Jack of Clubs tidak mengerti, mengapa di tengah malam seperti ini, mendadak saja tubuhnya dapat bergerak untuk bangkit dari tempat tidur dan selimutnya yang hangat. Mengapa kaki-kakinya melangkah dengan sepatu pantofel menuju kandang Jabberwock secara otomatis tanpa bisa dihentikan. Mengapa pakaiannya sudah siap dengan seragam sehari-harinya, termasuk topi tinggi hitam khasnya. Dan mengapa kedua bola matanya, detik ini juga, sudah memandang tanpa emosi ke arah padang semanggi kesukaannya.
Oh, untuk apa bingung dan tidak mengerti? Jack tidak akan mengerti.
Toh dia tidak sadar dirinya melakukan ini semua.
Penasihat kerajaan nomor wahid tersebut tidak sadar kalau tangannya sudah mengelus sisik-sisik hitam Jabberwock yang nyaris membaur dengan warna langit malam tanpa bintang. Tidak sadar kalau kudanya yang mampu berlari lebih cepat dari kuda-kuda lainnya sudah berlari di tanah lapang tanpa dihalangi oleh para pengawal bodoh yang jatuh tertidur dengan membawa tubuhnya berdiri tegak di sana. Begitu cepat, menuju tujuan yang tidak diketahui oleh otaknya.
Otaknya masih tertidur. Tidak ada yang menyadari hal ini sedang terjadi, tidak ada yang bisa mengetahui bahwa Jack of Clubs seakan-akan sedang dikontrol oleh sesuatu dalam tidurnya sampai-sampai dia sudah berkuda secepat yang kudanya bisa menerobos Hutan Andromeda yang tak pernah dikunjunginya seumur hidup dalam keadaan sadar, tidak ada yang mengerti apa yang sedang dimimpikannya dalam tidur lelapnya. Tidak ada yang mengerti mengapa laki-laki tersebut gerakannya begitu kaku sehingga kelihatannya seperti sebuah boneka marionette yang sedang dimainkan oleh pendongeng tersebut.
Di larut malam seperti sekarang, ada satu sosok tidak jelas yang tertawa.
Sosok tersebut menyadari apa yang sedang terjadi pada Jack of Clubs.
Oh, bagaimana caranya dia tidak menyadari hal itu? Dialah sang pendongeng yang menggerakkan boneka-boneka marionette koleksinya. Hanya saja, orang-orang terlalu fokus kepada keindahan benda-benda yang tak akan berguna tanpa tali-tali itu. Hanya saja, para boneka yang dimilikinya terlalu menyombongkan diri dengan kemampuannya dalam membuat para penonton terkesima hingga melupakan siapa yang menggerakkan kehidupannya.
Jack of Clubs hanyalah salah satu boneka yang paling sering digunakannya untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Mengapa harus mengendalikan orang lain? Sosok itu juga tahu, jika dia sendiri yang melakukannya, semuanya akan menjadi kacau. Dia hanya perlu menggunakan media tubuh lain untuk mewujudkan rencananya dan membuat yang lain tidak sadar apa yang sedang terjadi. Dia sudah berhasil memanipulasi pemikiran Jack, membuat penasihat kerajaan itu merasa memiliki ketergantungan pada Jabberwock dan memudahkannya untuk mengendalikan pemikiran Jack. Itulah sebabnya semua nasihat yang diberikan oleh pemakai topi tinggi hitam tersebut adalah awal dari terlaksananya sebagian besar rencananya di bawah bendera Kerajaan Trump.
King of Diamonds juga demikian. Begitu mudah dimanipulasi dari satu keturunan kepada keturunan lainnya. Hanya dengan menunjukkan sehebat apa yang dapat dilakukan oleh Jabberwock untuk mengabdi pada kerajaan selama-lamanya, dia berhasil membuat King of Diamonds merasa begitu luar biasa untuk memelihara Jabberwock. Padahal naga hitam itu adalah miliknya! Biarkanlah. Demi tujuannya saat ini, dia rela memberikan apapun agar mendapatkan sesuatu yang pantas sebagai nilai tukarnya.
Black Joker tertawa senang dengan intonasi mencekam di dalamnya.
Dia akan segera memimpin Spica, lalu mulai menguasai seluruh alam semesta. Suatu hari nanti, dia pasti dapat melakukan hal itu. Membuat semua makhluk di alam semesta sujud menyembah dan meminta belas kasihnya.
SPiCa
Warning and Disclaimer:
Code Lyoko © Moonscoop, France 3, and Canal J
Alice in Wonderland © Lewis Carroll
All the words flow—all my OCs—and nearly the whole idea © Chocochino
The author does not take any material profit from this story
Dedication: Regina Moccha Leonarista and Melantha963
Multi-chapters, OOC, Indonesian, angst failed, Yumi-centric, post-EEMBK, hinted Alice in Wonderland, cyberpunk-medieval AU, rated T for safe, confusing plot, failed visualisation, Adventure/Hurt/Comfort/Romance/Friendship/Family/F antasy/Sci-fi/Angst RnR, also DON'T LIKE DON'T READ
A fic from Chocochinofor Code Lyoko
Chapter 10: Importance of Whole Existence
.
.
"Apa tadi kaubilang? SPICA? Singkatan dari ... apa?"
Alde jadi merasa sedikit ketakutan setelah menyatakan kebenaran yang ada; sebenarnya adik kembarnya ini menerima fakta yang dilemparkannya atau tidak, sih? Sudahlah. Dia sudah terlanjur berbicara, biarkan Ayah yang menyelesaikan semuanya.
"SPICA. Space Projector to Initialize Computer Aesthetics."
"Apa tadi singkatannya?" gadis itu kembali bertanya. Duh, jangan-jangan dia belum bisa menerima kenyataan, lagi? Bagaimana kalau dia langsung memaksa untuk dipulangkan ke bumi saat semuanya belum siap?
"Space Projector to Initialize Computer Aesthetics." Alde berusaha untuk menutupi getar kecemasan dalam suaranya. Momen kebenaran seperti ini memang menegangkan, seperti yang dibayangkannya sedari dulu.
"Apaaa?" Alyss memilin rambut panjangnya dengan jari telunjuk kanan, pertanda bahwa dia sedang berpikir keras. "Serius, aku ini biasa berbahasa Prancis dan Jepang, jadi pelan-pelan kalau kauingin aku segera mengerti singkatan dalam Bahasa Inggris apa yang kaukatakan itu!"
Oh. Jadi itu alasannya mengapa Alyss terus bertanya.
"Hahaha!" pemuda berusia 16 tahun itu tertawa terbahak-bahak. "Duh, adikku yang paling manis sedunia—"
"—adikmu itu memang hanya aku seorang, Alde," gadis itu menyilangkan kedua lengan di depan dada sambil melemparkan tatapan kesal, "jangan sok menggodaku seperti itu!"
"—kuulang sekali, ya. Space. Projector. To. Initialize. Computer. Aesthetics. SPICA. Sudah paham, belum? Atau harus kuulang sekali lagi sampai kamu mengerti?"
Yang ditanya malah semakin marah. "Kau sedang mempermalukanku! Iya, aku tahu aku memang bodoh, dan kamu juga sudah lebih lama tinggal di sini daripada aku, biarpun aku tidak tahu pastinya berapa lama. Sudahlah! Kau sama sekali tidak membantu! Nanti, kalau aku mau menghafalkannya lagi, aku akan bertanya padamu."
Aldebaran Liddell masih tidak bisa menahan tawanya. "Aku tinggal di Spica satu tahun, kalau kaumau tahu," balasnya santai, lalu bergerak untuk mencubit pipi Alyss yang lumayan gempal itu. "Dan aku tidak mau merendahkanmu, tapi kamu memang lucu!"
"Kalau kau tidak berhenti meledekku, aku akan pergi!"
"Iya, iya" ancamannya terdengar lucu di telinga Alde. "Maaf deh, ayo duduk lagi. Akan kujelaskan padamu semua yang perlu kautahu mengenai SPICA, aku janji."
Alyss kembali duduk dengan tenang di atas batu, mencari posisi yang membuatnya nyaman. "Oke. Sekarang kamu boleh bicara. Sepuasnya. Aku di sini mendengarkan."
"Baiklah," Alde berdeham sekali. "Jadi, waktu masih di Paris, kau pernah mendengar nama ini tidak? Hem ... Profesor Waldo Schaeffer? Atau mungkin kau mengenalnya dengan aliasnya, Franz Hopper? Warga Spica sendiri mengenalnya sebagai White Joker."
Alyss mengernyitkan kening. Alisnya terlihat lucu saat sedang bertaut seperti itu—ingatkan dia untuk sering-sering memaksanya berpikir dalam (oh, hentikan, kalian di sini tidak untuk melakukan aksi romantisme, bukan?) seperti sekarang. "Dia ... orang yang membuat Lyoko dan X.A.N.A, bukan?"
"Sebenarnya, Lyoko dibuat oleh Waldo untuk menutupi SPICA yang ada di bawahnya," Alde mulai menggunakan gerakan tangan sembari menjelaskan. "SPICA dirancang oleh Profesor Schaeffer sebagai tempat perlindungan untuk dirinya dan anaknya, Aelita Schaeffer—kalau tidak salah, dia temanmu di Paris, kan?—dari musuh-musuh yang mengejar mereka. Desainnya transpirasi dari cerita Alice in Wonderland, karena itu adalah cerita kesukaan Aelita pada awal-awal proses merancang dunia ini. Profeosr Schaeffer membuat SPICA serealistis mungkin dengan menambahkan begitu banyak sensor dan efek yang membuatnya terlihat manusiawi. Di sekeliling SPICA, dia melapisinya dengan apa yang kausebut dengan lautan digital. Baru di bagian atasnya, dia membentuk Lyoko dan X.A.N.A sebagai penjaga mereka."
Mulut Alyss menganga mendengarnya. "Oh—hei, tunggu, bagaimana caranya kautahu tentang Lyoko?"
Ups, lupa. Alde baru ingat kalau masalah Lyoko sebenarnya merupakan salah satu rahasia terdalam Yumi, pantas saja Alyss langsung curiga mendengarnya. "Saat kamu masih pingsan di Aula Cermin, aku menonton semua memorimu. Jangan tanya dulu bagaimana caranya—mungkin nanti kaudapat menebak alasannya, tapi bukan sekarang."
"Jadi, Lyoko yang menjadi kawasan bermain kalian itu sebenarnya digunakan untuk mengalihkan perhatian musuh-musuh Prof. Schaeffer. Jika sampai ada yang jatuh ke dalam 'lautan digital', mereka akan jatuh di lapisan terluar SPICA, tempat kerja Profesor. Di situ, dia memiliki kekuasaan mutlak untuk menjebak musuhnya menjadi virtual selamanya—dengan menghapus kode DNA yang digunakan untuk materialisasi nantinya—dan menghilangkan poin nyawa mereka. Secara tidak langsung ... oh, sepertinya kau sudah pernah nyaris mengalami hal itu, bukan?"
"Ya, aku sudah ingat," Alyss mengangguk mendengarkannya. Dia seperti masih harus menggali memorinya lebih dalam untuk mengingatnya. Tunggu, bukannya kejadian penting seperti itu seharusnya sangat mudah untuk diingat? Mengapa Alyss harus berusaha keras untuk memanggil kenangan tersebut kembali? Ah, biarkan saja.
"Sayangnya, saat pada akhirnya Prof. Schaeffer dan anaknya berhasil masuk ke dalam Lyoko, X.A.N.A rupanya memberontak. Musuhnya berhasil memanfaatkan sang penjaga untuk melawan penciptanya sendiri, entah bagaimana caranya. Jadi X.A.N.A menawan Aelita di Lyoko sebelum sempat diajak ke SPICA, sementara Waldo Schaeffer berhasil masuk ke SPICA dan membekukan Lyoko serta mematikan superkomputer sekaligus mengunci seluruh akses ke dunia luar—sampai akhirnya Jeremie Belpois menyalakan kembali superkomputer. Kira-kira kautahu cerita selanjutnya.
"Sementara kalian melawan X.A.N.A, Prof. Schaeffer berhasil menyempurnakan SPICA, namun setelah mengetahui bahwa anaknya berhasil keluar dari dunia virtual buatannya, dia ingin sekali menyusul anaknya, berharap bahwa musuh-musuhnya sudah tidak mencarinya lagi. Salah besar. Saat Ulrich Stern, sahabatmu itu, menyerahkan dirinya untuk mati di Lyoko, dia sebenarnya masuk ke lapisan tempat kerja Profesor, membawa serta X.A.N.A yang terikat dengannya. Dengan demikian, pada akhirnya, musuh Profesor berhasil memasuki tempat perlindungan Profesor.
"Mengetahui bahwa X.A.N.A berhasil menemukan jalan masuk menuju Spica, dunia yang kita huni sekarang, dan menjadi Black Joker, Prof. Schaeffer sadar bahwa dia harus menghancurkan dunia buatannya ini secepat mungkin. Namun masalahnya, Spica dirancang sebagai dunia yang sangat tertutup—sekali masuk, tidak ada jalan keluar ataupun akses, kecuali jika Prof sendiri yang membuatnya; aku salah satu dari sedikit yang memiliki akses itu; aku bisa bicara dengan Prof kapan pun aku mau—sehingga Prof pada akhirnya memutuskan untuk memasukkan manusia ke dalam Spica.
Pilinan rambut Alyss semakin lama semakin kusut saja. "Jadi sebenarnya, dengan Ulrich mengorbankan diri untuk menyelamatkan Lyoko, dia sebenarnya sedang membahayakan Franz Hopper?" Matanya langsung menatap ke langit. "Profesor Hopper, maafkan aku soal itu!"
Alde tertawa kecil. "Dia tentu saja sudah memaafkan kalian soal itu. Namun yang menjadi masalah adalah bagaimana cara untuk mencegah Black Joker untuk memanfaatkan SPICA sebagai jalan keluar untuk mengendalikan dunia. Bayangkan kalau SPICA digunakan sebagai tempat untuk memusnahkan orang-orang yang tidak bersalah. Kalau mereka berhasil mengembangkan kemampuan-kemampuan tersembunyi yang dimiliki oleh dunia virtual ini ... sangat berbahaya!"
"Lalu, bagaimana dengan Ulrich?"
"Nah, sebenarnya alasan lain mengapa Prof. Schaeffer mau membawa Ulrich Stern ke dalam SPICA adalah karena dia ingin memanfaatkan kode DNA yang dimiliki olehnya. Saat Waldo Schaeffer mengunci dirinya sendiri dalam dunia ini, sebenarnya dia juga menghilangkan kode DNA tubuhnya sendiri. Dia perlu kode itu untuk menciptakan tubuh fisik yang baru, sehingga dia bisa kembali termaterialisasi di bumi. Nah, saat itu, Ulrich adalah pilihan yang tepat. Lagi pula dengan cara itu, mungkin saja dia bisa menyelamatkan nyawa Ulrich, bukan? Sayangnya kalian terlanjut mematerialisasikan tubuh Ulrich dan menghilangkan kode DNA yang dimilikinya. Dan lebih-lebih lagi masalah X.A.N.A yang menyusup dalam sistem. Prof. Schaeffer terpaksa harus menantikan tubuh yang baru—dia tidak ingin mengambil orang yang masih hidup secara sembarang, itu akan sama saja dengan membunuh. Jadi dia mengambil mereka yang nyaris mati. Dia memilih Yumi Ishiyama."
Alyss hanya menaruh tangannya di dada dalam keadaan terkepal. "Dia memilih aku?"
"Secara harfiah, bukan," jawabnya sambil menggelengkan kepala.
Alde menatap ke langit, lalu berpura-pura menguap. Dia belum bisa menjelaskan bagian ini—perlu persiapan kata-kata yang tepat agar tidak ada yang salah paham. "Hoam, sudah larut malam, Alyss. Ayo, tidur. Besok kau masih harus berkeliling Markas dan berlatih."
.
.
Tadi malam—atau pagi hari? Sepertinya sudah lewat tengah malam saat dia meringkuk di tempat tidur dalam kamar yang ditunjukkan Alde untuknya dalam Rumah Utama—gadis itu tidak bisa tidur dengan nyenyak akibat memikirkan penjelasan-penjelasan aneh yang diterimanya semalaman. Itulah sebabnya mengapa matanya yang khas Asia Timur terlihat kekurangan cahaya ceria.
Lagi pula, apa maksudnya dengan 'secara harfiah, bukan' yang disampaikan Alde? Bukannya dia itu Yumi Ishiyama yang diberikan alias Alyssora Liddell? Apa maksudnya dia bukanlah Yumi? Kalau dia bukan Yumi, lalu untuk apa semua memori yang ada di kepalanya sekarang? Menyiksa saja.
Satu hal lagi yang membuatnya bertanya-tanya, apa itu berarti Ulrich adalah Alde? Namun kalau Alyss kenyataannya bukan Yumi, berarti Alde juga bukan Ulrich, dong.
Semua ini benar-benar memusingkan.
Saat gadis itu berpapasan dengan kakak kembarnya di tengah lorong Rumah Utama—akibat kamar mereka yang berdekatan letaknya selaku pemain penting dalam kelanjutan pemberontakan—dia langsung menarik jubah hijau tuanya dan berbisik tepat di telinganya. "Kalau sampai kau tidak memberitahukanku fakta yang sebenarnya, semuanya, dan secepatnya," Alyss memberikan penekanan pada tiga kriteria yang diucapkannya, "aku bersumpah akan mengubahmu menjadi nyamuk. Ingat itu baik-baik."
Sebelum mereka menjauh untuk mengurus keperluan masing-masing sebelum sarapan, pemuda Liddell itu hanya tertawa kecil. "Consider me warned," sebuah cengiran terlukis di bibirnya dan—tunggu, apa itu benar-benar ada semburat kemerahan di pipinya?
Dasar pembuat frustrasi; Alyss kan, tidak pandai berbahasa Inggris!
(dan apa itu juga benar-benar pipinya yang mulai memanas?)
.
.
Semua penghuni Markas Orion rupanya makan di tempat yang sama, yaitu di halaman belakang. Ada beberapa meja dan bangku kayu panjang yang penuh makanan di atasnya, mengingatkannya dengan Aula Besar di film Harry Potter. Yang jelas, kata Alde, rasa makanan di Markas lebih enak dari roti panggang seafood yang pernah dimakannya waktu mencapai Distrik Adamas en Corona. Dan omong-omong soal Adamas, dia melihat ada Mia di deretan wanita-wanita yang memasak makanan. Rupanya dia ikut dalam pemberontakan!
Tidak jauh dari tempat makan, ada tempat latihan. Dia bisa melihat beberapa booth untuk melatih kemampuan bertarungnya yang sangat bagus—ingatkan dirinya untuk kembali melatih kemampuan bela diri dan melempar pisaunya.
"Meong, jangan berdiri saja!"
Alyss langsung melompat saat Kucing Chesire menggesekkan bulu-bulu belang birunya pada kaus kaki Alyss. "Chesire! Kalau kaumau berteleportasi, jangan membuatku kaget seperti itu, dong!" serunya sambil mengelus dada. "Iya, aku hanya ingin melihat-lihat seperti apa Markas, mumpung hari sudah pagi," gadis itu melihat langit dan lupa kalau di Spica tidak ada matahari, "dan apa yang akan aku lakukan pagi ini."
"Menurutku, kamu bisa berlatih menggunakan pisau belati setelah ini," Chesire ikut melihat ke arah booth pelatihan. "Maksudku bukan hanya melempar pisau seperti yang akhir-akhir ini kaulakukan bersamaku, tapi juga menggunakan pisau belati untuk pertarungan jarak dekat. Kautahu kan, belati juga bisa jadi sama efektifnya dengan pedang—jadi kamu mampu untuk menyamai Alde nantinya. Dia adalah pemain pedang terhebat di Markas Orion."
Alde sebagai pemain pedang terhebat? Alyss tidak terkejut mendengarnya. Mungkin dia bisa mengikutinya sebagai pemain belati terhebat di seluruh Markas. Bola matanya yang sewarna rerumputan itu menangkap lambaian tangan Mia yang mengajaknya untuk duduk makan bersama-sama, sementara saudara kembarnya sudah asyik menikmati sarapan dengan anak-anak di meja lain. Hari ini mungkin akan menjadi hari yang panjang.
"Kausudah makan, Chesire?" tanyanya sambil membungkuk, lalu menggendong sang kucing dengan kedua lengannya. "Ayo, aku penasaran apa menu sarapan hari ini."
.
.
"Perkuat genggamanmu, Nak!"
Pelatih Alyss saat ini adalah salah satu teman akrab Alde di Markas, namanya Pugio. Dilihat dari raut wajah dan perawakannya, usianya mungkin sekitar kepala empat. Lelaki itu sangat ahli menggunakan belati dan memperlakukannya sama seperti murid-muridnya yang lain—untunglah, di Markas Orion, tidak ada yang menganggapnya terlalu spesial, atau Alyss akan kesulitan untuk beradaptasi. "Kalau genggamanmu sendiri tidak kuat, bagaimana caranya kamu bisa mempertahankan senjatamu sendiri? Betulkan peganganmu!"
Hari pertama di Markas, waktu sepertinya baru pukul sepuluh pagi, dan gaun Alyss sudah basah kuyup oleh keringat. Dia tidak tahu bagaimana caranya bertahan di tempat ini untuk hari-hari ke depan. "Pegangannya terus terasa licin, Pugio!" protesnya dengan wajah memelas. "Licin oleh keringat!"
Bapak itu maya mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Cari pelapis pegangan belati yang bisa menyerap keringat terus menerus, mungkin? Asal kautahu saja, tadi aku melihatmu menyihir belati latihanmu untuk menyesuaikan pegangan tanganmu, jadi mungkin kamu bisa melakukan hal yang sama untuk masalah ini."
Upas. Ketahuan, deh. Alyss langsung membayangkan sebuah kain handuk yang sudah sangat tipis namun masih bisa menyerap air terus-menerus tanpa membuatnya basah sama sekali. Dia bayangkan kain itu melapisi pegangan belatinya dan melekat, menyatu dengan belati. Sempurna.
"Kalau kau terus memperbaiki belati latihan itu," Pugio memberikan komentarnya saat melihat Alyss sibuk menyihir belatinya, "mungkin kau bisa menjadikan belati itu sebagai milikmu sepenuhnya."
Mata remaja itu terbelalak. "Benarkah? Maksudku ... bagaimana dengan anak-anak lainnya yang ingin berlatih juga? Masa aku harus mengambil jatah mereka? Bagaimana kalau yang berlatih ada banyak dan belatinya tidak cukup?"
"Persediaan belati untuk latihan masih ada banyak, Alyss Liddell," jawabnya sambil tertawa. "Lagi pula, kebanyakan penghuni Markas memang sudah menganggap sebagian belati latihan sebagai milik mereka sendiri dan menamainya. Apa kamu ingin memberikan nama untuk belatimu yang baru ini?"
Alyss menimang-nimang senjata tajam di tangannya itu. "Aku ingin memberi nama pada benda kesayanganku dengan sebutan 'Finite' sejak dulu, entah mengapa. Maksudnya, aku memang menyukai sesuatu, benda itu memang memiliki kemampuan yang tidak terbatas, namun segala sesuatu pasti ada batasnya. Belati ini tidak dimaksudkan untuk melukai orang-orang yang tidak bersalah, bukan? Dia memiliki batasan. Namanya Finite."
Pugio tersenyum mendengarnya. "Nama dan arti yang bagus, Nak. Dan kau akan kuanggap sebagai salah satu murid terbaikku sepanjang masa. Nah, ayo berlatih lagi! Sekarang aku akan menunjukkan padamu cara menjatuhkan senjata lawan."
.
.
Seminggu ini, Alyss tidak memiliki waktu khusus dengan Alde untuk bicara mengenai kecurigaannya tentang SPICA. Ya, memang benar bahwa sesekali mereka akan pergi ke batu besar di sungai untuk membicarakan hal-hal mengenai dunia virtual yang baru dikenalnya beberapa hari terakhir ini dan membongkar fakta-fakta penting.
Contohnya saja, mengenai penduduk di SPICA. Semuanya adalah kecerdasan artifisial, mulai dari warga Kota Corona en Trump sampai King of Diamonds dan Mad Hatter. Dalam hati, Alyss mengakui kehebatan Franz Hopper—membentuk AI yang sebegitu banyaknya pasti bukanlah pekerjaan mudah. Namun dengan pengalaman menciptakan X.A.N.A, pasti hal itu dapat dilakukan dalam waktu yang relatif lebih cepat.
(—kalau mau jujur, sebenarnya Alyss ingin sekali memiliki teman sebaik Mad Hatter atau kucing yang selucu Chesire Cat saat sudah kembali ke rumah, jika semua ini pada akhirnya bisa diselesaikan.)
Selain itu, Alyss belajar bahwa pada dasarnya, sihir yang dimilikinya adalah kemampuan untuk mengontrol kode-kode yang menyusun Spica. Semakin kreatif dan semakin besar kekuatan penggunanya, maka akan semakin hebat penyesuaian kode yang dihasilkan. Contohnya, saat Alyss mengubah bentuk benda-benda dengan sihirnya, sebenarnya dia sedang menambahkan atau mengubah susunan kode-kode yang menyusun benda tersebut. Alde bahkan berkomentar bahwa kekuatan Alyss sebenarnya lebih besar dari kekuatan Alde.
"Coba bayangkan," katanya sambil menggerakkan kedua tangannya seperti dirigen memimpin orkestra—oh, Alyss juga mengerti kok, kalau Alde adalah tipe orang yang secara refleks akan menggerak-gerakkan tangannya saat sedang menjelaskan sesuatu; semakin rumit materinya, maka semakin aktif gerakan tangannya. "Kalau kamu bisa mengubah sesuatu dalam waktu yang sangat cepat, kamu bisa membuatnya seakan-akan sedang bergerak. Sama seperti aku yang bisa mengubah kedudukan benda. Makanya, kekuatanmu itu lebih besar dariku."
"Lho, bukannya kamu lebih hebat dari aku?" Alyss mengerutkan kening. "Hopper membuatmu lebih dulu dari aku. Kamu tinggal di Spica lebih lama dari aku. Kamu memiliki fokus yang lebih tinggi dariku. Keahlianmu dalam melakukan segala sesuatu lebih hebat dari aku—ayolah, kau bahkan bisa mengalahkanku dalam pertarungan tadi siang! Menggunakan belati pula! Jadi seharusnya, kamu yang lebih kuat dari aku."
Alde menggelengkan kepala sambil tersenyum lembut. "Kamu mempelajari semua ini dalam waktu dua pekan saja, dan perkembanganmu sudah sejauh ini. Kamu sudah mulai sering memenangkan pertarungan melawan anak didik Pugio yang sudah belajar lebih awal dari kamu. Kamu sudah mulai bisa mengubah bentuk seisi Aula Makan menjadi hutan belantara tanpa terengah-engah. Aku membutuhkan waktu lebih lama darimu untuk menguasai hal-hal seperti itu. Aku bahkan tidak meragukan kalau satu hari nanti, kamu bisa melakukan semua yang aku bisa lakukan."
"Ta-tapi, Alde—"
"Tidak ada tapi-tapian. Kalau kamu terjebak di dunia ini saat Jabberwock berhasil dikalahkan, kamu akan menjadi seorang ratu yang sangat kuat, baik hati dan dihormati oleh seluruh rakyat di bawah kepemimpinanmu."
Alde mengusap-usap rambut hitam lebatnya dengan perlahan, membuat pipinya semakin panas. Uh, mengapa wajahnya jadi sering memerah begini di hadapan Alde? Setidaknya ada semburat yang sama, terpulas tipis-tipis di wajahnya.
(Kalau kita berhasil keluar dari dunia ini, hubungan kita akan menjadi seperti apa?)
.
.
Pelajaran sihir (atau mengubah susunan kode, berdasarkan penjelasan Alde kemarin malam) bersama Kucing Chesire tidak pernah terasa membosankan. Dua hari yang lalu, Alyss sudah cukup kuat untuk membuat koki Markas kalang kabut karena mendadak Aula Makan menghilang seluruhnya, berganti menjadi pohon-pohon lebat dengan taman bunga beraneka ragam di baliknya, dan dia sama sekali tidak terengah-engah.
"Kautahu, Chesire?" gadis itu memulai pembicaraan dengan melontarkan komentar di tepi Sungai Eridanus, tempat mereka paling sering melakukan latihan bersama. "Aku mulai berpikir, kalau aku bisa membentuk sebuah labirin secara cepat dengan kekuatanku saat pertempuran nanti dan meledakkannya dengan cepat saat banyak pasukan lawan terjebak di dalamnya, mungkin aku bisa membantu dalam pertarungan."
"Ide yang bagus, Alyss." Seperti biasa, saat sedang melatih Alyss, Chesire tidak pernah menggunakan kata 'meong' yang sudah menjadi ciri khasnya tersebut. "Sekarang, bentuknya seperti apa? Kamu harus bisa mengingat minimal satu bentuk labirin secara mendetail untuk membentuknya."
"Justru karena ide itu, kemarin aku sempat pergi ke perpustakaan yang ada di Rumah Utama sebelum makan malam. Tapi sebelum mempraktekkannya, aku ingin bertanya padamu apa itu ide yang bagus atau tidak. Kalau tidak, aku bisa membatalkannya—untuk membuat labirin yang besar, pasti membutuhkan energi yang besar."
"Karena kamu ingin sekaligus meledakkannya, mungkin kau bisa memulainya dengan yang berukuran kecil dulu—membuktikan apa kamu bisa meledakkan seluruh labirin atau tidak," ujar Chesire sambil menepuk ranting di pohon tempatnya bertengger. "Kerjakan itu dari atas agar pandanganmu sempurna."
Kadang, Alyss berharap dia memiliki ingatan fotografis. Sulit sekali untuk mengingat detail dari labirin yang sudah susah payah diingatnya kemarin malam—apalagi setelah Alde memberi penjelasan tentang SPICA lebih lanjut dengannya! Pertama-tama, sambil membuka mata, dia membayangkan seluruh rerumputan yang akan diubahnya bertumbuh menjadi panjang, lalu berubah menjadi dinding semak-semak. Lalu dinding-dinding itu berubah posisi menyesuaikan dengan bentuk labirin yang akan dibuatnya. Tidak lupa, tepat di tengah-tengah, ada rerumputan yang berubah menjadi setumpuk dinamit tersulut api kecil di ujungnya.
Labirin buatannya itu setinggi pinggang Alyss dan selebar meja di Aula Makan. Keren.
"Minggir!" Chesire langsung berseru keras. "Labirinnya akan meledak!"
Alyss hanya tertawa mengamati mahakarya buatannya dalam jarak enam langkah dari dinding semak terluar. "Tapi labirin ini keren sekali! Aku jadi tidak ingin—"
duar!
byur!
"Alyss! Sudah kuperingatkan kalau labirinnya akan meledak!" Chesire berseru keras dan segera berteleportasi ke tepi sungai di mana gadis Liddell itu tercebur akibat terkena efek ledakan dinamit dalam labirin. "Kau tidak apa-apa, kan?"
"Yang tadi itu keren!" Alyss memunculkan kepalanya dari sungai. "Untung juga sih, dasar sungai tempatku jatuh ini isinya pasir, bukan batu. Iya, aku tahu aku bisa terluka, tapi tadi itu seru sekali!"
Remaja SMA itu membuka mata dan melihat ke sekelilingnya. Di mana Chesire? Bukannya tadi kucing biru itu ada di dekat sungai, mengkhawatirkan kondisinya? Mengapa sekarang dia hilang lagi? Apa dia marah dan akhirnya berteleportasi ke tempat lain? "Eh ... Chesire? Kamu marah padaku? Chesire?"
Gaun Alyss basah kuyup, padahal ini masih pukul sembilan pagi. Menyebalkan, dia harus segera ganti baju lagi sebelum melanjutkan aktivitasnya kalau tidak mau masuk angin. Sambil merangkak kembali ke permukaan, Alyss berteriak mencari kucingnya. "Chessi sayang? Aduh, aku minta maaf ya, soal tadi! Janji deh, aku tidak akan membahayakan diriku sendiri lagi!"
Pemilik bulu kebiruan itu masih menghilang entah ke mana. "Che-chesire, jangan buat aku ketakutan seperti ini, dong..."
"Mencari seseorang, Nona Muda?"
.
.
Ada suara bas milik seorang laki-laki muda yang menyambut telinga sang gadis bergaun hijau muda basah kuyup.
Segera setelah kakinya berbalik ke belakang, Alyss bisa melihat seorang pria dengan pakaian serba hitam dan topi tinggi dengan hiasan sebuah semanggi hijau berkelopak empat—lambang keberuntungan. Jubah hitamnya berkibar diterpa angin sepoi-sepoi (dan kering, membuat Alyss ingin sekali merenggut jubah itu untuk menyelimuti tubuhnya yang mulai kedinginan) yang meniupkan atmosfer kegelapan. Kuda hitam yang masih ditungganginya sampai sekarang memiliki wajah yang menyeramkan.
"Si-siapa kau?" tanya Alyss sambil bergetar; air di Sungai Eridanus dingin sekali! Sukses membuat giginya bergemeletuk ria karena kedinginan, bukan karena takut pada orang asing di hadapannya. "Bagaimana caranya kau mencapai tempat ini?"
"Bukan urusanmu, Nona Muda," ucapnya dengan nada yang penuh kesombongan. Alyss sangat benci dengan orang-orang yang sok berkuasa seperti yang ada di depannya ini, kehadiran mereka hanya akan menghancurkan suasana hati saja. "Namun untuk sedikit mempermudah pembicaraan kita selanjutnya—"
"Aku bahkan tidak ingin berbicara dengan orang sombong sepertimu," gadis berambut sepunggung itu langsung menyela perkenalan sang laki-laki serba hitam mengesalkan tersebut.
"—jangan berani memotong perkataanku, Nona Muda, atau Sang Black Joker sendiri yang akan menunjukkan amarahnya padamu karena telah mengusik ketenangan salah satu pengikut setianya."
Dengan sorot penuh amarah, Alyss langsung menyahut sambil berkacak pinggang. Mendadak rasa dingin di sekujur kulitnya berganti dengan hangat akibat hati yang memanas. "Aku bahkan tidak yakin kalau Black Joker itu layak dipercaya sampai sebegitu hebatnya, terutama olehmu. White Joker jelas lebih baik dari dia."
Menghembuskan napas panjang, laki-laki itu kembali membalas kata-katanya. "Tahan emosimu, Nona Muda, aku tidak sedang bercanda denganmu. Kau tidak tahu dengan siapa kau sedang bicara saat ini."
"Oh, aku tidak peduli. Memangnya apa yang akan kaulakukan sekarang juga padaku? Mengubahku menjadi kelopak semanggi? Atau kau memang tidak bisa melakukan apa pun yang keren?"
"Nona," suara laki-laki misterius itu sepertinya mulai mengandung perasaan geram yang mendalam, "perhatikan ucapanmu. Kau sedang berbicara dengan Jack of Clubs, penasehat King of Diamonds dari Kerajaan Dominion en Trump sendiri. Dan aku diutus oleh Black Joker untuk menyampaikan informasi yang sangat penting untuk dipertimbangkan olehmu."
Pesawat di langit, anjing greyhound melintas
Bekas jalur sepeda di pantai, perahu layar di laut
Tidak terlalu berarti bagiku apa yang aku lakukan
Selama aku bisa pulang kembali padamu
Owl City - Metropolis
A/N: Gah. Kalian para anon reviewers sukses membuatku menulis lagi.
Bukannya aku menganggap apa, tapi kalian ... jujur membuatku geregetan. Untuk pertama kalinya, aku bahagia untuk melihat review yang memintaku update. Dan jujur lagi, aku senang kalian berusaha untuk menebak akhir cerita ini. Tawarannya masih berlaku, lho! Siapa yang berhasil menebak dengan benar, akan dimasukkan sebagai kredit dalam cerita!
Tadinya aku memang berencana untuk membuat kisah ini menjadi novel orisinil buatanku sendiri, jadi selama Camp NaNoWriMo berlangsung, aku akan fokus untuk menulis ulang SPiCa dan melanjutkan chapter 10 sembari berjalan saja. Eh, dengan adanya banjir review dari kalian, aku akhirnya memutuskan untuk menulis chapter 11 terlebih dahulu. Gaya tulisannya berbeda jauh, ya, dengan yang dulu? Iya, aku juga sadar saat mulai kembali mengetik. Jadi sebagai rencananya, cerita ini akan ditulis sampai ending yang ditetapkan untuk ukuran Fanfiction; alias plot-nya dipersingkat. Sampai selesai. Aku usahakan demikian. Maaf ya, kalau aku jadi meninggalkan kalian semua-mungkin ini memang penyakitku.
Omong-omong, Melantha963 adalah yang memberikan nama untuk SPICA, dan namanya keren banget! Jangan lupa, untuk kalian yang tertarik dengan fandom Penguins of Madagascar, dia menulis cerita humanized-AU dalam bahasa Inggris yang super duper menegangkan! Silakan dibaca ;)
Sampai jumpa di chapter 11: Ugly Verity Kills Your Faith. Sayang kalian semua! Muah!
Dream out Loud! =)
Anon Review Replies: #tepar
Leonyta Camelia: Eh ... bilang nggak ya ... kalau kamu memperhatikan percakapan Alde dan Alyss, kamu pasti bisa menebak jawabannya :) Bukannya nggak lanjut. Kamu ingat, ada chapter 0 dalam cerita ini. Kalau dihitung, jumlahnya memang 10.
Lie Shin Yie: Apa pun yang terjadi, kalau ternyata ada kesalahan, anggap aja 1) Alde berusaha meyakinkan otak Yumi, atau 2) Aku salah perencanaan hiksu ._.v
Gabrielle: ... itu hubungannya apa ya? Hehehe #garukkepala
Jeanny: Yah, tunggu saja apa yang akan terjadi. Yang pasti, dalam pertempuran, Alyss akan bertempur dengan Alde. Janji!
Claire: Aduh, coba deh ambil petunjuk yang kusebar di bab ini, penting untuk kelanjutan cerita, lho! Semoga kalian ada yang bisa menebak dengan benar #amin
Reni: Ugh ... itu sulit untuk dijawab kebenarannya. Tenang, ending dari cerita ini sudah dipikirkan dengan matang setelah menerima wangsit Raja Kambing, kok (alias jamban. Oh, tolong, itu bank ide paling luar biasa sepanjang masa.)
Charlotte: Masa endingnya secepat itu? Alde mengorbankan diri ... bukannya itu berarti kamu berpikir bahwa ceritanya mau selesai? Penjelasan tentang SPICA saja belum-_-"
Mathilde: Tergantung kata jamban #ehsalah maksudnya tergantung kata hati...
Leonie Leona: Here you go, hun!
Cecille: Duh, masalahnya di hatiku juga berat untuk membunuh Alde ... tapi kamu juga nggak nyangka kan, kalau Spica itu dunia virtual? Plotku nggak semudah itu kok, semoga... ;)
La: Kan Yumi wanita yang kuat. Tanpa laki-laki, dia pasti bertahan! #sendirinyaapa
Laura: Tepat sekali! Yang ada juga hurt/comfort kok
Raquel: Kamu sudah baca yang selanjutnya? Itu Alde dan White Joker, mau siapa lagi? :D
Tania: Cerita ini kan datangnya sebelum Severely, jadi ide Yumi menyelamatkan Ulrich itu belum keluar... tapi bisa juga diambil nih #heh
Simon: Berdoa gih, supaya mereka baik-baik aja #plak
Vega: Ini bagian sci-fi-nya! *tebar confetti*
Heloise: Hontouni gomen! Ini udah update kok... *berlindung di balik bantal*
Maria: O-oke itu seram. *meringkuk di balik bantal* Ini update kok cintaaahh! Ampun!
