.

.

.


Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Hyuugadevit− cherry

[Sasuke Uchiha & Sakura Uchiha]


.

.

.


Sakura menatap ibunya dan sahabat terbaiknya dengan senyum tipis yang terus terpatri di wajahnya yang ayu. Ia memperhatikan interksi kedua wanita itu yang terus bercanda gurau di hadapannya agar ia merasa terhibur. Sungguh, Sakura merasa senang akan adanya kedua wanita ini. Namun, kemanakah wanita satunya lagi? Wanita yang menjadi sahabat dan juga kakak iparnya?

"Kaa-san, Hinata-nee ... apa─ ia baik- baik saja?" tanyanya ragu- ragu.

"Oh, ia sayang. Ia baik- baik saja" jawab Kushina "Kaa-san lupa, ia memberikan pesan mengenai rasa menyesalnya karena tidak bisa mendampingimu─"

"Kau tak usah mengkhawatirkan ibu hamil itu, wanita hamil kan tidak boleh terlalu lelah..." Ino tak melanjutkan perkataannya.

Karena ia sadar bahwa perkataannya ini menyinggung masalah kandungan. Dan Sakura baru saja kehilangan bayinya.

"Maaf Sakura..."

"Tidak Ino, aku baik- baik saja"

Meski tersenyum, Ino tahu─ bahwa Sakura menyembunyikan kesedihannya.

Kushina langsung menyela pembicaraan berat itu. Sebisa mungkin sebagai seorang ibu dan sebagai seorang wanita yang sudah berpengalaman ia berusaha mencairkan suasana dan itu berhasil.

Mereka kembali membicarakan hal- hal yang ringan.

Setelah beberapa menit Ino pamit karena ada pekerjaan yang mendesak. Beriringan dengan itu dokter Sora memasuki ruangan.

Dokter Sora melakukan cek dan yang lainnya.

"Nona, bagus sekali. Keadaan anda semakin hari semakin baik. Sekedar pemberitahuan, bahwa nona tidak diperlukan kiret karena kotorannya telah keluar sendiri dan sudah bersih. Itu berarti nona─ sore nanti anda sudah boleh pulang"

Kushina memanjatkan rasa syukurnya. Ia senang tidak ada kiret. Karena jika ada, maka akan ada tanda di tubuh Sakura dan itu akan terus membuat putrinya teringat akan kehilangan bayinya. Sedang Sakura hanya diam. Ia menatap ke arah jendela dengan pandangan sedih. Pikirannya mengelana kemana yang ia mau. Hatinya tercubit, kedukaan ini semakin terasa nyata di hidupnya. Namun hatinya yang terluka itu tetap menjeritkan satu nama─

"Sasuke-nii" batinnya.

.

.

.

Hinata menatap kolam renang itu dengan senyum indah. Satu tangannya mengusap pelan perutnya. Ia merasa hari ini sangat cerah dan membuatnya selalu ingin tersenyum. Apapun yang terjadi di rumah ini, ia merasa bahwa ia baik- baik saja dan tak pernah mau terlibat. Ya, meski ia harus ikut menangis akan apa yang menimpa Sakura.

Ia mengambil selang untuk menyiram bunga.

Wanita yang sedang berbadan dua itu bersenandung ria sambil menyirami bunga yang ada di dekat kolam renang rumah itu.

Suara deru mobil yang terparkir di halam rumah membuatnya menoleh dan benar saja─ suaminya tercinta kini datang dan itu menjadi alasan kenapa wajahnya semakin terlihat cantik dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

"Sayang" panggil Naruto.

Hinata menghampiri suaminya. Ia bermanja- manaja di pelukan suaminya dan mengeluhkan beberapa hal yang mengganggunya.

"Sayang, aku ingin kau menyuruh para playan itu untuk membersihkan rumah sekarang" ucap Naruto.

"Mmm.. memang akan ada tamu penting?" Tanya Hinata bingung.

"Tidak, bukan tamu. Pokoknya rumah harus terlihat segar, bersih dan nyaman" Naruto terlihat antusias "Sebab pesan dari kaa-san, adikku tercinta akan segera pulang...ahhh, betapa membahagiakannya"

Naruto langsung melepaskan pelukannya dan berjalan menuju kamarnya sambil bersenandung. Melupakan Hinata yang kini berdiri menatap punggung Naruto dengan tatapan yang sendu.

.

.

.

Keadaan rumah sakit seperti biasa terlihat sangat ramai. Baik pasien yang datang dan hendak pulang. Setelah mendapat pesan dari istrinya bahwa putri kesayanagannya─ Sakura sudah boleh pulang ia langsung melesat ke rumah sakit ini. Ia berjalan dengan tergesa- gesa. Ia sungguh mencintai putrinya itu dan sebisa mungkin selalu mendampinginya.

Ahh, ia bahkan sudah melupakan apa yang dikatakan oleh Shion beberapa waktu yang lalu.

Ketika ia membuka pintu ruangan itu, senyum Kushina menyapanya dan mereka langsung berpelukan. Sakura yang menyaksikan itu semua terkekeh akan kelakuan orang tuanya. Meskipun mereka sudah memiliki anak yang sudah besar dan umur mereka yang tak muda lagi─ kedua orang tuanya tidak pernah berubah. Tetap romantis, tetap menjaga keharmonisan hubungan mereka. Ya, meskipun sebenarnya yang romantis itu hanya ayahnya saja.

Setelah berbahagia dengan istrinya, Minato kembali menghampiri putrinya. Ia memeluk Sakura dan tak lupa mengecup jidat kesayanagannya.

"Terimakasih sayang karena telah sembuh untuk kami"

"Ya" jawabnya.

Mereka langsung membicarakan beberapa hal yang ringan. Tidak sedikitpun Minato membahas mengenai Shion.

Telepon Kushina berdering. Ia mengangkatnya dan membicarakan sesuatu yang sepertinya sangat penting.

"Oh, maaf sayang" ucapnya pada Sakura.

"Sepertinya kaa-san tidak akan menemanimu pulang dan tak akan ada di rumah untuk beberapa hari ini. Kau tau pekerjaan kaa-san menunggu di Roma. Kau mau memaafkan kaa-san kan?"

Sakura memanyunkan bibirnya─ pura- pura marah. Tapi akhirnya─

"Baiklah," balasnya "Tapi bawakan aku oleh- oleh dari sana ya" ujarnya ceria.

Kushina tertawa dan Minato yang menyeringai menyadari putrinya telah kembali bersikap normal. Kushina merasa tidak perlu khawatir lagi. Kini ia merasa tenang untuk berpergian.

"Baiklah, sampai jumpa lagi sayang"

Setelah Kushina pergi Sakura duduk dan membuka majalahnya. Minato sendiri sudah sibuk dengan smartphonenya dan berbincang- bincang dengan beberapa relasi bisnisnya. Ia menatap sekeliling ruangan sambil merenung.

"Tou-san, aku akan mandi" ucapnya "Aku akan pulang setelah selesai ini"

"Aaa─ baiklah sayang... yaa, apa? Aku tak mendengarmu" Minato melanjutkan aktivitasnya.

Sakura melangkah memasuki kamar mandi. Ia membuka seluruh pakaiannya. Sepertinya wanita Namikaze yang satu ini lupa mengunci pintu. karena ia langsung menyalakan air.

Di bawah pancuran shower, ia kembali merenung. Banyak sekali yang mengganggu pikirannya. Rasa- rasanya nyawanya tak pernah bisa kembali. Ia terlalu jatuh dalam lubang yang sangat gelap. Lubang duka yang tak mungkin bisa di selamatkan. Ia merasa menjadi orang yang menderita. Ia menolak semua pernyataan akal sehatnya yang mengatakan bahwa ia lah yang bersalah.

Ia terus mengatakan bahwa ia benar. Tapi sebenarnya aku lah yang bersalah.

.

Mintao telah selesai dengan urusannya. Ia kembali ke ruangan di mana Sakura di rawat. Ia melihat arloji.

Ini sudah sekitar setengah jam lebih ia berada di luar. Ia menghubungi rekan-rekannya, membicarakan ini dan itu. Tapi─ di mana kah gadis merah muda kesayangannya?

Suara gemericik air terdengar. Ia menebak bahwa putrinya berada di sana. Tapi ─ Kami-sama, ini sudah setengah jam yang lalu. Dan Sakura belum selesai?

Ia berlari dan membuka kamar mandi.

Di dalam sana putrinya dalam keadaan telanjang bulat tetap berdiri di bawah pancuran air. Wajah Sakura sangat pucat dan menggigil. Pandangan wanita itu sangat kosong.

Minato lekas mengambil handuk kimono dan mengenakan pada putrinya.

"APA YANG KAU LAKUKAN SAKURA?" Bentaknya.

"APA KAU INGIN MATI?"

Sakura yang mendengar bentakan ayahnya langsung tersadar dan menatap ayahnya yang tampak kecewa. Ia memeluk ayahnya dan menangis di sana.

Minato menghembuskan nafasnya kuat- kuat "Kami-sama, sayang... sadarlah"

.

.

.

Kediaman rumah Namikaze sesuai dengan harapan. Keadaan nya sangat rapih, bersih dan terlihat nyaman. Sakura tersenyum untuk beberapa saat. Ia terus memasuki rumah itu. Ketika ia memasuki ruang keluarga senyum wanita merah muda itu semakin lebar. Ia memeluk kakak laki- lakinya dengan senang.

Naruto yang memang sangat memanjakan adiknya ini langsung mengangkatnya dan membuat mereka berdua berputar-putar seperti di film-film bollywood. Sungguh kekanakan.

Minato yang menyaksikan kelakuan kedua anaknya, terus tertawa bahagia. Sudah lama mereka tidak seperti ini. Sudah lama tawa mereka tak terdengar di rumah ini.

Hinata sendiri berdiri di sisi yang lain sambil tersenyum lembut menatap mereka. Ia langsung menghampiri Sakura yang telah lepas dari Naruto dan memeluknya. Mereka sungguh dekat dan akrab. Meski Hinata jarang terlihat di rumah sakit, tapi ia mengatakan bahwa ia sangat khawatir pada Sakura. Hinata melepaskan pelukannya. Mereka duduk bersama- sama sambil membicarakan beberapa hal ringan.


.


[Keesokan harinya]

Kegiatan Sakura setelah pulang dari rumah sakit hanya duduk- duduk dan menonton televisi. Sesekali wanita merah muda ini membaca majalah yang Hinata bawakan untuknya. Ia juga lebih banyak menghabiskan waktu seharian bersama ayahnya.

Kepala keluarga Namikaze itu sepertinya belum bisa benar- benar melepas putrinya setelah kepulangannya itu. Ia masih harus mengontrol putrinya dan ia tak ingin kejadian tempo hari di rumah sakit terulang kembali.

Menjelang malam, kediaman Namikaze kedatangan beberapa tamu. Yang pertama adalah seorang pengurus kebun baru. Pria itu bertubuh tegap, namun wajahnya dipenuhi dengan jambang─ terlihat sangat kotor dan benar- benar mencerminkan seorang tuang kebun yang tua tapi kuat. Yang kedua Ino Yamanaka yang dengan penuh semangat mengatakan bahwa ia akan menginap dan tidur bersama Sakura.

Dan yang terakhir datang adalah─ Sasuke Uchiha.

Kedatangan pria itu malam ini menjadi sangat mencanggungkan suasana. Sakura yang tadinya biasa- biasa saja berubah menjadi diam.

Keempat orang itu, Ino, Hinata, Naruto dan Minato segera meninggalkan ruangan ─ memberikan kedua orang ini waktu untuk berbincang. Tapi tidak, wanita berhelaian merah muda itu menatap anggota keluarganya dengan memohon untuk tetap menemaninya. Walau dengan jarak yang tak terlalu dekat.

Beberapa waktu terlewati, mereka hanya saling diam. Suara nafas kedua insan ini saling bersahutan. Entah kenapa rasanya bagi Sasuke ataupun Sakura, untuk memulai pembicaraan terasa sulit. Lebih sulit ketika menghadapi orang- orang yang bahkan belum kita kenal.

Lama kelamaan Sakura merasa jengah.

Ia memulainya "Untuk apa nii-san kemari?"

Sasuke masih menatap Sakura. Berusaha menyatukan pandangan antara onyx dan emerlad.

"Aku─ merindukanmu"

Ke empat orang yang mecuri dengar di sisi lain memasang telinga mereka baik- baik. Berharap pembicaraan kedua orang yang dirundung kedukaan ini dapat lepas dari cengkraman kedukaan yang menyelubungi mereka.

Sakura tersenyum lemah.

"Rindu?"

wanita itu menatap pria yang ia cintai sendu. "Apa yang nii-san harapkan dariku?"

"Bayiku telah pergi nii-san dan apa selama ini nii-san benar- benar mencintaiku? Menyayangiku? Maka dengar ini nii-san, anggap saja cinta kita selama ini hanyalah tragedi, anggap saja─ cinta kita selama ini hanyalah kegilaan"

Sasuke menggelengkan kepalanya. Ia berjalan menuju Sakura dan berusaha meraih tangan wanita itu. Tapi sekali lagi Sakura memandangnya dengan sendu, dengan tatapan terluka, sehingga ia tak melanjutkan langkahnya─ Menghentikan langkah yang mungkin saja jika Sasuke meneruskan langkahnya, mereka bisa mengubah keadaan. Mengubah keadaan mereka dengan saling membuka hati.

"Pergilah nii-san, aku tak ingin bertemu lagi dengan mu"

Sasuke menatap tajam wanita merah muda itu dengan tatapan kecewa. seperti itu kah?

"Baiklah," katanya datar dan dingin "Jika itu keputusan mu─ Sakura"

Dengan berat hati─ Sasuke melangkah mundur. Menatap sekali lagi wanita yang sangat ia cintai, yang kini menatapnya penuh kesedihan. Ia tahu Sakura belum merasa baikan. Wanita itu masih dalam kedaan depresi. Hanya saja wanita itu berusaha menutupinya dengan berpura- pura baik- baik saja di depan keluarganya.

Tapi lihatlah, ketika ia datang─ kesedihan dan ketidak baik- baik sajanya Sakura muncul di permukaan dan sangat jelas.

Sebelum benar- benar pergi, ia membungkukan badannya sebagai tanda penghormatan pada Minato sebagai pria yang ia hormati, sebagai pria yang ia anggap keluarganya. Dan ia pun benar- benar keluar dari kediaman Namikaze dengan sangat berat.

.

.

.

.

.

"Ehh, mengapa hari ini hujan ya?" tanya Ino dengan hebohnya. Wanita pirang ini sepertinya berusaha memancing pembicaraan.

Semenjak kepergian Sasuke, keluarga Namikaze ini duduk di ruangan keluarga─ termasuk Sakura. Mereka menghabiskan waktu bersama untuk menonton acara televisi. Ya meski tidak ada satupun acara yang menarik bagi mereka. Karena jujur saja, mood mereka entah menguap kemana sejak kejadian tadi.

Beda halnya dengan Hinata yang menikmati acara televisi tersebut. Ia seolah tak terganggu sama sekali. Wanita yang tengah berbadan dua itu terus menerus tertawa tanpa canggung ketika melihat acara yang menurutnya lucu.

"Hinata diamlah" Naruto mencoba menegur istrinya yang seperti tidak punya kepekaan terhadap suasana di ruangan ini. Penerus kerajaan bisnis perusahaan Namikaze Corps itu mulai menanggapi perkataan Ino

"Ya, padahal bulan ini baru saja memasuki musim dingin, ternyata musim dingin datang lebih awal"

"Dan mendinginkan seluruh hati" tambah Sakura yang langsung beranjak meninggalkan ruangan itu.

Ino, Naruto, serta Minato menatap Sakura sendu.

Terutama Minato. Namun kepala keluarga Namikaze itu tak banyak berkomentar.

Ia tahu rasa dari yang namanya kehilangan.

Ahh, mungkin juga tidak.

Ia hanya pernah merasa takut kehilangan ketikan Sakura sakit keras di Jerman dan ia hampir gila memikirkan kesehatan putrinya. Tapi Sakura dan Sasuke benar- benar kehilangan calon anak mereka.

.

.

.

Sasuke sebenarnya tidak pulang.

Ia masih berada di depan gerbang kediaman Namikaze.

Berdiri sambil menyandarkan dirinya pada Lotus kesayangannya.

Udara yang semakin dingin tak membuatnya beranjak sedikitpun dari tempat itu. Pria Uchiha itu terus mendongakan kepalanya─ melihat menuju jendela kamar yang selalu di huni oleh wanita yang berhasil membuatnya tergila- gila.

Kamar itu tertutup rapat oleh gorden berwarna putih tulang. Wanita itu mungkin juga tak berada di sana. Tapi ia terus ingin memperhatikan jendela itu. Berharap Sakura melihatnya di sana. Dan jika ia melihatnya, maka ia yang mundur pun akan kembali memperjuangkan Sakuranya.

Kemudian ia merasakan tetesan air yang jatuh menapaki wajahnya. Sedikit- demi sedikit, kemudian berubah menjadi tetesan hujan yang lebat.

Uchiha bungsu itu masih setia di sana, memperhatikan jendela itu. Sekali lagi ia berharap. Namun apa yang ia harapkan tak ada. Ia beranjak dari tempatnya─ memasuki mobilnya dan meninggalkan kediaman Namikaze dengan seribu luka.

Tanpa Sasuke sadari, Sakura terus memperhatikannya di atas sana─ di jendela itu. Wanita itu baru menyibakkan seutuhnya gorden tersebut setelah kepergian pria yang paling ia cintai.

.

.

.

Sakura menatap nanar pria yang kini basah kuyup di bawah sana. Hatinya sungguh tersayat- sayat melihat pria itu begitu mencinatinya─ begitu memperjuangkannya. Namun apa yang telah ia lakukan? Ia justru membuat laki- laki yang paling ia cinati itu kini menderita. Menderita secara total.

Melihat pria itu pergi dengan Lotusnya, Sakura menyibakkan gorden itu dan benar- benar menatap mobil yang terus melaju cepat. Muncul sebersit rasa yang teramat khawatir. Ia khawatir Sasuke melakukan hal yang tidak- tidak.

Suara derap langkah mengalihkan perhatiannya. Ia membalikkan tubuhnya menatap dua orang berambut blonde yang saat ini tersenyum padanya.

"Sayang, Ino bilang ia ingin tidur dengan mu... tapi ia malu bilang padamu" Minato berkata dengan gaya jenaka sambil mengedipkan sebelah matanya pada Ino.

Kini suara Ino bersuara nyaring "Yakk... Tou-san, apa- apaan! Aku tak begitu. Aku mau tidur dan sebaiknya tou-san juga segera tidur dan hey, selamat tidur sendiri tou-san" celoteh Ino.

"Dingin- dingin seperti ini tanpa kaa-san pasti kesepian kan? Makannya dia ikut kemari Sakura" tambah Ino.

Wanita berambut blonde itu langsung berbaring di atas tempat tidur melihat anak dan ayah yang kini menertawakannya. Ahh, ia bahagia melihat sahabatnya kini tersenyum.

"Dan oh Tou-san, jika kau sudah tak ada keperluan segera matikan lampunya. Aku benar- benar mengantuk" Ino mulai memerintah.

"Hey, anak ini berani sekali! Sayang, lihatlah dia yang berkata tak sopan pada ayah mu yang paling tampan ini" adu Minato pada putrinya sambil memeluknya dan pura- pura merajuk.

Sakura tergelak.

Ia merasa geli melihat tingkah ayahnya yang sangat kekanakan. Ino sendiri langsung berbicara lagi tidak jelas membalas perkataan Minato.

"Sudahlah" kata Sakura menengahi "Ino segera tidur! Dan tou-san, oh.. Kami-sama, tou-san... jangan seperti ini. Ayo ikut dengan ku"

Sakura berjalan dengan Minato menuju kamar utama yang biasa di tempati kedua orang tuanya.

"Tou-san tidurlah, meskipun tidak ada kaa-san, tapi tak akan membuat tou-san kesepian, karena─ ia selalu ada di hati tou-san" Sakura menyentuh dada ayahnya, dan─

DHEG

"Benarkah?" tanya Minato lirih.

Ia tahu putrinya merasakan sesuatu. Putrinya pasti merasa termakan oleh omongannya sendiri.

"Aaa─ selamat tidur tou-san"

Sakura bergerak menjauh dari kamar Minato. Ia berjalan menuju dapur dan mengambil gelas. Ia menuangkan wine ke dalam gelasnya banyak-banyak serta meneguknya dalam satu kali tegukan. Lagi lagi dan lagi ia menuangkan dan meneguknya.

Semua anggota keluarga Namikaze ini sepertinya mulai mengandrungi dunia mimpi mereka. Kecuali Sakura. Karena sudah satu jam yang lalu ia berada di sini. Di dapur ini dalam keadaan gelap.

Kini berbagai pikiran kembali menghinggapinya. Tentang semua yang menimpanya. Wanita merah muda ini kembali mengingat bagaimana ekspresi Sasuke tadi. Wajah pria itu sangat terlihat kecewa. Betapa dengan mudahnya ia mengecewakannya, menyakitinya dan membuat pria itu selalu dalam keadaan sulit.

Sambil terus berjalan di dekat kolam renang dengan botol wine di tangannya ─ Sakura kembali membayangkan beberapa tragedi tempo hari dan ia sadar betul selalu menyalahkan Sasuke akan semua yang terjadi menimpanya. Pria itu bahkan dengan senang hati menerima itu semua, menerima perlakuannya yang membawa pria itu menuju perselingkuhan, membuat pria itu tak dapat berpaling darinya.

Oh, ia telah berhasil mewujudkan keinginannya dulu. Saat ia mendengar pria itu menikah ia bersumpah akan membuat pria itu menjadi miliknya. Tapi yang ia lakukan kini melimpahkan semuanya pada pria itu. Membuat pria itu menanggung semuanya.

Tidak hanya Sasuke yang terluka, tapi keluarganya juga dan─ Shion. Wanita yang mencinati Sasuke sama seperti dirinya telah ia ubah menjadi wanita jahat.

Ia berdiri tepat di bibir kolam, membalikkan badannya─ menghadap kolam renang. Hujan bahkan sudah reda setengah jam yang lalu. Langit nampak terlihat lebih indah di mata zamrun Sakura.

Wanita itu tersenyum dan ia merasa sebuah dorongan kecil menuntunnya untuk menjatukan diri ke dasar kolam. Jelas ia merasakan tangan itu mendorongnya... ia rasa ia berhalusinasi. Mungkin karena ia mabuk dan─

BYUR

Wanita yang bernama bunga kebangsaan Jepang itu menjatuhkan dirinya hingga ke dasar kolam. Ia berbalik dan menatap ke atas kolam. Sosok wajah yang kini ia lihat adalah Sasuke. Ia terus tersenyum membayangkan wajah pria itu.

"Sayonara... Sasuke-kun" batinnya lirih.

Lalu ia melihat wajah lain, sementara itu matanya semakin memburam dan menggelap.

.

.

.

.

.

Saat itu Hinata tidak bisa tidur. Ia bolak-balik kesana-kemari mengitari kamarnya. Kemudian ia merasa haus. Ketika itu, ia melihat genangan kolam itu sedikit goyah─ tidak setenang biasanya. Ia meneguk air mineral dalam gelasnya dan berjalan mendekati kolam. Kemudian berjalan cepat-cepat menuju kamarnya─ membangunkan seseorang yang sangat ia cintai, Suaminya; Naruto.

"Naruto-kun, bangunlah" ia mengguncang-guncangkan tubuh suaminya. Suaminya itu bangun dan terlihat lelah. Mungkin saja pria itu baru saja terlelap.

"Ada apa Hinata?" tanyanya dengan suara serak "Kau tahu? aku baru saja tidur"

"Maaf, tapi kolam─ itu─ dia.., Sakura.., " rancau Hinata dengan badan dan suara yang bergetar.

Naruto yang mendengar kata Sakura dan kolam langsung berlari menuju dapur yang akan menghubungkan dengan kolam renang di kediaman Namikaze.

Ia berlari sekencang mungkin.

Dan ia melihat Sakura yang berada dalam gendongan seorang tukang kebun baru mereka.

"Kami-sama, Sakura... apa yang terjadi pada mu sayang?"

Naruto menggantikan tukang kebun itu untuk menggendong adiknya. Ia lekas membawa Sakura menuju ruangan tengah. Hinata sudah siap dengan handuknya dan baju yang akan ia gantikan untuk Sakura.

Tangan wanita berambut legam itu tak henti- hentinya bergetar.

"I-ini Naruto-kun, ha-handuknya" ucapnya terbata.

Naruto mengambilnya dengan cepat. Ia sudah merebahkan adiknya di tempat tidur─ tempat untuk menonton televisi keluarga Namikaze. Kakak dari Sakura itu menepuk-nepuk pipi adiknya serta menekan dada adiknya agar air yang menyumbat di dalam tubuh adiknya dapat keluar. Ia juga memberikan nafas buatan untuk adiknya.

Dengan gesit ia melucuti pakaian Sakura dan mengganti pakaiannya yang basah dengan yang kering. Untunglah di situ hanya ada dirinya dan Hinata, sebab tukang kebun tadi entah berada di mana.

Kami-sama, Naruto tak dapat berpikir lagi.

Tanpa diminta tukang kebun tadi membawakan balsem dan air hangat untuk diberikan pada nyonya muda Namikaze ini.

Mata Hinata bergerak-gerak gelisah. Ia tak tahu kenapa tubunya merasakan tegang yang teramat. Mungkin shok ketika menemukan Sakura hendak bunuh diri?

Tangannya yang satu terus meremas tangan yang lainnya dan sesekali pandangan wanita ini tertuju pada si tukang kebun.

"Hinata, kenapa diam saja? Panggil tou-san dan panggil si pirang Ino!" titah Naruto yang geram akan sikap Hinata yang malah diam saja.

Tanpa ba-bi-bu, wanita itu segera melesat meninggalkan Naruto dan kedua orang itu─ untuk membangunkan ayah mertuanya dan─ Ino.

.

.

.

.

.

"APA YANG TERJADI PADA PUTRIKU" Teriak Minato dari arah kamarnya. Secepat kilat kepala keluarga Namiakze itu menghampiri putri dan juga putranya. Ia langsung memeluk Sakura yang terkulai lemah.

"Sayang? Kami-sama, Kenapa? kenapa?" Naruto sendiri hanya diam memandang lantai dengan kosong. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan.

"Tuan" itu adalah suara tukang kebun "Nona muda Namikaze baik- baik saja. Saya telah menghubungi dokter dan beliau sedang dalam perjalanan kemari"

Minato menatap tukang kebun itu dengan tatapan lega "Terimakasih de─ aah, maksudku... Shu-san" Tukang kebun itu mengangguk maklum.

Kemudian Ino datang dengan berurai air mata dari arah tangga─ ia menangis sesegukan dan berlari menuju ruangan di mana seluruh penguhuni kediaman Namikaze ini sekarang berkumpul.

"Sakura... Sakura...Kami-sama, apa yang aku lakukan? Aku berniat menemaninya, tapi aku justru benar- benar tertidur pulas.. Kami-sama" wanita itu memegang tangan Sakura sambil terus menangis "Aku benar- benar tidak berguna"

Bagaimana mungkin dua kali tragedi ia selalu kecolongan.

Pertama tragedi Sakura di dorong Shion di dekat tempat kerjanya, kedua adalah yang saat ini dan ini sangat parah. Ia yang berniat menjaga Sakura dalam tidurnya , menemaninya, justru ia yang pulas tertidur, dan Sakura mengalami ini. Bodoh, Ino merasa sangat tidak berguna.

"Kau memang tidak berguna" nada suara Hinata sangat dingin─ membuat ruangan menjadi semakin tak enak.

"Bagaimana mungkin Sakura bisa memiliki sahabat sepertimu... memalukan! Aku menganggapmu sahabat karena Sakura sangat menyayangimu, tapi aku tahu ...kau berniat memang membiarkan ini terjadi kan?" Sinis Hinata.

"Hinata! Hentikan!" tergur Naruto. Suaranya tertahan.

"KENAPA NARUTO- KUN?" Hinata balas berteriak.

"Jika aku melakukan kesalahan sedikit saja pada Sakura kau akan menegurku habis- habisan, begitu pula pada Ino. Tapi kau tak pernah menegur Ino apalagi Sakura jika kedua wanita itu bersalah.

Aku mengerti jika Sakura memang adik mu. Sodaramu! tapi Ino? Ia hanya sahabat Sakura!" Teriaknya frustasi.

Hinata terus memuntahakan keluh kesahnya. Wajahnya yang selalu terlihat cantik, ayu nan anggun berubah menyeramkan. Berbeda seratus delapan puluh derajat dari pada yang selalu terlihat.

"Aaa─ aku hampir lupa bahwa─ Ino mantan kekasih mu yang paling dekat dan mungkin saja ─ kau masih mencintainya!" Desis wanita itu. Suaranya sangat sengit.

"HINATA!" bentak Naruto yang hampir mendaratkan tangannya ke pipi istirnya.

"Ka- kau... JAHAT!" Hinata berlari meninggalkan ruangan tersebut─ sedikit berlari menuju kamarnya. Wanita itu mungkin menangis.

Kemudian dokter Temari datang serta langsung melakukan pengecekan. Setelah itu Minato dan Naruto mengangkat Sakura menuju kamar tuan Namikaze.

Ia tak dapat mempercayai siapapun kali ini. Karena apa yang terjadi saat ini begitu menakutan baginya. Sakura telah sadar, namun dokter Temari telah memberikannya obat tidur agar langsung dapat istirahat.

Setelah selesai memeriksa Sakura, dokter Temari pamit undur diri. Minato dan tukang kebun tadi mengikuti dokter itu, mengantarnya hingga pintu depan.

Kini Naruto memilih berbaring menyamping di sebelah adiknya. Di sisi lain Ino memilih duduk. Mereka hanya diam dan diam menyelami pikiran mereka masing- masing.

.

.

.

"Terimakasih dokter, karena dengan cepat anda langsung menuju kemari. Maaf telah mengganggu malam anda. Saya mohon, tolong mengenai masalah ini─" ucap tuan Namiakze dengan sopan.

Temari tersenyum lembut "Sudah menjadi kewajiban saya tuan. Tentu saja saya akan merahasiakan mengenai hal ini"

Minato mengangguk paham.

Setelah itu dokter Temari benar- benar pergi.

Kini hananya Minato dengan si tukang kebun.

Si Tukang kebun berkata "Tuan Namiakze, sepertinya saya telah mengetahui siapa musuh dibalik selimut seseorang selain Shion"

Mata Minato melebar "A- Apa?"

"Benar, saya telah menyaksikannya! Tuan Indra sudah memperkirakan hal ini, dan─ saya telah menemukan bukti serta melihatnya sendiri"

Tiba- tiba Minato merasa menggigil.

Jadi putrinya bukan mencoba bunuh diri? Tapi─ ada seseorang yang berusaha membunuhnya. Dan itu artinya seseorang yang telah mengancam nyawa putrinya ada di sini? Ada di rumah ini? bersamanya? bersama mereka?

"Besok, tolong pastikan semua keluarga berkumpul... termasuk tuan Sasuke Uchiha serta Kiba Inuzuka"

.

.

.

Detektif Indra adalah detektif terkenal di Jepang. Tidak ada yang tidak mengetahui kehebatannya dalam dunia kriminal jika orang itu benar-benar tidak pernah membaca koran atau menonton sebuah acara berita. Namanya selalu disebut-sebut hampir dalam setiap kasus yang sulit dipecahkan. Tak sedikit dari kasus-kasus yang telah lama ditutup, kemudian dibuka kembali dan dituntaskannya hingga ke akar-akarnya.

Disinilah detektif Indra berada bersama Sakura Namikaze untuk membicarakan sesuatu hal yang telah dialaminya.

Tuan Indra tersenyum tipis. Sekarang tuan Indra tahu kenapa kerabatnya─ Sasuke begitu menyukai wanita ini. Juga banyak orang yang ingin menghancurkannya. Karena wanita bernama Sakura Namikaze ini sangat cantik, cantik yang luar biasa dan mempesona. Selain itu auranya sungguh menyenangkan. Sesosok wanita harapan para pria, wanita yang tak membosankan, sosok wanita yang memiliki aura bisa memikat siapa saja yang dekat dengannya. Dan memiliki sesuatu yang dapat membangkitkan gairah tersendiri.

"Nona Sakura, saya rasa ... Saya tidak perlu memperkenalkan diri. Tentunya anda mengetahui saya" ditatapnya Sakura yang kini duduk menyandar pada bantalan. Ia sendiri duduk di kursi lain- di samping ranjang tepat di samping Sakura.

Wanita itu mengangguk sebagai jawaban.

"Saya ucapkan terimakasih karena nona mau bertemu dengan saya" kata tuan Indra. Dipandangnya wanita dengan helaian merah muda yang terlihat lemah, sekitar mata wanita itu terlihat lembab. Terlalu banyak menangis. Pikirnya. "Sungguh saya menyesal akan hal ini, nona harusnya beristirahat setelah mengalami berbagai peristiwa yang anda alami"

Wanita berhelaian merah itu tersenyum tipis. Berusaha mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Namun tentu saja tuan Indra tahu bahwa wanita ini tidak begitu. Sungguh pintar. Alangkah lebih baiknya wanita ini menjadi seorang aktor dari pada berpura-pura seperti ini. Batinnya.

"Tidak. Saya senang anda mau membantu saya dan keluarga. Tapi apakah benar adanya kasus ini? Saya rasa ... Saya tidak perlu pengusutan lebih lanjut" Sakura berkata dengan formal.

"Tentu. Tentu saja." Suara tuan Indra tetap tenang "tapi tuan Namikaze dan keluarga Uchiha menginginkan kebaikan untuk anda. Anda tahu.., suatu kejahatan seperti itu meski mungkin pada dasarnya seseorang tak bermaksud begitu.. dengan adanya dorongan emosi akan mendatangkan akibat yang sangat fatal."

Sakura menundukkan kepalanya.

"Baiklah" sahutnya "bagaimana saya harus memulainya?"

"Anda baik sekali." Katanya "Jika anda berkenan, ceritakanlah secara garis besar apa yang anda alami secara garis besar.. siapa saja yang benar-benar terlibat dengan anda pada saat kedatangan anda di Konoha. Dan tolong, jangan ada yang anda sembunyikan. Karena itu akan mempersulit. "

Ia mengangguk. Pada saat itu Sakura menceritakan segala sesuatu yang dikiranya penting. Hal-hal yang mungkin dapat membantu tuan Indra dalam mengusut semua ini. Mulai dari ia yang datang ke Konoha, pertemuannya dengan Sasuke, dimulainya hubungan mereka, Teror, dan hal-hal yang menimpanya. Hingga kejadian tadi malam.

"Saya pikir, saya mabuk tadi malam" Sakura tersenyum masam "ya saya memang mabuk." Ulangnya.

"Ketika itu─ saya merasa─ada tangan yang mendorong saya untuk terjun ke air. Suatu sentuhan yang halus dan lembut. Tapi terkesan memaksa. Ya, itu alkohol. Pasti" terang Sakura.

"Seperti itu" balas tuan Indra. Kemudian ia bertanya lagi dengan suara yang lembut. Tidak memaksa. Namun hal ini justru suatu trik untuk memancing seseorang yang dikiranya dapat memberikan informasi dapat berbicara dengan bebas. "Anda bilang anda melihat wajah?"

"Ahh, ya" jawab Sakura "dia─ wajah Sasuke yang pertama kulihat. Kemudian─ saya melihat wajah Hinata nee. Ku rasa ia melihatku tenggelam dan memanggil Naruto-nii. Mungkin, ketika itu saya telah pingsan" terangnya.

Tuan Indra menganggukkan kepalanya mengerti.

"anda yakin tidak melihat wajah lain?"

Wanita merah muda itu menggelengkan kepalanya.

"Saya mengerti. " Sahutnya " saya mengerti" ulang tuan Indra.


.


[Minggu, 09.30 Waktu Konoha Jepang─ Namiakze Mansion ]


Pagi itu setelah tuan Indra berbicara empat mata dengan Sakura semua keluarga Namikaze telah berkumpul.

Nyonya Namikaze Kushina bahkan telah pulang dari pekerjaannya. Ia sempat kaget mendengar kabar mengenai putrinya semalam yang sempat mencoba melakukan bunuh diri. Nyonya Namikaze ini memang tidak mengetahui bahwa putrinya mungkin saja bukan melakuan bunuh diri, tapi hampir saja menjadi korban pembunuhan.

Nyonya Namikaze itu terus memanjatkan rasa syukurnya pada Kami-sama, karena putrinya saat ini baik- baik saja, meski masih harus beristirahat di kamarnya.

Satu- persatu undangan lain seperti detektive Shikamaru, Sasuke Uchiha dan Kiba Inuzuka pun hadir.

Mari kita mulai dengan bentuk kursi di rumah ini. Rumah ini memiliki sofa pada umumnya. Dua buah sofa panjang yang saling berhadapan, ujung satu dan yang lainnya adalah sofa yang bersifat singel.

Kemudian yang selanjutnya adalah tempat duduk. Di mulai dengan detektive Indra dan Si Tukang Kebun yang menempati sofa singel. Semua mata hampir keluar─ kecuali Minato, ketika si tukang kebun itu duduk di salah satu sofa. Dan yang paling mencengangkan adalah ketika tukang kebun itu membuka penyamarannya.

Tukang kebun itu bukan tukang kebun sungguhan, tapi seorang detektive yang mereka semua kenal. Seorang detektive kepolisian dengan nama Kotetsu.

Kini di Sofa panjang pertama di tempati oleh tuan Namikaze dan Nyonya Namikaze, kemudian Ino serta Kiba. Di sofa panjang lain Sasuke duduk bersebelahan dengan Naruto di salah satu kursi panjang. Di sisi Naruto adalah Hinata. Wanita itu sepertinya masih sedikit merajuk. Ia kesal sekali pada suaminya. Tangannya saling bertautan dan sesekali saling meremas. Sedangkan detektive Naraduduk di kursi tambahan, di antara detektive Indra dan Tuan Namikaze.

Detektive Indra di sini yang akan memulai semuanya. Mengungkap kebenaran, mengungkap seseorang yang bertopeng baik namun sebenarnya jauh dari kata itu─ seseorang yang menjadi Musuh di balik selimut.

"Selamat pagi semuanya" sapanya dengan suara yang menunjukan umur detektive Indra, yang sudah tak muda lagi.

"Salam sejahtera bagi kalian semua yang hadir di sini."

Jeda sebentar.

Pria tua itu mengamati satu- persatu yang hadir di ruang keluarga Namiakze ini dengan teliti, kemudian tatapannya tertuju pada seseorang yang sepertinya merasa tak nyaman dan gelisah.

Ia tersenyum tipis.

"Saya tak menyangka di umur setua ini masih diberikan kepercayaan oleh keluarga Namiakze untuk menyelesaikan suatu masalah yang sebenarnya saya rasa─ tuan Namiakze sendiri bisa menyelesaikannya" ucapnya sambil menghadapkan wajahnya pada Minato.

Minato tersenyum kaku. Ia merasa malu juga karena kemampuannya diketahui pria ini. Namun, kemampuan mengamatinya kini bermasalah, sepertinya. Karena ia tak mampu mengenali siapa si dalang tersebut.

"Kita akan memainkan sebuah permainan. Yaitu dengan perumpamaan. Saling mencurigai antar satu sama lain tanpa terkecuali. Di mulai dari Tuan dan Nyonya Namikaze."

Hening. Suasana saat itu sangat hening, hingga hanya suara nafas saja yang terdengar.

Detektif Indra pun memulainya.

"Saya rasa tidak ada keraguan dari Nyonya dan Tuan Namikaze mengenai kasih sayang pada putri mereka─ nona Sakura. Mereka telah berusaha mati- matian memperjuangkan hidup putri mereka sejak kecil hingga saat ini. Maka tidak mungkin kedua orang tua ini tega menyakiti putri mereka dan membela seorang tersangka bernama Shion."

Semua orang menganggukan kepala mereka─ membenarkan kata- kata orang tua Indra.

"Tapi─"

Ia menatap satu- persatu "Tidak ada yang tidak mungkin, semuanya mungkin saja. Mungkin saja Nyonya dan Tuan Namikaze telah lelah akan putri mereka yang bersikap sesuka hatinya, manja dan yang lainnya sehingga mereka hilang kendali─"

Belum selesai kalimat itu disampaikan, seseorang memotong ucapannya.

"Detektive Indra" Naruto berseru garang.

"Ingat batasan anda! Mereka orang tuaku! Orang tua Sakura! Tidak ada orang tua yang akan melakukan hal sebejad itu! Apalagi Sakura adalah putri kesayangan keluarga ini" Wajah lain terlihat muak ketika Naruto berbicara seperti itu, sangat jelas. Namun tentu saja hanya Tuan Indra yang menyadarinya.

Detektive Indra tersenyum maklum.

Anak mana yang rela orang tuanya di tuduh- tuduh seperti ini.

"Tuan muda Namikaze, ingat... ini hanya perumpamaan. Kita semua akan kena akan semua ini termasuk anda" terangnya "sekarang saya akan memilih tuan Inuzuka yang katanya ada hubungan pula dengan Sakura Namikaze."

Kiba hampir membuka suara. Tapi ia membiarkan pria Uchiha tua itu melanjutkan kata- katanya.

"Saya mendapatkan data bahwa anda menyukai nona muda ini dengan sangat. Anda berusaha dekat dengannya dengan cara berteman entah bersahabat. Dan itu berhasil membuat nona muda Namikaze kita dekat dengan anda dalam ikatan rekan kerja, teman, sahabat, bahkan keluarga anda dan nyonya besar Namikaze sudah merencanakan perjodohan" saat itu mata Sasuke sukses melebar dan langsung menatap tajam pada Kiba yang tetap bergeming.

"Lalu apa yang menyebabkan saya mencurigai anda? Tentu saja itu mudah tuan Inuzuka, anda bermain suatu teka- teki bersama nona Shion dan nona Tayuya. Kalian bersekongkol, karena nona Sakura tidak menyukai anda dalam artian cinta"

Kiba kemudian berkata "Tapi tuan, itu tidak benar. Aku bahkan tidak mampu mengatakan bahwa aku menyukainya bahkan mencinatinya. Jika mengungkapkannya saja aku tak berani bagaimana bisa aku menyakitinya?"

"Tepat, ketika itu pengakuan atas Tayuya memperkuat bahwa anda tidak bersalah. Namun siapa tahu kan? Ingat? Siapapun di sini dicurigai." Jeda sebentar "Mari kita susun ceritanya. Seperti yang anda katakan bahwa anda tak mampu mengungkapkan perasaan anda pada nona Sakura. Dan karena itu anda terus memendamnya sedang hati anda tak mampu lagi untuk menahannya. Disisi lain nona Sakura tak mengerti arti dari sikap baik anda yang anda pikir cukup untuk menunjukan padanya perasaan anda. Anda kemudian merasa kesal dan merencanakan semuanya dengan nona Shion tanpa nona Tayuya ketahui. Semuanya akan terasa benar bukan?"

"Omong kosong" gumamnya dengan wajah yang memerah menahan marah. Pemuda Inuzuka itu menggeleng- gelengkan kepalanya tak percaya. Pria tua ini benar- benar menusuk bagian terdalam perasaannya yang ia tekan untuk tak keluar.

"Selanjutnya adalah Sasuke Uchiha" ia menatap Sasuke yang kini tertunduk.

"Sasuke Uchiha di sini paling tidak mungkin melakukan semua ini. Ia adalah pria yang sangat mencinati nona muda kita ini, ia rela meninggalkan semuanya demi nona Sakura, dan jelas sekali tidak mungkin ia pelakunya. Namun sayang sekali, justru itulah yang saya sering temukan dalam beberapa tugas saya. Orang yang terlihat tenang, stay cool, kemudian Cinta, obsesi, dan rasa ingin memiliki yang bererlebihan adalah hal yang sangat menakutkan"

Tidak ada kata penolakan ataupun sanggahan dari Sasuke. Ia hanya diam mendengarkan apa yang pria itu katakan. Hal itu memudahkan Tuan Indra untuk melanjutkan kembali perkataannya.

Tuan Indra kini menatap Ino dengan pandangan tersenyum. Sejak pertama bertemu wanita berhelaian blonde ini─ ia tahu ada sesuatu yang tersembunyi.

"Nona Yamanaka adalah orang luar dari keluarga ini. Sama seperti tuan Inuzuka dan Sasuke. Tapi kedekatannya dengan keluarga ini hampir seperti Sasuke Uchiha. Nona Ino sangat dekat dengan nona muda Sakura, pertama mereka dekat karena nona Yamanaka menjalin kasih dengan tuan muda Namikaze─ kakak dari nona Sakura. Bahkan ia menganggap nona Sakura sebagai adiknya sendiri. Tapi itu semua karena perasaan cinta anda pada Naruto, bukan murni karena anda menganggapnya sebagai adik anda. Bisa saja hal ini yang menjadi penyebabnya. Ingat? Cinta, iri, dengki, adalah hal yang menakutkan"

"A-apa maksud anda? Aku menganggap Sa-Sakura benar-benar adikku dan aku sudah mengubur perasaan itu pada Naruto" sanggah Ino tergagap, wajahnya memerah antara malu dan marah.

Namun tuan Indra hanya tersenyum tipis. Ia melanjutkan.

"Dan nona Hinata Namikaze. Anda adalah menantu di rumah ini. Bagi keluarga ini anda adalah hal yang sangat menggembirakan, mengingat anda sedang mengandung keturunan atau pewaris perusahaan ini. Saya rasa anda tidak mungin melakukan tindakan keji ini bukan? Karena anda tengah mengandung, anda sangat lugu, anggun dan kefeminiman wanita seluruhnya ada pada diri anda. Saya akui nona Sakura memang cantik, cantik yang luar biasa. Tapi anda lebih dari itu. Oh, saya hampir terpesona ketika melihat anda pertama kali. tapi─ di sini siapa saja bisa dicurigai, nona?"

Hinata mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali. Ia tersenyum bangga, sebab ia dipuji setinggi langit. Ia sungguh senang. Maka ia membiarkan Tuan Indra meneruskan pembicaraannya tanpa memberikan komentar mengenai kecurigaan tuan Indra.

"Yang terakhir─ tuan muda Namikaze, ahh, tidak ada alasan saya mencurigai anda. Anda adalah calon kepala keluarga selanjutnya di keluarga ini. Anda sangat menyayangi adik anda melebihi ibu dan ayah anda karena itulah yang ayah dan ibu anda ajarkan bukan?"

Naruto mengangguak kan kepalanya. Itu memang kenyataannya.

"Namun tuan Muda, hal yang terlalu berlebihan juga tidak baik... hal itu bisa menimbulkan sesuatu di dalam hati. Dan meracuni keseluruh permukaan!"

Tuan Indra menghela nafasnya. Ia mencoba mengatur nafasnya.

"Melihat semua hal yang kita ungkap hari ini melalui perumpamaan, kecurigaan dan sebab- sebab yang membuat semua orang yang berada di sini dapat dinyatakan sebagai pelaku, membuat saya sedikit kesulitan. Sebenarnya saya sudah memiliki jawabannya ketika saya berhadapan langsung dengan nona Shion. Akan tetapi cerita tuan besar Namiaze , cerita nona Sakura dan tragedi tadi malam memperkuat semuanya. Memperkuat gagasan saya."

Pria tua itu kemudian berdiri. Ia berkata tegas dengan suara tuanya. Ia mengatakan dengan lantang, menatap langsung kedua netra yang kini bersibobrok dengan Onyx nya.

Semuanya serempak berdiri─ menatap langsung sang tersangka.


.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


TBC─


A/N:

Ini dia chapter yang menjelaskan segala pengusutan dan berbagai masalah lainnya. Bisa ditebak kan siapa si musuh di balik selimut ini? Awalnya dhe-chan tidak terpikirkan untuk membuat scene mengenai penelusuran tiap detektive dan yang lainnya. Tapi ko rasanya kurang. Selain itu dichap sebelumnya kan banyak yang minta pengusutan masalah Sakura ^^ Chap ini sedikit banyak terinspirasi dari novel- novel detektive kesukaan dhe-chan, terutama karya Agatha Christie. Dhe-chan menggunakan metode pengungkapan kasus oleh Tuan Indra seperti Mr. Hercule Poirot dalam novel Agatha Christie.

Selain itu maaf fic ini belum kelar dichap depan. Ada bonus 1 chapter sebagai epilog. Terimakasih untuk para reader yang tetap setia menunggu dan R&R fic ini. Maaf (lagi) untuk segala kekurangan yang ada dalam fic dhe-chan.


Mind to review?