Stage 11
ForgotenMereka berdua berbaring di ranjang. Lampu sudah digelapkan, sinar rembulan temaram tidak terlalu mampu menyinari kamar mereka. Tapi keheningan kadang membawa udara yang sejuk juga. Ketenangan setelah kericuhan besar di dapur.
Rui mendapatkan ketenangan itu di tangan Sawamura. Sawamura merangkulnya dengan jarinya melilit-lepaskan rambut Rui, sementara dia bersandar dengan aman di dadanya.
"Aku masih memikirkannya."
"Hm?" Sawamura bergumam.
"Itu, di rumah atasan ayahku itu. Bagaimana kau tiba-tiba bisa masuk di saat paling genting."
Sawamura tidak berniat memberitahu kalau dia setengah mati berusaha memulangkan dirinya ke rumah dan menjemput Rui kembali, namun dia tidak bisa melakukannya. Akibatnya dia menyelundup masuk dan berjaga-jaga di halaman dekat ruangan itu. Segala dengungan nyamuk, nyanyian jangkrik, dan ledekan burung hantu tidak membuatnya gentar dari sana. Memang dia saat itu merasa sangat bodoh, tapi toh ada untungnya juga dia berjaga. "Apa ayahmu tahu masalah ini?"
Rui menggembungkan pipinya. Sawamura tidak menjawab pertanyaannya, malah mengalihkan topik. "Aku tidak memberitahunya. Habis kupikir nanti bisa membahayakan pekerjaan Otou-san. Lagipula sepertinya orang itu pun tidak mengambil tindakan apapun."
"Bodoh," maki Sawamura pelan, "Kalau dia mencari gara-gara, justru dia ada di pihak yang kalah. Pencuri tidak mungkin berteriak pencuri kan?"
Rui mengangguk. "Biar ini jadi rahasia saja. Kita tidur sekarang, besok banyak yang harus dikerjakan." Rui berguling ke samping, memberi jarak dari Sawamura. Berlama-lama dengannya bisa menumbuhkan rasa manja, dan itu sangat tidak praktis. Dia perlu menahan dirinya untuk meraup sebanyak-banyaknya rasa aman dan dilindungi.
Tapi kemudian Rui menambahkan sebagai pengantar tidur yang manis. "Aku benar-benar merasa beruntung menjadi istrimu." Dia menjeda dengan tertawa lirih, "Oyasumi."
Mungkin Rui merasa beruntung karena Sawamura tidak mungkin melihat wajahnya yang memerah dalam keadaan gelap total dan dia membelakangi suaminya itu, tapi Rui juga tidak akan tahu kalau Sawamura lagi-lagi merenungi kata-kata sederhananya.
---HFSmile---
Sawamura sedang mengurus pekerjaannya ketika Tuan Sanahara masuk ke dalam ruangannya. Mau tidak mau dia bangkit dari kursinya,"Selamat siang, Sanahara-san."
"Tidak perlu sungkan…Apa kau sedang sibuk?" Tuan Sanahara seharusnya tahu hanya dengan melihatnya saja, Sawamura sangat sibuk hingga melewatkan waktu makan siangnya. Sangat retoris. Basa-basi murni.
Tapi berhubung yang bertanya adalah atasannya, mau tidak mau Sawamura musti berlagak bodoh,"Ah, tidak juga. Apa ada sesuatu yang bisa kubantu?"
Tuan Sanahara memberi senyum simpul layaknya atasan yang datang membawa kabar baik. –Sawamura sangat berharap kenaikan pangkat atau gaji-. Pria setengah baya itu duduk tanpa dipersilakan, tapi memang tidak ada masalah dengan itu.
"Duduklah," Tuan Sanahara menunjuk kursi di seberangnya.
Sawamura duduk dengan patuh.
"Selama ini kau bekerja dengan baik. Aku senang dengan totalitas dan loyalitasmu."
Naik gaji…Naik gaji….
"Oleh karena itu aku tidak bisa percaya dengan orang lain lagi selain dirimu."
Naik pangkat…Naik gaji…Yang manapun lah!
"Maka untuk Business Trip kali ini, aku bisa mempercayakannya padamu."
"Eh?" Daritadi pikiran Sawamura sudah terbang ke mana-mana, sehingga tidak memperhatikan adanya alternatif lain dari kedatangan seorang atasan ke ruangan pegawainya.
"Menemui klien besar di New York. Bila kita bisa mendapatkan tendernya, kau pun tidak mungkin tidak terkena imbasnya."
Imbas…Ah, frase yang indah. Mata Sawamura berbinar-binar. Ke manapun itu, disuruh apa saja, dia akan melakukannya. Asal ada sufiks, prefiks semacam 'imbas' itu. "Ya, Anda bisa percaya sepenuhnya padaku. Aku pasti memenangkan tender itu…Kapan aku harus berangkat?"
"Unwasting akan dilaksanakan sekitar pertengahan bulan ini. Kau harus berangkat dua, tiga hari sebelumnya. Nanti akan kukirimkan data-data yang musti kau pelajari."
"Baiklah," Sawamura nyaris tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melonjak dari kursinya. Dia bisa membayangkan karirnya akan kembali berkembang bila ia berhasil dalam tugas ini. "Siapa saja yang akan ikut dalam perjalanan kali ini?"
"Kau akan pergi bersama empat orang lain. Aku akan memberikan datanya juga sekalian padamu nanti. Kuharap kalian menjadi tim solid yang mampu kubanggakan."
Sawamura mengangguk yakin. "Aku tidak akan mengecewakan Anda."
---HFSmile---
"Bu-Business T-Trip ?"ulang Rui setengah tidak percaya.
Sawamura tersenyum riang. "Ke New York! Ini tambang emas."
"Hm, baguslah…," Rui tidak seperti terlalu antusias, meskipun dia tersenyum lebar. "Apakah perjalanannya lama?"
"Unwasting itu biasanya berjalan minimal empat, lima hari. Kemungkinan terlama dua minggu."
"D-Dua minggu!?"Rui terperanjat.
"Kenapa? Kau tidak kelihatan gembira,"Sawamura memicingkan matanya dengan menyelidik.
Rui buru-buru menggeleng sekuat tenaga,"Aku senang kok! Ini kesempatan bagus untuk meningkatkan karirmu."
Sawamura semakin antusias,"Persis."
"Bagaimana kalau kita melanjutkan pembicaraan sambil makan malam? Masakannya sudah siap,"Rui menawarkan setelah mendengar desisan gas.
Antusiasme Sawamura menguras tenaganya, maka dia tidak mungkin menolak.
---HFSmile---
Waktu dua minggu yang dihabiskan Rui sebelum kepergian Sawamura adalah neraka. Hari-harinya berjalan terlalu cepat, seolah meninggalkannya dengan berlari. Padahal kalau bisa jarum jam itu berhenti berputar ketika dipelototinya.
Untuk suatu alasan, Rui tidak ingin Sawamura meninggalkannya. Apalagi sampai dua minggu lamanya.
Tidak, tidak. Kau harus berpikiran positif. Rui mengingatkan dirinya sendiri. Dalam tiga hari Unwasting pasti sudah selesai. Apalagi dengan kecerdasan dan kecakapan Sawamura. Tidak akan lebih dari itu, Rui percaya meskipun dia sendiri tidak tahu pasti apa artinya Unwasting. Pokoknya itu seperti ajang perebutan, misalnya seperti perebutan saham. Siapa yang menawar tercepat dan tertinggi, dia akan mendapatkannya. Konsep ini tidak sepenuhnya salah, namun sebenarnya agak sedikit berbeda dari bayangannya yang tidak ingin berhenti putus asa.
Pada pagi hari ini, di mana Sawamura akan berangkat, Rui membantunya membereskan tas perjalanannya. Sementara Sawamura membenahi kemejanya di depan cermin.
"Padahal kau tidak perlu ikut bangun, aku bisa membereskannya sendiri," cetus Sawamura.
"Tidak apa-apa. Ini bukti dukunganku." Rui selesai dengan pekerjaannya, dia menarik retsleting hingga tertutup rapat. "Lagipula aku hanya membereskan barang-barang kebutuhan sehari-harimu."
Karena tidak berkeinginan meninggalkan mobilnya di bandara, Sawamura sudah memesan taksi. Sialnya-Bagi Rui-Taksi itu datang tepat waktu. Bahkan ketika dipesankan untuk datang pada pukul setengah tujuh pagi.
Sawamura memastikan dirinya siap sekali lagi di depan cermin. Dia tidak perlu berpakaian terlalu formal, makanya dia tidak memakai dasi. "Baiklah, saatnya berangkat."
Dia menyandangkan tas perjalanannya dan menjinjing tas kerjanya. Seluruhnya sudah dirancang dengan sangat praktis olehnya.
Rui mengantar sampai ke depan pintu revolving. Mobil berwarna hitam khas taksi sudah menunggu di lapangan lobby.
Harus mendukung pekerjaannya.
Rui menarik nafas, lalu memberi senyum terbaiknya. "Selamat jalan. Berhati-hatilah di jalan."
Sawamura mengangguk dengan sedikit senyum cool nya. "Aku pergi."
Sawamura tidak memberikan lebih dari lambaian tangan sebelum masuk ke taksinya. Sungguh perpisahan yang dingin mengingat mereka tidak akan bertemu untuk waktu yang cukup panjang.
Mata Rui mengikuti mobil yang ditumpangi Sawamura mengelilingi kebun lingkaran di tengah-tengah halaman lobby, lalu turun ke jalan raya dan menghilang dalam hitungan detik.
---HFSmile---
Sawamura sudah mendapat pesan bahwa rombongannya akan berkumpul di gerbang penerbangan ke New York milik mereka.
Begitu dia tiba, semuanya sudah hadir.
Termasuk Sanahara Mia.
---HFSmile---
Wajah Kosuke sumringah melihat siapa yang muncul di pintu Rumahnya. "Rui-chan! Selamat datang!"
"Hai, Kosuke," Rui kurang semangat untuk menanggapi keceriaan Kosuke.
Tiba-tiba ada yang mengomel dari arah dalam rumah,"Jangan macam-macam ya, Kosuke! Atau kau kuceraikan!" Disusul kemunculan pemilik suara tersebut. Mizuki bertolak pinggang dengan wajah garangnya.
"Aduh, aku kan hanya menyambut tamu!"Kosuke mencoba membela dirinya.
"Itu sih namanya menakuti!" Mizuki membentak,"Sana kembali istirahat! Kata dokter kau harus banyak-banyak istirahat kan!?" Sikap galaknya berubah drastis pada Rui,"Hai, Rui! Tumben kau bisa mampir kemari. Ayo, masuk, masuk!"
"Senang ya, Kosuke sering berada di rumah. Rumah jadi terasa hidup," Rui tertawa kecil seraya mengikuti Mizuki ke ruang tamu.
"Apanya yang hidup?" Mizuki mendumal,"Setiap saat musti meneriakinya untuk berlaku baik. Dia itu benar-benar sulit diatur! Sudah dinasihati dokter supaya banyak beristirahat, masih saja memaksa masuk kerja."
"Tapi kan dia bekerja untukmu juga."
"Iya sih. Tapi kalau dia jatuh sakit lagi, aku juga yang bakal kerepotan." Mizuki menuangkan teh dingin ke dalam gelas dari jar bening,"Ngomong-ngomong bagaimana kabar Si Rubah?"
"Masahiro? Dia sedang pergi ke New York."
"APA!? NEW YORK!" Kosuke menyeletuk dari dalam kamar, tiba-tiba kepalanya sudah menyembul dari balik pintu kamar.
"Kosuke!" Dari nada suaranya, sepertinya Mizuki sudah memberi peringatan terakhir. Bila Kosuke masih mempertahankan sifat bebalnya, Mizuki mungkin saja mengikatnya di tempat tidur supaya pria itu tidak terus berkeliaran menguping pembicaraan orang.
"Iya, perjalanan bisnis menemui klien…Pagi tadi berangkat." Imbuh Rui.
"Sialan Si Rubah itu! Kenapa dia bisa beruntung begitu?" Kosuke mendumal.
"Simpan kata-katamu untuk dirimu sendiri! Siapa suruh tidak belajar sungguh-sungguh waktu masih sekolah?" Mizuki kembali mengalihkan pandangannya kepada Rui,"Tapi kapan dia kembali?"
"Mungkin sekitar empat, lima hari," jawab Rui yakin.
Akhirnya Mizuki pun tidak bisa mencegah Kosuke bergabung dalam percakapan mereka. "Perjalanan bisnis ini…Apa maksudmu Unwasting?"
Rui mengangguh,"Begitulah istilahnya."
"Kalau begitu, sangat mungkin lebih dari seminggu. Aku juga sering dengar-dengar dari mandor tentang Unwasting yang dijalani kontraktornya. Katanya kontraktornya sering mengeluh karena sulit mendapatkan tender yang dipasarkan di Unwasting," Kosuke menjelaskan panjang lebar. "Soalnya prosesnya panjang. Pertama pembahasan tentang bangunannya, kemudian berlanjut ke tawar menawar harga. Pokoknya rumit dan menyebalkan."
"Tapi itu berarti gawat kan!!?" Mizuki memekik, mengejutkan Kosuke. "Kalau lebih dari seminggu, berarti dia melewatkan ulangtahun Rui!"
Giliran Kosuke yang terkejut,"Bagaimana bisa?!"
Karena semua temannya sudah panik untuknya, Rui harus mengambil peran penengah,"Tapi kata Masahiro mungkin selesai dalam empat hari juga."
Mizuki dan Kosuke bertukar pandang.
"Iya sih, itu sangat mungkin! Si Rubah itu, biarpun tidak mau mengakuinya, licin dan cerdas! Pasti bisa menyelesaikannya dengan cepat!" Kosuke menukas dengan suara riang. Mizuki mendukung dengan mengangguk-anggukan kepala disertai gumaman,"Betul, betul."
Walau begitu, tetap saja kedengaran seperti memberi harapan kosong.
---HFSmile---
