Melukis Langit
Summary: Bagi Alibaba, tidak ada yang namanya malaikat. Ya, kecuali suaranya bisa membuat hatimu hancur berkeping-keping atau menumbuhkan harapan baru.
Rate: T
Disclaimer: magi ©Shinobu Ohtaka. Fic ngaco ini punya saya.
Warning: totally OOC. Alay. Abal. Ngaco. Tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengandung istilah-istilah yang membingungkan dan bisa jadi disalah artikan. Tidak usah Anda baca jika Anda merasa fic ini nggak penting.
.
.
.
.
.
.
.
XI: Confront.
"There is always some madness in love. But there is also always some reason in madness."
― Friedrich Nietzsche
.
.
.
.
.
.
.
Judal masih memperhatikan suster yang membawakannya sarapan pagi. Tubuhnya kurus, wajahnya cantik. Kulitnya kuning langsat. Makanan pagi yang dibawakannya adalah semangkuk bubur dengan daging ayam, sup sayuran dengan makaroni dan sebutir telur rebus. Setelah menaruh pakaian ganti untuknya, Judal mengeluh pada suster tersebut,
"Boleh minta makanan yang agak ringan?"
Suster itu menoleh. Tatapannya menyiratkan kebingungan.
"Mungkin roti." Tambah Judal. "Roti dengan susu saja cukup."
Suster itu tersenyum, lalu mengangkut sarapan pagi Judal keluar. Judal beranjak dari ranjangnya ke kamar mandi, sekedar untuk cuci muka, sikat gigi, membasuh tubuhnya dengan waslap. Setelah ganti baju, Judal kembali ke ranjangnya dan menyibukkan diri dengan nonton TV atau main game, sampai suster itu kembali membawakan Judal empat lembar roti gandum dengan tiga macam selai dan segelas susu. Suster itu tersenyum ramah kepada Judal.
"Tidak adakah yang menungguimu, Tuan Al-Sarmen?" tanyanya.
"Aku bisa jaga diriku sendiri." Jawab Judal datar.
Suster itu tertawa lembut, namun Judal tidak memedulikannya. Pintu ruang rawatnya terbuka, dan sosok pria Belanda dengan rambut keperakan dan freckles di sekitar hidungnya masuk sambil menelpon.
"Entahlah. Mungkin satu atau satu setengah ukuran pinggangku. Tidak, tidak. Jangan sampai dua. Ia cuma beda 6cm dariku. Eh? Oke lah. Terima kasih atas bantuannya."
Jafar menutup teleponnya, lalu si suster pamit keluar. Judal mendengus kesal dan memunggungi Jafar.
"Begitukah caramu berterima kasih atas segala fasilitas VIP rumah sakit yang kuberikan padamu?" ketus Jafar tersinggung.
"Kau membayarnya dengan kartu debitku, brengsek." Sembur Judal kesal. "Enam hari disini aku bisa miskin mendadak."
"Miskin sih nggak, kayaknya." Jafar menaruh sebuah amplop tebal di ranjang Judal. "Sumbangan dari para coach dan asuransi dari Lawrence."
Ragu-ragu, Judal mengambil amplop yang menjadi haknya. Isinya uang tunai, dengan jumlah yang hampir setengah dari harga motornya yang ringsek bekas tabrakan tempo hari. Nominalnya membuat Judal sedikit terharu.
"Kenapa kau menjengukku?" tanya Judal lagi.
"Kenapa, ya?" Jafar melipat lengannya di dada dan berpikir sejenak. "Karena kita teman sekelas."
Samar-samar, Judal tersenyum.
"Alibaba mana?" tanya Judal. "Ia tidak ikut denganmu?"
"Dia sekolah. Aku bisa di smack down sama G.I Sharrkan kalau membawa anak kesayangannya bolos." Tukas Jafar santai.
Judal membayangkan, kenapa Kepala Sekolah tidak melakukan hal yang sama terhadap Jafar? Jawabannya sudah jelas: Kepala Sekolah dan Jafar punya teritori sendiri.
"Kau tidak bawa oleh-oleh?" Judal memicingkan matanya. "Biasanya kalau jenguk orang sakit, harus bawa oleh-oleh, kan?"
Jafar melenguh. "Dikasih hati minta jantung."
Judal melirik amplop itu lagi. Apa Jafar kesini hanya untuk mengantarkan amplop itu? Tapi, ya sudahlah. Toh memang ia tidak menginginkan apa-apa. Ucapan tadi hanya untuk mengerjai Jafar. Namun cowok berdarah Belanda itu ragu-ragu mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya. Sebuah kertas persegi panjang berwarna biru muda dengan tulisan emas timbul yang artistik.
MUU ALEXIUS
Poudly Present:
"The Godfather Death" by Brother Grimm.
Date: Wednesday, April, 30th 2014
Venue: Lotus Ballroom, University of Partevia.
The audiences should minimum 13 years old.
Judal tahu, dan pernah mendengar nama itu. Muu Alexius adalah seorang pelukis pasir yang cukup terkenal. Ia mengerenyit bingung menatap Jafar, lalu menatap kembali tiket itu.
"Dia itu storyteller." Terang Jafar. "Kebanyakan yang datang ke pertunjukannya justru anak-anak. Tetapi ia tidak jarang menampilkan cerita untuk orang dewasa. Yah, yang seperti ini. Usia minimalnya 13 tahun."
"Aku bukan bocah. Kenapa harus nonton?" ketus Judal sambil membuang muka.
"Tentu saja harus! Tiketnya mahal, tahu!" gertak Jafar frustasi. "Dan lagi... anggap saja itu hadiah kelulusan."
"Eh?" Judal terperangah. "Ma...makasih."
"Kau bilang kau belum punya tujuan setelah lulus. Mungkin setelah nonton pertunjukkan itu, kau bisa dapat sedikit inspirasi." Jafar mulai berdiri, beranjak dari ranjang Judal. Ia bahkan tidak mengucapkan apa-apa, lalu pergi begitu saja. Judal menatap tiket itu, menimbang-nimbang apakah ia akan pergi nonton atau tidak.
.
.
.
.
.
.
.
"A...Alibaba-kun... ti...tidak sampai..."
Aladdin setengah menggeliat, berusaha menggapai pengait resleting belakang kostum Opera yang akan dia kenakan nanti. Alibaba tertawa geli dan membantunya mengenakkan kostum tersebut.
"Bagaimana?" tanya Alibaba. "Pas, ya?"
Aladdin mengangguk semangat. "Makasih."
"Ung."
Alibaba terdiam. Ia tidak tahu bagaimana menyikapi Aladdin setelah mengetahui bahwa bocah ini memiliki obsesi kepadanya. Wajah polos itu menyembunyikan hal-hal yang mengerikan. Alibaba berada diantara perasaan senang dan takut. Mungkin Aladdin melakukan hal itu karena mencintainya, dan Alibaba begitu senang mengetahui ada orang yang mencintainya. Tetapi takut juga terbersit, membayangkan Aladdin bisa bertindak nekad untuk mendapatkannya.
"Nee... Alibaba-kun nggak apa-apa?" tegur Aladdin.
"Eh? Aku oke kok." Tukas Alibaba singkat.
"Syukurlah..." Aladdin tersenyum cerah.
"Ano..."
Alibaba masih diam, menunggu apa yang hendak diutarakan Aladdin.
"Kau berubah, Alibaba-kun. Dari yang konyol banget sampai sekarang menjadi mature. Yah, konyolnya masih ada sih. Tapi...berubahnya jadi lebih keren, lho! Judal saja bisa Alibaba-kun bikin 'jinak'..." ungkapnya.
"Kau juga berubah," balas Alibaba. "Jadi lebih murung."
Aladdin mengulum senyumnya. "Aku kangen main denganmu, Alibaba-kun. Semenjak Opera, kamu jadi super sibuk."
"Main..." Alibaba tercenung. Entah ada setan apa yang lewat, tersemburlah sebuah ide dari mulutnya.
"Yosh! Hari ini kita main, yuk! Bagaimana kalau basket atau badminton?"
"Kalau begitu aku bisa kalah telak." Tolak Aladdin halus. "Ice Skating?"
"Aku nggak tahu caranya." Alibaba menunduk malu.
"Pasti bisa, kok. Asal belajar semuanya pasti mungkin, kan?"
Alibaba terperangah, lalu mengangguk. Menyetujui apa yang dikatakan bocah ini. Maka, setelah latihan Opera Aladdin menyeret Alibaba menemui Ugo-kun yang dengan setia menunggu Aladdin di dalam mobil sedan mewah produk Italia tersebut.
"Ugo-kun, aku dan Alibaba-kun mau main ice skating." Titahnya.
"Eh? Ice skating?" Ugo-kun mengerutkan alisnya.
"Iya. Ayo jalan, tidak usah banyak komentar!" tegas Aladdin sambil duduk di jok belakang bersama Alibaba.
Ugo-kun tidak berbicara apa-apa lagi. Ia menyetir dengan tenang, sesekali melirik spion untuk mengecek keadaan di belakang dan samping kiri-kanan. Jalanan agak macet, dikarenakan faktor jam bubaran kantor. Butuh dua jam setengah untuk mereka sampai di mal yang menyediakan fasilitas ice skating. Ugo-kun juga mengurusi segala prosedur pembayaran hingga majikannya dan Alibaba bisa langsung bermain.
"Ini." Ugo-kun memberikan Aladdin dua buah voucher untuk ditukarkan dengan sepaang sepatu dan sarung tangan. "Hati-hati."
"Tenang saja. Aku pro, kok." Aladdin memasang pose penuh percaya diri. "Ayo, Alibaba-kun!"
Aladdin menukarkan voucher mereka berdua dengan dua pasang sepatu dan sarung tangan dengan ukuran yang berbeda. Alibaba masih saja berpegangan pada plang pengaman selama tiga puluh menit pertama. Aladdin sudah meluncur dengan mulusnya, bahkan ia bisa beberapa manuver seperti berputar dan melompat. Alibaba mereguk ludah, berusaha melangkah dan meluncur. Tiga detik kemudian wajahnya dicium lantai es. Rasa sakit dan dingin menyengat seketika. Aladdin dengan sigap menariknya hingga berdiri.
"Kalau jatuh, harus langsung bangun lagi! Ujung sepatu ini setajam pisau, lho." Aladdin menunjukkan bagian sol sepatu luncurnya. "Nanti tangan Alibaba-kun bisa terpotong kalau kelindas orang."
Semuanya berjalan alot. Selama dua jam waktu mereka bermain, Alibaba akhirnya bisa meluncur lurus di lima menit terakhir. Yang pada akhirnya tetap menabrak plang pembatas karena tidak tahu bagaimana caranya mengerem. Alibaba jatuh telentang. Aladdin muncul menghampirinya dengan indah, lalu mengulurkan tangannya.
"Capek, ya?" katanya. Alibaba menerima tangan Aladdin dan menarik dirinya bangun.
"Capeknya batin, tahu. Jatuh-jatuh terus itu menyakitkan." Keluh Alibaba.
"Alibaba-kun, lenganmu berdarah!"
Aladdin menarik Alibaba keluar dari arena meluncur, dan membawanya ke ruang medis. Disana, Aladdin diberikan sebuah kotak P3K oleh petugas. Alibaba sendiri tidak menyadari bahwa ternyata lengannya tergores dalam, meninggalkan jejak darah pekat di lengan kemejanya dan rasa sakit kemudian. Aladdin dengan kikuk membersihkan lengan Alibaba dengan alkohol. Tangannya gemetar ketika bekas goresan panjang di lengan Alibaba itu tetap mengeluarkan darah. Beberapa bola kapas yang sudah ternoda darah berjatuhan. Aladdin memekik panik dan memanggil-manggil Ugo-kun. Pria tinggi itu membebat lengan Alibaba yang terluka, lalu dengan sigap menarik keduanya keluar tempat ice skating menuju parkiran mobil.
"Lengan Anda harus di jahit. Yang penting, kita harus cari klinik yang masih buka." Ucap Ugo-kun menjelaskan situasi secara memundurkan mobil keluar.
"Klinik..." Alibaba termenung.
"Tidak apa-apa. Tidak akan sakit, kok. Dan tidak akan sampai di amputasi." Hibur Aladdin.
"Ah, kalau rumah sakit masih buka, kan?"
Ugo-kun melirik sekilas melalui spion belakang ketika Alibaba berseru demikian. Cowok pirang itu terdiam sebentar, lalu berkata,
"Antar aku ke rumah sakit Welsh saja." Tegasnya. "Bisa, Ugo-kun?"
"Ung." Ugo-kun mengangguk, lalu mulai putar balik pada dua lampu merah kemudian.
.
.
.
.
.
.
.
Kalau malam, rumah sakit hening. Bagian yang ramai hanya di lobby, bagian pantry, dan beberapa poli spesialis. Sisanya hening mencekam. Tidak heran bahwa rumah sakit sering dijadikan setting film horror atau thriller. Selain suasana sunyi dan bau karbol yang menyengat hidung, terkadang ada beberapa suster lewat sambil mendorong sebuah kereta penuh dengan alat-alat bedah bekas pakai, hendak dibersihkan. Alat-alat bedah itu mengerikan, seperti bor, gergaji tulang, pisau bedah, alat suntik dan sebagainya.
Judal mencoba kruk barunya. Rasanya pundak dan bagian lipatan ketiaknya sakit, meski baru berjalan beberapa meter dari ruang rawatnya. Mungkin itu semua karena ia belum biasa. Seorang suster bertanya, apakah ia tersesat atau bagaimana. Namun Judal menepisnya dengan halus dan berkata bahwa ia baik-baik saja. Memakai kruk ternyata sulit. Seperti menggerakkan egrang, meskipun tidak sepenuhnya sama. Hanya satu kakinya yang bisa menapak dengan sempurna. Gips tebal membuat kakinya yang terluka kadang terasa gatal. Setelah keluar dari lift, Judal ragu-ragu menjejakkan kakinya yang terluka ke lantai rumah sakit yang dingin.
Tidak sakit.
Judal memulai langkah pertamanya, lalu langsung mencengkram kruk kuat-kuat. Kakinya yang di gips terasa benar-benar nyeri. Dokter memang masih melarangnya berjalan tanpa kruk. Namun Judal tidak tahan seharian berada di ruang rawat. Ia memutuskan untuk istirahat sejenak, lalu duduk di salah satu ruang tunggu yang ia bahkan tidak tahu itu poli apa. Seorang suster menegurnya.
"Anda sudah dapat nomer antrian, Tuan?"
Judal menggeleng. "Aku pasien rawat inap. Di suite 1."
"Anda tidak seharusnya berjalan-jalan malam-malam." Tegur suster itu. "Ayo, kembali ke kamar Anda."
"Capek." Keluh Judal. "Biarkan aku duduk sebentar!"
Suster itu terkesiap, lalu menawarkan bantuan jika Judal hendak kembali ke kamarnya. Judal mengeluarkan ponselnya, mengecek beberapa media sosial. Ada seorang pengusaha yang berkicau padanya bahwa ia akan memesan kepada Judal beberapa buah lukisan luminous dan beberapa saran mengenai speaking wall atau tembok yang di desain dengan quotes. Di dalam grup Lawrence School of Music, coach Yamuraiha mengingatkan bahwa Opera tinggal H-20.
Tidak ada kabar dari Alibaba.
Judal mendengus kesal, memutuskan untuk membuang egonya dan mengirim pesan singkat kepada cowok pirang itu. Judal butuh sepuluh menit untuk menentukan kata-kata apa yang akan dikirimkannya kepada Alibaba. Pada menit ke dua belas, pesan itu sudah terkirim. Judal menatap pesan terkirim tersebut cukup lama dan merenungi kata-kata itu pantas atau tidak.
Hey, kau dimana?
Lalu dari pintu ruang praktik poli yang kini ia tempati keluarlah tiga orang yang agak ganjil. Yang pertama pria tinggi besar dengan senyum lembut dan selalu bungkam. Yang kedua adalah bocah laki-laki, sekitar berusia 12 tahun, yang kelihatan begitu panik sekaligus bersyukur. Yang ketiga cowok berambut pirang dan wajahnya agak nelangsa. Salah satu lengannya di perban, dan lengan kemejanya di gulung. Di gulungan lengan kemeja tersebut terdapat noda darah.
Cowok berambut pirang itu Alibaba Saluja.
Judal sekonyong-konyong hendak meneriaki nama cowok pirang itu. Namun sebelum sepatah suara meluncur dari bibirnya, ia mengatupkannya kembali rapat-rapat. Kenapa Alibaba bersama Aladdin? Hatinya mendadak gusar. Alibaba menoleh dan tidak sengaja, pandangan Judal serta Alibaba bertemu. Cowok pirang itu berlari menghampirinya dan refleks memeluknya.
"Judaaaaal~~ ternyata kau sudah jauh lebih sehat, ya?" ungkapnya.
Judal melihat pandangan Aladdin meredup. Airmukanya mengeras. Ia meremas buntalan kain di tangannya erat-erat.
"Yah, begitulah." Jawab Judal singkat. "Kenapa kau ada di sini?"
"Eh? Aku..." Alibaba mengecek ponselnya. Ternyata pesan singkat dari Judal baru sampai. "Ada insiden kecil. Aku dan Aladdin sedang main ice skating, lalu lenganku berdarah. Bolak balik jatuh, sih. Tapi sudah bisa."
"Lalu?"
"Aku dapat lima jahitan." Alibaba memamerkan perban di lengannya.
Aladdin menghampiri mereka berdua. Judal menatap bocah 12 tahun itu dalam-dalam, dan berusaha menarik senyum seramah mungkin sambil mengangguk sopan.
"Boleh aku bicara denganmu?" katanya.
"Tentang apa?" Aladdin tersenyum, namun nada suaranya sedingin es.
"Ada sesuatu yang hendak kukatakan padamu." Judal melirik Alibaba dan Ugo-kun. "Empat mata."
Butuh waktu bagi Alibaba mencerna kata-kata itu. Ugo-kun mengangguk paham, lalu menarik kerah baju Alibaba dan mengajaknya menjauhi mereka berdua sejauh yang ia bisa. Aladdin duduk di sebelah Judal. Senyumnya melengkung kebawah ketika melihat gips di kaki Judal. Judal terdiam. Ia menganyam jari-jarinya menjadi satu, lalu melepaskannya kembali. Ia menumpukan sikunya di salah satu lutut kakinya yang sehat, kemudian menopangkan dagunya di tangan. Biru lautan dalam dan merah rubi bertemu pada sesuatu yang lebih dalam dari kebencian.
"Aku tahu kau yang memotong kabel rem motorku." Ujar Judal sambil berbisik.
Aladdin memiringkan kepalanya, memasang raut wajah tak mengerti. "Apa maksudmu?"
"Tadi pagi polisi mendatangiku." Terang Judal lagi. "Supir truk yang menabrakku menuntut. Menurut penuturan saksi mata, aku patut disalahkan karena menghantam truk itu dari arah yang tidak seharusnya kulalui. Ketika aku bilang kepada mereka kalau rem motorku blong, mereka mengklarifikasi kebenarannya dan menunjukkan potongan kabel rem motorku."
"Bisa jadi putus, kan?" Aladdin mengerutkan keningnya.
"Ahli forensik bisa membedakan mana yang putus dan mana yang dipotong." Nada bicara Judal berubah pedas.
Aladdin mengembangkan senyum aneh. Antara sudut kanan dan kiri bibirnya tidak simetris. Ia memamerkan deretan giginya yang kecil-kecil. Itu bukanlah senyuman, melainkan seringaian.
"Kau tidak boleh fitnah orang, Judal." Ucapnya lembut.
Judal masih menatap Aladdin.
"Kau punya bukti apa?" tanyanya lagi.
"Tidak ada. Toh, tang penggunting kabelnya juga mungkin sudah kau musnahkan." Jawab Judah praktis. "Menuntutmu juga tidak ada gunanya. Kau dibawah umur."
"Lalu maumu apa?" tanya Aladdin datar.
"Tidakkah kau memikirkan ketika kau memotong kabel rem motorku, bahwa Alibaba ada di motor yang sama denganku? Kalau kau berniat membunuhku dengan cara itu, kau bisa membunuhnya juga."
"Kau bajingan munafik." Desis Aladdin. "Kau juga menyukainya, kan?"
"Setidaknya..." Judal merona. "Dia juga menyukaiku."
"Jangan ngarang!" gertak Aladdin. "Mana mungkin bisa Alibaba menyukai orang sebusuk dirimu?"
"Aku busuk?" Judal tertawa renyah. "Sebusuk-busuknya aku, setidaknya aku tidak pernah punya niat untuk membunuh seseorang. Jadi siapa yang lebih busuk?"
Aladdin menamparkan tangan kecilnya ke wajah Judal. Tamparannya penuh kebencian, sehingga membuat Judal sedikit terpelanting. Aladdin terengah-engah. Sepasang matanya yang biru bak lautan dalam itu berkobar karena kebencian dan amarah. Judal hanya menatapnya dingin. Mereka tidak memedulikan orang-orang yang menoleh ke arah mereka.
"Seharusnya kau mati saja di kecelakaan itu." lirih Aladdin. Ada setitik airmata yang tumpah dari matanya yang penuh dengan gemuruh kemarahan.
Judal terdiam. Ia menggenggam tangan Aladdin, lalu menutup jemari mungil itu sehingga tangannya menjadi sekepal tinju.
"Lakukanlah kalau kau memang mampu." Bisik Judal. "Aku jamin bahwa Alibaba tidak akan mencintai orang sepertimu."
"Bisa. Bisa!" geram Aladdin.
Ia melayangkan sebuah tendangan di bagian tempurung lutut Judal yang di gips. Judal menjerit tertahan, mengerang memegangi tempurung lututnya yang diserang ngilu luar biasa dan kebas pada saat yang bersamaan. Aladdin bangkit, mengembangkan senyum kemenangan dan menatap Judal dengan pandangan hina.
"Aku akan membuatmu menderita. Membuatmu merasa mati saja lebih baik. Dan aku tidak pernah sungkan padamu untuk melakukan hal itu, Judal..."
Aladdin berbalik, pergi begitu saja tanpa dosa seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Judal terdiam sebentar, sebelum akhirnya memanggil seorang suster untuk membantunya kembali ke ruang rawat.
.
.
.
.
.
.
.
"Alibaba-kun yakin?"
Alibaba mengangguk. Ia mengusap rambut Aladdin dengan lembut dan kemudian naik ke atas flat miliknya. Lalu tidak ada suara lagi.
"Kita pulang?" tegur Ugo-kun.
Aladdin mengangguk.
Mobil sedan mewahnya menderum, membelah hingar pusat kota dan melesat menuju sebuah apartemen berkelas. Aladdin mencari-cari struk dan voucher bermain ice skating dari kantong celananya, berikut bukti pembayaran biaya penjahitan luka Alibaba tadi. Ia memeluk kertas-kertas itu dengan bahagia, lalu memasukkannya ke dalam dompet. Ugo-kun masih menyetir dengan santai, sesekali berdendang kecil sesuai lagu yang dimainkan radio mobil. Aladdin senang sekali bahwa ia bisa menghabiskan waktu beberapa jam bersama Alibaba.
"Alibaba-kun..." lirihnya sambil melirik jendela.
Pemandangan bermandikan cahaya memang panorama biasa di kota sebesar ini. Aladdin menelaah apa-apa saja yang ia lihat. Billboard sebuah produk kecantikan, lampu jalan, pohon-pohon pinggir jalan yang kelihatan muram, laju kendaraan lain di jalan raya yang sudah mulai lenggang, dan sebuah gedung besar yang lampunya temaram—cenderung gelap. Entah kenapa, gedung itu mengingatkannya pada seseorang.
"Aku jamin bahwa Alibaba tidak akan mencintai orang sepertimu."
Aladdin menggigit bibirnya. Perasaan kesal dan muak berkecamuk di dadanya hingga membuatnya sesak. Bisa-bisanya Judal berkata demikian. Memang dia siapa? Alibaba bukan siapa-siapanya Judal. Sosok itu menyebalkan. Bahkan orang-orang di Lawrence tidak menyukainya. Kenapa ia bisa begitu sombong mengungkapkan bahwa Alibaba mencintainya?
Memuakkan!
"Ugo-kun..." panggil Aladdin.
"Ya?"
"Belok ke apartemennya Jafar-san."
Ugo-kun melongok. "Apa?"
"Aku mau ke apartemennya Jafar-san. Mungkin bermalam. Kau bisa pulang atau tunggu saja di driver's room." Tegas Aladdin.
"Tapi...bukankah tidak sopan jika malam-malam begini datang?" tanya Ugo-kun.
"Iya, sih. Bagaimana kalau kita beli oleh-oleh? Jafar-san sukanya apa, ya?" Aladdin merenung dan menyuruh Ugo-kun menghentikan mobilnya di sebuah convenience store.
.
.
.
.
.
.
.
` DOK! DOK!
Jafar mengerenyit. Ia bergelung malas di dalam bed cover. Mungkin cuma orang iseng. Kenapa saat ia berusaha tidur lebih awal, ada seseorang yang mengganggunya? Ah, mungkin cuma Sinbad. Jafar tidak beranjak sedikitpun dan berusaha membawa diri ke alam mimpi lagi.
DOK! DOK! DOK!
Kali ini Jafar menggerutu, dan membuka satu persatu kunci pintu depan apartemennya. Cara orang dibalik pintu itu mengetuk bukan seperti yang Sinbad lakukan. Namun siapa? Jafar memicingkan matanya dan menemukan Aladdin di balik pintu tersebut.
"Ada apa, engeltje?" tanya Jafar lembut.
"Aku boleh menginap?" Aladdin memasuki apartemen Jafar dan menaruh sekantung belanjaan di meja makan.
"Eh? Menginap?" Jafar terperangah.
"Tidak ada Sinbad-san di kamarmu, kan?" Aladdin melongok, berharap menemukan Kepala Sekolah tengah berbaring di ranjang Jafar berselimut tanpa pakaian. Tapi nyatanya kasur Jafar kosong. Hanya ada banyak sekali bantal dan sebuah bed cover yang kusut masai.
"Tidak. Dia entah dimana. Aku sendirian." Jafar menggaruk pundaknya. "Duduklah. Mau susu panas?"
Aladdin mengangguk. Jafar merebus susu sapi murni di dalam panci kecil hingga berasap, kemudian menghidangkannya bersama bubuk kayu manis dan madu. Late night beverages yang bikin ngantuk, dan Jafar bisa tidur lebih cepat jika Aladdin tertidur.
"Jafar-san tahu, kalau Alibaba-kun taken sama Judal?" tanya bocah itu.
Jafar terdiam. Ia tidak tahu harus berkomentar apa. Maka untuk mencari aman, ia menggeleng.
"Dia bilang Alibaba-kun tidak akan mencintai orang sepertiku. Dia merasa dirinya hebat, gitu?"
Jafar menyesap susunya. Aladdin terbakar cemburu, begitu ia mengasumsikannya. Namun Jafar sendiri tidak bisa munafik dan membela Aladdin jika memposisikan dirinya sebagai Alibaba. Judal tipe orang yang lebih surprising—banyak ketidak sempurnaan yang dimilikinya. Imperfection yang dimilikinya bisa membuat pasangannya merasa berarti, merasa bahwa ia dibutuhkan. Sementara Aladdin adalah stereotype anak manis yang serba berkecukupan. Aladdin terlalu sempurna, sehingga kalau Jafar memposisikan dirinya sebagai Alibaba, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk membahagiakan Aladdin.
Tidak ada yang salah dari mereka berdua. Yang salah adalah ketika Aladdin menceritakan bagaimana ia seringkali mengoleksi potret Alibaba dan mengatakan bahwa ia tidak bisa melupakan cowok pirang itu. Obsesi merupakan sesuatu yang rumit, bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi bisa merupakan pengisi kekosongan jiwa dan pemompa hasrat untuk menggapai mimpi. Di sisi yang lain, obsesi bisa merupakan penyakit yang menggerogoti kewarasan penderitanya. Jafar mulai khawatir, obsesi Aladdin terhadap Alibaba Saluja bisa membuatnya nekad melakukan sesuatu yang buruk.
Jangan sampai, doa Jafar dalam hati.
"Kalau kau jadi aku, apa yang harus kulakukan?" tanya Aladdin lagi.
"Apa, ya?" Jafar menatap bayangan samar yang terpantul dari susu di gelasnya. "Aku akan membuktikan pada Alibaba kalau aku lebih baik dari Judal, mungkin?"
"Membuktikan...kalau aku lebih baik?" Aladdin menatap Jafar dalam-dalam. "Tidak mengerti."
"Ini agak ribet, sih." Jafar mengambil alat tulis. Kemudian ia menggambar sebuah garis lurus di sebuah kertas. Di sisi kanan dituliskan nama Aladdin, lalu di sisi kiri dituliskan nama Judal. "Kau harus melihat, dimana 'kelemahan' Judal. Maksudku, seperti..."
Jafar menuliskan kata PEMARAH di kolom Judal, dan LEMBUT di kolom Aladdin. Perlahan-lahan, bocah itu terperangah mengerti. Ia menatap Jafar lekat-lekat hingga cowok berdarah Belanda itu balas menatapnya.
"Kenapa?" tanya Jafar bingung.
"Jafar-san pernah punya hubungan apa dengan Judal?" kata Aladdin. "Beberapa anak-anak tahun kelima bilang kalau kalian pernah..."
Jafar menutup kedua telinganya, sehingga kalimat Aladdin tak selesai ia dengar. Aladdin tersenyum cerah, menyadari bahwa ucapannya kena telak. Wajah Jafar bersemu merah, namun kedua matanya menyiratkan kecanggungan. Ia menggeleng-geleng, tidak ingin membahas luka lama.
"Tidak apa-apa." Kata Aladdin. "Pasti lelah kan, memikul luka selama empat tahun?"
"Aku tidak ingin membahasnya lagi." Jafar mendengus, kemudian menyesap lagi susu panasnya. "Itu menyakitkan, Aladdin."
"Ayolah...Jafar-san sendiri yang bilang aku harus mendalami karakter Judal, kan?"
Jafar masih acuh. Aladdin memberengut, ngambek selama tiga puluh menit dengan guling-gulingan di lantai sambil merengek. Jafar membuang muka, menutup kedua telinganya dengan kesal dan pura-pura tidak dengar. Jengkel karena diacuhkan, Aladdin menggigit betis kurus Jafar.
"Aduh!" jeritnya. "Ya sudah, ya sudah! Berhenti guling-guling."
Aladdin patuh. Ia mengajak Jafar ke sofa, lalu duduk bersila di depannya. Jafar menghabiskan susunya yang sudah mulai dingin dengan sekali teguk. Ia mulai mengingat-ngingat dan merangkai kata. Bagaimana memulainya? Jafar melirik alat tulis yang ia pakai di meja dan kemudian menemukan satu kenangan indah yang cukup mengenang.
"Dia itu...benar-benar ngangenin." Ungkapnya malu-malu.
.
.
.
.
.
.
.
[FLASHBACK]
"Brengsek! Berani-beraninya kau bilang tidak ada kelas untukku?!"
Seluruh calon siswa Lawrence geger. Seorang bocah berusia 14 tahun menerjang meja G.I Sharrkan dan menarik kemejanya, melayangkan sebuah pukulan tidak terima setelah usaha kerasnya menyanyikan lagu Santa Lucia. Seluruh coach membantu menenangkannya, termasuk Kepala Komite. Anak itu dibekuk, lalu ditundukkan bagaikan harimau buas yang habis mengigit seorang pengunjung kebun binatang. Jafar melihat adegan itu dengan pandangan ngeri. Ia buru-buru menangkupkan tangannya, berdoa kepada Tuhan Allah agar dijauhkan dari anak tukang ngamuk itu.
Tidak tahu persis bagaimana kelanjutannya. Jafar langsung menuju kelasnya, kelas Instrumental Piano. Muridnya sangat banyak. Supervisor-nya adalah coach Hinahoho. Beliau memang berperawakan seram. Tinggi, kekar dengan bekas luka di wajah. Meskipun memiliki rupa yang mengerikan, tidak disangka permainan piano jazz-nya menyentuh hati. Jafar benar-benar mendapat segala ilmu bermain piano bersama pria besar itu.
"Kurasa, jazz bukanlah aliranmu, Jafar." Ujar coach Hinahoho pada suatu sesi penilaian permainan.
"Tapi kebanyakan anak-anak belajar dari jazz, kan?" Jafar mengelak. Ia tidak merasa permainannya buruk. Ia bahkan bisa bermain lebih baik dari anak-anak yang lain. Ia bisa menaik-turunkan nada tanpa harus menghitung dulu.
"Entahlah. Mungkin karena jarimu terlalu kurus. Saat main, apakah jarimu terjepit diantara tuts?"
Jafar memberengut. Lawakan yang tadi tidak lucu.
"Kau bisa bermain sesuatu yang beraliran blues?" pinta coach Hinahoho.
Jafar mengangguk. Ia bermain dua part lagu yang diingatnya beraliran blues. Kemudian, sang supervisor memintanya bermain tiga part lagu swing. Bagi Jafar, swing yang orang-orang anggap mudah justru sulit baginya. Tidak banyak ruang untuk improvisasi. Mood menjadi faktor vital disini. Coach Hinahoho pernah bilang, jika seorang pianis memainkan musik swing dalam keadaan tidak senang, bunyi musiknya tidak akan terdengar lively. Setelah penilaian panjang, coach Hinahoho menyuruhnya bermain salah satu lagu rock n roll yang menggunakan piano.
Cowok berdarah Belanda itu menghenyakkan tangannya dengan muak ke tuts piano sehingga terdengar bunyi JREEEENG yang memekakkan telinga. Ini sudah melampaui batas kesabarannya. Ia bahkan belum genap menginjak tahun pertama disini, tetapi sudah disuruh yang macam-macam. Coach Hinahoho mengusap kepalanya lembut dan menyuruhnya tenang.
"Aku cuma bercanda. Kau bagus bermain di semua aliran." Coach Hinahoho tertawa lepas. "Kurasa kau tidak perlu ikut remedial."
"Terima kasih." Jawab Jafar ketus.
Jafar mengambil semua buku-bukunya, menuju perpustakaan dan menghempaskan semua barang-barangnya di kursi empuk terdekat. Tidak ada orang di sini. Dan memang tidak pernah ada. Bahkan Jafar bertanya-tanya kenapa ada perpustakaan di sekolah musik. Temperamen Jafar jadi jelek karena coach Hinahoho mengerjainya terus. Mungkin santai disini sejenak membuatnya bisa sedikit lebih tenang. Perpustakaan Lawrence memiliki sofa-sofa panjang yang empuk, sehingga mungkin Jafar bisa menjadikannya ruang untuk tidur siang.
Should I give up, or should I just keep chasing pavement...
Jafar terkesiap bangun, mengerjap-ngerjap sambil menoleh kesana kesini. Suara siapa itu? Jafar tidak melihat siapa-siapa. Penasaran, Jafar beranjak dari tempatnya ngaso dan mencari-cari di setiap rak sumber suara itu. Suara yang didengarnya indah, terdengar sangat feminim dengan aksen berat yang khas. Vibrato-nya halus sekali. Jafar melongok ke salah satu rak buku di dekat perapian dan mendengar suara indah itu lagi.
Or would it be a waste,
Even if I knew my place
Should I leave it there...
Anak yang waktu itu!
Jafar menarik kepalanya, sedikit takut dan ngeri membayangkan sosok berambut hitam panjang itu. Teringat amukannya ketika memukul G.I Sharrkan. Di balik sosoknya yang brutal, suaranya seindah...seindah...
"Hei, nggak usah ngintip! Tunjukkan nyalimu kalau berani, keparat!"
Jafar menarik lagi kata-kata yang sempat terpatri di kepalanya. Tidak, malaikat bukan kata yang cocok untuk sosok itu. malaikat tidak akan berkata kasar. Ia memberanikan diri menghadap sosok itu. Cowok berambut hitam panjang itu tengah duduk bersila sambil memegang sebuah teks lirik. Lagu Adele, berjudul Chasing Pavement. Salah satu lagu yang sulit karena karakter deep contralto dan permainan nada yang 'ekstrem'. Membawakan lagu ini sambil lepas dari citra Adele merupakan PR tersendiri.
"Kau bisa ajarkan aku lagu ini? Agar aku bisa masuk kelas Contralto." Katanya.
"Kenapa?" tanya Jafar sinis.
"Aku tidak bisa ditempatkan dimana-mana. Jadi katanya aku bisa bebas memilih kelas." Terangnya. "Ayo, ajari!"
"Tidak sopan!" sentak Jafar. "Kalau mau aku ajari, panggil aku Jafar-sama sepuluh kali!"
Sudut mulut anak itu berkedut. Ia meremas keras kertasnya. Jafar sudah siap angkat kaki—bersiaga untuk kabur ketika bocah itu berdiri dan membungkuk di hadapannya.
"Mohon bantuannya, Jafar-sama." ucapnya memelas.
Jafar tertawa dalam hati. Ia mengajari anak itu teknik pemanasan, teknik pernapasan dan segala dasar-dasar dalam bernyanyi. Jafar mencontohkan nada awalnya, lalu anak itu mengikutinya. Selebihnya semudah mengajari ikan berenang. Anak itu mungkin punya range vokal dua oktaf. Jafar bisa lihat bahwa anak itu memiliki talenta besar.
"Mudah." Kata sosok itu riang. "Wuah, hebaaat!"
"Kembali kasih." Jawab Jafar ketus. "Nah, anakku. Siapa namamu?"
"Aku bukan anakmu." Kilah Judal.
"Itu cuma kiasan. Mendramalah sedikit." Jafar melenguh kesal.
Anak itu menatap Jafar dengan tatapan kagum dan respectful. Jafar baru menyadari bahwa kedua matanya berwarna merah, berkilau bagaikan batu rubi. Ia menarik seulas senyum dari bibirnya yang berwarna merah muda ranum.
"Judal. Judal Al-Sarmen."
Lalu segalanya berjalan begitu cepat. Seakan Sang Hidup menaruh kehidupan Jafar di dalam fast track yang sulit sekali dilalui. Segalanya terlalu cepat hingga Jafar merasa ia kehilangan beberapa momen tertentu. Pada ujian tahun kedua, Jafar mendaftar ke bagian vokal dan masuk ke kelas Sopran, sementara Judal meraih impiannya masuk ke kelas Contralto. Tahun kedua dihiasi Jafar dengan menjadi musuh bagi semua penyanyi sopran, karena kenaikan nada dan beberapa teknik vokalnya dinilai lebih baik dari anak-anak kebanyakan. Lalu coach Yamuraiha mendaftarkannya ke Choir utama Lawrence. Jafar memegang posisi sopran, dan akhirnya ia bergeser menjadi pianis—atau bahkan conductor.
Yang menyadari bakat lain Jafar adalah Kepala Sekolah.
Laki-laki itu baru pertama kali dilihat Jafar secara langsung. Sinbad Sindria sangat besar, setinggi 180cm lebih. Rambutnya panjang tergerai sempurna, lebih bagus dari cewek-cewek model iklan shampoo. Segala penampilannya benar-benar glamour. Tidak akan ada yang mengira bahwa ia adalah seorang musisi kalau ia tidak mengakuinya.
"Bagaimana jika kita buat kelas baru untuk anak manis ini?" tanya sang Kepala Sekolah semangat, membawa Jafar ke hadapan Kepala Komite.
Kepala Komite—Yunan hanya tersenyum. Gula kubus yang ada di tangannya hancur ketika mendengar Sinbad memanggil keponakannya anak manis.
"Baru bagaimana?" tanya Yunan dengan pandangan tak suka kepada Sinbad. "Menyusahkan saja."
"Kelas baru. Tidakkah kau sadari bahwa Jafar memiliki range suara treble? Usianya sudah 20 tahun! Ini suara mahal. Bahkan orang-orang di Old Stage jaman pertengahan banyak yang mengebiri anak mereka agar bisa memiliki suara seperti dia!"
Yunan menatap gelas tehnya. Lalu menghela nafas. Ia tidak berpikir apa-apa.
"Jangan kau anggap masalah treble itu menguntungkan, Sinbad." Kata Yunan dingin. "Tidakkah kau pikir itu aneh?"
Jafar tertohok mendengar ucapan pamannya. Jafar menunduk, dan tanpa sadar ia menangis. Kepala Sekolah menyodorkan sehelai tisu kepadanya untuk menghapus airmata. Tidak pernah ada yang bilang suaranya aneh. Bahkan Yunan awalnya bilang ia berbakat. Kenapa sekarang ia berkata seperti itu?
"Tidak ada guru lebih." Kata Yunan lagi. "Kalaupun buka kelas baru, mau buka kelas yang seperti apa?"
"Co...Countertenor!" seru Sinbad. "Kelas bagi anak-anak lelaki yang memiliki 'kelebihan'. Suara itu bisa timbul karena banyak alasan, kan? Kalaupun Anda bilang bahwa tidak ada guru lebih, biar aku yang akan mengajarinya!"
Yunan terbelalak. Ia mengaduk-aduk tehnya begitu saja, kemudian mendesah lelah. Sang Ketua Komite mengambil selembar kertas, menulis sesuatu yang memberikan tulisannya tersebut kepada sekretarisnya.
"Tapi setidaknya,harus ada minimal dua murid yang menempatinya. Kalau cuma satu, itu sama saja dengan privat, kan? Aku tidak ingin ada pelecehan seksual di sekolah ini." Tutur Yunan datar.
Selanjutnya, Jafar kembali ke dalam fast track. Ia lupa akan hal-hal apa saja yang ia lewati di tahun kedua. Tahun ketiga kelas Countertenor dibuka. Muridnya hanya Jafar seorang. Kepala Sekolah kemudian membawakannya seorang teman sekelas. Anak yang dibawa Sinbad adalah seorang anak dari kelas Contralto. Rambutnya panjang dan tatapannya ketus. Entah kenapa, Jafar begitu senang mengetahui bahwa Judal akan menjadi teman sekelasnya.
Keadaan selanjutnya ternyata tidak terasa menyenangkan. Terkadang mereka harus saling bahu-membahu latihan berdua, karena sang Kepala Sekolah nyatanya sering tidak masuk dan masih aktif menjalani Opera di berbagai negara. Pernah suatu kali mereka kehabisan materi—kehilangan minat untuk latihan. Jafar dan Judal hanya berdua di ruangan kelas itu. Judal di belakang, sibuk dengan alat tulis. Sementara Jafar memegang sebuah novel tebal, menamatkan bagian akhirnya setelah satu minggu penuh membaca novel tersebut. Tergelitik penasaran akan tindak-tanduk Judal, Jafar menghampirinya.
"Hayo loooh!" teriaknya, mengagetkan Judal.
"Brengsek!" geramnya. Ia buru-buru merapatkan buku yang tadi diurek-urek-nya ke dada.
"Kau sedang apa?" tanya Jafar.
"Bukan urusanmu."
"Ayolah...kau gambar? Gambar apa?"
"Aku tidak bilang kalau gambar!"
"Lalu ngapain? Kita cuma berdua. Aku tidak akan bilang siapa-siapa, kok."
Lalu, malu-malu Judal menunjukkan gambarnya. Jafar terperangah melihat gambar itu. Sebuah sketsa pensil, menggambarkan dirinya dari siluet samping sedang membaca novel, duduk di bangku dan menyandarkan salah satu sikunya di meja. Gambarnya 90% mirip. Judal buru-buru menarik gambar itu, membuang mukanya agar Jafar tidak melihat rona samar di kedua pipinya.
"Keren." Ungkap Jafar.
"Ma..makasih." Judal mengangguk.
Lalu segalanya terasa bagaikan menghirup udara. Waktu dan keadaan membuat Jafar dan Judal semakin dekat. Perlahan, gambar-gambar serta alunan musik membuat Jafar dan Judal mengenal kata cinta. Dan tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mengungkapkannya satu sama lain. Pernah suatu ketika sekolah mereka mengadakan Opera, Jafar dan Judal duduk bersebelahan. Mereka tidak bisa bolos. Menonton Opera menjadi agenda wajib bagi siswa Lawrence, terlepas suka atau tidak pada keseluruhan acaranya. Judal tidak menonton sama sekali. Tangannya dengan lincah menggambar apapun yang dia suka. Lebih sering Judal menggambar Jafar dalam keadaan sehari-hari. Seperti Jafar sedang latihan bersama Choir. Atau Jafar ketika sedang menunduk, menulis sesuatu. Jafar sedang bermain piano bersama coach Hinahoho atau adegan fiksi dimana Jafar minum teh berdua bersama Yunan—yang hampir belum pernah terjadi di dunia nyata.
"Kenapa kau selalu menggambarku?" tanya Jafar penasaran.
"Kau mudah digambar." Jawab Judal sekenanya. "Mudah sekali.
"Semudah itu?"
Judal mengangguk. Ia membuka lembaran baru, kemudian menggambar sketsa kepala, kemudian bahu, overall setengah badan. Lalu Judal memberikan detail mata, hidung, telinga, mulut, rambut dan seragam Lawrence. Tak lupa ia menambahkan beberapa titik-titik di sekitar hidungnya. Gambar itu bahkan jadi tidak sampai 10 menit.
"Jadi." Seru Judal datar.
"Mudah sekali." Jafar terperangah.
"Kau itu miskin ekspresi. Jadi mau digambar dalam keadaan apapun, ya begitu-begitus saja." Judal menutup buku sketsanya dan membereskan alat gambarnya.
"Itu pujian atau hinaan?" Jafar menaikkan sebelah alisnya.
"Apa bedanya?" Judal balik tanya. "Kadang pujian dan hinaan hampir tidak ada bedanya."
Jafar tersenyum. Acara semakin berjalan, namun Judal tampak tidak tertarik—dan lama-lama menjadi suntuk. Jafar membiarkan Judal menyandarkan kepalanya di pundaknya, tahu bahwa ia benar-benar mengantuk. Jalinan rambutnya yang tebal dan legam jatuh ke pangkuan Jafar. Ragu-ragu, Jafar menggamit kepangan rambut Judal yang selembut sutra itu, lalu menggenggamnya perlahan.
"Kenapa?" tanya sang pemilik rambut.
"Tebal sekali." Komentar Jafar. "Tidak sulitkah merawatnya?"
"Tidak." Judal menggeleng. "Cukup dicuci. Diberi pelembab rambut. Sudah."
Ia menelusuri kepangan itu hingga tengkuknya. Jafar menaruh jari-jarinya yang kurus di kepala Judal dan mengusap-usap kepala Judal dengan lembut. Pandangan mereka kemudian bertemu dengan sayu. Kelabu awan badai yang tenang itu menatap sepasang manik rubi yang menatapnya balik dengan tatapan interogatif.
"Judal...ngg..." Jafar melirik ke arah lain. "Aku..."
Judal tidak mengatakan apa-apa. Ia menelusuri selekuk tipis bibir Jafar yang pucat dengan jemarinya. Kedua manik rubi itu menelaah garis-garis wajah Jafar, seakan bisa langsung memahatnya di batu marmer setelah itu. Alunan musik Opera mendayu-dayu, membuat kedua siswa Countertenor itu terbawa suasana. Jafar merangkulkan lengannya ke belakang kepala Judal dan menariknya mendekat.
Lebih dekat hingga membuat bibir mereka bertemu.
[END OF FLASHBACK]
.
.
.
.
.
.
.
Hai readers, sekarang saya akan rajin apdet kayaknya. Sungguh, ini adalah salah satu chapter terpanjang dari melukis langit yang saya ketik. Jujur ini ngures banget, ngebayangin konflik Aladdin vs Judal dan masa lalu antara JuJa yang bener-bener crack. Ciyus lho, menghidupkan suasana cinta diantara mereka berdua itu nggak gampang, tahu. Saya berharap para readers akan terus memberikan review agar bisa terus menyemangati saya menyelesaikan fic ini.
Gosip? Ada dooong.
Alibaba bakal mutusin Judal *w*)9
Yosh, sekian bacotan saya. Mohon maaf kalo ada typo, ooc dan teman-temannya. Warning sudah ada sebelum anda membaca. Jadi jangan salahkan saya lagi. Ciaaao
#ilang pake bom asep.
