CHAERI ZHANG PRESENT!
A SEKAI / HUNKAI FICTION
GENDER SWITCH FOR JONGIN
LEMON SCENE
NOT FOR CHILDREN U-18
-AFTERMATH-
Brak!
Baekhyun hanya menghela nafas jengah, sudah terlalu biasa Chanyeol mengasari pintu kamar mereka, ah! Menganggu tidur siang nyeyaknya saja di mansion Park yang megah ini.
Sepulang bulan madu, baik Baekhyun maupun Chanyeol mempunyai kesepakatan tentang pernikahan mereka, pernikahan yang bertujuan menghasilkan keturunan Park selanjutnya, dengan syarat jika terjadi perceraian anak pertama akan menjadi milik keluarga Park, sebagai penerus sah Park Group, sementara anak kedua, akan menjadi penerus Byun Corp.
Agak terdengar gila memang, tapi itulah jalan satu-satunya agar mereka aman. Chanyeol dan Baekhyun kan punya tujuan masing-masing, kan tidak ada cinta di antara mereka, ah.. tapi benarkah?
Baekhyun selama jadi istri Chanyeol selalu berusaha menjadi yang terbaik, bangun sebelum matahari terbit, berkutat dengan dapur mempersiapkan sarapan pagi sang suami, meskipun hanya secangkir esspreso dan sepotong roti lapis, memadu padankan setelan kerja Chanyeol, dan pelayanan malam hari yang selalu Chanyeol tagih, Baekhyun melakukannya seiklas mungkin, tanpa mencoba mengeluh, siap membuka pahanya, membiarkan lesakan sang suami hingga Chanyeol mengeram puas.
Dan si sulung Park? Katakanlah semua hadiah-hadiah kecil untuk Baekhyun hanya sebentuk rasa terima kasih pada sang istri, tapi apakah wajar jika setiap kali lelaki jangkung itu keluar negeri, hal yang pertama ia ingat adalah kejutan manis untuk istrinya, entah berupa sepasang jam tangan couple, perhiasan, atau koleksi sepatu mahal yang seperangkat dengan tasnya. Entah sejak kapan Baekhyun menjadi prioritas Chanyeol, menggeser posisi si Tan cantik, bungsu keluarga Park.
Di sadari atau tidak, Tuhan sudah bekerja dengan cara-Nya sendiri, mengatur dan mengikat benang merah di antara para hambanya.
Ekor mata Baekhyun, menangkap sayu pergerakan si dominan di depan ranjang, huh! Sungguh ia masih ingin tidur lebih lama lagi, jengah dengan melihat Chanyeol yang santai melepas jas, dasi, kemeja, dan celana formalnya, hanya menyisakan celana dalam. Seolah Cuek akan keberadaan manik puppy yang sedari tadi mengamati gerak gerik si suami.
Tumben, suaminya pulang tepat pada jam makan siang, bukannya sibuk di kantor, memimpin rapat ini itu, atau makan siang bersama client. Baekhyun yakin, suaminya belum mengisi perut, Ah mungkin sup krim jamur dan potongan baguette panggang buatannya bisa mengenyangkan Chanyeol, si pembenci nasi.
Baekhyun baru akan berdiri, ketika tubuh kekar Chanyeol menindihnya, menciumi setiap jengkal leher jenjang Baekhyun, dan mulai menurunkan gaun tidur Baekhyun, ciuman Chanyeol semakin meliar ketika desahan tertahan Baekhyun, membuat Chanyeol semakin bersemangat menandai betinanya.
"Park! Akh.. kau! Berhenti!"
Baekhyun segera menahan kepala Chanyeol, membawanya dalam tatapan super tajam, yang sialnya malah terlihat imut di mata Chanyeol. Tatapan meminta penjelasan, tidak biasanya Chanyeol begini, meminta bercinta kala matahari pas berada di ubun-ubun, pasti ada yang tidak beres.
"Aku ingin pewaris Byun!"
satu rapalan dari mulut Chanyeol, seperti mantera untuk Baekhyun. Meskipun banyak pertanyaan yang ia kumpulkan di kepala cantiknya, Baekhyun memilih mengalah, membiarkan desahan merapalkan tanya, membalas dengan semangat setiap cumbuan Chanyeol.
"Aku ingin empat anak laki-laki, dan empat perempuan"
Kicau Chanyeol, ketika yang dibawah sana terikat, dan pinggulnya memompa dengan semangat, menikmati setiap remasan nikmat dinding Baekhyun, dan satu eraman maskulin Chanyeol, diikuti pekikan tertahan Baekhyun, menandakan tercapainya penyatuan mereka, sang dominan ambruk, tapi tetap menahan berat badannya, agar tidak menyakiti si mungil.
"Kenapa pulang siang-siang begini?" Protes yang lebih kecil
"Aku lapar"
"Tsk.. ya makan sana"
"aku sedang makan, for your info, Byun"
Baekhyun mendengus, jawaban klasik yang selalu di dengar olehnya, bagi Chanyeol, bercinta sama dengan makan, hanya kebutuhan pokok hidup manusia.
"Kau akan membuatku terlambat meeting penting sore ini"
"Salah sendiri, memakai lingerie transparan siang bolong begini, kau ini mau tidur, atau membangunkan little Park di bawah sana"
"Mana kutau kau akan pulang Park, sesiang ini biasanya kau asyik berkencan dengan grafik saham, atau bertemu si A si B, meeting sana sini"
Chanyeol mengecup bibir cerewet Baekhyun singkat, menikam manik sang istri, tangan Baekhyun segera menampar pantat Chanyeol, mengerti akan isyarat sang suami.
"Aku mau meeting, tidak untuk tambahan makanmu, sana kembali ke kantor, banyak yang harus kau lakukan, daripada memompaku tanpa ampun disini"
"Byun, Jongin hamil"
Bola mata Baekhyun membulat jiwa kompetisi mulai membakar pikirannya, apa-apaan si hitam itu bisa lebih dulu membawa benih di rahimnya, tapi benih siapa? Masa Sehun sih? Atau jangan-jangan?
"Bukan perbuatanmu kan?"
Chanyeol mengelang, bagaimana mau membuat Jongin hamil, semenjak kekasihnya itu tahu dia adalah kakak tirinya, Chanyeol tidak bisa sekalipun menyentuh Jongin.
"Bagus, kalau begitu kau akan kembali ke kantor Park?"
Baekhyun mulai menggoda yang di bawah sana dengan mengetatkan dinding vaginanya, mulai memutar pinggulnya.
"Ten.. akh.. dan Yuta sudah mengatasi semuanya.."
"Kalau begitu, nikmati makan siangmu Park, kita usahakan anak lelaki pertamamu, siang ini"
-AFTERMATH-
Manik Sehun tak berhenti memandangi si mungil Chenle dari luar ruang ICU, lengan bocah itu tampak kurus, dengan dua buah selang infus di masing-masing tangan, satu mengasupi kebutuhan gizi si sakit, satunya menyuplai darah merah, hati Sehun tergigit, bukan keadaan seperti ini yang Sehun harapkan setelah enam tahun tidak bertemu permata hatinya, meskipun Irene berusaha memisahkannya dengan Chenle sedari anak itu dalam kandungan, tetap saja.. naluri seorang Ayah Oh Sehun terasa di injak-injak, bahwa ia tidak mengetahui kenyataan bahwa leukimia bersarang di tubuh mungil putera tunggalnya.
"Kenapa baru kau beritahu aku? Kenapa kau datang lagi di hidupku? Kenapa meninggalkanku? Kenapa?"
Irene segera memasang wajah menyesal lengkap dengan air mata palsu, Irene tahu betul, Sehun selalu lemah dengan tangisannya.
"Aku tidak mau menyusahkanmu Sehuna.. pernikahan kita tidak pernah direstui ibumu, aku takut menjadi menantu durhaka, aku takut Chenle tidak diterima Hun-aa.."
"Tapi setidaknya beritahu aku jika Chenle mengidap kanker darah Irene! Bagaimanapun aku Ayahnya, aku berhak membiayayai pengobatan terbaik untuk Chenle"
"Maaf Sehun.. maaf.."
"Sudahlah.. sekarang yang terpenting kesehatan Anakku, katakan apa yang dia mau Irene, kebutuhannya, obat-obatnya"
"Chenle.. hanya menginginkan bertemu Ayahnya, makanya kami pulang ke Korea"
Sehun sekali lagi tertohok, tak berpikir panjang lagi, ia segera masuk Ruang ICU, Chenle hanya menginginkan dirinya bukan?
Setengah jam lebih Sehun membiarkan dirinya larut disamping ranjang Chenle, mengelus surai anaknya, menciumi telapak tangan kurus tak berdaya itu, dan membiarkan bahunya bergetar, tanda sang empunya mengisakkan tangis, tak kuat melihat darah dagingnya seperti tak bernyawa.
Sehun masih ingin berlama-lama, jika saja suster tidak menyuruhnya segera keluar, membiarkan Chenle beristirahat dengan tenang. Sehun patuh, ia segera keluar, dan menemui ibu dari anaknya, setelah memasang raut stoic, seribu kali lebih dingin dari biasanya.
"Apa tujuanmu kembali"
"Aku? Tentu mempertemukan Chenle denganmu, Sehun-aa, mungkin kita bisa memulai-"
"Tidak ada yang akan dimulai antara kita lagi, hiduplah dengan hidupmu, aku, Jongin dan Chenle juga akan memulai hal baru, dengan hormat, enyahlah dari kehidupan kami"
Irene tercengang, bukan pengusiran yang ia inginkan, setidaknya, ia bisa menjadi yang kedua untuk Sehun, lalu perlahan menyingkirkan nyonya Oh, dengan cara apapun.
"Aku akan memberimu waktu hingga Chenle keluar rumah sakit, selama jangka waktu itu, bisakan kau hanya mengenalkanku pada Chenle, selanjutnya, biarkan aku yang urus"
"Tapi..."
"Terima kasih untuk kejutanmu, kuharap Bae Irene, kita bisa bekerja sama, ah.. nomor rekeningmu masih sama kan?"
Irene hanya dapat menahan amarah, giginya bergemerutuk riuh, Sehun selalu saja menilai semua hal dengan uang, lelaki di depannya ini sama sekali tidak berubah.
"Diam berarti iya"
Jemari Sehun berkutat cepat di atas ponselnya, tak lama satu notifikasi masuk ke ponsel Irene.
"Kurasa jumlah yang kutransfer cukup untuk hidupmu selama sepuluh tahun, kuharap kau benar-benar enyah, setelah Chenle sembuh, terima kasih atas kerja sama yang baik, Bae Irene"
Sehun menepuk pundak Irene, seraya merapal langkah, meninggalkan si cantik dengan seribu rencana yang tersusun jahat, di otak liciknya.
-AFTERMATH-
Jongin membuka matanya perlahan, badannya masih terasa lemas, mengigat jam tidurnya sedikit terganggu akibat morning sick yang berpindah waktu di pagi buta. jemarinya segera meraba sampingnya, Kosong, ah, lagi-lagi ia tidak mempersiapkan pagi Sehun.
Kasihan lelakinya, semenjak Jongin keluar rumah sakit seminggu lalu, setiap malam Sehun selalu ikut begadang dengannya, memijitinya lembut ketika mual melanda, membuatkannya mint tea lengkap dengan setoples biskuit asin agar mualnya mereda, pun ketika ngidam Jongin datang, Sehun tak segan membelah jalanan Seoul demi memenuhi keinginan Jongin, tanpa keluhan, tanpa paksaan, terkadang Jongin tersentuh dengan keiklasan Sehun, demi Bapa dan roh kudus, Pernikahan mereka kan hanya kontrak, bukan sesungguhnya.
Seharusnya, Sehun tidak perlu terlalu total seperti ini, sikap yang membuat Jongin merasa bersalah karena telah Hamil, Jongin tidak tahu, ternyata hamil sangat merepotkan.
Ah, omong-omong soal repot, Jongin juga membuat Victoria datang pagi-pagi setiap hari hanya untuk mengurusi dapur dan asupan makanan penuh nutrisi untuknya, memang mertuanya itu melakukannya tanpa pamrih, tapi tentu saja menjadi beban tersendiri di hati Jongin, Jongin isnt deserve it, she's Victoria fake daughter in law.
Uuh, lagi-lagi aroma nikmat nan menggoda bubur abalone yang menguar di udara, air liur Jongin segera terbit, semenjak ia hamil, hanya bubur abalone-lah yang mampu ia telan, apalagi buatan Victoria, rasanya mengingatkan bubur Abalone buatan Junmyeon, yang ibunya buat, tepat hari pertama iaasuk rumah sakit kehabisan cairan karena morning sick.
Jongin segera mengikat longgar rambutnya, setelah membasuh muka, lalu melangkah ringan menuju pantry, sayup-sayup terdengar suara Victoria bercengkrama dengan seseorang, langkah Jongin terhenti ketika mengenali pemilik suara itu.
"Vic Jiejie, aku mohon pastikan uri nini menghabiskan buburnya ya, ah, untuk camilan pagi aku sudah membuat puding greentea, kemarin Sehunie memberitahuku jika cucuku ingin sekali makan puding greentea, dan sore, aku minta tolong Jie, ingatkan uri Nini untuk rutin meminum susu ibu hamilnya tiga kali sehari, Oh iya untuk Sehunie aku pesan untuk beli susu hamil yang rasa coklat tentunya, kemarin Sehun sempat salah membeli rasa Vanila, uri Nini tidak pernah suka rasa lain, hanya Coklat"
"Tentu Junmyeon-aa, Jie pastikan uri nini makan banyak hari ini, ah.. pantas saja.. anakku itu deh, perhatiannya kurang sekali, padahal sudah kubilang jika coklat adalah favorit Jongin"
"Terima kasih, Jie, besok aku akan datang lagi lebih pagi, sepertinya bubur hati ayam akan bagus menambah darah Jongin, dari foto yang Jiejie kirim kemarin, terlihat pucat sekali bayiku, baiklah Jie.. kalau begitu aku mau pamit, sebelum Jongin bangun"
Jongin masih berdiri di belakang lemari pemisah antara ruang makan dan dapur, tak bergerak, jadi selama ini yang menyediakan asupan gizi setiap harinya, adalah Ibunya sendiri, air mata Jongin langsung menganak sungai, teringat seminggu lalu ia mengusir halus ibunya di rumah sakit, Jongin kini tersadar, Junmyeon memang telah berubah, Junmyeon tidak ada niat buruk pada bayinya, seperti apa yang Jongin curigai selama ini.
"Loh.. Jongin.. sayang.. kenapa nak? Kenapa menangis? Ada yang sakit? Perutmu tidak apa-apa?"
Junmyeon segera merengkuh Jongin dalam dekapannya, Jongin tidak menolak, malah semakin menyamankan diri di pelukan Junmyeon, pelukan yang ia rindukan selama hidupnya.
"Ibu.. maaf.. maafkan Jongin.. bu.. maaf.."
Junmyeon tidak sanggup menahan airmatanya juga, detik itu, kembali dua hati menyatu.
-AFTERMATH-
Sehun yang baru saja selesai melepas sepatunya, terheran ketika Jongin langsung menariknya ke dalam kamar, menyuruhnya berbaring, diikuti Jongin yang memeluknya posesif, menyamankan posisinya di dada bidang Sehun, Jongin semakin nyaman apalagi ketika jemari Sehun, mengusap surainya lembut, ah.. rasanya surga sekali, setelah seharian tidak bisa tidur karena bayi mereka ingin sekali dimanja Babanya, Jongin sebenarnya bisa saja menelepon Sehun, meminta suaminya pulang, tapi pekerjaan Sehun pasti sangat sibuk, apalagi jadwal praktek suaminya itu dibarengi jadwal mengajar awal semester, untung sekali jika Sehun bisa pulang tepat jam lima sore setiap harinya.
"Sehuun..."
Nah kalau kalimat pembukanya semanja ini, Sehun yakin istrinya dalam mood terbaik.
"Kenapa Luv.."
"Aku baru tahu, ternyata yang selama ini memasak Ibu, bukan Mama Vic, aku merasa seperti anak durhaka, aku menuduh Ibu akan melakukan hal buruk padaku, tapi ternyata.. Ibu.. Ibu.. sayang sekali pada anakku"
"Mungkin Eommonim memang pernah melakukan kesalahan, tapi yakinlah, Luv, tidak ada ibu yang melakukan kejahatan pada anaknya, tanpa alasan yang kuat, dan demi kebaikan anaknya"
Jongin hanya mengiyakan lirih, lalu mulai antusias bercerita bahwa hari ini dia dimanja layaknya putri oleh kedua ibunya. sementara Sehun, mengingat istrinya sedang dalam mood yang baik, mencoba membuka obrolan tentang Chenle, bagaimanapun juga Chenle adalah anaknya, dan Jongin perlu mengetahui keberadaan Chenle, mengingat Chenle akan bergabung dengan keluarga kecilnya, saat kesehatan Chenle berangsur membaik.
"Luv.."
"Iya.."
"Menurutmu bagaimana jika aku sebenarnya seoramg single parent dengan seorang anak lelaki berumur enam tahun?"
"Maka aku akan menceraikanmu, Prof Oh yang terhormat"
jawab Jongin cepat, seraya mengecup mesra, tangan suaminya.
-AFTERMATH-
Hai Hai...
Lama tak sua, semoga sukak ya ma lanjutannya.. untuk all of my lovely reader SeKai-nim.. terima kasih untuk dukungannya nunggu FF ini..
Oh iya, karena RL lagi super sibuknya, aku harus nyolong2 nulis di sela deadline :)
Last word..
Ditunggu ya ketemuan di kotak review :)
Tarengkyuuuu :)
