"Apa yang kau lakukan?!" Si gadis menjerit saat melihat Guanlin melompat begitu saja ke laut.
Si lelaki langsung menghampirinya.
"Bagaimana ini? Ia bisa diambil alih!" jerit si gadis frustasi.
Si lelaki segera berlari mencari sesuatu di belakang. Kemudian kembali dengan senapan bius di tangannya.
"Tenang. Aku akan berusaha."
Ia mengarahkan senapan biusnya ke arah Seonho. Cukup sulit mengingat hari sudah gelap dan penerangan minim. Belum lagi Seonho tampaknya bergerak ke arah Guanlin.
Si lelaki agak sulit mengikuti pergerakan Seonho yang lincah ketika tembakan bius pertama sudah dilepaskan.
Tampaknya Seonho menyadari hal itu. Ia semakin lihai menghindari tembakan-tembakan yang diberikan.
"Apa yang kalian lakukan!!" Guanlin berteriak dari bawah sana.
"Sudah, kau diam saja!" Si gadis kembali menjerit pada Guanlin.
Si lelaki kembali mengisi senapan biusnya. Seonho benar-benar sulit ditaklukan. Berkali-kali ia kembali harus mengisi ulang senapannya karena tak ada satupun yang berhasil mengenai sasaran.
Belum lagi Guanlin yang ada di sana menambah tingkat kesulitan karena harus menghindarinya.
Shoot.
Satu bius berhasil menusuk di bahu Seonho. Seonho segera melepas bius itu. Namun ia harus membiarkan kesadarannya perlahan menghilang.
Diikuti teriakan Guanlin yang marah karena biusan itu berhasil mengenai Seonho.
Si gadis menatap lelaki tadi dengan tegang. Yang dibalas anggukan si lelaki sebelum akhirnya ia ikut melompat ke laut.
~J~
Guanlin benar-benar yakin bahwa dirinya sedang bermimpi. Berkali-kali perutnya bergejolak ingin memuntahkan isinya menolak kenyataan yang sulit diterima ini.
Kini Seonho sudah berada di dalam perahu layar. Terima kasih kepada si lelaki pelayar yang membantu membawanya ke atas perahu.
Dan tentunya membantu Guanlin naik setelahnya.
Guanlin benar-benar tidak percaya. Berkali-kali ia memejamkan matanya, berharap saat ia membuka mata, ia sudah berada di kamar bersuhu hangat. Dengan Seonho yang siap menyapanya mengucapkan selamat pagi.
Namun lagi-lagi ia harus menelan kenyataan. Bahwa semua yang ia alami saat ini adalah nyata.
Di hadapannya, Seonho tergeletak tak sadarkan diri. Namun, bukan sepasang kaki yang melengkapi tubuhnya, namun sebuah ekor.
Guanlin benar-benar tidak bisa memercayai apa yang ia lihat saat ini.
"Aku sudah bilang padamu. Kau tidak akan percaya." Si gadis tadi menghampiri Guanlin. Iba dengan keadaan Guanlin yang masih terpukul baik secara batin maupun pikiran.
"Semua ini nyata." Si lelaki ikut menambahkan. Berusaha meyakinkan Guanlin bahwa ia sedang tidak bermimpi.
Guanlin tak dapat memungkiri, tangannya bergetar menolak kenyataan ini. Tak ada satupun fakta logis yang bisa membuktikan fenomena ini.
"Apa...yang...terjadi?" Setengah mati Guanlin menahan getaran pada suaranya.
Si gadis menatap Guanlin sendu.
"Aku yang mengubahnya."
Guanlin masih tidak bergeming.
"Aku mencuri kehidupannya."
Guanlin terdiam. Tak lama, ia menatap gadis itu dengan pandangan yang tak dapat dijelaskan.
Lelaki tadi menyadari perubahan suasana hati Guanlin. Ia menarik sang gadis ke belakangnya, menengahi jarak antara Guanlin dan gadis itu.
"Maafkan aku.." Pundak si gadis bergetar. Ia menangis.
Guanlin kehabisan kata-katanya. Ia tak tahu harus bicara bagaimana menghadapi situasi ini.
Cukup lama gadis itu terisak. Sampai akhirnya ia berhenti dan mengusap matanya.
"Aku akan menjelaskan semuanya. Tanpa ada sedikitpun yang terlewat."
Guanlin menatap kosong pada gadis itu.
"Jadi, bisakah kau mendengar penjelasanku?"
..to be continued..
