Daun momiji berguguran di luar jendela. Mewarnai suasana langit musim gugur. Semilir angin yang cukup dingin menerpa tubuhku, tubuh yang begitu lemah... Apakah di dunia ini ada yang memperdulikanku? Diri yang membawa kematian bagi para manusia, keharusan yang ingin kupungkiri. Namun tak bisa, sudah terlalu banyak jiwa yang kucabut dan mengantarkannya menuju alam selanjutnya.
Terkadang aku berfikir untuk berpura-pura lupa akan tugasku. Tapi itu tak bisa. Karena atas hal itu aku harus merelakan seseorang yang berarti bagiku untuk menggantikan nyawa gadis muda itu. Gadis yang bernama Soi Fon. Bila aku tak salah mengingatnya.
"Kenapa tidak mengundur waktu kematian Rukia juga, Shinigami bodoh?"
Uryuu-san... aku mendengarmu. Apa menurutmu saat itu aku sudah benar-benar pergi dan turun dari mobilmu?
Kau salah Uryuu-san. Aku tak pergi dari tempat itu. Aku mengawasimu.
Kau tahu mengapa? Karena waktumu saat itu hanya tinggal hitungan mundur...
'Cring,' lonceng milikku berbunyi. Lonceng yang terpasang pada sabit milikku. Sabit yang merupakan alat pencabut nyawaku.
Aku tak mengerti, mengapa sabit yang tak terlihat ini dapat terdengar gemericik loncengnya.
"Eh, Shinigami-san," pekik seorang gadis berambut coklat panjang padaku. Aku tersenyum pada Orihime yang membalas senyumanku.
Aku tak mengerti. Padahal ia tahu bahwa akulah yang membawa jiwa kakaknya beberapa tahun yang lalu. Tapi mengapa ia membalas senyumanku.
Orihime duduk di sampingku, taman yang begitu sunyi tanpa ada yang berkunjung. Karena di taman ini aku ingat benar taman ini. Taman yang merupakan tempat di mana aku mencabut banyak nyawa puluhan remaja dua hari yang lalu. Hukuman karena sudah membuat Soi Fon tetap hidup walau waktunya sudah habis. Aku benci menjadi Shinigami...
"Shinigami-san... kenapa kau terlihat murung?" sapa Orihime sembari menunjukkan senyumannya. Kuangkat kepalaku, menatap gadis itu tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
"Aku hanya berfikir, mengapa aku harus harus mengambil jiwa orang lain. Walaupun mereka masih muda," jawabku perlahan.
Ingatanku melayang menuju pria yang mendapat julukan 'Shinigami Pengganti'.
Ichigo mengambil nyawa orang lain tanpa merasakan apapun. Hanya memasang wajah tanpa perasaan kala melihat korbanya menghembuskan nafas terakhir.
Dan aku...?
Aku yang menjemput para jiwa itu yang merasa bersalah. Walaupun mereka tersenyum. Tak pernah menyalahkanku akan hal itu. Tak ada yang menyalahkanku kala aku menjemput mereka.
"Shinigami-san..." seru Orihime lirih. Ditariknya tubuhku ke dalam dekapannya. Dekapan yang begitu hangat, aku tak ingat kapan aku berada dalam dekapan yang begitu hangat seperti ini.
"Ori--"
"Semua bukan kehendak Shinigami-san, jadi jangan merasa bersalah," bisiknya pelan.
Kututup kedua bola mataku, mencerna ucapan dari gadis yang tengah mendekapku ini.
Memang, mencabut nyawa bukanlah kehendakku. Tapi semua adalah ulahku, aku yang memisahkan mereka. Membuat yang ditinggalkan terpuruk dalam kesedihan...
Ichigo...
Apa kau tahu saat kita bertemu di makam Rukia-san, aku merasa iri padamu?
Iri karena kau dapat keluar dari lautan darah yang menimbulkan tangis bagi orang lain.
Iri karena kau dapat memutuskan jalan hidupmu.
Iri... karena kau dapat membuka lembaran baru dalam hidupmu.
Lalu aku?
Aku hanya dapat terdiam dalam lautan darah yang menimbulkan tangis. Tak dapat berbuat apapun dan terus tenggelam.
Aku hanya dapat mengikuti takdir yang sudah kubawa dari awal keberadaanku. Aku tak memiliki hak untuk merubahnya.
Aku hanya memiliki satu lembar kehidupan. Satu lembar kehidupan yang berisi darah dan tangis dari orang lain.
Bukan aku yang memilih jalan untuk menjadi Shinigami. Aku tak menginginkannya. Aku benci menjadi Shinigami, amat sangat benci.
Tapi...
Aku tak bisa melakukan apapun...
"Shinigami-san, kurasa kau yang paling mengerti ini. Tapi... kurasa kesedihan akan kehilangan seseorang akan terkikis. Terkikis menjadi kenangan indah. Memang kami menangis, tapi pada akhirnya kami mengenangnya," Orihime mengelus rambut hitamku perlahan.
Aku hanya diam, menganggukan kepalaku perlahan.
Arigatou...
Kau sudah mengingatkanku akan hal itu. Hal yang sudah lama kulupakan.
"Kau memang anak yang baik," ucapku. Orihime hanya diam, mempererat pelukannya padaku...
"Shinigami-san... Ai--" aku tak mendengar kata terakhir dari ucapannya. Angin
menyembunyikan ucapan gadis berambut coklat itu. Angin musim gugur yang membawa dedaunan kering yang menguning...
'Cring,' lonceng terus berbunyi seiring langkahku menuju sebuah kamar pasien. Shuuhei Hisagi.
"Hisagi-san..." bisikku pelan. Hisagi yang tengah menulis sesuatu melirik ke arahku. Seulas senyum lemah terlihat di wajah pucatnya.
"Tolong beri waktu beberapa menit, aku ingin mengucapkan kata-kata terakhir," pintanya lirih. Aku mengangguj pelan. Memandangin Hisagi yang terus menulis surat perpisahan untuk Nanao yang tertidur di sebelahnya. Wajah gadis itu terlihat amat damai.
"Nanao... gomene..." ucap Hisagi pelan. Dikecupnya perlahan bibir Nanao, menikmati saat terakhirnya untuk melakukan itu.
"Aku sudah siap," seru Hisagi pelan. Aku mengangguk, bersamaan dengan pengulanan kata-kata dari Orihime.
"Shinigami-san, dua hari lagi kau akan membawa jiwa Hisagi-san ya?"
Kuangkat sabit milikku, membuat gemericik lonceng kian terdengar bagai melody kematian.
"Tolong ucapkan salamku pada Hisagi-san ya. Dia teman terbaik yang pernah kumiliki."
Sabit di tanganku menukik turun. Tapi berhenti sesaat sebelum menyentuh leher Hisagi.
"Ke--"
"Orihime memberimu salam perpisahan. Dia bilang kau teman terbaiknya."
"Tolong sampaikan terimakasihku, Hanatarou-sama," aku mengangguk pelan.
Menaikkan sabit di tanganku dan mengayunkannya ke leher Hisagi. Membuat nyawanya terpisah dan berjalan menuju dunia sana.
Wajahnya tersenyum, tubuh tanpa jiwa itu terlihat begitu damai. Hisagi-san... gomen...
Kematian tak dapat dipungkiri, tugas yang tak dapat kupungkiri. Sebanyak apapun jiwa yang kupisihkan dari raganya. Menutup lembaran cerita setiap jiwa yang sudah berpulang menuju dunia kekekalan.
Hei... Akankah tugas ini berakhir?
Berakhir dan melihat tawa tanpa mereka yang harus terpisahkan?
...
...
"Shinigami-san, Aishiteru..." puluhan tahun telah lewat. Pada akhirnya aku mengetahui apa yang kau ucapkan kala aku berada dalam dekapmu.
Tapi semua sudah terlambat. Saat kusadari semua kau sudah tak ada, aku yang memisahkan jiwa dan ragamu. Untuk selamanya.
Gomen... Beribu-ribu kali aku mengulang kata itu. Tapi percuma, semua sudah terlambat. Kau pergi dengan perasaan yang tak berubah sama sekali padaku.
Hei... Bagaimana keadaanmu di dunia sana? Mungkin aku akan menyusulmu bila aku mendapatkan izin untuk menemuimu beberapa saat saja.
Menemuimu dan berada dalam dekapan hangatmu, dekapan hangat yang lebih dari setengah abad kurasakan... Mungkin terlambat bila kuucapkan sekarang. Tapi...
"Sayounara... Orihime-san... Watashi no Hime... Aishiteru..."
Ruise : Bwahahaha, adakah yang menyadari siapa Shinigami kita kali ini?
Ruina : Pertanyaan konyol, dah jelas namanya lo tulis -.-
Ruise : Huhu, apakah HanaHime termaksud Crack Pair? Tolong Review T-T
