ketika kau melihat seorang menembak orang tua, kemungkinan seseorang itu akan merasa takut pada si penembak. Tapi jika seseorang melihat anak kecil ditembak, bukannya takut tapi seseorang itu kemungkinan akan marah.

Happy reading lah, jangan ikuti saya yang sedang tidak happy.


Disclaimer : Masasshi Kishimoto.


1.

Tiga hari yang lalu, aku dan Hinata menumpang sebuah kapal imigran gelap yang berlayar dari Australia ke benua Amerika atas perintah Sasuke. Dia bilang jika kami menggunakan transportasi biasa seseorang bisa dengan mudah mengintersep perjalananku, karena itulah dia membuatku naik kapal yang tidak punya jadwal dan tidak terasosiasi pada negara manapun untuk melakukan perjalanan.

Hanya saja, pada suatu titik sistem navigasi kapal yang kami tumpangi tidak bisa berfungsi dengan baik dan membuat si nahkoda agak kehilangan arah. Tapi mungkin sebab yang mengatur kapal punya kemampuan hebat, dia mampu menjadi navigator hanya dengan melihat ke langit.

Seperti beberapa ratus tahun ke belakang, kompas yang kami gunakan adalah bintang. Dan meski perjalanan kami sudah keluar jalur tapi arah perjalanan kami masih sama. Menuju benua Amerika.

Beberapa jam kemudian, kapal kami diserang oleh segerombolan orang bersenjata yang sama sekali tidak kelihatan baik. Mesin kapal yang kami tumpangi rusak, dan mereka bisa naik ke kapal dengan bebas.

Aku tidak tahu apa maksud mereka melakukan hal itu. Hanya saja kenyataan kalau mereka tidak memperlakukan seorangpun dari kami dengan baik adalah sudah lebih dari cukup untuk meyakinkanku kalau kami semua sedang dalam masalah.

Dan aku sama sekali tidak menyukai masalah.

Aku ingin melakukan sesuatu, tapi sebelum aku bisa memikirkan cara bagaimana kami semua bisa pergi dengan selamat. Si nahkoda sengaja menabrakan kapalnya ke kapal orang-orang yang menyerang kami, sebelum pada akhirnya menabrakan diri pada karang dan menyuruh semua orang untuk mengambil pelampung dan melompat ke air.

Setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi sebab saat jatuh dari kapal sepertinya kepalaku terbentur dan aku kehilangan kesadaran. Dan begitu sadar, aku sudah berada di pantai bersama dengan Hinata.

Dari senyumnya yang tidak natural waktu itu, sedikit banyak aku bisa membayangkan apa yang sudah terjadi. Karena itulah aku memutuskan untuk tidak mengangkat topik itu. Hinata hanya menjalankan tugasnya, dia memprioritaskan keselamatanku.

Dengan kata lain Hinata tidak akan memperdulikan kesulitan orang lain jika aku berada dalam bahaya. Karena memang program yang ada pada dirinya dibuat seperti itu.

Aku ingin ke sana lagi. Tapi aku tidak melakukannya.

Kami menelusuri pantai untuk menemukan jalan ke permukan, dan di saat itulah seorang gadis jatuh dari atas tebing lalu pada akhirnya membawaku sampai ke tempat ini.

Kau mungkin berpikir barang tambang paling berharga di dunia ini adalah berlian, emas, ataupun minyak yang sering jadi bahan rebutan banyak negara. Tapi meski pernyataan itu sebenarnya tidak salah, di jaman modern ini hal itu juga tidak terlalu benar.

Di era ini, pada beberapa negara ada empat jenis bahan tambang yang bisa sangat cepat memancing konflik. Keempat mineral itu adalah Cassiterite, Coltan, Wolframite atau lebih gampangnya mungkin Tin, Tantalum, dan Tungsten. Dan yang terakhir adalah emas.

Harga ketiga jenis mineral tadi tidaklah lebih tinggi dari emas, tapi demi ketiga jenis mineral ini kadang kekerasanpun digunakan untuk bisa memaksa orang-orang agar mau melakukan eksploitasi terhadapnya. Terhadap tanah yang mengandung banyak ketiga jenis mineral itu.

Kenapa? seharusnya orang yang sudah pernah mendapatkan sedikit pendidikan tentang kelistrikan tahu sebabnya. Ketiganya diberikan rating setinggi itu karena mereka diinginkan oleh triliunan manusia di dunia ini. Sehingga melakukan bisnis dengan dengan ketiga jenis material itu sangatlah menguntungkan.

Sepertiga produksi tin dibuat untuk membuat solder listrik. Tungsten diperlukan dalam manufaktur peralatan elektronik, lalu tantalum digunakan untuk membuat kapasitor elektrik yang tempatnya ada di semua jenis barang elektronik. Mulai dari tv yang kalian tonton, konsol yang kalian mainkan, komputer yang kalian pakai bekerja dan membuat tugas, lalu smartphone yang kalian gunakan untuk mengunjungi situs-situs terlarang.

Dan untuk emas sendiri selain menjadi perhiasan juga diperlukan dalam produksi barang elektronik, karena sifat penghantar listriknya yang sangat baik emas biasa disematkan dalam motherboard.

Sekarang harusnya kalian tahu apa yang kumaksudkan dengan kalimat "semua orang menginginkannya".

Yah. Di jaman modern ini, orang yang tidak punya ponsel mungkin bisa dihitung dengan jari. Keluarga yang di rumahnya tidak ada tv ataupun radio atau peralatan multimedia lain mungkin jumlahnya sangat sedikit. Dan dari tahun ke tahun permintaan orang-orang akan benda semacam itu semakin naik dan naik tanpa adanya pertanda untuk turun.

Jadi bisa dibilang berbisnis ketiga jenis material itu adalah sebuah usaha dengan masa depan yang sangat-sangat cerah. Saking cerahnya bahkan siapapun akan silau olehnya.

Dan pulau tempat di mana aku dan Hinata terdampar adalah salah satu tempat yang mampu memproduksi ketiga jenis mineral itu secara masal. Yang di atas memberikan anugrah dengan memberikan tempat ini stok ketiga mineral itu yang katanya bisa bertahan sampai lima puluh tahun lagi meski terus dikeruk.

Lalu apa yang terjadi?

Normalnya pemerintah akan mengambil alih pertambangan agar bisnis tidak dikuasai oleh pihak swasta, yang biasanya senang memonopoli sesuatu agar bisa dapat banyak keuntungan. Dengan dipegang oleh pemerintah harga komoditas bisa stabil, lapangan kerja terbuka dan hasilnya harusnya nanti akan kembali ke rakyatnya kalau tidak dikorupsi.

Tapi sayangnya di tempat ini yang terjadi tidak seperti itu.

Seperti di mexico yang polisi nasionalnya kalah jumlah dan peralatan dengan para penjual obat-obatan ilegal, di sini selain polisi pemerintah juga bahkan berada dalam tekanan perusahaan swasta. Dan ancaman yang diberikan mereka bukanlah hanya sekedar "kami tidak akan berinfestasi di sini" melainkan "jangan main-main dengan kami", percaya atau tidak begitulah keadaannya.

"Lalu kenapa tentara nasional tidak bertindak? bukankah tindakan mereka sama dengan terorisme?"

Perusahaan penambang itu menyewa PMC dan mereka digunakan untuk memaksa orang-orang di pulau ini untuk bekerja dengan bayaran minim atau bahkan tanpa bayaran. Dan sebab PMC itu adalah organisasi militer yang bergerak ke arah uang seperti bunga matahari, mereka akan melakukan apapun asal mereka dapat uang.

Dengan kata lain, mereka itu tidak perduli dengan asas tentara nasional yang ada untuk melawan musuh yang mengganggu kedamaian negara.

"Pulau ini terisolasi sayang, kau harusnya sudah tahu itu."

"Jangan panggil aku sayang Konan, kau membuatku agak merinding."

"Kalau begitu darling?"

"Sama saja bodoh!."

"Papa?"

"Sekarang aku benar-benar merinding!."

"Kakak?"

"Adiku hanya Hanabi!."

"Kalau begitu bagaimana aku harus memanggilmu?"

"Panggil saja aku seperi biasa Konan."

"Pedo!"

"Bukan itu! gunakan saja namaku, kau ingat namaku kan Konan? Na-Ru-To."

"Cih. . "

"Apa-apaan reaksimu itu!?."

"Apa kita tidak bisa membicarakan hal yang lebih romantis?"

"Ha?"

Biar kujelaskan situasinya.

Rencana awalku dan Hinata adalah segera keluar dari pulau ini, tapi begitu kami sudah sampai di pelabuhan tidak ada satupun angkutan laut maupun orang yang mau membawa kami keluar pulau.

Beberapa bulan yang lalu, setelah aku berhasil menjatuhkan Trident dengan bantuan semua orang pemerintah ingin memberiku mendali dan penghargaan. Tapi aku menolaknya sebab selain keduanya sama sekali tidak ada harganya bagiku, aku juga tidak ingin memancing hal buruk lain dengan membuat namaku dikenal oleh orang banyak.

Karena itulah aku minta mentahnya saja. Dan dengan begitu mereka mengirimkan uang dalam jumlah yang besar ke rekeningku. Lalu memanfaatkan uang itu, aku sempat menawarkan bayaran yang cukup tinggi agar seseorang mau mengantarku keluar dari tempat itu.

Hanya saja. Hasilnya adalah nihil.

Dari hasil pengamatanku yang bisa keluar dan masuk pulau hanyalah orang-orang tertentu saja. Dan orang-orang tertentu itu adalah anggota PMC perusahaan atau anggota perusahaan itu sendiri yang akan mengirim barang atau berbisnis dengan pihak luar pulau.

Yang tidak punya ijin tidak boleh keluar dari pulau, dan yang menentukan boleh tidaknya seseorang keluar dari pulau adalah orang perusahaan. Yang sampai saat ini belum pernah mengijinkan orang lain keluar selain orang-orang dalam lingkaran mereka. Jika ada yang memaksa keluar mereka akan dihukum, lalu jika ada yang menyelinap dan ketahuan mereka akan langsung dieksekusi.

Lalu salah satu orang yang tidak boleh keluar itu adalah aku.

Aku memutuskan untuk mundur sebab senjata otomatis yang mereka arahkan padaku tidak kelihatan seperti mainan yang hanya menyemprotkan air sebagai pelurunya. Hinata akan melindungiku, tapi sebab musuh yang harus kami hadapi itu banyak melakukannya akan sangat sulit. Selain itu lawan kami adalah manusia yang tindakannya tidak sesimple mesin.

Kemudian, jika keadaanya benar-benar gawat bisa jadi Hinata akan melakukan tindakan yang ekstrim. Dia tidak pernah melakukannya, tapi bisa saja Hinata membunuh orang-orang itu.

Demi kebaikan bersama aku dan Hinata mengangkat tangan dan kembali ke dalam kota. Memaksa maju sama sekali bukan keputusan yang bijak sebab apa yang akan kami hadapi sama sekali masih belum jelas.

Ketika kami sedang mencari tempat untuk menginap dan mencari informasi lebih lanjut tentang seluk-beluk pulau ini, kami kembali bertemu dengan Konan. Yang sekali lagi sedang mendapatkan masalah.

Kalau sebelumnya dia dikejar-kejar oleh tentara bersenjata sekarang dia sedang digeret oleh seorang pria besar.

Dan ketika aku bilang digeret aku tidak main-main. Kata digeret disini sama sekali bukan konotasi melainkan kenyataan. Tangannya diborgol dan tubuhnya ditarik dengan kasar.

Gadis itu mencoba melawan dan mogok untuk berjalan, tapi tindakan itu malah membuat si penarik jadi tambah marah dan menarik Konan lebih keras. Gadis itu berkali-kali jatuh, dan dari warna merah di pergelangan tangannya aku bisa tahu seberapa seriusnya gadis itu ingin melawan.

Tentu saja aku tidak hanya tinggal diam.

Memangnya siapa yang bisa diam saat melihat seorang gadis manis sepertinya diperlakukan seperti itu? dan pemandangan itu sudah lebih dari cukup untuk menyulut kemarahanku.

Aku segera mendekati orang itu dengan wajah mengintimidasi. Dan begitu dia menyadari kehadiranku, orang-orang yang sepertinya adalah bodyguarnya segera menghalangiku dan menatapku dengan pandangan yang jauh lebih mengintimidasi.

Meski aku malu tapi aku langsung mundur dan mendekati Hinata. Kau boleh bilang kalau aku ini pecundang, tapi jika aku adu kekuatan dengan orang-orang bertampang sangar dan berbadan besar di depanku itu bisa dijamin seratus persen kalau aku akan babak belur.

Aku ingin membawa Konan keluar dari situasinya waktu itu, tapi aku juga tidak mau mengundang banyak perhatian dengan menyuruh Hinata mengamuk di tengah kota. Karena itulah, meski aku tidak yakin akan berhasil aku mengajukan sebuah proposal pada orang yang sedang membawa Konan.

"Bisakah kau melepskannya?"

Saat itu aku tidak benar-benar berharap untuk mendapatkan jawaban yang positif. Tapi nyatanya jawaban yang kuterima malah sukses membuatku kaget sendiri.

"Dia adalah miliku? jika kau menginginkannya berikan tawaran terbaikmu"

Awalnya aku agak bingung dengan apa yang dia maksud, tapi setelah beberapa saat berpikir aku akhirnya paham bagaimana keadaan di pulau ini sekarang.

Aku melihat ke arah Konan, tapi begitu pandangan kami bertemu dia memalingkan wajahnya dariku.

"Apa kau menerima pembayaran lewat ?"

Setelah tarik ulur harga akhirnya aku dan orang tidak dikenal itu sepakat, dan dengan ponsel pinjaman yang kudapat dari orang itu juga. Yang ternyata bisa dapat koneksi internet, akhirnya aku selesai melakukan transaksi.

Aku agak was-was kalau-kalau orang itu hanya menipuku dan tidak benar-benar mau memberikan Konan padaku, tapi sekali lagi aku dibuat terkejut. Orang itu melepaskan Konan dan menyodorkan gadis itu padaku lalu pergi meninggalkan kami bertiga.

Sepertinya aku harus berlatih tidak berpikir buruk tentang orang lain.

Orang itu mungkin hanya menganggap kalau Konan tidaklah sepenting itu, tapi aku benar-benar bersukur masalah yang kutemui kali ini bisa diselesaikan secara damai. Meski tidak dengan benar.

"Sekarang bagaimana Konan? kalau kau mau pergi aku tidak akan menghalangimu."

Yah. Di pulau ini sepertinya sistem budak masih ada. Atau lebih tepat kalau dibilang. Kembali ada dan digunakan.

"Aku ingin pergi dari orang itu bukan karena ingin pulang."

Baginya tempat pulang sudah tidak ada lagi. Dia tidak lagi mempunyai tempat yang bisa disebut rumah.

"Tapi karena aku tidak ingin bersama orang itu."

"Jadi kau ingin bersamaku?"

Dia tidak menjawab.

"Aku paling benci jika apa yang kumiliki dirusak atau direbut seseorang, karena itulah aku akan menjaganya dengan baik."

Sebenarnya alasan aku menjaga dengan baik barang-barang yang kupunya adalah karena aku punya uang yang sangat minim, jadi jika aku sampai merusakannya ada kemungkinan sangat besar kalau aku tidak akan bisa menggantinya lagi.

Hanya saja mengutarakan alasan macam itu dalam suasana seperti ini akan membuatku kedengaran tidak keren.

"Dan berhubung kau sudah menjadi miliku, aku juga akan menjagamu dengan baik."

Aku meletakan tangan kananku di atas puncak kepalanya, setelah itu aku mengelus rambutnya. Kemudian. . .

"Un. . "

Diapun mengangguk kecil.

Dengan begitu, secara resmi kepemilikian Konan berada di tanganku. Setidaknya di pulau ini.

2.

Di sini memang tidak ada daerah yang seratus persen aman, sebab pulau tempat kami terdampar itu tidak seluas rata-rata pulau utama untuk ukuran negara maritime. Oleh sebab itu tidak ada lagi tempat yang dilabeli 'tidak terjamah" dan bisa ditinggali dengan aman selama lima puluh tahun ke depan.

Semua area sudah dieksplorasi dan setiap inci pulau ini tidak lagi suci alias sudah pernah dijamah seseorang. Selain itu setiap jamnya ada anggota PMC yang berpatroli untuk menjaga agar tidak ada orang yang keluar atau masuk pulau tanpa ijin.

Tapi meski begitu, walau tidak seratus persen ada sebuah tempat yang bisa dibilang cukup aman. Dan tempat itu adalah ladang jagung dan beberapa sayuran serta kebun kopi.

Bahkan orang-orang yang tinggal di sana juga diperlakukan lebih baik kalau diukur hanya menggunakan standart tempat ini.

Mereka mendapatkan perlakukan yang agak lebih baik bukan karena PMC di area itu baik, melainkan karena keberadaan mereka penting untuk pulau ini sebab tidak ada orang lain yang ingin menggantikan posisi mereka jika ada yang terluka atau hilang.

Aku tidak ingin menggunakan kata mati.

Gampangnya mereka diberikan sedikit kebebasan sebab jika mereka tidak ada tidak ada lagi yang mau ataupun mampu untuk menggantikan posisinya. Jika mereka tidak ada pulau ini akan mendapatkan kesusahan.

Petani.

Harusnya kalian masih ingat kalau pulau yang namanya masih belum kuketahui ini ingin mengisolasi diri. Dengan sistem yang seperti itu memberikan makanan pada penghuninya yang berjumlah sangat banyak menjadi hal yang sangat merepotkan.

Dengan bantuan agrikultur lokal maka kebutuhan pasokan bahan makanan dari luar akan bisa sedikit dikurangi dan hal itu akan sangat membantu perusahaan dan orang-orangnya. Mereka tidak perlu mengeluarkan dana berlebihan dan harus keluar masuk pulau terlalu sering.

Ke tempat orang-orang itulah Konan membawaku dan Hinata.

Meski di sini tidak ada tempat tinggal yang bisa disebut layak, tapi bangunan semacam shelter yang kutempati punya luas yang lebih dari cukup untuk menampung aku, Hinata, seorang kakek tua, Konan dan puluhan anak perempuan kecil yang sudah lebih dulu tinggal di sini.

"Bagaimana? apa kau menyukai tempat ini Naruto?"

"Bukankah aku tidak punya pilihan Konan?"

"Tapi aku mengajakmu ke sini sudah dengan banyak perhitungan, aku bahkan juga ikut memperhitungkan seleramu."

"Jangan mengatakan hal yang konotasinya kalau aku ini lolicon!."

"Memangnya bukan?"

Kau mungkin tidak tau Konan, tapi gadis yang melakukan kontak denganku bukan hanya gadis kecil yang masih di bawah umur. Memang keimutan para loli sangat menggemaskan dan membuatku ingin memeluk mereka, tapi kau salah kalau berpikir aku tertarik pada mereka seakan pada lawan jenis secara umum.

Untuk kasus Hanabi agak lain tapi pada dasarnya aku bukanlah lolicon yang akan terangsang oleh anak kecil. Aku adalah remaja laki-laki normal yang tertarik pada remaja perempuan cantik lain. Paham tidak?

"Kalau begitu sebutkan nama gadis beruntung itu."

"Shion . . . dan Shion. . . .lalu. . . . Shion?"

Sepertinya kenalan gadis seumuranku tidak terlalu banyak.

"Sekarang aku paham kenapa pacarmu terus-terusan berada di pojok ruangan sambil berdoa ingin jadi loli, kau bahkan tidak menyebutkan namanya."

Aku tidak bilang kalau dia itu bahkan bukan manusia.

"Jangan perdulikan dia, apakah di sini ada listrik Konan?"

"Kalau dibilang ada sih ada, tapi kalau dibilang tidak ada juga tidak ada."

"Jadi ada atau tidak!?"

Di pulau ini ada beberapa fasilitas pembangkit listrik, tapi sebab sumber daya yang bisa digunakan sebagai sumber listrik terbatas pada angin, ombak, dan sinar matahari penggunaanya jadi sangat dibatasi. Dan tentu saja aliran listrik dimonopoli oleh pihak perusahaan sehingga penghuni lain tidak akan mendapatkan arus listrik bahkan sekedar untuk menyalakan sebuah bohlam lima watt.

Dan aku juga termasuk dari salah satu orang-orang itu.

Tempat kami tinggal memiliki sangat banyak lampu, tapi yang bisa menyala hanyalah lampu di area peralatan, dan itupun tidak boleh hidup terus. Karena itulah saat ini, begitu semua penghuninya selesai makan malah hampir tidak ada lagi suara yang bisa kudengar.

Dengan tidak adanya penerangan, kebanyakan penghuni memutuskan untuk segera beristirahat. Selain itu mereka semua juga sudah lelah saat pagi sampai sorenya, tidur saat baru jam tujupun kurasa tidak aneh.

Yang aneh adalah.

"Kenapa kau tidur sambil memeluku Konan?"

Aku tidak akan menerima alasan tidak ada tempat. Shelter yang kami tumpangi sekarang ini berukuran sangat besar, dan di dalamnya ada beberapa bagian yang dipisah-pisah menggunakan tembok tebal sehingga bisa dijadikan kamar. Jika dia mau dia bisa menempati ruang itu bersama dengan seseorang yang jauh lebih dia kenal dariku.

"Aku tidak bisa membiarkan majikanku kedinginan."

"Setidaknya kau bisa memberikanku selimut."

"Tidak ada selimut di sini, jadi aku yang akan jadi selimutmu mulai malam ini dan selanjutnya."

Sekarang aku malah jadi merinding. Bukan karena udara dingin, tapi karena ada sesuatu yang memancarkan aura tidak enak dari arah belakangku. Mungkin sensasinya bisa disamakan dengan saat seorang penakut menonton film horor di rumah sendirian.

Dan sumber perasaan tidak enak itu adalah Hinata yang sedang memandangku dengan muka horor.

Mengesampingkanku yang sedang berkeringat padahal sedang kedinginan, dengan polosnya Konan bertanya pada Hinata.

"Nona Hinata? kenapa kau jadi agak seram."

Untuk sesaat Hinata hanya diam, dan gara-gara kurangnya cahaya aku tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana raut wajahnya. Tapi untuk suatu alasan, aku yakin bagaimanapun itu, raut wajahnya tidak menunjukan kabar baik.

"Konan, biar kuberitahukan sesuatu."

"Ap . .apa?"

"Naruto tidak akan puas hanya dengan dipeluk! kau harus memberikan semua yang kau miliki padanya! tapi haha. . hahaah. . sayang sekali, kau tidak akan bisa melakukannya dan kalau kau tidak bisa melakukannya Naruto tidak akan menerimamu seutuhnya. . ."

Orang-orang yang sudah terbiasa dengan kegilaan Hinata dan sering mendengar omongannya yang ngawur pasti akan tahu kalau apa yang baru saja dia katakan itu sama sekali tidak artinya. Contohnya saja jika Shion mendengarnya, gadis itu akan menyuruhnya untuk segera tutup mulut sedangkan jika Amaru yang mendengarnya maka dia akan naik ombak dan ikut-ikutan menambah kesalahpahaman.

Untuk Hanabi. . . mungkin dia akan menghajarku.

Sayangnya tidak mungkin Konan bisa mengetahui semua itu.

"Aku tahu kalau kau ini lolicon mesum! tapi aku tidak menyangka kalau kau semesum it. . itu. . ."

"Kau sama sekali tidak menilaiku dengan benar Konan! dan jangan terus-terusan mengecapku sebagai lolicon!."

"Sayang sekali kau gadis kecil! kau tidak akan bisa melakukannya! sebab kau masih di bawah umur! hahahahah . . . .."

Sekali lagi, aku memang tidak bisa melihat bagaimana ekspresi Hinata tapi meski begitu aku yakin kalau dia sedang memasang ekspresi kemenangan di wajahnya. Dan yang lebih parahnya lagi, meski dia sudah berhasil memojokanku dia masih belum puas juga untuk mengotori nama baiku.

"Naruto boleh lolicon!."

Aku bukan lolicon. Dan siapa yang memberikanmu hak untuk mengijinkanku menjadi lolicon?

"Naruto boleh siscon mesum!."

Tolong buang kata mesumnya, kalau kau hanya menyebutku siscon aku akan terima dengan senang hati dan malah menganggapnya pujian.

"Dan mungkin dia jauh lebih menyukaimu daripada aku."

Kenapa nadamu tiba-tiba berubah? lalu untuk yang ini kau juga sudah salah besar Hinata.

"Tapi yang bisa membuatnya bahagia hanya aku! hanya aku yang bisa memberikan apa yang dia inginkan! sebab hanya aku yang bisa memberikan semua yang kumiliki hanya untuk Naruto!."

Sebelumnya dia menggunakan nada bercanda yang biasa dia gunakan saat sedang beradu argumen dengan Shion maupun Amaru. Tapi kata-katanya yang terakhir itu terasa lain. Dia serius.

Dan keseriusannya itu sudah tersampaikan pada semua orang yang baru saja mendengar deklarasi mirip pernyataan cintanya itu. Entah itu aku, Konan, dan bahkan seseorang yang tidak sengaja lewat di depan ruangan kami sempat merasa seakan waktu baru saja dihentikan untuk sesaat.

Selain itu, keseriusannya juga berhasil mengingatkanku akan banyak hal.

Aku tidak bisa hidup tanpanya, dan dia tidak akan punya apa-apa jika aku tidak ada.

Begitulah status hubunganku dengannya. Kami tidak bisa dipisahkan. Kami tidak boleh berpisah. Sebab jika salah satu di antara kami yang tidak lagi ada. Keberadaan sisanya akan jadi sangat rapuh dan bahkan tidak ada lagi artinya.

Semua yang dia katakan memang benar. Yang bisa membuatku bahagia adalah dia, yang memberikan apa yang kuinginkan adalah dia, dan hanya dia yang mau memberikan semua yang dia punya hanya untuku.

Dialah yang sudah melindungiku, Hanabi, Shion, dan Amaru. Tanpanya entah apa yang sudah terjadi pada ketiga orang itu. Jika salah satu dari mereka ada yang menghilang, aku mungkin akan benar-benar tidak akan bisa merasakan kebahagiaan lagi.

Dan yang menjaga mereka semua adalah Hinata. Dialah yang menjaga semua yang berharga untuku. Yang dia lindungi bukan hanya aku, melainkan semua yang ada di sekitarku. Semua yang penting bagiku, dan semua sumber kebahagiaanku.

Keinginanku adalah perintah baginya, harapanku adalah tujuan hidupnya dan impianku. . . . adalah apa yang akan dia lindungi dengan seluruh miliknya. Apapun yang terjadi, hal macam apapun yang datang untuk menggangguku, dia akan berdiri di depanku dan menghancurkannya.

Dan dia mau melakukannya untuku. Hanya demi aku.

"Ugh. . . aku tidak mungkin bisa menang dari pacarmu. . ."

Aku ingin segera tidur. Kalau tidak aku akan melewatkan kesempatan untuk bisa ngantuk dan melupakan kata-kata memalukan yang baru saja Hinata katakan.

"Aku bahkan mulai merasa kalau kau ada hanya untuk Naruto. . ."

Aku tidak tahu Konan dapat informasi dari mana, tapi apa yang baru saja dia katakan tidaklah terlalu jauh dari kenyataan.

"Tapi aku tidak bisa menyerah. . . aku juga punya hal yang harus kulindungi! hal yang lebih penting dari nyawaku."

Sinar bulan berhasil masuk dari sebuah lubang kecil di langit-langit shelter tua tempatku mengungsi ini, dan sinar itu agak membuat keadaan ruangan jadi sedikit lebih terang. Membuatku bisa sedikit lebih jelas dalam melihat bagaimana raut wajah Konan yang sedang berdiri sambil menundukan kepalanya di depanku.

Untuk suatu alasan aku bisa menangkap sebuah penyesalan dari ekspresi yang dia tunjukan.

"Karena itulah. . . aku tidak bisa mendapatkan jiwamu setidaknya aku akan mendapatkan tubuhmu meski hanya secara fisik."

Arah pembicaraanya jadi aneh. Dan kenapa dia memegang tshirtnya dengan sangat erat? apa dia kedinginan? lalu apa aku sedang berada di sebuah pulau misitis di mana orang-orang di dalamnya akan mempersembahkan tubuh seseorang pada sesuatu. Kalau iya, aku benar-benar sedang merinding sekarang.

"Tubuh tidak tidak bisa bohong kan? kalau kau sudah merasakannya aku yakin kau akan menginginkannya lagi! aku yakin kau tidak akan kecewa sebab aku masih polos dan belum pernah dijamah oleh siapapun."

Memangnya kau ini apa? kecap? lalu apa-apaan kata-kata berkonotasi negatif yang baru saja kau katakan tadi bocah? apa kau masih waras? bagaimana seorang gadis yang bisa mengatakan hal semacam itu bisa disebut polos?

"Woi-woi-woi! apa yang kau coba lakukan Konan?"

"Tentu saja melepaskan baju! memangnya kau tidak lihat?"

"Aku juga tahu! kalau tidak aku tidak akan memegang kedua tanganmu yang sedang mengangkat t-shirtmu ke atas.

"Yang ingin kutahu adalah kenapa?"

"Kenapa kau bilang? tentu saja agar kau terangsang dan segera tegang lalu bisa melakukan penetrasi padaku."

Kau ingin aku melakukan apa? sepak bola? kalau iya sayang sekali sekarang sudah agak malam.

"Hal gila apa yang baru saja kau katakan Konaaaann! aku bahkan tidak sempat mensensornya! dan kau bahkan masih belum cukup umur untuk boleh melakukannya! meski bukan itu masalahnya!."

Masalahnya adalah bagaimana bisa gadis ini berpikir sampai sejauh itu. Aku dan dia baru bertemu, dan aku juga yakin kalau flag yang kudirikan masih belum bisa membuatnya setergila-gila ini padaku. Saking gilanya aku bahkan tidak lagi kenal dengan Konan yang sekarang sedang kupegang kedua tangannya ini.

"Hinataa! bantu aku menyadarkan bocah ini!. . . . . woi jangan hang di saat seperti ini!."

Ini gawat. Hinata yang tingkat kemesumannya saja sudah jauh di atas laki-laki mesum saja tidak menyangka kalau Konan akan mengajaku main sepak bola. Saking shocknya bahkan sepertinya pikirannya yang secepat komputer itu sampai hang dan sekarang dia tidak bergerak dari tempatnya.

"Lepaskan tanganku Naruto!."

"Bagaimana bisa!? kalau kau melepaskan tanganmu dari tshirt yang kau pakai maka aku juga akan melepaskan tanganku!."

"Aku paham! tanganku sakit."

Aku melepaskan genggaman tanganku dari kedua pergelangan tangannya.

"Sepertinya kau memang tidak suka dengan anak kecil, kurasa bermain dengan d**aku yang masih kecil tidak menyenangkan untukmu."

"Kau sama sekali tidak paham!. . ."

Dan berhenti mengatakan hal-hal misleading dengan seenaknya. Sekali lagi kubilang, aku tidak punya ketertarikan seksual khusus pada anak di bawah umur. Dan kau masuk dalam kategori itu, jadi jangan seenaknya memberiku label lolicon secara tidak langsung.

"Mungkin kau adalah tipe orang yang tidak suka dengan hidangan pembuka."

Apa yang dia katakan sama sekali tidak menandakan adanya perubahan susana ke arah yang lebih baik, malah aku bisa bilang dengan yakin kalau rasanya situasi jadi semakin buruk.

"Kalau begitu aku akan langsung mengijinkanmu menikmati menu utamanya!."

Ini jauh lebih gawat. Sekarang dia malah menyelipkan kedua telapak tangannya ke bagian yang lebih berbahaya.

"Berhenti kau! apa yang kau lakukan!?"

"Aku sedang mencoba melepaskan celanaku! memangnya kau tidak lihat?"

"Aku tahu itu bodoh! kalau tidak, aku tidak akan menahan kedua tanganmu sekarang!."

"Kalau begitu cepat lepaskan! memangnya kau tidak mau melihat?"

Jangan memberiku perintah gila semacam itu! dan jangan menanyakan hal semacam itu padaku bodoh! aku tidak akan bisa menjawab dengan jujur. Lalu, untuk ukuran orang yang mukanya merah sampai telinga, perkataanmu terlalu berani.

"Aku mohon padamu Konan! cepatlah berhenti atau aku akan benar-benar kena undang-undang!."

"Undang-undang yang mana? aku ini sudah legal! sekarang umurku enam belas tahun!."

"Bagian mananya yang sudah enam belas tahun! dan ini bukan Samoa! kalau aku tidak percaya kata-katamu kau ini tetap masih belum legal!."

"Tapi aku memang sudah legal! aku sudah lebih dari tiga belas tahun! meski baru beberapa hari!"

"Dengarkan aku Konan! kita sedang tidak di spanyol!."

"Aku lebih dari dua belas tahun!"

"Di sini juga bukan Angola!.:

"Umurku lebih dari sepuluh tahun!."

"Ini bukan India! dan sekarang bukan tahun empat sembilan! sekarang tahun dua ribu lebih!"

"Aku tahu! secara geografis pulau ini masih dekat dengan Canda dan kau masih baru lima belas tahun kan Naruto? iya kan? kalau begitu kita bisa melakukannya!."

"Jangan memaksaku untuk membohongi diri sendiri bocaaaahh! kau tahu sendiri kalau aku ini sudah enam belas tahun kan! aku bahkan sudah punya tanda pengenalku sendiri!."

"Baguslah kalau begitu berarti kau tidak perlu takut melanggar hukum!."

"Aku tidak tahu pulau ini ada di mana! tapi setidaknya aku tahu kalau kita sedang tidak berada di Brazil!."

"Dasar pemerintah sialan! kalau begitu ayo kita menikah! kalau kita menikah semua masalah akan selesai kan?"

"Konan! kepalamu keluar asapnya!."

Dan jangan berikan komplain hal seperti itu pada pemerintah. Mereka membuat undang-undang semacam itu agar gadis seumuranmu bisa dilindungi dan tidak dieksploitasi bodoh! lalu apa-apaan ajakan menikahmu itu? di sini tidak ada yang bisa menikahkan kita! meski bukan itu masalahnya! lalu meskipun dengan suatu keajaiban aku bisa menikah denganmu aku tetap tidak akan bisa melakukan apapun padamu sebab aku bukan orang Ethiopia.

"Sebenarnya ada apa denganmu Konan! bukankah sampai tadi pagi kau masih membenciku dan menghinaku dengan sepenuh hati!?."

Punya seorang gadis manis yang tergila-gila padamu memang menyenangkan, tapi jika si gadis terlalu gila rasanya jadi tidak enak. Dan meski dihina memang tidak menyenangkan tapi melihatmu bertingkah natural dan tidak memaksan diri jauh lebih menenangkan.

"Katakan padaku Konan!"

Sebenarnya apa yang kau ingin lakukan. Apa yang kau ingin aku lakukan.

"Kau bisa percaya padaku! kau tidak perlu memberikan uang muka!."

Kedua tangan Konan kehilangan kekuatannya dan di saat yang sama aku melepaskan genggamanku dari pergelangan tangannya. Setelah itu Konan mundur beberapa langkah lalu memandangku dengan tatapan berharap.

"Benarkah?"

"Aku akan tetap meminta bayaran nantinya, tapi bukan hal seperti itu yang kumau! katakan dulu apa yang kau mau setelah itu aku akan menentukan harganya!."

Konan mengepalkan kedua telapak tangannya lalu meletakannya di depan dadanya.

"Naruto. . . . aku mohon. . . . ."

3.

Di pulau ini, mendapatkan kehidupan yang tenang adalah sesuatu yang sangat-sangat-sangat susah. Tapi meski begitu, meski tidak seratus persen kau masih bisa mendapatkannya dengan mengikuti beberapa aturan tidak tertulis yang akan kujelaskan.

Jelas aku tidak punya keinginan untuk tinggal di pulau ini lama-lama, tapi meski sebentarpun aku sama sekali tidak ingin menambah penderitaanku. Dan untuk mendapatkan sedikit kedamaian itu, aku harus melakukan tiga hal.

Pertama. Punya pekerjaan yang hanya bisa dilakukan olehku atau pekerjaan yang tidak akan mau jika diberikan pada orang lain. Dengan begitu tidak akan ada yang mengganggumu sebab aku tidak ada mereka malah akan mengalami kesulitan atau repot sendiri.

Kedua. Jangan pernah memperlihatkan rasa bahagia ataupun senang, sebab orang-orang di sini sangat tidak menyukai orang-orang bahagia. Kalau ada yang melihatku kelihatan senang mereka akan langsung datang dan menghilangkan sumber kesenanganku. Aku harus selalu kelihatan susah dan stress.

Perbuatan sekelas anak kecil nakal yang mereka lakukan kemungkinan besar didorong oleh kebosanan yang disebabkan oleh minimnya sarana entertaiment di pulau ini. Atau mungkin mereka iri sebab merekapun tidak menjalani hidup yang terlalu menyenangkan.

Untuk pengingat saja, mereka yang kumaksud adalah para anggota PMC yang tersebar di pulau ini.

Lalu yang terakhir adalah stay low profile. Dibutuhkan itu penting, tapi tidak menarik perhatian jauh lebih penting. Bahkan akan sangat baik jika wajah dan namamu tidak diingat oleh orang-orang itu lalu kau bisa hidup di bawah radar. Dengan begitu kesempatan untuk mendapat masalah bisa diminimalisir.

Kalau sekedar didengar sepertinya ketiga hal itu susah untuk dilakukan. Hanya saja kali ini sebuah pepatah sekali lagi harus kubalik.

Melakukannya jauh lebih mudah dari mengatakannya.

Sebab sekarang aku sedang benar-benar mengalami lebih dari yang namanya low profile. Aku dijauhi oleh semua orang, diasingkan di tempat yang bahkan akan membuat orang-orang lupa kalau aku pernah ada, serta disuruh untuk melakukan pekerjaan yang tidak jelas kapan selesainya.

Gara-gara hal yang dikatakan oleh Hinata dan Konan di hari sebelumnya, sekarang aku sudah berubah dari orang baru menjadi orang baru yang paling dibenci di tempat ini. Memang benar kalau yang menghuni shelter itu hanyalah anak-anak kecil tapi meski begitu mereka paham dengan apa yang mereka dengar.

Dan informasi salah itu mereka gunakan sebagai basis untuk membenciku.

Hubunganku dengan mereka bisa disamkan dengan dua kutub magnet dengan jenis yang sama. Ketika aku mendekat mereka akan menjauh dan ketika aku kelihatan mereka akan segera menghilang.

"Ternyata dibenci itu seberat ini."

Meski di rumah aku juga tidak disukai oleh kedua orang tua angkatku, tapi dibenci secara terang-terangan rasanya jauh lebih sakit.

Tindakan Konan yang tadi malam benar-benar membuatku susah dan kesusahan. Tapi sayangnya, meski aku sebenarnya marah tapi aku sama sekali tidak bisa memarahinya. Sebab dia melakukannya karena suatu alasan.

Dia membutuhkan bantuanku. Dan dengan bermodal informasi yang sangat minim, dia memutuskan kalau aku mungkin bisa membantunya. Tapi dia yakin kalau aku tidak akan mau membantunya jika dia tidak memberikan apapun padaku sebagai bayarannya.

Dan betapa beruntungnya, dia punya masalah besar dengan materi.

Dia tidak mempunyai apa-apa kecuali dirinya sendiri. Lalu setelah mendapatkan informasi salah kaprah kalau aku ini suka dengan gadis di bawah umur, dia memutuskan kalau dia akan memberikan dirinya sendiri padaku sebagai bayaran agar aku mau membantunya.

Basis pemikirannya memang tidak terlalu melenceng dari kenyataan. Memang fakta kalau semua pria menginginkan wanita, dan kalau bisa yang masih muda. Dan berhubung aku ini laki-laki, dia berpikir kalau metode menawarkan diri akan sangat ampuh untuk mengikatku.

Jujur saja aku tertarik dengan tawarannya, tapi alasan semacam itu masih belum cukup untuk bisa membuatku membuang rasionalitasku dan melakukan tindakan kriminal atas persetujuan korbannya. Selain itu aku juga tidak mau menghianati Hanabi.

"Tenang saja Naruto! meski dunia jadi musuhmu aku akan tetap berada di sampingmu dan melindungimu!."

"Rasa-rasanya, apa peran kita tidak terbalik Hinata?"

Biasanya yang mengatakan hal keren seperti itu adalah laki-laki pada perempuan.

Sampai beberapa detik yang lalu memang aku masih sendirian, tapi entah dari mana Hinata tiba-tiba muncul di sampingku lalu seenaknya saja menyahut monologku. Tapi meski begitu, sebab aku tahu kalau pada dasarnya dia selalu memperhatikanku dari suatu tempat. Kemunculan tiba-tibanya itu sama sekali tidak membuatku kaget atau bahkan terkejut.

Rasanya sudah seperti sudah natural kalau dia berada dekat denganku.

"Naruto. . . sebenarnya aku ingin membicarakan yang tadi malam. . ."

"Maksudmu permintaan tolong Konan."

"Um!."

Dia mengangguk.

"Kalau kau ingin menyuruhku untuk berhenti aku tidak akan menurut."

"Tapi melakukannya sangat berbahaya. . "

"Bilang apa kau? bukankah bahaya itu makanan sehari-hari kita? lagipula selama ada kau tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Aku meletakan telapak tanganku di kepalanya lalu mengelus rambutnya. Biasanya dia akan langsung diam saat aku melakukan hal seperti ini, tapi kali ini dia hanya berhenti bergerak sesaat sebelum mundur beberapa langkah dariku.

"Normalnya memang begitu, tapi situasinya agak berbeda sekarang."

Normalnya?

"Dengarkan aku Naruto, saat ini aku sedang. . . . . ."

"Naaaaruuuutoooo. . . . . ."

Kalau penghuni lain menghindariku dengan sepenuh jiwa, lain dengan mereka, Konan seperti kutub magnet lain jenis yang selalu ingin menempel padaku.

"Aku akan membantumu."

"Kalau begitu segera lepaskan aku, udaranya sangat panas."

"Um."

Dia mengangguk lalu melepaskan tanganku.

Apa yang Konan inginkan dariku sangatlah sederhana. Dia ingin aku mengambil sekotak obat yang disimpan di oleh anggota PMC.

Apa ada yang tahu apa itu black death?

Black death adalah pendemic super besar yang pernah menimpa eropa pada sekitar tahun seribu tiga ratusan. Korban yang jatuh karena pendemik itu diperkirakan antara tuju puluh lima sampai dua ratus juta orang. Dengan kata lain hampir setengah penduduk eropa mati dalam waktu hanya beberapa tahun saja.

Penyebabnya jelas bukan senjata biologis yang dikembangkan negara maju saat itu, melainkan hewan kecil yang semua orang tahu namanya.

Lalat. Atau lebih tepatnya bakteri yersinia pestis yang dibawa oleh lalat dari dataran cina menuju eropa lewat jalur sutra.

Dan pulau ini sedang mengalami krisis yang hampir sama, dengan sekala lebih kecil serta rasio infeksi yang tidak secepat pendemic yang sudah kusebutkan sebelumnya. Hanya saja hal itu tidak menjadikan epidemic lokal di pulau ini menjadi masalah yang lebih kecil.

Sebab nyawa orang-orang yang terserang wabah bisa dibilang tinggal menghitung hari.

Tingkat infeksi wabahnya sendiri bisa digolongkan lambat, tapi hal itu bukan karena virus penyebar wabahnya tidak terlalu berbahaya dan bisa dianggap remeh. Melainkan malah sebaliknya. Karena sangat berbahaya, biasanya orang yang terjangkit akan mati dulu sebelum sempat menularkannya pada orang lain.

Karena itulah orang yang terjangkit jumlahnya sedikit dan penguasa pulau ini tidak mau memberikan vaksinnya.

Jika orang yang terjangkit mati maka penyebaran virus akan berhenti, jika ada orang yang tertular mereka akan dikarantina, lalu jika ada yang bisa bertahan. Yang membunuh penderitanya bukanlah virus melainkan peluru kalau keadaan memaksa. Bukan penyakit melainkan manusia.

Dengan cara itu mereka berhasil mengatur tingkat infeksi penyakit itu.

Sebenarnya yang perlu mereka lakukan hanyalah menenggak vaksinya selama beberapa minggu berturut-turut, tapi sayangnya harga obatnya sangatlah mahal. Oleh karena itu orang-orang yang bisa mendapatkannya terbatas pada anggota PMC dan perusahaan.

Masalah itu akhirnya membuat pihak perusahaan lebih memilih mengkarantina orang-orang yang terjangkit penyakit dan membiarkannya mati sendiri. Mereka tidak mau memberikan vaksinya sedangkan jika mereka melakukan tindakan ekstrim semacam membunuh penderitanya mereka takut akan ada gerakan perlawanan dari penghuni dan pekerja lain.

Meski bersenjata tapi anggota PMC dan staff perusahaan jumlahnya jauh berada di bawah pekerja lapangan. Jika mereka memancing kemarahan semua orang, meski mereka mungkin bisa menang tapi kerugian yang akan didapat bisa sangat besar.

Orang yang sangat marah bisa saja tidak takut mati, dan jika para pekerja memaksa melawan para PMC akan terpaksa menyerang balik. Yang pada akhirnya akan membuat perusahaan kekurangan pekerja.

Mencari pengganti pekerja-pekerja itu sangat sulit, sebab tidak mungkin ada yang mau disuruh bekerja sambil diancam dengan senjata dan tidak dibayar lalu dikurung di pulau yang kurang banyak sekali hal sampai tidak layak untuk ditinggali.

Memasukan orang luar ke dalam pulau juga berpeluang membuat mereka kena masalah hukum. Jika ada orang luar yang menemukan bukti bahwa praktek perbudakan dan pembunuhan marak terjadi di pulau ini, bukan hanya bangkrut tapi semua orang punya kesempatan sangat besar dimasukan ke dalam penjara seumur hidup.

Aku tahu kalau aku ini orang yang disukai oleh kesialan, tapi tingkat kesialanku kali ini benar-benar melewati level normal untuk ukuran seorang anak SMU biasa.

"Aku tahu aku tidak akan bisa menghentikanmu, tapi sebelum memulai misi aku ingin meminta sesuatu dulu."

Keberhasilanku sampai saat ini bisa dibilang sembilan puluh persennya adalah berkat Hinata, jadi jika dia tidak dalam keadaan baik rasio keberhasilan apapun yang ingin kulakukan akan turun sangat derastis.

"Aku butuh recharge."

"Huhhh listrik ya, satu masalah bertambah lagi."

Berhubung listrik di sini bisa dibilang adalah barang langka, penggunaannya sangat dibatasi dan jalur-jalur alirannya dijaga dengan ketat. Mencuri dari salah satu sambungan memang bisa dilakukan tapi resikonya terlalu besar.

"Setelah aku menyelesaikan pekerjaanku akan kupikirkan masalah itu, kau lanjutkan saja pekerjaanmu untuk sekarang kita harus terus low profile."

Berhubung aku ini sekarang sedang ada di kebun jagung, jelas apa yang sedang kulakukan ada hubungannya dengan jagung. Yang sedang kulakukan sekarang mulai dari pagi adalah memetik jagung dari area yang luasnya empat kilometer persegi.

Jika yang melakukannya adalah orang-orang yang sudah pro mungkin prosesnya tidak akan lama, tapi berhubung aku ini tidak punya pengalaman macam apapun dalam hal tanam-menam maupun panen-memanen kadang memetik satu buah jagung saja bisa memakan waktu seperempat sampai semenit.

Dengan kecepatanku yang sekarang, aku sama sekali tidak punya kepercayaan diri bisa menyelesaikan pekerjaan dalam waktu dekat. Aku tidak tahu apakah tanahnya yang sangat bagus atau tumbuhannya yang sudah dimanipulasi, tapi yang jelas satu pohon selalu mempunyai tiga buah jagung, dalam satu meter ada lebih dari lima belas pohon, jika kau mau tolong hitungkan kira-kira kapan aku bisa selesai.

Selain masalah jumlah dan pengalaman, aku juga diganggu sinar matahari super panas, keringat yang mengucur, rasa gatal yang disebabkan oleh daun-daunnya, serta gangguan serangga yang berterbangan di sekitar wajahku dan bahkan kadang menggunakan rambutku sebagai tempat hinggap.

Lalu sesuai yang sudah kuduga, pekerjaan itu baru bisa kuselesaikan saat mungkin sekitar jam tiga sore. Aku bilang sekitar sebab tidak ada jam yang bisa menunjukan waktu. Ponselku mati, dan aku sangat yakin kalau tidak ada yang menjual baterai untuk menghidupkan jam dinding di dalam shelter.

Aku segera pulang dan menemui Hinata, hasil panenanku sudah kutaruh ditempat khusus dan nanti akan ada orang yang mengambilnya sehingga aku tidak punya pekerjaan tambahan.

"Bagaimana perkembangannya Hinata?"

"Sampai saat ini aku belum menemukan celah dan cara untuk keluar dari pulau ini secara aman."

Sambil melakukan pekerjaan yang dibebankan padanya oleh pemilik pulau ini, aku juga menyuruh Hinata untuk mencari spot-spot yang bisa yang kira-kira kurang diberi perhatian. Untuk melakukan penetrasi aku perlu menyiapkan beberapa hal, dan persiapan itu tidak boleh diketahui oleh siapapun. Karena itulah aku membutuhkan tempat yang bisa menjaga privasiku.

"Kalau begitu bagaimana kalau kita mencari sumber listrik sekarang juga, kau masih baik-baik saja kan?"

"Untuk saat ini iya. . ."

Kami berdua segera berkeliling perkebunan untuk mencari sambungan putus yang masih ada aliran listriknya, atau apapun yang punya kemungkinan bisa menghasilkan daya listrik. Tapi setelah mencari selama dua jam kami tidak menemukan apa-apa, atau lebih tepat kalau dibilang kalau kami tidak bisa menggunakannya sebab letaknya yang berada langsung di bawah pengawasan para penjaga.

Berhubung suasana sudah lumayan gelap aku mengajaknya untuk segera pulang, selain mencari di kegelapan menambah kesulitan, aku juga ingin sekali beristirahat. Beberapa hari ini kurasa aku dan Hinata tidak melakukan tindakan-tindakan yang terlalu menguras energi. Jadi kurasa mencari sumber listrik untuk Hinata masih bisa menunggu besok.

Tentu aku sudah memastikan dulu bagaimana keadaanya dengan bertanya sebab log aktifitasnya tidak bisa lagi kulihat dengan ponselku yang sudah mati total. Dan dia bilang dia masih bisa beraktifitas tanpa recharge selama empat hari lagi.

"Apa kau tidak mau mandi Naruto?"

"Tentu saja mau, tapi bukankah penggunaan air di sini sangat dibatasi?"

Dan aku tidak mau mandi dengan air laut, bukannya bersih malah aku akan jadi lengket dan tidak bisa tidur.

"Sebenarnya saat aku berkeliling pulau aku menemukan tempat yang lumayan bagus, di sana tidak ada penjaga dan air tawar lumayan banyak bahkan kau bisa mandi di sana."

"Benarkah?"

Di antara kabar-kabar buruk yang hari ini kudengar apa yang dikatakan Hinata bisa dibilang adalah kabar terbaik yang bisa kudapatkan sejak sampai di pulau ini.

4.

"Hinata, apa maksud semua ini?"

"Kau suka kan Naruto?"

Jika aku bilang suka, komunitas sosial akan menganggapku bahkan bukan manusia. Tapi kalau aku bilang tidak suka maka aku tidak akan dianggap laki-laki normal. Jadi bagaimana aku harus menjawab pertanyaanya?

Setelah dipancing Hinata, tanpa tanda tanya macam apapun aku mengikutinya pergi ke sebuah gua alami yang terletak di bagian bawah karang besar yang langsung mengarah ke laut. Saat malam pintu masuknya tidak terlihat sebab air laut yang pasang menutup sebagian besar jalan masuknya.

Tapi dengan membuat sebuah papan apung sederhana, kau bisa masuk ke dalamnya tanpa harus basah terkena air laut yang asin. Siangnya gua itu juga tidak bisa diakses karena tebingnya yang sangat curam, dan licin serta di bawahnya tidak ada apa-apa kecuali air laut sehingga petugas yang memeriksa keadaan tidak akan memeriksa ke bawah dan hanya berjalan di bagian atasnya saja.

Dan tempat macam itulah yang ternyata gadis-gadis kecil di perkebunan gunakan sebagai pemandian. Lalu, atas bantuan Hinata aku datang di saat semua gadis kecil itu sedang mandi dan bermain-main di tengah banyak uap air yang yang mengapung dan menghalangi pandanganku dari bisa melihat tubuh mereka yang masih dalam proses pertumbuhan.

"Ok! aku mengaku bersalah, tapi tolong jangan anggap aku ini orang mesum! aku akan segera keluar dan melupakan semua ini. . ."

Sepertinya permintaan kecilku itu tidak akan mereka kabulkan, sebab dengan mata tidak bersahabat satu-persatu gadis itu sudah memegang sesuatu di tangannya. Dan sesuatu itu sepertinya untuk dilemparkan kepadaku.

Aku segera berlari ke belakang dan memutuskan untuk mencebur ke air dan meninggalkan Hinata menangkap benda-benda yang sepertinya akan berbahaya seperti batu dan benda metal lain.

Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi Konan dan Hinata bisa menenangkan anak-anak itu sehingga setengah jam kemudian aku bisa menikmati mandiku, meski tidak bebas sebab Hinata untuk suatu alasan terus menungguiku.

Ketika aku bertanya kenapa dia melakukannya, seperti yang sudah kuduga. Dengan mudah dia menjawab kalau dia sedang menjagaku. Dan begitu dia bilang begitu, aku tidak bisa melakukan serangan balik.

Tapi.

"Kau bilang kau ingin menjagaku kan Hinata? tapi kenapa sedang menggunakan handuk untuk menggosok punggungku?"

"Menjagamu memang adalah tugas utamaku, tapi aku juga punya kewajiban untuk untuk memuaskanmu."

"Maksudmu membahagiakan kan?"

"Sama saja kan?"

"Beda!."

Terutama konotasinya. Tapi tunggu dulu, sepertinya kata membahagiakan juga punya konotasi yang tidak terlalu baik untuk posisiku sekarang.

Mungkin ada yang berpikir bagaimana bisa ada pemandian air panas sekaligus spa di dalam sebuah gua. Penjelasannya tidak terlalu rumit. Sebelum orang-orang dari perusahaan datang pulau ini ditinggali oleh orang-orang biasa, dan dengan keadaan pulau yang tidak mempunyai gunung tinggi lebat dengan tanaman. Masalah air tawar jadi sesuatu yang sangat sulit untuk diatasi.

Gua yang sedang kugunakan sebagai kamar mandi ini bukanlah gua alami. Gua ini adalah sarana pemurnian air laut menjadi air tawar.

Ada banyak cara untuk melakukan pemurnian air laut menjadi air tawar, tapi dengan taraf hidup di pulau ini yang jelas di bawah garis standart, pembelian mesin khusus sudah tidak mungkin dilakukan. Dan dengan adanya karang tinggi yang jadi pembatas langsung dengan lautan metode tidak langsung yang menghasilkan garam juga susah dilakukan.

Dan cara yang mereka pilih adalah penguapan. Sebab di sini ada sumber gas alam.

Air laut dialirkan menuju tempat ini lalu ditampung di penampungan besi setelah itu mereka dipanaskan dengan api alami yang sumbernya dari gas alam. Setelah itu uapnya akan diarahkan ke penampungan lain dan dibiarkan mengembun. Dengan begitu air tawarpun bisa didapat.

Tempat ini sudah tidak digunakan selama beberapa lama, tapi setelah ada yang menemukannya mereka mencoba memperbaikinya dan sekarang untuk suatu alasan sekarang tempat ini jadi semacam spa.

Dan sebagai catatan saja, yang mandi hanya aku sedangkan Hinata hanya membawakan peralatan dan menggosok punggungku. Jadi kami tidak mandi bersama dan aku tidak melihat penampilan sexy basahnya. Lalu tentu saja dia juga tidak bisa melihat tubuh telanjangku sebab aku sedang berendam di sebuah silinder metal berisi air hangat yang dia sediakan.

Entah kenapa rasanya aku jadi seperti kakek-kakek.

Di tempat ini hanya ada kami berdua, tidak ada orang lain dan bahkan suara yang bisa kudengar hanya ombak dan air yang mengalir ke bagian lain dari gua yang sedang kutempati. Dan untuk suatu alasan, hal itu membuatku jadi sadar kalau hanya ada Hinata di sekitarku.

"Ini gawat. . . ."

Kalau aku terbawa suasana bisa-bisa aku akan menyuruhnya untuk ikut mandi.

"Naruto?"

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.

"Hey Hinata bolehkah aku menanyakan beberapa hal padamu?"

"Apa yang ingin kau tahu?"

"Bagaimana bisa kau menghasilkan energi?"

"Huh?"

"Maksudku kau punya teknik-teknik hebat yang memerlukan banyak sekali energi, aku jadi penasaran bagaiaman kau bisa mendapatkannya?"

"Bukankah ini pembicaraan yang agak tidak romantis?"

Di dunia ini ada beberapa bisnis yang menjanjikan untuk dijadikan tambang uang. Tapi sebagiannya memerlukan modal besar atau waktu yang lama untuk bisa berkembang. Dan di antara banyak lowongan itu yang paling punya peluang untuk bisa dijelajahi adalah energi.

Tentu saja bisnis semacam itu juga perlu modal besar, koneksi, serta backing tapi jika aku bisa menemukan energi alternatif selain bahan tambang dan energi alam yang dia perlukan hanyalah media serta publikasi besar-besaran dan tawaranpun akan datang dengan sendirinya.

"Tapi tunggu dulu, berarti kau ingin mengetahuiku luar dalam?"

"Sepertinya definisi luar dalamu dan luar dalamku itu berbeda, tapi secara umum tebakanmu benar."

"Berhubung ini adalah permintaanmu aku akan memberitahukannya."

Mungkin ada banyak yang bingung bagaimana bisa baterai yang hanya direcharge dengan tegangan sekelas peralatan elektronik bisa menghasilkan energi yang cukup besar untuk membuat tiang api yang tingginya puluhan kilometer.

Hinata punya dua sumber energi dan salah satu dari dua sumber energi itu adalah baterai rechargable yang seminggu sekali harus diisi ulang. Dan baterai itu bukan sumber utama energinya.

Energi dari baterai itu hanya digunakan untuk menghidupi komponen-komponen tertentu saja yang sangat sensitif, sedangkan sumber energi utamanya adalah sebuah higgs converter yang ditanamkan di dalam dadanya.

Output yang dihasilkan oleh higgs converter di dalam tubuhnya terlalu besar dan tidak stabil sehingga tidak cocok untuk sumber tenaga perangkat sistem. Gampangnya sistem dan perangkat mekanik disupply oleh sumber energi yang berbeda.

Kalau masih bingung anggap saja kepala dan tubuh sumber energinya beda. Begitu.

Reaktor tidak bisa dibuat dalam ukuran sekecil tubuh manusia, sehingga posisinya sebagai sumber energi diganti dengan sebuah higgs converter.

Higgs merupakan partikel dasar yang secara teori berada di mana-mana, jadi selama Hinata masih berada di lingkungan normal di dunia ini, dia tidak akan pernah kehabisan bahan bakar untuk menghasilkan energinya.

Tidak mustahil kalau dia bisa terus hidup sampai ribuan tahun ke masa depan. Sebab selama perangkatnya tidak rusak dia akan bisa terus aktif dan berfungsi.

Hanya saja benda itu punya satu masalah besar. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya outputnya sangat besar dan tidak stabil sehingga kadang bukannya berfungsi malah peralatan yang menggunakan energi darinya menjadi rusak karena kelebihan beban.

Dengan memisah sumber energi perangkat mekanik dan perangkat sistem, kerusakan total juga bisa dihindari.

Ketika tubuh utama rusak, sistem masih bisa berfungsi dan bisa melakukan recording pada lingkungan sekitarnya atau mengirimkan sinyal sos. Atau jika sistem mati maka tubuh utama akan bisa dilindungi dengan memancarkan radiasi ke lingkungan sekitar dan mencegah bagian internal dirusak oleh alam.

"Lalu limiter itu? kau bilang outputnya tidak bisa diatur, tapi bukankah mengaturnya adalah fungsi dari limiter itu?"

Hinata menggoyangkan jari telunjuknya.

"Yang diatur oleh limiter bukan outputnya tapi inputnya."

Dengan membatasi masukan maka keluaran pada akhirnya akan terkena efeknya. Sebab keluaran tidak bisa diatur, menutup saluran bahan bakarnya adalah cara terbaik untuk mengatur penggunaan energinya.

"Tapi sayangnya tidak mungkin siapapun bisa mengembangkannya sekarang, jadi niat bisnismu harus menunggu lima tahun lagi."

Higgs converter adalah hasil dari joint effort dari ratusan ilmuan dalam All Seen Alliance yang dalam masa ini tidak mungkin bisa terbentuk sebab para anggotanya masih terhalang administrasi nasional, terikat corporate, serta pemahaman tentang open development masih bukan hal normal.

"Lagipula, di masa depanpun hanya aku yang memilikinya."

Untuk membangun satu higgs converter waktu yang diperlukan adalah dua tahun penuh. Hal itu disebabkan selain masalah klasik seperti dana, banyak juga masalah lain yang perlu ditangani. Personal, sumber material yang langka karena ditambang untuk kebutuhan perang dan peralatan dari fasilitas yang kebanyakan sudah hancur saat kerusuhan dunia besar-besaran.

Hal itu masih belum ditambah pengembangan software serta testingnya yang juga makan waktu sangat lama serta biaya yang tidak sedikit. Serta jika scaling dilakukan, semua hal harus dibuat ulang dari awal. Yang artinya dua tahun penuh lagi hanya untuk membuat satu higgs converter dalam ukuran yang bedanya hanya satu atau dua milimeter.

"Melakukan produksi masal terhadapnya jelas tidak mungkin, apalagi dengan teknologi yang ada sekarang."

Setelah pembicaraan kami tentang bagaimana dia mendapatkan energi tanpa batasnya itu, tiba-tiba dia jadi diam. Dan sebab aku tidak memiliki topik lain aku juga jadi diam. Sampai aku mendengar suara kain dari belakangku.

"Eeee. . . Hinata, apa yang sedang kau lakukan?"

"Melepaskan pakaianku, memangnya kau tidak lihat? aku juga ingin mandi."

Sial. Sialan. Aku tahu kalau dia jadi anak penurut pasti ada sesuatu. Dan kali ini aku benar-benar sudah dibodohi sampai bisa terjebak dalam situasi semacam ini.

"Hinata! aku memerintahkanmu untuk berhenti!."

Android bodoh itu terus melepaskan pakaiannya dan pada akhirnya membuatku terpaksa mengalihkan pandanganku darinya begitu kemejanya turun.

"Heheheh. . . sayang sekali Naruto! perintahmu tidak lagi hukum yang tidak bisa dinego."

Hampir seluruh proses pengolahan data Hinata dilakukan oleh server di masa depan, dan salah satu hal yang ikut diproses itu adalah tiga hukum yang dimiliki oleh Hinata.

Privilage yang dimiliki Hinata sebagai node sangatlah dibatasi, dan tiga peraturan dasar yang dibebankan padanya benar-benar diawasi penggunaanya. Jika sedikit saja dia melanggar batas yang sudah ditentukan maka dia akan langsung diberikan instruksi lain sebagai koreksi dari tindakannya.

"Sebab koneksiku dengan masa depan sedang terputus pikiranku sekarang adalah bos dari tubuhku."

Tiga hukum masih berlaku, tapi pembuat keputusan tertinggi adalah pikiran Hinata. Dan selama dia tidak melakukan tindakan yang bisa mengancam nyawaku maka semua hal yang dia ingin perbuat padaku akan diberikan label aman.

Dengan kata lain asalkan dia beralasan ingin melindungiku dia bisa melakukan apapun padaku sekarang.

"Hinata! aku benar-benar menyarankanmu untuk tidak masuk! di sini sangat sempit."

Aku berbicara sambil menutup mataku, sebab kalau aku memaksa dan ngeyel untuk hanya melihat wajahnya atau tempat lain aku yakin seratus persen kalau usahaku itu akan gagal total. Dia memang barang elektronik, tapi penampilannya sebagai gadis muda cantik tidak akan pernah membiarkanku bisa berpikir normal saat tahu kalau dia sedang memakai birthday suite-nya.

Meski aku tidak tahu siapa orang tuanya.

Normalnya yang perlu kulakukan hanyalah pergi duluan dan membiarkan Hinata masuk ke dalam tong berisi air panas ini, atau menghalanginya masuk dengan beradu fisik dengannya. Hanya saja semua opsi itu sudah tidak bisa lagi digunakan.

Sebab aku tidak membawa baju ganti, aku meninggalkan semua pakaianku di sebuah batu beberapa meter di belakangku atas saran Hinata. Bagiku, berdiri ataupun berjalan meninggalkan tong ini sama saja dengan aku beralih profesi menjadi aktor film blue.

"Meny-nyerah saja Naruto."

Dan adu fisik dengannya juga sudah out of question. Meski kelihatan seperti gadis yang lemah dia adalah mesin yang punya kekuatan fisk jauh berada di atasku. Jadi dengan mudah dia bisa mengunci kedua tanganku yang kugunakan untuk menghalanginya masuk ke dalam air.

"Misi berhasil."

Begitu suara cipratan air terdengar, aku bisa merasakan kaki seseorang menyentuh kakiku yang berada di dalam air.

". . . . . . . . ."

". . . . . . . . ."

Jangan hanya diam bodoh! kau membuatku jadi grogi. Penerangan tempat ini hanya mengandalkan pantulan dari bara api alami yang digunakan untuk memanaskan air laut, jadi bisa dibilang semua area di bawah air adalah kegelapan sehingga aku tidak bisa melihat apapun yang berada di dalamnya.

Yang bisa kulihat darinya hanyalah kepalanya, lehernya, sedikit bagian atas dadanya, dan pundaknya yang basah. Tapi meski begitu, dengan hanya mengetahui kalau sebenarnya dia tidak memakai apapun sudah lebih dari cukup untuk membuat jantungku harus bekerja ekstra.

"Ku..kurasa aku agak terlalu berani. . . . ."

"Ini bukan hanya agak!."

Dan jangan bertingkah malu-malu seperti itu android mesum! kau membuat atmosfirnya jadi semakin abnormal.

Kami berdua hanya diam dan diam. Tidak ada yang mau bicara di antara kami berdua. Atau lebih tepat kalau dibilang tidak ada yang tahu harus bicara apa di saat seperti ini. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi yang jelas aku terlalu fokus pada tubuhnya sampai aku tidak bisa berpikir normal.

"Katakan sesuatu Naruto. . . "

"Kau ingin aku mengatakan apa? . . . apa kau tidak tahu kalau aku sedang menahan diri?"

"Jangan menatapku terlalu lama."

"Jangan bertingkah malu-malu seperti itu Hinata . . . kau membuatku jadi semakin ingin melihat. . . jika kau memang tidak ingin aku melihatmu cepat segera keluar dari sini."

"Aku malu untuk berdiri."

"Aku akan tutup mata."

"Tetap saja. . . aku tidak bisa."

Kami berduapun kembali diam, aku tidak berani melihatnya sebab aku tahu sekali melihat aku mungkin tidak akan bisa berhenti. Dan Hinata sendiri juga sengaja melihat ke arah lain, mungkin untuk menyembunyikan rasa malunya.

Satu menit, dua menit, lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit, setengah jam?. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.

5.

"A . . . u. u. .u ...uuuu."

Kepalaku pusing.

"Apa kau baik-baik saja Naruto?"

Di depanku, Hinata sedang menatapku dengan wajah khawatir. Sepertinya aku pingsan karena terlalu lama berendam dalam air panas.

"Hanya sedikit pusing."

"Syukurlah."

"Kau tidak perlu sekhawatir itu."

Hinata menarik nafas lega lalu menyandarkan tubuhnya ke tembok di belakangnya. Aku tidak tahu kenapa sampai dia sekhawatir itu, tapi yang jelas apa yang menimpaku sama sekali tidak segawat yang dia pikirkan.

"Kita ada di mana Hinata?"

"Oh ini adalah sebuah klinik."

"Klinik? di tempat seperti ini."

Aku bangun dari ranjang dan menyuruh Hinata untuk duduk di sampingku. Hanya saja dia langsung menolak dan menunjukan sebuah kabel yang masuk ke dalam pakaiannya sebagai penanda kalau dia sedang melakukan charging.

Sebelum aku sempat kembali bertanya, pintu di samping ruangan tempat kami berdua berada terbuka. Dan dari sana seorang pria paruh baya berbadan besar muncul lalu duduk di kursi beberapa meter di depanku.

"Kenapa kau seheran itu? fasilitas kesehatan itu sangat penting!."

"Apa kau dokter?"

"Mengobati orang hanya pekerjaan sampinganku, aku tentara."

Meski aku masih agak pusing tapi aku langsung berdiri dan memposisikan diri di depan Hinata.

"Maaf, maaf, mantan tentara! aku tidak lagi bertugas, selain itu aku juga bukan anggota PMC melainkan tentara nasional jadi kau tidak perlu sewaspada itu."

Jika orang itu berniat melakukan sesuatu padaku, dia sudah melakukannya saat aku sedang tidak sadar. Meski Hinata bisa melindungiku dari serangan terang-terangan, tapi jika dia bilang dia akan memberiku obat lalu malah menukarnya dengan racun. Hinatapun tidak akan bisa berbuat apa-apa.

"Kau ini kenalannya Danzou kan? aku juga sama jadi kau bisa relax."

"Aku bukan kenalannya, dan kau malah membuatku jadi semakin tidak bisa relax."

"Hahaha. . . sebenarnya dia itu bukan orang jahat, sebagai seseorang yang pernah melawan penjajah bersamanya aku tahu dengan jelas fakta itu."

"Kau bisa bilang kalau orang yang sudah menghianati negaranya sendiri, membunuh mantan anak buahnya, dan menghancurkan kota, serta melukai adik perempuanku sebagai orang baik? sepertinya kau perlu mengobati dirimu sendiri."

"Hahaha. . . kau benar juga, tapi di jamanku hal seperti itu normal! kejahatan dan kebaikan hanyalah masalah prespektif."

Dalam perang, jika kita menghancurkan musuh berarti kita berbuat baik tapi jika musuh menghancurkan kita berarti mereka orang jahat. Dan hal itu berlaku sebaliknya.

"Aku tidak perduli dengan masa lalu! apalagi kalau masa lalunya tidak enak untuk diingat!."

Aku tidak ingin melihat ke belakang, sebab di belakang sana yang ada hanya kegelapan dan penderitaan serta rasa sakit. Aku hidup di masa sekarang, dan aku akan hidup di masa yang akan datang. Bukan masa lalu yang hanya bisa dikenang.

"Kudengar kau menerima permintaan seorang anak yang ingin mengambil obat dari perusahaan, apa kau sudah punya rencana?"

"Aku tidak tahu kenapa kau tiba-tiba mengalihkan pembicaraan, tapi begitulah."

Orang itu memasang muka berpikir lalu melihatku seakan sedang mencoba memberiku skor.

"Sepuluh dari sepuluh kau dapat sepuluh."

"Apa itu pujian?"

"Tapi sepuluh dari seratus kau tetap dapat sepuluh."

"Tunggu dulu, aku agak tidak paham."

"Artinya di antara terburuk kau yang terbaik, tapi di antara yang terbaik kaulah yang terburuk."

"Sekarang rasanya aku agak merasa terhina."

"Jangan diambil hati, aku hanya mengatakan kejujuran."

"Kau benar-benar sedang menghinaku kan? iya kan?"

"Kenapa kau baru sadar?"

"Hinata, apa kau sudah selesai charging? aku ingin segera pergi dari sini."

"Minimal aku harus memiliki cadangan energi sebanyak lima belas persen, jika kurang dari itu ada banyak fungsi yang harus kudisable."

"Berapa lama lagi?"

"Dengan voltase sekecil ini kemungkinan sekitar tuju jam diperlukan untuk mencapai kapasitas lima belas persen."

Uwah. . . lama sekali.

Pria tadi menghela nafasnya lalu berjalan ke arahku menepuk pundaku dengan cukup keras. Setelah itu dia melihatku dengan muka yang sepertinya adalah bentuk dari sebuah kekecewaan.

"Kau tahu tidak apa yang membuatmu jadi yang terbaik dan terburuk? nama benda itu adalah. ."

Hinata.

"Benda kau bilang!?"

Aku mencoba memukul wajahnya tapi dengan mudah dia menangkapnya.

"Kau bertingkah seperti kau tidak menganggapnya sebagai sebuah benda, tapi sampai sekarang berapa kali kau sudah menggunakannya sebagai benda untuk meraih keinginanmu?"

"Jangan sok tahu kau!."

Aku merendahkan tubuhku dan mencoba meraih perut orang itu, yang ingin kulakukan adalah memanfaatkan berat orang itu untuk melemparkan tubuh orang itu ke belakang. Hanya saja, teknik aikido amatiran yang kukuasai setengah-setengah itu dalam waktu singkat di sekolah militer Sasuke dulu tidak ada pengaruhnya.

Tubuhku malah dia tekan, dan dengan kekuatan yang besar dia menjatuhkanku ke lantai.

"Kau terlalu bergantung pada Hinata, aku bahkan yakin kalau kau tidak bisa menyelesaikan permintaan itu sendiri."

"Ak. . "

"Diaaaam kau!..."

Sebelum aku bisa bicara untuk membela diri, Hinata bangun dan meninju dengan keras tubuh pria paruh baya itu sampai terpental dan menabrak tembok dua meter di sampingnya.

"Jangan sembarangan bicara kau!... Naruto tidak seperti yang kau pikirkan!.. jika kau datang ke sini hanya untuk bicara omong kosong akan kupulangkan kau sekarang juga!.."

Pria paruh baya itu tidak mau bicara, atau mungkin tidak bisa bicara. Pukulan yang dia terima dari Hinata aku yakin jauh lebih kuat dari petinju manapun. Dan dari yang sempat kulihat tadi, dia menerima serangan itu tepat di dadanya. Mungkin tulang rusuknya ada yang patah.

"Jangan dengarkan kata-katanya Naruto, aku ada untukmu, apapun yang kupunya adalah milikmu, dan aku senang dengan hal itu"

Hinata mengulurkan tangannya padaku tapi aku segera menolaknya dan berdiri tanpa menerima pertolongannya.

"Tidak Hinata! kau tunggulah di sini. . . "

Apa yang orang itu katakan memang benar.

"Naruto. . . ."

"Aku akan melakukan misi itu sendiri. . . kau tetaplah di sini dan melanjutkan proses rechargemu."

"Tapi tugasku adalah melindungimu."

"Jika kau kehabisan energi saat bersamaku kau malah akan jadi beban, lebih baik kau tunggu dulu dan menyusulku nanti, aku akan meninggalkan catatan jalur yang kupakai di shelter."

"Terlalu berbahaya! aku tidak bisa melakukannya! aku tidak akan menuruti perintah gila semacam itu!."

Ahhhh aku lupa kalau di pulau ini dia bisa menolak perintahku. Bagaimana ini? aku tidak mau melakukannya tapi sepertinya aku tidak punya cara lain.

"Kau bisa menolak permintaanku, tapi kalau kau tidak menurutiku."

Aku akan membencimu.

"Kau tidak serius kan Naruto?"

Hanya pecundang yang akan menggunakan kalimat semacam itu.

"Aku serius."

6.

"Kau mau mengajaku ke mana?"

"Aku tidak pernah mengajakmu ke mana-mana Konan."

"Kau keluar sendirian di tengah malam secara diam-diam, aku tidak bisa tidak curiga! karena itulah aku mengikutimu."

"Aku melakukannya agar tidak ada yang mengikutiku, dan apanya yang mengikuti? kau menempel padaku!..."

"Jangan pura-pura marah begitu! kau suka kan bisa menyentuh dadaku?"

"Apanya yang dada? tulang rusuk iya, dan jangan berisik kalau kau masih ingin selamat."

"Kau mengancamku? kalau kau pelan-pelan mungkin aku bisa menahan diri, tapi kalau kau kasar tidak mungkin aku bisa terus diam."

"Hentikan lawakan mesumu itu! apa kau tidak sadar kita ada di mana?"

"Di bawah markas tentara musuh."

"Kalau kau tahu tolong diamlah, dan kalau bisa cepat pulang saja sekarang!."

"Aku tidak bisa melakukannya! sebab kau membahayakan diri demi aku."

Akhirnya dia jadi diam, hanya saja kediamannya agak tidak mengenakan. Tapi meski seharusnya aku mengatakan sesuatu untuk mengangkat moodnya, sekarang aku tidak bisa melakukannya. Atau lebih tepat dibilang kalau, aku tidak boleh melakukannya.

Ketika aku kembali dari klinik, dokter gadungan yang sempat dihajar Hinata itu memberiku sebuah blueprint dari markas tentara pulau ini berada. Selain berfungsi sebagai peta, di dalam blueprint yang sekarang kubawa ini juga terdapat banyak note yang isinya adalah informasi-informasi penting tentang bangunan yang sedang aku dan Konan jelajahi.

Sebagai satu-satunya orang yang punya pengetahuan medis, orang itu sering dipanggil untuk mengurusi masalah kesehatan anggota perusahaan dan para tentaranya. Dan tentu vaksin untuk virus yang menyebar di pulau ini juga dia yang mengurusi.

Dia tidak punya hak untuk mengambil obat itu dengan sesuka hati mengingat harganya yang sangat mahal, tapi meski begitu. Yang menentukan di mana benda itu harus di simpan adalah dokter gadungan itu, karena itulah dia bisa tahu tempat di mana obat itu berada dan cara mencapainya.

"Naruto . . . Naruto. . kau dengar aku tidak?"

"A. . . iya. . . ada apa Konan?"

"Jika kita terlalu lama di sini cuma masalah waktu sampai kita ketahuan."

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Terakhir kali aku ke sini aku langsung ketahuan setelah diam selama dua puluh menit, kau ingat pertemuan kita kan?"

Jadi saat itu dia mencoba menyelinap dan ketahuan lalu ketahuan dan dikejar-kejar. Hah. . . ternyata bocah ini lebih berani dari apa yang kukira.

"Kalau kau pernah masuk ke sini berarti kau lebih paham dengan blueprint ini, apa kau bisa membacanya?"

Konan melihat kertas yang kubaca dengan teliti lalu mengangguk beberapa kali sebelum kembali mengembalikannya padaku.

"Pencapaian terjauhku adalah kantor manager di bagian utara tempat ini saat percobaan ke tujuhku."

Kantor manager, bagian utara, di mana-mana. Oh, ketemu. Dua kilo dari tempat ini dan melewati tiga stasiun penjaga dan juga dua buah menara pengawas. Selain itu di antara tempat ini dan kantor manager juga hampir tidak ada jalur rahasia seperti yang satu ini.

"Konan. Kau terlalu berani."

"Hah?"

Dengan bantuan Konan, dengan mudah kabi bisa menemukan jalur rahasia yang dokter gadungan itu maksud dengan mudah dan berhasil menghindari penjaga dengan lumayan lancar. Beberapa kali kami hampir ketahuan, tapi untuk suatu alasan kesialanku sepertinya berhasil ditekan efeknya oleh keberuntungan Konan.

Dalam game COD, misi yang paling kubenci adalah stealth. Mengendap-endap, bersembunyi dari musuh dan tidak melakukan apa-apa meskipun melihat teroris sedang membakar seorang warga sipil.

Tapi jangan salah paham. Aku juga bukan tipe orang yang akan menyerang membabi buta setelah health pointku dalam keadaan kritis. Aku adalah tipe gamer yang akan menyerang dari jarak aman dan akan menghindar jika musuh yang mendekatiku.

Safe player.

"Setelah ini tidak ada lagi jalur rahasia, yang paling penting sekarang bukanlah lokasi sembunyi melainkan timing! kau punya keberuntungan yang sangat buruk jadi ikuti saja aku Naruto."

"Konan, kurasa kau harus benar-benar pergi dari sini! penjagaanya terlalu ketat."

"Apa kau tidak bisa membuat mereka pingsan saja? seperti di film-film."

"Pertama ini bukan film! dan kedua aku tidak bisa melakukannya!."

"Apa tidak terbalik?"

"Sama saja."

Jika Hinata sekarang ada di sini, mengatasi orang-orang itu sama sekali bukan masalah besar. Tidak hanya punya kekuatan besar, kemampuan bela diri gadis itu juga sangat bagus. Aku belum pernah melihatnya sendiri, tapi aku yakin kalau dia bisa membuat para penjaga itu tidak sadarkan diri hanya dengan satu pukulan.

"Ngomong-ngomong di mana Hinata? bukankah kalian itu satu paket?"

"Dia kutinggalkan di klinik."

"Kenapa kau tidak memberikan jawaban retorik? dan bahkan kau tidak menyangkal kalau kalian ini satu paket."

Aku hanya memberikan senyum tanggung padanya. Dan sebagai reaksi balasannya dia mengalihkan pandangannya dariku.

"Apa dia sepenting itu untukmu?"

"Aku ingin bilang iya, tapi sepertinya aku harus menahan diri."

Semua perlakuanku padanya tidak menunjukan kalau dia tidaklah sepenting itu untuku.

"Oh begitu. . ."

Apanya yang oh begitu?

"Kau tidak ingin membuatnya terluka jadi kau meninggalkannya kan?"

"Aku tidak tahu bagaimana kau memandangku? tapi aku bukanlah orang yang sebaik itu."

"Kau memang mesum tapi kurasa laki-laki mesum itu normal."

"Aku tidak mesum, dan bukan itu yang kumaksud."

Aku ini adalah orang yang tega mengorbankan Hinata, teman-temannya yang sedikit dan juga sebuah negara hanya untuk adik perempuannya. Saat penyerangan Trident ke kota, dengan jelas dan lantang aku berteriak kalau yang ingin kulindungi bukan mereka semua tapi Hanabi.

Hanya dia dan cuma dia.

"Ro. .ro. .romantis sekali. . "

Aku yakin kalau dia tahu kalau Hanabi baru berumur dua beals tahun dia malah akan menghinaku. Jadi fakta itu akan kusimpan sendiri saja.

"Kau benar-benar bodoh! maksud kata-kataku adalah aku melakukan semua ini hanya main-main dan mungkin aku akan meninggalkanmu saat terdesak."

"Kalau begitu baguslah. . . aku juga tidak ingin kau kenapa-kenapa karena aku!."

Aku ingin bertanya apa maksudnya, tapi ketika aku melihat ke samping kananku. Dia tidak di sana dan malah sedang melakukan dash sekuat tenaga melewati tengah-tengah jalur para penjaga sedang beraptroli.

Melihat Konan yang berlari sambil memancing perhatian dengan berteriak sangat keras, tidak ada yang panik maupun buru-buru mengejarnya. Mungkin sebab mereka sudah terlalu sering mendapati bocah itu menerobos masuk, hal itu jadi dianggap biasa dan bukan lagi hal yang terlalu mengejutkan.

Komentar para penjaga itu hanyalah, oh dia lagi, kali ini akan kutangkap dia, merepotkan sekali sih, dan ayo kita jadikan dia mainan.

"Tunggu-tunggu-tunggu! yang terakhir itu bukannya kedengaran sangat buruk?"

Konan. Kalau kau sedang menawarkan diri untuk jadi pancingan agar aku bisa mengambil obat di dalam dengan lebih aman. Maaf saja tapi aku harus menolaknya. Kau mungkin memintaku mengambil obat untuk orang lain, tapi aku mengambil obat itu bukan untuk orang itu melainkan untukmu.

Jika kau tertangkap di sini dan tidak bisa keluar, tugasku sama dengan tidak selesai.

Tentu saja aku tidak akan melakukan tindakan ngawur seperti yang dia lakukan tadi. Aku memutuskan untuk menjadikan misiku untuk mengambil obat jadi nomor dua dan mengetahui ke mana Konan di bawa yang pertama.

Dengan sembunyi-sembunyi, aku mengikuti seorang tentara yang membawa Konan di atas pundaknya seperti karung. Dan kebetulan sekali, sepertinya gadis itu akan di bawah ke ruangan gelap di bawah tanah sehingga aku punya banyak sekali tempat untuk sembunyi.

"Akhirnya kita bisa sendirian juga."

Tentara tadi menurunkan Konan, tapi tempat kami berada sekarang bukanlah penjara maupun ruangan tertutup melainkan ruangan bersih besar penuh dengan stok amunisi dan berbagai macam persenjataan.

Aku tidak tahu tentara itu bodoh atau apa tapi yang jelas kalau dia ingin mengurung Konan tempat ini sama sekali tidak bisa dibilang cocok.

"Kau sudah besar ya Konan."

Apa yang kau katakan? sudah besar? dia itu tiga belas tahun baru satu minggu. Apa kau tidak bisa lihat kalau tubuhnya itu masih delapan puluh persen anak-anak?

"Di sini tidak ada orang jadi tidak ada yang bisa mengganggu kita, kau relaxlah dan duduk dulu aku akan menyiapkan peralatannya."

Peralatan untuk apa? dan peralatan macam apa?

Kenapa mereka perlu tempat sepi, dan kenapa Konan tidak melawan dan menuruti saja semua perintah orang itu? di mana semangat membela diri yang dia tunjukan waktu itu padaku? apa dia sebegitu mudahnya menyerah.

"Sekarang berbalik dan letakan tubuh bagian depanmu di atas kotak yang tadi kau duduki, punggungmu menghalangi cahaya aku tidak mau menancapkannya ke tempat yang salah."

Dengan muka khawatir Konan kembali menurut dan melakukan semua yang tentara itu perintahkan. Dia menurunkan bagian atas tubuhnya lalu berbaring telungkup seakan sedang ingin memeluk kotak di bawahnya.

Sedangkan si tentara tadi sendiri sedang berdiri seperempat meter tepat di belakang Konan yang masih setengah berdiri.

Tunggu dulu Naruto. Bukankah ini gawat?

Tentara itu mencoba mendekat setelah mengeluarkan sesuatu dari salah satu saku di seragamnya, tapi Konan mengangkat tangan kirinya dan memberikan isyarat untuk berhenti lalu bertanya.

"Rasanya . . . . tidak sakit kan?"

Konaaaaaaa….. jangan memperlihatkan wajah semacam itu! kau malah membuat orang yang melihatnya jadi ingin membullyimu.

"Jadi ini pengalaman pertamamu? rasanya hanya seperti digigit semut dan sakitnyapun hanya sebentar, jangan tegang dan relax saja kalau tegang malah sakitnya lebih terasa."

Konan mengangguk dan memejamkan mata layaknya seseorang sedang bersiap untuk menerima rasa sakit yang tidak tertahankan.

Tangan kiri tentara itu bergerak dan bersiap untuk memegang bagian atas celana yang Konan kenakan.

"Tidak akan kubiarkaaaaaaaaan!."

Aku selalu bangga dengan ketenanganku dalam mengambil keputusan, tapi aku juga punya satu masalah yang sampai saat ini tidak pernah bisa kuselesaikan. Pikiran rasionalku selalu kalah saat yang jadi obyek masalahnya adalah seorang gadis cantik.

Aku berlari sekuat tenaga untuk mengumpulkan momentum kekuatanku jadi besar, tapi usahaku langsung jadi sia-sia setelah begitu dia berada tepat di depanku. Tentara itu mengangkat tangan kanannya dan menarik lengan kiriku, setelah itu kekuatan dari momentum yang kugunakan untuk menjatuhkanku.

Lalu sebelum aku sempat bisa memikirkan langkah apa yang harus kuambil selanjutnya, sebuah benda tumpul sudah menekan bagian bawah leherku dengan cukup keras sampai aku agak kesulitan bernafas. Tangan kiriku sempat memberikan reflex dan menghalangi tangan tentara itu di saat-saat terakhir.

Benda itu adalah jarum suntik yang penutupnya masih terpasang.

Hampiiiirrr. Jika penutupnya sudah lepas aku benar-benar akan mati.

"Kenapa kau bisa ada di sini."

Pertanyaannya aneh.

"Hahusnya ahu hang tangha begihu."

"Kau bilang apa?"

Lepaskan dulu tanganmu bodoh!.

7.

Penangkapan Konan adalah sebuah sandiwara, dan seorang aktor yang menemani gadis itu melakukannya tidak lain tidak bukan adalah orang yang sudah secara tidak langsung membuatku berpisah dengan Hinata. Si dokter gadungan yang berada di klinik.

"Bisakah kau berhenti menyebutku sebagai dokter gadungan! aku punya nama dan namaku sangat keren? lalu aku benar-benar punya ijin walaupun aku memang tidak pernah bersekolah khusus medis."

"Jangan ganggu monologueku!."

"Kenapa kau marah-marah!? yang harusnya marah itu aku bodoh!."

"Kenapa aku tidak boleh marah? dan kenapa kau yang harus marah!?"

"Apa kau bodoh? kau ini bodoh kan? akui saja kau ini bodoh! dasar orang bodoh!."

Aku benar-benar ingin menghajar orang ini.

Singkat ceritanya. Aksi teatrikal Konan dan dokter gadungan ini adalah memang ditujukan sebagai pengalihan untuk membuatku bisa masuk ke dalam tempat penyimpanan dan semuanya memang sudah direncanakan. Tapi sayangnya, Konan lupa memberitahuku sehingga aku salah paham dan malah merusak rencana mereka.

Sampai bagian ini aku paham. Tapi semua penjelasan yang dia berikan padaku sama sekali tidak memuaskan. Kenapa? karena masalah utama yang ingin kuketahui belum dia beritahukan padaku.

"Lalu tindakan mesum macam apa yang ingin kau lakukan pada Konan tadi!? dasar bejat! dasar orang bejat!"

"Sekarang aku paham! ternyata kau ini lolicon!."

"Aku tidak mau mendengar kalimat itu dari orang tua yang dua menit yang lalu sedang berusaha melepaskan celana seorang gadis kecil."

"Memangnya apa salahnya? aku sudah bisa melakukannya."

"Biasa melakukannya? kau!? aku akan melaporkanmu pada polisi!."

"Aku ini tentara, kalau kau masih ingat! dan jangan bertingkah seperti itu apa yang kulakukan adalah pekerjaanku!."

"Pekerjaaaannn!? kau bekerja melakukan hal seperti itu? setelah bertemu denganmu aku bahkan masih bisa bangga disebut lolicon."

"Jadi sekarang kau mengakuinya."

Orang itu menepuk pundaku lalu sesaat kemudian memegangnya dengan sangat erat.

"Dari kalimatmu aku sudah bisa menebak apa yang kau pikirkan tentangku."

Selain jadi teman berekting Konan, dokter gadungan itu juga bertugas untuk memberikan vaksin pada gadis itu.

Tempat obat itu disimpan adalah tempat yang sama di mana orang-orang yang terkena pendemik dikarantina sehingga mendekatinya saja sudah berbahaya. Untuk remaja sepertiku maupun orang yang sudah dewasa, pendemik itu tidak terlalu berbahaya tapi bagi anak-anak melakukan kontak dengan udara di mana para penderita saja sudah berpotensi menularkan penyakitnya.

Karena itulah Konan memerlukan penanganan khusus, sebab dia baru menginjank tiga belas tahun seminggu yang lalu.

"Ummmmm aku paham, aku paham! tapi kenapa kau mencoba memelorotkan celananya?"

"Tentu saja agar aku bisa menyuntiknya."

"Kenapa tidak di lengan saja? semua orang disuntik di lengan kan?"

"Sebuah suntikan itu ditujukan ke otot, dan otot lengan gadis itu kecil serta sedikit sehingga melakukannya sangat susah dan jika obat yang masuk tidak buru-buru dibawa ke aliran darah dan bereaksi kita akan kehabisan waku."

Alasan orang ini kedengaran logis.

"Dan tempat yang paling banyak ototonya ya tentu saja di pantat."

Semua yang dikatakan oleh orang ini benar-benar meyakinkan, tapi untuk suatu alasan aku tidak bisa mempercayainya.

"Lagipula aku sudah lama tidak memegang kulit mulus gadis mudah . . . katanya juga dengan mengelus-elus kulit seorang gadis muda seseorang akan bisa jadi awet muda."

Sekarang aku tahu alasan kenapa aku tidak bisa percaya dengan keterangan dokter gadungan ini. Ketidakpercayaanku langsung muncul ketika jari-jari tangannya bergerak-gerak seperti seseorang yang sedang memeras sesuatu. Pendapat logis macam apapun yang dia keluarkan langsung hilang begitu saja ketika aku melihat gerakan tangannya yang menunjukan seberapa mesumnya orang ini.

"Kau hanya perlu menyuntikannya kan? kalau begitu aku yang akan melakukannya."

"Aku tidak mau!."

Bukannya dokter gadungan ini, yang berteriak adalah Konan yang sedang menarik bajunya ke bawah dengan muka merah.

"Kenapa Konan?"

"Jangan tanya kenapa bodoh! tentu saja aku malu."

"Tapi kau tidak malu menunjukan pantatmu pada orang ini."

"Dia itu dokter. . jadi tidak apa-apa."

"Dia itu dokter gadungan."

"Selain itu dia sudah seperti kakeku sendiri, dan semua anak di shelter juga menganggapnya sebagai kakek."

"Meski rambutku putih tap aku belum setua itu, hanya saja kalau kalian memperbolehkanku untuk menyentuh seluruh tubuh kalian! aku tidak perduli."

"Kau dengar tidak Konan!? orang ini sangat masum! orang ini benar-benar mesum! dia bahkan lebih mesum dari Hinata!."

Pada akhirnya aku memaksa dokter gadungan itu untuk menyunting Konan di lengan, dan hal itu membuat kami semua terpaksa harus menunggu selama setengah jam sebelum obat yang disuntikan ke tubuh Konan bereaksi.

Sambil menunggu kami juga menyusun rencana baru setelah rencana lama sudah gagal total.

Renacanpun dieksekusi. Deokter gadungan yang ternyata namaya adalah Jiraiya itu berganti baju dan menggunakan pakaian dokternya lalu memberikanku pakaian tentaranya. Setelah itu aku mengikat Konan dan membawanya dengan alasan kalau dia adalah penderita baru yang perlu segera dikarantina.

Lalu sebab wajahku belum terlalu dikenal, tidak ada yang mencurigaiku.

"Hey dokter gadungan, kau bilang yang paling rawan terkena penyakit itu adalah anak kecil apa itu berarti di tempat karantina hanya ada anak-anak kecil?"

"Kau senang kan?"

"Bukankah kau yang senang?."

"Tentu saja tidak, aku memang senang menyentuh mereka tapi aku lebih senang kalau mereka sehat."

"Kau kedengaran seperti orang tua."

"He. .he. . aku akan menyiapkan jalur pulang kalian, tapi nanti tolong buat sedikit keributan supaya mereka yakin kalau yang mencuri adalah orang luar tanpa bantuan orang dalam."

"Jadi kau mau main aman?"

"Jika rencana ini gagal dan kalian tertangkap lalu aku ditembak mati, siapa yang akan merawat anak-anak itu?"

"Jadi kita berpisah di sini."

Ketika aku mendengar kata penyakit mematikan, aku membayangkan kalau penderitanya pasti menderita dan mengalami kesakitan di sekujur tubuhnya. Atau setidaknya mungkin mereka akan berbaring di tempat tidur menunggu kematian.

Hanya saja

"Konaaaaaaaannnnn."

Beberapa anak kecil berlari dan menubruk Konan lalu memeluknya secara berebut.

Anak-anak ini sama sekali tidak kelihatan seperti orang sakit. Kalau hanya dilihat dari mukanya, tidak ada yang tahu kalau mereka semua sedang mengidap penyakit berbahaya.

"Kalian baik-baik saja kan? mereka tidak mengapa-apakan kalian kan?"

Seperti seorang kakak, Konan mengecek satu-persatu anak-anak kecil yang memeluknya. Jumlah mereka ada lima, dan ditambah dengan yang sedang ragu-ragu untuk maju total anak yang dikarantina ada delapan.

"Kau Konan itu bagaimana? tentu saja tidak ada yang baik-baik saja."

Kalau begitu kenapa kalian semua tersenyum?

"Hahahah . . . bodohnya aku, harusnya aku tidak perlu bertanya."

Untuk seseorang yang baru saja mengalami reuni reaksimu terlalu biasa Konan.

"Kami dengar kalau beberapa dari kami akan mati tiga minggu lagi."

"Oh begitu. . . . kebetulan sekali hari ini aku membaw mainan yang sangat bagus! perkenalkan! namanya adalah Naruto kalian bisa menggunakannya sebagai kuda, pesuruh, dan apapun yang kalian inginkan."

"Ada apa dengan kalian semua?"

Ini aneh. Di antara mereka semua Konanlah yang paling tua. Usia rata-rata anak-anak ini mungkin sekitar sembilan atau sepuluh tahun, jadi aku sangat yakin kalau tidak ada satupun dari mereka yang punya kemampuan menahan perasaan layaknya orang dewasa.

"Ada apa denganmu Konan? apa kau tidak punya perasaan? mereka semua akan mati."

"Kenapa harus sedih? semua orang juga akan mati, kematian itu hanyalah masalah waktu."

"Tapi kau ingin mengambil obat itu untuk diberikan pada mereka kan?"

"Siapa yang bilang begitu? aku tidak ingat pernah mengatakan hal semacam itu, jika hal itu yang ingin kulakukan aku tidak perlu membawa obat-obat itu keluar dari sini."

"Lalu apa? kalau bukan untuk mereka lalu untuk siapa?"

Kita tidak bisa menolong mereka, jadi mereka sudah tidak bisa ditolong. Jika Konan memberikan obat itu pada anak-anak yang berada di sini, maka obat yang dia curi akan langsung ditemukan dan pelakunya akan langsung bisa ditebak.

Selain itu, dengan melihat kondisi anak-anak yang seharusnya tinggal menunggu mati tiba-tiba jadi aik. Petugas pasti akan curiga dan mengetahui kalau mereka menyimpan obat yang hilang, dan dipastikan kalau benda itu akan diambil paksa.

Dan jika konsumsi obat dihentikan sebelum penyakit mereka benar-benar sembuh, mereka tidak akan sembuh.

"Jumlah obat itu sedikit, jadi kita tidak boleh menyia-nyiakannya! aku akan membawa obat itu lalu memberikannya pada anak-anak lain di shelter dengan begitu mereka akan bisa langsung ditindak begitu mengalami gejala."

"Jangan marahi kak Konan!"

"Kami tidak ingin mati, tapi kami juga tidak ingin teman-teman kami mati."

Satu-persatu anak-anak kecil itu mengelilingi Konan dan mendorongku agar menjauh dari gadis kecil itu.

"Apa-apaan kalian!? kalian itu anak kecil kan? dan kau Kona! lihat aku! lihat aku! jangan menunduk terus!."

Aku menerobos paksa barikade yang dibuat oleh anak-anak itu, kemudian aku memegang dengan erat pundak Konan dan menarik gadis itu mendekat padaku secara paksa. Setelah itu aku memagang kedua pundaknya lalu menunduk untuk melihat wajahnya.

Dan begitu aku berhasil.

"Uuuu. . . . . . . . . "

Kudapati Konan yang hidungnya sangat merah, matanya sudah hampir mengeluarkan air mata, dan juga mulutnya yang dia coba untuk kunci dengan erat. Kepalan tangannya bergetar, tangisan hanya tinggal keluarnya saja, serta air mata sudah ada yang mau jatuh.

"Maafkan aku!... maafkan aku!..."

Aku berhenti memegang kedua pundaknya dan mulai memeluknya. Memeluknya dengan erat dan membiarkan dia menangis tanpa harus dilihat oleh teman-temannya yang katanya dua minggu lagi akan mati.

Kedewasaan seseorang tidak selalu bisa diukur dari umur mereka. Seperti layaknya sebuah sekolah yang menggunakan test untuk menentukan kekompetenan murid serta menaikan level pengetahuannya. Kehidupan juga mengaplikasikan sebuah sistem yang sama.

Seseorang lahir, mengumpulkan pengetahuan, mengakumulasikan pengalaman, belajar dari apa yang pernah kerjakan, dan mengevaluasi diri lalu jadi dewasa. Untuk bisa jadi dewasa seseorang perlu mengalami yang namanya cobaan.

Dan bagi anak-anak ini. Kehidupan mereka adalah cobaan itu sendiri. Dan dengan menempuh semua cobaan itu. Mereka jadi dewasa sebelum waktunya.

Aku tidak tahu apakah hal itu baik atau buruk. Tapi yang jelas, aku tidak menyukainya. Aku sama sekali tidak suka dengan ide memberikan beban semacam itu pada anak-anak.

Jika kalian para orang dewasa ingin membunuh, silahkan kalian saling bunuh. Jika kalian orang dewasa ingin berperang, silahkan berperang. Jika kalian orang dewasa ingin uang, gali saja sendiri. Lakukan apa yang kalian mau! tapi jangan bawa-bawa kami!

Jangan bawa-bawa aku!..

"Aku akan membawa kalian semua keluar dari tempat ini."

Anak kecil yang harus menderita karena orang dewasa cukup aku saja. Aku tidak akan membiarkan mereka merasakan apa yang pernah kualami dulu.

"Kami tidak bisa."

"Di pulau ini tidak ada tempat sembunyi."

"Lagipula jika kami keluar, ada kemungkinan kalau kami akan menularkan penyakit kami."

"Aku tidak mau menyusahkan ayah dan Ibu."

"Aku juga tidak mau menyusahkan kak Konan."

"Ambil saja obatnya dan keluar dari sini."

"Penjaga mungkin sudah menyadari ada yang aneh."

"Karena itulah."

Cepat pergi dari sini!.

Konan segera berlari menuju ruangan tempat penyimpanan obat, dan sebab dia sudah mempunyai kunci yang diberikan oleh si dokter gadungan dengan mudah dia bisa mendapatkan satu pack kardus yang harusnya berisikan obat.

Konan kembali berlari padaku lalu menyambar tanganku untuk dan mengajaku segera keluar dari sini. Tapi. Aku tidak bergerak.

"Aku tidak akan meninggalkan mereka."

"Naruto!"

"Aku tidak akan meninggalkan mereka."

Konan melepaskan tanganku dan kembali berlari menuju pintu keluar. Meninggalkanku.

Bagus. Larilah, pergilah dari tempat ini dan temui teman-temanmu. Jangan lihat ke belakang dan memikirkanku. Aku akan tetap di sini, bersama dengan anak-anak ini. Aku akan melakukan sesuatu sendiri, aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan mereka.

"Dasar bodoooohhh!."

Teriakan macho itu adalah hal terakhir yang kudengar sebelum kepalaku rasanya dihantam dengan benda yang sangat keras.

8.

Tubuhku rasanya melayang, tapi perut dan dadaku rasanya sakit. Jika harus dibandingkan mungkin rasanya sama dengan naik tornado dalam kecepatan tinggi menggunakan kursi kayu.

"Kau sudah sadar kan? cepat turun dan lari dengan kakimu sendiri!"

Sesaat kemudian tubuhku dijatuhkan begitu saja oleh si dokter gadungan.

"Jangan sembarangan kau!"

"Jangan banyak tanya dan lariiii!"

Di belakang kami, ada banyak sorot lampu yang bergerak di dalam kegelapan. Dan sorot lampu itu berasal dari tentara-tentara yang mengejar kami bertiga yang sudah berhasil keluar dari markas mereka.

Merasa dirinya tidak bisa membujuku, Konan segera mendatangi dokter gadungan itu yang sama sekali tidak punya belas kasihan. Setelah itu dia membuatku tidak sadar lalu membawa tubuhku layaknya karung keluar dari markas pmc.

Konan dikira masih dikurung, dan wajahku belum pernah mereka lihat sehingga jika kami bisa keluar dari tempat itu dengan aman maka kemungkina besar tidak akan ada yang mencariku maupun Konan sampai ke Shelter.

Tapi sayangnya ketika kami keluar ada seorang petugas yang ditugaskan untuk mengambil obat, dan petugas itu menyadari kalau jumlah obatnya berkurang. Akhirnya tim pencari dikerahkan untuk menangkap kami bertiga.

"Aku bisa pura-pura sudah diserang dan terluka, tapi kalian tidak bisa membela diri saat mereka menemukan kalian! dua kilo lagi ada sebuah pemakaman tua, jika kau menginjaknya dengan keras tanahnya akan langsung runtuh masuklah ke dalam satunya dan sembunyi sampai hampir pagi! dengan begitu aku yakin kalau kalian akan selamat."

Jiraiya memutar arah larinya dan menjauhi kami, dia bilang dia akan mencoba mengalihkan perhatian dan memberikan informasi palsu pada para pengejar. Aku ingin protes, tapi dia berlari lebih cepat dari aku bisa berbicara. Dia menghilang ke balik bayangan-bayangan malam.

"Kita tidak punya pilihan lain kecuali percaya padanya."

Aku mencari telapak tangan Konan lalu menggenggamnya dengan erat. Kali ini aku tidak akan melepaskannya. Aku tidak akan membiarkan gadis ini tertinggal dan dipaksa untuk meninggalkan sesuatu.

Aku akan menyelamatkannya.

Aku berlari lebih kencang sambil terus menarik tangan Konan, dan gadis itu terus mengikutiku tanpa berbicara apapun.

Lima ratus meter pertama bisa kami lewati dengan tenang. Satu kilo kemudian kami melihat ada pasukan pencari dari arah lain pulau ini. Lalu lima ratus meter lagi tiba-tiba ada beberapa tentara yang menembak ke arah kami dengan menggunakan smg, tapi dengan beruntung kami bisa melewati semua itu tanpa terluka.

Beberapa kali ada peluru yang terbang melewati telingaku dan membuat pendengaranku terganggu, lalu yang lain ada juga yang menyerempet pundaku tapi secara total tidak ada luka parah yang kualami dari serangan membabi buta tadi.

Selain gelap, targetnya juga tidak jelas kemudian kelembaban dan angin di sini agak tidak beraturan sebab dekat dengan laut. Jadi senjata apapun yang mereka gunakan tidak akan bisa akurat mengincar kami.

"Tinggal dua ratus meter, sedikit lagi Konan!."

"Iy . . . a. . . ."

Hanya saja. Semua hal positif itu hanya ada di dalam pikiranku.

Bruk.

Tiba-tiba aku mendengar suara benda jatuh, dan tarikanku terhadap tangan Konan juga jadi terasa berat. Dan begitu aku melihat ke belakang, aku melihat Konan yang tidak lagi bisa berdiri hampir terseret olehku.

"Ada apa Konan? apa kau kelelahan? kalau iya aku akan menggendongmu."

"Ughuk. . . kau harus segera lari."

"Hey. . jangan bercanda begitu! tinggal dua ratus meter dan kita akan selamat."

Konan mengangkat tangan kiri yang sedari tadi dia gunakan untuk memegang perut bagian kanannya.

"Sepertinya aku tertembak, perutku rasanya panas. . ."

Begitu tangan telapak tangan Konan Naruto angkat, di sana ada banyak sekali darah yang menempel dan dari perut bagian kanan Konan ada darah yang terus keluar.

"Hehehe. . . aku benar-benar tertembak rupanya. . . tinggalkan saja aku!"

"Konan."

"Kau sendiri kan yang bilang."

"Diam kau! aku tidak akan meninggalkanmu!."

"Dua ratus meter lagi kita akan menang."

"Aku melakukan semua ini adalah untukmu, kalau kau kutinggalkan bukankah tugasku jadi tidak selesai."

"He. . he . ."

Kenapa kau tersenyum? apa ada yang lucu?

"Aku. . . tidur dulu."

Ya. Tidurlah yang nyenyak lalu besok akan kumarahi kau karena bangun telat.

"Hey Konan, menurutmu dunia ini seperti apa?"

Menurutku dunia ini sangat jelek. Dunia ini tidak memperlakukanku dengan baik, dunia ini sering mencoba mengambil apa yang kupunya, dan dunia ini juga sering bermain curang. Aku bahkan merasa kalau tidak mungkin aku bisa menang melawannya jika aku terus bermain jujur.

Apa aku harus ikut bermain curang seperti orang-orang lain?

Aku bisa tapi aku tidak mau. Jika aku melakukannya bukankah aku jadi sama saja dengan mereka.

Mereka? mereka siapa?

Mereka yang membangun dunia ini di atas tragedi, mereka yang menganggap dirinya hebat dan melihat rendah yang lain, mereka yang beradu kekuatan untuk menunjukan kalau mereka yang terkuat. Terbaik. Paling hebat.

Kalau aku tidak bisa mengalahkan seseorang dalam catur kenapa tidak kuacak-acak saja papannya? kalau aku tidak bisa mengalahkan dunia kenapa tidak kuhancurkan saja dunianya?

Kalau aku tidak suka dengan mereka.

Kenapa aku tidak membunuhnya saja?

"Bunuh mereka semua."

Kau di sana kan Hinata?

Aku mendengar sebuah langkah kaki dari belakangku, dan meski aku tidak bisa melihat wajahnya aku yakin kalau dia adalah Hinata.

"Aku mohon tarik kembali perintahmu Naruto, di sini ada orang sipil, selain itu level energiku juga hanya lima belas persen, tanpa bantuan dari masa depan aku harus menggunakan prosesor lokalku."

Apa kau tidak dengar aku Hinata? aku bilang bunuh mereka semua. Keinginanku adalah perintah untukmu kan? atau… kau menggunakan hak menolakmu di pulau ini untuk tidak menuruti perintahku kali ini?

"Bukan be. . ."

"Kalau begitu aku akan melakukannya sen. . ."

"Baiklah. . ."

Hinata menurunkan badannya lalu memeluk punggungku dengan erat.

"Kau boleh menyimpan dendam, kau boleh membenci mereka dengan seluruh jiwamu, dan kau boleh berpikir untuk menghancurkan dunia."

Gara-gara aku Konan jadi seperti sekarang dan dokter gadungan itu juga tidak jelas nasibnya.

"Tapi untuk dosamu. . ."

Kami Hinata menutup matanya dan berbisik di telingaku.

"Akulah yang akan menanggungnya."

Open GeoGlobalMatrix.

Sebuah windows berebntuk lingkaran muncul di depan kening sebelah kiri Hinata, dan sana sepertinya ada map mini pulau ini.

Determining target numbers.

Determining best height for the ring.

Determining number of the rings.

Determining the range of the rings.

Calculating the amount of power needed for the process.

Selama dua menit Hinata terus mengucapkan proses-proses yang dia lakukan di dalam otaknya. Aku tidak tahu apa yang dia coba lakukan, tapi aku punya firasat kalau apapun yang akan dia lakukan adalah sesuatu yang sangat berbahaya.

Perlahan-lahan, cahaya-cahaya hijau mulai terlihat dan berputar mengelilingi kami seperti sebuah cincin. Benda itu punya diameter selebar pipa PVC untuk air kran dan bergerak dalam kecepatan yang sangat tinggi. Kecepatan gerakannya terus bertambah sampai kurasa mungkin sama dengan cahaya..

Requesting limiter removal.

"Naruto. . . tolong."

Hinata membalikan tubuhku lalu memegang tangan kananku.

"Jangan menjauh dariku, benda ini mengeluarkan radiasi yang sangat tinggi, akan repot nanti kalau kau jadi impoten karena aku."

Gadis ini. Masih bisa bercanda dalam keadaan seperti sekarang. Aku benar-benar harus memberikan acungan jempol pada yang mendesain sistemnya.

"Bunuh mereka semua! Hinataaa!."

Aku menyobek kemeja yang dia kenakan dan tanganku langsung memegang bagian tengah dada gadis itu dengan kasar.

Limiter removed.

Full force granted.

Anihilation. Zero. Electron Blade.

Aku mendengar derap langkah dari tentara-tentara yang mengejarku, tapi aku tidak memperdulikannya. Sebab sebentar lagi, mereka semua akan mati.

Expand.

Setelah limiter dilepaskan tuju lingkaran seperti yang pertama dengan cepat langsung terbentuk dan mengambang di posisi yang Hinata mau, setelah itu mereka menjadi besar dalam sekejap layaknya ledakan big bang, dan begitu bagian luarnya menyentuh sesuatu. Benda apapun itu akan jadi seperti kue yang dipotong menggunakan pisau.

Lingkaran yang paling tinggi memotong menara-menara penjaga dan juga bangunan yang memiliki tinggi sepuluh meter.

Lingkarang kedua mengembang dan memotong benda yang tingginya lima meter dari tanah tempat kami berada. Termasuk pohon-pohon besar yang berada di sekeliling kami.

Lingkaran ketiga setinggi dua meter.

Aku mendengar derap langkah yang menuju kearahku berkurang.

Lingkaran keempat setinggi satu setengah meter.

Aku mendengar suara-suara teriakan yang langsung hilang.

Lingkaran kelima setinggi satu meter.

Aku tidak bisa mendengar apapun kecuali suara benda jatuh.

Lingkaran keenam setinggi setengah meter.

Kuharap semuanya sudah berakhir.

Lingkaran ketuju berubah posisi menjadi vertikal dan mengembang lalu mengenai sebuah helikopter dan membelah tanah di bawahnya.

Lingkaran kedelapan. . . . tiba-tiba menghilang seperti kembang api yang kehabisan medium.

Terminating program.

Forced shutdown.

"Apa?"

Tubuh Hinata kehilangan kekuatannya dan jatuh begitu saja ke pelukanku.

"Ada apa denganmu Hinata?"

Dia tidak menjawab.

"Hinata. . . . ."

Aku menggerakan badannya, tapi tidak ada reaksi macam apapun yang kudapatkan. Tubuhnya terasa seperti boneka tali yang talinya sudah tidak ada. Di wajahnya tidak ada ekspresi, matanya terbuka tapi tidak kelihatan hidup, dan seluruh tubuhnya lemas.

"Hinata. . ."

Aku melakukannya lagi.

Hinata hanya melakukan charging sampai level minimum, dia tidak terkoneksi dengan masa depan, dia harus melakukan pemrosesan secara lokal, baterai internalnya harus dia paksa gunakan, dia kusuruh untuk menyingkirkan musuh-musuhku, dia melakukan akselerasi partikel dan membuat elektron blade, dia melakukan perhitungan yang harusnya hanya bisa dilakukan oleh komputer super hanya menggunakan kepalanya sendiri saja.

"Energinya habis. . ."

Tidak. Mungkin dia malah sudah rusak.

Sebelum aku sempat menyesali apa yang sudah kuperbuat. Sebuah tangan basah menarik tangan kananku dan memelintirnya ke belakang punggungku, setelah itu orang tidak dikenal itu memegang leherku dengan kuat dan menghadapkan kepalaku ke sebuah batu nisan.

"Kau benar-benar membuat masalah untuku!."

Dia menarik leherku ke belakang lalu mendorongnya ke depan dengan cepat dan membenturkan kepalaku ke nisan tadi.

Setelah itu…. yang ada hanya kegelapan.


Mungkin membaca artikel tentang large hadron collider, particle accelerator, dan juga higgs bosson di wikipedia bisa membantu.


Tahun baru saya tidak dawali dengan hal-hal baik. Di tanggal muda, tiba-tiba saya dapet kabar kalau ibu saya mau operasi tulang belakang. Setelah saya memutuskan tidak bisa pulang karena pekerjaan dan hanya mengirim uang, saya malah sakit (katanya gejala tifus) dan ujung-ujungnya saya tidak bisa kerja. Setelah itu gara-gara uangnya buat berobat saya jadi telat bayar bulanan dan terpaksa tidak diikutkan ujian akhir semester. Dan yang terakhir, saat ujian susulan waktu yang disediakan sangat minim padahal yang saya harus ulang ada delapan mata pelajaran.

Uwah. Kalo ada yang salah-salah mohon dimaklumi sebab sepertinya pikiran saya sedang tidak fokus.