A/N: Chapter ini sebagian besar berfokus pada percakapan antar seme #Lha? Ada scene fanservice AceLu. ZoSannya di next chapter. Yang udah ngerequest ZoSan, Harap sabar yak~ :3 #Plak
Btw, beware. Ada scene kissu pipi yang rada... err... agak sedikit lebih dari sekedar T? #Plaaak. Dan padaaat deskripsi. Enjoy it~
One Piece © Eiichiro Oda
Undercover Rockstar © Viero D. Eclipse
Pairing: Ace x Luffy (AceLu), Slight Zoro x Sanji (ZoSan)
Genre: Romance/Humor/Drama
Rated: T
Warning: AU, Shounen Ai (BoyxBoy Love!)
Don't like? Don't read!
-Chapter 10-
Heart Of The Matter
.
Ketetapan takdir, kekejaman realitas, atau penghalang dalam entitas apapun...
Semua itu tak akan sanggup menjadi sebuah bayangan yang meredupkan bara pelita perasaan seseorang dalam intuisinya.
.
"Jati... diriku?"
"Benar. Jati diri Anda. Bukan sebagai Portgas D. Ace. Namun sebagai... Gol D. Ace, sang vokalis... Black Spade."
Hening.
Dalam dinginnya udara malam yang begitu menusuk, aura tegang mendominasi masa itu. Zoro menebaskan pedang tanya dan menunggu jawaban yang ia cari. Pemuda itu yakin bahwa dugaannya tepat. Portgas D. Ace roommate dari Luffy tidak lain dan tak bukan adalah Gol D. Ace, vokalis Black Spade.
Figur yang tertebas dengan pedang tanya tampak membisu untuk sesaat. Meski rasa syok melandanya, entah mengapa sepertinya ia bisa menduga datangnya hal ini. Ace tahu bahwa sejak awal pertemuan mereka, Zoro sudah menikamnya dengan tatapan curiga. Mungkin itulah sebabnya, mengapa mahasiswa marimo itu terdiam dan tak banyak mengumbar kata. Itu karena ia sedang mencoba untuk memperhatikan gerak-gerik Ace.
"Jadi kau sudah tahu mengenai identitasku yang sebenarnya..." Ace mulai melepas kacamata hitamnya. Kedua obsidian berserpih kelabu itu kini menatap Zoro dengan sangat tajam. "Bahwa aku adalah... Gol D. Ace."
"Tepat sekali. Sejak awal aku melihat Anda, aku sudah bisa menebaknya. Penyamaranmu itu memang cukup untuk mengelabuhi Nami dan Usopp. Tapi hal itu belum cukup untuk mengelabuhiku," tegas Zoro, serius. Simpulan senyum sinis terlukis di paras Ace.
"Kau hebat sekali, Zoro-kun. Sepertinya kau juga menggemari band-ku, eh? Sampai-sampai kau bisa teliti dengan sosokku."
"Hah, tentu saja. Aku sangat suka dengan musik-musik dari band Anda, Ace-san. Tapi tenanglah, aku bukan fans gila yang akan menerkammu saat ini."
"Hahaha! Aku percaya itu." Keduanya tertawa untuk sejenak. Tak lama kemudian, Zoro kembali menikam musisi Black Spade itu dengan pandangan serius.
"Aku yakin, Luffy pasti belum mengetahui identitasmu yang sebenarnya. Dari cara dia membicarakanmu selama ini, ia sungguh tak tahu apa-apa." Pernyataan itu membuat Ace membeku. Ia sudah tahu dengan pertanyaan apa yang akan digemakan Zoro selanjutnya.
"Ya, ia masih tidak tahu."
"Dan bolehkah aku tahu, mengapa Anda memilih berbohong di hadapan Luffy, Ace-san? Aku masih belum menemukan sebuah alasan yang logis, mengapa kau bisa berbohong di hadapan Luffy. Karena yang kutahu, Luffy bukanlah orang yang akan mengumbar rahasia jika memang ia diberi tahu tentang rahasia besar Anda ini."
Keheningan kembali terjadi.
Zoro sungguh tak habis pikir. Dari kedekatan kedua pemuda berambut raven itu sore tadi, sungguh tak logis jika Ace masih saja menutupi kebenaran dari Luffy. Kawannya itu bisa dipercaya. Dan kenapa vokalis itu terlihat meragukan Luffy hingga detik ini? Apakah ikatan kedua pemuda itu hanyalah kamuflase? Zoro tak terima jika Luffy terus mendapat kebohongan seperti ini.
Dan Ace tampak menghela napasnya. Ia tahu bahwa pertanyaan Zoro itu sudah saatnya mendapat jawaban. "Kau tahu, Zoro-kun? Aku berada di East Blue karena Black Spade akan mengadakan konser di tempat ini beberapa minggu lagi. Dan sudah empat hari aku tinggal bersama Luffy di apartemen ini. Memang, sungguh suatu kebetulan aku bisa menjadi roommate dari kawanmu itu. Jika Garp-san tidak menghancurkan pintu kamarku, tentu aku dan Luffy tak akan pernah bertemu."
Sejenak jeda.
Zoro masih tak menguntai satupun kata. Tanda jika Ace bisa melanjutkan penjelasannya.
"Untuk keamanan diri dan agar kumpulan paparazzi serta wartawan tidak menyerbu, sungguh merupakan kewajiban bagi kami selaku publik figur untuk merahasiakan identitas kami dari siapapun. Dan lagi, kami tak ingin mengambil resiko untuk diserbu para fans jika lokasi kami ketahuan."
"Jika seperti itu, kenapa kau memilih tempat umum seperti ini untuk berlibur? Kenapa kau tidak memilih tempat yang pengamanan privasinya lebih terjaga, Ace-san?" Zoro benar-benar tak mengerti. Ace terlihat menghela napasnya.
"... Baiklah, memang seharusnya aku memilih berlibur dan singgah di tempat dengan pengamanan privasi yang lebih terjaga dari ini namun... aku memutuskan untuk singgah di apartemen umum seperti apartemen Beauty Dadan. Karena aku ingin sejenak saja meninggalkan hiruk pikuk dunia keartisan dan menjadi orang biasa. Aku ingin menghilangkan penat tanpa terikat aturan apapun."
"Ah, aku mengerti," Zoro menganggukkan kepala dengan penjelasan itu. Kejenuhan Ace sebagai publik figur memang bisa dimaklumi. "Tapi, apa tidak sebaiknya kau berterus terang pada Luffy, Ace-san? Hubungan kalian begitu dekat sekali meski baru terjalin selama empat hari. Aku sangat mengenal Luffy dengan baik. Ia adalah kawanku semenjak kecil. Aku tak pernah melihat ia sesenang itu jika berada di dekat seseorang. Dan ia sangat senang saat berada di dekatmu. Sungguh tidak bijak jika masih ada dinding kebohongan diantara kalian."
Yang dikatakan Zoro benar. Ace tahu itu. Sudah seharusnya ia jujur pada Luffy. Tapi melakukan pemecahan itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ini tidak sekedar menyangkut kejujuran saja. "Ada beberapa alasan mengapa aku tak bisa mengatakan kebenaran ini pada Luffy."
"Bolehkah aku tahu, alasan apa saja itu? Maaf jika aku terkesan mencampuri urusan kalian tapi jika ini menyangkut Luffy, aku sebagai kawan baiknya, harus tahu yang sebenarnya." Penegasan Zoro begitu mutlak. Dinding skeptis semakin tebal saja di dalam benaknya. Ace terdiam sejenak. Jika ia mengatakan semuanya, secara tak langsung, ia sudah melakukan curhat dengan mahasiswa marimo itu.
Tapi sebaiknya, ia melakukan itu.
Karena Ace membutuhkan seseorang untuk menyelesaikan dilema ini.
"Luffy pernah bilang padaku bahwa ia tidak suka dengan Black Spade."
"Dan kau bertumpu pada alasan seperti itu? Apa kau mengira bahwa Luffy akan membencimu setelah tahu bahwa kau adalah vokalis dari Black Spade?" Zoro pun memejamkan mata dan tertawa sarkas. "Haha, ayolah, Ace-san. Kau pasti tahu jawabannya. Luffy tak akan membencimu hanya karena hal seperti itu. Ia tak akan mempedulikan latar belakangmu."
"Ah... iya, sepertinya kau benar," Ace menggaruk belakang kepalanya. Ini hanyalah sebuah alasan sederhana dibalik alasan-alasan kompleksnya yang lain. "Tapi masih ada alasan rumit lain yang membuatku tak bisa berkata jujur..."
Hening.
Ace tampak berat mengucapkan sesuatu. Zoro pun mulai menggemakan spekulasinya.
"Apa ini tentang... perasaan kalian?"
Sebuah tebakan yang tepat. Ace terbelalak mendengar itu. Ia sedikit begidik dengan seluruh spekulasi Zoro. Seakan-akan mahasiswa itu bisa membaca isi pikirannya saja. Tertunduk. Ace hanya dapat berkata dengan nada miris. "Aku tak ingin menyakiti Luffy. Ia selalu berharap agar kami bisa bersama dalam jangka waktu yang lama. Namun, mengingat derajat kami... hal itu akan mustahil. Kedudukanku sebagai publik figur seakan menjadi sebuah peringatan bahwa aku tak akan mungkin bisa bersama atau bahkan berteman dengan Luffy lebih lama lagi. Takdir kehidupan kami sungguh terlampau jauh."
Ada raut sakit yang terlukis di paras Ace. Seakan-akan musisi Black Spade itu telah membendung sebuah parasit dosa yang begitu besar. Pernyataan yang ia gemakan itu memang benar. Ia memang tak ingin menyakiti perasaan Luffy. Tapi yang terlihat di depan mata Zoro justru sebaliknya.
Mengapa Ace yang terlihat lebih tersiksa dengan kenyataan ini?
Mungkinkah...
"Apa kau... mencintai Luffy, Ace-san?"
Bisu.
Ace hanya membisu dengan justifikasi itu. Ia hanya tertunduk. Diam, tak mengucapkan apapun. Rasanya sakit. Rasanya terlalu sakit untuk mengakui itu. Untuk mengakui bahwa memang ada perasaan terpendam yang ia tujukan pada Luffy. Ace hanya dapat berbalik membelakangi Zoro. Jemari meremas dada. Bibir bawahnya tergigit dengan sangat erat hingga terluka. Kedua obsidian itu terpejam.
Ya. Memang benar.
Memang benar bahwa benih yang ia pendam itu bernama cinta.
Dan ia pun berusaha mati-matian untuk membunuh benih itu.
Karena mereka tak akan mungkin bisa bersama.
Karena...
"... Luffy tidak mencintaiku."
Sebuah pertanyaan retoris yang dijawab dengan jawaban... ambigu. Zoro membisu. Penjelasan Ace belumlah mencapai titik akhir.
"Aku tak tahu sejak kapan perasaan ini tumbuh di dalam diriku. Aku semakin membutuhkan Luffy. Aku tak sanggup menjauh darinya. Semakin lama aku tak dapat mengendalikan diriku. Tak seharusnya aku memendam perasaan seperti ini," musisi Black Spade itu mengepalkan tangannya erat-erat. Determinasi terbangun dalam benaknya. "Aku harus segera membunuh perasaan ini. Luffy tak akan mungkin membalasnya. Ia tak butuh perasaanku. Kami tak akan mungkin bisa bersatu. Seorang publik figur sepertiku tak akan bisa bersama dengan seorang mahasiswa biasa sepertinya."
"Dalam beberapa hal, aku setuju denganmu, Ace-san. Tapi ada satu hal yang salah dari konklusimu itu," Zoro melipat kedua tangannya. Kedua matanya menatap tajam pada Ace. "Memang, dengan kedudukan kalian yang terlampau jauh, akan sangat sulit bagi kalian untuk bersatu. Tapi dalam hal perasaan, Luffy sudah membalasmu. Ia sudah membalas perasaanmu secara tak langsung, Ace-san."
"Apa? Luffy sudah membalas perasaanku? Apa maksudmu?" Ace terkejut. Skeptis menguasai nalarnya. Zoro pun melayangkan tatapan tak percaya pada vokalis band gothic rock itu. Apa Ace tak menyadarinya selama ini?
"Aku mungkin bukanlah orang yang terlalu peduli dengan keadaan sekitar, Ace-san. Tapi bukan berarti aku tak peka terhadap sesuatu. Aku sudah mengenal Luffy hampir sepuluh tahun lamanya. Dan selama itu pula, anak itu tak pernah menaruh minat terhadap siapapun. Sampai pada akhirnya datang hari dimana kau menjadi pasangan kamar Luffy. Saat di kampus, ia tak pernah absen memikirkanmu. Yang ia bicarakan selalu kau. Ia... sangat menyukaimu."
Serpihan rona merah menjalar di paras Ace. Pemuda bermata obsidian itu memalingkan pandangan ke samping. "Sekedar suka dan rasa cinta itu sangat berbeda maknanya, Zoro-kun."
"Hah, siapa bilang bahwa Luffy hanya sekedar menyukaimu? Apa kau tak pernah melihat usaha keras Luffy dalam mempertahankanmu sampai saat ini, Ace-san? Anak itu memang naif. Bahkan sangat bodoh. Tapi membuat pemuda senaif Luffy berkorban sampai seperti ini demi dirimu, hal itu merupakan sesuatu yang luar biasa." Mendengar itu, Ace tertunduk. Masih ada serpihan resistensi yang terbangun dalam nalarnya. Zoro terlihat menghampiri vokalis itu secara perlahan. Sebuah tepukan mendarat di bahu Ace. Zoro tersenyum.
"Ia memang tak mengatakan cinta. Tapi percayalah, Ace-san. Luffy... sangat mencintaimu."
Konklusi mutlak yang pasti. Tak ada keraguan di dalamnya.
Kesaksian Zoro benar adanya. Logika Ace seakan lumpuh. Ia tak bisa lagi menyangkal konklusi itu. Pemuda berambut hijau itu bersungguh-sungguh dengan apa yang ia ketahui. Dan hal ini membuat Ace merasa seperti orang yang tak punya empati sedikitpun. Rasa bersalah membasuh intuisinya dalam sekejap. Ia memang tersiksa karena kenyataan. Karena ia tak akan mungkin bisa bersatu dengan Luffy mengingat perbedaan kedudukan mereka. Dan ia memang merasakan sakit setiap kali berusaha untuk memusnahkan benih cinta di hatinya itu. Tapi ia tak sadar...
Ia tak sadar bahwa Luffylah... yang paling menderita dalam hal ini.
Pemuda naif itu menyukainya. Ia menyimpan cinta dibalik kepolosannya itu. Ia bahkan sudah mati-matian mempertahankan eksistensi Ace. Melawan kakeknya. Mengejarnya tanpa pandang bulu. Menjadikan kebersamaan mereka sebagai impian terbesar...
Ya Tuhan... mengapa Ace tak menyadari semua itu?
Sebenarnya, selama ini siapa yang lebih naif di antara mereka berdua?
Luffy berusaha keras untuk mencintainya dan apa balasan yang ia berikan? Ia justru malah ingin memusnahkan benih itu.
Tidakkah hal itu kejam?
Semua ini sungguh tak adil... untuk Luffy.
Sesaat, Ace tampak tak bergeming. Pria itu menunduk dengan pandangan hampa. Zoro hanya tersenyum melihat itu. Tugasnya telah selesai. "Jangan kau bunuh perasaan itu, Ace-san. Karena Luffy sangat membutuhkan itu. Akan tiba saatnya bagi Luffy untuk menggemakan kata cinta padamu. Kau harus menunggu sampai saat itu tiba. Dan aku pun yakin... bahwa sejak awal kau memutuskan untuk melenyapkan rasa itu, kau tak akan pernah bisa membunuh benih itu. Karena kau sudah terlalu mencintai kawan bodohku itu. Kau sudah terlalu mencintai Luffy."
Sudah terlalu mencintai Luffy...
Ace terbelalak dalam diam. Justifikasi yang ditebaskan Zoro padanya memang benar. Selama ini ia mati-matian menyangkal hal itu. Namun yang terjadi justru sebaliknya...
Semakin ia menyangkal...
Ia justru semakin dan semakin... mencintai Luffy.
"Bahagiakan dia, Ace-san. Sepuluh tahun kami bersahabat, Luffy sudah seperti adikku sendiri. Hanya kau yang mampu membuatnya bahagia. Aku tahu bahwa tali takdir kalian terlampau begitu jauh. Tapi tak akan ada yang bisa menebak datangnya keajaiban, bukan? Aku memang tak terlalu percaya dengan hal-hal seperti itu. Tapi untuk kalian, aku percaya. Ketetapan takdir kelak akan berpihak pada kalian," Zoro pun tampak berbalik membelakangi Ace. Ia mulai berjalan menuju ke arah lift. "Aku pulang dulu. Permisi."
Suara tapak kaki Zoro menggaung dalam semilir keheningan itu. Bersamaan dengan gemuruh suara itu, kedua obsidian Ace tampak bangkit dan menyorot ke arah sosok mahasiswa marimo itu dengan rasa balas budi yang begitu mendalam. "Terima kasih untuk semuanya."
Terhenti.
Zoro terhenti untuk sesaat. Rajutan senyum puas terlukis di parasnya. Sebagai sahabat baik Luffy, sudah seharusnya ia melakukan semua ini. "Sama-sama."
'Tugasku sudah selesai, Luffy. Aku harap kau bisa meraih impian terbesarmu itu. Sekarang, saatnya bagiku untuk menyelidiki tingkah aneh Sanji terhadapku. Semoga aku bisa menemukan jawaban mengenai apa yang telah terjadi pada Sanji,' batin Zoro singkat. Dan dengan itu, mahasiswa marimo itupun berlalu pergi meninggalkan Ace.
~AxL~
Kraatakk!
Suara remote TV yang terjatuh pada hamparan lantai. Luffy tak mengacuhkan hal itu. Membisu tanpa ekspresi. Kedua obsidiannya menatap hampa pada layar TV flat di hadapannya. Visualisasi dalam TV terus menerus menghantam penglihatannya. Tapi nalar pemuda itu telah melayang, memikirkan sesuatu yang lain.
'Apa yang sudah dibicarakan Zoro pada Ace?'
Pertanyaan klise yang berdengung berkali-kali dalam dinding rasionya. Meski Luffy percaya Zoro, tapi ia tak dapat menafikkan guratan-guratan skeptis yang menjalar dalam benaknya. Ia mulai cemas. Ini menyangkut Ace. Segala yang menyangkut roommate-nya itu akan selalu menjadi pusat kecemasan Luffy.
Dua puluh menit.
Baiklah. Itu bukan waktu yang sebentar. Dua puluh menit sudah keduanya berlalu pergi dengan modal ijin untuk membicarakan sesuatu. Dua puluh menit sudah Luffy menunggu. Dan dua puluh menit sudah Luffy merasa was-was.
Diliriknya dapur. Berantakan.
Ia lapar (lagi) tadi. Dan ia sudah menghabiskan lima piring daging. Tentu ia habiskan itu di tengah-tengah rasa cemas. Menginjak piring keenam, ia hentikan aktivitasnya. Kadar ketakutan yang begitu tinggi telah membuat nafsu makannya mendadak hilang. Ia hanya ingin Ace cepat kembali ke kamarnya. Hanya itu.
Ia semakin membutuhkan keberadaan musisi Black Spade itu.
Ya. Sebuah fakta yang tak bisa dielakkan lagi. Semakin hari perasaan itu begitu kuat. Menyadari bahwa Ace hanya tinggal sementara waktu di kamarnya, hal itu membuat Luffy semakin terkikis dengan rasa sedih. Meski kebersamaan mereka hanya sementara, salahkah jika ia berharap lebih?
Ia akan mempertahankan Ace. Itu pasti. Apapun resikonya. Sebesar apapun pengorbanan yang akan dibutuhkan nanti, Luffy sungguh tak peduli. Ia akan tetap mempertahankan pria itu dengan cara apapun. Meski banyak penghalang yang menentang usahanya nanti, ia sungguh tak peduli. Meski hasilnya sia-sia pun, Luffy sungguh tak peduli.
Karena apa?
Karena ia sangat... menyukai Ace.
Ya. Ia sangat menyukai pria itu. Bahkan mungkin terlalu menyukainya. Semenjak pertama kali mereka bertemu, semenjak Ace menyanggupi tawaran untuk singgah lebih lama lagi bersamanya, semenjak pria itu selalu berusaha untuk melindunginya, rasa suka di hati Luffy perlahan tumbuh. Ia sangat suka dan bahkan sangat menyayangi pria itu. Atau mungkin, secara tak sadar, ia sudah jatuh cinta padanya?
Cinta...
Luffy masih ragu untuk mengakui itu. Mengakui bahwa ia memang mencintai Ace. Hal itu bukan semata-mata karena ia tidak mencintai Ace. Bukan itu. Justru sebaliknya, Luffy mulai ragu, apakah perasaan yang ia pendam untuk roommate-nya itu sudah cukup kuat? Apakah perasaan sukanya itu sudah pantas untuk disebut sebagai cinta?
Ia memang naif. Polos. Bahkan mungkin bodoh. Ia akui itu. Tapi seluruh kekurangan itu tak akan pernah membuat Luffy meragukan perasaan suka yang ia pendam untuk Ace. Benih itu terlalu kuat untuk diragukan. Bahkan terlalu kuat untuk tidak dirasakan.
Ia akan terus membiarkan perasaan itu berkembang.
Ya, ia akan terus membiarkannya berkembang. Sampai perasaan itu semakin besar. Sampai perasaan itu benar-benar begitu kuat. Dan di saat itulah Luffy tahu, kapan ia bisa mengubah frase sukanya...
Menjadi kalimat 'cinta'.
Menghela napas. Kini, pemuda bermata obsidian itu hanya dapat berharap pada satu hal.
'Semoga aku bisa mempertahankan Ace sampai tiba hari dimana aku bisa mengatakan cinta padanya.'
.
.
Kraakkk!
Sesaat kemudian, pintu kamar tampak terbuka.
Doa Luffy pun terjawab.
.
.
Sesosok figur yang ia tunggu terlihat masuk ke dalam kamar dengan langkah yang begitu pelan. Gurat kekhawatiran yang terlukis dalam paras lugu itu kini bertransisi menjadi riang. Belum sempat seorang Portgas D. Ace bereaksi, mahasiswa Mugiwara itu sudah langsung berlari dan memeluk tubuhnya dengan sangat erat.
"ACEEE! AKHIRNYA KAU KEMBALIII!"
"Lu-Luffy? Apa-apaan kau ini? Kau terlihat seperti akan berpisah lama denganku saja."
"Heeheehee..." Luffy hanya dapat terkekeh riang, tak menghiraukan keluhan yang menggema dari mulut roommate-nya itu. Ace tampak menghela napasnya. Simpulan senyum tergurat di parasnya tatkala melihat gelagat Luffy yang terus saja memeluk tubuhnya seperti itu.
Saat di kampus, ia tak pernah absen memikirkanmu. Yang ia bicarakan selalu kau. Ia... sangat menyukaimu.
"Nee, Ace!"
"Hmm?"
"Tadi Zoro membicarakan apa denganmu?"
Ia memang tak mengatakan cinta. Tapi percayalah, Ace-san. Luffy... sangat mencintaimu.
Ace terdiam sejenak. Kedua obsidiannya menatap lekat pada Luffy.
"Tidak ada. Ia hanya menanyakan tugas kuliahnya padaku."
"Kau berbohong, nee!"
"Aku tidak bohong, Luffy."
Jangan kau bunuh perasaan itu, Ace-san. Karena Luffy sangat membutuhkan itu. Akan tiba saatnya bagi Luffy untuk menggemakan kata cinta padamu.
Cemberut. Luffy benar-benar mulai cemberut. Pemuda itu melipat kedua tangannya. Menyodorkan raut skeptis pada Ace. "Bohong. Jika kalian ingin membicarakan tugas, kenapa aku tak boleh ikut, hah?"
"Itu... mungkin karena Zoro tak ingin kau mencontek tugasnya lagi."
"Hei! Aku bukan tukang contek, Ace!"
"Hahaha! Lihat! Sekarang kau yang sudah berbohong padaku, Lu."
"Hiiiieee! Aku tidak bohooong, Aceeee! Kau yang bohooooong!"
Dan aku pun yakin... bahwa sejak awal kau memutuskan untuk melenyapkan rasa itu, kau tak akan pernah bisa membunuh benih itu. Karena kau sudah terlalu mencintai kawan bodohku itu. Kau sudah terlalu mencintai Luffy.
Gema tawa yang begitu pelan mulai menggema dari mulut Ace di saat Luffy menjulurkan lidahnya tanda mengejek. Ia kembali tersenyum. Satu konklusi kini memang sudah terbukti.
'Aku terlalu mencintai anak ini...'
"Nee, Ace! Dengarkan aku! Aku bukan pencontek! Baiklah, aku memang sering tak mengerti dengan materi yang diberikan Smoker-sensei tapi bukan berarti aku ini bodoh, nee! Aku hanya tak tertarik dengan materinya! Itu saja!"
'-Meski derajatku berbeda jauh denganmu. Meski takdir tak berpihak pada kita nantinya. Aku tak peduli. Aku tak akan mencoba membunuh perasaan ini lagi. Aku terlalu mencintaimu untuk itu, Luffy... Aku sudah terlalu mencintaimu.'
"Ace? Kau dengar ucapanku, tidak? Aceeeee!" Luffy mulai kesal. Roommate-nya hanya diam dan tak merespon apapun. Dilambaikanlah telapak tangannya di hadapan kedua obsidian itu. "Kau kenapa, Ace? Ace? -Ehh!"
Terhenyak.
Luffy terbelalak saat Ace mulai menyentuh jemari tangannya dan menggenggamnya dengan sangat lembut. Pemuda itu semakin mendekat ke arahnya. Tak memutus kontak pandangan mereka sedetik pun. Rasa gugup semakin memuncak di hati Luffy tatkala jemari itu mulai berpindah haluan dan menyentuh hamparan pipinya. "A-Ace?"
"... Luffy."
"Ace? Apa yang kau laku-ahh," kalimat terpotong. Teiringi dengan serpihan rasa syok dan kaget. Luffy terbelalak beku di saat roommate-nya itu dengan cepat telah membenturkan parasnya di hamparan pipinya. Ace semakin menekankan parasnya di pipi Luffy, menciumnya. Sekujur tubuh Luffy seakan gemetar. Serpihan rona merah menjalar di paras pemuda lugu itu.
'Ace mencium... pipiku?'
"Nnhhh... Uhhh-A-Ace..." Luffy mendesis. Jemari itu semakin mencengkram pipi kirinya dengan erat. Ace semakin menghimpitkan parasnya di pipi kanan pemuda itu. Begitu lekat. Seakan-akan ia tak ingin melepaskan kontak itu. Paras Luffy semakin memerah. Nalarnya lemas. Ada getaran aneh dalam dirinya. Dan tubuhnya sedikit begidik saat vokalis Black Spade itu menghunuskan paras di sela lehernya. Menikamkan mulut di hamparan leher tersensitifnya itu. Terlalu lekat. Desahan pelan termuntahkan dari mulut Luffy. Dan belum sempat jemarinya menyentuh paras Ace, pria itu sudah menghentikan aksinya. Menjauh.
'Ace...'
Aku tahu bahwa tali takdir kalian terlampau begitu jauh. Tapi tak akan ada yang bisa menebak datangnya keajaiban, bukan? Aku memang tak terlalu percaya dengan hal-hal seperti itu. Tapi untuk kalian, aku percaya. Ketetapan takdir kelak akan berpihak pada kalian.
Luffy hanya dapat menatap bisu pada sosok roommate-nya. Pria itu terlihat berjalan meninggalkannya. Kedua alisnya bertaut serius. Ia bisa merasakan sesuatu yang berbeda dalam diri Ace di saat pria itu menciumnya tadi. Ada kegetiran. Ada kegetiran dalam tindakan itu. Ada kegetiran dan juga rasa takut. Getir karena tindakannya itu adalah refleks tergerakkan oleh luapan perasaannya. Dan takut jika tindakan itu akan berdampak fatal nantinya. Namun, Ace sungguh tampak tak berdaya. Rasa itu tak terbendung lagi. Ia hanya ingin menunjukkan perasaan cintanya pada Luffy. Hanya itu.
Dan Luffy tak bisa membiarkan semuanya terjadi seperti ini.
Sungguh tak adil jika Ace tak mengetahui isi perasaannya juga.
"Kau tak bisa menciumku dan lalu pergi seperti itu, Ace! Tunggu!"
Rasa gentar menyelubungi nalar Ace. Suara tapak kaki telah terdengar mendekatinya dari arah belakang. Langkah itu memburu. Luffy akan melakukan sesuatu. Pemuda itu akan memberi ganjaran atas tindakan yang baru saja ia lakukan. Benaknya pun menjerit nanar.
'Apa yang akan kau lakukan, Luffy? Apa kau akan marah padaku? Apa kau akan menatap jijik padaku? Maaf, aku tak bisa mengguratkan perasaanku melalui ucapan.'
'Aku hanya bisa... menunjukkannya saja...'
Karena terkadang... tindakan lebih banyak berbicara ketimbang hanya bersilat lidah menguntai kalimat.
Dan Ace menghentikan langkahnya di saat Luffy telah berhasil mencengkram lengannya. Ia tertunduk, tak sanggup membalas tatapan obsidian milik anak itu. Hening. Roommate-nya membisu sesaat. Hingga pada akhirnya...
Ia mendekat dan menghimpitkan parasnya... di pipi Ace.
"Lu-Luffy..." musisi Black Spade itu terbelalak syok. Nalarnya seakan berhenti bekerja. Luffy terus mencium hamparan pipinya dengan lembut. Dan dalam sekejap pula mahasiswa Mugiwara itu mengakhiri aksinya. Semburat cemberut menghiasi paras lugunya yang kemerahan itu.
"Kau sungguh tidak adil, Ace! Pergi setelah mencium pipiku! Aku juga ingin mencium pipimu!"
"Hah?" syok lagi. Kali ini paras Ace yang mulai merona kemerahan. Luffy terlihat memalingkan pandangan ke samping. Jemarinya tampak menggaruk belakang kepalanya.
"Gomen jika aku tak bisa berlama-lama mencium pipimu, Ace. Entah mengapa jantungku mendadak berdebar-debar seperti ini. Uhh... sebagai gantinya, kuberi pelukan saja ya, nee! Sama saja 'kan! Heeheehee!" Ace terperanjat. Tak membutuhkan waktu lama baginya untuk mengulum rajutan senyum tipis. Luffy memang sangat naif.
Tapi mungkin itulah salah satu aspek yang membuat Ace bertekuk lutut padanya.
"Dasar Baka..."
"Ace juga baka! Weeee!"
"Hahahaha!" Dan keduanya pun mulai tertawa. Dengan cepatnya, Luffy kembali melingkarkan kedua lengannya di tubuh Ace dan memeluknya, erat.
"Aku menyukaimu, Acee! Aku akan terus mempertahankanmu sampai akhir! Meskipun kau sudah tak mau berada bersamaku lagi!" Pengakuan itu lagi-lagi membuat Ace tersenyum. Perlahan-lahan ia membalas dekapan Luffy. Akan ada saat dimana pemuda itu akan merevolusikan frasenya menjadi kata cinta. Dan Ace akan selalu menunggu masa itu tiba.
Derajat mereka memang berbeda. Peluang mereka untuk terus bersama sungguh sangatlah tipis. Kebersamaan itu hanyalah sementara. Akan tetapi, tak ada salahnya 'kan, jika hati berharap akan datangnya secercah... mukjizat? Tak ada yang tak mungkin. Segenap probabilitas itu bisa saja terjadi.
Sungguh...
Secara logika, semua ini terlarang. Semua ini berdampak buruk. Ace tahu itu.
Tak seharusnya ia mencintai Luffy. Tak seharusnya ia jatuh cinta pada mahasiswa Mugiwara itu. Tak seharusnya mereka menjalin hubungan asmara. Tak seharusnya mereka mengambil konsekuensi terfatal ini.
Tapi ia sungguh tak peduli lagi. Mereka sama-sama tak peduli.
Benih itu terlanjur tumbuh. Tumbuh dan terus tumbuh menjadi sebuah pillar kasih yang begitu absolut.
Meski mereka tak menginginkan hal itupun, sungguh percuma. Mereka tak memiliki daya untuk merubahnya. Mereka tak mampu.
Perasaan mereka sudah terlalu dalam.
Dan sampai kapanpun juga... tak akan ada yang bisa merubah ketetapan itu.
'Aku mencintaimu, Luffy... aku sungguh sangat... mencintaimu.'
"Jadi, apa mereka berdua jadi singgah di apartemen ini, Makino?"
"Itu benar, Dadan-san. Mereka akan tiba besok pagi-pagi sekali."
"Baguslah. Aku juga sudah mempersiapkan kamar mereka. Untung saja aku sudah mengusir sampah-sampah tengik pecinta hutang yang sempat tinggal gratis kemarin." Sebuah senyum puas terlukis jelas di paras Dadan. Euforia menenggelamkan nalarnya. Kedua matanya menatap daftar nama penghuni yang tertera di jurnal Makino. Benaknya semakin tenggelam dalam rasa girang.
"Aku tak menyangka bahwa akan ada lagi dua orang terkenal yang akan singgah di apartemen ini selain Gol D. Ace dari Black Spade. Tolong bacakan namanya, Makino. Agar aku tahu bahwa semua ini bukanlah mimpi!" Makino hanya dapat tersenyum melihat gelagat lucu dari atasannya. Dengan senang hati ia turuti keinginan wanita pemilik apartemen itu.
"Baiklah, Dadan-san. Dengarkan aku baik-baik. Semua ini bukanlah mimpi. Besok, apartemen ini akan di singgahi oleh dua orang publik figur ternama. Kamar 130 akan ditempati oleh sang Diva dunia, Nona Boa Hancock dan terakhir, kamar 127 akan di tempati oleh Breakdancer terkenal dari Amerika yakni... Trafalgar Law."
Sang atasan mulai bertepuk tangan. Seringai kebahagiaan semakin terlukis jelas dalam parasnya. Ia bisa merasakan bahwa esok hari, warna baru akan menghiasi suasana apartemen miliknya.
"Ohohohoho! Aku tak sabar menantikan kedatangan mereka kemari besok. Fuhuhuu... Apartemenku sepertinya sudah ditakdirkan menjadi sebuah tempat untuk perkumpulan artis-artis ternama."
TBC
A/N: Yepp! Setelah saya ngedit chap ini untuk yang terakhir kalinya, saya cuman bisa melongo. Kissu pipi AceLu itu sebenernya cuman berupa light-kiss ringan yang berdurasi pendek tapi entah mengapa otak saya mendadak error bin pervert #plak. Dan tuh scene bisa jadi sedikit 'nge-rough'. Ah, abaikan sajalah. Anggaplah itu fanservis ==" #Gubraks. Jangan ada yang protes kenapa gak kissu di mulut bla bla. Akan ada saatnya nanti. Tapi bukan sekarang. Step itu masih jauh. Oh ya, ZoSannya ada di next chapter. Sekian rambling gak mutu saya ini.
Sengoku: Saatnya balasan review ==
Crocodile: With us... #NadaLoyo
All: Semangat dikit dong! Woooohhh... #Ngerajam Sampah ke Sengoku + Crocodile
Sengoku: Yang pertama datang dari roronoalolu youichi yang katanya semakin cinta ama author gaje kita. Terima kasih~
Zoro: Syukurlah aku gak diduain... #Lega
Crocodile: Lalu ada Demon D. Dino! Makasih ya reviewnya! Tenang, tuh dua calon besanan pasti nongol lagi di balesan review entah kapan.
Sengoku: Dan lunaryu is back! Ah, terima kasih untuk seluruh doa dan cintanya! Hal itu sungguh merupakan berkah yang luar biasa untuk author! #Grins
Nami: Hahaha! Iya. Pesona Portgas D. Ace mengalihkan duniaku dari Gol D. Ace! Jadinya aku gak nyadar! DX #Pundung #Merasa gagal jadi fans
Usopp: Doakan saya yaaa! Semoga bisa mendapatkan Kaya nantinya! TT^TT
Luffy: Nee? Kutunggu di kamar ya, Ace? Itu juga kalimat favoritku, nee! :D
Ace: #Blush
Crocodile: Sekali lagi makasih banyak untuk reviewnya, lunaryu-san! review Anda akan selalu ditunggu Viero ^^ Dan untuk Myuu! Viero kayaknya diem-diem ada di Baratie deh... =="
Author: #Nosebleed
Crocodile: Tuh 'kan... =="
ZoSan: Kami bakalan ada di chapter berikutnya
Nami: Saya fujoshi? Tidaak bisaa! Udah die-hard fans ama Aceeee!
Ace: #Sweatdrop. Mungkin seiring waktu, dia bisa berubah jadi Fujo. Tenang aja.
Sengoku: Thanks ya reviewnya! Dan berikutnya dari MughiwaraVia! Ah, sepertinya Anda benar. Monkey D. Luffy sayang parah dengan Portgas =="
Luffy: Heeheehee! xD
Ace: #HugsLuffy
ZoSan: Kami ada next chapter! Sabaaar!
Crocodile: Berikutnya dari Vii no Kitsune! Semoga fanservis kissu pipi AceLu di chap ini bikin Anda puas! Untuk kissu mulut, tenang aja. Pasti ada kok. =="
AceLu: WOI! JANGAN DIBEBERIN! #BLUSH
Sengoku: Untuk scene asal usulnya Mugiwara, tenang aja. Kayaknya ada deh. Tapi nanti.
Crocodile: Dan untuk Al-Chan 456! Wah, nih fic masih panjang lho. Potensi 20 chapter ke atas. Makasih buat pujiannya. Itulah sebabnya, kenapa author berusaha untuk updet kilat. Karena dia pengen fic ini complete. Kebanyakan fic multichapternya ditelantarin sih...
Author: #Grins #Dibogem
Sengoku: Dan untuk Rarania Zora! Makasih buat reviewnya!
Zoro: Gue bukan jablay laknat =="
All: #Ngakak
Crocodile: scene ZoSannya ada di chapter berikutnya! Tetap ikuti fic ini. Dan lalu dari Arale L Ryuuzaki!
Zoro: Yup. Gue emang cakep. Deal with it.
All: #Sweatdrop
Sanji: ZoSannya di next chapteeer~ Arigato ya reviewnya! xD
Sengoku: Berikutnya dari Ika UzumakiTeukHyukkie! Lama tak jumpa!
Ace: Tenang. Gue makin cinta kok ama Luffy #Grins
ZoSan: Kami ada di next chapter! Thanks reviewnya!
Crocodile: Berikutnya! Naru Nay-nie! Thanks reviewnya! Author akan berusaha menyeimbangkan porsinya!
Sengoku: Lalu ada domi!
Ace: Gue baru 4 hari di apartemen. Masih tidur di sofa kok #NangisGuling2
All: #Sweatdrop
Ace: Oh ya, restuin donk hubunganku ama Luffy! Ntar gue kawinan ama dia, lo musti dateng! Gak pake acara pedo! Oke! =="
All: #DoubleSweatdrop
Crocodile: Thanks ya reviewnya! Lalu ada Felix D. Bender! Tenang. Luffy udah dimengerti kok di chapter ini. Bahkan ada scene fanservisnya =="
AceLu: #Blush
Ivankov: Loe harus nerima ciuman maut gua, Felix-boy! DX #Ngejar Felix
Sengoku: Nih anak juga ngebet minta sequel Mute ==" Thanks ya reviewnya!
Crocodile: Lalu berikutnya Uchiha 'Haruhi' Gaje! Ah, tuh scene emang manis~ Yang fanservis ini juga lumayan #Udah dapet fotonya
Sengoku: O_o" Crocodile? Lo Fudanshi, hah? #Jawdropped
Ace: Bu-Buset lemonan 40 ronde? Kasihan Luffy! Dan gue gak semesum Yami =="
Yami: Citra gue udah ancur sebagai seme di YGO! TTATT #OOC. Ini gara-gara loe, Mes!
Author: Namaku Viero, bukan Messiah lagi~ :P #Ditimpuk
Crocodile: Berikutnya dari Fi suki suki! ZoZor? Ahahahaha! Keren tuh penname!
Zoro: Apa deh... =="
Sengoku: Iya. FFN error emang nyebelin. Thanks ya reviewnya! Berikutnya dari Ketsueki Kira Fahardika! Yup. Zoro juga maniak Black Spade tapi gak segila Nami.
Crocodile: Makasih buat favenya! Author berusaha updet tepat waktu. Kalaupun telat, paling cuman satu-dua hari aja.
Sengoku: Berikutnya dari N.h! AceLu udah bersatu! Mungkin? =="
AceLu: Kayaknya bakalan ada cobaan dalam hubungan kami. Setelah ini...
Crocodile: Thanks ya reviewnya! Dan terakhir dari Black LadY!
Ace: Iya, aku udah sadar kok kalo perasaanku udah terbalaskan #Blush
Sanji: Iya, kayaknya benih-benih cinta udah tumbuh di gue nih.
Sengoku: Thanks reviewnya!
Crocodile: Sampai jumpa di next chapter. Dan sebelum itu, mind to REVIEW again? Jaa~ :)
