terima kasih, Kau cantik." Puji Luhan tulus untuk Soojung yang langsung disambut dengan tawa gemas wanita itu pada Luhan. Ia bahkan sempat menggigit gemas pundak kekasihnya Minhyuk saking tak tahan dengan penampilan imut dan seksi yang Luhan keluarkan secara bersamaan.
"Jangan menggodanya terus Jung-ah. Sehun bisa lepas kendali nanti." Ucapan Yifan membuat semua yang berada disana melihat ke arah Sehun. Pria itu hanya menggeleng tak mengerti dengan perkataan Yifan barusan. Lepas kendali apanya? Ia merasa baik-baik saja.
"Tidak usah pura-pura tidak mengerti begitu. Gadis mungil, manis dan seksi seperti Luhan begini walau diam saja sudah bisa menggodamu kan, apalagi dengan kondisi seperti ini." Tambah Zitao yang ikutan menggoda Sehun yang langsung turut disetujui Soojung juga Minhyuk. Sebenarnya tidak ada yang salah sih dengan tingkah Sehun. Pria itu masih dengan santai memeluk pinggang ramping Luhan sambil sedikit memainkan jarinya pada lekukan tubuh si mungil. Wajahnya juga santai tidak sedang terangsang ataupun tergoda, ia hanya terpesona dan memuja penampilan Luhan hari in lalu apa yang membuatnya jadi bahan godaan?
"Apa? Aku tidak melakukan apapun. Sungguh Lu aku tidak-" ucapan Sehun terpotong ketika Yifan, Zitao, Soo jung dan Minhyuk semakin mendekat ke arahnya dan menampilkan senyum licik mereka.
"Kau pikir kemana saja tanganmu bergerak Oh Sehun?" tanya Yifan dengan wajah mesumnya.
"Atau hidungmu yang sejak tadi bergerak manja di leher Luhan?" Tambah Zitao lengkap dengan senyum liciknya.
"Aku kira tadi hanya memeluk ternyata tanganmu nakal juga ya." Minhyuk yang sejak tadi diam juga ikutan menggodanya.
Sehun semakin tidak mengerti dengan tuduhan keduanya. Ia juga bingung dengan Luhan yang hanya merapat ke arahnya sambil menunduk. Memangnya ia melakukan apa?! Perlahan matanya menelusuri tangannya yang memeluk mesra Luhan hingga ia mendapati sesuatu yang berada diluar kendali. Matanya melotot tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat, wajahnya seketika memerah tak terkendali atas apa yang terjadi. Perlahan ia menurunkan tangannya yang ternyata sudah bertengger mesra di dada Luhan. Pantas saja sejak tadi ia merasakan jika jarinya menyentuh sesuatu yang empuk dan ia juga merasakan Luhan sedikit menegang dalam pelukannya. Ternyata tangan nakalnya sudah bergerak liar sampai kemana-mana.
Luhan pasti berpikir aku mesum! Sialan tangan bodoh!
"Eh, Lu maafkan aku. Aku ti-"
"Haaaa, aku punya satu kamar di lantai yang sama dengan Jongin dan Chanyeol. Pakai saja kalau mau." Perkataan Yifan telak membuat Zitao, Soojung dan Minhyuk tak kuasa menahan tawa mereka. Belum lagi wajah Sehun yang memerah benar-benar penampakan yang langka. Setelah puas menertawakan Sehun dan Luhan yang ikutan memerah, pasangan mesum tersebut lalu meninggalkan keduanya untuk menyalami Jongin juga Kyungsoo. Suasana canggung langsung terasa begitu Sehun melepaskan rangkulannya pada pinggang Luhan. Ia sedikit mundur dari tempatnya berdiri dan mengamati Luhan sekarang, berdoa dalam hati semoga gadis itu tidak menangis atau marah padanya walau meskipun si mungil tentu saja punya hak untuk menampar atau memarahi Sehun atas tindakannya barusan.
"Lu, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk melecehkanmu atau apapun. Sungguh semua bergerak tanpa kendaliku. Aku mohon maafkan aku." Sehun mengusap lehernya kaku merasa takut akan reaksi Luhan nantinya. Gadis itu hanya diam dan terlihat enggan bahkan untuk membalas tatapan Sehun.
"Lu," Sehun tercengang begitu mendapati Luhan yang bergerak menjauhinya ketika ia ingin memegang pundak gadis itu.
"Maafkan aku kumohon. Kau boleh memuk-"
"Maaf Sehun, aku..aku ingin ke kamar kecil sebentar." Luhan berlalu begitu saja tanpa menatap Sehun yang jelas tahu jika gadis itu tengah menahan tangisnya. Terdengar jelas dari getaran suara Luhan saat membalas ucapannya barusan. Sialan! Ia baru saja mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka dan semua hancur hanya karena tangan nakalnya.
.
.
.
Kyungsoo seperti sudah mempersiapkan segalanya untuk hari bahagianya dengan Jongin. Pesta pernikahan yang diadakan di tepi pantai membuat suasana romantis itu langsung terasa begitu malam datang menjemput. Angin pantai yang bertiup syahdu ditemani langit hitam dengan taburan bintang membuat setiap makhluk di sana merasa dihujani doa cinta dari alam. Semua berjalan dengan baik sampai akhir, Baekhyun dan Chanyeol terus menghibu para tamu hingga pesta berakhir, Kyungsoo yang semakin membaik serta Jongin yang sudah terlihat lega tanpa beban dan Luhan yang turut larut dalam pesta tersebut meskipun sejak tadi ia hanya duduk di temani Leon dan Minji yang sudah bersandar mengantuk di pangkuannya.
Memang setelah kejadian tangan mesum Sehun, baik Luhan dan Sehun sama-sama memberikan jarak untuk masing-masing menenangkan diri. Sejujurnya ia sama sekali tidak marah pada Sehun hanya saja ia tidak menyangka pria itu bisa berlaku demikian padanya di depan umum. Ia memang merasa dilecehkan dan tentu saja hal itu membuatnya sakit hati, bukan hanya pada perlakuan Sehun namun pada kenyataan bahkan seorang Oh Sehun saja bisa berbuat sedekian rupa padanya meskipun mereka hanya sebatas teman belaka maka menurutnya wajar saja jika laki-laki di masa lalunya melakukan hal yang lebih tidak pantas padanya karena status keluarga. Sesaat tadi Luhan merasa ia tidak pantas untuk hidup tenang dan hanya dilahirkan untuk diperlakukan tidak senonoh. Bohong jika saat dikamar mandi tadi Luhan tidak menangis, ia bahkan hampir kesulitan bernafas karena tangisnya namun ketika ia membuka pintu kamar mandi Luhan mendapati Minseok sedang menatap ke arahnya dan kemudian memeluk dirinya.
"Apapun yang dilakukan Sehun padamu, percayalah dia mencintaimu dengan seluruh hidupnya." Minseok memeluk Luhan yang masih menangis dalam pelukannya. Ia memang tidak tahu pasti apa yang terjadi diantara Sehun dan Luhan, ia hanya melihat bagaimana Luhan yang terus menunduk tanpa memperhatikan Sehun yang tengah berbicara padanya lalu pergi begitu saja dengan menyeka matanya.
Satu hal yang pasti, Luhan menangis dan itu karena Sehun.
Lantas Minseok bergegas menitipkan Jongdae untuk mengawasi putri kecil mereka untuk melihat apa yang sedang terjadi pada Luhan. Gadis itu pasti terluka terlihat dari apa yang ia dengar dari suara tangis Luhan dari dalam bilik kamar mandi. Minseok hampir mengetuk pintu kamar mandi tersebut untuk memastikan jika Luhan tidak akan melakukan hal bodoh apapun namun ia mengurungkan niatnya dan hanya mendengarkan tangisan Luhan yang lama-lama menyayat hatinya. Entah apa yang telah Sehun lakukan padanya padahal sejak tadi mereka berdua terlihat bahagia.
Hampir lima menit Minseok menunggu pintu tersebut terbuka dan menampilkan wajah sembab Luhan yang langsung ia tarik dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu untuk menumpahkan segalanya pada dirinya. Bagaimanapun caranya ia harus mampu membuat Luhan menceritakan yang terjadi padanya. Setelah membiarkan Luhan tenang dan memastikan gadis itu tidak menangis lagi, Minseok memutuskan untuk membawa Luhan ke kamar hotelnya untuk menenangkan gadis itu lebih lama lagi. Akan menjadi hal buruk jika Kyungsoo atau malah Baekhyun melihat kondisi Luhan sekarang, mereka pasti akan mengacaukan pesta hanya untuk menghajar Oh Sehun.
"Kita rapihkan riasanmu nanti tapi sebelumnya minumlah untuk membuat dirimu tenang." Minseok memberikan segelas air putih untuk Luhan ketika mereka sampai di kamarnya. Gadis itu hanya duduk diam dan meminum air yang diberikan Minseok tanpa memberikan komentar apapun.
"Nah sekarang tarik nafasmu dan hembuskan perlahan lalu ulangi lagi sampai kau merasa baikan." Luhan mengikuti semua instruksi yang Minseok berikan padanya tanpa berniat bertanya apapun. Keputusan Minseok untuk membawanya keluar dari pesta memang keputusan tepat karena Luhan sendiri tidak tahu harus bagaimana saat menghadapi Sehun nanti.
"Sudah baikan?" Luhan hanya mengangguk sambil menikmati usapan lembut Minseok pada tangannya.
"Sekarang mau cerita padaku apa yang sudah manusia idiot Sehun itu lakukan padamu?" Luhan lantas menunduk malu mendengar pertanyaan Minseok. Ia tidak tahu harus mulai dari mana untuk menceritakan yang terjadi apa harus secara gamblang atau menggunakan kiasan.
"Lu?"
"Tidak ada apa-apa Nyo-"
"Eonni. Panggil aku seperti Baekhyun dan Kyungsoo memanggilku." Potong Minseok begitu mendengar Luhan hampir memanggilnya dengan sebutan nyonya Jongdae.
"Tidak terjadi apa-apa Eonni." Suara Luhan semakin mengecil akibat berbohong. Minseok tahu gadis itu sedang menutupi sesuatu darinya entah penting atau tidak. Yang jelas Luhan berbohong.
"Jangan bohong. Kau tidak mungkin akan menangis seperti tadi jika Sehun tidak melakukan apapun." Memang Minseok ditakdirkan mempunyai aura intimidasi yang kuat meskipun wajah ibu satu anak itu imut. Niat untuk berbohong lebih jauh lagi lenyap begitu saja ketika Luhan tidak sengaja mengangkat wajahnya dan melihat Minseok menatapnya tajam.
"Aku malu. Aku tidak tahu harus memulainya bagaimana padamu."
"Katakan saja. Aku akan dengarkan apapun."
Menarik nafas untuk menenangkan hatinya, Luhan berusaha berbicara tenang.
"Sehun, dia tidak sengaja,"
"Tidak sengaja apa?"
"Dia tidak sengaja memegang dadaku."
"Memegang dad- Apa?!"
"Awalnya ia hanya memeluk pinggangku seperti yang biasa ia lakukan, namun lama kelamaan aku merasakan tangannya semakin bergerak naik menelusuri pinggangku dan sampai pada dadaku. Aku ingin mengelaknya namun saat itu kami sedang berbicara dengan Yifan dan teman-teman Sehun. Hingga mereka menyadari apa yang Sehun lakukan."
Minseok hanya bisa menarik nafasnya menahan rasa kesal dan gemas atas perlakuan Sehun. Anak itu sepertinya sudah terlalu lama bermain dengan Jongin hingga membuat dirinya mesum tanpa terkendali. Dan Luhan, gadis itu pasti menangis karena merasa dilecehkan dan mungkin membuka trauma masa lalu. Dasar pria bodoh.
"Apa kau mau aku menamparnya?" Ucapan Minseok membuat Luhan terkejut dan langsung menggeleng tidak setuju. Mana mungkin ia rela orang lain mempermalukan Sehun begitu saja padahal pria itu sudah minta maaf padanya.
"Sehun sudah meminta maaf padaku."
"Kau memaafkannya?" Sikap diam Luhan membuat Minseok yakin gadis itu belum memaafkan Sehun.
"Kalau begitu biarkan aku memukulnya baru kau maafkan dia Lu." Pancing Minseok karena ia penasaran dengan apa yang akan Luhan lakukan selanjutnya.
"Jangan eonni. Dia sudah minta maaf."
"Tapi kau belum memaafkannya kan? Jadi legal untukku menghajarnya." Minseok lantas bediri dari duduknya yang langsung ditahan oleh Luhan. Gadis itu memohon untuk Minseok tidak melakukan apapun pada Sehun bahkan ia mengatakan bahwa ia sudah memaafkan pria itu.
"Cepat sekali luluhnya."
"Aku hanya merasa malu pada diriku yang mudah diperlakukan demikian. Itu sebabnya aku menangis eonni. Aku tidak akan menampar Sehun karena ia sudah meminta maaf padaku dan aku yakin ia juga tidak sadar atas perlakuannya. Ia laki-laki normal jadi wajar jika tergoda begitu kan."
Terkejut tentu saja namun Minseok tidak dapat menyembunyikan senyumnya setelah mendengar ucapan Luhan barusan. Wajar sebagai wanita ia pasti merasa kesal dengan perilaku Sehun namun lepas dari semuanya ia tahu perasaan Luhan yang sebenarnya pada Sehun. Pria itu tanpa harus berbuat banyak sepertinya sudah bisa mendapatkan hati si mungil sebentar lagi hanya saja ia tidak boleh gegabah apalagi sampai melakukan perilaku bejad seperti tadi. Minseok mendekati Luhan untuk kemudian memberikan usapan lembut pada lengan gadis itu.
"Kalau Jongdae berlaku seperti itu padaku sebelum menjadi suamiku seperti sekarang, aku pasti akan menariknya ke tempat sepi dan menamparnya atas perlakuannya. Karena bagaimanapun juga aku masih milik orangtuaku bukan miliknya yang bebas diperlakukan demikian. Tapi kalau sekarang bahkan jika Jongdae ingin bercumbu di tepi pantai denganku, aku bisa memberikanya selama tempat itu terjaga rahasianya karena bagaimanapun juga bermesraan ditempat umum memang kurang pantas untuk lakukan."
"Lagipula semua wanita itu berharga Luhan. Aku tahu jauh didalam perasaanmu kau masih menyimpan perasaan istimewa itu untuk Sehun. Jadi sebelum memaafkan Sehun aku harap kau mau memaafkan dirimu sendiri. Sekuat apapun Sehun berusaha untuk memperbaiki hubungan kalian jika kau tidak mau memaafkan dirimu sendiri dan masa lalumu kalian tidak akan berhasil. Tidak ada wanita di dunia ini yang pantas dilecehkan begitu saja bahkan oleh pasangan mereka sendiri. Kalau kau percaya pada Sehun tentu kau mengerti maksudku. Jadi saranku sih, kalau nanti bertemu Sehun sebelum melepas rindu padanya, kau bisa memberinya pelajaran dulu sedikit." Minseok mengedipkan matanya lalu tersenyum melihat binar kepercayaan diri perlahan muncul dari kedua mata Luhan.
"Eonni,"
"Berhenti menangis rusa kecil. Apa kau tidak kasihan melihat matamu sudah mulai membengkak karena terlalu banyak menangis?" Bukan hanya Luhan yang menangis melainkan Minseok yang sudah menitikkan air matanya saat mendapati Luhan memeluknya. Ia bisa mendengar bagaimana gadis dalam pelukannya bergumam berterima kasih padanya yang ia balas dengan usapan lembut pada punggung gadis itu. Luhan harus bisa memaafkan dirinya sebelum memaafkan masa lalunya itu yang selalu Minseok tanamkan dalam dirinya.
"Sekarang sudah menangisnya. Lihat riasanmu jadi rusak oh astaga aku membuat kekasih Oh Sehun menjadi jelek hahaha." Minseok tertawa melihat wajah malu-malu Luhan. Ia kemudian membawa Luhan ke depan meja rias dan membenahi riasan gadis itu.
"Ingat pesanku ok."
"Ok Eonni."
Sehun diam-diam tersenyum begitu matanya mendapati Luhan tengah duduk tenang bersama Leon dan Minji yang sudah tertidur. Gadis itu memberikan usapan pada kepada Leon yang tengah menyandarkan dirinya pada Luhan. Sesekali ia bisa melihat gadis itu tersenyum melihat tingkah Leon yang agaknya sedikit merajuk karena Minji bisa tertidur manja di pangkuan Luhan. Setelah hampir melangkah karena terpesona akan senyum Luhan, pria kebangaan keluarga OH tersebut kemudian menghentikan langkahnya dan kembali diam di tempatnya. Sehun menatap kesal pada tanganya yang sudah kurang ajar tadi sehingga membuat jarak antara mereka berdua. Benar-benar menyebalkan, setelah semua usahanya hanya karena tangannya yang mesum ia harus menerima kekalahan lagi. Saat sedang asik-asiknya merenungi kesalahannya ditemani senyum Luhan yang tidak pudar itu, tiba-tiba saja Sehun mendapati kepalanya berdenyut akibat pukulan entah yang datang dari tangan biadap siapa. Mengelus bagian kepalanya sambil meringis, pria itu membalikkan kepalanya dan mendapati Minseok sedang menatapnya dengan wajah menyebalkan. Sekarang ia tahu tangan kurang ajar siapa yang berani memukul kepalanya barusan.
"Sakit hamster bodoh." Keluh Sehun sambil mengelusi kepalanya yang hanya di balas dengan decihan Minseok. Wanita satu anak itu kemudian berdiri di samping Sehun dan memulai aksinya.
"Itu belum seberapa dibanding tangan bodohmu yang berani menyentuh bagian yang tidak seharusnya Oh Sehun," Tangan Minseok berjalan menyusuri pundak hingga turun menuju dada Sehun secara sensual. Walau Sehun kesal tapi Minseok tetap wanita dan ia tetap pria normal sehingga sentuhan seperti ini akan sangat berbahaya.
"Jauhkan tanganmu hamster!" Sehun mencoba menepis tangan Minseok yang malah dihadiahi satu pukulan lagi dikepalanya.
Plak!
"Kenapa memukul lagi sih?! Jongdae berbuat apa sih padamu sampai kau mengesalkan begitu." Sehun kembali mengelusi kepalanya yang tambah berdenyut sakit akibat pukulan Minseok barusan. Sialannya wanita itu hanya tersenyum mengesalkan tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Itu karena kau melakukan tindakan asusila pada Luhan!"
"Tindakan asusila apa sih?! Aku tid-" Sehun terhenti begitu mengingat tindakan asusila yang dimaksud Minseok. Astaga apa tadi ia begitu vulgar sama Minseok melihatnya? Pantas saja Luhan menangis.
Mungkin Minseok gemas dengan Sehun hingga ia berlalu meninggalkan pria itu dengan rasa bersalahnya. Sehun hanya duduk diam sambil menunduk merenungi kesalahan fatalnya. Hiruk pikuk pesta bahkan tidak membuat Sehun terhibur sedikitpun. Bagaimana ia bisa merasa bahagia jika kebahagiannya bahkan berada jauh dari jangkauannya. Ia harus apa? Minta maaf? Ini tidak semudah yang orang lain pikirkan. Kalau hubungan mereka baik-baik saja, tentu saja ia akan dengan mudah berlarian ke arah Luhan dan meminta maaf tapi ini kasusnya berbeda. Mereka sedang dalam keadaan dimana satu kesalahan kecil bisa merusak segalanya dan kesalahan yang telah ia lakukan tidaklah kecil. Saat sedang kalut-kalutnya Sehun sudah berikrar untuk pergi mabuk saja sampai pagi lalu berharap tertidur di pantai dan hanyut begitu saja jadi begitu ia bangun tahu-tahu sudah berada di pulau entah berantah mana. Tekadnya sih sudah bulat sampai seseorang berdiri di depannya yang membuat Sehun mau tidak mau mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang berani menghalangi langkahnya.
Mata yang biasanya hanya segaris sekarang membulat sempurna tak percaya akan siapa yang tengah berdiri di hadapannya.
"L..L-"
"Mau temani aku berdansa Sehun? Aku masih menyimpan dansaku untukmu." Luhan memang tidak mengulurkan tangannya seperti pria yang mengajak wanitanya berdansa namun dengan senyum malu-malu dan gerakan imutnya ketika menghela rambutnya ke belakang telinga terlihat seperti ajakan yang sangat sayang untuk Sehun tolak. Walau agak tidak percaya dengan apa yang barusan ia lihat, Sehun berusaha untuk tetap tenang dan tidak berteriak kegirangan. Setelah melihat kesekeliling dimana para pasangan sudah berdansa mesra, ia kemudian mengulurkan tangannya untuk mengajak Luhan berdansa seperti janji mereka tadi.
.
.
.
Pagi itu sama seperti pagi-pagi yang lainnya. Matahari masih terbit dari timur dengan rona oranye yang menyilaukan namun hangat meskipun demikian udara dingin tetap menggoda setiap insan untuk tetap bergelung mesra dalam selimut mereka tak terkecuali Luhan. Gadis itu mengernyit dingin begitu ia merasakan udara pagi membelai lembut pundaknya yang terasa kosong. Ia menggerakkan tubuhnya untuk merapatkan selimutnya dan semakin menggelung dirinya mencari kehangatan lain yang ia dapati dari sesuatu yang memeluknya. Perlahan Luhan mulai menyadari jika indera pendengarannya mendapati sebuah irama indah bertempo lambat dan menenangkan. Berusaha mengumpulkan kesadarannya, Luhan membuka kedua retinanya perlahan menyesuaikan cahaya yang sudah mulai menyinari ruangannya. Meskipun pandangannya belum terlalu jelas dan berkabut, Luhan yakin apa yang tengah ia lihat sekarang. Itu adalah bagian depan tubuh manusia atau lebih tepatnya dada seseorang pria –dapat ia pastikan dari bentuknya yang bidang dan terbentuk sempurna. Dada itu bergerak teratur menjawab irama bertempo lambat yang baru saja Luhan dengar, detak jantung seseorang. Perlahan matanya menusuri bagian atas tubuh manusia yang berbaring bersamanya dan mendapati wajah seseorang yang sangat ia kenal.
Sehun, dia Oh Sehun. Pria yang semalam menghabiskan waktu indah nan romantis bersamanya. Pria yang menemaninya berdansa hingga lupa diri. Pria yang membawanya kedalam ciuman panjang dan erotis dipenghujung malam dan pria yang meluluhkan dirinya dibawah kuasanya. Mata Luhan membulat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia ingat. Sekarang ia mengerti mengapa udara pagi begitu dingin saat menyentuh pundaknya yang ternyata tidak tertutupi apapun itu. Malam itu setelah berdansa dengan Sehun, mereka memang terbawa suasana romantis yang mengundang ke arah lebih intim. Luhan masih ingat bagaimana ia menangis karena ketakutan dan traumanya atas perlakuan masa lalu yang ia terima namun Sehun dengan lembut berhasil membuatnya lupa dan mendapatkan kenikmatan yang sesungguhnya.
Tubuh Luhan meremang begitu ia merasakan tangan Sehun yang memeluknya bergerak sensual di punggungnya sehingga membuatnya semakin merapatkan dirinya pada Sehun. Pria itu juga mengeluarkan suara igauan yang rendah tapi seksi di telinga Luhan. Diam-diam di dalam ingatannya terbayang bagaimana suara Sehun semalam saat mengerang penuh kenikmatan atas dirinya. Ia mengingat bagaimana Sehun memanggilnya dengan suara rendah dan seksi. Mata Luhan kembali melihat ke arah Sehun yang masih tertidur. Wajahnya begitu damai dalam mimpi. Perlahan matanya menyusuri pahatan tegas pada wajah pria itu. Pikiran gadis itu melayang pada bagaimana saat Sehun mempertemukan dahi mereka untuk saling bicara lewat tatapan mata keduanya semalam, bagaimana kedua mata tajam Sehun melihatnya dengan tatapan memuja berkabut nafsu semalam, bagaimana hidung angkuh itu menyusuri leher, dada dan bagian tubuhnya yang lain lalu menciumnya, bagaimana bibir tipis itu dengan serakah bersatu dengan bibirnya, memcumbunya, mengecap tubuhnya dan mengantarkan Luhan pada kenikmatan diatas perasaan cinta yang diberikan oleh pria itu.
Merasa ia akan meledak karena malu, Luhan bergegas untuk membersihkan dirinya sebelum Sehun membuka mata. Perlahan ia berusaha memindahkan tangan Sehun yang memeluknya hingga berhasil membuat pria itu sedikit terganggu namun ketika Luhan mengusap lembut pipinya, Sehun kembali terlelap sambil tersenyum. Setelah berhasil melepaskan diri dari kuasa Sehun, Luhan segera membersihkan dirinya meskipun tubuh mungilnya terasa remuk dan nyeri pada beberapa bagian. Jangan minta Luhan untuk menceritakannya karena ia bisa membuat wajahnya memerah karenanya.
Ketika hendak memakai kemeja Sehun yang tergelak paling dekat dengan tempat tidur, sesuatu yang berkilau terlihat datang dari arah tangannya. Luhan mengernyit heran dengan apa yang baru saja ia lihat. Sembari memakai kemeja Sehun untuk sekedar menutupi tubuhnya tanpa mengancingkannya sempurna, Luhan melihat kearah jari manisnya yang sudah dilingkari sebuah cincin kecil yang indah. Seingatnya ia tidak pernah memakai perhiasan apapun kecuali ia melewatkan sesuatu.
Oh, Astaga ini adalah...
Luhan menangis setelah mengingat dari mana ia mendapati cincin manis tersebut bisa tersemat di jarinya.
.
.
.
TBC
HALOOOO!
Cie akhirnya bisa update juga hahai setelah 1 tahun berlalu dan ff ini akan segera berakhir yeyeyeylalala.
HAPPY BIRTHDAY CHANYEOOOL. Maapin telat ngucapin yang penting doanya nyampe, makin kuat, makin sukses karir dan ranjangnya ya pih!
Cie Kyungsoo Jongin menikah juga kaaan hahai. Tadinya aku mau mencantumkan bagian ena-ena dan darimana cincin itu berasal, Cuma kalian juga udah pasti bisa nebaklah yak itu cincin darimana datangnya ye kan.
Maapin aku selalu telat update dan menggantungkan kalian ya.
Oia mohon doanya semoga bulan depan aku bisa sidang yak! Biar bisa fokus ke ff lagi enggak ke cekripci terus hehe.
